*HIJAUNYA LEMBAH : JILID-035-01*
“Sama saja,” jawab Mahisa Pukat, “yang penting kau akan mati.”
Orang itu tertawa. Namun iapun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Bahkan iapun telah mencabut kerisnya yang besar yang tergantung di punggungnya.
“Aku tidak biasa mempergunakannya,” berkata orang itu, “tetapi karena kau bersenjata pedang, maka aku akan melawanmu dengan kerisku ini. Keris yang barangkali tidak begitu baik. Tetapi cukup mempunyai naluri yang disegani oleh setiap orang yang berani melawan aku.”
“Aku ternyata terlepas dari naluri itu,” jawab Mahisa Pukat sambil melangkah semakin dekat, “aku sama sekali tidak merasakan pengaruhnya. Karena itu kerismu itu lebih jelek dari ilmu gendammu yang buruk itu.”
Orang itu menggeram. Namun iapun kemudian dengan tiba-tiba saja telah meloncat menyerang. Kerisnya yang besar itu terayun mendatar langsung menebas ke arah leher Mahisa Pukat.
Namun Mahisa Pukat sudah cukup bersiaga. Dengan tangkas ia bergeser. Namun pedangnyalah yang kemudian terjulur mematuk dada.
Tetapi serangan Mahisa Pukat itupun tidak berhasil. Lawannya pun dengan cepat menghindar, bahkan orang itu telah meloncat pula menyerang.
Demikianlah keduanya telah terlibat ke dalam pertempuran yang sengit. Keduanya ternyata mampu mempergunakan senjata masing-masing dengan baik. Karena itulah maka kedua senjata itu berputaran bagaikan gumpalan-gumpalan awan di seputar tubuh masing-masing. Pedang Mahisa Pukat yang berputar dengan cepat sekali, telah melindungi tubuhnya dengan gumpalan asap yang berwarna putih kebiru-biruan. Sementara itu putaran keris lawannya telah menjadi perisai di seputar dirinya dengan kabut yang berwarna kehitam-hitaman.
Dalam pertempuran itu, sekali-sekali kedua senjata itu memang bersentuhan, sehingga menimbulkan percikan bunga api yang berloncatan.
Lawan Mahisa Pukat itu mengumpat di dalam hati. Ternyata anak muda itu memang memiliki kelebihan. Pada awal pertemuan mereka, anak muda itu telah melontarkan serangan yang mengejutkan, sehingga tanah tempat mereka berpijak itu dapat meledak. Untunglah serangan itu tidak langsung ditujukan kepadanya, tetapi justru di hadapannya.
“Tetapi ia tidak akan mampu melakukannya lagi dalam pertempuran berjarak pendek ini,” berkata lawan Mahisa Pukat itu di dalam hati, “anak itu tidak akan sempat barang sekejap pun untuk membangunkan ilmunya itu.”
Sebenarnyalah, Mahisa Pukat akan mengalami kesulitan jika ia masih saja terlibat dalam pertempuran yang seakan-akan tidak berjarak itu.
Tetapi Mahisa Pukat memang belum memerlukannya. Ia memang berusaha untuk dapat menyelesaikan lawannya itu tanpa mempergunakan ilmunya yang disadapnya dari Tatas Lintang yang ternyata adalah Akuwu dari Lemah Warah.
Yang terjadi kemudian adalah pertempuran yang sengit dengan mengandalkan ilmu masing-masing dalam mempergunakan senjata. Pedang Mahisa Pukat yang berputar itu sekali-sekali telah terayun mendatar. Namun kemudian mematuk dengan cepat ke arah dada.
Tetapi setiap kali lawannya mampu mengelak. Bahkan kerisnya yang besar itulah yang kemudian dengan garangnya bagaikan menerkam lawannya. Ujungnya yang berwarna kehitaman itu nampak betapa mendebarkan.
Namun Mahisa Pukat cukup tangkas menghadapi keris itu. Pada saat-saat yang gawat, Mahisa Pukat masih selalu dapat mengatasinya dengan kecepatan gerak dan kemampuannya bermain pedang.
Dengan demikian maka keduanya yang bertempur terpisah dari lingkungan pertempuran yang lain itu, seakan-akan memang telah disediakan waktu dan tempat yang tidak terbatas.
Keduanya berloncatan saling menyerang dengan langkah-langkah yang panjang. Ayunan pedang Mahisa Pukat dan tebasan ujung keris lawannya, telah mendorong keduanya bergeser sedikit demi sedikit dari tempat semula.
Namun keduanya masih tetap bertempur di antara barak-barak di padepokan itu. Desak mendesak, sekali-sekali berloncatan surut untuk mengambil jarak.
Semakin lama keduanya pun telah meningkatkan ilmu mereka sampai ke tataran tertinggi. Pedang dan keris di tangan itu berputar semakin cepat. Menebas, terayun mendatar, mematuk dan sekali-sekali terdengar benturan yang kuat.
Kecuali memercikkan bunga api di udara, maka dalam benturan itu keduanya seolah-olah mampu saling menjajagi. Namun semakin sering benturan itu terjadi, maka tangan mereka-pun semakin terasa sakitnya.
Namun kemudaan Mahisa Pukat agaknya memberikan keuntungan kepadanya. Darahnya yang panas dan tekad di dalam dadanya yang menyala, membuatnya menjadi semakin garang. Keyakinannya dalam mengemban tugas serta kesadaran pengabdiannya telah membuat kekuatannya bagaikan berlipat. Daya tahan tubuhnya pun seolah-olah menjadi tanpa batas.
Betapapun juga, Mahisa Pukat memiliki bekal yang cukup dengan menempa dirinya untuk waktu yang lama di bawah bimbingan orang-orang berilmu sangat tinggi.
Dengan demikian maka Mahisa Pukat pun telah mengerahkan segenap kemampuannya karena ia ingin menyelesaikan pertempuran itu lebih cepat.
Hentakan kekuatan dan kemampuan Mahisa Pukat itu telah membuat lawannya mulai terdesak. Darah Mahisa Pukat yang mendidih oleh kesadaran pengabdiannya benar-benar menjadi dorongan yang luar biasa sehingga tenaga cadangan di dalam dirinya yang dialirkan lewat ilmu pedangnya menjadi seakan-akan berlipat.
Lawan Mahisa Pukat itu menjadi heran. Kekuatan anak muda itu semakin lama tidak menjadi semakin susut. Tetapi justru semakin berlipat. Sedikit demi sedikit, tetapi pasti, lawan Mahisa Pukat itu merasa semakin terdesak. Kemampuannya mempermainkan kerisnya terasa semakin lamban dibandingkan dengan putaran pedang Mahisa Pukat.
Karena itu, lawan Mahisa Pukat itu tidak mempunyai cara lain untuk mengatasi lawannya kecuali dengan mempergunakan kemampuannya yang jarang sekali dipergunakan, jika tidak terpaksa sebagaimana dialaminya pada waktu itu. Jika ia tidak mempergunakannya, maka kemungkinan yang paling buruk akan dapat terjadi atasnya. Mungkin sekali ujung pedang anak muda itu akan menembus dada dan membelah jantungnya, sehingga semua rencana yang telah disusun di padepokan itu akan hancur berantakan.
Sejenak pertempuran itu masih berlangsung terus. Lawan Mahisa Pukat itu semakin terdesak. Sehingga orang itu akhirnya tidak lagi dapat berbuat lain.
Pada saat ia terdorong mundur, selagi ujung pedang Mahisa Pukat hampir menyentuh dadanya, maka orang itu telah mengetrapkan ilmunya yang jarang dipergunakannya. Mahisa Pukat yang mendesaknya, memang tidak mau melepaskannya lagi. Setiap kali lawannya meloncat surut, Mahisa Pukat itu selalu memburunya.
Namun ketika Mahisa Pukat merasa yakin, bahwa lawannya itu tidak akan mampu menghindar lagi, serta pada saat ujung pedangnya mematuk dengan satu keyakinan akan menyelesaikan pertempuran itu, maka tiba-tiba saja lawannya telah lenyap dari pandangan matanya.
Mahisa Pukat menjadi bingung sejenak. Namun iapun segera meloncat justru ke depan, dan dengan tangkas berbalik. Sebenarnyalah lawannya telah berada beberapa langkah dari padanya, siap untuk menyerangnya.
Mahisa Pukat memang menjadi berdebar-debar. Namun iapun segera menyadari bahwa lawannya memiliki ilmu panglimunan. Namun ia masih belum tahu, dari jenis yang manakah ilmu yang dimiliki oleh lawannya itu. Apakah ilmu itu sempurna sehingga lawannya itu benar-benar dapat menghilang dan bertindak dalam ketiadaan menurut pengamatan mata wadag. Namun mungkin ilmu yang dimilikinya itu masih dalam jenis yang wungkul. Sehingga lawannya itu hanya memiliki sebagian unsur dari jenis ilmu panglimunan.
Namun kenyataan tentang lawannya itu memang membuat Mahisa Pukat menjadi berdebar-debar. Ia akan mengalami pertempuran yang berat jika lawannya memiliki ilmu Panglimunan yang sempurna. Sehingga dengan demikian ia tidak akan dapat mempergunakan mata wadagnya untuk mengikuti tata gerak lawannya.
Sejenak kemudian terdengar lawannya itu justru tertawa. Pada saat Mahisa Pukat siap menunggunya, orang itu justru berkata lantang, “Jangan cemas anak muda. Mungkin memang sudah menjadi nasibmu, bahwa kau akan mengalami kematian yang pahit. Kau akan bertempur tanpa mengetahui apa yang dapat kau perbuat.”
Mahisa Pukat tidak segera menjawab. Namun ia ingin membiarkan lawannya itu membual, sehingga ia sempat untuk menemukan cara yang lebih baik untuk melawannya.
Dalam pada itu orang itupun berkata pula, “Bersiaplah untuk mati. Sebentar lagi, aku akan hilang dari pandangan matamu. Tiba-tiba saja ujung kerisku sudah menggores di kulitmu. Sebuah goresan kecil akan dapat membunuh seseorang. Tetapi aku tahu, bahwa kau tawar akan racun dan segala macam bisa, sehingga dengan demikian, maka racun kerisku tidak akan membunuhmu. Tetapi pada suatu saat kerisku akan menghunjam ke perutmu.”
Mahisa Pukat berusaha untuk tetap menguasai perasaannya. Dengan nada rendah iapun berkata, “Satu permainan yang buruk. Marilah kita lihat, apakah benar-benar kau dapat menghindari tatapan mata wadagku.”
Orang itu tertawa. Katanya, “Bukankah sudah terbukti bahwa kau merasa kehilangan lawanmu?”
“Hanya karena tiba-tiba saja terjadi. Tetapi untuk selanjutnya kau tidak akan dapat berbuat seperti itu lagi,” berkata Mahisa Pukat.
Orang itu masih tertawa. Namun kemudian iapun telah menggerakkan kerisnya yang besar. Dengan tangkasnya ia meloncat menyerang Mahisa Pukat.
Mahisa Pukat sempat menghindar. Tetapi ia berusaha untuk tetap berdiri dekat dengan dinding barak. Ia akan melihat, apakah lawannya dapat melenyapkan diri dan menyerangnya dalam keadaannya itu.
Sejenak mereka bertempur. Namun seperti yang sudah terjadi, maka Mahisa Pukat segera dapat mengatasi kemampuan lawannya. Namun Mahisa Pukat tidak berusaha untuk mendesaknya. Ia justru lebih banyak bertahan meskipun kemampuannya berada di atas kemampuan lawannya pada tataran tertinggi ilmu pedangnya.
Lawannya memang memancing Mahisa Pukat untuk memburunya. Tetapi Mahisa Pukat berusaha untuk tetap di tempatnya.
Lawannya yang merasa bahwa ia tidak akan mampu berbuat banyak dengan kerisnya, tiba-tiba saja telah berusaha membuat lawannya kebingungan. Dengan serta merta, maka iapun telah bergeser surut. Namun tiba-tiba saja iapun telah lenyap.
Mahisa Pukat justru bergeser surut melekat dinding barak di belakangnya. Dengan hati-hati ia bersiap untuk menghadapi ilmu lawannya yang menyulitkan itu.
Mahisa Pukat memang tidak perlu menunggu terlalu lama. Ketajaman pendengarannya segera memberitahukan kepadanya, bahwa lawannya berdiri di sebelah kirinya. Karena itulah, maka Mahisa Pukat pun segera memusatkan perhatiannya ke arah lawannya.
Sebenarnyalah tiba-tiba saja lawannya telah menjulurkan kerisnya. Namun dengan tangkas Mahisa Pukat berhasil mempergunakan ilmu pedangnya untuk menangkis serangan lawannya.
Ketika kemudian terjadi pula hal seperti itu, sekejap dari saat lenyapnya tubuh lawannya, maka ia sudah nampak lagi berdiri di sebelah lain dengan keris teracu. Kadang-kadang lawannya itu dengan cepat langsung menyerangnya. Namun kadang-kadang ia masih menunggu.
Dengan demikian, maka Mahisa Pukat berhasil mengenali jenis ilmunya, ia tidak perlu memusatkan segenap nalar budinya untuk mengetahui di mana lawannya berada jika lawannya mampu mempergunakan ilmu panglimunan dengan sempurna. Namun dengan pengamatan nalar dan ketajaman penglihatannya, Mahisa Pukat dapat memperhitungkan, ke mana lawannya akan muncul, karena menurut uraian Mahisa Pukat atas pengenalannya terhadap ilmu lawannya itu adalah, pada saat lawannya itu lenyap dari tangkapan mata wadagnya, ia hanya mempunyai kesempatan untuk sekedar meloncat dari tempatnya ke tempat yang lain.
Namun demikian jika lawannya itu mampu memanfaatkannya dengan baik maka Mahisa Pukat benar- benar akan kebingungan.
Tetapi memang jarang sekali seseorang yang mampu memiliki ilmu panglimunan yang sempurna, sehingga ia benar-benar dapat melenyapkan diri untuk waktu yang tidak terbatas dan berbuat sesuatu dengan sentuhan wadagnya dengan orang yang tidak berada pada keadaan seperti dirinya.
Adapun lawan Mahisa Pukat itu berada pula pada satu tataran ilmu panglimunan yang belum sempurna, ia hanya dapat lenyap untuk sekejap saja. Dan agaknya ia mempergunakan waktu yang sekejap itu untuk melenting dari tempatnya ke tempat yang lain. Kemudian dengan tiba-tiba ia menyergap lawannya dengan ujung senjatanya.
Meskipun demikian pada permulaannya Mahisa Pukat memang agak kebingungan menghadapi lawannya. Serangannya tidak akan pernah dapat mengenai sasarannya, karena jika lawannya terdesak, orang itu akan segera mempergunakan ilmunya. Ia dengan tiba-tiba saja muncul di tempat lain dan langsung menyerangnya dengan ujung keris teracu.
Hanya dengan ketangkasan dan kecepatan gerak sajalah Mahisa Pukat mampu bertahan untuk beberapa saat, meskipun setiap kali ia harus bergeser dengan loncatan panjang. Namun untuk menghindari serangan dari arah belakang, maka Mahisa Pukat berusaha untuk tetap melekat pada dinding barak di belakangnya.
“Licik,” teriak lawannya, “ayo, kita bertempur di tempat yang luas dan tidak terganggu.”
“Aku senang bertempur di sini,” jawab Mahisa Pukat.
“Kau pergunakan dinding barak sebagai perisai,” berkata lawannya.
“Apa boleh buat,” jawab Mahisa Pukat, “kau telah mempergunakan ilmu yang kurang aku kenal.”
“Karena itu sadari kedunguanmu. Menyerah sajalah.” berkata orang itu.
“Aku memasuki padepokan bukan sekedar untuk menyerah,” berkata Mahisa Pukat, “aku datang untuk menangkapmu.”
“Persetan,” geram orang itu. Iapun kemudian dengan serta merta telah meloncat menyerang. Namun Mahisa Pukat-pun telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu. maka iapun dengan tangkas telah menangkis serangan itu dengan pedangnya.
Namun menghadapi ilmu lawannya Mahisa Pukat pun telah mempergunakan ilmunya pula, ilmunya yang semula memang agak meragukannya karena seakan-akan ilmunya ini telah dipergunakan untuk mengambil milik orang lain tanpa diketahuinya.
Tetapi Mahisa Pukat tidak dapat berbuat lain. Lawannya-pun telah mempergunakan ilmu yang mendebarkan pula.
Karena serangannya yang beruntun tidak dapat menembus pertahanan Mahisa Pukat, maka tiba-tiba saja lawannya itu telah lenyap untuk sesaat. Ia muncul di tempat yang lain dengan ujung keris yang terjulur. Bahkan tiba-tiba iapun telah meloncat sambil mengayunkan kerisnya yang besar itu.
Menghadapi sikap yang demikian Mahisa Pukat memang kadang-kadang harus berdesah. Ia harus dengan cepat berputar mengarah ke lawannya yang muncul dengan tiba-tiba. Kemudian menghadapi serangannya yang datang dengan cepat pula. Sementara itu, Mahisa Pukat sulit untuk memperhitungkan, di mana lawannya itu akan muncul.
Namun Mahisa Pukat pun bukannya melawan dengan wantah. Iapun telah mengetrapkan ilmunya pula.
Pertempuran itupun kemudian menjadi semakin seru dan tegang. Denyut jantung di dada Mahisa Pukat rasa-rasanya menjadi semakin cepat. Kadang-kadang ia kehilangan lawannya yang muncul di tempat yang tidak diduganya sama sekali.
Mahisa Pukat terkejut ketika tiba-tiba saja lawannya menyerang dari arah yang sama sekali tidak diduganya. Ketika lawannya itu lenyap, maka Mahisa Pukat memperhitungkan bahwa lawannya itu akan muncul di sisi yang lain dari tempatnya berdiri. Namun tiba-tiba lawannya itu muncul di tempatnya semula. Bahkan tiba-tiba saja satu loncatan yang panjang datang demikian cepatnya sementara ujung keris itu terayun menebas ke arah lehernya.
Mahisa Pukat yang terkejut itu bergeser mundur. Namun ia sempat menangkis serangan itu meskipun karena sangat tergesa-gesa, maka ujung keris itu masih menggores di kulitnya. Goresan yang memanjang di pundaknya menyilang ke arah dada.
Goresan itu memang tidak begitu dalam. Tetapi dari goresan itu telah mengalir darah yang semula nampak kehitam-hitaman. Namun kemudian menjadi merah segar.
Mahisa Pukat mengaduh tertahan. Luka itu terasa pedih. Racun di ujung keris itu telah membentur penawarnya di tubuh Mahisa Pukat, sehingga luka itu menjadi pedih meskipun tidak terlalu lama.
Lawan Mahisa Pukat itu tertawa berkepanjangan, ia melihat luka di pundak anak muda itu. Katanya, “Jangan menyesal anak muda. Kau memang akan mati di padepokan ini.”
Mahisa Pukat tidak menjawab. Tetapi ujung pedangnyalah yang terjulur. Hampir saja menyentuh kening lawannya. Tetapi lawannya itu sempat mengelak dan ketika Mahisa Pukat memburunya, lawannya itupun telah lenyap dan muncul di arah yang lain.
Tetapi lawannya itu tidak langsung menyerangnya, ia masih tertawa sepuas-puasnya menikmati kemenangan kecilnya.
Namun dalam pada itu, Mahisa Pukat lah yang telah menyerangnya. Tetapi Mahisa Pukat telah membuat perhitungan tersendiri menghadapi lawannya yang membingungkannya itu.
Ternyata serangan-serangan Mahisa Pukat selanjutnya tidak lagi begitu garang. Geraknya menjadi lamban dan kadang-kadang nampak keragu-raguannya.
Karena itu, maka dengan mudah lawannya itu menangkis setiap serangan. Bahkan untuk beberapa lama ia merasa tidak perlu melenyapkan dirinya untuk mengelabui lawannya yang menurut penilaiannya, tidak lagi segarang sebelum dilukainya.
Dengan demikian maka untuk beberapa saat lamanya keduanya bertempur dalam keadaan wajar. Mahisa Pukat nampaknya tidak lagi mampu mendesak lawannya. Meskipun serangan-serangannya masih nampak berbahaya, tetapi lawannya tidak melihat lagi kelebihan yang menekannya.
Namun beberapa saat kemudian, lawan Mahisa Pukat itu menjadi heran atas dirinya sendiri. Ia menilai lawannya bergerak semakin lamban. Namun dirinya sendiri rasa-rasanya tidak juga mampu berbuat lebih cepat dari lawannya. Beberapa kali ia hanya berloncatan mundur, menangkis serangan lawan dan serasa tidak lagi mampu menyerang.
“Apa yang telah terjadi atas diriku,” bertanya orang itu kepada diri sendiri.
Namun tiba-tiba saja ia menyadari, bahwa tenaganya sudah menjadi jauh susut. Bahkan tiba-tiba saja rasa-rasanya sangat berat mengangkat dan mengayunkan kerisnya yang sangat besar.
“Gila,” geram orang itu.
Ketika kemudian Mahisa Pukat mendesaknya, iapun telah mempergunakan ilmu Panglimunannya dan meloncat menjauh.
Orang it masih mampu melenyapkan diri dari tangkapan mata wadag Mahisa Pukat. Namun ketika ia nampak lagi di tempat lain, nafasnya menjadi terengah-engah. Rasa-rasanya tenaganya benar-benar sudah terkuras habis.
“Bagaimana Ki Sanak.” tiba-tiba saja Mahisa Pukat bertanya, “waktu kita masih banyak.”
Orang itu mengumpat. Dengan nada geram ia berkata, “Kau licik. Kau pergunakan ilmu yang sama sekali tidak bersifat jantan. Kau curi kekuatan lawanmu dengan laku yang sangat pengecut.”
“Jangan mengumpat-umpat,” berkata Mahisa Pukat, “kita sama-sama licik. Bukankah aji panglimunanmu itu bukan cara yang licik dalam pertempuran apalagi perang tanding. Kau berusaha untuk melarikan diri dari penglihatan lawan. Apa salahnya jika aku pun telah mencuri kekuatanmu dengan caraku. Karena aku sebenarnya dapat menghancurkanmu dengan ilmuku yang lain.”
“Omong kosong,” geram orang itu, “jika benar demikian, kenapa tidak kau lakukan?”
“Aku dapat menghancurkan tubuhmu menjadi sewalang-walang,” Mahisa Pukat pun menggeram.
Namun lawannya tidak menjawab. Tiba-tiba saja ia telah melenyapkan diri dan muncul di jarak yang lebih jauh.
Mahisa Pukat meloncat memburu. Tetapi ia kehilangan lagi lawannya. Tiba-tiba saja lawannya itu sudah berada di tempat lain.
Mahisa Pukat sadar, bahwa lawannya tentu berusaha melarikan diri. Karena itu maka iapun telah berusaha untuk mengejarnya.
Tetapi kemampuan lawannya setiap kali melepaskan diri meskipun hanya sesaat memang telah membuat Mahisa Pukat bingung. Karena itu jarak antara dirinya dan lawannya itupun menjadi semakin lama semakin jauh. Meskipun lawannya tidak lagi memiliki kekuatan dan kemampuan yang utuh. Namun dengan caranya ternyata bahwa akhirnya ia benar-benar tidak lagi dapat dikejar oleh Mahisa Pukat dan hilang di antara barak-barak di padepokan itu.
Mahisa Pukat yang kemudian kehilangan lawannya itu berdiri termangu-mangu. Namun justru karena ia berdiri seorang diri di antara barak-barak di padepokan itu. Ia mulai memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ia mulai mendengar teriakan-teriakan yang riuh di sisi lain dari padepokan itu.
Mahisa Pukat menarik nafas dalam-dalam, ia mulai menyadari kembali bahwa ia tidak hanya berhadapan dengan orang yang melarikan diri itu saja. Tetapi di padepokan itu telah terjadi pertempuran yang sengit antara pasukan Lemah Warah dan orang-orang yang berada di padepokan itu.
Karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah berniat untuk terjun kembali ke pertempuran. Ia menganggap bahwa lawannya itu tidak akan mampu memasuki medan karena untuk beberapa lama ia telah kehilangan kekuatan dan kemampuannya.
Tatapi ketika Mahisa Pukat siap untuk meloncat meninggalkan tempatnya, tiba-tiba saja ia teringat pada sekotak ular yang tersimpan di dalam barak. Jika ular itu kemudian dipergunakan di bawah kuasa ilmu gendam, maka ular-ular itu akan dapat menimbulkan kesulitan bagi prajurit Lemah Warah, karena ular yang berada di bawah pengaruh ilmu itu akan mampu berbuat sebagaimana diperintahkan oleh orang yang mempengaruhinya, sehingga ular-ular itupun seakan-akan dapat memilih yang manakah prajurit Lemah Warah dan yang manakah kawan-kawan mereka, penghuni padepokan itu.
Karena itu, maka Mahisa Pukat pun telah berlari-lari menuju ke barak itu. Namun Mahisa Pukat terkejut karenanya, ketika ia melihat seekor ular merambat di tangga barak itu. Demikian ia melihat Mahisa Pukat, maka ular itupun langsung menyerangnya.
Meskipun Mahisa Pukat memiliki kekuatan yang dapat menawarkan bisa ular, tetapi ia tidak senang ular itu menggigitnya. Karena itu, maka iapun telah menebas leher ular itu sehingga putus.
Namun ternyata bahwa seekor ular telah menelusur di bawah barak itu dan menghilang di rerumputan.
“Gila,” geram Mahisa Pukat, “ternyata orang itu telah berhasil melakukannya.”
Dengan serta merta Mahisa Pukat meloncat masuk ke dalam barak itu. Tetapi ia tidak melihat seorang pun lagi. Namun ia melihat kotak tempat ular berbisa itu sudah terbuka. Sementara itu beberapa ekor ular masih berkeliaran.
Namun ular-ular yang berada di bawah pengaruh lawannya itu telah menganggap bahwa Mahisa Pukat harus dibunuh sebagaimana kebencian orang yang memiliki ilmu gendam itu. Karena itu, maka tiba-tiba beberapa ekor ular yang berkeliaran itu telah berbalik ke arah Mahisa Pukat dan siap untuk menyerangnya.
Mahisa Pukat memang memiliki penawar bisa. Tetapi menghadapi ular yang cukup banyak, apakah penawar bisa itu akan mampu melawan bisa yang terlalu banyak menusuk ke dalam tubuhnya.
Mahisa Pukat tidak mendapat kesempatan untuk terlalu lama berpikir. Beberapa ekor ular telah merayap semakin dekat.
Namun agaknya Mahisa Pukat lebih senang berkelahi melawan ular-ular itu di tempat yang lapang. Karena itu, maka ia-pun telah melenting ke pintu dan meloncat keluar dari bilik dan barak itu.
Namun demikian ia berdiri di atas tanah yang ditumbuhi rerumputan, beberapa ekor ular yang garang telah mengepungnya. Beberapa di antaranya telah mengangkat kepalanya dan berdiri pada bagian depan tubuhnya. Lidahnya yang bercabang terjulur-julur mendebarkan. Suaranya yang berdesis-desis dan membuat tengkuk Mahisa Pukat meremang.
Tetapi di tangan Mahisa Pukat tergenggam pedang, sementara ia masih mempunyai perisai yang lain jika ada satu dua di antara ular-ular itu yang lolos dari ujung pedangnya. Bahkan kemudian ia merasa wajib untuk menghancurkan ular-ular itu daripada ular-ular itu merayap memasuki arena dan mematuk para prajurit Lemah Warah.
Dalam pada itu, Mahisa Murti telah berdiri bebas pula. Lawannya terpaksa diselesaikannya sebagaimana paugeran perang berbicara. Jika ia tidak membunuh lawannya, maka ialah yang akan terbunuh atau prajurit-prajurit Lemah Warah yang lain akan mati jika lawannya itu berhasil lepas dari tangannya dan memasuki medan di sudut lain dari pertempuran itu.
Namun Mahisa Murti tidak sempat beristirahat. Tiba-tiba saja ia telah terperosok ke dalam lingkaran pertempuran yang mendebarkan. Ia melihat sebatang tongkat yang terayun-ayun mengerikan. Tongkat yang pada pangkalnya terdapat sebuah batu yang berwarna kehijau-hijauan itu. Mahisa Murti melihat bagaimana seorang prajurit Lemah Warah terlempar keluar dari arena, sementara yang lain berloncatan menghindari ayunan tongkat yang berputar mengerikan.
Dengan pedang di tangan, Mahisa Murti pun telah memasuki arena itu.
Orang bertongkat itu tertegun melihat kehadiran Mahisa Murti. Namun iapun telah bergeser beberapa langkah meninggalkan arena, sementara itu orang-orang padepokan itu telah menggantikannya melawan para prajurit Lemah Warah yang sudah susut karena tongkat yang pada pangkalnya terdapat batu yang kebiru-biruan itu.
Mahisa Murti menyadari, bahwa orang itu sengaja keluar dari arena untuk menghindarinya. Karena itu, maka Mahisa Murti pun telah mengikutinya dengan pedang teracu.
“Akhirnya kita sempat juga berbicara,” berkata orang itu, “siapakah sebenarnya kau pedagang batu akik?”
“Kau sudah tahu jawabnya, di mana aku berdiri sekarang,” jawab Mahisa Murti.
“Apakah kau benar kemanakan Akuwu Lemah Warah itu?” bertanya orang bertongkat itu.
“Ya. Kenapa?” Mahisa Murti ganti bertanya.
Orang itu mengangguk-angguk. Katanya, “Satu pengakuan yang sudah aku duga sebelumnya. Tetapi kau kira aku begitu saja percaya? Mungkin kalian mempunyai kepentingan yang sama dengan Akuwu itu atau setidak-tidaknya mempunyai persamaan. Mungkin atas batu hijau itu, tetapi mungkin persoalan lain yang tidak kau katakan. Tetapi menilik tingkah lakumu dan perhatianmu terhadap batu hijau itu sehingga kau pertaruhkan nyawamu, serta penyamaranmu sebagai penjual batu akik, maka kepentinganmu tentu berkisar kepada batu hijau itu. Sedangkan hal yang lain agaknya merupakan kepentingan Akuwu Lemah Warah itu. Mungkin kalian telah membuat perjanjian saling membantu meskipun mungkin sekali kalian akan berebut hasil yang mungkin dapat kalian capai dengan kerja sama ini.”
“Satu ceritera yang menarik,” desis Mahisa Murti, “apakah kau masih mempunyai ceritera yang lain?”
“Persetan,” geram orang bertongkat itu, “tetapi aku yakin bahwa kau berkepentingan dengan batu itu. Bukan karena kau juga mengemban tugas sebagaimana Akuwu Lemah Warah .”
“Aku tidak membantah,” berkata Mahisa Murti, “namun mungkin dapat aku tanyakan serba sedikit tentang padepokan Suriantal?”
Orang itu mengerutkan keningnya. Tiba-tiba saja ia menggeram, “Persetan dengan pertanyaanmu itu.”
“Aku mendengar nama padepokan itu justru sebelum aku melihat padepokan itu,” jawab Mahisa Murti, “sebenarnyalah kami ingin berbicara dengan baik. Atas nama kuasa yang lebih tinggi, Akuwu Lemah Warah memerintahkan kalian menyerah. Tetapi kalian ternyata memilih untuk melawan.”
“Aku tidak tahu arah bicaramu,” berkata orang bertongkat itu, “alasan apakah yang dapat dipergunakan oleh Akuwu itu untuk memaksa kami menyerah?”
“Sebenarnya alasan itu tidak perlu disebut,” berkata Mahisa Murti, “meskipun agaknya orang-orang bertongkat yang berada di padepokan inilah yang paling berkepentingan.”
“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,” jawab orang bertongkat itu, “karena itu, kita sudah terlanjur membuka medan. Kita akan menyelesaikannya sebagaimana kita mulai.”
“Baik,” jawab Mahisa Murti, “tetapi apakah kepentinganmu dengan Mahkota Kediri?”
Pertanyaan itu mengejutkan orang bertongkat itu. Namun iapun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berkata, “Itukah tugas Akuwu Lemah Warah?”
“Salah satu saja,” jawab Mahisa Murti, “masih banyak alasan lain, meskipun masih meragukan. Agaknya isi padepokan ini bukan lagi diwarnai oleh satu cabang perguruan.”
“Ternyata kau memang harus mati,” geram orang bertongkat itu, “aku memang sudah berniat untuk menempuh cara ini menghadapi kuasa Kediri.”
“Kediri pun telah memerintahkan untuk menempuh cara ini untuk membuat penyelesaian meskipun Kediri masih menawarkan langkah-langkah yang lebih lembut dan kekeluargaan,” berkata Mahisa Murti.
Orang bertongkat itu menggeram. Sejenak ia berpaling ke arah pertempuran yang menyala di sebelahnya. Orang-orangnya telah bertempur dengan keras melawan para prajurit Lemah Warah. Tongkat-tongkat panjang terayun-ayun mendebarkan. Namun tidak setiap ayunan itu mampu mengenai lawan mereka.
Orang bertongkat itu menggeram. Katanya kemudian, “Baiklah, akhirnya kita berhadapan dalam arena seperti ini. Aku memang mengharap bahwa kita akan dapat bertemu dalam kesempatan seperti ini. Meskipun aku merasa tersinggung bahwa aku harus berhadapan dengan anak ingusan seperti ini, namun apa boleh buat. Agaknya Kediri memang tidak mempunyai orang yang lebih baik dari kanak-kanak dan Akuwu Lemah Warah.”
“Kita akan melihat, siapakah yang lebih baik di antara kita,” jawab Mahisa Murti.
Orang itu mengangguk-angguk. Tiba-tiba saja tongkatnya telah terayun-ayun sambil menggeram, “Marilah agar aku cepat menyelesaikanmu. Kemudian aku harus mencari Akuwu Lemah Warah itu untuk membunuhnya pula. Prajurit-prajuritnya tidak akan berarti apa-apa lagi bagiku.”
Mahisa Murti pun segera mempersiapkan diri. Ketika tongkat itu terayun, maka Mahisa Murti pun telah meloncat surut.
Namun lawannya itu tidak membiarkannya. Dengan tangkasnya orang itu telah meloncat memburunya. Sekali lagi tongkatnya terayun deras.
Ketika Mahisa Murti meloncat lagi menghindar, maka terasa angin berdesing lebih keras.
Mahisa Murti tidak membiarkan dirinya menjadi sasaran. Iapun kemudian telah memutar pedangnya pula. Namun ia tidak mau langsung membentur tongkat lawannya dengan pedangnya sebelum ia sempat menjajaginya.
Demikian pertempuran antara Mahisa Murti dan orang bertongkat itu menjadi semakin lama semakin sengit. Keduanya adalah orang-orang berilmu tinggi. Mereka memiliki kekuatan melampaui orang kebanyakan.
Sekali-sekali Mahisa Murti dengan hati-hati mencoba menjajagi kekuatan lawannya. Sekali-sekali ia telah menyentuh ayunan tongkat itu meskipun tidak membenturkannya langsung. Dengan demikian maka Mahisa Murti dapat sekedar menjajagi, apakah kekuatan orang itu akan dapat diimbangi atau tidak.
Sementara itu lawannya yang bertongkat itu agaknya memang ingin segera dapat menyelesaikan pertempuran. Agaknya ia mulai menyadari, bahwa prajurit Lemah Warah menjadi semakin mendesak orang-orang padepokan itu. Sehingga orang-orang padepokan itupun semakin lama menjadi semakin terhimpit oleh tekanan para prajurit Lemah Warah.
“Gila,” geram orang itu, “prajurit-prajurit Lemah Warah licik sekali.”
“Kenapa?” bertanya Mahisa Murti.
“Mereka datang dalam jumlah yang jauh lebih banyak dari orang-orangku,” jawab orang bertongkat itu.
“Itu adalah hak dari Akuwu Lemah Warah yang mendapat perintah untuk menangkap kalian,” jawab Mahisa Murti, “karena itu menyerah sajalah. Kau dan orang-orangmu akan mendapat perlakuan yang baik.”
“Tidak ada seorang pun yang akan mampu memaksa aku untuk menyerah. Apalagi anak-anak ingusan seperti kau,” geram orang bertongkat itu.
“Bukan aku, tetapi Akuwu Lemah Warah,” jawab Mahisa Murti.
“Jangankan Akuwu Lemah Warah, Sri Baginda Kediri sekalipun tidak akan aku dengar perintahnya untuk menyerah,” jawab orang itu.
“Kau terlalu sombong,” jawab Mahisa Murti, “seharusnya kau menyadari, apakah usahamu dengan orang-orangmu pilihan untuk mengambil mahkota itu berhasil? Mereka telah mati terbunuh sebelum mereka mendapat apa yang mereka cari. Nah, jika kau bersedia untuk menyerah, maka persoalannya hanya berkisar pada usahamu untuk mendapatkan mahkota itu saja.”
Bersambung.......!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar