Selasa, 05 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 034-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 034-02*

“Bahkan mungkin lebih dari satu padepokan,” jawab Mahisa Murti, “namun menilik sikap orang tua yang bersenjata tongkat dan terdapat batu berwarna kehijauan itu di pangkalnya, ia masih tetap seorang yang memiliki kekuasaan dan wibawa. Aku kira orang itu termasuk orang dari perguruan Suriantal.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Namun akhirnya ia berkata, “Memang tidak ada jalan lain daripada memasuki padepokan itu.”

Sejenak keempat orang itu terdiam. Yang kemudian bertanya adalah Mahisa Ura, “Mungkin aku adalah seorang yang paling pengecut di antara kita. Tetapi aku pun seorang petugas yang terbiasa memperhitungkan langkah-langkah yang aku ambil. Karena itu aku ingin mendapat penjelasan. Jika kami berempat memasuki padepokan itu, sementara itu kita tahu bahwa didalam padepokan itu terdapat sejumlah orang yang memiliki kemampuan tinggi serta sepasukan murid-murid mereka yang tentu juga memiliki ilmu, apakah kita akan dapat mencapai hasil sebagaimana kita harapkan. Aku yakin bahwa kalian bertiga, kecuali aku. memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi kalian hanya bertiga. Jika ikut dihitung pula dengan aku, kita hanya berempat. Jika kita memasuki padepokan itu, apakah bukan berarti kita akan terjun ke dalam kandang dari segerombolan besar singa dan naga. Betatapun tinggi kemampuan kita namun akhirnya kita akan terbenam ke dalam mulut singa dan naga itu.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Namun sebelumnya ia menjawab Mahisa Murti telah berkata, “Bukan hanya kau Mahisa Ura. Aku pun mempunyai pertanyaan seperti itu. Bukan berarti kau pengecut. Tetapi kita berpikir wajar.”

“Aku mengerti,” berkata Tatas Lintang, “aku pun sependapat dengan pikiran itu. Namun agaknya kita tidak akan dapat kembali dengan sekedar keterangan bahwa kita sudah menemukan padepokan Suriantal. Di dalamnya berisi campur baur antara perguruan Suriantal sendiri dengan perguruan yang kemudian datang, tanpa dapat memberikan penjelasan, seberapa jauh pengaruh dari perguruan yang datang kemudian dan tentu ada persoalan lain, dalam hubungan dengan tugas kalian. Nah, apakah kalian telah mendapat jawab dari pertanyaan yang kalian bawa kemari dari tempat kalian berangkat?”

Ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu hanya dapat mengangguk-angguk saja. Mereka memang belum mendapat hasil apapun dari tugas mereka kecuali sedikit gambaran tentang Suriantal. Namun dengan demikian, maka Mahisa Murti pun berkata, “Mungkin jawab itu memang belum aku dapatkan. Tetapi mungkin kami dapat menempuh jalan lain meskipun agak lama. Kami mencari dukungan pasukan untuk memasuki padepokan itu.”

“Satu pemecahan yang bagus sekali,” jawab Tatas Lintang, “namun jika itu kau lakukan, yang tentu akan memerlukan waktu yang lama, maka perubahan mungkin telah terjadi. Mungkin padepokan ini telah kosong atau mungkin padepokan ini telah berubah menjadi padepokan yang diisi dengan kewajaran orang menuntut ilmu lahir dan batin tanpa nafsu yang berlebihan untuk menguasai masalah keduniawian.”

Ketiga orang itu masih saja mengangguk-angguk. Sementara itu Tatas Lintang pun berkata, “Baiklah. Mungkin aku dapat menawarkan satu pemecahan.”

“Apa yang mungkin kita lakukan?” bertanya Mahisa Murti.

Tatas Lintang tidak segera menjawab. Tetapi diamatinya regol padepokan itu dari kejauhan. Sejenak ia justru merenung, seolah-olah sedang mengendapkan persoalan yang bergejolak di dalam dadanya.

Mahisa Murti. Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun diluar sadar mereka telah ikut menatap regol itu. Meskipun malam gelap namun ketajaman penglihatan mereka mampu menembus selubung malam di seputar padepokan itu.

Namun Tatas Lintang agaknya masih merenungi kata-kata yang akan diucapkan.

Untuk beberapa saat mereka hanya berdiam diri sambil mengamati regol. Mereka tidak melihat lagi orang-orang yang bergerak ke luar masuk regol. Namun penglihatan batin mereka melihat, bahwa di balik regol itu tentu ada beberapa orang yang berjaga-jaga.

Yang terdengar kemudian adalah desah Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Iapun kemudian telah memusatkan kemampuan untuk melihat dan mendengar keadaan di sekitarnya. Namun Tatas Lintang pun kemudian yakin, bahwa tidak ada orang yang ada di sekitar tempat itu.

Sementara itu, ia sudah sampai pada satu batas yang tidak dapat ditembus lagi. Sampai kapan pun ia menunggu, maka seorang diri dan bahkan bersama ketiga orang yang disebutnya kemanakannya itupun, ia tidak akan mampu menguasai padepokan yang isinya ternyata sulit untuk diperhitungkan sebelumnya. Keterangan tentang padepokan itu sangat beraneka macam. Namun pada umumnya mengatakan, bahwa padepokan itu tidak hanya dihuni oleh satu perguruan saja. Dengan pengertian, bahwa masing-masing pihak disertai dengan pengikutnya masing-masing.

Karena itu, maka agaknya iapun sudah sampai pada waktunya untuk melepaskan kemungkinannya yang terakhir, yang memungkinkannya untuk dapat menyelesaikan tugasnya. Sehingga dengan demikian maka Tatas Lintang pun sampai pada satu langkah yang selama ini belum pernah dibayangkannya.

“Anak-anak muda,” desis Tatas Lintang kemudian, “sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Mungkin besok atau pada kesempatan lain kita akan dapat menemukan tempat yang lebih baik untuk mengamati keadaan. Seandainya sekarang kita lanjutkan pengintaian ini, maka aku kira sampai esok menjelang dini, kita tidak menemukan sesuatu yang menarik.”

Ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu mengangguk. Mereka memang sependapat, sehingga karena itu, maka Mahisa Murti pun menjawab, “Baiklah. Kita akhiri kerja kita malam ini. Kita menyingkir ke tempat yang lebih tenang dan lebih jauh dari kemungkinan untuk diketahui oleh orang-orang padepokan itu.”

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura tidak membantah. Mereka-pun kemudian dengan hati-hati telah bergeser meninggalkan tempat mereka.

Keempat orang itupun kemudian telah menyingkir ke tepi sebuah hutan kecil yang tidak terlalu lebat, tetapi jarang disentuh kaki manusia.

Di tempat ini mereka sempat tidur bergantian meskipun masing-masing hanya sekejap.

Ketika mereka sudah membenahi diri setelah matahari terbit. maka Mahisa Murti pun telah bertanya, “Semalam kau mengatakan untuk menawarkan satu pemecahan tentang padepokan itu. Tetapi kau belum menyebutnya.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Katanya, “Di sini kita lebih leluasa berbincang.”

Mahisa Murti mengiakannya sambil mendesak, “Jika demikian, katakan.”

Tatas Lintang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Anak-anak muda. Biarlah aku berterus terang. Dalam keadaan seperti ini kita telah membentur pada satu keharusan untuk melakukan langkah terakhir yang dapat kita laksanakan untuk kepentingan tugas kita. Karena itu baiklah aku katakan, bahwa selama kita bergaul, maka aku telah mempercayai kalian sepenuhnya, bahwa kalian telah mengemban satu tugas tertentu untuk mengenali dan mengetahui lebih banyak tentang padepokan itu. Dengan demikian maka aku pun yakin bahwa tugas kita memang ketemu. Jika aku telah dengan suka rela memberikan kesempatan kepada kalian untuk menguasai salah satu kemampuanku yang kebetulan berarti bagi kalian, itu adalah sebagian dari ujud kepercayaanku. Dan kini kepercayaanku kepada kalian telah utuh, sehingga untuk kepentingan tugas ini, aku akan melakukan sesuatu yang barangkali tidak kalian duga sebelumnya.”

“Apa yang akan kau lakukan?” bertanya Mahisa Pukat yang tidak sabar.

“Seperti yang kau pikirkan. Aku akan memanggil pasukan yang cukup kuat untuk memasuki padepokan itu,” jawab Tatas Lintang.

Ketiga orang muda itu tertegun. Namun kemudian Mahisa Pukat pun bertanya, “Pasukan apa dan dari mana? Apakah kau mempunyai pasukan? Jika yang kau lakukan itu seperti yang ingin kami lakukan, pergi ke Kediri atau Singasari, maka jawabnya akan sama saja dengan jawaban yang pernah kau berikan kepada kami.”

“Aku dapat mengambil pasukan dari jarak yang lebih dekat,” berkata Tatas Lintang.

“Siapakah kau sebenarnya?” bertanya Mahisa Murti, “pertanyaan ini belum kau jawab, sementara itu kau sudah dapat meraba kedudukan kami. “

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Jika kalian sependapat, aku akan mengambil pasukan dari Pakuwon Lemah Warah.”

“Pakuwon Lemah Warah telatah Kediri?” bertanya Mahisa Murti.

“Ya. Lemah Warah telatah Kediri. Pasukan Lemah Warah akan dapat membantu kita memasuki padepokan ini sementara Pakuwon itu tidak terlalu jauh dari tempat ini. Jika kita berjalan terus dengan waktu beristirahat seperlunya, sehari-semalam kita akan sampai. Dengan demikian, maka pasukan itu akan sampai di sini dalam waktu dua hari dua malam. Tetapi jika kita harus ke Kediri atau ke Singasari, maka jaraknya akan berlipat ganda.” jawab Tatas Lintang.

“Apakah kau salah seorang Senapati dari Pakuwon Lemah Warah?” bertanya Mahisa Pukat.

Tatas Lintang termangu-mangu sejenak. Dipandangi ketiga orang anak muda itu berganti-ganti, ia memang nampak ragu-ragu. Namun akhirnya ia menemukan kepercayaan yang utuh itu kembali.

Karena itu, maka ia merasa tidak perlu untuk ragu-ragu lagi. Untuk menghadapi tugas yang penting dan berbahaya itu ia memang memerlukan orang-orang seperti ketiga orang anak muda itu, yang nampaknya dengan ikhlas telah melakukan satu pengabdian tanpa menghiraukan bahaya yang dapat mengancam jiwa mereka.

Dengan demikian, maka akhirnya Tatas Lintang itupun berkata, “Aku memang seorang di antara para pemimpin Pakuwon Lemah Warah. Aku adalah Akuwu di Lemah Warah.”

Wajah ketiga anak muda itu berubah. Memang ketegangan telah mencengkam jantung mereka. Sementara itu, untuk meyakinkan kata-katanya, maka Tatas Lintang itupun telah menunjukkan sebuah cincin di jari-jari tangan kanannya, “Lihat, ini adalah cincin pertanda kuasa tertinggi di Pakuwon Lemah Warah. Jika kalian masih ingin meyakinkannya, maka kita akan dapat pergi ke Lemah Warah. Kita akan menyiapkan satu pasukan yang memadai untuk menguasai padepokan itu.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura itupun mengangguk hormat.

“Maafkan kami Akuwu,” desis Mahisa Murti dengan nada berat, “kami sama sekali tidak mengerti, bahwa kami telah berhadapan dengan Akuwu dari Lemah Warah.”

“Kalian tidak bersalah. Aku memang menghendaki demikian,” jawab Akuwu, “yang penting kemudian, apakah yang harus kita lakukan.”

“Ternyata Akuwu telah melakukan langkah-langkah yang langsung, turun ke medan yang berat ini.” berkata Mahisa Murti, “agaknya sesuatu yang jarang dilakukan oleh seorang Akuwu.”

“Nah.” berkata Tatas Lintang, “biarlah kita sisihkan persoalan siapa aku. Sekarang, langkah apakah yang paling baik kita lakukan.”

“Akuwu,” sahut Mahisa Murti, “Akuwu telah menawarkan satu langkah penyelesaian. Kami menduga, bahwa tidak ada jalan lain yang lebih baik dari jalan itu.”

“Baiklah,” berkata Tatas Lintang, “jika demikian, maka agaknya kita harus segera menyiapkan pasukan itu.”

“Apakah Akuwu akan menempuh perjalanan kembali ke Lemah Warah?” bertanya Mahisa Murti.

“Aku akan berbicara dengan orang-orangku,” jawab Tatas Lintang.

“Jadi Akuwu tidak sendiri?” bertanya Mahisa Pukat.

“Sekarang aku sendiri. Tetapi ada saatnya aku tidak sendiri,” jawab Tatas Lintang.

“Jadi demikian, segala sesuatunya terserah kepada Akuwu,” berkata Mahisa Murti, “bahkan kami pun akan menempatkan diri kami di bawah perintah Akuwu pula. Namun hendaknya Akuwu mengetahui bahwa kami pun sedang mengemban tugas dari Sri Baginda.”

“Aku juga menjalankan tugas yang sama. Pangeran Singa Narpada telah memberikan perintah yang sama kepadaku dan mungkin juga kepada kalian. Aku pun telah mendapat keterangan dari Pangeran Singa Narpada tentang kalian. Tetapi Pangeran Singa Narpada menyebut bahwa kalian hanya berdua saja. Namun tidak mustahil bahwa kalian telah datang bertiga. Dua di antara kalian kemudian aku ketahui memenuhi ciri-ciri yang disebutkan oleh Pangeran Singa Narpada. Meskipun ada juga keragu-raguan, bahkan kadang-kadang timbul niat untuk menolak kalian, tetapi akhirnya aku mulai percaya. Dan bahkan aku telah mempercayai kalian sepenuhnya.”

Ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itupun mengangguk-angguk. Merekapun percaya sepenuhnya dengan keterangan Tatas Lintang yang kemudian mengaku sebagai Akuwu dari Lemah Warah itu.

Demikianlah, maka sejenak kemudian mereka pun telah bersiap meninggalkan tempat itu ketika Tatas Lintang mengajaknya. Katanya, “Kita akan pergi ke pasar. Kita tidak akan mengamati orang-orang padepokan ini. Tetapi seandainya orang-orang padepokan ini justru melihat kita, maka kita pun tidak akan merasa keberatan.”

Keempat orang itupun kemudian telah meninggalkan hutan itu menuju ke pasar terdekat. Mereka singgah di sebuah mata air kecil untuk membersihkan diri.

Ketika mereka sampai di padukuhan, maka mereka pun telah mengamati orang-orang yang lewat di jalan-jalan yang masuk dan keluar dari padukuhan itu, sehingga akhirnya mereka melihat satu kemungkinan untuk mengikuti arah menuju ke pasar atau semacamnya.

“Agaknya orang-orang itu menuju ke pasar dengan barang-barang dagangan mereka,” berkata Tatas Lintang.

Ketiga orang anak muda itu mengangguk. Hari memang masih pagi sehingga mereka memperkirakan bahwa orang-orang itu memang sedang menuju ke pasar.

Ketika mereka mengikuti jalan itu pula, maka akhirnya mereka pun telah sampai ke pasar pula. Pasar yang cukup ramai dikunjungi orang.

Untuk sesaat Tatas Lintang memandang berkeliling. Namun akhirnya dilihatnya dua orang berdiri beberapa langkah dari padanya.

Tatas Lintang menggamit Mahisa Murti sambil berkata, “Dua orang itu adalah dua orang Senapati Pakuwon Lemah Warah.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Beberapa kali ia melihat orang-orang yang mirip atau mungkin juga orang itu selalu nampak dalam keadaan tertentu. Tetapi tidak pernah langsung melibatkan diri. Mereka hanya melihat, memperhatikan dan bahkan kemudian pergi.

Namun ternyata bahwa orang-orang itu mempunyai hubungan dengan Tatas Lintang.

Tetapi ketiganya sadar, bahwa selain orang-orang yang berhubungan dengan Tatas Lintang, tentu ada pihak lain yang juga melakukannya.

Karena itu. maka tidak semua orang yang pernah dilihatnya berada di sekitar mereka tanpa berbuat sesuatu, adalah orang-orang Tatas Lintang sendiri.

Tetapi yang jelas, bahwa kedua orang itu adalah Senapati dari Pakuwon Lemah Warah.

Untuk beberapa saat lamanya Tatas Lintang tidak beranjak dari tempatnya. Namun kemudian Tatas Lintang itupun berkata, “Marilah. Kita akan pergi ke kedai itu.”

Keempat orang itupun kemudian telah memasuki sebuah kedai. Ternyata kedua orang yang disebut Tatas Lintang sebagai Senapatinya itupun telah memasuki kedai itu pula dan duduk tidak terlalu jauh dari padanya.

Tatas Lintang tidak memperhatikan kedua orang itu. Apalagi ketika ada orang lain yang memasuki kedai itu pula.

Meskipun demikian Tatas Lintang sempat memberi isyarat kepada kedua orang itu untuk menemuinya.

Karena itu, setelah mereka selesai makan dan minum, maka mereka pun telah meninggalkan kedai itu. Baru beberapa saat kemudian kedua orang Senapati itupun membayar makanan dan minuman mereka dan meninggalkan kedai itu.

Ternyata kedua orang Senapati itu memang mengamati dari kejauhan kemana Tatas Lintang pergi. Namun setelah ia mendapat keyakinan, maka mereka pun berusaha untuk mengambil jalan lain agar tidak ada orang lain lagi yang memperhatikan mereka.

Ketika Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu sudah berada di sebuah tempat yang terpencil, di tepian sebuah sungai yang curam dan menjorok ke dekat pinggir hutan, maka Tatas Lintang telah membuat api.

“Banyak orang membuat api di pategalan. Mudah-mudahan asapnya tidak menarik perhatian secara khusus,” berkata Tatas Lintang.

Ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu mengikutinya dengan tegang. Mereka sempat membantu mengumpulkan dedaunan dan rerumputan kering. Kemudian menyulutnya.

Asap pun segera mengepul ke udara. Membubung. Apalagi angin memang tidak sedang bertiup.

Tanpa diketahui maksudnya oleh ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu, Tatas Lintang telah melepaskan kain panjangnya dan membasahinya. Kemudian katanya kepada Mahisa Murti, “Bantu aku. Pegang ujung kain itu.”

Mahisa Murti pun telah melakukannya tanpa mengetahui maksudnya. Dipeganginya kedua ujung kain panjang Tatas Lintang, sedang dua sudut di ujung lain dipegang oleh Tatas Lintang sendiri.

“Ikuti gerak tanganku,” berkata Tatas Lintang.

Mahisa Murti mengangguk.

Ternyata Tatas Lintang telah menyelubungi asap api dedaunan dan rerumputan itu sejenak. Kemudian membuka kembali. Demikian dilakukannya beberapa kali bersama Mahisa Murti, sehingga asap yang mengepul pun telah terputus-putus.

Barulah Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengerti maksud Tatas Lintang. Agaknya kepulan asap itu merupakan bahaya syarat yang ditujukan kepada kedua orang yang telah dipanggilnya untuk menemuinya.

Sebenarnyalah, kedua orang Senapati yang mendapat pesan untuk menemuinya telah dituntun oleh asap itu. Mereka yang memang sudah mengamati arah kepergian Tatas Lintang itupun dengan segera melihat syarat itu, sehingga beberapa saat kemudian keduanya telah turun pula ke tepian.

Ketika mereka sampai di tempat Tatas Lintang menunggu, maka keduanya pun segera diperkenalkannya dengan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya.

Sementara itu dari pembicaraan itu Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun yakin, bahwa Tatas Lintang memang Akuwu dari Lemah Warah.

“Kembalilah,” perintah Akuwu Lemah Warah, “bawa pasukan kemari. Kalian harus membawa orang-orang terbaik untuk menguasai padepokan itu. Padepokan yang ternyata dihuni oleh beberapa kelompok perguruan dengan para pengikutnya yang jumlahnya cukup banyak. Jangan kurang dari lima ratus orang. Meskipun aku yakin jumlah orang di Padepokan itu hanya sekitar separuhnya, tetapi kita tidak mau gagal. Kita harus menangkap semuanya. Tidak seorang pun boleh lolos. Selebihnya kami juga memperhitungkan orang-orang yang berilmu tinggi di antara mereka. Seorang yang berilmu tinggi harus dihadapi oleh sekelompok prajurit yang mempunyai bekal cukup. Karena itu kita memang harus membawa prajurit secukupnya.”

Kedua Senapati itu mengangguk. Kemudian Tatas Lintang pun berpesan, “Dalam waktu empat hari lagi, aku akan menunggu kalian di bukit kembar itu. Kami berada di antara keduanya. Kami akan berangkat dari tempat itu lewat tengah malam. Menjelang dini hari kami akan mengepung padepokan itu. Hanya jika terjadi sesuatu yang khusus, rencana ini akan berubah.”

“Kami akan melakukannya Akuwu,” sahut salah seorang dari kedua orang itu.

“Berhati-hatilah,” pesan Akuwu.

“Hamba Akuwu,” jawab keduanya hampir berbareng.

“Kita berhadapan dengan kekuatan yang sangat besar meskipun jumlahnya tidak terlalu banyak. Ada bermacam-macam ilmu tersimpan di padepokan itu. Karena itu, bawa orang-orang terbaik. Perintahku kepada Panglima Pasukan Pengawal Khusus, ia sendiri harus berangkat dengan sebagian besar dari para pengawal khusus. Tenaga mereka sangat diperlukan dalam arena seperti yang akan kita hadapi.” berkata Tatas Lintang.

Kedua Senapatinya itupun menangkap semua pesannya. Kemudian mereka pun telah minta diri untuk melakukan tugas mereka. Sedangkan dari pembicaraan itu Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengetahui, bahwa masih ada enam orang Senapati yang ada di sekitar padepokan itu.

Ternyata bahwa Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura tidak dapat menangkap apa yang sebenarnya ada di dekatnya. Ternyata bahwa Tatas Lintang yang nampaknya sendiri itu memang tidak sendiri, meskipun pada saat-saat yang penting ia justru memang hanya sendiri.

Kepada Senapati yang memanggil prajurit-prajuritnya Tatas Lintang pun telah berpesan agar perjalanan mereka tidak menarik perhatian sehingga orang-orang padepokan itu tidak mencium rencana itu lebih dahulu, sehingga mereka akan dapat mengambil langkah-langkah yang tidak dikehendaki.

Sepeninggal kedua orang Senapatinya itu, Tatas Lintang dan ketiga orang yang disebut kemanakannya itu dengan sengaja tidak banyak melakukan kegiatan. Mereka lebih banyak diam dan menyingkir agar tidak memancing persoalan. Mereka berusaha untuk sekedar mengamati dari kejauhan dan mempertahankan agar keadaan tetap seperti itu bagi padepokan yang menjadi sasaran pengintaian mereka, agar pada saat prajurit mereka datang, padepokan itu masih tetap dalam keadaannya.

Sementara itu, kedua orang Senapati yang diperintahkan untuk memanggil pasukan di Pakuwon itupun telah berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk melaksanakan tugas mereka. Pada saatnya mereka harus sudah kembali bersama pasukannya dan langsung menuju lembah di antara dua buah bukit yang disebut sepasang Bukit Kembar.

Ketika keduanya sampai di Pakuwon, maka beberapa orang Senapati memang menjadi terkejut karena mereka tidak mengiringkan Akuwu.

Namun yang datang ternyata adalah perintah Akuwu untuk membawa sedikitnya lima ratus orang langsung di bawah pimpinan Panglima pasukan Khusus Pakuwon Lemah Warah.

Panglima yang mendapat perintah itupun menyadari, bahwa tugas itu tentu gawat. Namun sudah menjadi tugasnya bahwa ia harus melakukannya sebaik-baiknya.

Karena itu, maka tugas itupun dilaksanakannya dengan cepat dan bersungguh-sungguh, iapun memilih lima ratus orang terbaik dan kemudian membekali mereka dengan senjata dan bekal-bekal lain secukupnya.

Tanpa menunggu hari berikutnya, maka pasukan itupun segera berangkat. Dua orang prajurit yang menjemput pasukan itupun tidak merasa, letih karena tanggung jawabnya atas tugas yang dipikulnya.

Meskipun belum dipasang namun pasukan itu juga membawa tanda-tanda kebesaran Pakuwon Lemah Warah. Mungkin tanda-tanda itu akan berguna jika mereka telah berada di lingkungan padepokan Suriantal.

Dalam waktu menunggu. Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah mengisi waktu mereka dengan mempertajam kemampuan mereka. Mereka mengadakan latihan-latihan di tempat yang terasing untuk menghadapi tugas-tugas mereka, yang berat.

Ternyata dalam waktu menunggu itu, tidak terjadi sesuatu yang penting yang dapat merubah keadaan. Di malam hari, keempat orang itu masih berusaha untuk dapat mengamati padepokan yang menyimpan rahasia yang sulit untuk dipecahkan.

Namun pengamatan mereka itu meyakinkan, bahwa kekuatan di padepokan itu tidak akan lebih dari lima ratus orang.

Menjelang hari terakhir yang ditentukan, dua orang Senapati Lemah Warah yang masih berada di sekitar padepokan itu-pun telah menghubungi Tatas Lintang dan memberikan laporan kegiatan yang meningkat dari orang-orang padepokan itu.

“Nampaknya mereka sedang mencari seseorang,” berkata Salah seorang Senapati itu.

“Mereka mencari kami,” jawab Tatas Lintang itu, “mereka tentu menganggap bahwa tiba-tiba saja kami telah menghilang. Namun dengan demikian mereka tentu akan menjadi curiga. Mungkin mereka akan mengambil langkah-langkah yang tidak kita perhitungkan sebelumnya. Karena itu, maka pengawasan atas mereka harus diperluas.”

Namun hari yang mereka tunggu itupun telah datang. Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itupun telah pergi ke lembah di antara dua bukit kembar. Mereka akan menjemput pasukan yang datang dari Pakuwon Lemah Warah.

Tatas Lintang mengangguk-angguk ketika ia melihat pasukannya. Benar-benar pasukan sebagaimana dikehendaki yang dipimpin langsung oleh Panglima pasukan Pengawal Khusus yang memang memiliki ilmu yang tinggi.

Tatas Lintang telah memperkenalkan ketiga orang anak muda itu. Namun kepada pasukannya Tatas Lintang tetap menyebut mereka sebagai kemanakannya.

“Aku memang telah memanggilnya dari Kediri untuk membantuku,” berkata Tatas Lintang.

“Apakah mereka prajurit Kediri?” bertanya Panglima itu.

“Ya. Mereka memang prajurit Kediri,” jawab Tatas Lintang, “karena itu kebetulan sekali, bahwa kita sedang bersiap-siap untuk menyelesaikan tugas ini, karena ketiga orang kemanakanku ini pun sedang menangani persoalan yang sama, juga atas perintah Pangeran Singa Narpada.”

Panglima pasukan Pengawal Khusus itu mengangguk-angguk. Namun karena Akuwu Lemah Warah mempercayai ketiga anak muda yang disebut kemanakannya itu, Panglimanya tentu mempercayainya juga.

Dengan cepat Akuwu Lemah Warah itu menyiapkan pasukannya. Namun ternyata bahwa sergapan kepada atas padepokan itu ditunda sehari untuk memberi kesempatan kepada pasukan itu untuk beristirahat.

Pada saat pasukannya beristirahat, di malam hari Tatas Lintang telah membawa Panglimanya untuk melihat padepokan. Mereka akan mengatur cara yang terbaik untuk memecahkan pertahanan padepokan itu dan mencegah orang-orang yang berusaha untuk melarikan diri.

Bersama dengan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu, maka mereka telah menentukan beberapa hal tentang arah pasukan Lemah Warah yang akan mengepung padepokan itu.

“Sebagian dari pasukan kita akan memasuki padepokan itu,” berkata Tatas Lintang, “sebagian yang lain akan berada di luar.”

Panglima pasukan pengawalnya mengangguk-angguk, ia sependapat dengan Akuwunya. Jika ada di antara orang-orang padepokan yang berusaha melarikan diri, maka para prajurit yang ada di luar padepokan akan dapat menangkap mereka.”

“Kita jangan mengguncang sarang lebah,” berkata Tatas Lintang selanjutnya, “jika orang-orang padepokan itu sempat melarikan diri berpencaran, maka orang-orang itu merupakan orang yang sangat berbahaya. Mereka akan melepaskan dendam mereka kepada siapapun juga dan barangkali juga untuk hidup mereka, maka mereka akan menjadi benalu yang justru akan dapat membunuh tempat yang dilekatinya. Selanjutnya, setelah menjadi kebiasaan, mereka akan dapat menjadi perampok-perampok yang sangat garang.”

“Hamba Akuwu,” jawab panglima itu, “hamba akan berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya agar tidak seorang pun dapat melepaskan diri. Seandainya itu tidak mungkin, maka kita akan berusaha sedikit mungkin orang yang dapat lepas dari tangan kami.”

“Nah, terserah kepadamu, siapakah yang akan memasuki padepokan dan siapa yang akan berada di luar. Demikian juga perbandingan jumlah. Sementara itu, kita harus memperhitungkan bahwa orang-orang di padepokan itu akan dapat melarikan diri lewat jalan yang manapun juga,” berkata Tatas Lintang.

“Hamba Akuwu,” jawab Panglimanya, “hamba akan mengaturnya. Namun sesuai dengan keterangan yang hamba terima bahwa yang ada di dalam padepokan itu jumlahnya kira-kira hanya separuh dari pasukan kita, maka yang akan memasuki padepokan itupun kira-kira hanya separuh pula. Yang lain akan berada di luar mengelilingi padepokan itu, dan sekelompok pasukan cadangan akan berada di sebelah dalam gerbang. Pasukan cadangan ini akan dapat dipergunakan di dalam dan di luar jika diperlukan sekali dengan isyarat tertentu.”

Akuwu Lemah Warah itu mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sependapat. Tetapi aku perintahkan orang-orang terbaik akan memasuki padepokan itu bersama kami berempat. Sebaiknya kalian tahu, bahwa di dalam padepokan itu terdapat beberapa orang berilmu tinggi. Karena itu, maka setiap prajurit harus menyadari apa yang akan mereka hadapi. Mungkin mereka harus mempersiapkan kelompok-kelompok kecil dari dua orang sampai sepuluh orang. Mungkin mereka akan bertemu dengan orang-orang yang berilmu tinggi itu.”

“Hamba akan mengaturnya Akuwu. Hamba akan berbicara dengan para pemimpin kelompok agar mereka memperhatikan setiap pesan sebaik-baiknya,” jawab panglima itu.

“Jika kita gagal, maka sama artinya dengan kita akan menyebar bencana. Aku harus mempertanggung jawabkan kepada pemimpin pemerintahan di Kediri. Dengan hadirnya ketiga orang kemanakanku ini maka aku tidak dapat mengingkari setiap tanggung jawab itu.”

Panglima itu tidak menjawab. Tetapi pada wajahnya nampak kesungguhan tekadnya untuk melaksanakan perintah Akuwu itu sebaik-baiknya.

Setelah beberapa lama mereka mengamati tempat itu, maka mereka pun telah meninggalkannya kembali ke tempat pasukan mereka beristirahat. Di lembah di antara Sepasang Bukit Kembar. Daerah yang seakan-akan tertutup bagi orang lain.

Di hari berikutnya, pasukan itu telah mendapat pesan yang lengkap tentang sasaran yang akan mereka masuki. Mereka telah mendapat gambaran yang jelas, apa yang akan mereka hadapi serta kemungkinan yang paling buruk sekalipun.

Karena itu, maka para pemimpin kelompok harus memegang peran yang hidup di setiap medan. Mereka harus cepat mengambil langkah jika dihadapi persoalan-persoalan yang gawat.

Sisa waktu yang ada telah dipergunakan oleh pasukan itu untuk beristirahat secukupnya. Mereka harus menyimpan tenaga untuk pertempuran yang mungkin akan memerlukan waktu yang lama.

Menjelang malam hari, maka semua persiapan telah mapan. Semua senjata telah diteliti dan benar.-benar siap untuk dipergunakan. Yang ragu-ragu telah mengganti dan senjatanya dengan yang baru. Namun senjata yang memiliki nilai tersendiri, betapapun juga ujudnya, senjata itu tidak akan terlepas dari tangan meskipun pemiliknya mungkin membawa senjata lain sebagai rangkapannya.

Ketika saatnya para prajurit yang merangkap menjadi juru masak mempersiapkan makan mereka, maka diperintahkan kepada mereka untuk berhati-hati. Bukan saja agar api yang mereka pergunakan tidak nampak dari kejauhan, juga jangan sampai menimbulkan kebakaran hutan di sekitarnya.

Setelah semua siap, maka pasukan itupun telah menyusun diri men jelang tengah malam. Mereka telah makan dan mengisi kantong-kantong mereka dengan makanan yang dapat mereka bawa ke medan. Jika mereka bertempur sampai sehari penuh, maka mereka tidak akan kehabisan tenaga. Di dalam kantong-kantong kecil mereka membawa jenis-jenis makanan yang tahan lama.

Demikianlah, lewat tengah malam pasukan itupun mulai bergerak. Dengan sangat berhati-hati mereka telah mendekati padepokan. Sebagaimana mereka rencanakan, maka ketika pasukan itu mendekati sasaran, maka mereka telah membagi diri. Separuh lebih sedikit akan memasuki padepokan. Namun mereka tidak akan mengambil jalan pintu gerbang seluruhnya. Sebagian di antara mereka akan meloncati dinding. Hanya sebagian sajalah yang akan memasuki pintu gerbang, sementara sekelompok akan merupakan pasukan cadangan yang bersiap di pintu gerbang.

Perlahan-lahan tetapi pasti pasukan itu menjadi semakin dekat dari beberapa arah. Kelompok-kelompok itu telah merayap mendekat, sementara belum ada pertanda apapun yang nampak. Panji-panjipun masih digulung meskipun pada tunggulnya.

Ketika mereka telah berada di seputar padepokan itu, maka pasukan itupun terhenti. Mereka menunggu saatnya untuk menyerang. Namun sementara itu Tatas Lintang telah memerintahkan pasukan yang berada di depan pintu gerbang padepokan itu bersiaga sepenuhnya sebagaimana sepasukan prajurit dari sebuah Pakuwon.

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...