HIJAUNYA LEMBAH : JILID-039-01*
Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Siapakah di antara kita yang harus pergi?”
Palot termangu-mangu sejenak. Namun kemudian katanya, “Tentu kalian berdua. Aku berharap bahwa sepeninggal kalian, akan terjadi perubahan di padepokan ini. Kecuali jika para pengikut kalian memang sudah jemu hidup dengan tenang.”
Kedua pemimpin itu termangu-mangu sejenak. Sementara itu pemimpin perguruan Suriantal itu bertanya, “Jadi, kalian biarkan para pengikut kami bebas?”
“Tidak,” jawab Palot, “tetapi aku tidak akan membawa mereka. Mungkin aku akan mengalami kesulitan di perjalanan. Aku hanya akan membawa kalian berdua saja. Namun kalian harus mampu mengendalikan dengan pesan dan perintah, bahwa para pengikutmu tidak akan berbuat sesuatu yang dapat mengeruhkan suasana. Karena, jika terjadi demikian maka akan terjadi tindak kekerasan lagi atas padepokan ini.”
Kedua pemimpin perguruan itu saling berpandangan sejenak. Namun kemudian pemimpin perguruan Suriantal itu berkata, “Terima kasih. Biarlah orang-orang kami tetap berada di padepokan dengan cara hidup yang baru. Percaya atau tidak, sebenarnya kami bukan sejenis perampok ternak yang sering mengganggu orang-orang pedukuhan.”
Orang yang disebut Palot itu mengangguk kecil. Katanya. “Aku mengerti. Tetapi segala kemungkinan dapat terjadi. “
Pemimpin perguruan Suriantal itu menarik nafas dalam-dalam. Ia pun mengerti maksud Palot. Dalam kesulitan maka orang-orang yang memiliki kekuatan kadang-kadang lupa diri.
Dan hal itu memang sudah terjadi. Karena itu, maka katanya, “Baiklah. Aku akan berpesan, agar orang-orangku dan isi padepokan ini berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya agar mereka tidak digilas sekali lagi dengan kekerasan.”
“Baiklah,” berkata Palot, “lakukanlah. Kalian masih mempunyai kesempatan untuk membenahi padepokan ini. Menyelenggarakan kawan-kawan kalian yang terbunuh, sengaja atau tidak aku sengaja.”
Kedua pemimpin perguruan yang ada di padepokan itu mengangguk kecil. Ternyata sikap Palot cukup lunak sehingga kesan mereka terhadap orang itu ternyata telah terguncang-guncang. Mula-mula mereka menganggap orang itu tidak lebih dari seorang hamba yang mencari perlindungan. Kemudian mereka menghadapi satu kenyataan bahwa orang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi. Namun akhirnya mereka menyadari, bahwa orang yang berilmu tinggi itu bukan orang yang kasar dan keras sebagaimana mereka juga sebelumnya.
Dengan demikian maka kedua orang pemimpin yang akan ikut bersama Palot ke padepokan yang telah mereka tinggalkan dan menyerahkan diri itu, masih mempunyai kesempatan untuk berbuat sesuatu atas padepokannya.
Ternyata Palot seakan-akan sama sekali tidak menaruh curiga bahwa kedua orang pemimpin itu akan berbuat curang dan licik. Karena itu, maka ia sama sekali tidak berusaha untuk membatasi tingkah laku kedua pemimpin itu. Bahkan sekali lagi berpesan, “Kalian harus mempergunakan sisa-sisa wibawa kalian dan pengaruh kalian untuk mengarahkan hidup mereka untuk selanjutnya.”
Demikianlah seperti yang dipesankan oleh Palot, maka kedua orang pemimpin itu telah berbuat sebagaimana dikehendaki. Mula-mula mereka mengatur orang-orangnya untuk menyelenggarakan kawan-kawan mereka dan kakak seperguruan pemimpin padepokan itu yang terbunuh di pertempuran itu. Kemudian kedua orang itu telah mengumpulkan para pengikutnya yang tersisa, serta para pengikut kakak seperguruan pemimpin padepokan itu.
Dengan penuh kesungguhan mereka memberikan pesan bagi kehidupan para penghuni padepokan itu untuk selanjutnya. Sementara itu, kedua orang itu menganjurkan agar para pengikut kakak seperguruan pemimpin padepokan itu tetap tinggal untuk sementara.
“Di Lemah Warah atau di Kediri, kami tentu mendapat perintah bagi kalian. Karena itu, kalian sebaiknya tetap tinggal saja di sini. Agar tidak timbul salah paham dikemudian hari, sehingga dapat memancing tindakan-tindakan yang seharusnya tidak perlu dilakukan.”
Pesan itu memang terasa asing di telinga para penghuni padepokan itu. Mereka yang sebelumnya selalu ditempa dengan sifat-sifat kejantanan, tiba-tiba mereka harus menghadapi satu kenyataan, bahwa mereka tidak dapat berbuat sesuatu hanya menghadapi satu orang saja. Bahkan mereka harus menyerah bukan saja dihadapannya, sepeninggal orang itu, seisi padepokan masih harus melakukan sebagaimana dikehendakinya.
Apa artinya tindakan kekerasan bagi mereka, jika mereka tetap pada sikap dan pendirian mereka sebelumnya.
Tetapi ternyata bahwa para pemimpin mereka telah memerintahkan mereka untuk mengekang diri dan menjadi jinak.
Namun mereka memang tidak dapat ingkar dari kekalahan yang berturut-turut mereka alami. Bahkan di padepokan itu mereka tidak akan mampu melawan lawan yang hanya seorang tetapi mampu menggerakkan prahara yang sangat dahsyat.
Apalagi mereka menyadari, bahwa di belakang orang itu terdapat kekuatan yang tidak akan dapat dilawan dengan cara apapun juga.
Demikianlah, maka para penghuni padepokan itu tidak dapat berbuat lain daripada menyatakan kesediaan mereka. Seorang di antara mereka yang dianggap paling tua bukan saja umurnya, tetapi juga kemampuannya telah ditunjuk untuk memimpin kawan-kawan mereka di padepokan itu, siapa pun mereka dan dari perguruan yang manapun.
“Masih banyak jalan yang dapat kalian tempuh,” berkata pemimpin padepokan itu, “masih ada hutan yang dapat kalian tebang untuk memperluas tanah persawahan. Dengan kerja kalian akan dapat memenuhi kebutuhan mereka sewajarnya. Selanjutnya kalian dapat menunggu. Seandainya aku tidak lagi kembali ke padepokan ini, maka tentu ada perintah dari Kediri apa yang harus kalian lakukan.”
Demikianlah, maka kedua orang pemimpin padepokan itu telah ikut bersama Ki Permita yang dikenalnya bernama Palot. Mereka tidak langsung pergi ke Pakuwon Lemah Warah. Tetapi mereka akan pergi ke padepokan yang telah dikalahkan oleh Lemah Warah bersama Senapati dari Kediri itu. Ki Permita berharap bahwa Akuwu Lemah Warah atau yang ditugaskannya masih berada di padepokan itu.
Sepanjang perjalanan Ki Permita menuju ke padepokan itu, maka sepanjang itu pula perjalanan mereka kembali ke padepokan orang-orang Suriantal.
Tetapi ternyata bahwa Akuwu Lemah Warah telah kembali ke Pakuwon. Namun padepokan itu ternyata tidak menjadi kosong. Orang-orang yang menyerah dan tertangkap, ternyata oleh Akuwu Lemah Warah telah dibiarkan tinggal di padepokan itu.
Ki Permita yang datang bersama pemimpin perguruan Suriantal dan seorang pemimpin dari padepokan yang telah mereka tinggalkan itu, telah diterima dengan baik oleh orang yang diserahi untuk sementara memimpin padepokan Suriantal itu.
Semula Ki Permita memang merasa heran bahwa padepokan itu telah ditinggalkan begitu saja. Namun iapun telah melakukannya pula atas padepokan yang lain. Tetapi ia telah membawa dua orang pemimpin perguruan yang sangat berpengaruh.
Kepada orang yang memimpin padepokan Suriantal itu Ki Permita bertanya, “Apakah ada pesan untuk aku?”
“Ya Ki Sanak,” jawab orang yang memimpin padepokan itu, “Jika Ki Palot berhasil menghubungi kedua pemimpin perguruan kita yang pernah tinggal di padepokan ini, maka Ki Palot diharap untuk mengajaknya langsung ke Pakuwon Lemah Warah. Mungkin Pangeran Singa Narpada masih dapat kau jumpai di Pakuwon itu.”
Palot menarik nafas dalam-dalam. Dari orang yang memimpin padepokan itu pula ia pun kemudian mendengar tentang orang yang disebut Panembahan itu. Dari orang yang diserahi memimpin padepokan itu ia mendengar bahwa Panembahan memang sudah tidak dapat diselamatkan lagi.
“Aku memang sudah menduga sebelumnya. Keadaannya sudah sangat gawat ketika aku berangkat,” berkata Ki Permita yang disebut Palot.
Sehari Palot berada di padepokan itu. Ia sama sekali tidak menunjukkan kecurigaannya. Ia biarkan saja kedua orang tawanannya bebas berkeliaran di padepokan itu.
Selama ia di padepokan, maka Palot telah mendengar sikap Akuwu Lemah Warah tentang padepokan itu sepengetahuan Pangeran Singa Narpada.
“Semua persoalan nampaknya telah dikembalikan kepada Panembahan,” berkata orang yang diserahi pimpinan di padepokan itu, “dengan demikian, seakan-akan orang lain telah dibebaskan dari segala kesalahan yang telah dibuatnya menurut pandangan Akuwu Lemah Warah.”
Palot menarik nafas dalam-dalam. Dengan demikian Pangeran Singa Narpada sebenarnya telah mengembalikan semua persoalan pada sumbernya. Pangeran Singa Narpada agaknya telah memperhitungkan bahwa yang menggerakkan orang-orang dari berbagai perguruan itu adalah Pangeran Gagak Branang yang disebutnya Panembahan. Dengan demikian maka sepeninggal Pangeran Gagak Branang, Pangeran Singa Narpada menganggap bahwa persoalannya akan dapat dibatasi. Bahkan para pengikutnya tidak akan bergerak lebih jauh. Orang-orang dari berbagai perguruan itu tentu akan menghentikan kegiatan mereka dalam hubungan mereka dengan persoalan Kediri dan Singasari.
Karena itu, maka Pangeran Singa Narpada telah mengambil kebijaksanaan untuk membiarkan saja orang-orang yang masih tersisa di padepokan itu. Namun dengan demikian Ki Permita pun merasa bahwa langkah yang telah dilakukannya pun merupakan langkah yang benar.
Demikianlah, ternyata yang semalam itu tidak terjadi sesuatu. Meskipun Palot pun tidak lepas dari sikap berhati-hati.
Kedua orang pemimpin perguruan yang menjadi tawanannya itu sama sekali tidak diawasinya. Seandainya mereka berniat untuk melarikan diri, maka agaknya hal itu dapat dilakukannya.
Namun kedua orang itu harus memperhitungkan kemungkinan yang sangat buruk yang dapat terjadi di padepokan itu dan padepokan yang ditinggalkan. Orang yang disebut Palot itu dalam kemarahannya akan mampu membunuh korban yang tidak terhitung jumlahnya meskipun ia hanya sendiri.
Pagi-pagi Palot sudah bersiap. Demikian pula kedua orang tawanannya. Mereka akan segera pergi ke Pakuwon Lemah Warah untuk menghadap.
Di perjalanan tidak ada kesan bahwa kedua orang itu adalah tawanan Ki Permita. Mereka berjalan beriringan sebagaimana tiga orang yang bersama-sama menempuh perjalanan.
Namun dalam pada itu tiba-tiba saja orang bertongkat dari perguruan Suriantal itu pun bertanya, “Apakah kau kenal dengan tiga orang anak muda yang diaku kemanakan Akuwu Lemah Warah itu?”
Palot mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia menggeleng, “Kenal benar tidak. Kenapa?”
Pemimpin perguruan Suriantal itu menjawab, “Mereka tertarik kepada batu di pinggir hutan yang berwarna kehijau-hijauan itu. Nampaknya mereka memiliki pengetahuan tentang batu-batuan. Mereka mengaku pedagang batu akik dan wesi aji.”
“Mungkin mereka memang memiliki pengetahuan itu,” berkata Ki Permita, “tetapi aku kurang mendalaminya.”
Orang bertongkat itu mengangguk-angguk. Sebenarnyalah baginya batu itu memang sangat berharga. Tetapi ia tidak dapat mengatakannya kepada Palot. Tetapi ia berkata di dalam hatinya, “Jika ada kesempatan di kemudian hari, aku akan mengambilnya.” Tetapi ia berkata selanjutnya, “Namun agaknya anak-anak muda itu tentu akan mengambilnya lebih dahulu. Batu itu tentu sangat berharga jika jatuh ke tangan orang yang benar-benar mampu menggosoknya. Batu itu akan dipecah menjadi berkeping-keping. Setiap keping akan dapat digosok menjadi puluhan batu yang berharga mahal. Bahkan pecahan-pecahannya yang berserakan pun akan dapat digosok menjadi batu akik yang berharga.”
Namun akhirnya orang itu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya ia memang harus melupakannya. Ia harus puas pada segumpal yang telah dipasangnya di tongkatnya itu.
Demikianlah, seperti tiga orang pengembara, mereka memasuki Pakuwon Lemah Warah. Mereka memasuki gerbang kota dan langsung menuju ke istana Akuwu yang terletak di pusat kota yang tidak terlalu luas.
Para pengawal di regol halaman memang bertanya dengan cermat, siapakah mereka. Namun akhirnya Palot berhasil meyakinkan, bahwa mereka memang dipanggil oleh Akuwu menghadap.
“Kalian menunggu di gardu pengawal,” berkata pemimpin pengawal, “kehadiran kalian akan dilaporkan.”
Seorang pengawal pun kemudian telah menyampaikan kehadirannya seorang yang bernama Palot kepada seorang Pelayan Dalam, agar disampaikan kepada Akuwu Lemah Warah.
“Namanya Palot yang juga disebut Permita,” berkata pengawal itu.
“Ooo,” Akuwu Lemah Warah pun kemudian telah turun sendiri ke halaman depan untuk menyongsong orang yang bernama Permita dan disebut Palot itu.
“Marilah,” berkata Akuwu Lemah Warah ketika ia melihat Ki Permita di depan gardu bersama dua orang yang harus ditangkapnya.
Akuwu Lemah Warah tidak perlu bertanya lagi. Ia pun segera mengerti bahwa Ki Permita telah berhasil dengan tugasnya, menangkap atau membujuk kedua orang itu untuk menyerah.
Demikianlah, maka Ki Permita dan kedua orang yang datang bersamanya itu telah dipersilahkan masuk ke ruang dalam. Baru setelah mereka duduk, maka Akuwu Lemah Warah itu telah memanggil Pangeran Singa Narpada dan Mahendra. Bahkan juga Mahisa Murti, Mahisa Pukat dan Mahisa Ura yang ternyata masih berada di Pakuwon itu pula.
Sejenak kemudian, maka orang-orang yang masih berada di Pakuwon itu pun telah duduk pula bersama Ki Permita dan kedua orang pemimpin perguruan yang menyerah itu. Sementara itu, maka Ki Permita pun telah menyatakan, bahwa kedua orang pemimpin perguruan itu memang sudah menyerah.
“Syukurlah,” berkata Pangeran Singa Narpada, “dengan demikian kalian telah bertindak bijaksana. Kalian ternyata termasuk pemimpin yang bertanggung jawab, sehingga kalian tidak ingin melihat korban berjatuhan lebih banyak lagi.”
“Kami memang tidak mempunyai harapan lagi,” berkata pemimpin perguruan Suriantal yang bertongkat itu, “karena itu, maka kami telah memilih jalan yang kami anggap terbaik ini. Menyerah.”
“Itulah yang aku maksudkan,” sahut Pangeran Singa Narpada, “dengan demikian kalian sudah membantu penyelesaian yang lebih baik daripada saling menghancurkan.”
Kedua orang tawanan itu menarik nafas dalam-dalam. Pemimpin padepokan itupun kemudian berkata, “Ternyata sikap Palot dan Pangeran tidak berbeda. Tetapi kenapa Palot dan Pangeran telah membiarkan para pengikut kami tetap berada di padepokan?”
“Mungkin orang-orang yang aku tinggalkan pernah mengatakan kepada kalian, apa sebabnya,” jawab Pangeran Singa Narpada.
“Yaa. Kalian membebankan semua kesalahan kepada Panembahan, karena itu, maka yang lain bagi kalian dapat dianggap tidak bersalah lagi,” berkata pemimpin padepokan yang telah mereka tinggalkan itu.
“Bukan begitu,” berkata Pangeran Singa Narpada, “tetapi kami sudah tahu pasti, apa yang telah terjadi dan siapakah sumber dari segala peristiwa itu. Nah, apakah dugaanku salah, bahwa kesalahan utama ada pada Panembahan itu?”
Kedua orang pemimpin perguruan itu mengangguk-angguk. Meskipun mereka tidak mengharap bebas sama sekali dari hukuman yang mungkin akan dijatuhkan oleh Kediri atau Lemah Warah, namun rasa-rasanya kesalahan mereka tidak lagi menentukan.
Sebenarnyalah maka Pangeran Singa Narpada pun berkata, “Meskipun demikian, kami tidak dapat membebaskan kalian dari tuntutan. Kalian adalah para pemimpin yang bertanggung jawab sebuah perguruan. Keterlibatan perguruan kalian tergantung kepada kalian.”
Kedua orang itu menarik nafas dalam-dalam. Namun sementara itu Pangeran Singa Narpada pun berkata, “Tetapi seperti yang aku katakan, letak kesalahan utama dari segala peristiwa yang telah terjadi tentu pada Panembahan. Tetapi apakah kalian mengenal siapakah orang yang disebutnya Panembahan itu?”
Kedua orang pemimpin perguruan itu menggeleng. Sementara itu orang bertongkat dari perguruan Suriantal itu justru bertanya, “Apakah Pangeran dapat menjelaskan siapakah Panembahan itu? Bagiku Panembahan adalah orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi. Orang yang memiliki pengetahuan yang luas dan mempunyai pandangan tentang masa depan yang bagi kami memberikan banyak harapan daripada masa depan yang kami lihat sekarang, yang dikemudikan oleh para pemimpin di Kediri yang berkiblat kepada Singasari.”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “orang itu memang orang yang luar biasa. Ia memiliki ilmu yang tidak ada bandingnya.”
Dalam pada itu, ketika Pangeran Singa Narpada memandang kepada Ki Permita yang dikenal bernama Palot itu, maka orang itu telah menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Sementara itu Pangeran Singa Narpadapun berkata, “Ki Sanak. Ternyata bukan saja orang itu yang memiliki ilmu yang nggegirisi. Tetapi hambanya yang setia pun memiliki tingkat ilmu yang sulit dicari bandingnya.” Pangeran Singa Narpada pun berhenti sejenak, lalu, “sebenarnyalah kalian dapat bertanya kepada hambanya yang setia itu, siapakah sebenarnya orang yang kalian kenal dengan sebutan Panembahan itu.”
Kedua orang pemimpin perguruan itupun telah berpaling ke arah Palot. Mereka mengakui bahwa Palot adalah orang yang memiliki ilmu yang sangat tinggi pula.
Namun dalam pada itu, dengan nada rendah Palot pun berkata, “Pangeran, sebaiknya bukan akulah yang harus menyampaikannya. Bukankah lebih baik Pangeran saja sama sekali yang berceritera tentang Panembahan dan barangkali tentang hambanya yang setia itu pula.”
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk kecil. Katanya, “Baiklah jika kau tidak bersedia.” Kemudian sambil memandang kedua orang pemimpin perguruan itu berganti-ganti Pangeran Singa Narpadapun berkata, “Ki Sanak. Sebenarnyalah bahwa orang yang kalian sebut Panembahan itu adalah masih keluargaku sendiri. Orang itu adalah pamanku.”
Kedua orang itu terkejut. Hampir di luar sadar, orang bertongkat itu bertanya, “jadi, Panembahan itu juga seorang dari lingkungan istana di Kediri sendiri?”
“Ya. Yang disebut Panembahan itu adalah paman Pangeran Gagak Branang,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Kedua orang itu mengangguk-angguk. Hampir di luar sadarnya mereka telah berpaling ke arah Ki Permita yang mereka kenal bernama Palot.
Bahkan orang yang memiliki ilmu gendam itu berkata, “Jika demikian, siapa pula sebenarnya Palot yang memiliki ilmu yang jarang ada bandingnya itu?”
“Bertanyalah kepadanya,” berkata Pangeran Singa Narpada.
Namun dalam pada itu Palot pun berkata, “Tidak ada yang aneh pada diriku. Aku adalah hamba yang setia itu. Dan aku adalah hamba yang setia dari Pangeran Gagak Branang.”
Kedua orang pemimpin perguruan itu mengangguk-angguk. Namun dalam pada itu Pangeran Singa Narpada telah membenarkannya. Katanya, “Memang demikian. Palot adalah seorang hamba yang setia. Namun barangkali kami lebih mengenalnya bernama Ki Permita daripada Palot. Tetapi apakah artinya nama. Yang penting, kalian dapat menilai sendiri kemampuannya.”
Kedua orang itu mengangguk-angguk pula. Memang tidak banyak yang dapat dijelaskan tentang Palot yang dikenal dengan nama Ki Permita itu selain ia memang seorang hamba yang setia.
Namun keterangan tentang Panembahan itu telah memberikan arah berpikir kepada kedua orang itu. Itulah sebabnya maka baik Pangeran Singa Narpada maupun Palot menganggap bahwa beban kesalahan terbesar ada pada orang yang disebut Panembahan yang tidak lain adalah keluarga Kediri sendiri. Itulah sebabnya maka Panembahan itu mengingini Mahkota Kediri yang dianggapnya sebagai benda yang menjadi tempat bersemayam wahyu keraton.
Tetapi meskipun demikian, maka mereka tidak dapat ingkar dari tanggung jawab, karena keduanya adalah pemimpin perguruan yang langsung ikut serta mendukung gerakan Pangeran yang disebutnya Panembahan itu.
Sebenarnyalah maka Pangeran Singa Narpada pun kemudian berkata, “Baiklah Ki Sanak. Pada saatnya kita akan meninggalkan Pakuwon ini dan menuju ke Kediri.”
Pemimpin perguruan Suriantal itu menarik nafas dalam-dalam sambil bergumam, “Batu itu.”
Pangeran Singa Narpada mengerutkan keningnya sambil bertanya, “Batu apa?”
“Batu yang ada di pinggir hutan itu. Batu yang berwarna kehijau-hijauan,” berkata orang bertongkat itu, “tetapi aku menyadari, bahwa aku tidak akan dapat memilikinya.”
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Sementara itu orang bertongkat itu berkata, “Terserahlah kepada ketiga orang anak muda itu.”
Pangeran Singa Narpada memandang wajah orang bertongkat yang kecewa itu. Dengan nada berat ia bertanya, “Kenapa dengan ketiga orang anak muda itu?”
“Agaknya mereka juga tahu nilai dari batu kehijau-hijauan itu,” jawab orang bertongkat itu.
Pangeran Singa Narpada berpaling ke arah Mahendra yang termangu-mangu. Namun ia tidak mengatakan sesuatu.
Sementara itu, Pangeran Singa Narpada telah berketetapan untuk membawa kedua orang itu ke Kediri, agar mereka tidak menjadi beban bagi Akuwu Lemah Warah.
Demikianlah maka Pangeran Singa Narpada pun telah melakukan persiapan untuk segera kembali ke Kediri bersama kedua orang tawanan itu. Pangeran Singa Narpada merencanakan untuk meninggalkan Pakuwon itu dihari berikutnya.
Meskipun Akuwu Lemah Warah masih berusaha menahannya agar Pangeran Singa Narpada bersedia tinggal di Pakuwon itu barang dua tiga hari lagi, namun agaknya Pangeran Singa Narpada ingin segera kembali dan melakukan pemeriksaan yang lebih teliti atas kedua orang tawanannya.
Namun dalam kesempatan tersendiri ia juga berkata kepada Ki Permita, “Kau juga sebaiknya ikut aku ke Kediri.”
Ki Permita mengangguk kecil. Katanya, “Aku sudah menyadari bahwa kedudukanku tidak ada bedanya dengan kedua orang itu.”
“Ah, tentu tidak,” berkata Pangeran Singa Narpada, “kau telah membantuku, menyelesaikan tugas ini dengan baik.”
Ki Permita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Tetapi semuanya sudah lewat bagiku. Pangeran, aku memang tidak berkeberatan untuk pergi bersama Pangeran dan kedua orang tawanan itu ke Kediri. Namun setelah itu, maka aku mempunyai permohonan kepada Pangeran dan para pemimpin di Kediri lainnya.”
“Apa permohonanmu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Pangeran, aku adalah hamba yang setia dari Pangeran Gagak Branang. Sementara itu, Pangeran Gagak Branang telah tidak ada lagi. Karena itu, maka tidak ada gunanya lagi bagiku untuk hidup lebih lama lagi. Apalagi sebenarnyalah bahwa aku sudah terlalu lama hidup sebagaimana Pangeran Gagak Branang. Aku sudah terlalu tua untuk dapat berbuat sesuatu,” berkata Ki Permita.
Pangeran Singa Narpada termangu-mangu sejenak. Sebagaimana Pangeran Gagak Branang, maka Ki Permita pun tentu sudah sangat tua. Sementara itu sebagaimana juga Pangeran Gagak Branang, maka Ki Permita pun telah minum sejenis getah yang dapat menahan gerak jaringan tubuhnya untuk menjadi lebih tua dari saat obat itu mulai berpengaruh pada dirinya.
“Jadi apa yang kau inginkan?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Menyusul Pangeran Gagak Branang,” jawab Ki Permita.
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun dengan ragu ia bertanya, “Untuk itu apa yang harus aku lakukan?”
“Pangeran,” berkata Ki Permita, “banyak cara yang dapat ditempuh. Selagi Pangeran dan Mahendra masih berada di sini.”
“Maksudmu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Pangeran dapat melakukannya dengan cara yang sama sebagaimana pangeran lakukan atas Pangeran Gagak Branang.” jawab Ki Permita.
“Membunuhmu dengan benturan ilmu atau dengan benang lawe itu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Pangeran tidak perlu menggunakan lawe itu terhadap diriku. Aku tidak memiliki ilmu sebagaimana dimiliki oleh Pangeran Gagak Branang didalam hal seperti itu. Karena itu, maka jika terjadi benturan ilmu itu, maka aku akan langsung mati.” jawab Ki Permita.
Tetapi Pangeran Singa Narpada menggeleng. Katanya, “Itu merupakan satu pembunuhan,” berkata Pangeran Singa Narpada, “Sementara itu bagaimana mungkin aku dapat ikut bersama kami ke Kediri jika kau mati di sini?”
“Pangeran,” jawab Ki Permita, “sudah aku katakan, bahwa aku akan ikut bersama Pangeran ke Kediri. Kemudian Pangeran dapat melakukannya.”
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Namun kemudian ia berkata, “Ki Permita, baiklah kita akan pergi ke Kediri. Kita akan menyelesaikan tugas ini dengan tuntas. Kemudian aku akan menentukan sendiri, jalan yang paling baik yang akan kau tempuh. Tetapi tidak ada cara yang paling baik daripada cara yang sewajarnya. Kau tidak dapat dengan syah mempercepat kematianmu hanya karena kejemuan, atau mungkin kesetiaan.”
Nampak keragu-raguan di wajah Ki Permita. Sekilas ia memandang kedua tangannya dengan jari-jari yang mengembang.
“Ki Permita,” berkata Pangeran Singa Narpada, “tidak ada cara untuk menunda dan mempercepat kematian yang syah dihadapan Yang Maha Agung. Semua akan berjalan sebagaimana seharusnya. Pangeran Gagak Branang pun telah kembali ke asalnya sebagaimana harus berlaku. Seandainya ia tidak mempergunakan ilmu apapun juga, maka umurnya memang akan cukup panjang sebagaimana terjadi atas dirinya. Pangeran Gagak Branang memang dapat hidup lebih dari seratus tahun. Tetapi ia bukan orang satu-satunya. Aku mengenal seorang petani yang tidak pernah memiliki ilmu apapun juga yang dapat hidup sampai seratus tahun pula. Bahkan masih mampu memilih gabah di antara beras yang akan ditanaknya.”
Ki Permita menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku mengerti Pangeran. Umur yang terlalu panjang memang dapat menjemukan bagi beberapa orang termasuk aku. Tetapi tentu orang yang tidak tahu diri dihadapan Yang Maha Agung itu.”
“Mudah-mudahan kau tidak dicengkam oleh kejemuan itu,” berkata Pangeran Singa Narpada, “meskipun getah itu dapat menghambat pertumbuhan jaringan tubuhmu, tetapi tidak akan dapat menjerat nyawamu untuk tetap berada didalam tubuhmu itu. Tetapi kau harus tabah, sehingga saat yang wajar itu datang.”
Ki Permita menarik nafas dalam-dalam. Namun ia menyadari bahwa yang dikatakan oleh Pangeran Singa Narpada itu bukan sekedar petunjuk untuk menenangkan hatinya yang bergejolak, tetapi sebenarnyalah memang demikian.
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku yakin, bahwa hatimu tidak selemah itu sehingga kau menyerahkan dirimu pada keputus-asaan dan memasuki jalan pintas yang terkutuk itu.”
Ki Permita tidak menjawab. Hanya kepalanya sajalah yang mengangguk-angguk kecil.
“Bagus,” berkata Pangeran Singa Narpada, “besok kita akan kembali ke Kediri. Kita akan membawa dua orang tawanan kita bersama-sama dengan kita. Kita tidak perlu mempersulit tugas Akuwu Lemah Warah ini dengan kedua orang tawanan yang berilmu tinggi itu.”
Ki Permita hanya mengangguk-angguk saja tanpa menjawab.
Dalam pada itu, Pangeran Singa Narpada tidak lagi menaruh curiga kepada Ki Permita. Ia adalah seorang yang setia kepada sikapnya, sebagaimana telah dibuktikannya ketika ia mengabdi kepada Pangeran Gagak Branang.
Orang yang memiliki kesetiaan seperti Ki Permita itu tidak akan berkhianat. Jika ia sudah menyatakan kesediaannya, maka yang dikatakan itu akan dilakukannya. Tetapi jika ia mengatakan tidak maka apapun yang terjadi akan ditempuhnya.
Seperti yang direncanakan, maka di hari berikutnya, maka Pangeran Singa Narpada telah bersiap untuk kembali ke Kediri. Ternyata bahwa Mahendra pun telah ikut pula bersama mereka. Bahkan Mahisa Ura juga menyatakan diri untuk kembali ke Singasari.
“Bagaimana dengan kedua orang anak muda itu?” bertanya Pangeran Singa Narpada.
“Mereka akan tinggal,” berkata Mahendra.
Pangeran Singa Narpada menarik nafas dalam-dalam. Dengan nada rendah ia bertanya perlahan-lahan kepada Mahendra, “Apakah ada hubungannya dengan batu yang disebut-sebut oleh orang bertongkat itu?”
Mahendra tersenyum. Katanya, “Batu itu berada di pinggir hutan. Tidak ada yang memilikinya. Anak-anak itu menganggap batu itu memang menarik. Aku tidak tahu, apakah mereka merasa perlu untuk memilikinya. Tetapi sekali lagi aku tegaskan, batu itu terletak di pinggir hutan tanpa seorang pun yang memilikinya, sehingga jika kedua anak-anak itu mengambilnya ia tidak merugikan siapapun juga. Agaknya orang-orang di sekitarnya tidak menganggap penting atas batu itu.”
“Mereka mungkin tidak tahu bahwa batu itu adalah batu yang berharga meskipun bukan yang terbaik,” desis Pangeran Singa Narpada.
Mahendra mengangguk-angguk. Katanya, “Dengan demikian mereka tidak merasa kehilangan jika batu itu dimiliki oleh siapapun juga.”
Pangeran Singa Narpada mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak mempersoalkannya lagi.
Demikianlah, maka sebuah iring-iringan kecil telah meninggalkan Pakuwon Lemah Warah. Mereka tidak lagi berjalan kaki. Tetapi mereka telah mendapat kuda dari Akuwu Lemah Warah, agar perjalanan mereka menjadi agak cepat.
Seperti yang dikatakan, maka Mahisa Murti dan Mahisa Pukat tidak ikut bersama mereka. Tetapi keduanya akan tetap tinggal di Pakuwon Lemah Warah.
Mahendra tidak memaksa mereka untuk kembali. Keduanya menurut pendapatnya telah cukup dewasa. Ilmu mereka-pun telah cukup sebagai bekal pengembaraan mereka yang masih akan mereka lakukan.
Di perjalanan kembali Pangeran Singa Narpada telah berkata kepada Mahendra, “Anak-anak itu telah memberikan bantuan terbaik kepada Kediri. Sebenarnya aku ingin mengajak mereka kembali ke Kediri karena bagiku mereka akan dapat memberikan arti yang lebih besar lagi bagi Kediri. Tetapi aku tidak ingin mengecewakan mereka. Aku harap bahwa setelah pengembaraannya selesai, anak-anak itu bersedia kembali ke Kediri.”
Mahendra mengangguk. Katanya, “Aku akan mengatakannya kelak jika mereka kembali.”
“Terima kasih,” jawab Pangeran Singa Narpada. Kemudian katanya seolah-olah kepada diri sendiri, “Mudah-mudahan mereka bersedia.”
Mahendra tidak menjawab, meskipun ia tersenyum sambil mengangguk-angguk.
Dalam pada itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang masih berada di Lemah Warah memang masih mempunyai keinginan untuk melihat-lihat batu yang berwarna kehijau-hijauan itu.
Namun dalam pada itu, Akuwu Lemah Warah telah memperingatkan kepada mereka, “Mungkin ada orang lain juga yang tertarik kepada batu itu selain pemimpin perguruan Suriantal itu.”
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menganguk-angguk. Kemungkinan itu memang ada. Tetapi keduanya akan berusaha untuk berbuat sebaik-baiknya atas batu itu.
Bersambung....... !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar