Rabu, 06 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 036-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 036-02*

Prajurit yang terluka itu mengumpat di dalam hati. Ia tidak mendapat kesempatan untuk lebih mendekat lagi kepada Akuwu Lemah Warah atau Pangeran Singa Narpada.

Meskipun demikian, prajurit itu tidak kehilangan harapan. Meskipun dalam jarak yang agak jauh, namun ia akan mampu membunuh kedua orang itu. Ia akan bergerak dengan serta merta tanpa diduga oleh siapapun. Karena itu, maka semua usaha untuk mencegah tentu terlambat.

Dengan hati-hati, tanpa diketahui oleh siapapun juga, prajurit itu meraba kain panjangnya. Ia menyimpan pisau di bawah kain panjangnya itu. Setiap saat ia dapat mencabut pisau itu dan mempergunakannya. Baginya lebih baik mempergunakan pisau itu dari pada mengetrapkan ilmunya dengan meminjam wadag prajurit yang luka itu. Apalagi prajurit itu tentu belum pernah mengalami tempaan kewadagan untuk mendukung lontaran ilmunya. Karena itu jika ia melontarkan ilmunya, mungkin sekali tidak akan berhasil, bahkan justru wadagnya itulah yang lebih dahulu akan dirusakkannya.

Dalam pada itu, terdengar Akuwu Lemah Warah bertanya, “Menurut pemimpin kelompok itu, kau ingin mengatakan sesuatu. Nah, jika hal itu memang perlu sekali, katakanlah.”

Prajurit itu termangu-mangu. Ia tidak mempunyai rahasia apapun yang ingin dikatakannya. Namun ia harus menjawab pertanyaan itu. Karena itu, maka katanya, “Ampun Akuwu. Hamba mendengar pembicaraan orang-orang padepokan itu, bahwa justru merekalah yang akan menyerang kedudukan kita di luar padepokan ini. Begitu tiba-tiba dan di luar dugaan.”

Akuwu Lemah Warah itu mengangguk-angguk.

“Kapan hal itu akan dilakukan?“ bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Hamba kurang tahu Akuwu. Tetapi tentu dalam waktu dekat ini. Telah diselenggarakan persiapan-persiapan untuk itu.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Namun ia masih juga bertanya,“ benarkah kekuatan orang-orang di padepokan itu seluruhnya? Bagaimanakah perbandingannya dengan para prajurit kita di sini?”

Prajurit itu menjadi bingung. Namun ia berusaha untuk menjawab, “Jumlah mereka lebih banyak Akuwu. Para cantrik, serta para pengikut orang-orang berilmu tinggi di padepokan itu telah siap untuk mengorbankan apa saja yang mereka miliki. Mereka ternyata adalah orang-orang yang seakan-akan telah kehilangan penalaran mereka. Mereka berbuat apa saja yang diperintahkan oleh para pemimpin mereka. Mereka tidak pernah mempertimbangkan apakah yang mereka lakukan itu berbahaya atau tidak.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Katanya, “Luar biasa. Tetapi aku menjadi kasihan kepada mereka.”

“Kenapa kasihan ?“ bertanya prajurit itu.

“Ternyata para pemimpin padepokan itu tidak lagi menganggap para cantrik dan para pengikut mereka sebagai manusia,“ jawab Akuwu Lemah Warah.

Prajurit itu termangu-mangu. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “Kenapa begitu Akuwu ?”

“Ternyata para cantrik dan para pengikut mereka telah berubah. Mereka tidak lagi dapat mempergunakan perasaan dan penalaran mereka yang bening. Yang mereka lakukan kemudian adalah sekedar naluri kesetiaan tanpa keyakinan.”

“Mereka justru melakukannya dengan penuh keyakinan,“ jawab prajurit itu, “bukan sekedar naluri. Akuwu tidak dapat menganggap mereka tidak lebih dari seekor binatang.”

“Tetapi mereka tidak menyadari, apa yang sebenarnya mereka lakukan? Setiap orang yang mampu mempergunakan nalar budinya akan membuat pertimbangan-pertimbangan sebelum mengambil langkah. Tetapi seperti yang kau katakan sendiri, bahwa mereka seakan-akan telah kehilangan penalaran mereka dan berbuat apa saja yang diperintahkan oleh para pemimpin mereka.”

Prajurit yang terluka itu mengerutkan keningnya. Jawaban Akuwu itu memang mengejutkannya. Ia memang telah mengatakannya sebagai prajurit Lemah Warah. Tetapi sebagai salah seorang pemimpin dari padepokan itu yang kebetulan meminjam wadag prajurit Lemah Warah ia memang merasa tersinggung.

Namun ia harus menahan perasaannya jika ia tidak ingin terbuka rahasianya.

Karena itu, maka iapun telah mengangguk-angguk. Dengan nada rendah ia berkata, “Hamba Akuwu. Agaknya memang demikian.”

“Nah, bukankah mereka termasuk orang-orang yang paling malang di dunia ini?“ bertanya Akuwu Lemah Warah, “karena itu kita harus menghentikan kerja para pemimpin padepokan yang tidak mengenal perikemanusiaan itu, yang telah memperlakukan sesamanya sebagai seekor binatang saja.”

Prajurit yang menghadap Akuwu Lemah Warah itu termangu-mangu. Ternyata justru Akuwu mempunyai niat untuk membebaskan orang-orang yang disebutnya diperlakukan diluar perikemanusiaan.

Namun prajurit itu harus menahan diri. Ia tidak boleh melakukan langkah yang salah, sehingga rahasianya terbuka. Jika demikian maka usaha selanjutnya akan menjadi semakin sulit.

Untuk beberapa saat, prajurit itu harus membuat perhitungan. Apakah ia akan melakukannya saat itu atau pada kesempatan lain. Namun ia sudah terlalu lama meninggalkan wadagnya, sehingga dapat terjadi kemungkinan-kemungkinan buruk atas wadag yang ditinggalkannya itu.

Karena itu, maka prajurit itupun telah mengambil keputusan, ia harus bertindak pada saat itu. Ia harus dengan cepat menarik pisaunya dan meloncat menyerang Akuwu, menikamnya dan kemudian menikam Pangeran Singa Narpada. Pada saat yang demikian, maka ia harus dengan cepat meninggalkan wadag itu dan kembali ke wadagnya. Ia tidak peduli apa yang akan terjadi dengan wadag yang ditinggalkannya itu.

Setelah ia bulat dengan niatnya, maka iapun telah mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Namun demikian terasa juga jantungnya berdebaran.

Pada saat itu, Akuwu Lemah Warah, Pangeran Singa Narpada, serta orang-orang yang ada di ruang itu, yang sebenarnya telah mengetahui rencana kedatangan prajurit itu menjadi semakin berhati-hati. Mereka melihat kebimbangan sesaat memancar di wajah prajurit itu, sudah memperhitungkan bahwa saat yang mereka tunggu itupun akan segera datang.

Sebenarnyalah, prajurit itu tidak mau menunggu lebih lama lagi. Dikuatkannya hatinya dan diperhitungkannya keadaan dengan cermat. Kemana ia harus meloncat dan bagaimana ia harus menikam kedua orang pemimpin tertinggi dari pasukan Lemah Warah itu.

Ketika saat yang diperhitungkan paling baik itu datang, maka prajurit itupun telah bangkit. Dengan cepat ia menarik pisau belatinya dan dengan cepat pula ia meloncat menikam Akuwu Tatas Lintang. Tidak menembus jarak antara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tetapi ia telah meloncat ke samping dan menerkam Akuwu dari sisi pula.

Satu serangan yang memang tidak terduga. Tetapi karena Akuwu Lemah Warah telah memperhitungkannya bahwa serangan itu akan datang, iapun sempat berguling di tanah untuk menghindari serangan itu.

Prajurit itu terkejut. Serangannya ternyata telah gagal. Karena itu maka iapun telah meloncat sambil mengacukan pisau itu ke dada Pangeran Singa Narpada yang masih duduk di tempatnya seakan-akan keheranan melihat apa yang telah terjadi. Sementara itu Mahisa Murti, Mahisa Pukat, Mahisa Ura dan panglima pasukan Khusus Lemah Warah itupun segera tanggap apa yang telah terjadi.

Namun prajurit itu bergerak sangat cepat. Sebelum orang-orang itu sempat berbuat sesuatu, ia telah meloncat menerkam Pangeran Singa Narpada.

Namun Pangeran Singa Narpada pun seorang yang memiliki kemampuan yang tinggi. Apalagi sebelumnya ia memang sudah mengetahui bahwa serangan yang demikian itu mungkin akan datang.

Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada itu cepat bergeser. Pisau itu hanya meluncur selapis tipis dekat keningnya. Namun Pangeran Singa Narpada cukup sigap. Ia sempat menangkap pergelangan tangan prajurit itu. Kemudian diputarnya tangan itu dengan cepat sehingga tangan itu terpilin kebelakang. Pisau itu sempat terlepas dari tangannya.

Namun sebenarnyalah pribadi yang mempergunakan wadag itupun seorang yang berilmu tinggi pula. Karena itu ia membiarkan tangannya terputar, namun putaran itupun kemudian justru dihentakkannya. Pangeran Singa Narpada tidak menduganya. Karena itu, tangan itu terlepas dari genggamannya.

Tetapi Pangeran Singa Narpada tidak membiarkannya. Dengan tangkas pula ia telah menyapu kaki prajurit yang terlepas dari tangannya itu. Demikian kerasnya sehingga prajurit itu jatuh berguling. Namun dengan cepat pula ia mencoba melenting berdiri.

Tetapi pada saat yang demikian, beberapa orang yang lain telah siap pula. Mereka hampir bersamaan telah meloncat menangkap prajurit itu.

Pribadi yang berada di dalam wadag itu memang berilmu tinggi. Tetapi ternyata bahwa wadag yang dipergunakannya tidak akan mampu mendukung tingkat ilmunya yang tinggi. Wadag itu adalah wadag seorang prajurit yang terluka. yang masih belum sembuh benar meskipun mengalami perawatan yang sungguh-sungguh.

Karena itu, maka pribadi yang ada di dalam wadag itupun akhirnya harus mengakui, bahwa ia tidak akan mungkin dapat mengatasi orang-orang yang ada di ruang itu yang kemudian berusaha menangkapnya. Karena itu, maka betapa penyesalan dendam dan kebencian bergejolak di dalam dada itu karena kegagalannya, maka mau tidak mau, ia harus mengakui kenyataan yang dihadapinya.

Demikianlah, maka akhirnya pribadi yang ada di dalam wadag itupun memutuskan untuk melepaskan diri meninggalkan wadag itu dan kembali ke dalam wadagnya sendiri.

Karena itu, maka orang-orang yang menangkap prajurit yang terluka itu terkejut ketika prajurit itu tiba-tiba menjadi lemah. Tenaganya bagaikan lenyap dan sama sekali tidak berdaya.

Dengan serta merta Akuwu Tatas Lintang yang telah ikut pula menangkapnya berkata, “Kendorkan. Orang itu telah pergi.”

Orang-orang yang semula memegangi tubuh itupun kemudian melepaskannya. Justru mereka menjadi hati-hati meletakkannya dan dibaringkannya di atas tanah.

Beberapa saat tubuh itu terbaring diam. Namun kemudian tubuh itu mulai bergerak perlahan-lahan. Namun yang terdengar kemudian adalah keluhan tertahan.

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian berjongkok dekat di sisi prajurit yang terbaring diam itu sambil berdesis, “Bagaimana keadaanmu?”

Prajurit itu kemudian membuka matanya. Ketika dilihatnya Akuwu Lemah Warah, maka ia berusaha untuk bangkit. Tetapi Akuwu itu menahannya sambil berkata, “Kau masih terlalu lemah. Berbaring sajalah.”

Prajurit itu memang berbaring. Bahkan kemudian iapun berdesis, “Di mana aku sekarang?”

“Kau berada di antara kita, di antara para prajurit Lemah Warah, “jawab Akuwu.

“Oo, ampun Akuwu. Hamba tidak mengerti, bagaimana hamba dapat sampai di sini?“ bertanya orang itu.

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Sudahlah. Jangan kau pikirkan. Kelak kau akan dapat mendengar ceriteranya.”

Prajurit itu mencoba memperbaiki letak tubuhnya. Namun semua sendi-sendinya terasa nyeri sekali.

“Marilah. Kau beristirahat di tempat yang lebih baik,“ berkata Akuwu.

Panglima pasukan khusus itupun kemudian memanggil beberapa orang prajurit. Mereka harus mengangkat prajurit yang terluka itu dan meletakkan di pembaringan di dalam gubug itu pula.

Sementara itu Mahendra telah datang pula ke tempat itu. Dari Mahisa Murti ia mendengar apa yang telah terjadi. Karena itu, maka Mahendra pun telah memanggil pemimpin kelompok yang membawa prajurit itu menghadap dan memberitahukan pula apa yang telah dilakukannya.”

“Jadi prajurit itu palsu? Bagaimana mungkin seseorang dapat membuat dirinya mirip sekali dengan orang lain yang bukan saudara kembarnya,“ bertanya pemimpin kelompok itu.

“Bukan palsu,“ jawab Mahendra, “orang itu sebenarnyalah prajurit Lemah Warah. Ia sekarang terbaring di dalam gubug itu dalam keadaan yang nampaknya jauh lebih parah daripada sebelumnya.”

“Jadi yang benar bagaimana?“ bertanya pemimpin kelompok itu.

Mahendra tersenyum, ia berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi dengan prajurit itu.

Pemimpin kelompok itu mengangguk-angguk. Ia baru sadar, bahwa prajurit Lemah Warah telah berhadapan dengan ilmu yang sangat tinggi.

“Nah,“ berkata Mahendra, “kita harus sangat berhati-hati.”

“Ya.”

“Kita memang harus sangat berhati-hati,“ jawab Mahendra.

Sementara itu, di padepokan, wadag yang terbaring di dalam sebuah bilik dan dijaga oleh pengikutnya yang paling terpercaya itupun telah bangkit. Ketika tubuh itu kemudian keluar dari dalam biliknya, maka kepercayaannya itupun dengan serta merta telah bertanya, “Bagaimana Ki Lurah? Apakah Ki Lurah berhasil?”

Orang yang keluar dari dalam bilik itu tidak segera menjawab. Tetapi iapun bertanya, “Di mana pemimpin-pemimpin padepokan ini yang lain?”

Mereka berada di rumah induk,“ jawab kepercayaannya yang menjaga tubuh itu.

Orang yang baru bangkit itupun kemudian telah pergi ke induk padepokan itu. Beberapa orang pemimpin yang lain memang berada di sana. Ketika mereka melihat kedatangannya, maka dengan serta merta mereka pun telah menyambutnya.

“He, siapa saja yang berhasil kau bunuh?“ bertanya orang bertongkat itu.

Orang itu mengumpat kasar. Kemudian sambil duduk di antara para pemimpin itu ia telah menceriterakan kegagalannya.

Para pemimpin yang lain termangu-mangu. Namun orang bertongkat itupun telah tertawa pula.

“Kenapa kalian tertawa? Apakah kalian menganggap permainanku lucu?“ bertanya orang itu.

Orang yang mampu mempengaruhi binatang dengan ilmunya itupun berkata, “Apakah artinya rencana yang kau susun dengan banyak membuang waktu dan tenaga itu he?”

“Setiap usaha memang mempunyai kemungkinan berhasil atau tidak berhasil. Dan sekarang aku tidak berhasil? He, apakah harimau atau ular-ularmu itu juga selalu berhasil? Bahkan pada saat Tatas Lintang masih belum bersama pasukannya? Dan apa arti tongkatmu itu, serta batu yang berwarna kebiru-biruan atau kehijau-hijauan itu? Apapula artinya para pemimpin yang lain dengan ilmu mereka yang dahsyat.”

“Apakah kau juga menyebut tentang kabut itu?“ bertanya orang yang memiliki ilmu gendam.

Orang yang mampu menyusup pada pribadi wadag yang lain itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku tidak mengatakannya. Tetapi bukankah kalian yang telah mencemoohkan rencanaku? Dengar, meskipun aku gagal membunuh Tatas Lintang yang sebenarnya adalah Akuwu Lemah Warah itu, serta Pangeran Singa Narpada, namun aku dapat membunuh semua prajurit Lemah Warah.”

“He?“ orang-orang yang mendengarnya menjadi heran.

Sementara orang itu berkata selanjutnya, “Lihat saja. Aku akan menghancurkan pasukan Lemah Warah perlahan-lahan, tetapi pasti.”

Sebelum para pemimpin yang lain menyahut, maka orang itu telah bangkit dari tempatnya dan meninggalkan tempat itu. Katanya, “Aku letih. Aku akan beristirahat.”

“Kau biarkan wadagmu tertidur terus. Bagaimana mungkin kau merasa letih?”

“Jangan seperti kanak-kanak. Apakah letih hanya berarti kewadagan?“ orang itu justru bertanya.

Kawan-kawannya tidak bertanya lagi. Dibiarkannya orang yang kecewa itu pergi. Namun orang bertongkat itu kemudian berkata dengan sungguh-sungguh, “Satu rencana yang dahsyat. Aku percaya bahwa ia akan dapat membunuh prajurit-prajurit Lemah Warah. Mungkin sehari ia akan dapat membunuh lebih dari satu dua orang. Jika itu dilakukan setiap hari, maka akibatnya akan sangat mengerikan bagi orang-orang Lemah Warah.”

“Kenapa kita tidak membuat rencana bersama? Aku mengerti maksudnya. Ia akan memasuki tubuh para prajurit untuk saling membunuh. Pada saat-saat yang demikian, aku dapat melepaskan ular-ularku.”

“Bicarakan dengan orang itu,“ berkata orang bertongkat itu, “mungkin ia setuju.”

“Ialah yang harus membicarakannya dengan aku. Bukan aku yang datang kepadanya menawarkan rencanaku,“ jawab orang itu.

Orang bertongkat itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kesombongan kalianlah yang telah membuat semua rencana kita banyak yang pecah tanpa menghasilkan sesuatu.”

“Bukan aku yang sombong. Tetapi bukan berarti bahwa aku tidak mempunyai harga diri,“ jawab orang yang memiliki ilmu gendam itu.

Orang bertongkat itu tidak mengatakan sesuatu. Tetapi ia justru bangkit dan melangkah pergi, “terserah kepada kalian. Bagiku, tidak ada persoalan apapun dengan siapapun.”

Orang yang memiliki ilmu gendam itu tidak menjawab.

Sebenarnyalah bahwa orang yang mampu menyusup ke dalam wadag orang itu menaruh dendam yang luar biasa. Ia memang merasa sulit untuk dapat mengulangi kesempatan yang sangat baik itu. Sejak saat itu, orang-orang yang berada di sekitar Akuwu Lemah Warah tentu hanya orang-orang yang berkepribadian tinggi. Orang yang tidak akan mungkin didesak kepribadiannya untuk berbuat sesuatu dengan keinginannya.

Namun dendam orang itu akan dilimpahkannya kepada para prajurit Lemah Warah.

Memang satu rencana yang sangat bengis dari seorang yang telah dibakar oleh dendam dan kebencian.

Sementara itu Akuwu Lemah Warah telah memerintahkan kepada para prajuritnya untuk berhati-hati. Lewat para pemimpin kelompok mereka mendapat penjelasan apa yang dapat dilakukan oleh para pemimpin padepokan itu.

Di hari berikutnya setelah peristiwa yang menggemparkan itu, tidak terjadi sesuatu. Orang yang mampu menyusup ke wadag orang lain itu masih ingin beristirahat dan tidur sehari-harian. Ia tidak mau diganggu oleh siapapun juga.

Sementara para prajurit Lemah Warah telah mempertinggi kesiagaan. Segala sesuatu dapat terjadi dengan tiba-tiba dan tidak terduga sebelumnya. Bahkan ketika matahari mulai menyusup di balik punggung bukit, para prajurit masih tetap dalam kesiapan tertinggi.

Namun agaknya malam itupun tidak terjadi sesuatu. Tidak ada seekor ular pun yang menyerang para prajurit, apalagi seekor harimau. Tetapi para prajurit di satu sisi telah dikejutkan karena dari dalam semak-semak muncul beberapa ekor kera yang bersikap bermusuhan. Kera-kera itu berteriak-teriak dengan riuhnya. Namun kera-kera itu tidak menyerang.

Pemimpin kelompok prajurit yang berada di sisi terdekat telah memerintahkan semua prajurit untuk siap dengan senjata mereka.

Yang mendapat giliran beristirahat pun harus siap bertempur setiap saat.

“Jika kera itu datang lagi dengan kawan-kawan mereka, maka kita akan mendapat tugas yang sangat berat,“ berkata pemimpin kelompok itu.

“Tentu kera-kera itu tidak berbuat sewajarnya,“ berkata salah seorang prajurit, “seperti harimau dan mungkin akan terjadi jenis-jenis binatang yang lain lagi.”

Kawan-kawannya mengangguk-angguk. Seorang yang berwajah buram berdesis, “Satu pengalaman yang menarik. Selama menjadi prajurit baru kali ini aku merasa terancam oleh garangnya seekor binatang.”

Tidak seorang pun yang menjawab. Namun kawan-kawannya pun mengiakan didalam hati.

Tetapi ternyata sampai saatnya matahari terbit tidak terjadi pula sesuatu yang penting. Menjelang pagi, para prajurit bahkan sempat beristirahat dengan tenang. Yang bertugas pun tidak lagi merasa sangat tegang karena dugaan-dugaan yang sangat mengganggu.

Namun ketika matahari terbit, terdapat pula ketegangan-ketegangan yang lain. Mungkin orang-orang padepokan itukah yang justru berloncatan keluar padepokan, dan menyerang kedudukan para prajurit Lemah Warah.

Tetapi sampai matahari sepenggalah tidak nampak seorang pun yang keluar dari padepokan.

Namun ternyata hari itu telah terjadi sesuatu yang sangat mengejutkan. Dalam ketegangan itu, tiba-tiba seorang prajurit di salah satu kelompok prajurit Lemah Warah, saja telah mengamuk tanpa sebab. Tiba-tiba saja ia menarik pedangnya dan menyerang kawannya yang tidak menduga sama sekali akan mendapat serangan yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.

Dua orang telah ditikamnya. Namun ketika ia menikam orang ketiga, maka orang yang ditikamnya sempat mengelak. Sementara itu, kawan-kawannya yang lain, yang memang dalam kesiagaan sepenuhnya dengan cepat berusaha untuk melerai. Tetapi prajurit yang mengamuk itu justru telah menyerang siapa saja tanpa kekangan.

Kawan-kawannya yang menjadi kehilangan cara untuk menjinakkannya, akhirnya telah mengambil langkah-langkah kekerasan pula. Beberapa ujung senjata akhirnya telah menghunjam ke dalam tubuhnya, sehingga akhirnya orang itu telah terjatuh dengan darah yang memerah di tubuhnya.

Beberapa orang kawannya yang marah hampir saja tidak dapat menahan diri lagi. Tetapi pemimpin kelompok mereka telah berusaha mencegah ketika beberapa pucuk senjata hampir saja menghunjam lagi ke dalam tubuh yang sudah tidak berdaya itu.

Sejenak kemudian terdengar orang itu mengerang. Bahkan kemudian terdengar suaranya gemetar tersendat-sendat, “Kenapa dengan aku ini? Kenapa aku?”

Pemimpin kelompok itu telah berjongkok di sisinya. Dengan nada rendah ia justru bertanya, “Apa yang kau maui, he? Kenapa tiba-tiba saja kau mengamuk?”

“Siapa yang mengamuk?“ orang itu justru bertanya.

“Kau telah membunuh dua orang diantara kawan-kawan kita dan hampir saja membunuh orang ketiga,“ jawab pemimpin kelompok itu.

“Membunuh ? Aku tidak membunuh. Aku tidak membunuh,“ suaranya meninggi. Namun kemudian menurun dan bergetar.

Peristiwa itu memang telah menggemparkan. Dengan cepat pemimpin kelompok itu telah melaporkan hal itu kepada Akuwu Lemah Warah.

“Gila,“ geram Akuwu Lemah Warah, “tentu orang itu yang telah mempergunakan wadagnya untuk membunuh kawan-kawannya.

Pemimpin kelompok itu tidak segera mengerti. Namun Akuwu pun segera berbicara dengan Pangeran Singa Narpada, Mahendra dan kedua anaknya serta Mahisa Ura.

Beberapa saat mereka berbicara. Namun kemudian mereka pun telah mengambil langkah yang paling cepat untuk mengatasi persoalan meskipun hanya untuk sementara.

Akuwu telah memerintahkan bahwa semua prajurit Lemah Warah harus bergerombol sedikitnya lima orang. Mereka harus saling mengawasi dan saling menjaga. Akuwu pun menjelaskan lewat para pemimpin kelompok, bahwa persoalannya bukannya tidak ada kepercayaan lagi diantara mereka. Tetapi lawan yang berilmu tinggi mampu mempergunakan wadag diantara para prajurit itu untuk membunuh kawan-kawannya. Karena itu, hal itu harus segera dicegahnya.

Perintah itupun dengan cepat telah menjalar pula beserta penjelasannya, sehingga karena itu, maka para prajurit pun segera telah menempatkan diri ke dalam kelompok-kelompok yang lebih kecil. Mereka saling mengawasi dan menjaga agar tidak terjadi peristiwa yang mengerikan itu lagi.

Prajurit itupun telah melakukan dengan penuh kesadaran, sehingga mereka tidak merasa tersinggung karenanya.

Setiap lima orang telah berkelompok dengan penuh pengertian. Mereka masing-masing telah menyerahkan diri mereka untuk mendapat pengawasan dari kawan-kawannya, karena mereka telah mendapat keterangan apa yang mungkin terjadi atas diri mereka. Pada satu saat yang tidak terduga, maka setiap orang akan dapat kehilangan kesadaran dan melakukan sesuatu di luar kehendak mereka sendiri.

Ternyata usaha itu dapat mengurangi kemungkinan buruk antara para prajurit itu. Sebenarnyalah telah terjadi yang dicemaskan itu. Dalam salah satu di antara kelompok-kelompok kecil itu, tiba-tiba salah seorang di antara mereka telah meloncat bangkit sambil menarik pedang mereka.

Namun karena mereka memang berkelompok, maka keempat kawannya pun serentak melihat gelagat itu. Karena itu, maka serentak mereka telah menerkam dan memegangi orang itu, sehingga akhirnya orang itupun jatuh lemah dan tidak berdaya.

Namun karena yang terjadi itu hanya beberapa saat, maka keadaan orang itupun cepat menjadi pulih kembali dan segera iapun bangkit sambil mengusap keringat di dahinya.

“Aku telah merasakannya,“ desis orang itu, “tiba-tiba saja aku memang telah kehilangan ingatan.”

“Kami melihat seolah-olah angin yang lembut lamat-lamat berputar di atas kepalamu,“ berkata yang lain.

“Pertanda itulah yang harus kita sebar luaskan. Dengan demikian maka jika kita melihat pertanda itu, maka kita cepat dapat mengambil langkah-langkah pengamanan,“ berkata yang lain.

“Pertanda itu tidak jelas. Tetapi jika kita mengenalinya, itu lebih baik daripada tidak sama sekali,“ berkata yang lain.

Dengan demikian, maka suasana para prajurit Lemah Warah memang selalu dalam ketegangan. Setiap saat mereka diintai oleh kemungkinan yang tiba-tiba dan tidak diketahui lebih dahulu.

Usaha yang bersifat sementara itu, memang dapat mengurangi kemungkinan buruk. Tetapi tidak memecahkan persoalan dan tidak menghapuskan ketegangan yang mencengkam.

Karena itu, para pemimpin Lemah Warah itupun telah berusaha untuk dapat mencari jalan keluar yang paling baik untuk mengatasi kesulitan itu.

“Kita harus menemukan orang yang mampu membuat kabut itu,“ berkata Akuwu Lemah Warah, “aku tidak yakin, bahwa di balik kemampuannya itu ia akan dapat mengalahkan salah seorang di antara kita dalam perang tanding.”

Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Sebaiknya kita memang mencoba untuk sekali lagi menyerang padepokan itu. Tetapi kita harus memperhitungkan semua kemungkinan yang dapat terjadi. Kita tidak boleh terjebak ke dalam kesulitan karena kita kurang berhati-hati.”

“Kabut, ular dan mungkin jenis binatang-binatang lain,“ berkata Akuwu Lemah Warah. Namun kemudian katanya, “Baiklah Pangeran. Aku akan mempersiapkan pasukanku. Ternyata tidak terlalu mudah untuk memecahkan padepokan itu.”

Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Tetapi memang tidak ada pilihan lain. Bahkan katanya kemudian, “Kalian akan bertempur sebagaimana terjadi sebelumnya. Biarlah aku mencari arah kabut sebagaimana kau katakan. Memang mungkin aku tidak menemukannya. Namun kita sudah berusaha. Jika usaha itu gagal, apa boleh buat.”

“Besok pasukanku sudah siap Pangeran,“ jawab Akuwu Lemah Warah.

“Kita akan tetap merahasiakannya sampai saatnya pasukan ini berangkat, meskipun aku dapat mempersiapkannya dengan alasan apapun juga,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

“Kenapa harus dirahasiakan?“ bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Siapa tahu, di antara para prajurit itu terdapat seseorang yang hanya wadagnya saja,“ jawab Pangeran Singa Narpada.

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengerti Pangeran.”

Demikianlah, maka Akuwu Lemah Warah pun telah mempersiapkan pasukannya. Namun setiap kali alasannya tidak lebih dari kemungkinan pasukan dari padepokan itu menyerang. Dengan cara yang kasar, atau dengan cara yang halus.

Namun pada saat yang ditentukan oleh para pemimpin pasukan Lemah Warah, maka mereka akan benar-benar menyerang.

Di hari berikutnya, orang yang mampu menyusup ke dalam wadag orang lain itupun merasa segan untuk melakukannya. Ketika seorang pengikutnya bertanya, maka iapun menjawab, “Orang-orang Lemah Warah memang licik. Mereka bergerombol dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari lima orang. Dengan demikian mereka dapat saling mengawasinya,“ jawab orang yang memiliki ilmu yang tinggi itu.

“Apakah rahasia Ki Lurah sudah diketahui?“ bertanya pengikutnya.

“Sudah sejak lama,“ jawab orang itu.

Pengikutnya hanya mengangguk-angguk saja. Namun orang berilmu tinggi itu berkata, “Aku akan memikirkan cara yang terbaik besok. Aku akan tidur.”

Tetapi ketika matahari mulai melemparkan cahaya pertamanya, pasukan Lemah Warah telah berbaris dengan senjata terhunus mendekati padepokan itu. Para prajurit memang telah mendapat perintah dengan tiba-tiba untuk menyerang. Pada saat dini hari, para pemimpin Lemah Warah telah memerintahkan para prajurit untuk makan pagi.

“Makan sudah siap sepagi ini?“ bertanya salah seorang prajurit.

Sebenarnyalah bahwa para petugas di dapur telah mendapat tugas khusus untuk menyiapkan makan para prajurit pagi-pagi, karena ada tanda-tanda bahwa pasukan dari padepokan akan menyerang. Agar para prajurit tidak bertempur dengan perut lapar, maka makan mereka harus dipersiapkan.

Namun ternyata bahwa bukan orang-orang padepokan yang menyerang kedudukan para prajurit Lemah Warah, tetapi justru sebaliknya.

Kehadiran mereka memang mengejutkan. Para pengawas di padepokan itupun telah dengan serta merta membunyikan isyarat ketika mereka melihat kehadiran prajurit Lemah Warah dari segala penjuru.

“Gila,“ geram orang-orang padepokan itu, “agaknya orang-orang Lemah Warah itu tidak juga mau melihat kenyataan, bahwa mereka tidak akan mampu berbuat banyak di padepokan ini.”

Namun adalah satu kenyataan bahwa pasukan Lemah Warah itu telah berada di hadapan hidung mereka.

Suara isyarat yang memenuhi padepokan itu memang telah mengejutkan para pemimpin di padepokan itu. Dengan tergesa-gesa mereka memberikan perintah kepada para pengikut masing-masing untuk mengambil tempat yang sudah ditentukan. Isi padepokan itu sengaja tidak membagi diri, siapakah di antara mereka yang harus berada di sisi sebelah timur, siapa di sebelah barat dan sebagainya, karena mereka menganggap bahwa pengikut mereka telah menjadi satu. Jika kedudukan mereka dibagi-bagi, maka setiap kegagalan di satu sisi tentu akan menimbulkan persoalan antara para pengikut itu. Mereka tentu akan saling menyalahkan dan akan timbul permusuhan.

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...