*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 039-03*
“Pertimbangan apa lagi?” bertanya salah seorang dari kedua orang yang datang itu, “kami datang untuk mempersiapkan tempat bagi orang-orang kami. Kami akan memilih barak-barak yang pantas untuk kami, sedangkan yang tersisa untuk sementara dapat kalian pergunakan bagi orang-orang yang sekarang masih ada di sini untuk sementara. Namun kemudian persoalannya masih akan kita bicarakan lebih lanjut.”
Pemimpin padepokan itu mengangguk-angguk. Namun kemudian katanya, “Baiklah. Marilah aku antarkan kalian melihat-lihat padepokan ini.”
Kedua orang itu saling berpandangan sejenak. Namun keduanyapun kemudian tersenyum. Agaknya tidak ada hambatan yang akan mereka hadapi untuk memasuki padepokan itu bersama para pengikutnya.
Sesaat kemudian, maka kedua orang itupun telah turun pula ke halaman. Diantar oleh pemimpin padepokan itu, maka keduanya telah melihat-lihat isi padepokan. Mereka melihat barak-barak yang tidak terlalu bersih meskipun nampak juga dipelihara. Sedangkan barak-barak itu sendiri bukannya barak-barak yang baik. Tidak lebih dari bangunan-bangunan bambu yang sederhana dengan ikatan tali ijuk dan atap ilalang. Sementara barak induk di padepokan itu secara khusus mendapat atap dari ijuk.
Meskipun padepokan itu dibangun dengan sederhana, apalagi barak-barak yang nampaknya ditambahkan dengan tergesa-gesa, namun bagi kedua orang itu, segalanya cukup memadai.
“Menyenangkan,” berkata salah seorang di antara kedua orang itu, “kami dapat dengan leluasa memilih. Meskipun sederhana tetapi padepokan ini cukup memadai.”
Yang lainpun tersenyum. Katanya, “Kita akan mempergunakan sayap bangunan pada padepokan ini di samping bangunan induk. Tetapi kita akan menentukan yang manakah yang boleh dipakai untuk sementara oleh orang-orang yang sekarang berada di padepokan ini.”
“Kenapa untuk sementara?” bertanya pemimpin padepokan itu.
“Kami akan membuat pertimbangan-pertimbangan, apakah kami akan membiarkan perguruan kami berbaur dengan perguruan lain,” berkata salah seorang dari kedua orang itu.
“Tetapi sekarang kami berada di padepokan ini,” desis pemimpin padepokan itu.
“Sudah kami katakan,” jawab orang itu, “kalian tinggal di sini dengan cara yang tidak syah. Padepokan ini sudah tidak bertuan. Dan kamilah yang mengambil alih kepemimpinan di sini dan menentukan segala-galanya. Mudah-mudahan kami dapat membuat keputusan yang paling baik bagi kalian.”
Pemimpin padepokan itu menarik nafas dalam-dalam. Beberapa orang penghuni padepokan yang lewat berpaling ke arah ketiga orang itu. Tetapi mereka tidak banyak menaruh perhatian.
“Banyak juga orang yang masih ada di padepokan ini,” desis salah seorang dari kedua orang itu, “tetapi mereka tidak berarti apa-apa.”
Pemimpin padepokan itu tidak menjawab. Tetapi ia telah mempersilahkannya untuk melanjutkan pengamatannya atas padepokan itu.
“Marilah,” berkata pemimpin padepokan itu, “kita akan melihat bagian belakang dari padepokan ini.”
Kedua orang itu mengangguk-angguk. Selangkah demi selangkah mereka menyusuri lorong-lorong di dalam padepokan itu, di antara barak-barak yang sudah dibangun bersama padepokan itu, namun ada juga barak-barak yang dibangun kemudian.
Namun ketika mereka memasuki bagian belakang dari halaman padepokan itu yang luas, di sebelah kebun yang ditanami dengan berbagai macam pohon buah-buahan yang berhubungan dengan pategalan yang cukup luas, kedua orang itu terkejut. Mereka melihat beberapa orang penghuni padepokan itu sedang berlatih di atas patok-patok bambu. Beberapa orang sedang bertempur di atas patok-patok bambu itu dengan mempergunakan tongkat kayu sebagaimana ciri mereka yang termasuk para cantrik dari perguruan Suriantal.
“Apa yang mereka lakukan?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.
“Sebagaimana biasa dilakukan oleh para penghuni padepokan,” jawab pemimpin padepokan itu.
“Apa?” desak orang itu.
“Mereka sedang berlatih. Mereka sedang memperdalam pengetahuan mereka tentang olah kanuragan,” jawab pemimpin padepokan itu.
Kedua orang itu saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak menduga bahwa orang-orang padepokan itu masih tetap menempa diri dalam latihan-latihan yang berat.
Bahkan hampir di luar sadarnya, salah seorang dari mereka bertanya, “Untuk apa mereka dengan tekun berlatih olah kanuragan?”
“Pertanyaan Ki Sanak terdengar aneh,” desis pemimpin padepokan itu, “kami merasa perlu untuk memperkuat kedudukan kami. Kami yang merasa mewarisi padepokan ini, merasa perlu untuk berbuat sesuatu, agar kedudukan kami tidak tergeser.”
Wajah kedua orang itu menjadi tegang. Dengan nada tinggi seorang di antaranya berkata, “jadi kalian merasa wajib bertahan di sini?”
“Kami adalah sisa-sisa dari beberapa perguruan yang memiliki padepokan ini. Karena itu, maka kami akan mempertahankannya.”
Kedua orang itu menjadi tegang. Namun kemudian seorang di antaranya bertanya, “jadi kalian menantang kami?”
“Bukan menantang. Kami sekedar menghargai milik kami,” jawab pemimpin padepokan itu.
Kedua orang itu termangu-mangu sejenak. Sekilas mereka menyaksikan latihan-latihan yang dilakukan oleh dua orang yang kebetulan sama-sama dari perguruan Suriantal. Mereka mempergunakan tongkat panjang sebagai senjata dan sekaligus ciri mereka. Dengan tangkas keduanya saling berloncatan di atas tonggak bambu yang tidak sama tingginya. Ada yang kurang dari tinggi tubuh, namun ada yang sampai dua kali.
Bagaimanapun juga keduanya tidak dapat mengabaikan apa yang dilihatnya. Mereka terpaksa membayangkan kembali para pengikutnya. Apakah mereka memiliki kemampuan berbuat sebagaimana kedua orang yang sedang berlatih itu.
Namun hampir bersamaan mereka berpikir, “Tentu hanya dua orang itu sajalah yang mampu berbuat demikian.”
Karena itu, maka salah seorang di antara keduanya itu bertanya, “Ki Sanak. Jadi apakah artinya kesediaanmu beberapa saat yang lalu untuk menyerahkan padepokan ini kepada kami?”
“Siapakah yang menyatakan demikian?” bertanya pemimpin padepokan itu, “bukankah pada waktu itu kami sekedar minta waktu untuk berpikir? Nah, hasil dari renungan kami adalah, bahwa sebenarnyalah padepokan ini milik kami.”
“Jadi kau tidak lagi memberikan kesempatan kepada kami untuk menguasai padepokan ini dengan cara yang baik?” bertanya salah seorang dari kedua orang itu.
“Ki Sanak,” berkata pemimpin padepokan itu, “kau memang aneh. Seandainya padepokan ini memang tidak bertuan, bukankah kami telah ada di dalamnya lebih dahulu? Apalagi kami merasa bahwa kami adalah orang-orang yang memang pernah menguasai padepokan ini.”
“Ternyata sikapmu berubah,” berkata salah seorang dari kedua orang itu, “agaknya yang kau lakukan adalah sekedar menunda waktu, agar kau dapat mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Mungkin berlatih untuk meningkatkan kemampuan. Namun apa yang dapat kalian capai dalam waktu dekat ini?”
“Yang penting adalah harga diri,” jawab pemimpin padepokan itu, “dengan memantapkan harga diri, maka kami telah bertekad untuk mempertahankan padepokan ini.”
Kedua orang itu menjadi tegang. Seorang di antaranya berkata, “jadi dengan meloncat-loncat di atas patok-patok bambu itu kalian merasa akan dapat mempertahankan padepokan ini?”
“Seperti yang aku katakan. Harga diri, meskipun kami akan binasa,” jawab pemimpin padepokan itu.
Kedua orang itu menggeram. Seorang yang hampir tidak sabar berkata, “Sebaiknya kalian menyadari, bahwa kalian bukan apa-apa buat kami.”
Sebelum pemimpin padepokan itu menjawab, maka seorang di antara mereka berdesis, “Marilah, kita hancurkan sanggar mereka yang gila-gilaan itu.”
Tetapi pemimpin padepokan itu berkata, “jangan membuat persoalan. Jika anak-anakku tidak mampu mengendalikan diri, maka apa artinya kalian hanya berdua. Sementara itu kami sudah siap menunggu kehadiran kalian bersama para pengikut kalian.”
Kedua orang itu menggeretakkan gigi. Namun mereka yang sedang berlatih itu sama sekali tidak menghiraukannya. Bahkan setelah kedua orang dari perguruan Suriantal itu meloncat turun, maka telah meloncat naik ke atas patok-patok bambu itu dua orang dari perguruan yang berbeda. Dengan bersenjata bindi kayu dan landean tombak pendek tanpa ujung runcing, keduanya telah bertempur di atas patok-patok bambu itu.
“Gila,” geram salah seorang dari kedua orang itu, “penghinaan ini akan membuat kalian menyesal. Kami akan tetap pada pendirian kami. Datang ke padepokan ini dan memilikinya. Kalian bahkan tidak akan mendapat tempat lagi di padepokan ini. Kalian akan kami usir seperti mengusir anjing sakit-sakitan.”
“Kami akan menutup pintu gerbang dan menghalau orang-orang yang ingin datang merebutnya seperti menghalau burung di sawah,” jawab pemimpin padepokan. Lalu, “Bukankah itu masih lebih sopan daripada menghalau anjing sakit-sakitan.”
“Persetan,” orang itu pun kemudian telah mengumpat kasar. Tanpa minta diri kedua orang itupun segera meninggalkan padepokan itu. Keduanya benar-benar merasa terhina oleh sikap orang yang untuk sementara memimpin padepokan itu. Orang itu pada mulanya nampaknya sama sekali tidak akan menentangnya. Bahkan nampak pasrah dan putus asa. Namun ternyata bahwa para penghuni padepokan itu telah melakukan latihan-latihan yang berat untuk menghadapi kehadiran mereka.
“Mereka agaknya memang ingin membunuh diri,” geram salah seorang di antara keduanya, “karena itu, maka kita harus membuktikan bahwa kita akan dapat melumatkan padepokan ini, membunuh semua penghuninya, selain pemimpin itu, dan kemudian mendudukinya.”
“Kenapa pemimpin padepokan itu justru tidak kita bunuh?” bertanya kawannya.
“Kita harus membuktikan kepadanya, bahwa yang kita katakan itu dapat kita lakukan,” sahut yang pertama, “baru setelah ia melihat kenyataan itu, ia akan kita bunuh dengan cara kita. Kita akan mengikatnya di halaman. Biarlah kulitnya dibakar panas matahari di waktu siang dan dan direndam embun di waktu malam.”
“Sampai mati?” bertanya kawannya.
“Sampai mati. Kita tidak perlu mempercepat kematiannya,” jawab orang yang pertama, “kesalahannya memang terlalu besar terhadap kita.”
Kawannya mengangguk-angguk saja. Tetapi tidak menjawab.
Demikianlah keduanya menjadi semakin jauh meninggalkan padepokan itu. Tetapi dengan dendam yang membara di hati mereka, sehingga mereka benar-benar ingin kembali dan menghancurkan isi padepokan itu.
Apalagi kedua orang itu merasa memiliki kekuatan yang memadai. Mereka tahu bahwa para pemimpin dari perguruan yang ada di padepokan itu sudah tidak ada di tempat. Selain yang terbunuh, maka mereka telah dibawa oleh Akuwu Lemah Warah atau orang yang ditugaskannya.
Karena itu, maka mereka yakin, bahwa mereka akan datang dan dengan tidak terlalu banyak kesulitan akan dapat menghancurkan orang-orang yang sombong yang merasa akan mampu mempertahankan padepokan itu.
Sementara itu, di padepokan yang ditinggalkan oleh kedua orang itu, pemimpin mereka telah memanggil semua orang yang tinggal di padepokan itu bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Dengan singkat orang yang diserahi memimpin padepokan itu pun telah menguraikan apa yang telah terjadi. Apa yang dikatakan oleh kedua orang yang datang kepadanya itu dan apa pula yang telah dikatakannya kepada mereka.
“Aku mohon kesediaan kalian membantuku, menyelamatkan padepokan ini meskipun kita berasal dari perguruan yang berbeda. Peristiwa yang telah mengguncang padepokan ini, serta pemimpin-pemimpin perguruan kita masing-masing yang tidak ada lagi di antara kita, serta nasib yang buruk yang telah menghimpit kehidupan kita, seharusnya dapat membuat kita merasa senasib dan sepenanggungan. Kita pun akan merasa berkewajiban untuk mempertahankan apa yang masih tinggal pada kita sekarang. Kita tidak lagi menganggap diri kita berasal dari perguruan yang berbeda, tetapi kita harus merasa satu.”
Para penghuni padepokan itu memang merasa tidak mempunyai pilihan lain. Mereka sudah merasa bersyukur bahwa mereka tidak di seret di belakang kaki kuda menuju ke Lemah Warah dan kemudian diikat di alun-alun. Karena itu, maka telah menyala tekad dihati mereka, bahwa mereka memang harus berjuang untuk mempertahankan padepokan itu.
Karena itulah, maka dihari-hari berikutnya isi padepokan itu justru telah menjadi semakin gigih berlatih. Mereka seakan-akan tidak lagi mengingat waktu. Mereka ingin mempergunakan waktu yang tidak terlalu banyak itu untuk menjangkau kemampuan sebanyak-banyaknya, karena mereka sadar, bahwa yang akan datang tentu kekuatan yang cukup besar bagi padepokan itu.
Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun telah bekerja sejauh dapat mereka lakukan. Mereka berusaha untuk mematangkan setiap kemampuan yang telah dikuasai oleh para penghuni padepokan itu. Namun dalam waktu yang sempit itu, mereka pun berusaha memperkenalkan berbagai macam unsur yang sebelumnya terasa asing. Bukan untuk dipelajari dan dikuasai, tetapi sekedar untuk dikenal, sehingga jika dalam benturan kekerasan kelak mereka bertemu dengan unsur-unsur gerak seperti itu, mereka tidak akan terkejut dan kebingungan. Mereka akan dapat berusaha mencari jalan untuk mengatasinya.
Ternyata usaha mereka tidak sia-sia. Para penghuni padepokan itu menjadi semakin matang untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan buruk yang dapat terjadi. Mereka bukan lagi orang-orang yang putus asa dan kehilangan harga diri. Tetapi mereka adalah para pengawal dari sebuah padepokan yang kemudian benar-benar terasa sebagai milik mereka, sehingga dengan demikian maka mereka harus mempertahankannya dengan segala kemampuan yang ada pada mereka.
Dengan gelora yang menggetarkan jantung, serta darah yang menjadi hangat, para penghuni padepokan itu telah memperbaiki dinding padepokan mereka yang rusak. Memperbaiki pintu gerbang dan beberapa panggungan untuk mengamati keadaan di sekitar padepokan itu. Mereka pun telah mempersiapkan lembing bambu yang akan dapat menghambat pasukan yang dalam waktu dekat tentu akan datang ke padepokanku. Mereka pun telah telah menyediakan anak panah yang tidak terhitung jumlahnya yang terbuat dari bambu beruas panjang dengan bedor besi yang dapat mereka buat sendiri. Di padepokan itu ada beberapa perapian pande besi untuk membuat bermacam-macam kelengkapan. Kelengkapan untuk bekerja di sawah dan pategalan, sampai dengan perlengkapan perang.
Untuk menghadapi berbagai kemungkinan, maka lumbung-lumbung pun telah mereka penuhi. Mereka harus bersiap-siap untuk bertahan dalam waktu yang lama jika padepokan itu kemudian akan di kepung.
Para penghuni padepokan itu telah mempunyai pengalaman yang pahit pada saat pasukan Lemah Warah mengepung mereka. Karena itu, maka mereka harus belajar dari pengalaman itu. Apalagi mereka sama sekali tidak mengetahui kekuatan dari orang-orang yang akan datang menyerang padepokan mereka.
Dalam keadaan yang menegangkan itu, maka penjagaan di dalam padepokan itu telah diatur sebaik-baiknya. Dipanggungan yang telah disiapkan, sekelompok kecil bergantian mengamati keadaan. Mereka tidak boleh lengah barang sekejap pun, sehingga karena itu, maka setiap kelompok yang bertugas harus benar-benar mampu membagi waktu sebaik-baiknya.
Sementara itu, pintu gerbang padepokan itu pun tidak lagi terbuka seperti biasanya. Pintunya yang tertutup telah diselarak dengan sebatang kayu yang cukup besar dan kuat. Sementara itu di sebelah menyebelah, panggungannya pun telah diperbaiki. Di panggungan itu selalu bersiap beberapa orang pemanah yang terbaik, sehingga dalam saat-saat yang tiba-tiba mereka akan dapat menghambat lawan.
Pengalaman para penghuni padepokan itu, digabungkan dengan kemampuan berpikir Mahisa Murti dan Mahisa Pukat, ternyata telah mampu melahirkan jaringan pertahanan yang sangat kuat. Jika lawan itu benar-benar datang, maka mereka akan menjumpai perlawanan yang tidak terbayangkan sebelumnya, karena kedua orang yang pernah datang itu menganggap bahwa kekuatan di padepokan itu sama sekali sudah tidak mempunyai arti apa-apa.
Sebenarnyalah bahwa sekelompok orang dari sebuah perguruan yang hidup seakan-akan tidak menetap telah memutuskan untuk mengambil alih padepokan itu. Ketika pemimpin mereka mendengar peristiwa yang terjadi di padepokan Suriantal, maka mereka telah mengirimkan beberapa orang untuk mengetahui apa yang telah terjadi.
“Kita telah menemukan tempat yang baik tanpa bersusah payah membangunnya,” berkata salah seorang dari pemimpin mereka.
Beberapa orang terpenting dari perguruan yang dikenal sebagai sebuah perguruan yang berpindah-pindah sarang itu, telah mengadakan pembicaraan. Mereka sepakat untuk merubah tata cara hidup mereka.
Kemalasan mereka untuk membuka sebuah padepokan dengan kelengkapannya, tanah persawahan, ladang dan pategalan membuat mereka lebih senang tinggal di goa-goa atau mengusir orang-orang dari padukuhan-padukuhan kecil yang tidak berdaya. Tetapi mereka tidak tinggal terlalu lama. Mereka segera berpindah lagi dari satu tempat ke tempat yang lain.
Namun para pengikut dari perguruan itu, pada umumnya mempunyai keluarga di tempat yang menetap. Di kampung halaman yang ditinggalkannya untuk waktu tidak menentu. Kadang-kadang saja mereka pulang ke rumah orang tua mereka, atau bahkan ada yang mempunyai isteri dan anak, untuk memberikan uang dan barang-barang yang dapat untuk menyambung hidup mereka.
Sesungguhnya, mereka hidup dalam sekelompok perguruan yang tidak menentu. Seperti segerombolan burung-burung liar mereka terbang dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari tempat yang memberikan makanan bagi mereka.
Namun demikian, para pengikut dari perguruan itu adalah orang-orang yang setia dalam kedunguan mereka. Sambil berpindah-pindah tempat, mereka masih saja sempat menempa diri dalam latihan-latihan yang cukup berat.
Kini mereka mendapat kesempatan untuk melakukan satu kerja yang belum pernah mereka lakukan. Mereka tidak akan merampok harta benda, tetapi mereka akan merebut dan menduduki sebuah padepokan yang bagi mereka tentu lebih baik dari sebuah padukuhan kecil. Di padepokan itu terdapat berbagai kelengkapan yang memang mereka perlukan. Bahkan termasuk sumber kehidupan bagi mereka sehari-hari, sehingga apa yang mereka dapatkan dari kerja mereka yang kasar dan liar itu, akan dapat mereka simpan sebagai kekayaan mereka.
Karena itulah, maka ketika para pemimpin mereka mempersiapkan para pengikutnya untuk pergi mengambil padepokan itu dengan kekerasan, maka mereka pun telah bersiap-siap dengan penuh gairah yang menggelora.
“Semula mereka sama sekali tidak berusaha untuk mempertahankannya,” berkata salah seorang yang kembali dari padepokan Suriantal itu, “mereka telah kehilangan kepercayaan diri.”
“Jika demikian maka kita tidak akan bertempur,” berkata seorang di antara para pengikutnya.
“Tetapi agaknya pemimpin padepokan itu telah berubah pendirian. Agaknya selama kami bersiap-siap untuk berangkat ke padepokan itu, ia telah berusaha untuk membangunkan orang-orangnya yang menjadi putus asa dan tidak mempunyai pegangan lagi. Mereka berusaha untuk mendapatkan kepercayaan kepada diri sendiri dengan mengadakan latihan-latihan yang berat. Namun aku yakin, bahwa hati mereka yang telah susut sampai sebiji sawi itu tidak akan mampu bertahan. Jika kita datang menggertaknya, maka mereka akan segera kehilangan lagi kepercayaan diri lagi. Mereka akan menjadi ketakutan dan dengan serta merta mereka akan segera menyerah,” berkata salah seorang dari kedua orang yang telah mengunjungi padepokan Suriantal itu.
Namun yang tidak dikatakannya kepada para pengikutnya, tetapi hanya diketahui oleh kedua orang yang datang ke padepokan itu, adalah tentang batu yang berwarna kehijau-hijauan itu.
Dalam kesempatan terpisah, kedua orang itu sepakat untuk sementara tidak membicarakannya lebih dahulu.
“Jika kita sudah berhasil tinggal di padepokan itu, maka kita tentu akan mendapat banyak kesempatan datang ke tepi hutan untuk mengamati batu itu lebih saksama. Mungkin kita harus memecahkannya atau dengan cara lain,” berkata seorang di antara mereka.
“Biarlah kita tentukan kelak,” jawab kawannya.
Demikianlah, maka para pengikut perguruan itupun telah bersiap-siap seluruhnya. Mereka akan berangkat meninggalkan sarang mereka terakhir di sebuah hutan yang tidak terlalu lebat, namun berbukit-bukit padas. Beberapa buah goa terdapat di bukit-bukit itu, yang dapat mereka pergunakan sebagai sarang mereka.
“Namun bagaimanapun juga kita harus bersiap sepenuhnya,” berkata salah seorang di antara kedua orang pemimpin yang pernah datang ke padepokan Suriantal, “mereka bekas orang-orang dari sebuah perguruan yang besar. Meskipun mereka telah dihancurkan oleh Akuwu Lemah Warah, namun sisa-sisanya, apabila mereka berhasil membangun diri mereka kembali, akan merupakan kekuatan yang harus diperhitungkan pula.”
Tetapi berpegang kepada keterangan sebelumnya, maka orang-orang di bukit-bukit padas itu menganggap bahwa yang akan mereka lakukan bukannya satu pekerjaan yang berat. Mereka akan dengan mudah memecahkan pintu gerbang padepokan, memasukinya dan menghancurkan perlawanan yang sia-sia. Membantai orang-orang yang keras kepala dan kemudian tinggal di sebuah padepokan yang baik dan memberikan kenyamanan bagi mereka.
Dengan mimpi-mimpi yang menyenangkan, maka mereka-pun kemudian telah berangkat ke padepokan Suriantal. Untuk sementara mereka memang tidak membawa kekayaan mereka selain senjata.
Namun sementara itu, orang-orang yang berada di padepokan Suriantal pun telah bersiap pula. Kekuatan mereka dibanding pada saat mereka menghadapi pasukan Akuwu Lemah Warah memang tidak lebih dari sepertiganya, setelah yang lain terbunuh dan melarikan diri. Tetapi yang akan datang menyerang pun tidak sekuat dan sebesar pasukan Lemah Warah.
Meskipun kekuatan mereka jauh susut, namun berdasarkan atas pengalaman mereka, maka orang-orang di padepokan itu dapat membagi tenaga mereka sebaik-baiknya. Mereka tidak menghamburkan tenaga tanpa arti yang hanya akan membuat kelelahan saja, sehingga justru pada saatnya, mereka tidak lagi mempunyai tenaga yang segar untuk melawan.
Dengan demikian, maka mereka tidak lagi dalam kelompok-kelompok yang besar berada di panggungan di belakang dinding padepokan untuk mengamati keadaan. Jika mereka sekelompok petugas berada di panggungan, maka tidak lebih dari dua orang di antara mereka sajalah yang bergantian mengamati keadaan, sedangkan yang lain sempat beristirahat dan tidur di panggungan yang memang dibuat agak besar.
Cara itu ternyata lebih baik dari cara yang telah pernah mereka lakukan dengan kelompok-kelompok yang besar bersama-sama mengawasi keadaan.
Dengan menghemat tenaga, maka mereka dapat menyimpan kekuatan. Jika terpaksa harus dipergunakannya, maka mereka memilih mempergunakan tenaga mereka untuk mengadakan latihan-latihan.
Tetapi Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun kemudian telah membatasi latihan-latihan itu pula, agar mereka tidak kehabisan tenaga justru pada saat diperlukan.
Dalam pada itu, maka orang-orang yang mengingini padepokan itu, semakin lama menjadi dekat pula dengan padepokan Suriantal, sehingga akhirnya, pada satu saat, seorang pengawas di sisi pintu gerbang melihat kehadiran mereka.
Tetapi yang dilihatnya jauh berbeda dengan kehadiran pasukan Akuwu Lemah Warah yang memperlihatkan tanda-tanda kebesaran dari sebuah Pakuwon sehingga kehadiran pasukan Lemah Warah itu dapat membuat tengkuk mereka meremang.
Namun yang datang itu adalah sekelompok orang dalam sebuah iring-iringan yang tidak teratur. Mereka menebar begitu saja dihadapan padepokan Suriantal tanpa terdengar aba-aba, orang-orang itu telah menghambur mencari tempat mereka masing-masing untuk duduk beristirahat.
Kelompok-kelompok kecil dari orang-orang itu, membuat lingkaran-lingkaran pembicaraan. Agaknya mereka memang sedang memperbincangkan padepokan Suriantal yang mereka hadapi.
“Menarik,” desis salah seorang di antara mereka.
“Dindingnya cukup kuat,” desis yang lain.
“Bukan apa-apa,” sahut kawannya, “kita akan memecahkan pintu gerbang dan memasuki padepokan itu dengan penuh kebanggaan atas kebesaran pasukan kita. Pasukan yang sekuat ini tentu belum pernah dilihat oleh orang-orang padepokan yang dungu itu.”
Yang lain tidak menjawab. Namun kemudian mereka telah mendapat perintah, bahwa mereka memang harus beristirahat.
“Utusan kita akan menemui pemimpin padepokan itu. Setelah mereka melihat kekuatan kita, mungkin mereka berubah pendirian, sehingga kita akan memasuki padepokan itu tanpa bertempur. Kita akan mengusir beberapa orang di antara mereka yang kita anggap tidak berbahaya. Tetapi orang-orang yang sudah bersiap-siap menentang kita akan tetap mendapat hukuman yang sepantasnya. Mereka harus mati. Tetapi hal itu akan kita lakukan kelak,” berkata salah seorang di antara para pemimpin mereka.
Dengan demikian, maka orang-orang yang berada di depan padepokan itu memang telah menebar. Agaknya mereka memang mendapat tugas untuk mengawasi seputar padepokan itu, sehingga tidak ada orang yang akan dapat lolos.
Sambil berbaring, duduk-duduk dengan bersandar pepohonan, memeluk lutut dan menguap, mereka menunggu perintah yang bakal datang selanjutnya.
Bahkan banyak di antara mereka yang kemudian jatuh tertidur. Namun ternyata bahwa mereka telah melakukan pembagian pekerjaan cukup baik pula. Sementara pasukan itu beristirahat, beberapa orang telah membuat tungku perapian dan menyiapkan makan dan minum bagi mereka.
Ternyata dalam waktu yang pendek, hampir semua orang di antara mereka telah tertidur kecuali orang-orang yang bekerja di dapur. Bahkan yang kemudian mengawasi keadaan adalah justru orang-orang yang sedang memasak itu.
Namun para pemimpin mereka sama sekali tidak menghiraukannya. Siapapun yang mengawasi keadaan tidak penting, karena para pemimpin mereka memang sudah menduga, bahwa orang-orang padepokan itu pada mulanya akan berusaha untuk mempertahankan padepokan mereka, sehingga mereka tidak akan melarikan diri.
Hanya dengan menakut-nakuti mereka, maka orang-orang di padepokan itu mungkin akan kembali kepada sikapnya semula, meskipun akibatnya bagi mereka akan berbeda.
Selagi orang-orangnya beristirahat, dua orang pemimpin dari perguruan yang datang untuk mengambil alih padepokan itu memang telah memasuki padepokan untuk bertemu sekali lagi dengan orang yang untuk sementara memimpin padepokan itu.
Sekali lagi mereka menjelaskan bahwa mereka memerlukan padepokan itu.
“Kau lihat, betapa kekuatan kami telah berada di seputar padepokan ini,” berkata salah seorang dari kedua orang itu.
“Ya,” jawab pemimpin padepokan itu, “tetapi kami sudah siap pula.”
Tetapi kedua orang itu tertawa. Seorang di antara mereka berkata, “Apa yang telah berhasil kalian siapkan di padepokan yang sudah lumat menjadi debu ini? Jika kami datang, maka kami masih harus membangunnya kembali menjadi sebuah padepokan yang besar dan berwibawa.”
“Ki Sanak,” berkata pemimpin padepokan itu, “ketika kami menerima Ki Sanak beberapa waktu berselang, kami memang sudah bertekad bulat untuk mempertahankan padepokan ini. Tekad itu pun tetap menyala di dalam hati kami sampai hari ini.”
“Jangan mengelabui diri sendiri,” berkata salah seorang dari kedua orang pemimpin perguruan yang datang itu, “aku yakin bahwa ketika kalian melihat pasukan kami datang, maka hati kalian telah kuncup.”
Tetapi pemimpin padepokan itu tersenyum. Katanya, “Kau memang seorang pemimpin perguruan yang senang berkelakar.”
“Apa maksudmu?” bertanya orang itu.
“Ketika kalian datang, ternyata bahwa bayangan kami tentang kalian telah rusak sama sekali,” berkata pemimpin padepokan itu, “kami pernah melihat pasukan Lemah Warah datang mengepung padepokan ini. Kami kagum melihat pasukan itu menempatkan diri. Belum lagi bagaimana setiap prajurit di antara mereka berbuat sesuatu, kami sudah digetarkan oleh kehadiran mereka dalam gelar kebesaran pasukan sebuah Pakuwon. Tanda-tanda kebesaran yang menandai setiap kelompok prajurit membuat hati ini menjadi berdebar-debar,” pemimpin padepokan itu berhenti sejenak. Namun kemudian ia berkata lebih lanjut, “Tetapi ketika kami melihat kalian datang, kemudian orang-orang kalian bertebaran dan berbaring di atas rerumputan kering, maka yang terbayang oleh kami adalah sekelompok orang kelaparan yang menunggu kemurahan hati seorang dermawan yang akan membagikan makan bagi mereka.”
“Gila,” geram kedua orang pemimpin perguruan yang datang itu hampir berbareng. Seorang di antara mereka kemudian berkata, “kau jangan mencoba membesarkan hatimu dengan cara yang tidak wajar. Aku percaya bahwa Akuwu Lemah Warah dapat menunjukkan tanda-tanda kebesaran seperti yang kau katakan. Tetapi tidak lebih dari sekedar rontek dan umbul-umbul. Tetapi bukan ujung senjata yang dapat membelah lambung kalian sebagaimana dibawa oleh orang-orangku.”
Tetapi pemimpin padepokan itu masih saja tersenyum. Katanya, “Kau kira para prajurit Lemah Warah itu hanya membawa rontek dan umbul-umbul serta kelebet?”
Bersambung......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar