*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-032-01*
Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu justru menjadi canggung. Namun mereka pun kemudian duduk juga di amben panjang itu.
Ternyata sebagaimana yang dikatakan, pemilik kedai itu sudah mengambil beberapa jenis makanan yang disimpannya. Kemudian dihidangkannya kepada keempat orang yang baru saja duduk di amben panjang itu.
Memang merupakan satu sikap yang terasa asing bagi keempat orang itu. Sehingga karena itu maka mereka berempat terpaksa menduga-duga apakah sebabnya.
Tetapi minuman hangat memang telah menggoda mereka. Karena itu maka Mahisa Pukat tidak memikirkannya lebih lanjut. Iapun kemudian berpesan, “Beri kami wedang jahe saja.”
“Baik Ki Sanak. Kami akan menyediakannya,“ jawab pemilik kedai itu.
Namun pemilik kedai itu, maupun Tatas Lintang beserta ketiga orang kemanakannya itu terkejut ketika tiba-tiba saja seorang di antara para tamu itu telah bertindak kasar.
Sebelum pemilik kedai itu sempat melangkah menyediakan minuman panas, maka seorang di antara para tamu telah bangkit berdiri dan mengambil makanan yang disediakan bagi Tatas Lintang dan ketiga orang kemanakannya.
“Ki Sanak,“ berkata pemilik kedai itu, “makanan itu memang kami sediakan bagi keempat tamuku itu.”
“Persetan,“ geram tamu yang mengambil makanan itu, “kau sangka derajatnya lebih tinggi dari derajatku. Kenapa bukan aku yang kau tunggu dan makanan itu tidak kau sediakan untuk aku.”
Pemilik warung itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Ki Sanak. Aku tidak tahu bahwa Ki Sanak akan datang kemari, sehingga karena itu, maka aku tidak menyediakannya untuk Ki Sanak.”
“Persetan,“ bentak orang itu, “tetapi kau lihat bahwa aku sekarang sudah ada di sini. Aku datang lebih dahulu dari orang itu.”
Pemilik kedai itu memandang wajah Tatas Lintang sejenak. Namun Tatas Lintang masih belum berbuat apa-apa.
Karena itu, pemilik kedai itu dengan sengaja telah memancing agar Tatas Lintang melibatkan dirinya ke dalam persoalan itu. Katanya, “Ki Sanak. Jika aku menyediakan hidangan untuk keempat orang ini karena keempat orang ini adalah orang-orang yang paling terhormat di padukuhan kami. Kebetulan bahwa aku tinggal sepadukuhan dengan keempat orang itu. Setelah kedai ini tutup, maka aku pun telah pulang ke padukuhan yang sama dengan padukuhan mereka.”
“Kenapa orang itu paling terhormat di padukuhanmu? Apakah salah seorang di antara mereka, atau yang tertua di antara mereka itu Bekel dari padukuhanmu.”
“Bukan,“ jawab pemilik kedai itu, “tetapi mereka adalah orang-orang yang berilmu tinggi.”
Tatas Lintang terkejut. Dengan serta merta ia menyahut, “Siapa yang mengatakan kepadamu tentang hal itu?”
“Orang yang bertubuh tinggi kekar yang selalu mengaku menggarap tanah orang.“ jawab pemilik kedai itu, “tetapi ia mengeluh bahwa ia telah terbentur kepada kelebihan kalian berempat, sehingga orang itu sudah menyatakan tidak akan mengulangi lagi kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya itu.”
Tamu yang kasar itu mengangguk-angguk sambil mengeram, “O, jadi keempat orang ini adalah orang-orang yang berilmu tinggi, sehingga kau menjadi ketakutan dan memperlakukan mereka sebagai tamu yang paling terhormat he?”
Wajah pemilik kedai itu menjadi tegang. Sementara itu Tatas Lintang dan tiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu duduk termangu-mangu.
“Baik,“ berkata tamu itu, “jika demikian maka aku akan mengembalikan makanan ini.”
Hampir di luar dugaan. Tiba-tiba saja orang itu telah melemparkan tambir kecil tempat makanan itu ke arah Tatas Lintang yang duduk termangu-mangu.
Namun Tatas Lintang yang melihat tambir itu terlontar ke arahnya dengan tangkas telah bergeser ke samping. Sementara itu Mahisa Murti yang duduk di sebelah Tatas Lintang pun bergeser pula mendesak Mahisa Pukat, sehingga Mahisa Pukat-pun telah mendesak Mahisa Ura.
Sebenarnyalah orang-orang yang berada di dalam kedai itu terkejut. Ternyata tambir yang berisi makanan itu berdesing seperti gasing. Karena tambir yang berputar dan melayang itu tidak menyentuh Tatas Lintang, maka tambir itu telah mengenai dinding warung itu. Jantung pemilik kedai itu rasa-rasanya telah berhenti berdenyut ketika ia melihat tambir itu telah membentur dinding warungnya yang terbuat dari kayu, memecahkannya dan meluncur keluar membentur sebatang pohon. Betapa kecut hati pemilik warung itu, ketika ternyata pohon itupun telah terguncang meskipun tambir itu tertahan karenanya. Namun adalah di luar nalar, bahwa tambir yang terbuat dari anyaman bambu itu telah menancap dan mengiris hampir seperempat dari batang-batang pohon itu.
Tatas Lintang pun kemudian menyadari, bahwa orang itu memiliki kemampuan yang sangat tinggi. Karena itu, maka Tatas Lintang pun harus berhati-hati menghadapinya.
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun menyadari dengan siapa mereka berhadapan. Karena itu, maka mereka pun telah bersiaga sepenuhnya. Hampir serentak mereka bangkit berdiri menghadap ke arah orang yang telah melemparkan tambir bambu itu.
“Luar biasa,“ desis Tatas Lintang, “kau telah melakukan satu permainan yang luar biasa. Dengan anyaman bambu kau mampu menebang sebatang pohon yang besar.”
“Persetan,“ geram orang itu, “ternyata kalian pun telah menyombongkan diri dengan tingkah lakumu. Kau menunjukkan kemampuanmu bergerak dengan kecepatan yang sangat tinggi.“
“Jadi, apakah aku harus berdiam diri dan membiarkan leherku patah karena permainanmu itu,“ bertanya Tatas Lintang.
“Aku tidak peduli apa alasanmu,“ berkata orang itu, “tetapi sikapmu menyatakan, bahwa kau telah menantang aku.”
“Bukan maksudku Ki Sanak,“ jawab Tatas Lintang, “bukankah aku hanya berdiam diri saja, tetapi kau yang telah mendahului menyerang aku? Yang kau lakukan memang sangat berbahaya. Jika aku tidak sempat mengelak, atau yang kau serang adalah orang kebanyakan, maka seranganmu tentu telah membunuh.”
“Aku tidak peduli,“ jawab orang itu, “seandainya aku telah membunuh, tidak ada orang yang akan dapat menghukumku. Orang-orang padukuhan tidak akan mampu menangkap aku.”
“Bagaimana jika Ki Buyut atau mungkin Sang Akuwu?“ bertanya Tatas Lintang.
“Aku tidak peduli dengan siapapun juga. Jika kau merasa terganggu dengan tingkah lakuku, kau mau apa?“ geram orang itu.
“Siapakah Ki Sanak sebenarnya?“ bertanya Tatas Lintang.
“Untuk apa kau mengetahuinya?“ bertanya orang itu, ”jika kau ingin berbuat sesuatu dengan bekal ilmumu, lakukan?”
Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya orang-orang lain yang ada di warung itu. Menilik sikapnya, ternyata mereka adalah kawan-kawan dari orang yang marah itu. Hampir di luar sadarnya Tatas Lintang pun menghitung mereka.
“Lima orang,“ desis Tatas Lintang. Namun masih ada dua orang yang duduk terpisah. Tatas Lintang tidak dapat menebak, apakah kedua orang itu termasuk kawan orang yang marah itu atau bukan. Namun keduanya nampak menjadi tegang. Sementara sebelumnya Tatas Lintang juga tidak melihat kedua orang itu berbicara atau berkelakar dengan kelima orang yang duduk berjajar itu.
“Kau menghitung jumlah kami?“ bertanya orang yang melempar itu, “kami memang berlima. Sementara itu kalian hanya berempat. Jika seorang di antara kami mampu membunuh dua orang sekaligus, maka hanya dua orang di antara kami yang diperlukan untuk turun ke arena jika kalian mencoba untuk melawan. Sementara tiga orang kawan kami masih akan sempat makan dan minum.”
Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sempat mengamati mereka. Tidak seorang pun di antara mereka yang bertongkat. Ketika di luar sadarnya keduanya memandang dua orang duduk terpisah itu, maka mereka pun tidak melihat tongkat di antara mereka.
Dengan demikian untuk sementara Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengambil kesimpulan bahwa mereka tidak berhadapan dengan orang-orang dari padepokan yang menjadi sasaran pengamatan mereka.
“Tetapi siapa?“ pertanyaan itu tidak segera dapat dijawab, karena orang-orang itu tentu tidak akan mudah menyebut nama dan kedudukan mereka.
Namun dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menyadari bahwa di padepokan itu telah hadir kekuatan lain di samping orang-orang yang sejak lama menghuni padepokan itu.
Sejenak mereka termangu-mangu. Namun dalam pada itu, orang yang telah melemparkan tambir anyaman bambu serta makanan yang ada di dalamnya membentak, “cepat. Apa yang akan kalian lakukan? Kalian mau marah? Mau menuntut karena perlakuanku atasmu? Atau mau apa?”
Tetapi jawaban Tatas Lintang mengejutkan, “Kami tidak ingin berbuat apa-apa.”
“Pengecut,“ orang itu hampir berteriak, “kenapa kalian tidak ingin berbuat apa-apa?”
“Memang kami tidak ingin berbuat apa-apa.“ jawab Tatas Lintang pula.
Ternyata orang itu menjadi semakin marah. Dengan kemampuannya yang sangat tinggi, maka iapun telah menepuk bibir mangkuknya sehingga minumannya menjadi tumpah. Tetapi ternyata bahwa kelebihan orang itu telah menyebabkan minuman yang memercik dari mangkuknya mengarah kepada Tatas Lintang.
Tatas Lintang mengerutkan keningnya. Tetapi iapun cepat bertindak. Dengan kemampuannya pula maka iapun telah menghembus minuman yang memercik ke arahnya.
Akibatnya memang luar biasa. Minuman itu seakan-akan telah didorong dan memercik kembali ke arah orang yang marah itu.
Orang itu agaknya sama sekali tidak menduganya. Karena itu maka ia tidak sempat melawan percikan minuman itu. Yang dapat dilakukannya adalah bergeser menghindarinya.
Tetapi kawannya yang masih duduk di sampingnya sambil memperhatikan apa yang terjadi itu agaknya kurang bersiap. Karena itu, maka percikan minuman yang masih hangat dan mengandung gula itu telah terpercik ke arahnya membasahi pakaiannya.
“Gila,“ orang itupun telah meloncat bangkit dan bahkan berdiri di atas lincak tempatnya duduk. Dengan mata yang hampir meloncat dari pelupuknya ia memandangi Tatas Lintang yang berdiri termangu-mangu.
“Kau tantang aku he? Kau salah menilai Ki Sanak. Kau kira aku cucurut yang tidak berani menghancurkan kepalamu yang dungu itu? Aku memang tidak ikut campur sebelumnya. Tetapi kau sudah menyerang aku pula.”
Tatas Lintang memperhatikan orang itu. Kemudian katanya, “Maaf Ki Sanak. Jangan marah kepadaku. Kau dapat marah kepada kawanmu sendiri.”
“Persetan,“ geramnya, “kita memang tidak dapat sekedar marah kepada mereka. Kita harus berbuat sesuatu.”
Kawannya yang telah marah lebih dahulu itupun menyahut, “Kita hancurkan mereka.”
Kelima orang itupun telah bangkit. Kemudian orang yang marah pertama kali itupun menggeram, “Kami menunggu di luar, atau warung ini akan kami bakar.”
Kelima orang itu tidak menunggu jawaban. Merekapun kemudian melangkah keluar sambil mengumpat-umpat.
Pemilik kedai itu menjadi gemetar. Ia tidak menyangka bahwa persoalan itu akan berkembang menjadi demikian tajamnya, bahkan mungkin akan terjadi sesuatu yang sangat tidak diharapkan. Jika Tatas Lintang mampu mengalahkan orang bertubuh tinggi kekar, namun mereka tidak lebih dari petani-petani, maka belum tentu ia akan dapat berhadapan dengan orang-orang yang tidak dikenal itu. Apalagi ternyata kelima orang itu telah membawa pedang di lambung.
Sejenak kemudian Tatas Lintang itupun termangu-mangu.
Ketika ia berpaling ke arah ketiga orang yang dianggapnya sebagai kemanakannya itu, maka iapun melihat sorot mata yang mulai menyala pada mereka.
Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Katanya di dalam hati, “Anak-anak muda itu benar-benar telah siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka tidak lagi membiarkan diri mereka menjadi sasaran tanpa berbuat sesuatu.”
Karena itu, maka Tatas Lintang pun kemudian bertanya, “Apakah kita akan melayani mereka?”
Mahisa Murti termangu-mangu. Tetapi Mahisa Pukat menjawab, “Satu cara pemanasan yang barangkali bermanfaat.”
Tatas Lintang mengangguk kecil. Katanya, “Baiklah. Kita akan keluar agar kedai ini tidak dibakar.”
Lalu katanya kepada pemilik kedai itu, “Bukan salah kami. Kami sama sekali tidak menghendaki keributan seperti ini. Tetapi apa boleh buat. Kami tidak dapat mengelak.”
Pemilik kedai itu hanya berdiam diri saja. Tetapi jantungnya bergejolak semakin keras. Ia tidak tahu apakah yang sebenarnya telah terjadi dan siapakah yang dapat dianggap bersalah.
Ketika Tatas Lintang dan ketiga orang yang dianggapnya sebagai kemanakannya itu keluar dari warung, maka dua orang yang lain, yang ada di warung itupun telah keluar pula. Tetapi seorang di antara mereka sempat bertanya kepada pemilik warung itu, berapa mereka harus membayar.
“Aku akan pergi. Aku tidak mau terlibat dalam persoalan yang tidak kami ketahui. Menjadi saksi pun kami tidak ingin,“ berkata orang yang bertanya berapa ia harus membayar itu.
Tetapi pemilik warung yang bingung itu tidak dapat menghitung dengan benar. Karena itu, mulutnya seakan-akan asal saja mengucapkan angka. Tetapi orang yang membeli makanan dan minuman itupun tidak bertanya lebih banyak. Iapun kemudian segera membayar dan kemudian keduanya benar-benar telah meninggalkan tempat itu.
Dalam pada itu, kelima orang yang telah berada di luar itu-pun telah bersiap. Sementara itu, orang yang tersisa di pasar, yang memang sudah tidak terlalu banyak itupun telah berlarian meninggalkan tempat mereka berjualan. Sambil membawa sisa barang-barang mereka dan uang hasil dari penjualan barang-barang mereka, orang-orang di pasar itupun merasa lebih baik menghindar daripada terlibat dalam pertikaian itu.
Sejenak kemudian maka Tatas Lintang pun telah berdiri berhadapan dengan orang yang telah melemparnya di dalam warung. Ketiga orang anak muda yang diakunya sebagai kemenakannya itupun berdiri berjajar di belakangnya. Sementara itu kelima orang yang menunggunya berdiri tegak dalam kesiagaan sepenuhnya.
“Kalian merasa diri kalian orang-orang berilmu tinggi,“ geram orang yang telah melempar Tatas Lintang, “tetapi dihadapan kami kalian tidak akan dapat berlagak apapun juga. Kami akan dengan tanpa belas kasihan menghancurkan kesombongan kalian itu.”
“Ki Sanak,“ berkata Tatas Lintang, “bukan maksudku mencari lawan. Tetapi jika lawan itu datang, kami pantang menepi. Tetapi perkenankan aku bertanya, siapakah Ki Sanak berlima dan mungkin Ki Sanak datang dari sebuah padepokan atau pertapaan atau tempat-tempat untuk menempa diri lahir batin yang lain.”
“Jangan pedulikan siapa kami,“ jawab orang itu, “sekarang lakukan perintah kami. Berjongkok dan ciumlah telapak kaki kami. Dengan demikian maka kesalahan kalian kami ampuni. Kalian akan boleh pergi kemana kalian suka.“
Tetapi Tatas Lintang tersenyum sambil menjawab, “Kalian boleh merendahkan kami. Tetapi jangan menghina kami terlalu tajam. Betapa dungunya kami, tetapi kami masih juga mempunyai harga diri. Coba bayangkan, bagaimanakah perasaanmu jika akulah yang berkata kepadamu, berjongkoklah dan cium kakiku agar aku memaafkan kesalahanmu.”
“Aku bunuh orang yang menghinaku,“ jawab orang yang marah itu.
“Bagus,“ jawab Tatas Lintang, “aku pun akan melakukan hal yang sama.”
“Persetan,“ geram orang itu, “kenapa tidak kau lakukan jika kau mampu he? Orang-orang yang tidak tahu diri. Apa yang telah kalian lakukan bukan apa-apa. Dan kalian sudah merasa bangga, bahkan berani menantang aku?”
“Sudahlah Ki Sanak,“ berkata Tatas Lintang, “kami tidak akan berjongkok dan mencium kaki kalian. Bahkan kamilah yang menuntut kalian melakukannya, karena kalian yang telah mendahului menimbulkan pertengkaran di warung itu.”
Orang yang marah itu agaknya memang tidak dapat mengekang dirinya. Tetapi ia masih berpesan kepada kawan-kawannya, “Jangan ganggu aku. Aku akan menyelesaikan persoalan ini sendiri.”
“Aku juga terhina. Justru akulah yang telah terpercik minuman panas itu,“ sahut kawannya.
“Tunggulah pada kesempatan lain,“ jawab kawannya, “jika mereka akan bertempur mengeroyokku berempat, biar saja. Baru jika aku memberikan isyarat, kau boleh ikut campur. Atau aku akan menyisakan seorang jika kau benar-benar ingin berkelahi untuk menumpahkan kemarahanmu atas penghinaan itu.”
Orang itu menggeram. Tetapi agaknya kawannya yang marah itu memiliki pengaruh yang besar atas keempat kawan-kawannya. Karena itu, maka iapun tidak mendesaknya lagi.
Tetapi Tatas Lintang memang memiliki harga diri yang tinggi pula. Ketika hanya seorang diantara lawan-lawannya yang melangkah maju, maka iapun berkata kepada ketiga orang yang disebutnya sebagai kemanakannya, “Tunggu sajalah di luar arena. Jika aku mati, maka singkirkan mayatku. Baru kemudian kalian boleh berbuat sesuatu.”
“Setan,“ geram orang yang marah, “kau akan menghadapi aku seorang lawan seorang?”
“Bukankah itu lebih baik? Dengan demikian akan menjadi jelas siapakah di antara kita yang lebih baik. Kau atau aku?“ bertanya Tatas Lintang.
Orang itu benar-benar tersinggung.
Karena itu, maka iapun menggeram, “Baiklah. Marilah. Aku antar kau ke pelukan maut. Mungkin kau akan mendapat tempat yang lebih baik dari tempatmu sekarang.”
Tatas Lintang tidak menjawab. Tetapi iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Kedua orang itupun kemudian melangkah semakin mendekat. Empat orang kawan dari orang yang marah itu berdiri termangu-mangu. Tetapi seperti pesan kawannya yang akan menghadapi Tatas Lintang itu, maka mereka tidak turun ke arena sebagaimana Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura.
Dengan demikian maka Tatas Lintang telah terlibat dalam perang tanding melawan orang yang tidak dikenalnya.
Namun seperti juga ketiga orang yang diakuinya sebagai kemenakannya itu, maka orang itu tentu bukan orang kebanyakan. Tetapi agaknya ia tidak dapat mengekang dirinya sehingga ia telah melibatkan diri ke dalam pertentangan dengan orang yang dijumpainya di jalan tanpa mengkaitkannya dengan kepentingannya.
Tatas Lintang pun menghadapi lawannya dengan bersungguh-sungguh. Ia belum mengenal sama sekali keadaan lawannya. Yang dilihatnya baru kekuatan lawannya yang mengejutkan, ketika ia melemparkan tambir bambu ke arahnya dan yang ternyata mampu memecahkan dinding dan hinggap pada sebatang pohon sebagaimana sebilah parang yang tajam.
Namun menilik bahwa orang itu begitu saja melontarkan tambir itu, sehingga orang itu masih belum mengerahkan segenap kemampuannya, maka tentu orang itu memiliki kekuatan dan ilmu yang tinggi.
Karena itu maka Tatas Lintang pun harus menghadapi lawannya dengan sangat berhati-hati.
Sejenak keduanya masih mencari kesempatan. Mereka melangkah semakin dekat. Ketika tangan mereka mulai bergerak, maka tiba-tiba saja orang yang marah itu telah meloncat menyerang dengan kakinya mengarah ke dada Tatas Lintang.
Tetapi Tatas Lintang sudah bersiap sepenuhnya. Dengan bergeser ke samping ia telah membebaskan diri dari garis serangan itu. Bahkan Tatas Lintang sempat mengayunkan tangannya memukul kaki lawannya. Namun lawannya pun dengan cepat memutar kakinya, sehingga Tatas Lintang pun mengurungkan serangannya pula.
Serangan pertama orang itu telah membuka pertempuran yang menjadi seru sekali. Keduanya memang memiliki kemampuan yang tinggi. Pada gerakan-gerakan pertama keduanya memang berusaha menjajagi kemampuan lawannya masing-masing.
Dengan hati-hati Tatas Lintang mencoba untuk menyentuh kekuatan lawannya pada tataran yang masih belum sampai ke puncak. Dengan demikian maka Tatas Lintang mempunyai sedikit takaran atas kekuatan lawannya itu.
Namun ternyata bahwa sedikit demi sedikit keduanya telah meningkatkan kemampuannya, sehingga pertempuran itupun menjadi semakin lama semakin keras. Mereka bergerak semakin cepat dan sekali-sekali terdengar orang yang marah itu menggeram dan bahkan berteriak.
Tatas Lintang lebih banyak melayani tata gerak lawannya meskipun tidak semata-mata, karena iapun telah berusaha untuk menyerang pula. Namun Tatas Lintang yang tidak diburu oleh gejolak perasaannya dapat berpikir lebih bening dari lawannya.
Karena itu, maka Tatas Lintang menjadi lebih banyak mendapat kesempatan untuk mengamati tata gerak lawannya.
Untuk beberapa saat Tatas Lintang berusaha untuk mengambil jarak dari lawannya. Ia berusaha untuk dapat mengamatinya lebih cermat lagi. Namun dalam keadaan yang demikian lawannya menganggap bahwa Tatas Lintang mulai terdepak. Sehingga karena itu maka lawannya pun telah berusaha untuk semakin mendesaknya dan bahkan berusaha untuk menguasainya.
Keempat kawan orang itupun menganggap demikian pula. Karena itu maka mereka pun menjadi berdebar-debar. Jika kawannya mampu mengalahkan orang tertua di antara keempat orang itu, maka akan datang giliran mereka mendapat kesempatan untuk melawan ketiga orang yang diakuinya sebagai kemenakan orang yang dikalahkan itu.
“Tanganku sudah gatal,“ berkata seorang di antara mereka.
Yang lain pun menggeretakkan giginya. Rasa-rasanya mereka tidak sabar lagi untuk menunggu kesempatan itu.
Untuk sesaat Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun menjadi berdebar-debar. Merekapun semula menduga bahwa Tatas Lintang mulai terdesak. Namun ketika mereka sempat berpikir, maka mereka pun mulai mengerti apa yang terjadi.
Mereka bertiga yang mengetahui tingkat kemampuan Tatas Lintang masih belum melihat ilmu puncak yang nggegirisi itu. Karena itulah mereka mengetahui bahwa sebenarnya Tatas Lintang masih belum terdesak. Jika Tatas Lintang mengambil jarak dari lawannya, tentu ia mempunyai perhitungan yang lain.
Sebenarnyalah, maka ketika lawannya mendesaknya terus, maka Tatas Lintang pun mulai meningkatkan lagi kemampuannya. Ia bergerak cepat sekali, melampaui kecepatan gerak lawannya.
Dengan demikian, maka kesan bahwa keempat kawan orang yang bertempur melawan Tatas Lintang itu terkejut melihat perubahan keseimbangan yang tiba-tiba saja terjadi.
Tatas Lintang yang bergerak semakin cepat itu telah semakin sering pula membalas setiap serangan dengan serangan, dengan penuh kesadaran bahwa lawannya adalah seseorang yang memiliki kekuatan yang sangat besar dan kemampuan untuk menyalurkan ilmu pada benda-benda yang disentuhnya.
Namun demikian, Tatas Lintang pun bukannya tidak memiliki kekuatan yang tinggi. Itulah sebabnya, maka setelah menjajagi kemampuan ilmu lawannya dengan sentuhan-sentuhan yang tidak langsung, maka Tatas Lintang pun telah bertekad untuk membenturkan kekuatannya.
Itulah sebabnya, iapun telah bersiap untuk menerima serangan lawannya.
Tatas Lintang telah mempersiapkan diri dengan sebagian besar dari kekuatan tenaga cadangannya didasari dengan kemampuan ilmunya ketika ia melihat lawannya telah bersiap untuk menyerangnya dengan garangnya.
Sebenarnyalah bahwa lawan Tatas Lintang benar-benar telah bersiap untuk menyerang dengan kekuatannya yang sangat besar. Ketika ia melihat kesempatan terbuka, maka iapun telah meloncat menerkam lawannya. Tangan kanannya yang terayun mengarah ke kepala Tatas Lintang merupakan himpunan kekuatannya yang telah terpusat.
Tetapi Tatas Lintang tidak membiarkan kepalanya dikenai oleh serangan lawannya yang terpusat pada tangannya, namun Tatas Lintang pun tidak ingin menghindari serangan itu.
Karena itulah, maka Tatas Lintang pun telah menyilangkan kedua tangannya di atas kepalanya untuk menangkis serangan lawannya itu.
Lawannya yang marah itu melihat Tatas Lintang tetap berdiri di tempatnya. Karena itulah maka ia menduga bahwa Tatas Lintang memang tidak sempat menghindarkan dirinya, sehingga ia terpaksa melindungi kepalanya dengan menyilangkan tangannya.
Lawannya yang telah meloncat itu sempat menggeram sambil berkata kepada dirinya sendiri, “Kau akan hancur sekarang orang dungu. Tidak ada orang yang dapat melawan kekuatanku.”
Sebenarnyalah sesaat kemudian telah terjadi benturan yang dahsyat. Kekuatan orang yang marah itu benar-benar kekuatan yang luar biasa besarnya. Ketika tangannya menghantam tangan Tatas Lintang yang bersilang, maka terasa tangan Tatas Lintang bagaikan akan patah. Iapun telah terdorong beberapa langkah surut. Bahkan Tatas Lintang harus berusaha untuk bertahan karena keseimbangannya telah terguncang. Untunglah bahwa meskipun Tatas Lintang terhuyung-huyung, namun ia tetap berdiri di atas kedua kakinya.
Tetapi akibat yang gawat itu tidak hanya terjadi atas Tatas Lintang. Lawannya yang telah menghantam tangan Tatas Lintang yang bersilang itupun telah tergetar. Tangan lawannya itu terasa bagaikan hancur membentur sekeping baja pilihan. Sementara itu oleh kekuatannya sendiri yang terpantul pada benturan yang dahsyat itu, maka lawan Tatas Lintang itupun telah terlempar beberapa langkah. Kepalanya terasa berputar dan pandangannya menjadi berputaran. Tubuhnya yang kekar telah terbanting jatuh dan berguling di tanah.
Untuk sekejap orang itu bagaikan kehilangan nalar. Namun nalurinya sebagai seorang yang berilmu tinggi telah mendorongnya untuk meloncat bangkit.
Tetapi iapun telah terhuyung-huyung pula. Bahkan ternyata orang itu tampak tidak mampu bertahan karena pandangannya yang berputar-putar. Sehingga sejenak kemudian, maka orang itupun telah jatuh berlutut. Namun kedua tangannya sempat bertelekan di tanah sehingga tubuhnya tidak berguling lagi.
Untuk sesaat ia berusaha memperbaiki keadaannya. Dengan memusatkan nalar budinya, maka orang itu berjuang untuk memulihkan keadaannya. Orang itu telah mengatur pernafasannya sambil berlutut dan bertelekan dengan tangannya.
Ternyata Tatas Lintang berhasil menguasai dirinya lebih cepat dari lawannya. Ketika ia sudah berdiri tegak, maka dilihatnya lawannya masih tetap berlutut dan bertelekan kedua tangannya.
Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Namun ia tidak ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menguasai lawannya. Ia ingin memberi kesempatan kepada lawannya untuk memperbaiki keadaannya. Kemudian terserah kepada lawannya, apa yang akan dilakukannya.
Dalam pada itu kedua orang kawan dari orang yang jatuh berlutut itu dengan tergesa-gesa mendekatinya, sementara dua orang yang lain berdiri tegak dalam kesiagaan penuh untuk menghadapi segala kemungkinan.
Tetapi Tatas Lintang tidak berbuat apa-apa. Justru ia berkata, “Nah, selanjutnya terserah kepada Ki Sanak.”
Orang yang berlutut itupun menggeram. Perlahan-lahan keadaannya menjadi semakin baik. Ketika pernafasannya pulih kembali, maka rasa-rasanya kekuatannya pun telah pulih pula. Karena itu ketika kedua orang kawannya akan menolongnya, ia mengibaskan tangannya sambil membentak, “Aku dapat berdiri sendiri.”
Sebenarnyalah orang itupun telah tegak kembali. Dengan mata yang menyala ia memandang Tatas Lintang yang telah berdiri tegak.
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun telah mempersiapkan diri pula. Jika keempat orang kawan orang yang marah itu melibatkan diri, maka mereka pun akan melibatkan diri pula.
Tetapi orang yang terbanting jatuh itu benar-benar telah merasa mampu untuk meneruskan perlawanannya. Bahkan kemudian iapun menggeram, “Ternyata aku harus benar-benar berusaha membunuhmu. Benturan ini seolah-olah menunjukkan bahwa kau mempunyai kelebihan dari aku. Sementara itu, aku telah dipengaruhi oleh perasaan belas kasihanku kepadamu. Sekarang, kau akan menyesali kesombonganmu itu.”
Orang itu tiba-tiba saja telah mempersiapkan diri untuk mulai bertempur kembali.
Tatas Lintang pun telah mempersiapkan dirinya pula. Akibat benturan yang terjadi itupun seakan-akan telah tidak terasa. Apalagi Tatas Lintang masih belum mengerahkan segenap kekuatannya.
“Jika orang itu telah mempergunakan segenap kekuatannya, maka aku masih mempunyai kelebihan,“ berkata Tatas Lintang di dalam hatinya, “tetapi aku harus melihat apa yang akan dilakukannya kemudian.”
Bahkan Tatas Lintang pun bersiap-siap jika ia harus mempergunakan ilmunya yang masih tersimpan sebagaimana pernah ditularkan kepada Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura. Namun ia masih harus menunggu perkembangan ilmu lawannya, karena Tatas Lintang tidak ingin dengan serta merta mengalahkan lawannya yang masih belum diketahui asal usulnya itu.
Beberapa saat kemudian keduanya telah bersiap lagi. Lawan Tatas Lintang itupun maju beberapa langkah. Kemudian tiba-tiba saja ia telah mengurai senjatanya seutas rantai besi yang tidak begitu panjang dari balik ikat pinggangnya.
Tatas Lintang termangu-mangu. Ia sadar, bahwa rantai di tangan orang itu tentu akan menjadi senjata yang sangat berbahaya. Sebuah tambir yang dianyam dari bambu telah mampu menancap pada sebatang pohon. Apalagi yang dipegang oleh orang itu adalah seutas rantai besi.
Lawan Tatas Lintang itu tidak menunggu lebih lama. Iapun segera memutar rantainya sambil melangkah mendekat.
Sejenak Tatas Lintang berdiri tegang. Namun ketika lawannya mulai menyerang, maka iapun harus berloncatan menghindar.
Rantai itupun ternyata telah menimbulkan desing yang memekakkan telinga. Suaranya menjadi seolah-olah menderu melampaui kewajaran.
Tatas Lintang menjadi berdebar-debar. Seperti yang diduganya bahwa rantai itu tidak saja merupakan senjata lentur yang berbahaya sekali, tetapi dengan memusatkan kekuatan dan kemampuan ilmunya, rantai itu dapat berubah bagaikan sepotong tongkat besi baja dan bahkan dengan rantai itu lawannya seakan-akan telah menusuk mengarah ke lambungnya.
“Gila,“ geram Tatas Lintang.
Meskipun Tatas Lintang sudah menduga, tetapi kemampuan orang itu mempermainkan senjatanya telah mendebarkan jantung.
Karena itu, beberapa saat kemudian Tatas Lintang pun benar-benar mulai terdesak. Kecepatan geraknya kadang-kadang memang mengejutkan lawannya dan bahkan mampu menerobos memasuki putaran senjatanya. Namun langkah-langkah yang demikian akan menjadi sangat berbahaya jika diulanginya beberapa kali.
Karena itu, maka ketika Tatas Lintang itu benar-benar terdesak, ia telah meloncat ke pagar pasar yang sudah menjadi sepi itu. Dengan cepat ia telah mencabut sebuah tiang pagar yang terbuat dari kayu utuh yang tidak begitu besar, tidak lebih dari lengan Tatas Lintang itu sendiri. Sedangkan tingginya pun tidak lebih dari tubuh Tatas Lintang itu pula.
Dengan kayu itu Tatas Lintang pun kemudian siap menghadapi lawannya.
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura ternyata telah terkejut melihat Tatas Lintang bersenjata tongkat. Apalagi ketika ia melihat bagaimana Tatas Lintang itu menggerakkan tongkatnya.
“Kemampuannya mempermainkan tongkat sangat mengagumkan,“ desis Mahisa Murti.
“Ya,“ sahut Mahisa Pukat, “namun juga mendebarkan. Meskipun ia tidak membawa tongkat, tetapi ia benar-benar menguasai permainan tongkat.”
“Apakah ia sebenarnya seorang di antara orang-orang bertongkat dari padepokan itu?“ bertanya Mahisa Ura.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat terdiam karenanya. Namun mereka telah memperhatikan pertempuran itu dengan saksama.
Namun kemudian Mahisa Pukat itu berdesis. Kenapa ia tidak mempergunakan ilmunya yang sudah ditangkarkan kepada kita? Ia justru telah mempergunakan sebatang tongkat. Jika ia mempergunakan kemampuannya menyerang pada jarak tertentu, maka lawannya pun akan mengalami kesulitan.
Mahisa Murti termangu-mangu. Jawabnya, “Semuanya masih terasa asing dan rahasia. Kita memang harus berhati-hati.”
Dalam pada itu, pertempuran antara Tatas Lintang dengan lawannya itupun semakin lama menjadi semakin sengit. Rantai itupun berputar semakin cepat, sementara itu kadang-kadang rantai itu mematuk dengan cepat. Tetapi kemudian berubah terayun mendatar bagaikan tongkat baja.
Namun tongkat kayu yang dicabutnya dari pagar pasar di tangan Tatas Lintang itupun tidak kalah berbahaya. Meskipun tongkat itu tidak lebih dari sebatang kayu sebesar lengan, namun tongkat itu agaknya menjadi sangat berbahaya. Tongkat itu terayun-ayun cepat sekali. Suaranya telah mengimbangi deru putaran rantai lawannya.
Seperti juga rantai lawannya itu, maka tongkat Tatas Lintang pun sekali terayun menyambar kepala, namun kemudian menjelujur mematuk ke arah dada.
Namun ketangkasan keduanya mampu saling menghindari setiap serangan. Baik tongkat Tatas Lintang maupun rantai di tangan lawannya masih belum berhasil menyentuh sasaran.
Dengan demikian maka pertempuran itupun semakin lama menjadi semakin seru. Tatas Lintang yang masih belum mempergunakan kemampuan puncaknya ternyata mulai diganggu oleh kejemuannya melayani lawannya.
Ketika sekilas ia melihat Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura yang berwajah tegang, maka Tatas Lintang pun menjadi berdebar-debar. Barulah kemudian ia sadar, bahwa ia telah mempergunakan tongkat sebagai senjatanya, sementara itu Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura sedang sibuk dengan orang-orang yang disebutnya bertongkat.
Tetapi Tatas Lintang tidak melepaskan senjatanya. Iapun justru telah meningkatkan kemampuan ilmunya untuk mulai dengan sungguh-sungguh menekan lawannya.
Dengan demikian maka tongkat Tatas Lintang pun telah berputar semakin cepat. Melampaui kecepatan putaran rantai lawannya.
Dalam gerak yang cepat dan saling mengarah ke tubuh lawan, maka kadang-kadang kedua jenis senjata itu memang bersentuhan. Meskipun tidak langsung, namun keduanya mampu mendapat kesan dari kekuatan masing-masing.
Bahkan ketika keduanya bergerak semakin cepat, maka benturan-benturan pun tidak dapat dihindarinya lagi.
Namun akhirnya orang yang bersenjata rantai itupun menjadi jemu pula. Rasa-rasanya tenaganya justru mulai menjadi susut. Apalagi setelah terjadi benturan kekuatan sehingga ia telah jatuh terguling di tanah.
Dengan demikian maka lawan Tatas Lintang itupun telah mengerahkan segenap kemampuan yang ada di dalam dirinya dilambari dengan kemampuan ilmu puncaknya, sehingga iapun telah siap untuk menghancurkan Tatas Lintang yang bersenjata tongkat kayu yang hanya diambilnya dari pagar pasar.
Karena itu, selagi kekuatan dan kemampuan ilmunya masih dapat dianggap utuh, maka iapun akan mempergunakannya.
Tatas Lintang yang melihat lawannya mempersiapkan hentakkan terakhir dari ilmunya itupun telah bersiap pula. Ia tidak mau dihancurkan oleh kekuatan lawannya meskipun ia masih belum mempergunakan ilmunya yang nggegirisi. Yang akan dilakukan adalah membentur ilmu lawannya dengan lambaran kekuatan dan ilmunya.
Sebenarnyalah sejenak kemudian, maka lawannya itupun telah mengambil jarak. Memutar rantai di tangannya sambil menggeram dan siap untuk meloncat, ia lebih percaya kepada rantainya sebagai senjatanya yang khusus daripada pedangnya yang tergantung di lambung.
Tatas Lintang telah mempersiapkan tongkatnya pula. Ia sadar, bahwa tongkat kayu itu secara wajar tidak akan mampu menahan benturan kekuatan dengan rantai yang juga akan dilandasi dengan kekuatan dan kemampuan ilmu lawannya,
Karena itu, maka Tatas Lintang telah menyalurkan getaran kekuatannya pada tongkatnya, sehingga tongkat itu akan mampu menahan benturan yang sangat kuat.
Pada saat Tatas Lintang sampai kepada puncak kekuatan dan kemampuan ilmunya, maka lawannya pun telah meloncat sambil mengayunkan rantainya yang seakan-akan telah berubah menjadi sebatang tongkat besi baja yang kuat dan berat.
Sejenak kemudian benturan yang dahsyat pun telah terjadi. Benturan kekuatan dan kemampuan ilmu yang sangat tinggi. Rantai yang seakan-akan berubah menjadi besi baja yang kokoh kuat telah berbenturan dengan sebatang tongkat kayu yang dialiri oleh getaran kekuatan dan kemampuan ilmu yang jarang ada bandingnya, sehingga tongkat kayu itupun bagaikan telah berubah pula menjadi wesi gligen.
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menjadi berdebar-debar. Ia sadar bahwa Tatas Lintang tentu tidak akan membenturkan tongkatnya dalam keadaan wajarnya. Meskipun demikian, melihat ayunan rantai di tangan lawannya itu, ketiganya menjadi cemas.
Benturan yang terjadi ternyata benar-benar dahsyat. Sama sekali tidak menunjukkan bahwa yang berbenturan itu adalah seutas rantai dan sebatang tongkat kayu yang dicabut dari pagar pasar. Yang berbenturan seolah-olah dua batang tongkat baja yang kuat dan berat dalam ayunan yang sangat besar.
Akibatnya pun dahsyat pula. Tatas Lintang terdorong beberapa langkah surut. Tongkatnya menjadi retak meskipun belum patah. Sekali lagi ia terhuyung-huyung. Namun iapun masih mampu bertahan meskipun harus bertelekan pada tongkat kayunya.
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar