Selasa, 05 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 034-01

*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-034-01*

Orang itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia berkata, “Jangan menakuti-nakuti kami. Kalian tidak akan mendapat kesempatan untuk melakukannya. Dengan sekali loncat, senjata-senjata kami akan membelah dada kalian dan menukik langsung ke pusat jantung, sebab itu jangan banyak alasan. Berikan benda-benda yang dapat membebaskan kalian dari bisa dan racun itu.”

“Tidak ada benda yang dapat membebaskan kami dari bisa dan racun,” jawab Tatas Lintang.

Tiba-tiba orang itu telah meloncat maju sambil mengacukan senjatanya, “Cepat sebelum matahari naik.”

Tatas Lintang termangu-mangu. Sementara itu yang lain-pun telah bergerak pula mendekati ketiga orang anak muda yang diakunya sebagai kemanakannya itu.

“Kami akan menghitung sampai sepuluh. Jika kalian tidak memberikan benda itu, maka kami akan memenggal leher kalian sebelum kalian sempat mengambil binatang-binatang berbisa itu dan melemparkannya kepada kami.”

Tatas Lintang masih saja termangu-mangu. Dengan garang orang itupun kemudian memerintahkan, “Letakkan bungkusan-bungkusan itu, atau parang kami menembus jantung kalian.”

Tatas Lintang memang menjadi bingung. Ketika ia sempat menghitung, orang yang mengepungnya itu berjumlah sepuluh orang. Jumlah yang baginya tidak begitu banyak menilik tingkat kemampuan orang-orang itu. Tetapi karena mereka belum menjajaginya, maka mungkin dugaannya atas kekuatan orang-orang itu meleset.

Meskipun Tatas Lintang tidak memberikan aba-aba, tetapi sikapnya telah memberikan perintah kepada ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu untuk bersiap. Agaknya sekali lagi mereka harus berkelahi. Orang yang dilawannya memang lebih banyak, tetapi mereka tidak tahu, apakah tugas mereka akan lebih berat atau tidak.

Dalam pada itu, pemimpin dari kelompok itu pun telah berkata sekali lagi, “Jangan banyak tingkah. Lakukan yang aku perintahkan agar kalian tidak mati di tepian ini. Usaha kalian mencari berjenis-jenis binatang itu tentu tidak akan ada gunanya jika kalian mati di sini Kalian tidak berhasil melakukan langkah-langkah kemanusiaan sebagaimana kalian katakan itu.”

Tatas Lintang tidak segera menjawab. Ujung-ujung parang itu agaknya memang telah siap untuk menusuk tubuh-tubuh mereka.

Ketegangan pun kemudian telah mencengkam. Ujung-ujung parang telah mulai bergetar. Sementara orang tertua di antara mereka itupun membentak sekali lagi, “Cepat.”

Tatas Lintang menarik nafas panjang. Namun jantungnya sama sekali tidak dapat digetarkan oleh teriakan-teriakan itu. Meskipun ia masih berdiri diam, namun ia sudah siap untuk berbuat sesuatu sebagaimana ketiga orang yang disebutnya sebagai kemanakannya itu.

Baru sejenak kemudian Tatas Lintang itupun berkata, “Ki Sanak. Sayang sekali, bahwa kami tidak dapat memenuhi keinginan kalian. Karena itu, terserahlah, apa yang kalian lakukan. Tetapi jangan bermimpi bahwa kalian akan mendapatkan apa yang kalian inginkan. Jika kami mati karena ujung senjata kalian, maka kemampuan menawarkan racun itu akan membeku pula bersama darah kami.”

“Persetan,” geram orang yang sudah berambut warna rangkap itu, “bersiaplah untuk mati. Aku lebih baik melihat kalian mati daripada melihat kalian mampu menawarkan racun pada tubuh kalian.”

Tatas Lintang tidak menjawab lagi. Namun iapun telah bersiap menghadapi lawan-lawannya.

Sementara itu, agaknya Mahisa Pukat ingin melakukan permainan sendiri. Karena itu ia berdesis kepada Mahisa Murti dan Mahisa Ura, “Lindungi aku.”

Semula Mahisa Murti dan Mahisa Ura tidak tahu maksudnya. Namun kemudian Mahisa Pukat telah meletakkan bungkusannya dan mengambil bungkusan di tangan Mahisa Murti dan Mahisa Ura dan diletakkannya di dekat bungkusannya. Bahkan kemudian bungkusan Tatas Lintang pun telah dijadikannya satu.

“Apa yang kau lakukan anak gila?” geram orang berambut mulai ubanan itu.

“Tidak apa-apa,” jawab Mahisa Pukat, “kami hanya mengumpulkan barang-barang yang kami anggap berharga, tetapi tidak bagi orang lain. Nah, selanjutnya kami siap untuk bertempur.”

Wajah orang yang tertua di antara orang-orang yang turuni ke tepian itupun menjadi tegang. Agaknya keempat orang itu sama sekali tidak gentar menghadapi mereka.

Karena itu, maka orang tertua itupun mulai bergeser sambil berkata, “Tidak ada pilihan lain. Kita akan menghancurkan orang-orang yang sombong ini.”

Mahisa Murti pun telah bersiap, sementara Mahisa Ura telah mencabut sepasang pisau belati panjangnya.

Pertempuran tidak dapat dielakkan lagi. Mahisa Murti dan Mahisa Ura pun telah bertempur pula. Sebagaimana pesan Mahisa Pukat, maka mereka pun telah berusaha untuk menahan serangan yang agaknya diarahkan kepada Mahisa Pukat yang justru telah berjongkok di samping bungkusan-bungkusan itu.

“Gila,” tiba-tiba saja orang tertua di antara para penyerang itu berteriak, “jangan beri kesempatan kepada anak itu untuk membuka bungkusannya.”

Tetapi Mahisa Pukat mampu bertindak lebih cepat, ia sudah mulai melepaskan ikatan salah satu di antara keempat bungkusan itu.

Namun seorang di antara sepuluh orang itupun telah meloncat menyusup di antara pertahanan Mahisa Murti dan Mahisa Ura. Parangnya terjulur lurus mengarah ke punggung Mahisa Pukat.

Mahisa Murti terkejut karenanya, ia melihat orang itu meloncat. Namun ia tidak dapat berbuat sesuatu karena jaraknya yang agak jauh. Demikian pula Mahisa Ura yang sedang meloncat ke samping menghindari serangan seorang lawannya.

Karena itulah, maka tanpa berpikir panjang Mahisa Murti telah melakukan sesuatu. Tiba-tiba saja ia telah meloncat mengambil jarak dari lawannya. Demikian cepat. Kemudian kedua tangannya telah terjulur lurus ke depan, sementara kedua telapak tangannya yang terbuka mengarah kepada orang yang sudah hampir saja menyentuh punggung Mahisa Pukat dengan parangnya itu.

Yang terjadi adalah sangat mengejutkan. Orang itu terlempar beberapa langkah dan jatuh terbanting di tanah. Beberapa kali ia berguling menahan sakit. Namun kemudian iapun terdiam. Pingsan. Sementara itu kakinya yang disambar serangan Mahisa Murti yang bagaikan seleret sinar memancar dari telapak tangannya, nampaknya menjadi bagaikan hangus.

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu menjadi termangu-mangu. Jantung mereka terasa berdetak semakin cepat, sementara Mahisa Murti sendiri pun menjadi tegang. Bukan maksudnya untuk menghancurkan lawannya dengan ilmunya itu. Melawan orang-orang bertongkat itupun ia masih berusaha untuk menundukkan lawannya tanpa membunuhnya.

Namun ia tidak mempunyai kesempatan lagi. Ia telah mempergunakan ilmu yang disadapnya dari Tatas Lintang karena ia tidak ingin melihat punggung saudara laki-lakinya itu tertusuk parang.

Selagi orang-orang itu termangu-mangu, maka Mahisa Pukat telah menggenggam sejumlah binatang-binatang berbisa. Sambil berdiri tegak ia berkata, “Nah, apakah kita akan meneruskan perkelahian ini?”

Orang-orang yang datang ke tepian itu menjadi ragu-ragu. Mereka sudah melihat bagaimana Mahisa Murti menyerang lawannya sementara itu seorang yang lain telah mampu melepaskan ikatan binatang-binatang berbisa itu dan bahkan sudah menggenggam di tangan kiri dan kanannya siap untuk dilemparkan.

Dalam ketegangan itu Tatas Lintang pun berkata, “Ikat kembali bungkusan itu agar binatang itu tidak berlarian.”

Mahisa Pukat mengangguk, iapun kemudian telah mengembalikan binatang di genggamannya dan mengikat kembali bungkusan binatang-binatang berbisa itu. Tetapi ia masih tetap bersiap untuk menggenggam dan melemparkan ke arah lawan-lawannya.

Namun agaknya Tatas Lintang telah yakin, bahwa tidak akan ada perlawanan lagi dari orang-orang itu.

Sebenarnyalah orang-orang itu bagaikan menjadi beku. Tidak seorang pun yang bergerak. Bahkan parang-parang mereka-pun telah merunduk.

Karena tidak seorang pun yang bergerak, maka Tatas Lintang pun kemudian telah bertanya, “Nah, marilah. Siapakah diantara kalian yang akan bangkit dengan parang-parang kalian. Aku yakin bahwa kalian adalah laki-laki jantan yang tidak gentar melihat betapapun juga lawan yang akan dihadapi.”

Orang-orang itu masih tetap membeku. Bahkan jantung mereka terasa bergetar ketika Tatas Lintang berkata, “Kami akan dapat membakar hangus kalian semuanya dengan cara sebagaimana kau lihat. Tetapi kami pun akan mampu menjadikan tubuh kalian kehilangan bentuk dengan binatang-binatang beracun di dalam bungkusan kami ini. Cepat, sebelum kami meninggalkan tempat ini.”

Namun ternyata bahwa orang tertua di antara mereka pun telah meletakkan parangnya di atas pasir tepian sambil berkata, “ki Sanak. Kami harus melihat kenyataan. Kami menyerah. Kami tidak akan mampu berbuat apa-apa di hadapan kalian berempat. Kami telah melihat apa yang terjadi. Aku mengerti, bahwa kalian tidak berniat untuk memperlakukan salah seorang di antara kami dengan cara itu. Tetapi karena tidak ada kesempatan lagi untuk menyelamatkan salah seorang di antara kalian, maka telah terjadi serangan yang dahsyat itu. Dengan demikian kami pun harus menyadari kelemahan kami. Lebih dari itu, kami berterima kasih atas kebaikan hati kalian, sehingga kalian masih sempat memberikan peringatan kepada kami. Kalian tidak dengan serta merta menghancurkan kami sebagaimana biasa kami temui dalam dunia olah kanuragan.”

“Tidak,” jawab Tatas Lintang, “justru dalam dunia olah kanuragan berlaku sifat padi. Semakin berisi seharusnya kita menjadi semakin tunduk.”

Orang itu mengangguk-angguk. Kemudian katanya, “Nah, terserahlah apa yang akan kalian lakukan atas kami. Kami akan menyerah.”

“Kami tidak akan menghukum kalian,” berkata Tatas Lintang, “terserah kepada kalian sendiri. Apa yang pantas kalian lakukan dalam keadaan seperti ini. Kalian akan dapat menghukum diri kalian sendiri jika kalian benar-benar menyesali perbuatan kalian.”

“Kami mengerti,” jawab orang itu, “justru sikap kalian membuat kami melihat kenyataan tentang diri kami. Kami ternyata telah menemui sekelompok orang yang asing bagi kami. Jauh berbeda dengan orang-orang padepokan itu.”

“Bagaimana dengan orang-orang di padepokan itu?” bertanya Tatas Lintang.

“Membingungkan,” jawab orang itu, “ada yang bertingkah laku wajar, tetapi ada yang keras sekeras batu akik sebagaimana nampak pada senjata mereka atau perhiasan mereka.”

“Di ujung tongkat?” bertanya Tatas Lintang.

“Ya. Dan kadang-kadang pada perhiasan di tubuh mereka,” jawab orang itu.

“Batu berwarna kehijauan itu?” bertanya Tatas Lintang pula.

“Ya. Mereka telah mempergunakannya,” berkata orang tu pula.

“Apakah batu itu pernah dipecah atau diambil sebagian?” bertanya Tatas Lintang pula.

“Tidak,” jawab orang itu, “di sekitar batu itu dahulu banyak pecahan-pecahan batu serupa. Tetapi sekarang sudah habis sama sekali.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Ki Sanak. Pergilah. Bawalah kawanmu itu. Aku berharap kalian dapat mengerti arti dari peristiwa ini. Sebenarnyalah kami bukan orang yang baik hati sebagaimana kalian sangka. Jika kali ini kami tidak berbuat apa-apa itu hanya karena kami tidak sempat. Tetapi dalam kesempatan lain, mungkin kami dapat berbuat jauh lebih keras dari pada orang-orang yang kau sebut sekeras batu akik dari padepokan itu. Kami dapat membunuh dengan cara apapun juga. Dengan binatang berbisa yang akan dapat membunuh seseorang dengan perlahan-lahan. Namun kami masih cenderung percaya bahwa betapapun kecilnya, tetapi tentu ada sepercik kesadaran di dalam diri tentang tingkah laku dan perbuatan baik. Nah, kami ingin hal itu berkembang di dalam dirimu, atau kami akan memperlakukan kalian jauh lebih buruk pada kesempatan lain.”

Orang itu tidak menjawab. Namun kemudian katanya, “Kami minta diri.”

Orang itupun kemudian melangkah mendekati kawannya yang terbaring diam. Kepada kawan-kawannya ia berkata, “Marilah, kita bawa kawan kita yang terluka.”

Kawan-kawannya pun telah menyarungkan senjata mereka dan mengusung tubuh yang diam itu. Sementara itu seorang lain telah berbisik di telinga orang tertua itu, “Senjatamu.”

Tetapi orang tua itu menjawab, “Aku tidak memerlukannya lagi. Biarlah senjata itu akan tinggal di tepian.”

“Tetapi bukankah kita harus melindungi diri kita dari lawan-lawan kita seandainya kita tidak akan melakukan kekerasan lagi,” desis kawannya itu.

“Kalian akan dapat melindungi aku,” jawabnya.

Kawan-kawannya tidak mempertanyakan lagi. Merekapun kemudian telah meninggalkan keempat orang itu di tepian.

Sepeninggal orang-orang itu Tatas Lintang pun berkata, “Kita pun akan pergi. Kita sudah terlalu lama berhenti di sini.”

Namun Mahisa Pukat lah yang menyahut, “Tentu sudah ada kedai yang dibuka. Justru nasinya masih mengepul dan sayur lodeh keluwih yang sedikit pedas.”

“Ah kau,” desis Mahisa Murti.

Tatas Lintang tertawa. Katanya kemudian, “Aku sependapat. Karena itu, marilah.”

Sekali lagi mereka pun telah membenahi diri masing-masing. Kemudian mereka pun telah meninggalkan tepian dan berjalan menuju ke padukuhan tempat mereka tinggal. Namun tujuan mereka masih cukup jauh.

Sebagaimana mereka rencanakan maka mereka pun telah singgah di sebuah kedai nasi di pinggir pasar yang mereka lalui. Ketika mereka memasuki kedai itu, maka beberapa orang yang ada di dalamnya telah memperhatikan mereka, karena sebenarnyalah mereka memang menarik perhatian. Mereka membawa bungkusan yang nampaknya cukup berat sehingga agaknya orang-orang yang menyaksikannya ingin mengetahui apakah yang ada didalamnya.

Tetapi keempat orang itu berpura-pura tidak mengetahui perhatian banyak orang itu. Mereka meletakkan barang-barang yang mereka bawa di bawah amben bambu tempat mereka duduk.

Ternyata orang-orang yang semula memperhatikan mereka itupun telah berpaling pula ke makanan mereka masing-masing. Agaknya orang-orang itu tidak menaruh perhatian lebih besar lagi kepada keempat orang yang baru memasuki kedai itu.

Namun dalam pada itu, dua orang yang lain telah memasuki kedai itu pula. Menurut penglihatan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakan Tatas Lintang itu, maka kedua orang itu agaknya berbeda dengan orang-orang lain di dalam kedai itu.

Tetapi sampai saatnya keempat orang itu meninggalkan kedai makan itu, tidak terjadi sesuatu yang dapat menghambat perjalanan mereka. Keempat orang itupun kemudian telah meneruskan perjalanan mereka menuju ke sebuah padukuhan yang masih cukup jauh.

Namun akhirnya perjalanan mereka pun telah mereka lalui dengan selamat. Mereka menemukan rumah mereka dalam keadaan baik. Tidak ada bekas kerusakan atau perbuatan kekerasan yang lain.

Demikianlah, maka setelah beristirahat secukupnya, maka Tatas Lintang pun telah mempersiapkan segala-segalanya. Justru ketika malam datang, maka waktunya tepat bagi Tatas Lintang untuk membuat ramuan penawar racun.

Namun sebagaimana yang terbaik dilakukan, maka pada lewat tengah malam Tatas Lintang baru melakukannya. Ia tidak memerlukan bantuan siapapun juga. Namun ia minta ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu untuk berjaga-jaga dan melindunginya jika terjadi sesuatu.

Karena itu, betapapun letihnya, namun ketiga orang itu seakan-akan tidak tertidur semalam suntuk. Mereka hanya mempergunakan waktu-waktu yang pendek untuk berganti-ganti sekedar memejamkan mata sambil duduk bersandar.

Namun tubuh mereka yang sudah mengalami tempaan yang keras tidak terlalu banyak mengalami kesulitan. Sekali-sekali mereka memang menguap. Tetapi perasaan kantuk itu segera dapat diatasi.

Ketika fajar menyingsing, maka Tatas Lintang telah selesai dengan pekerjaannya. Ia telah mendapatkan penawar racun dalam jumlah yang cukup. Untunglah bahwa ia masih memiliki beberapa jenis campuran reramuan, sehingga ia dapat berhasil dengan baik.

Agaknya Tatas Lintang tidak mau menunggu terlalu lama membiarkan pategalan itu menjadi tanah yang sangar dan berbahaya. Karena itulah, maka pada hari yang baru itu segalanya ingin dilakukan.

Berempat mereka telah menemui Ki Bekel dan kemudian orang yang memiliki tanah itu, sehingga sebelum tengah hari, maka Tatas Lintang telah mulai dengan kerjanya, menawarkan pategalan itu dari cengkaman racun yang berbahaya.

Ki Bekel, pemilik tanah pategalan itu dan beberapa orang lain telah menungguinya bekerja. Mereka menjadi kagum melihat keempat orang itu berusaha menawarkan racun. Meskipun mereka tidak tahu siapakah sebenarnya mereka, tetapi ternyata yang telah mereka lakukan itu rasa-rasanya memang satu tanggung jawab. Bahwa pategalan itu mengalami usaha untuk menjadikan sangar dengan racun, seakan-akan merupakan tantangan yang ditujukan kepada keempat orang itu tidak langsung tertuju kepada pemilik tanah dan apalagi penghuni padukuhan itu. Demikian juga datangnya beberapa ekor harimau dan ular di halaman banjar.

Namun keempat orang itu cukup bertanggung jawab, sehingga mereka tidak begitu saja membiarkan semuanya itu terjadi di padukuhan itu.

Tetapi sebenarnyalah, bahwa ketika usaha mereka menawarkan racun di pategalan itu selesai, maka rasa-rasanya tanggung jawab yang besar telah dilakukan.

Ki Bekel, pemilik tanah itu dan orang-orang padukuhan yang tidak berkepentingan pun telah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keempat orang itu.

“Kami hanya melakukan apa yang memang harus kami pertanggung jawabkan,” berkata Tatas Lintang.

“Kami tahu,” sahut Ki Bekel, “tetapi kalian memang mempunyai rasa tanggung jawab yang besar. Mungkin orang lain tidak akan melakukannya seperti kalian meskipun seandainya mereka mampu. Orang lain akan dapat meninggalkan padukuhan ini sebagaimana sebelum kalian lakukan penawaran racun itu.”

“Kami hanya berusaha untuk berlaku wajar,” jawab Tatas Lintang.

Namun yang kemudian berkata, “Tetapi Ki Bekel, sebenarnyalah sekaligus kami beritahukan bahwa kami tidak akan berada di padukuhan ini lebih lama. Kami ingin mohon diri meskipun mungkin pada kesempatan lain kami akan singgah lagi di padukuhan ini. Kami mohon diri justru setelah kami merasa tanggung jawab kami atas padukuhan ini kami selesaikan.”

Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia masih ingin menahan. Tetapi nampaknya sudah tidak mungkin lagi.

Karena itu, maka baik Ki Bekel, maupun pemilik pategalan itupun kemudian harus melepaskan keempat orang itu pergi.

“Kami mohon maaf,” berkata Tatas Lintang, “kami tidak dapat menyelesaikan tugas kami menanam pepohonan di pategalan ini. Tetapi lubang-lubang itu besok sudah tidak beracun lagi dan orang lain akan dapat menggantikan kami, menanam bibit pohon buah-buahan itu.”

“Jangan pikirkan itu,” jawab pemilik pategalan itu, “sejak semula kami sudah menyadari, bahwa sebenarnya kalian bukan orang yang pantas melakukannya.”

“Bukan begitu,” jawab Tatas Lintang, “kami memang bersedia melakukannya. Tetapi agaknya kehadiran kami di padukuhan ini telah membuat pategalan ini dimusuhinya. Karena itu, biarlah kami datang kepada mereka, sehingga kami akan dapat membuat penyelesaian sewajarnya. Tanpa harus mengorbankan orang lain yang tidak berkepentingan sama sekali.”

Ki Bekel lah yang kemudian menyahut, “Doa kami mengiringi kalian. Kami sudah menduga, bahwa kalian sebenarnya mengemban tugas. Kami tidak dapat menutup mata, bahwa batu kehijauan itu memang merupakan persoalan.”

“Apakah Ki Bekel hanya sekedar menduga-duga atau ada petunjuk tertentu tentang batu yang berwarna kehijauan itu?” bertanya Tatas Lintang.

“Aku tidak tahu apa-apa tentang batu itu. Tetapi hampir setiap orang percaya bahwa batu itu adalah batu yang jatuh dari langit,” berkata Ki Bekel.

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang mengenali berbagai jenis batu sebagaimana diajari oleh ayahnya memang menganggap bahwa batu itu cukup baik, meskipun menurut mereka bukan yang terbaik. Namun justru karena anggapan orang padukuhan itu sebagaimana dikatakan oleh Ki Bekel, bahwa batu itu jatuh dari langit, maka keduanya merasa perlu untuk mengamatinya lebih jauh.

“Menurut beberapa orang tua, batu itu semula tidak berada di situ,” berkata Ki Bekel kemudian.

“Di mana?” bertanya Tatas Lintang.

“Batu itu berada jauh di bawah permukaan dataran di puncak bukit itu. Sebuah goa telah menganga menusuk masuk ke jantung bukit itu. Namun tiba-tiba saja batu itu muncul di lambung bukit dan berguling ke bawah dan berhenti di tempatnya yang sekarang.” jawab Ki Bekel. Namun katanya kemudian, “Itu menurut ceritera. Tetapi sejak aku kecil, menurut pengetahuanku, batu itu sudah ada di sana. Aku juga seorang anak yang nakal dan sering pergi ke tempat yang jauh. Dan aku juga pernah lewat di dekat batu itu, tanpa sempat mendekatinya karena dicegah oleh rasa takut.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Keterangan Ki Bekel itu telah melengkapi pengetahuannya tentang batu yang berwarna kehijauan itu.

Demikianlah, maka setelah keempat orang itu bermalam semalam lagi di padukuhan itu, maka mereka pun telah meninggalkannya betapapun berat hati mereka. Namun mereka sadar, bahwa kewajiban itu memang telah menunggunya. Sementara itu, semakin lama mereka berada di padukuhan itu, maka padukuhan itulah yang akan menjadi sasaran dari orang-orang yang agaknya memang datang dari padepokan itu.

Tetapi keempat orang itu tidak perlu berjalan tergesa-gesa. Mereka adalah pengembara yang terbiasa berada di tempat terbuka siang maupun malam.

“Kita akan mendekati padepokan itu di malam hari,” berkata Tatas Lintang, “tetapi kita harus menyadari, bahwa di padepokan itu agaknya telah tinggal beberapa orang yang semula bukan berasal dari satu perguruan sebagaimana aku katakan. Dan ini agaknya diperkuat oleh orang-orang yang datang ke tepian itu. Menurut mereka orang-orang padepokan itu ada yang wajar saja sebagaimana kebanyakan orang, tetapi ada yang tingkah lakunya terasa asing. Justru kasar dan buas. Namun jika kita berniat memasuki padukuhan itu, maka kita akan berhadapan dengan siapapun yang ada di padukuhan itu. Mungkin orang bertongkat dengan kepala batu yang berwarna kehijauan itu. Tetapi mungkin kita akan berhadapan dengan orang yang memiliki pengetahuan dan ilmu gendam yang dapat mempengaruhi jenis binatang apapun juga. Namun mungkin juga kita akan sekaligus berhadapan dengan orang yang mampu mempengaruhi dan menyusup ke dalam wadag kita, jika kita tidak benar-benar bertahan.”

Ketiga orang yang dianggapnya sebagai kemanakannya itu mengangguk-angguk. Namun dengan demikian mereka mulai menggambarkan bahwa isi padepokan itu adalah campur baur dari bermacam-macam ilmu dan jumlah orangnya pun cukup banyak dibandingkan dengan mereka berempat.

“Apakah yang sebenarnya telah terjadi dan apakah yang kemudian berada di dalam padepokan itu?” pertanyaan itulah yang ada di dalam hati keempat orang yang ingin melihat isi dari padepokan itu.

Keempatnya pun kemudian sepakat, bahwa mereka akan mengamati padepokan itu untuk beberapa malam. Kemudian baru akan menentukan sikap lebih lanjut.

“Tetapi kita harus berhati-hati. Kita sudah dapat menjajagi beberapa orang di antara mereka yang memiliki ilmu yang luar biasa,” berkata Tatas Lintang.

Ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itupun mengangguk-angguk. Mereka menyadari apa yang sebenarnya mereka hadapi. Mereka tidak dapat dengan serta merta saja meloncat masuk ke dalam dinding padepokan dan mengamati keadaannya tanpa mengetahui sebelumnya serba sedikit tentang padepokan itu.

Karena itulah, maka mereka berempat harus benar-benar bersiap lahir dan batin untuk melakukan tugas mereka itu.

Pada malam yang pertama, mereka mendekati padepokan itu, dari arah belakang. Namun mereka memelihara jarak sebagaimana pernah dilakukan baik oleh Tatas Lintang, maupun oleh Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura.

Namun dari arah itu mereka sama sekali tidak melihat sesuatu yang-dapat mereka jadikan petunjuk tentang padepokan itu. Karena itu maka pada kesempatan lain, mereka telah mencoba untuk melihat padepokan itu dari arah depan.

Dengan sangat berhati-hati mereka menyusup di antara gerumbul-gerumbul liar mengambil tempat yang memungkinkan mereka dapat mengamati regol padepokan itu.

Namun dimalam hari, mereka tidak dapat banyak melihat. Memang ada satu dua orang yang keluar masuk regol. Tetapi sama sekali tidak menunjukkan sesuatu yang berarti.

“Kita tidak akan dapat melakukannya siang hari,” berkata Tatas Lintang dengan suara sangat lambat, “mereka sudah mengenali wajah-wajah kita. Kita tidak dapat menunggu di pasar yang terdekat untuk melihat-lihat apakah orang-orang padepokan ini hilir mudik juga di pasar, karena mereka akan lebih dahulu melihat kita dari pada kita melihat mereka.”

Ketiga orang anak-anak muda yang diakunya sebagai kemanakannya itu dengan mengangguk-angguk. Namun kemudian Mahisa Murti-pun berdesis, “Kita sudah mendapat beberapa keterangan. Sebagian dari mereka bersikap wajar. Namun sebagian yang lain nampak asing. Kita pun sudah melihat di antara satu dua orang yang masuk dan keluar regol. Ada di antara mereka yang bersenjata tongkat. Tetapi ada juga yang tidak.”

“Kita memang dapat menarik kesimpulan.” berkata Tatas Lintang, “padepokan ini memang padepokan Suriantal. Tetapi perguruan lain telah hadir pula didalam padepokan ini, justru mereka ternyata sangat berpengaruh.”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...