*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-042-01*
Pertanyaan itu justru telah membuat ia mengetahui lebih banyak tentang lawannya. Itulah sebabnya, maka pada saat berikutnya, Mahisa Pukat telah berusaha menangkis serangan lawannya. Meskipun ia tidak membentur serangan itu seutuhnya, tetapi dengan memukul serangan itu menyamping, Mahisa Pukat berhasil sekali lagi mengetahui satu kemampuan yang luar biasa pada lawannya. Tubuh itu memang bagaikan menjadi sekeras batu hitam.
“Bukan main,” geram Mahisa Pukat, “ternyata ia mempunyai ilmu yang mampu membuat dirinya bagaikan baja. Itulah sebabnya ia mampu memecahkan pintu gerbang.”
Dengan menyadari kemampuan lawannya, Mahisa Pukat benar-benar harus berhati-hati. Tubuhnya jangan sampai dihancurkan oleh kekuatan dan kekerasan tubuh lawannya itu.
Karena, itu maka Mahisa Pukat pun harus mengerahkan kemampuannya untuk mengatasi lawannya.
Ketika serangan-serangan lawannya menjadi semakin deras, maka Mahisa Pukat tidak dapat mengelak lagi. Ia harus menahan arus serangan itu, agar ia tidak hancur dalam pertempuran itu.
Karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah mempergunakan ilmunya pula. Sebagaimana pernah di sadapnya dari Akuwu Lemah Warah. Ia harus berusaha agar lawannya tidak mampu mendekatinya dan menghancurkan tubuhnya.
Dalam keadaan yang semakin sulit, maka Mahisa Pukat-pun kemudian telah menghentakkan tangannya. Kedua telapak tangannya menghadap ke arah lawannya.
Sebuah getaran kekuatan bagaikan meloncat dari tangan itu menyambar Ki Buyut Bapang.
Namun Ki Buyut benar-benar seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Ia melihat gerak tangan Mahisa Pukat. Karena itu, maka dengan kecepatan yang hampir tidak kasat mata, Ki Buyut telah melenting menghindar. Bahkan diluar perhitungan Mahisa Pukat, tiba-tiba saja Ki Buyut telah berguling justru mendekat. Demikian Ki Buyut melenting, ia tidak memberi kesempatan kepada Mahisa Pukat, untuk menyerangnya sekali lagi. Bahkan tiba-tiba saja orang itu sempat menyambar kaki Mahisa Pukat yang sedang bergeser menyamping, dengan sapuan kaki pula.
Demikian kerasnya sehingga Mahisa Pukat justru telah terpelanting dan jatuh berguling. Namun demikian ia melenting berdiri, lawannya telah datang pula menyerangnya.
Tidak ada cara lain lagi bagi Mahisa Pukat, kecuali menjatuhkan diri ketika tangan lawannya menyambar keningnya dengan serangan mendatar.
Serangan itu berhasil dielakkan. Tetapi lawannya tidak mau melepaskannya. Tetapi ketika ia siap meloncat menyerang tubuh Mahisa Pukat yang masih terbaring itu dengan kakinya, Mahisa Pukat telah mengambil sikap yang lain. Ia tidak berusaha untuk bangkit. Tetapi justru sambil berbaring ia mengacukan tangannya menyerang lawannya yang siap menerkamnya.
Lawannya itu pun terkejut. Dengan serta merta ia meloncat menghindar ketika kekuatan ilmu Mahisa Pukat menyambarnya.
Orang itu terlepas dari sambaran ilmu Mahisa Pukat. Sambil mengumpat ia telah mempersiapkan diri menghadapi segala kemungkinan. Sementara itu, Mahisa Pukat pun telah berdiri pula menghadap ke arah lawannya itu.
Dalam pada itu, Mahisa Murti pun telah bertempur dengan sengitnya. Ketika mereka mulai memasuki kemampuan ilmu mereka, maka Empu Sepada telah mempergunakan kekuatannya yang luar biasa yang disadapnya dari kekuatan udara. Setiap kali angin yang kencang telah menerpa tubuh Mahisa Murti sehingga ia harus berjuang untuk tidak hanyut karenanya.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja Empu Sepada itu telah melenting menyerang dengan wadagnya, selagi Mahisa Murti sibuk bertahan atas dorongan angin. Namun setiap kali ia memang terkecoh oleh lawannya. Dorongan hampir jatuh tertelungkup. Namun pada saat yang demikian itu lawannya telah menyerang dengan dahsyatnya.
Mahisa Murti harus berusaha untuk mengatasi kecepatan gerak lawannya jika serangan itu datang. Bahkan Mahisa Murti harus berguling beberapa kali dan dengan cepat melenting berdiri.
Namun setiap kali lawannya, Empu Sepada tidak mau melepaskannya. Ia pun memburu ke mana Mahisa Murti bergeser atau berguling.
Untuk beberapa saat Mahisa Murti memang mengalami kesulitan. Namun ketika angin itu datang lagi menghembus dengan kekuatan raksasa, maka Mahisa Murti tidak membiarkan kesempatan yang mungkin akan dapat ditemukannya.
Mahisa Murti itu pun telah menjatuhkan diri dan menelungkupkan badannya, sehingga angin itu tidak terlalu kuat mendorongnya sebagaimana jika ia berdiri.
Lawannya menjadi sangat marah melihat sikap Mahisa Murti. Seolah-olah Mahisa Murti cukup dengan cara yang memuakkan itu akan dapat menghindari serangannya.
Karena itu, Empu Sepada telah menghentikan serangan praharanya. Namun demikian serangannya itu berhenti, Empu Sepada pun telah meloncat menyerang dengan garangnya. Kakinya terjulur lurus, siap menghancurkan tubuh Mahisa Murti yang terbaring itu.
Namun Mahisa Murti tidak menunggu lebih lama lagi. Tiba-tiba saja ia memiringkan tubuhnya. Ketika ia mengacukan tangannya, maka kemampuan ilmunya telah meluncur lewat getar dari telapak tangannya menyambar Empu Sepada.
“Gila,” Empu Sepada itu berteriak keras sekali sambil menggeliat, menghindari serangan itu, “ternyata kau memiliki ilmu iblis he?”
Empu Sepada itu pun kemudian bagaikan terpelanting oleh dorongan geraknya sendiri pada saat ia tergesa-gesa melenting. Namun dengan cepat Empu Sepada telah bangkit kembali.
Tetapi pada saat yang demikian Mahisa Murti telah berdiri tegak. Kedua tangannya tiba-tiba saja telah terjulur ke depan dengan telapak tangannya menghadap ke sasaran.
Sekali lagi Empu Sepada harus meloncat menghindari serangan itu. Namun ia tidak mau menjadi sasaran serangan Mahisa Murti yang datang beruntun. Karena itu, demikian ia meletakkan kakinya, maka sekali lagi angin prahara telah menghembus ke arah Mahisa Murti. Namun pada saat yang bersamaan, Mahisa Murti telah menghentakkan kekuatan ilmunya pula.
Kedua ilmu itu ternyata bagaikan berbenturan. Memang tidak terduga, bahwa ilmu dalam ujud yang berbeda itu ternyata telah saling membentur.
Satu ledakan telah terjadi. Angin prahara itu bagaikan terangkat dan pecah berserakan di udara.
Mahisa Murti dan Empu Sepada itu untuk sesaat justru termangu-mangu menyaksikan benturan yang dahsyat itu. Namun dengan demikian keduanya saling mengetahui bahwa lawan masing-masing adalah orang yang berilmu tinggi.
Dalam pada itu, pertempuran di padepokan itu pun berlangsung semakin lama semakin menggetarkan jantung. Darah semakin banyak mengalir, sementara erang kesakitan terdengar dari segala sudut. Orang-orang terluka terbaring di sepanjang dinding padepokan. Kawan-kawan mereka yang sempat telah menarik mereka menepi. Sedangkan orang-orang padepokan itu yang terluka telah dibawa ke serambi-serambi barak yang menebar di seluruh padepokan itu.
Namun dalam pada itu, batu yang berwarna kehijauan itu masih tetap berada di tempatnya. Tidak ada orang lain lagi yang berani menyentuh batu itu. Mereka sadar, bahwa meraba batu itu akan dapat berarti kematian.
Mahisa Pukat pun pada saat itu sedang bertempur dengan sengitnya melawan Ki Buyut Bapang. Setiap kali ia melontarkan serangannya, Ki Buyut Bapang selalu berhasil menghindarinya. Ki Buyut pun selalu berusaha untuk selalu dekat dengan lawannya. Ia menganggap bahwa kemampuannya membuat tubuhnya sekeras baja itu akan dapat mengakhiri persoalan.
Sebenarnyalah, setiap kali terjadi benturan langsung, maka tulang-tulang Mahisa Pukat bagaikan berpatahan.
Karena itu, maka akhirnya Mahisa Pukat pun terdesak. Tubuhnya terasa sakit di bagian-bagian tertentu. Bahkan menjadi merah biru. Dalam keadaan yang sulit itulah, maka Mahisa Pukat tidak mempunyai pilihan lain. Betapa berat hatinya, karena beberapa orang menganggap ilmunya sebagai ilmu yang licik. Namun ia tidak mempunyai cara lain untuk melawan Ki Buyut yang menjadi bagaikan berkulit baja.
Demikianlah maka untuk selanjutnya, betapa tubuh dan tulang-tulang Mahisa Pukat serasa patah sementara kulitnya bagaikan terkelupas, namun Mahisa Pukat memang selalu ingin membenturkan kekuatannya kepada lawannya yang memang memiliki ilmu yang tinggi.
Lawannya memang menjadi heran melihat perubahan cara Mahisa Pukat bertempur. Jarang sekali ia mengelak, dan bahkan semakin sering pula ia menyerang dan mengenainya.
Tetapi Ki Buyut itu setiap kali terkena serangan Mahisa Pukat hanya tersenyum saja. Tubuhnya yang sekeras baja itu tidak mudah ditembus oleh kekuatan yang bagaimanapun besarnya. Bahkan setiap kali terjadi benturan, Mahisa Pukat harus menyeringai kesakitan.
Namun Mahisa Pukat tidak merubah cara bertempurnya. Benturan demi benturan telah terjadi. Setiap kali Mahisa Pukat harus menyeringai menahan sakit.
“Tetapi anak ini benar-benar anak iblis,” geram Ki Buyut di Bapang, “ia sama sekali tidak bergeser dari arena betapapun ia didera oleh perasaan sakit. Tetapi agaknya ia memang menunggu sampai tulangnya patah.”
Tetapi pertempuran itu masih belum berubah. Benturan demi benturan telah terjadi. Tubuh Mahisa Pukat benar-benar bagaikan menjadi retak tulang-tulangnya. Namun Mahisa Pukat sama sekali tidak menjadi jera.
Meskipun demikian, Mahisa Pukat itu bergumam, “Ternyata orang ini memiliki ketahanan yang sangat tinggi.”
Demikianlah maka pertempuran itu masih berlangsung dengan sengitnya. Serangan demi serangan. Dan benturan demi benturan.
Namun dalam keadaan yang paling sulit, maka Mahisa Pukat kadang-kadang masih juga mempergunakan kemampuannya untuk menyerang dari jarak jauh. Tetapi orang yang disebut Ki Buyut Bapang itu ternyata cukup tangkas untuk menghindarinya.
Sementara itu pertempuran antara Mahisa Murti dan Empu Sepada pun berlangsung dengan sengitnya. Mahisa Murti ternyata telah berusaha pula untuk bertempur pada jarak jangkau wadagnya. Ia tidak lagi menyerang dengan kekuatan ilmunya yang meluncur dari telapak tangannya.
Empu Sepada memang agak menjadi heran. Tetapi ia menduga bahwa Mahisa Murti ingin mempergunakan ilmunya yang dahsyat, yang akan langsung dikenakan kepada tubuhnya.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Murti memiliki ilmu yang luar biasa. Berlandaskan pada ilmu itu pulalah maka Mahisa Murti mampu menyerang pada jarak tertentu, karena tuntunan Akuwu Lemah Warah. Namun dengan ilmu itu pulalah maka Mahisa Murti, anak Mahendra ini, menjadi seorang yang disegani.
Tetapi lawannya adalah orang berilmu tinggi pula. Itulah sebabnya, maka Mahisa Murti tidak mudah untuk mengetrapkan ilmunya dan memenangkan pertempuran itu.
Pertempuran diantara mereka pun berlangsung semakin seru. Sekali-sekali Empu Sepada menyerang Mahisa Murti dengan angin praharanya sebagaimana Mahisa Murti sering pula menyerang dengan melontarkan ilmunya dengan menghentakkan tangannya.
Namun dalam pertempuran yang semakin sengit, maka keduanya kadang-kadang telah membenturkan wadag mereka.
Sementara Mahisa Murti sedang berjuang untuk mengatasi lawannya, maka Mahisa Pukat benar-benar menjadi semakin lemah karena tulang-tulangnya bagaikan menjadi berpatahan.
Namun sebagaimana diperhitungkannya, bahwa tubuhnya masih akan lebih baik dari keadaan lawannya meskipun lawannya mampu membuat dirinya sekeras baja.
Setelah keduanya bertempur beberapa lama, dan tulang-tulang Mahisa Pukat bagaikan berpatahan, maka ia mulai melihat perubahan terjadi pada lawannya. Namun ia masih harus bertempur terus, membenturkan tubuhnya. Dengan lambaran ilmunya yang diwarisinya dari ayahnya, maka pukulan Mahisa Pukat benar-benar merupakan lontaran kekuatan yang luai biasa. Namun tubuh lawannya menjadi sekeras baja, sehingga tubuh Mahisa Pukat sendiri menjadi kesakitan karenanya. Tetapi ia juga mewarisi ilmu dari Pangeran Singa Narpada dan sekaligus dari Akuwu Lemah Warah yang mula-mula dikenalnya bernama Tatas Lintang.
Karena itu, maka beberapa saat kemudian, Mahisa Pukat itu melihat hasil dari lontaran-lontaran ilmunya. Baik yang disadapnya dari ayahnya dengan benturan wadag, maupun dilontarkannya sebagaimana ia mewarisi ilmu Akuwu Lemah Warah, namun juga dengan ilmu yang diterimanya dari Pangeran Singa Narpada.
Ki Buyut Bapang itu pun lambat laun mulai merasa perubahan di dalam dirinya. Tubuhnya memang masih sekeras baja. Tetapi kemampuannya terasa dengan cepat susut. Bukan karena kelelahan. Tetapi sesuatu memang tidak wajar telah terjadi pada dirinya.
Ketika Ki Buyut menyadari apa yang telah terjadi pada dirinya, maka agaknya memang sudah terlambat. Ia sudah kehilangan sebagian besar dari kekuatan dan kemampuannya. Ia tidak lagi mampu bergerak dengan cepat, dan bahkan ilmunya yang mampu membuat tubuhnya sekeras baja itu pun telah jauh susut pula.
Meskipun Mahisa Pukat kemudian juga menjadi lemah dan merasa nyeri di seluruh tubuhnya, bahkan sendi-sendinya rasa-rasanya hampir saling terlepas, namun pada suatu saat, ia benar-benar mampu menguasi Ki Buyut yang tidak berdaya lagi berbuat sesuatu. Pada saat Mahisa Pukat membenturkan kekuatan ilmunya terakhir, maka Ki Buyut tidak mampu lagi bertahan. Ia telah terhuyung-huyung beberapa langkah surut dan kehilangan keseimbangannya pula. Sehingga akhirnya Ki Buyut itu pun telah terjatuh.
Mahisa Pukat tidak melepaskan kesempatan untuk meyakinkan apakah Ki Buyut itu benar-benar tidak berdaya. Karena itu, maka ia pun telah berjongkok di sisinya sambil memegang tangannya. Karena ia masih tetap mengetrapkan ilmunya, maka untuk beberapa saat terakhir, Ki Buyut benar-benar telah kehilangan segenap kekuatannya.
Namun demikian Mahisa Pukat yakin akan keadaan lawannya, maka ia pun telah menjatuhkan dirinya pula duduk di sebelah Ki Buyut itu. Sambil menyeringai Mahisa Pukat sempat merasa beberapa bagian dari tubuhnya yang bagaikan pecah itu. Perasaan sakit dan nyeri masih saja mencengkamnya.
Sementara itu, Mahisa Murti pun telah mengetrapkan ilmunya yang sama dengan Mahisa Pukat. Pada saat ia tidak berpengharapan untuk dapat mengalahkan lawannya dengan ilmunya yang lain, maka ia pun harus mengetrapkan ilmu yang diwarisinya dari Pangeran Singa Narpada. Meskipun Pangeran Singa Narpada sendiri merasa ragu jika seseorang menyebutnyam bahwa ilmu itu adalah ilmu yang licik.
“Tidak,” geram Mahisa Murti, “bukan langkah licik, karena ilmu itu ditrapkan sebagaimana ilmu yang lain.”
Sebenarnyalah, Empu Sepada ketika menyadari apa yang terjadi atas dirinya telah mengumpat, “Kau pergunakan ilmu iblis yang licik itu?”
Mahisa Murti memang menjadi berdebar-debar. Tetapi ia pun kemudian menggeram, “Apa salahnya? Apakah kau juga tidak licik bahwa kau telah menghembus wajahku dengan debu sehingga mataku telah kemasukan pasir?”
“Persetan,” geram Empu Sepada sambil menyerang.
Tetapi tenaganya memang sudah terlalu lemah. Itulah sebabnya, maka ia pun justru telah tersandar pada tubuh Mahisa Murti yang memang tidak menghindar. Namun dengan demikian akibatnya menjadi semakin parah bagi Empu Sepada. Tenaganya bagaikan terhisap habis, sehingga akhirnya hampir saja ia terjatuh seperti sebatang pohon pisang yang ditebang. Namun Mahisa Murti telah menahannya. Ia memang bermaksud menolong Empu Sepada dengan membaringkannya perlahan-lahan.
Namun di luar sadarnya, bahwa Mahisa Murti masih mengetrapkan ilmunya, sehingga karena itu, keadaan Empu Sepada justru menjadi semakin parah.
Baru kemudian, tiba-tiba saja Mahisa Murti telah melepaskannya. Namun tubuh Empu Sepada itu terbaring diam dengan mata terkatub rapat.
“Pingsan,” desis Mahisa Murti.
Namun Mahisa Murti tidak mempunyai kesempatan untuk menungguinya lebih lama lagi. Beberapa orang lawan, dipimpin oleh murid-murid Empu Sepada tiba-tiba sudah mengurungnya.
“Setan,” geram murid Empu Sepada, “kau ciderai guruku,”
“Bukan maksudku,” jawab Mahisa Murti, “tetapi kita berada di medan perang. Kemungkinan seperti itu memang dapat saja terjadi.”
“Baik,” jawab murid Empu Sepada, “kita memang berada di medan perang. Karena itu, maka cara yang aku pergunakan untuk membunuhmu juga sah. Pasukan kecil ini akan membuat tubuhmu arang keranjang.”
Mahisa Murti termangu-mangu. Ia memang melihat sekelompok orang mengepungnya. Karena itu, maka Mahisa Murti harus melawan mereka dengan segenap kemampuan yang ada di dalam dirinya.
“Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “aku sudah menciderai gurumu. Jika ia sampai terlanjur kehilangan nyawanya, aku ikut menyesal. Hanya satu nyawa. Tetapi jika kita berhadapan dengan cara ini, maka aku akan membunuh banyak nyawa.”
“Kau mulai menjadi ketakutan. Tetapi kami tidak akan dapat kau kelabui. Kau sudah membunuh, setidak-tidaknya melukai guruku. Karena itu, maka kau harus mati,” geram murid Empu Sepada itu.
Mahisa Murti memang tidak dapat mengelak. Ia bertanggung jawab atas tindakannya terhadap Empu Sepada. Karena itu, maka ia pun telah siap melontarkan ilmunya yang paling dahsyat. Dengan satu hentakkan, maka beberapa orang tentu akan terbunuh seketika. Apalagi para pengikut Empu Sepada yang tidak memiliki landasan ilmu. Tetapi jika Mahisa Murti tidak mempergunakan ilmunya itu, maka mungkin sekali ia sendirilah yang akan tersapu dalam pertempuran itu.
Namun selagi Mahisa Murti dalam keragu-raguan, maka tiba-tiba beberapa orang nampak berlari-lari mendekati. Mereka terdiri dari tiga orang prajurit Lemah Warah dan beberapa orang penghuni padepokan itu.
“Biarlah, kami yang menyelesaikannya,” berkata salah seorang di antara orang-orang padepokan itu.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Bukan karena ia merasa mendapat kawan cukup banyak meskipun tidak sebanyak lawannya. Tetapi dengan demikian ia tidak harus membunuh sekelompok orang sebagaimana ia menginjak sarang semut dengan tumitnya.
Karena itu, maka sejenak kemudian telah terjadi pertempuran yang sengit antara dua kelompok yang bermusuhan. Meskipun Mahisa Murti juga melibatkan diri, namun ia telah mempergunakan pula sebatang pedang. Ia tidak merasa perlu mempergunakan kemampuannya untuk menghadapi lawan-lawannya itu.
Sementara itu, Mahisa Pukat pun telah berusaha untuk mengatasi kesulitan di dalam dirinya. Tulang-tulangnya memang terasa retak. Tetapi dengan pemusatan nalar budi, maka Mahisa Pukat telah berusaha mengatasi keadaannya.
Namun Mahisa Pukat itu menjadi berdebar-debar ketika ia melihat dua orang yang berlari-lari ke arahnya justru pada saat ia masih berusaha memperbaiki keadaannya.
Namun Mahisa Pukat itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat bahwa dua orang itu adalah dua orang prajurit Lemah Warah.
“Apa yang terjadi?” bertanya salah seorang diantara kedua orang prajurit itu.
Mahisa Pukat memandang keduanya dengan tatapan matanya yang tajam. Dengan nada dalam ia berkata, “Luar biasa. Ki Buyut mampu meremukkan tubuhku. Mudah-mudahan aku cepat menjadi baik. Apakah kalian mau membantu?”
“Membantu apa?” bertanya prajurit itu.
“Jagalah aku sejenak. Hanya untuk mengatasi perasaan sakit. Mudah-mudahan aku sempat berbuat sesuatu kemudian,” berkata Mahisa Pukat.
“Silahkan, kami akan tetap di sini,” jawab prajurit itu.
Demikianlah, maka Mahisa Pukat pun telah mengatur pernafasannya. Dipusatkannya nalar budinya dan disempurnakannya jalan darahnya.
Ia memang tidak memerlukan waktu yang lama. Beberapa saat kemudian maka keadaan dirinya menjadi berangsur baik. Perasaan sakitnya perlahan-lahan bagaikan terdesak keujung-ujung rambutnya untuk didorong meloncat keluar dari tubuhnya.
Namun kedua orang prajurit itu menjadi berdebar-debar. Beberapa orang murid Ki Buyut telah berlarian datang kepada kedua orang prajurit itu.
“Kita lindungi anak muda itu,” desis salah seorang diantara kedua prajurit itu.
Sebenarnyalah beberapa orang telah datang dengan wajah yang tegang. Apalagi ketika mereka melihat Ki Buyut terbaring diam.
Dengan kemarahan yang membakar jantung, seorang diantara mereka berkata lantang, “Apa yang kalian lakukan di sini? Dan apa pula yang telah terjadi dengan Ki Buyut?”
Kedua orang prajurit itu tidak menyahut. Namun mereka telah bersiaga sepenuhnya untuk menghadapi segala kemungkinan.
Dalam pada itu, para pengikut Ki Buyut itu pun telah mengepung keduanya. Seorang diantara mereka berkata lantang, “Jika kedua orang itu tidak mau mengatakan sesuatu, maka mereka sajalah yang harus kita bantai di sini. Kemudian orang yang duduk tepekur itu akan kita bunuh juga bersama kedua orang ini. Agaknya anak muda itu sudah kehilangan kemampuannya untuk berbuat sesuatu.”
Kedua orang prajurit itu masih tetap diam. Namun senjata mereka telah merunduk, siap untuk menebas orang yang bergerak mendekati mereka atau mendekati Mahisa Pukat.
Karena kedua orang itu masih tetap berdiam diri, maka para pengikut Ki Buyut itu pun telah kehilangan kesabaran mereka. Sejenak mereka berputaran. Namun sejenak kemudian, mereka telah mulai meloncat menyerang.
Bagaimanapun juga kedua orang prajurit itu pun menjadi berdebar-debar. Bukan karena mereka mencemaskan nasib mereka. Sebagai seorang prajurit, keduanya sudah menyadari bahwa kemungkinan yang paling buruk itu akan dapat terjadi atas diri mereka.
Namun keduanya justru mencemaskan nasib Mahisa Pukat. Kedua orang prajurit itu mengerti, bahwa Mahisa Pukat adalah seorang anak muda yang berilmu tinggi. Keduanya mengagumi anak muda yang dapat mengalahkan Ki Buyut Bapang itu. Karena itu, adalah sayang sekali, bahwa justru pada saat ia tidak sempat melawan, maka sekelompok orang telah membunuhnya.
Karena itu, maka kedua orang prajurit itu pun kemudian telah bertempur dengan segenap kemampuan mereka untuk mengatasi sekelompok orang yang menyerang itu.
Tetapi ternyata bahwa pekerjaan itu sangat berat bagi mereka berdua. Semakin lama ujung-ujung senjata sekelompok orang itu rasa-rasanya menjadi semakin dekat ke tubuhnya.
Namun bagaimanapun juga kedua orang itu telah bertempur dengan sengitnya.
Pada saat yang sangat gawat itu Mahisa Pukat selesai dengan pemusatan nalar budinya untuk memulihkan kekuatannya. Pernafasannya pun telah berjalan teratur, sementara urat nadinya terasa telah menjadi pulih kembali. Meskipun tulang-tulangnya masih terasa nyeri-nyeri sedikit, tetapi sebagian besar keadaannya telah pulih kembali.
Karena itu, maka ketika ia membuka matanya, maka ia pun segera melihat apa yang telah terjadi di sekitarnya. Dua orang prajurit yang bertempur melawan sekelompok orang yang tidak dikenalnya, yang tentu para pengikut Ki Buyut atau Empu Sepada yang akan merampas batu itu bahkan dengan seluruh padepokannya.
Karena itu, maka ia pun kemudian bergegas mempersiapkan dirinya dan berdiri. Dengan lantang ia pun kemudian berkata, kepada kedua prajurit itu, “Kita bertempur bersama-sama.”
Kedua prajurit itu menarik nafas lega. Rasa-rasanya beban yang terberat telah dapat mereka letakkan. Karena itu ia tidak lagi merasa sangat tegang menghadapi lawan-lawannya.”
Dalam pada itu Mahisa Pukat pun telah terjun pula ke arena. Ternyata seperti Mahisa Murti, ia tidak dengan serta merta mempergunakan ilmu pamungkasnya meskipun ia harus berhadapan dengan sekelompok orang. Namun dengan meningkatkan tenaga cadangan di dalam dirinya, maka ia mampu bergerak sangat cepat. Dengan tangkasnya, tiba-tiba saja ia telah merampas sebatang tombak bertangkai pendek. Kemudian dengan tombak itu ia pun telah bertempur dengan sangat dahsyatnya. Tombak itu telah berputaran dan melanda sekelompok lawannya itu sebagai angin prahara yang menakutkan.
Demikianlah, maka kedua orang prajurit yang hampir saja terhimpit oleh kekuatan para pengikut Ki Buyut itu merasa terbebas dari kematian. Namun belum berarti bahwa mereka telah terbebas sama sekali, karena pertempuran masih terjadi di mana-mana.
Namun dalam pada itu, ternyata bahwa prajurit Lemah Warah dan isi padepokan itu lambat laun mampu mendesak lawan-lawan mereka. Meskipun orang-orang yang menyerang padepokan itu jumlahnya lebih banyak, tetapi ternyata bahwa mereka tidak memiliki kemampuan setingkat dengan isi padepokan itu dan apalagi para prajurit Lemah Warah, sehingga semakin lama mereka pun menjadi semakin mengalami kesulitan.
Apalagi ketika mereka menyadari bahwa Ki Buyut Bapang dan Empu Sepada telah tidak berdaya sama sekali. Bahkan Empu Sepada telah terluka diluar kemauan Mahisa Murti, Empu Sepada telah menderita karena tenaganya yang terhisap habis, sementara itu keadaannya benar-benar telah menjadi sangat lemah.
Para pengikutnya menyadari bahwa mereka tidak lagi mempunyai pemimpin yang dapat mereka banggakan, bahkan para pengikut Ki Buyut Bapang dan Sempada pun merasa kesulitan untuk mengatasi mereka yang juga terbunuh di peperangan itu. Mereka merasa kehilangan pegangan. Itulah sebabnya, maka bagi mereka tidak ada jalan lain yang dapat mereka tempuh daripada berusaha untuk mencari hidup mereka masing-masing.
Itulah sebabnya, maka sejenak kemudian maka para prajurit Lemah Warah dan seisi padepokan itu telah berhasil mendesak dan bahkan memecahkan perlawanan para pengikut Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang. Mereka pun berlarian bercerai berai untuk mencari hidup mereka masing-masing.
Dengan demikian, maka mereka pun telah berlarian meninggalkan padepokan itu secepat dapat mereka lakukan.
Namun beberapa orang terpaksa mereka tinggalkan. Bukan saja yang terluka dan terbunuh di peperangan, tetapi ada di antara mereka yang tertangkap dan memang tidak mempunyai kesempatan untuk melarikan diri.
Ketika mereka yang menyerah dan tertangkap itu dikumpulkan, maka di wajah mereka telah membayang sikap pasrah. Tidak ada pikiran lain pada mereka kecuali bahwa mereka harus menjalani hukuman mati. Yang mereka lakukan kemudian tidak lebih dari berharap agar cara untuk membunuh mereka adalah cara yang terbaik. Bukan cara yang pernah dilakukan oleh beberapa orang di antara mereka terhadap tawanan-tawanan mereka.
Ternyata bahwa isi padepokan itu cukup berhati-hati. Para tawanan itu telah diikat tangannya dan dibawa ke pendapa. Kepada mereka diperintahkan untuk duduk berjajar saling membelakangi.
“Maaf Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “untuk sementara kalian terpaksa kami minta untuk bersikap demikian.”
Orang-orang itu tidak menjawab. Tetapi satu diantara mereka telah mengumpat kasar, meskipun hanya didengarnya sendiri.
Sementara itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, serta para Senapati dari Lemah Warah dan pemimpin padepokan itu telah memimpin langsung pembenahan atas padepokan yang menjadi berserakkan karena pertempuran. Sementara itu yang lain tengah sibuk mengumpulkan kawan-kawan mereka mau pun lawan yang terluka dan terbunuh dipeperangan.
Empu Sepada ternyata benar-benar telah terbunuh oleh ilmu Mahisa Murti yang masih muda itu. Nampaknya Empu Sepada memang menganggap anak muda itu terlalu rendah tataran ilmunya, sehingga ia terlambat menyadari apakah yang sebenarnya dihadapinya. Ketika timbul kesadaran tentang kenyataan yang dihadapinya, ia sudah terlambat.
Beberapa orang telah mengangkut tubuh Empu Sepada itu ke pendapa. Beberapa pengikutnya hampir tidak percaya bahwa Empu Sepada terbunuh oleh anak yang masih muda itu.
Sementara itu tubuh yang lain pun telah dibawa pula ke pendapa. Namun ternyata di dalam tubuh itu masih mengalir nafas. Seorang tua yang sebaya dengan Empu Sepada.
Seperti para pengikut Empu Sepada, maka para pengikut Ki Buyut pun hanya dapat menundukkan kepalanya. Namun mereka masih mempunyai harapan, bahwa Ki Buyut akan sembuh dan dapat membantu mereka berbuat sesuatu, atau justru Ki Buyut itu adalah orang yang pertama kali akan dipenggal kepalanya.
“Baginya lebih baik, bahwa ia tidak sadar lagi sampai saat pemenggalan itu tiba,” berkata salah seorang pengikutnya di dalam hatinya, “atau ia justru mati sebelum sadarkan diri. Itu jauh lebih baik daripada ia akan menjadi permainan kedua anak muda itu apabila kelak ia menjadi sadar.”
Dengan demikian maka para pengikut Ki Buyut dan Empu Sepada itu hanya dapat menunggu. Apapun yang akan terjadi atas diri mereka.
Namun bagaimanapun juga, jantung mereka pun terasa berdebaran.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar