*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 031-03*
Namun tingkat kecepatan serangan itu pun dapat bergerak pula. Semakin mapan seseorang menguasai ilmunya, maka ia-pun akan mampu semakin cepat mengungkit dan melontarkan kekuatan ilmu itu lewat telapak tangannya, merambat meniti udara dan menghantam sasaran.
Ternyata bahwa kemampuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat benar-benar nggegirisi. Sasaran serangan mereka, gumpalan batu padas, ternyata telah hancur berserakan. Sebuah ledakan telah terjadi meskipun tidak menimbulkan bunyi yang terlalu keras. Tetapi justru percikan kekuatan yang meledakkan batu pada itu bagaikan percikan bunga api yang memancar di sekitarnya.
Sementara itu, Mahisa Ura pun berhasil pula melontarkan ilmunya. Meskipun ilmunya ketinggalan dari ilmu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun Mahisa Ura pun berhasil menghantam batu padas itu sehingga pecah di beberapa bagian.
Namun dalam pada itu, meskipun ternyata hasilnya masih beberapa lapis di bawah Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, namun Mahisa Ura merasa bahwa dirinya telah mendapatkan satu keberuntungan yang sangat besar. Dengan demikian ia telah memiliki satu kemampuan untuk melakukan serangan tanpa menyentuh dengan wadagnya.
Tatas Lintang yang menyaksikan ketiga orang itu menguji kemampuan mereka mengangguk-angguk. Beberapa kali ia melihat hal yang serupa dilakukan oleh mereka bertiga dalam latihan-latihan yang berat. Namun pada saat ia menyaksikan ketiga orang itu mempergunakan segenap kemampuan yang ada pada diri mereka, maka Tatas Lintang itu pun menjadi sangat kagum.
“Kalian ternyata berhasil melakukannya melampaui kekuatan yang dapat aku lontarkan. Seandainya aku harus beradu kekuatan dengan membenturkan ilmuku dengan ilmu kalian berdua, seorang demi seorang, maka kekuatan ilmuku akan kalah,” berkata Tatas Lintang.
“Ah, jangan begitu,” sahut Mahisa Murti, “agaknya yang aku kuasai belum seberapa.”
“Aku berkata sebenarnya. Yang perlu kau lakukan adalah mempercepat arus pemusatan kekuatan ilmumu serta mengungkit getaran di dalam dirimu, sebelum kau menghentakkan,” berkata Tatas Lintang kemudian. “Jika kalian berhasil, maka kalian akan dapat mendahului usaha lawan kalian untuk menghindari serangan-serangan kalian, meskipun mereka mampu melihat atau memperhitungkan arah serangan kalian.”
Ketiga orang yang sedang menguji kemampuannya itu mengangguk-angguk. Namun untuk mengembangkan kemampuannya itu tentu memerlukan waktu, bukan dengan serta merta. Sementara itu tugas mereka yang berat telah menunggu.
Namun dalam pada itu, Tatas Lintang pun berkata, “Malam ini kalian mendapat kesempatan untuk melakukan beberapa kali. Dengan demikian maka kalian akan semakin mengenali kemungkinan yang ada di dalam diri kalian, sehingga memungkinkan pelepasan ilmu kalian akan menjadi semakin rancak.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun mengangguk-angguk. Dengan nada dalam Mahisa Pukat berkata, “Aku akan mengulanginya. Terus menerus hingga menjelang dini hari.”
“Baiklah. Lakukankah. Aku pun akan melihat, apakah keadaanku benar-benar sudah mapan,” berkata Tatas Lintang.
Dengan demikian maka orang-orang itu pun seakan-akan telah berpencar. Mereka mencari tempat yang paling baik bagi diri mereka sendiri. Baru sejenak kemudian, maka mereka pun telah mulai menenggelamkan diri ke dalam latihan-latihan yang berat. Mereka dengan teliti melihat apa yang terjadi dalam gejolak ilmu mereka. Tingkatan-tingkatan dalam perkembangan kemampuan mereka untuk melontarkan kekuatan ilmu mereka lewat getaran yang meniti udara. Serta kemungkinan-kemungkinan lain yang mendukung kekuatan ilmu mereka itu.
Ternyata bahwa kemampuan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk melakukannya, memang terpaut dengan apa yang dapat dilakukan oleh Mahisa Ura. Namun meskipun demikian, pada Mahisa Ura itu pun terdapat pula kemajuan atas pengenalannya sendiri terhadap kemampuannya yang diperolehnya itu, serta meningkatkannya.
Bagi Mahisa Ura, apa yang diterimanya dari petunjuk-petunjuk Tatas Lintang itu sudah cukup banyak. Bahkan ia pun merasa akan dapat berbangga jika ia sempat kembali dan berada di antara kawan-kawannya.
Ternyata bahwa mereka berempat telah mempergunakan waktu hampir semalam suntuk. Dalam waktu yang singkat itu, maka mereka telah mengenali diri masing-masing beserta perkembangan ilmunya lebih dalam lagi. Mereka sempat mengatur dan meningkatkan kemungkinan-kemungkinan sejauh dapat mereka jangkau. Namun yang semalam itu, ternyata telah memberikan manfaat yang sangat besar bagi mereka.
Tetapi dalam pada itu, ketika malam mendekati dini hari, mereka seakan-akan telah kehabisan tenaga. Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura telah berhenti dengan sendirinya. Bukan karena langit menjadi merah, tetapi mereka seakan-akan telah terkapar tanpa tenaga.
Tatas Lintang mendekati mereka seorang demi seorang dan membantunya berkumpul di dekat sebuah batu yang besar.
Ketiga orang itu diletakkannya duduk bersandar batu yang besar itu. Sementara sambil tersenyum Tatas Lintang itu berkata, “Kalian telah memaksa diri untuk berlatih. Mungkin kalian mencapai satu tingkat sebagaimana kalian kehendaki dalam usaha kalian mengenali ilmu yang baru saja kalian pahami. Tetapi dengan demikian kalian telah kehabisan tenaga. Coba, bayangkan, apa yang akan terjadi jika pada saat yang demikian ini datang seorang musuh yang betapapun lemahnya. Kalian yang seakan-akan telah tidak mampu lagi untuk duduk tegak, tentu tidak akan mampu melawan. Musuh itu akan dengan mudah mendekati kalian seorang demi seorang dan menghunjamkan pedang ke dada kalian.”
Wajah Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menjadi tegang. Dipandanginya wajah Tatas Lintang yang berdiri tegak di hadapan mereka bertiga. Sebenarnyalah jika Tatas Lintang yang kekuatan ilmunya sudah pulih kembali ingin membunuh mereka, maka ia telah mendapat kesempatan itu. Sebagaimana dikatakan oleh Tatas Lintang, mereka benar-benar telah lebih dan kehabisan tenaga, sehingga anak-anak pun akan dapat membunuh mereka jika dikehendakinya.
“Apakah ini satu cara Tatas Lintang memperlemah kami bertiga, sehingga kami tidak akan mampu melawan sama sekali?” berkata mereka bertiga di dalam hati.
Namun ternyata Tatas Lintang berkata, “Mudah-mudahan sebagaimana yang pernah kita jalani, bahwa sampai sekarang tidak seorang pun yang melihat tempat ini dan mengetahui latihan-latihan yang kita jalani. Meskipun demikian kalian telah membebani aku dengan tanggung jawab yang sangat besar. Keselamatan kalian.”
Tidak seorang pun yang menjawab. Rasa-rasanya mulut ketiga orang itu menjadi sangat berat untuk mengucapkan kata-kata.
Tetapi Tatas Lintang itu pun kemudian berkata pula, “Baiklah. Masih ada kesempatan untuk memusatkan nalar budi serta mengatur pernafasan kalian sebaik-baiknya. Aku akan menunggu sampai tenaga kalian pulih kembali.”
Ketiga orang itu masih tetap berdiam diri. Namun Tatas Lintanglah yang kemudian bergeser menjauh. Ia pun kemudian duduk di sebuah batu untuk mengamati keadaan. Sementara itu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura-pun telah berusaha dengan sisa tenaganya untuk memusatkan nalar budinya, mengatur pernafasan mereka untuk mendapatkan kekuatan mereka kembali.
Ketiganya pun kemudian duduk bersila, tanpa bersandar lagi betapapun beratnya. Dengan tangan bersilang di dada, mereka mulai mengatur pernafasan mereka sebaik-baiknya.
Dengan bekal ilmu yang ada di dalam diri mereka, maka perlahan-perlahan pernafasan mereka pun mulai teratur. Darah mereka pun mengalir dengan wajar dan dada mereka tidak lagi bergejolak. Meskipun demikian kekuatan mereka masih belum pulih kembali. Tetapi perlahan-lahan rasa-rasanya tubuh mereka mulai menjadi segar. Angin dini hari, pernafasan yang mengalir lancar, ketenangan dan titik-titik embun agaknya membantu mereka untuk perlahan-lahan mendapatkan kekuatannya kembali.
Dengan demikian, maka sebelum fajar, keadaan mereka pun telah berangsur baik. Bahkan ketiga orang itu telah mampu meskipun agak memaksa diri untuk berdiri.
“Kita harus segera kembali sebelum matahari terbit,” berkata Tatas Lintang.
Ketiga orang itu tidak dapat menunda waktu. Mereka memang sebaiknya berada di rumah kecil itu sebelum matahari terbit, sehingga mereka tidak akan banyak berpapasan dengan, orang-orang yang pergi ke pasar.
Meskipun keadaan mereka masih lemah, namun Mahist Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun terpaksa mengayunkan langkah kembali ke sudut pategalan di sebelah padukuhan.
Jalan yang sulit kadang-kadang memaksa Tatas Lintang membantu mereka seorang demi seorang, sehingga akhirnya, mereka berempat dapat mencapai jalan datar yang rata.
Namun akhirnya mereka berempat pun mencapai pondok kecil itu pada saat matahari telah mulai mengintip di balik punggung bukit. Beberapa orang telah menelusuri jalan menuju ke pasar sambil membawa hasil kebun dan pategalan mereka.
Ketika seorang yang berpapasan bertanya, maka dengan senyum di bibir Tatas Lintang menjawab, “Dari sungai Ki Sanak. Mandi mumpung masih pagi.”
Yang bertanya itu pun tersenyum pula. Orang itu mengenal Tatas Lintang sebagai seorang petani yang rajin, yang menjual tenaganya untuk menggarap tanah orang lain, karena ia sendiri tidak memiliki tanah garapan.
Demikian mereka berempat sampai di dalam pondpk kecil itu, maka Tatas Lintang pun telah mempersilahkan ketiga orang yang masih lemah itu untuk beristirahat. Katanya, “berbaringlah. Tenaga kalian akan cepat pulih kembali. Sementara itu, aku akan merebus air.”
Ketiga orang itu tidak menolak. Keletihan yang mencengkam tubuh mereka memang mendorong mereka untuk bermalas-malasan. Sementara Tatas Lintang berada di dapur merebus air.
Ketika air menjadi masak dan dihidangkan sebagai air sere yang panas dengan gula kelapa, maka Tatas Lintang itu pun berkata, “Minumlah. Kita menyanggupi untuk menyelesaikan dua kotak sawah hari ini. Kita masih harus mencangkul betapapun letihnya tubuh kita.”
Ketiga orang yang sempat berbaring beberapa saat itu pun kemudian bangkit. Saat yang sejenak itu ternyata sangat berarti bagi mereka. Apalagi setelah mereka meneguk air sere dengan gula kelapa. Sementara itu, Tatas Lintang berkata, “Nasi jagung kita yang kemarin masih ada. Kita sempat makan sejenak, sebelum turun ke sawah. Matahari sudah menjadi semakin tinggi.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura itu pun sem pat pula makan pagi. Nasi jagung dengan sambal bawang, meskipun hari masih terasa dingin. Tetapi panasnya air sere telah membuat mereka berkeringat, sehingga tajamnya gigitan sambal di perut mereka tidak terasa mengganggu.
Setelah makan pagi, maka tubuh mereka terasa benar-benar menjadi segar. Meskipun tenaga mereka masih belum pulih sepenuhnya, tetapi rasa-rasanya sudah cukup kuat untuk bekerja di sawah menyelesaikan kesanggupan mereka.
Sejenak kemudian, maka mereka berempat telah meninggalkan pondok kecil itu menuju ke sawah. Seorang yang bertemu mereka di jalan bertanya, “He, apa kerja kalian semalam sehingga kalian agak terlambat? Biasanya kalian berangkat ke sawah lebih pagi.”
Karena itu, maka asal saja Tatas Lintang menjawab, “Kayu di rumah masih basah, sehingga rasa-rasanya terlalu lama untuk menyalakannya. Bahkan setiap kali api pun mati, sehingga air lambat mendidih. Padahal sebelum minum minuman panas, aku belum dapat pergi ke sawah.”
Tatas Lintang tertawa. Ketika ia menengadahkan wajahnya memandang matahari, maka terasa matahari memang sudah agak tinggi dibanding dengan kebiasaan mereka berangkat ke sawah.
Orang yang bertanya itu sempat tertawa juga. Katanya, “Bohong. Agaknya semalam kalian ikut adu cengkerik sampai menjelang pagi.”
Hari itu, ke empat orang itu telah berhasil menyelesaika kesanggupan mereka meskipun Mahisa Murti, Mahisa Puka dan Mahisa Ura harus mengerahkan sisa-sisa tenaga mereka. Namun keletihan yang timbul karena kerja mereka di sawah tidak terasa mencengkam sebagaimana keletihan mereka setelah mengerahkan tenaga dan kemampuan mereka, melontarkar kekuatan ilmu untuk membentur sasaran tanpa sentuhan wadag.
Tengah hari, mereka sempat berbaring di bawah gubug di sudut sawah yang sedang mereka kerjakan. Dari pemilik sawah itu, mereka mendapat kiriman minum air dingin di dalam gendi yang terasa sangat segar di saat terik matahari membakar tengkuk. Nasi kuluban dan teri goreng gelepung.
Di belahan kedua hari itu, kerja mereka menjadi semakin cepat, sehingga tugas mereka pun dapat terselesaikan.
“Kita akan menerima upah kerja kita,” berkata Tatas Lintang, “tetapi tentu upahku yang paling banyak, karena aku adalah orang yang paling berpengalaman di antara kalian.”
Mahisa Murti tertawa. Katanya, “Upahku tentu akan terpotong untuk membayar makan dan minumku selama aku tinggal di rumahmu.”
Yang lain pun tertawa pula. Namun kemudian Tatas Lintang berkata, “Kita masih sempat tertawa hari ini. Entah besok pagi.”
“Mudah-mudahan kita masih sempat tertawa untuk hari-hari yang panjang,” sahut Mahisa Pukat.
Tatas Lintang tertawa pula. Sementara Mahisa Ura nampak agak termangu-mangu. Setiap kali ia merasa bahwa ilmunyalah yang paling rendah di antara mereka berempat. Kemungkinan yang paling buruk akan dapat terjadi atasnya, dibandingkan dengan mereka yang memiliki ilmu yang lebih tinggi.
Namun yang kadang-kadang mengganggu perasaannya bukan kemungkinan yang paling buruk itulah. Tetapi justru ia mencemaskan bahwa ketiga orang itu justru terganggu pemusatan nalar budinya dalam keadaan tertentu karena berusaha untuk melindunginya.
“Aku harus meyakinkan mereka, bahwa mereka harus lebih memperhatikan keberhasilan tugas mereka daripada memperhatikan keadaanku,” berkata Mahisa Ura di dalam hatinya.
Dalam pada itu, selagi Mahisa Ura masih termangu-mangu, Tatas Lintang pun berkata, “Marilah. Kita akan pergi ke rumah pemilik tanah itu. Kita akan mengambil uang upah kerja kita. Mungkin sejak besok kita akan mendapatkan kerja yang lain, karena besok tanah itu sudah akan ditanami. Beberapa hari lagi, kita tentu akan mendapat tugas untuk menyiangi tanaman itu. Namun sementara itu, aku tidak tahu, apa yang harus kita lakukan.”
“Jadi, apakah kita harus melakukan kerja itu di samping tugas kita terhadap padepokan yang asing itu?” bertanya Mahisa Pukat.
“Tergantung sekali akan keadaan padepokan itu,” jawab Tatas Lintang. “Tetapi untuk sementara tugas-tugas itu harus kita sanggupi. Apalagi dalam hari-hari yang dekat, kalian masih harus mempersiapkan diri. Keletihan yang kalian alami hari ini tentu belum pulih seutuhnya.”
“Tetapi malam nanti tentu sudah,” berkata Mahisa Pukat.
“Jika malam nanti keadaan kita benar-benar telah pulih, maka besok kita dapat menentukan sikap,” berkata Tatas Lintang, “mudah-mudahan kita tidak terjebak ke dalam mulul seekor harimau yang garang.”
“Apakah kau takut berhadapan dengan harimau?” bertanya Mahisa Pukat.
“Seekor harimau yang mempunyai landasan ilmu yang tinggi memang perlu diperhitungkan,” jawab Tatas Lintang.
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling ke arah Mahisa Murti, maka Mahisa Murti pun berkata, “Memang kita akan sampai ke mulut harimau. Tetapi jika harimau itu menggigit, maka kita pun akan menggigit pula. Mudah-mudahan kita mempunyai gigi yang cukup tajam. Sokur melampaui tajamnya gigi harimau.”
Mahisa Pukat mengangguk-angguk, sementara Tatas Lintang pun menarik nafas dalam-dalam. Suasana tiba-tiba telah berubah menjadi sungguh-sungguh.
“Tetapi kita sudah bertekad,” berkata Tatas Lintang, “namun kita masih belum saling mengetahui kepentingan kita masing-masing. Apakah kalian tidak curiga bahwa kepentingan kita kelak akan bertentangan sehingga kita akan saling berbenturan?”
“Apakah perlu kita bicarakan sebelumnya, atau kita akan membiarkan terjadi kelak?” bertanya Mahisa Murti.
Tatas Lintang termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Kalian mempunyai kelebihan dari aku. Apalagi jika kalian bertindak bersama-sama, maka aku tidak akan berarti apa-apa bagi kalian. Karena itu, maka segalanya biarlah ditentukan oleh keadaan kita kelak. Yang penting, kita akan melihat padepokan itu dalam ujudnya yang sekarang.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun terdapat kesan di dalam hatinya, sebagaimana pada Mahisa Pukat dan Mahisa Ura, bahwa Tatas Lintang bukanlah orang yang berniat buruk.
Dalam pada itu, maka tiba-tiba saja Tatas Lintang telah berubah suasana dan berkata, “Sudahlah. Jangan menjadi gelisah. Tidak ada gunanya kita memikirkannya sekarang. Yang penting kita akan pergi ke rumah pemilik tanah itu dan minta upah kerja kita. Sesudah itu kita akan pergi ke kedai di ujung padukuhan. Kita akan sempat makan dan minum sepuas-puasnya.”
Mahisa Murti tersenyum. Katanya, “Marilah. Kita akan pergi sekarang. Jangan menunggu kedai itu tutup.”
Demikianlah, maka mereka berempat pun telah pergi ke rumah pemilik tanah yang mereka garap. Sebelum mereka mengatakan sesuatu, pemilik tanah garapan itu sudah mengetahui maksud kedatangan mereka.
“Marilah. Duduklah,” pemilik tanah itu mempersilahkan.
Keempat orang itu pun kemudian duduk di atas tikar panan yang dibentangkan di pringgitan, sementara pemilik rumah itu masuk untuk berbenah diri.
Ternyata pemilik tanah itu adalah orang yang ramah dan baik hati. Sebelum orang itu keluar lagi, maka yang lebih dahulu muncul di pintu adalah anaknya laki-laki yang membawa minuman panas dan beberapa potong makanan.
“Silahkan paman,” anak itu mempesilahkan, “ayah baru berpakaian sebentar.”
Ketika anak itu masuk, Mahisa Murti berdesis, “Apakah kita ini dianggap tamu terhormat?”
“Bukan begitu. Ia sama sekali tidak membenahi pakaiannya untuk menghormati kita. Tetapi yang benar adalah, bahwa ia baru menghitung uang untuk kita,” sahut Tatas Lintang.
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun tertawa tertahan. Tetapi mereka pun percaya, bahwa orang itu tentu baru mengambil uang dan menghitungnya.
“Marilah,” desis Tatas Lintang, “bukankah kita sudah dipersilahkan?”
Tetapi sebelum Tatas Lintang meraih sepotong makanan, maka mereka pun mendengar desir langkah kaki di dalam dinding rumah itu, sehingga tangannya pun telah ditariknya kembali.
“Sial,” desisnya.
Yang lain tertawa. Namun mereka pun telah menahan diri, karena langkah itu pun telah sampai di pintu.
Sebenarnyalah, maka sejenak kemudian pemilik tanah yang dikerjakan oleh Tatas Lintang itu pun telah keluar dari ruang dalam. Sambil tertawa ia pun berkata, “Nah, silahkan. Minuman dan makanan telah tersedia.”
Tatas Lintang memandang Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura. Sambil tersenyum ia pun berkata, “Marilah. Silahkanlah.”
Tatas Lintanglah yang pertama-tama mengambil mangkuk minumannya. Baru kemudian Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura.
Setelah meneguk minuman dan mengunyah makanan, barulah pemilik tanah itu memberikan uang sebagai upah kerja Tatas Lintang.
“Aku tidak akan memerinci berapa bagian kalian masing-masing. Aku akan menyerahkan uang dengan perhitungan luas tanah yang kalian garap. Berapa kalian masing-masing akan menerima, terserahlah kepada kalian, karena aku tidak tahu, berapa bagian kerja yang telah kalian lakukan masing-masing,” berkata pemilik tanah itu.
Tatas Lintang pun telah mengira bahwa memang demikianlah yang akan diterimanya. Karena itu, maka ia pun menjawab, “Terima kasih. Kami akan menentukan bagian kami masing-masing.”
“Aku yakin bahwa tidak akan timbul persoalan di antara kalian,” berkata pemilik tanah itu.
Tatas Lintang tertawa. Katanya, “Tentu tidak. Mereka adalah kemenakan-kemenakanku. Jika mereka nakal, maka aku akan menarik telinganya.”
Pemilik tanah serta mereka yang ada dipringgitan itu pun telah tertawa pula.
Namun dalam pada itu, maka pemilik tanah itu pun kemudian berkata, “Dengan demikian kerja kalian di sawah sudah selesai. Jika kalian tidak berkeberatan, maka aku akan minta tolong kalian untuk mengerjakan pategalan. Bukan pategalan yang kalian tempati, karena di pategalan itu baru saja ditanam ketela pohon, tetapi pategalan di ujung padukuhan. Aku ingin menanam beberapa jenis pohon di pategalan itu. Terutama pohon buah-buahan.”
“Tentu kami tidak berkeberatan. Mumpung kemenakan-kemenakanku masih ada di sini. Jika kerja itu cukup banyak, aku akan menahan mereka, agar mereka tidak tergesa-gesa meninggalkan aku,” jawab Tatas Lintang.
“Pategalan di ujung padukuhan itu akan aku tanami beberapa jenis pohon buah-buahan, di samping pohon melinjo, kelapa dan gori yang sudah ada,” berkata pemilik tanah itu.
“Kapan kami akan mulai?” bertanya Tatas Lintang.
“Dalam dua tiga hari ini aku akan mencari bibitnya. Baru kemudian kalian akan menanamnya,” jawab pemilik tanah itu, “karena itu kalian akan menunggu sampai aku memberikan kabar selanjutnya.”
“Baiklah,” berkata Tatas Lintang, “kami akan sempat beristirahat dalam dua atau tiga hari ini.”
Demikianlah, maka sejenak kemudian Tatas Lintang telah minta diri bersama orang-orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu.
“Kami akan memanfaatkan uang yang baru saja kami terima,” berkata Tatas Lintang.
Orang itu tertawa. Katanya, “Sebaiknya besok pagi saja. Jika kalian sempat pergi ke pasar, maka apa yang kalian perlukan akan kalian dapatkan.”
“Ya. Sebaiknya memang besok pagi saja,” desis Tatas Lintang.
Namun sejenak kemudian Tatas Lintang bersama ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu pun telah meninggalkan rumah pemilik tanah yang dianggap Tatas Lintang cukup baik itu. Mungkin karena ia dianggap pernah menolong dan menyelamatkan anaknya. Namun agaknya ia memang menghargai tenaga orang lain yang telah bekerja kepadanya.
Dengan uang yang mereka terima, maka keempat orang itu pun kemudian meninggalkan rumah pemilik tanah itu. Beberapa saat kemudian mereka telah berada di jalan padukuhan menuju ke pondok Tatas Lintang di sudut pategalan di pinggir padukuhan itu.
“Nah,” berkata Tatas Lintang, “aku sekarang mempunyai uang.”
“Termasuk uangku,” sahut Mahisa Murti.
Tatas Lintang tertawa. Katanya, “Akan kita pergunakan untuk apa uang ini?”
Mahisa Pukat lah yang menyahut, “beli tanah.”
“Ah,” desah Tatas Lintang, “kau kira uang ini cukup untuk membeli sejengkal tanah?”
“Kau tambah dengan sepuluh kali lipat,” jawab Mahisa Pukat, “uangmu tentu lebih dari seribu kali lipat dari uang yang kau terima itu.”
“Dan uang kalian tentu lebih banyak lagi,” sahut Tatas Lintang sambil tersenyum.
Mahisa Pukat tidak menyahut. Tetapi ia pun tersenyum pula.
Namun tiba-tiba saja Mahisa Murti berkata, “Kedai yang mana yang kau sebut?”
“Besok kita pergi ke pasar saja,” berkata Tatas Lintang, “sekarang kita akan beristirahat. Tubuh kalian masih belum pulih kembali, sementara hari ini kita telah bekerja keras. Sementara itu agaknya kedai itu pun sudah tutup pula.”
Ternyata ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu pun setuju. Mereka akan langsung kembali ke pondok di sudut pategalan itu.
Namun ketika mereka sampai ke pondok itu, mereka menjadi sangat terkejut. Mereka melihat isi pondok mereka yang tidak seberapa banyak itu berserakkan. Amben bambu yang besar satu-satunya telah rusak. Galarnya berpatahan dan wewatonnya telah terlepas yang satu dengan yang lain. Gendi yang selalu berisi air bersih itu pun telah pecah pula.
“Apa yang telah terjadi?” bertanya Tatas Lintang.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya. “Apakah hal ini ada hubungannya dengan padepokan orang-orang bertongkat itu?”
Sebelum Tatas Lintang menjawab, mereka tertegun karena mereka mendengar langkah di belakang rumah kecil itu.
Untuk beberapa saat keempat orang yang berada di dalam pondok yang berserakan itu menunggu. Baru sejenak kemudian muncul dari pintu butulan dua orang yang bertubuh tegap kekar.
Namun Tatas Lintang itu pun kemudian menarik nafas dalam-dalam. Hampir tidak terdengar ia berdesis lambat, “Mereka adalah petani dari padukuhan ini.”
Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun mengangguk-angguk kecil. Ketegangan di hati mereka pun mulai mereda. Meskipun mungkin memang ada persoalan sehingga pondok mereka itulah menjadi berserakan.
“Nah kau itu Tatas Lintang,” geram salah seorang di antara kedua orang itu.
“Ki Sanak,” suara Tatas Lintang terdengar gemetar, “apa yang telah terjadi? “
“Jangan berpura-pura,” geram orang itu pula, “kau sudah merampas sumber penghidupanku.”
“Aku tidak mengerti,” jawab Tatas Lintang.
“Sejak kau tinggal di gubugmu ini, sebagian dari penghasilanku sudah kau rampas. Dan aku tidak menegurmu. Tetapi kini kesabaranku sudah habis. Semua tanah garapanku sudah kau rampas. Pategalan di ujung padukuhan itu pun ternyata telah dicadangkan bagimu dan cindil-cindilmu itu. Dengan demikian maka habislah tanah garapanku itu,” berkata salah seorang dari kedua orang yang bertubuh tinggi tegap itu.
“Ki Sanak,” berkata Tatas Lintang, “jika aku menerima pekerjaan itu, sebenarnya karena aku mengira bahwa kau telah menolaknya. Bukankah kau sudah mempunyai tanah garapan yang luas, bahkan sebagian telah dikerjakan oleh orang lain pula?”
“Persetan,” geram orang itu, “aku memang mengambil beberapa orang pembantu. Seharusnya kau juga aku perlakukan seperti itu. Akulah yang disebut penggarap tanah itu, meskipun kalian yang mengerjakan. Dengan demikian maka upah yang akan kau terima terserah kepada kebijaksanaanku.”
Tatas Lintang mengangguk-angguk. Katanya, “Aku mengerti sekarang. Kau akan dapat mengambil keuntungan dari tanah garapan itu.”
“Nah, ternyata kau cukup cerdas juga,” desis orang itu. Lalu katanya pula, “Jika demikian, maka sebaiknya kau urungkan kesangupanmu jika kau sudah menyatakannya. Akulah yang akan menggarapnya, meskipun kalian yang akan mengerjakan.”
“Aku sudah terlanjur menyanggupinya Ki Sanak,” jawab Tatas Lintang, “aku tidak tahu bahwa kau berminat untuk mengambilnya meskipun hanya sekedar namanya saja.”
“Terlanjur atau belum terlanjur,” geram orang itu, “nanti, meskipun sudah gelap, kau harus datang kepadanya untuk mencabut kesediaanmu itu.”
Tatas Lintang termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Tetapi dengan demikian, kata-kataku untuk selanjutnya akan sulit dipercaya.”
“Aku tidak peduli,” bentak orang itu.
Tatas Lintang menjadi gemetar. Tetapi ia menjawab. “Maaf Ki Sanak. Jangan paksa aku berbuat demikian. Biarlah aku tetap melaksanakan kesanggupanku. Jika kau memerlukan uang pungutan dari hasil itu, aku tidak berkeberatan.”
“Diam,” bentak orang itu.
Tatas Lintang terkejut. Bahkan Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun terkejut pula.
Ketika orang itu kemudian maju selangkah, Tatas Lintang-pun telah bergeser surut. Dengan nada keras orang bertubuh tegap kekar itu bertanya, “Kau mau mencabut kesanggupanmu atau tidak?”
“Maaf Ki Sanak. Aku sudah terlanjur,” jawab Tatas Lintang.
Namun tiba-tiba saja Tatas Lintang telah terdorong selangkah mundur. Hampir saja ia jatuh terjerembab ketika tangan orang bertubuh tinggi tegap itu memukulnya.
“Jawab,” bentak orang itu, “kau bersedia mencabut atau tidak.”
Tatas Lintang tidak menjawab. Namun sekali lagi orang itu memukulnya pada perutnya, sehingga Tatas Lintang terbungkuk karenanya. Sebelum ia tegak, maka orang itu telah memukul tengkuk Tatas Lintang, sehingga Tatas Lintang telah jatuh terjerembab.
Mahisa Ura yang tidak tahan melihat perlakukan itu hampir saja meloncat. Tetapi Mahisa Murti yang tanggap akan keadaan itu telah menggamitnya dan memberi isyarat agar Mahisa Ura tidak melakukan sesuatu.
“Ayo, bangkit,” bentak orang itu.
Tetapi Tatas Lintang tidak mampu untuk segera bangkit berdiri. Pada waktu ia mulai berjongkok, orang bertubuh tinggi itu telah menggenggam rambutnya sambil berkata, “Kau bersedia atau tidak?”
Tatas Lintang tidak segera menjawab. Namun tiba-tiba saja orang itu telah menggucang kepala Tatas Lintang dan membenturkannya pada tiang bambu pondoknya yang kecil itu.
Bagaimanapun juga ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu pun tergetar juga hatinya. Namun sementara itu, orang yang bertubuh kekar yang seorang lagi telah mendekati mereka sambil berkata, “Ayo, siapa yang akan ikut serta?”
“Jangan perlakukan mereka dengan kasar,” suara Tatas Lintang semakin bergetar, “biarlah aku yang menanggungnya.”
“Kau harus menjawab, apakah kau akan pergi untuk mencabut kesanggupanmu atau tidak? Atau kepalamu akan aku pecahkan sekarang juga,” orang itu menggeram semakin kasar.
Ketika orang itu mengguncang kepala Tatas Lintang sekali lagi, maka Tatas Lintang pun mengeluh, “Ampun Ki Sanak. Kepalaku menjadi pening dan perutku menjadi mual.”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar