Minggu, 03 Januari 2021

HIJAUNYA LEMBAH HIJAUNYA LERENG PEGUNUNGAN JILID 031-04

*HIJAUNYA LEMBAH.  JILID 031-04*

“Tidak hanya pening dan mual,” jawab orangitu, “Tetapi kepalamu benar-benar akan aku pecahkan jika kau menolak untuk mencabut kesediaanmu menggarap tanah pategalan di ujung padukuhan.”

Untuk sesaat suasana menjadi tegang. Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun menjadi termangu-mangu.

Mereka mulai goyah untuk tidak berbuat sesuatu melihat keadaan Tatas Lintang.

“Aku harus yakin, bahwa Tatas Lintang adalah seorang yang berilmu tinggi,” geram Mahisa Murti di dalam dirinya, sebagaimana Mahisa Pukat dan Mahisa Ura meyakinkan diri mereka sendiri. Sehingga dengan demikian mereka masih dapat mengekang diri untuk tidak berbuat sesuatu.

Ketika orang bertubuh tinggi kekar itu menggapai rambut Tatas Lintang dan mengangkatnya sehingga wajah Tatas Lintang menengadah, maka terdengar Tatas Lintang itu merintih, “Ampun. Jangan kau patahkan leherku.”

“Katakan, apakah kau akan mencabut kesediaanmu menggarap tanah itu atau tidak?” bentak orang bertubuh tinggi kekar itu.

“Ya, ya. Aku akan mencabutnya,” jawab Tatas Lintang.

Orang bertubuh tinggi kekar itu menarik nafas dalam-dalam. Namun masih sekali lagi ia menghentakkan kepala Tatas Lintang ke tiang bambu petung. Sekali lagi terdengar Tatas Lintang merintih.

“Aku akan menunggu,” berkata orang itu, “jika sampai besok kau tidak memenuhi janjimu, maka kau akan aku gantung di sudut padukuhan. Kau tahu, bahwa tidak seorang pun yang berani melawan aku.”

Tatas Lintang menjawab dengan suara gemetar, “Aku akan memenuhinya.”

Orang itu pun kemudian melepaskan rambut Tatas Lintang. Dengan kakinya ia menendang lambung Tatas Lintang sambil berkata, “Aku akan pergi. Tetapi ingat, jangan membuat aku marah dan menggantungmu serta membakar gubugmu ini.”

Tatas Lintang tidak menjawab. Sementara itu kedua orang itu pun melangkah meninggalkan ruang pondok Tatas Lintang yang telah berserakan itu.

Demikian kedua orang itu hilang dibalik pintu, Tatas Lintang pun bangkit berdiri sambil tersenyum, “Gila orang itu.”

“Kau biarkan dirimu diperlakukan seperti itu?” bertanya Mahisa Ura.

“Biarlah untuk kali ini,” jawab Tatas Lintang, “Aku masih ingin bersembunyi di sini. Tetapi ini untuk yang terakhir kali. Nanti malam kalian telah pulih seutuhnya, sehingga sejak besok, kita akan membuka diri. Seandainya dengan demikian kehadiran kita diketahui oleh orang padepokan itu, kita tidak akan berkeberatan.”

Mahisa Ura mengangguk-angguk kecil. Ia pun mengerti maksud Tatas Lintang. Karena itu katanya, “Jadi kau tidak akan mencabut kesediaan kita menggarap tanah itu?”

Tatas Lintang tersenyum sambil menjawab, “Tentu tidak. Biar saja mereka datang kemari. Seperti yang aku katakan, sejak besok kita tidak akan bersembunyi lagi meskipun kita akan tetap tinggal di pondok ini.”

Mahisa Mtitti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura menarik nafas dalam-dalam. Tetapi dengan nada geram Mahisa Ura berkata kepada diri sendiri, “orang-orang seperti itu perlu mendapat sedikit pelajaran.”

Namun dalam pada itu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura yang ingin beristirahat, harus membenahi isi pondok itu lebih dahulu bersama Tatas Lintang. Amben besar yang rusak itu pun telah dilepas sama sekali dan dibawa keluar. Hanya tikarnya sajalah yang kemudian dibentangkannya dilantai.

“Di manapun aku dapat tidur nyenyak,” desis Mahisa Pukat.

Sebenarnyalah ketika malam menjadi gelap, maka mereka pun telah berbaring di atas tikar pandan yang dibentangkan dilantai pondok kecil yang masih berserakan itu. Namun demikian mereka masih juga merasa perlu untuk menutup dan menyelarak pintu.

Malam itu, Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura benar-benar sempat beristirahat, sehingga segenap kekuatan dan kemampuan mereka pun telah pulih kembali.

Karena itu, ketika kemudian matahari terbit, tubuh mereka pun telah terasa cukup segar dan utuh.

Berganti-ganti mereka mandi di pakiwan, sehingga ketika matahari mulai naik, mereka pun telah selesai. Dengan demikian maka mereka pun mulai membenahi seluruh isi pondok mereka.

Namun dalam pada itu, mereka pun menyadari, bahwa kedua orang itu, bahkan mungkin bersama kawan-kawannya yang lain tentu akan datang lagi, karena Tatas Lintang tidak benar-benar mencabut kesediaannya menggarap tanah pategalan di ujung padukuhan.

Sebenarnyalah seperti yang mereka tunggu, baru saja mereka selesai membenahi isi rumah kecil mereka yang berserakan, maka orang yang bertubuh tinggi kekar itu telah nampak memasuki pintu pagar. Bukan hanya dua orang. Tetapi lima orang.

Tatas Lintang memberi isyarat kepada ketiga orang yang diakuinya sebagai kemenakannya itu. Sambil menggelengkan kepalanya ia berdesis, “Biarlah aku mengurusi mereka.”

“Sendiri?” bertanya Mahisa Murti.

Tatas Lintang termangu-mangu. Namun ia pun kemudian tersenyum.

Sementara itu, kelima orang itu telah berada di depan pondok kecil itu. Dengan nada geram orang bertubuh kekar itu berkata, “Kau mencoba menipu aku he?”

“Maaf Ki Sanak,” berkata Tatas Lintang, “aku baru memperbaiki pondok kecilku yang rusak, sehingga aku belum sempat menemui pemilik pategalan itu.”

“Persetan,” geram orang itu, “kau tidak akan dapat menyebut alasan apapun juga. Kesabaranku sudah habis, sehingga hukuman itu akan kau terima sekarang tanpa ampun.”

“Tetapi, bukan maksudku menentangmu,” jawab Tatas Lintang.

“Aku tidak peduli,” jawab orang itu.

Tatas Lintang termangu-mangu. Sementara kelima orang itu pun kemudian telah menebar.

Keadaan pun menjadi semakin tegang. Wajah orang yang bertubuh tegap kekar itu benar-benar bagaikan menyala. Dengan geram ia berkata, “Kau bukan orang asli dari padukuhan ini Tatas Lintang. Kau adalah pendatang. Jika kau hilang dari padukuhan ini, maka orang-orang padukuhan ini tidak akan merasa kehilangan. Lihat, orang-orang yang datang bersamaku. Mereka adalah orang-orang asli dari padukuhan ini. Mereka telah sepakat untuk menyingkirkan kau dan kemenakan-kemenakanmu. Seadainya bangkaimu hanyut di sungai atau menjadi makanan anjing liar, tidak seorang pun yang akan mempersoalkannya.”

“Tetapi, apakah tindakan itu tidak bertentangan dengan perikemanusiaan?” bertanya Tatas Lintang.

“Ooo. Kau mulai merajuk he?” orang bertubuh tinggi kekar itu tertawa, “aku mulai senang melihat keadaanmu. Semakin kau menjadi ketakutan, maka aku menjadi semakin senang. Apalagi jika kami sudah mulai memasang tali gantungan di dahan pepohonan itu, maka wajahmu tentu akan menjadi semakin menarik.”

“Kenapa kau menjadi senang jika aku ketakutan?” bertanya Tatas Lintang.

Satu pertanyaan yang tidak diduga. Namun orang bertubuh kekar itu menjawab juga, “Aku memang ingin membuat kau ketakutan untuk kepuasan hatiku yang sudah kau sakiti. Melihat kau ketakutan menjelang mati, rasa-rasanya sakit hatiku menjadi berkurang. Pada saat kau mati itulah sakit hatiku menjadi sembuh.”

Tatas Lintang termangu-mangu sejenak. Sementara itu orang bertubuh kekar itu berkata kepada kawan-kawannya, “Marilah. Kita bawa saja mereka ke pategalan yang akan digarapnya. Kita beri kesempatan mereka melihatnya sekali lagi. Kemudian kita terus membawa mereka ke kedung yang sepi itu. Nah, kita akan dapat berbuat apa saja atas mereka tanpa diketahui orang lain.”

Kelima orang itu mulai bergerak. Dengan nada kasar orang bertubuh kekar itu mulai berkata, “Kau tidak akan dapat mengajukan permintaan apapun karena sudah terlambat. Tetapi kami masih memberimu sedikit kemurahan hati di saat matimu. Jika kau tidak melawan, maka kau dan kemenakanmu itu akan kami gantung di pinggir kedung. Tetapi jika kau menimbulkan kesulitan, maka jalan kematianmu akan menjadi semakin sulit pula. Mungkin kalian akan bertahan hidup untuk dua atau tiga hari sambil menahan penderitaan yang sangat.”

“Kau lucu sekali Ki Sanak,” berkata Tatas Lintang tiba-tiba.

Namun kata-kata itu benar-benar mengejutkan. Bahkan kemudian orang bertubuh kekar itu melihat Tatas Lintang tertawa.

“Orang itu menjadi gila karena ketakutan,” desis salah seorang dari kelima orang itu.

Orang bertubuh kekar itu mengerutkan keningnya. Namun ia pun telah tertawa pula sambil berkata, “Jika benar, menyenangkan sekali. Ia akan menjadi permainan yang mengasyikkan.”

Tetapi orang itu terkejut ketika mendengar Tatas Lintang berkata, “Jangan salah sangka Ki Sanak. Aku tidak menjadi gila. Tetapi aku menjadi geli melihat kelakuan kalian.”

“Apa katamu?” bentak orang bertubuh tinggi kekar.

“Maaf bahwa kali ini aku tidak ingin menyenangkan hatimu. Jika kau senang melihat orang ketakutan, maka sebaiknya aku tidak perlu menjadi ketakutan, karena aku memang tidak ingin membuat kau senang seperti yang sudah aku katakan,” berkata Tatas Lintang.

Wajah orang bertubuh kekar itu menjadi tegang. Dengan heran ia bertanya, “Aku tidak mengerti sikapmu. Tetapi agaknya kau memang sudah menjadi gila.”

“Ki Sanak,” berkata Tatas Lintang, “sebaiknya aku berterus terang. Aku memang tidak ingin mencabut kesediaanku menggarap pategalan itu. Aku akan melakukannya dan akan mempertahankan kesediaanku. Seterusnya aku memang tidak menjadi takut melihat sikapmu yang garang itu. Karena itu, maaf, bahwa agaknya kau tidak akan mendapatkan kesenangan.”

“Anak setan,” geram orang bertubuh kekar itu, “kau tahu siapa aku?”

Tatas Lintang tidak segera menjawab. Tetapi ketika ia melihat ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu, maka ketiga orang itu hampir bersamaan telah menarik nafas panjang.

Tatas Lintang tersenyum. Lalu ia pun baru menjawab, “Aku tahu Ki Sanak. Aku mengenal kalian berlima meskipun aku bukan orang padukuhan asli. Tetapi aku sudah beberapa lama berada di sini, sehingga aku sudah mengenal hampir semua orang di padukuhan ini.”

“Jika demikian, kenapa kau berani berlaku deksura kepadaku dan kepada kawan-kawanku?” bertanya orang bertubuh kekar itu.

“Aku tidak tahu,” jawab Tatas Lintang, “tetapi karena tingkah lakumu, aku justru menjadi tidak takut lagi kepadamu.”

“Setan,” geram orang itu, “jika demikian, maka kalian benar-benar akan kami gantung di pinggir kedung itu.”

“Kau atau kamilah yang akan melakukannya,” berkata Tatas Lintang, “jika kalian benar-benar ingin membunuh kami, maka kami pun telah digelitik oleh keinginan yang sama. Kami pun akan mampu menghilangkan jejak sehingga tidak seorang pun yang akan menduga, bahwa kamilah yang telah membunuh kalian.”

“Anak iblis. Orang ini benar-benar telah menjadi gila.”

Namun orang bertubuh kekar itu semakin terkejut ketika salah seorang di antara mereka yang diaku sebagai kemenakannya itu berkata, “Aku hampir tidak tahan melihat tingkah lakumu sejak kemarin. Bukan karena ketakutan, tetapi seperti paman Tatas Lintang, tingkah laku kalian menang menggelikan.”

“Kau juga anak iblis. Aku remas mulutmu,” teriak salah seorang kawan orang bertubuh kekar itu.

Tetapi Mahisa Murti masih tertawa. Katanya, “Jangan berteriak-teriak. Nanti terdengar dari padukuhan sebelah.”

Kelima orang itu benar-benar menjadi heran, marah dan geram bercampur baur. Mereka sama sekali tidak menduga, bahwa Tatas Lintang dan ketiga orang kemenakannya justru bersikap demikian beraninya. Dan bahkan menunjukkan ketenangan tanpa rasa takut sama sekali.

Tetapi mereka tidak dapat menganggap keempat orang itu menjadi gila, karena agaknya akal mereka masih utuh.

Namun Tatas Lintang itu pun akhirnya sampai pada satu kesimpulan bahwa ia akan segera bertindak. Bahkan jika perlu benar-benar membunuh orang-orang yang tidak tahu diri itu.

Karena itu, maka ia pun telah memberikan isyarat kepada kawan-kawannya sambil berkata, “Marilah, kita giring mereka ke pategalan. Siapa di antara mereka yang melawan, kita akan memaksa dengan kekerasan. Kemudian kita bawa mereka ke tepi kedung. Kita dapat membenamkan mereka seorang demi seorang meskipun tidak sampai mati. Mengikatnya dan berbuat apa saja atas mereka.”

Kawan-kawannya pun segera bergerak. Seorang di antara mereka membentak, “Cepat, berjalan ke pategalan sebelum kami memukuli kepalamu.”

Yang menjawab adalah Mahisa Pukat, “jangan terlalu kasar Ki Sanak. Jangan seperti menggiring lembu.”

“Persetan. Cepat,” orang itu berteriak pula.

Tetapi Mahisa Pukat justru telah bergeser dan duduk di atas sebongkah batu padas sambil berdesis, “Segarnya udara di halaman pondok kecil ini.”

Orang yang membentaknya ternyata tidak sabar lagi. Dengan serta merta orang itu telah mengayunkan kakinya mengarah ke kening Mahisa Pukat.

Orang itu tidak melihat Mahisa Pukat bergerak. Tetapi ternyata kakinya tidak menyentuhnya. Bahkan di luar dugaannya, kakinya itu telah didorong dengan kuatnya, sehingga orang itu terhuyung-huyung beberapa langkah. Namun akhirnya ia tidak mampu lagi menguasai keseimbangannya sehingga orang itu telah jatuh terguling di tanah.

Mahisa Pukat yang kemudian bangkit berdiri tertawa pendek. Katanya, “berhati-hatilah. Halaman rumah ini memang licin.”

“Persetan,” geram orang itu. Kemarahannya tidak lagi dapat dikekangnya sehingga demikian ia bangkit, maka ia pun segera meloncat menerkam Mahisa Pukat. Namun orang itu telah mendapatkan satu pengalaman sehingga karena itulah, maka ia pun menjadi lebih berhati-hati.

Tetapi petani yang telah menjadi pengikut orang bertubuh kekar itu sekali lagi membentur ilmu yang sama sekali tidak dimengertinya. Karena itulah, maka tangannya sama sekali tidak menyentuh sasaran. Tangannya itu bagaikan menerkam angin.

Namun di luar tangkapan nalarnya, bahwa ia pun tiba-tiba telah terputar dan terbanting jatuh sekali lagi. Bahkan justru punggungnya hampir menjadi patah karenanya.

Yang terjadi itu benar-benar telah membingungkan kelima orang yang ingin memaksa Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu untuk meninggalkan halaman pondoknya. Dan bahkan kelima orang itu memang berniat untuk menyingkirkan mereka, agar kelima orang itu mendapat kesempatan lebih banyak untuk menggarap tanah di padukuhan itu.

Namun kelima orang itu masih belum yakin atas apa yang terjadi. Karena itu, maka mereka pun kemudian benar-benar telah menyiapkan diri untuk dengan segenap kekuatan mereka memaksa keempat orang itu menurut perintah mereka.

“Jangan menganggap bahwa kalian mampu melawan kami,” berkata orang yang bertubuh kuat dan kekar itu, “aku akan membuktikan bahwa kami akan dapat melakukan apa yang kami kehendaki.”

Tatas Lintanglah yang kemudian menjawab, “Sudahlah Ki Sanak. Marilah kita sudahi permainan kita. Tinggalkan kami dalam ketenangan. Biarlah kami tak saling mengganggu.”

“Persetan,” geram orang itu, “kami akan menunjukkan kepadamu bahwa kami mampu melakukan sebagaimana kami katakan.”

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya kepada ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu, “Marilah kita layani tamu-tamu kita. Kita lakukan sebagaimana mereka lakukan. Kita hanya melayani saja, sehingga kita biarkan sampai seberapa jauh mereka mampu berbuat atas kita.”

“Tutup mulutmu,” bentak orang bertubuh kekar itu.

Tetapi Tatas Lintang masih berbicara terus, “Pakailah saja ilmu kalian yang paling dasar, karena jika kalian mempergunakan selapis lebih tinggi dari kemampuan dasar kalian, maka kelima orang itu akan terlalu cepat mati. Kita ingin melihat mereka ketakutan, karena akan menyenangkan sekali melihat wajah-wajah orang ketakutan.”

Orang bertubuh tinggi tegap dan kekar itu tidak menahan diri lagi. Ia pun dengan serta merta telah meloncat menyerang Tatas Lintang.

Tetapi Tatas Lintang yang dihadapinya itu bukan Tatas Lintang yang kemarin. Seperti yang dikatakan, maka Tatas Lintang pun hanya melayaninya. Dengan gerak yang sederhana Tatas Lintang telah menghindarkan dirinya, sehingga serangan itu sama sekali tidak mengenainya.

Namun Tatas Lintang tidak segera membalasnya menyerang. Ia justru menunggu lawannya itu dengan tergesa-gesa memperbaiki keadaannya. Bahkan sejenak kemudian lawannya itu pun dibiarkannya bersiap untuk menyerangnya.

Seperti serangannya yang terdahulu, maka serangannya yang kemudian pun lawannya itu tidak menyentuhnya. Gerak Tatas Lintang nampaknya memang tidak meyakinkan. Tetapi ternyata tidak dapat disentuhnya.

Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura yang melihat tata gerak Tatas Lintang itu pun berusaha untuk menyesuaikan diri. Mereka sama sekali tidak menyerang lawan-lawan mereka, kawan-kawan orang bertubuh tinggi tegap dan kekar itu yang telah bergerak pula serentak, bahkan orang yang telah terbanting-banting jatuh.

Dengan demikian, maka Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu kemudian hanyalah berloncat-loncatan menghindari serangan lawan-lawan mereka masing-masing.

Dengan demikian maka pertempuran itu nampaknya menjadi berat sebelah. Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu hanya berloncat-loncatan menghindari serangan lawan-lawannya. Namun pada saat-saat tertentu, jika serangan-serangan lawan-lawan mereka mengendor, maka mereka pun telah berusaha memancing agar mereka mengerahkan lagi kemampuan mereka untuk menyerang, namun yang sama sekali tidak pernah mampu menyentuh sasaran.

Seperti yang diharapkan oleh Tatas Lintang, maka kelima orang yang datang untuk memaksa mereka meninggalkan tempat itu untuk pergi ke pategalan di ujung padukuhan serta ke tepi kedung, telah mengerahkan kemampuan mereka. Yang mereka lihat adalah lawan-lawan mereka yang nampaknya selalu terdesak dan tidak sempat membalas menyerang, sehingga dengan demikian mereka pun menjadi semakin yakin akan dapat memaksa keempat orang itu untuk pergi. Bahkan orang yang telah terbanting jatuh oleh Mahisa Pukat pun merasa bahwa kedudukannya menjadi semakin baik.

Namun, seperti yang diperhitungkan oleh Tatas Lintang, maka oleh pengerahan kekuatan yang berlebih-lebihan, maka kelima orang itu telah kehilangan banyak sekali keringat dan tenaganya.

Bahkan tanpa mereka sadari, maka perlahan-lahan mereka menjadi letih dan kegarangan mereka pun mulai menjadi surut. Sementara itu, Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu pun masih selalu memancing mereka untuk bergerak lebih banyak.

Mahisa Murti yang berloncatan kian kemari melihat lawannya telah kehilangan sebagian besar dari tenaganya, sehingga kadang-kadang ia tidak lagi mampu menyerang meskipun Mahisa Murti berada pada jarak jangkauannya.

Melihat keadaan lawannya, Mahisa Murti tersenyum. Bahkan katanya dengan nada lunak, “Marilah Ki Sanak. Bukankah kita masih mempunyai banyak waktu untuk bermain-main.”

“Persetan,” geram lawannya, “kau akan digantung di pinggir kedung.”

“Apakah kau tidak dapat mengucapkan kata-kata yang lain?” bertanya Mahisa Murti, “Mungkin kita dapat berbicara agak panjang jika kau tidak terikat kepada inggauanmu itu.”

“Persetan,” geram lawannya. Ia pun kemudian memaksakan sisa tenaganya untuk menyerang. Karena Mahisa Murti tidak pernah membalas menyerang, maka orang itu pun telah melupakan kemungkinan itu terjadi.

Tetapi Mahisa Murti memang tidak menyerangnya. Ia hanya mengelak dan menghindar. Tetapi yang demikian itu ternyata sudah cukup untuk memeras tenaga lawannya.

Mahisa Pukatlah yang sekali kali memang mengganggu lawannya. Adalah kebetulan bahwa ia harus melawan dua orang, seorang di antaranya adalah orang telah dibantingnya jatuh.

Namun karena ada seorang kawannya, maka ia telah memberanikan diri untuk melawan Mahisa Pukat lagi. Bahkan ia bermaksud apabila mungkin untuk membalas dendam sakit hatinya.

Tetapi kedua orang itu sama sekali tidak berhasil berbuat sesuatu atas Mahisa Pukat. Bahkan sekali-sekali Mahisa Pukat justru telah berhasil menyentuh tubuh mereka. Tidak membuat tubuh mereka sakit, namun sentuhan-sentuhan Mahisa Pukat kadang-kadang membuat mereka menjadi sangat marah. Sekali-sekali Mahisa Pukat telah dengan sengaja menyentuh lawannya di atas lehernya, yang dapat dianggap sebagai penghinaan. Dengan demikian maka lawannya yang menjadi semakin marah telah mengerahkan kekuatan yang masih tersisa untuk menyerangnya. Namun yang terjadi adalah sebagaimana dikehendaki oleh Mahisa Pukat. Kedua lawannya itu benar-benar telah kehabisan tenaga dan tidak lagi mampu berbuat apa-apa. Ketika Mahisa Pukat bergeser ke dekat salah seorang di antara kedua lawannya, maka dengan sisa tenaganya lawannya itu telah mengayunkan tangannya ke arah kening Mahisa Pukat. Namun ketika tangannya itu tidak menyentuh lawannya, maka ia pun telah terhuyung-huyung dan bahkan kemudian hampir saja terjatuh.

“Gila,” geram orang itu, “kau jangan menghina aku dengan cara ini.”

Tetapi orang itu menjadi semakin marah ketika justru Mahisa Pukatlah yang telah menangkapnya dan menjaganya untuk tidak terjerembab.

Mahisa Pukat melepaskannya meskipun orang itu masih terhuyung-huyung. Katanya, “Jangan marah Ki Sanak. Bukankah sudah menjadi kewajiban kita masing-masing untuk saling menolong?”

“Persetan,” geramnya, “aku sobek mulutmu.”

“Jangan terlalu garang. Kau tidak pantas menyobek mulut seseorang. Tetapi lebih baik mencangkul di sawah atau menggembala kerbau di padang rumput.”

Orang itu mengumpat, sementara kawannya yang seorang lagi telah mendekati Mahisa Pukat. Dengan geram ia mengayunkan tangannya pula untuk memukul dada anak muda itu.

Tetapi Mahisa Pukat bergeser selangkah, sehingga pukulan itu tidak mengenainya. Dengan demikian, maka orang itu pun telah terseret oleh kekuatannya sendiri pula.

Namun seperti lawannya yang pertama, maka Mahisa Pukat pun telah menangkapnya, sehingga ia tidak jatuh terjerembab.

“Hati-hatilah,” berkata Mahisa Pukat.

Orang itu pun mengumpat. Tetapi ketika Mahisa Pukat melepaskannya ia pun telah memegangi lambungnya sambil berdesis, “Anak yang sombong.”

Mahisa Pukat tersenyum. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa pinggangmu?”

“Aku bunuh kau,” geram orang itu.

Mahisa Pukat melangkah mendekat. Katanya, “Kau sudah terlalu lemah. Demikian pula kawanmu itu. Ia pun sudah terlalu lemah dan tidak berdaya lagi untuk berkelahi.”

“Persetan,” orang itu memandang Mahisa Pukat dengan mata yang menyala. Tetapi tenaganya benar-benar telah terkuras habis. Demikian pula kawannya yang seorang.

Yang bertempur melawan Mahisa Ura pun justru telah jatuh terduduk. Mahisa Ura yang hanya dengan lemah mendorong dadanya dengan ujung jari-jarinya, telah membuat orang itu terhuyung-huyung dan jatuh, meskipun kemudian ia berusaha untuk tidak terbaring di tanah. Namun duduk pun kedua tangannya harus membantu menahan agar tubuhnya tidak roboh.

Orang yang bertempur melawan Tatas Lintang yang bertubuh tinggi, tegap dan kekar, sama sekali tidak mampu berbuat sesuatu. Ketika kemudian Tatas Lintang memegang tengkuknya, orang itu hanya dapat berdesah menahan sakit.

“Ingat, apa yang kau lakukan atas aku kemarin?” bertanya Tatas Lintang, “kau genggam rambutku, kepalaku kau benturkan pada tiang bambu petung. Nah, marilah, aku juga akan mencoba membenturkan dahimu dengan bambu wulung.”

“Jangan, jangan,” minta orang bertubuh kekar itu, “aku minta maaf.”

“Sesudah kau memperlakukan aku seperti memperlakukan seekor anjing, kau minta maaf?” bertanya Tatas Lintang.

“Aku kemarin khilaf,” jawab orang itu.

“Dan pagi ini kau akan menggiring kami ke padukuhan di ujung pategalan, kemudian membawa kami ke tepi kedung. Aku kira kau benar-benar ingin membunuhku. Bahkan ketiga kemenakanku,” bentak Tatas Lintang.

“Tidak. Aku tidak bersungguh-sungguh. Aku hanya menakut-nakutimu saja,” suara orang itu menjadi gemetar.

“Omong kosong,” geram Tatas Lintang, “namun jika kau tidak bersungguh-sungguh pun aku tidak peduli. Aku ingin membawamu ke pinggir kedung. Aku dengar masih ada buaya-buaya kerdil di kedung itu yang sering menangkap ayam yang mencari minum di kedung itu. Nah, aku ingin mengikatmu dan meninggalkanmu di pinggir kedung. Aku tidak peduli apakah akan ada buaya kerdil yang menemukanmu atau tidak.”

“Jangan,” minta orang itu.

Tetapi Tatas Lintang berkata, “Marilah anak-anakku. Kita bawa mereka ke pinggir kedung. Bawa tali lulup atau serat nanas. Kita akan mengikat mereka. Yang beruntung, tentu akan selamat. Tetapi siapa di antara kalian yang malang, tentu akan menjadi mangsa buaya-buaya kerdil itu.”

“Jangan,” kelima orang itu menjawab hampir berbareng.

“Aku tidak peduli. Seperti kemarin kalian juga tidak peduli,” jawab Tatas Lintang. Lalu katanya, “Cepat. Kita akan membawa mereka. Jika mereka berkeberatan, kita pukuli mereka biar punggung mereka patah. Aku yakin bahwa mereka telah kehabisan tenaga dan tidak akan dapat melawan.”

Wajah-wajah mereka pun menjadi tegang. Kelima orang itu benar-benar menjadi ketakutan. Apalagi orang yang bertubuh tinggi kekar yang merasa sudah memperlakukan Tatas Lintang semena-mena.

Namun sejenak kemudian Tatas Lintang berkata sambil tertawa, “Ternyata aku sependapat dengan kalian. Melihat wajah-wajah yang ketakutan itu memang menyenangkan sekali. Karena itu aku ingin melihat kalian lebih ketakutan lagi dengan mengikat kalian di pinggir kedung.”

“Jangan,” minta orang bertubuh tinggi kekar itu, “aku mohon.”

Tatas Lintang tertawa semakin keras. Sementara itu Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura pun tertawa pula. Bahkan Mahisa Pukat pun berkata, “Aku dapat menyeret kedua orang itu jika mereka menolak berjalan sendiri sepanjang jalan pedukuhan. Aku pun sanggup berjalan sambil berteriak menceritakan apa yang ingin dilakukan kelima orang ini atas diri kita dalam hubungannya dengan penggarapan tanah. Aku yakin, bahwa banyak orang yang akan mengumpatinya dan membenarkan sikap kita. Bahkan mungkin orang-orang yang merasa dirugikan oleh sikapnya tetapi tidak berani mengambil langlah-langkah yang perlu, akan membantu kita, mengikatnya di pinggir kedung.”

“Aku mohon. Jangan lakukan itu,” minta orang bertubuh kekar itu.

“Semakin kau ketakutan, maka aku semakin senang aku melihat wajahmu,” berkata Tatas Lintang.

Orang itu mengumpat, tetapi hanya di dalam hatinya. Ia sama sekali tidak berani berbuat apa-apa. Bahkan semacam penyesalan telah bergejolak di dalam dadanya. Ia tidak menyangka sama sekali, bahwa pada suatu saat ia akan membentur kekuatan yang tidak dimengertinya. Apalagi biasanya orang itu tidak pernah menunjukkan sikap yang demikian.

Tetapi Tatas Lintang memang tidak bermaksud bersembunyi lagi. Seandainya dengan demikian orang-orang dari padepokan yang ingin diketahui isinya itu mengetahui, ia pun tidak berkeberatan lagi. Bahkan dalam waktu dekat ia sudah berniat untuk mendahului membuat persoalan dengan padepokan itu, jika orang-orang padepokan tidak melihat kehadirannya di padukuhan yang tidak terlalu jauh dari padepokan itu.

Namun yang tidak diduganya telah terjadi. Ternyata Tatas Lintang tidak melakukan sebagaimana dikatakannya. Ketika kelima orang itu benar-benar telah menggigil ketakutan dan tidak berpengharapan lagi, maka Tatas Lintang pun berkata, “Nah Ki Sanak. Kini kalian telah merasakan betapa pedihnya seseorang yang dicengkam ketakutan itu, sementara kalian menganggap bahwa ketakutan pada seseorang merupakan tontonan yang menyenangkan.”

Kelima orang itu tidak menjawab. Tetapi mereka masih saja menggigil. Ketika tangan Tatas Lintang menyentuh orang bertubuh tinggi kekar itu, ia pun telah terkejut bukan buatan, sehingga tergeser selangkah ke samping. Nafasnya pun tiba-tiba menjadi serasa sesak di dalam dadanya.

Tatas Lintang tidak dapat menahan senyumnya. Katanya, “Kenapa kalian tiba-tiba telah menjadi pengecut. Padahal sebelumnya kalian datang sebagai pahlawan yang menang di medan perang.”

“Kami mohon maaf,” berkata orang yang bertubuh tinggi kekar.

Tatas Lintang menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Baiklah. Kali ini kalian kami maafkan. Tetapi kalian jangan membuat persoalan sekali lagi. Bukan hanya dengan kami, tetapi dengan siapa pun di padukuhan ini. Aku tahu apa yang pernah kau lakukan. Karena kau seorang yang disegani dan ditakuti, maka kau telah berbuat sewenang-wenang terhadap sesamamu. Orang-orang yang bekerja dengan memeras tenaganya, telah kau peras penghasilannya. Sementara kau hanya berjalan mondar mandir dari pategalan dan persawahan di sebelah Utara padukuhan ke sebelah Selatan, dari sebelah Barat ke sebelah Timur. Namun kau telah mendapatkan penghasilan yang terbesar.”

“Aku mengerti,” jawab laki-laki itu, “aku berjanji untuk tidak melakukannya lagi.”

“Baiklah,” berkata Tatas Lintang, “tinggalkan kami hidup tenang di pondok kecil ini. Jangan ganggu kami dan jangan ganggu orang-orang yang bekerja seperti kami. Ingat, sejak besok aku akan lebih banyak memperhatikan kalian. Jika kalian masih memeras tenaga orang-orang seperti kami, maka kami akan bertindak atas kalian. Mungkin dengan sikap yang lebih keras, bahkan kasar.”

“Kami berjanji Ki Sanak,” jawab orang itu, “kami tidak akan mengganggu Ki Sanak lagi.”

“Bukan hanya kami,” jawab Tatas Lintang, “berjanjilah. Bukan hanya kami berempat, tetapi orang-orang yang bekerja seperti kami.”

Orang itu termangu-mangu. Namun ketika Tatas Lintang maju selangkah orang itu dengan tergesa-gesa menjawab, “Baik. Baik Ki Sanak. Kami akan menghentikan tingkah laku kami.”

“Terima kasih,” berkata Tatas Lintang, “kami akan melihat kebenaran kata-katamu. Jika ternyata kalian berbohong dan masih ada orang yang mengeluh karena tingkah laku kalian, maka jangan menyesal karena kami akan benar-benar melakukan seperti yang kami katakan. Dengan sikap yang lebih keras.”

“Baik Ki Sanak. Kami akan membuktikan kata-kata kami,” berkata orang itu.

“Sekarang pergilah,” berkata Tatas Lintang kemudian.

Kelima orang itu pun kemudian dengan wajah tunduk telah meninggalkan tempat itu. Sebuah pondok kecil yang terdapat di sudut pategalan, sehingga seakan-akan terpisah dari rumah-rumah di padukuhan.

“Sial sekali,” geram orang bertubuh tinggi kekar itu, “seandainya kita tahu tentang mereka.”

“Setan mereka,” sahut yang lain. Lalu, “Tetapi bukankah kemarin kau telah datang menemui mereka?”

“Mereka sengaja menghina kita,” jawab orang bertubuh tinggi kekar itu, “kemarin orang yang bernama Tatas Lintang itu sama sekali tidak melawan. Aku telah membenturkan kepalanya pada tiang bambu petung.”

“Kau yang bodoh,” geram kawannya yang lain. “seharusnya kau dapat menjajagi kemampuan seseorang. Sekarang kita telah terjebak ke dalam satu penghinaan yang tidak mungkin ditebus lagi.”

“Sudahlah,” berkata orang yang agak lebih tua, “satu pelajaran yang mahal dan sangat berharga. Kita harus bersukur bahwa mereka adalah orang-orang baik dan tidak berbuat sebagaimana pernah kita lakukan atas mereka.”

Orang bertubuh tinggi kekar itu mengangguk. Katanya, “Ya. Sebenarnya mereka dapat berbuat apa saja atas kita. Mereka benar-benar memiliki kemampuan. Bukan sekedar kesombongan. Mereka mengalahkan kita tanpa berbuat sesuatu. Me reka membiarkan kita kehabisan tenaga dan tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Dalam keadaan yang demikian, maka sebenarnya mereka benar-benar dapat menyeret kita ke kedung sekaligus dipertontonkan kepada orang-orang padukuhan. Tentu banyak orang yang akan menyoraki kita.”

“Ya. Kita memang telah terlalu banyak melakukan kesalahan. Sehingga pada suatu saat kita akan membentur batu,” berkata kawannya, “tentu satu isyarat, bahwa kita harus berhenti dengan cara-cara kita.”

Yang lain tidak menjawab lagi. Namun mereka semuanya telah menyesali peristiwa yang baru saja terjadi. Mereka yang selama itu merasa orang-orang yang paling disegani, tiba-tiba harus melihat kenyataan bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak berarti di hadapan Tatas Lintang dan tiga orang kemenakannya.

Namun orang yang bertubuh tinggi kekar itu bukan orang yang dungu. Kehadiran orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, dan tingal di sebuah pondok kecil di sudut pategalan tentu bukannya tidak mempunyai maksud.

Tetapi orang itu tidak merasa perlu untuk mencampurinya karena ia merasa tidak mempunyai kemampuan untuk melindungi dirinya jika ia harus terlibat dalam persoalan orang yang tinggal di sudut pategalan itu.

Dalam pada itu, sepeninggalan orang yang bertubuh tingg kekar itu Tatas Lintang berkata, “Kita sudah mulai. Ada banyak kemungkinan terjadi. Tetapi kita sudah siap. Bukankah begitu?”

“Ya. Orang itu tentu akan berceritera tentang pengalamannya,” berkata Mahisa Murti, “Tetapi biarlah. Mungkin orang-orang itu justru akan membuka persoalan yang menghubungkan kita dengan padepokan yang kita kehendaki.”

“Ya,” sahut Mahisa Pukat, “namun itu merupakan isyarat, bahwa kita harus bersiap-siap. Mungkin mereka akan datang kepada kita. Tetapi mungkin dengan tiba-tiba mereka menyerang.”

Tatas Lintang mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Kau benar. Karena itulah, maka kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Kita masih belum tahu pasti kekuatan yang tersimpan di dalam padepokan itu.”

Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia bergumam seakan-akan kepada diri sendiri, “Tetapi kami masih belum tahu, dalam persoalan apa kau ingin mengetahui isi dan barangkali malahan menjajagi isi padepokan itu?”

“Kita memang belum mengetahui kenapa kita masing-masing menaruh perhatian atas padepokan itu, “jawab Tatas Lintang, “tetapi apakah hal itu perlu kita persoalkan sekarang?”

Mahisa Murti termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Kita sepakat untuk tidak mempersoalkannya sekarang.”

“Terima kasih,” desis Tatas Lintang, “kita akan berada dalam keadaan seperti sekarang, sehingga langkah-langkah kita tidak akan terganggu. Meskipun kita tidak akan dapat menghindari prasangka baik maupun buruk di antara kita.”

Mahisa Murti mengangguk-angguk. Katanya kemudian, “Mudah-mudahan kita akan dapat bersama-sama menyelesaikan kewajiban kita masing-masing tanpa berbenturan kepentingan.”

Tatas Lintang tidak menjawab. Namun kemudian katanya, “Nah kita sudah membenahi pondok kita yang rusak. Marilah kita memperbaikinya sama sekali. Kita memerlukan sebuah amben yang baru untuk menggantikan amben yang rusak itu.”

“Apakah kita boleh mengambil bambu di sudut pategalan itu?” bertanya Mahisa Ura.

“Boleh saja. Lingkungan kecil ini sudah diserahkan kepadaku termasuk rumpun bambu apus itu. Kita dapat menebangnya seberapa kita butuhkan untuk membuat amben baru,” berkata Tatas Lintang.

“Dan sebuah lincak yang dapat kita letakkan di emper depan. Di sore hari mungkin kita mendapat waktu untuk duduk-duduk sambil menikmati waktu-waktu istirahat,” berkata Mahisa Pukat.

“Tentu,” jawab Tatas Lintang. Namun kemudian katanya, “Tetapi bukankah kita akan pergi ke pasar pagi ini untuk membelanjakan uang kita yang kita terima dari pemilik tanah ini?”

Mahisa Pukatlah yang menjawab pertama-tama, “Baiklah. Ada juga keinginanku untuk melihat-lihat pasar. Nanti sesudah dari pasar kita baru akan membuat amben dan lincak.”

Ternyata semuanya sependapat, sehingga mereka pun kemudian telah membersihkan diri di pakiwan serta membenahi pakaian mereka yang kusut.

Baru beberapa saat kemudian mereka berempat keluar dari halaman rumah kecil mereka menuju ke pasar.

“Kita sudah kesiangan,” berkata Mahisa Pukat, “apa masih ada orang berjualan nasi kuluban.”

“Tentu masih ada kedai yang buka,” jawab Tatas Lintang, “jika tidak ada kuluban tentu masih ada nasi asem-asem dengan serundeng kelapa yang belum terlalu tua.”

Mahisa Pukat tersenyum. Sambil mengangguk-angguk ia-pun berkata, “Kedai yang biasanya itu tentu masih buka. Marilah. Kita akan dapat membeli wedang sere dengan gula kelapa.”

“Atau legen aren,” sahut Mahisa Murti.

Tatas Lintang hanya tertawa. Namun mereka pun telah bersiap-siap untuk pergi ke pasar sebagaimana mereka rencanakan.

Sebenarnyalah bahwa mereka memang agak kesiangan. Pasar yang cukup ramai itu pun sudah mulai berkurang riuhnya. Beberapa orang yang berbelanja telah pulang sementara beberapa orang penjual hasil kebun pun telah kembali karena barang dagangan mereka telah habis terjual.

Tetapi kedai yang biasanya dikunjungi oleh keempat orang itu memang masih buka. Karena itu, maka mereka berempat-pun langsung menuju ke kedai yang tidak begitu banyak lagi dikunjungi pembeli.

Namun keempat orang itu terkejut. Demikian mereka sampai di pintu maka pemilik kedai itu tidak bersikap sebagaimana kebiasaannya. Dengan ramah yang berlebih-lebihan pemilik kedai itu mempersilahkan keempat orang itu masuk dan duduk di amben panjang.

“Silahkan. Silahkan Ki Sanak,” berkata pemilik kedai itu.

Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemenakannya itu pun saling berpandangan sejenak. Bukan kebiasaan pemilik kedai itu bersikap demikian ramahnya. Sebagai penjual makanan pemilik itu memang banyak tersenyum. Tetapi tidak melampaui kewajaran. Bahkan keempat orang itu di anggap sebagai orang-orang yang tidak banyak memberikan keuntungan kepadanya, sehingga sikapnya kepada keempat orang itu terasa agak dingin. Namun tiba-tiba sikap itu telah berubah sama sekali.

“Apakah yang Ki Sanak inginkan? Minuman panas? Wedang sere atau wedang jahe? Masih ada beberapa jenis makanan yang sengaja kami simpan, karena kami sudah menduga bahwa kalian akan datang ke warung kami,” berkata pemilik kedai itu.

Bersambung.........!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...