Jumat, 08 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 042-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 042-03*

Hari itu padepokan Suriantal menjadi sangat gembira. Kedatangan Akuwu Lemah Warah rasa-rasanya telah menitikkan embun di teriknya matahari. Dalam kegelisahan, ketidak pastian bahwa rencana Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk menghubungi seorang pemahat dapat terujut serta keragu-raguan yang lain, maka Akuwu telah datang.

Namun mereka tidak segera membicarakan masalah-masalah yang penting bagi padepokan itu. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ingin mempersilahkan tamunya untuk beristirahat.

Akuwu pun tidak tergesa-gesa, ia tanggap akan keinginan kedua orang anak muda itu, sehingga Akuwu pun tidak dengan serta merta mengatakan kepentingannya datang ke padepokan itu.

Tetapi agaknya semua pihak sudah dapat menduga, apakah sebenarnya keinginan Akuwu. Apalagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat sendiri.

Setelah beristirahat, maka Akuwu telah melihat-lihat isi padepokan itu. terutama batu yang berwarna kehijauan itu. Di sekitar batu itu telah dibuat pagar yang baru setelah pagar yang lama rusak pada saat peperangan terjadi di padepokan itu.

Meskipun di sana-sini telah dibenahi, namun Akuwu masih melihat bekas-bekas dari pertempuran yang seru itu. Sehingga serba sedikit Akuwu dapat membayangkan apa yang telah terjadi.

“Kau simpan Ki Buyut itu?” bertanya Akuwu kepada Mahisa Murti.

“Ya Akuwu,” jawab Mahisa Murti, “keadaannya sudah membaik. Setiap kali kami masih harus mengurangi memperlemah kekuatannya yang tumbuh kembali.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun sempat menceriterakan apa yang dapat dilakukan oleh Ki Buyut itu, sehingga mereka harus memperlakukannya secara khusus.

“Tanpa perlakuan demikian, maka kami berdua terikat sekali pada bilik Ki Buyut itu,” berkata Mahisa Pukat.

Akuwu pun tertawa. Sambil mengangguk-angguk ia berkata, “Aku mengerti. Tetapi apakah aku dapat menemuinya?”

“Silahkan Akuwu. Orang itu akan menyadari kekecilannya jika ia bertemu dengan Akuwu,” berkata Mahisa Murti.

“Jika Ki Buyut itu belum mengenal aku, maka aku kira ia tidak mempunyai tanggapan apapun atasku” berkata Akuwu.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Apalagi jika mereka mengingat kesombongan Ki Buyut itu sehingga agaknya ia akan bersikap sombong pula dihadapan Akuwu.

Sejenak kemudian, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah membawa Akuwu Lemah Warah itu ke sebuah bilik khusus. Ketika mereka membuka pintu bilik itu, maka mereka melihat seorang yang duduk terpekur. Kehadiran orang-orang itu sama sekali tidak menarik perhatiannya. Bahkan berpaling-pun Ki Buyut itu merasa segan.

“Ki Buyut,” panggil Mahisa Murti yang sudah berada di dalam bilik itu pula, sementara Mahisa Pukat dan Akuwu masih berdiri di pintu.

Ki Buyut sama sekali tidak berpaling, la masih tetap duduk tepekur di atas amben bambu.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Kemudian dipersilahkannya Akuwu untuk masuk pula ke dalam bilik itu diikuti oleh Mahisa Pukat.

“Aku ingin mempekenalkan diri Ki Buyut,” berkata Akuwu Lemah Warah.

Ki Buyut itu menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia pun telah berpaling. Dilihatnya Mahisa Murti berdiri bersilang tangan di dada. Kemudian seorang lagi yang sangat dibencinya. Mahisa Pukat. Namun kemudian dilihatnya seorang yang lain yang tidak dilihatnya sebelumnya.

“Kau,” tiba-tiba Akuwu Lemah Warah itu berdesis.

Ki Buyut Bapang itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian desisnya, “Apakah benar aku telah bertemu dengan Akuwu Lemah Warah?”

“Ya,” jawab Akuwu Lemah Warah, “aku memang Akuwu Lemah Warah. Jadi kaulah agaknya yang telah menyebut dirimu Buyut di Bapang itu?”

“Ampun Akuwu,” tiba-tiba saja Ki Buyut itu turun dari amben bambu dan berjongkok sambil berdesis lemah, “hamba memang telah menjadi Buyut di Bapang.”

“Satu jabatan yang baik bagimu he?” bertanya Akuwu Lemah Warah, “bagaimana mungkin kau dapat menjadi Buyut di Bapang?”

“Satu perjalanan yang panjang. Tetapi hamba memang telah menjadi Buyut di Bapang,” jawab Ki Buyut.

“Apakah benar Bapang termasuk daerah Sangling?” bertanya Akuwu.

Ternyata Ki Buyut menjadi ragu-ragu. Namun keragu-raguan itu telah memastikan bagi Akuwu Lemah Warah, bahwa Kabuyutan Bapang itu termasuk lingkungan Pakuwon Sangling.

Karena itu, maka Akuwu itu pun berkata, “Ki Buyut, aku dapat mengambil beberapa langkah untuk menyelesaikan persoalanmu. Aku dapat menghubungi Akuwu Sangling atau aku dapat bertindak sendiri atasmu, karena kau pernah berada di Pakuwon Lemah Warah.”

Ki Buyut itu menundukkan kepalanya. Dengan nada berat ia berkata, “Hamba mohon ampun Sang Akuwu. Hamba tidak tahu, bahwa Akuwu akan datang ke tempat ini.”

“Mustahil,” berkata Akuwu, “kau tentu tahu, bahwa aku pernah memecahkan perlawanan orang-orang Suriantal dan beberapa perguruan yang ada di padepokan ini belum lama berselang.”

“Hamba memang mendengarnya Akuwu,” jawab Ki Buyut, “tetapi hamba tidak mengira, bahwa demikian erat hubungan Akuwu dengan padepokan ini, sehingga pada satu saat Akuwu telah kembali lagi ke padepokan ini. Apalagi setelah beberapa waktu yang lalu, beberapa pihak menganggap bahwa padepokan ini merupakan lingkungna yang tidak ada pemiliknya.”

“Kau tidak usah mengada-ada,” berkata Akuwu, “bagaimanapun juga agar tidak timbul salah paham, maka aku harus berhubungan dengan Akuwu Sangling. Aku akan mengatakan bahwa seorang Buyut di wilayahnya telah berada di padepokan ini.”

“Jangan Akuwu,” minta Ki Buyut, “dengan demikian maka hamba akan kehilangan semuanya.”

Akuwu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ki Buyut. Kau adalah seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Tetapi ternyata sejak semula kau telah menyalah gunakan ilmumu itu. Bahkan setelah kau mendapat kedudukan yang baik sebagai Buyut di Bapang. Kau masih saja hidup dalam dunia gelapmu itu. Adalah kebetulan sekali bahwa kau telah bertemu dengan kedua kemenakanku, sehingga mereka dapat mengatasi semua. Seandainya kedua kemenakanku itu tidak ada di sini, apakah yang kira-kira akan kau lakukan?”

“Hamba sama sekali tidak tertarik kepada padepokan ini. Jetapi batu itu memang sangat hamba kagumi,” jawab Ki Buyut.

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Sementara itu Ki Buyut masih berkata, “Tetapi sebenarnya hamba tidak akan terlibat langsung dalam persoalan ini seandainya Empu Sepada tidak memaksa hamba untuk menyertai orang-orang hamba.”

“Langsung atau tidak langsung tidak banyak bedanya Ki Buyut. Sebenarnya sekarang aku mendapat kesempatan menyelesaikan persoalan yang terjadi di Lemah Warah itu, karena memang sudah lama orang-orang Lemah Warah mencarimu,” berkata Akuwu.

“Ampun Akuwu. Hamba sudah merasa bersalah. Hamba tidak pernah mengulangi kesalahan hamba. Sementam itu hamba memilih untuk meninggalkan Lemah Warah,” berkata Ki Buyut.

“Tetapi ditempat lain kau berlaku sebagaimana di Lemah Warah.” sahut Akuwu, “jika kau tidak melakukan sesuatu, aku kira kau tidak akan mungkin dapat menjadi Buyut di Bapang.”

Ki Buyut menundukkan kepalanya. Sementara itu Akuwu Lemah Warah berkata, “Aku akan menghubungi Akuwu Sangling.”

“Jangan, jangan Akuwu,” minta Ki Buyut Bapang. “Hamba mohon.”

“Kenapa?” bertanya Akuwu Lemah Warah. “aku ingin meyakinkan Akuwu Sangling agar ia selalu mengamati tingkah lakumu.”

“Ampun Akuwu. Hamba berjanji untuk tidak melakukannya lagi. Jangan singkirkan hamba dari kedudukan hamba yang sekarang,” minta Ki Buyut Bapang.

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Masih ada waktu untuk memikirkannya. Untuk sementara kau tetap menjadi tawanan di sini. Ingat Ki Buyut, aku memiliki kemampuan untuk menghancurkan simpul-simpul syarafmu, sehingga kau tidak akan memiliki kemampuan apapun lagi jika kau berkeras melakukan langkah-langkah sebagaimana kau tempuh sampai saat ini.”

“Aku berjanji,” desis Ki Buyut Bapang.

Akuwu Lemah Warah pun kemudian bersama-sama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat meninggalkan bilik itu.

Sementara itu Ki Buyut telah membanting dirinya duduk di pembaringan.

“Gila,” geramnya, “kenapa Akuwu itu datang lagi ke padepokan ini? Demikian besar perhatiannya kepada kedua orang anak muda itu yang diakunya sebagai kemanakannya, sehingga ia meninggalkan tugasnya untuk berada dipadepokan ini.”

Namun Ki Buyut itu pun mempunyai dugaan lain. Menurut pendapatnya Akuwu Lemah Warah itu tentu sangat tertarik pula kepada batu yang berwarna kehijauan itu.

Namun ia tidak dapat mengingkari kenyataan, bahwa ia dalam keadaan yang lemah dan tidak mampu berbuat apa-apa. Itu akan berlangsung terus, karena dalam keadaan yang demikian ia tidak dapat mencegah kedua anak muda itu berganti-ganti menyentuh tubuhnya dengan kekuatan ilmunya yang dapat menghisap tenaga dan kemampuannya.

Dalam pada itu, Akuwu yang kemudian berada di barak induk bersama dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat serta beberapa orang pemimpin prajurit Lemah Warah serta pemimpin padepokan itu, telah mulai membicarakan rencana-rencana yang akan dilakukan oleh Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.

Namun sementara itu, kedua anak muda itu masih sempat bertanya serba sedikit tentang Ki Buyut Bapang yang ternyata telah dikenal oleh Akuwu Lemah Warah.

“Ia memang seorang yang berilmu tinggi,” berkata Akuwu Lemah Warah, “tetapi ia justru mengagungkan ilmunya itu untuk tindakan-tindakan yang tidak bertanggung jawab. Ia banyak merugikan orang-orang Lemah Warah. Namun ketika sekelompok orang datang kepadanya untuk minta pertanggungan jawab, maka ia telah menunjukkan bahwa ia adalah orang yang berilmu tinggi.”

“Apa yang dilakukannya?” bertanya Mahisa Pukat.

“Ia banyak merugikan orang lain. Bahkan kadang-kadang ia dengan terang-terangan merampas milik tetangga-tetangganya sendiri,” berkata Akuwu Lemah Warah, “namun yang paling menyakitkan hati orang adalah bahwa ia merasa berkuasa di sebuah Kabuyutan. Ia memaksa Ki Buyut untuk tunduk kepada perintahnya dan melakukan apa saja sesuai dengan keinginannya. Sehingga akhirnya laporan itu sampai kepadaku. Dengan cepat aku mengambil tindakan. Namun ia sempat melarikan diri, meskipun ia masih juga sempat membawa sejumlah harta bendanya yang didapatkannya dengan cara yang tidak sewajarnya.”

“Apakah ia menyadari bahwa ia tidak akan mampu mengalahkan Akuwu meskipun ia merasa bahwa ia berilmu tinggi?” bertanya Mahisa Pukat.

“Mungkin ia sempat memperbandingkan kemampuannya dengan kemampuanku secara tidak langsung,” jawab Akuwu, “namun tidak mustahil bahwa ia tidak pernah merasa dapat aku kalahkan sampai saat ini. Jika waktu itu ia menghindar, bukan karena ia merasa ilmunya dibawah tingkat ilmuku. Tetapi semata-mata karena ia menyadari bahwa aku tentu tidak datang sendiri. Mungkin ia akan bersikap lain jika ia benar-benar berhadapan dengan aku seorang dengan seorang.”

“Tetapi ia nampaknya demikian takutnya kepada Akuwu,” desis Mahisa Murti.

“Karena orang itu berada dalam keadaan lemah. Ia tidak akan dapat berbuat apa-apa jika saat ia melakukan kejahatan, pada saat-saat ia berbuat berbagai macam kesalahan di Lemah Warah. Tetapi tentu berbeda jika ia dalam kedudukan yang lebih baik dari saat ini,” sahut Akuwu Lemah Warah.

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Keduanya sadar bahwa sikap Ki Buyut itu masih perlu diragukan, apakah ia bersikap jujur atau tidak terhadap Akuwu Lemah Warah.

Namun dalam pada itu, Akuwu Lemah Warah itu pun kemudian berkata, “Sudahlah. Biarlah aku mengurus orang itu. Aku memang ingin berhubungan dengan Akuwu Sangling untuk berbicara tentang Ki Buyut Bapang. Jika bagi Sangling ia merupakan orang yang berarti, maka aku hanya ingin memberikan peringatan bagi Akuwu, agar ia lebih banyak mengawasi Ki Buyut Bapang itu, serta memberikan sedikit contoh tingkah lakunya. Antara lain di padepokan ini.”

Mahisa Murti dan Mahisa Pukat hanya mengangguk-angguk saja. Sementara itu Akuwu Lemah Warah pun bertanya, “Nah, sekarang bagaimana dengan rencanamu?”

“Kami akan meninggalkan padepokan ini barang satu bulan Akuwu,” berkata Mahisa Murti, “kami akan menghubungi seorang pemahat yang bersedia bekerja bersama kami. Selain kemampuannya juga kesediaannya tinggal di tempat yang terasing ini untuk waktu yang cukup lama. Baru setelah patung itu siap, kami akan membawanya ke Singasari.”

Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Tetapi aku minta kalian bersedia menunda kepergian kalian barang sepekan. Selama itu aku akan pergi ke Sangling untuk membicarakan persoalan Ki Buyut Bapang dengan Akuwu di Sangling. Aku mengenal Akuwu Sangling dengan baik. Secara pribadi, maupun karena kami sering berhubungan dalam tugas-tugas kami meskipun tidak terlalu akrab.”

“Baiklah Akuwu,” berkata Mahisa Murti, “kami akan menunggu sampai Akuwu menyelesaikan persoalan Ki Buyut Bapang itu.”

“Terima kasih,” jawab Akuwu, “sesudah aku bertemu dengan Ki Buyut Bapang, maka kalian dapat pergi dengan tenang dan tidak tergesa-gesa. Aku akan menunggu sampai sebulan. Tetapi jika dalam waktu yang disediakan kalian belum dapat kembali, maka aku akan menunggu kalian di sini. Menurut perhitunganku, Lemah Warah sekarang dalam keadaan tenang. Tidak ada gejolak yang perlu dicemaskan. Karena itu, maka aku-pun dapat meninggalkan Pakuwon itu dengan tenang pula.”

Demikianlah, maka mereka telah mengambil satu sikap tentang rencana yang akan mereka lakukan. Yang justru akan meninggalkan padepokan adalah Akuwu Lemah Warah, karena dengan tidak terduga-duga, ia telah bertemu dengan Ki Buyut Bapang yang sebelumnya pernah berada di Pakuwon Lemah Warah dan melakukan perbuatan yang tercela.

Setelah Akuwu beristirahat sehari di padepokan itu, maka ia pun telah bersiap-siap untuk pergi ke Pakuwon Sangling. Dari beberapa orang pengikut Ki Buyut yang tertangkap, maka Akuwu Lemah Warah telah mendapat beberapa petunjuk tentang jalan yang harus dilaluinya menuju ke Pakuwon Sangling.

Diiringi oleh sekelompok pengawal maka Akuwu Lemah Warah pun telah meninggalkan padepokan itu menuju ke Pakuwon Sangling. Jaraknya memang cukup jauh sebagaimana Akuwu menempuh perjalanan dari Lemah Warah.

Namun sebagai seorang prajurit maka Akuwu telah menempuh perjalanan itu dengan cepat. Meskipun jalan agak sulit, tetapi Akuwu dan pengiringnya memilih berkuda daripada berjalan kaki. Selain sedikit menghemat waktu, maka perjalanan berkuda itu pun sedikit mengurangi keletihan.

Kedatangan Akuwu Lemah Warah di Pakuwon Sangling memang mengejutkan. Bagi Akuwu Sangling kedatangan Akuwu Lemah Warah itu merupakan satu peristiwa yang tidak diduganya, karena Akuwu Lemah Warah telah datang tanpa pemberitahuan lebih dahulu.

Dengan berdebar-debar Akuwu Sangling telah mempersilahkan Akuwu Lemah Warah untuk naik ke pendapa. Beberapa orang pengiringnya telah dipersilahkan untuk beristirahat di serambi gandok.

Setelah serba sedikit mereka saling mempertanyakan keselamatan dan kesejahteraan masing-masing, maka Akuwu Sangling yang ingin segera mengetahui maksud kedatangan Akuwu Lemah Warah itu pun bertanya, “Kakanda Akuwu di Lemah Warah. Kedatangan Sang Akuwu sangat mengejutkan hatiku. Kakanda tidak terlebih dahulu memberikan kabar atau pesan akan kedatangan kakanda itu.”

Akuwu Lemah Warah tersenyum. Katanya, “Sebenarnya aku tidak khusus datang ke Pakuwon Sangling. Aku sedang berada di padepokan Suriantal. Tiba-tiba timbul keinginanku untuk datang berkunjung ke Pakuwon Sangling.”

“Terima kasih,” jawab Akuwu Sangling, “sokurlah jika kakanda masih sempat mengunjungi adinda di sini. Namun demikian, rasa-rasanya aku ingin tahu niat kakanda sebenarnya. Apakah memang benar kakanda hanya sekedar menengok Pakuwon Sangling atau kakanda mempunyai maksud yang barangkali kakanda bawa beserta kunjungan kakanda ini?”

Akuwu Lemah Warah termangu-mangu. Namun kemudian katanya, “Memang ada sedikit persoalan yang ingin aku sampaikan.”

“Tentang padepokan Suriantal?” bertanya Akuwu Sangling, “aku memang sudah mendapat laporan lengkap tentang serbuan kakanda ke padepokan Suriantal mengemban perintah Sri Baginda di Kediri. Kakanda melakukannya atas nama Sri Baginda di Kediri.”

“Tentu, karena bersamaku hadir Pangeran Singa Narpada yang datang atas nama Sri Baginda di Kediri,” jawab Akuwu di Lemah Warah.

“Syukurlah.” sang Akuwu Sangling mengangguk-angguk, “jadi laporan yang aku dengar itu benar. Laporan itu tidak dibuat-buat sekedar untuk menghangatkan suasana.”

“Benar adinda. Aku datang bersama Pangeran Singa Narpada. Dan adinda pun mengenal siapa Pangeran Singa Narpada itu, “sahut Akuwu Lemah Warah.

Akuwu Sangling menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “begitu besar perhatian Pangeran Singa Narpada terhadap padepokan itu, sehingga ia memerlukan untuk datang sendiri. Kenapa Pangeran Singa Narpada tidak memerintahkan satu atau dua Senapatinya untuk datang ke padepokan itu? Apakah di padepokan itu terdapat orang yang berilmu sangat tinggi sehingga tidak ada orang lain yang akan mampu mengatasinya?”

“Bukan begitu,” jawab Akuwu Lemah Warah, “tetapi agaknya Pangeran Singa Narpada ingin melihat sendiri apa yang ada di padepokan itu.”

Akuwu Sangling mengangguk-angguk. Tetapi pada bibirnya nampak senyum yang aneh.

“Baiklah,” berkata Akuwu Sangling, “mungkin Pangeran Singa Narpada memang tertarik sekali terhadap padepokan itu. Tetapi sekarang Pangeran Singa Narpada telah tidak ada lagi di padepokan itu. Sementara itu Akuwu Lemah Warah lah yang menguasai padepokan Suriantal.”

“Bukan aku,” jawab Akuwu Lemah Warah, “tetapi dua kemenakanku tinggal di padepokan itu.”

Akuwu Sangling tersenyum. Katanya, “Apa bedanya dengan Akuwu sendiri?”

Akuwu Lemah Warah mengerutkan keningnya. Nampaknya sikap Akuwu Sangling tidak bersahabat. Rasa-rasanya ada sesuatu yang telah membatasi mereka meskipun Akuwu Lemah Warah masih belum mengatakan keperluannya.

Akuwu Sangling melihat sesuatu telah menyentuh perasaan Akuwu Lemah Warah. Karena itu, maka sebelum Akuwu Lemah Warah mengatakan persoalannya, maka Akuwu Sangling telah mendahului berkata, “Agaknya padepokan Suriantal kini telah berubah menjadi sebuah tempat yang gawat. Tidak ubahnya seperti sebuah barak tempat orang yang tidak disukai disimpan sebagai tawanan.”

“Apa maksud adinda?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Tentu kakanda sudah mengetahuinya,” jawab Akuwu Sangling, “bukankah Akuwu baru saja singgah di padepokan itu.”

Akuwu Lemah Warah menjadi ragu-ragu. Apakah yang dimaksud Akuwu Sangling itu adalah justru Ki Buyut Bapang? Mungkin Akuwu telah mendengar laporan tentang Ki Buyut Bapang yang berada di padepokan Suriantal.

Sebenarnyalah sebelum Akuwu Lemah Warah mengatakan sesuatu, maka Akuwu Sangling telah meneruskannya, “Kakanda, kenapa salah seorang Buyut dari Sangling telah berada di padepokan Suriantal?”

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Itukah sebabnya, maka sikap adinda terasa asing?”

“Aku sudah mengira bahwa kedatangan Akuwu adalah dalam hubungannya dengan Ki Buyut di Bapang.”

“Ya,” jawab Akuwu Lemah Warah, “aku memang datang untuk berbicara tentang Buyut di Bapang itu.”

“Bukankah Ki Buyut sekarang ada di padepokan Suriantal?” berkata Akuwu Sangling.

“Ya. Apakah yang Akuwu dengar tentang Ki Buyut di Bapang? Atau laporan yang barangkali sampai kepada adinda?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Biasa saja,” jawab Akuwu Sangling, “kecurigaan dan barangkali semacam dendam.”

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah aku mengatakan apa yang aku ketahui tentang Ki Buyut di Bapang.”

“Tentu sebagaimana kakanda dengar dari orang-orang yang menangkap Ki Buyut,” berkata Akuwu Sangling.

“Dari siapapun, tetapi sebaiknya Akuwu mempertimbangkannya,” Akuwu Lemah Warah mulai digelitik oleh perasaan jengkel. Sikap Akuwu Sangling telah menyinggung perasaannya meskipun ia masih berusaha untuk menahan diri.

Akuwu Sangling mengerutkan keningnya. Namun tanpa menunggu lagi Akuwu Lemah Warah itu pun segera menceriterakan tentang Ki Buyut Bapang. Sejak ia masih berada di Lemah Warah serta usahanya untuk mengambil batu yang telah lebih dahulu dikuasai oleh padepokan Suriantal.

Tiba-tiba saja Akuwu Sangling tertawa. Katanya, “Bagaimana mungkin Ki Buyut Bapang itu pernah tinggal di Lemah Warah. Ia sudah lama berada di Kabuyutannya, sehingga ia mendapat kepercayaan untuk memegang jabatan itu.”

“Itulah yang aku heran,” berkata Akuwu Lemah Warah, “bagaimana mungkin orang itu dapat menjadi Buyut di Bapang. Apakah tidak ada keturunan yang pantas menggantikan kedudukan Buyut di Bapang itu?”

“Sudahlah,” jawab Akuwu Sangling, “Akuwu tidak perlu mempersoalkan kedudukannya. Ia adalah tanggung jawabku karena aku telah mengesahkannya.”

“Apakah maksud Akuwu juga ingin mengatakan bahwa yang dilakukan di padepokan Suriantal itu juga tanggung jawab Akuwu?” bertanya Akuwu Lemah Warah.

Akuwu Sangling menjadi tegang. Namun ia pun kemudian tersenyum. Katanya, “Tidak semua yang dilakukannya adalah tanggung jawabku. Tetapi ia adalah orangku. Aku wajib untuk berbuat sesuatu untuk meyakinkan setiap kejadian yang menyangkut orang-orangku.”

“Aku sudah mencoba untuk meyakinkan,” jawab Akuwu Lemah Warah. “Tetapi agaknya Akuwu tidak percaya.”

“Kakanda,” berkata Akuwu Sangling, “apakah sebenarnya hak orang-orang Suriantal atas siapa pun juga untuk mengambil batu yang berwarna kehijauan itu?”

“Bukankah batu itu tidak ada pemiliknya?” jawab Akuwu Lemah warah.

Akuwu Sangling memandang Akuwu Lemah Warah dengan tajamnya. Dengan nada datar ia berkata, “Batu itu memang tidak ada pemiliknya. Jadi orang-orang Suriantal juga tidak berhak memilikinya. Sebenarnya biarlah batu itu berada di tempatnya. Semua orang akan dapat melihat dan mendapatkan kesan tersendiri daripadanya.”

“Tetapi orang-orang yang berada di padepokan Suriantal itu akan memberikan arti yang lebih besar pada batu itu. Mereka akan membuat sesuatu yang dapat mereka persembahkan kepada Sri Maharaja di Singasari. Bukankah dengan demikian batu itu tidak hanya sekedar terletak di pinggir hutan dikerumuni oleh berbagai jenis ular dan binatang berbisa?”

“Berbagai jenis ular dan binatang berbisa itu justru telah mengamankan batu itu. Jika aku mau, maka sebenarnya aku dapat mengambilnya lebih dahulu. Tetapi aku membiarkan batu itu berada di tempatnya,” berkata Akuwu Sangling.

“Kenapa kita kemudian berbicara tentang batu itu?” bertanya Akuwu Lemah Warah, “semula aku hanya ingin berbicara tentang Ki Buyut Bapang.”

Akuwu Sangling itu termangu-mangu sejenak. Namun ia-pun kemudian menjawab, “Jika kita berbicara tentang Ki Buyut Bapang, maka kaitannya adalah karena ia menginginkan batu itu yang telah berada di padepokan Suriantal. Itulah sebabnya aku ingin menanyakan, apakah yang dilakukan oleh Ki Buyut itu terlalu salah?”

“Apakah maksud Akuwu?” bertanya Akuwu Lemah Warah, “tetapi bukankah kehadiran Ki Buyut itu bukan atas restu Akuwu?”

“Tidak,” jawab Akuwu Sangling, “aku tidak mempunyai sangkut paut dengan kepergiannya untuk mengambil batu itu. Tetapi aku mempunyai sangkut paut dengan kedudukannya. Bagaimanapun juga ia adalah salah seorang diantara Buyut di Sangling ini.”

“Aku mengerti. Itulah sebabnya aku datang kemari. Aku justru ingin bertanya, apakah yang akan Akuwu lakukan terhadap salah seorang diantara para Buyut yang telah melakukan satu tindakan yang salah,” bertanya Akuwu Lemah Warah.

“Aku akan menghukumnya,” berkata Akuwu Sangling, “tetapi jika Akuwu bertanya sikapku atas Ki Buyut di Bapang, maka aku tidak dapat menyalahkannya.”

“Mungkin dalam hubungannya dengan batu itu,” sahut Akuwu Lemah Warah, “tetapi langkah-langkah yang telah dilakukannya? Mungkin juga apa yang pernah dilakukan oleh para pengikutnya. Kali ini para pengikutnya yang kemudian menyeret Ki Buyut serta, bertindak kasar terhadap padepokan Suriantal. Mungkin di kesempatan lain Ki Buyut melakukan di tempat lain pula.”

“Akuwu jangan terlalu mudah berprasangka.” sahut Akuwu Sangling, “Sudah aku katakan, bahwa Ki Buyut Bapang bukan orang seperti yang Akuwu maksudkan. Ia orang yang baik bagiku dan orang yang sangat aku perlukan di sini. Karena itu Akuwu, hamba justru mohon agar Ki Buyut itu dilepaskan.”

Akuwu Lemah Warah menjadi tegang. Dengan ragu-ragu ia bertanya, “jadi, Akuwu tidak mau melihat kenyataan tentang Ki Buyut itu? Akuwu, coba Akuwu bayangkan, bahwa kematian yang tidak berarti telah terjadi di padepokan Suriantal itu. Sekelompok kuat orang-orang bersenjata menyerangnya tanpa mengekang diri. Dengan demikian maka orang-orang padepokan harus bertahan. Juga terhadap Ki Buyut Bapang. Dan jika Akuwu ingin tahu, siapakah kawan Ki Buyut Bapang saat ia memasuki padepokan itu, maka agaknya Akuwu telah mengenalnya, setidak-tidaknya pernah mendengar namanya, Empu Sepada.”

“Empu Sepada?” ulang Akuwu Sangling.

“Ya. Bukankah Akuwu pernah mengenalnya?” bertanya Akuwu Lemah Warah pula.

“Aku tidak banyak mengenalnya,” jawab Akuwu Sangling, “aku hanya pernah mendengar namanya. Tidak lebih.”

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Apakah Akuwu baru mendengar bahwa Ki Buyut datang bersama Empu Sepada?”

“Ya. Aku baru mendengarnya,” jawab Akuwu Sangling.

“Apakah laporan itu tidak menyebut nama Empu Sepada?” bertanya Akuwu Lemah Warah pula.

Akuwu Sangling termangu-mangu sejenak. Namun ia pun kemudian berkata, “Mungkin akulah yang kurang memperhatikan laporan itu.”

Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada datar ia berkata, “Kau menyembunyikan sesuatu. Ada yang tidak Akuwu sebut meskipun Akuwu mengetahuinya.”

“Jangan terlalu curiga begitu,” sahut Akuwu Sangling, “tetapi baiklah. Itu adalah hak Akuwu untuk mencurigai siapa-pun. Namun sekali lagi aku minta, agar Ki Buyut Bapang itu dilepaskan.”

“Itulah yang sulit aku lakukan,” jawab Akuwu Lemah Warah, “bagaimana pertanggungjawaban Ki Buyut dengan kematian yang telah terjadi di padepokan itu?”

“Apakah kita harus menelusur siapakah yang harus bertanggungjawab?” bertanya Akuwu Sangling, “coba pikirkan, seandainya batu itu tidak diambil dan dibawa ke padepokan Suriantal.”

“Jadi dari sanalah Akuwu berpikir? Jika demikian, maka pembicaraan kita sulit untuk bertaut. Baiklah, aku mohon diri. Aku akan memberitahukan sikap Akuwu kepada seisi padepokan Suriantal,” jawab Akuwu Lemah Warah, “semuanya terserah kepada isi padepokan itu. Namun satu hal yang harus Akuwu sadari, bahwa letak batu itu tidak berada di daerah Pakuwon Sangling.”

Wajah Akuwu Sangling menjadi tegang. Sementara itu Akuwu Lemah Warah berkata, “Renungkan itu. Dan Akuwu tahu, di mana batu itu terletak.”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...