*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 034-03*
Menjelang fajar, maka Tatas Lintang telah memerintahkan untuk mengurai segala macam pertanda. Umbul-umbul, rontek dan panji-panji. Kemudian terdengarlah sangkala yang berbunyi nyaring.
Seisi padepokan itu terkejut. Merekapun berloncatan bangun dan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ketika beberapa orang sempat menengok lewat pintu gerbang, mereka pun terkejut.
Dalam keremangan pagi mereka melihat sekelompok pasukan dengan berbagai pertanda kebesaran berada dihadapan padepokan mereka.
Sementara itu, Tatas Lintang yang berdiri di paling depan dihadapan tunggul pertanda kebesaran Pakuwon Lemah Warah berdiri sambil bertolak pinggang. Dengan lantang iapun kemudian berkata, “Saudara-saudaraku seisi padepokan. Aku. Akuwu Lemah Warah, atas nama Kekuasaan Kerajaan Kediri memerintahkan kepada kalian untuk menyerah. Tidak ada pembicaraan yang akan dilakukan sebelumnya selain bahwa kalian harus menyerah.”
Para pemimpin padepokan itu mengumpat sejadi-jadinya. Mereka merasa heran, bahwa mereka tidak tahu sebelumnya hal seperti itu akan terjadi. Mereka sebelumnya selalu mengamati orang-orang yang mereka curigai. Tetapi bahwa orang-orang itu tiba-tiba saja membawa sepasukan dalam jumlah yang cukup banyak serta pertanda kebesaran sebuah pakuwon, tidak pernah mereka bayangkan.
Seorang diantara para pemimpin itu bergumam, “Satu kelengahan yang gawat.”
Seorang yang lain menyahut, “Kita tidak mempunyai dugaan sama sekali bahwa salah seorang diantara mereka adalah Akuwu dari salah satu Pakuwon, yang ternyata kuasa mendatangkan pasukan yang cukup besar dengan pertanda kebesaran. Menilik kemampuan orang-orang yang kita jumpai, kita menduga bahwa mereka adalah orang-orang dari perguruan-perguruan yang memiliki dasar ilmu yang tinggi. Biasanya para prajurit dan Senapati tidak memiliki kemampuan secara pribadi yang mampu mencapai tataran itu.”
“Mereka agaknya memang bukan prajurit. Tetapi mereka adalah orang-orang yang mendapat tugas, mungkin dengan upah yang sangat tinggi selain Akuwu itu sendiri,” sahut yang lain lagi.
“Baiklah,” berkata seorang yang berjambang keputihan, “kita sudah tidak mempunyai waktu lagi. Kita harus menghadapi mereka. Menurut perhitunganku, jumlah mereka tidak terlalu banyak. Kita akan menerima mereka dengan senang hati siapapun mereka. Biarlah mereka masuk. Kemudian kita akan melumatkannya disini.”
Para pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Sebenarnyalah bahwa mereka terdiri dari beberapa orang yang memiliki dasar ilmu yang berbeda-beda. Seorang diantara mereka adalah orang bertongkat dan pada tongkat itu terdapat batu yang berwarna kehijauan itu. Sementara yang lain adalah orang yang mampu menguasai binatang dengan ilmu gendamnya. Seorang lagi memiliki kemampuan untuk menyusup ke dalam diri seseorang yang tidak memiliki ketahanan jiwani yang tinggi dan beberapa orang pemimpin lainnya yang berilmu tinggi pula.
Karena tidak segera terdengar jawaban, maka Tatas Lintang pun, berteriak lagi, “Aku masih memberi kesempatan kepada kalian untuk menyerah. Sebenarnya, kami dapat menghancurkan kalian dalam kelengahan. Jika kami menghendaki, kami dapat memasuki padepokan kalian dan dengan kasar membunuh sebanyak-banyaknya. Tetapi hal itu tidak kami lakukan. Kami justru telah membangunkan kalian dan mempersilahkan kalian bersiap menghadapi kedatangan kami. Dengan demikian, prajurit dari Pakuwon Lemah Warah adalah prajurit jantan yang tidak merunduk musuhnya selagi mereka lengah.”
Yang kemudian menjawab adalah orang bertongkat. Sambil mengacukan tongkatnya yang di kepalanya terdapat batu yang berwarna kehijauan itu ia menjawab, “He, orang-orang Lemah Warah. Meskipun kami tidak mengira akan kedatangan kalian, maka kami boleh memuji kejantanan kalian yang telah membangunkan kami. Kalian agaknya tidak mau menyerang kami sambil merunduk. Tetapi agaknya itu sama sekali bukan sifat kejantanan sebagaimana yang kami kira sebelumnya, karena sebenarnyalah hal itu kalian lakukan karena kesombongan kalian.”
Tatas Lintang mengerutkan keningnya. Namun iapun kemudian berkata pula, “Apapun yang kalian katakan, aku memerintahkan kalian menyerah. Jika tidak, maka kami akan mempergunakan kekerasan untuk memaksa kalian menyerah. Mungkin diantara kita akan jatuh korban. Dan kalianlah yang harus bertanggung jawab atas korban-korban itu, karena jika kalian tidak melawan, maka korban itu tidak akan timbul.”
“Gila,” teriak orang bertongkat itu, “enak sekali. Kalian dengan sewenang-wenang menjatuhkan tanggung jawab di tangan kami. He, orang-orang Lemah Warah. Katakan, seandainya kalian tidak mengganggu kami, apakah akan jatuh korban?”
“Menggulung isi padepokan ini termasuk tugas kami. Karena itu harus kami laksanakan atas perintah Sri Baginda di Kediri,” jawab Tatas Lintang.
“Omong kosong,” teriak orang bertongkat itu. Namun sebelum ia melanjutkan kata-katanya Tatas Lintang telah berkata lantang pula, “Kau lihat pertanda kebesaran kami. Kami adalah pasukan yang dilindungi oleh kekuasaan Kediri yang sah. Nah, sekali lagi aku perintahkan kalian menyerah. Kediri tidak akan berbuat apa-apa selain sekedar mengetahui dan memastikan, siapakah kalian sebenarnya dan apakah langkah-langkah yang kalian lakukan di Kediri itu mempunyai latar belakang tertentu yang berakar pada satu keyakinan yang mapan.”
Orang bertongkat itu mengumpat. Namun orang-orang didalam padepokan itu mulai mengetahui apakah sebenarnya yang mereka hadapi. Dengan demikian mereka pun menyadari, bahwa mereka telah langsung berhadapan dengan kekuasaan Kediri lewat Akuwu Lemah Warah.
“Kami memang telah menunggu,” berkata orang bertongkat itu lantang, “tetapi kenapa kalian datang hanya dengan sekelompok kecil prajurit Pakuwon Lemah Warah? Apakah kalian memang dengan sengaja membunuh diri.”
“Tidak ada kesempatan untuk berbuat apapun,” berkata Tatas Lintang, “kalian harus membiarkan kami melaksanakan tugas kami menangkap kalian dan menghadapkan kalian kepada Sri Baginda untuk memastikan, apakah sebenarnya pernah kalian lakukan, sehingga kalian berani menyentuh Gedung Perbendaharaan Kediri.”
“Fitnah apa lagi yang telah dilancarkan orang terhadap padepokan ini,” berkata orang bertongkat itu, “tetapi persetan dengan segala macam igauan itu. Aku berharap tinggalkan padepokan kami dalam keadaan tenang dan damai.”
“Jangan ingkar dengan cara yang kasar seperti itu,” berkata Tatas Lintang, “jika kalian tidak merasa bersalah, kenapa kalian dengan segala macam cara menolak kehadiran kami dilingkungan ini? Kalian ternyata telah mencurigai setiap orang yang baru datang di tempat ini. Kalian telah mencurigai tiga orang pedagang batu akik dan besi bertuah yang berada di sekitar tempat ini, sejak di padukuhan yang masih agak jauh. Kalian mencurigai aku yang tinggal di padukuhan yang juga tidak terlalu dekat.”
Dan apalagi ketika diantara kami mendekati batu berwarna kehijauan itu? He, apakah hubungan antara batu yang berwarna kehijauan itu dengan benda yang paling berharga dari Kediri itu?”
“Persetan,” geram orang yang memiliki kemampuan menguasai tubuh orang lain dan mempergunakannya, “jangan banyak bicara. Kami memang sudah menduga, dari manapun asalnya, kalian tentu akan mengganggu kami. Karena itu, maka sudah sepantasnya jika kami berusaha mengusir kalian dengan cara-cara yang mampu kami lakukan. Sekarang ternyata kalian telah bertindak dengan langkah-langkah yang lebih kasar lagi. Seolah-olah kalian mempunyai wewenang untuk menangkap kami. Tetapi yang akan kalian lakukan tidak lebih dari membunuh diri.”
“Sekali lagi aku perintahkan, atas nama Sri Baginda di Kediri, menyerahlah. Segala sesuatu yang menyangkut dengan kalian, akan dilakukan oleh Sri Baginda sendiri,” berkata Tatas Lintang.
“Baiklah,” berkata Tatas Lintang kemudian karena sama sekali tidak ada tanggapan, “aku beri kesempatan kepada kalian untuk membicarakan agar keputusan yang kalian ambil tidak akan kalian sesali di kemudian.”
Orang-orang yang berada di padepokan itu masih tetap berdiam diri. Tetapi sebenarnyalah bahwa mereka tidak sekedar diam. Para pemimpin di padepokan itu telah memerintahkan semua orang didalam padepokan itu untuk bersiap.
Sementara itu, dua orang diantara para pemimpin di regol itu telah dengan langkah yang cepat menuju ke barak induk dari padepokan itu. Seorang diantara keduanya berpesan dengan kawannya yang tinggal, “Usahakan untuk menunda gerakan mereka beberapa saat. Aku akan berhubungan dengan Panembahan.”
Kawannya mengangguk. Sementara itu, kedua orang yang lain berusaha untuk menemui seseorang yang disebutnya sebagai Panembahan.
Orang yang disebut Panembahan itupun kemudian berkata, “Tidak ada cara lain. Hancurkan mereka. Aku akan bertanggung jawab jika Kediri akan mengambil tindakan balasan. Masih ada waktu untuk memikirkannya.”
“Baik Panembahan,” jawab salah seorang dari kedua pemimpin itu, “jika demikian kita memang akan menghancurkan mereka.”
Demikianlah maka para pemimpin dipadepokan itu telah mendapatkan satu keputusan. Mereka akan menghancurkan para prajurit Pakuwon Lemah Warah yang akan memasuki padepokan itu.
Karena orang-orang padepokan itu sama sekali tidak menghiraukan perintah Tatas Lintang, maka Akuwu Lemah Warah itupun telah mengambil satu keputusan untuk menyerang padepokan itu. Dengan kelompok-kelompok yang berada di depan padepokan itu, maka Tatas Lintang telah bersiap sepenuhnya.
Sementara itu. sebenarnyalah pasukan Tatas Lintang yang berada di seputar padepokan itu hampir tidak sabar lagi. Mereka tidak banyak mendengar pembicaraan antara Tatas Lintang dengan orang-orang di padepokan itu.
Namun akhirnya Tatas Lintang pun sampai kepada batas kesabarannya. Katanya, “Aku tidak mempunyai waktu lagi. Jawablah sekarang perintahku. Menyerahlah.”
“Persetan,” teriak orang bertongkat di padepokan itu setelah mendapat kepastian sikap Panembahan, “marilah. Jika kalian ingin membunuh diri biarlah kami membantunya.”
Tatas Lintang tidak bertanya lagi. Diperintahkannya dua orang diantara prajuritnya untuk meniup sangkakala. Pertanda bahwa pasukan Tatas Lintang itu harus bersiap untuk menyerang.
Semua prajurit pun telah bersiap pula. Suara sangkakala telah menggema melingkari padepokan itu sehingga semua prajurit telah mendengarnya. Dengan tegang mereka menunggu isyarat berikutnya, sebagai pertanda untuk menyerang.
Ketegangan pun segera telah meningkat. Semua senjata telah bergetar di tangan. Dan kaki pun telah bersiap untuk meloncat.
Tatas Lintang masih menunggu sejenak, ia memberi kesempatan semua prajuritnya berada pada kesiagaan tertinggi sebelum isyarat menyerang dibunyikan.
Ketika menurut perhitungan Tatas Lintang semuanya telah bersiap, maka ia telah memerintahkan untuk sekali lagi meniup sangkakala.
Demikianlah ketika suara sangkakala itu menggema, maka pasukan dari Lemah Warah itupun telah meloncat menyerang. Yang bergerak lebih dahulu adalah mereka yang berada di depan pintu gerbang Padepokan itu. Beberapa kelompok kecil dengan kelengkapan pertanda kebesaran Pakuwon Lemah Warah, serta pelimpahan kuasa Kediri telah bergerak dengan cepat menuju ke pintu gerbang.
Namun di pintu gerbang itu para penghuni padepokan itupun telah bersiap pula. Bahkan di sebelah menyebelah gerbang, beberapa orang telah siap diatas dinding dengan busur dan anak panah.
Orang-orang padepokan itu sama sekali tidak merasa gentar melihat kehadiran pasukan yang tidak begitu banyak itu. Bahkan beberapa orang diantara mereka sempat menjadi heran, bahwa pasukan yang itu telah membawa pertanda kebesaran Lemah Warah, dan bahkan Kediri.
Sejenak kemudian maka di depan pintu gerbang itupun telah terjadi benturan antara kedua pasukan. Orang-orang padepokan itu menunggu dengan tenang di pintu gerbang. Mereka yakin, jika pasukan Lemah Warah itu tidak menyingkir, maka mereka akan membunuh sampai orang yang terakhir.
Dalam pertempuran itu, Tatas Lintang, Mahisa Murti Mahisa Pukat, Mahisa Ura dan Panglima pasukan Pengawal Khusus dari Lemah Warah telah langsung melibatkan diri. Untuk memasuki pertempuran, mereka masih belum mempergunakan kemampuan ilmu mereka yang nggegirisi. Tetapi mereka masih mempergunakan senjata sewajarnya sebagaimana para prajurit yang lain.
Di tangan Tatas Lintang digenggam sebatang tombak pendek, sementara Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah mempergunakan pedang pilihan sedangkan Panglima Pasukan Khusus Pakuwon Lemah Warah itu telah mempergunakan sebilah luwuk yang besar dengan perisai di tangan kiri.
Dengan kemampuan olah senjata yang tinggi, maka mereka telah berusaha untuk memecahkan pertahanan orang-orang Padepokan itu, sementara para pemimpin padepokan itupun belum sempat mempergunakan kemampuan ilmu mereka karena benturan yang hiruk pikuk.
Namun akhirnya, pemimpin padepokan itu telah memerintahkan agar orang-orangnya menahan agar pasukan Lemah Warah tidak sempat memasuki padepokan.
“Usir mereka keluar.” teriak orang bertongkat, “kita akan membunuh mereka diluar padepokan. Jangan kotori padepokan ini dengan darah mereka.”
Orang-orang padepokan itu telah berusaha justru mendesak pasukan Lemah Warah. Orang-orang yang berdiri diatas dinding padepokan sebelah menyebelah regol telah berusaha untuk mendesak pasukan Lemah Warah dengan anak panah.
Namun para prajurit Lemah Warah mampu melawan anak panah yang meluncur seperti hujan. Sebagian dari mereka mempergunakan perisai sementara yang lain mampu menangkis anak panah yang meluncur itu dengan senjata-senjata mereka.
Pertempuran di pintu gerbang itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Para pemimpin padepokan itupun telah berada di pintu gerbang pula. Jika para pemimpin dari Lemah Warah itu mendesak orang-orang padepokan itu, maka para pemimpin merekalah yang akan menahannya.
Namun orang-orang padepokan itu terkejut ketika mereka mendengar sekali lagi suara sangkakala. Suara yang nyaring memekik menggetarkan udara.
“Apalagi yang akan terjadi?” bertanya orang-orang padepokan itu.
Sebenarnyalah perintah itu diperuntukkan bagi para prajurit yang berada di seputar padepokan. Tatas Lintang telah memerintahkan dua orang peniup sangkakala, bahwa mereka harus membunyikannya pada saat pasukan di pintu gerbang itu sudah terlibat dalam pertempuran.
Sejenak kemudian orang-orang padepokan itu tercenung. Mereka mendengar sorak yang mengguntur di sekitar padepokan mereka. Namun mereka terlambat menyadari, bahwa serangan dapat saja datang melalui segala arah.
Karena itulah, maka orang-orang padepokan itu tidak siap menerima serangan itu. Orang-orang yang bertugas berjaga-jaga di sudut padepokan. memang melihat orang-orang yang kemudian berloncatan dari balik gerumbul-gerumbul dan langsung meloncati dinding padepokan.
Pertempuran memang telah terjadi. Orang-orang padepokan yang lain, yang sempat menarik diri dari sekitar pintu gerbang telah berusaha untuk menyongsong mereka. Tetapi para prajurit Lemah Warah sebagian telah berhasil memasuki padepokan.
Sejenak kemudian memang terjadi kekacauan didalam padepokan. Beberapa orang pemimpin yang berada di sekitar regol memang telah menarik diri untuk mengatasi keributan yang terjadi. Namun para prajurit Lemah Warah yang berada didalam padepokan telah memencar dan menyerang isi barak-barak yang tersisa.
Dengan demikian maka pertempuran telah merata. Sebagian dari prajurit Lemah Warah telah menuju ke pintu gerbang. Mereka telah menyerang orang-orang padepokan yang berkumpul di belakang pintu gerbang untuk menunggu pasukan Lemah Warah.
Namun ternyata bahwa mereka telah mendapat serangan justru dari arah belakang mereka.
Sementara itu, sebagian dari prajurit Lemah Warah memang masih berada diluar padepokan. Mereka mendapat tugas untuk menjaga agar tidak ada seorang pun yang dapat lolos. Namun jika diperlukan mereka akan dapat ditarik untuk memasuki padepokan itu juga.
Untuk beberapa saat yang terjadi adalah perang brubuh. Perang yang hiruk pikuk.
Semakin lama maka arena pun menjadi semakin luas. Bahkan kemudian pertempuran pun terjadi di scluruh sudut padepokan. Orang-orang padepokan yang semula berada di sekitar pintu gerbang telah memencar pula untuk melawan para prajurit Lemah Warah.
Demikian pula para pemimpin padepokan itu. Mercka pun telah berpencar untuk mengatasi kebingungan yang untuk sementara terjadi di padepokan.
Namun dalam hiruk pikuk itu. terdapat sebuah bangunan yang sepi. Tidak seorang pun mengerti, kenapa di sekitar dan didalam rumah yang satu itu tidak terjadi pertempuran. Pasukan Lembah Warah yang bertempur di seluruh lingkungan padepokan, tanpa sadar telah menghindari rumah itu.
Orang-orang padepokan itu sendiri, yang melawan para prajurit Lemah Warah dimanapun mereka bertemu, tidak pula berada di sekitar rumah itu, karena di tempat itu tidak terdapat prajurit Lemah Warah. Mereka bertempur diantara dinding-dinding barak dan diantara pepohonan di halaman dan kebun padepokan. Menyusup diantara gerumbul-gerumbul perdu dan rumpun bambu, berkejaran di antara lorong-lorong sempit.
Sekelompok prajurit yang menghadapi sekelompok orang-orang padepokan itu telah bertempur dengan garangnya. Ternyata seperti yang telah diperhitungkan, bahwa orang-orang di padepokan itu memiliki kemampuan yang memadai. Mereka adalah murid-murid terpercava dari beberapa perguruan yang telah berada di satu padepokan.
Namun seperti perintah Tatas Lintang, yang dibawa oleh Panglima Pasukan Pengawal Khusus itupun prajurit-prajurit yang terpilih pula. Seandainya Tatas Lintang tidak memanggil orang-orang terbaik dari Lemah Warah. maka keadaannya akan berbeda. Korban akan berjatuhan. Dan prajurit Lemah Warah pun akan merasa bahwa mereka tidak akan mampu mengimbangi lawan mereka.
Tetapi para prajurit terpilih itu telah mendapat latihan khusus, sehingga tubuh dan jiwa mereka telah ditempa dengan laku yang berat.
Ketika seorang prajurit yang tergeser dari kelompoknya menyuruk diantara rumpun bambu yang lebat, tiba-tiba saja dihadapannya telah berdiri seorang laki-laki yang berjambang lebat. Rambutnya yang keriting terurai di pundaknya. Seutas tali melilit di dahinya, sementara di lehernya bergantungan berbagai macam benda yang dianggapnya memiliki kekuatan yang akan dapat mempertebal tataran kemampuan dan ilmunya.
Prajurit Lemah Warah itu memang menjadi berdebar-debar melihat ujud orang itu. Tetapi ketika ia diluar sadarnya melihat ujung pedangnya. maka hatinya mulai mapan, ia menyadari kedudukannya, ia adalah prajurit pilihan dari Lemah Warah.
Sesaat keduanya saling berpandangan. Namun kemudian terdengar orang itu menggeram, “Kau tidak mempunyai kesempatan untuk lari tikus kecil.”
Jantung prajurit itu memang berguncang mendengar kata-kata orang itu. Namun sekali lagi ia memandang ujung pedangnya yang runcing melampui ujung duri landak. Kemudian terdengar suaranya dengan nada rendah, “Kau mencoba untuk menyembunyikan rasa takutmu dengan ancaman-ancaman seperti itu?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Hampir diluar sadarnya ia berdesis, “Takut? Apa artinya takut he? Apalagi menghadapi tikus kecil seperti kau ini?”
Tetapi prajurit itupun tertawa, “Kau sadar, bahwa kau berhadapan dengan prajurit pilihan dari Pakuwon Lemah Warah. Itulah sebabnya kau harus berusaha untuk membesarkan hatimu sendiri.”
“Gila,” orang itu mengumpat, “bagaimana mungkin kau dapat berkata seperti itu? Apa artinya bagiku, prajurit pilihan dari Lemah Warah. Kenapa bukan Akuwu itu sendiri yang datang ke hadapanku.”
“Kita berada di arena pertempuran Ki Sanak,” jawab prajurit itu sambil mengacukan ujung pedangnya yang runcing tajam, “jangan mengigau seperti itu.”
Orang berjambang itu mengangguk kecil. Senjatanya pun mulai terangkat. Sebuah bindi yang besar.
“Kau akan aku lumatkan sebelum kau sempat berteriak minta tolong kepada kawan-kawanmu,” geram orang itu.
Prajurit Lemah Warah itu tidak menjawab. Tetapi pedangnya pun mulai bergetar. Perlahan-lahan ujungnya telah bergeser mengarah ke dada orang berjambang itu.
Namun tiba-tiba prajurit itu harus meloncat surut. Lawannya telah mulai menyerangnya dengan mengayunkan bindinya yang besar dan berat, namun yang nampaknya tidak lebih berat dari sepotong lidi saja ditangannya.
Karena bindi itu tidak mengenai sasarannya, maka yang terdengar kemudian adalah suara, gemerasak batang-batang bambu yang berpatahan.
Prajurit itu menjadi berdebar-debar. Kekuatan orang itu memang luar biasa. Namun ia tidak mau dianggap lebih lemah. Karena itu, maka iapun telah mempergunakan kesempatan yang terbuka untuk menyerang lawannya justru pada saat bindi itu sedang terayun mematahkan pohon-pohon bambu.
Orang berjambang itu memang tidak sempat menangkis serangan yang datang begitu cepatnya. Karena itu, maka iapun telah meloncat pula surut.
Yang terjadi juga mengejutkan. Ketajaman pedang itu ternyata telah sempat menebas putus beberapa batang pohon bambu.
Keduanya pun kemudian telah berhadapan lagi dalam kesiagaan penuh. Namun keduanya telah melihat kelebihan masing-masing, sehingga karena itu, maka mereka pun menjadi semakin berhati-hati.
Prajurit pilihan dari Lemah Warah itu menyadari bahwa bindi lawannya itu akan dapat mematahkan tulang-tulangnya jika ia tersentuh ayunannya. Sebaliknya orang berjambang itu sadar sepenuhnya bahwa goresan ujung pedang prajurit itu akan dapat mengoyak kulit dagingnya.
Karena itu, ketika keduanya kemudian bertempur, maka keduanya menjadi semakin berhati-hati. Orang yang memegang bindi itu tidak lagi dapat sekedar mempercayakan diri kepada kekuatannya, karena kecepatan gerak prajurit itu ternyata sangat berbahaya baginya.
Dengan demikian maka pertempuran antara keduanya pun menjadi semakin seru. Meskipun keduanya tidak lagi berloncatan dengan cepat dan selalu berusaha mengekang diri, namun ternyata bahwa keduanya telah mengguncang rumpun-rumpun bambu di sekitar mereka.
Dibagian lain, sekelompok kecil orang-orang padepokan itu telah mencoba menjebak beberapa orang prajurit yang terperosok ke dalam kolam. Namun dengan cepat para prajurit itu berhasil membebaskan diri. Ketika orang-orang padepokan yang berusaha menjebaknya itu berloncatan menyerang, sebagian dari para prajurit itu telah berada di-darat, sehingga mereka mampu untuk sementara melindungi kawan-kawannya yang berusaha naik pada dinding kolam yang licin.
Namun dengan pertolongan senjata mereka, maka akhirnya mereka berhasil mencapai tanggul kolam itu dan dengan serta merta telah terjun ke dalam pertempuran pula.
Ternyata bahwa sekelompok orang-orang padepokan itu memiliki ilmu yang memadai. Dengan senjata mereka yang khusus berupa tongkat-tongkat panjang, mereka telah melawan beberapa orang prajurit yang bersenjata pedang dan tombak pendek.
Ketika para prajurit yang yakin akan kemampuan diri itu berpencar, maka orang-orang bertongkat itupun berpencar pula. Sehingga akhirnya, pertempuran itupun telah menebar di arena yang luas.
Dibagian lain, orang-orang padepokan itu yang tidak bersenjata tongkat, tetapi bersenjata parang-parang yang besar merasa bahwa mereka sempat menyergap beberapa orang prajurit Lemah Warah yang jumlahnya lebih sedikit. Mereka merasa bahwa dalam waktu singkat mereka akan sempat menghancurkan para prajurit itu.
Namun para prajurit yang tersudut itu tidak membiarkan diri mereka menjadi umpan pembantaian orang-orang padepokan itu. Dengan segenap kemampuan mereka telah mempertahankan diri meskipun jumlah mereka lebih sedikit.
Tetapi sejenak kemudian, maka keadaan pun cepat berubah. Sekelompok lain para prajurit Lemah Warah telah datang pula dan membantu kawan-kawannya yang terjebak itu.
Keseimbangan pun segera berbalik. Orang-orang padepokan itulah yang telah terdesak. Namun mereka pun telah bertempur dengan segenap kemampuan mereka. Ternyata orang-orang padepokan itu yang tidak bersenjata tongkat pun, memiliki kemampuan yang cukup tinggi. Sehingga dengan demikian maka pertempuran itupun menjadi semakin seru.
Demikianlah pertempuran telah tersebar dimana-mana didalam padepokan itu. Orang-orang padepokan itu tidak menyangka, bahwa pasukan Lemah Warah pun semakin lama terasa menjadi semakin banyak. Bahkan rasa-rasanya telah mengimbangi jumlah para penghuni padepokan yang terdiri dari beberapa perguruan itu.
Namun orang-orang padepokan itu merasa diri mereka murid dari perguruan yang linuwih, yang jarang ada duanya di seluruh Kediri, bahkan Singasari. Karena itu, maka mereka pun merasa akan mampu mengatasi kedatangan para prajurit dari Lemah Warah.
Tetapi kenyataan yang terjadi telah mendebarkan jantung orang-orang padepokan itu. Ternyata prajurit-prajurit Lemah Warah adalah benar-benar prajurit pilihan yang secara pribadi mampu mengimbangi orang-orang padepokan yang terdiri dari beberapa perguruan itu.
Bahkan semakin lama tekanan para prajurit itu menjadi semakin berat, sehingga di beberapa bagian dari padepokan itu, mereka telah mulai terdesak.
Namun para pemimpin dari padepokan itu selalu meneriakkan aba-aba, agar orang-orangnya tidak perlu gentar menghadapi para prajurit. Mereka memang memiliki kemampuan dalam pertempuran gelar. Tetapi sendiri-sendiri mereka tidak berarti apa-apa.
Orang-orang padepokan itu mencoba untuk mempercayainya. Namun yang mereka jumpai adalah lain. Seorang-seorang para prajurit itu tetap merupakan orang yang sangat berbahaya bagi orang-orang padepokan itu.
Sementara itu, para pemimpin dari kedua belah pihak masih belum terlibat langsung ke dalam pertempuran, apalagi diantara mereka. Kedua belah pihak masih berusaha untuk mengatur orang-orang mereka masing-masing sehingga tidak terjadi kesalahan yang dapat mengakibatkan kesulitan bagi pasukannya.
Di beberapa tempat, pertempuran terjadi dalam bentuk yang berbeda. Orang berjambang lebat dan bersenjata bindi itu masih bertempur dengan seorang prajurit yang bersenjata pedang yang sangat tajam.
Sementara sekelompok orang-orang padukuhan itu mencoba bertahan dari sergapan sekelompok prajurit yang lebih banyak jumlahnya.
Dibagian lain seorang prajurit yang lengah telah terlempar karena sebatang tongkat yang mengenai tengkuknya. Namun di dekatnya seorang penghuni padepokan itu memekik tertahan ketika ujung pedang seorang prajurit mengoyak dadanya.
Seorang yang bertubuh tinggi besar dan berdada bidang tiba-tiba saja sudah berdiri dihadapan Mahisa Pukat. Senjata orang itu yang berupa tongkat besi yang panjang terayun-ayun mengerikan. Dengan suara bergetar ia berkata, “Tundukkan kepalamu. Aku akan memecahkan kepalamu.”
Mahisa Pukat termangu-mangu. Yang berdiri dihadapannya adalah orang yang bertubuh raksasa. Tongkat besi yang besar dan panjang itu seolah-olah tidak berbobot di tangannya yang besar dan berbulu lebat.
Beberapa saat lamanya Mahisa Pukat bagaikan membeku. Dipandanginya saja orang bertubuh tinggi besar itu. Namun agaknya orang itu benar-benar menjadi buas.
“Cepat,” teriak orang itu, “aku masih berbaik hati untuk membunuhmu. Atau aku akan memperlakukan kau dengan cara yang khusus mengulitimu dan kemudian merendammu di air garam?”
Mahisa Pukat masih belum menjawab, sehingga orang itu menjadi marah, “Apa kau bisu he?”
Mahisa Pukat tetap terdiam.
Karena itu, maka orang itupun menjadi marah. Dengan serta merta maka iapun telah menyerang. Diayunkannya tongkat besinya yang besar dan berat itu ke arah leher Mahisa Pukat.
Dengan sigapnya Mahisa Pukat merendahkan dirinya, ia masih mendengar orang bertubuh raksasa itu mengumpat. Namun umpatan itu tiba-tiba telah terdiam. Ternyata sambil menghindari ayunan tongkat besi yang besar dan panjang itu.
Mahisa Pukat telah menjulurkan pedangnya, langsung mengenai dada orang itu dan menembus membelah jantung.
Yang terdengar kemudian adalah tubuh yang besar itu roboh di tanah dan tidak bergerak sama sekali.
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya, ia sendiri merasa heran. Demikian cepatnya ia menyelesaikan raksasa yang berteriak-teriak itu. Namun yang ternyata lebih banyak mempergunakan mulutnya daripada otaknya.
Dengan demikian Mahisa Pukat telah kehilangan lawannya. Ia pun segera bergeser menuju ke arena yang hiruk pikuk. Pertempuran antara kelompok-kelompok pasukan yang ada di padepokan itu.
Mahisa Murti telah terdampar ke sudut yang lain. Dua orang telah menyergapnya dengan senjata yang mengerikan. Seorang membawa canggah bertangkai panjang, yang lain membawa tombak berkait. Senjata yang tidak banyak dipergunakan.
Ketika kedua orang itu menyerangnya dengan garang, Mahisa Murti sempat bertanya, “Darimana kau dapat senjata seperti itu he?”
“Persetan,” geram orang yang membawa canggah bertangkai panjang.
“Apakah kalian mendapatkannya dari orang-orang asing yang pernah datang ke pasisir dan mudik di bengawan?” bertanya Mahisa Murti.
“Apa pedulimu,” geram orang yang bersenjata tombak berkait.
Mahisa Murti tidak bertanya lebih jauh. Ia harus berloncatan menghindari serangan kedua orang yang bersenjata bertangkai panjang itu. Canggah yang dipergunakan oleh lawannya adalah canggah yang tajam di bagian dalamnya. Sementara tombak berkait itu tajam di segala sisinya.
Namun Mahisa Murti memiliki kemampuan yang tinggi dalam ilmu pedang, sehingga ia mampu mengimbangi kedua senjata lawannya yang bertangkai panjang itu.
Namun dalam pada itu, tiga orang prajurit telah bertempur dengan seorang yang bersenjata tongkat yang di pangkalnva terdapat batu yang berwarna kehijauan. Tiga orang prajurit yang bersenjata pedang itu sama sekali tidak mampu menahan ayunan tongkat yang berkepala batu itu. Sekali-sekali batu itu bagaikan bercahaya menyilaukan. Namun tiba-tiba saja batu itu telah menyambar kepalanya.
Seorang di antara ketiga prajurit itu telah mengalami nasib yang buruk. Ketika pangkal tongkat itu terayun ke arah kepalanya, matanya yang silau masih belum sempat melihat dengan jelas apa yang sedang dihadapinya. Namun yang terdengar kemudian adalah benturan yang keras dan pekik tertahan. Prajurit itu terlempar beberapa langkah dan mati di tempatnya terbaring.
Kedua orang kawannya menggeram. Namun orang bertongkat itu memang orang yang memiliki ilmu yang tinggi.
Di bagian lain pertempuran menjadi semakin sengit. Kedua belah pihak masih belum sempat mencari orang-orang terpenting dari kedua belah pihak. Mereka masih melawan siapa saja yang bertemu di medan. Jika sekiranya lawannya memiliki ilmu yang tinggi, maka setiap kelompok berusaha untuk melawan berpasangan atau lebih.
Ketika pertempuran mulai merata, maka para pemimpin dari kedua belah pihak pun mulai memperhatikan keseluruhan arena. Mereka mulai mengamati kemungkinan-kemungkinan yang pantas untuk memilih lawan.
Mahisa Ura yang sedang bertempur melawan dua orang penghuni padepokan itupun mulai menjadi sasaran pengamatan para pemimpin padepokan itu. Namun Mahisa Ura memang memiliki kemampuan ilmu pedang yang memadai. Pedangnya berputaran dengan cepatnya bagaikan baling-baling. Bahkan kemudian semakin cepat mengitari dirinya, seolah-olah bagaikan gumpalan asap yang menyelubungi tubuhnya yang bergeser-geser dengan cepatnya.
Seorang yang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan memandanginya dengan kening yang berkerut. Dengan suara yang datar ia berkata kepada seorang kawannya, “Orang itu agaknya memiliki kelebihan dari prajurit-prajurit yang lain, meskipun ia tidak mengenakan pakaian prajurit.”
“Ia salah seorang dari empat orang yang tinggal bersama-sama di pategalan itu. Seorang di antaranya ternyata adalah Akuwu Lemah Warah,” jawab kawannya.
“Aku akan mencoba menghadapinya,” desis orang bertubuh tinggi itu, “aku adalah murid terpercaya dari perguruanku. Akulah wakil guru jika guru tidak ada.”
“Tetapi berhati-hatilah,” desis kawannya.
Orang bertubuh tinggi agak kekurus-kurusan itupun kemudian melangkah mendekati Mahisa Ura. Ia sadar, bahwa orang itu adalah salah seorang dari tiga orang yang berada bersama-sama dengan Tatas Lintang yang sebenarnya adalah Akuwu Lemah Warah, yang oleh kawannya yang lain disebut, sebelum orang itu berada bersama Tatas Lintang, ia telah berada di beberapa banjar padukuhan untuk memperdagangkan wesi aji dan batu-batu bertuah. Namun orang itupun sadar, bahwa yang dilakukannya tentu hanya sekedar cara untuk melakukan tugas yang terselubung. Mungkin bersangkutan dengan batu yang berwarna kehijauan itu tetapi mungkin juga berhubungan dengan keberadaan orang-orang dari beberapa perguruan di padepokan itu.
Tetapi orang yang bertubuh tinggi agak ke kurus-kurusan itupun kemudian berkata kepada diri sendiri, “Aku membawa bekal yang cukup. Aku akan menyelesaikannya dengan baik sebagaimana tugas-tugasku yang lain.”
Sejenak kemudian, maka orang yang bertubuh tinggi kekurus-kurusan itupun dengan langkah tetap mendekati Mahisa Ura.
Langkahnya tertegun ketika ia melihat seorang lawan Mahisa Ura itu terlempar jatuh. Sekali ia berguling sambil mengaduh. Senjatanya telah terlepas dari tangannya dan terhempas beberapa langkah dari padanya.
Dengan demikian yang seorang lagi menjadi ragu-ragu. Meskipun orang itu tidak melarikan diri, tetapi ia masih berusaha untuk tetap mengambil jarak.
Namun selagi orang itu masih ragu-ragu, orang yang bertubuh tinggi ke kurus-kurusan itupun telah mendekatinya sambil berkata, “Minggir. Biarlah orang itu aku selesaikan.”
Orang yang kehilangan kawannya itu termangu-mangu. Namun ia mengerti bahwa orang yang bertubuh tinggi kekurus kurusan itu adalah seorang yang berilmu tinggi. Karena itu, maka iapun tidak membantah. Bahkan ada semacam rasa terima kasih di dalam hatinya, bahwa dengan demikian ia sudah terlepas dari lawannya yang mendebarkan itu.
Mahisa Ura pun tertegun sejenak. Dipandanginya orang yang melangkah mendekatinya. Dengan bekal pengetahuan tentang olah kanuragan, maka Mahisa Ura pun dapat mengenali, bahwa orang itu tentu memiliki kelebihan dari orang kebanyakan. Sehingga karena itu, maka iapun merasa harus berhati-hati menghadapinya.
Sambil menarik nafas dalam-dalam orang bertubuh tinggi itu bertanya dengan nada berat, “Siapakah kau sebenarnya Ki Sanak.”
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar