Rabu, 06 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 036-03

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 036-03*

Ternyata bahwa isi padepokan itupun memiliki kemampuan yang cukup. Dalam waktu singkat mereka telah menempatkan diri mereka di tempat yang sudah ditentukan. Mereka telah siap dengan senjata telanjang sehingga mereka pun telah siap untuk bertempur kapan pun juga.

Sejenak kemudian, maka para prajurit Lemah Warah itupun telah mulai mendekati dinding. Mereka mulai menyerang para pengamat di sudut-sudut padepokan di atas panggungan dengan anak panah.

Namun dalam pada itu, orang-orang padepokan itupun telah berloncatan pula ke atas panggungan itu dan di atas dinding padepokan. Merekapun telah membalas serangan anak panah itu dengan anak panah pula.

Untuk beberapa saat kedua belah pihak telah bertempur dengan anak panah. Namun pada saat yang demikian beberapa orang prajurit Lemah Warah telah berusaha untuk memasuki padepokan itu dengan cara lain. Di depan pintu gerbang beberapa orang telah menggotong sebatang kayu yang besar. Bersama-sama mereka berlari dan membenturkan batang kayu itu ke pintu gerbang padepokan.

Beberapa kali para prajurit Lemah Warah melakukannya. Membawa batang kayu itu di atas pundak mereka dan menjauh untuk mengambil ancang-ancang. Namun kemudian mereka pun telah berlari-lari dan membenturkan balok itu ke pintu gerbang. Demikian mereka lakukan berkali-kali, sementara beberapa orang kawannya melindunginya dengan serangan-serangan anak panah pula atas orang-orang padepokan itu yang menghujani orang-orang yang memanggul kayu itu dengan anak panah pula.

Perlahan-lahan selarak pintu yang besar itu menjadi semakin longgar. Dan bahkan akhirnya selarak itu sendiri telah menjadi retak.

“Awas,“ teriak seseorang, “selarak pintu gerbang akan patah.”

Para penghuni padepokan yang berada di atas dinding sebelah menyebelah pintu gerbang itupun telah memperderas serangan anak panah mereka atas orang-orang yang telah memanggul kayu dan berusaha memecahkan regol. Namun di luar padepokan, prajurit Lemah Warah pun telah menyerang semakin deras pula. Anak-anak panah yang terlepas dari busur telah menghujani orang-orang yang berada di atas dinding.

Ketika dua kali lagi, balok kayu yang besar itu membentur pintu gerbang, maka selarak itupun telah patah.

Para prajurit Lemah Warah pun segera mendesak pintu gerbang itu sehingga terbuka.

Maka kedua pasukan itupun segera saling berbenturan. Para prajurit Lemah Warah dengan cepat telah mendesak para penghuni padepokan itu. Sementara itu, beberapa kelompok prajurit pun telah meloncati dinding pula.

Dengan demikian maka para prajurit Lemah Warah pun telah berhasil memasuki padepokan itu. Mereka cepat menyusun diri dan menyerang kubu-kubu pertahanan para penghuni padepokan itu.

Seperti yang pernah terjadi, maka pertempuran pun segera membakar padepokan itu.

Para pemimpin padepokan itupun segera mengambil sikap. Merekapun telah mempergunakan kemampuan mereka masing-masing. Yang memiliki kemampuan bertempur dan memiliki kelebihan dalam olah kanuragan telah membawa senjata dan melangkah menuju ke arena pertempuran. Sementara itu, orang yang mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi binatang dengan ilmu gendamnya telah dengan tergesa-gesa menuju ke biliknya. Di dalam bilik itu tersimpan sekotak ular berbisa yang akan dapat dipergunakannya untuk melawan para prajurit Lemah Warah.

Yang memiliki kemampuan untuk mempergunakan wadag orang lain, tidak dapat mempergunakannya dalam perang brubuh. Lebih baik ia turun sendiri ke medan dan membunuh lebih banyak daripada meminjam wadag orang lain yang belum tentu mampu mendukung kemampuan ilmunya.

Demikianlah pertempuran itu menyala di seluruh padepokan. Para prajurit Lemah Warah telah memencar. Dan sebagaimana terdahulu maka jumlah para prajurit yang lebih besar itu dengan cepat telah membuat mereka berhasil di beberapa bagian mendesak lawannya.

Namun di beberapa bagian, ternyata bahwa orang-orang padepokan itu telah mampu mempertahankan diri. Dengan keberanian yang luar biasa mereka mampu menahan arus para prajurit dari Lemah Warah sehingga para prajurit itu tidak dapat mendesak mereka. Namun para prajurit itu telah menghadapi perlawanan yang gigih, sehingga pertempuran pun menjadi semakin lama semakin dahsyat.

Yang pernah terjadi itu agaknya telah terulang kembali. Sementara itu, orang-orang padepokan ternyata mempunyai kesempatan lebih baik, karena mereka sempat menyiapkan binatang berbisa untuk diterjunkan ke medan perang.

Demikianlah beberapa ekor ular telah menelusuri keluar dari sebuah bilik menuju ke medan. Ular-ular itu seakan-akan mampu mengenali, yang manakah kawan mereka dan yang manakah lawan mereka. Mereka seakan-akan dapat mengenali pakaian para prajurit Lemah Warah yang turun ke medan perang.

Ketika beberapa ekor ular itu sampai ke medan, maka binatang berbisa itu ternyata mempunyai pengaruh yang sangat besar. Para prajurit Lemah Warah harus menghadapi dua jenis lawan yang sama-sama berbahayanya. Orang-orang padepokan itu dengan ujung senjata yang siap menusuk dada dan bisa ular yang akan dapat membuat darah mereka menjadi beku.

Namun tentang ular yang sempat menggemparkan medan itu telah terdengar pula Mahisa Pukat, dan Mahisa Murti dan Mahisa Ura yang telah sempat minum obat penawar racun meskipun hanya untuk sementara. Karena itu, maka mereka pun dengan sigap telah turun pula ke medan. Mereka terutama telah berusaha untuk menangkap dan membunuh binatang-binatang berbisa itu.

Dalam pada itu, selain Mahisa Murti sibuk membunuh beberapa ekor ular, ternyata beberapa orang telah berusaha untuk menjebaknya. Namun ternyata Mahisa Murti memang memiliki ilmu yang tinggi. Untuk sementara dilepaskannya ular-ular yang sangat berbisa itu. Meskipun ia tetap tidak ingin digigit ular walaupun gigitan itu tidak akan membunuhnya, namun ia lebih dahulu harus menghadapi beberapa orang yang berusaha untuk menjebaknya itu.

Lima orang telah mengepung Mahisa Murti. Senjata mereka terayun-ayun mengerikan. Orang-orang padepokan itu mengenali Mahisa Murti sebagai seorang anak muda yang memiliki ilmu yang tinggi.

Untuk melawan lima orang sekaligus, Mahisa Murti memang merasa terlalu berat apabila ia hanya bertopang kepada kemampuannya olah kanuragan serta tenaga cadangan yang ada padanya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun kemudian telah terpaksa mempergunakan ilmunya. Tetapi Mahisa Murti tidak mempergunakan ilmunya dalam bentuknya yang keras, tetapi dalam bentuknya yang lunak.

Karena itu, maka sejenak kemudian lawan-lawan Mahisa Murti yang mengepungnya itu telah disentuh oleh udara dingin. Semakin lama rasa-rasanya menjadi semakin membeku.

Beberapa orang di antara mereka yang mengepung Mahisa Murti itu merasa tubuh mereka seakan-akan menjadi hampir membeku. Darah mereka seakan-akan telah berhenti mengalir dan mengeras di dalam pembuluhnya.

Dalam keadaan yang paling sulit, maka kelima orang itu-pun telah berloncatan mundur. Semakin jauh mereka dari Mahisa Murti, rasa-rasanya udara menjadi semakin hangat.

Namun Mahisa Murti yang marah tidak membiarkan mereka lepas dari tangannya. Dengan sigapnya Mahisa Murti pun telah memburu mereka.

Yang kemudian mengakhiri beberapa orang lawannya bukan kemampuan puncak ilmu Mahisa Murti dalam bentuknya yang keras. Tetapi di medan itu, ia ingin membunuh lawannya dengan cara sebagaimana dilakukan oleh para prajurit yang lain.

Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah menusuk lawannya dengan pedangnya pada saat lawannya kehilangan kemampuan untuk menghindar atau menangkis serangan itu.

Dua orang telah terlempar dari arena. Sementara itu, ketika seorang yang lain berusaha untuk meloncat menjauh, maka justru punggungnyalah yang tergores oleh pedang Mahisa Murti.

Namun dalam pada itu, ketika Mahisa Murti siap dengan tusukan pedangnya pada lawan berikutnya, terdengar seseorang berkata, “Kau lagi anak manis.”

Mahisa Murti mengangkat wajahnya ke arah orang itu. Ternyata orang itu adalah orang bertongkat yang pernah bertempur melawannya pada saat pasukan Lemah Warah memasuki padepokan itu beberapa saat berselang.

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Lalu katanya, “Marilah Ki Sanak. Kita ternyata mendapat kesempatan lagi untuk bertemu.”

“Bagus,“ berkata orang bertongkat itu, “marilah kita bertempur sebagaimana keadaan kita. Kita tidak dapat bertempur berdesak-desakan dengan para prajurit. Marilah kita mencari tempat yang lebih luas.”

“Aku dapat bertempur di mana saja. Di tempat yang luas atau di tempat yang sempit. Aku bersedia bertempur dengan mengandalkan kemampuan menyerang pada jarak jauh. Tetapi aku pun tidak gentar bertempur beradu senjata,“ jawab Mahisa Murti. “nah kau boleh memilih. Aku tahu, bahwa kau mempunyai kelemahan. Kau tidak berani bertempur pada jarak dekat. Mungkin kau tidak cukup mempunyai ketrampilan menggerakkan tongkatmu yang kau bangga-banggakan itu.”

“Persetan,“ geram orang itu, “jangan sombong anak muda. Kau memang luar biasa. Tetapi kau jangan menyangka bahwa kau adalah orang yang tidak terkalahkan di dunia ini.”

“Tentu tidak,“ jawab Mahisa Murti, “aku sadar, bahwa banyak orang yang memiliki kelebihan dari aku. Tentu ada beratus, bahkan beribu. Tetapi semuanya itu. yang beribu itu, tentu tidak termasuk kau.”

“Anak iblis,“ geram orang itu. Tiba-tiba saja ia mengangkat tongkatnya.

Mahisa Murti sadar apa yang akan terjadi. Karena itu, maka iapun dengan tangkasnya meloncat menghindari serangan itu.

Sebenarnyalah sinar yang tajam memancar dari ujung tongkat itu menyambar Mahisa Murti. Tetapi Mahisa Murti telah berhasil melepaskan diri dari sasaran.

Sekali ia berguling, namun ketika ia duduk kembali, maka tangannya telah teracu dan sebelum lawannya menyerang dengan sinar yang memancar dari ujung tongkatnya, serangan Mahisa Murti telah meluncur mendahuluinya.

Demikianlah pertempuran sebagaimana pernah terjadi itu terulang kembali. Segalanya seakan-akan tidak berbeda dari yang pernah membakar padepokan itu beberapa saat sebelumnya.

Namun ternyata bahwa ular-ular berbisa itu telah banyak mengganggu. Beberapa orang prajurit memang telah dipatuk-nya. Sementara itu yang lain lagi telah kehilangan keseimbangan pertempuran sehingga ujung pedang lawannya telah menembus jantungnya justru karena seekor ular.

Dalam pada itu, Mahisa Pukat yang masih mempunyai kesempatan bersama Mahisa Ura dan Tatas Lintang sendiri telah berusaha untuk membunuh ular itu sebanyak-banyaknya. Mereka sama sekali tidak gentar akan bisa ular itu. Namun seorang demi seorang mereka telah bertemu dengan lawan-lawan mereka, sehingga pertempuran sebagaimana pernah terjadi telah terulang kembali.

Tetapi ternyata bahwa ular-ular yang dilepaskan itu sudah tidak lagi terlalu banyak berkeliaran. Meskipun demikian, namun ular-ular itu tetap merupakan bahaya bagi para prajurit dari Lemah Warah.

Namun dalam pada itu, sebagaimana yang pernah terjadi, maka orang terpenting dari padepokan itu telah melihat dengan ketajaman penglihatan batinnya, apa yang telah terjadi. Meskipun ia juga melihat ular yang berkeliaran serta pengaruhnya, namun menurut perhitungannya, para prajurit Lemah Warah akan dapat menguasai keadaan.

Tetapi dalam pada itu, ternyata bahwa ular-ular masih saja meluncur dari dalam sebuah bilik, seakan-akan tidak ada habis-habisnya.

Mahisa Pukat yang melihat ular-ular itu menjalar terus memasuki medan, akhirnya berusaha untuk dapat menemukan sumbernya.

Tetapi Mahisa Pukat tidak yakin, bahwa ular-ular itu keluar dari bilik yang sama dengan yang pernah dipergunakannya sebelumnya. Menurut perhitungan Mahisa Pukat, orang itu tentu telah berpindah tempat.

Namun Mahisa Pukat telah menelusuri jalan yang ditempuh oleh ular-ular itu. Sekali-sekali ia melihat ular meluncur dari satu arah, maka iapun telah mengikuti arah itu setelah ia membunuh ular yang ditemuinya itu. Dengan demikian maka sedikit demi sedikit Mahisa Pukat berhasil mendekati bilik yang dicarinya.

Akhirnya Mahisa Pukat memang menemukannya. Ia melihat dua ekor ular keluar dari pintu bilik itu. Disusul oleh dua ekor yang lain.

Dengan cepat Mahisa Pukat membunuh ular-ular itu. Kemudian dengan hati-hati ia mendekati pintu yang terbuka.

Mahisa Pukat sadar, bahwa orang yang memiliki ilmu Gen-dam itu mempunyai kemampuan yang sangat tinggi. Karena itu, maka demikian ia memasuki bilik itu, jika tidak berhati-hati. maka ia akan menjadi sasaran ujung keris orang yang berilmu tinggi dan mampu mempengaruhi binatang dengan ilmu gendamnya itu.

Selagi ia menunggu, seekor ular yang besar telah meluncur keluar. Namun ular itu terkejut ketika ia melihat seseorang berdiri melekat sisi pintu. Dengan serta merta ular itu telah menyerang Mahisa Pukat.

Mahisa Pukat terkejut. Ular itu terlalu besar.

Namun sebelum Mahisa Pukat sempat mengelak, ular itu ternyata telah menyambarnya. Mahisa Pukat memang dapat bergerak tangkas. Meskipun ia tidak dapat mengelak, tetapi pedangnya dengan cepat telah menyambar leher ular itu. Betapapun juga ular itu terhitung ular yang besar, namun leher ular itu-pun dapat ditebas putus oleh pedang di tangan Mahisa Pukat.

Demikian leher ular itu terputus, pada saat tubuh ular itu masih menggeliat, Mahisa Pukat telah meloncat memasuki ruang itu. Tetapi ia tidak melihat seorang pun.

Sesaat ia termangu. Namun orang yang dicarinya tidak ada lagi di ruang itu. Yang dilihatnya hanyalah ular-ularnya yang berusaha keluar dari kotak dan menjalar ke medan perang.

“Orang itu termasuk dungu meskipun berilmu tinggi,“ berkata Mahisa Pukat, “ia telah melakukan kerja yang sama di tempat yang sama.”

Namun agaknya barak itu adalah barak yang diperuntukkan baginya dan para pengikutnya, sehingga ia memang tidak mempunyai tempat lain untuk melakukannya.

Untuk beberapa saat, Mahisa Pukat membunuh beberapa ekor ular di dalam bilik itu. Namun tiba-tiba saja ia mendengar sesuatu. Agaknya beberapa orang berada di luar bilik itu.

Dengan cepat Mahisa Pukat meloncat ke pintu. Namun yang dilihatnya adalah beberapa orang bersenjata berdiri di luar pintu.

Mahisa Pukat sadar, bahwa ia memang telah terjebak. Tetapi ia tidak menjadi gentar. Perlahan-lahan ia turun dari tangga bilik itu yang rendah sambil menggerakkan pedangnya.

“Menyerahlah,“ berkata seorang yang berwajah garang dengan beberapa luka di kening dan pelipisnya, “kau masih terlalu muda untuk mati.”

Mahisa Pukat menggeram. Namun ia tidak menjawab.

Ketika Mahisa Pukat bergeser, maka orang-orang itupun telah bergeser pula. Mereka telah menutup kemungkinan bagi Mahisa Pukat untuk keluar dari kepungan mereka.

Tetapi Mahisa Pukat sama sekali tidak menjadi gemetar. Bahkan anak muda itu telah menggeretakkan giginya.

Ketika pedangnya mulai berputar, Mahisa Pukat pun telah bergerak selangkah maju, justru mendekati orang-orang yang mengepungnya.

Orang-orang yang mengepungnya itupun menjadi heran melihat sikap anak muda itu. Sama sekali ia tidak menunjukkan keragu-raguan. Apalagi ketakutan.

Namun justru karena itu, maka orang-orang itupun telah memutuskan untuk membunuh saja anak muda itu tanpa ampun.

Demikianlah sejenak kemudian, maka orang yang memimpin sekelompok orang itupun telah memerintahkan untuk dengan segera membunuh anak muda yang sombong itu.

Tetapi Mahisa Pukat pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, maka ketika orang-orang itu mendekatinya, maka meskipun ia tidak berjanji dengan Mahisa Murti, maka Mahisa Pukat pun telah mengetrapkan ilmunya dalam ujudnya yang lunak.

Semula orang-orang yang mengepung dan bahkan kemudian mulai menyerang Mahisa Pukat itu tidak merasakan sesuatu. Namun kemudian gerak mereka terasa terganggu. Udara terasa menjadi sangat dingin sehingga gerak mereka pun menjadi sangat lamban.

Mahisa Pukat lah yang kemudian menerjang mereka tanpa ampun. Justru karena ia sadar, bahwa padepokan itu merupakan kumpulan dari orang-orang yang sangat membahayakan. Apalagi mereka berilmu tinggi.

Karena itu, selagi orang-orang itu termangu-mangu karena udara yang terasa dingin dan bahkan semakin dingin, maka Mahisa Pukat telah menyerang mereka dengan segenap kemampuan ilmu pedangnya.

Beberapa orang terlempar dari arena, sementara itu yang lain pun menjadi kebingungan menghadapi kenyataan itu.

Namun dalam pada itu, kawan-kawannya pun bertempur dengan gigihnya. Tidak seorang pun yang melarikan diri dari arena atau melepaskan senjata mereka, betapapun mereka merasa bahwa ujung pedang lawannya itu akan segera menghunjam ke dadanya.

Dalam pada itu, selagi di seluruh padepokan itu terjadi pertempuran, maka atas dasar keterangan Akuwu Tatas Lintang, Pangeran Singa Narpada bersama Mahendra telah berusaha untuk menemukan sumber dari ilmu yang tertinggi itu. Karena itu, maka untuk beberapa saat, mereka tidak menghiraukan pertempuran. Mereka telah menyusup di antara barak-barak yang kosong karena para penghuninya sedang bertempur.

Yang mula-mula mereka dekati adalah bangunan induk padepokan itu. Namun mereka tidak menemukan apapun juga. Karena itu, maka mereka pun berniat untuk pergi ke barak-barak yang lain, untuk dapat bertemu dengan yang berilmu paling tinggi di antara para penghuni padepokan itu.

Namun untuk beberapa saat, mereka tidak menemukannya. Bahkan kemudian terjadilah yang mereka cemaskan.

Orang yang sedang dicari itu memang telah melihat, bahwa orang-orang padepokan itu tidak akan dapat memenangkan pertempuran itu. Karena itu, maka seperti yang telah terjadi, maka tidak ada pilihan lain baginya, untuk membuat padepokan itu menjadi gelap, sehingga orang-orang Lemah Warah tidak akan dapat melihat sesuatu. Seperti yang pernah terjadi, maka mereka pun dengan segera meninggalkan padepokan itu.

Demikianlah maka orang itupun telah memusatkan nalar budinya untuk mengetrapkan ilmunya. Seperti yang pernah terjadi, maka di atas padepokan itu, kabut mulai nampak. Tipis sekali. Tetapi semakin lama menjadi semakin tebal.

Mahendra dan Pangeran Singa Narpada terkejut. Mereka tidak melihat sumber dari kabut itu. Mereka tidak melihat pusat dari kekuatan ilmu yang tersebar di atas padepokan itu, yang semakin lama semakin memberat dan kemudian menyelimuti padepokan itu.

“Luar biasa,“ berkata Pangeran Singa Narpada.

“Ya, Luar biasa,“ desis Mahendra, “kita gagal menemukan pusar dari pelepasan ilmu itu.”

“Jadi, apakah yang sebaiknya kita lakukan? Apakah kita sekedar menyaksikan saja kabut itu menutup padepokan ini dan anak-anak Lemah Warah itu berloncatan keluar dari dinding padepokan?” bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Kita masih mampu mencobanya,“ berkata Mahendra.

“Mencoba apa?“ bertanya Pangeran Singa Narpada.

“Kita hembus kabut ini,“ berkata Mahendra. Lalu, “kita tidak mempunyai ilmu yang mampu menimbulkan prahara. Tetapi kita memiliki kekuatan yang dapat memancarkan cahaya panas dan dingin.”

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Apa maksudmu? Apakah kita akan melepaskan kemampuan ilmu kita?”

“Ya, Kita lepaskan kemampuan ilmu kita. Kita lawan kabut ini dengan cara kita masing-masing,“ berkata Mahendra.

Pangeran Singa Narpada termangu-mangu. Namun tiba-tiba saja ia mengangguk-angguk sambil berkata, “Marilah. Kita akan membenturkan ilmu kita.”

Sejenak kemudian Mahendra dan Pangeran Singa Narpada telah memusatkan nalar budi mereka pula. Dengan sikap yang besar, mereka telah mengetrapkan kemampuan ilmu mereka.

Mahendra yang memiliki ilmu yang dapat dilontarkannya dengan ujud yang keras dan ujud yang lunak, telah menggeram sambil mengayunkan tangannya. Dianggapnya kabut itu adalah getaran ilmu seseorang yang berilmu sangat tinggi. Karena itu, maka iapun telah melawan getaran itu dengan getaran ilmunya yang dahsyat.

Dalam pemusatan nalar budi, maka rasa-rasanya tangannya memang menyentuh sesuatu. Memang bukan wadag seseorang, tetapi kemampuan ilmu yang telah terlontarkan dari kekuatan ilmu seseorang tetapi kemampuan ilmu yang telah terlontar dari kekuatan ilmu seseorang.

Begitu dahsyatnya hentakkan ilmu Mahendra. maka rasa-rasanya kabut yang menyelubungi padepokan itu telah bergetar seluruhnya.

Dalam pada itu, maka Pangeran Singa Narpada pun telah melakukan hal yang serupa dengan ilmunya pula. Satu hentakkan kekuatan dari seseorang yang berilmu sangat tinggi.

Ternyata bahwa usaha kedua orang itupun berhasil. Getaran yang memancar dari kekuatan ilmu seseorang yang sangat tinggi telah membentur getaran-getaran dari ilmu yang sangat tinggi pula. Namun tidak berujud dan tidak berwarna sebagaimana kabut yang berwarna gelap.

Itulah sebabnya kabut yang semakin tebal memberat jatuh di atas tanah itu telah menggelepar. Kabut itu seakan-akan telah terangkat ke atas beberapa lapis.

Orang-orang Lemah Warah yang sudah mulai kebingungan itupun rasa-rasanya sempat bernafas. Mereka tidak lagi dicekik oleh kegelapan dan tidak ada kesempatan untuk berbuat sesuatu. Apalagi di bawah kaki mereka, beberapa ekor ular masih berkeliaran.

Melihat akibat dari hentakkan ilmu mereka, maka Mahendra dan Pangeran Singa Narpada itupun telah melakukannya kembali. Akibatnya menjadi semakin jelas. Kabut itu terangkat lagi, sebagaimana ada dorongan kekuatan dari dalam bumi.

“Kita berhasil Pangeran,“ berkata Mahendra, “kita akan mencoba lagi.”

Mahendra telah mengulangi serangannya pula. Ia sadar, bahwa ia sekedar melontarkan getaran ke udara. Ia berharap bahwa lontaran getarannya itu akan mengenai dan membentur getaran yang sudah ada di atas padepokan itu.

Ketika Mahendra dan Pangeran Singa Narpada mengulanginya beberapa kali, maka terasa seakan-akan di padepokan itu telah terjadi kekuatan dorong mendorong antara kekuatan ilmu seseorang tentang kabut yang telah mapan, melawan kekuatan-kekuatan yang sangat besar, namun tidak mempunyai jalur yang terbiasa dilakukan menghadapi ilmu tentang kabut itu.

Meskipun demikian, kekuatan Mahendra dan Pangeran Singa Narpada itu tetap berpengaruh. Getaran-getarannya yang sangat besar telah mendorong kabut itu seakan-akan menjadi semakin ringan dan terbang dibawa angin.

Tetapi karena sumbernya masih juga bekerja keras untuk menjadikan padepokan itu gelap gulita, maka kabut yang terangkat perlahan-lahan itu telah menekan kembali jatuh di atas bumi.

Namun Mahendra dan Pangeran Singa Narpada tidak menyerah. Merekapun telah mengerahkan kekuatan didalam diri mereka untuk mengangkat kabut itu.

Namun akhirnya ternyata bahwa Mahendra dan Pangeran Singa Narpada berhasil. Meskipun kabut itu tidak terangkat seluruhnya, namun kabut itu rasa-rasanya menjadi semakin tipis. Para prajurit Lemah Warah sebenarnya telah bersiap-siap untuk keluar dari padepokan itu. Namun mereka masih tetap bertahan.

Apalagi ketika mereka melihat bahwa ada getaran lain yang telah melawan kabut yang turun di padepokan itu. Satu hal yang baru yang tidak terjadi pada pertempuran yang telah berlangsung beberapa saat yang lalu.

Para prajurit Lemah Warah memang berharap, bahwa para pemimpin mereka menemukan cara untuk melawan kabut yang terasa sangat mengganggu pertempuran itu.

Dengan demikian maka yang terjadi adalah pertempuran yang semakin seru. Pertempuran antara para prajurit Lemah Warah dengan orang-orang seisi padepokan itu, dan pertempuran ilmu yang tinggi antara kekuatan yang menebarkan kabut itu dengan kekuatan yang berusaha mengangkatnya.

Namun bagaimanapun juga, para prajurit Lemah Warah masih tetap mampu mendesak lawannya. Kabut yang turun dan terangkat naik itu tidak menutup penglihatan para prajurit itu sepenuhnya. Mereka masih dapat menembusnya dan menjulurkan pedangnya ke arah jantung.

Orang yang menebarkan kabut itupun merasakan perlawanan yang kuat sekali atas ilmunya. Ia merasakan hentakan-hentakan yang rasa-rasanya sampai ke pusat dadanya. Kekuatannya yang terpancar pada ilmunya di setiap hentakkan telah menekan kembali ke dalam dirinya.

Untuk beberapa saat orang itu masih mencoba untuk bertahan. Ia masih tetap pada sikapnya. Meskipun terasa kekuatan yang mendorong kembali kekuatan ilmunya ke dalam dirinya sendiri, namun ia masih percaya akan kemampuannya.

Karena itu, maka ia telah mengerahkan segenap kekuatannya. Sambil duduk bersila dan menyilangkan tangannya di dada orang itu memusatkan nalar budinya untuk menekan kekuatan orang-orang yang berusaha melawan ilmunya.

Sementara itu, Pangeran Singa Narpada dan Mahendra juga masih tetap berjuang untuk menyingkap kabut yang tebal itu.

Demikian dahsyatnya pertempuran antara dua getaran kekuatan itu, sehingga dari ubun-ubun orang yang melepaskan kabut itu telah mengepul asap pula.

Namun getaran yang melawan kabutnya itu semakin lama semakin terasa menekan dadanya. Rasa-rasanya nafasnya mulai menjadi sesak. Bahkan kemudian getaran yang menghentak-hentak itu mulai menyusup ke sumber kekuatannya.

Orang itu tidak mempunyai pilihan lain. Dalam keadaan yang demikian, orang itupun melihat, bahwa kabutnya benar-benar telah tersingkap dan para prajurit Lemah Warah dapat bertempur dengan garangnya. Sisa-sisa kekuatannya hanyalah hamparan kabut tipis yang tidak berarti.

Ketajaman penglihatan orang itu telah melihat pula kehadiran orang-orang berilmu tinggi yang mampu melawan ilmunya. Meskipun yang dilihatnya tidak lebih dari sekedar bayangan yang buram. Namun orang itu pasti, bahwa ia akan berhadapan dengan kekuatan yang tidak dapat diabaikannya.

Karena itu, maka orang itupun akhirnya tidak lagi dapat sekedar melawan orang-orang Lemah Warah dari tempat persembunyiannya. Karena itu, maka iapun telah memutuskan untuk melepaskan tebaran ilmu kabutnya dan langsung menghadapi orang-orang yang mampu melawan getaran ilmunya itu.

Dengan demikian, maka sejenak kemudian kabut itupun telah lenyap sama sekali. Udara pun menjadi cerah dan pertempuran pun berlangsung semakin seru. Orang-orang padepokan yang merasa kehilangan perlindungan itupun seakan-akan menjadi berputus-asa sehingga dengan demikian mereka pun justru menjadi semakin garang. Mereka tidak lagi memperhitungkan apapun juga. Yang nampak di hadapan mata mereka adalah ujung-ujung senjata yang akan menghunjam ke dalam diri mereka sehingga dengan demikian maka mereka tidak mempunyai pilihan lagi. Karena itu, daripada mereka harus mati sendiri, maka mereka harus berusaha untuk membawa lawan mereka mati bersama sebanyak-banyaknya.

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...