BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-14-02
“Bukan salahku,” berkata perwira itu di dalam hatinya, “adalah berbahaya sekali bagi tuanku Tohjaya. Ia mempergunakan dua unsur kekuatan yang tidak dapat luluh. Apabila ia selalu mempergunakan cara itu, maka lambat laun ia akan mengalami gangguan yang akan membuatnya menyesal.” Tetapi aku tidak berhak memberinya peringatan.
Tetapi bukan itu saja. Bukan hanya karena ia tidak berhak, tetapi di sudut hatinya terbersit suatu pikiran, “Biarlah. Biarlah ia menyesal bahwa ia sudah membuat aku menjadi bersakit hati. Seolah-olah aku sama sekali tidak mampu melatihnya menjadi seorang laki-laki yang baik.”
Tetapi perwira itu merasa bahwa agaknya karena ia tidak dapat menundukkan kepalanya saja seperti yang dikehendaki oleh saudara sepupunya, agar ia berbuat curang atas kedua muridnya itu.
“Ia memerlukan bantuan orang lain.” katanya di dalam hati.
Dalam pada itu Tohjaya yang masih termangu-mangu sejenak mulai menyadari keadaannya. Karena itu maka katanya. “Baiklah. Apakah kita akan melanjutkan latihan ini?”
Pelatihnya memandang Anusapati sejenak. Tetapi tiba-tiba saja timbul keinginannya untuk menyaksikan tata gerak Tohjaya lebih banyak lagi. Karena itu katanya kepada Anusapati, “Silahkan tuanku.”
Anusapati menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi ia-pun kemudian melangkah maju. Ditatapnya wajah gurunya sejenak, lalu katanya, “Baiklah. Tetapi terasa bulu-bulu tengkukku meremang.”
Tohjaya tersenyum. Sambil menengadahkan kepalanya ia berkata, “Jangan takut. Aku adalah Tohjaya yang selama ini berlatih bersama Kakanda Anusapati.”
Demikianlah maka keduanya segera bersiap. Perlahan-lahan mereka saling mendekat. Dan sejenak kemudian latihan itu-pun segera mulai.
Agaknya Tohjaya tidak ingin mengulangi serangannya yang dapat membahayakan Anusapati. Ia sadar, bahwa Mahisa Agni adalah paman Anusapati. Ia tentu tidak akan membiarkan kemanakannya mengalami bencana. Meskipun demikian ia harus menunjukkan bahwa ia mempunyai kelebihan yang jauh dari Anusapati.
Ketika latihan itu kemudian mulai berlangsung, maka Mahisa Agni memperhatikan segalanya dengan saksama. Seperti yang diduganya dan seperti yang dikehendaki oleh pelatih itu, maka karena kecakapan Anusapati. Tohjaya telah melepaskan beberapa jenis unsur gerak yang asing tanpa disadarinya.
“Apakah kau melihat sesuatu?” bertanya Mahisa Agni sambil berbisik kepada pelatih Anusapati itu.
Perwira itu menganggukkan kepalanya. Dipandanginya kedua pengawal Tohjaya sejenak. Kemudian ia menjawab lirih, “Itulah yang ingin aku tunjukkan kepada tuan.”
“O,” desis Mahisa Agni, “jadi kau sudah tahu?”
“Ya tuan.”
“Kau tahu siapakah yang memberinya?”
Perwira itu menggelengkan kepalanya.
“Aneh sekali, aku tidak tahu maksud Sri Rajasa dengan caranya.”
Perwira itu ragu-ragu sejenak. Hampir saja ia mengatakan apa yang tersimpan dihatinya. Tetapi niatnya itu-pun diurungkannya.
“Apakah kau tidak ingin melihat, siapakah yang memberi bekal lain pada Tohjaya itu?”
“Tentu tuan. Tetapi aku tidak dapat.”
“Asal kau sempat mengawasi Tohjaya pada saat-saat yang kau sangka mungkin. Kau ikuti ia kemana perginya. Mungkin malam hari. Jika demikian bahkan akan lebih menguntungkan bagimu.”
“Mungkin di tempat tertutup.”
“Kau dapat memanjat?”
Pelatih itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kenapa selama ini tidak terkilas dikepalanya, untuk mengetahui siapakah guru Tohjaya itu. Meskipun seandainya ia tidak akan berbuat apa-apa, tetapi ia dapat mengetahui orang yang telah merangkapinya, menuntun Tohjaya di dalam olah kanuragan.
Karena itu maka katanya kemudian, “Aku tidak pernah memikirkan sebelumnya tuan. Tetapi apakah aku sebaiknya melakukannya?”
“Ah, kau aneh,” berkata Mahisa Agni, “sudah tentu semuanya itu terserah kepadamu.”
“Tetapi apakah hal itu baik aku lakukan?”
Mahisa Agni tidak menyahut. Ia hanya tersenyum saja.
Sudah barang tentu bahwa ia tidak terlampau jauh melibatkan dirinya. Ia tidak akan menempatkan dirinya sebagai pangkal dari perbuatan seandainya perwira itu benar-benar ingin melakukannya.
“Bagaimanakah pendapat tuan?” bertanya perwira itu mendesak.
“Jangan bertanya kepadaku. Sudah tentu aku tidak akan dapat mendorongmu untuk melakukan perbuatan ini. Aku hanya bertanya. Sekedar bertanya. Keputusannya ada padamu. Bahkan tanggung jawab-pun ada padamu. Seandainya kau tertangkap karenanya, maka kaulah yang akan mengalami segalanya. Bukan aku. Karena itu aku tidak mau menjadi penyebab bahwa pada suatu saat kau digantung. Setiap orang akan mendengar alasanmu, bahwa akulah yang menyuruhmu. Kalau aku tidak ikut digantung, maka semua orang akan berkata bahwa akulah yang manyebabkan kau dihukum.”
“Tidak tuan. Aku tidak akan menyalahkan siapa saja. Aku akan bertanggung jawab sendiri.”
Mahisa Agni tidak segera menjawab. Ia masih mengawasi latihan yang sedang berlangsung antara kedua putera Sri Rajasa itu. Semakin lama semakin seru, dan Tohjaya-pun mulai melepaskan ilmu rangkapnya tanpa disadarinya.
“Memang berbahaya,” berkata Mahisa Agni di dalam hati, “bukan saja berbahaya bagi lawannya, tetapi berbahaya bagi dirinya sendiri.”
Perwira pelatihnya yang kemudian juga terdiam, memandangi latihan itu pula. Ia mengikutinya dengan saksama. Setiap tata gerak yang terlontar dari keduanya, memang sangat menarik perhatian. Ia sudah mengetahui, bahwa Tohjaya tidak saja mempergunakan ilmu yang didapat daripadanya. Tetapi beberapa tata gerak yang lain telah terlontar pula.
Berbeda dengan Tohjaya, Anusapati-pun membuatnya heran pula. Ia masih berada di dalam lingkungan ilmu yang diberikannya. Tetapi kadang-kadang sesuatu yang tidak terduga-duga telah terjadi. Anusapati mampu mempergunakan unsur-unsur gerak yang justru tidak terpikirkan oleh gurunya di dalam hubungan yang hampir tidak berbatas. Seperti air yang mengalir melalui jalur-jalur yang lurus lapang tanpa rintangan apapun.
Sekali-sekali gurunya menggelengkan kepalanya. Bahkan ia berkata di dalam hatinya, “Aneh sekali. Putera Mahkota itu menemukan susunan tata gerak yang mengherankan. Tetapi jelas, bahwa unsur-unsurnya dalam unsur-unsur ilmu yang aku berikan.”
Tetapi gurunya tidak pernah mengerti, bahwa justru karena kematangan sikap Anusapati, maka ia mampu mempergunakan unsur-unsur gerak yang diterimanya dengan baik dan cepat. Meskipun ia juga tidak sengaja membuat gurunya heran, tetapi di dalam keadaan tertentu ia tidak dapat menghindari lagi. Adalah lebih baik mempergunakan ilmu yang diterimanya itu dalam tataran yang lebih tinggi daripada ia mempergunakan ilmu yang lain yang akan membuat gurunya menjadi semakin bingung.
Namun nampaknya latihan itu masih akan berlangsung lama. Tohjaya tidak lagi terlampau bernafsu untuk segera menjatuhkan Anusapati. Tetapi ia sengaja ingin mempermainkannya. Kadang-kadang ia menyerang dan mendesak Anusapati sampai beberapa langkah surut. Kemudian dengan tenangnya ia melangkah ketengah arena, memberi kesempatan agar Anusapati menyerangnya. Apabila Anusapati meloncat menyerang, dengan gerak yang sederhana ia mengelak sambil tertawa dan berkata, “Aku di sini Kakanda Anusapati.”
Demikianlah latihan itu berlangsung terus. Anusapati telah membiarkan dirinya setiap kali ditertawakan oleh Tohjaya. Namun setiap kali ia membuat dahi gurunya berkerut karena tata geraknya yang tidak terduga-duga. Tetapi Tohjaya yang sibuk dengan kemenangannya sama sekali tidak menghiraukannya, meskipun kadang-kadang ia kecewa juga, bahwa serangannya tidak mengenai sasaran atau usahanya untuk membuat Anusapati kehilangan arah, kadang-kadang gagal.
“Tuan,” perwira pelatih itu mengulangi desakannya, “bagaimana pendapat tuan kalau aku berusaha mengetahui, siapakah yang menjadi guru yang lain dari tuanku Tohjaya.”
“Ah,” desis Mahisa Agni, “kau bukan anak-anak lagi. Kau dapat menimbang mana yang baik dan mana yang buruk.”
Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia mengambil keputusan, “Aku akan mencoba melihat. Mencoba. Kalau berhasil baik, sukurlah. Kalau tidak, biarlah.”
Tetapi tiba-tiba sebuah pertanyaan melonjak dikepalanya, “Bagaimana kalau dihukum mati karena Sri Rajasa menemukan aku mengintip latihan itu?”
Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya didalam hati, “Seperti orang pergi berperang. Menang atau mati.”
Dengan demikian perwira itu tidak mendesak Mahisa Agni lagi. Ia sadar, bahwa Mahisa Agni tidak mau terlibat di dalam persoalan ini meskipun ialah yang pertama-tama menyalakan keinginan itu di dalam hatinya.
Keduanya kini memperhatikan latihan itu dengan saksama. Anusapati menjadi semakin lama semakin terdesak. Kadang-kadang serangan-serangan Tohjaya mengenainya dan melemparkannya. Kadang-kadang ia jatuh terguling. Dan kadang-kadang bahkan seperti seekor ayam di gelanggang, Berlari-lari mengelilingi arena apabila Tohjaya mendesaknya terus.
Tohjaya menjadi semakin gembira. Seperti anak-anak mendapat mainan yang mengasyikkan. Setiap kali terdengar ia tertawa. Namun kadang-kadang ia mengerutkan keningnya karena kegagalannya.
Guru Anusapati dan Tohjaya itu tiba-tiba menjadi curiga. Apakah Anusapati benar-benar tidak mampu mengimbangi Tohjaya? Putera Mahkota itu kadang-kadang mampu bergerak secepat serangan Tohjaya, justru apabila serangan itu berbahaya baginya. Tetapi sampai begitu jauh perwira itu tidak melihat unsur-unsur gerak yang lain, selain unsur-unsur gerak yang diberikannya, meskipun kadang-kadang dalam susunan yang ia sendiri tidak pernah memikirkannya.
Tetapi latihan itu sendiri kemudian tidak menarik lagi baginya. Yang dipikirkannya adalah bagaimana ia dapat mengetahui siapakah yang telah menuntun Tohjaya dengan ilmu yang menurut penilaiannya agak terlampau kasar dan berbahaya.
Karena itu tanpa menghiraukan latihan itu lagi ia berkata, “Aku akan melakukannya.”
“Apa?” bertanya Mahisa Agni.
“Aku akan berusaha melihat tuanku Tohjaya latihan dengan gurunya yang lain. Aku akan melihat apakah gurunya itu seorang manusia sempurna tanpa tanding?”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Katanya, “Apakah kau memutuskan demikian?”
“Ya tuan.”
“Kau sudah menimbang akibatnya?”
“Sudah tuan.”
“Terserahlah kepadamu.”
“Aku akan menanggung segala akibatnya. Kalau aku berhasil aku akan memberitahukan kepada tuan, siapakah gurunya itu. Apakah ia orang istana atau orang di luar istana.”
“Itu-pun terserah kepadamu. Tetapi aku tidak akan menolak. Setidak-tidaknya aku ikut mengetahuinya pula, meskipun seandainya tidak-pun tidak apa-apa.”
“Aku harap tuan bersedia. Aku tidak akan melibatkan tuan seperti yang tuan harapkan, meskipun tuanlah yang telah menumbuhkan niat itu di dalam hatiku. Aku tidak tahu, apakah tuan sengaja berbuat demikian atau tidak.”
Mahisa Agni tersenyum. Tetapi ia tidak menyahut.
Sejenak kemudian mereka kembali mengamati latihan yang sedang berlangsung itu. Anusapati semakin lama menjadi semakin terdesak, sedang Tohjaya semakin menjadi gembira karenanya. Kini ia telah memilih cara ini untuk menunjukkan kemenangannya. Ia tidak ingin dengan sekali banting, Anusapati tidak dapat bangun lagi. Tetapi ia ingin memperlakukan Anusapati seperti kucing yang sedang mempermainkan seekor tikus kecil.
Ketika serangan Tohjaya mengenai lengan Anusapati sehingga Anusapati terpelanting jatuh, Tohjaya tertawa terbahak-bahak. Katanya, “Marilah kakanda. Jangan berbaring di tanah. Nanti sajalah kakanda beristirahat sama sekali setelah latihan ini selesai.”
Tertatih-tatih Anusapati berusaha untuk bangkit. Tetapi ketika ia tegak, maka serangan Tohjaya telah melandanya. Sekali lagi ia terdorong dan jatuh berguling di tanah.
Terdengar suara tertawa Tohjaya semakin keras. Sambil memandang Mahisa Agni dan perwira pelatih itu berganti-ganti, ia bertolak pinggang menikmati kemenangannya.
Kali ini Anusapati tidak segera bangkit. Sambil menyeringai kesakitan ia berlutut dan bersandar pada kedua tangannya. Tetapi ketika Mahisa Agni memandangnya tanpa setahu Tohjaya ia memejamkan sebelah matanya, sehingga hampir saja Mahisa Agni tertawa karenanya.
“Sudahlah,” berkata gurunya, “latihan sudah selesai. Tuanku Anusapati sudah tampak terlampau lelah.”
Tohjaya masih tertawa. Katanya, “ Bertanyalah kepada Kakanda Anusapati. Apakah ia bersedia meneruskan latihan ini atau tidak.”
Perwira itu mendekati Anusapati sambil bertanya, “Apakah latihan masih akan diteruskan?”
Anusapati menggelengkan kepalanya, katanya, “Tidak, Aku sudah lelah sekali.”
Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan ia mendekati Mahisa Agni sambil berkata, “Inilah Kakanda Anusapati paman. Ia selalu mengakhiri latihan-latihan serupa ini sebelum waktunya. Sebenarnya Kakanda Anusapati akan dapat lebih maju apabila ia tidak terlampau malas.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, apakah pendapat paman atas kita berdua?”
“Mengagumkan,” jawab Mahisa Agni.
“Siapakah yang mengagumkan?”
Mahisa Agni tersenyum. Sekilas dilihatnya perwira prajurit yang menjadi pelatih kedua putera Sri Rajasa itu menolong Anusapati bangkit berdiri.
“Aku kagum melihat kelincahanmu. Kau bergerak cepat dan tangkas. Agaknya kau berlatih dengan tekun. Selain latihan-latihan yang kau lakukan disini, kau pasti selalu berlatih pula.”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Tiba-tiba wajahnya menegang. “Maksud paman?”
“Maksudku, kau tentu mengulangi tata gerak yang kau dapat dari gurumu ini diwaktu-waktu yang lain. Mungkin sebelum mandi. Dipagi hari bangun tidur atau waktu-waktu dan kesempatan-kesempatan yang lain. Hal itu memang banyak sekali berpengaruh. Tata gerak yang telah kau kuasai akan menjadi masak.”
“Ya paman.” Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya, “aku kira paman menyangka aku mengadakan latihan dan menerima tuntunan dari orang lain.”
Mahisa Agni masih tersenyum. “Aku menyangka lain.”
Tohjaya memandang Mahisa Agni dengan tajamnya. Tetapi kemudian ia berkata, “Paman benar. Aku memang selalu mengulangi ilmu yang aku terima di setiap kesempatan. Tetapi agaknya Kakanda Anusapati memang malas sekali.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sekilas ia berpaling kepada Anusapati yang berdiri berpegangan kepada pelatihnya sambil menyeringai. Nafasnya terdengar semakin cepat mengalir.
Katanya kemudian, “Anusapati memang kurang mantap. Tetapi apabila ia sedikit tekun, maka ia akan dapat menambah kemampuannya. Secara naluriah sebenarnya Anusapati mempunyai kelebihan. Tetapi ia tidak memanfaatkannya.”
Tohjaya memandang Mahisa Agni dengan tajamnya. Kemudian ia bertanya, “Kelebihan apakah yang paman maksudkan?”
“Anusapati mempunyai tanggapan yang cepat secara naluriah. Kalau ia dengan rajin melatih diri, maka seolah-olah ia akan mempunyai indera yang dapat menangkap apa yang akan dilakukan oleh lawan di dalam perkelahian.”
“Apakah benar begitu?”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya.
“Bagaimana dengan aku paman?”
“Sudah aku katakan. Kau dapat bergerak cepat dan tangkas. Jarang sekali orang dapat bergerak secepat kau. Meskipun tanggapan naluriahmu wajar, maksudku tidak ada kelebihan dari orang lain, namun gerak yang kemudian kau lakukan ternyata melampaui kesempatan seseorang mencernakan tanggapannya.”
Tohjaya mengangguk-angguk. Namun kemudian ia tersenyum mendengar pujian itu. Bahkan kemudian ia bertanya, “Apakah kemampuanku masih akan dapat berkembang?”
“Tentu. Kau dan Anusapati masih mempunyai kemungkinan yang sangat luas. Kalau kalian berdua benar-benar mempergunakan waktu sebaik-baiknya, kalian akan menjadi anak muda yang perwira. Kalian akan menjadi kesatria yang benar-benar diharapkan bagi Singasari.”
Tohjaya masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak senang mendengar Kemungkinan yang dapat dicapai oleh Anusapati. Meskipun demikian ia berkata didalam hatinya, “Aku berlatih pada seorang pelatih yang khusus. Setiap saat aku memerlukannya, ia akan hadir tanpa mengenal waktu. Sudah tentu jarak yang ada di antara kami akan menjadi semakin jauh. Apalagi kalau Kakanda Anusapati masih tetap malas seperti sekarang.”
“Berlatihlah terus,” berkata Mahisa Agni sambil menepuk bahu Tohjaya.
“Terima kasih paman,” sahut Tohjaya.
Mahisa Agni-pun kemudian minta diri, setelah ia menasehatkan agar latihan itu dihentikan, karena Anusapati sudah terlampau lelah.
Demikianlah maka Mahisa Agni-pun segera meninggalkan arena. Ia masih akan menemui Permaisuri dan Sri Rajasa sendiri. Masih ada yang akan dibicarakan mengenai kemungkinan-kemungkinan perkawinan Anusapati.
Dalam pada itu, perwira prajurit yang menjadi pelatih Tohjaya dan Anusapati itu benar-benar ingin melihat, siapakah sebenarnya orang yang telah merebut kepercayaan Sri Rajasa untuk membentuk puteranya menjadi seorang laki-laki yang kuat dan mumpuni didalam olah kanuragan.
“Apakah orang itu sudah lama berada di istana, atau orang yang termasuk baru?” bertanya perwira itu kepada diri sendiri. Sebenarnyalah ia tidak tahu, bahwa guru Tohjaya itu sudah ada sejak lama, namun baru beberapa saat kemudian Tohjaya benar-benar berlatih kepadanya, karena perwira itu tidak sependirian dengan gurunya yang sudah meninggal. Dengan demikian Tohjaya tidak dapat mengharapkannya lagi. Itulah sebabnya maka ia kemudian memberatkan latihan-latihannya kepada gurunya yang tersembunyi itu.
Dengan demikian maka perwira itu bertekad untuk selalu mengawasi Tohjaya, siang dan malam, apabila ia keluar dari bangsalnya. Tetapi waktu yang sehari semalam itu ternyata tidak dapat dikuasainya terus menerus. Kadang-kadang ia menjadi lengah selagi ia makan di dalam biliknya dibagian belakang istana itu. Atau selagi ia mandi, Tohjaya menyeberangi longkangan di belakang bangsal ayahanda. Disanalah ia berlatih bersama gurunya yang khusus itu.
Tetapi perwira itu tidak putus asa. Ia selalu berusaha. Bahkan ia berpendirian, “Kalau tidak sekarang, besok aku pasti akan menjumpainya. Kalau tidak besok, biarlah lusa, atau di hari kemudian.
Beberapa hari kemudian Mahisa Agni-pun meninggalkan istana Singasari kembali ke Kediri. Perwira itu memerlukan menemuinya untuk mengucapkan selamat jalan. Tetapi ia juga berkata, “Aku belum berhasil. Tuan sudah akan meninggalkan istana.”
“Aku akan mondar mandir sebelum perkawinan Anusapati benar-benar dapat berlangsung. Kita masih belum menemukan bakal isteri yang mantap untuk Putera Mahkota.”
Pelatih itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Mudah-mudahan tuan masih menjumpai aku di istana ini.”
“Kenapa?”
“Siapa tahu, besok atau lusa, aku benar-benar digantung.”
“Ah. Kalau kau sudah ragu-ragu, hentikan saja usahamu. Apakah untungnya kau menemukan oang itu? Kau hanya sekedar menuruti perasaanmu. Mungkin kau menjadi puas melihat orang itu. Tetapi mungkin kau justru menjadi gila dan kehilangan pertimbangan nalar.”
“Aku akan tetap berpikir bening. Doakan saja tuan.”
Mahisa Agni tersenyum. Katanya, “Hati-hatilah. Di sekitarmu terdapat banyak orang-orang yang luar biasa. Jangan sampai kau menjerumuskan dirimu.”
“Aku akan sangat berhati-hati.”
Tetapi perwira itu sama sekali tidak mengetahui, bahwa Mahisa Agni-pun telah berpesan kepada Sumekar, agar ia berusaha mengawasi gerak-gerik perwira itu dan apabila mungkin sekaligus menemukan pelatih Tohjaya yang tersembunyi itu.
“Awasilah perwira itu,” berkata Mahisa Agni, “kasihan apabila ia terjerumus kedalam kesulitan. Menilik lontaran unsur-unsur gerak yang ada pada Tohjaya, maka gurunya yang kasar itu memang mempunyai banyak kelebihan. Sayang, ia bukan seorang guru yang baik, sehingga ia tidak menghiraukan perkembangan jasmani muridnya sama sekali.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memang mempunyai dugaan yang sama. Kedua guru Tohjaya itu agaknya memang bukan guru-guru yang baik. Perwira prajurit saudara sepupu Ken Umang masih kurang selapis untuk membentuk Tohjaya menjadi seorang yang mumpuni, karena perwira itu sendiri, masih belum mencapai suatu tingkatan yang dapat dibanggakan di dalam olah kanuragan, meskipun untuk mendasari kedua anak-anak muda itu agaknya ia mampu juga melakukannya, bahkan ia agak lebih baik dari guru Tohjaya yang terbunuh. Sedang gurunya yang lain, menilik tata geraknya, adalah seorang yang berilmu kasar dan bersumber pada ajaran yang kurang dapat dipertanggung jawabkan.
“Perwira itu ingin melihat, siapakah orang yang telah ditunjuk oleh Sri Rajasa untuk menjadi guru Tohjaya pula,” berkata Mahisa Agni, dan ia menceriterakan apa yang akan dilakukan oleh perwira itu.
Karena pesan itulah, maka Sumekar-pun kemudian mempunyai tugas tambahan. Setiap kali ia ada kesempatan, maka dengan pakaian yang dapat membantu membayanginya, ia selalu berkeliaran di halaman istana. Dengan berkerudung kain hitam, tutup wajah hitam dan semua serba hitam, Sumekar berusaha untuk memenuhi pesan Mahisa Agni.
“Paman Sumekar sekarang senang bermain hantu-hantuan,” desis Anusapati.
Sumekar hanya tersenyum saja. Tugas itu termasuk tugas yang berat baginya.
“Aku ingin ikut pada suatu kali,” minta Anusapati.
“Jangan tuanku. Tuanku Sri Rajasa adalah seorang luar biasa. Seolah-olah ia memiliki indera rangkap.”
“Bukankah dengan demikian akan berbahaya juga bagi paman?”
“Hamba hanya seorang juru taman tuanku.”
“Kalau kau hanya seorang juru taman, apakah kepentinganmu untuk mengetahui guru Tohjaya? Seorang juru taman sama sekali tidak berkepentingan apa-apa selain cangkul, pupuk kandang, sapu dan sebagainya. Setiap datang saatnya menerima upah dari kerjanya, kenaikan pangkat dan kebutuhan-kebutuhan lain. Makan dan sedikit kebanggaan. Apalagi?”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam.
“Ternyata paman bukan seorang juru taman. Justru paman telah sudi merendahkan diri menjadi seorang juru taman.”
“Tuanku, meskipun hamba bukan juru taman karena hamba memerlukan pekerjaan untuk kehidupan hamba, tetapi harga hamba sama sekali tetap tidak sebanding dengan tuanku. Bukankah tuanku Putera Mahkota yang sebenarnya? Siapa-pun hamba, hamba adalah seorang dari padesaan. Dari sebuah padepokan yang hampir dilupakan orang.”
“Paman memang suka merendahkan diri. Apakah paman tahu nilai dari tugas yang paman lakukan? Aku tahu paman berbuat sesuatu yang berbahaya dan kadang-kadang mengancam jiwa paman itu, sekedar untuk kepentinganku. Bukankah dengan demikian nasibku sebagai Putera Mahkota sebagian telah paman selamatkan?”
“Nasib tidak berada di tangan kita tuanku. Kita hanya sekedar berusaha. Dan hamba-pun sekedar berusaha seperti tuanku juga berusaha.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tetapi paman telah mempertaruhkan diri sendiri.”
“Tuanku,” berkata Sumekar, “hamba tidak mempunyai kekuasaan apa-apa di Singasari. Tuanku adalah Putera Mahkota yang apabila datang saatnya, akan menjadi Raja Besar di Singasari. Adalah berbahagia sekali bahwa hamba dapat mengenal langsung seorang Raja Besar. Tidak banyak orang yang mendapat kebahagiaan demikian. Hanya orang-orang besar di istana sajalah yang mengenal secara pribadi seorang Raja.” Sumekar berhenti sejenak, lalu “tetapi lebih dari pada itu, bukankah dengan demikian hamba telah dapat mengangkat diri hamba sendiri, ikut di dalam pemerintahan? Karena hamba yakin, bahwa tuanku akan berbuat sebaik-baiknya. Apabila hamba dapat menyerahkan setitik air, maka hamba-pun merasa telah ikut serta didalam kebesaran tuanku itu. Tanpa tuanku, hamba tidak dapat berbuat apa-apa bagi Singasari yang besar ini.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Sumekar berkata terus, “Karena itu, tuanku jangan berbuat sesuatu yang terlampau berbahaya. Ini-pun hanya suatu usaha untuk keselamatan tuanku. Biarlah hamba saja yang bermain hantu-hantuan berkerudung kain hitam agar hamba tidak mudah dilihat di malam hari.”
“Di siang hari?”
“Di siang hari hamba tidak berani.”
Anusapati tersenyum. Memang tidak mungkin untuk melakukannya di siang hari.
Demikianlah, maka Sumekar-pun berusaha untuk mengetahui, di manakah Tohjaya berlatih. Kadang-kadang ia mengawasi perwira prajurit yang juga selalu mengendap-endap di malam hari untuk mencari tempat yang dipergunakan oleh Tohjaya. Tetapi keduanya masih belum berani untuk mendekati bangsal Sri Rajasa. Apalagi mereka sama sekali tidak menduga, bahwa latihan itu akan dilakukan di belakang bangsal itu.
Namun akhirnya, setelah seluruh istana mereka awasi meskipun mereka tidak berjanji untuk melakukan bersama, tanpa dapat mereka ketemukan, maka mereka-pun sampai pada suatu kesimpulan, bahwa satu-satunya tempat yang belum pernah mereka intai adalah longkangan di belakang bangsal Sri Rajasa.
Tetapi untuk melakukannya adalah sangat berbahaya. Selain bangsal itu dijaga ketat, maka untuk sampai ke belakang bangsal itu, hampir tidak ada jalan sama sekali. Apalagi mereka menyadari, bahwa Sri Rajasa adalah seorang yang ajaib. Seorang yang pilih tanding.
Tetapi pada suatu saat, datang juga kesempatan yang meskipun belum pasti, namun tampaknya seperti membuka jalan bagi keduanya untuk melakukan tugas mereka masing-masing.
Sumekar menjadi berdebar-debar ketika ia mendengar berita bahwa Sri Rajasa ingin berburu seperti kebiasaan yang di lakukannya. Tetapi kali ini puteranya yang biasanya ikut serta, ingin tinggal di istana.
“Adinda Tohjaya tidak ikut serta,” berkata Anusapati kepada Sumekar, “katanya, ia ingin memperdalam olah kanuragan.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Mudah-mudahan hamba mendapat kesempatan untuk melihat latihan itu,” berkata Sumekar.
Dan bersamaan dengan itu, perwira saudara sepupu Ken Umang-pun berkata didalam hatinya, “Mudah-mudahan aku mendapat kesempatan. Aku harap bahwa aku-pun tidak dibawanya serta di dalam perburuan itu.”
Ternyata bahwa perwira itu kemudian tidak dibawa serta oleh Sri Rajasa. Bahkan ia mendapat pesan, agar latihan-latihan bagi Tohjaya agak dipercepat.
“Anak itu sudah dewasa penuh,” berkata Sri Rajasa.
Ketika pada suatu pagi, Sri Rajasa beserta para pengiringnya keluar dari istana, Sumekar berdiri termangu-mangu di regol petamanan. Dari kejauhan ia melihat iring-iringan itu menyusup regol samping dan turun ke jalan raya.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia-pun melangkah maju. Ia mengerutkan keningnya ketika dilihatnya perwira pelatih Tohjaya dan Anusapati berdiri termangu-mangu pula.
Dari kejauhan Sumekar melihat Tohjaya berjalan bersama Anusapati masuk kembali kehalaman samping setelah mereka melepaskan ayahanda pergi berburu di regol istana. Di belakang mereka dua orang prajurit pengawal Tohjaya berjalan dengan tegapnya. Tanpa menghiraukan perwira perajurit itu Tohjaya berjalan langsung ke biliknya. Namun Anusapati masih juga berpaling sambil menganggukkan kepalanya.
Perwira itu memandang keduanya dengan kening yang berkerut-merut. Namun kemudian ia-pun meninggalkan tempatnya dan kembali ke tempat tinggalnya, di dalam lingkungan istana itu pula.
Sumekar hanya dapat memandang mereka dengan dada yang berdebar-debar. Di regol dalam kedua anak-anak muda itu berpisah, Masing-masing pergi ke bangsalnya.
Perlahan Sumekar-pun melangkah maju. Kini ia berjalan di longkangan tengah. Sekali-sekali ia berhenti sambil mengamati pohon bunga-bungaan yang tumbuh di pinggir longkangan itu. Namun kemudian ia melanjutkan langkahnya ke regol dalam. Tetapi Sumekar sudah tidak melihat kedua putera Sri Rajasa itu lagi.
“He, apa yang kau lakukan disini,” bertanya seorang prajurit ketika ia melihat Sumekar berdiri termangu-mangu.
“O, tidak apa-apa tuan. Aku hanya melihat-lihat kalau ada tanaman yang kurang terpelihara.”
Prajurit itu tidak menghiraukannya lagi. Ditinggalkannya Sumekar yang masih berdiri termangu-mangu itu.
Namun dalam pada itu Sumekar sempat memperhatikan bangsal Sri Rajasa meskipun dari kejauhan. Bangsal yang berdiri megah di tengah-engah halaman yang luas. Meskipun setiap kali Sumekar selalu bergantian dengan kawan-kawannya juru taman membersihkan halaman itu dan memelihara tanaman yang tumbuh di sekeliling bangsal dan di tepi-tepi dinding, namun rasa-rasanya ia masih ingin memperhatikan bangunan itu seteliti-telitinya.
“Di belakang bangsal itu ada sebuah longkangan yang tertutup. Sebuah pintu butulan di samping, menghubungkan bagian belakang bangsal itu dengan halaman yang luas di sekitarnya. Diwaktu senggang Sri Rajasa sering duduk di bagian belakang bangsal itu. Kadang-kadang seorang diri apabila ia tidak ingin diganggu.”
Sumekar berkata kepada diri sendiri, “hanya longkangan di belakang bangsal itu, di depan serambi yang sering dipergunakan oleh Sri Rajasa lah yang belum pernah aku jenguk selama aku mencari pelatih yang tersembunyi itu. Agaknya sekarang aku mendapat kesempatan. Tanpa Sri Rajasa, agaknya aku akan lebih mudah untuk melakukannya. Guru Tohjaya yang tersembunyi itu pasti tidak akan dapat menyamai Sri Rajasa menilik caranya memberikan ajaran kepada muridnya.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ketika ia melihat dua orang prajurit peronda yang lewat melintasi halaman, maka ia-pun melangkah ke samping dan berjongkok di samping sebatang pohon kemuning yang sedang tumbuh.
Tetapi kedua prajurit itu sama sekali tidak menghiraukannya. Mereka hanya melintas halaman, dan hilang diregol sebelah kiri, regol yang menghubungkan bagian istana ini dengan halaman bangsal sebelah, bangsal yang dipergunakan oleh Tohjaya. Di sebelah bangsal itulah terdapat sebuah bangsal lain pula. Bangsal Ken Umang yang seolah-olah terpisah dari istana lama ini oleh dinding batu. Tetapi regol-regol yang terdapat di sepanjang dinding itu agaknya selalu terbuka, siang dan malam. Bahkan Sumekar sendiri pernah untuk beberapa hari bekerja di belahan istana itu, yang sehari-hari mempunyai petugas-petugasnya sendiri. Juga mempunyai juru taman sendiri di petamanannya.
“Aku harus segera menemukannya, sebelum pada suatu saat jatuh keputusan hari perkawinan tuanku Anusapati,” berkata Sumekar di dalam hatinya.
Sejenak kemudian Sumekar-pun meninggalkan halaman yang luas itu kembali ke petamanan. Dilihatnya beberapa orang kawannya sedang beristirahat, duduk di bawah sebatang pohon sawo kecik.
“He. dari mana kau?” bertanya salah seorang dari mereka.
“Melihat kemuning yang sedang tumbuh itu.”
“Di halaman dalam?”
“Ya.”
“Bagaimana?”
“Pohon itu sudah mulai semi.”
Kawan-kawannya tidak menghiraukannya lagi. Mereka sedang membuka bungkusan bekal mereka. Ketan serundeng kelapa muda. Jenang alot dan pondoh jagung.
Sumekar-pun kemudian duduk pula di antara mereka. Namun angan-angannya masih saja tersangkut pada longkangan di belakang bangsal Sri Rajasa.
“Jangan pura-pura. Kau memang anak manja,” bentak salah seorang kawannya.
Sumekar berpaling sambil mengerutkan keningnya.
“He, kau mesti dipersilahkan. Kalau tidak, kau pura-pura tidak acuh saja pada jenang alot dan ketan serundeng yang dibawa oleh jajar yang lencir kuning ini. Tetapi nanti kalau sudah habis kau menggerutu sepanjang hari. Bahkan semalam suntuk kau tidak akan dapat tidur nyenyak.”
“O,” Sumekar tersenyum, “maaf. Aku tidak bermaksud manja dan harus dipersilahkan. Bukankah aku harus mengenal sopan santun? Siapa tahu, aku tidak termasuk dalam rencana pembagian rejeki itu.”
“He, benar begitu? Kau berharap agar kau tidak masuk di dalam lingkungan kami yang menerima rejeki.”
“Bukan, bukan begitu.”
Kawannya bersungut-sungut, “Jangan banyak cakap. Lihat, betapa aku berusaha memuaskan orang yang membawa makanan ini.” Dan dengan lahapnya ia menyuapi mulutnya dengan ketan serundeng.
Sumekar tersenyum. Sejenak ia termangu-mangu, namun sejenak kemudian ia mengulurkan tangannya, memungut sepotong jenang alot.
“Nah begitu. Jangan malu-malu dan jangan berpura-pura malu.”
Semuanya tertawa. Sumekar juga tertawa.
Namun hampir berbareng mereka berdiri serentak ketika mereka melihat Putera Mahkota muncul di regol petamanan. Bahkan pemimpin juru taman yang ikut makan bersama kawan-kawannya, dengan tergesa-gesa membungkus sisa makanan itu dan sambil menelan makanan yang sedang dikunyahnya, melangkah terbungkuk-bungkuk mendekati Putera Mahkota.
“Apakah yang kalian kerjakan?” bertanya Anusapati.
“Ampun tuanku. Hamba dan kawan-kawan hamba sedang makan beberapa potong makanan yang dibawa oleh salah seorang dari kawan hamba.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan pemimpin juru taman itu menarik nafas dalam-dalam ketika Putera Mahkota itu berkata, “Selesaikan sama sekali. Kemudian, aku ingin salah seorang dari antara kalian untuk memperbaiki sebatang pohon soka yang rusak.”
“Kenapa tuanku?”
“Aku tidak sengaja telah menginjaknya, ketika aku berusaha menangkap seekor burung jalak yang masih muda.”
“Pohon soka di sebelah tangga bangsal tuanku?” bertanya Sumekar.
“Ya.”
“Hambalah yang menanamnya.”
“Kalau begitu, kau sajalah yang melihatnya. Apakah pohon soka itu masih dapat tumbuh atau harus diganti yang baru.”
Sumekar mengangguk-angguk. Sejenak dipandanginya kawan-kawannya. Kemudian ia menatap bungkusan makanan yang masih belum habis itu.
Pimpinan juru taman yang berdiri di sebelahnya mengerutkan keningnya sambil berdesis, “Hamba tuanku,” berkata Sumekar kemudian, “hamba akan melihatnya.”
“Marilah,” berkata Anusapati sambil melangkah mendahului.
Ketika Sumekar mulai melangkahkan kakinya, pemimpin juru taman itu berkata perlahan-lahan, “Anak yang malang. Kau tidak sempat ikut menikmati makanan ini lebih banyak lagi.”
“Kalau kalian tidak menyisihkan beberapa potong untukku, aku akan memancing kalian agar kalian diberi tugas, yang sangat berat dari Tuanku Putera Mahkota.”
“Apa misalnya?”
“Memotong pohon sawo kecik itu.”
Kawan-kawannya tertawa tanpa mereka sadari sehingga Anusapati yang masih belum begitu jauh berhenti dan berpaling sehingga suara tertawa itu dengan serta merta terputus. Sumekar-pun kemudian dengan tergesa-gesa melangkah mengikuti Anusapati.
Tanpa dicurigai oleh kawan-kawannya. Sumekar yang sedang membetulkan sebatang pohon soka itu dapat berbicara panjang dengan Anusapati tentang Tohjaya.”
“Hamba akan melihat longkangan di belakang bangsal ayahanda tuanku.”
“Berbahaya paman.”
“Hamba tuanku. Tetapi hamba mempunyai dugaan bahwa di sanalah tuanku Tohjaya berlatih. Tidak ada tempat lain. Semuanya sudah aku lihat, dan agaknya perwira itu sudah melihatnya pula.”
“Apakah kalian berdua?”
“Tidak tuanku. Hamba tahu bahwa perwira itu juga berusaha menemukan tempat berlatih tuanku Tohjaya dari kakang Mahisa Agni. Tetapi perwira itu tidak tahu, bahwa aku-pun sedang berusaha mencarinya dan sekaligus mengawasi perwira itu. Menurut kakang Mahisa Agni, kalau guru Tohjaya yang tersembunyi itu mengetahuinya, maka perwira itu tidak akan dapat melawannya. Menurut penilaian kakang Mahisa Agni, guru Tohjaya yang penuh dengan rahasia itu agaknya mempunyai beberapa kelebihan.”
“Seandainya demikian apakah paman akan melibatkan diri?”
“Kalau perlu tuanku. Itulah sebabnya hamba mengenakan pakaian hitam dan kerudung muka. Mudah-mudahan aku tidak dapat dikenal. Dengan demikian, aku akan tetap dapat berada di istana ini.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Tetapi paman harus benar-benar berhati-hati. Apakah paman dan paman Mahisa Agni yakin, bahwa orang yang tersembunyi itu akan dapat paman kuasai? “
Sumekar menggelengkan kepalanya, “Tidak tuanku, memang tidak.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Terbayang betapa beratnya tugas Sumekar kali ini. Kalau ia gagal, maka ia akan menjadi korban pula. Sedangkan Sumekar tidak tahu pasti, kemampuan orang yang bakal dihadapinya.
“Tuanku,” berkata Sumekar kemudian, “sudah hamba perhitungkan apa yang dapat terjadi atas hamba. Hamba pohon doa restu tuanku.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian ia berkata, “Aku akan melihat apa yang terjadi meskipun dari kejauhan. Aku akan mempergunakan pakaian seperti paman Sumekar.”
“Jangan tuanku. Kalau tuanku terlibat dalam soal ini dan ternyata dapat diketahui, maka pengorbanan itu terlampau besar. Singasari akan mengalami kegoncangan.”
“Aku hanya akan melihat dari kejauhan saja. Aku berjanji bahwa aku akan menghindarkan diriku dari keterlibatan lebih jauh daripada melihat dari kejauhan saja.”
“Jangan tuanku.”
“Paman Sumekar. Bukankah aku bukan anak-anak lagi. Aku akan dapat menjaga diriku. Bukankah hanya sekedar bersembunyi dan melarikan diri apabila perlu?”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam.
“Paman jangan terlampau mencemaskan aku.”
Sumekar tidak dapat mencegahnya lagi. Betapa-pun beratnya, namun akhirnya ia menganggukkan kepalanya, “Dari kejauhan tuanku. Jangan sekali-sekali melibatkan diri apa-pun yang akan terjadi atas hamba. Mungkin hamba akan menjadi korban. Tetapi itu adalah kuwajiban dan akibat yang wajar.”
“Aku berjanji paman.”
“Baiklah. Nanti malam hamba akan pergi ke belakang bangsal tuanku Sri Rajasa.”
“Apakah paman akan singgah di bangsal ini?”
“Hamba akan memberikan tanda. Mungkin tuanku akan segera mengenal apabila hamba menirukan suara burung tuhu. Hamba akan berada di sudut halaman samping bangsal Sri Rajasa. Sebelum hamba sendiri akan melihat longkangan itu, hamba akan mencoba mengikuti perwira prajurit yang menjadi pelatih tuanku itu. Hamba kira ia-pun akan pergi kelongkangan itu. Selama ini hamba selalu mengikutinya. Ia sudah mengelilingi seluruh bagian dari istana ini, seperti hamba. Tetapi agaknya ia-pun tidak berani pergi kelongkangan belakang dari bangsal tuanku Sri Rajasa.”
“Baiklah paman. Aku akan menunggu isyarat paman.”
“Suara burung tuhu, tiga kali berturut-turut.”
“Ya paman.”
“Tuanku, hamba persilahkan langsung pergi ke sudut kanan halaman samping sebelah Utara dari bangsal itu.”
“Aku akan datang. Aku akan memberikan isyarat pula, dan apabila paman sudah ada di sana, aku harap paman menjawab. Tetapi kalau paman belum ada, paman harus memberi isyarat pula ketika paman datang.”
“Baiklah tuanku. Kita akan memperdengarkan suara cengkerik. Kita masing-masing akan memberikan isyarat itu, dan kita masing-masing harus menjawabnya. Kalau kita melihat seseorang di sudut istana itu tetapi tidak menjawab, maka pasti bukan salah seorang di antara kita. Kita harus menghindarinya.”
“Baiklah paman.”
Demikianlah, maka mereka telah membicarakan beberapa hal mengenai rencana mereka, isyarat-isyarat yang akan mereka pergunakan dan akibat yang dapat timbul kemudian apa bila guru Tohjaya itu dapat melihat atau mengetahui kehadiran mereka.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar