Jumat, 08 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 043-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-043-01*

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Tetapi aku hanya sekedar menyesali bahwa hal ini harus terjadi.”

“Sudahlah,” potong Akuwu Lemah Warah, “kita memang sudah menentukan sikap. Kita tidak akan dapat melangkah surut. Apapun yang terjadi.”

“Lalu bagaimanakah dengan pasukan yang berada di padukuhan?” bertanya Mahisa Pukat.

“Memang sulit untuk menghubungi atau memberikan isyarat,” berkata Akuwu Lemah Warah, “tetapi kami berharap jika pertempuran terjadi, mereka sempat mengetahui. Seharusnya mereka selalu mengirimkan beberapa orang untuk selalu mengawasi keadaan padepokan ini.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Desisnya, “Jarak padukuhan itu tidak terlalu jauh. Agaknya mereka akan mengikuti perkembangan yang terjadi di padepokan ini.”

“Jika pertempuran telah terjadi, maka kita akan dapat melepaskan isyarat dengan panah sendaren,” berkata Akuwu Lemah Warah.

Mahisa Pukat mengangguk kecil. Lalu katanya, “Tetapi bagaimanapun juga, kita harus benar-benar bersiap menghadapi kemungkinan yang bakal datang.”

“Sudah tentu,” sahut Akuwu, “apalagi menurut pengetahuanku Akuwu Sangling adalah seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Rasa-rasanya ilmu yang ada di dalam dirinya sulit untuk dicari bandingnya.”

Demikianlah pada hari itu Akuwu Lemah Warah telah mempersiapkan segala-galanya. Ia harus berbuat sesuatu untuk mengurangi dan bahkan melenyapkan setiap kemungkinan, bahwa pasukan Akuwu Sangling akan memasuki padepokan.

Seperti yang sudah terjadi, maka sepasukan yang sudah ditentukan memang akan berada di panggungan seperti yang dikatakan oleh Mahisa Murti. Mereka sudah mempersiapkan anak panah dan lembing dalam jumlah yang tidak terhitung. Mereka akan melontarkannya ke arah pasukan Sangling yang mendekat. Tetapi sudah tentu seperti yang pernah terjadi juga pasukan Sangling yang berada di depan adalah pasukan yang bersenjata pedang dan perisai di tangan kiri.

Tetapi itu memang harus terjadi.

Bersama Akuwu Lemah Warah, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengelilingi padepokan itu sambil melihat-lihat persiapan yang dilakukan oleh para penghuni padepokan serta para prajurit Lemah Warah yang sudah ada di padepokan itu.

Jumlah mereka memang kurang memadai jika hanya mereka sajalah yang harus bertempur melawan pasukan Sangling yang kuat. Tetapi Akuwu yakin, bahwa pasukannya yang berada di padepokan akan dapat ikut menentukan akhir dari pertempuran itu.

Akuwu Lemah Warah dan Mahisa Murti serta Mahisa Pukat setelah menyaksikan persiapan yang dilakukan oleh para penghuni padepokan itu serta para prajurit Lemah Warah, merasa bahwa persiapan yang mereka lakukan itu adalah kemungkinan yang tertinggi. Karena itu ia berharap bahwa mereka akan dapat mengatasi kesulitan sampai saatnya para prajurit di padukuhan itu datang membantu.

Menjelang senja Akuwu telah memanggil semua pemimpin kelompok. Baik pimpinan kelompok dari para penghuni padepokan itu maupun pemimpin kelompok dari para prajurit Lemah Warah. Dengan singkat Akuwu telah memberikan beberapa petunjuk dan pesan. Menurut Akuwu, tidak seorang pun di antara orang-orang Sangling yang akan mendapat kesempatan untuk memasuki padepokan.

“Kita harus bertahan. Berapa pun korban di antara mereka akan jatuh,” berkata Akuwu, “tanggungjawab tidak terletak pada kita, tetapi pada Akuwu Sangling.”

Para pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Namun Mahisa Murti lah yang kemudian berkata, “Akuwu. Kita memang harus bertahan sejauh dapat kita lakukan. Tetapi sulit bagi kita untuk tetap mempertahankan pintu gerbang. Pada saat Ki Buyut dan Empu Sepada menyerang padepokan ini, maka dengan kemampuan ilmu mereka, maka mereka telah memecahkan pintu gerbang tanpa dapat dicegah lagi.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Katanya, “Memang sulit untuk mencegahnya. Tetapi kita akan bertahan di depan pintu gerbang, jika pintu gerbang itu dipecahkannya. Kita akan bertahan agar tidak seorang pun yang dapat masuk ke dalam padepokan ini. Apalagi Akuwu Sangling sendiri. Aku akan menahannya agar ia tetap berada di pintu. Baru jika ia sudah kehilangan kemampuan untuk melawan, ia akan aku bawa masuk, atau akulah yang telah terkapar mati di regol ini. Sehingga biarlah Akuwu Sangling itu masuk ke dalam padepokan ini setelah melangkahi mayatku.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam agaknya Akuwu Lemah Warah benar-benar marah menghadapi sikap Akuwu Sangling. Akuwu Lemah Warah merasa umurnya dan kedudukannya lebih tua dari Akuwu Sangling. Namun agaknya Akuwu Sangling dengan sengaja sudah menandinginya. Sementara Akuwu Lemah Warah sedang berusaha untuk mencari jalan yang baik bagi penyelesaian yang tuntas, terutama atas Ki Buyut Bapang.

Karena itu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak mengatakan sesuatu. Mereka tidak ingin menyinggung perasaan Akuwu Lemah Warah yang sedang marah itu.

“Nah,” berkata Akuwu Lemah Warah itu selanjutnya, “kembalilah kepada kelompok kalian masing-masing. Bersiaplah. Besok kila akan bertempur mempertahankan padepokan ini.”

Para pemimpin kelompok itu pun menyadari, apa yang bergejolak di dada Akuwu Lemah Warah. Karena itu, maka mereka pun segera kembali ke kelompok masing-masing. Mereka pun telah menyampaikan perintah Akuwu itu kepada setiap penghuni padepokan itu dan para prajurit Lemah Warah.

“Akuwu benar-benar marah,” berkata para pemimpin kelompok itu, “karena itu maka sikapnya menjadi keras. Tetapi marah atau tidak marah, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk mempertahankan padepokan ini.”

Para pemimpin kelompok pun telah menguraikan sebagaimana dikatakan oleh Akuwu, kenapa mereka harus bertahan dengan segenap kemampuan mereka.

Para penghuni padepokan itu rasa-rasanya darahnya menjadi semakin bergelora. Perintah Akuwu tegas. Mereka harus mempertahankan padepokan itu dengan tanpa mengenal surut. Mereka harus bertahan sampai kemungkinan terakhir. Tidak seorang pun dari para prajurit Sangling yang boleh masuk tanpa meloncati mayat-mayat penghuni padepokan itu serta para prajurit Lemah Warah.

Dengan demikian, maka para penghuni padepokan itu serta prajurit Lemah Warah yang ada di padepokan itu telah benar-benar bersiap lahir dan batin.

Namun dalam pada itu, waktu yang tersisa itu masih dapat dipergunakan sebaik-baiknya. Mereka harus cukup beristirahat agar besok, menghadapi perang yang tidak mengenal surut, tenaga mereka dapat mereka pergunakan sepenuhnya.

Hanya mereka yang bertugas sajalah yang masih tetap terbangun dan tetap berada di panggungan untuk mengawasi setiap gerak dari mereka yang mengepung padepokan itu.

Menjelang dini hari, maka di dapur dari kedua belah pihak telah mengepul asap. Mereka harus mempersiapkan makan bagi mereka yang akan bertempur setelah fajar.

Dalam pada itu, baik Akuwu Lemah Warah, maupun Akuwu Sangling sendiri hanya sempat tidur beberapa saat. Bagaimanapun juga, perasaan mereka selalu menggelitik sehingga mereka tidak dapat tidur nyenyak dan cukup lama.

Menjelang dini. Akuwu Sangling maupun Akuwu Lemah Warah telah bersiap, sementara pasukannya pun telah bersiap-siap pula. Para pemimpin kelompok tengah mengatur kelompok masing-masing.

Pasukan Sangling pun telah menyusun barisan untuk memasuki Padepokan itu yang disangkanya tidak akan terlalu sulit. Pasukan Sangling akan menggempur padepokan itu dari segala arah. Yang dari depan harus memecahkan pintu gerbang. Bahkan Akuwu pun berkata, “Aku sendiri akan menggempur pintu gerbang itu. Tidak ada yang dapat menghalangi aku untuk memasuki padepokan itu. Aku tidak akan berbuat banyak. Aku hanya akan mengambil Ki Buyut Bapang. Tetapi jika orang-orang Lemah Warah benar-benar ingin mempertahankan, maka aku akan menyapu mereka sampai debu yang terakhir. Bahkan Akuwu Lemah Warah sendiri jika ia berkeras, maka aku akan menghancurkannya, meskipun sebenarnya aku lebih muda kedudukanku daripadanya.”

Demikianlah ketika semua persiapan sudah selesai, maka terdengar suara bende yang menggema di seputar padepokan.

Akuwu Lemah Warah yang mendengar suara bende itu dengan tergesa-gesa telah memanjat panggungan. Dilihatnya dari sebelah regol padepokan, bahwa pasukan Sangling telah mulai bergerak. Pertanda kebesaran telah mulai menggeletar. Tunggul, panji-panji dan kelebet.

Ketika suara bende terdengar untuk kedua kalinya, maka pasukan-pasukan itu benar-benar telah maju dengan cepat. Dengan cepat pula kepungan atas padepokan itu semakin menyempit.

Akuwu Lemah Warah menggeretakkan giginya. Kemarahannya benar-benar telah membakar jantungnya. Namun demikian Akuwu Lemah Warah tidak mau kehilangan penalaran, ia berusaha untuk tetap berpikir jernih menghadapi pasukan Sangling yang kuat.

Karena itu, maka ia pun telah menjatuhkan perintah kepada semua pasukan yang ada di dalam padepokan itu bersiap menyongsong pasukan yang datang.

Tetapi Akuwu Lemah Warah tidak terlalu banyak mempercayakan hambatan pasukan Sangling oleh lontaran anak panah dan lembing meskipun hal itu dilakukan juga. Tetapi Akuwu lebih percaya kepada ketrampilan pasukan di padepokan itu untuk memutar pedang atau tombak di tangannya. Setiap orang yang berusaha untuk memanjat dan meloncat dinding padepokan harus didorong kembali keluar dengan ujung tombak.

Demikianlah, maka pasukan Sangling itu memang menjadi semakin mendekati dinding padepokan. Seperti yang sudah diperhitungkan, maka yang paling depan tentu pasukan yang bersenjata pedang dan perisai untuk melindungi kawan-kawan mereka dari tusukan anak panah dan lembing. Kemudian di belakang mereka adalah para prajurit yang bersenjata anak panah pula untuk melindungi kawan-kawannya dan mengurangi derasnya anak panah yang meluncur dari atas dinding.

Tetapi Akuwu Lemah Warah tidak terlalu terikat oleh benturan pertama. Yang penting bagi Akuwu adalah bagaimana para penghuni padepokan itu dan para prajurit Lemah Warah menahan arus orang-orang Sangling yang akan masuk ke padepokan.

Dalam pada itu, pasukan Sangling pun semakin lama sudah menjadi semakin dekat. Karena itu, maka mereka pun mulai menyiapkan perisai di tangan kiri dan pedang di tangan kanan.

Namun orang-orang Lemah Warah dan isi padepokan itu tidak seperti biasanya, dengan serta menghujani mereka dengan anak panah. Pasukan Sangling itu dibiarkannya berjalan semakin dekat. Bukan saja yang berada di depan pintu gerbang. Tetapi di seluruh lingkaran pasukan Sangling.

Akuwu Sangling memang agak heran, bahwa pasukan Lemah Warah dan orang-orang padepokan itu tidak melakukan sebagaimana diperhitungkan. Meskipun demikian Akuwu Sangling tidak menghiraukannya. Ia sudah yakin bahwa ia akan berhasil menghancurkan pasukan Lemah Warah dan mengambil Ki Buyut Bapang. Bahkan jika kemudian dapat dilakukannya, maka ia pun akan mengambil batu itu pula.

Demikianlah, maka Akuwu Sangling pun langsung menuju ke pintu gerbang. Sementara itu, Akuwu Lemah Warah tidak merasa perlu ikut memanjat panggungan. Ia telah bersiap di belakang pintu gerbang. Demikian Akuwu Sangling memecahkan pintu, maka ia harus segera bersiap di depan pintu.

Yang memimpin pasukan di panggungan sebelah menyebelah pintu gerbang itu adalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Untuk beberapa saat, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang hanya menunggu. Namun ketika pasukan Akuwu Sangling menjadi semakin dekat, maka barulah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memberi isyarat untuk menyerang.

Serangan yang datang itu memang mengejutkan. Seakan-akan orang-orang padepokan itu terlambat bertindak, justru karena lawan telah terlalu dekat.

Namun serangan orang-orang Lemah Warah dan isi padepokan itu memang tidak ditujukan kepada orang-orang yang berperisai yang telah terlalu dekat dengan dinding padepokan. Tetapi justru kepada para prajurit di belakangnya.

Pertempuran pun segera telah berkobar. Orang-orang padepokan itu memang menyerang para prajurit Sangling dengan anak panah. Tetapi tidak dengan cara yang biasa dilakukan, sehingga serangan itu agak mengejutkan juga.

Sementara itu, pasukan Sangling pun segera membalas. Tetapi mereka agaknya lebih mengarahkan sasaran mereka untuk memanjat dinding. Karena itu, maka sebagian dari para prajurit itu telah berusaha untuk melekat pada dinding padepokan.

Tetapi agaknya memang tidak mudah untuk memanjat. Dinding itu cukup tinggi. Karena itu, untuk meloncati dinding mereka memerlukan persiapan yang baik.

Hal itu memang sudah mereka perhitungkan. Karena itu maka di antara para prajurit itu memang telah membawa beberapa batang bambu. Dengan menyandarkan bambu pada dinding, maka mereka akan mendapatkan alas untuk meloncat. Sementara itu, kawan-kawan mereka akan melindungi mereka dengan lontaran anak panah.

Namun seperti yang diperintahkan oleh Akuwu Lemah Warah, tidak seorang pun yang boleh memasuki padepokan tanpa melangkahi mayat-mayat mereka yang mempertahan-kannya.

Ternyata bahwa setiap orang di dalam padepokan itu benar-benar menjunjung perintah itu. Karena itu, apapun yang akan terjadi, maka tidak seorang pun boleh memasuki halaman padepokan.

Dalam pada itu, para prajurit Sangling pun telah berusaha untuk memperlemah pertahanan orang-orang yang berada di dalam dinding padepokan. Merekalah yang justru melontarkan anak panah dengan derasnya. Namun para penghuni padepokan itu pun tidak tinggal diam. Mereka pun membalas setiap anak panah dengan anak panah.

Namun yang paling menegangkan adalah pintu gerbang padepokan itu. Akuwu Sangling benar-benar tidak mau mengekang diri lagi. Ia ingin memecahkan pintu gerbang itu dan masuk ke dalamnya. Mengambil Ki Buyut Bapang dan menghancurkan isi padepokan itu jika mereka berusaha untuk mencegahnya.

Karena itu, maka Akuwu Sangling itu pun telah memerintahkan para pengawalnya untuk melindunginya. Ia akan meloncat dan memecahkan pintu gerbang itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat sikap Akuwu. Mereka pun segera teringat, serangan yang pernah dilakukan oleh Empu Sepada dan Ki Buyut Bapang.

Namun bedanya, sekarang di belakang pintu gerbang itu berdiri Akuwu Lemah Warah. Meskipun pintu gerbang itu akan pecah, tetapi Akuwu Lemah Warah akan berada di belakang pintu itu dan menahan Akuwu Sangling untuk memasuki padepokan.

Namun bagaimanapun juga, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus memperhitungkan segala kemungkinan. Pasukan Sangling yang datang itu jauh lebih banyak dari pasukan Lemah Warah dan penghuni padepokan itu.

“Banyak kemungkinan dapat terjadi,” berkata Mahisa Murti, “kita tidak dapat mengabaikan jumlah prajurit Sangling yang banyak itu.”

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja ia memandang ke kejauhan menembus hutan perdu di sekeliling padepokan itu. Seolah-olah ia ingin memandang ke sebuah padukuhan yang tidak terlalu jauh dari padepokan itu.

“Kita tidak sempat memberitahukan kepada mereka,” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi akan sia-siakah kehadiran mereka di sini?” desis Mahisa Pukat.

“Mudah-mudahan tidak,” jawab Mahisa Murti, “tetapi kita akan bertumpu kepada kekuatan yang ada di padepokan ini.”

“Kita tidak boleh berpura-pura. Jika kita sudah tahu, bahwa kekuatan padepokan ini tidak akan dapat menahan arus serangan para prajurit Sangling, maka kita tidak perlu menunggu berpuluh korban jatuh lebih dahulu.”

“Ya. Tetapi bagaimana? Apa yang harus kita lakukan,” sahut Mahisa Pukat.

“Mungkin pada saatnya kita akan menemukan cara. Jika gerbang itu telah terbuka, maka perhatian akan terpusat pada pintu gerbang itu. Akan terjadi perang yang dahsyat sekali antara ilmu Akuwu Sangling dan Akuwu Lemah Warah,” berkata Mahisa Murti.

“Tetapi dalam pada itu, maka pasukan Sangling akan mengalir memasuki padepokan ini dan melakukan pembunuhan yang tidak terhitung jumlahnya,” berkata Mahisa Pukat. “Mungkin kita akan dapat melepaskan diri dari kematian dengan cara apapun juga. Bahkan mungkin dengan membunuh lawan tanpa dihitung lagi. Tetapi bagaimana dengan yang lain.”

Mahisa Murti termangu-mangu. Namun ia memang tidak segera menemukan cara untuk berbuat sesuatu.

Tetapi sementara itu, perhatian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat segera tertarik kepada para prajurit Sangling yang telah melontarkan anak panah ke arah para prajurit Lemah Warah dan penghuni padepokan yang ada di sebelah-menyebelah pintu gerbang. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat segera mengetahui, bahwa Akuwu Sangling telah siap untuk meloncat dan memasuki padepokan setelah memecahkan pintu regol.

Namun, kedua orang anak muda itu tidak begitu saja membiarkan semuanya itu terjadi. Mereka harus menghambat usaha Akuwu Sangling untuk memecahkan regol.

Namun dalam pada itu, arus serangan para prajurit Sangling memang sulit untuk dibendung. Di seputar padepokan itu, para penghuni padepokan harus berjuang mati-matian untuk menahan arus serangan yang datang bergelombang. Orang-orang Sangling berusaha memanjat bambu-bambu yang mereka sandarkan pada dinding. Mereka mencoba untuk memakainya sebagai landasan untuk meloncat. Namun ternyata bahwa di seputar dinding itu telah dipagari dengan ujung senjata.

Meskipun demikian, maka serangan yang datang bergelombang tanpa henti-hentinya itu sedikit demi sedikit telah meretakkan pertahanan orang-orang Lemah Warah dan penghuni padepokan itu.

Tetapi para penghuni padepokan itu, lebih-lebih para prajurit Lemah warah benar-benar berpegang pada pesan Akuwu, bahwa orang-orang Sangling hanya akan dapat memasuki padepokan itu dengan melangkahi mayat-mayat.

Di regol padepokan Akuwu telah siap untuk melangkah menuju ke regol. Dengan sedikit ancang-ancang maka Akuwu akan memecahkan regol itu dengan kemampuan ilmunya.

Namun selagi Akuwu sudah siap untuk meloncat, tiba-tiba saja Mahisa Murti telah menjulurkan tangannya. Ia tidak menyerang Akuwu langsung ke tubuhnya, tetapi loncatan sinar yang meluncur dari tangannya telah menghantam tanah di depan kakinya. Sehingga telah terjadi ledakan yang menghamburkan tanah dan debu.

Akuwu Sangling telah meloncat surut. Namun wajahnya menjadi merah. Dengan garangnya ia menggeram, “Kaukah yang telah menunjukkan permainan yang buruk itu?”

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berkata, “Akuwu. Sebaiknya kau tidak berbuat seperti seorang perampok yang ingin memecah pintu korbannya. Sebaiknya kau berpikir ulang, apakah yang akan kau lakukan itu berarti?”

“Gila,” geram Akuwu Sangling, “apakah kau kira dengan permainanmu itu kau akan dapat menahan aku?”

Mahisa Murti masih belum menjawab. Namun yang terdengar adalah suara Akuwu Lemah Warah, “Jangan tahan orang itu. Biarlah ia memecahkan regol. Aku akan melihat, apakah Akuwu Sangling benar-benar memiliki kemampuan sebagaimana disebut-sebut orang.”

“Aku dan Mahisa Pukat akan menahannya, Akuwu,” jawab Mahisa Murti, “Akuwu Sangling tidak akan sempat mendekati regol itu.”

Namun Akuwu Lemah Warah itu pun berteriak, “Tinggalkan tempat itu. Cepat, sampai pintu regol itu terbuka.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi bingung. Tetapi mereka tidak berani menahan sekali lagi. Agaknya Akuwu Lemah Warah benar-benar ingin menghadapi Akuwu Sangling untuk bertempur berhadapan.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian mengurungkan niatnya untuk menahan Akuwu Sangling.

Namun ternyata suara Akuwu Lemah Warah itu terdengar oleh Akuwu Sangling, sehingga dari luar regol ia berkata, “Sayang Akuwu. Kau kekang orang-orangmu yang gila itu. Jika kau biarkan ia menggangguku, maka mereka adalah orang-orang pertama yang akan mati.”

“Sudahlah,” berkata Akuwu Lemah Warah, “sekarang bukalah pintu itu. Aku sudah siap.”

Akuwu Sangling memandang pintu gerbang itu dengan sorot mata yang bagaikan menyala. Namun seperti Akuwu Lemah Warah, maka Akuwu Sangling pun telah sampai pada puncak kemarahannya. Karena itu, maka tiba-tiba Akuwu Sangling itu telah berdiri tegak. Satu kakinya ditarik kedepan, kemudian kedua kakinya sedikit merendah pada lututnya. Dengan segenap kekuatan dan kemampuan ilmunya, maka Akuwu Sangling pun telah mendorong pintu gerbang yang tertutup itu dengan hembusan angin prahara yang luar biasa besarnya.

Akuwu sendiri tetap berada di tempatnya. Namun kemudian dari kedua tangannya yang seakan-akan mendorong pintu itu dari jarak yang cukup panjang, telah memancar kekuatan yang telah mengguncang pintu itu dengan dahsyatnya. Semakin lama semakin keras.

Beberapa orang yang melihat peristiwa itu pun menjadi berdebar-debar. Pintu itu benar-benar telah menggelepar, terguncang-guncang dan kemudian berderak-derak.

“Gila,” geram Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang berdiri di sebelah pintu gerbang diatas panggungan. Sebenarnyalah mereka hampir tidak dapat menahan diri untuk menyerang Akuwu itu dengan ilmu mereka pula. Tetapi Akuwu Lemah Warah telah menahannya.

Dalam pada itu, pancaran kekuatan Akuwu Sangling itu menjadi semakin keras mengguncang pintu gerbang itu. Kayu-kayunya mulai retak dan berpatahan.

Sementara itu, para prajurit Sangling pun telah siap untuk menyerbu demikian pintu itu terbuka.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah memberi isyarat kepada para prajurit Lemah Warah untuk bersiap. Demikian para prajurit Sangling menyerbu masuk, mereka akan menahan dengan anak panah dan lembing. Para prajurit Sangling tentu akan kehilangan pertimbangan, terdesak oleh dorongan perasaan mereka.

Namun dalam pada itu, terdengar di beberapa tempat di luar dinding sorak gemuruh para prajurit Sangling. Sorak yang bukan sekedar mengguncang pintu gerbang, tetapi telah mengguncang jantung para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu.

Semakin lama serangan-serangan yang datang bergelombang itu rasa-rasanya menjadi semakin deras, dilindungi oleh lontaran anak panah dan lembing. Meskipun dari dalam dinding itu telah diluncurkan serangan-serangan balasan, namun keadaan memang menjadi semakin gawat.

Sementara itu, papan-papan kayu pintu gerbang pun telah berpatahan sehingga sebentar lagi dapat dipastikan, bahwa pintu gerbang itu akan pecah.

Akuwu Lemah Warah yang marah itu menunggu dengan tangan gemetar. Ia pun telah siap melawan, ilmu apapun yang akan dipergunakan oleh Akuwu Sangling.

Namun pemusatan nalar budinya kadang-kadang memang terganggu ketika ia mendengar sorak yang mengguntur diluar dinding di seputar padepokan itu. Bagaimanapun juga Akuwu Lemah Warah tidak dapat melepaskan sama sekali perhatiannya kepada seluruh pasukan di padepokan itu.

Tetapi ketika pintu gerbang itu mulai runtuh, maka segenap perhatian Akuwu ditujukan kepada pintu yang akan terbuka itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Ia tidak dapat tinggal diam. Apalagi ketika ia melihat seorang yang selalu dekat dengan Akuwu, yang nampaknya memiliki wibawa yang sama meskipun ia tidak mengenakan pakaian keprajuritan sebagaimana Akuwu.

“Orang itu harus mendapat perhatian,” berkata Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Namun dalam keseluruhan, padepokan itu memang mencemaskannya.

Namun, pada saat pintu gerbang itu pecah, pada saat ketegangan sampai kepuncak, maka tiba-tiba saja Mahisa Pukat memandang kekejauhan sambil berbisik, “Mahisa Murti. Lihatlah.”

“Apa?” desis Mahisa Murti yang perhatiannya sepenuhnya tertuju kepada Akuwu Sangling dan orang yang berdiri di sebelahnya, yang agaknya siap membantu jika Akuwu gagal memecahkan pintu itu dari kejauhan.

“Lihatlah dibelakang gerumbul-gerumbul perdu itu,” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun ia pun sempat melihat beberapa orang yang bergerak-gerak.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun perhatiannya segera tertuju kembali kearah pasukan Sangling. Demikian pintu itu pecah, maka seperti yang diduganya, maka pasukan Sangling pun telah siap untuk menyerbu.

Namun langkah mereka justru tertahan. Tiba-tiba saja terdengar keluh tertahan. Beberapa orang yang berusaha mendekati pintu gerbang yang sudah terbuka itu bagaikan membentur batas yang tidak kasat mata. Dengan serta merta mereka berdesakan surut.

“Bodoh kalian,” teriak Akuwu Sangling, “minggir. Biarlah aku yang pertama-tama memasuki pintu gerbang itu.”

Beberapa orang pun bergerak surut. Sementara itu Akuwu Sangling diikuti oleh orang yang selalu menjadi perhatian Mahisa Murti melangkah ke arah pintu gerbang.

“Panas,” desis seorang prajurit.

Akuwu sangling tidak menghiraukannya. Namun ia pun kemudian telah berdiri di depan gerbang beralaskan pecahan kayu pintu gerbang yang pecah berserakan itu.

Kedua Akuwu itu sudah saling berhadapan. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengambil kesempatan. Mereka memerintahkan para penghuni itu serta para prajurit Lemah Warah untuk menyerang para prajurit Sangling, dengan anak panah.

Serangan itu datang begitu tiba-tiba dan di luar dugaan. Karena untuk pada mulanya, para prajurit Sangling harus mengorbankan beberapa orang diantara mereka.

Akuwu Sangling sendiri tidak menghiraukannya. Ia sudah berdiri berhadapan dengan Akuwu Lemah Warah. Keduanya telah menjadi marah dan seakan-akan tidak lagi mempunyai kesempatan untuk berpikir lebih jauh.

Sebagaimana Akuwu Sangling tidak menghiraukan lagi para prajuritnya yang dianggapnya sudah cukup dewasa untuk menempatkan diri mereka sendiri, maka Akuwu Lemah Warah-pun tidak menghiraukan lagi kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi atas padepokan itu. Seperti Akuwu Sangling maka Akuwu Lemah Warah mempercayakan sepenuhnya kepada para prajuritnya dan para penghuni padepokan itu yang sudah memiliki pengalaman yang luas untuk mempertahankan padepokannya, karena serangan yang demikian telah berulang kali terjadi.

Namun yang tertarik atas serangan orang-orang yang berada di panggungan, sebelah menyebelah regol itu adalah justru yang berada semula di dekat Akuwu Sangling. Namun karena Akuwu Sangling siap berhadapan dengan Akuwu Lemah Warah, maka orang itu telah berdiri diantara para prajurit Sangling.

“Setan,” geram orang itu, “kalian agaknya ingin dibinasakan. Bukan salahku jika kalian akan runtuh bersama dinding padepokan di sebelah regol itu.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tiba-tiba telah melihat orang itu bersiap. Sikapnya tidak bedanya dengan sikap Akuwu Sangling di saat melontarkan serangannya untuk mengguncang pintu gerbang.

Dengan demikian maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat melihat keadaan yang gawat. Karena itu, maka mereka pun segera bersiap. Mereka tidak dapat meloncat meninggalkan tempat itu dan membiarkan orang-orang-lain menjadi korban. Karena itu, maka apapun yang terjadi, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat harus menghadapinya.

“Anak-anak,” orang itu menggeram, “kau kira permainanmu itu dapat mengguncangkan kepercayaan kami atas kemampuan kami. Jika kau mampu menghamburkan debu di tanah, maka bukan berarti bahwa ilmumu itu cukup berarti.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun Mahisa Murti sempat memberi peringatan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya untuk berlindung di belakang dinding padepokan.

Sebenarnyalah, maka sejenak kemudian orang itu telah melontarkan serangan langsung mengarah kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Kekuatannya bagaikan arus angin prahara yang dahsyat telah melanda ke arah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu.

Pada saat yang hampir bersamaan, maka atas isyarat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah siap. Demikian serangan itu terlontar ke arah mereka, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah melontarkan kekuatan ilmu mereka pula. Ilmu yang mereka pelajari dan kemudian mereka warisi dari Akuwu Lemah Warah, namun yang berisi bukan saja kekuatan kewadagan, tetapi kedua anak muda itu memiliki ilmu yang dahsyat yang mereka warisi dari ayah dan paman mereka. Kedahsyatan ilmu itulah yang telah terlontar membentur kekuatan ilmu orang yang berada di antara prajurit Sangling itu, yang memiliki kedahsyatan ilmu sebagaimana Akuwu Sangling.

Sejenak kemudian telah terjadi ledakan yang dahsyat sekali. Dua kekuatan telah berbenturan. Kekuatan saudara seperguruan Akuwu Sangling itu telah berbenturan dengan kekuatan bersama dari Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Demikian dahsyatnya benturan ilmu itu sehingga kedua belah pihak telah terguncang.

Namun betapapun dahsyatnya kekuatan ilmu saudara seperguruan Akuwu Sangling, namun menghadapi benturan kekuatan yang tersusun dari dua kekuatan raksasa anak-anak muda anak Mahendra itu, terasa dadanya bagaikan terguncang.

Kekuatan yang terlontar itu telah membentur kekuatan lawannya dan menghantam kembali ke dalam dirinya.

Saudara seperguruan Akuwu Sangling itu terdorong beberapa langkah surut. Sesaat rasa-rasanya matanya menjadi gelap dan ia pun telah kehilangan keseimbangan. Untunglah seorang prajurit cepat menangkapnya sehingga orang itu tidak terjatuh.

Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun mengalami goncangan yang gemuruh di dalam dadanya. Namun ternyata mereka masih mampu bertahan dengan kekuatan mereka sendiri, sehingga mereka tidak terdorong jatuh.

Benturan yang dahsyat itu benar-benar telah mempengaruhi sikap kedua belah pihak. Akuwu Sangling yang berdiri tegak di pintu gerbang terkejut bukan buatan ketika ia sempat berpaling dan melihat saudara seperguruannya terhuyung-huyung.

Sementara itu Akuwu Lemah Warah pun menarik nafas dalam-dalam. Ternyata bahwa kedua anak muda itu telah memiliki ilmu yang sangat tinggi meskipun umur mereka masih muda. Meskipun mereka berhadapan dengan ilmu yang dahsyat, namun keduanya mampu mengimbanginya dengan kekuatan yang justru lebih besar, meskipun harus bekerja bersama.

Dalam keadaan yang demikian maka Akuwu Lemah Warah pun berkata, “Nah, apa katamu?”

“Persetan,” geram Akuwu Sangling, “kau kira anak-anak itu tidak mengalami luka parah di dalam dirinya? Marilah, kita akan menyelesaikan persoalan ini dengan tuntas.”

Namun sebelum Akuwu Lemah Warah menjawab, Akuwu Sangling telah memberikan isyarat kepada prajurit-prajuritnya untuk bergerak, sementara ia akan mencegah Akuwu Lemah Warah untuk mengetrapkan ilmunya yang seakan-akan mampu menutup gerbang yang sudah terbuka itu dengan udara panas.

Akuwu Lemah Warah pun menyadari apa yang akan dilakukan oleh Akuwu Sangling dengan para prajuritnya. Namun Akuwu Lemah Warah sama sekali tidak gentar. Ia mempercayakan segala sesuatunya kepada para prajuritnya untuk mengatasinya. Sementara itu, Akuwu Lemah Warah menjadi semakin tenang karena ia tahu pasti, bahwa orang yang terkuat sesudah Akuwu Sangling sendiri, akan dapat dihadapi oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Bersambung......!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...