*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-036-01*
Prajurit itu termangu-mangu. Namun dengan kurang meyakinkan ia menjawab, “Ya. Ya. Aku masih berhutang kepadamu.”
“Nah, di mana cincinku itu he? Apakah sudah kau jual sementara kau belum membayar aku?“ berkata prajurit yang menyambut kedatangan kawannya itu.
Tetapi prajurit yang baru datang itu memang menjadi agak kebingungan. Tiba-tiba saja ia menunjukkan cincin di jarinya, “Ini cincinmu itu.”
“Cincin itu cincin emas dengan mata akik yang terpilih,“ berkata kawannya, “bukan cincin tembaga yang karatan itu.”
Kawannya yang baru datang itu menjadi agak bingung. Namun ia berusaha menjawab, “Aku ingat sekarang. Cincin itu memang diambil oleh orang-orang padepokan, karena cincin itu emas bermata batu akik yang sangat baik.”
Kawannya yang mempunyai cincin itu terbelalak. Dengan nada tinggi ia bertanya, “He, jadi cincin emas dengan mata akik yang mahal itu cukup kau jawab hilang begitu saja?”
“Bukan salahku. Aku tertawan dalam peperangan,“ jawab prajurit yang luka itu.
Pemilik cincin itu masih akan bertanya lagi. Tetapi kawannya mencegahnya, “Ia terluka dan ia baru saja menempuh usaha pelarian yang berat. Biarkan ia beristirahat.”
Pemilik cincin itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi jawaban kawannya itu tidak memuaskan. Meskipun alasannya dapat dimengerti, tetap justru bahwa kawannya itu mula-mula nampak lupa terhadap miliknya yang berharga itu, telah membuatnya agak tersinggung.
Namun prajurit yang memiliki cincin itu tidak mendesak lagi ia memang harus membiarkan kawannya itu beristirahat.
Tetapi dalam pembicaraan selanjutnya dengan para prajurit yang lain, bahkan dengan kawan-kawannya terdekat, orang itu kadang-kadang tidak dapat menanggapi. Beberapa pertanyaan telah membuatnya gagap dan akhirnya orang itu berkata, “Maaf saudara-saudaraku. Betapa baiknya orang-orang padepokan itu, namun aku pun mengalami perlakuan yang keras dan kasar. Pada saat aku ditangkap, dengan tubuhku yang terluka parah, kepalaku telah dipukul dengan landean tombak. Dengan demikian maka aku menjadi pingsan. Ketika aku sadar, maka ada sesuatu yang tidak wajar di kepalaku. Aku kadang-kadang melupakan sesuatu yang pernah aku ketahui. Bahkan melupakan orang-orang yang pernah aku kenal. Mula-mula aku tidak tahu di mana aku berada pada waktu itu. Dan kenapa aku berada di tempat itu. Namun perlahan-lahan aku berhasil mengingatnya kembali. Dan kini banyak yang agaknya aku lupakan dan tidak dapat aku kenali lagi. Namun mudah-mudahan dalam dua tiga hari aku sudah dapat mengingat seluruhnya.”
Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang pemimpin kelompok berkata, “Baiklah beristirahatlah sebaik-baiknya meskipun di tempat yang sederhana ini.”
“Terima kasih. Bagaimanapun juga aku telah merasa tenang berada di tengah-tengah kawan sendiri.“ berkata prajurit yang baru datang itu.
“Ya.“ sahut kawannya, “dalam ketenangan maka ingatanmu akan segera pulih kembali.”
Sementara itu maka kehadiran orang itupun telah dilaporkan kepada Akuwu Tatas Lintang. Seorang prajurit yang terluka yang tertinggal di padepokan. Namun yang kemudian berhasil meloloskan diri meskipun ia berada dalam keadaan yang khusus.
Akuwu Tatas Lintang diikuti oleh Pangeran Singa Narpada telah datang menengok orang yang terluka itu. Namun pembicaraan mereka ternyata sebagian besar tidak dapat pula ditanggapi oleh prajurit yang terluka itu. Namun dengan alasan yang sama maka prajurit itu mengatakan, bahwa benturan di kepalanya telah membuatnya tidak dapat mengingat-ingat lagi dengan baik. Banyak kejadian yang telah dilupakannya. Banyak kawan-kawannya yang tidak dapat dikenalinya lagi.
Akuwu Tatas Lintang mengangguk-angguk. Namun ia menjadi agak heran, bahwa tidak nampak sama sekali kelainan di dalam sikap dan perbuatannya selain kelupaannya itu.
“Baiklah,“ berkata Akuwu Tatas Lintang, “beristirahatlah, Mudah-mudahan kau menjadi lekas sembuh.”
Ketika kemudian Tatas Lintang meninggalkan orang itu, maka iapun berkata kepada Pangeran Singa Narpada, “Sikap dan keadaan orang itu sangat menarik perhatian.”
“Ya,“ jawab Pangeran Singa Narpada, “aku justru sedang berpikir, apakah orang itu dapat juga dipengaruhi oleh semacam ilmu gendam, sehingga ia telah kehilangan kepribadiannya. Bukan sekedar kendali nalurinya yang dirusakkannya.”
Akuwu Lemah Warah itupun mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia teringat kepada kemampuan salah seorang pemimpin dari Tanah Perdikan itu. Katanya, “Salah seorang dari mereka memiliki ilmu yang luar biasa. Orang itu dapat melepaskan pribadinya dari wadagnya dan mempergunakan wadag orang lain yang memiliki kepribadian yang tidak sekuat pribadi orang itu. Dengan mendesak pribadi seseorang yang lemah, maka orang itu dapat menguasai dan mempergunakan wadag itu.”
Pangeran Singa Narpada sangat tertarik kepada keterangan itu. Dengan nada dalam ia berkata, “Apakah hal itu terjadi pada prajurit yang terluka itu? Agaknya orang-orang padepokan itu telah menangkap dan berusaha mengobati luka-luka prajurit Lemah Warah. Namun wadag itu kemudian telah dipergunakannya untuk kepentingan tugas sandi atau tugas-tugas yang lain. Dengan wadag prajurit Lemah Warah, maka ia akan dapat berada di lingkungan pasukan Lemah Warah ini sendiri tanpa dicurigai. Namun karena itu, maka pengenalannya atas lingkungan prajurit itu sendiri ternyata tidak dapat diingatnya lagi, justru karena pribadi yang menguasai wadag itu adalah pribadi yang lain.”
Tatas Lintang mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Kita akan membicarakannya dengan Mahendra. Ia belum dikenal oleh orang yang memiliki kemampuan menguasai wadag orang lain. Biarlah ia mengawasi prajurit yang aneh itu. Mungkin ia dapat menangkap sesuatu.
Pangeran Singa Narpada menyetujuinya pula. Karena itu, maka keduanya pun kemudian telah menemui Mahendra dan menyampaikan persoalan yang dihadapi oleh para prajurit Lemah Warah.
“Baiklah,“ berkata Mahendra, “aku akan mengawasinya.”
Tatas Lintang pun kemudian memberitahukan kemampuan yang dimiliki oleh orang yang dapat menguasai wadag orang lain itu jika mereka harus terlibat ke dalam satu pertempuran melawannya.
Mahendra mengangguk-angguk. Dengan demikian maka ia mempunyai gambaran betapa beratnya melawan orang itu jika ia pada suatu saat harus menghadapinya.
Namun sebagai seorang yang berilmu tinggi pula Mahendra tidak akan mengingkari tugas-tugas yang berat itu.
Dengan demikian, maka disertai dengan kedua orang anaknya Mahendra telah mendatangi gubug yang dipergunakan oleh prajurit yang terluka itu.
Ketika orang itu melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, ia nampak menjadi tegang sejenak. Namun ketegangan itu pun segera tidak nampak lagi di wajahnya.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian mendekati orang yang terluka itu. Beberapa saat mereka berbincang. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mempertanyakan terlalu banyak hal yang dapat membuat orang itu menjadi bingung. Sementara itu Mahendra yang belum banyak dikenal oleh orang-orang Lemah Warah telah berada di tempat itu untuk mengawasi orang yang masih terbaring untuk beristirahat itu.
Namun dalam kesempatan itu Mahendra dapat berbincang agak banyak dengan para prajurit Lemah Warah. Mahendra tidak menyembunyikan dirinya, bahwa ia adalah ayah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Jadi Ki Sanak adalah saudara Akuwu?“ bertanya salah seorang prajurit.
“Kenapa?“ bertanya Mahendra.
“Bukankah kedua anak muda itu kemanakan Akuwu Lemah Warah?“ sahut salah seorang di antara para prajurit.
Mahendra mengerutkan keningnya. Namun iapun telah tersenyum sambil berkata, “Ya. Kami masih bersaudara meskipun bukan saudara kandung.”
Para prajurit itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka tidak bertanya lebih banyak lagi. Namun demikian para prajurit itu agaknya telah membuat penilaian terhadap Mahendra yang rambutnya telah mulai memutih itu.
“Agaknya ia memang memiliki kelebihan, ia berada di sisi Pangeran Singa Narpada sebagai di sisi saudaranya pula. Mungkin ia saudara seperguruan dengan Pangeran Singa Narpada.“ desis seorang prajurit di telinga kawannya.
Demikianlah maka Mahendra telah berada di antara para prajurit Lemah Warah dengan akrab. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah lebih dahulu berada di antara para prajurit itupun tidak lagi merasa canggung.
Dalam tugasnya, maka Mahendra pun telah berada di dalam kelompok prajurit yang merawat kawannya yang terluka itu. Namun para prajurit itu memang merasa heran, bahwa prajurit yang terluka itu tidak lagi tahu di mana kelompoknya dan siapakah pemimpin kelompoknya pada saat ia ikut menyerang padepokan itu. Ketika pemimpin kelompoknya itu datang kepadanya dan mengatakan bahwa ialah memimpin kelompok termasuk prajurit yang terluka itu, maka prajurit itu tidak segera dapat mengenalinya.
Kecurigaan-kecurigaan memang telah timbul. Namun setiap orang yakin bahwa orang itu adalah prajurit yang terluka dan tertinggal di padepokan.
Namun sebagian dari mereka percaya bahwa benturan di kepala orang itulah yang menyebabkan ia menjadi kehilangan ingatannya.
Tetapi tiba-tiba saja seorang prajurit bertanya, “Tetapi kenapa ia dapat mengingat pada saat kepalanya terkena benturan? Dan kenapa ia teringat bahwa ia adalah prajurit Lemah Warah.“
Tidak seorang pun yang menjawab. Mereka menunggu beberapa lama sehingga akhirnya pada suatu saat orang itu akan menunjukkan kesadarannya atau justru ia tetap menjadi orang asing.
Beberapa orang prajurit tidak lagi memperhatikannya meskipun masih ada juga yang merasa heran. Namun Mahendra yang bertugas mengawasinya dengan hati-hati berusaha melakukan tugasnya tanpa diketahui oleh prajurit yang terluka yang diawasinya itu.
Demikianlah ketika kemudian malam tiba, para prajurit-pun telah beristirahat di tempat yang menebar. Mereka tidak seluruhnya berada di dalam gubug. Sebagian dari para prajurit itu justru telah berada di tempat terbuka dan tidur di atas ketepe yang terbuat dari daun kelapa. Sementara yang lain bertugas di sekitar tempat itu. Yang bertugas bukan saja mengamati kemungkinan orang-orang padepokan berlaku curang, tetapi mereka juga harus mengamati jika beberapa ekor ular atau binatang lain memasuki lingkaran para prajurit yang tertidur nyenyak itu.
Dengan bergantian, para prajurit itu telah mengatur diri dalam kelompok masing-masing. Sementara prajurit yang terluka itu masih juga berbaring ditempatinya dan tidak ada niatnya dengan segera kembali ke kelompoknya. Bahkan pemimpin kelompoknya pun tidak memerintahkannya untuk segera kembali karena prajurit itu nampaknya masih lemah.
Di antara para prajurit yang berada di tempat terbuka, diamati oleh beberapa orang petugas. Mahendra berbaring di atas ketepe sebagaimana para prajurit yang lain. Ia telah memerintahkan kedua anaknya kembali ke gubug mereka semula. Namun setiap saat Mahendra mungkin akan memberikan isyarat untuk memanggil mereka.
Ketika malam menjadi semakin kelam, tidak nampak tanda-tanda yang mencurigakan. Prajurit yang terluka itu masih berbaring di tempatnya. Sekali-sekali ia bangkit untuk minum. Nampaknya keadaannya telah membuatnya selalu merasa haus.
Sementara itu, malam pun menjadi semakin sepi. Beberapa orang yang bertugas sudah tidak lagi terdengar suaranya. Mereka duduk sambil bertahan dari kantuk yang kadang-kadang datang mengganggu. Bahkan kadang-kadang menjadi hampir tidak terlawan lagi. Namun dalam keadaan yang demikian, maka para petugas itu telah bangkit dan berjalan-jalan mengitari kawan-kawannya yang tertidur di tempat terbuka.
Pada saat yang demikian, ternyata orang yang terluka itu telah bangkit. Ketika ia melangkah ke pintu, seorang prajurit yang kebetulan terbangun bertanya, “Kau akan ke mana?”
“Udara panas sekali,“ jawab prajurit itu, “aku akan keluar sebentar untuk menghirup udara segar.”
Prajurit yang terbangun itu tidak bertanya lebih lanjut. Ia-pun kemudian telah tertidur lagi. Malam itu tidak mendapat giliran bertugas, sehingga karena itu, maka ia dapat tidur sepuas-puasnya.
Ketika prajurit yang terluka itu kemudian keluar dari gubugnya, maka prajurit yang bertugas di luar pun bertanya pula, “Kau akan pergi ke mana malam-malam begini?“
“Perutku sakit. Aku akan pergi ke sungai kecil sebelah,“ jawab prajurit yang terluka itu.
Prajurit yang bertugas itupun tidak bertanya lebih lanjut. Tetapi justru prajurit yang bertugas yang lain bertanya, “Kau perlu kawan?”
“Tidak. Kenapa harus dikawani?“ ia justru bertanya.
“Nanti kau bingung. Kau lupa jalan kembali,“ berkata prajurit yang bertugas itu.
“Tidak. Mudah-mudahan ingatanku menjadi lebih baik,“ jawabnya.
Prajurit itupun kemudian telah meninggalkan gubug itu menuju ke sungai kecil.
Sementara itu, Mahendra pun tiba-tiba telah bangkit pula dan berkata kepada prajurit yang bertugas, “Mumpung ada kawannya, aku juga akan pergi ke sungai.”
Para prajurit yang bertugas tidak menaruh curiga sama sekali. Baik kepada prajurit yang terluka itu maupun kepada Mahendra yang juga akan pergi ke sungai.
Namun dalam pada itu, ternyata Mahendra tidak menyusul prajurit itu dan bersama-sama pergi ke sungai, ia justru berusaha mengamati prajurit itu dari kejauhan. Dalam gelapnya malam Mahendra mempunyai banyak kesempatan. Juga karena ilmunya yang tinggi, maka ia mampu melakukannya dengan baik tanpa diketahui oleh prajurit yang diikutinya.
Sementara itu Mahendra sudah menempatkan dirinya seakan-akan ia berhadapan dengan orang yang berilmu tinggi. Jika benar dugaannya sebagaimana diduga oleh Tatas Lintang dan Pangeran Singa Narpada, maka orang yang diikutinya itu tentu juga orang yang berilmu tinggi.
Namun agaknya orang yang diikutinya itu sama sekali tidak menduga bahwa telah timbul kecurigaan di antara orang-orang Lemah Warah. Nampaknya beberapa orang prajurit dapat diyakinkannya, bahwa benturan di kepalanya telah membuatnya menjadi pelupa.
Beberapa langkah di belakang orang itu, Mahendra dengan hati-hati mengikutinya. Ternyata orang itu memang tidak pergi ke sungai, tetapi ia telah menuju ke satu tempat yang banyak ditumbuhi pohon-pohon perdu.
Mahendra menjadi semakin curiga. Dan ternyata kecurigaannya itu beralasan. Beberapa saat kemudian, di antara batang-batang perdu, prajurit yang terluka itu telah menemui seseorang.
Mahendra yang berada beberapa langkah dari orang-orang itu bersembunyi di belakang sebatang pohon perdu yang rimbun. Ia telah berusaha untuk tidak menimbulkan bunyi yang dapat menarik perhatian, karena ia yakin, yang dihadapinya itu adalah orang-orang berilmu tinggi.
Dalam pada itu, maka dengan ketajaman pendengarannya Mahendra sempat mendengar percakapan mereka. Dengan berdebar-debar Mahendra mendengar prajurit itu tertawa dan kemudian berkata, “Orang-orang Lemah Warah memang orang-orang yang dungu.”
“Mereka tidak mencurigaimu?“ bertanya suara yang lain.
“Tidak. Memang mula-mula timbul kesulitan dengan pertanyaan-pertanyaan mereka. Namun akhirnya mereka dapat aku yakinkan, bahwa pukulan landean tombak itu telah membuatku lupa segala-galanya.”
Keduanya tertawa. Orang yang menunggu prajurit itu telah bertanya pula, “Apa kata mereka, pada saat kau meninggalkan mereka sekarang ini?”
“Aku mengatakan kepada mereka, bahwa aku akan pergi ke sungai kecil di sebelah,“ jawab prajurit itu.
“Baiklah, kemudian apa rencanamu?“ bertanya orang yang menunggu di gerumbul itu.
“Aku akan memasuki gubug yang dihuni oleh Akuwu Tatas Lintang,“ berkata prajurit itu, “bahkan ternyata dalam pembicaraan yang aku dengar kemudian, Pangeran Singa Narpada ada juga di sini. Aku akan membunuh keduanya dalam satu gerakan yang cepat sebelum mereka menyadari apa yang terjadi. Jika kemudian wadag ini dibunuh, apa peduliku. Aku akan dengan segera meninggalkan wadag ini dan kembali ke wadagku sendiri.”
Beberapa saat tidak terdengar jawaban. Namun kemudian terdengar suara orang yang telah menunggunya itu, “Baiklah. Terserah kepadamu. Mana yang baik kau lakukan, lakukanlah. Tetapi sebaiknya kau memilih waktu yang paling baik yang akan dapat mencapai hasil yang setinggi-tingginya.”
“Besok aku akan pergi ke gubug itu. Aku akan mencari alasan yang paling baik untuk menemui Akuwu. Mungkin aku dapat mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin aku laporkan secara langsung kepada Akuwu, sehingga dengan demikian, maka aku harap bahwa aku dapat diterima oleh Akuwu dan orang-orang terpenting dari Lemah Warah. Dengan demikian, mungkin sekali aku dapat membunuh beberapa orang sekaligus.”
“Baiklah,“ berkata orang yang menunggunya, “besok aku akan datang ke tempat ini lagi jika wadagmu masih belum bangun. Tetapi juga jangan terlalu lama. Kasihan wadagmu sendiri.”
“Baiklah. Mudah-mudahan cara ini dapat berhasil,“ jawab prajurit itu.
Demikianlah maka prajurit yang terluka itupun kemudian meninggalkan tempat itu dan kembali ke gubugnya. Sementara itu, orang yang telah menunggunya di padang itupun telah kembali pula ke padepokan.
Sejenak Mahendra termangu-mangu. Siapakah yang akan diikuti selanjutnya. Namun ternyata Mahendra lebih tertarik untuk mengikuti orang yang telah menunggu di padang perdu itu dari pada prajurit yang terluka yang jelas akan kembali ke gubugnya dan masih tidak akan melakukan sesuatu malam itu.
Seperti orang yang mempergunakan wadag prajurit yang terluka itu, maka orang yang kembali ke padepokan itupun tidak mengetahui bahwa seseorang telah mengikutinya. Orang itu sendiri harus sangat berhati-hati, karena ia harus menembus kepungan prajurit Lemah Warah.
Namun agaknya, daerah yang banyak ditumbuhi perdu itu memberikan banyak kemungkinan untuk menyusup menembus kepungan yang memang tidak serapat anjang-anjang kacang panjang.
Namun Mahendra pun telah ikut pula menyusup kepungan dan memasuki lingkungan di sekitar dinding padepokan. Namun Mahendra harus berhenti beberapa langkah di belakang orang itu, ketika ternyata ada tiga orang lain yang menunggunya.
“Apa yang terjadi dengan orang itu?“ bertanya salah seorang dari ketiga orang yang menunggunya.
Orang yang baru saja menemui prajurit yang terluka itu tertawa. Katanya, “Semuanya akan berjalan baik. Setidak-tidaknya Akuwu Lemah Warah yang disebut Tatas Lintang itu akan terbunuh. Bahkan karena di tempat itu hadir juga Pangeran Singa Narpada, maka Pangeran Singa Narpada itupun harus mati pula.”
“Pangeran Singa Narpada adalah orang yang paling berbahaya di Kediri. Ia adalah orang yang setia kepada Sri Baginda sebagai Raja Kediri, yang justru takluk kepada Singasari. Kesetiaan Pangeran Singa Narpada kepada Kediri yang takluk kepada Singasari adalah kesetiaan yang beku, yang tidak mengingat pergolakan jiwa Rakyat Kediri sendiri,“ berkata orang itu.
“Kebetulan sekali jika ia berada di sini,“ berkata yang lain, “kita akan menghancurkannya. Cara yang ditempuh untuk membunuh Tatas Lintang dan apabila mungkin Pangeran Singa Narpada itu adalah cara yang sangat baik. Ia akan dapat langsung memasuki satu lingkungan bersama dengan sasaran. Agaknya lebih baik ia mempergunakan senjata daripada ilmunya karena sulit baginya untuk mengetrapkan ilmunya dalam pertempuran yang kecuali sempit, juga keadaan wadag yang mendukungnya tidak menguntungkannya, karena wadag itu adalah wadag seorang prajurit yang terluka meskipun lukanya sudah menjadi agak baik.”
“Ya,“ berkata orang yang baru datang menemui prajurit yang terluka itu, “jika besok pembunuhan itu belum terjadi, ia akan menjumpai aku di tempat yang tadi.”
Tetapi kawannya yang menunggunya itu menyahut, “Kau memang bodoh. Kau lebih senang meniti bahaya daripada mengambil jalan yang paling mudah.”
“Jalan apa?“ bertanya orang yang baru menemui prajurit yang terluka itu.
“Kau tunggu saja wadag yang tidur itu terbangun beberapa saat. Kau tidak usah merayap di antara gerumbul-gerumbul dan alang-alang seperti malam ini. Kau tinggal menunggu di dalam bilik pada saat yang dijanjikan,“ jawab kawannya.
“Justru itu jalan yang sangat gawat,“ jawab orang yang baru datang itu, “jika pada saat wadag prajurit yang terluka itu ditinggalkan, maka ia akan dapat berbuat lain karena pribadi prajurit yang terluka itu akan hadir lagi menguasai wadagnya setelah beberapa lamanya ia terdesak dan tidak mampu mengatasi pribadi yang mendesaknya ke pinggir. Dalam keadaan yang demikian, maka segala rahasia akan dapat terungkap.”
Ketiga orang yang menunggu itu mengangguk-angguk. Seorang di antara mereka berkata, “Ya. Agaknya memang begitu.”
“Baiklah,“ berkata yang lain, “kita akan memasuki padepokan. Kita akan berbicara lagi di dalam.”
Keempat orang itupun kemudian meninggalkan tempatnya. Mereka melangkah menuju ke gerbang padepokan. Sejenak kemudian, maka keempat orang itupun telah hilang di balik regol yang kemudian tertutup rapat-rapat.
Mahendra termangu-mangu sejenak. Dipandanginya regol yang tertutup rapat itu. Namun kemudian dengan sangat berhati-hati iapun telah bergeser surut, berlindung di balik gerumbul-gerumbul perdu dan menghilang di gelapnya malam.
Dengan tergesa-gesa Mahendra kembali ke lingkungan kelompok yang berada di sekitar gubug tempat prajurit yang terluka itu beristirahat. Ketika ia kembali dan duduk di atas ketepe daun kelapanya, maka seorang bertanya, “Kau lama sekali? Kawan yang terluka itu sudah dari tadi kembali.”
“Aku tidak menemukannya,“ jawab Mahendra.
Sebenarnyalah prajurit yang terluka, dan berbaring di dalam gubug itu mendengar pembicaraan itu. Iapun kemudian keluar dan meyakinkan, “Kau tadi mencari aku?”
“Ya,“ jawab prajurit yang lain, “sesaat setelah kau pergi, orang ini pun ikut pergi mumpung ada kawannya ke sungai.”
“Tetapi akhirnya aku tetap sendiri, karena aku tidak menemukanmu,“ sahut Mahendra.
Prajurit itu tertawa. Katanya, “Sungai itu begitu panjang. Aku pergi agak ke udik.”
“Pasti tidak ketemu,“ desis Mahendra, “aku agak ke hulu.”
Keduanya tertawa. Yang lain pun tertawa pula.
Namun akhirnya prajurit yang terluka itupun kembali ke pembaringannya untuk beristirahat.
Pada sisa malam itu, memang tidak terjadi sesuatu. Prajurit yang terluka itu tidur dengan nyenyak tanpa merubah kedudukan pribadi yang ada di dalamnya.
Mahendra lah yang tidak segera dapat tidur. Ia tidak dapat dengan serta merta melaporkan kepada para pemimpin Lemah Warah, karena hal itu akan dapat menimbulkan kecurigaan prajurit yang terluka itu apabila ia mengetahuinya.
Karena itu, maka Mahendra akan melaporkannya pagi-pagi, tetapi ia tidak boleh terlambat.
Meskipun prajurit itu nampaknya tertidur nyenyak, namun jika terbangun dan mengetahuinya tidak ada di tempat, persoalannya akan dapat menjadi lain.
Ketika kemudian langit menjadi merah, maka prajurit yang terluka itu sudah terbangun. Dengan sengaja Mahendra mengatakan kepada prajurit yang berada di dalam gubug agar didengar oleh prajurit yang terluka itu, bahwa ia akan pergi ke sungai.
“Semalam kau sudah pergi ke sungai,“ berkata prajurit itu.
“Semalam aku tidak mandi,“ jawab Mahendra.
Prajurit itu tersenyum. Tetapi ia tidak mengatakan sesuatu lagi.
Sementara itu ketika Mahendra telah melangkah menjauhi gubug itu dan sempat berpaling, ia melihat prajurit yang terluka itu berdiri di depan pintu.
Sebenarnyalah kehadiran Mahendra di tempat itu memang menarik perhatian prajurit yang terluka itu. Seolah-olah ada firasat padanya, bahwa Mahendra sengaja mengawasinya.
“Apakah semalam orang itu mengikuti aku?“ bertanya prajurit yang terluka itu di dalam hatinya. Namun iapun kemudian menggeleng, “Aku sudah lama memasuki gubug, ia baru datang. Jika ia memang mengikuti dan menemukan aku, jarak yang diperlukan tidak akan memakan waktu yang demikian panjangnya.”
Sementara itu, Mahendra memang pergi ke arah sungai. Namun ia tidak pergi ke sungai. Ketika ia sudah menjadi semakin jauh dari tempat sekelompok prajurit yang merawat prajurit yang terluka itu, maka iapun segera mengambil jalan lain menuju ke gubug yang dihuni oleh para pemimpin prajurit Lemah Warah.
Kepada Akuwu Lemah Warah dan Pangeran Singa Narpada, Mahendra menceriterakan apa yang ditemuinya semalam.
Para pemimpin Lemah Warah itu mengangguk-angguk. Dengan nada datar Tatas Lintang berkata, “Terima kasih. Mudah-mudahan kami dapat mengatasinya.”
“Berhati-hatilah. Agaknya orang itu memang orang yang berilmu tinggi,“ berkata Mahendra.
“Aku pernah menemuinya dan sedikit bermain-main dengan orang itu dalam wadagnya sendiri. Tetapi waktu itu aku belum dapat meyakini kemampuannya yang sebenarnya,“ sahut Tatas Lintang.
“Baiklah,“ berkata Mahendra, “aku akan kembali ke gubug itu sebelum orang itu mencurigai aku bahwa aku mengamatinya atau bahkan mengetahui rahasianya.”
Tatas Lintang mengangguk-angguk. Demikian pula Pangeran Singa Narpada.
“Kita memang harus berhati-hati,“ berkata Pangeran Singa Narpada.
Mahendra pun kemudian meninggalkan gubug itu dan kembali ke gubug tempat prajurit itu berbaring. Namun Mahendra sempat juga membasahi dirinya di sungai kecil di sebelah padang perdu itu.
Sebenarnyalah ketika ia kembali, prajurit itu mendekatinya dan bertanya, “Kau benar-benar mandi?”
Orang itu menjadi yakin ketika ia melihat tubuh dan rambut, bahkan sebagian pakaian Mahendra menjadi basah.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian iapun kembali untuk berbaring, karena luka-lukanya yang masih belum sembuh sepenuhnya. Meskipun ia sudah dapat pergi ke sungai pula, tetapi ia masih memerlukan perawatan seperlunya.
Namun ketika matahari menjadi semakin tinggi, maka prajurit yang terluka itu telah menemui pemimpin kelompok prajurit Lemah Warah itu, bahwa ia ingin menghadap Akuwu Tatas Lintang atau Pangeran Singa Narpada.
“Untuk apa?“ bertanya pemimpin kelompok itu.
“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan,“ jawab prajurit yang terluka itu.
“Katakan, nanti aku akan menyampaikannya,“ jawab pemimpin kelompok itu.
Tetapi prajurit itu menggeleng. Katanya, “Aku ingin menyampaikannya sendiri. Keterangan ini sangat rahasia. Bukan aku tidak percaya kepadamu, tetapi agar keterangan yang ingin aku sampaikan tidak salah ucap.”
Pemimpin kelompok itu termangu-mangu. Namun akhirnya iapun menyahut, “Baiklah. Akan aku sampaikan permohonanmu itu kepada Akuwu.”
Prajurit itu termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Marilah. Aku ikut bersamamu, sementara kau menyampaikan permohonan itu kepada Akuwu, aku akan menunggunya di luar.”
Pemimpin kelompok itu termenung sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Agar aku tidak mondar-mandir. Tetapi jika permohonanmu ditolak jangan menyalahkan aku.”
“Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa,“ berkata prajurit yang masih luka itu.
Demikianlah, maka prajurit itupun telah pergi bersama dengan pemimpin kelompok menuju ke gubug Akuwu Lemah Warah. Namun ia ternyata menjadi berdebar-debar juga, karena ia mengetahui bahwa di gubug itu berkumpul orang-orang yang berilmu tinggi. Di samping Akuwu Lemah Warah terdapat Pangeran Singa Narpada dan ketiga orang anak muda yang diakunya sebagai kemanakan Akuwu Lemah Warah.
Ketika mereka mendekati gubug itu, maka jantungnya menjadi semakin berdebar-debar karena kesiagaan prajurit Lemah Warah yang sangat tinggi.
Beberapa orang prajurit yang pernah mendengar kedatangan prajurit yang terluka itu, tetapi belum pernah menemuinya, segera mengerumuninya. Namun mereka sudah mendengar bahwa prajurit itu telah kehilangan ingatannya. Karena itu, maka yang mereka tanyakan bukan hal-hal yang memerlukan pengenalan kembali.
Sementara itu pemimpin kelompok yang membawanya, telah meninggalkannya di antara para prajurit, sementara pemimpin kelompok itu sendiri telah memasuki gubug untuk menghadap Akuwu Tatas Lintang.
“Ampun Akuwu,“ berkata pemimpin kelompok itu, “hamba datang untuk menyampaikan permohonan prajurit yang terluka, yang berhasil melarikan diri dari padepokan itu, untuk menghadap.”
Di luar sadar Akuwu dan Pangeran Singa Narpada telah saling berpandangan. Mereka segera teringat pada laporan yang telah disampaikan oleh Mahendra tentang prajurit yang terluka itu.
Beberapa saat Akuwu termangu-mangu. Namun akhirnya ia bertanya, “Di manakah orang itu sekarang?”
“Orang itu ada di luar, Akuwu,“ jawab pemimpin kelompok itu.
Akuwu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Baiklah. Suruh orang itu masuk jika ia memang mempunyai satu kepentingan yang tidak dapat dipesankan kepada orang lain.”
“Ia ingin menyampaikan langsung kepada Akuwu,“ berkata pemimpin kelompok itu.
“Sementara itu, kau jangan kembali ke kelompok lebih dahulu. Kau sebaiknya menunggu saja di luar,“ perintah Akuwu.
“Hamba Akuwu,“ berkata pemimpin kelompok itu yang kemudian bergeser keluar.
Di luar, prajurit yang terluka itu menunggunya dengan gelisah. Semakin lama ia berbicara dengan para prajurit, maka semakin banyak kejanggalan-kejanggalan yang terjadi. Namun ia tetap berpegangan kepada keterangannya, bahwa keadaan itu disebabkan karena benturan yang telah terjadi di kepalanya.
Ketika pemimpin kelompok itu kemudian keluar dari gubug yang dipergunakan oleh para pemimpin pasukan Lemah Warah itu, maka dengan tergesa-gesa ia menyongsongnya.
“Bagaimana dengan permohonanku? Apakah kau mengatakan bahwa ada rahasia yang ingin aku sampaikan?“ bertanya prajurit itu.
“Ya,“ jawab pemimpin kelompok itu, “kau sudah mendapat ijin untuk menghadap.”
Prajurit itu merasa gembira. Tetapi bagaimanapun juga, ia merasa cemas juga karena ia tahu, bahwa di dalam gubug itu terdapat orang-orang berilmu tinggi.
“Tetapi kenapa aku harus cemas,“ berkata prajurit itu di dalam hatinya, “jika ia ingin membunuh, biar wadag inilah yang mati. Aku tidak akan tersentuh sama sekali.”
Namun kemudian iapun mengerti, bahwa kecemasannya disebabkan karena ia tidak mau gagal dalam tugasnya. Ia tidak mau kehilangan kesempatan untuk membunuh Akuwu Lemah Warah dan bahkan Pangeran Singa Narpada.
Karena itu maka dengan hati yang berdebar-debar prajurit itu memasuki gubug itu. Namun ia sadar, bahwa yang berdegupan itu adalah hati wadag yang dipergunakan meskipun oleh pengaruh kegelisahannya yang mendesak pribadi prajurit yang terluka itu.
Demikian prajurit itu masuk, maka iapun segera berjongkok di hadapan para pemimpin Lemah Warah. Sambil berjongkok ia bergeser maju dan duduk bersila beberapa langkah dihadapan Akuwu Lemah Warah yang duduk berjajar dengan Pangeran Singa Narpada. Namun di dalam hati prajurit itu mengumpat, karena dua orang anak muda yang diketahuinya juga berilmu tinggi itupun duduk justru agak di depan kedua orang pemimpin tertinggi itu, sementara seorang lagi yang disebut Mahisa Ura ada pula di antara mereka, duduk agak di belakang Akuwu Lemah Warah. Di sampingnya Panglima pasukan khusus Lemah Warah duduk dengan kesiagaan yang tinggi.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar