BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-16-01
Dengan kecepatan yang luar biasa, maka ia-pun segera meloncat langsung menyerang Witantra yang masih berdiri di atas dinding itu. Ia masih tetap menyangka, bahwa Witantra tidak mengetahui, bahwa ia sudah melihatnya.
Tetapi benar-benar di luar dugaan pelatih Tohjaya itu. Ketika tangannya hampir menyentuh bayangan itu, tiba-tiba bayangan itu menghindar dan bahkan mendorongnya sekali.
Dengan demikian maka pelatih Tohjaya itu justru terlempar dengan derasnya, terdorong oleh daya loncatnya sendiri ditambah oleh dorongan Witantra. Dengan derasnya pula ia terbanting di tanah di sebelah dinding yang cukup tinggi itu.
Tohjaya yang menyaksikan hal itu terbelalak sejenak. Ia tidak menyangka, bahwa gurunya dapat dengan mudahnya terperdaya.
“Mungkin guru kurang berhati-hati,” katanya di dalam hati. Dan agaknya Tohjaya-pun tidak mau membiarkan bayangan itu pergi begitu saja. Karena itu, maka ia-pun segera bangkit. Dengan senjata di tangan ia meloncat pula ke atas dinding beberapa langkah dari bayangan hitam itu. Kemudian dengan senjata di tangan ia siap untuk menyerang.
Dalam pada itu, suara kentongan mulai bergema di halaman istana itu. Suara itu merayap dari gardu yang satu ke gardu yang lain, sehingga setiap orang yang ada di dalam halaman itu-pun terbangun karenanya.
Mahisa Agni yang belum tertidur menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menekan kecemasannya. Sri Rajasa adalah seorang yang seakan-akan tidak dapat dinilai tingkat kemampuannya, karena ia seolah-olah dilahirkan menjadi seorang manusia yang ajaib. Namun demikian, Witantra yang sekarang pasti bukan Witantra yang dahulu pernah dikalahkannya.
Ketika suara tanda bahaya itu sudah bergeletar memenuhi halaman istana, maka Mahisa Agni-pun segera membenahi diri, bangkit dari pembaringannya dan dengan tergesa-gesa pergi ke gardu induk di sisi regol depan halaman istana. Hampir berbareng dengan kedatangannya adalah Anusapati dan Mahisa-wonga-teleng.
“Orang itu kini tidak akan dapat lolos,” berkata Panglima pengawal, “Tuanku Sri Rajasa dan tuan Mahisa Agni ada di istana.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya kemudian, “Apakah pasukanmu sudah mengawasi setiap jengkal dinding istana?”
“Mereka sudah menyebar. Aku harap, mereka dapat menahan orang yang sombong itu untuk tetap berada di dalam, sehingga kita dapat menangkapnya.”
Mahisa Agni tidak menjawab. Tetapi kegelisahannya kadang-kadang masih menghentak-hentak dadanya.
“Aku akan mengelilingi halaman ini,” berkata Mahisa Agni, “marilah, ikutlah aku.”
Panglima itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kini ia tidak sendiri. Panglima dari kesatuan yang lain-pun ada pula digardu itu. Karena itu, maka diserahkannya pimpinan kepada seorang kawannya, dan ia sendiri mengikuti Mahisa Agni mengelilingi halaman istana. Agaknya Anusapati dan Mahisa-wonga-teleng-pun tidak mau ketinggalan, sehingga sebuah kelompok kecil itu kemudian meninggalkan gardu induk.
Dalam pada itu, selagi Tohjaya menjulurkan pedangnya kepada bayangan hitam itu, ternyata suara tanda bahaya telah tersebar ke segenap sudut. Namun bayangan hitam itu tampaknya masih tetap tenang. Bahkan sambil tertawa pendek bayangan itu berkata, “Selamat malam tuanku Tohjaya. Hamba datang menghadap lagi. Tetapi kali ini hamba datang sendiri, tidak bersama dengan dua orang kawan hamba seperti beberapa hari yang lalu.”
“Persetan,” geram Tohjaya, “kau tidak akan dapat lolos kali ini.”
“Maaf tuanku. Guru tuanku yang kasar itu agaknya terlampau tergesa-gesa.” Witantra berhenti sejenak. Ketika ia memandang orang itu sekilas, ternyata ia sedang berusaha untuk bangkit. Tetapi agaknya punggungnya terasa terlampau sakit.
“Jangan mengigau,” bentak Tohjaya.
“Jangan menyerang tuanku. Dinding ini terlampau tipis bagi kaki tuanku. Nanti tuanku terjatuh seperti guru tuanku itu.”
“Ya,” terdengar suara yang lain dari bawah dinding, sehingga keduanya berpaling.
Bagaimana-pun juga, dada Witantra berdesir juga melihat Sri Rajasa berdiri tegak dengan tangan bertolak pinggang.
Tatapan matanya yang tajam, bagaikan tatapan mata seekor kucing Candramawa yang melihat seekor tikus diatas atap.
Sekali Witantra menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia bukan seekor tikus. Witantra kini adalah Witantra yang seakan-akan telah mencapai taraf tertinggi dari ilmu olah kanuragan dan telah menemukan kemantapan dari penguasaan rohaniah.
Karena itu, maka dengan tenang Witantra menyapa Sri Rajasa yang masih berdiri tegak, “Ampun tuanku, bahwa hamba telah berani mengunjungi halaman istana tuanku tanpa seijin tuanku. Beberapa hari yang lampau hamba pernah datang pula kemari, melihat bagaimana putera tuanku berlatih. Kini hamba datang kembali karena hamba sangat tertarik melihat latihan-latihan itu. Latihan-latihan yang sama sekali tidak mendasar dan sama sekali tidak mempertimbangkan jalur ilmu yang sewajarnya.”
Sri Rajasa masih berdiri di tempatnya tanpa bergeser sedikitpun.
“Latihan-latihan itulah yang telah menarik hamba untuk sekali lagi datang kemari.”
“Terima kasih atas kunjungan itu,” jawab Sri Rajasa kemudian, “tetapi apakah tidak lebih baik kalau aku mempersilahkan tamuku turun dan masuk kedalam bangsal? Dari sana kau akan dapat melihat latihan itu dengan lebih baik lagi.”
“Terima kasih tuanku. Sebenarnya hamba tidak ingin mengganggu tuanku. Hamba merasa cukup menonton dari tempat ini.”
“Seorang tamu yang sopan, akan dengan senang hati dipersilahkan oleh tuan rumahnya. Kenapa kau tidak?”
“Hamba bukan seorang tamu yang sopan. Kedatangan hamba-pun tidak mempergunakan cara yang sopan pula. Karena itulah agaknya di halaman istana ini telah bergema tanda bahaya.”
“Ya. Kau mengerti juga agaknya.” Sri Rajasa berhenti sejenak. Lalu, “tetapi siapakah kau sebenarnya? Mungkin kau merasa perlu memperkenalkan dirimu lebih dahulu.”
Bayangan hitam yang bertengger di atas dinding batu itu termenung sejenak. Namun kemudian jawabnya, “Hamba kira tidak perlu tuanku, karena hamba memang tidak, mempunyai pertanda apa-pun juga yang dapat dianggap penting.”
“Tetapi kau tentu punya nama dan tempat tinggal.”
“Hamba tidak punya nama tuanku, dan tempat tinggal hamba-pun bukanlah tempat tinggal yang sewajarnya. Hamba berkeliaran di sepanjang Padang Karautan, sehingga orang memberi nama kepada hamba Hantu Karautan.”
Dada Sri Rajasa berdesir karenanya. Sejenak ia berdiri tegak bagaikan patung. Memang sekilas angan-angannya lari kepada Mahisa Agni. Tetapi menilik bentuk tubuhnya, orang itu memang bukan Mahisa Agni.
Mahisa Agni adalah orang yang paling mengetahui tentang keadaannya semasa kanak-anak, semasa ia masih berkeliaran dengan sebutan Hantu Karautan. Selama ia masih sering merampok, memperkosa dan masih menjadi buruan yang tidak pernah dapat tertangkap.
“Mahisa Agni kebetulan ada di Kediri saat ini,” katanya di dalam hati.
“Tuanku,” Sri Rajasa tersentak mendengar panggilan ini, “sekarang perkenankan hamba pergi. Hamba ingin melihat latihan yang kasar itu. Tetapi agaknya guru tuanku Tohjaya mengetahui kehadiran hamba dan ia berkeberatan untuk meneruskan latihannya. Bahkan dengan serta-merta ia mencoba menyerang hamba dan memaksa hamba membela diri. Kepada putera Tuanku hamba sudah memperingatkan, agar tidak menyerang hamba di atas dinding batu yang sempit ini.”
“Tentu,” jawab Sri Rajasa, “Tohjaya sebaiknya tidak menyerangmu, karena gurunya tidak berhasil menangkapmu. Apalagi muridnya.” Sri Rajasa berhenti sejenak. Lalu, “tetapi apakah kau keberatan kalau aku yang melakukannya?”
“Tentu tuanku, hamba berkeberatan pula. Tuanku adalah seseorang yang tidak terkalahkan. Itulah keberatan hamba.”
“Bagaimana kalau kau menyerah?”
“’Hamba juga berkeberatan.”
“Baiklah. Sekarang aku akan membuat pertimbangan dari segi kepentinganku. Aku memerlukan kau.”
Witantra mengerutkan keningnya. Sudah sampai saatnya ia mempersiapkan diri. Ia sadar, bahwa suara tanda bahaya itu sudah merata, dan kini setiap sudut dan setiap jengkal tanah sudah dijaga dengan rapat.
“Sudah waktunya aku melarikan diri,” berkata Witantra.
Tetapi ia tidak sempat merenung lebih lama. Tiba-tiba saja Sri Rajasa telah berada di atas dinding itu pula, di hadapan Tohjaya.
“O,” desis orang berkerudung, “apakah tuanku juga ingin bermain-main.”
“Sudahlah. Aku tahu bahwa kau ingin mencoba, apakah Sri Rajasa mampu menangkapmu.”
“Ya tuanku. Tetapi Hantu Karautan tidak pernah dapat tertangkap. Apakah tuanku percaya?”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang Hantu Karautan tidak pernah dapat tertangkap, karena Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi belum pernah mencobanya.”
Tiba-tiba Witantra tertawa mendengar jawaban itu. Katanya, “Apakah sekarang Batara Sang Amurwabuma akan mencoba menangkapnya?”
Dada Sri Rajasa menjadi berdebar-debar. Tetapi ia menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Ya.”
Witantra menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya mata Ken Arok yang masih saja tetap menyala seperti pertama-tama ia melihat.
“Baiklah tuanku. Kalau begitu, biarlah hamba mencoba melarikan diri, dan tuanku mencoba mengejarnya. Hamba tahu, istana ini sudah terkepung. Tetapi hamba-pun tahu, bahwa hamba akan dapat meloloskan diri. Hanya Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi sajalah yang mungkin mengejarku. Itu-pun baru suatu kemungkinan.”
Tetapi Sri Rajasa ternyata tidak membiarkan Witantra untuk melarikan diri. Tiba-tiba saja Sri Rajasa telah menyerangnya dengan garangnya. Dengan ilmu yang tidak dimengertinya sendiri, Sri Rajasa langsung berusaha melumpuhkan lawannya.
Ternyata Witantra memang bukan Witantra yang dahulu. Agaknya setelah sekian lama ia menyepi, terbentuklah kekuatan ilmu yang ajaib dari dirinya, seperti luluhnya ilmu Gundala Sasra dan Kala Bama di dalam diri Mahisa Agni, dibumbui oleh tata gerak yang cepat kekasar-kasaran yang ditemuinya di antara sarang Kebo Sindet dan Wong Sarimpat. Karena itu, maka sejenak kemudian terjadilah sebuah perkelahian yang sengit di atas dinding yang sempit. Benturan antara dua puncak ilmu yang dahsyat.
Dalam pada itu para prajurit-pun segera melihat apa yang terjadi, sehingga berlari-larian mereka pergi kelongkangan di belakang istana, termasuk Mahisa Agni dan Anusapati.
Tetapi demikian mereka memasuki longkangan itu, maka Witantra-pun segera meloncat ke dinding di sebelah pada batas silang dengan dinding yang langsung bertemu dengan dinding sekeliling halaman itu.
Beberapa orang menjadi bingung karenanya. Mereka tidak dapat dengan mudah meloncat keatas dinding yang sempit itu. Karena itu, beberapa orang menjadi termangu-mangu karenanya.
Ketika Anusapati melihat Tohjaya ada di atas dinding itu, hampir saja ia menyusulnya meloncat pula. Tetapi Mahisa Agni sempat menggamitnya dan berbisik, “Kau tidak mampu meloncat setinggi itu dengan begitu mudahnya.”
“O,” Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir saja ia melupakannya.
“Tinggallah di sini. Adalah janggal sekali kalau aku tetap berada dilongkangan ini.”
Dalam pada itu, Mahisa Agni-pun segera meloncat naik ke atas dinding itu pula. Sejenak ia mencari, namun segera dilihatnya dua buah bayangan yang sedang bertempur di atas dinding yang menyilang.
Seperti bayangan hantu Mahisa Agni meluncur mendekati kedua orang yang sedang berkelahi di atas dinding batu. Tohjaya-pun kemudian mengikutinya pula. Tetapi ia sama sekali tidak mampu berbuat seperti Mahisa Agni, sehingga terbersit di dalam hatinya, “Paman Mahisa Agni memang luar biasa. Ia adalah satu-satunya orang yang dapat menyamai ayahanda di seluruh Singasari. Kalau saja Kakanda Anusapati bukan seorang pemalas. Ia mempunyai seorang paman yang luar biasa. Kalau aku menjadi Kakanda Anusapati, maka aku pasti akan berguru kepada paman Mahisa Agni tanpa diketahui oleh orang lain.”
Sejenak kemudian maka Mahisa Agni-pun sudah berhasil mendekati perkelahian itu. Namun ia justru menjadi termangu-mangu. Ia tahu benar bahwa orang berkerudung itu adalah Witantra. Tetapi kalau ia membiarkan Witantra itu lolos, maka pasti ada dugaan yang aneh dari Sri Rajasa, atau orang-orang yang menyaksikannya.
Mahisa Agni yang kemudian berdiri membeku itu berusaha menemukan jalan. Bagaimana ia dapat melepaskan diri dari segala macam kecurigaan.
Sementara itu, para prajurit Singasari telah berkumpul di bawah tempat perkelahian yang dahsyat itu. Semua mata memandang keduanya hampir tanpa berkedip. Sri Rajasa adalah seorang yang memiliki kemampuan yang luar biasa tanpa berguru kepada siapapun, sedang Witantra telah ditempa oleh keprihatinan yang sangat mendalam sampai kedasar dadanya, setelah ia dikalahkan oleh Mahisa Agni di arena ketika ia berusaha membersihkan nama adik seperguruannya. Kebo Ijo, yang saat itu, ia yakin bahwa Kebo Ijo memang tidak bersalah. Dan demikianlah agaknya yang sebenarnya.
Mahisa Agni itu-pun kemudian menemukan akal pula. Ia sudah melihat beberapa pasang mata memandangnya dengan heran, karena ia masih belum berbuat apa-apa.
Perlahan-lahan Mahisa Agni-pun melangkah setapak demi setapak mendekat. Tampaklah ia menjadi ragu-ragu. Kadang-kadang ia ingin maju lagi, tetapi kadang-kadang ia bahkan surut selangkah.
Tiba-tiba saja maka terdengar suaranya, “Tuanku, apakah hamba diperkenankan membantu tuanku menangkap orang itu?”
Sejenak tidak ada jawaban. Namun kemudian terdengar suara Sri Rajasa menggeram, “Jangan sombong Agni. Kau sangka aku seorang diri tidak mampu menangkap orang ini.”
“Ampun tuanku, maksud hamba, apakah hamba diperkenankan sekedar mencegatnya apabila ia berusaha melarikan diri.”
“Aku dapat melakukannya sendiri. Tidak boleh seorang-pun yang menggangguku.”
Mahisa Agni berdiri termangu-mangu. Tetapi ia kemudian menarik nafas. Dadanya menjadi lapang. Kini ia tidak akan disangka apa-pun juga oleh siapa-pun juga.
Sebenarnyalah para prajurit, perwira dan para Panglima yang menyaksikan perkelahian itu menganggukkan kepala mereka. Ternyata Mahisa Agni cukup bijaksana. Sebelum bertindak ia sudah bertindak dengan sangat berhati-hati. Ternyata Sri Rajasa sama sekali tidak ingin merasa terganggu, sehingga karena itu, maka Mahisa Agni tidak tergesa-gesa berbuat sesuatu yang dapat membuat Sri Rajasa menjadi justru marah kepadanya.
Dengan demikian, maka tidak seorang-pun yang mencoba mengganggu perkelahian itu. Dengan heran mereka hanya dapat menyaksikan. Tetapi yang lebih mengherankan lagi, bahwa ada juga seseorang yang berani bertempur melawan Sri Rajasa, Maharaja Singasari yang tidak terkalahkan.
Bukan saja orang-orang yang menyaksikan perkelahian itu, tetapi Sri Rajasa sendiri menjadi heran. Ia belum pernah menjumpai seseorang yang memiliki kemampuan begitu tinggi dan bahkan dapat mengimbanginya. Ia pernah mengalahkan Maharaja di Kediri yang pilih tanding. Ia dapat menguasai seluruh Kerajaan Singasari dan sekitarnya. Selain Mahisa Agni, menurut dugaannya, tidak ada orang yang dapat bertempur segarang itu.
Karena itulah, maka kemarahan Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu bagaikan membakar dadanya. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menguasai lawannya. Tetapi usahanya itu tidak segera dapat berhasil. Namun dalam pada itu, sebenarnyalah bahwa Witantra menjadi berdebar-debar karenanya. Ternyata bahwa Sri Rajasa benar-benar seorang yang pilih tanding. Semakin lama semakin terasa pada Witantra, bahwa Ken Arok memang memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kekuatan yang tidak bersumber pada kekuatan yang dicapai dengan latihan yang betapa-pun beratnya.
“Kekuatan inilah yang membuatnya melampaui kemampuan manusia biasa,” berkata Witantra di dalam hatinya. Dengan demikian maka Witantra yang telah menyepi bertahun-tahun dan mendekatkan diri dalam pencahariannya kepada Yang Maha Agung, sumber segala kekuatan, juga yang mengalir pada Sri Rajasa, dapat mencoba untuk menyesuaikan dirinya sebaiknya. Namun demikian ia sadar, sesadar-sadarnya, bahwa ia tidak boleh terlambat menghindarkan diri dari perkelahian itu.
Dalam pada itu, Witantra-pun berterima kasih pula kepada Mahisa Agni, yang telah menghindarkan dirinya dari kemungkinan lain. Apabila Sri Rajasa memerintahkan para Panglima dan termasuk Mahisa Agni dan Sri Rajasa sendiri mengepungnya, maka ia akan mengalami kesulitan untuk melarikan diri dari halaman ini.
Tetapi kini Mahisa Agni telah berhasil memancing perintah Sri Rajasa, tidak boleh seorang-pun yang boleh mengganggunya.
“Betapa-pun besar kemampuan dan betapa-pun tinggi ilmunya, namun aku pasti masih berkesempatan untuk sekedar melarikan diri. Dan itu adalah tugasku yang terakhir malam ini,” berkata Witantra.
Namun demikian, tiba-tiba dadanya berdesir. Ia melihat Sri Rajasa tiba-tiba saja telah sampai ke puncak kemarahannya. Meskipun tidak ada orang lain yang melihatnya, selain mereka yang memiliki ketajaman pandangan rohaniah, namun Witantra melihat, cahaya yang kemerah-merahan di atas ubun-ubun Sri Rajasa yang marah itu.
Mahisa Agni yang melihat cahaya yang kemerah-merahan di atas kepala Sri Rajasa itu-pun menjadi berdebar-debar pula. Ia sadar, bahwa cahaya itu adalah suatu pertanda, bahwa Sri Rajasa telah sampai ke puncak ilmunya. Ilmu yang tidak dimengertinya sendiri.
Ternyata bukan saja Mahisa Agni, tetapi agak jauh dari tempat itu, Sumekar menekan dadanya dengan telapak tangannya. Seperti Witantra dan Mahisa Agni, ia-pun melihat bayangan yang kemerah-merahan itu. Meskipun Sumekar seakan-akan tidak ikut terlibat di dalam benturan jasmaniahnya, tetapi ada hubungan rohaniah atas peristiwa yang terjadi di atas dinding itu, sehingga sentuhan getaran yang memancar dari pusat kekuatan Ken Arok-pun telah menyentuhnya, sehingga ia melihat pula bayangan kemerah-merahan itu.
Baik Mahisa Agni dan Sumekar menjadi berdebar-debar. Namun kemudian mereka-pun yakin, bahwa pandangan mata rohaniah Witantra-pun pasti cukup tajam, sehingga ia pasti sudah melihat pula bayangan kemerah-merahan itu.
Namun demikian, jantung mereka-pun menjadi semakin cepat berdetak oleh kecemasan yang semakin mencengkam.
Sumekar yang sedang terpukau melihat perkelahian itu terkejut ketika tiba-tiba saja seseorang membentaknya dibelakangnya. Ketika ia berpaling dilihatnya dua orang prajurit yang sedang membawa senjata telanjang.
“Apa kerjamu disini juru taman?”
“O,” Sumekar tergagap, “aku, aku sedang melihat perkelahian itu.”
“Gila. Kau sangka apakah perkelahian itu semacam tontonan yang pantas kau lihat? Ayo kembali ke pondokmu. Kalau terjadi sesuatu adalah salahmu sendiri.”
“Baik, baik,” Sumekar terdiam sejenak. Lalu, “tetapi bukankah Sri Rajasa sudah ada dis ana pula sehingga tidak seorang-pun perlu mencemaskan keadaan halaman istana ini lagi? Bukankah Sri Rajasa adalah seseorang yang tidak terkalahkan?”
Prajurit itu mengerutkan keningnya. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk. Jawabnya, “Ya, Sri Rajasa tidak akan terkalahkan oleh siapa-pun juga.”
Prajurit itu-pun kemudian meninggalkan Sumekar yang masih belum beranjak dari tempatnya. Kedua prajurit atu tidak lagi menyuruh siapa-pun bersembunyi di dalam pondok masing-masing karena mereka-pun yakin, bahwa Sri Rajasa tidak akan terkalahkan.
Ternyata bukan saja Sumekar yang menonton perkelahian itu selain para prajurit. Beberapa orang juru taman yang lain-pun melihat perkelahian itu pula dari kejauhan, meskipun sambil tersembunyi dibalik pepohonan. Dan kedua prajurit yang melihat Sumekar itu-pun tidak menghiraukan mereka itu lagi.
Diatas dinding yang sempit itu, Witantra masih melakukan perlawanan terakhir. Tetapi ia-pun mengetahui pula, bahwa Ken Arok sudah sampai pada batas tertinggi dari ilmunya. Tanpa menunjuk tanda-tanda tertentu, Sri Rajasa sudah dapat melepaskan kekuatan yang tidak terduga-duga besarnya.
Karena itu, semuanya itu menjadi pertanda bagi Witantra, bahwa ia harus meninggalkan medan sebelum ia mengalami cidera apa-pun juga.
Dengan demikian maka Witantra-pun berusaha untuk mendapat kesempatan menghindarkan dirinya, setelah terasa olehnya bahwa tekanan Ken Arok menjadi semakin berat. Bahkan hampir tidak tertahan. Sehingga karena itu, maka dengan kemampuannya yang hampir sempurna, Witantra-pun kemudian membangunkan ilmu tertingginya. Aji pamungkas yang jarang sekali dipergunakan selain dalam keadaan tertentu.
Namun kali ini ia sama sekali tidak ingin membinasakan lawannya. Ia tahu pasti, bahwa kekuatan jasmaniah Ken Arok jauh melampaui kekuatan manusia biasa. Karena itulah, meskipun ia tidak mempergunakan seluruh kekuatan aji pamungkasnya, namun ia mencoba melontarkannya juga, sekedar untuk mendapat kesempatan melarikan diri.
Mahisa Agni yang sudah mengenal bentuk aji pamungkas itu menjadi berdebar-debar. Demikian juga Sumekar yang berada agak jauh daripadanya. Tanpa mereka sadari, mereka-pun telah menahan nafas ketika mereka melihat Witantra mengangkat tangannya melepaskan kekuatan tertingginya, meskipun tidak dilontarkannya sepenuh tenaga.
Ken Arok yang tidak mempelajari bentuk-bentuk ilmu kanuragan itu-pun merasakannya pula, bahwa ia akan menghadapi suatu pukulan yang sangat dahsyat. Itulah sebabnya, maka ia-pun mengerahkan daya tahan yang ada padanya, tanpa diketahuinya sendiri, bagaimana kekuatan itu dapat terbangun di dalam dirinya, seperti pada saat-saat ia menghadapi Maharaja di Kediri.
Demikianlah, maka sejenak kemudian telah terjadi benturan yang dahsyat di atas dinding batu di halaman istana itu, dinding yang menyekat bagian dari istana yang lama dengan halaman yang baru, yang dibangun karena hadirnya Ken Umang di dalam istana itu.
Akibat dari benturan itu ternyata dahsyat pula. Witantra memang tidak mengerahkan segenap kemampuannya. Tetapi Ken Arok-pun tidak berusaha membentur kekuatan itu. Ia hanya mengerahkan daya tahannya, karena ia memang tidak ingin membunuh orang yang berkerudung hitam itu. Ia ingin menangkapnya hidup-hidup, agar dari padanya ia mendapatkan keterangan yang diperlukannya mengenai perbuatan gila-gilaan itu.
Namun demikian, akibatnya cukup berat bagi Witantra. Meskipun hal itu sudah diperhitungkannya, namun untunglah, bahwa Ken Arok memang tidak ingin membunuhnya.
Witantra yang telah membentur daya tahan Ken Arok itu-pun terdorong oleh pantulan kekuatannya sendiri. Namun demikian, Witantra justru mempergunakan pantulan kekuatan itu. bahkan sekali lagi ia menjejak dinding batu itu, sehingga ia-pun terlempar beberapa langkah seperti yang dikehendakinya sendiri.
Mahisa Agni dan Sumekar terperanjat melihat benturan itu. Mereka tidak segera mengetahui akibatnya pada Witantra. Mereka hanya melihat Witantra terlempar beberapa langkah, melampaui lingkaran para prajurit yang mengepungnya di bawah dinding batu itu.
Beberapa orang prajurit dan perwira dengan gerak naluriah meloncat mengejarnya. Namun kemudian terdengar Sri Rajasa berkata lantang, “Tidak seorang-pun yang dapat mengganggu perang tanding ini.”
Witantra yang sudah berdiri di atas tanah memandang Sri Rajasa sejenak. Sekilas tersirat kekagumannya atas Maharaja Singasari itu. Namun kemudian terdengar suara tertawanya, “Terima kasih tuanku. Namun agaknya hamba sudah cukup, untuk hari ini. Hamba sudah dapat menjajagi kemampuan tuanku, Maharaja Singasari yang perkasa. Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.”
Sri Rajasa tidak menjawab. Tetapi bagaikan terbang ia meloncat dari atas dinding batu itu kearah Witantra.
Adalah benar-benar diluar dugaan, bahwa Witantra sama sekali tidak menyambutnya. Namun bahkan seperti terbang pula ia meninggalkan arena perkelahian. Yang terdengar adalah suarai tertawanya menggetarkan setiap dada orang yang mendengarnya.
“He, apakah kau akan lari? “ teriak Sri Rajasa.
Witantra tidak menyahut. Tetapi tubuhnya seperti terhembus angin malam yang kencang melintasi halaman dalam istana Singasari.
Tetapi Sri Rajasa tidak membiarkannya. Secepat Witantra ia-pun segera menyusul menyusup ke dalam gelapnya malam.
Tidak seorang-pun yang mampu menyusul mereka berdua selain Mahisa Agni. Karena itu, belum lagi debar jantung mereka mereda, mereka melihat bayangan ketiga menyusul Witantra yang berkerudung hitam itu, dengan Sri Rajasa. Orang itu adalah Mahisa Agni.
Di kejauhan Sumekar hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak dapat melihat lagi apa yang sedang terjadi. Dan ia-pun tidak dapat berbuat seperti Mahisa Agni, karena ia adalah seorang juru taman. Yang dapat dilakukannya hanyalah menarik nafas dalam-dalam.
Beberapa saat kemudian para prajurit dan perwira, bahkan para Panglima-pun menyusul ketiga bayangan itu. Para panglima yang memiliki kemampuan melampaui yang lain, tidak juga berhasil mengikuti ketiga bayangan yang bagaikan terbang itu.
Di antara mereka yang kemudian berlari-lari keregol depan adalah Tohjaya, Anusapati dan Mahisa-wonga-teleng. Dengan senjata di tangan Tohjaya meloncat-loncat dipaling depan bersama para Panglima, seolah-olah ia akan dapat berbuat banyak di dalam persoalan itu.
Namun demikian kelincahan Tohjaya-pun telah menimbulkan kekaguman, bahwa tampaknya ia tidak kalah tangkas dari para perwira prajurit Singasari, dan hanya sedikit di bawah kemampuan para Panglima.
Tetapi mereka tidak lagi dapat menemukan ketiga bayangan yang seakan-akan telah menghilang. Para prajurit yang mengawasi dinding batu yang melingkari istana itu-pun hanya sempat melihat tiga orang yang bagaikan terbang meloncati dinding dan kemudian hilang di dalam kegelapan sebelum para prajurit itu sempat menyapanya.
“Kemana mereka berkejaran?” desis Panglima pengawal.
Tidak seorang-pun yang dapat memberikan jawaban.
“Kita harus menyusulnya,” berkata Tohjaya.
“Kemana?” bertanya salah seorang perwira.
Tohjaya menjadi termangu-mangu karenanya. Tanpa sesadarnya ia berpaling memandang Anusapati yang berada ditempat itu.
“Kita menunggu disini,” berkata Anusapati.
“Apa yang dapat kita lakukan di sini?” bertanya Tohjaya.
“Kita menunggu di sini.”
“Tetapi, apakah kita yakin, bahwa tidak akan terjadi sesuatu atas Ayahanda Sri Rajasa?”
“Paman Mahisa Agni ada besertanya. Juga Ayahanda Sri Rajasa sudah menjatuhkan perintah. Tidak seorang-pun boleh mengganggunya.”
Tohjaya menjadi termangu-mangu sejenak. Tetapi ia-pun kemudian berkata, “Kita akan mencarinya,” lalu katanya kepada Panglima pengawal, “siapkan pasukan. Kita akan menyusul.”
“Kita tidak akan pergi kemanapun,” potong Anusapati, “kita tetap berada di regol istana, siapa tahu, orang itu tidak sendiri. Kekosongan halaman istana ini akan sangat berbahaya.”
Anusapati berhenti sejenak. Lalu, “Kita percaya kepada kemampuan Ayahanda Sri Rajasa dan paman Mahisa Agni. Dan kita tidak akan berani melanggar perintahnya.”
Tetapi Tohjaya merasa lebih mantap untuk membawa sepasukan prajurit pilihan keluar dari regol istana. Karena itu maka ia-pun berkata pula, “Kita tidak akan tinggal diam. Ikuti aku. Bawa pasukan pengawal pilihan.”
Panglima pengawal itu-pun menjadi termangu-mangu. Namun, kemudian terdengar kata-kata Anusapati tegas, “Dengar perintah Putera Mahkota. Kita tetap disini. Tidak seorang-pun yang akan pergi, seolah-olah kita tidak percaya kepada Ayahanda Sri Rajasa dan Pamanda Mahisa Agni. Dan tidak seorang-pun yang boleh melanggar perintah Ayahanda Sri Rajasa, karena ayahanda pasti tidak akan menjatuhkan perintah tanpa maksud dan pertimbangan.”
Terdengar Tohjaya menggeram. Ia tahu benar, bahwa Sri Rajasa pasti tidak akan menganggapnya bersalah. Bahkan Ayahanda Sri Rajasa akan membenarkan sikapnya, apa-pun yang dilakukannya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-pun juga dihadapan para prajurit Singasari, karena Anusapati menyebut dirinya sebagai Putera Mahkota. Setiap prajurit pasti akan mengerti makna dari sebutan itu, selagi Sri Rajasa sendiri tidak ada di tempat. Karena itu, Tohjaya hanya dapat menggeram sambil menghentakkan kakinya. Dipandanginya kedua pengawalnya yang berdiri disampingnya. Namun tidak sepatah kata-pun yang diucapkannya.
Tetapi dengan demikian, semakin terasa olehnya, betapa besar arti kedudukan Anusapati. Betapa besar kekuasaan Putera Mahkota apabila diterapkan pada tempat yang sewajarnya. Kalau selama ini Anusapati seolah-olah tidak berarti sama sekali bagi Singasari, itu bukan karena kedudukan Putera Mahkota di Singasari sama sekali tidak berarti. Tetapi karena Anusapati selama ini tidak pernah berbuat apa-apa. Namun sekali ia menjatuhkan perintah atas nama Putera Mahkota, maka sadarlah setiap orang, terutama Tohjaya, bahwa sebenarnyalah Anusapati itu seorang Putera Mahkota.
“Kenapa ayahanda mengambil ibunda Ken Dedes sebagai seorang Permaisuri. Kenapa bukan Ibunda Ken Umang,” ia menggeram di dalam hatinya.
Tetapi Tohjaya tidak berwenang untuk melakukan perubahan itu. Ia hanya dapat menggeram dan marah-marah di dalam hatinya. Namun Anusapati tetap sebagai Putera Mahkota beserta semua hak yang ada padanya.
Dalam pada itu, orang yang berkerudung hitam itu terus saja berlari di dalam kegelapan. Dibelakangnya Sri Rajasa, Maharaja di Kediri yang merasa sangat terhina atas kehadiran orang itu di halaman istana masih saja mengejarnya. Beberapa langkah di belakang keduanya adalah Mahisa Agni yang selalu mengikuti Sri Rajasa.
Ternyata bahwa Witantra benar-benar memiliki kemampuan berlari yang cukup cepat. Meskipun mereka sudah berkejaran di dalam gelapnya malam beberapa ratus langkah, namun tidak ada tanda-tanda bahwa Sri Rajasa akan dapat menangkapnya.
“Tuanku,” tiba-tiba terdengar suara Mahisa Agni di belakangnya.
Sri Rajasa yang darahnya masih mendidih itu tidak menghiraukannya, ia masih berlari dengan kemampuan yang luar biasa, mengikuti jejak Witantra. Tetapi Witantra mampu berlari lebih cepat.
“Pengecut,” geram Sri Rajasa, “kenapa kau tidak berani bertempur sampai akhir?”
Orang berkerudung hitam itu tidak menjawab. Tetapi langkahnya menjadi semakin cepat.
“Tuanku,” berkata Mahisa Agni, “kita tidak akan dapat mengejar terus.”
“Berhentilah dan kembalilah,” geram Sri Rajasa.
“Masalahnya bukan hamba. Tetapi tuanku.”
“Kenapa dengan aku?”
“Hamba menasehatkan agar tuanku berhenti. Hamba akan memberikan alasannya. Tuanku yang sedang marah pasti tidak akan melihat banyak kemungkinan yang dapat terjadi. Apalagi tuanku adalah Maharaja Singasari.”
“Tetapi orang gila itu tidak boleh lepas.”
“Kita harus melihat kenyataan tuanku. Hamba ingin berbicara dengan jelas.”
Sri Rajasa menjadi termangu-mangu sejenak.
Namun dengan demikian, jarak antara Sri Rajasa dan Witantra menjadi semakin jauh.
“Kau sengaja melindungi orang itu?” tiba-tiba saja Ken Arok bertanya.
Mahisa Agni berdesir. Tetapi segera menjawab, “Apa hubungan hamba dengan persoalan ini? Apakah tuanku menyangka demikian?”
Sri Rajasa tidak menjawab. Tetapi langkahnya menjadi semakin lambat sehingga akhirnya ia berhenti.
“Kenapa kau menahan aku?” bertanya Sri Rajasa.
“Tuanku. Kita tidak mengetahui, apakah yang ada dibalik kegelapan ini. Kita tidak mengetahui, sampai berapa jauh orang itu membuat rencana atas istana dan tuanku Sri Rajasa. Bagaimanakah yang mungkin terjadi, seandainya orang itu benar-benar orang yang curang dan licik, sehingga dengan sengaja menjebak tuanku.”
“Kalau kau takut, kembalilah di antara sepasukan prajurit pilihan yang akan melindungimu.”
“Bukan begitu tuanku. Apakah tuanku belum mengenal Mahisa Agni. Hambalah yang ikut bersama tuanku menyerang Kediri. Hamba bukan anak kecil yang ketakutan melihat seekor kucing belang. Tetapi justru karena perintah tuanku, bahwa hamba tidak boleh ikut campur itulah yang mencemaskan hamba.”
“Aku sendiri memang dapat menyelesaikan apa-pun juga.”
“Tetapi kita tidak tahu, apakah orang itu hanya sekedar sendiri. Mungkin ia sudah menyiapkan sepasukan prajurit pilihan. Bukan karena hamba takut. Seandainya jatuh perintah tuanku, hamba sendirilah yang harus menghadapi mereka, hamba akan melakukannya. Berpuluh-puluh tahun hamba berguru. Hamba telah diajari oleh guru hamba, bagaimana seorang laki-laki menghadapi tantangan yang paling berat. Tetapi hamba bukan Maharaja di Kediri. Seandainya hamba mati dengan luka arang kranjang oleh seribu ujung senjata, hamba hanyalah seorang hamba Singasari. Tetapi bagaimana kalau hal itu terjadi atas Maharaja Singasari itu sendiri?”
“Itu adalah sikap laki-laki. Mati jantan.”
“Tetapi tidak bagi seorang Maharaja. Perintah tuanku, tidak seorang-pun yang boleh menganggu, adalah perintah yang tergesa-gesa di dalam keadaan ini. Karena kita tidak tahu, apakah benar ia, maksudku orang yang berkerudung itu hanya seorang diri?”
“Kalian benar-benar berhati batu. Apakah kalian tahu arti perintah itu. Jangan mengganggu aku selagi aku melakukan perang tanding. Tetapi kalau nalar kalian hidup, sudah tentu perintah itu tidak akan berlaku, seandainya aku harus menghadapi sepasukan lawan.”
“Itulah yang hamba cemaskan tuanku. Apabila kita berangkat sepasukan, atau di saat-saat terakhir tuanku memerintahkan untuk mengejar dan mengepung orang itu, keadaan akan berbeda.”
“Kau menyalahkan aku?”
“Bukan begitu tuanku. Tetapi hamba mencoba memperingatkan bahaya yang dapat tuanku temui seandainya tuanku masih terus melakukan pengejaran. Katakanlah, kita berdua. Tetapi dihadapan kita berbaris sepasukan orang-orang pilihan seperti orang itu.”
Sejenak Sri Rajasa termenung. Betapa-pun kemarahan memuncak dihatinya, namun ia dapat mengerti keterangan Mahisa Agni. Kalau ia bertemu dengan sekelompok orang yang memang sengaja menjebaknya, maka ia pasti akan mengalami kesulitan. Meskipun ia tidak pernah mengenal takut menghadapi bahaya apa-pun namun pada suatu saat, kenyataan yang demikian tidak akan dapat dihindarinya.
Tiba-tiba saja terbayang disaat-saat ia mengembara di padang Karautan. Meskipun setiap orang dengan gemetar menyebutnya Hantu Karautan, namun ketika ia dikejar-kejar oleh orang-orang padukuhan di sekitar padang itu, ia menjadi bingung juga dan berlari-lari tidak tentu arah.
Apalagi kini ia adalah seorang Maharaja. Adalah tidak sepantasnya apabila ia berlari-lari dikejar-kejar oleh sekelompok orang-orang yang tidak dikenal. Tetapi untuk mati ditangan mereka-pun agaknya tidak menyenangkan sekali. Bahkan mungkin mayatnya akan menjadi pangewan-ewan di suatu tempat yang tidak dikenalnya.
“Tuanku,” berkata Mahisa Agni kemudian, “kita sebaiknya tidak melayani perbuatan licik. Perbuatan yang memang tidak bernilai untuk kita layani. Kalau kita berhadapan dengan musuh yang seimbang seperti Maharaja di Kediri, maka apa-pun yang akan terjadi atas diri kita, bukanlah soal yang perlu dipertimbangkan lagi. Tetapi melawan orang-orang licik itu, bukanlah pekerjaan tuanku. Kecuali apabila tuanku memerintah hamba membawa beberapa orang untuk mencarinya apabila masih dapat hamba temukan.”
Sri Rajasa masih merenung sejenak. Namun kemudian kepalanya terangguk-angguk kecil, “Aku mengerti Agni. Tetapi aku kira, kau-pun tidak perlu mencarinya. Orang itu pasti sudah meninggalkan kota Singasari.”
“Meskipun demikian ada baiknya hamba meronda setelah kita kembali ke istana.”
“Terserahlah kepadamu. Aku akan kembali. Tetapi yang terjadi merupakan peringatan bagi kita, bahwa selama ini kita telah terbius oleh kemenangan-angan yang pernah kita capai. Ternyata bahwa kita bukanlah orang yang paling kuat di Singasari. Di padesan-padesan masih tersembunyi Pendeta-pendeta dan Brahmana-brahmana yang bukan saja menekuni olah kerohanian, tetapi juga olah kanuragan seperti Empu Purwa di Panawijen lama.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Terserahlah kepadamu Agni, apakah kau akan meronda? Namun yang penting, pengamatan atas daerah Singasari ternyata penting untuk dilakukan secara terus-menerus dan teliti. Kita harus mengetahui, siapa sajakah yang ternyata memiliki kemampuan vang mengagumkan seperti orang berkerudung hitam itu. Sudah barang tentu, kalau orang-orang lain di istana ini tidak dapat berbuat apa-apa, selagi aku pergi berburu dan kau tidak ada di istana. Apalagi orang-orang berkerudung itu datang bertiga sekaligus.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab.
“Marilah kita kembali ke istana,” berkata Sri Rajasa kemudian. “kita harus memberikan penjelasan kepada para prajurit, agar mereka mendapat gambaran yang sebenarnya, dan tidak menimbulkan berbagai macam ceritera yang kabur.”
Keduanya-pun kemudian dengan tergesa-gesa berjalan kembali ke istana. Ternyata mereka telah jauh berlari mengejar orang yang berkerudung hitam itu melalui jalan-jalan kota dan celah-celah padukuhan.
Ternyata baru kemudian keduanya melihat, bahwa hampir setiap gardu telah penuh dengan anak-anak muda yang meronda. Mereka-pun agaknya mendengar tanda bahaya yang bergema di dalam istana.
Di dalam keremangan malam Sri Rajasa dan Mahisa Agni terpaksa beberapa kali dihentikan oleh para peronda yang tidak segera mengenalnya.
“Siapa he?” bentak salah seorang anak muda.
“Kami prajurit pengawal.”
“Dari mana atau kemana?”
“Kami akan pergi keistana. Tugas kami menggantikan para peronda di istana menjelang fajar.”
“Apakah kalian tidak mendengar tanda bahaya?”
“Ya. Itulah yang mempercepat kedatangan kami. Sebenarnya kami masih dapat tidur nyenyak dirumah.”
“Tetapi kalian tidak berpakaian prajurit pengawal.”
“Kami sangat tergesa-gesa.”
“Kalian harus dapat menunjukkan bukti bahwa kalian adalah prajurit-prajurit.”
“Apakah yang harus aku tunjukkan?” jawab Mahisa Agni.
“Apa-pun sebagai bukti.”
Mahisa Agni menjadi termangu-mangu sejenak. Pada saat ia berpaling memandang Sri Rajasa, maka Sri Rajasa-pun tidak mengenakan pakaian keprajuritan.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar