*HIJAUNYA LEMBAH. JILID 034-04*
“Namaku Mahisa Ura,” jawab Mahisa Ura itu.
“Kau berasal dari mana dan apakah tujuanmu yang sebenarnya memasuki padepokan ini dengan tingkah yang kasar?” bertanya orang bertubuh tinggi itu pula.
“Pertanyaan yang tidak perlu,” jawab Mahisa Ura, “pemimpinku telah mengatakan segalanya. Dan kau pun harus tahu, bahwa aku adalah salah seorang dari prajurit Lemah Warah.”
Orang bertubuh tinggi itu mengangguk-angguk. Namun ia-pun menggeram, “Baiklah. Aku percaya. Tetapi jangan menyesal jika kau kemudian mati dan tidak seorang pun yang dapat menyebut tentang kau yang sebenarnya lagi.”
“Aku sudah mengatakan yang sebenarnya,” jawab Mahisa Ura, “sekarang, apa maumu? Aku tidak akan bertanya siapa namamu dan dari perguruan mana kau datang sebelum berada di padepokan ini, karena kau tentu akan mengatakan yang tidak sebenarnya sebagaimana kau menganggap demikian pula yang aku lakukan.”
“Baiklah,” berkata orang bertubuh tinggi itu, “kita akan bertempur. Siapakah diantara kita yang akan mati di sini. Kau atau aku.”
Mahisa Ura mengangguk-angguk. Katanya, “Aku tidak datang untuk sekedar mati di sini. Karena itu, aku akan memilih membunuhmu.”
Orang bertubuh tinggi itu menggeram. Kemudian diacungkannya senjatanya, sebuah kapak bermata rangkap sambil berkata, “Baiklah. Marilah kita buktikan, siapakah yang akan mati.”
Mahisa Ura tidak menjawab. Diamatinya senjata lawannya yang tidak banyak dipergunakan orang itu. Namun agaknya orang-orang padepokan itu lebih senang mempergunakan senjata yang khusus.
Sejenak kemudian kapak bermata dua itupun mulai terayun. Mula-mula perlahan saja. Sekedar ancang-ancang. Namun kemudian gerak itupun menjadi semakin cepat.
Tetapi Mahisa Ura memegang pedang di tangannya. Sebelum ia yakin bahwa ia mengalami kesulitan dengan pedangnya dan karena watak senjata lawannya, maka ia menjadi terdesak, maka ia akan bertempur dengan bekal ilmu pedangnya yang memang tinggi. Sebelum ia mendapat tuntunan dari Tatas Lintang yang sebenarnya adalah Akuwu Lemah Warah itu, maka Mahisa Ura memang mempercayakan kemampuannya pada ilmunya dan kepada senjata yang ada padanya. Pisau belati panjang atau sebilah pedang.
Dalam pada itu. ternyata kapak lawannya itupun mulai berdesing ditelinganya. Ke arah manapun kapak itu terayun, maka rasa-rasanya tajamnya siap untuk membelah kulit daging, justru karena kapak itu bermata rangkap.
Mahisa Ura melangkah surut untuk mengambil jarak. Dicobanya untuk mengenali sifat senjata lawannya. Sehingga dengan demikian maka iapun telah mengambil sikap, bagaimana ia harus melawan senjata yang menggetarkan jantung itu.
Sebenarnyalah bahwa Mahisa Ura memiliki ilmu pedang yang tinggi. Meskipun kapak lawannya berdesing dan menyambar ke segenap arah, namun orang bertubuh tinggi itu harus meloncat surut ketika ujung pedang Mahisa Ura hampir saja menyentuh hidungnya.
“Gila,” geram orang bertubuh tinggi itu.
Mahisa Ura tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Iapun meloncat memburu sambil mengacukan pedangnya. Namun lawannya telah sempat memperbaiki kedudukannya. Karena itu, ia tidak lagi meloncat menjauh, tetapi ia bergeser menyamping sambil memukul pedang Mahisa Ura.
Mahisa Ura yang tidak mengenai sasarannya itupun menggeram. Namun lawannya pun tidak dapat mengenai pedangnya, karena dengan cepat Mahisa Ura telah menarik serangannya.
Demikianlah, keduanya pun kemudian telah terlibat dalam pertempuran yang seru. Keduanya memiliki kemampuan yang tinggi serta menguasai senjata mereka masing-masing. Dengan demikian, maka kedua jenis senjata yang berbeda itu telah saling menyambar, berputar dan mematuk dengan dahsyatnya.
Sementara itu, Mahisa Murti yang juga bersenjata pedang masih juga bertempur melawan dua orang yang bersenjata bertangkai panjang. Namun Mahisa Murti yang mampu bergerak sangat cepat itupun berusaha untuk bertempur pada jarak yang dekat, sehingga justru pedangnya mempunyai keuntungan yang lebih besar dari senjata yang bertangkai panjang. Dengan cepat dan tangkas Mahisa Murti seakan-akan selalu melekat pada salah seorang lawannya. Ia mampu mempengaruhi keadaan sehingga seakan-akan lawannya yang seorang justru telah melindunginya dari lawannya yang seorang lagi.
Karena itu. maka kedua orang lawannya itupun kadang-kadang telah mengalami kesulitan. Bahkan seorang diantaranya telah mengumpat. Namun Mahisa Murti yang memiliki kecepatan gerak melampaui orang kebanyakan itu, masih mampu berloncatan dan berusaha bertempur pada jarak yang pendek melawan salah seorang dari keduanya.
Kedua orang itupun terdengar beberapa kali mengumpat. Namun pertempuran itu justru semakin lama menjadi semakin seru. Orang yang bersenjata bertangkai panjang itu berusaha untuk dapat mengambil jarak agar mata senjata mereka yang tajam itu dapat mengoyak tubuh lawannya.
Tetapi ternyata mereka tidak mudah melakukannya. Mahisa Murti yang menyadari sifat senjata lawannya pun telah berusaha untuk menghindarinya.
Bahkan ternyata semakin lama pedang yang jauh lebih pendek dari senjata kedua orang lawannya itu telah mampu membuat keduanya semakin bingung. Mereka justru merasa tangkai senjata mereka yang panjang itu telah mengganggu.
Sebenarnyalah Mahisa Murti memiliki tingkat ilmu yang lebih tinggi dari kedua orang lawannya. Semakin lama kedua orang itupun menjadi semakin bingung dan kehilangan kesempatan. Agaknya justru karena senjata panjang itu bermata tajam, kedua orang itu cenderung untuk mengenai lawannya dengan mata senjata mereka. Sehingga dengan demikian mereka kurang memanfaatkan pangkal senjata mereka atau mempergunakannya sebagai tongkat panjang dari orang-orang bertongkat yang juga berada di padepokan itu. Orang-orang bertongkat itu tidak sekedar mematuk dengan ujung tongkatnya, tetapi mereka juga memukul dengan ayunan dan menyerang dengan pangkal tongkatnya.
Sifat yang berbeda itu agaknya dipahami oleh Mahisa Murti, sehingga ia mampu mengatur cara untuk melawannya. Ketika ia terlibat dalam pertempuran berjarak sepanjang ujung pedangnya, maka ia telah berkisar dengan cepat dan bertempur di arah yang berlawanan dari lawannya yang seorang. Ia selalu berusaha untuk bergeser melingkar, jika lawannya melingkar pula.
Ternyata kecepatan gerak Mahisa Murti mampu memaksakan kedudukan sebagaimana diinginkan. Dengan demikian maka lawannya kadang-kadang memang berada dalam keadaan yang sulit.
Tetapi lawan-lawannya pun adalah orang-orang yang berpengalaman pula. Karena itu, dalam kedudukan yang serba sulit itu, maka orang bersenjata bertangkai panjang itu telah mengambil langkah-langkah yang dianggapnya akan dapat mengatasi cara yang ditempuh oleh Mahisa Murti. Merekapun telah bertempur sambil berloncatan dengan jarak panjang. Dengan demikian, maka mereka kadang-kadang memang mempunyai kesempatan untuk mengambil jarak dan dengan gerak mematuk dengan ujung senjata mereka yang mengerikan.
Namun Mahisa Murti cukup tangkas untuk mengelak dan menangkis dengan cepatnya. Bahkan kemudian seolah-olah ia selalu berhasil menyusup di antara ayunan senjata bertangkai panjang itu dengan mengacukan ujung pedangnya mengarah ke dada.
Keringat telah membasahi seluruh tubuh mereka yang bertempur. Kedua orang bersenjata panjang itupun bagaikan telah menyelam dengan seluruh pakaiannya di dalam air.
Namun demikian, keadaan mereka justru semakin lama menjadi semakin sulit. Ujung pedang Mahisa Murti serasa menjadi semakin dekat dengan kulit mereka, sehingga pada suatu saat, salah seorang dari kedua orang yang bersenjata panjang itu telah berdesah menahan sakit dan kemarahan yang bagaikan meledakkan dadanya.
Adalah sangat menyakitkan hati, bahwa anak muda yang bersenjata pedang itu tiba-tiba saja telah berhasil melukai salah seorang dari lawannya. Ketika lawannya itu justru telah menyerangnya dengan senjatanya yang terjulur lurus ke arah lehernya, maka Mahisa Murti itu telah merendahkan dirinya tanpa bergeser dari tempatnya. Pada saat yang demikian, maka pedangnya telah terjulur lurus dan menyentuh pundak lawannya, justru pada saat senjata lawannya berdesing di atas kepadanya.
Dengan cepat orang yang terluka itu meloncat surut. Mahisa Murti yang berusaha memburunya, harus mengalihkan perhatiannya kepada lawannya yang seorang, yang telah menyerangnya pula.
Mahisa Murti harus meloncat ke samping. Ketika senjata lawannya itu terayun, maka Mahisa Murti telah menangkisnya dengan pedangnya.
Dengan kemampuan ilmu pedang yang tinggi, didorong oleh tenaga cadangannya yang mapan, maka Mahisa Murti telah memutar pedangnya pada benturan di saat ia menangkis serangan lawannya itu.
Senjata lawannya bertangkai panjang itu bagaikan dihisap oleh tenaga yang kuat sekali. Hampir saja senjata itu terlepas dari tangan lawan Mahisa Murti itu. Untunglah, ia mampu berpegang kuat-kuat pada pangkalnya, sementara kawannya yang terluka telah mampu menguasai diri dan sambil menggeram menyerang Mahisa Murti, sehingga ia masih belum sempat berhasil melemparkan senjata lawannya yang seorang.
“Hampir saja,” desis Mahisa Murti, “jika aku mendapat kesempatan sesaat lagi, agaknya aku akan berhasil merenggut senjata itu.”
“Omong kosong,” lawannya berteriak, “kau jangan terlalu merasa dirimu besar dengan kemenangan-kemenangan kecil yang tidak berarti sama sekali itu.”
Mahisa Murti tidak menjawab. Tetapi ia mengambil kesempatan untuk meloncat mendekatkan diri kepada lawannya yang telah terluka dan mengambil tempat dan kedudukan sebagaimana pernah terjadi. Mahisa Murti itu berusaha berputaran berseberangan dengan lawannya yang seorang lagi, sehingga sulit bagi lawannya itu untuk menyerang bersama-sama.
Namun sekali lagi lawannya berusaha pula untuk memecahkan kedudukan yang tidak menguntungkan mereka itu. Dengan tangkas orang bersenjata bertangkai panjang itu berloncatan, sehingga mereka berada dalam satu garis yang sepihak dengan Mahisa Murti.
Tetapi usaha keduanya selalu gagal. Bahkan kecepatan pedang Mahisa Murti yang membingungkan itu sekali lagi telah mematuk lengan lawannya yang seorang, sehingga dengan demikian maka keduanya pun telah terluka
Luka itu telah membuat kedua orang lawannya bertambah marah. Dengan demikian maka pertempuran pun menjadi semakin cepat. Keduanya berusaha untuk dengan cepat menghancurkan anak muda itu. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Kemarahan yang menghentak-hentak itu justru telah membuat pikiran keduanya menjadi kabur. Keduanya lebih banyak menuruti perasaannya yang marah saja, sehingga perhitungan mereka pun menjadi tidak mapan lagi.
Itulah sebabnya, maka yang terjadi kemudian sangat mengejutkan. Ujung pedang Mahisa Murti telah sekali lagi mengoyak lawannya justru di lambung.
“Gila,” teriak orang itu.
Tetapi luka di lambung itu ternyata lebih parah dari lukanya yang terdahulu. Meskipun tidak terlalu dalam, namun darah telah mengalir dengan derasnya. Perasaan pedih terasa menyengat sampai ke tulang.
Dengan demikian maka perlawanannya menjadi jauh susut. Karena itulah, maka kawannya yang seorang harus bertempur tanpa bersandar pada bantuan kawannya. Dengan segenap tenaga ia berusaha untuk melindungi dirinya sendiri dari ujung pedang lawannya yang kadang-kadang membingungkan.
Namun orang itu tidak mampu lari dari kejaran ujung pedang itu. Betapa dahsyatnya senjatanya, namun Mahisa Murti-pun telah mendesaknya sehingga orang itu selalu berusaha mengambil jarak dengan berloncatan surut.
Tetapi usahanya tidak selalu berhasil. Ujung pedang itu telah menyentuhnya pula sehingga luka pun telah tergores di dadanya.
Tetapi luka itu hanyalah luka kecil meskipun panjang. Karena itu orang padepokan itupun masih berusaha untuk bertempur terus. Namun kawannya yang terkoyak lambungnya, ternyata sudah tidak mampu lagi berbuat banyak. Bahkan kemudian iapun telah terduduk dengan lemahnya bersandar sebatang pohon.
Namun ketika Mahisa Murti sudah siap mengakhiri pertempuran, ternyata Mahisa Murti dikejutkan oleh kehadiran seorang yang bertubuh tegap berjambang dan berjanggut panjang yang langsung menyambar Mahisa Murti dengan senjatanya yang juga bertangkai panjang. Bukan canggah dan tombak berkait, tetapi sebuah trisula berujung tiga.
Mahisa Murti lah yang kemudian harus berloncatan mundur. Ayunan senjata itu terasa agak berbeda dengan kedua senjata yang terdahulu. Karena itu, maka menurut penilaian Mahisa Murti, orang itu tentu memiliki ilmu melampaui kawan-kawannya.
Karena itu, justru pada saat yang gawat itu, Mahisa Murti masih sempat membuat perhitungan. Dengan satu gerakan yang sulit diikuti dengan mata telanjang, maka iapun telah meloncat menyerang lawannya yang telah dilukainya. Memukul senjatanya sehingga pertahanan lawannya itu terbuka. Sebelum ia menyadari apa yang terjadi, justru karena kehadiran kawannya yang dianggapnya memiliki ilmu yang lebih tinggi itu, maka senjatanya bagaikan disibakkan. Ujung pedang lawannya itu menyusup dengan cepat dan sebelum orang itu sempat mengelak, maka ujung pedang itu telah mematuknya.
Orang itu masih berusaha mengelak. Namun ia tidak berhasil menghindari ujung pedang itu sepenuhnya. Meskipun ujung pedang itu tidak menghunjam ke dadanya, tetapi ujung pedang itu telah menembus pundaknya.
Orang itu sempat berteriak dan mengumpat kasar. Namun Mahisa Murti telah memperhitungkan segala sesuatunya. Tetap seperti yang diduganya, maka pada saat itu, serangan lawannya yang baru itu telah menyambarnya.
Untunglah bahwa Mahisa Murti telah siap menghadapinya. Ujung trisula bertangkai panjang itu memang hampir saja menyambar punggungnya. Untunglah bahwa Mahisa Murti sempat justru menjatuhkan irinya menelungkup. Namun demikian ujung trisula itu berdesing, maka iapun telah siap melenting berdiri tegak.
Dengan demikian kedua orang itu telah berhadapan lagi dengan senjata siap di tangan.
Namun dalam pada itu, orang yang telah dilukainya di pundaknya itu telah kehilangan tenaganya. Tangannya bagaikan menjadi lumpuh sementara darah mengalir dengan derasnya dari lukanya itu.
Karena itu, maka ia tidak lagi mampu untuk membantu pertempuran yang kemudian terjadi antara Mahisa Murti dengan orang bersenjata trisula itu.
Ternyata bahwa orang yang mempergunakan trisula bertangkai panjang itu memang seorang yang memiliki ilmu yang tinggi. Meskipun ia hanya seorang diri menghadapi Mahisa Murti, namun putaran trisulanya terasa menimbulkan pusaran angin yang menyentuh wajah Mahisa Murti.
Dengan demikian Mahisa Murti dapat menilai betapa kuatnya tenaga orang itu.
Karena itu, maka Mahisa Murti harus berhati-hati. Agaknya orang itu bukan saja orang yang bertenaga sangat besar. Namun agaknya orang bertrisula itu memang seorang yang berilmu tinggi.
Keduanya pun kemudian bertempur semakin sengit. Keduanya berloncatan semakin cepat dengan putaran senjata semakin cepat pula.
Sementara itu. Mahisa Pukat ternyata telah kehilangan lawannya pula, sehingga untuk sementara ia telah melibatkan diri dalam benturan antara dua kelompok prajurit dan penghuni padepokan itu. Kehadirannya ternyata telah banyak mempengaruhi keadaan, sehingga kelompok dari padepokan itupun telah terdesak.
Di bagian lain. Tatas Lintang masih berdiri tegak mengamati seluruh medan. Sekali-sekali ia memang terlibat langsung dalam pertempuran, namun kemudian ia telah membebaskan diri untuk dapat bergeser ke tempat lain.
Dalam pada itu. Tatas Lintang menyadari, bahwa ada beberapa orang yang memiliki ilmu yang tinggi. Karena itu, ia harus berhati-hati. Karena ia orang tertua di antara pihak pasukan Lemah Warah, maka ia harus berusaha untuk dapat berhadapan dengan orang yang memiliki ilmu tertinggi di padepokan itu.
Namun agaknya ia belum menemukannya. Karena itu, maka ia masih selalu melepaskan lawannya yang lain dan kemudian bergeser dari medan yang satu ke medan yang lain antar kelompok-kelompok. Di regol padepokan para pemimpin padepokan itu nampaknya sudah berkumpul. Namun ketika mereka menyadari bahwa pasukan Lemah Warah masuk ke padepokan itu dari segala arah, maka para pemimpin itu telah menyebar dan berada di seluruh sudut padepokan itu.
“Mudah-mudahan Mahisa Murti dan Mahisa Pukat pun berhasil menemukan mereka,” berkata Tatas Lintang di dalam hatinya. Meskipun keduanya masih sangat muda, tetapi Tatas Lintang percaya, bahwa keduanya akan dapat mengatasi kesulitan. Bagi Tatas Lintang yang agak mendebarkan adalah Mahisa Ura. Namun agaknya iapun meningkatkan ilmunya sehingga meskipun padepokan itu kemudian menjadi kancah peperangan yang mendebarkan, namun agaknya ia akan dapat berusaha untuk menjaga dirinya sendiri.
Untuk beberapa saat Tatas Lintang masih menyusuri arena yang sibuk. Sekali-sekali iapun harus mengelakkan serangan. Namun prajurit Lemah Warah yang melihatnya segera mengambil alih mereka yang telah menyerang Tatas Lintang itu.
Namun dalam pada itu, di bagian lain dari padepokan itu, seorang yang bertongkat panjang dan di pangkalnya terdapat batu berwarna kehijauan, telah menyapu lawan-lawannya tanpa ampun. Beberapa orang prajurit terpilih harus bersama-sama menghadapinya untuk membatasi geraknya. Namun tidak seorang pun di antara para prajurit yang mampu menahannya untuk tidak berkeliaran.
Di bagian lain, seorang yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dan bahkan menyusup ke dalam diri seseorang serta merampas pribadinya, tidak dapat terlalu banyak memanfaatkan ilmunya. Lawan terlalu banyak untuk dipergunakannya satu demi satu. Bahkan seandainya ia ingin mengurangi jumlah lawannya dengan cara itu, maka ia memerlukan waktu yang terlalu lama.
Karena itu, maka ia merasa dapat mempergunakan cara lain yang lebih baik. Dengan langsung turun ke medan maka ia akan dapat membunuh lawan-lawannya dengan lebih cepat dan langsung. Dengan kemampuannya mempermainkan senjata serta tenaga cadangan yang mampu membuat kekuatannya berlipat ganda, telah membuatnya menjadi orang yang menggemparkan di medan pertempuran itu.
Beberapa orang prajurit Lemah Warah telah menjadi korbannya. Namun para prajurit yang memiliki pengalaman cukup luas itu telah berusaha melawannya dengan satu kelompok kecil orang-orang pilihan.
Bagaimanapun juga, maka orang yang berilmu tinggi itu merasa geraknya terhambat oleh prajurit-prajurit Lemah Warah yang melingkarinya, karena ujung-ujung senjata mereka akan dapat menggoresnya.
Di bagian lain, seorang yang berwajah gelap ternyata tidak sempat mempergunakan ilmu gendamnya untuk menguasai binatang apapun juga untuk melawan para prajurit Lemah Warah. Iapun tidak sempat mempergunakan ilmunya untuk mengaburkan nalar lawan-lawannya karena ia langsung harus bertempur dengan senjatanya. Meskipun ia mencoba berusaha tetapi kesempatannya tidak pernah didapatkannya dalam hiruk pikuk pertempuran itu.
Tetapi orang itu tidak ingin menyerah. Ia mempunyai sekotak ular yang akan dapat dikuasainya dengan ilmunya dan menaburkannya ke medan. Bisa ular itu akan dapat membunuh para prajurit Lemah Warah tanpa ampun, sehingga dengan demikian, maka mereka pun akan segera dapat dihancurkan.
Karena itu, maka orang itupun telah berusaha untuk melepaskan diri dari pertempuran yang ribut. Ketika beberapa orang padepokan itu hadir pula di arena, maka ia merasa mendapat kesempatan untuk meninggalkan arena itu.
Dengan diam-diam ia telah menyusup di antara barak-barak yang ada di padepokan itu dan menuju ke barak yang dipergunakannya untuk menyimpan ular-ularnya.
Dengan cepat ia menyelinap memasuki pintu baraknya dan langsung menuju ke biliknya.
Orang itu menarik nafas dalam-dalam ketika dilihatnya kotak kayu yang cukup besar yang dipergunakannya untuk menyimpan ular-ularnya masih berada di tempatnya. Dengan serta merta iapun telah meloncat mendekat dan kemudian duduk di depan peti yang penuh berisi ular itu. Ia berniat untuk mengetrapkan ilmunya dan menggerakkan ular-ularnya agar memasuki medan dan membunuh para prajurit Lemah Warah. Dengan ilmunya ia akan mempengaruhi ular-ularnya untuk mengetahui yang manakah prajurit Lemah Warah yang harus dibinasakan.
Namun orang itu terkejut ketika ia mendengar desir lembut ke arah pintu biliknya. Pendengarannya yang tajam segera dapat mengenal bahwa suara itu tentu suara langkah kaki seseorang. Sehingga karena itu, iapun menjadi sangat berhati-hati.
Sebenarnyalah langkah itu memang menuju ke pintu biliknya yang ternyata masih terbuka. Tetapi orang itu tidak mempunyai kesempatan untuk menutupnya, karena tiba-tiba saja seseorang telah berdiri di depan pintu biliknya.
Orang itu menjadi tegang, sementara orang yang berdiri di depan pintu itupun bersiap pula menghadapi segala kemungkinan.
“Setan,” geram orang itu yang melihat salah seorang dari tiga orang yang disebut kemanakan Tatas Lintang telah mengikutinya.
“Kenapa kau bersembunyi?” bertanya Mahisa Pukat yang melihat orang itu menyelinap dan kemudian ia memang mengikutinya.
Orang itu termenung sejenak. Namun perlahan-lahan ia telah membuka tutup kotaknya. Tanpa dilihat oleh Mahisa Pukat tangannya telah meraih seekor ular dari kotak itu.
“Kenapa kau bersembunyi? “ sekali lagi Mahisa Pukat bertanya.
Tetapi ternyata orang itu tidak menjawab. Yang dilakukannya adalah melempar Mahisa Pukat dengan ular yang dapat diraihnya tanpa memilih. Ternyata ular itu adalah ular bandotan yang meskipun tidak begitu besar, tetapi patukannya akan dapat membunuh seseorang dalam waktu pendek.
Mahisa Pukat memang terkejut. Secara naluriah ia telah bersiap untuk menghindar.
Namun ketika ia melihat seekor ular yang dilemparkan kepadanya, maka ia telah mengurungkan niatnya, ia tetap saja berdiri di muka pintu dan membiarkan ular itu mengenainya dan langsung melilit di tangannya yang memang berusaha untuk menangkap ular itu.
Ular itu memang telah mematuknya dan membelitnya dengan kuat.
Untuk sesaat Mahisa Pukat tidak bergerak. Namun kemudian tangannya yang lain telah mengurai ular itu, memijit kepalanya sehingga gigitannya terlepas. Kemudian dengan sekuat tenaga ular itu dibantingnya ke tanah sehingga mati seketika.
Orang yang melemparkan ular itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat ularnya telah menggigit orang yang berdiri di muka pintu itu.
Namun ternyata orang yang berdiri di muka pintu itu sama sekali tidak mengalami akibat dari gigitan ularnya. Bahkan Mahisa Pukat itu telah melangkah perlahan-lahan mendekatinya.
“Gila,” geram orang itu. Ia pun kemudian menyadari bahwa Tatas Lintang dan ketiga orang yang diakunya sebagai kemanakannya itu sama sekali tidak dapat terpengaruh oleh racun dan bisa. Beberapa kali hal itu telah terjadi dan dialami oleh para penghuni padepokan itu dan mereka pun telah pernah saling membicarakannya.
Karena itu. maka orang itu tidak akan dapat mempergunakan ular-ularnya untuk melawan orang itu. Iapun belum sempat pula mempengaruhi ular-ular itu dengan ilmunya agar ular-ular itu menyerang para prajurit Lemah Warah.
Dengan demikian, maka ia tidak dapat berbuat lain kecuali menghadapi Mahisa Pukat tanpa mempergunakan ular-ularnya itu dan karena itu. maka ia telah menutup kotaknya baik-baik dan berkata kepada diri sendiri, “Aku harus menghancurkannya dengan cepat, agar aku sempat mempergunakan ular-ular itu. Jika aku terlambat, maka keadaan akan menjadi semakin sulit bagi orang-orang di padepokan ini.”
Karena itu ketika Mahisa Pukat melangkah mendekatinya, maka orang itupun telah melangkah pula maju.
“Ki Sanak,” berkata orang itu, “aku tahu siapa kau dan aku tahu untuk apa kau mengikuti aku. Karena itu, marilah, kita akan keluar dari ruang sempit ini. Kita akan mengukur kemampuan kita tanpa terganggu oleh isi bilik ini.”
Mahisa Pukat termangu-mangu. Namun iapun kemudian berkata, “Baiklah. Marilah kita keluar.”
Orang itu tertawa. Katanya, “Kau terlalu berhati-hati dan berprasangka. Jangan menduga buruk terhadap seseorang. Kau kira aku telah menjebakmu dan akan menyerangmu dari belakang pada saat kau keluar dari bilik ini?”
Mahisa Pukat termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab, “Satu hal yang mungkin sekali terjadi. Baru saja kau menyerangku dengan curang. Tanpa peringatan apapun juga kau telah melemparkan seekor ular untuk menyerangku. Kau kira serangan yang demikian tidak sama nilainya dengan menyerang punggung?”
Orang itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Marilah kita keluar.”
Orang itulah yang kemudian berjalan ke arah pintu dan mendahului Mahisa Pukat keluar dari bilik itu dan seterusnya keluar dari barak itu pula.
Di halaman orang itu berhenti langsung bersiap menghadapi Mahisa Pukat yang telah keluar dari barak itu pula.
Mahisa Pukat terkejut melihat sikap orang itu. Kesiagaan orang itu agak mencurigakan. Orang itu tidak berdiri tegak dengan tangan yang siap mengayunkan senjata, atau memiringkan tubuhnya sedikit pada kaki yang agak merendah, atau cara-cara lain, tetapi orang itu justru berdiri dengan tangan bersilang di dada.
Sementara itu, terasa angin yang bagaikan berhembus ke arah wajah Mahisa Pukat. Perlahan-lahan. Namun terasa satu pengaruh yang mulai mencengkam.
“Gila,” geram Mahisa Pukat. Ia mulai menyadari apa yang sedang dilakukan oleh orang itu. Agaknya orang itu telah mengetrapkan ilmu gendamnya. Tidak untuk mempengaruhi seekor atau dua ekor harimau atau beberapa ekor orang hutan atau ular berbisa, tetapi orang itu mencoba mengetrapkan ilmunya pada dirinya.
Mahisa Pukat benar-benar tersinggung. Ia pernah melihat salah seorang yang tidak dikenal yang menurut dugaannya adalah orang dari padepokan itu pula, telah mampu menggetarkan udara dan bagaikan angin pusaran menyusup ke dalam tubuh Mahisa Ura yang kepribadiannya paling lemah di antara mereka berempat, kemudian mempergunakan tubuh Mahisa Ura untuk bertempur melawannya bertiga. Namun kini ternyata lawannya itu telah mempersamakannya dengan derajad seekor binatang untuk dapat dipengaruhi dengan ilmu gendamnya.
Namun ternyata bahwa pengaruh itu memang dirasakannya meskipun tidak mampu mencengkamnya dan menguasainya.
Tetapi kemarahan Mahisa Pukat tidak dapat dikendalikannya. Karena itu, maka tiba-tiba saja ia menjulurkan tangannya dengan kedua telapak tangannya menghadap ke depan.
Seleret sinar seakan-akan telah meluncur dari telapak tangannya itu, langsung menyambar dua langkah dari tempat orang yang diduga sedang mengetrapkan ilmu gendamnya itu.
Tanah yang tersentuh seleret sinar itu bagaikan meledak.
Orang itu memang terkejut. Dengan serta merta iapun telah terloncat surut beberapa langkah. Wajahnya menjadi merah membara oleh kemarahan yang menghentak di dadanya.
“Kau sombong sekali,” geram orang itu, “ternyata kau-pun licik sekali. Kau menyerang aku dengan tiba-tiba tanpa memberikan peringatan lebih dahulu.”
“Gila,” geram Mahisa Pukat, “jika aku licik seperti kau, maka aku tidak akan memberimu peringatan. Aku akan langsung menyerang kepalamu sehingga kepalamu akan pecah karenanya.”
“Persetan,” orang itu hampir berteriak, “kenapa tidak kau lakukan?”
“Sudah aku katakan. Aku tidak selicik kau,” jawab Mahisa Pukat, “kita akan berhadapan sebagai laki-laki, meskipun kau sudah dua kali menyerangku tanpa peringatan. Bukan aku yang melakukannya, tetapi justru kau. Kau telah melemparkan ular itu dan yang kedua kau telah menyerangku dengan licik, bahkan menghinaku pula. Kau anggap aku seekor kerbau dungu yang akan kau jerat dengan ilmu gendammu he? Kau telah merendahkan martabat manusiaku di samping kecuranganmu itu.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba saja ia telah tertawa, “Jadi kau merasakan pengaruh ilmuku. Jika demikian maka kau memang mempunyai martabat yang terlalu rendah sebagai manusia. Tidak seorang pun yang dapat dipengaruhi oleh ilmu gendam jika pribadinya cukup bernilai dalam tataran martabat manusia wajar. Jika kau merasakan pengaruhnya, maka nilai martabat manusiamu berada di bawah tataran martabat manusia sewajarnya.”
Tetapi Mahisa Pukat justru berusaha untuk menguasai dirinya. Ia sadar, bahwa lawannya telah membuatnya marah, sehingga ia kehilangan penalarannya. Karena itu, Mahisa Pukat itu justru tertawa. Katanya, “Ceriteramu memang menarik. Mungkin kau benar, bahwa martabatku tidak pada tataran martabat manusia seutuhnya. Tetapi itu tidak apa. Kita akan membuktikan, apakah martabatmu lebih rendah atau lebih tinggi dari martabatku.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Namun iapun tersenyum “ Syukurlah jika kau menyadarinya. Dengan demikian maka kau tidak akan menyesali apa yang dapat terjadi atasmu nanti.”
“Tidak Ki Sanak,” berkata Mahisa Pukat, “aku tidak akan menyesali apapun juga yang mungkin terjadi atas diriku. Di sekitar barak ini pertempuran menjadi semakin seru. Korban akan jatuh di kedua belah pihak. Dan kita pun tidak akan luput dari paugeran perang. Salah seorang di antara kita akan mati, kecuali jika kau menyerah, karena kami tengah mengemban perintah Sri Maharaja di Kediri.”
“Kaulah yang kini menghinaku. Kau sangka bahwa kami mengenal menyerang menghadapi siapapun juga?” jawab orang itu.
“Jika demikian bersiaplah untuk mati.” jawab Mahisa Pukat, “aku tidak akan membiarkan kau memberikan perlawanan terlalu lama. Aku dapat membunuhmu saat ini juga.”
“Jangan terlalu sombong anak muda.” jawab orang itu.
Mahisa Pukat tidak menjawab. Namun iapun telah melangkah mendekat. Pedangnya yang telah digantungkannya di lambungnya telah berada di tangannya kembali. Bahkan mulai bergetar dan teracu ke arah lawannya. Sementara iapun melangkah maju perlahan-lahan.
“Kau telah menghina aku lagi,” geram orang itu, “kenapa kau tidak menyerangku dengan ilmumu yang dapat meledakkan tanah tempat aku berpijak.”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar