Kamis, 07 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 041-04

*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 041-04*

“Persetan,” Empu Sepada menjadi marah, “jadi kalian telah mengecilkan arti Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang?” geram Empu Sepada.

“Daerah ini bukan daerah Kabuyutan Bapang. Karena itu, maka aku tidak tunduk kepada Kabuyutan Bapang. Sementara Ki Buyut yang memiliki lingkungan ini sebagai daerahnya tidak mempersoalkannya,” jawab pemimpin padepokan itu.

Kedua orang pemimpin itu benar-benar menjadi marah. Dengan suara lantang Ki Buyut berkata, “Aku adalah Buyut di Bapang. Sudah terbiasa perintahku dilaksanakan oleh siapa pun juga. Tidak peduli apakah ia orang dari daerah Kabuyutan Bapang atau bukan. Karena itu, maka lakukan perintahku. Keluar dari padepokan ini atau kami akan memaksa kalian keluar.”

Jantung pemimpin padepokan itu memang menjadi berdenyut semakin cepat. Namun kemudian jawabnya memang menyakitkan hati Ki Buyut dan Empu Sepada, katanya, “Nah, kenapa kau tidak berkata begitu sejak semula. Sebenarnya kalian tidak usah berputar-putar. Aku sudah tahu bahwa pasukan kalian sudah siap dan pasukanku pun sudah siap sejak tiga hari yang lalu. Karena itu, marilah, datanglah mendekat. Kalian akan kami hancurkan di pintu gerbang ini.”

Ki Buyut Bapang menggeram. Dengan nada berat ia berkata, “Bagus. Aku hancurkan kalian. Padepokan ini akan kami miliki dengan memusnahkan kalian semuanya.”

“Marilah Ki Sanak. Kami sudah jemu menunggu,” geram pemimpin padepokan itu pula.

Ki Buyut itu pun kemudian mengumpat kasar. Bersama Empu Sepada mereka segera meninggalkan gerbang padepokan itu.

Hari itu mereka telah menyiapkan seluruh pasukan mereka yang ada. Jumlah mereka memang lebih banyak dari jumlah isi padepokan itu. Dengan demikian maka mereka yakin akan dapat menghancurkan isi padepokan itu.

Tetapi hari itu mereka masih belum menyerang. Pasukan yang mengepung padepokan itu masih mempunyai kesempatan untuk beristirahat semalam suntuk. Besok pagi-pagi mereka akan benar-benar menyerang dan menghancurkan padepokan itu.

Namun orang-orang di padepokan itu pun telah mempersiapkan diri. Busur dan anak panah serta lembing telah disiapkan. Mereka tidak perlu menghematnya jika pasukan itu datang. Mereka mempunyai persediaan cukup banyak dan sudah terletak di panggungan-panggungan di sekeliling halaman padepokan itu. Bukan hanya di sebelah menyebelah pintu gerbang.

Di malam hari, penjagaan memang ditingkatkan. Tetapi kedua belah pihak memberi kesempatan kepada pasukan masing-masing untuk beristirahat sebanyak-banyaknya, agar besok mereka dapat turun ke medan dengan kekuatan penuh dan tidak mudah menjadi letih seandainya mereka harus bertempur sehari penuh.

Menjelang dini hari, maka mereka yang bertugas untuk menyediakan makan dan minum telah dahulu bangun dan menyalakan perapian, makanan dan minuman itu harus siap sebelum matahari terbit, karena pada saat matahari terbit pasukan dari kedua belah pihak tentu sudah bergerak.

Sebenarnyalah, demikian pasukan di dalam padepokan itu selesai, maka mereka telah mendengar suara isyarat dari pasukan yang berada di sekitar padepokan itu. Karena itu, maka mereka pun harus segera mempersiapkan diri.

Para pemimpin kelompok segera dikumpulkan. Mahisa Murti masih memberikan beberapa pesan. Demikian juga para Senapati dari Lemah Warah telah menjatuhkan beberapa macam perintah kepada para pemimpin kelompok. Meskipun jumlah mereka hanya sedikit, tetapi mereka harus menunjukkan sikap sebagai prajurit Lemah Warah meskipun mereka tidak perlu menunjukkan diri sebagai seorang prajurit.

Sementara itu, ketika terdengar isyarat yang kedua di luar padepokan, maka para pemimpin kelompok itu pun diperintahkan untuk segera kembali ke pasukan masing-masing.

Sejenak kemudian, maka para pemimpin kelompok itu telah membawa pasukan masing-masing ke tempat yang sudah ditentukan. Sementara itu para penjaga pun telah memberikan isyarat, bahwa pasukan lawan telah mulai bergerak.

Tetapi pada saatnya, maka para prajurit dan isi padepokan itu pun telah berada di atas panggungan, sementara itu sekelompok prajurit yang lain tetap berada di halaman, karena mereka harus menyambut pasukan yang mungkin akan menyusup masuk setelah mereka berhasil memecahkan pintu regol.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang sudah memperhitungkan, bahwa Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang itu akan dapat memecahkan pintu padepokan itu meskipun pintu itu sudah diperbaiki dan diperkuat. Selarak pintu itu pun telah diperbaharui dan beberapa batang untuk penahan desakan dari luar. Tetapi kedua orang pemimpin itu tentu akan memecahkan pintu itu dengan cara mereka sendiri.

Sejenak kemudian, maka orang-orang yang mengepung padepokan itu telah bergerak merapat. Semakin lama mereka menjadi semakin dekat dengan dinding padepokan.

Ternyata orang-orang itu pun telah memperhitungkan bahwa mereka tentu akan diserang oleh orang-orang padepokan itu dengan anak panah dan lembing.

Karena itu, maka sebagian di antara mereka pun telah mempersiapkan perisai secukupnya, terutama yang berada di paling depan.

Demikianlah, ketika jarak orang-orang itu menjadi semakin dekat dengan jarak jangkau anak panah, maka orang-orang padepokan itu pun telah menyiapkan busur dan anak panah mereka.

Seperti yang diperhitungkan oleh orang-orang yang mendekati padepokan itu, maka sejenak kemudian, maka anak panah pun mulai berhamburan.

Orang-orang yang mendekat itu telah melindungi diri mereka dengan perisai. Namun ternyata bahwa orang-orang padepokan itu mempunyai cara tersendiri. Mereka melontarkan anak panah tinggi-tinggi, sehingga anak panah itu seolah-olah meluncur dari langit. Dengan demikian mereka telah mengangkat perisai mereka hampir di atas kepala.

Namun ternyata bahwa padepokan itu telah menyiapkan pembidik-pembidik terbaik. Mereka mempergunakan busur dan anak panah yang khusus. Dengan bidikan yang mapan dan terarah, maka mereka telah menusuk dada orang-orang yang mendekat itu langsung menyentuh jantung.

Dengan demikian, maka serangan anak panah oleh orang-orang padepokan itu bukan sekedar untuk menahan gerak maju. Tetapi satu-satu korban telah jatuh diantara mereka yang telah menyerang itu.

Para pemimpin kelompok dari dua gerombolan yang menyerang padepokan itu mengumpat. Tetapi sebenarnyalah orang-orang padepokan itu telah mempergunakan cara yang sulit untuk diatasi. Jika mereka melindungi diri dari sasaran bidikan yang lurus dari para pembidik, maka anak panah yang bagaikan hujan itu tidak kurang berbahayanya. Seorang diantara mereka yang dipatuk ubun-ubunnya, ternyata tidak mampu melanjutkan langkahnya sampai ke dinding padepokan sebagaimana mereka yang tertusuk jantungnya.

Orang-orang padepokan itu telah menebarkan anak panah semakin banyak. Anak panah yang telah memungut korban bukan hanya satu dua.

Namun pasukan lawan itu tidak menghentikan gerak mereka. Mereka maju terus dengan meninggalkan korban yang telah jatuh.

Namun ketika mereka menjadi semakin dekat, bukan saja anak panah yang menghujan dari langit. Tetapi lembing-lembing pun mulai dilontarkan. Lembing yang terbuat dari pring cendani berujung bedor besi. Memang sederhana. Tetapi jika mengenai sasaran, maka yang dikenai lembing itu pun akan mati.

Tetapi orang-orang yang mengepung padepokan itu tidak menjadi gentar. Mereka yang tidak membawa perisai berusaha menangkis setiap anak panah dan lembing yang mengarah ke tubuhnya. Tetapi usaha itu tidak selalu berhasil, sehingga semakin lama maka mereka pun menjadi semakin berkurang.

Tetapi yang jatuh di tengah usaha mendekati dinding padepokan itu memang tidak terhitung banyak. Kekuatan mereka rasa-rasanya masih tetap utuh. Sehingga karena itu, maka mereka sama sekali tidak merasa cemas bahwa usaha mereka tidak akan berhasil.

Bahkan yang terjadi itu telah menumbuhkan dendam di hati. Orang-orang itu seakan-akan telah berjanji di dalam diri, bahwa jika mereka nanti memasuki padepokan itu, maka setiap orang akan dibantainya, sehingga orang yang terakhir.

“Aku tidak peduli,” geram seorang pemimpin kelompok, “dua orang di kelompokku telah terbunuh hampir bersamaan ketika ujung anak panah menembus dadanya.”

Dengan demikian maka kepungan itu semakin lama menjadi semakin rapat. Pasukan induk yang dipimpin langsung oleh Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang telah mendekati pintu gerbang. Seperti di tempat-tempat lain, maka perlawanan para penghuni padepokan itu pun telah menghambat gerak maju mereka. Korban pun telah jatuh pula satu-satu diantara mereka yang mendekati pintu gerbang itu.

Namun ternyata hal itu membuat Empu Sepada marah. Demikian pula Ki Buyut Bapang. Ketika anak panah itu masih saja menghujani orang-orangnya, maka Empu Sepada itu pun telah mengetrapkan ilmunya untuk melindungi orang-orangnya.

Sejenak ia bagaikan membeku. Namun kemudian, tiba-tiba saja ia telah mengangkat kedua tangannya merentang ke samping. Dengan gerak yang khusus, maka ia telah memutar tangannya dan kemudian menjulurkan kedua tangannya lurus ke depan.

Ternyata kekuatan yang besar telah berhembus dari telapak tangannya yang menghadap ke arah pasukan dari padepokan yang melontarkan anak panah mereka. Dengan kekuatan angin, maka Empu Sepada itu menyapu anak panah dan lembing sehingga terhembus dan terlempar jauh dari sasaran.

“Luar biasa,” geram pemimpin padepokan itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengerutkan keningnya. Ternyata lawannya telah mempergunakan ilmunya yang tinggi. Karena itu, maka kedua orang anak muda itu pun telah bersiap-siap untuk berbuat yang sama jika diperlukan.

Dalam pada itu, selagi Empu Sepada menyapu serangan anak panah yang tertuju kepada pasukannya, maka Ki Buyut Bapang lebih memperhatikan pintu gerbang padepokan itu sebagai sasaran.

Pada saat-saat anak panah dan lembing terhembus oleh kekuatan ilmu Empu Sepada, maka Ki Buyut tiba-tiba saja telah menghentakkan pula kekuatannya. Dengan cepat ia meloncat ke pintu gerbang itu. Tangannya yang sudah mulai berkeriput itu terayun dengan derasnya. Kemudian menghantam daun pintu gerbang yang tertutup diselarak itu.

Yang terdengar adalah derak yang keras sekali. Selarak yang besar itu pun tiba-tiba telah retak. Karena itu, ketika Ki Buyut mengulangi lagi ayunan tangannya, maka selarak itu pun benar-benar telah patah. Demikian pula congkok-congkok kayu yang sekedar untuk menambah kekuatan selarak yang telah patah itu.

Pada hantaman yang ketiga, maka pintu gerbang itu berderak dan bukan saja terbuka, tetapi beberapa lembar papan pintunya telah berpatahan dan terlepas.

Dengan demikian, maka pintu gerbang itu pun telah terbuka. Sementara itu, Mahisa Pukat pun telah meloncat turun dari panggungan di sisi pintu gerbang itu. Jika Ki Buyut langsung memasuki arena dengan ilmu puncaknya itu, maka Mahisa Pukat tidak akan tinggal diam.

Namun ternyata yang menghambur masuk ke dalam padepokan adalah justru orang-orangnya. Mereka berdesakan memasuki pintu gerbang tanpa menghiraukan, apa yang ada di dalam pintu gerbang itu.

Ternyata demikian mereka menghambur, maka telah menghambur pula anak panah dan lembing yang dilontarkan oleh para prajurit Lemah Warah yang memang sudah menunggu.

Orang-orang itu memang terkejut. Namun segalanya telah terjadi. Beberapa orang langsung jatuh tersungkur. Mati. Bahkan terinjak oleh mereka yang ada di belakangnya, yang terdorong pula oleh orang-orang yang tidak sabar lagi menunggu di luar.

Beberapa orang yang berperisai segera mengambil alih medan. Mereka menyibak kawan-kawannya dan berdiri di paling depan. Sehingga dengan demikian, maka korban pun dapat dikurangi.

Dalam pada itu, mereka yang berdiri di panggungan pun tidak tinggal diam. Ketika pintu pecah, dan gelombang orang-orang yang mengepung padepokan itu meluncur masuk, maka mereka pun telah melempari mereka dengan lembing. Sementara itu, serangan anak panah yang mereka lontarkan keluar, bagaikan telah dihembus angin karena kekuatan ilmu Empu Sepada.

Namun ketika kedua pasukan itu kemudian berbenturan, maka Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang, tidak dapat lagi mempergunakan ilmunya begitu saja. Kedua pasukan telah bertempur dalam perang brubuh, sehingga keduanya harus berhati-hati agar bukan justru menyambar para pengikut mereka sendiri.

Sementara itu, pecahnya pintu gerbang, nampaknya juga mempengaruhi pasukan yang mengepung padepokan itu. Ketika mereka menyadari bahwa sebagian dari kawan-kawan mereka telah memasuki padepokan lewat pintu gerbang, maka mereka pun justru telah kehilangan perhitungan. Mereka ingin dengan cepat memasuki pula padepokan itu. Karena itu, maka mereka pun telah mendesak maju dengan cepat tanpa menghiraukan tubuh-tubuh yang kemudian tersungkur jatuh di tanah.

Orang-orang padepokan telah memanfaatkan keadaan sebaik-baiknya. Ternyata seperti yang diperhitungkan, untuk memasuki padepokan itu memang harus ditaburkan korban yang tidak sedikit jumlahnya.

Namun demikian, betapa banyak korban jatuh, akhirnya orang-orang itu berhasil memanjat dinding padepokan dan meloncat-masuk.

Seperti yang diperintahkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta petunjuk dari para Senapati dan prajurit Lemah Warah, maka jika orang-orang yang mengepung padepokan itu mulai memanjat naik, maka para pengawal harus segera berloncatan turun dan menarik diri. Karena demikian orang pertama dari mereka yang mengepung itu meloncat turun, maka orang-orang padepokan yang sudah dipersiapkan akan menyerang mereka dengan anak panah dan lembing.

Namun demikian, sejenak kemudian pertempuran pun telah terjadi di seluruh sudut padepokan. Seperti yang pernah terjadi sebelumnya, maka pertempuran itu pun menjadi semakin seru.

Meskipun orang-orang padepokan itu berhasil mengurangi jumlah lawan cukup banyak, namun jumlah mereka tetap lebih banyak dari orang-orang padepokan itu.

Namun di dalam padepokan itu terdapat prajurit Lemah Warah yang tangguh tanggon. Prajurit yang telah ditempa bukan saja oleh latihan-latihan yang berat, tetapi juga oleh pengalaman yang cukup luas, sehingga dengan demikian maka prajurit Lemah Warah benar-benar merupakan prajurit yang pilih tanding.

Karena itu, ketika terjadi benturan kekuatan, orang-orang yang menyerang padepokan itu terkejut. Mereka ternyata membentur sekelompok orang yang memiliki ilmu yang mapan serta kerja sama yang tertib.

Untuk beberapa saat, Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang hanya menyaksikan saja pertempuran yang terjadi. Mereka yang merasa bahwa jumlah orang-orangnya lebih banyak, akan mampu dengan cepat menguasai padepokan itu.

Namun ternyata bahwa yang terjadi agak berbeda dengan perhitungan itu. Ternyata tidak terlalu mudah untuk menguasai padepokan itu. Ada kekuatan yang sulit untuk ditembus oleh orang-orang mereka.

Tetapi Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang adalah dua orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Itulah sebabnya maka mereka-pun segera mengetahui, menilik sikap dan cara mereka bertempur, bahwa sebagian dari isi padepokan itu adalah prajurit.

Karena itu, maka Empu Sepada pun tiba-tiba telah berteriak, “Hati-hatilah. Ternyata kalian telah dijebak oleh sekelompok prajurit. Tetapi agaknya mereka tidak sempat minta bantuan, sehingga jumlah mereka tidak begitu banyak.”

Meskipun tidak begitu banyak, namun ternyata para pengikut Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang harus berjuang dengan sekuat kemampuan mereka untuk dapat menekan orang-orang padepokan itu.

Tetapi orang-orang padepokan itu bertempur seperti banteng ketaton. Mereka telah berjuang dengan segenap kemampuan mereka untuk mempertahankan padepokan itu. Apalagi mereka telah berusaha untuk waktu yang meskipun terbatas, namun dengan langkah-langkah mapan meningkatkan ilmu mereka dalam olah kanuragan. Itulah sebabnya meskipun jumlah mereka lebih kecil, tetapi mereka mampu bertahan.

Dengan demikian maka pertempuran pun berlangsung dengan sengitnya. Meskipun jumlahnya tidak seimbang, tetapi ternyata orang-orang yang menyerang padepokan itu tidak mampu dengan serta merta menghancurkan penghuninya sebagaimana mereka inginkan. Mereka tidak dapat dengan serta merta membantai isi padepokan itu untuk membalaskan dendam sakit hati atas kematian kawan-kawan mereka pada saat mereka menyerang dan berusaha memasuki padepokan itu.

Bahkan yang terjadi, korban pun telah bertambah-tambah. Semakin lama semakin banyak.

Namun bukan berarti bahwa penghuni padepokan itu tidak memberikan pengorbanan pula. Orang-orang padepokan itu, bahkan prajurit Lemah Warah pun satu demi satu gugur dan jatuh di tanah setelah berjuang dengan segenap kemampuan mereka mempertahankan padepokan itu dari ketamakan para pengikut Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang.

Demikianlah pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin sengit. Ternyata bahwa kemampuan orang-orang padepokan itu, apalagi para prajurit Lemah Warah, berada di atas kemampuan para pengikut Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang.

Karena itu, maka korban pun jatuh lebih banyak dari para penyerangnya daripada mereka yang mempertahankan. Apalagi jika dihitung sejak mereka mendekati dinding padepokan.

Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang yang menyaksikan pertempuran itu menjadi gelisah. Ternyata yang terjadi itu tidak seperti yang diduganya. Keduanya menyangka bahwa dalam waktu dekat mereka akan segera menguasai padepokan itu. Membunuh orang-orang yang melawan dan kemudian pada saatnya mengambil batu yang kehijauan itu.

Namun ternyata rencana itu tidak mudah dilakukan. Orang-orangnya telah tertahan oleh kemampuan para penghuni padepokan itu meskipun jumlah mereka lebih sedikit. Karena itu, setiap kali keduanya memperingatkan orang-orangnya, bahwa mereka memang harus berhati-hati memilih lawan, karena di antara mereka terdapat beberapa orang prajurit.

“Kalian harus melawan setiap prajurit berpasangan,” berkata Empu Sepada.

Namun ternyata bahwa mereka pun harus melawan setiap orang yang bukan prajurit juga berpasangan.

Karena itulah, maka Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang telah bersepakat untuk ikut langsung dalam pertempuran itu. Dengan suara lantang Ki Buyut berkata, “Bukan salahku jika akan terjadi kematian yang tidak terhitung. Kalian telah memaksa aku untuk terjun ke medan. Karena itu maka yang akan terjadi adalah pembantaian sebagaimana aku membabat batang ilalang.”

Orang-orang padepokan itu menjadi berdebar-debar. Apalagi mereka yang mengetahui bahwa Ki Buyut itu telah mampu memecahkan pintu gerbang padepokan itu, sementara Empu Sepada mampu menyapu serangan anak panah seperti angin menyapu dedaunan kering.

Namun ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mau terlambat. Jika mereka membiarkan kedua orang berilmu tinggi itu bertindak atas para penghuni padepokan itu, maka yang terjadi tentu benar-benar sebagaimana dikatakan. Isi padepokan itu akan dibabatnya habis dengan ilmu mereka yang tinggi.

Karena itu, ketika Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang siap untuk bertindak lebih jauh, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mendekati mereka.

Dengan lantang pula Mahisa Murti bertanya, “Apa yang akan kalian lakukan Ki Sanak?”

Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang berpaling kepada kedua orang anak muda itu. Keduanya tidak terlibat dalam pertempuran yang semakin sengit itu. Bahkan dengan sengaja mendatanginya.

“Apa yang akan kalian lakukan anak-anak muda,” bertanya Empu Sepada.

Mahisa Murti lah yang menjawab, “Ki Sanak. Kami tidak akan dapat membiarkan kalian membantai isi padepokan ini tanpa berbuat sesuatu.”

Ki Buyut lah yang kemudian mengangguk-angguk sambil berkata, “Agaknya kalianlah yang dikatakan sebagai anak-anak muda yang mengagumkan, yang memimpin pengambilan batu itu dari tempatnya dan membawanya kemari. Dengan demikian, maka dapat dipastikan bahwa kalian adalah anak-anak muda yang merasa berilmu tinggi dan mampu menghadapi kami. Memang mungkin kalian adalah anak-anak muda yang kebal bisa, bahkan mampu melepaskan diri dari kutuk batu kehijauan itu atas tingkah laku kalian. Namun ketahuilah, bahwa kedatangan kami termasuk dari rangkaian kutuk itu sendiri. Kalian akan mati.”

“Ki Sanak,” berkata Mahisa Murti, “apapun yang kau, katakan. Tetapi kami berdua berniat mencegah kalian ikut melibatkan diri secara langsung dalam arena pertempuran ini. Kalian telah menunjukkan betapa tinggi ilmu kalian dengan menghembus anak panah yang menghujani para pengikut kalian seperti menghembus lembaran-lembaran kapuk randu. Sementara itu, pintu gerbang itu telah kalian pecahkan seperti mencabik selembar daun pisang. Karena itu jika kalian melibatkan diri, maka akibatnya dapat dibayangkan bagi seisi padepokan ini.”

“Aku mengerti,” berkata Empu Sepada, “kalian akan berusaha menghadapi kami. Sayang, kalian terlalu merasa diri kalian besar hanya kalian berhasil memindahkan batu itu.”

“Apa salahnya jika kami mencobanya. Murid-murid kalian telah mendapat lawannya masing-masing. Meskipun ada di-antara para penghuni padepokan ini harus bertempur berpasangan. Tetapi ternyata para pengikutmu yang lain sama sekali tidak berarti apa-apa di sini. Kesalahan dan tanggung jawab atas kematian yang tidak terhitung ini terletak pada kalian berdua.” berkata Mahisa Pukat.

Empu Sepada menggeram. Katanya, “Baiklah. Jika demikian, maka kalian berdualah yang memang harus dimusnahkan lebih dahulu, maka baru kemudian menunjukkan bangkai kalian kepada isi padepokan ini. Apakah mereka akan bertempur terus atau akan menyerah.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah melangkah saling menjauhi. Mereka telah bersiap menghadapi kedua orang yang berilmu tinggi itu. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah mengamati pertempuran di seluruh arena itu, menganggap bahwa seisi padepokan bersama dengan dua kelompok prajurit Lemah Warah akan mampu mengatasi para pengikut kedua orang berilmu tinggi itu.

Demikianlah sejenak kemudian Mahisa Murti telah berdiri berhadapan dengan Empu Sepada, sedangkan Mahisa Pukat bersiap untuk melawan Ki Buyut Bapang.

Diantara perang yang menelan semua sudut padepokan itu, Empu Sepada dan Mahisa Murti telah bersiap untuk bertempur. Sementara itu Mahisa Pukat pun telah bergeser untuk mengambil tempat yang memadai.

Di tengah-tengah padepokan itu, sekelompok prajurit Lemah Warah dan beberapa orang padepokan itu tengah bertempur dengan gigihnya dan di sekitar batu yang berwarna kehijauan itu.

Namun dalam pada itu, karena jumlah orang-orang yang menyerang padepokan itu jumlahnya lebih banyak, maka beberapa orang di antara mereka sempat menyusup dan dengan sengaja merusak pagar di seputar batu yang berwarna kehijauan itu. Pagar itu memang bukan pagar yang terlalu kuat, sehingga dengan mudah mereka merusak pagar itu.

Beberapa orang tanpa menghiraukan apa pun juga, telah menghambur berlari mendekat dan dengan jantung berdebaran mereka telah meraba batu yang berwarna kehijauan itu. Batu yang menjadi rebutan dari beberapa pihak.

Namun tiba-tiba terdengar dua orang yang meraba batu itu memekik keras-keras. Mereka dengan serta merta telah berlari seperti orang gila. Namun beberapa saat kemudian, mereka pun telah terjatuh dan berguling-guling sambil berteriak-teriak.

Para prajurit Lemah Warah dan penghuni padepokan itu segera mengetahui, bahwa kedua orang itu telah disengat oleh binatang-binatang yang berbisa tajam yang ada di sela-sela retak batu-batu itu. Meskipun sebagian telah berjatuhan ketika batu itu diseret dengan sepuluh ekor kerbau, tetapi yang tersembunyi di celah-celah retak batu itu masih tetap berpegangan erat-erat. Jumlahnya masih tetap menegakkan bulu tengkuk.

Beberapa orang dengan tergesa-gesa telah berlari-lari ke arah kedua orang yang terjatuh itu. Namun ketika mereka sedang berusaha untuk melihat apa yang terjadi, seorang di antara mereka telah menjerit pula. Ternyata beberapa ekor binatang berbisa itu telah melekat di tangan kedua orang itu. Orang ketiga yang meraba tubuh mereka, telah disengat pula oleh binatang yang melekat di tangan kedua orang itu.

Yang lain pun segera bangkit dan bergeser surut menjauhi kawan kawannya yang kemudian menjadi pingsan. Namun agaknya memang tidak ada kesempatan pada mereka untuk tetap hidup setelah mereka menjadi korban bisa binatang berbisa di batu yang kehijauan itu.

Sementara itu pertempuran pun masih berlangsung dengan sengitnya. Korban masih tetap berjatuhan seorang demi seorang. Semakin lama semakin banyak dari kedua belah pihak.

Empu Sepada yang berhadapan dengan Mahisa Murti telah mulai bergeser mendekat. Dengan nada dalam ia berkata, “Sayang, bahwa kau harus mati muda.”

“Bukan. Yang lebih tualah yang sepatutnya mati lebih dahulu. Jangan menyesal,” jawab Mahisa Murti.

Empu Sepada menggeram. Ia pun segera meloncat menyerang Mahisa Murti. Namun Mahisa Murti cepat mengelak, justru lebih cepat dari serangan Empu Sepada.

Empu Sepada menggeram. Tetapi ia tidak melepaskan sasarannya. Ketika Mahisa Murti bergeser mengelak, maka Empu Se-pada pun telah memburunya. Serangannya datang beruntun dengan derasnya, lebih cepat dari serangannya sebelumnya.

Tetapi Mahisa Murti pun dengan kecepatan yang lebih tinggi pula telah mengelak dan dengan demikian maka serangan-serangan itu pun sama sekali tidak mengenai sasaran. Bahkan ketika Empu Sepada siap untuk meloncat menyerangnya pula, Mahisa Murti telah mendahuluinya. Serangannya datang bertumpu pada satu kakinya, sementara kakinya yang lain berputar mendatar, menyongsong lawannya.

Tetapi Empu Sepada pun tanggap akan serangan lawannya. Ia pun segera menggeliat sehingga tubuhnya bagaikan melenting ke samping. Dengan demikian, maka serangan Mahisa Murti itu pun luput dari sasarannya.

Demikianlah pertempuran itu semakin lama menjadi semakin cepat. Kedua belah pihak telah meningkatkan tenaga cadangan di dalam tubuh mereka, sehingga mereka seakan-akan menjadi lebih cepat dan lebih kuat bergerak.

Sementara itu, Ki Buyut Bapang pun menjadi marah mengalami perlawanan yang keras dari Mahisa Pukat. Adalah di luar dugaannya, bahwa anak muda itu ternyata memiliki ilmu kanuragan yang mampu mengimbanginya.

Namun Ki Buyut yang marah itu pun kemudian menggeram, “Anak muda yang tidak tahu diri. Kau sangka kau benar-benar akan mampu mengimbangi aku he? Jika aku mulai merambah pada ilmuku yang sebenarnya, maka kau akan menyesal, bahwa kau akan mengalami kesulitan yang tidak teratasi lagi.”

“Jangan banyak bicara Ki Buyut tua,” geram Mahisa Pukat, “lakukan semuanya itu jika kau mampu.”

“Persetan,” geram Ki Buyut.

Sebenarnyalah Ki Buyut menjadi sangat marah. Ketika usahanya untuk menyerang Mahisa Pukat dengan tenaga wadagnya, meskipun didorong oleh kekuatan tenaga cadangannya tidak berhasil, maka ia benar-benar mulai merambah pada ilmunya. Ilmunya yang tinggi. Mahisa Pukat yang melihat sikap Ki Buyut menjadi berdebar-debar. Ia sadar, bahwa Ki Buyut Bapang itu mulai mengetrapkan ilmunya yang nggegirisi. Dengan ilmu itu pula ia dapat memecahkan pintu gerbang.

Itulah sebabnya, maka segala-galanya telah berubah. Sikap dan tingkah laku Ki Buyut pun seakan-akan berubah pula. Semuanya telah terjadi dengan sangat cepat. Tubuh Ki Buyut itu seakan-akan menjadi sangat berat, tetapi loncatan-loncatannya bagaikan tanpa bobot.

Mahisa Pukat yang melihat perubahan itu pun menjadi semakin berhati-hati. la sadar, bahwa Ki Buyut telah mengetrapkan ilmunya. Namun yang masih belum diketahui dengan pasti oleh Mahisa Pukat. Tetapi satu hal yang pasti, bahwa ilmu itu adalah ilmu yang luar biasa, yang mampu memecahkan pintu gerbang padepokan itu.

Beberapa saat kemudian, maka keduanya bertempur semakin sengit. Mahisa Pukat yang berhati-hati berusaha untuk mengatasi kesulitan yang mungkin timbul, dengan kecepatan geraknya.

Meskipun loncatan-loncatan kaki lawannya kadang-kadang mengejutkan, namun Mahisa Pukat masih mampu mengatasinya.

Dengan demikian maka pertempuran diantara mereka menjadi semakin cepat. Sementara itu, serangan-serangan Ki Buyut nampak semakin berbahaya.

Namun bukan berarti bahwa Mahisa Pukat tidak mendapat kesempatan. Ia pun dengan alas kecepatan geraknya, telah membalas menyerang pula. Ketika kesempatan itu didapatnya, maka ia pun telah melenting dengan kaki terjulur lurus. Dengan kekuatan yang sangat besar ia telah menghantam lawannya mengenai lambung.

Tetapi Mahisa Pukat terkejut sekali. Meskipun orang itu terdorong beberapa langkah ke samping, tetapi Mahisa Pukat sendiri telah mental beberapa langkah pula. Bahkan hampir saja ia kehilangan keseimbangannya. Untunglah dengan cepat ia menguasai dirinya kembali dan berdiri tegak menyambut kemungkinan yang akan datang.

Namun satu hal yang membuatnya menjadi berdebar-debar menghadapi lawannya. Kakinya yang menyentuh lambung itu justru menjadi sakit. Rasa-rasanya kakinya telah menghantam sebongkah baja.

“Apa yang terjadi?” bertanya Mahisa Pukat didalam hatinya.

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...