Jumat, 08 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 043-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 043-02*

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mengalami goncangan yang keras di dalam dadanya memang harus berusaha untuk memperbaiki keadaannya. Mereka terpaksa menyingkir sejenak, mencari tempat yang paling baik untuk dapat memusatkan nalar budinya. Mengatur pernafasannya untuk memulihkan keadaannya.

Beberapa orang prajurit Lemah Warah menyadari keadaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Karena itu maka beberapa orang prajurit telah berusaha untuk melindunginya.

Sementara itu, prajurit yang lain serta orang-orang padepokan itu, masih saja menyerang para prajurit Sangling dengan derasnya. Mereka tidak lagi merasa cemas, bahwa mereka akan mendapat serangan dari jarak jauh, karena menurut pengamatan mereka, tidak ada lagi orang yang bersikap sebagaimana Akuwu Sangling dan orang yang ternyata telah membentur kekuatan bersama antara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu.

Namun pada saat itu, para prajurit Sangling telah merayap mendekat. Bukan saja di pintu gerbang itu yang menjadi gawat. Tetapi di seputar padepokan itu pun keadaan menjadi gawat pula. Kekuatan Sangling yang lebih besar telah semakin menekan sehingga sejenak lagi mereka tidak akan tertahankan lagi. Mereka akan segera meloncat masuk dan melangkahi mayat-mayat yang berserakan di dalam dinding padepokan.

Tetapi pada saat yang demikian, maka bayangan yang dilihat oleh Mahisa Pukat dan Mahisa Murti dibalik gerumbul-gerumbul perdu itu nampak bergerak-gerak lagi. Mereka merayap nenyebar dan bahkan kemudian hampir mengitari seluruh lingkaran di sekeliling padepokan meskipun hanya sebaris tipis. Namun dengan demikian, maka mereka akan segera membuat perubahan yang penting pada keseimbangan yang hampir terguncang itu.

Namun dengan demikian mereka tidak lagi dapat menyembunyikan diri dalam keseluruhan. Ketika di luar sengaja di beberapa bagian prajurit Sangling memandang keadaan di sekeliling mereka, maka mereka pun telah melihat bayangan yang berloncatan dari balik gerumbul ke balik gerumbul yang lain.

Dengan demikian, maka tiba-tiba saja prajurit itu berteriak, “Awas. Ada sesuatu di belakang kita.”

Ketika seorang pemimpin kelompok memandang ke gerumbul-gerumbul itu, maka perintah pun diteriakkannya. “Hati-hati. Bagi kekuatan. Sebagian dari kalian harus menghadapi cara yang licik yang ditempuh oleh orang-orang Lemah Warah atau isi padepokan ini yang lain.”

Teriakan itu pun telah menjalar. Setiap pemimpin kelompok telah memerintahkan orang-orangnya untuk berhati-hati menghadapi sergapan yang akan datang dari arah belakang.

Teriakan-teriakan itu akhirnya didengar oleh Akuwu Sangling. Sejenak ia pun berpaling. Dan Akuwu Sangling itu pun telah melihat pula orang-orang yang bergerak di belakang gerumbul. Namun karena orang-orang itu pun menyadari bahwa mereka telah dilihat oleh para prajurit Sangling, maka mereka pun tidak lagi menganggap perlu untuk tetap berada di balik gerumbul, apalagi menurut perhitungan mereka, maka tebaran pasukan Lemah Warah itu telah mengelilingi padepokan itu. Sehingga dengan demikian, maka telah terdengar isyarat dari panglima pasukan Lemah Warah itu. Juga suara bende yang melengking susul-menyusul.

“Gila,” geram Akuwu Sangling, “itukah caramu, Sang Akuwu Lemah Warah?”

“Kenapa?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Satu gelar yang licik,” geram Akuwu Sangling.

“Mereka baru datang dari Lemah Warah. Nampaknya mereka lebih senang berada di luar padepokan karena padepokan ini telah kalian kepung sejak beberapa hari,” jawab Akuwu Lemah Warah.

“Ketakutanmu telah memaksamu memanggil prajuritmu,” desis Akuwu Sangling.

“Kau juga membawa prajurit dari Sangling. Apa salahnya? Atau kita berdua akan mengambil jalan lain?” tantang Akuwu Lemah Warah. “Jika kau menghendaki, maka aku bersedia menyelesaikan persoalan ini tanpa mengorbankan seorang prajuritpun. Kita berdua adalah laki-laki. Kita berdua adalah prajurit dan kita berdua adalah orang yang dianggap panutan di Pakuwon kita masing-masing.”

“Satu usaha untuk menutupi kelemahan pasukan Lemah Warah,” geram Akuwu Sangling. Lalu, “Aku tidak mau kehilangan waktu. Aku akan menghancurkan padepokan ini, sekarang.”

Sekali lagi Akuwu Sangling memberikan isyarat. Pasukan Sangling pun kemudian telah menghambur menyerbu ke pintu gerbang. Mereka telah melindungi diri dengan perisai, sementara yang lain dengan tangkas telah menangkis serangan-serangan anak panah dan lembing. Namun diantara mereka ada juga yang jatuh terjerembab karena tidak mampu menghindar dan tidak trampil menangkis serangan yang menghujan itu.

Tetapi prajurit-prajurit Sangling itu pun menyadari, bahwa sebagian dari mereka harus menghadapi prajurit Lemah Warah yang ternyata telah menyergap dari belakang.

Kehadiran prajurit Lemah Warah itu benar-benar telah merubah keadaan. Para prajurit Sangling yang hampir saja dapat memecahkan pertahanan dan penghuni padepokan itu bersama prajurit Lemah Warah, harus membagi kekuatannya, sehingga dengan demikian maka untuk saat-saat berikutnya, prajurit Sangling harus menghadapi lawan dari dua arah yang berlawanan.

Kehadiran pasukan Lemah Warah itu telah disambut dengan sorak sorai para prajurit yang sudah berada di dalam padepokan serta para penghuni padepokan itu. Mereka merasa seakan-akan telah hidup lagi setelah kematian mulai membayang. Kedatangan pasukan Lemah Warah itu merupakan satu harapan baru untuk menyelesaikan persoalan mereka dengan para prajurit Sangling.

Demikianlah, maka pasukan Lemah Warah yang datang itu telah membentur pasukan Sangling yang harus membagi diri. Sebagian dari mereka meneruskan usaha mereka untuk memasuki padepokan, sementara yang lain harus bertahan dari serangan para prajurit Lemah Warah yang baru datang itu.

Pertempuran di seputar padepokan itu pun menjadi semakin gemuruh. Kedua belah pihak telah bersorak-sorak dengan gempitanya jika mereka mendapatkan kemenangan-kemenangan kecil. Bahkan kadang-kadang mereka bersorak tanpa sebab, sekedar untuk meledakkan perasaan yang bergetar di dalam diri mereka.

Di pintu gerbang, Akuwu Lemah Warah telah bersiap sepenuhnya untuk melawan Akuwu Sangling.

Namun bagaimanapun juga, Akuwu Sangling telah terhambat oleh kehadiran pasukan Lemah Warah. Mereka memang menempatkan pasukan mereka yang terbesar di depan regol padepokan Suriantal itu. Sementara itu dari sebelah menyebelah regol, para penghuni padepokan itu serta para prajurit Lemah Warah telah menghujankan anak panah dan lembing. Meskipun para prajurit Sangling juga berusaha membalas, namun kedudukan para prajurit Lemah Warah ternyata menjadi lebih baik.

Akuwu Sangling yang memerintahkan para prajuritnya untuk memasuki pintu gerbang itu pun harus berpikir pula dua kali. Sementara pasukan Lemah Warah yang datang di belakang pasukannya telah mulai menyergap prajurit-prajuritnya. Sedangkan prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan yang lain, yang ada di dalam gerbang pun telah bersiap menyambut mereka.

“Omong kosong,” geram Akuwu Sangling, “aku telah memutuskan untuk menyapu orang-orangmu yang licik, yang menyerang dari belakang. Baru aku akan menyelesaikan orang-orangmu yang bersembunyi di balik dinding padepokan itu.”

Namun akhirnya Akuwu Sangling tidak mau terjebak dalam medan yang terlalu luas. Karena itu, maka ia tidak segera mengulang perintahnya agar pasukannya menyerang masuk regol padepokan.

Dengan demikian, maka sebagian besar dari pasukannya justru telah berbalik melawan prajurit Lemah Warah yang menyerang mereka dari belakang. Sementara itu, Akuwu Lemah Warah pun berkata dengan suara datar, “Nah, bukankah kau menjadi kebingungan? Nampaknya kau tidak tahu lagi, apa yang seharusnya kau lakukan lebih dahulu.”

“Jangan membual. Katakanlah sebagaimana kenyataan yang kau hadapi. Nampaknya saudara seperguruanmu, yang memiliki ciri ilmu seperti yang pernah kau tunjukkan saat kau memecahkan pintu gerbang itu sudah kehilangan arti di pertempuran ini.”

“Kau salah,” geram Akuwu Sangling, “sebentar lagi, orang itu akan merupakan orang sangat berbahaya. Ia sedang menempa kekuatannya agar menjadi lebih besar dari yang pernah kau lihat.”

Tetapi Akuwu Lemah Warah justru tertawa. Katanya, “Bukan saatnya untuk membual. Tetapi kita berhadapan dalam satu medan pertempuran yang keras sekarang ini. Marilah kita tunjukkan kemampuan kita bertempur, bukan kemampuan kita membual.”

Akuwu Sangling tidak menyahut. Namun ia pun segera mempersiapkan diri.

Namun dalam pada itu, Akuwu Lemah Warah pun dengan cepat memberi isyarat, agar para prajuritnya dan para penghuni padepokan itu yang ada di sekitarnya agar menyingkir dengan cepat.

Sebenarnyalah, sejenak kemudian Akuwu Sangling itu pun telah menghempaskan kekuatannya. Seperti ketika ia menerpa pintu gerbang dengan kekuatannya. Maka ia telah melontarkan serangan angin prahara menyerang Akuwu Lemah Warah.

Tetapi Akuwu Lemah Warah telah bersiap. Dengan cepat ia meloncat menghindar. Serangan itu tidak mengenai sasarannya. Untunglah bahwa para prajurit dan para penghuni padepokan itu telah berloncatan menghindar, sehingga mereka pun luput dari sentuhan serangan Akuwu Sangling.

Namun seorang yang terlambat meloncat, ternyata masih juga tersentuh kekuatan itu, sehingga ia pun telah terlempar beberapa langkah dan terbanting jatuh.

Ternyata orang yang malang itu telah mengalami nasib yang sangat buruk. Ia adalah korban yang pertama dari kegarangan ilmu Akuwu Sangling.

Sekali lagi Akuwu Lemah Warah memberi isyarat agar para prajurit dan para penghuni padepokan itu menjauh. Serangan-serangan itu sangat berbahaya bagi para prajurit dan penghuni padepokan itu.

Akuwu Lemah Warah menjadi tegang ketika ia melihat Akuwu Sangling memandangi para prajuritnya dan para penghuni padepokan yang telah menyingkir itu. Ketika kecurigaannya memuncak maka ia pun berkata, “Jika kau tujukan seranganmu kepada mereka, maka aku pun akan melakukan hal yang sama atas prajurit-prajuritmu.”

Akuwu Sangling menggeram. Sementara itu, hampir di luar sadarnya ia berpaling ke arah saudaranya seperguruannya.

Sebenarnyalah seperti Mahisa Murti dan Mahisa Pukat maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu pun sedang berusaha untuk memperbaiki keadaan tubuhnya yang mengalami kesulitan setelah berbenturan ilmu dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Beberapa orang prajurit Sangling telah melindungi saudara seperguruan Akuwu Sangling itu sampai saatnya ia akan dapat mengatasi kesulitan didalam dirinya.

Namun dalam pada itu, pertempuran telah terjadi dengan serunya dimana-mana di sekitar padepokan. Setiap orang di dalam padepokan telah berpegang pada perintah Akuwu. Tidak seorang pun boleh memasuki padepokan itu tanpa melangkahi mayat-mayat para penghuni itu lebih dahulu.

Apalagi ketika prajurit Lemah Warah telah menyergap mereka. Maka kemungkinan pasukan Sangling meloncati dinding padepokan itu pun menjadi semakin sulit.

Sementara itu Akuwu Sangling telah berhadapan dengan Akuwu Lemah Warah. Selangkah demi selangkah Akuwu Sangling bergerak memasuki padepokan. Namun langkahnya itu terhenti, ketika Akuwu Lemah Warah telah melontarkan serangan pula. Bukan angin prahara yang melontarkan kekuatan yang luar biasa, tetapi panasnya api telah meluncur dari telapak tangan Akuwu Sangling.

Seperti yang dilakukan oleh Akuwu Lemah Warah, maka Akuwu Sangling pun telah meloncat pula. Namun serangan Akuwu Lemah Warah telah meluncur nratas mengarah ke belakang Akuwu Sangling semula berdiri.

Beberapa orang prajurit sejak semula memang telah berloncatan minggir. Karena itu, maka serangan itu sama sekali tidak mengenai seorangpun. Namun ketika serangan itu kemudian menyentuh tanah, maka serangan yang seolah-olah gumpalan api itu telah meledak dengan kerasnya menghamburkan pasir dan debu.

Demikianlah, maka kedua orang itu telah saling menyerang dengan kekuatan mereka yang luar biasa. Namun tidak seorang pun menghindar namun dengan cepat mereka dapat membalas menyerang.

Bahkan pada satu saat, keduanya tiba-tiba saja ingin membenturkan kekuatan ilmu mereka. Karena itu, maka ketika Akuwu Sangling menyerang dengan praharanya, Akuwu Lemah Warah tidak dengan serta merta meloncat. Tetapi ia pun telah membentur serangan itu dengan ilmunya pula.

Telah terjadi lagi benturan yang dahsyat antara dua kekuatan ilmu. Ternyata seperti yang telah terjadi dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta lawannya.

Kedua orang Akuwu itu telah terguncang. Betatapun tinggi daya tahan mereka, tetapi kemampuan ilmu mereka pun sangat tinggi pula. Karena itu, maka keduanya bagaikan telah terhempas tanpa dapat bertahan untuk tegak.

Para prajurit pun dengan serta merta telah menyerbu ke arah para pemimpin mereka masing-masing. Dengan cepat mereka berusaha untuk menyingkirkan pemimpin mereka menyisih untuk menyembuhkan kesulitan yang dideritanya.

Pada saat yang demikian, maka para prajurit Sangling pun telah berlari-lari dan berusaha memasuki pintu gerbang. Namun para prajurit dan penghuni padepokan itu pun dengan cepat telah berusaha untuk menutup pintu itu dengan tebaran prajurit yang bersenjata telanjang ditangan.

Sejenak kemudian pertempuran yang sengit pun telah terjadi pula dipintu gerbang. Para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu telah bertahan dengan segenap kemampuan yang ada pada mereka. Akuwu Lemah Warah memang telah memerintahkan yang ada pada mereka. Akuwu Lemah Warah memang telah memerintahkan agar tidak seorang-puri dapat memasuki padepokan itu lewat mana pun juga.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih berada di tempatnya. Namun mereka sudah tidak terlalu gelisah lagi. Dimana-mana keseimbangan prajurit masih belum menyulitkan kedudukan padepokan Suriantal yang dibantu oleh para prajurit Lemah Warah. Baik yang telah berada di dalam padepokan itu, mau pun yang berada di sekelilingnya, yang bertempur melawan pasukan yang mengepung padepokan itu.

Sementara itu, baik Akuwu Lemah Warah, maupun Akuwu Sangling yang telah membenturkan ilmu mereka, ternyata memerlukan waktu beberapa saat untuk memulihkan keadaan mereka seperti sebelumnya. Benturan itu benar-benar bagaikan telah meremukkan isi dada. Namun karena keduanya adalah orang-orang berilmu tinggi, maka keduanya pun mampu mengatasi kesulitan yang terjadi pada diri mereka masing-masing.

Dengan memusatkan nalar budi, maka keduanya telah mengatur pernafasan mereka. Sambil duduk bersila dan tangan bersilang didada mereka dengan perlahan-lahan berhasil mengusir kesulitan dari diri mereka masing-masing.

Perlahan-lahan keadaan mereka pun mulai membaik. Baik Akuwu Sangling maupun Akuwu Lemah Warah. Namun untuk sementara keduanya masih harus mendapat perlindungan dari para perwira mereka yang terbaik.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang telah berhasil mengatasi kesulitan didalam dirinya, telah berada di antara para penghuni padepokan itu. Dari panggungan ia pun telah melihat bahwa saudara seperguruan Akuwu Sangling itu pun telah berhasil mengatasi kesulitan didalam dirinya pula. Bahkan ia pun telah mulai bergerak ke arah regol padepokan yang seakan-akan telah tertutup oleh pertempuran yang sengit.

“Apa yang akan dilakukannya,” desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita tidak dapat tinggal diam.”

Keduanya pun segera turun dari panggungan. Mereka telah menyibak para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu yang sedang mempertahankan regol padepokan, agar seperti perintah Akuwu tidak seorang pun boleh masuk.

Sesaat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tertegun melihat keadaan Akuwu Lemah Warah. Namun tiba-tiba Mahisa Murti berdesis, “orang itu tentu ingin menghancurkan Akuwu selagi Akuwu belum sempat memperbaiki keadaannya sebagaimana Akuwu Sangling.”

“Marilah,” desis Mahisa Pukat, “kita tidak boleh terlambat.”

Kedua anak muda itu pun dengan tergesa-gesa telah menyusup langsung menuju ke garis benturan antara kedua pasukan itu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar ketika mereka mendengar seseorang berteriak, “Minggir. Biar aku hancurkan mereka yang menyumbat regol itu.”

Beberapa orang prajurit Sangling yang mendengar suara itu pun telah meneriakkannya pula. Hampir berbareng, “Minggir, minggir.”

Para prajurit Sangling pun dengan cepat menyibak. Mereka harus dapat memberi kesempatan kepada saudara seperguruan Akuwu itu. Jika mereka dengan cepat menyingkir dari medan, maka saudara seperguruan Akuwu itu, sebagaimana Akuwu Sangling sendiri, akan dapat melontarkan serangan ilmunya dan menghancurkan selapis pasukan lawan.

Namun demikian pasukan Sangling menyibak, sementara para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu masih belum tahu pasti apa yang akan terjadi, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu telah meloncat ke depan siap melontarkan kekuatan ilmunya yang nggegirisi.

Barulah para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu sadar, apa yang akan terjadi. Namun mereka sudah tidak mempunyai kesempatan lagi untuk menyingkir.

Karena itu, maka merupakan harus merelakan dirinya dihancurkan oleh angin prahara sebagaimana pintu gerbang padepokan itu.

Namun dalam pada itu, selagi medan itu dicengkam oleh ketegangan, telah muncul pula Mahisa Murti dan Mahisa Pukat! Demikian mereka melewati lapisan terdepan, maka mereka pun segera mempersiapkan diri pula.

“Ki Sanak,” geram Mahisa Murti, “apakah kau akan mengarahkan ilmumu kepada para penghuni padepokan ini? Apakah dengan demikian kau akan merasa dirimu menjadi pahlawan? Namun demikian, baiklah. Kita berada di medan perang. Lakukan apa yang ingin kau lakukan. Dan aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan.”

“Anak iblis,” geram orang itu, “baiklah. Kita akan berhadapan. Tetapi kita tidak akan membenturkan ilmu kita. Tidak ada gunanya. Yang terjadi tentu hanya seperti yang pernah terjadi.”

“Lalu apa yang akan kita lakukan? Apakah kita akan berlomba untuk membunuh? Siapakah di antara kita yang lebih banyak membunuh orang-orang yang tidak berdaya?” bertanya Mahisa Pukat.

“Tidak anak-anak,” jawab saudara seperguruan Akuwu Sangling itu, “kita akan bermain-main. Aku sendiri, dan kalian berdua karena kalian masih anak-anak.”

“Kita akan bermain-main apa? “ pertanyaan Mahisa Pukat memang tidak diduga oleh saudara seperguruan Akuwu itu. Namun ia masih juga menjawab, “Apa saja yang kau kehendaki?”

“Baik,” jawab Mahisa Pukat, “tetapi kita harus berlaku jujur. Kita tidak boleh dengan licik mencuri kesempatan melepaskan ilmu kita. Kita akan berkelahi dengan kemampuan wadag kita.”

“Bersiaplah,” berkata saudara seperguruan Akuwu itu.

Demikianlah maka mereka pun segera bersiap. Saudara seperguruan Akuwu itu disatu pihak, sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dilain pihak.

Sejenak kemudian, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu telah meloncat menyerang. Meskipun tubuhnya yang meluncur itu menimbulkan hempasan angin, tetapi ia benar-benar mempergunakan tenaga wajarnya.

Mahisa Murti yang menjadi sasaran serangan itu pun dengan cepat pula melenting, sehingga serangan lawannya sama sekali tidak menyentuhnya. Namun sementara itu Mahisa Pukat lah yang telah bergerak selangkah maju dengan tangan terjulur lurus. Telapak tangannya terbuka dengan jari-jari merapat menusuk ke arah lambung.

Tetapi lawannya menggeliat. Serangan itu pun tidak mengenainya. Bahkan saudara seperguruan Akuwu Sangling itu sempat mengangkat kakinya dan berputar pada tumit kakinya yang lain. Dengan demikian maka putaran kakinya yang mendatar itu telah menyambar perut.

Mahisa Pukat yang mendapat serangan itu meloncat selangkah mundur. Namun demikian kaki lawannya yang berputar itu menyentuh tanah, maka ia pun telah melenting dengan kaki mendatar mengarah ke dada Mahisa Murti.

Mahisa Murti meloncat kesamping sambil merendah. Kakinyalah yang kemudian menyapu kaki lawannya, sementara kakinya yang lain telah diangkatnya pula.

Demikianlah maka pertempuran antara kedua saudara anak Mahendra melawan saudara seperguruan Akuwu Sangling itu berlangsung dengan dahsyatnya. Kedua belah pihak telah mengerahkan segenap kekuatan tenaganya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mematuhi perjanjian sebagaimana laku seorang kesatria.

Lawannya pun sama sekali tidak merambah ke ilmunya. Dengan segenap kekuatan tenaganya dan tenaga cadangannya ia telah berusaha menjatuhkan kedua lawannya yang masih muda itu.

Tetapi, ternyata bahwa kedua anak muda itu memiliki ilmu yang luar biasa. Bahkan ketrampilan menggerakkan tangan dan kakinya, didorong oleh tenaga cadangannya pula.

Dengan demikian maka pertempuran antara mereka semakin lama menjadi semakin seru. Tenaga cadangan yang telah mereka lepaskan, telah membuat mereka seakan-akan menjadi semakin kuat. Gerak mereka pun menjadi semakin cepat, dan tangkas.

Sementara itu, maka para prajurit Sangling dan Lemah Warah telah bergerak pula. Ketika mereka menyadari, bahwa kedua belah pihak ternyata tidak mempergunakan kedahsyatan ilmu mereka, maka mereka pun telah memasuki arena pula. Demikian pula para penghuni padepokan itu.

Sehingga sejenak kemudian, maka pertempuran di depan regol itu pun telah menyala kembali. Sementara paja prajurit Lemah Warah yang datang dari belakang pasukan Sangling pun telah semakin mendesak, sehingga dengan demikian, maka para prajurit Sangling harus bekerja keras agar mereka tidak terdesak dari dua arah dan terhimpit di dalamnya, terutama di sekitar regol padepokan.

Di bagian lain dari pertempuran yang semakin seru itu, pasukan Lemah Warah mulai merebut kedudukan setapak demi setapak. Sementara itu, dari atas dinding padepokan, para prajurit Lemah Warah dan para penghuni padepokan itu masih juga menyerang dengan derasnya. Anak panah dan lembing.

Karena itulah, maka di beberapa bagian, para prajurit Sangling memang mengalami kesulitan. Mereka didesak dari luar kepungan mereka. Namun mereka pun tertahan oleh dinding padepokan dan orang-orang yang berada di panggungan di dalam dinding itu.

Tetapi para prajurit Sangling ingin menunjukkan kepada pimpinannya, bahwa mereka adalah prajurit-prajurit yang baik. Dengan demikian, maka mereka telah mengerahkan segenap kemampuan mereka untuk menghancurkan pasukan Lemah Warah.

Namun agaknya mereka telah membentur sikap yang sama. Para prajurit Lemah Warah pun telah ditempa oleh Akuwu Lemah Warah untuk menjadi prajurit yang baik. Apalagi mereka yang berada di dalam padepokan itu telah mendapat pesan, bahwa tidak seorang pun yang boleh memasuki padepokan itu tanpa melangkahi mayat mereka.

Karena itu, maka pertempuran antara prajurit Sangling melawan prajurit Lemah Warah merupakan pertempuran yang sangat sengit. Kedua belah pihak sama sekali tidak ingin terdesak surut.

Dalam saat-saat yang demikian, maka Akuwu Sangling dan Akuwu Lemah Warah telah mencapai tataran yang lebih baik bagi keadaan diri mereka. Namun mereka masih harus memusatkan nalar budi mereka, mengatur pernafasan dan berusaha mencapai keadaan wajar sehingga kekuatan dan kemampuan mereka akan pulih kembali.

Sementara itu, saudara seperguruan Akuwu Sangling masih bertempur dengan sengitnya melawan dua orang anak muda anak Mahendra yang memiliki bekal yang lengkap untuk memasuki arena yang berat seperti itu.

Kedua belah pihak masih saling menyerang dan mendesak. Betapapun tingginya kemampuan dan ketrampilan saudara seperguruan Akuwu Sangling, namun melawan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, ia pun akhirnya harus mengerahkan segenap tenaga dan tenaga cadangannya.

Kedua anak muda itu telah bertempur berpasangan dengan tangkasnya. Saling mengisi dengan cepatnya, sehingga serangan-serangan mereka pun telah datang beruntun bagaikan gelombang yang berurutan menyentuh batu karang di pinggir lautan.

Tetapi saudara seperguruan Akuwu Sangling itu memang seperti batu karang yang berdiri tegak menentang sergapan gelombang dan badai. Kekuatannya bagaikan tidak tergoyahkan.

Tetapi sebenarnyalah tidak ada kemampuan yang tidak berbatas. Jika untuk beberapa saat lamanya, saudara seperguruan Akuwu Sangling itu mampu bertahan, namun kemudian tenaga dan tenaga cadangannya pun mulai menjadi susut.

Pada saat yang demikian, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu mulai menjadi gelisah. Ia tidak mengira sama sekali, bahwa kedua orang anak muda itu ternyata memiliki kekuatan yang demikian besarnya. Bahkan jika terpaksa terjadi benturan kekuatan, maka kekuatan saudara seperguruan Akuwu Sangling itu tidak terpaut banyak dengan kekuatan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Dalam benturan yang terjadi, pada saat Mahisa Murti tidak sempat lagi menghindari serangan lawannya yang mengarah ke dadanya, sehingga Mahisa Murti harus menangkisnya, ternyata bahwa Mahisa Murti terdesak dua langkah surut. Namun tidak terjadi kesulitan di dalam diri Mahisa Murti.

Namun ketika lawannya siap untuk memburunya, dan menyerangnya sekali lagi, maka yang datang adalah serangan Mahisa Pukat. Demikian cepatnya kaki Mahisa Pukat terjulur menyamping mengarah lambung. Karena itu, maka lawannya terpaksa memiringkan tubuhnya, sedikit merendah dan menangkis serangan itu dengan lengannya.

Dalam benturan itu pun Mahisa Pukat terdorong pula surut dua langkah. Namun dengan cepat ia siap menghadapi segala kemungkinan.

Tetapi lawannya tidak sempat memburunya pula, karena Mahisa Murti telah bergeser mendekat.

Saudara seperguruan Akuwu Sangling itu harus memperhatikan Mahisa Murti pula. Karena itu, ia harus melepaskan Mahisa Pukat yang berdiri beberapa langkah dari padanya.

Sejenak kemudian, maka pertempuran pun telah menjadi semakin cepat. Namun terasa oleh saudara seperguruan Akuwu Sangling, bahwa ia tidak akan dapat bertahan dalam keadaannya. Ia merasa bahwa perlahan-lahan namun pasti, kecepatannya akan susut, dan kemampuannya akan mengendor.

“Anak-anak iblis,” geramnya di dalam hati, “aku harus menghancurkannya tanpa mengganggu pertempuran ini dalam keseluruhan.”

Itulah sebabnya, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu mulai menilai keadaan di seputarnya.

Sebenarnyalah bahwa pertempuran yang terjadi di sekitarnya merupakan pertempuran yang sengit. Kedua belah pihak sama sekali tidak terikat pada gelar apapun, sehingga yang terjadi adalah perang brubuh yang ribut.

Setiap kesempatan telah dipergunakan sebaik-baiknya oleh kedua belah pihak untuk mengurangi jumlah lawan. Namun karena mereka masing-masing memiliki kemampuan prajurit, maka tidak terlalu mudah bagi kedua belah pihak untuk menghunjamkan ujung senjata masing-masing.

Dalam pertempuran yang seakan-akan berdesakan itu, apalagi menghadap kedua arah bagi prajurit Sangling, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu tidak dapat mempergunakan ilmu praharanya. Ia tidak dapat menghentakkan kemampuannya itu untuk menghantam kedua anak muda yang ternyata mampu mengimbangi kecepatan gerak dan kekuatan tenaga dan tenaga cadangannya. Bahkan ternyata karena mereka berdua masih muda, maka mereka memiliki daya tahan yang lebih besar. Pada saat saudara seperguruan Akuwu Sangling merasa bahwa tenaganya telah susut, maka kedua anak muda itu sama sekali belum nampak dipengaruhi oleh kelelahan, sehingga tenaga cadangan mereka masih tetap utuh.

Karena itu, maka saudara seperguruan Akuwu Sangling itu berniat untuk mempergunakan ilmunya yang lain. Ia tidak akan melepaskan ilmu praharanya.

Untuk beberapa saat kedua belah pihak masih bertempur dengan tenaga cadangannya. Mereka masih mengadu kemampuan dan kecepatan gerak serta ketrampilan mereka.

Namun setiap kali saudara seperguruan Akuwu Sangling itu telah berusaha untuk mengambil jarak.

Meskipun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih muda namun ternyata bahwa mereka telah memiliki perbendaharaan pengalaman yang luas. Karena itu, maka mereka pun menjadi curiga melihat sikap saudara seperguruan Akuwu Sangling.

Tetapi ternyata bahwa saudara seperguruan Akuwu Sangling itu juga seorang laki-laki jantan. Ia tidak ingin berbuat licik, apalagi terhadap dua orang yang masih dianggapnya terlalu kanak-kanak.

Karena itu, maka ia pun segera berteriak, “Anak-anak. Aku sudah jemu bermain-main. Siapkan ilmumu, kita akan membenturkan kemampuan ilmu kita tanpa melukai orang lain di seputar kita.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun menjadi berdebar-debar. Mereka tidak dapat dengan serta merta melepaskan kemampuannya lewat telapak tangannya yang terbuka. Jika mereka tidak dapat mengenai sasaran karena sasarannya sempat menghindar, maka yang akan menjadi korban adalah orang yang ada di belakang sasaran itu.

Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat masih belum tahu, kemampuan apakah yang akan ditampilkan oleh lawan mereka.

Ketika saudara seperguruan Akuwu itu bergeser surut serta menggosokkan kedua telapak tangannya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memperhatikan dengan tegang.

Tiba-tiba saja saudara seperguruan Akuwu itu berteriak nyaring. Dengan loncatan kecil maka ia pun telah berdiri dengan kaki yang bagaikan menghunjam bumi. Lututnya sedikit merendah sementara kedua tangannya sejajar dan tegak pada sikunya, mendatar ke depan. Telapak tangannya terbuka dengan kelima jari-jarinya lurus merapat.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memang menjadi tegang. Namun mereka pun dengan serta merta telah mengerahkan segenap kemampuannya. Tetapi mereka memang tidak ingin melepaskan lontaran ilmu lewat telapak tangannya. Tetapi mereka akan mempergunakan kekuatan ilmunya lantaran wadagnya sebagaimana pernah diajarkan oleh ayahnya.

Bersambyng.  .....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...