Jumat, 08 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 042-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 042-02*

Sementara itu, maka orang-orang yang terluka pun telah dikumpulkan. Para pengikut Empu Sepada dan pengikut Ki Buyut dikumpulkan dalam satu barak. Beberapa orang menjaganya dengan senjata di tangan. Meskipun mereka terluka, tetapi dalam keadaan tertentu mereka masih merupakan orang-orang yang berbahaya.

Demikianlah, maka padepokan itu pun kemudian menjadi sibuk. Bukan sibuknya pertempuran, tetapi justru sebaliknya. Orang-orang yang ada di padepokan itu menjadi sibuk merawat akibat perang yang garang.

Beberapa orang yang dianggap memiliki pengetahuan tentang pengobatan telah bekerja dengan segenap kemampuan mereka untuk merawat mereka yang terluka. Bukan hanya kawan-kawan mereka saja, tetapi juga para pengikut Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang.

Sebenarnyalah para pengikut Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang merasa heran. Kenapa mereka masih juga dikumpulkan kemudian dirawat luka-luka mereka.

Namun beberapa orang diantara mereka justru menjadi sangat cemas. Mungkin orang-orang padepokan itu dengan sengaja membuat mereka sembuh atau agak sembuh, agar mereka mempunyai kepuasan untuk memperlakukan mereka menurut kehendak mereka. Sebab jika mereka menghukum atau membunuh orang yang memang sudah terluka apalagi parah, mereka tidak akan mendapat kepuasan karenanya.

Tetapi orang-orang itu memang tidak dapat menentukan pilihan. Mereka harus menurut saja perlakuan yang diberikan kepada mereka. Apapun yang dilakukan oleh orang-orang padepokan yang pernah disebut sebagai perguruan Suriantal itu, mereka tinggal menjalani.

Sementara itu, orang-orang yang terbunuh pun telah dikumpulkan pula. Pada dasarnya tubuh-tubuh membeku itu juga mendapat perlakuan yang sama. Tetapi bagaimana pun juga, orang-orang padepokan itu telah memberikan penghormatan khusus bagi kawan-kawan mereka yang gugur. Bahkan termasuk beberapa orang prajurit Lemah Warah.

Semuanya itu mereka selesaikan tanpa mengingat waktu. Meskipun malam telah turun, namun mereka menyelesaikan tugas itu. Mereka telah memasang oncor di beberapa tempat. Juga ditempat mereka menguburkan kawan-kawan mereka dan beberapa puluh langkah disebelah lain adalah orang-orang yang telah menyerang padepokan mereka. Sebagaimana jumlah mereka yang datang berlipat, maka ternyata korban pun berlipat pula. Orang-orang padepokan itu, apalagi para prajurit memang memiliki ketrampilan yang lebih tinggi dari lawan-lawan mereka.

Namun lambat laun, ketika semua kerja telah diselesaikan, padepokan itu mulai menjadi lengang. Para penghuni padepokan itu pun kemudian tinggal merasakan kelelahan yang sangat mencengkam tubuh mereka.

Tetapi semua kerja sudah selesai. Mereka tidak mau menunda, karena mereka menyadari, jika ada kerja yang tersisa, maka mereka akan menjadi sangat malas untuk memulainya kembali.

Karena itu, maka mereka telah menyelesaikan tugas-tugas mereka sehingga mereka dapat beristirahat tanpa terganggu ke-‘ cuali yang bertugas berjaga-jaga. Baik yang bertugas di dinding-dinding padepokan, di regol yang rusak, maupun mereka yang mengawasi para tawanan.

Sementara itu, yang lain benar-benar beristirahat sepenuhnya. Mereka begitu saja menjatuhkan dirinya dan tidur nyenyak. Jarang di antara mereka yang sempat membersihkan dirinya dari keringat dan debu.

Namun ada juga di antara mereka yang sibuk di dapur. Setelah kerja keras, maka perut pun terasa menjadi sangat lapar. Demikian perut mereka merasa kenyang, maka mereka pun mendengkur seperti tidak akan mempunyai keinginan untuk bangun lagi.

Dalam keadaan yang demikian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tetap dalam keadaan siaga lahir maupun batin. Apalagi nereka menyadari, bahwa pada suatu saat Ki Buyut itu akan menjadi baik lagi dan mungkin akan melakukan satu perbuatan yang dapat merugikan mereka.

Karena itu, maka di antara mereka yang harus diawasi, yang paling banyak mendapat perhatian adalah Ki Buyut Bapang. Namun nampaknya keadaannya memang cukup parah. Meskipun orang yang dianggap memiliki pengetahuan tentang obat-obatan sudah bekerja keras, tetapi ternyata bahwa orang itu masih juga belum sadarkan diri.

Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah membagi tugas. Di malam yang tersisa, maka sebagaimana para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan, maka keduanya telah menentukan untuk beristirahat bergantian. Seandainya mereka tidak lagi sempat tidur, setidak-tidaknya mereka sempat membaringkan tubuh mereka yang memang terlalu penat. Apalagi Mahisa Pukat, yang tulang-tulangnya serasa menjadi retak.

Karena itu, maka Mahisa Murti telah memberikan kesempatan kepada Mahisa Pukat untuk beristirahat lebih dahulu, sementara itu, ia berada diantara para petugas yang mengawasi para tawanan di pendapa.

Ternyata ketika padepokan itu tidak lagi terasa sangat kisruh, maka ikatan pada tangan para tawanan itu pun telah dilepas. Namun itu berarti bahwa para petugas harus benar-benar mengawasi mereka sebaik-baiknya. Di antara para petugas itu adalah Mahisa Murti. Justru karena di antara para tawanan itu terdapat Ki Buyut Bapang.

Dengan demikian maka para tawanan itu pun telah mendapat kesempatan untuk berbaring di atas tikar di pendapa itu. Bagaimanapun juga mereka juga merasa sangat lelah. Tetapi karena tekanan perasaan maka mereka tidak mudah untuk dapat tidur nyenyak. Sesaat-sesaat saja mereka lelap oleh kelelahan. Tetapi mereka pun segera terbangun kembali. Jika mereka lelap lagi sejenak, maka mereka pun akan segera terbangun lagi.

Di hari berikutnya, maka segala sesuatunya mulai diakui menjadi lebih baik. Para tawanan telah dimasukkan ke dalam satu barak yang telah dipersiapkan lebih dahulu.

Namun dalam pada itu, Ki Buyut Bapang pun telah mendapat tempat yang khusus. Perlahan-lahan keadaan Ki Buyut itu berangsur baik. Ketika ia sadar, maka ia pun telah mengumpat kasar. Apalagi ketika ia melihat Mahisa Pukat mendekatinya.

“Anak setan kau,” berkata Ki Buyut, “ilmu iblis itu telah kau pergunakan untuk melawan aku.”

“Jika ilmu itu kau sebut ilmu iblis, lalu apakah nama ilmumu yang mampu membuat tubuhmu sekeras batu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Persetan,” geram Ki Buyut, “jika aku mendapat kesempatan sekali lagi melawanmu dan tahu pasti, bahwa kau memiliki ilmu iblis itu, maka aku tentu akan mempergunakan kemampuanku untuk menghancurkanmu.”

“Tidak ada gunanya Ki Buyut,” berkata Mahisa Pukat, “aku sudah mengalahkanmu. Kau tidak akan dapat berbuat apapun juga.”

“Pada saatnya aku akan bangkit, dan kau akan menyesal. Kecuali jika dengan penuh ketakutan kau bunuh aku sekarang,” berkata Ki Buyut.

Mahisa Pukat justru tertawa. Katanya, “jangan aneh-aneh Ki Buyut. Menyerahlah kepada nasib dan kau harus mengakui kenyataan yang terjadi atas dirimu.”

Ki Buyut menggeretakkan giginya. Namun tubuhnya memang masih sangat lemah. Hanya tiba-tiba saja ia bertanya, “Di mana Empu Sepada? Jika ia sempat menghindar dari medan, maka ia akan datang lagi dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari yang pernah dibawanya.”

Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Maaf Ki Buyut. Aku terpaksa mengatakannya. Empu Sepada terbunuh di medan.”

Wajah Ki Buyut berkerut. Nampak perasaannya menjadi tegang. Tetapi kemudian katanya, “jangan kelabui aku seperti anak-anak.”

“Kenapa?” bertanya Mahisa Pukat, “untuk apa aku harus berbohong? Bukankah wajar, bahwa seseorang mati di medan perang dalam pertempuran yang seru?”

“Tetapi tidak Empu Sepada,” jawab Ki Buyut Bapang, “Ia tidak akan mati di sini.”

Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia berkata, “Kenapa Empu Sepada tidak akan mati di sini?”

“Tidak ada orang yang mampu membunuhnya,” berkata Ki Buyut Bapang.

“Empu Sepada bukan orang yang berilmu tinggi,” jawab Mahisa Pukat, “ternyata kenyataan tentang dirinya dan namanya berjarak terlalu jauh. Namanya yang besar sama sekali tidak didukung oleh kemampuannya.”

“Tidak,” Ki Buyut yang lemah itu membentak, “ia berilmu tinggi. Kemampuannya tidak berada di bawah kemampuanku. Aku mengenalnya dengan baik.”

“Jadi kemampuannya setingkat dengan kemampuanmu?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ya,” jawab Ki Buyut pendek.

“Karena itukah ia tidak akan mati di sini?” bertanya Mahisa Pukat pula.

“Ya. Ia akan mampu menggulung padepokan ini jika ia mau,” geram Ki Buyut.

“Jika kemampuannya seimbang dengan kemampuan Ki Buyut, bagaimana dengan Ki Buyut sendiri?” bertanya Mahisa Pukat.

Wajah Ki Buyut menegang. Katanya, “Gila. Aku pun akan mampu menggulung padepokan ini nanti jika kekuatanku sudah pulih kembali. Kita akan berhadapan lagi, setelah aku menyadari bahwa kau memiliki ilmu iblis. Karena itu, maka aku akan mampu menghancurkan ilmu iblismu itu.”

Mahisa Pukat menggeleng. Katanya, “Tidak Ki Buyut. Kau tidak akan mampu mengalahkan aku dengan jenis ilmu apapun. Kau kira disamping ilmuku yang mampu menghisap tenagamu itu, aku tidak mempunyai landasan ilmu yang lain?”

“Persetan,” Ki Buyut itu hampir berteriak, “mari kita lihat.”

Ki Buyut itu berusaha untuk bangkit. Tetapi tenaganya masih lemah sekali. Bahkan dadanya terasa semakin sesak dan pedih.

“Umurmu sudah mencapai tataran pengendapan. Tetapi kau masih mudah dibakar oleh perasaanmu,” berkata Mahisa Pukat, “sebenarnya kau mau apa?”

Ki Buyut itu menggeram. Tubuhnya yang lemah itu telah terbaring lagi di pembaringannya. Rasa-rasanya justru menjadi semakin lemah.

“Sudahlah,” berkata Mahisa Pukat, “berbaringlah dengan tenang.”

Ki Buyut tidak menjawab. Tetapi ia pun telah mengumpat kasar.

Dalam pada itu, di seluruh padepokan itu, para penghuninya tengah sibuk memperbaiki kerusakan-kerusakan yang terjadi setelah pertempuran itu. Beberapa orang telah memperbaiki pagar di sekitar batu yang berwarna kehijauan itu. Yang lain memperbaiki bagian-bagian dinding yang rusak, sementara beberapa orang telah membuat pintu gerbang yang baru untuk nenggantikan pintu gerbang yang telah dirusakkan oleh Ki Buyut Bapang.

Bukan hanya selaraknya yang patah, tetapi daun pintunya yang besar dan kuat itu pun telah pecah pula.

Dengan demikian, maka di padepokan itu telah terjadi kesibukan yang lain dari kesibukan perang yang menyita banyak kerugian. Bukan saja harta benda dan perlengkapan yang ada di padepokan itu, tetapi juga korban jiwa.

Namun dalam pada itu, lima orang berkuda telah mendekati padepokan itu. Lima orang yang membawa pertanda keprajuritan Lemah Warah. Mereka memakai pertanda yang lengkap sehingga justru menunjukkan bahwa mereka adalah dalam tugas keprajuritannya. Siapa yang berani mengganggu mereka, berarti akan berhadapan dengan Pakuwon Lemah Warah.

Beberapa saat kemudian, maka kelima orang prajurit itu menjadi semakin dekat. Meskipun kuda mereka tidak dapat berlari kencang karena jalan yang sulit di beberapa bagian, namun berkuda mereka menempuh jarak dari Lemah Warah ke padepokan Suriantal itu lebih cepat dari perjalanan pasukan yang tidak berkuda.

Kedatangan kelima orang prajurit itu memang mengejutkan. Ketika para petugas yang mengawasi keadaan di luar dinding padepokan melihat lima orang berkuda, maka mereka-pun segera memberikan isyarat.

Pemimpin padepokan itu pun segera menghubungi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta para Senapati prajurit Lemah Warah. Namun ketika mereka naik ke atas panggung, pada dinding padepokan ternyata bahwa mereka telah melihat kelima orang berkuda itu adalah prajurit Lemah Warah.

Dengan serta merta para Senapati Lemah Warah yang telah berada di padepokan itu pun telah menyongsong mereka Pintu yang dibangun untuk sementara itu pun telah dibuka.

Kelima orang prajurit itu pun kemudian dipersilahkan memasuki padepokan. Seorang Senapati yang memimpin kelima orang itu, berdesis, “Sesuatu agaknya telah terjadi.”

“Ya,” jawab salah seorang Senapati yang sudah ada di padepokan itu.

“Perang,” desis Senapati yang baru datang.

“Ya,” jawab Senapati yang datang terdahulu.

Kelima orang prajurit yang baru datang itu mengangguk-angguk. Ketika mereka sudah naik ke pendapa, maka mereka-pun telah bertemu pula dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Dengan singkat kelima orang prajurit itu mendengarkan laporan tentang peristiwa yang telah terjadi. Baru kemudian Senapati yang baru datang itu berkata, “Aku memang mendapat tugas untuk melihat, apa yang telah terjadi. Seharusnya pasukan yang diganti dengan pasukan yang baru sudah kembali ke Lemah Warah. Akuwu memang menjadi cemas, bahwa sesuatu telah terjadi di sini. Dan ternyata dugaan itu benar. Di sini telah terjadi perang yang sengit.”

“Ya. Untunglah bahwa segalanya telah lewat. Yang Maha Agung masih melindungi padepokan ini.” sahut Mahisa Murti.

Para prajurit itu mengangguk-angguk. Tetapi sebagai prajurit yang berpengalaman, maka mereka dapat membaca apa yang telah terjadi di padepokan itu. Kerusakan pada beberapa bagian dan terutama pada pintu gerbang, menunjukkan, bahwa kekuatan yang besar telah melanda padepokan itu. Namun kelima orang prajurit itu juga mengetahui, bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat adalah anak-anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi. Adalah jarang sekali bahwa anak muda seumur mereka telah menyimpan ilmu di dalam dirinya sebagaimana kedua anak muda itu.

“Syukurlah jika semuanya telah teratasi,” berkata Senapati yang datang berlima itu, “Akuwu memang mencemaskan kemungkinan sebagaimana telah terjadi.”

“Kemungkinan seperti ini masih dapat terjadi lagi,” berkata Mahisa Murti, “tetapi kita akan selalu siap.”

“Jika kami kembali ke Lemah Warah, maka segala sesuatunya akan kami laporkan,” berkata Senapati itu.

“Tetapi apakah satu di antara kedua kelompok pasukan yang ada di sini harus kembali?” bertanya Mahisa Murti.

“Tidak tergesa-gesa,” berkata Senapati itu, “jika keadaan di sini sebagaimana yang aku lihat, maka pasukan itu masih diperlukan di sini.”

“Bagaimana dengan mereka yang sudah terlalu lama bertugas di sini?” bertanya Mahisa Murti.

“Sebenarnya mereka belum terhitung terlalu lama bertugas di padepokan ini. Tetapi biarlah aku mohon Akuwu mengirimkan sekelompok pasukan baru untuk menggantikan kelompok yang sudah terdahulu berada di sini,” jawab Senapati itu.

“Batu itu,” berkata Mahisa Pukat kemudian, “nampaknya memang masih akan mengundang orang-orang baru. Tetapi batu itu tidak akan kita lepaskan.”

“Ya,” jawab Senapati itu, “agaknya Akuwu pernah menyinggungnya.”

“Yang menjadi persoalan kemudian adalah, kami berdua memerlukan waktu untuk mencari seorang atau dua orang pemahat yang baik untuk membentuk batu itu menjadi sebuah patung,” berkata Mahisa Pukat.

“Baiklah,” berkata Senapati itu, “jika besok kami kembali, maka hal itu akan kami sampaikan kepada Akuwu. Mungkin Akuwu dapat memberikan jalan sehingga kalian akan mendapat kesempatan untuk itu.”

“Terima kasih,” berkata Mahisa Murti, “kami memerlukan waktu barang satu bulan untuk menghubungi seorang pemahat. Aku belum tahu, siapakah yang dapat dan sanggup melakukannya di tempat yang terpencil ini. Seorang pemahat yang biasa hidup di tempat yang ramai, agaknya harus berpikir ulang untuk bersedia datang ke tempat ini. Bukan saja karena tempat ini sepi dan terpencil, namun tempat ini akan selalu menjadi sasaran orang-orang yang menginginkan batu itu pula.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya, “mudah-mudahan Akuwu dapat memberikan jalan yang paling baik yang dapat kita tempuh.”

Kedua anak muda itu mengangguk-angguk. Agaknya mereka benar-benar mengharapkan kesempatan itu. Sementara itu mereka sempat melaporkah pula tentang Ki Buyut Bapang yang dalam keadaan lemah.

“Tetapi jika keadaannya menjadi baik, maka ia merupakan orang yang berbahaya,” berkata Mahisa Murti.

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya, “Kita serahkan saja kepada Akuwu. Seperti orang yang terdahulu, maka ia telah kehilangan sebagian besar dari ilmunya. Mungkin Akuwu dapat atau mempertimbangkan untuk berbuat demikian jika orang itu memang tidak mungkin lagi diharapkan untuk menjadi seorang yang baik.”

“Jadi, apakah menurut pertimbangan Ki Sanak, Ki Buyut sebaiknya dibawa ke Pakuwon Lemah Warah?” bertanya Mahisa Pukat.

“Sebaiknya demikian. Jika ia tetap berada di sini, maka seisi padepokan ini akan mengalami kesulitan untuk tetap menahannya. Apapun yang akan dilakukan oleh Akuwu, terserahlah kepadanya,” berkata Senapati itu.

“Kami akan menunggu,” berkata Mahisa Pukat.

“Besok kami akan kembali. Akuwu menunggu laporan kami, karena selama ini Akuwu memang merasa gelisah,” berkata Senapati itu, “di Lemah Warah, aku akan sempat melaporkan semuanya, termasuk Ki Buyut Bapang.”

Demikianlah kelima orang prajurit itu tetap berada di padepokan sampai hari berikutnya. Mereka sempat tinggal di padepokan itu dan merasakan betapa sepinya di malam hari. Meskipun demikian panasnya peperangan masih membekas di padepokan itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan tetap menunggu di padepokan itu sampai saatnya Akuwu memberikan jalan kepada mereka untuk meninggalkan padepokan itu barang sebulan.

Seperti yang direncanakan maka di hari berikutnya kelima orang prajurit itu telah meninggalkan padepokan Suriantal kembali ke Lemah Warah. Mereka telah membawa beberapa persoalan yang harus segera mereka sampaikan kepada Akuwu Lemah Warah.

Beberapa saat sebelum berangkat, mereka sempat bertemu dengan Ki Buyut Bapang. Agaknya Ki Buyut pun seorang yang keras kepala seperti tawanan sebelumnya. Dengan demikian, maka Senapati yang memimpin kawan-kawannya yang sekelompok kecil itu berdesis, “Sebaiknya ia mengalami perlakuan seperti orang yang terdahulu. Orang seperti Ki Buyut ini memang tidak akan mungkin dapat dirubah lagi.”

“Tetapi ia adalah seorang Buyut,” berkata Mahisa Murti, “ia memerintah satu daerah tertentu. Kabuyutan Bapang.”

“Apalagi ia seorang Buyut,” berkata Senapati itu, “Namun Bapang tidak termasuk Pakuwon Lemah Warah.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun mereka masih juga memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan lain yang dapat terjadi.

Dengan nada datar Mahisa Murti berkata, “Tetapi, karena Ki Buyut Bapang adalah seorang pemimpin dari satu lingkungan, apakah persoalannya tidak akan mekar? Permusuhan ini akan menjadi permusuhan antara Kabuyutan Bapang dengan padepokan ini. Sementara itu apakah Ki Buyut tidak akan menyeret lingkungan yang lebih luas untuk melibatkan diri dalam persoalan ini? Jika demikian maka Akuwu Lemah Warah akan dapat bermusuhan dengan Akuwu yang memerintah daerah Bapang.”

Tetapi Senapati itu menggeleng. Katanya, “Mudah-mudahan tidak. Akuwu yang memerintah Ki Buyut Bapang tentu mempunyai kebijaksanaan. Mungkin ia justru akan menghukum Ki Buyut yang telah menyimpang dari jalan yang benar itu.”

“Jika Akuwu mendengar kenyataan tentang Ki Buyut itu,” sahut Mahisa Pukat.

“Adalah menjadi kewajibannya untuk mengetahui persoalan yang sebenarnya itu, “jawab Senapati itu.

Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin tenang menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang berkembang karena keterlibatan Ki Buyut di Bapang.

Namun demikian, keduanya harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu kemudian. Seandainya di luarperhitungnan mereka, Akuwu yang memerintah Ki Buyut Bapang melibatkan diri, maka apapun yang terjadi, kedua anak muda itu tidak akan ingkar.

Dalam pada itu kelima orang prajurit Lemah Warah itu-pun telah menempuh perjalanan kembali ke Lemah Warah. Jalan yang mereka tempuh bukan jalan yang lapang. Tetapi kuda kuda mereka kadang-kadang harus justru dituntun melintasi jalan setapak yang sulit.

Tetapi bagaimanapun juga perjalanan berkuda itu menjadi lebih cepat dari pada jika mereka berjalan kaki.

Demikianlah, ketika mereka kemudian telah sampai ke Pakuwon Lemah Warah, setelah perjalanan yang berat dan panjang maka mereka mendapat kesempatan pertama untuk menghadap Akuwu, agar mereka segera dapat beristirahat.

Senapati yang memimpin kelompok kecil itu pun telah memberikan laporan terperinci tentang padepokan Suriantai sehingga sekelompok pasukan Lemah Warah yang seharusnya kembali, terpaksa tertahan di padepokan itu untuk beberapa lama. Senapati itu juga sempat menyampaikan keinginan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk meninggalkan padepokan itu untuk kira-kira sebulan untuk dapat berhubungan dengan seorang pemahat yang baik dan yang bersedia untuk tinggal di padepokan itu.

Akuwu Lemah Warah yang mendengar laporan itu mengangguk-angguk. Dengan nada datar ia berkata, “Kedua anak muda itu tidak sampai hati meninggalkan padepokan itu. Keduanya merasa bahwa keduanya bertanggung jawab atas padepokan itu. Apalagi setelah mereka membawa batu yang kehijauan itu ke padepokan. Dengan demikian mereka telah terikat oleh padepokan itu. Sehingga mereka tidak sempat berbuat yang lain.”

“Hamba Akuwu. Mereka selalu dibayangi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk, bahwa seseorang atau sekelompok orang datang untuk mengambil batu itu. Mereka bukan saja cemas kehilangan batu itu. tetapi mereka juga memikirkan nasib orang-orang yang tinggal di padepokan itu,” jawab Senapati itu.

Akuwu Lemah Warah itu pun mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Kita akan memikirkannya. Kita akan mengambil jalan yang paling baik untuk memberinya kesempatan pergi barang sebulan untuk menghubungi seorang pemahat atau lebih.”

“Apakah kita akan mengirimkan pasukan yang kuat untuk melindungi padepokan itu?” bertanya Senapati itu, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga mencemaskan kemungkinan ikut campurnya Pakuwon yang memerintah Ki Buyut di Bapang.”

Akuwu Lemah Warah mengerutkan keningnya. Namun ia-pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Tentu tidak. Seandainya ada seorang Buyut di lingkungan Pakuwon Lemah Warah ada yang berbuat seperti Ki Buyut Bapang, maka aku kira aku tidak akan melindunginya.”

“Tetapi jika Akuwu itu tidak mengetahui latar belakang dari tingkah lakunya? Memang di antara pengikutnya terdapat orang-orang Bapang. Namun belum tentu bahwa rahasia kehidupannya yang kelam itu diketahui oleh Akuwu,” jawab Senapati itu.

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Katanya, “Memang banyak kemungkinan dapat terjadi. Tetapi biarlah kita memikirkan cara itu, sehingga Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat dengan tenang meninggalkan padepokan itu dan kembali bersama seorang pemahat yang baik.”

“Semuanya terserah kepada Akuwu,” jawab Senapati itu.

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba saja ia bergumam, “Aku pun telah pernah tinggal di sekitar padepokan itu untuk waktu yang lama. Karena itu, apa salahnya jika aku berada di padepokan itu untuk sebulan lagi.”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Dengan ragu ia bertanya, “Lalu, bagaimana dengan pemerintahan di Pakuwon ini?”

“Bagaimana dengan saat aku pergi dahulu? “ justru Akuwu pun bertanya pula.

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia mengenal sifat Akuwunya. Sehingga karena itu maka katanya, “Semuanya terserah kepada Akuwu.”

“Jika aku berada di padepokan itu sementara Akuwu yang memerintah meliputi Bapang itu akan mengambil langkah-langkah penting, aku dapat berbicara dengannya. Aku kira Bapang termasuk daerah Pakuwon Sangling.”

Senapati itu tidak menjawab Akuwu Lemah Warah memang pernah meninggalkan Pakuwon itu untuk waktu yang cukup lama, karena Akuwu Lemah Warah mengemban tugas dari Sri Baginda di Kediri melalui Pangeran Singa Narpada untuk menyelesaikan padepokan Suriantal bersama dua orang anak muda yang juga dikirim oleh Pangeran Singa Narpada langsung dari Kediri tanpa saling mengenal lebih dahulu.

Namun demikian Akuwu Lemah Warah itu masih juga berkata, “Tetapi aku tidak mengambil keputusan sekarang. Besok aku akan berbicara dengan para pemimpin Pakuwon ini.”

Senapati itu pun kemudian telah mohon diri. Bagaimanapun juga setelah melakukan perjalanan yang lama dan berat, mereka menjadi letih, sehingga mereka memerlukan waktu untuk beristirahat.

Demikianlah, maka Akuwu Lemah Warah telah merenungkan laporan Senapati itu. Namun semakin dalam ia merenunginya, maka keinginannya untuk pergi ke padepokan itu menjadi semakin besar. Apalagi jika ia mengingat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang pernah diakunya sebagai kemenakannya. Kedua anak muda itu benar-benar sangat menarik baginya, sehingga keduanya benar-benar diperlakukan sebagai kemenakannya sendiri.

Di hari berikutnya Akuwu telah memanggil para pemimpin Lemah Warah. Diutarakannya niatnya untuk meninggalkan Lemah Warah dan berada di sebuah padepokan terpencil untuk waktu yang tidak terlalu lama.

“Sekitar dua bulan saja,” berkata Akuwu Lemah Warah.

Para pemimpin Lemah Warah yang sudah mengenal watak dan sifat Akuwu, serta hubungan Akuwu dengan Kediri dan Padepokan Suriantal tidak mencegah keinginan Akuwu. Namun yang penting mereka bicarakan, apa yang harus mereka lakukan di Lemah Warah sendiri sepeninggal Akuwu.

Namun ternyata tidak terlalu sulit untuk menemukan pemecahannya, karena hal seperti itu pernah terjadi sebelumnya.

“Aku akan segera berangkat,” berkata Akuwu.

“Berapakah hamba harus menyiapkan pasukan?” bertanya Panglima prajurit dan pengawal Lemah Warah.

“Aku hanya memerlukan pasukan pengawal khusus,” jawab Akuwu, “mereka akan menyertai aku.”

“Hamba Akuwu,” sembah Panglima itu, “hamba akan memerintahkan Panglima pasukan pengawal khusus itu.”

“Ia pernah pergi ke padepokan itu pula,” berkata Akuwu.

Demikianlah maka di hari berikutnya, sepasukan prajurit pengawal khusus telah disiapkan, sementara Akuwu berbenah diri. Sebelum Akuwu meninggalkan istana, maka ia pun telah menyampaikan beberapa pesan khusus. Juga tentang pengawasan para tawanan.

“Aku tidak akan pergi terlalu lama sebagaimana pernah aku lakukan,” berkata Akuwu.

Ketika segalanya telah disiapkan, maka Akuwu pun siap pula untuk berangkat.

Di pagi hari, sebelum matahari terbit, maka sepasukan pasukan pengawal khusus Lemah Warah telah siap. Beberapa saat kemudian, maka Akuwu pun telah siap pula berangkat. Sebagian dari pasukan itu memang berkuda. Tetapi hanya sebagian kecil saja. Yang lain menempuh perjalanan dengan berjalan kaki meskipun mereka harus menempuh perjalanan di malam hari atau bermalam di perjalanan.

Namun mereka adalah prajurit yang terlatih. Sebagaimana juga Akuwu sendiri, maka perjalanan yang berat dan panjang itu bukannya masalah bagi mereka.

Pada saatnya, maka iring-iringan itu telah mendekati padepokan Lemah Warah. Kehadiran iring-iringan itu benar-benar mengejutkan bagi seisi padepokan. Ketika para petugas di dinding padepokan memberikan isyarat, maka dengan serta merta, para pemimpin padepokan itu telah naik ke atas panggungan di sebelah menyebelah pintu gerbang.

“Akuwu,” Mahisa Murti hampir berteriak.

“Buka pintu gerbang,” Mahisa Pukat lah yang benar-benar berteriak.

Pintu gerbang yang sudah diperbaiki itu pun kemudian telah dibuka. Iring-iringan dari Lemah Warah itu pun telah memasuki padeookan Suriantal, disambut oleh Mahisa Murti. Mahisa Pukat dan para Senapati prajurit Lemah Warah yang berada di padepokan itu serta pemimpin padepokan itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang muda itu, tiba-tiba menjadi sangat gembira, seolah-olah benar-benar paman mereka telah datang.

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...