Rabu, 27 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 17-01

BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-17-01
Prajurit sandi itu mengangguk-angguk. Katanya, “Besok lusa kita akan berlatih bertempur. Meskipun lawan kita tidak berat, tetapi kita memang harus berhati-hati.”

“Baiklah. Kita akan melakukan sebaik-baiknya. Kita berharap bahwa kita akan dapat kembali tepat pada waktunya.”

Demikianlah maka malam itu telah mereka lalui tanpa mengalami gangguan apapun. Para prajurit yang kelelahan itu dapat tidur dengan nyenyak. Hanya kadang-kadang mereka terbangun oleh auman harimau di tengah-engah hutan yang lebat, di sebelah tempat mereka beristirahat.

Tetapi mereka-pun kemudian tidak menghiraukannya lagi. Mereka yakin bahwa ada orang lain yang pasti sedang bertugas. Siapa-pun orangnya.

Ketika dua orang prajurit yang bertugas bersama pemimpin pasukan kecil itu tidak lagi dapat menahan kantuk dan lelah, maka pemimpinnya-pun kemudian berkata kepada mereka, “Tidurlah.”

“Siapakah yang akan bertugas mengawasi keadaan di sekitar kita?”

“Aku.”

“Sendiri? Bukankah, kau juga lelah seperti aku?”

Pemimpinnya itu mengerutkan keningnya. Mereka telah mempergunakan cara yang tidak lajim. Cara yang lebih mirip dengan cara yang dipergunakan diantara sesama kawan sepenanggungan. Tidak lagi seperti prajurit-prajurit yang terikat oleh peraturan yang keras.

“Tidurlah. Aku akan berjaga-jaga bersama kedua petugas sandi itu. Mereka pasti bersedia mengawani aku.”

Kedua prajurit itu merenung sejenak. Lalu, “Baiklah,” berkata salah seorang dari mereka, “aku akan tidur.”

Keduanya-pun kemudian merebahkan dirinya diatas sebuah batu yang besar sekali. Tetapi agaknya punggung batu itu tidak memungkinkan mereka dapat tidur nyenyak, sehingga akhirnya mereka-pun turun dan duduk ditanah bersandar batu itu.

Yang berjaga-jaga kemudian adalah pemimpin prajurit itu bersama kedua petugas sandi. Tetapi karena pemimpin pasukan kecil itu-pun kelelahan, maka kadang-kadang tanpa sesadarnya ia-pun terlena sesaat sehingga percakapannya dengan kedua petugas sandi itu tidak bersentuhan. Pemimpin pasukan itu kadang-kadang seperti bermimpi mendengar suara orang berbicara, tetapi kata-katanya kurang jelas, sehingga jawabnya-pun tidak menyinggung pertanyaannya.

Kedua petugas itu tersenyum. Salah seorang berkata, “Kau ternyata lelah sekali. Kau dapat tidur sambil berbicara. Nah, beristirahatlah. Aku berdua akan menjaga kalian. Aku yakin bahwa tidak akan ada apa-apa disini.”

Pemimpin prajurit itu mencoba membuka matanya selebarnya. Jawabnya, “Tidak. Aku tidak lelah sekali. Hanya sedikit kantuk. Tetapi itu-pun akan segera hilang.”

“Kau memang Senapati yang baik.”

Pemimpin pasukan itu masih dapat tersenyum. Tetapi pendengarannya sudah mengambang tanpa pengertian apapun. Bahkan kemudian tanpa tertahankan lagi, ia-pun tertidur pula bersandar sebatang pohon tanpa dikehendakinya sendiri.

Kedua petugas sandi itu saling berpandangan sejenak. Salah seorang dari mereka berdesis, “Memang perjalanan yang berat sekali. Biarlah mereka tertidur sejenak. Kita dapat membantu menjaganya.”

Yang lain mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Benar juga pertanyaan tuanku Putera Mahkota. Kalau di dalam keadaan seperti ini, tiba-tiba orang-orang itu datang menyerang, maka tidak akan ada perlawanan yang berarti. Meskipun mereka tidak terlampau kuat, tetapi mereka pasti akan dapat menghancurkan pasukan ini.”

Kawannya tidak menyahut. Dipandanginya tubuh-tubuh yang berserakan tidak menentu. Silang melintang. Seolah-olah mereka tidak dapat menahan lelah sekedar menempatkan diri mereka.

“Semuanya telah tertidur,” desis salah seorang petugas sandi itu.

“Dan kita mendapat pekerjaan disini.”

“Sama sekali tidak ada yang masih terbangun.”

Namun mereka terkejut ketika mereka mendengar salah seorang dari mereka yang berserakan itu menyahut, “Aku masih terbangun.”

Kedua petugas sandi itu berpaling. Dilihatnya Anusapati duduk sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, hanya beberapa langkah di belakangnya.

Keduanya mengerutkan keningnya. Menurut ingatan mereka, Anusapati tidak duduk di tempatnya yang sekarang. Tetapi mereka sama sekali tidak mendengar Putera Mahkota, itu bergeser, atau memang ingatan merekalah yang salah.

“Tuanku masih terbangun,” bertanya salah seorang dari kedua petugas sandi itu.

“Ya. Aku tidak dapat tidur dan ingin mengawani kalian berdua.”

“Sudahlah tuanku. Hamba persilahkan tuanku beristirahat. Biarlah hamba berdua sajalah yang berjaga-jaga.”

“Apakah itu dapat dibenarkan? Aku tidak mengerti peraturan yang berlaku dengan pasti, karena aku baru pertama kali ikut di dalam pasukan. Tetapi sepengetahuanku, harus ada petugas dari pasukan ini yang tetap berjaga-jaga. Kalian tidak termasuk dalam pasukan ini, meskipun kalian dapat menggabungkan diri seperti sekarang. Tetapi tugas kalian tidak di dalam pasukan kecil ini. Bukankah begitu? Sehingga karena kebetulan kalian bersedia, atau karena kebaikan hati kalian, maka kalian dapat membantu kami disini. Tetapi seandainya kalian masih mempunyai tugas tertentu malam ini, karena tiba-tiba terjadi pergolakan di daerah pengawasanmu, maka sudah tentu kalian tidak dapat berada ditempat ini untuk waktu yang lama.”

Kedua petugas itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka tidak menjawab.

“Karena itu, biarlah aku yang berjaga-jaga disini mewakili petugas-tugas yang sebenarnya harus diatur lebih dahulu. Tetapi karena keadaan, maka tidak dapat dilakukan hal seperti itu. Kebetulan saja aku tidak dapat tidur. Maka biarlah aku melakukannya bersama kalian yang juga kebetulan saja tidak mempunyai tugas lain.”

Kedua petugas sandi itu saling berpandangan. Putera Mahkota adalah orang yang baru pertama kali mengalami dan pengetahuannya tentang keprajuritan-pun seharusnya masih belum begitu banyak. Apalagi pengalamannya. Tetapi pertanyaannya tentang kemungkinan yang dapat terjadi dengan pasukan, yang lelah ini serta beberapa pengetahuannya tentang tugas-tugas keprajuritan, membayangkan kemampuannya didalam bidang ini.

“Tuanku,” berkata salah seorang dari kedua petugas itu, “ternyata pengetahuan tuanku tentang tugas-tugas keprajuritan sudah cukup banyak. Bahkan sikap dan ketahanan tubuh tuanku tidak kalah dengan para prajurit yang lain.”

“Bukan begitu. Mungkin aku selalu dibayangi oleh ketakutan dan kecemasan atas serangan-serangan yang dapat datang setiap saat. Mungkin juga karena sekali-sekali aku pernah membaca rontal yang memuat pengetahuan tentang olah keprajuritan.”

Kedua petugas sandi itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah tentu Anusapati mendapat kesempatan membaca rontal tentang berbagai ilmu, dan sudah tentu pula gurunya pernah juga memberitahukan berbagai pengetahuan keprajuritan.

“Ya tuanku,” jawab petugas yang lain, “tuanku tentu sudah membaca rontal. Tetapi ketahanan tubuh tuanku juga mengagumkan. Semua orang tidak lagi dapat menahan dirinya, sehingga pemimpin dari pasukan ini-pun tertidur tanpa dikehendakinya sendiri. Namun tuanku masih tetap terjaga.”

“Sama sekali bukan suatu kelebihan. Dalam hidupku sehari-pun aku tidak dapat tidur nyenyak apabila aku sedang lelah. Semakin lelah, aku menjadi semakin gelisah. Aku tidak lahu kenapa demikian. Dan sekarang-pun terjadi hal yang serupa. Aku lelah sekali sehingga agaknya nafasku sudah hampir terputus. Karena itulah maka aku tidak akan dapat tidur sekejappun. Besok, selagi pasukan ini beristirahat, sementara beberapa orang mengintai kedudukan musuh, aku akan tidur sehari penuh.

“Tetapi bagaimana kalau tugas pengintaian itu diserahkan kepada tuanku?”

“Lalu apa kerja kalian berdua?”

“Bersama dengan tuanku mengamati kedudukan lawan.”

Anusapati menarik nafas. Jawabnya, “Apaboleh buat. Kalau aku harus pergi, aku-pun akan pergi. Dan hal itu-pun akan merupakan suatu pengalaman baru buatku. Aku merasa bahwa pengalaman itu memang sangat perlu. Bukan saja bagiku pribadi, tetapi terutama bagi tugas-tugasku kelak.”

“Hamba tuanku,” jawab kedua petugas sandi itu hampir berbareng.

“Ketika aku keluar dari istana, dalam perjalanan ini, aku tidak menyangka, bahwa alam begitu luasnya, sehingga apa yang pernah aku kenal di dalam istana itu hanyalah sebagian kecil saja dari Kerajaan Singasari. Ternyata di luar dinding istana itu terdapat berbagai macam persoalan yang sangat menarik. Alam, rakyat di padukuhan-padukuhan terpencil, hutan dan binatang-binatang buruan. Aku senang sekali mengenal semua itu dari dekat. Aku jarang sekali mendapat kesempatan dari Ayahanda Sri Rajasa untuk ikut serta berburu.”

Kedua petugas sandi itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka menjawab, “Tuanku adalah Putera Mahkota. Karena itulah agaknya tuanku harus selalu dijaga jangan sampai mengalami sesuatu. Juga di medan perburuan.”

“Tetapi di dalam pendadaran semacam ini, aku akan merasa terlampau berat.” Anusapati berhenti sejenak. Lalu, “kalau sebelumnya aku pernah mengalami dari sedikit, maka aku kira badanku tidak serasa seperti dicuci. Tulang-ulang ini seakan-akan telah terlepas yang satu dengan yang lain.”

Kedua petugas itu tersenyum. Salah seorang menjawab, “Tetapi ternyata tuanku luar biasa. Tuanku dapat menyelesaikan tugas yang pertama kali ini dengan baik. Sampai ditempat sesuai dengan rencana.”

“Tetapi aku telah memaksa diri.”

“Lambat laun tuanku akan terbiasa dengan tugas-tugas berat.”

“Mudah-mudahan.”

“Dan agaknya hal itu memang diperlukan sekali bagi tuanku.”

“Ya. Dan aku sadar, sesudah tugas ini aku pasti akan segera mendapat tugas-tugas yang lain.”

Kedua petugas sandi itu tidak menyahut. Mereka hanya mengangguk-anggukkan kepala.

Namun dengan demikian, sikap dan pembicaraan Anusapati telah merubah pandangan mereka terhadap Putera Mahkota itu. Ternyata Putera Mahkota bukannya seorang anak muda yang malas dan bodoh seperti anggapan mereka selama Anusapati tidak pernah beranjak dari halaman istana. Bukan pula seorang anak yang manja. Putera Mahkota agaknya justru seorang yang mengenal tanggung jawab akan tugas yang dibebankan kepadanya. Kali ini oleh Ayahanda Sri Rajasa, tetapi lain kali oleh rakyat Singasari.

Dalam pada itu. langit disebelah timur-pun menjadi semakin kemerah-merahan. Sinarnya yang menyusup disela-sela dedaunan membayang bagaikan awan yang membara dilangit.

“Hampir pagi,” desis salah seorang petugas sandi itu, “dan tuanku masih belum beristirahat sama sekali.”

“Masih ada waktu sehari semalam kalau aku tidak mendapat tugas khusus.”

Kedua petugas itu mengangguk-angguk. Salah seorang berkata, “Tentu bukan tuanku yang mendapat tugas itu. Mereka harus tahu bahwa tuanku perlu beristirahat.”

“Berbeda di dalam keadaan ini,” berkata Anusapati, “aku sudah mendapat kesempatan, tetapi aku tidak dapat mempergunakannya. Itu tidak akan dapat dipergunakan sebagai alasan. Dan aku harus melakukan tugas berikutnya, kalau memang aku akan dibebaninya.”

Tidak ada jawaban. Hampir bersamaan kedua petugas sandi itu menarik nafas dalam-dalam. Didalam hati mereka berkata, “Hati iPutera Mahkota ini memang sekeras baja.”

Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri. Cahaya kemerahan dilangit menjadi semakin cerah. Satu-satu bintang-bintang yang gemerlapan mulai pudar dan seolah-olah hilang ditelan langit yang biru bersih.

Kicau burung-burung liar-pun kemudian telah membangunkan prajurit-prajurit yang tertidur nyenyak. Sambil mengusap mata mereka yang berat, satu-satu mulai bangkit dan duduk diatas daun-daun kering.

Pemimpin prajurit yang tertidur sambil bersandar itu-pun terbangun pula. Ia menjadi agak terkejut ketika disadarinya, bahwa cahaya matahari telah mulai membayang dilangit.

Salah seorang dari mereka menggelengkan kepalanya, “Tidak. Kau tidak tertidur.”

Pemimpin pasukan itu menarik nafas dalam-dalam. “Kenapa kau tidak membangunkan aku? Seharusnya ada di antara kami yang terjaga malam ini. Untunglah bahwa kalian dapat dipercaya. Kalau tidak maka kalian dapat berkhianat dan membunuh kami semua tanpa perlawanan.”

“Kami tidak dapat melakukannya. Ada di antara kalian yang semalam suntuk terjaga dan bercakap-cakap bersama kami.”

“Siapa?”

“’Tuanku Putera Mahkota.”

“He,” dengan serta-merta pemimpin pasukan itu berpaling kepada Putera Mahkota yang tersenyum memandanginya.

“Tuanku tidak tidur sama sekali?”

“Aku terlampau lelah, sehingga justru aku tidak dapat tidur sama sekali.”

“Jadi tuanku belum beristirahat semalam?”

“Sudah. Beristirahat sambil bercakap-cakap.”

Pemimpin itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Seharusnya tuanku beristirahat. Tuanku akan mendapat tugas yang baru siang ini bersama beberapa orang prajurit, hamba dan kedua prajurit sandi itu.”

“Ya, kenapa? Kalau memang aku harus bertugas, maka aku-pun akan melakukannya. Aku tabu, bahwa sebagian terbesar dari keberangkatan pasukan ini adalah suatu usaha Ayahanda Sri Rajasa untuk menjadikan aku seorang prajurit. Dan aku akan melakukannya dengan senang hati. Karena itu wajarlah bahwa tugas-tugas khusus akan dibebankan kepadaku.”

Pemimpin pasukan itu menarik nafas dalam-dalam.

“Apakah tuanku masih sanggup melakukan tugas pengamatan hari ini atau tuanku memerlukan waktu untuk beristirahat pagi ini meskipun hanya sejenak? Kami dapat membuat rencana pengamatan itu sesuai dengan keadaan kita. Pagi, siang atau sore hari. Kalau tuanku ingin melakukannya pagi, kemudian segera beristirahat kami akan melakukannya. Tetapi kalau tuanku menghendaki siang atau sore hari sesudah tuanku beristirahat, kami-pun tidak berkeberatan.”

“Sebaiknya kau jangan bertanya kepadaku. Aku adalah seorang prajurit. Berikanlah perintah. Kalau aku harus berangkat pagi, aku akan berangkat pagi. Kalau aku harus berangkat siang atau sore hari, aku-pun akan melakukannya. Akulah yang harus menyesuaikan diriku dengan rencanamu.”

Sekali lagi pemimpin pasukan kecil itu menarik nafas dalam-dalam. Agaknya Anusapati benar-benar berusaha menyesuaikan dirinya sebagai seorang prajurit, sehingga ia bersedia menjalankan tugas apa-pun yang akan diserahkan kepadanya oleh pimpinannya.

“Baiklah tuanku,” berkata pemimpin pasukan kecil itu, “kita akan berangkat mengamati keadaan menjelang senja, supaya kita dapat lebih mendekat lagi disaat-saat matahari mulai terbenam. Kita tidak hanya sekedar mengamatinya dari kejauhan saja, agar kita tidak salah menilai kekuatan lawan itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Sudah barang tentu kami tidak akan dapat melakukannya di siang hari. Pengamatan kita akan sangat terbatas dari kejauhan saja.”

Meskipun ada juga alasan-alasan lain, tetapi alasan itu masuk akal juga sehingga Anusapati mengangguk-angguk sambil menjawab, “Baiklah, kalau begitu, kita akan pergi menjelang senja. Kita akan mengamati dari kejauhan, kemudian apabila hari mulai gelap, kita akan mendekat. Begitu?”

“Hamba tuanku.”

“Baiklah. Akulah yang akan menyesuaikan diriku.”

Demikianlah dihari itu, pasukan kecil itu benar-benar mendapat kesempatan untuk beristirahat. Tetapi mereka sama sekali tidak diperbolehkan menyalakan api, supaya kehadiran mereka tidak diketahui oleh lawan yang bersarang tidak begitu jauh lagi dari tempat itu.

Dengan demikian mereka hanya dapat makan nasi jagung, bekal yang mereka bawa. Nasi yang tahan untuk waktu lebih dari sepekan. Tetapi nasi itu akan lebih enak rasanya, apabila mereka mendapat kesempatan untuk sekedar menghangatkannya.

Namun demikian, sebenarnyalah bahwa pemimpin pasukan itu tidak membuang waktu yang sehari itu untuk menunggu senja. Hanya karena perasaan ibanya kepada Anusapati sajalah, maka dibiarkannya Anusapati untuk beristirahat. Tetapi bersama kedua petugas sandi yang telah lebih dahulu datang itu, ia-pun pergi juga untuk melihat keadaan dan menilai medan. Kepada tiga orang prajurit yang dipercaya untuk menjaga keselamatan Anusapati, ia berkata, “Jagalah tuanku Putera Mahkota baik-baik. Tetapi hati-hatilah, jangan sampai ia merasa tersinggung karena pengamatanmu.”

“Baiklah,” jawab salah seorang dari ketiga prajurit itu.

“Aku akan pergi. Jangan beritahu Putera Mahkota. Biarlah ia beristirahat.”

Prajurit-prajurit itu menganggukkan kepalanya. Kepada salah seorang dari mereka yang tertua, pimpinan pasukan kecil itu diserahkannya, selama ia mengawasi dan mengamati medan.

Kemudian dengan diam-diam, tidak setahu Anusapati, pemimpin pasukan itu telah meninggalkan pasukannya. Dengan hati-hati ia melintasi hutan yang rindang dan menuju sebuah padukuhan kecil yang terpencil.

“Dimana letak goa itu?” bertanya pemimpin pasukan mi kepada kedua petugas sandi.

“Goa itu berada di lereng bukit kecil di belakang padukuhan itu. Tetapi kini mereka tidak lagi bersembunyi di dalam goa. Menurut pengamatanku, gerombolan itu menjadi semakin berani. Dan kini mereka bahkan seakan-akan telah menghuni padukuhan kecil yang terpencil itu.”

“Lalu dimanakah penghuni yang sebenarnya dari padukuhan kecil itu?”

“Ada dua golongan yang telah membagi penghuni yang tidak begitu banyak itu. Mereka yang masih berpegang pada sikap hidupnya, dan tidak mau terlibat dalam kejahatan, telah meninggalkan kampung halamannya. Mereka mengungsi kepadukuhan-padukuhan di sekitarnya. Namun padukuhan-padukuhan di sekitarnya itu-pun menjadi semakin sepi pula, karena beberapa orang yang tidak tahan mengalami perlakuan yang kasar, telah mengungsi ketempat yang lebih jauh lagi.”

Pemimpin pasukan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Menurut keterangan yang sudah diterimanya, gerombolan itu tidak saja memeras orang-orang disekitarnya, tetapi kadang-kadang mereka juga pergi merampok ketempat yang agak jauh dan menyamun di jalan-jalan perniagaan yang penting.

“Itulah padukuhan itu,” desis salah seorang petugas sandi ketika mereka berada di pinggir hutan yang rindang, diatas sebuah bukit kecil.

Senapati itu mengerutkan keningnya. Dipandanginya padukuhan terpencil yang terletak diatas bukit yang kecil pula, dikelilingi oleh sebuah padang-ilalang dan pohon-pohon perdu.

“Semula tanah itu merupakan tanah yang sudah digarap,” berkata salah seorang petugas itu, “tetapi akhirnya tanah itu menjadi padang ilalang karena orang-orang yang menggarapnya telah pergi mengungsi.”

“Jadi padukuhan itu tidak mempunyai tanah garapan sama sekali?”

“Ada. Masih ada beberapa bagian yang digarap di belakang bukit kecil itu. Tanah yang paling subur dari padukuhan itu.”

Senapati itu menarik nafas dalam-dalam. Letak padukuhan itu memang baik. Jika mereka mengetahui bahwa ada kekuatan yang akan menyerang mereka, maka mereka dapat membangun pertahanan yang baik dari atas bukit kecil itu. Semua benda-benda yang ada dapat berubah menjadi senjata. Batu-batu besar, potongan kayu, bahkan pasir dan air. Apalagi senjata-senjata jarak jauh, panah dan lembing.

“Marilah kita agak mendekat,” berkata Senapati itu.

Mereka-pun menyuruk dengan hati-hati mendekati padukuhan itu. Sekali-sekali Senapati itu berpaling kearah pasukan kecil yang ditinggalkannya. Kalau mereka tidak mematuhi perintahnya, dan menyalakan api, maka di siang hari asapnya akan dapat menarik perhatian, sedang dimalam hari, nyalanya akan menimbulkan kecurigaan pula.

Demikianlah semakin dekat, menjadi semakin jelas pulalah daerah yang terpencil itu. Agaknya tanah di sekitarnya termasuk tanah vang cukup subur dan cukup memberikan makan bagi isi padukuhan itu.

Namun tiba-tiba kedua petugas sandi itu mengerutkan keningnya. Mereka melihat sesuatu yang lain pada padukuhan itu. Karena itu maka salah seorang dari mereka berkata, “Ada sesuatu yang baru dipadukuhan itu.”

“Apa? “ bertanya Senapati itu.

“Kita melihat kesibukan yang agak berlebihan dari kemarin. Baru kemarin aku mendekati padukuhan itu. Aku tidak melihat hiasan apa-pun diregol padukuhan itu. Sekarang aku melihat sesuatu yang kemarin tidak ada.”

“Apa?”

“Kau melihat janur kuning?” bertanya petugas sandi itu kepada kawannya.

“Ya, beberapa tersangkut diregol padukuhan.”

Petugas sandi itu mengangguk-angguk, sedang Senapati yang memimpin pasukan kecil itu-pun menyahut, “Ya. Aku juga melihat sesuatu. Agaknya kau benar. Beberapa helai janur kuning.”

“Pasti ada sesuatu upacara. Apa-pun yang akan mereka lakukan?”

Senapati itu mengangguk-anggukan kepalanya. Katanya, “Marilah. Kita maju lagi.”

“Terlampau berbahaya di siang hari. Nanti malam sajalah kita mendekat. Mungkin kita dapat melihat dengan jelas, apakah yang sebenarnya telah terjadi di padukuhan itu.”

Pemimpin pasukan itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berdesis, “Tetapi nanti malam aku akan pergi bersama Putera Mahkota.”

“Kita tinggalkan saja tuanku Putera Mahkota di sini. Kita akan maju tanpa tuanku Anusapati.”

Pemimpin pasukan itu mengangguk-angguk.

“Tetapi sekarang kita sudah dapat membayangkan medan yang bakal kita hadapi. Mereka dapat mempergunakan air untuk menghambat kemajuan kita. Jalan setapak itu akan menjadi sangat licin apabila menjadi basah.”

Pemimpin pasukan itu masih mengangguk-angguk.

“Kita akan naik dari beberapa penjuru. Kita tidak akau memasuki padukuhan itu lewat regol. Kita dapat memanjat dan meloncati dinding batu yang tidak begitu tinggi itu. Sebagian dari kita memang akan melalui jalan setapak yang licin apabila basah, tetapi yang lain akan memanjat lereng batu-batu padas itu. Tidak terlampau sulit, karena gumuk kecil itu tidak terlampau tinggi.”

Kedua petugas sandi yang menyertainya mengangguk-anggukkan kepalanya. Rencana itu memang akan dapat dilakukan tanpa banyak kesulitan karena kekuatan lawan menurut penilaian mereka tidak akan begitu berat. Hanya segerombolan perampok yang berhasil menduduki sebuah padukuhan kecil dan terpencil.

“Kita akan tinggal di sini beberapa saat untuk melihat perkembangan keadaan. Mungkin janur-janur kuning itu merupakan suatu pertanda bahwa ada perubahan dipadukuhan kecil itu, atau ada peralatan yang dilakukan oleh mereka. Oleh salah seorang penghuni padukuhan kecil itu yang tidak menyingkirkan dari, atau justru oleh gerombolan perampok itu,” berkata Senapati itu.

Kedua petugas sandi yang mengawaninya itu menganggukkan kepalanya. Salah seorang berkata, “Baiklah. Kita akan melihat apa yang akan terjadi.”

Ketiganya-pun kemudian duduk di belakang sebuah gerumbul yang lebat di padang ilalang. Di tempat yang terlindung sama sekali, sehingga mereka tidak perlu cemas, bahwa kehadiran mereka akan diketahui.

Dalam pada itu, Anusapati masih tetap berada di antara para prajurit yang beristirahat. Namun agaknya mereka sudah tidak lagi menjadi terlampau lelah, sehingga mereka sudah sempat mengatur diri. Mereka sudah sempat menentukan waktu-waktu penjagaan, dan siapa saja yang harus bertugas.

“Yang lain, yang kebetulan tidak bertugas dapat menemukan istirahatnya. Masih ada kesempatan untuk tidur hampir sehari penuh,” berkata prajurit yang diserahi tugas memimpin pasukan itu selama pemimpinnya tidak ada di tempat.

Prajurit-prajurit yang lain tertawa. Tetapi masih ada juga yang menguap sambil menjawab, “Terima kasih. Badanku serasa tidak bertenaga lagi. Aku bertugas setelah tengah hari. Pagi ini aku memang akan tidur sepuas-puasnya sampai matahari di puncak langit.”

“Tidurlah,” desis kawannya, “tetapi kalau kami mendapat perintah untuk meninggalkan tempat ini, kau akan ditinggal di sini.”

Prajurit itu mengerutkan keningnya, tetapi kemudian ia benar-benar membaringkan tubuhnya di atas sebuah batu.

Dalam pada itu Anusapati-pun mendapat kesempatan untuk tidur sejenak. Karena itu, maka katanya kepada prajurit yang memimpin pasukan kecil itu sementara, Senapatinya pergi, “Aku akan tidur. Jangan diganggu. Aku akan menjadi pening kalau aku terbangun dengan tiba-tiba. Bahkan aku akan menjadi seperti orang sakit. Karena itu, aku akan menyendiri dan tidur sepuas-puasnya. Ingat, jangan kau bangunkan. Biarlah aku bangun sendiri menjelang tengah hari, supaya aku dapat bertugas nanti menjelang sore.”

Prajurit itu menganggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia bertanya, “Dimana tuanku akan tidur.”

“Dibalik batu itu.”

“Tetapi, bagaimana kalau ada ular atau binatang melata yang berbisa?”

“Semalam suntuk kalian tergolek seperti orang mati. Tidak seekor binatang-pun yang mengusik kalian. Agaknya di sini memang tidak banyak binatang berbisa.” Anusapati berhenti Sejenak. Lalu, “aku juga membawa semacam serbuk yang dapat melindungi aku dari binatang berbisa. Ular dan sejenisnya tidak mau menggigit apabila tercium bau serbuk itu.”

“Dari mana tuanku mendapatkannya?”

“Dari dukun istana.”

Prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tentu ia percaya, bahwa Putera Mahkota itu pasti sudah mendapat obat-obat yang cukup untuk melindungi dirinya. Justru karena ia Putera Mahkota.

“Kalau begitu silahkan tuanku. Tetapi apabila keadaan memaksa, hamba terpaksa membangunkan tuanku.”

“Apa yang kau maksud?”

“Misalnya, tiba-tiba saja kita mendapat serangan. Atau tiba-tiba saja kita harus berpindah tempat.”

“Tetapi aku akan menjadi pening sekali.”

“Itu-pun akan merupakan suatu latihan. Demikianlah keadaan medan yang sebenarnya tuanku.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Baiklah. Baiklah. Hanya kalau keadaan memaksa.”

Anusapati-pun kemudian pergi ke balik sebuah batu besar untuk membaringkan tubuhnya di atas rerumputan kering. Sejenak ia memandang dedaunan diatasnya, yang bergerak-gerak ditiup angin pagi yang lembut.

Namun tiba-tiba Anusapati itu bangkit perlahan-lahan. Dengan hati-hati ia mengintip dari sisi batu yang besar itu. Dilihatnya beberapa orang prajurit sedang duduk-duduk sambil bercakap-cakap. Yang lain telah berbaring pula. Sedang di sebelah mereka, prajurit-prajurit yang sedang bertugas, berdiri bersandar pepohonan sambil bercakap-cakap pula.

Perlahan-lahan Anusapati bergeser dari tempatnya. Dari percakapan para prajurit dan Senapati yang sedang pergi, Anusapati dapat mengetahui arah padukuhan kecil tempat bersarang para perampok yang akan mereka datangi besok.

Sebenarnya sejak semalam Anusapati sudah ingin sekali untuk melihat tempat itu. Tetapi ia tidak mendapat kesempatan, apalagi di malam hari daerah yang kurang dikenalnya itu akan dapat menyesatkannya.

Tanpa setahu seorang prajurit pun, Anusapati-pun kemudian meninggalkan tempatnya. Berlindung dibalik sebatang pohon ke pohon yang lain ia akhirnya menjadi semakin jauh.

Anusapati menarik nafas dalam-dalam ketika ia sudah terlepas dari daerah pengawasan para prajurit. Dengan tergesa-gesa ia-pun menuruni bukit kecil dan melintasi daerah yang berhutan perdu. Dengan hati-hati sekali ia maju terus, sehingga akhirnya ia-pun dapat melihat sebuah bukit kecil yang dihuni oleh para perampok itu.

Tetapi perhatian Anusapati segera tertarik kepada jejak beberapa orang di atas batang-batang ilalang. Dilihatnya ranting-ranting perdu yang patah, dan ilalang yang terinjak.

“Pasti Senapati dan kedua prajurit sandi itu,” katanya didalam hati.

Karena itu, maka ia-pun maju perlahan-lahan. Kalau mereka melihatnya, maka ia harus berhenti bersama mereka, atau Senapati itu akan marah bukan saja kepadanya, tetapi juga kepada prajurit-prajurit yang diam-diam harus mengawasinya itu.

Untuk menghindarkan diri dari mereka, maka Anusapati itu kemudian mengambil jalan lain. Ditinggalkannya jalur jejak-jejak yang terdahulu, dan ia-pun menyelinap di antara pepohonan perdu dan batang-batang ilalang yang tinggi.

“Aku ingin mendekat,” katanya didalam hati.

Anusapati-pun kemudian merayap semakin lama semakin dekat. Namun ternyata bahwa janur kuning itu telah menarik perhatiannya pula. Pasti ada sesuatu yang sedang dilakukan oleh orang-orang di padukuhan kecil dan terpencil itu.

Dengan sangat hati-hati, merunduk dari balik sebuah batu, ke balik batu yang lain, dari gerumbul yang satu kegerumbul yang lain akhirnya Anusapati dapat mendekati gumuk itu. Ia mendapat tempat bersembunyi yang baik sekali. Di dalam sebuah semak-semak di belakang sebuah batu yang besar.

Namun dari tempatnya bersembunyi Anusapati tidak dapat melihat apa-pun juga. Memang ia melihat asap yang mengepul dari bawah atas sebuah rumah. Tetapi tentu saja ia tidak dapat mengambil kesimpulan apa-pun dari asap itu.

Ketika ia melihat gumuk-gumuk padas di sebelah padukuhan terpencil itu, timbullah keinginannya untuk memanjat. Mungkin ia dapat melihat ke dalam batas dinding batu yang mengelilingi padukuhan itu.

Maka dengan hati-hati Anusapati-pun bergeser. Sambil merunduk ia pergi ke balik sebuah gumuk padas yang terjal dan berbatu-batu.

“Aku akan naik,” desisnya di dalam hati.

Tetapi sejenak ia termangu-mangu. Tidak ada tumbuh-tumbuhan di gumuk padas itu selain beberapa rumpun ilalang yang agak rimbun. Memang mungkin juga bersembunyi dibalik rumpun ilalang itu tetapi apabila ada orang lain yang berdiri di belakang gumuk itu, maka mereka pasti akan dapat melihatnya.

“Tidak ada orang lain,” desisnya.

Maka Anusapati-pun kemudian naik ke gumuk padas. Ia berusaha bersembunyi di antara batu-batu padas dan rumput-rumput ilalang yang tidak begitu subur. Namun demikian, ia berhasil juga sampai ke atas.

Justru setelah Anusapati berada di atas gumuk itu, ia terlindung dari segala arah. Ia berhasil mendapatkan sebuah lekuk di antara batu-batu padas, sehingga ia tidak perlu cemas, apabila ada orang lain yang melihatnya.

Ternyata dari tempatnya, Anusapati dapat melihat apa yang sedang terjadi dipadukuhan itu, meskipun terbatas hanya yang terjadi di luar rumah-rumah yang berserakan, meskipun tidak begitu banyak.

Di tengah-engah padukuhan kecil itu, di halaman sebuah rumah yang paling besar, beberapa orang tampak sibuk mengatar sesuatu. Tetapi Anusapati tidak dapat melihat dengan jelas, apakah yang sedang mereka lakukan.

“Pasti ada sesuatu yang penting,” berkata Anusapati didalam hatinya. “Mudah-mudahan bukan sesuatu hal yang dapat mengganggu pasukan kecil Singasari ini.”

Namun demikian, Anusapati masih ingin melihat apakah yang akan terjadi di padukuhan itu.

“Aku akan menunggu sampai menjelang tengah hari. Sebelum orang-orang gelisah menunggu aku bangun, aku harus sudah kembali.” katanya di dalam hati pula.

Karena itu, ia-pun segera menelungkup di atas batu padas. Dengan demikian, ia dapat melihat apa saja yang menarik perhatian dipadukuhan kecil itu.

Namun yang dilihatnya hanyalah kesibukan beberapa orang yang hilir mudik saja. Orang-orang laki-laki yang kasar dan bersenjata di lambung.

“Mereka itulah perampok-perampok yang dikatakan itu. Memang tidak terlampau banyak.” gumam Anusapati kepada diri sendiri, “dalam kesibukan itu, aku kira semuanya sudah keluar rumah dan berbuat sesuatu bersama kawan-kawannya itu.”

Sejenak Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Panas matahari yang hanya terlindung oleh beberapa helai daun ilalang, mulai terasa menggatalkan kulit. Namun Anusapati masih tetap menelungkup di atas batu padas yang agak terlindung dari sebelah menyebelah.

Dalam pada itu, Senapati dan kedua petugas sandi masih juga berada di tempatnya. Mereka dapat melihat jalan setapak yang naik kepadukuhan yang terletak diatas bukit kecil itu dengan jelas sampai ke mulut regol. Tetapi mereka sama sekali juga tidak mendapat gambaran apa yang sedang dilakukan oleh orang-orang di dalam padukuhan itu.

Namun tiba-tiba mereka terkejut. Dikejauhan terdengar derap kaki kuda yang bergema seakan-akan melingkar-lingkar di antara bukit-bukit kecil dan gumuk-gumuk padas yang berserakan. Karena itu, ketiga orang yang sedang duduk dan berbicara tentang bermacam-macam hal itu, tiba-tiba telah terdiam dan bergeser dari tempatnya. Dengan saksama mereka memperhatikan jalan setapak yang menuju kegerbang padukuhan terpencil itu.

Sejenak kemudian dada ketiga orang itu menjadi berdebar-debar. Mereka melihat tiga orang berkuda menaiki jalan setapak itu. Dan sejenak kemudian mereka-pun mendengar sebuah tengara yang berbunyi dimulut regol. Sebuah kentongan isyarat bagi penghuni padukuhan itu, sehingga sejenak kemudian beberapa orang tampak keluar dari regol menyongsong orang-orang berkuda itu.

Bukan saja ketiga orang itu, tetapi Anusapati-pun melihat ketiga orang berkuda itu. Ia melihat kesibukan yang terjadi didalam regol padukuhan. Beberapa orang bergegas-gegas menyongsong tamu mereka itu, sedang yang lain sibuk menyiapkan segala sesuatunya.

“Tentu orang penting,” berkata Anusapati didalam hatinya.

Dalam pada itu Senapati yang memimpin pasukan kecil dari Singasari itu-pun berdesis juga, “Tentu orang penting.”

Kedua petugas sandi yang bersamanya berkata, “Tidak dapat diabaikan. Menilik sikap orang-orang yang menyambut mereka itu, ketiganya adalah orang-orang terhormat di antara mereka.”

Senapati itu menganggukkan kepalanya.

Ternyata kemudian bahwa orang-orang yang menyongsong orang-orang berkuda itu bersikap sangat hormat kepada mereka. Hampir berbareng mereka menundukkan kepala, ketika orang-orang berkuda itu sampai diregol halaman.

Pemimpin pasukan kecil yang datang dari Singasari itu tidak tahu, apa yang dilakukan oleh orang-orang padukuhan itu setelah mereka memasuki regol. Tetapi Anusapati masih dapat melihat mereka. Seperti mengarak sepasang pengantin, orang-orang dari padukuhan itu mengiringkan ketiga tamunya yang masih belum turun dari kuda mereka, sampai mereka memasuki halaman yang luas dari rumah yang tampaknya paling besar dipadukuhan kecil itu.

Baru ketika mereka sampai di muka pintu rumah itu, mereka meloncat turun dari kuda mereka.

Anusapati menjadi semakin yakin, bahwa mereka pasti orang-orang yang terhormat. Ternyata dari sikapnya dan sikap orang-orang yang menyambutnya.

“Tentu orang-orang itu bukan orang-orang kebanyakan. Kalau tidak, maka ia tidak akan mendapat penghormatan sebesar itu,” berkata Anusapati di dalam hatinya.

Namun dengan demikian maka ia telah mendapat pertimbangan lain tentang kekuatan para perampok yang ada di dalam padukuhan kecil itu. Kalau pemimpin pasukannya tidak mempertimbangkan kehadiran orang-orang berkuda itu, maka pasukan kecil itu dapat mengalami bencana karenanya.

“Mudah-mudahan Senapati itu melihat dan membuat pertimbangan yang benar dari orang-orang berkuda itu,” berkata Anusapati di dalam hatinya. Dalam pada itu, orang-orang berkuda itu-pun telah hilang masuk ke dalam rumah. Beberapa orang yang menyambutnya telah ikut masuk pula, sedang orang-orang lain masih juga sibuk hilir mudik di luar rumah.

Yang menarik perhatian Anusapati adalah orang-orang yang kemudian seakan-akan berjaga-jaga diregol padukuhan kecil itu dengan senjata ditangan.

“Tentu orang yang benar-benar mereka anggap penting. Tetapi juga tentu orang yang mempunyai ilmu yang tinggi, sehingga mereka hanya bertiga saja menempuh perjalanan yang agaknya cukup jauh. Apalagi mereka termasuk di dalam lingkungan orang-orang yang tidak lagi dapat menghargai nilai kemanusiaan, ternyata dari hubungan mereka dengan perampok-perampok di padukuhan itu,” berkata Anusapati didalam hatinya.

Namun tiba-tiba ia menengadahkan kepalanya. Matahari sudah menjadi semakin tinggi. Apalagi ia tidak dapat melihat hal-hal yang dapat menimbulkan persoalan baru di dalam padukuhan kecil itu. Sehingga karena itu, maka ia berdesis, “Aku harus segera kembali. Aku tidak akan menemukan apa-apa lagi. Mungkin malam nanti aku dapat mendekati rumah demi rumah. Tetapi kehadiran ketiga orang itu agaknya dapat mengganggu kehadiranku.”

Dengan demikian, maka Anusapati-pun segera beringsut surut. Dengan hati-hati ia turun dari gumuk padas itu. Sekali-sekali ditebarkannya pandangan matanya kesekelilingnya, kalau-kalau ada. orang yang megetahuinya. Namun ternyata bahwa daerah itu adalah daerah yang sepi, sehingga tidak seorang-pun yang lewat dan melihatnya dari balik gumuk kecil itu.

Dengan tergesa-gesa pula Anusapati-pun segera meninggalkan tempat itu, menyuruk di antara batang-batang ilalang dan daun-daun perdu kembali ketempatnya. Dengan hati-hati pula ia menghindari kemungkinan bertemu dengan pemimpin pasukannya bersama, kedua orang petugas sandi yang menyertainya.

Ternyata bahwa Anusapati mempunyai kemampuan yang cukup untuk melakukan pekerjaannya itu. Ia berhasil menyusup kembali ke daerah pengawasan pasukannya dan kembali ke balik batu besar yang ditinggalkannya.

Setelah mengusap keringatnya, maka ia-pun membaringkan dirinya seperti pada saat ia mula-mula berada di tempat itu.

“Apakah belum ada orang yang menengokku kemari?” ia bertanya kepada dirinya sendiri. Agaknya para prajurit itu benar-benar tidak berani mengganggunya dan membiarkannya terbangun dengan sendirinya.

Menilik keadaan tempat itu, maka ia dapat mengambil kesimpulan bahwa pemimpinnya masih juga belum kembali. Orang-orang yang berjaga-jaga masih berada ditempatnya meskipun orangnya sudah berganti. Yang lain masih juga berbaring dan ada pula yang sedang duduk tepekur memandang ke kejauhan. Agaknya ia sedang merenungi sesuatu dalam angan-angannya.

Sejenak Anusapati masih sempat benar-benar beristirahat. Ia masih sempat memejamkan matanya disilirnya angin yang sejuk, meskipun matahari menjadi semakin tinggi. Dan dalam kesegaran itulah maka Anusapati telah tertidur untuk sesaat.

Ia terbangun ketika ia mendengar suara pemimpin pasukannya yang agaknya berdiri dibalik batu itu. Tetapi Anusapati masih tetap memejamkan matanya tanpa bergerak sama sekali.

“Agaknya tuanku tertidur nyenyak sekali,” berkata prajurit yang memimpin pasukan itu selama Senapatinya pergi, “sejak kau tinggalkan ia masih saja tidur nyenyak. Tidak seorang-pun diperkenankan untuk mendekat, supaya ia tidak terkejut dan terbangun.”

Senapati yang memimpin pasukan kecil itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia mendekat agar desir kakinya tidak mengejutkan Anusapati yang disangkanya masih tertidur nyenyak itu.

Ketika ia menjengukkan kepalanya, dilihatnya Putera Mahkota itu masih terbaring diam. Nafasnya yang teratur membuat suatu irama pada gelombang dadanya.

Pemimpin pasukan itu mundur beberapa langkah, lalu berdesis, “Ya. Tuanku Putera Mahkota masih tertidur nyenyak. Biar sajalah ia beristirahat. Tentu ia merasa lelah sekali.”

Kemudian Anusapati itu-pun ditinggalkannya. Senapati itu harus berunding dengan beberapa orang terpenting didalam pasukan kecil itu, termasuk ketiga orang prajurit pilihan yang mendapat tugas untuk mengawasi dan menjaga Putera Mahkota.

“Kita melihat kelainan pada padukuhan itu,” berkata Senapati itu kepada mereka, “ada tiga orang berkuda yang datang dan memasuki daerah mereka. Menilik sikap dan tatapan wajahnya yang mantap, mereka pasti orang-orang penting.”

Kedua petugas sandi yang ada diantara mereka-pun menganggukkan kepala. Salah seorang berkata, “Digerbang padukuhan itu tersangkut janur kuning. Orang-orang terpenting dari mereka telah menyambut ketiga orang berkuda itu di luar gerbang.”

Yang mendengar keterangan itu mengangguk-anggukkan kepala. Dan Senapati itu-pun berkata, “Ternyata kita menghadapi keadaan yang khusus. Tidak seperti yang kita perhitungkan. Ada kekuatan baru yang agaknya berada di padukuhan itu.”

“Tetapi tentu tidak akan lama,” berkata salah seorang prajurit yang ikut di dalam pembicaraan itu, “aku kira mereka hanyalah sekedar tamu terhormat. Tetapi mereka akan segera pergi.”

“Mungkin,” jawab pemimpin pasukan, “tetapi kapan. Kapan mereka akan pergi? Dua hari, tiga hari atau sepekan? Sedang kita harus kembali sesuai dengan rencana yang sudah ditentukan, meskipun dalam keadaan yang khusus kita dapat mengambil kebijaksanaan. Tetapi kita tidak akan terlampau jauh mundur dari saat yang sudah ditentukan.”

“Jadi apa yang akan kita lakukan?”

“Nanti malam aku akan melihat bersama para petugas sandi. Setelah kami dapat mengetahui atau setidak-tidaknya menduga siapakah mereka, kita akan menentukan sikap, apakah kita akan menyerang sesuai dengan rencana, atau kita terpaksa menunggu sampai mereka pergi. Namun dengan demikian, kita akan memerlukan waktu dan persediaan makan kita akan habis sebelum waktunya kita pulang.”

Prajurit-prajurit yang mendengarkannya mengangguk-anggukkan kepala. Agaknya jalan itulah yang memang harus ditempuh. Mendapatkan keterangan sejauh-jauhnya sebelum menentukan sikap, supaya pasukan kecil ini tidak terjerumus ke dalam kesulitan.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...