Rabu, 27 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 16-03

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-16-03
“Memang orang itu tidak sekuat paman Mahisa Agni. Tetapi ia jauh lebih baik dari guru Tohjaya yang sebenarnya.”

“Guru yang sebenarnya?”

“Sudahlah. Kau sudah cukup dewasa. Sebentar lagi kau akan melintasi masa kedewasaanmu, karena ayahanda mengambil keputusan bahwa kau dahulu yang harus kawin dari Adinda Tohjaya.”

Mahisa-wonga-teleng mengangguk-angguk.

“Selebihnya aku percayakan semua isi bangsal Pangeran Pati kepadamu. Dan jagalah ibunda baik-baik. Jasmaniahnya tetapi juga perasaannya.”

“Baiklah kakanda. Aku akan patuh kepada semua petunjuk.”

“Kita tidak dapat mempercayai ibunda Ken Umang. Aku tidak berprasangka. Tetapi menilik sikap Tohjaya, sudah tentu bahwa ibunda Ken Umang bersikap serupa. Apalagi dengan latihan-latihan yang tersembunyi dan banyak persoalan yang tidak berterus terang. Kerena itu, kau dapat berbuat serupa. Kalau Pamanda Mahisa Agni datang kemari, katakan apa yang sudah kau kerjakan.”

“Baiklah. Aku akan melakukan semuanya.” Demikianlah, datang saatnya Pangeran Pati meninggalkan istana dan bangsalnya yang baru. Sebagai seorang prajurit yang berada di dalam pasukannya, ia berangkat kedaerah Timur. Daerah yang menurut laporan telah diganggu oleh beterapa orang yang menyebut dirinya pemimpin-pemimpin dari suatu lingkungan yang tidak begitu luas.

Kekuatan dari gerombolan itu memang tidak begitu besar. Mereka tidak akan dapat bertahan lama. Karena tindakan mereka yang keras terhadap penduduk di padukuhan-padukuhan sekitarnya, dan mereka selalu melakukan perampasan dan perampokan, maka mereka seakan-akan hidup dalam suatu lingkungan yang terasing.

Senapati vang memimpin prajurit Singasari itu berkata kepada prajuritnya, “Pekerjaan ini memang tidak terlampau berat. Suatu latihan pertama bagi tuanku Putera Mahkota.”

“Aku kini seorang prajurit,” sahut Anusapati.

Senapati yang memimpin pasukan kecil itu tersenyum. Ia melihat kesungguhan membayang di wajah Anusapati. Sehingga karena itu ia berkata, “Tuanku agaknya bersungguh-sungguh. Bagaimana-pun juga pengalaman akan menjadi guru yang baik bagi tuanku.”

“Ya. Aku bersungguh-sungguh. Dan bukankah itu sudah menjadi kuwajibanku.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Namun didalam hati ia berkata, “Kami, para prajuritlah yang mendapat beban karenanya. Putera Mahkota yang tidak setangkas tuanku Tohjaya ini akan memerlukan perlindungan. Untunglah bahwa tugas ini tidak terlampau berat.”

Tetapi Senapati itu tidak mengatakan sesuatu. Namun dalam pada itu, ia sudah menugaskan tiga orang prajurit pilihan untuk selalu melindungi Anusapati tanpa setahu Putera Mahkota itu, supaya ia tetap berhati-hati. Apabila ia mengetahui, bahwa ia mendapat perlindungan khusus, maka ia akan kurang berprihatin didalam penempaan diri itu.”

Meskipun lawan mereka bukan lawan yang berat, namun perjalanan merekalah yang termasuk perjalanan yang berat. Mereka harus melintasi hutan-hutan pepat dan lebat, jurang yang curam dan bukit-bukit padas yang gersang, sehingga di siang hari matahari bagaikan membakar kepala.

“Apakah sarang mereka terlampau jauh?” bertanya Anusapati kepada Senapatinya.

“Tidak tuanku. Kita hanya memerlukan waktu perjalanan tiga hari tiga malam. Kemudian kita akan mengenal daerah mereka selama sehari semalam sebelum kita menyerangnya.”

“Apakah kita belum mendapatkan gambaran yang pasti tentang gerombolan itu?”

“Gambaran keseluruhan sudah tuanku. Tetapi bagian-bagian yang kecil masih harus kita selidiki setelah kita berada di dekat sarang mereka.”

“Apakah kita sudah tahu pasti kekuatan mereka?”

“Gambaran tentang kekuatan mereka sudah kami terima. Tetapi kita masih harus menyelidikinya lagi.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak bertanya lebih lanjut.

Banyak tanggapan didalam hati para prajurit atas pertanyaan Putera Mahkota itu. Ada yang menganggap bahwa Anusapati sudah mulai cemas. Ada yang menganggap bahwa Putera Mahkota itu akan menjadi seorang prajurit yang cermat.

Demikianlah maka perjalanan itu maju terus dari waktu kewaktu. Mereka merayap menaiki tebing-tebing curam, tetapi juga menyeberangi sungai yang besar.

Tiga orang prajurit pilihan yang mendapat tugas melindungi Putera Mankota berjalan beriringan. Mereka selalu berusaha untuk berada dekat dengan Anusapati di setiap keadaan yang berbahaya. Selagi mereka memanjat tebing atau menuruni jurang. Juga selagi mereka berada di tengah-engah sungai yang deras.

Tetapi sebenarnyalah bahwa Anusapati bukan seorang anak muda yang berotak tumpul seperti yang diduga oleh kebanyakan orang. Ternyata Anusapati dapat mengerti, bahwa tiga orang prajurit telah ditunjuk oleh pimpinan pasukan itu, untuk membayanginya. Untuk melindunginya apabila ia terancam bahaya.

Namun demikian Anusapati masih saja berpura-pura tidak tahu, bahwa tiga orang prajurit pilihan selalu berusaha menjaga keselamatannya.

Tetapi ternyata bahwa perjalanan itu sendiri memberikan kegembiraan di dalam hati Anusapati. Bahwa selama ini ia selalu berada di dalam halaman istana, maka perjalanan itu sangat menggembirakannya. Bagaimana-pun juga ia benar-benar mendapat pengalaman baru. Mendaki gunung, menuruni tebing, menyeberangi sungai yang deras dan menjelajahi hutan. Meskipun ia sudah berlatih olah kanuragan, mendaki tebing sungai yang curam yang kadang-kadang dengan sengaja dipilihnya bagian-bagian yang hampir tidak mungkin didaki, namun pengenalan atas alam yang bebas dan luas itu memberikan kesegaran baru kepadanya.

Yang paling kurang dikenalnya adalah hutan-hutan yang lebat, Anusapati hampir tidak pernah mendapat kesempatan ikut berburu, sehingga hutan yang lebat, yang lembab dan digayuti oleh sulur-kayu dan tumbuh-tumbuhan merambat, bahkan yang berduri, merupakan kenalan baru baginya. Namun bekal yang sudah cukup banyak di dalam dirinya, segera dapat dipergunakannya untuk menyesuaikan dirinya.

Meskipun demikian sekali-sekali ia harus menunjukkan kesulitan yang kadang-kadang hampir tidak dapat diatasi, ia menurut anggapan para prajurit adalah seorang yang masih sangat hijau didalam olah kanuragan. Apalagi pengenalan daerah-daerah yang berat seperti yang dilaluinya.

“Latihan pertama ini agaknya memang terlampau berat bagi Putera Mahkota,” Senapati yang memimpin pasukan itu berbisik kepada prajurit-prajurit yang diserahi untuk melindungi Anusapati.

“Perjalanan inilah yang berat. Tetapi apabila kita sudah mendekati sarang gerombolan penjahat itu, pekerjaan kita tidak akan banyak lagi. Justru tidak ada separo dari kesulitan yang kita alami diperjalanan.”

“Memang itulah yang dimaksud. Latihan pertama ditekankan pada kesulitan medan. Baru kemudian tuanku Putera Mahkota akan diperkenalkan dengan kekuatan lawan yang sebenarnya.”

Prajurit-prajurit itu menganggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Sebenarnya Singasari tidak perlu mengirimkan prajurit khusus untuk menumpas gerombolan kecil itu. Semuanya ini sekedar untuk kepentingan penempaan diri tuanku Putera Mahkota.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Ia-pun menyadari hal itu, sehingga karena itulah maka tugas yang ringan itu justru terasa menjadi beban yang cukup berat.

“Mudah-mudahan tuanku Putera Mahkota mendapat pengalaman yang berguna bagi dirinya.” desis Senapati itu.

Prajurit-prajurit vang mendapat tugas melindunginya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun mereka merasa bahwa mereka telah mendapat kepercayaan untuk memberikan dasar pengalaman yang pertama kepada Putera Mahkota, sehingga karena itu. maka tugas itu-pun mereka lakukan sebaik-baiknya.

Tetapi mereka sama sekali tidak tahu bahwa pengalaman yang pertama, yang justru didaerah medan yang terlampau berat itu memang sengaja diberikan oleh Sri Rajasa atas petunjuk dari penasehatnya. Dengan demikian mereka mengharap bahwa hati Anusapati yang kerdil akan menjadi semakin kerdil. Medan yag amat sulit itu akan menghancurkan semua gairah pendadaran seterusnya. Meskipun musuh tidak terlampau berat, tetapi perjalanannyalah yang sangat berat bagi orang yang pertama kali mengalami.

Bahkan beberapa orang prajurit yang sudah beringas beberapa lama-pun merasa, betapa beratnya perjalanan itu. Beberapa orang sudah mulai mengeluh, dan bahkan ada yang berkata, “Lebih baik aku harus berkelahi melawan gerombolan yang kekuatannya lima kali lipat daripada berjalan di daerah yang gila ini.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berdesis, “Apakah Putera Mahkota akan dapat sampai ke tujuan?”

Prajurit yang pertama mengerutkan keningnya. Sejenak ia berpaling. Dilihatnya Putera Mahkota berjalan tertatih-tatih diapit oleh prajurit yang diserahi melindunginya. Yang seorang lagi dari mereka berjalan di belakangnya.

“Tuanku Anusapati sudah lelah sekali.” Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kita tidak akan dapat mencapai tempat itu sesuai dengan waktu yang diperhitungkan. Kita pasti akan mengalami kemunduran paling sedikit satu hari satu malam. Agaknya Putera Mahkota tidak akan dapat dipaksa untuk menyelesaikan perjalanan ini sesuai dengan waktunya.”

“Jika demikian, agaknya memang lebih baik. Kita tidak akan terlampau lelah diperjalanan, sehingga kita dapat melakukan tugas kita dengan baik.”

Namun mereka terperanjat ketika tiba-tiba saja Senapati yang tanpa mereka ketahui berjalan di belakang mereka berkata, “Kita harus menyelesaikan tugas ini seperti waktu yang sudah diperhitungkan. Itu juga merupakan ujian bagi kalian, terutama bagi Tuanku Putera Mahkota. Perhitungan waktu perjalanan prajurit adalah tiga hari tiga malam ditambah waktu pengamatan dan istirahat satu hari satu malam.”

Prajurit-prajurit yang bercakap-cakap itu tidak menyahut. Mereka hanya menarik alis mereka tinggi-tinggi. Namun di dalam hati mereka berkata, “Kami pasti lebih berpengalaman dari tuanku Putera Mahkota. Kalau saja tuanku Putera Mahkota masih dapat berjalan, aku-pun masih dapat berjalan pula.”

Sebenarnyalah dihari kedua, Anusapati sudah tampak sangat lelah. Tetapi Anusapati sama sekali tidak mengeluh. Ia berjalan terus tertatih-tatih. Namun ia selalu mencoba berbuat sebaik-baiknya sebagai seorang prajurit.

Para prajurit yang bertugas mengawasinya menjadi kasihan juga melihatnya. Sekali-sekali mereka memandang Senapati yang berjalan tidak jauh dari mereka, seakan-akan mereka ingin bertanya, “Apakah tuanku Putera Mahkota tidak sebaiknya diberi kesempatan untuk beristirahat?”

Tetapi tidak seorang dari para pelindung itu yang mengucapkannya. Mereka sadar, bahwa Putera Mahkota kini harus diperlakukan sebagai prajurit-prajurit yang lain.

Namun demikian, para prajurit itu menjadi heran melihat kesungguhan hati Anusapati. Betapa-pun tampak lelah, tetapi ia berjalan terus. Seperti prajurit-prajurit yang lain ia membawa perlengkapan yang cukup berat. Senjata dan sekedar bekal diperjalanan.

Di malam kedua, ketika mereka menaiki sebuah tebing yang curam, sampailah mereka di padang rumput yang agak datar. Udara yang sejuk menyapu langit yang penuh dengan bintang gemintang yang mulai bermunculan.

“Kita bermalam di sini,” berkata Senapati yang memimpin pasukan itu.

Demikianlah, maka pasukan kecil itu mulai mencari tempat bagi mereka untuk beristirahat. Rumput-rumput kering dan batu-batu besar merupakan tempat yang paling baik untuk duduk dan merebahkan diri.

Anusapati-pun harus berbuat seperti prajurit-prajurit yang lain. Ia mendapatkan sebuah batu besar yang baik untuk berbaring. Kepalanya dialasinya dengan telapak tangannya. Dipandanginya langit yang jernih terbentang di atasnya.

“Tuanku Putera Mahkota lelah sekali,” desis seorang prajurit.

Kawannya tidak menyahut. Ia hanya menganggukkan kepalanya.

Keduanya-pun kemudian diam. Mereka mencoba menyadari tugas yang dibebankan kepada Putera Mahkota oleh Ayahanda Sri Rajasa. Ia harus mengalami pahit getirnya seorang prajurit agar ia dapat membuat penilaian yang tepat bagi sebuah pasukan apabila kelak ia menjadi Senapati Agung di peperangan yang besar.

Tetapi sebenarnya Anusapati sendiri tersenyum di dalam hati. Ketahanan jasmaniahnya jauh lebih besar dari para prajurit yang berjalan bersamanya. Meskipun pendalaman perjalanan itu baru pertama kali baginya, tetapi tubuhnya sudah terlatih mengalami tugas yang sangat berat.

“Kita mengadakan pembagian tugas pengamatan di malam hari,” berkata Senapati itu kemudian.

Tanpa perkecualian, setiap orang mengalami tugas sepertiga malam. Kelompok yang pertama bertugas sampai tengah malam. Kemudian sisanya dibagi menjadi dua kelompok.

“Kenalilah bintang Gubug Penceng. Kalian akan dapat menentukan waktu.”

Dalam tugas pengamatan di malam hari itu, Putera Mahkota mendapat kesempatan yang terakhir. Di dalam kelompok itu pula terdapat tiga orang prajurit yang mendapat tugas khusus untuk mengawasinya.

Seperti prajurit-prajurit yang lain. Anusapati-pun melakukan tugasnya dengan baik. Meskipun ia hampir belum tertidur sama sekali, namun ia tidak mengelakkan tugas itu. Dengan senjata ditangan ia duduk di atas batu mengawasi keadaan di sekitarnya bersama beberapa orang prajurit yang lain.

Anusapati mengerutkan keningnya ketika ia mendengar dikejauhan suara aum harimau. Bukan hanya seekor, tetapi dua ekor.

Sejenak Anusapati memperhatikan para prajurit yang lain. Mereka-pun agaknya tertarik mendengar suara harimau itu. Dua orang di antara mereka bangkit dan berjalan hilir mudik di antara mereka yang tertidur nyenyak diatas batu-batu dan rerumputan kering.

“Suara itu menjadi semakin dekat,” desis salah seorang dari dua orang prajurit yang berjalan hilir mudik itu.

“Ya,” sahut yang lain, “agaknya mereka mencium bau yang asing. Arah angin telah membawa bau keringatmu ke hidung harimau itu.”

Kawannya tidak menjawab lagi. Tetapi ia masih saja berjalan hilir mudik.

“Kenapa kau ributkan suara harimau itu?” bertanya kawannya yang lain yang duduk di atas sebuah batu yang besar sekali.

“Sudah lama aku ingin memiliki kulit harimau.”

“O,” kawannya itu tidak mempedulikannya lagi. Tetapi dilayangkannya juga pandangan matanya kejauhan, menyusup kedalam gelapnya malam. Ternyata tidak ada yang dilihatnya selain kepekatan malam dan cahaya kunang-kunang yang satu dua beterbangan diatas rerumputan.

Ketika suara harimau itu terdengar lagi, maka bukan saja kedua orang yang berjalan hilir mudik itu sajalah yang mengangkat wajah mereka, tetapi semua orang yang bertugas dalam kelompok terakhir itu-pun tergerak pula hatinya.

“Mudah-mudahan sepasang harimau itu mendekat.”

“Siapa yang dahulu diantara kita,” desis yang lain.

“Jangan dibunuh dengan senjata tajam.”

“Kenapa?”

“Kulitnya akan cacat. Sobek oleh hunjaman senjata kita.”

“Lalu, dengan apa kita akan membunuh?”

“Kita cekik.”

“Dan wajah kita akan dicakarnya. Bukan kulit harimau itu yang cacat, tetapi kulit wajah kita.”

Yang lain tertawa. Tetapi prajurit yang berniat membunuh tanpa senjata itu tetap diam membeku.

Sejenak mereka menunggu. Tetapi mereka tidak melihat sepasang harimau mendekat. Mereka tidak melihat sesuatu.

“Harimau itu takut,” desis salah seorang dari mereka.

Tidak seorang-pun yang menyahut. Tetapi tanpa sesadarnya, prajurit-prajurit itu berpaling kearah Anusapati. Ternyata Putera Mahkota itu masih duduk di tempatnya memeluk lutut.

“Apakah Putera Mahkota menjadi ketakutan?” mereka bertanya di dalam hati.

Tetapi tidak seorang-pun yang berani mengucapkan pertanyaan itu. Bahkan mereka menganggap bahwa hal itu adalah hal yang wajar sekali, karena selama ini Putera Mahkota tidak pernah pergi ke luar halaman istana. Bahkan mungkin selain kulit-kulit harimau dan harimau-harimau mati hasil buruan Sri Rajasa, Anusapati belum pernah melihat harimau yang besar yang sesungguhnya, yang berkeliaran di padang rumput ditepi-tepi hutan yang lebat.

Ketika langit menjadi semakin merah maka para prajurit itu-pun mulai berkemas. Mereka yang tertidur-pun sudah mulai bangun seorang demi seorang. Senapati yang memimpin pasukan itu-pun telah terbangun pula dan duduk di samping Putera Mahkota.

“Apakah tuanku mengantuk?” bertanya Senopati itu, “masih ada waktu sampai matahari terbit.”

Anusapati tidak segera menjawab.

“Mungkin tuanku masih dapat tidur sekejap. Tugas tuanku berjaga sudah selesai. Di antara para prajurit telah banyak yang terbangun. Apalagi mereka yang bertugas di kesempatan pertama sampai menjelang tengah malam.”

“Baiklah,” desis Anusapati, “tetapi tentu tidak tidur. Aku hanya ingin berbaring.”

Demikianlah Anusapati dan beberapa orang prajurit yang bertugas terakhir, masih sempat berbaring barang sejenak. Beberapa orang kawan mereka telah terbangun dan membenahi diri. Di antara mereka ada yang sempat mencari kayu-kayu kecil dan membuat perapian untuk mengusir udara fajar yang dingin. Embun yang basah turun menyentuh kulit dan bebatuan sehingga membuat pagi menjadi bertambah dingin.

Meskipun hanya sekejap, ternyata ada juga di antara mereka yang bertugas terakhir sempat tertidur. Tetapi mereka-pun harus segera bangun pula. Sejenak, setelah matahari terbit, mereka akan bersiap meneruskan perjalanan mereka yang sulit.

Demikianlah, maka sejenak kemudian, ketika langit menjadi semakin cerah, pasukan kecil itu-pun telah dipersiapkan kembali. Mereka harus menjalani perjalanan mereka di hari ketiga. Hari terakhir.

Ketika cahaya matahari mulai menyentuh daun rerumputan, maka pasukan kecil itu-pun meneruskan langkah mereka. Beberapa orang sempat memanasi tubuh mereka sehingga menjadi hangat. Beberapa orang yang lain, masih harus berjalan sambil, mendekap telapak tangan masing-masing. Namun cahaya matahari pagi, segera membuat mereka bertambah segar.

Sinar matahari yang kekuning-kuningan itu telah membuat perjalanan pasukan kecil itu seakan-akan menemukan kekuatan mereka kembali. Kicau burung-burung liar dan desah angin didedaunan, membuat pagi bertambah cerah.

Demikianlah maka pasukan kecil itu meneruskan perjalanan mereka yang sulit. Kesegaran yang meresapi tubuh mereka-pun segera hanyut disapu oleh terik matahari yang menjadi semakin panas. Ketika keringat mereka mulai membasahi tubuh, maka mulailah mereka dicengkam kembali oleh kelelahan.

“Marilah kita selesaikan rencana perjalanan kita,” berkata Senapati yang memimpin pasukan itu, “hari ini adalah hari yang terakhir. Besok kita akan mulai dengan penyelidikan kita atas sarang lawan.”

Tidak ada seorang-pun yang menyahut. Namun sekali-sekali mereka harus mengusap keringat yang membasah di wajah.

Dihari terakhir itu, tampaklah bahwa prajurit-prajurit yang sudah cukup berpengalaman itu-pun menjadi sangat letih. Bahkan Senapati yang memimpin perjalanan itu-pun berjalan tertatih-tatih dan kadang-kadang harus bersandar dengan tangannya pada pepohonan. Tetapi ia berjalan terus. Kelelahan dan keletihan itu sama sekali tidak dihiraukannya. Ketika pasukan kecil itu harus menuruni tebing, maka mereka bagaikan siput yang merayap. Perlahan-lahan sekali. Tangan-tangan mereka yang basah oleh keringat menjadi licin dan tenaga mereka-pun telah jauh susut.

Prajurit-prajurit pilihan yang harus mengawasi Anusapati menjadi cemas. Mereka sudah mengalami kesulitan membawa diri mereka sendiri. Apalagi apabila mereka harus menolong Anusapati apabila diperlukan.

Tetapi ternyata Anusapati masih sanggup merayap sendiri meskipun harus menumbuhkan senyum pada beberapa orang prajurit. Prajurit yang kelelahan itu masih juga harus menahan tertawanya ketika mereka melihat Anusapati yang merayap turun. Kadang-kadang ia harus berbaring menelungkup, dan bergerak setapak demi setapak. Meluncur perlahan-lahan dan sekali-sekali sambil duduk ia beringsut maju.

Namun demikian setiap prajurit telah memuji kesungguhannya dalam pendadaran itu. Meskipun selama di istana Putera Mahkota itu disebut sebagai seorang anak muda yang malas, yang kurang cepat menangkap latihan-latihan olah kanuragan dan bahkan Tohjaya pernah menyebutnya sebagai seorang anak muda yang dungu, namun ternyata hati Anusapati keras seperti batu-batu padas dipegunungan yang mereka lewati.

Dengan tubuh dan pakaian yang kusut dan kotor. Anusapati berhasil juga melampaui tebing itu seperti prajurit-prajurit yang lain. Bahkan ketika seorang prajurit tidak dapat menahan senyumnya dihadapan Anusapati melihat wajah yang berdebu, Anusapati sendiri ikut tertawa pula.

“Nah, bukankah aku juga berhasil,” berkata Anusapati.

“Ya. Tuanku juga berhasil,” sahut Senapati yang memimpin pasukan itu sambil tersenyum juga.

“Tunggu. Jangan berjalan dahulu. Aku akan membersihkan diri.”

Para prajurit-pun menunggunya sambil tertawa. Tetapi kesempatan itu merupakan kesempatan beristirahat pula bagi mereka. Beberapa orang telah membantunya mengibaskan kain panjangnya. Yang lain menepuk-nepuk punggungnya yang dilekati oleh debu yang kemerahan. Tetapi dengan demikian, debu itu justru menjadi semakin merata di tubuh Putera Mahkota, sehingga beberapa orang prajurit yang lain justru mentertawakannya.

“Marilah,” berkata pemimpin pasukan itu, “kita meneruskan perjalanan.”

Dan pasukan itu mulai bergerak lagi. Mereka masih harus melalui lapangan perdu yang panjang di bawah terik matahari yang membakar. Namun mereka harus berjalan terus. Selangkah demi selangkah.

Dengan lemahnya Anusapati menyeret kakinya satu demi satu langkah. Tetapi ia masih tetap tidak mengeluh. Ia tidak pernah mengajukan permintaan apa-pun untuk menunda perjalanan.

“Ia akan menjadi prajurit yang baik,” desis Senapatinya kepada salah seorang prajurit pilihan yang mengawasi Putera Mahkota.

Prajurit itu menganggukkan kepalanya, “benar-benar diluar dugaan. Aku kira, bahwa aku akan mengalami kesulitan melayaninya. Bahkan mungkin mendukungnya. Tetapi ia tetap berjalan sendiri betapa-pun lelahnya.”

“Sama sekali berbeda dari anggapan orang terhadapnya,” sahut Senapati itu. “Putera Mahkota itu sama sekali bukan orang yang malas, bukan orang bodoh apalagi dungu. Memang mungkin ia agak lambat menerima ilmu dari gurunya. Tetapi itu bukan berarti malas atau bodoh. Mungkin cara gurunya tidak sesuai baginya, sehingga ia tidak berminat untuk belajar dengan sungguh-sungguh.”

Prajurit itu mengangguk-angguk. Mereka kini melihat sendiri, betapa Anusapati menjalani tugas yang dibebankan kepadanya dengan bersungguh-sungguh, sehingga prajurit yang lain menjadi segan untuk bermalas-malas, karena justru Anusapati yang baru pertama kali mengalami itu melakukannya dengan bersungguh-sungguh.

“Kalau yang ada dipasukan ini Tuanku Tohjaya, mungkin kita akan medapat kesulitan,” berkata prajurit itu tiba-tiba.

“Kenapa?” bertanya pemimpinnya.

“Kadang-kadang tuanku Tohjaya berbuat terlampau berani.”

“Sombong maksudmu?”

Prajurit itu tersenyum.

“Katakanlah begitu. Aku tidak akan melaporkannya. Aku juga menganggapnya begitu.”

“Ya. Dengan demikian perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang sangat berbahaya baginya. Mungkin tuanku Tohjaya menjadi kurang berhati-hati dan merasa berkemampuan melampaui kita semuanya.”

Senapati itu mengangguk-angguk. Katanya, “Tetapi pada suatu saat, tuanku Anusapati akan menyamainya, justru karena Putera Mahkota merasa dirinya kurang berpengetahuan dan bersedia menerima petunjuk dari siapa-pun juga.”

Prajurit itu mengangguk-angguk. Tetapi ia tidak menjahut lagi karena nafasnya yang mulai memburu dilubang hidungnya.

Senapati yang memimpin pasukan itu-pun terdiam pula, ia sendiri juga merasa kaki-kakinya menjadi lemah karena lelah. Tetapi ia tidak mau berhenti. Perjalanan hari itu adalah perjalanan yang terakhir menjelang sarang penjahat yang mereka datangi.

Ternyata perjalanan dihari terakhir itu benar-benar terasa berat sekali. Beberapa orang prajurit sudah hampir tidak dapat maju lagi. Namun setiap kali mereka melihat Anusapati yang dengan nafas terengah-engah berjalan terus, mereka-pun tidak juga mau berhenti.

Namun demikian hampir setiap orang mulai mengeluh didalam hati. Bahkan pemimpin pasukan itu-pun mengeluh pula. Tetapi ia tidak mau memerintahkan pasukannya menunda perjalanan.

Di sebuah semak-semak yang rimbun, Anusapati yang menyeret kakinya itu-pun berhenti sejenak. Setiap orang memandanginya dengan heran ketika ia menarik pedangnya dan sarungnya.

“Apakah yang akan dilakukannya?” bertanya salah seorang prajurit kepada kawannya.

Prajurit itu menggeleng. “Entahlah.”

Dan mereka-pun kemudian melihat Anusapati memotong sebatang dahan dan sambil tersenyum ia bertanya kepada pemimpin pasukan kecil itu. “Apakah aku boleh berjalan dengan tongkat seperti seorang kakek-kakek?”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya, “Boleh tuanku. Tidak ada keberatan apa-pun kalau itu dapat membantu tuanku.”

“Terima kasih,” sahut Anusapati sambil menyarungkan pedangnya. “Aku akan bertongkat seperti orang tua.”

Anusapati itu-pun kemudian berjalan sambil bertumpu pada tongkatnya. Tetapi ternyata beberapa orang telah menirunya, dan pemimpin pasukan itu-pun tidak melarang mereka.

Sebenarnya pemimpin pasukan itu merasa iba juga melihat Anusapati yang setiap kali hampir saja terjatuh apabila kakinya sedikit saja tersentuh bebatuan, bahkan tersentuh serumpun rumput kering. Tetapi Putera Mahkota itu berjalan terus. Betapapun ia tampak kelelahan, tetapi wajahnya tetap cerah, dan setiap kali bibirnya masih juga selalu tersenyum.

“Bukan main,” berkata Senapati itu di dalam hatinya.

Semakin rendah matahari, pasukan kecil itu berjalan semakin lambat. Namun demikian pemimpin pasukan itu tidak dapat memaksa anak buahnya untuk mempercepat langkahnya. Bahwa mereka masih tetap maju itu-pun merupakan suatu keteguhan hati para prajurit, terutama Putera Mahkota.

Namun demikian, karena mereka hanya sekedar merayap seperti siput, ternyata ketika matahari terbenam, mereka masih belum sampai ke tempat yang mereka tuju. Tempat yang digambarkan oleh seorang petugas sandi yang pernah mendahului perjalanan mereka menyelidiki tempat itu.

Karena itu, maka pemimpin pasukan itu berkata, “Kita akan berjalan terus sampai ketempat tujuan meskipun hari menjadi gelap. Kalau kita tidak dapat menyelesaikan perjalanan hari ini, mungkin kita akan berselisih jalan.”

“Berselisih jalan dengan siapa?” bertanya Anusapati.

“Kita telah mengirim dua orang pasukan sandi mendahului perjalanan ini. Mereka telah menentukan tempat dimana kita harus menunggu mereka untuk mendapat keterangan-angan. Besok kita bersama-sama akan melihat medan, dan menentukan cara untuk menghancurkan mereka.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Para prajurit yang melihat dan mendengar percakapan itu berharap, agar Putera Mahkota yang tampak sangat lelah itu minta untuk menunda perjalanan. Agaknya bagaimana-pun juga pemimpin pasukan itu akan mendengarnya juga.

Tetapi mereka menjadi kecewa karena Anusapati justru mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Baiklah. Tetapi apakah tempat itu masih jauh?”

“Tidak. Menurut tanda-tanda yang kita lihat disini, kita sudah dekat.”

Demikianlah maka pasukan kecil itu berjalan terus, tersuruk-suruk dimalam yang semakin gelap. Tanpa obor dan tanpa tuntunan apapun. Mereka harus mengenali tanda-tanda diperjalanan dan isyarat-isyarat yang pernah mereka terima sebelum mereka berangkat.

Sambil mengumpat-umpat di dalam hati mereka berjalan terus. Anusapati-pun berjalan terus. Seluruh pasukan itu menjadi lelah seperti tidak bertenaga lagi.

Beberapa lama kemudian barulah Senapati itu berkata, “Berhenti. Marilah kita lihat tempat ini.”

Pasukan itu-pun segera berhenti. Sejenak mereka mengamat-amati keadaan.

“Pohon nyamplung sekembaran ini merupakan pertanda,” desis pemimpin pasukan itu.

“Apakah pohon ini pohon nyamplung?” bertanya salah seorang prajurit, “aku tidak dapat melihat daunnya di dalam kegelapan.”

“Jangan tengadahkan kepalamu. Jangan mencoba melihat ciri pohon ini di bagian atas. Kau tidak akan dapat melihatnya di kegelapan.”

“Darimana kita mengetahui kalau kedua batang raksasa ini pohon nyamplung?” bertanya prajurit itu.

“Lihatlah kebawah. Daun-daun yang jatuh dan terutama buah-buahnya yang tercecer oleh angin ini.”

“O,” prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipungutnya sehelai daun kuning, dan kemudian sebutir buah nyamplung yang tergolek dibawah kakinya.

“Ya. Kita telah sampai di bawah pohon nyamplung sepasang itu.”

“Dan tentu batu inilah yang dimaksud dengan batu berkilat itu.”

“Ya. Kita berhenti disini,” sela prajurit yang lain.

“Ya. Kita sudah sampai. Kita dapat beristirahat sejenak,” berkata Senapati itu.

Tanpa perintah berikutnya, hampir setiap prajurit segera menjatuhkan dirinya duduk bersandar pokok-pokok kayu tanpa menghiraukan tanah yang agak lembab dan kotor. Bahkan ada di antara mereka yang menjelujurkan kakinya sambil menarik nafas dalam-dalam, seolah-olah mereka telah terlepas dari suatu tugas yang sangat berat.

Senapati yang memimpin pasukan itu-pun sebenarnya telah lelah sekali pula. Tetapi ia tidak dapat berbuat seperti prajuritnya. Ia masih berjalan hilir mudik sejenak, memperhatikan setiap orang di dalam pasukan itu. Baru kemudian ia meletakkan dirinya di atas sebuah batu dan bersandar pada sebatang pohon perdu. Disampingnya Anusapati-pun telah duduk pula lebih dahulu dengan nafas yang terengah-engah.

“Perjalanan yang berat tuanku?” bertanya Senapati itu.

Anusapati tersenyum. Diusapnya keringat yang membasah dikening. Kemudian di sela-sela tarikan nafasnya yang memburu ia menjawab, “Ya. Perjalanan yang berat, tetapi menyenangkan. Aku melihat sesuatu yang baru dalam perjalanan ini. Bukan sekedar petamanan di halaman istana yang dibatasi dinding-dinding batu yang tinggi. Disini aku dapat melihat hijaunya hutan. Dari hutan yang rindang, sampai hutan belukar yang lebat. Aku dapat melihat tebing-tebing batu padas yang kemerah-merahan, dan aku dapat melihat jurang yang curam di tepi-tepi sungai.”

Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya pula, “Tuanku pasti lelah sekali.”

“Ya lelah sekali. Sebenarnya aku sudah ingin berhenti di separuh perjalanan hari ini. Tetapi aku tidak berani melanggar ketentuan yang sudah digariskan, bahwa hari ini kita harus sampai di sini.”

Senapati itu tersenyum.

“Semua orang kelelahan,” berkata Anusapati kemudian.

“Ya, semua orang menjadi sangat lelah.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia beringsut mendekat sambil berbisik, “Aku akan bertanya sesuatu.”

“Silahkan tuanku.”

“Aku belum berpengalaman di dalam olah keprajuritan. Karena itu aku tidak mengerti cara yang kau pergunakan di dalam tugas kita kali ini. Kalau memang sudah ditentukan bahwa hari ini kita harus sampai disini, barangkali memang tidak dapat dipertimbangkan cara lain. Tetapi seandainya dalam keadaan seperti ini, selagi semua prajurit kelelahan dan hampir tidak mampu berdiri lagi, tiba-tiba datang sebuah serangan lawan yang mengetahui kehadiran kita dari petugas-tugas sandinya, bagaimana kira-kira yang akan terjadi?”

Senapati itu mengerutkan keningnya. Pertanyaan itu sangat sederhana, tetapi mengandung kebenaran yang tidak dapat diingkari. Untuk memenuhi rencana yang sudah diatur sebelumnya, Senapati itu telah memaksa prajuritnya berjalan terus betapa-pun lelahnya. Tetapi seperti yang ditanyakan oleh Anusapati, apabila dalam keadaan seperti ini, segerombolan musuh datang menyerang, maka apakah yang kira-kira akan terjadi?

Karena itu, untuk sesaat prajurit itu merenung. Tanpa sesadarnya dipandanginya setiap orang yang duduk dengan lelahnya bersandar batang-batang pohon. Bahkan ada yang begitu saja berbaring di tanah beralaskan daun-daun kering. Seakan-akan mereka sama sekali sudah tidak bertenaga lagi.

“Tetapi tuanku,” berkata prajurit itu, “kita berhadapan dengan segerombolan penjahat yang tidak mempunyai pengetahuan yang cukup di dalam olah keprajuritan, meskipun mereka adalah penjahat-penjahat yang menggetarkan daerah di sekitar tempat tinggal mereka. Namun mereka tidak akan mempunyai pikiran untuk menempatkan beberapa petugas sandi di sekeliling sarang mereka itu.”

“Ya. Kali ini. Tetapi kalau hal ini terulang, selagi kita menyerang gerombolan-gerombolan yang lebih teratur dan lebih besar, maka kita akan mengalami kesulitan.”

Senapati itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba ia berkata, “Tuanku benar. Kita memang terlampau memaksa diri. Mudah-mudahan mereka tidak mengetahui kehadiran kita dan tidak menyerang kita selagi kita kehabisan tenaga. Mudah-mudahan besok, selagi kita beristirahat sambil mengenal medan, kekuatan kita telah pula kembali.”

“Mudah-mudahan. Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa malam ini.”

Senapati itu-pun terdiam. Sedang Anusapati kemudian beringsut menjauh. Disandarkannya tubuhnya pada sebatang pohon yang besar sambil memandang berkeliling. Didalam hati ia berdesis, “Kalau tempat ini banyak ularnya, mungkin akan timbul korban karenanya. Apakah obat yang dibawa itu cukup kuat melawan bisa ular yang tajam?”

Tetapi ia-pun kemudian menggelengkan kepalanya, “Mudah-mudahan tidak ada ular disini, atau ular-ular itu menjadi ketakutan dan pergi.”

Dalam pada itu, hampir setiap orang didalam pasukan itu tidak sempat lagi membagi tugas. Hampir semuanya duduk terkantuk-kantuk, bahkan mereka yang terlampau lelah dan berbaring di atas dedaunan kering, ada pula yang telah tertidur. Sehingga dengan demikian, Sanapatinya-pun agaknya segan juga untuk memaksa mereka berjaga-jaga meskipun berganti-gantian.

Karena itu, maka didatanginya dua orang prajurit yang masih agak segar dibandingkan dengan kawan-kawannya. Keduanya adalah prajurit yang mendapat tugas untuk mengawal Putera Mahkota. Sedang yang seorang dari mereka, agaknya telah kelelahan pula.

“Kita bertiga bertugas sekarang,” berkata Senapati itu, “kita mengawasi keadaan. Nanti, sebentar lagi, kita akan menerima para petugas sandi yang mendahului kita.”

“Semalam suntuk?” bertanya salah seorang dari keduanya.

“Tentu tidak. Kita akan membangunkan beberapa orang yang akan bertugas menjelang pagi. Aku akan minta kedua petugas sandi yang tentu tidak kelelahan seperti kita untuk membantu mengawasi keadaan dibagian terakhir malam ini.”

Keduanya-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Betapa-pun lelahnya mereka harus menerima tugas itu.

Demikianlah maka para prajurit itu-pun sejenak kemudian telah jatuh tertidur dibawah rimbunnya sepasang pohon nyamplung yang besar di pinggir hutan yang rindang. Mereka tidak dapat lagi menahan kelelahan yang serasa telah mencengkam seluruh tubuh mereka. Dari ujung kaki sampai keujung ubun-ubun.

Yang masih tetap berjaga-jaga tinggal pemimpin pasukan kecil itu bersama dua orang prajurit yang betapa-pun perasaan kantuk mencengkamnya, namun keduanya berusaha untuk tetap terjaga.

Demikianlah maka malam-pun berjalan terus. Bintang-bintang dilangit bergeser pula perlahan-lahan. Semakin lama semakin rendah di ujung Barat. Anusapati yang bersandar sebatang pohon-pun telah memejamkan matanya pula. Tetapi sebenarnya ia tidak segera tertidur. Sekali-sekali di sela-sela pelupuk matanya, ia masih melihat pemimpin pasukan yang kelelahan itu berdiri dan berjalan tertatih-tatih di antara anak buahnya yang sedang tidur nyenyak.

“Seorang pemimpin yang baik,” desis Anusapati di dalam hatinya.

Namun sejenak kemudian dada Anusapati menjadi berdebar-debar, ia mendengar desir langkah mendekati tempat itu. Semakin lama semakin dekat.

Baru sejenak kemudian pemimpin pasukan itu mendengarnya pula. Karena itu, ia-pun segera mendekati kedua prajurit yang bertugas bersamanya, “Kau mendengar? “ bisiknya.

“Ya. Agaknya petugas sandi kita yang telah mendahului perjalanan ini.”

Pemimpinnya mengangguk-anggukkan kepalanya.

Sejenak kemudian mereka mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Ya. itulah mereka.”

Pemimpin pasukan itu menarik nafas dalam-dalam. Dikejauhan didengarnya suara burung prenjak. Memang tidak lajim seekor burung prenjak bersiul di malam hari. Tetapi itulah pertanda yang sudah mereka bicarakan sebelum mereka meninggalkan Singasari beberapa waktu yang lampau mendahului pasukan ini.

Sejenak kemudian maka muncullah dua orang dari kegelapan. Dua orang yang telah menirukan suara burung prenjak meskipun di malam hari.

“Marilah. Kami sudah menunggu,” berkata Senapati itu.

“Kamilah yang menunggu,” sahut salah seorang dari kedua petugas sandi itu.

“O, ya. Kalianlah yang telah menunggu. Marilah, duduklah.”

Keduanya-pun segera mendekati pemimpin pasukan itu dan duduk di atas selembar daun nyamplung yang kering.

“Kau terlambat beberapa saat.”

“Tidak,” jawab Senapati itu, “kami datang pada waktunya.”

“Kami mengharap kalian datang sebelum senja. Tetapi kalian datang hampir tengah malam.”

“O. Tetapi masih dihari yang ditentukan.”

“Ya. Dan kita masih mempunyai waktu sehari semalam untuk melihat-lihat keadaan sambil beristirahat.”

Pemimpin prajurit itu mengangguk-angguk. Desisnya, “Ya, kita masih dapat beristirahat. Sekarang kau dapat melihat sendiri, prajuritku tidur seperti orang mati karena kelelahan.”

Kedua prajurit sandi itu tersenyum. Katanya, “Memang perjalanan yang sangat berat. Aku memerlukan waktu empat hari empat malam untuk mencapai tempat ini.”

“Ya. Aku tidak tahu, kenapa untuk pasukanku direncanakan hanya tiga hari tiga malam?”

“Suatu latihan ketangkasan bagi prajurit-prajurit Singasari.”

“Tetapi kalau dalam keadaan ini kita berhadapan dengan musuh kita akan digulung habis-habisan.” pemimpin itu berhenti sejenak. Lalu, “pertanyaan itu datang dari tuanku Putera Mahkota, apakah yang dapat kita lakukan seandainya sekarang kedatangan kita diketahui oleh musuh-musuh kita itu, lalu kita diserang saat ini juga.”

Kedua prajurit sandi itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi salah seorang menyahut, “Jika demikian, maka kita akan habis dibantai. Dan seandainya kami berdua masih hidup, maka kami akan digantung juga, karena hal itu pasti dianggap kesalahan kami.”

Senapati itu tersenyum. Katanya, “Tetapi agaknya tidak terjadi demikian.”

“Kali ini tidak. Aku selalu mengawasi mereka.”

“Bagaimana dengan mereka?”

Kedua prajurit itu terdiam. Namun salah seorang berbisik, “Dimanakah tuanku Patera Mahkota?”

“Tidur, itu bersandar sebatang pohon.”

Prajurit itu berpaling sejenak. Didalam keremangan malam ia melihat Anusapati bersandar pohon, tetapi ia tidak begitu jelas menangkap keredip matanya. Karena itu, maka disangkanya Anusapati benar-benar sedang tidur nyenyak.

“Bukan pekerjaan yang berat bagi kita,” berkata prajurit sandi itu.

“Kita sudah menyangka.”

“Yang penting, justru latihan menempuh jarak dan medan yang paling buruk.”

“Tetapi latihan ini terlampau berat. Berat sekali. Untunglah tuanku Putera Mahkota seorang yang berhati baja.”

“Bagaimana dengan Putera Mahkota?”

“Seperti Kau lihat. Ia berjalan terus tanpa mengeluh, ia dapat berbuat seperti prajurit-prajurit yang sudah berpengalaman, meskipun kadang-kadang kita harus tersenyum karenanya.”

“Kenapa?”

“Sekali-sekali tuanku Anusapati merayap seperti seekor kadal dijurang-jurang yang terjal, disaat lain menuruni tebing sambil duduk menjelujurkan kakinya.”

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...