*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 031-02*
Sementara itu Mahisa Murti masih bertempur dengan segenap kemampuan yang ada padanya. Lawannya itu telah berhasil disentuhnya, justru pada saat-saat orang itu menyerang dan mengenainya, sehingga kemampuannya sebagian tentu saja sudah terhisap. Tetapi ternyata bahwa dalam keadaan yang demikian, ia masih mampu melontarkan ilmunya yang dahsyat dan nggegirisi. Seandainya ilmunya itu masih utuh, maka tentu lebih banyak lagi yang dapat dilakukannya.
Mahisa Murti tidak dapat mengingkari kenyataan itu. Karena itu ketika melihat Mahisa Pukat bersiap, Mahisa Murti sama sekali tidak mencegahnya. Ia memang masih berada di bawah kemampuan orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu.
Namun ketika Mahisa Pukat kemudian benar-benar meloncat ke medan maka orang itu justru meloncat menjauh. Dengan nada dalam ia bertanya, “Apakah kau juga akan memasuki arena?”
“Ya,” jawab Mahisa Pukat, “kami harus mengakui kelebihanmu. Karena itu, kami telah memberikan satu penghormatan yang sangat tinggi kepadamu. Kami akan bertempur berpasangan.”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya dengan nada merendah, “Anak-anak muda. Baiklah aku berterus terang aku tidak dapat mengingkari satu kenyataan, bahwa aku tentu tidak akan mampu melawan kalian berdua. Untuk melawan salah seorang di antara kalian, aku sudah merasa sangat sulit, apalagi jika aku harus berhadapan dengan dua orang sekaligus. Karena itu, maka baiklah aku menghentikan perlawananku.”
Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun sebenarnyalah, bahwa orang itu telah melepaskan serangan-serangannya. Kabut yang berwarna keputih-putihan itu tidak lagi nampak melibat Mahisa Murti atau bahkan menyentuh Mahisa Pukat. Dalam keremangan malam, nampak orang itu melangkah beberapa langkah maju. Namun sikapnya bukan lagi sikap seseorang yang siap untuk bertempur.
“Sudahlah,” berkata orang itu, “sejak semula aku sudah mengatakan bahwa aku hanya sekedar menjajagi kemampuan kalian bertiga. Kini aku tahu, bahwa kalian memiliki ilmu yang sangat tinggi. Apalagi menilik umur kalian yang masih sangat muda, sehingga dengan demikian maka pada masa-masa mendatang, kalian akan dapat menjadi orang yang jarang ada tandingnya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Sementara itu Mahisa Ura pun telah bergeser mendekat pula.
Namun dengan nada berat Mahisa Murti kemudian bertanya, “Lalu, apa yang akan kau lakukan kemudian?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan bahwa layaklah jika kalian berani mendekati padepokan itu dan apalagi melihat apa yang terdapat di dalamnya,” jawab orang itu.
“Dan kau akan memanggil anak-anakmu dan siap mencincang kami bertiga?” bertanya Mahisa Pukat.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Aku sebenarnya orang lain. Aku tidak berasal dari padepokan itu.”
“Jadi siapakah sebenarnya kau?” bertanya Mahisa Pukat dengan serta merta.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Namaku memang Tatas Lintang. Memang nama yang aneh. Tetapi itu memang namaku yang sebenarnya. Dan aku memang tidak menjadi penghuni padepokan itu, apalagi pemimpinnya.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura berdiri mematung sejenak, namun kemudian Mahisa Pukat melangkah maju sambil bertanya, “Jadi apakah maksudmu sebenarnya?”
Orang itu termangu-mangu. Lalu katanya, “Apakah aku kalian perkenankan untuk bergabung dengan kalian? Mungkin aku akan dapat berceritera serba sedikit tentang padepokan itu.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura tertegun sejenak. Namun mereka melihat kesungguhan pada nada bicara orang itu.
“Aku dapat mengerti bahwa kalian menjadi ragu-ragu,” berkata Tatas Lintang, “kita baru saja bertemu, justru dengan cara yang mungkin tidak wajar. Namun dengan demikian aku sempat mengetahui bahwa ilmu dari dua perguruan yang besar mengalir di dalam tubuh kalian. Meskipun sejak semula aku memang sudah menduga, tentu kalian mempunyai bekal yang cukup, sehingga kalian berani mendekati padepokan Wirabala.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat, dan Mahisa Ura terkejut mendengar nama padepokan itu. Hampir diluar sadarnya Mahisa Ura menyahut, “Apakah kau tidak salah menyebut nama padepokan itu?”
Orang itu berpaling ke arah Mahisa Ura. Namun kemudian ia-pun tersenyum sambil berkata, “Tidak. Aku tidak salah sebut. Padepokan itu adalah padepokan Wirabala. Mungkin yang kau maksud adalah padepokan Suriantal, sehingga kau mengira aku salah sebut.”
“Ya. Padepokan Suriantal,” ulang Mahisa Ura.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Ada benturan terjadi di dalam padepokan itu. Padepokan itu semula memang bernama Suriantal. Namun kemudian yang berkuasa adalah orang-orang dari padepokan Wirabala.”
“O,” Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun kemudian ia pun bertanya, “Kau mengetahui banyak tentang padepokan itu. Tetapi bagaimanakah peristiwa pengambilan Mahkota yang gagal itu? Agaknya ceritera itu akan sangat menarik.”
“Tidak begitu jelas,” jawab Tatas Lintang, “namun Pangeran Singa Narpada bersama beberapa orang berhasil menggagalkannya. Dan aku melihat ilmu Pangeran itu mengalir di dalam dirimu.”
Jantung Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menjadi semakin berdebar debar. Demikian pula Mahisa Ura. Namun debar jantungnya justru karena ia semakin mengenali kedua anak muda yang diakunya sebagai adiknya itu.
“Baiklah,” berkata Mahisa Murti, “kau melihat bahwa aku mewarisi ilmu sebagaimana dimiliki oleh Pangeran Singa Narpada. Tetapi apakah maksudmu sebenarnya. Kami akan mempertimbangkan niatmu untuk bergabung dengan kami, jika kami dapat mengerti penjelasanmu tentang sikapmu itu.”
“Aku adalah seorang pengembara,” berkata orang itu, “Tetapi aku mempunyai hubungan yang sangat erat dengan orang-orang dari perguruan Suriantal. Sejak di padepokan itu terjadi perpecahan, aku tidak mau mencampurinya. Aku justru menjauhinya dan menunggu sampai terjadi satu pengendapan atas persoalan yang terjadi sebagaimana dikehendaki oleh orang-orang Suriantal sendiri. Namun ternyata bahwa ada pihak lain yang ikut mencampurinya. Orang-orang dari padepokan Wirabala telah mengambil keuntungan dari perselisihan yang terjadi di padepokan Suriantal itu.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengangguk-angguk. Sementara itu orang itu pun berkata, “Bagaimana menurut pendapatmu? Apakah kalian setuju aku bergabung dengan kalian?”
Mahisa Murti memandang Mahisa Pukat sekilas. Mereka berdua ternyata merasakan kesungguhan keterangan Tatas Lintang itu, sehingga ketika Mahisa Murti mengangguk kecil, maka Mahisa Pukat pun mengangguk pula.
Dalam pada itu, Mahisa Ura tidak lagi terlalu banyak menentukan sikap. Diserahkannya segala sesuatunya kepada kedua orang kakak beradik itu yang ternyata memiliki kelebihan dihampir segala hal daripadanya.
Karena itulah, maka Mahisa Murti pun kemudian menjawab, “Baiklah Ki Sanak. Kami tidak berkeberatan. Tetapi sebagaimana kau, kami pun pengembara yang tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap.”
“Aku justru ingin mempersilahkan kalian singgah di pondokku,” berkata orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu.
“Kau mempunyai pondok di dekat tempat ini?” bertanya Mahisa Pukat.
“Ya Aku tinggal di sebuah gubug kecil di padukuhan yang tidak terlalu jauh dari tempat ini,” berkata Tatas Lintang, “aku berhasil mendapatkan sebidang kecil tanah karena aku sempat menolong seorang anak yang tergelincir masuk ke dalam jurang yang tidak dapat memanjat naik. Pertolonganku memang tidak seberapa. Aku menggendongnya naik dan membawanya kembali kekeluarganya. Namun keluarganya yang agaknya berkecukupan itu telah memberikan hadiah kepadaku. Dan aku minta untuk diperkenankan tinggal di sudut pategalannya yang berhimpitan dengan dinding padukuhan.”
“Kau mendapatkan apa yang kau inginkan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Ya,” jawab orang itu.
“Dan kau berhasil tinggal, dekat padepokan Suriantal?” bertanya Mahisa Murti pula.
“Ya. Sebagaimana kau lihat,” jawab orang itu.
Mahisa Murti mengangguk-angguk, Lalu katanya, “Baiklah. Kami akan bersedia memenuhi undanganmu.”
“Jika kau sudah melihat pondokku, maka kau tidak akan mencurigai aku lagi. Aku berkata sebenarnya,” desis orang itu.
“Baiklah. Aku akan membiasakan diri untuk tidak curiga lagi kepadamu,” jawab Mahisa Murti.
Dengan demikian maka mereka berempat pun kemudian, meninggalkan lingkungan yang basah itu. Mereka melintasi daerah berlumpur beberapa ratus langkah. Kemudian mereka naik ke sebuah tebing yang tidak terlalu tinggi. Setelah menyeberangi padang perdu, maka mereka mulai merambah tanah persawahan.
Meskipun malam gelap, tetapi Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura berusaha untuk mengenali lingkungan yang dilaluinya. Dengan ketajaman pengamatan seorang pengembara, maka mereka dapat mengingat beberapa ciri yang berkesan yang terdapat di sepanjang perjalanan mereka.
Untuk beberapa saat mereka telah menelusuri jalan bulak. Mereka menghindari padukuhan di hadapan mereka, sehingga karena itu, maka mereka telah melalui pematang yang menyilang di tengah sawah.
Baru beberapa saat kemudian, maka mereka telah memasuki sebuah pategalan.
“Pategalan ini bergandengan dengan padukuhan,” berkata orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang, “tetapi aliran air agak kurang baik, sehingga sawah di lingkungan ini telah dirubah menjadi pategalan. Ada rencana untuk perluasan padukuhan.”
“Apakah tidak dikhawatirkan bahwa sumber bahan makanan akan menjadi susut. Jika sawah berubah menjadi pategalan, dan pategalan kemudian menjadi daerah berpenghuni, maka akhirnya tidak ada lagi tempat untuk menanam padi dan jagung,” berkata Mahisa Murti.
“Tidak anak muda,” jawab Tatas Lintang, “beberapa orang telah menebang hutan dan menjadikannya tanah persawahan.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat saling berpandangan. Mereka teringat kepada usaha beberapa pihak di Kediri untuk menghancurkan masa depan dengan menebangi pepohonan bahkan di lereng-lereng pegunungan sehingga tidak ada lagi yang dapat menahan arus air jika hujan turun. Kecuali banjir, maka kulit pegunungan akan terkelupas dan di musim kering, maka tanah di kaki bukit akan kering dan merekah.
Agaknya orang yang bernama Tatas Lintang itu melihat kebimbangan di wajah anak-anak muda itu menanggapi keterangannya. Karena itu, maka katanya, “Tetapi orang-orang padukuhan itu melakukannya dengan cukup berhati-hati. Mereka tidak menebas hutan sehingga buminya kehilangan nafas kesegarannya.”
“Syukurlah,” desis Mahisa Pukat, “mudah-mudahan mereka tetap pada pendiriannya meskipun lingkungannya menjadi semakin sempit. Jika mereka ingin membuka hutan, maka sebaiknya mereka mengambil jarak.”
“Aku kira mereka akan berbuat seperti itu,” berkata Tatas Lintang, “seseorang akan menjadi cikal bakal dan akan selalu dikenang oleh anak keturunannya jika ia berhasil mengembangkan satu lingkungan baru.”
“Kau akan melakukannya?” bertanya Mahisa Pukat tiba-tiba.
“Tidak anak muda,” jawab Tatas Lintang, “aku tinggal di daerah yang sudah lama dibuka menjadi padukuhan. Aku tidak akan disebut cikal bakal, justru karena aku tidak lebih dari seorang yang mendapat belas kasihan dari salah seorang penghuni padukuhan itu.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk, sementara itu mereka menyuruk lebih dalam mendekati dinding padukuhan.
Sebenarnyalah, ketika mereka sampai di sudut pategalan, mereka mendapatkan sebuah gubug yang tidak begitu besar. Dibatasi oleh secabik halaman yang berpagar kayu dan potongan dahan-dahan. Tidak ada regol halaman dan tidak ada bagian-bagian yang biasanya terdapat pada lingkungan sebuah rumah.
“Inilah,” berkata orang itu, “Bukankah benar-benar sebuah gubug kecil, sebagaimana gubug untuk menunggui burung di sawah.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura tidak menjawab. Mereka mengikuti saja orang itu memasuki halamannya. Namun demikian mereka bertiga tidak kehilangan kewaspadaan.
Orang itulah yang kemudian membuka pintu dan memasuki ruang rumahnya yang gelap.
“Tunggulah,” katanya, “aku akan membuat api.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menunggu di halaman ketika Tatas Lintang membuat api dengan batu thithikan yang digesek dengan potongan baja. Bunga api yang timbul telah membakar amput aren yang dikeringkan.
Dengan menghembus-hembus amput aren itu membara semakin besar sehingga ketika diletakkan biji jarak, maka biji jarak itu pun kemudian menyala menerangi ruang yang tidak terlalu luas.
“Kemarilah,” berkata Tatas Lintang kepada ketiga orang yang menunggu di luar. Ia pun kemudian telah menyalakan oncor biji jarak yang dirangkainya cukup panjang dengan lidi dan diselipkan pada sebuah ajug-ajug bambu.
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun telah memasuki pondok orang yang menyebut dirinya Tatas Litang itu. Sejenak mereka termangu-mangu memandang sekeliling ruangan itu.
Yang terdapat di ruang itu hanyalah sebuah amben yang besar, sebuah sosok untuk menempatkan gendi yang agaknya berisi air minum, sebuah tudung kepala dari anyaman bambu yang lebar dan beberapa alat untuk bekerja di sawah dan di pategalan.
“Aku adalah seorang petani yang bekerja untuk pemilik pategalan ini. Aku sendiri tidak mempunyai tanah kecuali halaman ini, yang merupakan pemberian dari orang yang anaknya telah aku tolong itu,” berkata Tatas Lintang.
Ketiga orang tamu Tatas Lintang itu mengangguk-angguk. Mereka melihat kesederhanaan hidup Tatas Lintang itu. Namun mereka pun telah melihat apa yang ada di balik kesederhanaannya itu.
“Orang yang memberikan tanah ini tidak melihat apa yang sebenarnya tersimpan di dalam diri Tatas Lintang ini,” berkata Mahisa Murti di dalam hatinya.
Demikianlah maka mereka bertiga telah berada di rumah seorang yang baru saja dikenalnya dengan cara yang aneh. Dengan nada datar Tatas Lintang itu pun kemudian berkata, “Aku hanya mempunyai sebuah amben yang besar itu. Kita berempat akan tidur di amben itu. Apakah kalian berkeberatan?”
Mahisa Murti lah yang menjawab, “Kami adalah pengembara. Kami terbiasa tidur di atas rerumputan kering. Berselimut awan beratapkan langit.”
Tatas Lintang tersenyum. Katanya, “Baiklah. Dengan demikian maka tempat pembaringan tidak menjadi persoalan kita. Nah, jika demikian, tidurlah. Atau barangkali kalian akan pergi ke pakiwan lebih dahulu? Masih ada sisa malam untuk beristirahat. Aku akan merebus air. Mungkin kalian tidak terbiasa minum air putih dari dalam gendi.”
“Sudah aku katakan, kami adalah pengembara. Kami dapat meneguk air dari belik. Apalagi dari gendimu,” jawab Mahisa Murti pula.
Tatas Lintang tersenyum. Katanya, “Bagus. Kalian benar-benar pengembara yang baik.”
Namun mereka masih juga pergi ke pakiwan untuk mencuci kaki dan tangan sebelum mereka naik ke pembaringan.
Namun bagaimana pun juga, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura tetap berhati-hati. Dengan menggamit Mahisa Pukat, Mahisa Murti memberikan isyarat, agar mereka bergantian tidur.
Pada sisa malam Mahisa Pukatlah yang tertidur lebih dahulu. Baru menjelang pagi Mahisa Murti menggamitnya dan kemudian bergantian tidur untuk sekejap.
Ketika udara menjadi terang, Mahisa Murti masih dibiarkan saja tidur meskipun Mahisa Pukat dan Mahisa Ura sudah terbangun. Mereka tidak melihat Tatas Lintang di tempatnya. Namun mereka mendengar suara perapian yang menyala di belakang rumah, sementara asap mengepul menerobos lubang-lubang dinding.
“Agaknya Tatas Lintang sedang menjerang air,” desis Mahisa Ura.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Aku akan pergi ke pakiwan. Kau kawani Mahisa Murti.”
Mahisa Ura mengangguk. Namun ketika Mahisa Pukat bangkit berdiri, derit amben telah membangunkan Mahisa Murti.
“Aku kesiangan,” desis Mahisa Murti.
“Tidak. Matahari belum terbit,” jawab Mahisa Pukat.
Dengan demikian, maka Mahisa Ura tidak lagi harus menunggui Mahisa Murti yang sudah bangun. Bahkan mereka bertiga pun segera keluar dari pondok itu untuk pergi ke pakiwan.
Di siang hari, mereka bertiga dapat melihat dengan jelas, halaman rumah Tatas Lintang yang tidak terlalu luas. Tetapi di bagian belakang, kebun Tatas Lintang itu penuh ditanami jagung, sedang di sepanjang pagar halaman yang hanya dibuat dari potongan-potongan dahan kayu itu telah ditanami ketela pohon.
Sejak hari itu, maka Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah menjadi tamu seorang yang bernama Tatas Lintang, yang tinggal di sebuah pondok kecil di sudut pategalan.
Kepada ketiga orang itu Tatas Lintang berkata, “Kalian mulai hari ini adalah tamu-tamuku. Jika orang-orang di padukuhan itu bertanya, maka aku akan mengatakan, bahwa kalian adalah kemanakanku dari padukuhan asalku, sebelum aku pergi mengembara.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengangguk. Tetapi pada wajah mereka nampak keragu-raguan.
“Apakah ada sesuatu yang membuat kalian berkeberatan?”
“Kenapa aku?” bertanya Tatas Lintang.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia pun telah menceriterakan kepada Tatas Lintang tentang orang bertongkat yang pernah dijumpainya. Tentang harimau yang mencurigakan dan kehadiran orang bertongkat itu di banjar tempat Mahisa Murti tinggal untuk beberapa hari.
“Apakah kau tidak berkeberatan?” bertanya Mahisa Murti, “Tempat ini terletak tidak terlalu jauh dari daerah yang mungkin dijangkau oleh orang bertongkat itu atau para pengikutnya.”
Tatas Lintang itu menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “orang itu adalah orang yang luar biasa.”
“Aku tidak tahu kekuatan ilmunya yang sebenarnya,” berkata Mahisa Murti, “Tetapi aku pun yakin bahwa ia mempunyai kelebihan.”
“Aku pernah juga bertemu dengan orang itu tanpa menarik perhatiannya,” berkata Tatas Lintang.
“Berbeda dengan kami,” jawab Mahisa Murti, “kami telah berdiri berseberangan. Antara lain karena batu yang berwarna kehijauan itu.”
“Biarlah,” berkata Tatas Lintang, “jika kehadiran kalian di tempat ini menarik perhatiannya. Bukankah kita sudah bertekad untuk berbuat sesuatu? Tetapi mudah-mudahan segalanya itu tidak terjadi sebelum ampat puluh hari ampat puluh malam.”
“Kenapa dengan ampat puluh hari ampat puluh malam?” bertanya Mahisa Pukat.
Orang itu menarik nafas. Namun kemudian ia pun tersenyum sambil menjawab, “Salahku. Aku terlambat menyadari, bahwa kalian memiliki ilmu yang sama dengan ilmu Pangeran Singa Narpada. Meskipun masih dalam hitungan sebagian kecil, tetapi kemampuanku benar-benar telah susut. Baru setelah ampat puluh hari ampat puluh malam, kekuatan dan kemampuan ilmuku itu akan pulih kembali sebagaimana sebelumnya. Sehingga apabila aku harus bertemu dengan orang bertongkat itu aku sudah membawa bekal sepenuhnya. Jika dengan demikian aku akan dikalahkannya, maka sebenarnyalah aku memang belum mencapai tataran yang sama dengan orang bertongkat itu. Namun saat ini aku mempunyai ganti dari kekurangan di dalam diriku itu. Kehadiran kalian memberikan ketenangan di dalam diriku, karena kalian mempunyai kemampuan yang sangat tinggi.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura justru termangu-mangu. Bahkan Mahisa Murti pun kemudian menjawab, “Kau jangan memuji. Kau akan kecewa menghadapi kenyataan tentang kami yang tidak memiliki kemampuan apapun juga.”
“Jangan kau kira aku sekedar berbasi-basi. Aku sudah menjajagi ilmumu. Bahkan sehingga ilmuku sendiri susut dan baru akan pulih kembali setelah ampat puluh hari ampat puluh malam,” sahut Tatas Lintang, “aku berkata sebenarnya. Namun aku pun berpendapat, jika kalian setuju dan tidak tergesa-gesa, selama ampat puluh hari ampat puluh malam kita tidak mendahului mengambil langkah atas padepokan itu. Biarlah kalian berada di sini dan membantuku menggarap sawah. Sementara itu aku sempat memulihkan kekuatan dan kemampuanku. Sokurlah jika aku dapat mempercepat pemulihan itu sehingga kita pun akan semakin cepat pula menyelesaikan tugas kita. Kecuali jika pada waktu sebelum ampat puluh hari ampat puluh malam, merekalah yang bertindak lebih dahulu. Apa boleh buat.”
Mahisa Murti memandang Mahisa Pukat sejenak. Kemudian dipandanginya Mahisa Ura yang termangu-mangu. Agaknya mereka pun ternyata masing-masing tidak mempunyai keberatan. Karena itu, maka ketika Mahisa Murti bertanya, Mahisa Pukat pun dengan serta merta menjawab, “Kita tidak tergesa-gesa.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan menunggu sampai kau siap.”
“Terima kasih,” berkata Tatas Lintang, “dengan demikian maka aku semakin yakin, bahwa kalian benar-benar telah cukup masak untuk mengemban tugas yang sangat berat ini. Kecuali bekal kalian yang cukup lengkap, sikap jiwani kalian pun cukup meyakinkan.”
“Sekali lagi aku minta, kau tidak usah memuji,” jawab Mahisa Murti, “apa yang aku lakukan adalah sekedar didorong oleh keinginan untuk mendapatkan kawan dalam tugas ini meskipun mungkin pada akhirnya, kita akan berselisih jalan.”
“Tidak. Kita tidak akan berselisih jalan,” berkata Tatas Lintang, “kelak aku akan membuktikannya.”
“Terima kasih,” berkata Mahisa Murti, “kami adalah saksi dari setiap kata-katamu.”
“Sementara itu, biarlah kalian menyesuaikan diri dengan cara hidupku. Aku adalah seorang petani yang tidak memiliki tanah sendiri. Aku bekerja kepada orang lain, kepada pemilik pategalan ini. Dengan kerja itu aku mendapat upah yang dapat aku pergunakan untuk menunjang hidupku di samping hasil tanamanku disecuwil tanah ini,” berkata Tatas Lintang.
“Aku tidak yakin,” berkata Mahisa Pukat.
“Apa yang tidak meyakinkan?” bertanya Tatas Lintang.
“Kau tidak memerlukan upah itu. Juga hasil tanah yang hanya setelapak kakimu itu,” jawab Mahisa Pukat, “kau tentu seorang yang berada di tempat ini dengan bekal, selain ilmu, juga bekal kebutuhan hidupmu.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia-pun tersenyum. Dengan nada datar ia pun bergumam, “Dengan demikian aku pun yakin bahwa kalian melakukan hal yang sama.”
“Kami adalah pedagang batu berharga dan wesi aji, bahkan juga emas dan hasil kerajinan logam yang lain,” jawab Mahisa Pukat, “karena itu, maka kami dapat hidup dalam pengembaraan.”
Tetapi Tatas Lintang tertawa. Katanya, “Selama kau mengembara berapa buah barangmu yang laku? Wesi aji atau batu berharga? Atau barangkali kau sudah berhasil menjual batu berwarna kehijauan di bukit kecil itu?”
Mahisa Pukat pun tertawa. Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Ura pun tertawa pula.
Demikianlah, maka sejak hari itu, ketiga orang tamu Tatas Lintang yang diakunya sebagai kemanakannya itu telah diperkenalkan kepada orang yang memberinya sebidang tanah di sudut pategalan itu, dan memberi tahukan bahwa mereka untuk beberapa pekan akan tinggal bersamanya.
“Mereka adalah anak-anak petani. Mereka akan dapat membantu aku mengerjakan pategalan dan sawah di sebelah pategalan,” berkata Tatas Lintang.
“Aku tidak mempunyai keberatan,” berkata pemilik tanah, “jika ternyata mereka juga mampu bekerja dengan baik, aku akan memberikan upah sebagaimana aku berikan kepadamu.”
“Terima kasih,” jawab Tatas Lintang sambil mengangguk hormat, “jika ada kemurahan itu, maka mereka tidak akan menjadi beban yang sangat berat bagiku, karena mereka akan dapat makan dari kerja mereka sendiri.”
“Beruntunglah mereka, karena justeru pada musim tanam palawija seperti ini mereka berada di rumahmu,” berkata pemilik tanah itu.
Sejak saat itu, maka Mahisa Murti, dan Mahisa ura telah ikut bersama Tatas Lintang pergi ke sawah di siang hari. Namun di malam hari Tatas Lintang telah melakukan pemusatan nalar budi untuk memulihkan kekuatan dan kemampuan ilmunya yang terhisap oleh ilmu Mahisa Murti.
Namun pada hari yang ketiga, Tatas Lintang itu pun berkata, “Anak-anak muda. Sebenarnyalah bahwa aku ingin pertemuan ini bukanlah satu peristiwa kebetulan yang sia-sia. Aku mengerti, bahwa kalian adalah murid dari seorang yang mewarisi ilmu Bajra Geni dan murid dari pewaris ilmu sebagaimana dimiliki oleh Pangeran Singa Narpada. Aku mengerti bahwa kedua ilmu itu apabila telah berkembang dan menjadi masak di dalam diri kalian, maka kalian akan menjadi orang yang jarang ada bandingnya,” orang itu berhenti sejenak, lalu, “tetapi meskipun demikian, jika kalian tidak berkeberatan, apakah kalian bersedia untuk menerima beberapa petunjukku untuk mengembangkan ilmu yang telah ada di dalam diri kalian. Waktu yang tersedia adalah ampat puluh hari ampat puluh malam dikurangi beberapa hari yang telah kita lewati. Aku kira, kita mempunyai waktu yang cukup. Sementara itu, sebenarnyalah bahwa aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura saling berpandangan sejenak. Namun kemudian Mahisa Murti pun bertanya, “Apakah kau berkata dengan jujur?”
“Aku berkata dengan jujur,” jawab orang itu, “Biarlah kita akan saling menguntungkan. Jika kalian bersedia, maka mudah-mudahan aku dapat memberikan arti bagi masa depan kalian bertiga.”
“Apakah yang akan kami dapatkan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Mudah-mudahan aku akan dapat ikut membuka kemungkinan bagi ilmu kalian. Kalian telah mampu mengembangkan ilmu kalian dalam ujudnya yang lunak dan yang keras. Namun kalian masih belum memperlihatkan, atau barangkali belum saja kalian pergunakan, bahwa kalian mampu mengetrapkan kemampuan ilmu itu untuk sasaran yang dipisahkan oleh jarak beberapa langkah dari kalian,” jawab orang itu. “bukan saja ilmu kalian dalam ujudnya yang lunak, tetapi juga dalam ujudnya yang keras. Kalian dapat melontarkan kekuatan ilmu kalian untuk menyerang lawan kalian dengan kemampuan dan kekuatan sebagaimana wadag kalian langsung menyentuhnya.”
“Apakah yang kau maksud, kemampuan melakukannya sebagaimana kau lakukan?” bertanya Mahisa Pukat.
“Ya. Namun dengan lambaran ilmu yang berbeda, sehingga dengan demikian akan mempunyai akibat yang berbeda pula. Jika kalian mampu melakukannya, maka ilmu yang kalian miliki akan mempunyai akibat yang lebih dahsyat dari dasar ilmu yang aku miliki. Baik dalam ujudnya yang lunak, maupun dalam ujudnya yang keras,” jawab orang itu.
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi ia pun bertanya, “Apakah dengan demikian ilmu yang telah ada di dalam diriku itu tidak akan terpengaruh?”
“Aku tidak akan menyentuh ilmu dan kemampuan yang telah ada di dalam dirimu. Aku hanya ingin menunjukkan satu cara sehingga kau dapat mengetrapkan ilmumu atas sasaran yang berjarak dari kemungkinan sentuhan wadagmu. Kau telah mempunyai dasar dengan melepaskan ilmumu dalam ujudnya yang lunak. Namun kau belum mengetrapkannya pada ujudnya yang keras sebagaimana menurut penglihatanku. Mungkin kau mampu memancarkan jalur panas dari dalam dirimu sebagaimana jalur yang dapat melibat seseorang dalam kebekuan. Tetapi kemampuannya masih belum memadai, sehingga bagi mereka yang memiliki daya tahan yang kuat, maka serangan itu tidak akan banyak berarti. Namun jika kalian mampu mempergunakan kemampuan dan ilmu itu menurut kemungkinan yang dapat kau kembangkan sebagaimana aku lakukan, maka kemungkinannya akan menjadi lebih baik. Sedangkan jika ternyata kalian tidak merasa perlu untuk memperdalam lagi, maka apapun yang terjadi, tidak akan mempengaruhi apa yang telah ada di dalam dirimu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun ternyata bahwa Mahisa Ura tidak tahan lagi menekan perasaannya, sehingga karena itu, maka tiba-tiba saja ia berkata, “Ki Sanak, aku tidak akan dapat ikut dalam pengembangan ilmu itu. Aku mempunyai dasar ilmu dan kemampuan yang jauh berbeda.”
Tatas Lintang mengerutkan keningnya. Dilihatnya kegelisahan yang sangat telah mencengkam perasaan Mahisa Ura.
“Apa sebenarnya yang terjadi?” bertanya Tatas Lintang.
Mahisa Murtilah yang menjawab, “Kakakku yang tertua itu tidak sempat memiliki ilmu sebagaimana aku miliki. Ia tidak berguru pada guru yang sama, sehingga karena itu, ia membawa bekal yang berbeda dari bekal yang ada pada diri kami berdua.”
Tatas Lintang mengangguk-angguk. Namun ia pun kemudian menjawab, “Tidak apa-apa. Pada dasarnya dengan bekal ilmu yang manapun juga, serangan sebagaimana aku lakukan itu dapat dilakukan. Yang berbeda adalah kekuatan serangan itu sendiri.”
Sebelum Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyahut, Mahisa Ura telah mendahuluinya, “bekal ilmuku jauh berada di bawah kemampuan kedua adikku itu. Aku sama sekali tidak memiliki dan mewarisi ilmu sebagaimana diwarisinya.”
Tatas Lintang mengangguk-angguk. Katanya, “Kita akan mencoba, apa saja yang mungkin kau lakukan.”
Mahisa Ura masih tidak puas mendengar jawaban Tatas Lintang. Itulah sebabnya maka ia pun telah mengatakan apa yang ada di dalam dirinya. Batas kemampuan yang dimilikinya dan kelemahan-kelemahan yang ada padanya.
Tatas Lintang mengangguk-angguk. Namun dengan keterangan itu, ternyata bahwa Mahisa Ura pun memiliki kemampuan ilmu betapapun panjang jaraknya dengan kemampuan dan ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Namun dengan bekal yang kecil itu, Mahisa Ura pun akan dapat melakukannya.
“Tetapi daya dan kekuatan serangan itu pun tidak akan dapat sama dan seimbang dengan daya dan kekuatan ilmu kedua saudaramu,” berkata Tatas Lintang.
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Jika memang aku mendapat kesempatan, maka aku akan sangat berterima kasih. Tentu saja aku harus menyadari alas yang ada di dalam diriku.”
“Kita akan mencobanya,” berkata Tatas Lintang.
Demikianlah, maka untuk malam-malam berikutnya, Tatas Lintang tidak saja menghabiskan waktunya untuk bersamadi agar mendapatkan kemampuannya kembali seutuhnya. Namun ia pun telah membawa ketiga orang tamunya ke tempat yang tidak pernah didatangi oleh seseorang.
“Lakukanlah,” berkata Tatas Lintang kepada ketiga orang itu.
Perlahan-lahan Tatas Lintang telah memberikan beberapa petunjuk kepada ketiga orang itu. Setapak demi setapak. Bahkan tidak terasa adanya kesulitan sama sekali.
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahira Ura pun mengikuti segala petunjuk orang yang menyebut dirinya Tatas Lintang itu. Namun terutama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, melangkah dengan sangat berhati-hati. Setiap laku diperhitungkannya baik-baik. Jika mereka yakin tidak akan mempengaruhi ilmu yang telah ada di dalam dirinya apalagi kemungkinan terjadinya benturan, maka mereka baru melakukannya.
Pada hari pertama keduanya telah menemukan keyakinan di dalam diri, bahwa Tatas Lintang melakukannya dengan jujur. Tidak ada persoalan sama sekali dengan ilmu yang ada di dalam dirinya. Yang diberikan oleh Tatas Lintang adalah laku untuk memusatkan kemampuan ilmunya untuk dengan satu hentakan kekuatan melepaskannya ke arah satu sasaran.
Meskipun demikian Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tetap berhati-hati pada hari-hari berikutnya.
Dengan tuntunan Tatas Lintang, maka setapak demi setapak mereka bertiga mengalami kemajuan dari ke hari ke hari. Terutama Mahisa Murti dan Mahisa-Pukat. Pada hari ke lima belas, mereka telah mampu melontarkan kekuatan ilmunya, baik dalam ujudnya yang lunak, maupun dalam ujudnya yang keras ke arah sasaran tertentu.
Pada saat yang sama, mulai nampak pula kemampuan Mahisa Ura meskipun baru pada tataran permulaan. Namun tanda-tandanya telah nampak, bahwa ia pun akan berhasil untuk melakukannya.
Demikianlah, tanpa mengenal lelah, ketiga orang itu menempa diri dalam laku yang ditunjukkan oleh Tatas Lintang. Sejak matahari terbenam, sampai saatnya matahari akan terbit lagi.
Sementara pada hari-hari berikutnya, Tatas Lintang sudah tidak perlu menuntun mereka lagi. Tatas Lintang telah membiarkan ketiga orang itu menyempurnakan laku mereka untuk mencapai satu tataran yang mapan dari penguasaan ilmu yang diajarkan oleh Tatas Lintang itu. Sedangkan Tatas Lintang sendiri dapat memusatkan waktu-waktu yang tertinggal untuk memulihkan tingkat kemampuannya pada tataran sebagaimana dimiliki semula.
Meskipun pada malam hari mereka mempergunakan hampir seluruh waktu mereka untuk kepentingan penempaan diri, namun di siang hari mereka pun bekerja dengan baik sebagaimana seharusnya, sehingga sama sekali tidak menumbuhkan kesan, bahwa di malam hari mereka hampir semalam suntuk tidak penah tidur selama ampat puluh malam.
Hanya menjelang senja, kadang-kadang mereka sempat tidur barang sejenak bergantian. Setelah kerja di sawah selesai, maka mereka dapat beristirahat sebelum pada malam harinya, begitu matahari terbenam mereka akan tenggelam di dalam laku yang berat.
Namun setelah hari ke ampat puluh mereka lewati, ternyata Tatas Lintang masih memerlukan waktu beberapa hari lagi untuk memulihkan kemampuannya sepenuhnya. Waktu yang ampat puluh malam baginya telah disusut bagi kepentingan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura.
Namun dengan senang hati Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun memenuhinya, karena mereka menganggap bahwa kehadiran Tatas Lintang di dalam lingkungan mereka, telah memberikan kemajuan yang sangat berarti bagi ilmu mereka. Meskipun yang mereka sadap dari Tatas Lintang tidak meningkatkan ilmu yang ada di dalam diri mereka, tetapi mereka telah mendapatkan satu kemungkinan baru dalam penguasaan ilmu mereka. Mereka memiliki kemampuan untuk melontarkan ilmu pada sasaran yang terpisah dari sentuhan wadag mereka.
Meskipun pada saat-saat tertentu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura teringat pula kepada batu yang berwarna kehijauan serta orang tua bertongkat, namun karena mereka justru sedang meningkatkan penguasaan ilmu yang mereka sadap dari Tatas Lintang, maka mereka seolah-olah telah melupakannya.
Namun pada satu saat Mahisa Pukat pun sempat bertanya, “Bagaimana dengan batu itu?”
“Jika batu itu telah disingkirkan, apa boleh buat. Sasaran utama kita adalah padepokan orang-orang bertongkat serta orang tua itu yang ternyata memiliki ceritera yang sangat menarik sebagaimana dikatakan oleh Tatas Lintang,” berkata Mahisa Murti.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Kita tidak terlalu berkepentingan dengan batu itu, meskipun jika mungkin dapat kita manfaatkan.”
Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Sebagai pedagang batu berharga, maka batu itu sangat menarik. Tetapi sebagai seorang petugas yang mendapat beban tugas dari Kediri, kita harus dapat memalingkan kepentingan kita.”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Ia memang sependapat dengan Mahisa Murti.
Dalam pada itu, setelah lima puluh malam lewat, barulah Tatas Lintang berkata kepada ketiga orang yang tinggal di dalam pondoknya itu, “Nah, agaknya aku telah mencapai puncak kemampuanku kembali. Sementara itu, aku lihat, kalian pun telah menguasai kemampuan sebagaimana aku tunjukkan kepada kalian. Karena waktu kita telah cukup tersita untuk kepentingan kita masing-masing, maka kita harus segera kembali kepada tugas kita.”
“Aku sependapat,” berkata Mahisa Murti, “selebihnya aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas nama kami bertiga.”
“Kita akan saling mendapat keuntungan,” jawab Tatas Lintang, “kalian beruntung karena kalian mendapatkan yang belum kalian miliki, sementara.aku pun beruntung bahwa aku mendapat kawan yang benar-benar tangguh menghadapi segala kemungkinan. Bagiku padepokan itu adalah sarang kekuatan dan ilmu yang garang dan tanpa belas kasihan. Karena itu, kita harus benar-benar mempersiapkan diri untuk memasukinya.”
“Terima kasih,” jawab Mahisa Murti, “Terserah kepadamu, kapan kita akan mulai.”
“Malam nanti kita kita akan menguji kemampuan kita. Semalam lagi kita akan pergi ke tempat kita berlatih di setiap malam,” berkata Tatas Lintang kemudian.
Demikianlah, seperti yang dikatakan oleh Tatas Lintang, maka pada malam harinya, mereka berempat telah pergi ke tempat mereka menempa diri. Mereka masih akan menguji kemampuan mereka dan mereka masih harus melakukan laku terakhir untuk mematangkan keyakinan mereka, bahwa mereka benar-benar telah menguasai ilmu yang sedang mereka dalami.
Demikian malam menjadi semakin gelap, maka mereka-pun mulai dengan laku yang terakhir yang harus mereka jalani, yang juga akan merupakan ujian bagi mereka yang sedang menekuni ilmu yang diturunkan oleh Tatas Lintang kepada ketiga orang yang mengaku bersaudara itu.
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah duduk berjajar pada jarak beberapa langkah. Mereka telah menempatkan sasaran yang akan mereka jadikan alat penguji kemampuan mereka. Pada jarak beberapa langkah, mereka menempatkan batu-batu padas yang cukup besar.
Tatas Lintang sudah mengetahui bahwa akibat dari hentakkan ilmu yang dilontarkan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat akan berbeda dari Mahisa Ura, karena Tatas Lintang memang sudah mengetahui latar belakang kemampuan mereka masing-masing.
“Marilah,” berkata Tatas Lintang, “kita akan mulai dengan pemusatan nalar budi. Kita akan memandang sasaran serta mulai membangkitkan ilmu di dalam diri kita masing-masing, memusatkannya pada tangan kita dan dengan daya kekuatan getaran di dalam diri kita maka ilmu itu kita lontarkan. Getaran itu akan merambat lewat udara dan akan membentur sasaran. Dengan demikian, maka kita telah memanfaatkan kekuatan yang ada di dalam udara di sekitar kita untuk meniti ilmu yang kita trapkan mencapai sasaran itu. Namun getaran itu tidak merambat sebagai seekor siput merambat. Tetapi kecepatan gerak getaran itu melampaui kecepatan mata wadag kita.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun segera bersiap. Latihan-latihan yang mereka lakukan selama itu dengan mengenali diri mereka sendiri, mengenali ilmu mereka lebih dalam serta menguasai sifat serta wataknya, mengenali udara di sekitarnya serta getaran yang akan merambat mencapai sasaran, merupakan kemampuan dasar untuk menguasai ilmu yang diturunkan oleh Tatas Lintang.
Demikianlah, setelah memusatkan segenap nalar budi serta mengetrapkan ilmunya, maka mereka mulai dengan memusatkan kekuatan ilmu mereka pada tangan mereka.. Pada telapak tangan sebagaimana latihan latihan selama mereka menjalani laku. Pada tataran pertama dari penguasaan ilmu itu, rasa-rasanya mereka masih harus berbuat terlalu banyak untuk mencapai satu pemusatan kekuatan ilmunya pada telapak tangannya. Namun akhirnya mereka pun mencapainya juga. Sejenak mereka mengungkit inti kekuatan ilmu yang telah terpusat di telapak tangannya itu, kemudian dengan getaran yang bagaikan memancar dari dalam diri oleh kekuatan ilmu itu pula, maka mereka pun telah menghentakkan inti kekuatan ilmunya dengan mengembangkan telapak tangannya dan menghadap ke arah sasaran.
Sejenak kemudian, maka dari telapak tangan ketiga orang itu telah meluncur getaran yang tidak dapat dilihat oleh mata wadag, namun dapat ditangkap oleh kekuatan pengamatan mata orang berilmu. Karena itu, tnaka orang yang memiliki ilmu yang memadai, mampu menghindarkan diri dari serangan yang demikian, sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Murti, pada saat ia bertempur melawan Tatas Lintang ketika Tatas Lintang itu menjajagi ilmunya. Tingkat kepekaan naluripun dapat mempengaruhi gerak yang serta merta pula dari orang-orang yang me miliki ilmu yang tinggi, sehingga dengan demikian maka mereka mempunyai peluang untuk membebaskan diri dari serangan yang demikian.
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar