*HIJAUNYA LEMBAH.JILID 039-02*
“Kalian langsung atau tidak langsung telah membantu aku dalam hubungan Pakuwon ini dengan padepokan itu,” berkata Akuwu Lemah Warah, “karena itu, maka aku berharap kalian untuk menganggap Pakuwon ini sebagai tempat tinggal kalian sendiri, kampung halaman sendiri dan mudah-mudahan tempat ini dapat memberikan kesenangan kepada kalian.”
Akuwu itu berhenti sejenak, lalu, “dengan demikian maka kalian dapat mengamati atau menentukan langkah-langkah kalian dari tempat ini atas batu itu. Jika kalian memerlukan bantuan, maka kau akan mendapatkannya di sini.”
Tetapi ternyata Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berpendapat lain. Mereka ingin mendekati batu yang berwarna kehijau-hijauan itu. Memang mungkin ada orang lain yang ingin memilikinya. Tetapi keduanya telah siap menghadapi akibat yang bagaimanapun juga.
“Jadi, ke mana kalian akan pergi?” bertanya Akuwu Lemah Warah.
“Kembali ke padepokan Suriantal,” jawab Mahisa Murti.
Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Namun iapun kemudian bertanya, “Apakah kalian mempercayai orang-orang yang menyerah dan tertangkap yang kini tinggal di padepokan itu?”
“Aku akan mengamati keadaan. Namun agaknya mereka dapat dipercaya. Mereka tidak akan berani lagi berbuat sesuatu yang dapat menjerat mereka ke dalam kesulitan,” jawab Mahisa Murti.
Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk. Katanya, “Akupun berpendapat demikian. Tetapi jika perlu jangan merasa segan untuk memberikan isyarat dengan cara apapun, agar aku dapat memberikan bantuan yang kalian perlukan.”
“Terima kasih,” berkata Mahisa Murti kemudian.
“Kapan kau akan berangkat ke padepokan itu?” bertanya Akuwu Lemah Warah.
“Besok atau lusa,” jawab Mahisa Murti.
Akuwu Lemah Warah mengangguk-angguk pula. Katanya, “Kalian harus mempersiapkan diri lahir dan batin.”
“Satu pengembaraan yang mengasyikkan,” berkata Mahisa Pukat, “kami akan mengulangi peristiwa-peristiwa yang telah pernah kami alami di sekitar batu itu. Mungkin dengan pelaku yang lain.”
Akuwu Lemah Warah menarik nafas dalam-dalam. Agaknya anak-anak muda itu masih saja dipanasi oleh gejolak darahnya yang hangat.
Demikianlah, maka dua hari kemudian, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah benar-benar meninggalkan Pakuwon Lemah Warah kembali ke padepokan Suriantal yang telah ditinggalkan oleh sebagian besar dari penghuninya.
Perjalanan kembali itu bukan merupakan perjalanan yang sulit bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. Sebagai pengembara yang berpengalaman, maka keduanya segera dapat menelusuri kembali jalan yang telah mereka tempuh sebelumnya.
Ketika mereka sampai di sebuah padukuhan menjelang padepokan Suriantal, maka keduanya ternyata telah memilih jalan lain. Mereka tidak langsung menuju ke padepokan itu, tetapi mereka akan menuju ke tepi sebuah hutan, untuk melihat apakah batu itu masih tetap berada di tempatnya.
Bagi keduanya tempat bermalam bukan merupakan persoalan yang rumit. Mereka dapat tidur di mana saja dalam keadaan yang bagaimanapun juga.
Namun mereka memang tidak ingin melihat batu itu di malam hari. Karena itu, maka mereka telah mendekati batu itu di siang hari.
Seperti yang pernah mereka lakukan sebelumnya, mereka telah mengamati batu yang berkilau karena pantulan cahaya matahari. Meskipun tidak menyilaukan, namun pantulan itu memang menarik perhatian.
Tetapi jarang orang yang berani mendekati batu itu. Di sekitarnya banyak terdapat ular berbisa. Bahkan pada celah-celah batu itu terdapat banyak sekali jenis binatang berbisa lainnya. Beberapa jenis kala, kelabang dan jenis-jenis lainnya. Karena itu batu itu seakan-akan telah memiliki penjaganya sendiri.
“Kenapa orang yang memiliki ilmu gendam itu tidak menyingkirkan binatang-binatang itu dan mengambil batu itu dengan aman?” desis Mahisa Murti.
“Orang itu dan barangkali juga para pengikutnya masih belum memerlukan batu itu dengan tergesa-gesa. Atau barangkali mereka memang tidak menaruh perhatian,” sahut Mahisa Pukat.
“Tetapi mungkin orang itu dengan sengaja membiarkan berjenis-jenis binatang berbisa itu untuk mengamankan batu itu,” berkata Mahisa Murti kemudian.
Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Memang banyak kemungkinan dapat terjadi. Agaknya orang yang memiliki ilmu gendam itu berusaha untuk menyelamatkan batu itu dari tangan orang-orang Suriantal. Orang-orang bertongkat itu tentu juga menginginkan batu itu, karena pemimpin mereka telah memasang batu serupa di pangkal tongkat mereka. Tetapi agaknya mereka masih saling menyegani sehingga untuk sementara mereka membiarkan saja batu itu tetap ditempatnya tanpa diusik oleh siapapun juga.
Untuk beberapa lama keduanya masih saja mengamati batu itu, seakan-akan mereka belum pernah melihat sebelumnya. Di celah-celah batu itu memang terdapat binatang berbisa yang tidak terhitung jumlahnya. Jika batu itu disentuh, maka binatang-binatang berbisa itu telah bergerak, bergeser dan siap untuk menyengat dan menggigit.
Tetapi kedua anak muda itu tidak merasa ngeri melihat binatang-binatang berbisa itu. Bahkan ketika beberapa ekor ular merambat dekat ujung jari kaki mereka silang menyilang, mereka sama sekali tidak menjadi cemas.
“Kita akan membawa pecahan dari batu itu,” berkata Mahisa Murti.
“Tetapi bagaimana kita mendapatkannya?” sahut Mahisa Pukat, “nampaknya jika ada pecahan kepingannya di sekitarnya, telah lebih dahulu diambil seseorang, termasuk yang berada di pangkal tongkat orang Suriantal itu.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Namun ia pun masih merenung bagaimana caranya mereka memecah batu yang kehijau-hijauan sehingga mereka akan mendapat pecahannya betapapun kecilnya. Dengan memiliki pecahannya, mereka akan dapat menilai batu itu lebih cermat.
“Aku akan memecah batu itu,” berkata Mahisa Pukat dengan tiba-tiba, “aku memiliki kemampuan sebagaimana kau. Atau kita akan melakukan bersama-sama.”
Mahisa Murti mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “jangan. Kita tidak akan memecahkan batu itu menjadi berkeping-keping dan pecah berserakan. Apalagi kita memang tidak tergesa-gesa.”
Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun kemudian ia pun mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Kita masih akan membiarkan batu itu dalam keadaannya. Tetapi bagaimana jika pada satu hari orang lain mendahului kita? Bukankah setiap orang mempunyai hak yang sama untuk mengambilnya.”
Mahisa Murti mengangguk-angguk. Tetapi katanya, “Batu itu dijaga oleh berbagai jenis binatang berbisa. Tidak setiap orang dapat mengambilnya. Apalagi batu itu tentu berat dan keras. Tidak ada alat yang dipakai untuk memecah batu biasa dapat dipergunakan atas batu itu. Sementara itu, ular berkeliaran di bawah kakinya.”
Mahisa Pukat memandang berkeliling. Terasa daerah itu memang sepi dan bahkan mencengkam. Meskipun beberapa puluh langkah dari batu itu terdapat jalan setapak, tetapi nampaknya jalan itu jarang sekali dilalui orang.
Setelah beberapa saat mereka berada di tempat itu dan memperhatikan batu itu dengan saksama, seolah-olah belum pernah dilihatnya sebelumnya, maka keduanya pun sepakat untuk sementara meninggalkan batu itu tetap di tempatnya.
Ketika mereka mulai bergeser menjauh, tiba-tiba seekor ular yang terkejut telah menyambar kaki Mahisa Pukat. Mahisa Pukat pun terkejut. Tetapi ia hanya mengibaskan ular itu. Karena agaknya ular itu tidak segera melepaskan gigitannya, maka ular itu telah dicekiknya sampai mati.
“Bukan salahku,” berkata Mahisa Pukat sambil melemparkan ular itu jauh-jauh.
Mahisa Murti menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ular-ular yang berkeliaran itu akan membantu kita.”
Demikianlah, maka keduanya pun meninggalkan tempat itu. Seperti yang mereka rencanakan, keduanya telah menuju ke padepokan yang telah mereka tinggalkan setelah mereka mengambilnya dari tangan orang-orang Suriantal dan perguruan-perguruan lain yang pernah berada di padepokan itu pula.
Ternyata kedatangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah mengejutkan orang-orang yang berada di padepokan itu. Orang yang untuk sementara memimpin padepokan itu telah mempersilahkannya naik ke barak induk di padepokan itu. Dengan nada cemas orang itu kemudian bertanya, “Apakah yang kemudian yang harus kami lakukan?”
Mahisa Murti lah yang kemudian sambil tersenyum menjawab, “Tidak Ki Sanak. Tidak ada hal yang penting yang akan kami lakukan. Kami datang untuk sekedar melihat-lihat keadaan.”
“O..,” orang itu menarik nafas dalam-dalam, “aku sudah menjadi berdebar-debar. Aku kira kalian datang untuk memanggil kami dan membawa kami ke Lemah Warah untuk dimasukkan ke dalam penjara.”
Mahisa Pukat sambil tertawa berkata, “Kalian hanya akan menghabiskan beras di Lemah Warah.”
“Syukurlah jika kami masih diberi kesempatan hidup bebas di padepokan ini,” berkata orang yang untuk sementara memimpin padepokan itu. Namun kemudian ia pun bertanya, “Jadi apakah keperluan kalian sebenarnya? Apakah benar hanya sekedar melihat-lihat keadaan?”
“Aku akan tinggal di padepokan ini,” berkata Mahisa Murti, “apakah kalian berkeberatan?”
Pemimpin padepokan itu termangu-mangu. Hampir tidak percaya ia bertanya, “Kalian akan tinggal di sini?”
Mahisa Pukat lah yang menjawab, “Hanya untuk sementara. Nah, apakah kalian memang berkeberatan?”
“Tidak. Sama sekali tidak,” jawab pemimpin padepokan itu. Namun katanya kemudian dengan nada ragu, “Tetapi benar yang kau katakan? Sekedar tinggal di sini tanpa maksud apa-apa?”
“Kau tidak percaya? Buat apa kami harus berbohong karena kami dapat berbuat apa saja sekehendak kami,” jawab Mahisa Pukat, “karena itu jangan mudah berprasangka. Jika kalian mencurigai kami, maka justru kami akan dapat berbuat sesuatu di luar niat kami semula.”
“Tidak. Kami tidak mencurigai kalian,” jawab orang yang untuk sementara memimpin padepokan itu dengan serta merta. “Silahkan. Apa saja yang kalian kehendaki,” orang itu berhenti sejenak, lalu, “sebenarnya jika kami secara khusus menanyakan kepentingan kalian yang sebenarnya, justru kami menaruh harapan atas kedatangan kalian berdua.”
“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti.
Orang itu termangu-mangu sejenak. Lalu katanya, “Kami telah dicemaskan oleh kehadiran orang yang tidak kami kenal.”
“O..,” Mahisa Murti mengerutkan keningnya, “Untuk apa?”
“Itulah,” berkata pemimpin padepokan itu, “mereka minta kesediaan kami untuk memberikan tempat kepada mereka.”
“Tempat untuk apa?” bertanya Mahisa Pukat.
“Mereka ingin tinggal bersama kami. Menurut mereka, padepokan ini tidak ada lagi yang dapat mengaku berhak atasnya. Setelah Suriantal dihancurkan dan pemimpinnya dibawa ke Lemah Warah, maka padepokan ini telah kehilangan pemiliknya. Siapapun boleh mengaku dan ikut memilikinya,” berkata pemimpin padepokan itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk kecil. Dengan nada rendah Mahisa Murti berkata, “Satu isyarat hadirnya persoalan baru di padepokan ini.”
“Tetapi apakah kalian tidak yakin akan kemampuan kalian menolak kehadiran mereka?” bertanya Mahisa Pukat.
Orang yang memimpin padepokan itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Kekuatan kami yang tinggal hanyalah sisa-sisa yang sudah tidak lagi mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Mereka menyadari bahwa orang-orang yang ada di padepokan itu adalah orang-orang yang pernah dikalahkan, sehingga seakan-akan mereka tidak lagi merasa memiliki kekuatan untuk berlindung kepada kemampuan mereka sendiri.
Apalagi di antara mereka terdapat orang-orang yang cacat setelah perang melawan para prajurit Lemah Warah, atau bahkan yang terluka parah dan belum sembuh dan pulih kembali.
Namun demikian Mahisa Murti masih berkata, “Sebaiknya kalian melihat kembali kepada diri sendiri. Menilai kemampuan yang kalian miliki. Karena kemampuan yang pernah kalian miliki itu masih tetap ada di dalam diri kalian.”
Tetapi orang yang untuk sementara memimpin padepokan itu berkata, “Kami sudah kehilangan semuanya. Kami tidak lagi mampu bangkit lagi.”
Tetapi Mahisa Pukat berkata, “Kalian telah mengalami goncangan perasaan yang dahsyat sekali, sehingga kalian merasa seakan-akan kalian tidak lagi mempunyai kekuatan sama sekali.”
Pemimpin padepokan itu menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian katanya, “Mungkin pendapat kalian benar. Tetapi tidak ada lagi yang dapat membangkitkan orang-orang di padepokan ini agar mereka mampu melihat kedalam diri sendiri. Apalagi sebagian dari mereka memang merasa bahwa mereka bukan penghuni padepokan ini sejak semula, sehingga merekapun merasa asing di sini dan tidak merasa mempunyai kewajiban untuk mempertahankannya.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan nada rendah Mahisa Murti pun kemudian berkata, “Baiklah. Kami akan berusaha untuk membangunkan kalian yang jumlahnya tinggal sedikit ini.”
“Itulah yang membuat aku berpengharapan atas kedatangan kalian berdua,” berkata pemimpin padepokan itu.
Dalam pada itu kehadiran Mahisa Murti dan Mahisa Pukat itu pun telah diketahui oleh semua orang yang masih tertinggal di padepokan itu. Bahkan pemimpin padepokan itupun telah memanggil semua orang yang tersisa di padepokan itu untuk berkumpul.
Hal itu memang membuat penghuni padepokan itu menjadi berdebar-debar. Mereka mengenal kedua anak muda itu sebagai dua orang anak muda yang memiliki ilmu yang sangat tinggi, yang pernah ikut menundukkan padepokan itu dan seakan-akan membuat lingkungan padepokan itu menjadi bagaikan terbenam ke dalam arus pusaran.
Namun ketika mereka melihat wajah dan sorot mata kedua anak muda itu, maka rasa-rasanya hati mereka menjadi tenang. Tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa kedua orang anak muda itu akan melakukan kekerasan terhadap mereka.
Bahkan ternyata pemimpin mereka itupun berkata, “Kehadiran kedua anak muda ini sama sekali tidak membawa perintah untuk menjatuhkan hukuman kepada kita, tetapi kedua anak muda ini ingin tinggal bersama kita di sini.”
Beberapa orang di antara mereka itupun saling berpandangan. Tanpa mereka sadari terpercik harapan di hati para penghuni padepokan itu. Meskipun demikian, mereka masih dibayangi oleh kecemasan, bahwa kedatangan kedua orang itu akan semakin menyulitkan kedudukan mereka.
Namun dalam pada itu, pemimpin padepokan itu berkata, “Saudara-saudaraku yang tinggal di padepokan ini. Aku telah memberitahukan kepada kedua anak muda ini tentang kedatangan orang asing yang menuntut tempat di padepokan ini. Untuk itulah maka kedua anak muda itu ingin berbicara kepada kalian.”
Orang-orang yang masih tinggal di padepokan itu termangu-mangu. Sementara itu Mahisa Murti lah yang kemudian berbicara, “kami telah mendengar semuanya tentang padepokan ini. Sebagaimana diputuskan oleh Akuwu Lemah Warah dan disetujui oleh Pangeran Singa Narpada dari Kediri, maka padepokan ini telah diserahkan kepada kalian. Kalian yang barangkali memang berasal dari perguruan yang berbeda-beda, namun saat ini kalian telah berada di satu tempat. Kalian harus berusaha menyesuaikan diri kalian dengan keadaan baru yang sekarang ini merupakan kenyataan bagi kalian.”
Orang-orang yang berada di padepokan itu pun mendengarkan penjelasan Mahisa Murti dengan saksama. Sementara itu, Mahisa Murti telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Banyak penjelasan yang diberikan, sehingga hati mereka yang mendengarkannya telah tersentuh karenanya.
Akhirnya Mahisa Murti itupun berkata, “Kalianlah pemilik padepokan ini. Kalian harus mempertahankannya. Padepokan ini adalah hak kalian yang sah sesuai dengan ketetapan Akuwu Lemah Warah yang sudah disetujui oleh Pangeran Singa Narpada.”
Para penghuni padepokan itu pun mengangguk-angguk. Sementara itu Mahisa Pukatpun berkata, “Kalian harus kembali ke dalam keadaan kalian sewajarnya. Kalian adalah orang-orang perguruan yang memiliki kemampuan yang cukup. Namun demikian, kalian memang harus dibangunkan dari pingsan. Untuk itu, kita akan berusaha untuk bangkit kembali. Mulai besok kita akan mengadakan latihan olah kanuragan, sesuai dengan dasar kemampuan yang kita peroleh dari perguruan kita masing-masing.”
Kata-kata Mahisa Pukat memang terdengar hangat di telinga orang-orang yang sudah kehilangan kepercayaan diri sendiri itu. Sebagian di antara mereka rasa-rasanya tidak lagi mampu untuk berbuat sesuatu. Kemampuan mereka yang sedikit itu seakan-akan telah menguap dan tidak tersisa sama sekali.
Namun Mahisa Pukat yakin, jika mereka mulai bergerak dan mengingat kembali unsur-unsur dari ilmu kanuragan yang pernah mereka kuasai, maka segalanya akan berjalan lancar.
Demikianlah, maka kedatangan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di padepokan itu telah menumbuhkan satu suasana yang baru. Jika semula semakin lama kehidupan di padepokan itu terasa menjadi semakin lesu, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membangunkan mereka dengan kehangatang olah kanuragan.
Demikianlah, di hari-hari berikutnya, sejak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat berada di padepokan itu. maka isi padepokan itupun telah mulai dengan latihan-latihan kanuragan.
Semula sebagian di antara mereka memang merasa segan. Seakan-akan mereka telah melakukan sesuatu yang tidak akan ada gunanya sama sekali. Meskipun demikian mereka terpaksa melakukannya juga serba sedikit.
Tetapi ketika mereka memasuki hari ketiga, maka Mahisa Murti pun berkata, “Ki Sanak. Orang-orang di sekitar padepokan ini telah melihat bahwa kalian telah memasuki lagi latihan-latihan olah kanuragan. Dengan demikian maka orang-orang itu menganggap bahwa kalian telah memiliki kembali kemampuan kalian. Karena itu, maka setiap orang yang ingin memiliki padepokan ini selain kalian akan datang dengan kekuatan-kekuatan yang dianggapnya akan dapat mengalahkan kalian. Karena itu, jika kalian tidak bersungguh-sungguh, maka kalian justru akan menjadi korban yang sia-sia. Kalian akan dibantai tanpa dapat membalas, apalagi mempertahankan diri. Kalian akan diperlakukan seperti seekor kerbau yang akan disembelih. Padahal seekor kerbau memiliki kekuatan yang akan mampu melindungi dirinya sendiri.”
Orang-orang padepokan itu termangu-mangu. Mereka yang berlatih dengan segan, tiba-tiba merasa bahwa mereka telah berbuat salah dengan sikapnya itu. Seperti yang dikatakan oleh Mahisa Murti maka orang lain akan datang menggilas padepokan itu tanpa tahu siapa yang telah dengan sungguh-sungguh berlatih dan siapa yang tidak. Bahkan yang sungguh-sungguh berlatih, mungkin masih mempunyai kesempatan melindungi dirinya.
Dengan demikian maka di hari-hari berikutnya maka isi padepokan itu ternyata telah memasuki hari-hari latihan, dengan bersungguh-sungguh.
Meskipun mereka terdiri dari orang-orang perguruan yang berbeda, namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mampu memberikan unsur-unsur gerak yang dapat dipergunakan secara umum oleh mereka dari perguruan yang berbeda, karena pada dasarnya mereka telah memahami tata gerak dasar yang tidak jauh berbeda dari perguruan yang satu dengan perguruan yang lain.
“Justru kalian dari perguruan yang berbeda, telah memberi kesempatan kalian masing-masing untuk memperkaya tata gerak dalam menghadapi pertempuran yang sebenarnya,” berkata Mahisa Pukat ketika ia memimpin latihan yang diselenggarakan oleh penghuni padepokan itu dari perguruan yang berbeda.
Dengan diamati oleh Mahisa Pukat, maka mereka yang memiliki ilmu dari perguruan yang berbeda telah dipertemukan. Dengan demikian latihan-latihan yang diselenggarakan itu seakan-akan telah menjadi bersungguh-sungguh. Namun seperti yang dikatakan oleh Mahisa Pukat, dengan demikian maka mereka telah menggali pengalaman di antara mereka sendiri.
Dengan alas yang berbeda, maka mereka memiliki unsur-unsur gerak yang berbeda pada perkembangan ilmu dasar mereka. Sementara itu dengan kemampuannya. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berusaha untuk memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka justru untuk memperkaya kemampuan unsur gerak di antara para penghuni padepokan itu.
Ternyata usaha Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak sia-sia. Hari demi hari, latihan-latihan itupun berlangsung semakin mantap. Para penghuni padepokan itu mulai merasakan kembali kemampuan ilmu yang mereka miliki. Latihan-latihan yang kadang-kadang benar-benar membuat tubuh mereka merah biru itu telah membangkitkan kembali gelora di dalam diri para penghuni padepokan itu.
Latihan-latihan yang terus menerus di antara mereka, seperti yang dikehendaki Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, benar-benar telah memperkaya kemampuan mereka. Unsur gerak yang saling mempengaruhi telah membuat mereka semakin mapan.
Di samping itu Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah berusaha untuk memperdalam pengertian para penghuni padepokan itu terhadap unsur-unsur gerak yang telah mereka miliki.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak hanya sekedar menyuruh para penghuni padepokan itu menirukan unsur-unsur gerak baru yang diperkenalkannya. Tetapi keduanya telah memberikan pengertian arti dan gunanya sehingga unsur gerak itu benar-benar berarti bagi mereka.
Dengan demikian, maka para penghuni padepokan yang berasal dari perguruan yang berbeda itu bukan saja telah berada kembali dalam tingkat kemampuan mereka, tetapi meskipun serba sedikit, ternyata kemampuan mereka telah memanjat naik. Mereka telah memahami kemampuan yang mereka miliki bukan sekedar mampu mempergunakan. Tetapi mereka mengerti sifat dan watak unsur gerak itu sehingga mereka mampu mempergunakannya dengan tepat. Dengan landasan kemampuan mereka yang mereka dapat dari perguruan mereka masing-masing, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah berhasil membuat mereka menjadi orang-orang yang mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri dan mengenali kemampuan mereka masing-masing.
Itulah sebabnya, maka latihan-latihan yang diadakan di setiap hari kemudian merupakan latihan-latihan yang semakin meningkat, sejalan dengan peningkatan kemampuan mereka masing-masing.
Sementara itu, pemimpin padepokan itu pun merasa semakin tenang menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang mengancam padepokan itu, sehingga pada suatu saat, ketika ia sempat berbincang dengan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, ia-pun berkata, “Kau telah membangkitkan kemampuan hidup kami yang telah hampir padam sama sekali.”
“Segalanya terserah kepada kalian sendiri,” jawab Mahisa Murti, “namun agaknya kalian memang masih memiliki kemampuan yang patut dibanggakan untuk melindungi padepokan kalian ini.”
“Kami baru menyadari kemudian,” berkata pemimpin padepokan itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mengangguk-angguk. Dengan senyum di bibir, Mahisa Murti berkata, “Nah, bukankah tidak sia-sia usaha kita selama ini untuk menumbuhkan kembali harga diri kita?”
“Aku sekarang percaya,” berkata pemimpin padepokan itu, “dengan keadaan kita sekarang, maka orang-orang yang akan merebut kedudukan kita itu tidak akan mendapat kesempatan lagi.”
“Tetapi jika mereka datang,” berkata Mahisa Murti, “jangan merubah sikap. Kau harus tetap bersikap seperti sikap kalian sebelumnya.”
“Sikap kami waktu itu ragu,” berkata pemimpin padepokan itu, “bahkan kami telah menyatakan bahwa terserah saja apa yang akan mereka lakukan jika mereka kehendaki, meskipun kami merasa bahwa padepokan ini tetap milik kami.”
“Sikapmu tetap. Hanya isi pernyataanmu sajalah yang harus berbeda,” berkata Mahisa Pukat.
Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Sementara itu ia yakin bahwa orang yang pernah datang itu akan datang lagi dengan dada tengadah, memasuki padepokan itu dan kemudian memilikinya.
Namun bagi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat kedatangan mereka dan usaha mereka tinggal di padepokan itu telah dihubungkannya dengan batu yang berwarna kehijau-hijauan itu. Karena itu. maka mereka ikut merasa berkepentingan dengan orang-orang itu.
Sambil menunggu, padepokan itu rasa-rasanya menjadi hangat oleh gejolak yang mulai bergelora. Hampir setiap saat, pagi, siang, sore dan bahkan malam, terdapat di sana-sini orang yang sedang berlatih.
Bahkan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat di tempat yang terpisah, lebih senang menunggui latihan-latihan yang diadakan antara dua orang dari landasan perguruan yang berbeda. Dengan demikian mereka dapat saling menyadap unsur gerak dari perguruan yang berbeda dan memperkaya unsur gerak sendiri.
Bahkan kadang-kadang Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah memberikan tuntunan dengan unsur-unsur gerak yang baru bagi mereka. Bahkan di samping kemampuan dan kelengkapan tata gerak mereka, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat juga memberikan tuntunan kepada mereka untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan gerak keseimbangan.
Di padepokan itu telah ditanam patok-patok yang besar yang dibuat dari pokok-pokok kayu dengan ketinggian yang tidak sama. Sebagian setinggi tubuh, namun yang lain lebih tinggi dan bahkan ada yang tingginya dua kali setinggi tubuh.
Untuk meningkatkan ketrampilan gerak kaki dan keseimbangan serta daya tahan, maka setiap pagi, hampir semua orang di padepokan itu telah berlari-lari dan berloncatan di atas patok-patok itu. Ternyata bahwa usaha itu telah memberikan banyak pengaruh pada mereka.
Secara tidak langsung, latihan itu telah meningkatkan kemampuan seisi padepokan itu.
Bahkan bukan saja patok-patok yang terbuat dari pokok kayu itu. Pada kesempatan lain, setelah latihan dengan pokok-pokok kayu yang besar itu berjalan lancar, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat telah membuat patok-patok dari bahan yang lebih kecil. Patok-patok bambu.
Ternyata bahwa Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak berhenti sampai sekian. Bukan saja latihan keseimbangan dan berloncatan di atas patok-patok bambu, tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat memberikan latihan kepada penghuni padepokan itu untuk bertempur di atas patok-patok bambu itu.
Pada saat isi padepokan itu sedang dalam gelora untuk menemukan harga diri mereka kembali di atas landasan perjuangan yang berbeda, maka orang yang telah menyatakan akan datang kembali itu benar-benar telah datang.
Pemimpin padepokan itu telah menerima dua orang tamunya di barak induk padepokan itu. Sikapnya dan caranya menerima kedua tamunya sama sekali tidak berubah. Sambil mengangguk-angguk hormat orang yang diserahi memimpin padepokan itu telah mempersilahkan tamunya duduk. Seorang penghuni padepokan itu telah menyuguhkan minuman dan makanan kepada kedua orang tamu itu.
Kedua orang tamu yang merasa diterima dengan penuh kehormatan itu menjadi semakin menengadahkan wajahnya. Di pandanginya halaman padepokan itu dari ujung sampai ke ujung. Kemudian dengan senyum di bibir, salah seorang di antara mereka berkata, “Halaman ini cukup luas untuk mengadakan latihan-latihan olah kanuragan. Orang-orangku tidak terlalu banyak. Tidak lebih banyak dari orang-orangmu di sini. Kemampuan kamilah yang lebih besar dari kemampuan kalian. Karena itu, maka sudah sewajarnya jika kami akan mendapat kesempatan lebih besar untuk mengurus padepokan yang sudah tidak bertuan ini,” orang itu berhenti sejenak, lalu, “aku sudah menyiapkan segala-galanya. Pada saatnya orang-orangku akan datang kemari.”
“Di manakah mereka sekarang?” bertanya pemimpin padepokan itu.
Kedua orang itu tertawa. Seorang di antaranya menjawab, “Kau tidak perlu mengetahuinya. Besok jika mereka datang, kau akan mengenal mereka tanpa mengetahui asal-usul mereka.”
“Apakah sebenarnya yang akan kalian lakukan?” bertanya pemimpin padepokan itu.
“Kenapa kau masih juga bertanya?” salah seorang dari kedua orang itu justru ganti bertanya, “apakah yang aku katakan beberapa saat yang lalu masih kurang jelas? Kami akan datang dan tinggal di padepokan ini. Kami akan memilikinya karena padepokan ini memang tidak bertuan.”
Orang yang diserahi memimpin padepokan itupun mengangguk-angguk. Namun kemudian iapun bertanya, “Apakah kalian telah mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan dari banyak segi?”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar