*HIJAUNYA LEBAH. JILID 042-04*
Tanpa menunggu lagi, Akuwu Lemah Warah telah bangkit dan berkata, “Aku mohon diri.”
Akuwu Sangling tidak mendapat kesempatan untuk berkata lebih banyak karena Akuwu Lemah Warah benar-benar telah meninggalkan istana Akuwu Sangling itu.
Tetapi Sikap Akuwu Lemah Warah itu tidak melemahkan pendirian Akuwu Sangling. Bahkan ia merasa dirinya direndahkan. Seakan-akan ia tidak berhak sama sekali berbicara tentang Ki Buyut Bapang. Salah seorang Buyut di Pakuwon Sangling. Padahal menurut penilaiannya, Ki Buyut di Bapang adalah seorang Buyut yang baik, yang selalu memberikan upeti lebih banyak dari Buyut-buyut yang lain.
Memang terbersit satu pertanyaan di dalam dirinya bahwa apakah kemampuan Ki Buyut memberikan upeti itu berasal dari usahanya yang sesat sebagaimana dikatakan oleh Akuwu Lemah Warah.
“Tetapi Ki Buyut adalah orangku,” berkata Akuwu Sangling, “biarlah aku yang mengadilinya. Akuwu Lemah Warah tidak mempunyai hak untuk menahannya dan apalagi memutuskan hukuman baginya.”
Meskipun demikian, Akuwu Sangling harus menyadari, bahwa di padepokan itu tentu ada seorang yang mempunyai ilmu yang tinggi, sehingga penghuni padepokan itu dapat mengalahkan Ki Buyut Bapang dan Empu Sepada sekaligus. Hanya orang-orang berilmu tinggi sajalah yang dapat melakukannya.
Tetapi Akuwu Sangling tidak gentar menghadapi kemungkinan itu. Ia memiliki kemampuan yang tidak kalah dari Ki Buyut Bapang. Bahkan seorang saudara seperguruannya yang memiliki ilmu yang setingkat dengan Akuwu Sangling akan dapat membantunya.
Akuwu Sangling pun merasa sakit hati atas pernyataan Akuwu Lemah Warah, bahwa batu itu tidak teletak di daerah Sangling.
“Persetan,” geram Akuwu Sangling, “tidak ada yang dapat mengatakan batas Pakuwon Sangling secara pasti, sebagaimana tidak ada orang yang dapat mengatakan batas Pakuwon Lemah Warah secara pasti pula. Karena itu, apa pula hak Akuwu Lemah Warah atas padepokan Suriantal? Apakah hanya karena waktu itu Pangeran Singa Narpada bersama dengannya? Sehingga dengan demikian ia berhak untuk merambah sampai ke mana pun juga?”
Kemarahan Akuwu Sangling itu ternyata tidak dapat diendapkannya. Bahkan kemudian telah timbul niatnya untuk dengan sengaja menantang Akuwu Lemah Warah dengan menuntut dikembalikannya Ki Buyut Bapang.
“Aku tidak akan mengulangi kesalahan Ki Buyut Bapang. Aku harus tahu, berapa besar kekuatan Ki Buyut Bapang dan Empu Sepada yang gagal itu, dan seberapa besar kekuatan padepokan Suriantal itu,” geram Akuwu Sangling. Lalu, “Kepada Sri Baginda di Kediri aku akan mempertanggung jawabkannya. Aku akan menerima akibat apapun yang terjadi.”
Tetapi Kediri tentu tidak akan berani bertindak, karena Kediri sendiri tentu sudah menjadi semakin lemah. Ia tidak akan menambah lawan, apalagi Pakuwon yang kuat seperti Sangling. Tentu Kediri akan selalu ingat, bahwa Pakuwon Tumapel yang nampaknya kecil itu pada suatu saat mampu memecahkan kebesarannya dan berdirilah Singasari yang kemudian telah justru menguasai Kediri. Pengalaman itu tentu akan membuat Kediri tidak akan berbuat sewenang-wenang terhadap Pakuwon yang manapun juga. Apalagi Pakuwon yang besar seperti Pakuwon Sangling ini.”
Dengan demikian, maka luapan kemarahannya itu pun telah melahirkan perintah dari Akuwu Sangling kepada Panglima pasukannya untuk mempersiapkan diri.
“Kita akan pergi ke Suriantal,” berkata Akuwu Sangling, “kita akan membuktikan, bahwa Sangling tidak dapat dikesampingkan begitu saja oleh Lemah Warah. Kita akan memaksa Akuwu Lemah Warah untuk menyerahkan Ki Buyut Bapang. Seandainya memang benar Ki Buyut melakukan kesalahan, maka biarlah aku yang menjatuhkan hukuman kepadanya.”
Perintah itu disambut dengan berbagai tanggapan. Para prajurit Sangling sudah terlalu lama tidak turun ke medan. Karena itu, maka rasa-rasanya mereka mendapat kesempatan untuk berlaku sebagai prajurit yang sebenarnya. Bukan sekedar duduk-duduk di barak terkantuk-kantuk, latihan dan berjaga-jaga di pintu gerbang atau di istana Pakuwon.
Dengan demikian maka perintah itu telah dilaksanakan dengan cepat. Pasukan Sangling telah bersiap-siap untuk melakukan perintah Akuwu kapan pun datangnya.
Sementara itu Akuwu Lemah Warah pun merasa kedatangannya di Pakuwon Sangling tidak disambut dengan wajar. Kekecewaan Akuwu Lemah Warah membuatnya semakin curiga kepada Akuwu Sangling. Bahkan Akuwu Lemah Warah menduga, bahwa Akuwu Sangling tidak akan tinggal diam.
Itulah sebabnya, maka Akuwu Lemah Warah telah memerintahkan beberapa orang diantara pengawalnya untuk mendahului dan langsung menuju ke Lemah Warah.
“Siapkan prajurit. Bawa pasukan segelar sepapan ke padepokan Suriantal. Tetapi jangan semata-mata,” berkata Akuwu Lemah Warah.
“Maksud Akuwu?” bertanya prajurit yang mendapat tugas itu. “Jika kalian sudah mendekati Suriantal, maka pasukan itu harus berhenti. Satu atau dua orang supaya segera memberitahukan kepadaku. Biarlah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengatur mereka,” jawab Akuwu Lemah Warah.
Demikianlah maka beberapa orang prajurit yang mengawalnya itu telah memacu kudanya mendahului Akuwu Lemah Warah. Betapapun sulitnya jalan, namun mereka secepatnya harus sampai di Pakuwon dan menyampaikan perintah itu kepada para pemimpin prajurit Lemah Warah.
“Nampaknya persoalannya telah berkembang,” berkata salah seorang diantara para prajurit itu.
“Apa boleh buat.” sahut yang lain, “tetapi Akuwu Lemah Warah yang sudah terlanjur melangkah, tentu pantang surut. Apa pun yang terjadi. Dan kita harus memantapkan keputusan Akuwu.”
Demikianlah, maka para prajurit itu pun berusaha untuk secepatnya mencapai Lemah Warah. Tetapi jarak itu cukup jauh, sehingga mereka harus menempuh perjalanan yang berat. Bahkan sekali-sekali jalan menjadi sangat sulit untuk dilalui. Dengan demikian maka perjalan pun menjadi sangat lambat, bagaikan siput yang merayap di pematang.
Sementara itu Akuwu Lemah Warah telah kembali ke padepokan Suriantal. Ia pun dengan segera memberitahukan hasil perjalanannya kepada Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta pemimpin padepokan itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan sejenak. Meskipun mereka tidak mengatakan sesuatu, Akuwu dapat menangkap getaran kekecewaan hatinya, karena dengan demikian mereka tidak sampai hati meninggalkan padepokan itu.
Tetapi Akuwu pun berkata, “Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Aku kira kalian tidak terikat dengan persoalan ini. Aku kira aku sendiri akan dapat menangani persoalan yang akan timbul di padepokan ini. Aku sudah memerintahkan beberapa orang prajurit untuk kembali ke Lemah Warah. Mereka harus mengambil sepasukan prajurit untuk dibawa ke padepokan ini.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya peristiwa seperti itu harus terulang beberapa kali sejak pasukan Lemah Warah menyergap isi padepokan itu.
Pertempuran demi pertempuran susul menyusul. Dan kini agaknya Akuwu Sangling pun akan menyerang padepokan ini, sehingga sebagaimana pernah terjadi, maka pertempuran pun akan berkobar lagi. Pertempuran antara orang-orang yang mengepung padepokan itu dan orang-orang yang berada di dalam padepokan itu.
“Akuwu,” berkata Mahisa Murti, “kenapa hal seperti ini akan terjadi lagi. Apakah batu itu memang memiliki kekuatan yang mengutuk orang-orang yang dianggap mengganggunya sehingga akan timbul bencana atau semacamnya. Jika pertempuran itu terjadi lagi, maka korban akan jatuh pula sebagaimana pertempuran yang baru saja berakhir itu. Orang yang bernama Empu Sepada itu pun harus menjadi korban dan beberapa nyawa yang lain pun telah lepas dari wadagnya, karena batu yang berwarna kehijauan itu. Apakah memang sedemikian mahal harga batu itu?”
“Persoalannya tidak semata-mata terletak pada batu itu,” jawab Akuwu Lemah Warah, “tetapi juga karena harga diri. Jika Akuwu Sangling itu memindahkan tugu yang memuat ketentuan batas antara Pakuwon Sangling dan Pakuwon Lemah Warah di ujung bukit itu dipindah, meskipun hanya sejengkal, maka persoalannya bukan harga sejengkal tanah. Tetapi harga diri Pakuwon Lemah Warah telah tersinggung. Sedumuk bathuk, senyari bumi, maka akan dipertahankan sampai mati. Juga seperti batu itu. Batu itu sudah kita ambil dan kita simpan di padepokan ini. Persoalannya bukan lagi harga batu itu. Atau bukan pula karena batu itu dapat mengutuk orang yang dianggap mengganggunya. Tetapi persoalannya sudah bergeser pada harga diri. Jika Akuwu Sangling tidak berpegang pada harga diri, maka ia tidak akan menuntut Ki Buyut Bapang dilepaskan. Akuwu Sangling tentu merasa berhak mengambil keputusan atas Ki Buyut itu. Apapun yang akan diputuskannya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ternyata bahwa mereka tidak akan dapat menghindarkan diri dari perselisihan yang menjadi semakin luas.
Namun Mahisa Murti masih bertanya, “Apakah Kediri tidak dapat mencegahnya, atau barangkali Singasari?”
“Jika ada waktu mungkin bisa melakukan,” jawab Akuwu Lemah Warah, “tetapi agaknya kita sudah tidak mempunyai waktu lagi kecuali berbenah diri. Mempersiapkan pasukan yang kuat dan cara yang pating baik untuk melawan pasukan Sangling.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Agaknya mereka memang tidak mempunyai pilihan lain kecuali bersiap untuk menghadapi Akuwu Sangling yang ternyata mempunyai harga diri yang berlebihan, yang tidak mau mengerti kenyataan tentang Ki Buyut Bapang itu.
Demikianlah, sebelum pasukan Lemah Warah itu datang, maka isi padepokan itu harus bersiap-siap dengan kekuatan yang ada, sementara itu, mereka masih harus mengamati beberapa orang tawanan mereka, termasuk Ki Buyut Bapang itu sendiri.
Namun sebagaimana dipesankan oleh Akuwu, bahwa Ki Buyut Bapang tidak boleh mengetahui rencana Akuwu Sangling untuk mengambilnya. Karena Ki Buyut Bapang sendiri ternyata memang merasa telah bersalah, sehingga ia menjadi ketakutan di saat Akuwu Lemah Warah mengatakan akan pergi menemui Akuwu Sangling.
Jika ia mengetahui sikap Akuwu Sangling, maka ia akan merasa dirinya mendapat dukungan yang kuat, sehingga ia akan menjadi sombong meskipun keadaannya sangat sulit.
Dalam pada itu maka ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak sampai hati untuk meninggalkan padepokan itu. Meskipun ia tidak tahu pasti, kapan Akuwu Sangling dan pasukannya akan datang. Atau apakah Akuwu Sangling benar-benar akan datang seperti yang dikatakannya. Namun menilik sikapnya sebagaimana dikatakan oleh Akuwu Lemah Warah, maka Akuwu Sangling benar-benar merasa tersinggung karena seorang diantara Buyut di lingkungan Pakuwon Sangling telah ditangkap dan ditawan di dalam padepokan Suriantal.
Dengan demikian maka ketegangan telah mencengkam Padepokan Suriantal itu. Kekuatan di padepokan itu terlalu kecil jika dibanding dengan kekuatan Pakuwon Sangling. Tetapi apakah Sangling akan mengerahkan prajuritnya, atau sekedar mempergunakan kekuatan secukupnya untuk mengatasi kekuatan di padepokan itu, masih merupakan teka-teki sebagaimana kebenaran perhitungan mereka, bahwa Akuwu Sangling itu akan datang ke padepokan Suriantal.
Namun sementara itu, maka utusan Akuwu Lemah Warah yang kembali ke Lemah Warah telah mencapai dinding kota.
Dengan tergesa-gesa mereka telah langsung menuju ke rumah Panglima pasukan berkuda Lemah Warah. Panglima itu akan membicarakan dengan orang-orang yang ditugaskan melaksanakan pemerintahan di Lemah Warah.
Perintah Akuwu yang dibawa oleh beberapa orang prajurit itu memang mengejutkan. Tetapi Panglima pasukan berkuda itu tidak mempunyai banyak waktu. Karena itu, maka ia pun telah bertemu dengan beberapa orang Panglima dari berbagai pasukan yang ada di Lemah Warah.
Mereka kemudian harus memperhitungkan seluruh kekuatan yang ada di Lemah Warah. Berapa bagian di antara mereka yang akan pergi ke padepokan Suriantal dan berapa bagian yang harus tetap berada di pusat pemerintahan Lemah Warah.
Namun para pemimpin di Lemah Warah itu bertindak cepat sebagaimana dikehendaki oleh Akuwu. Dalam waktu dekat, mereka telah berhasil menentukan, pasukan yang manakah yang akan menuju ke padepokan Suriantal. Para pemimpin di Lemah Warah, termasuk para Panglima prajurit, pada umumnya memahami nilai prajurit Sangling yang tinggi. Karena itulah, maka yang akan berangkat ke padepokan Suriantal adalah orang-orang terpilih. Jumlahnya tidak perlu terlalu banyak. Tetapi dengan satu keyakinan bahwa secara pribadi masing-masing memiliki kemampuan diatas kebanyakan prajurit.
“Kita akan segera siap untuk berangkat,” berkata Panglima pasukan berkuda.
“Berkuda?” bertanya prajurit yang membawa perintah Akuwu.
“Tidak,” jawab panglima itu, “kita berjalan kaki. Bukankah Akuwu berpesan sebagaimana kau katakan?”
“Ya. Pasukan ini harus berhenti sebelum mencapai padepokan itu sendiri. Mungkin Akuwu mempunyai rencana lain dengan pasukan ini,” jawab prajurit itu.
Demikianlah, maka ketika segala persiapan telah diselesaikan dengan cepat, serta bekal yang sudah disediakan, maka pasukan pilihan itu pun segera berangkat.
Ternyata pasukan itu benar-benar pasukan yang pilihan.
Mereka berjalan tanpa berhenti meskipun malam turun. Dalam kegelapan pasukan itu tetap berjalan mendekati padepokan Suriantal.
Pada saat yang bersamaan, sepasukan yang kuat pula telah dipersiapkan di Pakuwon Sangling. Ternyata Akuwu Sangling tidak hanya mengancam. Ia benar-benar mempersiapkan pasukannya. Akuwu Sangling memang merasa tersinggung. Seorang Buyut yang dianggapnya cukup baik telah ditangkap dan ditahan di padepokan Suriantal. Kemudian Akuwu Lemah Warah telah mengatakan, bahwa batu itu tidak terletak di daerah Pakuwon Sangling.
Dari beberapa orang yang pernah melaporkan tentang pertempuran di padepokan, Akuwu mampu menilai kekuatan yang ada di padepokan itu. Namun Akuwu Sangling sudah memperhitungkan bahwa saat itu Akuwu Lemah Warah masih belum hadir. Sehingga dengan demikian maka Akuwu Sangling harus memperhitungkan tambahnya kekuatan di padepokan itu. Namun Akuwu pun harus yakin bahwa kekuatannya benar-benar akan mampu mengalahkan kekuatan yang ada di padepokan Suriantal itu.
Pada saat yang ditentukan, maka Akuwu Sangling sendirilah yang memimpin pasukannya menuju ke padepokan yang telah menyimpan batu berwarna kehijauan itu. Seorang saudara seperguruannya telah ikut serta pula bersama Akuwu Sangling.
Karena menurut perhitungan mereka, Akuwu Lemah Warah tentu masih berada di padepokan itu pula. Bahkan mungkin sengaja menunggu kedatangannya.
Namun ternyata bahwa pasukan Lemah Warah lah yang lebih dahulu sampai di padepokan itu. Tetapi seperti perintah Akuwu, maka pasukan itu tidak langsung memasuki padepokan, selain dua orang penghubung.
“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti.
Akuwu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku yakin bahwa sejak saat ini Akuwu Sangling tentu sudah memasang orang-orangnya untuk mengamati padepokan ini. Karena itu, maka kita harus mengambil satu langkah yang akan dapat menjebaknya.”
“Maksud Akuwu?” desis Mahisa Pukat.
“Apakah mungkin untuk menitipkan para prajurit itu di padukuhan terdekat?” bertanya Akuwu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun segera mengetahui maksudnya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun berkata, “Mungkin dapat dicoba. Aku akan menghubungi Ki Bekel yang pernah meminjamkan sepuluh ekor kerbau itu. Mudah-mudahan ia dapat menerima para prajurit itu tinggal untuk beberapa lama diantara mereka.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun tidak membuang waktu. Mereka segera menemui Ki Bekel di padukuhan terdekat.
Ki Bekel memang tidak dapat menolak. Apalagi ketika ia mendapat keterangan bahwa yang akan datang itu adalah sepasukan prajurit Lemah Warah. Bukan sekelompok perampok atau penyamun, atau sebagaimana penghuni padepokan Suriantal itu sebelumnya.
Ki Bekel lah yang kemudian mengatur, menempatkan para prajurit itu di rumah-rumah sepadukuhan. Semuanya itu dilakukan dengan cepat.
“Mereka akan datang berurutan. Tidak bersama-sama dalam barisan,” berkata Mahisa Murti kepada Ki Bekel.
Semuanya itu dilakukan dimalam hari. Sekelompok-sekelompok kecil telah memasuki padukulten terdekat, ternyata tidak hanya di satu padukuhan. Tetapi di dua padukuhan.
“Jangan takut, bahwa mereka akan mengganggu,” berkata Mahisa Murti, “mereka pun tidak perlu diberi makan kecuali jika yang dihuni oleh prajurit itu kebetulan orang berada. Para prajurit itu sudah dilengkapi dengan bekal mereka masing-masing.”
Ki Bekel di kedua padukuhan itu mengangguk-angguk. Tetapi mereka percaya bahwa para prajurit itu memang tidak akan mengganggu.
Dengan demikian, maka disetiap rumah tinggal dua atau tiga orang prajurit. Bahkan dirumah yang besar dapat tinggal lima orang bersama-sama. Mereka tidak akan tinggal terlalu lama di padukuhan-padukuhan itu.
Sebenarnyalah bahwa Akuwu Sangling memang sudah menugaskan orangnya untuk mengamati pintu gerbang. Apakah ada pasukan yang baru datang memasuki padepokan.
Sampai saat terakhir, orang-orang yang bertugas untuk mengamati pintu gerbang itu tidak melihat hadirnya pasukan baru. Mereka tidak melihat iring-iringan atau kelompok-kelompok kecil yang memasuki pintu gerbang. Karena itu, maka mereka berkesimpulan bahwa tidak ada pasukan baru yang datang ke padepokan Suriantal.
Karena itu, ketika kemudian pasukan Akuwu Sangling datang mendekati padepokan Suriantal, maka orang-orang yang bertugas itu, telah datang kepadanya untuk melaporkan hasil pengamatannya.
“Apakah pintu gerbang, itu tidak pernah dibuka?” bertanya Akuwu.
“Tentu saja dibuka. Sekali-sekali satu dua orang keluar masuk pintu itu. Mungkin mereka akan berbelanja atau untuk keperluan lain bagi kebutuhan mereka sehari-hari,” jawab pengamat itu.
“Apakah tidak mungkin mereka memasuki padepokan itu seorang demi seorang,” bertanya Akuwu.
“Tidak Akuwu,” jawab pengamat itu, “jika demikian maka akan berlangsung iring-iringan yang panjang yang memerlukan waktu yang lama. Itu pun jumlahnya tidak akan banyak.”
Akuwu mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Apakah mungkin mereka memasuki padepokan dengan meloncati dinding?”
“Juga tidak,” jawab pengamat itu, “jika demikian salah seorang diantara kita akan melihatnya.”
Akuwu Sangling mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Agaknya Akuwu Lemah Warah memang sombong sekali. Ia menganggap bahwa dengan pasukannya yang kecil ia akan dapat mengalahkan pasukanku. Biarlah ia menyesal. Jika ia nanti melihat pasukanku yang mengepung padepokan itu, maka ia akan menyesali kesombongannya. Baru ia menyadari bahwa, aku tidak sekedar bermain-main. Aku benar-benar akan melakukan sesuatu untuk menegakkan harga diriku. Ki Buyut Bapang akan aku ambil dalam keadaan yang baik. Jika ia mengalami cidera, maka biarlah Akuwu Lemah Warah mempertanggung-jawabkannya. Aku akan menangkapnya dan membawanya ke Sangling. Aku tidak takut bahwa pasukannya akan datang menyusulnya ke Sangling. Pasukan itu harus, menyerah dengan melepaskan segala senjatanya jika mereka mengharap Akuwunya selamat.”
Perwira yang mendapat tugas mengamati keadaan itu mengangguk-angguk. Katanya, “Rencana selanjutnya terserah kepada Akuwu. Namun ada baiknya jika Akuwu mulai mengepung padepokan itu.”
“Aku setuju,” berkata Akuwu Sangling, “aku sudah menunda keberangkatanku kemari. Menurut perhitunganku, jika Lemah Warah memanggil pasukan, maka mereka tentu sudah sampai dan sudah berada di dalam padepokan. Namun agaknya Akuwu Lemah Warah memang merasa dirinya terlalu kuat. Bahkan secara pribadi, sehingga ia tidak memerlukan pasukan dalam jumlah yang memadai.”
Demikianlah, maka Akuwu Sangling pun telah memerintahkan pasukannya untuk mengepung padepokan itu. Meskipun belum ada perintah untuk bergerak, namun kepungan itu harus menutup padepokan itu sehingga mereka tidak akan dapat berhubungan dengan siapapun.
Dengan wajah tengadah Akuwu Sangling melihat pasukannya yang menebar, mengelilingi padepokan itu. Dalam kelompok-kelompok maka pasukan Akuwu Sangling itu telah membangun semacam gubug-gubug kecil yang akan dapat mereka pergunakan.
Para prajurit itu pun telah menebangi bambu dan kekayuan yang banyak terdapat di gerumbul-gerumbul dan hutan perdu tidak terlalu jauh dari padepokan itu. Mereka dapat mempergunakannya untuk membangun gubug-gubug kecil yang kemudian diberi beratap ilalang yang banyak terdapat di sekitar padepokan itu pula.
Prajurit-prajurit Sangling itu bekerja dengan tenang tanpa menghiraukan orang-orang padepokan itu. Seakan-akan mereka menganggap bahwa orang-orang padepokan itu sama sekali tidak membahayakanya. Karena itu, hari-hari pertama kehadiran mereka, mereka telah melakukan kerja itu.
Dalam waktu dua hari, telah dapat dibangun gubug-gubug kecil yang cukup untuk berteduh dari teriknya panas dan dinginnya titik embun. Beberapa buah diantara gubug-gubug yang agak besar telah mereka pergunakan sebagai dapur untuk menyiapkan makan dan minum seisi pasukan itu.
Sementara itu orang-orang yang berada di dalam padepokan itu hanya memperhatikan saja tingkah laku orang-orang Sangling itu. Namun demikian, mereka pun menjadi berdebar-debar Jika pada suatu saat, orang-orang Sangling itu mengetahui bahwa di dua padukuhan terdekat terdapat pasukan Lemah Warah yang cukup kuat, yang berbaur dengan penduduk.
Dalam pada itu, karena Akuwu Sangling masih belum berbuat apa-apa, maka Akuwu Lemah Warah pun tetap menduga. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang menunda kepergiannya itu pun hampir kehilangan kesabaran. Apalagi setelah memasuki hari keempat. Seakan-akan kedua belah pihak sama sekali tidak saling berkepentingan.
Namun ternyata dugaan Akuwu Sangling keliru. Akuwu Lemah Warah sama sekali tidak menjadi cemas ketika ia melihat kekuatan Sangling yang mengepung padepokan itu. Bersama Mahisa Muri dan Mahisa Pukat, maka Akuwu Lemah Warah telah menyaksikan pasukan yang mengepung padepokan itu di segala arah. Akuwu telah mengamati pasukan induk dari Sangling dan berada di bagian depan dari padepokan itu. Kemudian yang berada di sisi kanan, di bagian belakang dan di sebelah kiri.
Ternyata bagi Akuwu Lemah Warah, pasukan itu memang tidak menggetarkan, meskipun tidak dapat dianggap tidak berbahaya.
Karena itu, maka Akuwu pun telah memerintahkan pasukannya untuk bersiaga sebaik-baiknya.
Sementara itu, prajurit Lemah Warah yang berada di padepokan telah mengetahui kehadiran Akuwu Sangling. Setiap kali mereka mengirimkan dua atau tiga orang yang harus mengamati pasukan yang mengepung padepokan itu. Mereka kadang-kadang berpakaian sebagai gembala yang sedang mencari rumput. Meskipun mereka berusaha untuk tidak berurusan langsung dengan para prajurit Sangling.
Orang-orang Lemah Warah yang berpakaian seperti gembala itu mengamati padepokan dari jarak yang cukup jauh. Hanya jika keadaan memaksa, maka orang-orang Sangling mudah-mudahan akan menganggap mereka sebagai gembala yang sebenarnya.
Namun sampai sekian jauh tidak ada seorang pun diantara pengamat itu yang langsung diketahui dan apalagi ditangkap oleh prajurit Sangling.
Dalam pada itu, setelah beberapa hari pasukan Sangling mengepung padepokan itu, maka Akuwu Sangling dengan dikawal oleh beberapa orang prajurit terpilihnya telah datang mendekati regol padepokan. Dengan pertanda khusus, mijka Akuwu itu menyatakan bahwa ia ingin berbicara dengan Akuwu Lemah Warah.
Regol itu memang dibuka. Akuwu Lemah Warah berdiri di regol yang sudah terbuka itu menunggu Akuwu Sangling yang mendekat. Sementara itu pada jarak beberapa puluh langkah, pasukan Sangling telah bersiap untuk melakukan perintah.
Dalam pada itu Akuwu Sanglinglah yang lebih dahulu berkata, “Yang mulia Akuwu Lemah Warah. Meskipun barangkali Akuwu telah mengetahuinya, tetapi baiklah aku sekarang mengatakannya lagi, bahwa aku datang untuk mengambil Ki Buyut Bapang. Aku minta Akuwu menyerahkan Ki Buyut Bapang dalam keadaan sebagaimana ia sehari-hari. Tanpa cidera dan tanpa cacat. Aku berjanji untuk mengusut persoalannya sebaik-baiknya sesuai dengan keadilan. Kemudian aku minta Akuwu mencabut pernyataan Akuwu bahwa letak batu itu semula tidak termasuk Pakuwon Sangling. Atau Akuwu juga membuat pernyataan bahwa batu itu juga tidak terletak di Pakuwon Lemah Warah.”
Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian jawabnya, “Aku tidak berkeberatan untuk memenuhi permintaan Akuwu yang kedua. Meskipun aku tetap mengatakan bahwa batu itu tidak terletak di Sangling, namun aku bersedia membuat pernyataan bahwa batu itu tidak juga terletak di Lemah Warah. Karena itu, maka hak Akuwu atas batu itu sama dengan hakku atas batu itu.”
“Baik,” jawab Akuwu Sangling. Namun kemudian, “sekarang serahkan Ki Buyut Bapang.”
“Itulah yang aku berkeberatan,” jawab Akuwu Lemah Warah, “sebaiknya Akuwu tidak menuntut agar kami mengembalikannya kepada Akuwu. Tetapi jika Akuwu bersedia, maka kita akan bersama-sama mengusutnya. Sebenarnyalah aku kecewa terhadap Akuwu. Aku mengira Akuwu berterima kasih kepadaku, bahwa aku telah memberikan keterangan yang berguna bagi Akuwu tentang salah seorang Buyutnya yang tidak berlaku pantas.”
Tetapi Akuwu Sangling menggeleng sambil menjawab, “Tidak. Buyut Bapang adalah orangku. Hitam putihnya ada di tanganku.”
“Maaf Akuwu. Aku tetap pada pendirianku. Aku akan mengadilinya dan akan menentukan hukuman apa yang pantas dilakukannya, ia sudah melakukan kesalahan dua kali. Sebelum ia melarikan diri dari Lemah Warah dan atas padepokan ini. Ia telah menimbulkan kematian dan goncangan-goncangan atas padepokan ini,” jawab Akuwu Lemah Warah.
“Akuwu,” jawab Akuwu Sangling, “apakah Akuwu tidak melihat bahwa aku datang dengan pasukanku? Seharusnya Akuwu dapat memperhitungkan kekuatan yang ada di dalam padepokan ini dengan pasukan yang aku bawa. Karena itu aku memperingatkan, sebaiknya Akuwu Lemah Warah tidak menantang Sangling untuk melakukan kekerasan.”
“Terima kasih atas peringatan itu,” jawab Akuwu Lemah Warah, “tetapi aku pun memperingatkan, bahwa di padepokan ini terdapat kekuatan yang terlalu besar bagi prajurit Sangling yang ada di sekitar padepokan itu. Karena itu, sebaiknya Akuwu Sangling tidak berbuat apa-apa disini yang hanya akan menjerat Akuwu sendiri. Sebab jika kekerasan telah dimulai, maka akan sulit untuk dihentikan.”
“Akuwu. Kita bukan baru berkenalan kemarin. Tetapi ternyata aku salah duga. Aku kira Akuwu Lemah Warah bukan seorang yang sangat sombong. Kini ternyata bahwa Akuwu adalah orang yang sangat sombong. Dan kesombongan itu akan dapat menyeret Akuwu ke dalam kesulitan dan penyesalan.”
“Apapun yang kau katakan, tetapi aku akan mempertahankan Ki Buyut. Bukan karena Ki Buyut adalah orang besar yang pantas dipertahankan dengan mengorbankan beberapa orang yang akan mati, tetapi semata-mata karena aku berpegang pada berlakunya paugeran di Lemah Warah,” berkata Akuwu Lemah Warah.
“Kita mempunyai dasar pegangan yang sama. Soalnya adalah harga diri. Dan kematian-kematian yang bakal terjadi bukannya harga Ki Buyut Bapang. Tetapi nilai dari harga diri kami.” sahut Akuwu Sangling.
“Nah,” berkata Akuwu Lemah Warah, “jika demikian kita bertolak dari dasar pendirian yang sama. Harga diri. Nah, aku sudah siap mempertahankan harga diri Lemah Warah.”
Akuwu Sangling itu menggeretakkan giginya. Kemarahannya nampak pada wajahnya yang merah dan sorot matanya yang menyala. Dengan suara yang bergetar, Akuwu itu berkata, “Baiklah kakanda Akuwu Lemah Warah. Jangan salahkan aku yang dianggap lebih muda jika aku berani menentang keputusan Akuwu itu. Aku akan memasuki padepokan ini besok dan mengambil Ki Buyut. Jika terpaksa jatuh korban, sudah aku katakan, itu adalah nilai dari harga diri kami.”
“Kami sudah siap,” jawab Akuwu Lemah Warah.
Akuwu Sangling itu pun kemudian telah memberikan isyarat kepada para pengawalnya untuk meninggalkan regol padepokan itu. Sementara itu Akuwu Lemah Warah masih berdiri di regol untuk beberapa saat sambil memandangi Akuwu Sangling yang menjauh bersama para pengawalnya. Namun terkesan pada wajah dan sikapnya, bahwa Akuwu Sangling benar-benar menjadi marah dan akan melakukan sebagaimana dikatakan.
Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia kemudian surut beberapa langkah, maka regol itu pun telah ditutup dan diselarak.
“Agaknya Akuwu Sangling tetap tidak mau mengerti, “desis Akuwu Lemah Warah.
“Dan akan terjadi lagi seperti yang pernah terjadi.” sahut Mahisa Murti, “sekelompok pasukan bersiap disebelah menyebelah regol dan dibeberapa panggungan. Mereka bersiap dengan anak panah dan busur. Kemudian yang lain akan melontarkan lembing ke arah pasukan yang datang mendekati dinding.”
“Mahisa Murti,” berkata Akuwu Lemah Warah, “jika kau mendengar keterangan Akuwu Sangling, maka kau tentu akan sependapat. Soalnya adalah harga diri. Karena itu, maka kita pun harus mempertahankan harga diri itu. Bukan sekedar batu itu.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti. Tetapi seandainya kami tidak mengambil batu itu, maka aku kira Ki Buyut yang menjadi sasaran Akuwu Sangling itu tidak akan berada di sini.”
“Tetapi batu itu sudah ada di sini. Dan Ki Buyut itu pun sudah berada di sini pula,” jawab Akuwu.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Pukat pun berkata, “Apa boleh buat. Kita harus mempertanggung jawabkan apa yang telah kita lakukan.”
Mahisa Murti memandang Mahisa Pukat sekilas. Sementara itu Mahisa Pukat berkata selanjutnya, “Kita tidak dapat sekedar menyesali langkah-langkah yang sudah kita ambil. Tetapi kita harus menentukan langkah selanjutnya.”
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar