*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 032-03*
Tatas Lintang mengangguk-angguk. Yang terjadi itu memang mendebarkan. Tentu ada hubungannya dengan tiga ekor harimau yang datang ke pondok mereka.
“Memang sangat memprihatinkan,“ berkata Tatas Lintang kemudian.
“Apakah pendapat Ki Sanak tentang hal ini? Mungkin Ki Sanak melihat jalan keluar untuk mengatasinya?“ bertanya Ki Bekel.
Tatas Lintang merenung sejenak. Namun Tatas Lintang tidak dapat menyebut apa yang pernah terjadi di pondok mereka sebelum mereka meyakinkan apa yang sebenarnya terjadi. Agaknya Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun tidak mendahului Tatas Lintang sehingga mereka pun hanya berdiam diri saja.
Karena Tatas Lintang tidak segera menjawab, maka Ki Bekel itupun mendesaknya, “Ki Sanak. Agaknya di seluruh padukuhan ini tidak ada orang yang dapat menolong kami. Kami tidak tahu apakah maksud sebenarnya Ki Sanak tinggal di padukuhan kami setelah kami mengetahui kelebihan Ki Sanak. Namun justru karena kelebihan itulah maka kami berharap bahwa Ki Sanak akan dapat menolong kami.”
Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Namun tatapan mata Ki Bekel mempunyai nada yang mendebarkan. Meskipun ia minta agar Tatas Lintang menolongnya, namun agaknya ada juga semacam kecurigaan.
Karena itu, untuk menghilangkan segala prasangka yang kurang baik dalam hubungannya dengan orang-orang padukuhan itu, Tatas Lintang pun berkata, “Ki Bekel. Baiklah, Kami akan mempelajari dan mengamati apa yang terjadi. Mudah-mudahan kami akan dapat membantu mengatasi persoalan yang kini timbul di padukuhan ini. Agaknya harimau-harimau itu bukannya secara kebetulan memasuki padukuhan ini. Biasanya hanya harimau yang telah menjadi tua dan tersisih dari pergaulan di antara sesama harimau sajalah yang memasuki padukuhan untuk mencari mangsanya. Tetapi sudah tentu tidak sampai tiga ekor sekaligus.”
“Ya Ki Sanak,“ jawab Ki Bekel, “memang ada tiga ekor kambing yang diterkamnya. Tetapi apakah dengan demikian harimau yang menerkamnya juga berjumlah tiga ekor?”
Tatas Lintang mengerutkan keningnya. Yang diketahuinya memang tiga ekor harimau yang datang ke pondoknya. Meskipun demikian ia menjawab, “Maksudku korbannya adalah tiga ekor kambing. Memang aku menduga bahwa harimaunya tentu tidak hanya seekor. Betapa besar dan rakusnya harimau itu tetapi harimau itu tentu tidak akan menerkam tiga ekor kambing sekaligus dalam satu malam.”
Orang-orang yang mendengarnya mengangguk-angguk. Mereka sependapat dengan Tatas Lintang, bahwa seekor harimau tidak akan menerkam tiga ekor kambing dalam satu malam.
Sementara itu maka Ki Bekel pun kemudian berkata, “Ki Sanak. Kami akan menyerahkan segala sesuatunya kepada Ki Sanak serta ketiga orang kemanakan Ki Sanak. Seperti sudah kami katakan, kami mengetahui bahwa Ki Sanak memiliki kelebihan. Meskipun agaknya kami agak terlambat menyadari hal itu. Kami mengira bahwa Ki Sanak bukan seorang yang memiliki ilmu yang tinggi sebagaimana Ki Sanak perlihatkan dalam perkelahian di dekat pasar itu. Sebagai penghuni padukuhan ini maka Ki Sanak tentu tidak akan berkeberatan.”
Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam, katanya, “Baiklah ki Bekel. Kami akan berusaha. Tetapi kami tidak dapat mengatakan dengan pasti bahwa kami akan berhasil.”
“Kami tidak dapat memaksakan sesuatu terhadap ki Sanak,“ berkata Ki Bekel, “sudah tentu kami tidak akan dapat menentukan keberhasilan usaha Ki Sanak. Tetapi jika Ki Sanak bersedia berusaha, berhasil atau tidak berhasil, kami akan mengucapkan terima kasih yang tiada terhingga.”
Tatas Lintang mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Ki Bekel. Untuk melakukan pekerjaan ini aku akan mohon bantuan seluruh penghuni padukuhan ini. Bergantian kita semuanya akan berjaga-jaga, tegasnya para peronda mendapat tugas tambahan, mengawasi kandang-kandang kambing di seluruh padukuhan. Sudah barang tentu kami tidak akan dapat melihat seluruh padukuhan ini pada satu saat. Karena itu maka kami mohon setiap orang yang mendapat giliran meronda, jika melihat kedatangan harimau itu harus memberikan isyarat. Dengan demikian kami akan dapat segera datang. Jika mungkin kami akan berusaha untuk membunuh harimau itu. Meskipun aku sadar, bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang sangat berbahaya. Mungkin bukan aku yang membunuh harimau itu, tetapi nasibku tidak lebih baik dari seekor kambing yang telah dikoyak-koyak oleh harimau itu.”
“Kalian memiliki kelebihan. Meskipun segala kemungkinan dapat terjadi, namun aku mempunyai satu keyakinan, bahwa kalian akan berhasil, sementara itu kami semuanya akan membantu sesuai dengan kemampuan kami.“ berkata Ki Bekel.
“Terima kasih,“ jawab Tatas Lintang, “tanpa aku pun seluruh laki-laki di padukuhan ini tentu akan mampu membunuh seekor, bahkan dua ekor harimau. Tetapi karena kita sudah mendapat kesan tentang kegarangan seekor harimau, maka kita pada umumnya telah menjadi ketakutan demikian kita mendengar aumnya atau melihat taringnya.”
Ki Bekel mengangguk-angguk. Jawabnya, “Karena itu agaknya mereka memerlukan satu dua orang yang dapat membangkitkan keberanian mereka.”
Sekali lagi Tatas Lintang mengangguk-angguk. Jawabnya, “Kami akan melakukannya sebaik-baiknya. Dan kami pun percaya bahwa semua laki-laki di padukuhan ini akan membantu kami sebaik-baiknya.”
“Baiklah. Sejak nanti malam, kami semuanya akan berjaga-jaga. Mudah-mudahan Ki Sanak pun akan dapat bersama kami malam nanti,“ berkata Ki Bekel.
“Kami akan berada di pondok kami,“ berkata Tatas Lintang, “dari pondok kami, kami akan mengamati padukuhan ini. Mungkin kami akan mengintai di satu tempat tertentu. Mungkin kami berempat akan berada di satu tempat. Tetapi mungkin kami akan berpencar. Sekali lagi kami pesan, jika peronda atau siapapun yang melihat harimau memasuki padukuhan ini. kami harap dapat memberikan isyarat dengan kentongan. Kami akan segera datang. Sudah tentu dengan ciri-ciri khusus yang dapat menunjukkan tempat harimau itu.
Akhirnya Ki Bekel tidak berkeberatan. Merekapun telah membicarakan tanda-tanda yang khusus sehingga Tatas Lintang akan dapat dengan segera tahu arah harimau yang memasuki padukuhan itu.
Demikianlah, maka Ki Bekel pun telah memerintahkan kepada semua laki-laki untuk ikut merasa bertanggung jawab atas ketenteraman padukuhan mereka. Bergiliran mereka telah mengatur diri untuk berjaga-jaga. Di setiap sudut, simpang tiga dan simpang empat, bahkan tempat-tempat yang dianggap dapat menjadi jalur jalan yang ditempuh oleh harimau-harimau untuk memasuki padukuhan itu telah mendapat pengawasan.
Tetapi di malam berikutnya, ternyata di padukuhan itu tidak terdapat seekor harimau pun. Para peronda tidak menemukan yang mereka cari. Sementara itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang di tengah malam berjalan berkeliling padukuhan, serta singgah di antara orang-orang yang meronda, juga tidak melihat apapun juga.
Namun Tatas Lintang tidak segera mengambil keputusan. Katanya kemudian, “Mungkin di malam berikutnya.”
“Dan kita terus menunggu pagi sampai kita dapat menangkap atau membunuh harimau itu?“ bertanya Mahisa Murti.
Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Memang sulit bagi kita untuk menolak permintaan Ki Bekel itu. Namun demikian, kita akan melakukan pengamatan sekaligus melihat apakah ada hubungan antara harimau itu dengan padepokan yang ingin kita lihat. Menilik keterangan yang kalian berikan kepadaku sebelumnya, maka agaknya memang ada hubungan antara harimau itu dengan padepokan dari yang kau sebut orang-orang bertongkat itu.”
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Tetapi iapun mengerti bahwa sulit untuk menolak permintaan Ki Bekel. Meskipun mereka dapat saja pergi dan tidak kembali ke padukuhan itu tetapi mereka, terutama Tatas Lintang yang sudah lebih lama tinggal di padukuhan itu. akan merasa sangat berat. Ia tidak akan sampai hati membiarkan padukuhan itu dalam kecemasan.
Karena itu, maka ketiga orang yang disebut kemanakan Tatas Lintang itupun akhirnya harus menyesuaikan diri. Dengan berbagai pertimbangan mereka pun harus menunggu sampai waktu yang tidak dapat ditentukan. Tetapi jika benar harimau-harimau itu adalah harimau-harimau sebagaimana pernah menyerang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, maka penantian mereka itupun agaknya akan ada gunanya.
Demikianlah, di malam berikutnya, bukan saja Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sajalah yang ikut bersama-sama dengan orang-orang padukuhan itu, tetapi Tatas Lintang dan Mahisa Ura pun telah keluar pula dari pondok mereka dan bersama-sama dengan yang lain pergi meronda di seluruh padukuhan itu.
Namun seperti malam yang lewat, mereka tidak menjumpai apapun juga, sehingga menjelang fajar, Tatas Lintang dan ketiga orang yang disebut kemanakannya itupun minta diri kepada Ki Bekel dan kembali ke pondok mereka yang kosong.
Tetapi Tatas Lintang tidak perlu cemas, karena ia tidak memiliki apapun yang berharga yang dapat menjadi sasaran pencurian atau perampokan. Ia memang mempunyai bekal yang cukup. Tetapi Tatas Lintang telah menyembunyikannya di tempat yang tidak mudah diketahui orang. Sedangkan bekal Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura, selalu dibawanya pada kantong ikat pinggangnya dan pada kampil kecil yang selalu tergantung di lambung.
Namun bagaimanapun juga, ketika mereka memasuki pondok kecil mereka, jantung mereka pun menjadi berdebaran. Ternyata isi pondok kecil itu telah menjadi berserakan.
“Gila,“ geram Tatas Lintang, “baru berapa hari ini kita membenahi isi rumah kita. Kini keadaan itu telah terulang.”
Tetapi Mahisa Murti melihat keadaan yang berbeda. Karena itu maka katanya kemudian, “Aku kira kita menghadapi keadaan yang berbeda.”
Tatas Lintang mengerutkan keningnya. Sementara itu Mahisa Pukat tiba-tiba saja berkata, “Lihat. Jalan inilah yang dipergunakan oleh mereka yang merusak isi rumah kita.”
Tatas Lintang, Mahisa Murti dan Mahisa Ura pun telah mendekati sebuah lubang yang besar pada dinding bambu yang tidak terlalu kuat di bagian belakang dari pondok kecil itu.
Namun mereka pun segera mengetahui bahwa bekas-bekasnya menunjukkan bahwa yang telah memasuki pondok kecil itu adalah bukan manusia, tetapi harimau. Mungkin seekor, mungkin lebih.
Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia berkata, “Memang kitalah yang menjadi sasaran. Jika harimau-harimau itu membunuh kambing, itu hanyalah salah satu cara untuk mengganggu kita juga.”
Mahisa Pukat pun menggeram. Katanya, “Kita memang harus menemukannya. Kita harus menunjukkan, bahwa harimau-harimau itu tidak banyak berarti jika kita sempat menemukannya.”
Tatas Lintang mengangguk-angguk. Ia pun berkata dalam nada rendah, “Kita akan mencari sampai ketemu. Karena itu. maka biarlah kita tidak bersama-sama meninggalkan pondok ini. Besok kita beritahukan kepada orang-orang padukuhan tentang pondok ini. Jika hanya dua orang diantara kita yang keluar rumah, bukan karena kita tidak bersungguh-sungguh membantu mereka. Tetapi karena justru rumah kitalah yang menjadi sasaran.”
“Ya. Tetapi kita pun harus mempunyai alat untuk mengirimkan isyarat, sehingga dalam keadaan tertentu kita akan berkumpul menghadapi harimau-harimau itu. Mereka harus dihabiskan tanpa ampun, karena dengan demikian maka kita akan dapat membangkitkan kesan kepada orang-orang yang menggerakkan harimau itu bahwa kita siap menghadapinya.“ berkata Mahisa Murti.
Tatas Lintang mengangguk-angguk, ia sadar bahwa sikap itu justru didorong oleh kemarahan yang telah mengguncang isi dadanya.
Tatas Lintang serta ketiga orang yang disebut kemanakannya itu sama sekali tidak membenahi isi rumah yang berserakan itu. Dinding yang koyak oleh kuku-kuku yang tajam. Ajug-ajug yang roboh dan amben mereka yang baru itupun telah rusak pula.
Keempat orang itu melihat seakan-akan harimau yang merusak isi rumah mereka itupun mampu melakukannya sebagaimana seseorang melakukannya. Seolah-olah harimau-harimau itu tahu yang manakah yang harus mereka rusakkan dari isi rumah yang hanya sedikit itu.
Ketika kemudian pagi turun serta matahari mulai naik, beberapa orang telah menyaksikan apa yang terjadi di pondok kecil itu. Ki Bekel yang mendapat pemberitahuan itupun segera telah datang pula. Iapun melihat isi rumah Tatas Lintang yang tidak berarti itu telah berserakan.
“Kita akan menggantinya,“ berkata Ki Bekel.
“Terima kasih Ki Bekel,” berkata Tatas Lintang, “Jika ada yang harus diganti. Kami akan memperbaiki barang-barang kami yang rusak ini. Kami pun akan dapat menutup dinding bambu yang berlubang karena dikoyak oleh kuku-kuku harimau itu.”
Ki Bekel menarik nafas dalam-dalam. Namun katanya kemudian, “Baiklah. Aku kira kami memang tidak perlu menggantinya, karena yang kita lihat ini bukanlah yang sebenarnya.”
“Apa maksud Ki Bekel?“ bertanya Tatas Lintang.
Ki Bekel itu tersenyum. Jawabnya, “Tidak apa-apa.”
Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun mengerti maksud Ki Bekel, sebagaimana ketiga orang yang disebut kemenakannya itu.
Namun dalam pada itu, Tatas Lintang pun berkata, “Ki Bekel, dengan peristiwa ini kami akan memohon bahwa di malam-malam berikutnya, hanya dua orang sajalah di antara kami yang akan membantu Ki Bekel mencari harimau itu di setiap sudut padukuhan ini, sedangkan dua di antara kami akan tetap berada di rumah ini.”
“Kami mengerti,“ jawab Ki Bekel, “dan kami pun tidak akan berkeberatan.”
Ki Bekel pun kemudian minta diri. Beberapa orang masih tinggal di sekitar pondok itu. Bahkan seorang di antara mereka berkata, “Ki Sanak. Sebaiknya kalian mengungsi saja ke banjar daripada kalian akan dikoyak oleh harimau itu sebagaimana dinding rumahmu itu.”
Tatas Lintang tersenyum. Katanya, “Biarlah aku menunggu gubugku ini. Mudah-mudahan harimau itu dapat aku jinakkan.”
“Betapapun kuatnya seseorang, namun melawan seekor harimau liar tentu akan mengalami kesulitan. Karena itu, bukankah rumahmu itu tidak berisi barang-barang berharga? Karena itu, tinggalkan saja dan tinggallah di banjar. Jika harimau itu datang lagi ke rumah ini, ia tidak akan menjumpai apa-apa sebagaimana semalam. Jika dua tiga kali terjadi seperti itu, maka harimau itu tentu akan menjadi jemu dan tidak akan datang lagi ke pondok ini. Nah, jika demikian maka kalian akan dapat kembali lagi.”
Tatas Lintang mengangguk-angguk. Namun ia menjawab, “Kami akan mencoba mempertahankan rumah ini. Bukan karena harta benda yang ada di dalamnya. Tetapi kami akan belajar mempertahankan hak kami. Mungkin seekor harimau akan dapat membunuh seseorang. Tetapi seseorang mempunyai kesempatan lebih banyak dari seekor harimau, karena seseorang mampu mempergunakan akalnya untuk melawan seekor harimau, sedang seekor harimau tidak mampu mempergunakan akal serta nalarnya.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Terserahlah kepadamu. Tetapi seandainya aku menjadi kalian, maka aku tidak akan mencari kesulitan dengan menunggu seekor harimau. Lebih baik kalian berada di antara kami jika kalian tidak mau berada di banjar.”
Tatas Lintang tidak menjawab lagi meskipun ia masih saja tersenyum.
Namun orang-orang itupun akhirnya meninggalkan rumah Tatas Lintang. Orang yang menasehatkan agar ia pergi ke banjar itupun bergumam di antara kawan-kawannya, “Orang itu memang sombong.”
“Kenapa?“ bertanya kawannya.
“Aku sarankan agar ia tidur saja di banjar,“ jawab orang itu, “tetapi ia menolak. Ia merasa mampu melawan seekor harimau.”
“Ia orang yang berilmu,“ desis kawannya, “ia sudah menunjukkan bahwa ia mampu mengalahkan orang-orang yang ditakuti di padukuhan ini serta orang yang garang di dekat pasar.”
“Tetapi orang-orang itu bukan harimau,“ berkata orang itu.
Kawannya tidak menjawab lagi. Memang menurut gambarannya harimau jauh lebih menakutkan daripada seseorang betapapun besar tenaganya.
Ketika orang-orang yang datang ke rumahnya sudah pulang semuanya, maka Tatas Lintang pun berkata, “Kita akan memperbaiki isi rumah kita yang rusak.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun kemudian telah bekerja untuk membenahi isi rumah itu, sementara Tatas Lintang memperbaiki dinding yang telah koyak dengan menutupnya dengan belahan-belahan bambu.
“Kita tidak akan membiarkan siapapun merusak isi rumah ini lagi,“ berkata Mahisa Pukat, “agar kita tidak usah memperbaikinya lagi.”
Tatas Lintang yang mendengarnya pun tertawa. Namun kemudian katanya, “Kita akan menjaganya. Kita tidak akan meninggalkan pondok ini lagi di malam hari. Dua orang di antara kita akan berada di rumah, jika yang lain ikut meronda bersama anak-anak muda padukuhan ini.”
Sebenarnyalah ketika kemudian malam turun, maka yang keluar dari pondok itu hanyalah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Mereka berdua telah ikut bersama-sama anak-anak muda padukuhan itu mengamati keadaan di seputar padukuhan. Namun mereka sama sekali tidak menjumpai seekor harimau pun.
Namun Tatas Lintang dan Mahisa Ura yang tinggal di rumah, ternyata telah mendengar dengus harimau di belakang pondok itu.
Dengan isyarat Tatas Lintang minta Mahisa Ura bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Jika harimau itu sekali lagi mengoyak dinding dan memasuki rumah itu, maka mereka harus membinasakannya tanpa ampun. Bukan saja karena harimau itu pernah merusakkan pondok mereka. Tetapi mereka harus memberikan kesan bahwa harimau-harimau itu sama sekali tidak berarti apa-apa.
Tatas Lintang dan Mahisa Ura berusaha untuk tidak mengejutkan dan mengusir harimau itu. Mereka dengan hati-hati telah berada di bagian belakang pondok mereka. Dari tempat mereka menunggu, mereka dapat mendengar dengan jelas dengus harimau yang kemudian mencoba untuk mengorek dinding yang baru saja diperbaiki itu.
Tatas Lintang bergeser mendekat. Namun ternyata bahwa hidung harimau itu cukup tajam. Agaknya harimau itu telah mencium bau seseorang di dalam pondok itu, sehingga karena itu, maka harimau itu telah menggeram.
Tatas Lintang sadar, bahwa kehadirannya telah diketahui oleh harimau itu. Karena itu, maka iapun tidak lagi mengendap-endap.
Demikian Tatas Lintang berdiri, iapun telah memberikan isyarat agar Mahisa Ura pun tidak perlu lagi menahan nafasnya.
Tetapi sejenak kemudian tiba-tiba mereka mendengar harimau itu mengaum. Suaranya memang tidak begitu keras. Namun auman harimau itu seakan-akan pertanda sesuatu bagi kawan-kawannya atau bagi seseorang.
Sejenak Mahisa Ura dan Tatas Lintang menunggu. Namun agaknya Mahisa Ura tidak sabar, sehingga iapun berdesis, “Aku akan keluar. Kita tidak dapat menunggu terlalu lama.”
Tetapi ketika Mahisa Ura benar-benar melangkah, maka Tatas Lintang telah menahannya sambil berdesis, “Kita tidak tahu, apa yang ada di luar. Karena itu, biarlah kita menunggu.”
“Tetapi kita akan kehilangan harimau-harimau itu lagi,“ jawab Mahisa Ura.
Tetapi Tatas Lintang berkata, “Harimau-harimau itulah yang merunduk kita. Karena itu, mereka tidak akan pergi. Mereka akan masuk dan akan menerkam kita , Namun apakah benar bahwa yang datang itu hanya seekor atau dua ekor atau tiga ekor harimau saja.”
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Namun iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan jika harimau itu benar-benar akan menerobos masuk ke dalam pondok itu.
Sebenarnyalah yang terdengar dari dalam rumah itu telah mendebarkan jantung. Ternyata sejenak kemudian mereka mendengar dengus bukan hanya seekor. Tetapi lebih dari dua ekor. Seekor sedang mengorek-ngorek sudut pondok itu, yang lain telah mendorong-dorong pintu butulan, sementara seekor lagi terdengar menggoreskan kukunya di dinding. Namun selain itu, masih juga terdengar seekor mengaum di depan pondok kecil itu.
“Memang beberapa ekor harimau,“ berkata Tatas Lintang, “kita akan menerkam tamu kita dengan meriah. ”
“Apakah kita tidak mengundang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk ikut dalam permainan yang menyenangkan ini?” bertanya Mahisa Ura, “bukankah mereka telah berpesan?”
Tatas Lintang mengangguk-angguk. Tetapi iapun kemudian bertanya, “Bagaimana cara kita memanggil mereka? Jika kita memukul kentongan, maka mungkin seisi padukuhan akan datang. Dengan demikian maka harimau-harimau itu akan pergi, atau yang terjadi justru sebaliknya. Akan jatuh korban karena harimau itu dengan liar dan kasar menyerang mereka.”
Mahisa Ura termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Aku akan mencari mereka.“
“Itu berbahaya sekali,“ berkata Tatas Lintang, “sekali lagi peringatkan aku.”
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian Tatas Lintang itupun kemudian berkata, “Baiklah. Aku akan mencobanya dengan Aji Pameling. Mudah-mudahan ia dapat menangkapnya.”
Mahisa Ura mengerutkan keningnya. Namun ia tidak mengatakan sesuatu.
Sesaat kemudian, maka Tatas Lintang pun telah memusatkan nalar budinya untuk mengetrapkan Aji Pameling. Ketajaman perasaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat diharapkannya akan dapat tersentuh oleh getaran ilmunya.
Ternyata bahwa tingkat ilmu Tatas Lintang cukup tinggi. Aji Pamelingnya dengan tajam telah memancarkan getaran yang akan dapat memanggil mereka kembali ke pondok kecil itu.
Ternyata bahwa perasaan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat cukup peka untuk menerima sentuhan getaran Aji Pameling. Karena itulah maka tiba-tiba saja keduanya merasa bahwa mereka harus segera kembali.
“Ada semacam kekuatan yang memanggil kita kembali ke pondok kecil itu,“ berkata Mahisa Murti yang sedang berada di sebuah simpang tiga di pinggir padukuhan.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Katanya, “Aku juga merasakannya. Tentu bukan sekedar kebetulan.”
“Aku mendapat isyarat yang cukup jelas bagiku. Kita memang harus segera kembali,“ sahut Mahisa Murti.
“Tentu Tatas Lintang yang memiliki bermacam-macam ilmu telah memanggil kita,“ desis Mahisa Pukat.
“Aku juga menduga demikian,“ sahut Mahisa Murti.
Dengan demikian maka keduanya pun segera menemui orang yang cukup berpengaruh di tempat itu. Dengan hati-hati keduanya menjelaskan bahwa keduanya ingin melihat pondok mereka.
“Kenapa dengan pondok kalian? Bukankah pamanmu dan kakakmu ada?“ jawab orang yang berpengaruh itu.
“Ya. Tetapi rasa-rasanya ada sesuatu terjadi,“ jawab Mahisa Murti, “tetapi biarlah kami berdua sajalah yang melihatnya.”
“Baiklah,“ berkata orang itu, “tetapi segera saja kembali kemari.”
Demikianlah maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tergesa-gesa menuju ke pondok kecilnya. Mereka sengaja berusaha untuk tidak melewati gardu-gardu pengawas, agar mereka tidak tertahan oleh anak-anak muda dan orang-orang yang berada di gardu-gardu.
Sementara itu, Tatas Lintang yang telah melepaskan Aji Pameling itu menjadi berdebar-debar. Ia masih belum yakin bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat dapat menangkapnya. Namun apapun yang terjadi, maka mereka yang ada di pondok itu harus menghadapi harimau-harimau yang agaknya memang berusaha untuk memasuki rumah itu.
Beberapa saat kemudian, Mahisa Ura yang memperhatikan gerak harimau-harimau itu selama Tatas Lintang memusatkan nalar budinya untuk melepaskan Aji Pamelingnya, melihat dinding di sudut rumah itu sudah mulai bergetar. Ketika sepotong bambu patah, maka Mahisa Ura itupun segera mempersiapkan diri untuk dengan pukulan pertama menghancurkan harimau itu.
Namun Mahisa Ura itu terkejut ketika ia mendengar derak di sisi pondok itu. Ternyata seekor di antara harimau-harimau itu berusaha untuk memasuki rumah kecil itu lewat tutup keyong yang memang agak lemah. Dinding rumah di sebelah sisi itu bergetar ketika seekor di antara harimau-harimau itu memanjat.
Mahisa Ura memang agak bingung. Yang manakah di antara kedua harimau itu yang lebih dahulu akan memasuki pondok kecil itu.
Namun dalam pada itu, Tatas Lintang pun telah selesai. Dengan nada rendah ia berkata, “Biarlah yang memanjat dinding itu aku selesaikan.”
Mahisa Ura menarik nafas-nafas dalam-dalam. Yang dihadapinya kemudian adalah harimau yang akan merusak dinding di sudut rumah itu.
Tetapi ternyata di bagian lain, dinding pun mulai koyak. Bahkan ketika Mahisa Ura berpaling, dilihatnya kuku-kuku harimau itu mematahkan bambu-bambu yang dianyam menjadi dinding, dan sebelah kaki depannya pun telah menembus masuk menggapai-gapai.
Mahisa Ura menggeram. Tetapi ia telah bergeser. Ia berdiri di tengah-tengah di antara dua ekor harimau yang berebut dahulu memasuki rumah kecil itu. Sementara itu Tatas Lintang sudah siap menerima jika harimau yang memanjat dinding itu akan menembus memasuki tutup keyong.
Pada saat yang demikian itulah, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memasuki halaman pondok kecil itu. Keduanya terkejut melihat seekor harimau berkeliaran di halaman.
“Apakah hanya seekor?“ bertanya Mahisa Pukat.
Mahisa Murti termangu-mangu. Namun kemudian iapun bergerak mendekati harimau itu sambil berdesis, “Lihat di bagian lain dari halaman ini.”
Mahisa Pukat pun kemudian bergeser ke samping. Ketika harimau di halaman itu berpaling ke arahnya, Mahisa Murti telah mendekatinya sambil berdesis, “Lawan aku, he?”
Harimau itu tiba-tiba mengaum tidak terlalu keras. Dihadapinya Mahisa Murti dengan mata yang menyala.
Yang ada di dalam rumah itu mendengar suara di halaman. Dengan serta merta Mahisa Ura bertanya dengan lantang, “Siapa di halaman depan?”
“Aku. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat,“ jawab Mahisa Murti.
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Mahisa Murti berkata, “Di sini ada seekor harimau.”
“Di belakang ada beberapa ekor yang sudah siap untuk menerobos dinding,“ berkata Mahisa Ura.
“Pukat akan melihatnya,“ jawab Mahisa Murti.
”Berhati-hatilah,“ tiba-tiba terdengar suara Tatas Lintang, “ada yang memanjat.”
Sejenak suasana menjadi tegang. Mahisa Pukat yang telah berada di halaman samping tertegun melihat beberapa ekor harimau di belakang rumah itu. Bahkan seekor di antaranya telah memanjat dinding dan siap meloncat masuk ke dalam rumah.
Dalam keadaan yang demikian, maka Tatas Lintang telah memberikan isyarat kepada Mahisa Ura. Justru ketika seekor harimau dapat memecah dinding dan menerobos masuk, serta yang menembus tutup keyong pun telah meloncat turun di dalam pondok kecil itu, Tatas Lintang dan Mahisa Ura telah meloncat keluar lewat pintu depan.
“Kau Mahisa Murti,“ sapa Mahisa Ura.
Mahisa Murti bergeser ke samping. Harimau dihadapannya telah merunduk dan siap untuk menerkam. Tetapi ketika Mahisa Ura dan Tatas Lintang meloncat keluar, maka harimau itu telah berpaling.
Tetapi hanya sesaat. Kemudian iapun telah kembali memandang Mahisa Murti dengan sorot matanya yang membara.
Mahisa Pukat yang berada di sisi rumah itu agak ke belakang, telah bergeser pula ke halaman depan. Dengan demikian maka keempat orang itupun telah lengkap berada di depan pondok kecilnya.
Harimau yang telah berada di dalam rumah itu menjadi sangat marah. Mereka sempat merusak isi rumah itu. Sementara itu Tatas Lintang pun berkata, “Ternyata kita tidak mencegah harimau-harimau itu merusak rumah kita.”
“Kita akan menyambutnya di sini,“ berkata Mahisa Murti.
Sebenarnyalah, sejenak kemudian, maka dua ekor harimau telah keluar lewat pintu dengan marahnya. Sementara yang lain berlari melingkari rumah itu. karena harimau itu belum berhasil masuk. Namun ternyata ketika harimau-harimau itu telah berada di halaman, maka jumlahnya adalah lima ekor.
“Lima ekor,“ berkata Tatas Lintang.
“Aku akan menghancurkan mereka,“ berkata Mahisa Murti.
“Ya,“ sahut Tatas Lintang dengan suara yang lebih keras, “kita harus menunjukkan bahwa harimau-harimau ini tidak berarti apa-apa.”
Mahisa Murti. Mahisa Pukat dan Mahisa Ura termangu-mangu sejenak. Namun mereka pun segera menyadari, bahwa Tatas Lintang telah mengatakannya dengan suara lantang bukannya tanpa maksud.
“Tentu ada orang lain yang mendengarnya,“ berkata ketiganya di dalam hatinya.
Dengan demikian, maka kata-kata Tatas Lintang itu merupakan perintah untuk membunuh harimau-harimau itu dengan segera.
Mahisa Murti lah yang telah bersiap lebih dahulu. Karena itu, maka iapun berkata, “Aku sudah siap. Minggirlah.”
Dalam pada itu, maka harimau yang berhadapan dengan Mahisa Murti telah siap untuk menerkam. Harimau itu bergeser sambil merunduk, sehingga perutnya hampir melekat di tanah.
Mahisa Pukat, Mahisa Ura dan Tatas Lintang pun telah bergeser. Harimau-harimau yang lain pun telah mengikuti mereka. Dua ekor harimau telah merangkak dengan hati-hati ke arah Tatas Lintang.
Yang lain pun telah mulai merunduk sambil menggeram pula. Mereka nampaknya digerakkan oleh satu perintah untuk menyerang lawannya bersama-sama.
Mahisa Murti sebagaimana yang lain memang ingin menunjukkan bahwa mereka telah benar-benar siap. Karena itu, maka ketika harimau yang merunduk Mahisa Murti itu meloncat menyerang, maka Mahisa Murti telah siap menerimanya dengan ilmunya yang dahsyat dalam bentuknya yang keras.
Demikianlah, maka harimau yang tidak menduga bahwa ia akan membentur satu ilmu yang dahsyat itu telah mengaum dan menerkam Mahisa Murti. Kuku-kukunya terjulur ke depan siap mengoyak tubuh sasarannya. Bahkan taring-taringnya yang tajam pun telah siap pula dipergunakannya.
Namun yang terjadi kemudian telah mengakhiri kegarangan harimau itu. Sebelum kuku-kuku harimau itu menyentuh kulit Mahisa Murti, maka Mahisa Murti telah mengayunkan tangannya menyongsong tubuh harimau yang menerkamnya itu.
Satu benturan yang dahsyat telah terjadi. Kekuatan ilmu puncak yang dilambari Aji Pamungkas yang terpusat di tangan Mahisa Murti bagaikan hentakan kekuatan yang memancar dari letusan Gunung Merapi yang meledak.
Demikian besar kekuatan yang terpancar pada benturan tangan Mahisa Murti yang telah mengenai kepala Harimau itu, maka harimau yang perkasa serta ditakuti oleh penghuni hutan yang lain itu tidak berdaya untuk bertahan.
Yang terdengar kemudian adalah harimau itu mengaum keras sekali. Jauh berbeda dengan auman sebelumnya yang hanya terdengar dari jarak yang dekat. Namun ketika kepalanya membentur kekuatan ilmu Mahisa Murti, maka harimau itu telah berteriak sekeras-kerasnya.
Demikian harimau itu jatuh di tanah, maka tubuhnya tidak lagi bergerak sama sekali. Mati. Tulang kepalanya telah retak dan otaknya pun telah terguncang.
Suara harimau itu memang mengejutkan. Yang mendengar suara itu bukan saja orang-orang yang berada di halaman itu. Tetapi orang-orang yang berada di padukuhan pun telah mendengarnya pula.
Beberapa orang yang mendengar aum yang dahsyat itu terkejut. Terkejut kulit mereka meremang. Meskipun mereka mengharap Tatas Lintang dan ketiga orang yang disebut kemanakannya itu bersedia untuk membantu mereka, tetapi jantung mereka telah berdebaran juga mendengar aum yang menggetarkan itu.
“Di mana anak-anak muda itu?“ bertanya seseorang.
“Entahlah,“ jawab yang lain, “mungkin mereka baru berkeliling.”
Tetapi seorang yang lain menyahut, “Aku dari regol. Anak itu baru menengok pondoknya.”
Orang yang pertama itupun berkata pula, “Pada saat kita mendengar aum harimau itu, anak-anak itu tidak ada di antara kita.”
“Tetapi mereka tentu mendengarnya juga,“ jawab yang lain, “bahkan menurut pendengaranku, suara harimau itu berasal justru dari arah pondok kecil itu, atau sekitarnya.”
“Mudah-mudahan, bagaimanapun juga mereka mempunyai kelebihan.”
Namun seorang yang berjambang lebat berkata, “Ada atau tidak ada, kita semuanya akan membunuh harimau itu beramai-ramai.”
Yang lain-lain pun mengangguk-angguk pula. Seorang di antara mereka berkata, “Marilah. Kita akan mencari harimau itu.”
Tetapi orang berjambang lebat itu termangu-mangu. Katanya kemudian, “Kenapa kita harus mencarinya ? Kita tunggu saja di sini.”
“Jika harimau itu tidak kemari ?“ bertanya kawannya.
“Kita mendapat tugas di sini,“ berkata orang berjambang lebat itu, “karena itu kita jangan pergi ke mana-mana.”
Kawannya tersenyum. Karena ia sudah mengetahui sifat-sifat orang berjambang itu, maka katanya, “Marilah. Kita berdua melihatnya lebih dahulu. Jika kita bertemu, maka kita akan memukul isyarat dengan kentongan.”
Orang berjambang itu menjadi tegang. Beberapa orang yang lain yang sudah mengenalinya pula menyahut hampir bersamaan, “Pergilah. Kita menunggu di sini.”
Orang berjambang lebat dan bertampang seram itu menjadi pucat. Orang yang mengajaknya itu telah berdiri dan melangkah. Katanya, “Marilah.”
Tetapi orang yang berjambang lebat itu berkata gagap, “Tidak ada gunanya. Harimau itu tentu sudah lari. Aku menunggu di sini saja. Mungkin harimau itu justru akan lari kemari.”
Namun belum lagi kawannya menjawab, tiba-tiba telah terdengar lagi seekor harimau mengaum sekeras yang pernah mereka dengar.
Sebenarnyalah, bahwa Mahisa Pukat pun telah menyelesaikan lawannya pula. Ketika seekor harimau menerkamnya, maka Mahisa Pukat telah melakukan hal yang sama, sebagaimana dilakukan oleh Mahisa Murti.
Tetapi agaknya Mahisa Ura ingin berbuat lain. Ia tidak menunggu harimau itu menerkamnya. Tetapi Mahisa Ura lah yang lebih dahulu menyerang. Justru pada saat harimau itu merunduk, maka Mahisa Ura telah mengerahkan segenap kemampuannya untuk menyerang harimau itu dari jarak beberapa langkah. Mahisa Ura ingin membuktikan apakah ia benar-benar telah memiliki warisan ilmu dari Tatas Lintang.
Karena itu, menyusul aum harimau yang terbunuh oleh Mahisa Pukat, maka Mahisa Ura pun telah menyerang harimau yang merunduknya.
Harimau yang sedang merunduk, itu terkejut bukan buatan ketika sekilas sinar menyambarnya. Harimau itu mengaum dan melonjak tinggi sekali. Namun ketika harimau itu terjatuh di tanah, maka harimau itu justru menjadi seakan-akan gila. Ia tidak merunduk lagi untuk menerkam, tetapi harimau itu dengan serta merta telah berlari untuk menggapai tubuh Mahisa Ura.
Namun Mahisa Ura sempat mengelak dengan loncatan panjang menyamping. Sekali lagi ia sempat melontarkan pukulan itu dari jarak yang lebih dekat.
Sekali lagi harimau itu mengaum. Tetapi pukulan dari samping yang langsung mengenai kepalanya itu agaknya telah menentukan.
Harimau itu menggeliat kesakitan. Serangan Mahisa Ura yang bagaikan sinar menyambarnya dari samping itu terasa bagaikan sentuhan segumpal batu padas yang menimpa kepalanya.
Ternyata bahwa serangan itu telah menentukan. Harimau itu tidak mampu bertahan lagi. Beberapa kali harimau itu berguling. Namun kemudian harimau itupun diam.
Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Meskipun serangannya tidak mematikan seketika sebagaimana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun ia merasa bangga juga, bahwa ia telah mewarisi sejenis ilmu yang jarang ada bandingnya sesuai dengan alas kekuatan ilmunya sendiri.
“Jika aku sempat kembali ke tugasku, maka ilmu ini akan sangat berarti,“ berkata Mahisa Ura didalam hatinya.
Sebagai prajurit dalam tugas sandi, maka ilmu kanuragan dan kelengkapannya merupakan modal yang sangat penting baginya.
Aum harimau yang berurutan terdengar oleh orang-orang padukuhan itu memang sangat mendebarkan jantung. Orang-orang yang berjaga-jaga di padukuhan itupun menjadi berdebar-debar. Mereka telah mempersiapkan senjata mereka masing-masing. Orang-orang yang tidak terlalu berani, menjadi gemetar meskipun di tangannya tergenggam senjata. Bahkan ada orang yang menjadi hampir pingsan dan keringatnya bagaikan terperas dari tubuhnya.
“Apa yang harus kita lakukan,“ bertanya seseorang.
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar