Rabu, 27 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 16-02

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-16-02
“Cepat. Kalau kalian tidak dapat menunjukkan bukti bahwa kalian prajurit-prajurit istana, maka kami terpaksa menahan kalian. Tetapi kalau ternyata kalian prajurit, kami akan minta maaf karena kami sekedar berhati-hati. Biasanya kami tidak pernah mengganggu orang lewat. Tetapi tanda bahaya yang mula-mula bergema di istana, membuat kami berhati-hati.”

“Sangat sulit bagi kami untuk menunjukkan bukti itu, karena kami benar-benar tergesa-gesa, sehingga kami tidak dapat berpakaian lengkap.”

“Apakah kalian akan bertugas di istana dengan pakaian semacam itu?”

“Kami mempunyai pakaian keprajuritan lengkap di istana.”

Para peronda itu menjadi ragu-ragu.

“Kalau kalian tidak percaya,” berkata Mahisa Agni, “marilah, ikuti kami. Bukankah regol istana sudah dekat?”

Para peronda itu berpikir sejenak. Kemudian salah seorang berkata, “Ikutilah. Dua orang. Berilah tanda kalau orang-orang itu mencurigakan. Beberapa puluh langkah kalian akan sampai di gardu berikutnya.”

Kedua orang yang ditunjuk itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Keduanya adalah anak-anak muda yang bertubuh tinggi dan bertangan kuat. Di lambung mereka tergantung pedang yang besar.

“Aku akan membawanya sampai ke regol istana,” berkata salah seorang dari mereka, “kalau keduanya memang prajurit, keduanya pasti tidak akan berbuat apa-apa, sampai saatnya mereka berada di regol istana, dan kami akan minta maaf kepada mereka. Tetapi kalau keduanya ingin berbuat sesuatu, itu pertanda bahwa keduanya bukan prajurit yang sebenarnya.”

“Kalau keduanya bukan prajurit, maka kami berdua akan menangkapnya.”

Baik Mahisa Agni mau-pun Sri Rajasa, merasa bangga juga didalam hati. Ternyata bukan saja prajurit Singasari yang selalu bersiap menghadapi setiap kemungkinan, meskipun di masa damai, tetapi juga anak-anak muda di padukuhan-padukuhan.

“Baiklah,” berkata Mahisa Agni kemudian, “kalian akan mengetahui tentang kami berdua apabila kami sudah sampai di regol istana.”

Mereka-pun kemudian melanjutkan perjalanan. Di sepanjang jalan Mahisa Agni tidak lagi berbicara sesuatu, supaya tidak menimbulkan kesan yang aneh pada kedua anak-anak muda yang mengikutinya.

Di gardu berikutnya, mereka-pun terpaksa berhenti. Beberapa orang anak muda berloncatan dari gardu sambil menyapa, “Siapa kalian?”

Dua orang anak muda yang mengawal Mahisa Agni dan Sri Rajasa maju beberapa langkah. Katanya, “Aku.”

“Siapa yang dua itu?”

“Tidak kami kenal. Kami akan membuktikannya, apakah benar keduanya prajurit istana.”

“Apa katanya?”

Salah seorang dari kedua anak muda itu-pun mengatakan pengakuan yang diucapkan oleh Mahisa Agni.

“Apakah kami perlu ikut?”

“Terserahlah.”

“Baik. Kami akan mengirimkan seorang untuk ikut serta membuktikan apakah keduanya memang prajurit pengawal.”

Mereka-pun kemudian berjalan berlima. Mereka masih melalui dua buah gardu berikutnya, sebelum mereka sampai ke pinggir alun-alun Singasari.

“Sampai disini?” bertanya Mahisa Agni.

“Tidak. Kami akan membawa kalian sampai ke regol. Di sini kalian masih mempunyai kesempatan untuk pergi tidak ke regol istana.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Tetapi apakah itu perlu sekali. Kalian dapat mengawasi dari kejauhan.”

“Apakah kalian akan lari?”

“Tidak. Tentu tidak.”

“Kalau begitu, marilah.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Sekilas dipandanginya wajah Sri Rajasa. Tetapi wajah itu sama sekali tidak menunjukkan kesan apapun, sehingga Mahisa Agni tidak dapat mengambil kesimpulan apa-apa daripadanya.

Demikianlah maka mereka-pun berjalan melintasi alun-alun pergi ke regol depan halaman istana. Dari kejauhan tampak obor yang menyala dengan terangnya. Bahkan sudah tampak pula beberapa orang prajurit yang bersiaga dengan senjata telanjang.

“Mereka-pun telah bersiaga sepenuhnya,” desis salah seorang dari ketiga orang yang mengantar Mahisa Agni dan Sri Rajasa itu.

“Tentu. Lihat, di gerbang depan-pun para prajurit telah bersiaga.” mereka berhenti sejenak. Lalu, “agaknya para perwira ada juga di sana.”

“Ya. Para perwira pasti sudah siap disana.”

“Kenapa kalian masih belum berada di sana bersama mereka?”

“Kami terlambat.”

“Apakah kalian benar-benar prajurit?”

“Ya, kami benar-benar prajurit,” jawab Mahisa Agni.

“Kami akan minta maaf. Tetapi kami ingin meyakinkan.”

Mahisa Agni tidak menjawab. Selangkah demi selangkah mereka-pun menjadi semakin dekat pintu gerbang induk itu.

Beberapa orang prajurit yang bertugas di luar gerbang-pun segera melihat kehadiran mereka berlima. Dari kejauhan mereka tidak segera melihat, siapa saja yang ada diantara mereka. Karena itu, mereka-pun segera bersiaga. Keadaan yang tidak terduga-duga dapat saja terjadi, apalagi Sri Rajasa dan Mahisa Agni tidak berada di istana. Seperti yang dicemaskan oleh Putera Mahkota, selagi Sri Rajasa terpancing keluar, maka datanglah orang-orang yang sebenarnya ingin berbuat sesuatu di istana ini.

Namun semakin dekat, para prajurit itu-pun menjadi semakin jelas, siapakah yang berjalan dipaling depan. Mereka adalah Sri Rajasa dan Mahisa Agni.

“Tetapi siapakah pengiringnya?” bertanya para prajurit itu di dalam hatinya.

Tetapi tidak seorang-pun yang dapat menjawab. Bahkan mereka-pun saling bertanya satu kepada yang lain.

Anusapati dan Tohjaya yang segera diberi tahu kehadiran Sri Rajasa itu-pun kemudian menyambutnya di muka pintu. Di belakang keduanya Mahisa-wonga-teleng berdiri termangu-mangu.

Dari kejauhan Mahisa Agni melihat ketiga putera Sri Rajasa itu. Tanpa sesadarnya ia-pun berkata di dalam hati, “Mahisa-wonga-teleng memang sudah menginjak masa dewasanya, meskipun belum sepenuhnya.”

Semakin dekat dengan regol depan itu, tiga orang yang mengantar Mahisa Agni dan Sri Rajasa menjadi semakin berdebar-debar. Tidak biasa seorang prajurit memasuki istana lewat regol ini. Biasanya mereka melalui regol samping.

Meskipun demikian, mereka ingin juga membuktikan, siapakah sebenarnya kedua orang ini.

Sri Rajasa dan Mahisa Agni-pun menjadi semakin dekat dengan regol istana. Sekali-sekali mereka berpaling, dan ketiga anak-anak muda itu-pun masih mengikutinya.

“Apakah kalian akan singgah di rumah kami sebentar?” bertanya Mahisa Agni.

“Dimana rumahmu?” bertanya salah seorang dari mereka.

“Disitu. Didalam halaman istana.”

“He,” sahut yang lain, “tadi kau berkata bahwa kau dengan tergesa-gesa pergi dari rumah ke istana karena tanda bahaya.”

“O, ya. Tetapi aku juga mempunyai pondok di dalam. Bukankah aku berkata, bahwa aku akan berganti dengan pakaian keprajuritan setelah aku sampai di istana? Nah, apakah kalian ingin singgah?”

Ketiga anak-anak muda itu menjadi termangu-mangu.

Semakin dekat dengan regol istana, maka wajah-wajah kedua orang yang mereka ikuti-pun menjadi semakin jelas, oleh cahaya obor yang terang benderang di sisi gerbang. Dengan demikian maka kedua orang itu-pun menjadi semakin nyata bagi anak-anak muda yang mengikutinya. Bahkan salah seorang dari mereka berbisik, “He, aku pernah melihat kedua orang itu.”

“Dimana?”

“Aku lupa, dimana.”

“Mungkin keduanya memang prajurit.”

Ketiganya mencoba mengingat-ingat, dimana mereka pernah melihat kedua orang yang diikutinya. Apalagi ketika wajah-wajah mereka menjadi semakin jelas, dan pakaian mereka yang agak …?

Demikianlah akhirnya mereka sampai di muka gerbang. Anusapati dan kedua adiknya-pun segera menyongsongnya diikuti oleh beberapa orang perwira.

Yang pertama-tama bertanya adalah Tohjaya, “Bagaimana dengan ayahanda?”

Sri Rajasa menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “Aku gagal.”

Tohjaya tercenung sejenak. Demikian pula para perwira dan prajurit yang ada di gerbang itu. Namun mereka masing-masing juga bertanya-tanya, siapakah orang-orang yang mengikutinya.

Mahisa Agni lah yang kemudian berpaling sambil berkata kepada anak-anak muda yang mengikutinya itu, “Nah. Kami sudah sampai di rumah kami. Terima kasih atas kesiagaan kalian. Kalau kalian belum pernah mengenal, inilah yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”

“He?” ketiga orang itu serasa membeku di tempatnya.

Dan Sri Rajasa-pun tiba-tiba berkata, “Dan inilah seorang Senapati Singasari yang terbesar, Mahisa Agni.”

Tiba-tiba saja ketiganya berlutut hampir berbareng. Salah seorang menundukkan kepalanya sampai ke tanah sambil berkata, “Ampun tuanku. Hamba tidak tahu, siapakah sebenarnya tuanku berdua ini.”

“Pulanglah, kalian sudah melakukan tugas kalian dengan baik. Teruskan kesiagaan kalian menghadapi bahaya mendatang.”

“Hamba tuanku. Tetapi, tetapi hamba tidak tahu, bahwa yang lewat hanya berdua adalah tuanku.”

“Sudahlah. Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik.”

Ketiga orang itu-pun kemudian mengundurkan diri dan kembali ke gardu mereka. Di sepanjang jalan tidak habis-habisnya mereka berbicara tentang kedua orang yang aneh itu.

“Aku tidak menyangka, bahwa Sri Rajasa berjalan hanya berdua saja justru ketika ada tanda bahaya,” berkata yang seorang.

“Tidak ada orang yang akan menyangka demikian,” sahut kawannya.

Di gardu, mereka berceritera tidak habis-habisnya, apa yang mereka alami selama mereka mengikuti dua orang yang mereka anggap asing itu.

Di istana, Sri Rajasa-pun kemudian memberikan sedikit keterangan tentang orang yang dikejarnya itu. Sri Rajasa-pun memperingatkan kepada setiap prajurit, bahwa mereka tidak boleh lengah selagi Singasari tampaknya berada dipuncak kejayaan.

“Ternyata ada juga kekuatan di luar istana ini yang perlu diperhitungkan,” berkata Sri Rajasa, “meskipun tidak sampai pada batas yang membahayakan. Tetapi orang berkerudung itu pasti tidak berdiri sendiri.”

Namun dengan demikian, Tohjaya tidak lagi mencari-cari orang di dalam istana Singasari. Ia tidak mencari tempat untuk meletakkan tuduhannya. Bahkan dengan demikian, perwira yang menjadi guru bersama dari Tohjaya dan Anusapati itu-pun dapat menarik nafas dalam-dalam. Namun ia-pun tidak habis berpikir siapakah orang-orang aneh yang juga berkerudung hitam itu. Seandainya Mahisa Agni tidak ada di istana saat itu, maka semua sorotan pasti akan diarahkan kepadanya.

Tetapi saat itu Mahisa Agni ada di istana, bahkan bersama-sama dengan Sri Rajasa mengikuti bayangan yang kehitam-hitaman.

Beberapa waktu, ceritera tentang orang berkerudung hitam itu masih saja membayangi Singasari. Namun lambat laun, ceritera itu-pun menjadi semakin pudar, dan akhirnya tidak lagi banyak dibicarakan orang. Meskipun demikian, Sri Rajasa sudah memerintahkan, agar setiap prajurit bersiaga menghadapi setiap kemungkinan.

“Peristiwa itu pasti tidak berdiri sendiri,” berkata Sri Rajasa kepada para Panglima dan Senapati serta para perwira prajurit Singasari, “dan peristiwa berikutnyalah yang perlu mendapat pengamatan saksama. Kalian harus mendapat gambaran di seluruh Singasari, kekuatan yang tersembunyi, yang selama ini seolah-olah tidak pernah kita perhatikan.”

Demikianlah, pembicaraan di dalam istana Singasari-pun segera beralih kepada persoalan Anusapati. Tiba-tiba saja terbetik berita, bahwa Putera Mahkota akan segera kawin.

Berita itu telah disambut oleh rakyat Singasari sebagai suatu berita yang besar. Apalagi ketika kemudian disusul berita, bahwa bukan saja Anusapati, tetapi telah dibicarakan pula saat perkawanan Putera Sri Rajasa yang lain, tetapi bukan Tohjaya, justru Mahisa-wonga-teleng.

Anusapati sendiri tidak pernah mendapat kesempatan untuk menyatakan pendapatnya kepada Ayahanda Sri Rajasa. Segala keputusan sidang para pemimpin pemerintahan yang mengatur tata kehidupan Putera Mahkota, yang sudah disyahkan oleh Sri Rajasa menjadi keharusan yang mengikat.

Demikianlah, maka kini Putera Mahkota telah menjadi pokok pembicaraan dalam sidang-sidang pimpinan pemerintahan di Singasari. Tidak seorang-pun yang menolak pendapat Sri Rajasa, bahwa sebaiknya Putera Mahkota segera kawin, dan hidup sebagai seorang yang sudah berkeluarga, seorang yang sudah masak untuk berdiri sendiri. Dalam hubungannya dengan jabatannya, maka Putera Mahkota akan mendapat tugas-tugas tertentu dari Ayahanda Sri Rajasa. Yang pada umumnya seorang Putera Mahkota akan diangkat menjadi Senapati Perang, sebelum pada saatnya ia akan menjabat sebagai seorang Raja apabila ayahanda tidak lagi dapat menjalankan kuwajibannya.

Namun bagaimana-pun juga memang terasa pada Anusapati, bahwa saat perkawinannya itu ditentukan oleh ayahanda bukan tanpa bayangan maksud tertentu. Meskipun demikian, ia wajib patuh dan harus menjalani tanpa menyanggah apabila ia tidak ingin mengalami kesulitan di dalam istana Singasari yang semakin lama menjadi semakin megah itu.

Hanya kepada Pamanda Mahisa Agni sajalah Anusapati dapat menyampaikan seluruh hatinya. Kepedihan yang selama ini tersimpan di dalam dadanya, lambat laun mengalir pula sampai tuntas. Bahkan sebagian dari beban yang berat itu, apabila sudah tidak tertahankan lagi, Anusapati selalu pergi ke taman menemui juru taman yang bernama Sumekar. Sebelum ia sempat menemui Mahisa Agni, maka Sumekar lah orang yang pertama-tama mendapat pengaduan daripadanya, meskipun tidak sebanyak yang disampaikannya kepada Mahisa Agni. Namun yang sedikit itu ternyata telah dapat mengurangi beban yang sangat berat di dalam hatinya, sehingga hampir tidak tertanggungkan lagi.

“Paman,” berkata Anusapati kepada Sumekar, “aku tidak tahu apa yang akan terjadi kelak, sesudah aku menjalani saat-saat perkawinan yang telah ditentukan itu.”

Sumekar tidak dapat segera menyahut. Tetapi ia dapat mengerti, betapa berat beban yang ditanggungkan oleh Putera Mahkota itu.

Dan Anusapati-pun berkata selanjutnya, “Tetapi agaknya paman Mahisa Agni-pun berkeras hati, agar aku tidak berusaha untuk mengelakkan tugas ini, meskipun aku sudah menyampaikannya kepada paman Mahisa Agni, akibat dari perkawinan itu.”

“Hamba juga sudah menduga tuanku, bahwa sulitlah bagi tuanku, untuk tetap bersembunyi seperti sekarang ini. Sebab sebagai seorang Senapati tuanku akan langsung bersentuhan dengan pedang dan prajurit. Tuanku pasti akan menjadi seorang Senapati perang. Di jaman yang tenteram seperti saat-saat ini, maka musuh utama bagi para Senapati adalah kejahatan. Dan kajahatan itu kadang-kadang ada di dalam lingkungan kita sendiri, bahkan kadang-kadang ada di dalam hati kita.”

“Ya. Itulah yang aku bingungkan. Pada suatu saat aku pasti harus menjalani tugas-tugas pendadaran. Mungkin aku harus datang ke telatah-telatah yang kurang tenteram. Ke telatah-telatah yang banyak diganggu oleh penjahat. Berat atau ringan nilai dari pendadaran itu tergantung dari Ayahanda Sri Rajasa sendiri.”

“Hamba tuanku. Dan di dalam pendadaran banyak hal yang dapat terjadi. Mungkin tuanku harus menjalani pendadaran yang terlampau berat dengan pamrih-pamrih tertentu. Tetapi mungkin juga tidak. Namun di dalam dada ini, kita sudah menyimpan berbagai macam tanggapan yang buram, yang barangkali tidak akan pernah terjadi.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia tidak gentar sama sekali seandainya ia harus mengalami pendadaran yang betapa-pun beratnya. Mungkin ia akan dikirimkan ke seberang lautan untuk meyakinkan hubungan kesatuan antara daerah-daerah seberang lautan dengan daerah yang ada di dalam lingkungan kebulatan kepulauan ini. Bahkan untuk datang kenegeri tetangga dalam hubungan apa-pun juga. Atau menumpas segala macam penjahat yang ada di lingkungan Singasari dan daerah-daerah di dalam lingkungan kesatuannya.

Tetapi yang masih membingungkannya, bagaimana mungkin ia masih harus tetap menjalankan peranannya sebagai seorang Putera Mahkota yang bodoh dan malas. Kalau ia benar-benar menemui bahaya di dalam pendadarannya, apakah ia harus berpangku tangan, atau berpura-pura tidak mampu melawan atau mengatasi kesulitan. Bagaimana apabila ia melihat ujung tombak meluncur kedadanya? Apakah ia harus membiarkannya dan berpura-pura tidak mampu mengelak, tetapi yang karena itu, akibatnya nyawanya benar-benar terbang?

Pertanyaan itulah yang selalu memberati hatinya. Ketika ia mengemukakannya kepada Sumekar, maka Sumekar-pun hanya dapat menarik nafas dalam-dalam.

Akhirnya datanglah kesempatan Anusapati bertemu dengan pamandanya Mahisa Agni. Seperti apa yang dikatakannya kepada Sumekar. meskipun pernah juga dikatakannya kepada Mahisa Agni, namun kali ini Anusapati mohon, agar pamannya memperhitungkan hal itu pula.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “jika kau sudah berdiri sendiri, dan pada saatnya kau harus melakukan kuwajiban keprajuritan sebagai lajimnya Putera Mahkota dimasa penempaan diri menjelang masa penobatan menggantikan ayahanda, maka kau tidak perlu menyembunyikan kemampuanmu. Kau dapat mencari dalih apa-pun untuk mendapatkan waktu seolah-olah kau sedang mesu diri dalam olah kanuragan, sebelum kau menjalani pendadaran. Kau mengerti? Dan dalam masa-masa itu Tohjaya akan terus berlatih di bawah bimbingan gurunya yang kasar itu. Pada saatnya Tohjaya-pun akan menjadi seorang yang perkasa, tetapi dalam keadaan yang agak berbeda.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti maksud baik pamannya. Ternyata pamannya-pun telah memperhitungkan, apa yang dapat terjadi atas dirinya kelak. Namun agaknya bukan saja Mahisa Agni, tetapi juga Sri Rajasa pasti telah memperhitungkan apa yang akan terjadi. Sri Rajasa pasti mempertimbangkan, bahwa pada suatu saat akan datang masanya, Tohjaya menjadi seorang prajurit linuwih. Setelah itu, tidak seorang-pun tahu, apa yang akan dilakukan atas putera-puteranya. Apakah akan datang suatu kemungkinan yang jarang sekali terjadi, bahwa seorang Putera Mahkota akan diganti oleh saudaranya?

Namun bagi Mahisa Agni, hal serupa itu tidak akan dapat terjadi. Anusapati adalah putera yang lahir dari Permaisuri. Terlebih-lebih lagi, warisan atas Singasari didapatkannya dari Ken Dedes yang mewarisi tahta suaminya, meskipun saat itu masih berpangkat Akuwu.

Apabila Sri Rajasa akan memaksakannya di saat-saat ini, maka sudah tentu ia tidak akan dapat tinggal diam.

“Tetapi kenapa aku ikut dibingungkan oleh hal ini,” berkata Mahisa Agni di dalam hatinya. Tetapi Mahisa Agni tidak berani mencari jawabnya. Sebagai seorang kesatria ia memang harus menegakkan kebenaran dan kelurusan. Tetapi bagi Mahisa Agni soalnya bukan hanya sekedar tugas kekesatriaannya. Ada sesuatu yang lebih dalam mendorongnya untuk berdiri di belakang putera Ken Dedes ini.

Akhirnya, maka hari-hari yang dinanti-nantikan oleh rakyat Singasari itu-pun datang. Sri Rajasa menyelenggarakan peralatan perkawinan bagi Putera Mahkota.

Seluruh negeri Singasari menyambut hari yang telah menentukan satu titik dari perjalanan hidup Anusapati. Saat ia meninggalkan suatu masa menginjak pada masa berikutnya.

Untuk sepekan Singasari dimandikan oleh kemeriahan suasana perkawinan Putera Mahkota. Hampir setiap pintu gerbang padukuhan dan regol-regol halaman dihiasi janur kuning. Dedaunan yang berwarna hijau, merah dan kuning. Rontek, umbul-umbul dan panji-panji berkibaran disetiap penjuru.

“Apakah perkawinan puteranda Mahisa-wonga-teleng diurungkan?” bertanya seseorang kepada kawannya digardu yang terang benderang.

“Tentu tidak. Tetapi tidak pantas apabila tuanku Mahisa-wonga-teleng dikawinkannya sekarang juga. Umurnya masih terlampau muda. Aku dengar, setahun lagi Sri Baginda akan menyelenggarakan peralatan pula. Tuanku Mahisa-wonga-teleng.”

“Setahun lagi?” kawannya bergumam, “Setahun adalah waktu yang singkat bagi umur manusia. Kalau saat ini umur tuanku Mahisa-wonga-teleng masih terlampau muda, maka setahun lagi umur itu baru bertambah satu.”

“Tetapi yang satu itu telah membuatnya bertambah tua, eh, maksudku bertambah dewasa.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang mendengar juga, bahwa dua putera Sri Rajasa yang akan menginjak saat-saat perkawinannya adalah putera Permaisuri, meskipun ada juga putera dari isterinya yang lain yang juga sudah menginjak usia dewasa.

Demikianlah segenap rakyat Singasari menyambut hari-hari perkawinan Putera Mahkota itu dengan riang gembira, meskipun para prajurit tidak lengah mengawasi segala kesibukan peralatan di segenap penjuru. Bayangan tentang orang-orang berkerudung hitam masih selalu tergores di setiap dada para perwira dan Panglima kesatuan-kesatuan yang ada di Singasari.

Kehormatan dihari perkawinannya, membuat Anusapati justru semakin bertanya-tanya. Apakah sebenarnya yang telah terjadi atas dirinya itu seperti sebuah ceritera di dalam mimpi saja? Mimpi yang kadang-kadang menakutkan, mengerikan tetapi juga menggembirakan. Mimpi yang kadang-kadang tanpa disadari telah menitikkan air mata, tetapi kadang-kadang juga melukiskan senyum dibibir untuk sesaat.

Setelah hari-hari perkawinan selesai, dan setelah janur-janur kuning menjadi layu, maka mulailah kehidupan yang wajar kembali menyelubungi Singasari. Regol-regol dan gerbang-gerbang padukuhan telah mulai gelap dan jalan-jalan-pun menjadi sunyi dimalam hari, seperti kehidupan yang telah berlangsung sebelumnya.

Namun bangsal Anusapati di dalam halaman istana tidak lagi sesunyi sebelumnya. Kini Anusapati mempunyai kawan untuk berbincang. Bukan sekedar seorang emban yang baik hati, seorang emban yang sebenarnya mendapat tugas yang sebaliknya dari yang dilakukannya.

Tetapi Anusapati tidak akan lama tinggal di bangsal itu. Sebuah bangsal yang baru telah dibangun dengan halaman dan dinding tersendiri, tepat di sisi istana. Bangsal yang terpisah itu bagaikan istana kecil yang berdiri sendiri dengan segala kelengkapannya.

“Tuanku terlampau memanjakan anak itu,” Ken Umang bergumam di bangsalnya ketika Sri Rajasa berkunjung kepadanya.

“Kenapa?”

“Tuanku telah membangun istana yang lebih indah dari istana hamba ini. Ukiran yang disungging halus, serta permadani yang berwarna cemerlang. Apakah kelebihan anak itu dari anak-anak hamba? Dan apakah tuanku sudah melupakannya, bahwa sebenarnya anak itu …”

“Cukup, cukup.” potong Sri Rajasa sambil bangkit berdiri.

“Tuanku. Apakah tuanku tidak lagi menghiraukan kata-kata hamba? Apakah kini Permaisuri itu telah berhasil membujuk tuanku dengan rayuan sedihnya?”

“Sudahlah Ken Umang, aku tidak pernah berbuat lebih dari yang seharusnya aku lakukan atas Anusapati yang kini menjadi Putera Mahkota. Adalah tidak pantas sama sekali, bahwa rumah baginya itu sekedar sebuah gubug yang miring. Meskipun seandainya aku tidak ingin berbuat demikian, tetapi keharusan sikap seorang Maharaja harus aku lakukan untuk meniadakan prasangka orang banyak. Semakin keras tindakan-akan kita atas anak itu, maka ia akan menjadi semakin dekat dengan hati rakyat.”

Ken Umang menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangkat alisnya ia memandang Sri Rajasa yang duduk di atas permadani yang berwarna cerah. Permadani yang tidak didapatkan di bangsal-bangsal yang lain di dalam istana itu.

“Tuanku,” berkata Ken Umang kemudian, “tuanku memang sudah sewajarnya berbuat sebagai seorang Maharaja yang adil. Justru karena itu tuanku harus berbuat adil pula terhadap putera-putera tuanku. Kalau hamba bukan seorang Permaisuri itu adalah karena hamba barangkali tidak secantik tuanku Permaisuri atau tidak sepandai tuanku Permaisuri melayani tuanku. Tetapi itu bukan kesalahan Tohjaya atau anak-anak hamba yang lain.”

“Aku sudah tahu Ken Umang. Tetapi apakah sebenarnya yang kau inginkan? Apakah sudah waktunya kita akan mengawinkan Tohjaya seperti Anusapati dan sebentar lagi Mahisa-wonga-teleng? Bukankah kau mengerti, kenapa aku tidak melakukan hal itu, dan justru untuk kepentingan Tohjaya? Setelah Anusapati kawin maka sampailah saatnya ia mempersiapkan dirinya dengan tugas-tugas keprajuritan, meskipun hal itu dapat dilakukan sebelumnya. Tetapi karena setiap orang menganggap ia belum siap, maka hal itu belum pernah dilakukan sebelumnya. Namun setelah ia kawin, maka tidak akan ada alasan lagi untuk menunda setiap pendadaran baginya, karena ia sudah cukup dewasa, dan sampai pula pada batasnya, bahwa seseorang yang sudah berumah tangga, harus mempunyai tanggung jawab atas dirinya dan keluarganya. Dengan demikian Anusapati tidak akan mengingkari lagi tugas-tugas keprajuritan sebagai lajimnya Putera Mahkota. Bahkan ada juga seorang Putera Mahkota yang sudah membuktikan keperwiraannya sebelum ia melakukan perkawinan.” Sri Rajasa berhenti sejenak. Lalu, “Nah, kemudian apabila Anusapati melakukan kegagalan-kegagalan, akan datanglah saat-saat yang kita harapkan. Kita tidak akan dapat dengan begitu saja menggantinya dengan orang lain. Apalagi ia mempunyai saudara laki-laki yang lahir dari Permaisuriku.”

“Tuanku selalu menyebut Permaisuri.”

“Bukan aku saja. Tetapi setiap orang akan menyebutnya.”

“Tetapi juga setiap orang tahu siapakah Anusapati itu? Apakah sudah sepantasnya tuanku menurunkan warisan kepada orang lain bagi tuanku.”

“Akulah yang paling sakit apabila aku mengenangnya, bahwa Anusapati itu bukan anakku. Tetapi aku tidak berdiri sendiri. Aku adalah seorang Maharaja. Dan Singasari mempunyai ratusan ribu orang yang akan memperhatikan setiap tingkah lakuku.”

Ken Umang menundukkan kepalanya.

“Aku akan berbuat sebaik-baiknya, tetapi dengan hati-hati seperti apa yang pernah aku lakukan sehingga aku dapat sampai ketingkat yang sekarang.”

“Apa yang sudah tuanku lakukan?”

“Berbuat dengan hati-hati dan sabar.”

Ken Umang tidak menyahut lagi. Dibiarkannya Sri Rajasa duduk termenung sejenak, sebelum dipersilahkannya Maharaja Singasari itu bersantap di bangsalnya.

Demikianlah pengharapan memang telah membakar hati Ken Umang. Semula ia hanya sekedar ingin menjadi seorang yang malampaui kedudukan orang biasa, dapat melepaskan sakit hatinya karena Mahisa Agni telah tidak mengacuhkannya. Dengan mengorbankan segalanya, ia berhasil menjadi isteri Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi, dan bahkan melahirkan putera-putera laki-laki dari perkawinan itu.

Tetapi keinginan-keinginan yang melambung tinggi tidak terbatas sampai pada tingkat yang semula dikehendaki. Akhirnya ia ingin memiliki segala-galanya. Memiliki Ken Arok sepenuhnya dan lebih dari itu, ia ingin memiliki Singasari.

Itulah sebabnya ia berharap bahwa Tohjaya memiliki kelebihan yang dapat memikat hati rakyat. Apabila antara Anusapati dan Tohjaya terdapat banyak sekali perbedaan tingkat ilmu dan kemampuan kanuragan dan kecerdasan, maka akan datang saat itu dengan sendirinya, karena rakyat Singasari akan pandai memilih siapakah yang paling pantas untuk menjadi pelindungnya.

Tetapi Ken Umang tidak mengetahui kegelisahan yang selalu membayangi Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Meskipun Ken Arok merasa selalu mendapat perlindungan dan pertolongan dari kekuasaan yang tidak kasat mata, namun ia tidak dapat mengingkari bahwa sesuatu yang melampaui kekuasaan lahiriah ada pula di dalam diri Ken Dedes. Meskipun Ken Dedes, Permaisurinya, seorang yang lebih banyak diam dan menurut, namun apabila pada suatu saat ia bersikap, datanglah pengaruh pribadinya yang tiada taranya.

Ken Arok pernah melihat cahaya yang memancar dari tubuh Permaisuri itu. Bukan sekedar sekali dua kali. Sejak pertama kali ia melihat, di taman yang dibangunkannya di Padang Karautan, sejak masih berkuasa Akuwu Tunggul Ametung, maka kemudian berkali-kali ia melihat cahaya serupa itu. Disaat-saat ketegangan memuncak dihati Ken Dedes, di saat-saat dadanya sudah penuh dengan endapan-endapan persoalan yang tidak dapat diungkatnya, seperti juga disaat-saat kegembiraan yang memuncak, maka cahaya itu seakan-akan tampak pada mata hatinya. Tentu tidak pada mata wadagnya, karena tidak setiap orang dapat melihatnya.

Ken Arok pernah mendengar dari seorang Brahmana yang sakti, perempuan yang demikian adalah perempuan yang akan menjadi lantaran menurunkan pimpinan atas tanah ini.

“Dan perempuan itu adalah Ken Dedes, bukan Ken Umang,” desis Ken Arok kepada diri sendiri.

Meskipun kadang-kadang Ken Arok mencari kebesaran pada dirinya sendiri, dan mencoba berkata di dalam hatinya, “Apakah kebesaranku tidak dapat mengatasi kebesaran Ken Dedes untuk merampas kekuasaan pada tanah ini?”

Tetapi Ken Arok selalu dibayangi oleh keragu-raguan. Meskipun ia tidak pernah mengatakan kepada Ken Umang, namun selalu terngiang-ngiang ditelinganya kata-kata Brahmana itu. Dan ia-pun selalu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah Tohjaya cukup besar untuk mengusir keturunan Ken Dedes itu?”

Demikianlah, meskipun Ken Umang tidak selalu mengatakan tuntutannya, tetapi terasa juga pada Ken Arok, bahwa setiap kali cahaya matanya memohon kepadanya, janji yang meskipun juga tidak pernah diucapkan berterus-terang atas tanah Singasari.

Meskipun demikian, Ken Arok masih juga selalu mencoba untuk mengatasi guratan kekuasaan yang tidak kasat mata, apabila mungkin mencari peluang-peluang yang dapat membelokkan garis yang telah tergores atas tanah ini.

“Kenapa harus Ken Dedes,” setiap kali ia berdesis.

Dan itulah kelemahan kemanusiaan Ken Arok menanggapi gerak alam yang besar. Ia ingin membuat yang kecil untuk menentukan yang besar dan ia akan mulai dari dirinya, keluarganya dan kekuatan yang tersimpan padanya. Tetapi Ken Arok melupakan, bahwa kekuatan yang ada pada dirinya bersumber pada kekuatan tunggal yang menggerakkan semesta yang besar. Nafsu kemanusiaannya yang terbakar oleh kehangatan nafas perempuan yang bernama Ken Umanglah yang membuat Ken Arok yang memiliki pancaran kekuatan dalam alam kecilnya, merasa berhak untuk menentukan gerak alam yang besar. Dan ia melupakan bahwa yang kecil hanyalah merupakan bagian yang besar, karena ia ingin menempatkan dirinya pada pusat gerak semesta ini. Tetapi Ken Arok sebagai manusia memang sangat kerdil. Pengetahuannya tentang semesta tidak lebih dari hitamnya kuku. Apalagi pengetahuannya tentang sumber kekuatan dan kekuasaan yang tunggal atas semesta itu.

Demikianlah, maka dari hari kehari, Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi itu selalu dipengaruhi oleh bayangan masa depan Singasari menurut seleranya. Anusapati yang diketahuinya dengan pasti sebagai keturunan Akuwu Tunggul Ametung itu memang sama sekali tidak menarik baginya. Tetapi ia tidak mempunyai cara yang tepat untuk menyingkirkannya. Apalagi ia sadar, bahwa di Singasari masih ada Mahisa Agni yang akan dapat menjadi pelindung Putera Mahkota itu.

“Tetapi saat itu akan datang,” berkata Ken Arok di dalam hatinya. Meskipun demikian, disimpannya semua rencana itu didalam hatinya rapat-rapat.

Ketika isteri Anusapati mulai mengandung, maka datanglah saat Anusapati menempuh kehidupan sebagai seorang yang sudah berkeluarga. Seorang yang bakal menjadi ayah. Yang sedikit demi sedikit harus mempertanggung jawabkan kehidupan keluarganya, di dalam kesatuan kewajibannya sebagai seorang Putera Mahkota. Karena itu, sedikit demi sedikit, Anusapati mulai memasuki lapangan kewajibannya. Sebagai calon Maharaja, Anusapati mula-mula menempatkan dirinya nada kesatuan prajurit yang dipilih untuknya oleh para pemimpin pemerintahan dan para Panglima.

“Aku titipkan Anusapati kepadamu,” berkata Sri Rajasa kepada Panglima pasukan yang bertugas di medan. “Ia kelak bukan saja akan menjadi Senapati dari sepasukan segelar sepapan, tetapi akan menjadi Senapati dari seluruh rakyat Singasari. Karena itu, ia harus mulai melatih dirinya dalam tanggung jawab yang sebenarnya.” Sri Rajasa berhenti sejenak. Lalu, “seharusnya Anusapati harus mulai lebih awal dari saat ini. Tetapi kelemahan hati dan wadagnya, memberikan pertimbangan-angan lain kepadaku, sehingga sampailah pada suatu batas yang tidak dapat ditunda lagi.”

Panglima pasukan tempur Singasari menundukkan kepalanya dalam-dalam. Namun sekilas ia memandang wajah Panglima pasukan Pengawal yang duduk di sampingnya. Sebenarnya sangat berat bagi Panglima itu untuk menerima Anusapati di dalam pasukannya. Putera Mahkota yang masih terlampau hijau dan mentah itu akan menjadi beban yang sangat berat baginya. Sudah tentu bahwa ia harus mempertanggung jawabkan keselamatannya di dalam setiap tugas yang dilakukannya.

Panglima pasukan pengawal. Panglima pasukan Pelayan Dalam dan para perwira pasukan dari kesatuan yang lain menarik nafas dalam-dalam. Mereka tidak terbebani perlindungan bagi Putera Mahkota, yang bagi sebuah kerajaan besar seperti Singasari, bukannya pekerjaan yang mudah.

“Perlakukan ia sebagai seorang prajurit,” berkata Sri Rajasa kemudian, “agar ia dapat merasakan pahit getirnya kehidupan seorang prajurit. Setingkat demi setingkat ia akan mengalami menjadi Senapati perang dalam suatu pertempuran yang sebenarnya. Ia harus mengalami berbagai macam suasana kehidupan di medan, dan Anusapati pulalah yang pada suatu saat akan bertindak sendiri bersama pasukan yang dipimpinnya,” Sri Rajasa berhenti sejenak. Dilihatnya Anusapati yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian ditatapnya mata Tohjaya yang berkilat-kilat.

“Pada saatnya,” berkata Sri Rajasa, “bukan saja Anusapati. Meskipun Putera Mahkota tidak ada duanya, namun setiap putera Sri Rajasa akan mengalaminya. Pada suatu saat Tohjaya, Mahisa-wonga-teleng dan adik-adiknya. Mereka kini sedang mengalami penempaan olah kanuragan sebaik-baiknya.”

“Bahkan pada suatu saat, Anusapati harus ada di tengah-engah armada laut yang kini sedang dibangun sebaik-baiknya. Disaat lain, ia harus menjelajahi hutan dan gunung di seluruh daerah Singasari untuk mengenal daerah yang akan diperintah kelak.” Sambil memandang Anusapati yang tunduk, Sri Rajasa bertanya, “Kau mengerti Anusapati?”

Anusapati menganggukkan kepalanya dalam-dalam. Jawabnya, “Hamba ayahanda.”

“Nah, mulailah sejak sekarang. Kau bukan lagi anak-anak yang hanya sekedar bermain-main di petamanan atau berlatih diarena perguruan. Kini kau akan terjun ke dalam dunia yang sebenarnya. Dunia yang memiliki aneka ragam bentuk dan warna supaya kau menemukan pengalaman daripadanya setelah kau mempelajari gambarnya di dalam batas-batas dinding istana.”

Anusapati mengangguk dalam-dalam. Ia sama sekali tidak terkejut mendengar perintah itu. Seperti yang dikatakan oleh Mahisa Agni, bahwa pada suatu saat ia harus terjun sebenarnya di kalangan keprajuritan. Di kalangan itu memang sukarlah baginya untuk menyembunyikan kemampuan yang ada padanya apabila ia benar-benar menghadapi bahaya.

“Tetapi aku akan berada di antara para prajurit,” berkata Anusapati di dalam hatinya, “aku dapat menyejajarkan diri dengan para prajurit itu. Kecuali apabila terpaksa aku harus berbuat lebih banyak daripadanya.”

Demikianlah maka dihari-hari berikutnya Anusapati sudah tidak berada lagi di istana. Dengan berat hati ia mohon diri kepada ibunda Permaisuri dan kepada isterinya yang sedang mengandung.

“Kapan kakanda pulang?” bertanya isterinya.

“Aku tidak dapat mengatakan, kapan aku akan pulang. Tetapi setiap kesempatan yang ada, aku akan datang ke bangsal ini. Aku sudah menitipkan kau kepada ibunda Permaisuri. Katakan kepada ibunda apa yang ingin kau katakan. Ibunda mengerti keadaan kita berdua sebaik-baiknya.”

“Hamba kakanda. Adinda akan selalu menunggu.”

“Dan kau harus mengerti bahwa kau adalah isteri seorang prajurit. Aku sekarang seorang prajurit, meskipun akur Putera Mahkota.”

“Hamba kakanda.”

“Adinda Mahisa-wonga-teleng akan banyak membantu. Kalau kau memerlukan sesuatu, katakan kepadanya. Ia akan membantumu. Tetapi kalau ia tidak dapat melakukannya, adinda Mahisa-wonga-teleng akan menyampaikannya kepada paman Mahisa Agni.”

“Kenapa paman Mahisa Agni?” bertanya isterinya.

Anusapi menarik nafas dalam-dalam. Memang sulit untuk mengatakan. Kenapa Mahisa Agni, bukan Ayahanda Sri Rajasa.

Tetapi Anusapati tidak mau membuat gambaran yang salah kepada isterinya sehingga karena itu ia berkata, “Ada perbedaan yang harus kau ketahui. Paman Mahisa Agni akan melakukan semua permintaan ibunda Permaisuri sebagai saudara laki-laki satu-satunya. meskipun sekedar saudara angkat, tetapi Ayahanda Sri Rajasa mempunyai banyak hal yang harus dilakukan. Karena itu, setiap persoalan kau wajib menghubungi saudaraku yang lahir dari ibunda Permaisuri. Kau mengerti?”

Isterinya menganggukkan kepalanya.

Dengan penuh pengertian isteri Anusapati melepaskan suaminya pergi. Ia sadar, bahwa bukan saja Anusapati yang mengalami pendadaran, tetapi juga dirinya sendiri yang kelak akan menjadi Permaisuri di atas Tanah Singasari.

Kepada Mahisa-wonga-teleng Anusapati telah menyerahkan kepercayaan sepenuhnya. Meskipun demikian, Anusapati telah mempertemukan Mahisa-wonga-teleng dengan Sumekar. Bahkan untuk kepentingannya dan kepentingan Singasari, seperti yang pernah dilakukan Mahisa Agni. Anusapati minta agar Sumekar mau menuntun anak muda itu didalam olah kanuragan.

“Tidak ada yang dapat memimpinnya paman,” berkata Anusapati, “paman Mahisa Agni berada di Kediri. Gurunya yang sekarang masih belum mencapai tingkat yang dituntuti oleh seorang guru. Karena itu, paman dapat melakukannya.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam.

“Memang tidak senang berbuat sesuatu sambil bersembunyi. Tetapi untuk kepentingan yang baik hal itu dapat saja kita lakukan. Mahisa-wonga-teleng harus tidak kalah dari Tohjaya.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baiklah tuanku. Hamba akan berusaha sejauh dapat hamba lakukan.”

Mahisa-wonga-teleng yang sebelumnya tidak tahu sama sekali bahwa ada kekuatan yang tersimpan di petamanan menjadi sangat heran. Seakan-akan ia tidak percaya melihat Sumekar yang sedang berjongkok menyiangi tanaman.

“Patuhilah petunjuknya adinda. Ia adalah kepercayaan paman Mahisa Agni.”

Mahisa-wonga-teleng mengangguk-angguk. Tetapi kesan ragu-ragu masih terbayang.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...