Rabu, 06 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 038-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-038-01*

Beberapa saat kemudian, kedua anak muda itu telah berada di antara batu-batu padas. Pangeran Singa Narpada, Mahendra dan Akuwu Lemah Warah adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Mereka akan menjadi saksi, apakah benar Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah meningkat karena ilmu yang mereka sadap dari Pangeran Gagak Branang.

“Anak-anak muda” berkata Pangeran Singa Narpada, “kalian telah memiliki berbagai macam ilmu. Kalian sendiri tentu merasa seberapa jauh ilmu yang pernah kalian miliki itu mampu menghancurkan sasaran. Sementara itu, kini kalian telah menyadap ilmu dari Pangeran Gagak Branang. Jika ilmu itu memang berpengaruh, maka kemampuan kalian menghancurkan sasaran tentu menjadi lebih besar.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Namun mereka berduapun telah mengangguk.

“Nah” berkata Pangeran Singa Narpada, “menurut pengetahauanku, kalian memiliki kemampuan untuk melepaskan serangan dan pukulan pada jarak jauh. Itu sajalah yang hendaknya kalian coba dengan landasan ilmu yang kau sadap dari pamanda Pangeran Gagak Branang.”

Kedua anak muda itu masih termangu-mangu. Namun Mahendra lah yang kemudian berkata, “Sekarang, tentukan sasaran. Pusatkan nalar budi dan lepaskan pukulan itu dari jarak jauh.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk. Kata-kata Mahendra telah sedikit membuka hati mereka, apa yang harus mereka lakukan.

Sejenak kemudian kedua anak muda itu memilih sasaran. Namun, karena keduanya belum tahu pasti atas tingkat kemampuan mereka sendiri, maka ukuran sasaran yang mereka pilih masih saja sebagaimana pada saat ilmu mereka masih belum meningkat.

Keduanya telah menentukan segumpal batu padas yang akan mereka hancurkan dengan serangan yang akan mereka lontarkan dari jarak beberapa langkah.

“Baiklah” berkata Mahendra, “kita akan melihat, apa yang akan terjadi atas sasaran itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera mempersiapkan diri. Dipandanginya sasaran itu dengan saksama. Kemudian mereka telah memusatkan segenap kemampuan yang ada di dalam diri mereka.

Namun, keduanya memang merasakan kelainan di dalam diri mereka. Rasa-rasanya getaran di dalam diri mereka menjadi lebih berat dan mantap. Namun merekapun merasa bahwa daya lontar yang ada di dalam diri mereka pun menjadi lebih besar.

Sejenak, keduanya berdiri tegak menghadap ke arah sasaran yang telah mereka pilih. Perlahan-lahan keduanya mengangkat tangan mereka dengan telapak tangan terbuka mengarah kepada sasaran itu.

Pada saat yang hampir bersamaan, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melepaskan serangan mereka. Kekuatan yang sangat besar yang terlontar dari diri mereka, seakan-akan meloncat lewat telapak .tangan mereka yang terbuka.

Orang-orang yang menunggui keduanya seolah-olah melihat cahaya yang memancar dengan kecepatan yang sangat tinggi, sebagaimana kecepatan lidah api di udara. Cahaya itu meluncur dan menyambar sasaran yang telah ditentukan.

Akibatnya memang dahsyat sekali. Sasaran itu bagaikan telah meledak. Debu yang putih kemerah-merahan telah berhamburan seperti debu yang dihamburkan oleh angin.

Orang-orang yang menyaksikan kekuatan serangan kedua anak muda itu menarik nafas dalam-dalam. Bahkan Akuwu Lemah Warah pun menekan dadanya dengan telapak tangannya. Kekuatan itu sedemikian besarnya sehingga batu padas yang telah mereka pilih menjadi sasaran serangan mereka tidak pecah menjadi kerikil-kerikil padas yang memancar ke segala arah. Namun benar-benar telah menjadi debu yang lembut, mengepul seperti debu yang dihembus oleh angin yang kencang.

“Luar biasa” gumam Pangeran Singa Narpada, “sebenarnyalah apa yang dikatakan oleh pamanda Pangeran Gagak Branang. Kalian telah memiliki kemampuan ilmu yang luar biasa. Ilmu yang kalian sadap dan yang tidak mungkin berdiri sendiri itu ternyata telah membuat kemampuan menjadi nggegirisi. Bukan hanya ilmu yang mampu melontarkan kekuatan dari dalam dirimu, tetapi tentu juga ilmumu yang mampu kau lontarkan dalam ujudnya yang keras dan yang lunak. Juga ilmumu yang mampu menyusut kekuatan dan kemampuan ilmu orang lain pun akan mempunyai daya dan kemampuan yang berlipat.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Namun yang telah mereka coba benar-benar menakjubkan. Mereka dapat membayangkan, jika serangan itu mereka tujukan kepada wadag seseorang yang memiliki daya tahan sewajarnya, maka wadag itupun akan hancur berkeping-keping.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru telah menjadi ngeri sendiri membayangkan apa yang mungkin terjadi dengan kekuatan ilmu mereka. Namun karena itu, maka mereka menjadi semakin merasa bertanggung jawab. Mereka tidak mungkin mempergunakan ilmunya kapan saja mereka inginkan dengan akibat yang mengerikan itu.

“Marilah anak-anak” berkata Mahendra kemudian, “kita akan berbicara tentang ilmu kalian.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat bagaikan terbangun dari mimpi. Dengan jantung yang berdegup semakin keras mereka-pun kemudian beringsut dari tempatnya.

Demikianlah, maka beberapa orang itu telah berkumpul dan duduk melingkar di atas rerumputan kering. Dengan nada berat Pangeran Singa Narpada berkata, “Kini lelah terbukti. Kalian berdua menjadi anak-anak muda yang sulit dicari imbangannya. Kalian telah memiliki ilmu yang sangat tinggi, sehingga kalian merupakan kekuatan yang tidak terlawan.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat justru menundukkan kepala mereka. Beban di pundak mereka terasa semakin berat sebagaimana ilmu yang tersimpan di dalam diri mereka.

Dengan demikian, maka baik Pangeran Singa Narpada maupun Mahendra tidak merasa perlu lagi untuk melihat kemampuan kedua anak muda itu apabila diungkapkan pada jenis ilmunya yang lain. Mereka sudah dapat membayangkan, dengan alas ilmu yang disadapnya dari Pangeran Gagak Branang, maka jika kedua anak muda itu melepaskan ilmu pamungkasnya dalam ujudnya yang lunak, maka udara di sekitarnya tentu akan membeku. Sebaliknya dalam ujudnya yang keras, maka sentuhan wadagnya akan dapat menggugurkan gunung.

Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada pun kemudian berkata, “Marilah. Kita akan kembali ke padepokan. Kita sudah tahu, seberapa tingginya tingkat ilmu kedua anak muda itu. Kami yang tua-tua ini agaknya tidak lagi mampu menjangkaunya.”

“Tentu tidak Pangeran” berkata Mahisa Murti, “yang ada pada kami, belum sebanding dengan bagian kecil dari kemampuan Pangeran.”

“Kita tidak usah berbasi-basi anak-anak muda” berkata Pangeran Singa Narpada, “sudah waktunya kita memiliki takaran tentang kemampuan kita masing-masing. Kalian pun harus menyadari kemampuan yang ada di dalam diri kalian, karena jika tidak, maka kalian akan luput menilai. Kalian tidak perlu mempergunakan segenap kemampuan ilmu yang ada pada kalian seluruhnya apabila kalian sekedar mengejar seorang yang karena kelaparan terpaksa mengambil ketela pohon di ladang orang. Kalian tidak perlu melepaskan ilmu pamungkas dalam ujudnya yang lunak maupun yang keras jika kalian menghadapi anak nakal yang melempar kalian dengan kerikil yang tajam.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahendra pun berkata, “Itulah akibat yang harus kalian tanggungkan justru karena kalian memiliki ilmu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk kecil. Tetapi keduanya tidak menyahut.

Dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada pun telah mengajak mereka segera kembali ke padepokan yang telah ditinggalkan para penghuninya. Mereka harus segera mengatur persiapan untuk meninggalkan padepokan itu. Akuwu Lemah Warah-pun sudah terlalu lama meninggalkan Pakuwonnya sehingga rakyatnya tentu sudah menunggunya meskipun seorang adiknya yang dipercaya, mampu mewakilinya memerintah di Pakuwon Lemah Warah. Namun bagaimanapun juga, akan lebih baik jika Akuwu Lemah Warah itu sendiri yang berada di tempatnya.

Sejenak kemudian maka mereka pun telah meninggalkan tempat itu. Mahisa Ura yang berjalan di paling belakang semakin merasa dirinya kecil. Tetapi ia tidak merasa iri, karena ia menganggap bahwa yang terjadi itu sudah sewajarnya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah adik Mahisa Bungalan, seorang Senapati besar yang pilih tanding. Bahkan mungkin kedua anak muda itu justru sudah berada di atas tataran kakaknya.

Demikianlah untuk beberapa hari mereka memang masih akan tinggal di padepokan itu. Namun sementara itu. mereka telah bersiap-siap untuk pergi ke Lemah Warah. Yang akan mereka bawa ke Lemah Warah bukan saja alat-alat yang memang mereka miliki, tetapi mereka juga akan membawa para tawanan bersama mereka.

Sementara itu, Ki Permita masih berada di perjalanan menelusuri orang-orang yang terlepas dari padepokan vang telah direbut oleh Akuwu Lemah Warah. Memang satu pekerjaan yang sulit. Kadang-kadang ia berhasil mendapat keterangan tentang sekelompok orang yang mereka cari. Nanum kadang-kadang tidak seorang pun di satu padukuhan yang mau membantunya. Pada umumnya mereka merasa takut untuk menyebutkan atau menunjukkan arah perjalanan sekelompok kecil orang-orang berilmu tinggi itu. Mereka tidak mau terlibat ke dalam satu persoalan yang tidak akan memberikan keuntungan apapun kepada mereka.

Namun dengan keterangan yang sedikit itu, Ki Permita ternyata dapat menduga, kemana orang-orang itu pergi. Mereka agaknya telah pergi ke satu padepokan yang jauh. Padepokan asal dari salah seorang di antara mereka yang melepaskan diri itu.

Dengan kesimpulannya itu, maka Ki Permita menjadi tidak tergesa-gesa. Ia menyusuri perjalanannya dengan yakin meskipun perlahan-lahan. Bagaimanapun iuga, rasa-rasanya hatinya masih terpaut kepada orang yang ditinggalkannya. Sebagai seorang hamba yang setia, maka rasa-rasanya langkahnya memang menjadi sangat berat.

Bahkan pada saat-saat terakhir dari Pangeran Gagak Branang, Ki Permita merasa seakan-akan ia sendiri telah mengalami sesuatu yang mendebarkan.

Pada saat-saat benang lawe ditarik dari arah kiri di lambung Pangeran Gagak Branang, jantung Ki Permita berdetak semakin cepat. Bahkan oleh perasaan nyeri di dadanya yang tidak diketahui sebabnya. Ki Permita yang sedang berjalan itupun telah terpaksa berhenti dan duduk di bawah sebatang pohon yang rindang. Terasa didadanya betapa isi dadanya itu bagaikan diremas oleh kekuatan yang tidak terlawan oleh daya tahannya.

Dengan lemah Ki Permita telah bersandar pada pohon yang rindang itu. Beberapa saat ia merasakan dadanya yang sakit sekali.

Namun perlahan-lahan perasaan sakit itu pun mulai berkurang. Dengan demikian maka Ki Permita mulai dapat mengatasi sisa perasaan sakitnya.

Untunglah bagi Ki Permita bahwa jalan yang ditempuh itu bukan jalan yang ramai sehingga tidak seorang pun yang melihat apa yang telah dialaminya.

Ketika dadanya terasa lapang. Ki Permita duduk sambil menarik nafas panjang beberapa kali. Rasa-rasanya ingin ia menghisap udara sebanyak-banyaknya untuk menyegarkan jantung di dalam dadanya itu.

“Apa yang telah terjadi?” tanya Ki Permita di dalam hatinya.

Angan-angannya segera melayang kembali ke padepokan yang telah ditinggalkannya. Sambil memandang ke kejauhan ia bergumam kepada diri sendiri, “Agaknya Pangeran Gagak Branang telah mengakhiri hidupnya.”

Namun Ki Permita pun tahu, bahwa Pangeran Gagak Branang yang disebutnya Panembahan itu telah terjerat pada satu jenis ilmu yang membuatnya menyimpang dari tatanan kehidupan sewajarnya. Namun bagaimanapun juga Ki Permita yakin, bahwa pada saatnya kematian itu tidak akan dapat dielakkannya.

“Mungkin Pangeran Gagak Branang telah mengatakan rahasianya kepada Pangeran Singa Narpada, karena tidak mungkin ia menyalahi keharusan untuk kembali kepada sumbernya. Apapun yang dapat dilakukan dan dirasa mampu memperpanjang kesempatan hidupnya itu tidak akan berarti apa-apa apabila saat itu memang telah datang” berkata Ki Permita.

Namun tiba-tiba ia telah memandang kepada dirinya sendiri. Ia telah minum jenis getah yang sama untuk menahan pertumbuhan wadagnya. Tetapi itu hanya sekedar menahan gerak ketuaan dalam ujud lahiriahnya saja. Namun jiwanva akan tetap menjadi rapuh pada saatnya dan kematian itu pun akan datang tepat pada waktunya.

Ki Permita menarik nafas dalam-dalam. Balikan ia kemudian berkata kepada diri sendiri, “Menurut isyarat gelar di dalam diri, agaknya Pangeran Gagak Branang memang sudah sampai pada saat kematiannya. Perjalananku ini puii tentu merupakan perjalanan terakhirku. Apakah di medan pertempuran yang akan aku hadapi, atau di antara para pemimpin Kediri, agaknya nyawaku pun sudah tidak akan berlahan lama.

Ki Permita yang nampak ujud wadagnya masih belum terlalu tua itu sudah merasa bahwa ia sebenarnya bukannya nampak pada ujudnya wadagnya itu. Sebenarnyalah bahwa dirinya memang sudah rapuh.

Demikianlah, maka setelah beristirahat beberapa saat tubuh Ki Permita merasa segar. Perlahan-lahan ia pun telah bangkit. Sekali ia menggeliat. Kemudian ia telah meneruskan langkahnya menuju ke sebuah padepokan yang sudah dikenalnya. Pada saat ia masih menjadi abdi yang setia dari Panembahan, maka ia memang pernah berada di padepokan itu sebelum mereka memasuki padepokan Suriantal.

Seperti sebelumnya, maka Ki Permita memang tidak tergesa-gesa. Ia yakin bahwa orang-orang yang berhasil lolos dari padepokan Suriantal telah berada di padepokan itu.

Menurut perhitungan Ki Permita, maka orang yang memiliki ilmu tertinggi di antara mereka adalah seorang yang memiliki tongkat yang pada pangkalnya terdapat sebuah batu yang berwarna kehijau-hijauan seperti batu yang terdapat di pinggir hutan dan penuh dengan binatang berbisa itu. Kemudian seorang lagi yang memiliki kemampuan untuk menguasai dan menggerakkan segala jenis binatang dengan ilmu gendamnya. Sedangkan orang yang mampu memasuki wadag orang lain agaknya telah kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup dalam benturan ilmu yang terjadi di padepokan Suriantal.

Namun betapa lambatnya perjalanan Ki Permita, akhirnya ia pun semakin lama menjadi semakin dekat dengan padepokan yang ditujunya.

Tetapi sebelum ia sampai ke tujuan, maka Ki Permita itu-pun terkejut ketika tiba-tiba seseorang menyapanya, “He, Ki Palot. Kau mau ke mana?”

Ki Permita yang dikenal dengan nama Ki Palot itu termangu-mangu. Namun ia pun segera dapat mengenali orang itu.

Salah seorang dari penghuni padepokan. Namun orang itu bukan berasal dari perguruan Suriantal yang sebagian besar dari mereka bersenjata tongkat panjang.

Dengan menarik nafas dalam-dalam Ki Permita itu berkata, “Aku juga terpaksa meninggalkan padepokan itu.”

“Kenapa? Bagaimana dengan Panembahan?” bertanya orang itu.

Ki Permita termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Panembahan tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri” berkata Ki Permita.

“Dan kau yang selama ini dianggapnya sebagai hambanya yang paling setia itu meninggalkannya?” bertanya orang itu.

“Aku meninggalkan Panembahan setelah aku yakin bahwa Panembahan tidak mampu melawan kedua orang lawannya yang berilmu sangat tinggi” berkata Ki Permita.

“Apakah ada orang yang kemampuannya mengimbangi Panembahan?” bertanya orang itu.

“Ternyata ada” jawab Ki Permita, “aku melihat sendiri bagaimana Panembahan itu terdesak dan akhirnya kehilangan kesempatan sama sekali. Ketika terjadi benturan ilmu melawan kedua orang Kediri itu, maka Panembahan benar-benar menjadi parah.”

“Bagaimana mungkin ada orang yang mampu mengalahkan Panembahan” gumam orang itu, “pada saat kami melarikan diri, sebenarnya kami masih mengharap Panembahan melindungi kami. Tetapi ternyata sampai saat yang paling gawat. Panembahan tidak lagi dapat berbuat banyak sebagaimana hari-hari sebelumnya, sehingga akhirnya kami memutuskan untuk meninggalkan padepokan itu. Namun kami masih tetap berpengharapan bahwa kami akan kembali ke padepokan Suriantal setelah Panembahan menghancurkan lawan lawannya

“Yang terjadi tidak demikian” jawab Ki Permita yang dikenal sebagai Ki Palot, “Panembahan itu telah dilumpuhkan.”

“Bukankah Panembahan itu tidak dapat terbunuh? Beberapa kali Panembahan menunjukkan kemampuan yang tidak ada bandingnya itu kepada kami. Beberapa kali Panembahan menunjukkan kemampuannya untuk melawan maut. Bahkan menguasai maut” berkata orang itu, “Panembahan bukankah tidak dapat mati?”

“Waktu aku meninggalkannya. Panembahan memang belum mati. Tetapi wadagnya tidak mampu lagi mendukung tingkat ilmunya yang seolah-olah tidak ada batasnya, sehingga Panembahan itu sudah tidak berdaya sama sekali. Karena itu, maka tidak ada gunanya lagi aku menungguinya, karena tidak ada lagi harapan padanya” jawab Ki Permita.

Tetapi Ki Permita itu mengerutkan keningnya ketika orang itu bertanya kepadanya, “Ki Palot. bagaimana mungkin kau dapat melepaskan diri dari orang-orang yang telah mampu mengalahkan Panembahan itu?”

“Sebagaimana kalian juga mampu melepaskan diri” jawab Ki Permita meskipun agak ragu.

Tetapi orang itu tiba-tiba saja berkata, “Ki Palot. Apakah kau tidak berkhianat terhadap Panembahan. Dan sekarang kau berusaha melacak kami dalam rangka pengkhianatanmu’.’ “

Ki Permita menjadi tegang. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kau mencurigai aku?”

“Ki Palot” berkata orangitu, “jika kau memang sempat melarikan diri, kenapa baru sekarang kau sampai ke tempat ini? Menurut perhitungan kami, seandainya Panembahan memang tidak mampu mengatasi orang-orang Kediri itu, kau pun tentu telah tertangkap. Agaknya kau kini telah mengemban tugas orang-orang Lemah Warah untuk melacak perjalanan kami dengan janji pengampunan atau mungkin karena Panembahan kini berada di tangan mereka maka kau harus tunduk dan melakukan perintah orang-orang Lemah Warah itu.”

“Kenapa tiba-tiba saja kau mencurigai aku?” bertanya Ki Permita, “sudah sekian lama kita bekerja sama. Sudah sekian lama kita merasa satu. Dan kini kalian dengan serta merta telah menuduh aku berkhianat.”

“Ki Palot” berkata orang itu, “seandainya kau tidak berkhianat, maka sebaiknya kau tidak usah datang kemari. Kau adalah seorang yang menggolongkan diri pada kelompok pemimpin. Selama di padepokan itu, kau merasa lebih berkuasa dari Panembahan itu sendiri.”

“Ah” desah Ki Permita, “kenapa kau mencari-cari perkara. Saat itu Panembahan jarang sekali bersedia keluar dari barak khususnya. Akulah yang harus melakukan segalanva. Bahkan menyampaikan perintahnya. Bukan maksudku untuk memerintah kalian, apalagi melampaui kuasa Panembahan. Aku memang mendapat tugas untuk berbuat demikian dari Panembahan.”

Orang itu tertawa. Katanya, “Jangan menangis Palot. Kau sama sekali tidak kami butuhkan di padepokan kami. Karena itu, kau tidak usah pergi ke padepokan. Apalagi aku di sini memang mendapat tugas untuk membendung kehadiran orang-orang yang tidak kami sukai termasuk kau.”

“Jangan mengigau” jawab Ki Permita, “aku berhak bergabung dengan kalian.”

“Jangan Palot. Pergilah atau aku akan kehilangan kesabaran dan mengusirmu seperti mengusir seekor musang dari kandang ayam” berkata orang itu.

“Jangan begitu Ki Sanak” desis Ki Permita, “kau harus mengasihani aku. Jika aku tidak bergabung dengan kalian, lalu aku harus pergi ke mana?”

Orang itu justru tertawa. Katanya, “Itu urusanmu. Ke mana saja kau mau pergi, aku tidak peduli.”

“Tidak Ki Sanak. Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku akan bergabung dengan kalian” berkata Ki Permita.

“Palot” berkata orang itu, “makanan sudah terlalu sedikit. Selama ini kau bertingkah laku sangat menyakitkan hati, karena kau merasa lebih berkuasa dari para pemimpin dari perguruan kami. Karena itu pergilah. Jika tidak, aku akan memukulimu. Bahkan bukan hanya aku seorang diri. Di sini aku mempunyai kawan tiga orang yang berada di rumah di ujung padukuhan sebelah. Jika mereka melihat aku memukulirnu, maka mereka pun akan melibatkan diri, ikut memukulimu beramai-ramai.”

“Jangan main-main Ki Sanak. Aku sedang kebingungan sekarang ini. Aku akan pergi ke padepokan. Jika para pemimpin padepokan itu kemudian mengusirku, apa boleh buat. Tetapi jangan hentikan aku di jalan seperti ini” berkata Ki Permita.

“Menangislah Palot. Menangislah seperti anak-anak. Tetapi kau tidak akan dapat meneruskan perjalananmu menuju ke padepokan. Jika dahulu kita semuanya menaruh hormat kepadamu, bahkan merasa ketakutan, karena kau adalah hamba yang yang paling setia dari Panembahan yang kita harapkan akan dapat melindungi kita semuanya. Tetapi ternyata padepokan itu hancur, dan Panembahan tempat kami bertumpu itu dapat dikalahkan oleh orang-orang Kediri. Jika Panembahan itu sudah dikalahkan, apalagi kau Palot.”

“Ya. Apalagi aku. Itulah sebabnya, aku memerlukan perlindungan, Aku akan pergi ke padepokan.” berkata Ki Permita.

Orang itu tiba-tiba membentak, “Cukup. Pergi kau anak iblis” geram orang itu.

Orang itu agaknya telah kehilangan kesabaran. Tiba-tiba saja orang itu bersuit nyaring. Satu isyarat bagi kawan-kawannya yang ada di rumah di ujung padukuhan.

“Apa yang kau lakukan?” bertanya Ki Permita.

“Aku memanggil kawan-kawanku. Biarlah mereka ikut memberikan keputusan” berkata orang itu. Namun kemudian katanya, “Namun jangan menyesal bahwa mereka akan memukulimu dan mengusirmu lebih kasar dari yang aku lakukan.”

Ki Permita termangu-mangu sejenak. Ketika ia memandang rcgol halaman rumah di ujung padukuhan, dilihatnya tiga orang bergegas keluar dan dengan tergesa-gesa menuju ke tempatnya.

Beberapa langkah kemudian salah seorang di antara mereka telah menyapa, “He kau Palot.”

“Ya. Aku datang untuk mohon belas kasihan, agar aku diperkenankan tinggal bersama kalian di padepokan” berkata Ki Permita.

Orang itu termangu-mangu. Namun orang yang pertama menjumpai Ki Permita itu pun telah mengatakan sikapnya dan bahkan telah mengusir orang itu.

Karena itu, maka ketiga orang yang datang kemudian itu pun segera menyesuaikan sikap mereka. Apalagi mereka pun telah mendapat perintah, agar tidak seorang pun yang boleh memasuki lingkungan padepokan itu.

Seorang di antara mereka pun kemudian tertawa pula sambil berkata, “Palot. Menyesal sekali. Yang sama-sama kita harapkan ternyata tidak terjadi. Padepokan Suriantal yang dianggap dapat menjadi landasan perjuangan menuju ke Kediri itu telah pecah. Panembahanmu telah kehilangan kuasanya sehingga kita semua telah terusir. Karena itu Palot, daripada kau menjadi budak kami di padepokan itu, maka lebih baik kau cari tempat yang lain. Karena kau tidak akan tetap menjadi penguasa tanpa Panembahan, sehingga yang kami kenal kemudian adalah derajadmu sebagai hamba, meskipun selama ini kau merasa dirimu lebih berkuasa dari Panembahan itu sendiri.”

“Ki Sanak” berkata Ki Permita, “kenapa kalian melupakan hubungan yang pernah terjalin di padepokan itu. Selama di padepokan kalian selalu merunduk dan minta perhatianku. Bahkan kadang-kadang kalian berusaha menjilat untuk sekedar aku sebut nama kalian. Tetapi kenapa kalian tiba-tiba menjadi garang?”

“Persetan” seorang di antara mereka telah tersinggung, “jika kau sebut sekali lagi, maka aku akan merobek mulutmu.”

Ki Permita mengerutkan keningnya. Dengan nada yang datar ia bertanya seakan-akan tidak menyadari kesalahannya, “Kenapa? Bukankah aku mengatakan yang sebenarnya?”

“Cukup” teriak salah seorang diantara orang-orang yang menghentikannya itu,

“Tetapi bukankah kau juga mengatakan cacat celaku? Bukankah dengan demikian kita sudah melakukan hal yang sama?” bertanya Ki Permita kemudian.

Tetapi orang-orang itu sudah kehabisan kesabaran. Seorang di antara mereka bergeser maju sambil berkata lantang, “Pergi. Jangan ucapkan sepatah katapun. Jika kau membuka mulutmu, apapun yang akan kau katakan, maka aku akan merontokkan gigimu seluruhnya.”

Ki Permita mengerutkan keningnya. Ia memang tidak menjawab. Tetapi ternyata orang itu menggelengkan kepalanya tanpa beranjak dari tempatnya.

“Pergi, pergi” orang-orang itu hampir berteriak.

Tetapi Ki Permita itu tetap-berdiri di tempatnya sambil menggelengkan kepalanya.

Orang-orang itu telah kehilangan kesabaran. Tiba-tiba seorang di antara mereka telah mendekatinya dan mendorongnya dengan kuat.

Ki Permita memang terdorong surut. Bahkan terhuyung-huyung ia berusaha untuk memperbaiki keseimbangannya.

Jangan membantah lagi. Aku dapat berbuat lebih kasar.”

Ki Permita menarik nafas dalam-dalam. Namun sikapnya justru berubah. Dengan nada berat ia berkata” Anak-anak iblis. Kalian sama sekali tidak merasa berterima kasih atas perlindungan Panembahan selama ini. Tetapi kalian justru bersikap sebaliknya. Nah, dengarlah, aku tidak akan pergi. Aku akan melanjutkan niatku menuju ke padepokan itu untuk mencari perlindungan kepada para pemimpin kalian. Karena itu; maka aku tidak merasa perlu untuk berbicara dengan kalian.”

Wajah orang-orang itu menjadi merah. Telinga mereka bagaikan tersentuh bara api. Seorang yang tidak dapat menahan diri tiba-tiba telah melangkah maju dan menyerang pelipis orang itu dengan pukulan.

Tetapi orang yang dikenal bernama Palot itu telah menggeser kepalanya ke samping sehingga pukulan itu sama sekali tidak menyentuhnya.

Orang yang memukulnya itu terkejut. Ia sama sekali tidak mengira bahwa hamba yang setia itu mampu mengelakkan pukulannya yang dilakukannya dengan tiba-tiba.

Namun dengan demikian kemarahannya pun bagaikan api dihembus angin. Dadanya bagaikan menyala dan tanpa dapat mengendalikan diri lagi maka ia pun telah meloncat pula. Tangannya terjulur lurus ke depan langsung menyerang dada orang yang dipanggilnya Palot itu.

Ki Permita tidak menghindar lagi. Iapun telah mengangkat tangannya ke depan dengan telapak tangan terbuka tepat menerima pukulan lawannya yang mengarah ke dada.

Tidak terjadi benturan yang keras. Bahkan di luar tangkapan nalar lawannya, bahwa yang terjadi adalah sebuah benturan yang lunak. Tangan orang yang marah itu bagaikan menyentuh sasaran yang lunak dan tanpa menyakitinya. Tetapi pukulannya itu sama sekali tidak berakibat apapun pada orang yang disebutnya Palot.

“Kau gila” geram orang itu” kau akan memamerkan kemampuanmu di sini? Palot. Sebenarnya kami hanya sekedar mengusirmu tanpa ingin mencelakakanmu. Tetapi jika kau berbuat aneh-aneh, maka kau jangan menyesal, bahwa kau tidak akan mampu bangkit iagi untuk selamanya di sini. —

“Ki Sanak” berkata Ki Permita, “aku sudah mencoba mendudukkan sikapku dengan kedudukan sebagai seorang hamba saja. Tetapi kalian tidak menanggapinya dengan baik. Justru kalian dengan sombong mengusirku seperti mengusir seekor anjing. Karena itu, maka aku sama sekali tidak akan menanggapinya. Aku akan pergi ke padepokan. Aku akan berbicara dengan para pemimpinmu. Mereka tentu akari mengerti dan akan menerima aku di antara mereka.”

“Persetan” geram salah seorang di antara mereka” Jika kau keras kepala, maka aku mungkin akan membunuhmu.

“Ki Sanak” berkata Ki Permita” jika aku berani berkeras. maka akupun akan berani menanggung segala akibatnya. Aku adalah hamba yang setia dari Panembahan. Karena itu, maka akupun akan bersikap sebagaimana Panembahan bersikap. Sikap seorang laki-laki. Jika aku harus mati, biarlah aku mati setelah berkelahi.”

Keempat orang itupun menjadi semakin marah Mereka tidak lagi dapat menahan diri untuk tidak berbuat sesuatu. Karena itu, maka keempat orang pun telah meloncat bersama-sama. Dan tiba-tiba saja orang yang disebutnya Palot itu telah berada dalam kepungan.

“Kau memang harus mati Palot” geram salah seorang di antara mereka.

“Kalian tidak akan berani membunuhku. Orang-orang padukuhan itu akan melihat dan segera mengenali kalian. Mereka akan dapat menyampaikannya kepada para pemimpin padepokan bahwa kalian telah membunuhku.” berkata Ki Permita yang disebut Palot itu.

“Persetan” geram salah seorang di antara orang-orang yang mengepungnya itu, “katakan pesanmu terakhir. Kami sudah memutuskan untuk membunuhmu, menyeret mayatmu dan melemparkan ke tengah-tengah hutan itu. Mayatmu akan segera menjadi makanan binatang buas atau burung-burung pemakan bangkai.”

Ki Permita menarik nafas dalam-dalam. Namun ia telah siap menghadapi keempat orang itu.

Sebenarnyalah keempat orang yang marah itu tidak dapat menahan diri lagi. Mereka pun kemudian telah bergerak hampir bersamaan menyerang orang yang selama ini dianggapnya tidak lebih dari seorang hamba yang setia. Karena itu, maka mereka tidak terlalu banyak memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan perlawanan yang dilakukan oleh orang itu, meskipun seorang diantara mereka pernah menjadi heran pada saat tangannya membentur telapak tangan orang itu tanpa terjadi hentakkan kekuatan di dalam dirinya.

Namun keempat orang itu sebenarnya tidak merupakan persoalan yang sulit bagi Ki Permita. Karena itu, maka ia sama sekali tidak menjadi gentar. Ketika keempat orang itu menyerangnya, maka ia pun telah berbuat sesuatu yang tidak diduga sama sekali oleh lawan-lawannya.

Hampir tanpa diketahui apa yang telah dilakukan, maka keempat orang itu telah terlempar dari tempat mereka dan jatuh terlentang. Bahkan seorang di antaranya telah terbanting demikian kerasnya sehingga tidak sadarkan diri.

Namun dalam pada itu, ketiga orang yang lain sempat melenting berdiri. Tetapi mereka tidak segera dapat mengatasi kesulitan di dalam diri masing-masing. Jantung mereka serasa berdebar semakin cepat dan kenyataan yang mereka hadapi rasa-rasanya seperti peristiwa di dalam mimpi.

Ketiga orang itu tidak segera dapat mengerti, bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi. Tetapi mereka tidak dapat ingkar dari kenyataan itu.

Karena itu, maka mereka menjadi ragu-ragu untuk menyerang orang yang dianggapnya tidak lebih dari seorang hamba itu.

“Nah” berkata Ki Permita” apakah kalian masih tetap pada pendirian kalian untuk mencegah aku pergi ke padepokan?”

Ketiga orang saling berpandangan. Apapun yang mereka kehendaki, namun mereka tidak akan dapat mencegah orang yang sebelumnya dianggap sebagai hamba yang tidak dapat berbuat apa-apa selain berlindung di balik kuasa tuannya.

“Sekarang” berkata Ki Permita” apakah kalian masih menganggap bahwa aku merasa berkuasa lebih dari Panembahan? Seandainya demikian, maka itu adalah hakku karena aku memang mempunyai kemampuan untuk berkuasa atas kalian.

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...