Senin, 04 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 032-02

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 032-02*

Namun akibat yang terjadi pada lawannya ternyata jauh lebih parah. Ternyata bahwa kekuatan dan kemampuan ilmu Tatas Lintang benar-benar melampaui lawannya.

Kekuatan dari ilmu lawan Tatas Lintang yang kemudian bagaikan telah dipusatkan pada rantai besinya yang terayun bagaikan sebatang tongkat baja ternyata dipecahkan oleh kekuatan dari ilmu Tatas Lintang dalam benturan yang terjadi. Rantai besi yang terayun dengan kekuatan sebatang tongkat baja itu telah kehilangan kekuatannya sehingga karena itu, maka rantai besi itu tidak lagi dapat tegak sebagai batang tongkat baja, tetapi kekuatannya dan kemampuan ilmu yang pecah itu telah menjadi rantai itu sebagaimana seutas rantai.

Karena itu, maka rantai itu telah membelit tongkat kayu Tatas Lintang yang retak pada benturan itu meskipun tidak patah. Pada saat Tatas Lintang menghentakkan tongkatnya, maka rantai yang membelit itu telah terlepas dari tangan lawannya dan yang kemudian telah terurai pula dari belitannya dan jatuh di tanah.

Sementara itu, kekuatan dan ilmunya yang telah dipecahkan oleh Tatas Lintang itu seakan-akan telah berbalik menghantam bagian dalam tubuhnya sendiri sehingga terasa seolah-seolah isi dadanya telah dirontokkan karenanya.

Terdengar sebuah keluhan tertahan, sementara tubuh lawan Tatas Lintang itu telah terlempar oleh kekuatannya sendiri yang memantul pada benturan yang dahsyat yang justru telah memecahkan kekuatan dari ilmunya itu.

Sekali lagi orang itu terbanting jatuh tidak saja berguling sebagaimana yang pernah terjadi, tetapi tubuhnya benar-benar bagaikan dihentakkan dengan kuat.

Karena itulah, maka orang itu tidak sempat bangkit sama sekali sebagaimana dilakukan sebelumnya. Matanya bukan saja terasa berputar, tetapi kesadarannya pun telah terenggut oleh benturan itu. Orang itu ternyata telah menjadi pingsan sementara bagian dalamnya telah terluka parah.

Keempat kawannya dengan serentak meloncat mendekatinya. Seperti yang mereka lakukan sebelumnya, dua orang telah berjongkok di sisi tubuh yang terbaring itu, sementara dua orang yang lain telah bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Ternyata orang itu tidak bergerak. Kedua kawannya telah mengguncang-guncang tubuh yang pingsan itu. Namun untuk beberapa lamanya mata orang itu tetap terpejam.

Tatas Lintang yang masih bertelekan pada tongkatnya itu-pun menarik nafas dalam-dalam. Sekali, dua kali sehingga nafasnya pun telah mengalir semakin lancar dan wajar.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun mendekatinya. Dengan nada datar Mahisa Murti bertanya, “Bagaimana keadaanmu?”

Tatas Lintang tersenyum. Katanya, “Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk kecil, sementara itu Tatas Lintang telah mengangkat tongkatnya sambil berdesis, “Lihat, tongkat ini retak. Orang itu memang mempunyai kekuatan yang luar biasa.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengamati tongkat kayu yang dicabut dari pagar pasar itu. Tongkat itu memang retak. Namun Mahisa Murti berkata, “Kami tahu, kau belum mempergunakan ilmumu yang kau tularkan kepadaku, menyerang dari jarak tertentu. Dan sekarang kami menyaksikan tongkat kayu yang kau cabut dari pagar itu hanya retak dan tidak patah dalam benturan yang demikian kerasnya. Bahkan tongkat ini telah mampu memecahkan kekuatan dan kemampuan ilmu lawanmu yang tersalur pada rantai besinya yang jauh lebih kuat dari sekedar sebatang kayu pagar saja.”

Tatas Lintang mengerutkan keningnya. Namun kemudian iapun tersenyum pula sambil menjawab, “Tetapi ingat. Orang itupun tentu bukan orang terbaik dari kelompoknya. Namun aku yakin, bahwa kalian bertiga akan mampu bertahan melawan orang-orang yang memiliki kemampuan setataran dengan orang itu. Seandainya orang itu memilih salah seorang di antara kalian untuk melawannya, aku yakin bahwa kalian akan mampu memenangkannya.”

“Kecuali aku,“ desis Mahisa Ura.

“Jangan merasa diri terlalu kecil,“ jawab Tatas Lintang.

Sementara itu, kedua orang kawan dari orang yang pingsan itu berusaha untuk membangunkan kawannya. Namun untuk beberapa saat orang itu masih tetap diam dengan mata terpejam.

“Cari air,“ desis Tatas Lintang tiba-tiba, “ia akan sadar, meskipun barangkali ia akan mengalami kesulitan.”

Kawan-kawannya termangu-mangu. Namun kemudian seorang di antara mereka telah melangkah ke warung yang mereka tinggalkan sebelumnya. Ketika ia keluar maka ia telah membawa air di dalam mangkuk kecil. Sambil berjongkok di samping kawannya yang pingsan itu, maka iapun telah menitikkan air ke dalam mulutnya. Setetes-setetes. Sehingga beberapa saat kemudian, iapun mulai berdesah.

Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itupun melangkah mendekat. Namun kawan-kawan orang yang pingsan itu telah bersiaga sepenuhnya untuk melawan mereka.

“Aku tidak akan berbuat apa-apa,“ berkata Tatas Lintang, “jika kalian berbuat bodoh, maka nasib kalian semuanya akan sama seperti kawanmu itu. Bahkan mungkin menjadi lebih parah. Karena itu jangan berbuat apa-apa.”

Keempat orang itu termangu-mangu. Namun mereka pun menyadari, bahwa yang dikatakan orang bertongkat sebatang kayu yang dicabutnya dari pagar pasar itu bukan sekedar menakut-nakutinya. Kawan mereka yang mereka anggap memiliki kemampuan tertinggi di antara mereka pun tidak mampu melawannya. Apalagi mereka berempat.

Sebenarnyalah sejenak kemudian orang itu benar-benar telah sadar. Matanya mulai terbuka. Namun yang terdengar adalah keluhan yang tertahan-tahan.

Punggung orang itu serasa patah. Isi dadanya yang terguncang itupun terasa betapa sakitnya. Darahnya tidak mengalir sewajarnya sebagaimana pernafasannya.

Karena itu, maka tubuhnya masih tetap terbaring dengan lemahnya. Bahkan untuk menggerakkan ujung jarinya pun rasa rasanya ia masih belum mampu.

Tatas Lintang berdiri tegak beberapa langkah dari keempat orang yang sedang menunggui kawannya yang terluka parah itu. Dengan nada datar iapun kemudian berkata, “Ki Sanak. Aku tidak akan melanjutkan permusuhan saat ini. Aku tidak tahu, mungkin pada kesempatan lain kita akan bertemu lagi. Aku tahu bahwa kalian tentu mendendam, sementara kalian tidak akan mengalami kesulitan untuk menemukan pondokku. Namun aku sudah siap menunggu jika kalian memang bermaksud untuk datang. Karena sebenarnyalah aku ingin berkenalan lebih akrab dengan kalian. Sampai saat ini aku masih belum tahu siapakah kalian, karena kalian tidak mau berterus terang.”

“Tidak ada gunanya,“ geram salah seorang di antara keempat orang itu.

“Aku sudah mengira. Karena itu, aku tidak bertanya tentang kalian lebih jauh. Sekarang, aku minta diri. Demikian, juga ketiga orang kemanakanku ini.“ berkata Tatas Lintang kemudian, “sekali lagi aku katakan, bahwa kami sudah siap menunggu kehadiran kalian yang tentu mendendam. Tetapi jika kalian sekali lagi menjumpai aku, maka sikapku akan berubah. Aku bukan lagi orang yang baik hati yang mengampuni kalian seperti yang aku lakukan kali ini. Tetapi jika kalian datang lagi kepadaku, maka kalian akan mengalami nasib yang paling buruk, karena kami akan membunuh kalian.”

“Persetan,“ geram salah seorang dari keempat orang itu.

“Jangan terlalu kasar Ki Sanak,“ Mahisa Pukat lah yang menyahut, “jika kau tidak menjaga mulutmu, maka kau akan kembali tanpa mulut.”

Wajah orang itu menjadi merah padam. Tetapi melihat sikap Mahisa Pukat yang bersungguh-sungguh, maka orang itu tidak mengatakan sepatah katapun lagi. Namun tangannyalah yang meraba pedang di lambungnya.

Sejenak kemudian, maka Tatas Lintang pun telah meninggalkan kelima orang itu. Sekilas Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura masih berpaling ke arah orang-orang yang mereka tinggalkan. Orang yang terbaring sambil mengaduh tertahan itu masih juga dalam keadaannya, sementara yang lain pun kemudian telah mengerumuninya.

Beberapa langkah dari mereka berlima, Tatas Lintang berkata, “senjata orang itu memang luar biasa. Ia menganggap bahwa rantainya jauh lebih berbobot dari pedang di lambungnya. Pedang itu hanya untuk menakut-nakuti orang saja. Namun dalam keadaan yang gawat, ternyata ia mempergunakan rantainya.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengangguk-angguk. Sebenarnyalah orang yang pingsan itu sebagaimana kawan-kawannya membawa pedang di lambung. Namun agaknya ia lebih percaya kepada rantainya yang lentur, yang memiliki kemungkinan yang lebih banyak dari sebilah pedang.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti pun berkata, “Kau ternyata memiliki kemampuan bermain tongkat yang sangat tinggi. Bahkan kau telah mampu menjadikan tongkatmu menjadi senjata yang mampu mengimbangi kekuatan rantai baja yang dilambari pula dengan ilmu yang tinggi.”

Tatas Lintang memperhatikan tongkatnya. Namun kemudian katanya, “Kau pun akan mampu melakukannya.”

Namun Tatas Lintang itupun tiba-tiba telah menyandarkan tongkat yang telah retak itu pada pagar pasar. Sementara itu, ia-pun berkata sambil memandang warung yang masih terbuka namun sudah menjadi benar-benar sepi.

“Kita memberi bantuan kepada pemilik warung itu jika terjadi kerusakan. Karena kerusakan itu antara lain disebabkan karena kehadiran kita di warung itu. Dindingnya yang pecah dan setambir makanan tertumpah. Bahkan mungkin lebih banyak lagi.“ berkata Tatas Lintang.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengikutinya saja di belakang, ketika Tatas Lintang kemudian berbelok menuju ke kedai yang masih tetap terbuka, ditunggui oleh pemiliknya yang gemetar. Sebenarnyalah bahwa bukan maksudnya untuk tidak menutup warungnya. Tetapi karena kebingungan dan ketakutan, maka ia tidak lagi mampu berlaku dan berbuat sesuatu. Karena itulah maka pintu warungnya tetap terbuka.

Di pintu warung, Tatas Lintang berhenti. Dipanggilnya pemilik itu mendekat.

Tubuh pemilik warung yang sudah gemetar itu menjadi semakin gemetar. Ia merasa takut mendekati Tatas Lintang. Pemilik warung itu merasa bersalah telah dengan sengaja menyeret Tatas Lintang ke dalam keadaan yang sulit.

“Kenapa tidak kau tutup warungmu?“ bertanya Tatas Lintang.

Orang itu tergagap. Dengan suara sendat ia menjawab, “Ya. Ya. Aku akan menutupnya.”

Namun di luar dugaan orang itu, maka tiba-tiba saja Tatas Lintang telah menjulurkan beberapa keping uang sambil berkata, “Kau dapat memperbaiki dinding warungmu.”

“Oo,“ orang itu tidak segera menerima uang itu justru karena kebingungan. Namun Tatas Lintang telah mendesaknya, “Cepat, atau aku mengurungkan niatku untuk membantu kerusakan pada warungmu?”

“Oo, terima kasih,“ orang itu tergagap. Tetapi ia menerima uang itu dari Tatas Lintang.

“Nah, aku minta diri. Kau tidak perlu menyesali apa yang telah terjadi,“ berkata Tatas Lintang, “jika orang-orang itu menanyakan tempat tinggalku. Kau tidak usah merahasiakannya. Aku sudah siap menerimanya. Katakan saja di mana aku tinggal bersama ketiga orang kemanakanku ini. Aku dan tiga kemenakanku memang sudah siap menerimanya.”

Wajah pemilik kedai itu menjadi bingung. Namun Tatas Lintang menjelaskan, “Aku berkata sebenarnya. Tetapi jika kau tidak mau menunjukkan, maka kau akan mengalami banyak kesulitan.”

Pemilik kedai itu masih belum menjawab, sementara Tatas Lintang berkata lebih lanjut, “Orang-orang itu agaknya akan mendendam. Mereka akan mencari aku. Sementara itu kau sudah mengatakan bahwa kau tinggal sepedukuhan dengan aku. Karena itu maka mereka tentu akan menanyakannya kepadamu.”

Pemilik kedai itu termangu-mangu. Namun iapun telah mengerti maksud Tatas Lintang. Karena itu, maka iapun telah mengangguk kecil tanpa mengucapkan kata-kata sepatah pun.

“Baiklah,“ berkata Tatas Lintang, “sekarang kami akan pulang ke pondokku. Setiap saat aku dapat menerima siapa saja yang akan menjumpai aku.”

Pemilik warung itu nasih tetap diam. Namun sorot matanya menunjukkan campur baur perasaan di dalam hatinya. Antara menyesal, kecemasan dan ketakutan.

Tatas Lintang tidak menungguinya terlalu lama. Tapi ia kemudian meninggalkan pemilik warung itu diikuti oleh ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya.

Sementara itu, keempat orang yang masih menunggui kawannya yang baru saja sadar dari pingsannya, namun masih terlalu lemah untuk dapat bangkit itu, memandangi keempat orang yang berjalan semakin lama semakin jauh. Sebenarnyalah dendam memang telah membakar jantung mereka. Tetapi mereka juga merasa heran, bahwa keempat orang itu pergi begitu saja setelah kawannya itu menjadi pingsan.

“Tetapi itu adalah ujud dari kesombongan yang tidak ada taranya,“ berkata salah seorang di antara mereka.

Kawannya mengangguk-angguk, sedang orang yang berbicara itu berbicara terus, “Mereka terlalu yakin akan kemampuan mereka. Mereka tentu bermaksud untuk memancing orang, yang lebih baik dari kita untuk datang ke pondok mereka.”

“Kita akan melakukannya,“ sahut kawannya, “kita akan melaporkan semua yang telah terjadi. Maka orang itu tentu akan dihukum, sesuai dengan kesombongan mereka.”

Tetapi yang lain menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Kita akan menilai dengan wajar kemampuan orang itu.”

“Aku mengerti,“ jawab kawannya, “tetapi kita yakin bahwa orang itu akan dapat dihukum.”

Pembicaraan itupun terhenti ketika mereka mendengar kawannya yang baru sadar dari pingsannya itu merintih. Perhatian mereka pun kemudian tertuju kepada kawannya yang pingsan itu.

Sementara itu, Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya seperti kemanakannya itupun telah menuju ki pondok mereka. Sementara itu Mahisa Murti masih juga bertanya kepada Tatas Lintang, “Apakah kau memang terbiasa mempergunakan tongkat sebagai senjata? Dengan tongkat yang kau ambil dari pagar kau sudah mampu mengalahkan lawanmu yang berilmu tinggi. Apalagi jika kau mempergunakan tongkat yang khusus, yang memang dibuat sebagai senjata.”

Tatas Lintang mengerutkan keningnya, ia mengerti arah bicara Mahisa Murti. Karena itu, maka katanya Mahisa Murti, aku tidak terbiasa bersenjatakan tongkat. Tetapi aku memang dapat mempergunakan segala macam senjata. Senjata yang memang disediakan buat senjata, atau apapun yang aku dapatkan di arena jika lawanku memang bersenjata. Aku dapat bersenjata tongkat, maksudku sepotong kayu, mungkin dahan yang harus aku patahkan dari pepohonan, kayu pagar seperti yang telah aku pergunakan, atau sulur-sulur pepohonan, tambang atau apapun juga. Bahkan batu dan pasir. Aku kira bukan aku saja yang dapat melakukan hal yang demikian jika perlu. Kalian pun akan dapat melakukannya.”

“Tetapi caramu memutar tongkat memang menakjubkan sekali,“ desak Mahisa Murti.

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengerti apa yang tersirat pada kata-katamu. Kau menghubungkan tongkat yang kebetulan saja aku ambil dari pagar itu dengan tongkat yang selalu dibawa oleh sekelompok orang dari salah satu padepokan. Tegasnya, kau cemas bahwa aku adalah satu di antara orang-orang bertongkat di padepokan itu.”

Mahisa Murti lah yang kemudian menarik nafas. Namun ia tidak menjawab. Sementara itu Tatas Lintang pun berkata, “Nampaknya masih ada kesangsian di hati kalian. Tetapi hal itu dapat dimengerti, meskipun aku ingin memperingatkan, bahwa aku telah berusaha untuk membantu kalian, menemukan satu cara untuk melontarkan serangan ilmu kalian yang luar biasa dalam jarak tertentu. Aku memang bermaksud agar dengan demikian kalian tidak mencurigai aku lagi, sehingga kita akar dapat bekerja bersama-sama. Jika aku termasuk orang yang akan berdiri berseberangan dengan kalian, maka apakah artinya aku berusaha membantu kalian meningkatkan kemampuan kalian dalam olah kanuragan.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengangguk-angguk di luar sadarnya. Namun mereka pun merasa bahwa Tatas Lintang telah berbuat sebaik-baiknya untuk kepentingan mereka.

Karena itu, maka untuk sementara mereka akan dapat menghapus perasaan curiga itu.

Dengan demikian maka Mahisa Murti pun tidak bertanya apapun lagi. Sedangkan Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun kemudian berjalan saja dengan kepala tunduk di sebelah Mahisa Murti.

Keempat orang itupun kemudian berjalan dengan tanpa mengucapkan kata-kata. Mereka semakin mendekati padukuhan mereka.

Sejenak kemudian, maka mereka berempat pun telah berada di pondok kecil Tatas Lintang. Untuk menghilangkan kekakuan suasana, maka Tatas Lintang pun berkata, “Marilah kita membuat sebuah amben bambu untuk mengganti amben kita yang rusak.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun kemudian telah sibuk memotong dan membelah bambu untuk membuat amben dan sebuah lincak yang akan diletakkan di serambi pondok kecil itu.

Hampir sehari mereka bekerja keras. Namun akhirnya mereka telah dapat menyelesaikan sebuah amben besar dan lincak bambu yang mereka letakkan di serambi.

“Besok kita tinggal membuat galarnya,“ berkata Tatas Lintang, “namun dengan demikian malam nanti kita belum dapat mempergunakannya.”

Namun adalah di luar dugaan, ketika seseorang lewat di depan rumah kecil mereka, maka sikap orang itu jauh berbeda dengan sikap yang sebelumnya. Orang itu mengangguk sambil menyapa dengan ramah, “Marilah Ki Sanak. Apakah kalian tidak keluar?”

“Kami sedang menyiapkan sebuah amben,“ jawab Tatas Lintang.

“Oo.“ orang itu berkata selanjutnya, “di halamanku ada pring tutul. Mungkin dapat kalian buat lincak yang akan menjadi lebih baik dari pring wulung.”

“Terima kasih,“ berkata Tatas Lintang, “ini sudah cukup buat kami.”

Orang itu mengangguk hormat sambil berkata, “Sudahlah Ki Sanak Aku minta diri.”

Sepeninggal orang itu, Tatas Lintang mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Ceritera tentang kita tentu sudah tersebar. Orang-orang padukuhan ini sebagian tentu sudah mendengar. Mungkin tentang orang-orang yang memeras para petani yang tidak mempunyai sawah seperti kita. Tetapi mungkin juga peristiwa yang terjadi di pasar.”

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mengangguk-angguk. Tetapi seperti yang dikatakan oleh Tatas Lintang, bahwa mereka harus benar-benar telah siap untuk menghadapi segala kemungkinan.

Ketika kemudian senja turun, keempat orang itu sudah membenahi dirinya. Mereka mulai menyalakan lampu minyak di dalam pondok mereka.

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti yang menyalakan sebuah lampu minyak di regol pagar halaman terkejut ketika dilihatnya dua orang lewat dengan tergesa-gesa. Semula Mahisa Murti tidak begitu memperhatikan keduanya. Apalagi senja telah menjadi semakin suram. Namun iapun kemudian menjadi berdebar-debar. Dua orang itu menurut penglihatannya adalah dua orang yang dilihatnya juga berada di warung pada saat perselisihan terjadi.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kepada dirinya sendiri ia berkata, “Ternyata di daerah ini terdapat banyak kekuatan yang diliputi oleh rahasia. Mungkin karena padepokan itu mengundang banyak pihak untuk mengetahuinya lebih dalam. Tetapi mungkin juga dalam hubungannya dengan batu yang berwarna itu.”

Untuk beberapa saat Mahisa Murti masih berdiri di regol. Namun kemudian iapun tidak melihat lagi kedua orang yang berjalan tergesa-gesa itu, setelah keduanya berbelok pada sebuah tikungan.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian melangkah kembali masuk ke dalam pondok kecil yang dihuninya bersama dengan tiga orang lainnya.

Ketika mereka kemudian berkumpul, maka Mahisa Murti-pun telah mengatakan apa yang dilihatnya.

“Dua orang yang berada di warung bersama kita?“ bertanya Mahisa Pukat.

“Ya,“ jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Aku sudah menduga bahwa keduanya bukan orang kebanyakan. Sikap mereka menunjukkan bahwa mereka mempunyai landasan yang kuat sehingga mereka tetap tenang.”

“Agaknya mereka pun menaruh perhatian atas kita,“ berkata Mahisa Ura.

Mahisa Murti mengangguk. Katanya, “Agaknya memang demikian. Aku menduga, bahwa keduanya mengamati saat-saat kita berhadapan dengan kelima orang itu. Tetapi kita tidak mengetahuinya, di mana mereka berada waktu itu.”

“Aku sependapat,“ sahut Mahisa Pukat, “karena itu maka kita harus lebih berhati-hati menghadapi setiap kemungkinan. Agaknya di tempat ini berkeliaran orang-orang dari banyak pihak. Termasuk kita.”

Ketika Mahisa Pukat berpaling ke arah Tatas Lintang, maka Tatas Lintang itupun menyahut, “Ya. Di sini sudah ada dua pihak yang berbeda. Tetapi mudah-mudahan kita dapat bekerja bersama untuk seterusnya, sedangkan pihak-pihak yang lain tidak dapat bekerja bersama sebagaimana kita lakukan.”

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti pun berkata, “Kita memang harus berhati-hati menghadapi keadaan apapun juga. Saat-saat yang paling gawat itu akan segera datang. Bukankah kita tidak akan terlalu lama menunggu?”

“Ya,“ jawab Tatas Lintang, “kita tidak akan membiarkan diri kita membeku di sini. Apalagi aku. Aku sudah cukup lama tinggal di sini.”

“Kau kira aku belum cukup lama mengembara,” sahut Mahisa Pukat, “tetapi kami mempunyai kerja sambilan. Sesekali kami sempat menjual barang-barang dagangan kami.”

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Kita harus mulai merencanakan mengamati padepokan itu lagi sebagaimana pernah kita lakukan. Tetapi kemudian aku tidak akan sendiri lagi.”

“Kita akan melakukannya segera,“ berkata Mahisa Murti, “jika kita terlalu lama mungkin sesuatu telah terjadi di Singasari atau di Kediri.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Kita akan bersiap mulai besok. Kita akan merencanakan kapan kita akan mulai bergerak mengamati padepokan itu. Apakah kita harus pergi bersama-sama, atau kita akan bergiliran.”

Tetapi Mahisa Pukat menyahut, “Mungkin kita sempat bergerak. Tetapi mungkin justru orang-orang dari padepokan itulah yang datang kemari.”

Tatas Lintang termenung sejenak. Namun iapun berkata, “Memang mungkin sekali. Jika kelima orang itu berasal dari padepokan itu maka mungkin sekali merekalah yang datang mencari kita di sini.”

Ketiga orang yang disebut kemenakan Tatas Lintang itu-pun mengangguk-angguk. Namun Mahisa Murti lah yang berkata, “Kita sudah siap sejak semula. Apakah kita yang datang, atau mereka yang datang kepada kita. Tetapi satu keinginan yang harus terpenuhi, melihat padepokan itu dan mengetahui isinya.”

Yang lain pun mengangguk-angguk pula. Namun tidak lagi berbicara dengan sungguh-sungguh, karena Tatas Lintang pun berkata, “Aku menjerang air. Tentu sudah mendidih.”

Mahisa Pukat pun kemudian membantu Tatas Lintang membuat minuman panas. Wedang sere dengan gula kelapa.

Namun ketika mereka duduk kembali bersama-sama. Tatas Lintang pun berkata, “Sudah waktunya kita mengatur diri. Setiap saat bahaya dapat mengancam kita. Nah, karena itu, maka kita harus bergantian berjaga-jaga. Setiap saat di antara kita harus ada yang tidak sedang tidur di malam hari. Sepanjang malam.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk sambil menyahut, “Aku sependapat. Kita berempat di rumah ini. Jika semalam berdua di antara kita berjaga-jaga bergantian, maka kita akan mendapat giliran setengah malam dalam dua hari.”

“Kau tentu memilih hari kedua,“ berkata Mahisa Pukat.

“Kenapa dengan hari kedua,“ bertanya Mahisa Murti.

“Malam ini kita masih berada di pondok ini. Mungkin besok malam kita semuanya sudah berada di sekitar padepokan.“ jawab Mahisa Pukat.

Mahisa Murti tersenyum. Namun yang lain pun kemudian tertawa pula.

Dengan demikian, maka mereka pun kemudian mengambil keputusan lain. Setiap malam mereka akan membagi diri. Dua orang di belahan malam pertama dan dua orang di bagian kedua setelah lewat tengah malam.

Mahisa Murti akan berjaga-jaga bersama Tatas Lintang, sementara Mahisa Pukat dan Mahisa Ura akan berjaga-jaga menjelang dini hari.

“Dua orang yang lewat setelah senja itu harus menjadi perhatian,“ berkata Mahisa Murti, “mungkin ia hanya sekedar ingin melihat pondok ini. Tetapi mungkin mereka mempunyai maksud tertentu. Apalagi jika kedua orang itu sebenarnya merupakan satu kelompok dengan kelima orang yang kita hadapi itu.”

“Ya,“ sahut Mahisa Pukat, “banyak kemungkinan dapat terjadi. Kita memang harus berhati-hati.”

Mahisa Murti mengangguk. Katanya kemudian, “Nah. kalian dapat tidur sekarang. Biarlah kami berdua berjaga-jaga, mumpung masih ada minuman tersisa. Wedang sere ini akan membuat tubuh kami hangat.”

“Nanti, kami pun akan menjelang air dan membuat wedang sere pula.“ jawab Mahisa Pukat, yang kemudian berkata kepada Mahisa Ura, “marilah. Kita akan tidur lebih dahulu.”

Demikianlah, seperti yang sudah mereka sepakati, maka Mahisa Pukat dan Mahisa Ura lah yang di bagian pertama malam itu mendapat giliran untuk tidur lebih dahulu. Merekapun ternyata dapat menyisihkan segala macam persoalan sehingga mereka, segera dapat tidur dengan tenang. Apalagi Mahisa Murti dan Tatas Lintang akan tetap berjaga-jaga.

Untuk menghilangkan kantuk dan kejemuan, maka Mahisa Murti dan Tatas Lintang masih juga berbicara tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Namun mereka pun kemudian telah bermain macanan. Permainan yang ternyata dapat melupakan kejemuan yang kadang-kadang terasa mencengkam.

Menjelang tengah malam, maka Mahisa Murti pun berkata, “udara panas sekali. Aku akan keluar sebentar.”

Tatas Lintang mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “berhati-hatilah.”

Mahisa Murti mengangguk. Perlahan-lahan iapun bangkit dan melangkah ke pintu. Namun ketika pintu berderit, ternyata Mahisa Pukat telah terbangun. Sambil menggeliat iapun bertanya, “Kau akan ke mana?”

“Udara panas sekali,“ jawab Mahisa Murti, “mungkin pengaruh wedang sere itu.”

Tatas Lintang yang melihat Mahisa Pukat terbangun itupun berkata, “Aku juga akan keluar sebentar. Jangan tidur dahulu sebelum kami berdua masuk kembali.”

Mahisa Pukat pun kemudian telah bangkit dan duduk sambil menjawab, “Aku akan menunggu. Tetapi waktunya harus diperhitungkan.”

Tatas Lintang tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab.

Ketika Mahisa Murti dan Tatas Lintang sudah berada di luar, maka mereka pun telah menutup pintu kembali, sementara Mahisa Pukat pun justru telah menepi dan duduk di bibir pembaringan. Sekali ia masih menguap. Namun kemudian ia merasa telah sadar sepenuhnya.

Seperti yang dikatakan oleh Tatas Lintang, maka iapun menunggu sampai keduanya masuk kembali. Mahisa Pukat pun sebenarnya juga merasa panas. Tetapi ia tidak menyusul keduanya keluar.

Namun ternyata Mahisa Pukat itu telah tertarik oleh suara yang asing di telinganya. Bukan desah nafas seseorang. Bukan pula langkah yang berdesir di tanah.

Perlahan-lahan terdengar dinding di bagian belakang pondok itu bergetar. Kemudian seolah-olah gesekan yang halus menelusuri dinding bambu yang tidak terlalu kuat itu.

Mahisa Pukat telah memusatkan perhatiannya kepada bunyi yang tidak segera diketahui itu. Namun kemudian nafasnya bagaikan terhenti ketika ia mendengar derik kuku-kuku yang tajam berusaha untuk mengoyak dinding.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Dengan berdebar-debar iapun mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Ia sadar, bahwa suara itu tentu ditimbulkan oleh seekor binatang buas yang berusaha untuk mencari jalan memasuki pondok kecil itu.

“Seekor harimau,“ berkata Mahisa Pukat kepada diri sendiri.

Menurut perhitungannya tidak ada jenis binatang lain yang akan berbuat seperti yang sedang dilakukan di belakang rumah itu.

Tetapi ternyata binatang itu tidak segera memecah dinding dan meloncat masuk. Namun ketika terdengar binatang itu menggeram, Mahisa Pukat pun menjadi semakin yakin, bahwa di belakang rumah itu terdapat seekor harimau.

Untuk beberapa saat Mahisa Pukat telah menunggu. Iapun telah mempersiapkan diri dengan kekuatan Aji Pamungkasnya. Jika harimau itu muncul, maka ia akan membakarnya dengan pukulan Aji Bajra Geni nya. Sekali pukul Mahisa Pukat yakin, bahwa harimau itu tentu akan mati.

Sementara itu, Mahisa Murti dan Tatas Lintang yang berada di halaman di depan pondok kecil itu memang merasa tubuh mereka menjadi sejuk. Sentuhan angin malam dan embun yang menitik dari dedaunan terasa sangat segar.

Namun keduanya pun tiba-tiba telah terkejut. Mereka melihat sesuatu bergerak di luar pagar. Merangkak dan hilang di kegelapan. Namun keduanya pun segera mengetahui, bahwa yang lewat itu adalah seekor harimau.

“Tidak hanya seekor,“ desis Mahisa Murti sambil memberikan isyarat, bahwa di samping pondok mereka pun nampak seekor harimau yang melintas.

“Kita sudah melihat dua ekor,“ berkata Mahisa Murti.

Tatas Lintang mengangguk. Katanya, “Mereka masih saja mempergunakan harimau jadi-jadian.”

“Mungkin bukan jadi-jadian,“ sahut Mahisa Murti perlahan-lahan, “harimau itu adalah harimau sebenarnya, tetapi sudah dikuasai ilmu gendam yang dapat mengatur perilaku harimau-harimau itu.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Katanya, “Agaknya memang demikian. Tetapi kita sudah siap siapapun dan apapun yang akan kita hadapi.”

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kita biarkan saja harimau-harimau itu jika mereka tidak menyerang. Sebaiknya kita beritahu Mahisa Pukat dan Mahisa Ura agar mereka bersiap-siap.”

Keduanya pun kemudian masuk ke dalam pondok. Namun mereka terkejut melihat sikap Mahisa Pukat.

Dengan nada ragu Mahisa Murti pun bertanya, “Ada apa Pukat?”

Mahisa Pukat meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Tetapi iapun kemudian menjadi kecewa ketika ia mendengar desir langkah harimau itu berlari menjauh.

“Apa yang sedang kau lakukan?“ bertanya Tatas Lintang.

Mahisa Pukat menarik dalam-dalam. Katanya dengan nada kecewa, “Aku sedang menunggu sesuatu.”

“Apa?“ Mahisa Ura yang sudah terbangun pula bertanya.

“Ternyata ada seekor harimau yang ingin mengoyak dinding bambu yang lemah ini,“ desis Mahisa Pukat.

Mahisa Murti mengangguk-angguk sambil berkata, “Agaknya ada tiga ekor harimau di sekitar pondok ini.”

“Tiga?“ Mahisa Pukat lah yang bertanya.

“Ya. Di depan pondok ini, di samping dan kau dengar di belakang pondok ini ada pula seekor.“ jawab Mahisa Murti.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Ketika mereka telah duduk bersama dan menyelarak pintu, maka Mahisa Pukat pun berkata, “Agaknya harimau itu bukan harimau sewajarnya.”

“Harimau itu mungkin harimau sewajarnya. Tetapi yang sudah dipengaruhi oleh kekuatan pribadi seseorang, sehingga harimau itu dapat diperalat sesuai dengan keinginan orang yang mempengaruhinya,“ sahut Mahisa Murti.

Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka pernah bertemu dengan harimau yang diliputi oleh rahasia yang belum terpecahkan. Bahkan ketika mereka ingin mengambil bangkai harimau yang terbunuh untuk diambil kulitnya, ternyata bangkai itu sudah tidak ada di tempatnya dan tidak diketahui ke mana perginya.

Karena itu katanya, “Kita akan berhadapan lagi dengan harimau-harimau itu.”

“Satu permainan yang menjemukan,“ berkata Mahisa Murti, “kita harus membunuhnya dengan cepat pada perjumpaan kita di kemudian. Aku benar-benar sudah muak dengan permainan itu.”

“Aku setuju,“ desis Mahisa Murti, “Itulah sebabnya aku sudah bersiap untuk memukul pecah kepala harimau itu pada ayunan pertama. Dengan demikian maka orang gila itu akan menghentikan permainannya yang menjemukan itu.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita akan menghadapinya dengan sungguh-sungguh. Sekarang, kita akan melanjutkan waktu istirahat kita. Bukankah sudah lewat tengah malam dan kita mendapat giliran untuk tidur?”

“Aku terbangun sebelum saatnya,“ sahut Mahisa Pukat.

“Aku pun belum tidur lewat saatnya,“ jawab Mahisa Murti.

Yang lain pun tertawa pula.

“Baiklah,“ berkata Mahisa Pukat kemudian. Lalu, “Sekarang datang giliran kita Mahisa Ura.”

Mahisa Ura pun mengangguk-angguk. Jawabnya, “Aku pun sudah merasa terlalu lama tidur.”

“Hati-hatilah dengan harimau-harimau itu,“ pesan Tatas Lintang, “sebaiknya kalian tidak pergi keluar. Seandainya harimau itu ingin menyerang kita, biarlah mereka berusaha masuk.”

“Ya,“ sahut Mahisa Pukat, “demikian kepalanya tersembul, maka kepala itu akan kita pecahkan.”

Demikianlah, maka Mahisa Murti dan Tatas Lintang pun membaringkan dirinya, sementara Mahisa Pukat dan Mahisa Ura mendapat giliran untuk berjaga-jaga.

“Minuman itu sudah habis,“ desis Mahisa Murti sambil memejamkan matanya.

“Aku akan merebusnya,“ berkata Mahisa Pukat.

Sebenarnyalah, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun kemudian bersama-sama berada di sebuah bilik kecil yang dipergunakan oleh Tatas Lintang sebagai dapur.

“Kita merebus air,“ desis Mahisa Pukat, “masih ada sere dan gula kelapa.”

Dengan demikian maka keduanya telah mendapat kesibukan untuk mencegah kantuk. Namun demikian mereka selalu berhati-hati menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi dengan kehadiran beberapa ekor harimau.

Namun sampai dini hari, harimau itu tidak datang lagi ke halaman pondok mereka. Tidak lagi terdengar dengus nafasnya atau suara kuku-kukunya yang tajam mengorek dinding.

Mahisa Pukat dan Mahisa Ura sempat menikmati minuman yang mereka buat sendiri. Segar sekali di dinginnya malam. Bahkan ketika cahaya fajar mulai membayang, minuman mereka masih terasa hangat.

Mahisa Murti dan Tatas Lintang pun ternyata terbangun sebelum matahari terbit. Mereka melihat Mahisa Pukat dan Mahisa Ura masih saja duduk di dapur bersandar tiang.

“Apa yang kalian lakukan di situ?“ bertanya Mahisa Murti.

Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun diteguknya minumannya yang segar sambil berdesah.

Mahisa Murti hanya menarik nafas saja sambil melangkah keluar dan pergi ke pakiwan. Sejenak kemudian maka Tatas Lintang pun telah pergi keluar pula.

Keduanya telah menghirup udara pagi yang segar. Sementara itu langit pun menjadi semakin terang.

“Kita lihat, apakah ada bekas-bekas harimau itu,“ desis Tatas Lintang kemudian.

Ternyata mereka memang menemukan bekas kaki dan kuku harimau di belakang rumah kecil itu. Dinding pun nampak membekas kuku-kuku yang tajam.

Dengan demikian, maka mereka pun telah mendapat kepastian ada usaha untuk menyerang mereka dengan cara seperti yang pernah terjadi.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian katanya, “Memang menjemukan. Cara itu pernah ditempuhnya dan tidak berhasil. Seharusnya mereka menyadari, bahwa kami pernah mengalahkan harimau-harimau itu.”

“Apakah mereka sudah mengetahui, bahwa yang ada di sini adalah aku dan kalian yang pernah mengalahkan harimau-harimau itu?” bertanya Tatas Lintang.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Aku tidak tahu. Mungkin mereka tidak menyadari, bahwa yang berada di sini adalah aku dan Mahisa Pukat.”

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Tahu atau tidak tahu siapakah kita di sini, kita memang harus sangat berhati-hati.”

Belum lagi mulut Tatas Lintang terkatub rapat, mereka terkejut atas kedatangan beberapa orang memasuki halaman rumah mereka. Tatas Lintang dan Mahisa Murti yang berada di belakang rumah kecil itu bergegas pergi ke halaman depan. Sementara itu Mahisa Pukat dan Mahisa Ura ternyata telah menerima orang-orang yang datang itu.

“Kami mohon pertolongan,“ berkata salah seorang di antara mereka.

“Kenapa?” bertanya Mahisa Pukat, “apakah kami harus membantu mengerjakan sawah?”

“Kami tahu, bahwa ternyata kalian bukan orang kebanyakan. Apa yang terjadi di rumah ini atas orang yang sewenang-wenang terhadap sesama kami yang menjual tenaga mengerjakan sawah orang lain, serta apa yang terjadi di pasar, telah mengatakan kepada kami bahwa kalian bukannya orang kebanyakan seperti yang kami duga semula.“ berkata orang yang datang itu.

“Lalu bantuan apa yang kau kehendaki?” bertanya Mahisa Pukat.

“Tiga ekor kambing dari padukuhan ini sudah dimakan harimau. Yang tersisa hanya bagian-bagian yang tidak berarti.“ jawab orang itu.

“Tiga ekor kambing?” bertanya Mahisa Pukat yang terkejut.

“Ya. Tiga ekor. Milikku satu, milik orang tua itu satu dan milik Ki Bekel satu.“ jawab orang itu.

Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Tatas Lintang dan ketiga orang yang disebut kemenakannya itu untuk melihat-lihat apa yang terjadi. Mereka memang melihat sisa bangkai kambing yang sebagian besar tubuhnya telah dimakan oleh harimau yang memasuki padukuhan itu.

“Satu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya,“ berkata Ki Bekel ketika mereka sampai ke rumah Ki Bekel, “memang dahulu, beberapa waktu yang lalu, ada seekor harimau nampak memasuki padukuhan. Tetapi harimau itu tidak banyak menimbulkan kerugian. Seekor kambing pernah menjadi korban. Tetapi bekasnya tidak terlalu mengerikan seperti kali ini. Apalagi sekaligus tiga ekor kambing.”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...