BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-14-03
Agaknya semua pembicaraan telah menjadi matang. Meskipun Sumekar masih mencoba mencegah Anusapati, tetapi Anusapati tetap pada pendiriannya.
Sehari-harian Anusapati merasa gelisah. Seolah-olah ia tidak sabar menunggu saat yang dijanjikan oleh Sumekar. Ia harus menunggu suara burung tuhu tiga kali berturut-turut. Kemudian ia harus pergi ke sudut halaman bangsal Ayahanda Sri Rajasa itu.
Anusapati mengenal halaman itu dengan baik. Ia sering bermain-main di sana. Karena itu, ia tahu benar, darimana ia harus datang, dan kemana ia harus pergi apabila diperlukan. Ia mengenal tempat-tempat yang dijaga oleh para prajurit. Ia mengenal gardu-gardu pengawal dengan baik. Terlebih dari itu, ia mengenal tempat-tempat yang gelap di malam hari.
Demikianlah, dengan gelisahnya Anusapati menunggu. Ketika malam tiba, ia masuk kedalam biliknya, menyediakan pakaian yang akan dipakainya. Dikumpulkannya segala macam pakaian hitam yang ada padanya. Kain hitam dan tutup muka seperti Sumekar. Karena kain hitamnya tidak mencukupi untuk menutup seluruh tubuhnya, maka Anusapati berniat untuk mengenakannya sebagai kain saja. Ia tidak memakai pakaian yang lain. Dan selembar untuk membalut sebagian dari wajahnya.
Ketika malam menjadi semakin kelam, di kejauhan Anusapati mendengar suara burung tuhu tiga kali berturut-turut. Ia sadar bahwa waktunya telah tiba. Ia harus segera pergi ke bangsal Ayahanda Sri Rajasa.
Anusapati-pun kemudian dengan hati-hati keluar dari bangsalnya. Semua orang agaknya telah tidur nyenyak. Di muka pintu ia berhenti sejenak. Diperhatikannya halaman yang sepi, kalau ada prajurit yang sedang meronda.
Seperti apabila ia pergi meninggalkan istana, pergi ke pinggir sungai yang curam itu, ia-pun kemudian hilang di dalam gelap. Di bawah rimbunnya pohon bunga dan batang-batang perdu di halaman istana, Anusapati menyelinap dari bayangan yang kegelapan kebayangan yang lain. Nyala obor di kejauhan memancarkan cahaya kemerah-merahan yang tidak begitu terang, sehingga Anusapati tidak banyak menemui kesulitan.
Sejenak kemudian ia sudah berada di sekitar halaman bangsal Sri Rajasa yang sepi. Namun dengan demikian terasa dadanya menjadi semakin berdebar-debar.
Hati Anusapati berdesir ketika ia melihat sesosok tubuh dengan cepatnya melintas beberapa langkah saja daripadanya. Seperti tanpa memiliki bobot tubuh itu meloncat di dalam kegelapan, ke atas dinding batu yang cukup tinggi.
Anusapati mengerutkan keningnya. Ia tertarik sekali pada bayangan itu. Semula ia menyangka bahwa bayangan itu pasti Sumekar. Tetapi ternyata dugaannya keliru. Setelah beberapa saat kemudian, barulah ia pasti, bahwa bayangan itu adalah perwira prajurit yang mendapat tugas untuk melatih Tohjaya dan dirinya sendiri di dalam olah kanuragan.
“Ternyata ilmunya cukup tinggi,” desis Anusapati di dalam hatinya, “ia pasti mampu bergerak dengan cepat dan lincah.”
Perlahan-lahan Anusapati mendekatinya. Tetapi selama bayangan itu masih berada di atas dinding, meskipun terlindung oleh dedaunan, Anusapati berhenti pada jarak tertentu. Ia tidak mendekati lagi, karena ia menyangka, bahwa pendengaran orang itu-pun cukup tajam, sehingga desah nafasnya akan dapat didengarnya.
Beberapa saat bayangan itu bertengger di atas dinding batu. Agaknya ia menunggu saat yang sebaik-baiknya untuk berbuat sesuatu.
Agaknya setelah ia yakin, bahwa tidak seorang-pun yang mengamatinya, maka ia-pun segera meloncat turun di dalam lingkungan halaman bangsal Sri Rajasa.
Anusapati-pun kemudian meloncat pula dibagian yang lain dari dinding itu. Ia tidak mau kehilangan perwira itu. Karena itu dengan hati-hati ia-pun meloncat masuk ke halaman dan berlindung sebaik-baiknya.
Tetapi baru saja ia menenangkan pernafasannya, ia melihat sesosok tubuh yang lain telah bertengger pula dekat sekali dengan tempatnya bersembunyi. Tetapi kali ini dibarengi suara cengkerik yang berderik perlahan-lahan.
“Nah, pasti paman Sumekar,” desisnya. Dan dugaannya kali ini ternyata tidak meleset. Ketika ia membatas isyarat itu, maka bayangan itu-pun segera beringsut dan meloncat turun di sampingnya.
“Tuanku,” desis Sumekar, “hamba mengikuti perwira itu.”
“Ia berada di halaman ini. Aku juga mengikutinya. Ia bersembunyi di bawah rumpun pering cendani itu.”
“Apakah ia tidak melihat kita disini?”
“Aku kira tidak.”
“Tetapi kita tidak melihatnya juga, apabila ia bergeser dari tempatnya di sepanjang rumpun cendani itu.”
“Ia tidak dapat pergi kemana-mana tanpa kita ketahui. Bukankah bagian itu tertutup oleh dinding yang tinggi? Aku kira ia tidak akan meloncati dinding itu, karena ia tahu, bahwa di belakang dinding itu adalah bagian dari petamanan ibu Ken Umang.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Kalau ia bergeser, ia pasti akan melewati sela-sela antara rumpun cendani itu dan dinding yang membatasi longkangan belakang itu. Ia pasti tidak akan berani meloncat ke atas dinding batas itu pula. Jika di dalam ada seseorang, maka orang di dalam longkangan itu pasti akan segera mengetahuinya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu katanya, “Jadi jalan manakah yang paling baik dilalui?”
“Pohon sawo kecik itu.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Hamba juga sudah menduga, bahwa jalan itulah yang paling baik. Seandainya hamba pergi sendiri, hamba-pun akan meloncat ke atas dahan sawo kecik itu.”
“Kalau perwira itu juga berpikir demikian, dan ia juga meloncat pada dahan sawo itu. kita kehilangan tempat untuk bertengger.”
“Sawo yang lain tuanku.”
“Ada kekurangannya. Jaraknya terlampau jauh, dan mudah diketahui oleh orang yang berada dicabang sawo yang pertama.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka-pun terdiam, bahkan menahan nafas mereka, ketika dua orang prajurit peronda lewat beberapa langkah saja dihadapan mereka.
Baru setelah prajurit itu hilang dibalik regol, keduanya menarik nafas dalam-dalam.
“Mudah-mudahan perwira itu menemukan jalan lain.” desis Sumekar.
Anusapati dan Sumekar-pun kemudian terdiam. Mereka memperhatikan rumpun cendani itu dengan seksama. Mereka tidak mau kehilangan perwira prajurit yang sedang berusaha melihat dimana Tohjaya berlatih.
Ternyata perwira itu seperti juga Anusapati dan Sumekar, ia mengenakan pakaian serba hitam. Ia-pun menganggap bahwa pakaian hitam adalah pakaian yang paling baik baginya untuk bersembunyi di malam hari.
Setelah menunggu sejenak, maka Anusapati dan Sumekar-pun melihat, bayangan yang bergerak-gerak di sela-sela rumpun bambu cendani itu, sehingga mereka bergeser sejengkal maju.
“Paman,” bisik Anusapati, “agaknya dari tempat itu, ia dapat mendengar seandainya ada seseorang yang sedang berlatih di balik dinding.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab. Kini mereka berdua dengan tajamnya mengikuti prajurit itu dengan tatapan mata mereka. Sejenak mereka berteka-teki, dimanakah perwira itu akan mencari tempat untuk melihat longkangan belakang bangsal Sri Rajasa?
Tanpa diduga-duga, ternyata perwira itu memilih tempat yang lain sama sekali dari perhitungan Sumekar dan Anusapati. Ternyata perwira itu kemudian meloncat ke atas atap bangsal yang kehitam-hitaman, sehingga ketika ia menelungkup, maka hampir tidak dapat dilihat sama sekali, bahwa ada seseorang di atas atap itu.
Sumekar dan Anusapati saling berpandangan sejenak. Kemudian bersama-sama mereka tersenyum.
“Terang juga pikiran orang itu,” desis Anusapati.
“Ya tuanku. Ia tahu benar, bahwa bangsal itu sekarang sedang kosong karena tuanku Sri Rajasa sedang tidak ada di istana.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian, “Lalu, bagaimana dengan kita?”
“Kita masih mendapat tempat tuanku.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia menggamit Sumekar sambil menunjuk ke arah perwira yang berada di atas atap itu, “Ia bergeser ke samping. Ia akan melihat longkangan itu dari bumbungan atap.”
“Marilah, kita memanjat pohon sawo itu. Tetapi kita harus berhati-hati. Kita harus memanjat dibalik batangnya, supaya apabila tidak disadarinya ia berpaling, ia tidak akan dapat melihat kita.”
“Baiklah.”
Keduanya kemudian dengan hati-hati mendekati pohon sawo di pinggir halaman. Sumekar yang berada di belakang Anusapati berkata, “Silahkan tuanku naik. Aku akan mengamati keadaan di bawah pohon ini.”
Anusapati mengangguk. Dengan hati-hati ia-pun kemudian meloncat naik dan memanjat batang sawo itu sampai pada dahan yang paling bawah.
Setelah Anusapati duduk di atas dahan itu, maka Sumekar-pun kemudian naik pula.
Keduanya kemudian naik semakin tinggi. Tetapi kini mereka merasa bahwa tidak akan ada orang yang melihat mereka di dalam rimbunnya dahan-dahan.
Dari sebatang dahan yang condong keatas dinding longkangan di belakang itu. mereka dapat menyaksikan bagian dalam dengan saksama, selama mereka masih tetap dapat melihat perwira yang menelungkup di bumbungan atap bangsal istana.
Ketika mereka menjengukkan kepalanya, dada keduanya tiba-tiba berdesir. Terasa detak jantung mereka menjadi semakin keras memukul dinding dada mereka, sehingga seolah-olah tidak tertahankan lagi.
Dari tempatnya, mereka melihat apa yang selama ini mereka cari. Tohjaya yang sedang asyik berlatih di bawah tuntunan seorang guru yang sama sekali tidak mereka sangka-sangka.
Perlahan-lahan Anusapati berdesis, “Itulah orangnya. Benar-benar diluar dugaan. Orang itu adalah seorang yang tampaknya halus, sopan dan lembut. Tetapi pancaran ilmunya ternyata begitu kasar dan garang.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia-pun sama sekali tidak menduga, bahwa salah seorang dari penasehat Sri Rajasa sendirilah yang telah menuntun Tohjaya di dalam olah kanuragan.”
Dalam pada itu, perwira yang bertengger di bumbungan bangsal itu-pun tidak kalah terperanjatnya dari kedua orang yang berada di dahan pohon sawo itu. Orang itu sama sekali tidak mencerminkan seorang yang kasar dan keras. Tetapi di dalam olah kanuragan ternyata ia adalah seorang yang kasar dan tanpa menghiraukan nilai-nilai budi sama sekali.
Perwira yang menelungkup di atas bumbungan atap itu untuk sejenak membeku. Tetapi ternyata kemudian ia tidak puas dengan sekedar mengetahui. Ia ingin melihat, latihan-latihan yang diberikannya kepada Tohjaya.
Jarak dari bumbungan atap dan dari pohon sawo itu kelongkangan belakang tidak begitu dekat. Tetapi mereka dapat melihat dengan jelas apa yang telah terjadi. Mereka dapat melihat dengan jelas, betapa Tohjaya ditempa dengan kerasnya oleh gurunya. Tanpa menghiraukan kemampuan jasmaniah Tohjaya sendiri, gurunya mencoba memaksa Tohjaya menjadi seorang yang berilmu tinggi di dalam waktu yang singkat seperti dipesankan oleh Ayahanda Sri Rajasa.
Ketika orang yang dengan diam-diam menyaksikan latihan itu melihat, bagaimana Tohjaya harus berguling-guling di tanah. Meloncat seperti bilalang, tetapi kemudian meloncat seperti kijang. Berlari sambil melepaskan serangan dengan tiba-tiba kepada pelatihnya, kemudian menghindari serangan-serangan yang diluncurkan oleh gurunya itu. Bahkan sekali-sekali Tohjaya telah dilemparkan keudara dan sekali ia harus berputar, kemudian jatuh di atas kakinya.
“Latihan yang berat sekali,” desis Anusapati.
“Kasihan,” sahut Sumekar, “kalau tuanku Tohjaya tidak tahan, maka tubuhnya akan rusak. Tetapi kalau tahan mengalami tempaan yang demikian kerasnya, ia akan menjadi sepotong besi baja yang kuat sekali, tetapi tidak mampu berpikir dan bertindak di dalam saat-saat yang penting. Ia hanya dapat mengulang dan menirukan tata gerak yang pernah dipelajarinya dengan keras dan kasar.”
“Tetapi ia akan dituntun oleh pengalaman dikemudian hari berdasarkan bekal yang ada padanya.”
“Gerakan-gerakan naluriah. Ia tidak mempunyai kemampuan menciptakan suasana di dalam suatu perkelahian yang sebenarnya. Ia tidak dapat mempergunakan akalnya. Kemampuannya tergantung pada kekuatan dan ketrampilannya saja. Sekali ia berbuat kesalahan, sulit sekali baginya untuk menemukan jalan kembali.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Katanya kemudian, “Tetapi pengalaman dapat membuatnya mengenal kekurangan itu paman.”
“Lambat sekali tuanku. Hamba pernah mempelajari ilmu yang kasar dan keras. Tetapi guru hamba memperhatikan akal yang ada pada hamba. Kadang-kadang hamba dihadapkan pada kesulitan yang harus hamba pecahkan. Bukan sekedar membenturkan kepala pada batang pisang, kemudian batang besi yang dilapisi sabut kelapa, dan lambat laun batang-batang besi tanpa lambaran apapun. Tetapi hamba juga diajar mempergunakan nalar dan memecahkan persoalan.”
Anusapati tidak menjawab. Tetapi ia membenarkan kata-kata Sumekar itu. Ia sendiri mengalami latihan yang berat di bawah asuhan Mahisa Agni. Sebelum ia mulai dengan menyerap ilmu yang sebenarnya, ia sudah harus melatih tubuhnya dengan gerakan-gerakan yang melelahkan. Namun demikian, ia merasa bahwa ia setiap kali mendapat kesempatan untuk berbuat sesuatu menurut getar didadanya sendiri. Ia tidak selalu harus menirukan gerak demi gerak tanpa mempersoalkan gerak itu sendiri.
Meskipun demikian, baik Anusapati mau-pun Sumekar masih belum dapat memastikan bahwa demikianlah latihan-latihan yang dilakukannya setiap hari. Sehingga Anusapati berkata, “Mungkin pada saat lain, Tohjaya mendapat kesempatan untuk mempergunakan otaknya, bukan sekedar tenaganya.”
Sumekar tidak menyahut. Ia hanya menganggukkan kepalanya saja.
Dalam pada itu, latihan yang berlangsung di longkangan belakang istana itu semakin lama menjadi semakin keras. Agaknya guru Tohjaya itu ingin agar Tohjaya dengan cepat menjadi seorang yang berilmu tinggi.
Sementara Tohjaya memeras tenaganya dengan latihan yang keras itu, gurunya yang lain, perwira prajurit yang juga saudara sepupu ibunya, menyaksikan latihan-latihan itu dengan dada yang berdebar-debar. Ia mengerti juga, bahwa dengan demikian tubuh Tohjaya lah dapat menjadi korban nafsu yang terlampau besar tanpa menghiraukan akibat yang dapat timbul karenanya.
“Orang itu memiliki ilmu yang tinggi,” desis perwira itu kepada diri sendiri, “tetapi kenapa ia tidak dapat mempertimbangkan kemungkinan yang jelek yang dapat menimpa putera Sri Rajasa? Dan kenapa Sri Rajasa sendiri tidak pernah berkeberatan menyaksikan latihan-latihan itu apabila ia berkesempatan?”
Tetapi perwira itu tidak mengetahui, bahwa Sri Rajasa tidak pernah menghiraukan cara dan usaha yang telah dilakukan oleh penasehatnya itu, karena Sri Rajasa sendiri tidak pernah mengalami masa penempaan seperti itu. Alamlah yang menempanya menjadi seorang yang pilih tanding. Kesulitan dan kekerasan Padang Karautan lah yang membuatnya menjadi seperti Sri Rajasa yang sekarang. Lebih dari itu, ia adalah kekasih Dewa Brahma. Ia adalah seorang yang lahir karena kekuasaan Dewa itu.
Tetapi Tohjaya bukan lahir karena kekuasaan Dewa Brahma, bukan pula kekasih Siwa dan bukan pengejawantahan Wisnu. Ia memang dilahirkan oleh seseorang yang mempunyai kelebihan dari manusia biasa. Tetapi bukan berarti bahwa Dewa yang mengasihi Ken Arok harus mengasihi anak yang diturunkannya.
Itulah sebabnya, maka Tohjaya tidak dapat terbentuk seperti Ken Arok. Ia harus melalui latihan-latihan yang terlampau berat bagi kemampuan jasmaniahnya. Tetapi ia tidak mau surut. Hatinya yang sombong memaksanya untuk menjadi seorang yang tidak terkalahkan, bukan saja oleh seisi istana, tetapi seluruh daerah kekuasaan Singasari harus mengakui kelebihannya kelak.
Karena itu, betapa hatinya semakin lama menjadi semakin tegang menyaksikan latihan itu. Sebenarnya ia dapat membiarkan saja apa yang akan terjadi atas Tohjaya itu kelak. Namun karena Tohjaya itu juga muridnya dan juga kemenakannya, maka terasa juga sesuatu yang membebani hatinya.
“Aku tidak peduli,” ia mencoba untuk mengusir perasaan itu, “ia dan ayah ibunya, sudah mengesampingkan aku. Bahkan menghinaku. Terserah, akibat apa saja yang dapat timbul karenanya.”
Perwira prajurit itu mengatupkan giginya rapat-rapat. Tetapi ia masih saja tetap digetarkan oleh debar di dalam dadanya. Kadang-kadang bahkan ia menggigit bibirnya melihat Tohjaya terlempar keudara, kemudian jatuh terbanting di tanah. Seharusnya ia jatuh di atas kedua kakinya, tetapi kadang-kadang ia gagal.
Perwira itu menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Tohjaya mendapat kesempatan untuk beristirahat. Sambil tersenyum gurunya menepuk punggung Tohjaya sambil berkata, “Latihan yang berat tuanku. Tetapi tuanku akan menjadi seorang anak muda yang maha perkasa.”
Tohjaya mencoba tersenyum juga. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Hampir patah tulang punggungku.”
“Tetapi sekarang dengan mudahnya tuan akan dapat mengalahkan kakanda tuanku, di depan atau tidak di depan saksi-saksi.”
Tohjaya tertawa. Tetapi ia tidak menjawab. Perlahan-lahan ia berjalan ke serambi, memungut sebuah gendi dan minum beberapa teguk air dari dalamnya.
Baik Sumekar dan Anusapati, mau-pun perwira prajurit yang bertengger di atas bumbungan atap, dapat menangkap percakapan itu meskipun tidak begitu jelas, karena keduanya sama sekali tidak menyangka bahwa ada orang yang mengintai latihan itu.
Namun demikian, ketika mereka sudah beristirahat, mulailah perhatian mereka terpecah pada keadaan di sekeliling mereka.
Ketika tanpa dikehendakinya sendiri, perwira yang berada di atas bumbungan atap itu bergerak, ia telah membuat sebuah bunyi yang telah menarik perhatian.
Tetapi keduanya agaknya tidak menghiraukannya lebih lama lagi. Meskipun mereka tergerak sejenak, namun kemudian mereka telah tenggelam pada sebuah pembicaraan yang asyik.
“Satu hal yang harus tuanku ingat,” berkata gurunya, “tuanku masih harus menyimpan ilmu ini. Tetapi agaknya tuanku terlampau sulit melakukannya, sehingga kadang-kadang di dalam latihan yang biasa tuanku lakukan, unsur-unsur gerak ini tersembul juga di antara ilmu yang tidak berarti yang sampai sekarang masih saja tuanku pelajari itu.”
“Apakah salahnya?” bertanya Tohjaya.
Gurunya tersenyum, “Untuk sementara, kalau mungkin, jangan dahulu. Tetapi apabila sudah terlanjur, apaboleh buat.”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia-pun tertawa. Katanya, “Itu bukan persoalanmu. Semua yang ditentukan oleh Ayahanda Sri Rajasa adalah tanggung jawab Ayahanda Sri Rajasa. Aku mohon kepada ayahanda, dan ayahanda telah menentukan. Siapakah yang akan menolak?”
Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dahulu ayah memerintahkan agar aku menerima ilmumu di samping ilmu yang aku terima dari guru yang meninggal itu, perlahan-lahan. Tetapi kemudian ayahanda berkeputusan lain. Aku mohon semuanya dipercepat, dan ayahanda membenarkannya. Nah, siapakah yang akan berani mempersoalkan meskipun aku berguru lima, sepuluh atau seratus orang apabila ayahanda sudah mengijinkan? Siapakah yang akan menentang keputusan ayahanda? Seandainya ayahanda bukan seorang raja besarpun, tidak ada orang yang berani menolak keputusannya. Karena ayahanda adalah seorang yang tidak terkalahkan di seluruh jagad ini.”
Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tidak ada seorang-pun yang dapat membantah, bahwa Sri Rajasa seolah-adalah manusia yang tidak terkalahkan.
Hanya Sumekar dan Anusapati berpendapat lain. Apakah Sri Rajasa itu dapat mengalahkan Mahisa Agni?
Tetapi mereka tidak akan mempersoalkannya. Kini mereka sedang menyaksikan Tohjaya di arena latihannya yang dirahasiakan. Anak muda itu terlampau percaya bahwa Sri Rajasa adalah tempat gantungan yang tidak tergoyahkan.
“Apalagi perwira prajurit yang mengaku dirinya saudara sepupu ibunda Ken Umang itu. Aku kira ia sama sekali tidak ada artinya bagi Ayahanda Sri Rajasa.”
“O,” sahut gurunya, “sebenarnya orang itu tidak memiliki kemampuan olah kanuragan. Tetapi agaknya ibunda tuan Puteri tidak mengetahui, sehingga memanggilnya dan sekedar memberinya pekerjaan di istana ini.”
Tohjaya tertawa. Katanya, “Pada suatu saat akulah yang akan mengajarnya dalam olah kanuragan.”
Alangkah sakit hati perwira prajurit yang ada di atas bumbungan atap rumah itu. Bagaimana-pun juga ia menahan hatinya, namun terasa juga tangannya gemetar.
Namun ia tidak mau melibatkan diri dalam kesulitan. Karena itu, ia tidak berbuat apa-apa betapa-pun sakit hatinya. Tetapi ia berusaha untuk pada suatu saat dapat bertemu dengan guru Tohjaya itu. Ia ingin mengatakan dengan caranya, bahwa ilmu orang itu-pun bukan ilmu yang paling sempurna, “Suatu kali, ia pasti akan keluar dari istana untuk keperluan apapun. Aku atau orang itu yang akan mati. Sikapnya sungguh memuakkan, seolah-olah ia memiliki nyawa rangkap tujuh.”
Dalam pada itu, Sumekar dan Anusapati-pun menjadi berdebar-debar. Kalau perwira yang ada dibumbungan atap itu tidak dapat menahan hati, maka pasti akan terjadi sesuatu diarena latihan itu.
Tetapi ternyata bahwa perwira itu tidak berbuat apa”. Dengan sekuat tenaga ia menahan hatinya.. Meskipun demikian, ia telah menanamkan suatu dendam di hati, dendam yang setiap saat akan dapat meledak.
“Kalau Mahisa Agni datang,” berkata perwira itu di dalam hatinya, “aku akan segera menyampaikannya. Mungkin ia akan mengambil sikap tertentu.”
Tetapi agaknya justru Anusapati lah yang tidak dapat menahan hati. Darah mudanyalah yang terasa telah menggelitik jantung. Betapa-pun juga ia menahan diri, namun akhirnya ia berbisik, “Paman, apakah aku boleh turun sebentar ke arena itu?”
Sumekar terkejut. Katanya, “Jangan tuanku, Perwira yang bersembunyi di bumbungan atap itu-pun agaknya telah menahan diri. Kenapa tuanku justru ingin terlibat dalam persoalan yang akan berakibat panjang?”
“Ia tidak mengenal aku.”
“Tetapi kalau tutup wajah tuanku itu terlepas, maka semuanya akan rusak, juga pamanda Mahisa Agni akan terlibat.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Ia mengerti, kenapa Sumekar telah menahannya.
“Hamba juga tidak akan berbuat apa-apa. Hamba hanya ingin tahu, siapakah guru tuanku Tohjaya itu. Setelah hamba tahu, hamba tidak berniat untuk berbuat itu. Juga karena tugas dari pamanda Mahisa Agni, harus mengamati perwira itu. Sebab menurut penilaian pamanda Mahisa Agni, meskipun ia belum tahu kemampuan guru tuanku Tohjaya itu, namun dapat diperkirakan bahwa ilmunya agak lebih tinggi dari perwira itu. Barulah apabila terjadi sesuatu, apalagi yang mengancam jiwanya, hamba akan melerainya dengan cara hamba.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
Namun tiba-tiba mereka telah terkejut, sama sekali di luar dugaan bahwa sekali lagi perwira di atas bumbungan itu berbuat kesalahan. Tanpa disadarinya, oleh kemarahan yang menyala dihati, dan oleh pemusatan kehendak untuk menahan diri, tangannya telah meremas sebatang kayu hiasan diatas bumbungan itu. Terdengar suara gemeresak, kemudian sekeping kecil kayu telah berguling di atas atap, kemudian jatuh dilongkangan-belakang.
Perwira itu sendiri ternyata telah terkejut oleh katelanjurannya. Ia sadar, bahwa sepotong kecil kayu yang terjatuh itu akan sangat menarik perhatian.
Sejenak ia termangu-mangu. Namun sejenak kemudian ia berdesis, “Apaboleh buat. Aku sudah berusaha untuk tidak membuat ribut di istana. Tetapi agaknya yang terjadi bukan yang aku kehendaki.”
Karena itu, perwira itu mengikat selubung hitamnya di wajahnya. Ia masih tetap berusaha untuk tidak dikenal, agar ia dapat membatasi persoalan. Kecuali apabila ia kemudian tidak dapat tetap berahasia.
Ternyata dugaan perwira prajurit itu benar. Sepotong kecil kayu yang terjatuh dari atas itu telah menarik perhatian mereka yang ada dilongkangan belakang. Dengan ragu-ragu guru Tohjaya itu memungut sepotong kayu itu. Kemudian diamat-amatinya dengan saksama. pecahan kayu itu masih baru, desisnya, “aneh.”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Kemudian ditengadahkan wajahnya. Tetapi perwira itu telah berusaha untuk menyembunyikan diri dibalik bumbungan.
“Kepung bangsal ini,” perintah guru Tohjaya, lalu “tuanku tetap disini. Aku akan keluar. Kedua pengawal itu supaya berada di sebelah Utara dan Selatan bangsal.”
Kedua pengawal Tohjava itu tidak menunggu perintah lagi. Mereka segera berlari-larian keluar dan yang seorang berjaga-jaga disebelah Selatan yang lain disebelah Utara, sedang guru Tohjaya atu-pun segera pergi kebagian Timur dari bangsal itu.
Perwira yang berada di atas bumbungan itu tidak dapat bersembunyi lagi. Karena itu, ia-pun justru meloncat dan bertengger di atas. Dalam pakaian hitam dan tutup wajah yang hitam, perwira itu bagaikan hantu yang berjongkok di atas bangsal yang sedang kosong karena Sri Rajasa sedang pergi berburu.
Keempat orang yang mencarinya itu hampir bersamaan telah melihat perwira itu. Karena itu, maka guru Tohjaya-pun segera berkata, “He, turunlah. Marilah kita berbicara. Apakah yang sebenarnya kau kehendaki?”
Perwira itu tidak menjawab. Ia berjongkok di atas bumbungan seperti acuh tidak acuh saja terhadap kata-kata guru Tohjaya yang juga merangkap sebagai penasehat istana.
“Turunlah. Jangan memaksa aku meloncat naik. Kalau terjadi keributan di atas atap, maka semua prajurit yang sedang meronda akan melihat, dan kau tidak akan mendapat kesempatan lagi. Tetapi kalau kau turun dan berbicara barang sejenak, maka masih ada kemungkinan lain buatmu.”
Orang yang diatas atap itu sama sekali tidak menghiraukannya.
“Baiklah. Kalau kau tidak mau turun, akulah yang akan naik. Namun bersamaan dengan itu, maka para peronda-pun akan berdatangan.”
Karena orang yang di atas atap itu masih diam, maka seperti tanpa bobot, guru Tohjaya itu-pun meloncat ke atas atap. Dengan hati-hati ia merayap naik mendekati perwira prajurit yang sudah lebih dahulu berada diatas. Namun demikian, ia selalu siap untuk menghadapi kemungkinan apabila bayangan di atas atap itu tiba-tiba saja menyerangnya.
Tetapi bayangan hitam diatas atap itu tidak menyerang. Bahkan tanpa diduga-duga, bayangan itu bagaikan terbang, terjun meluncur kebawah dan langsung terjun kelongkangan, dihadapan Tohjaya yang berdiri termangu-mangu.
Gurunya yang juga menjadi penasehat Sri Rajasa itu menjadi cemas. Karena itu, secepat kilat, ia-pun menyusulnya terjun dilongkangan itu juga.
Tetapi ternyata orang yang berpakaian hitam itu tidak berbuat sesuatu atas Tohjaya. ia hanya berdiri tegak diatas kedua kakinya yang bagaikan tertancap jauh kedalam tanah.
Sejenak kemudian kedua guru Tohjaya itu sudah berhadapan. Tohjaya sendiri bergeser selangkah kesamping.
“Siapakah kau?” bertanya gurunya yang kasar itu.
Perwira prajurit yang berpakaian serba hitam itu tidak menjawab pertanyaan itu. Dengan nada suara yang dirobah ia berkata, “Latihan yang menarik. Aku tidak mengira bahwa didalam istana ada seorang guru yang begitu dahsyatnya seperti orang yang sehari-hari menjadi penasehat raja. Seorang yang halus dan lembut. Seorang yang ramah tamah dan rendah hati. Tetapi setelah aku melihat, bagaimana ia melontarkan ilmunya, alangkah dahsyatnya.”
Penasehat raja itu mengerutkan keningnya. Sekali lagi ia bertanya, “Siapakah kau? Kenapa kau berani masuk ke dalam istana dan lebih-lebih lagi kelongkangan ini?”
Perwira itu tertawa. Ia masih berusaha untuk merubah suaranya, “Kau tidak perlu mengetahui siapa aku. Aku dapat menyebut lebih dari sepuluh nama yang semuanya tidak akan kau kenal.”
Penasehat raja itu berkata pula, “Apakah kau menyadari apa yang kau lakukan ini? Aku dapat menangkapmu dan menyerahkannya kepada Sri Rajasa.”
“Aku sadar,” jawab perwira itu, “tetapi aku juga dapat menghindarkan diri.”
“Jangan terlampau sombong. Di halaman istana ini ada lebih dari lima puluh orang prajurit. Separo dari mereka sedang bertugas di gardu-gardu. Yang lain siap untuk dibangunkan, dan ikut menangkapmu, betapapun kau memiliki kemampuan berkelahi.”
Sumekar dan Anusapati heran mendengnr kata-kata itu. Penasehat raja itu tetap dalam sikap yang sehari-hari ditunjukkannya. Ia bukan seorang yang sombong, bahkan sedikit rendah hati. Tetapi bagaimana mungkin ia dapat menuntun Tohjaya dalam latihan yang begitu kasar dan di luar perhitungan, seolah-olah ilmu itu diterimanya dari Kebo Sindet seperti yang sering dikatakan oleh Mahisa Agni.”
Perwira prajurit itu-pun menjadi heran pula. Penasehat raja itu tidak seperti yang diduganya. Kasar, membentak-bentak dan kemudian menyerang dengan garangnya. Karena itu, maka ia-pun mencoba memancing sikapnya yang sebenarnya, katanya, “Kenapa kau berceritera tentang limapuluh orang prajurit yang ada didalam istana ini? Kenapa kau tidak berkata bahwa kau sendiri dapat menangkap aku atau membunuhku? Kenapa kau menyerahkan hal itu kepada limapuluh orang prajurit di halaman ini?”
Penasehat raja itu tersenyum. Ditatapnya orang berpakaian hitam dan berkerudung hitam pula menutupi wajahnya itu tajam-tajam, seakan-akan ingin langsung menembus kain itu.
“Kenapa kau bertanya begitu? Lima puluh orang prajurit itu dapat menangkapmu. Itu sudah cukup.”
“Ya, kenapa limapuluh orang prajurit? Kenapa bukan kau sendiri?”
Ternyata jawab penasehat raja itu telah mengejutkan mereka yang mendengarnya sekali lagi. Justru kali ini Sumekar menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa sesadarnya.
Ternyata orang yang disangkanya ramah tamah, rendah hati dan lembut itu adalah orang yang paling sombong yang pernah dilihat sepanjang hidupnya. Sambil tersenyum dengan nada yang ramah dan merendah penasehat raja itu menyahut, “Ki Sanak. Aku kira duapuluh lima orang prajurit itu sudah cukup. Tuanku Tohjaya dan kedua pengawalnya tidak usah ikut bersusah payah membantu mereka menangkapmu. Adalah jarang sekali seseorang besar yang bernilai sama dengan limapuluh orang prajurit itu.”
Perwira itu termangu-mangu sejenak.
“Karena itu Ki Sanak, jangan mengharap aku turun tangan. Kalau lima puluh orang prajurit itu gagal menangkapmu barulah kau memaksa aku untuk berbuat sesuatu. Sebab, agaknya Ki Sanak masih belum terlampau masak untuk mencoba menggerakkan aku untuk berbuat sesuatu.
Jawaban itu benar-benar telah menyayat jantung perwira itu. Alangkah sakit hatinya. Penasehat raja itu agaknya mempunyai suatu keahlian yang tidak diduganya. Merendahkan orang lain dengan gayanya yang khusus, seolah-olah ia adalah seorang yang ramah tamah dan rendah hati.
“Ki Sanak,” berkata penasehat itu, “aku adalah orang yang tidak ingin menunjukkan kemampuanku kepada siapapun. Karena itu aku melatih tuanku Tohjaya dengan bersembunyi dilongkangan ini. Aku adalah orang yang paling rendah hati diseluruh istana ini. Aku adalah orang yang tidak pernah menyombongkan diri dengan segala macam cara, karena aku adalah orang yang yakin akan nilai dan harga diriku sendiri.”
Dada perwira itu benar-benar hampir meledak karenanya. Adalah orang yang paling sombong sajalah yang mengatakan dengan merundukkan kepalanya, bahwa ia adalah orang yang tidak pernah menyombongkan dirinya.
“Nah,” berkata penasehat raja itu, “karena itu, sebaiknya kau berterus terang, siapakah kau dan apakah maksudmu datang kemari dimalam hari. Apakah kau sekedar ingin tahu apakah kau sengaja mencuri ilmu yang aku berikan kepada tuanku Tohjaya?”
Perwira itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia menjawab sambil mengangguk dalam-dalam, “Ya. Sebenarnyalah aku pernah mendengar seseorang yang memiliki ilmu termulia di dunia. Seorang yang rendah hati dan sama sekali seperti pengakuannya sendiri, bukannya seorang yang sombong. Karena itulah maka aku memerlukan datang keistana Singasari untuk melihat, apakah benar-benar seperti kata orang, bahwa seorang penasehat raja Singasari ini benar-benar memiliki ilmu yang tanpa tanding,” orang berpakaian hitam itu berhenti sejenak, lalu “tetapi aku agak kecewa bahwa ia lebih senang mempergunakan lima puluh orang prajurit untuk menangkap aku daripada ia melakukannya sendiri. Karena sebenarnyalah, aku dapat mengalahkan tidak hanya limapuluh orang prajurit, tetapi lebih dari tujuhpuluh lima. Tetapi aku tidak pernah mengatakannya kepada siapapun, karena aku tidak mau disangka sebagai seseorang yang tidak terkalahkan, apalagi diketahui bahwa ternyata ilmuku lebih tinggi dari penasehat raja yang rendah hati ini.”
Sumekar dan Anusapati mengumpat di dalam hati. Ternyata perwira itu mampu juga bersombong setinggi langit, mereka melihat wajah penasehat raja itu menjadi tegang.
Sejenak guru Tohjaya yang kasar itu tercenung. Ia tidak menyangka bahwa ada seseorang yang dapat menyamai sikapnya. Sombong, namun diselubungi dengan kata-kata yang ramah dan lembut.
Karena itu, kemarahannya yang tertahan dan selalu disaput dengan sikap yang ramah itu mulai pudar. Wajahnya perlahan-lahan menegang.
“Jangan mengungkat kemarahanku Ki Sanak,” berkata penasehat itu, “aku benar-benar dapat membunuhmu.”
“Aku sudah terlanjur masuk kedalam halaman ini. Bagaimana-pun juga aku pasti akan ditangkap dan dihukum. Karena itu, lebih baik kita mencoba membuktikan, apakah benar guru putera Sri Rajasa itu tidak terkalahkan? Aku datang dari jauh. Aku akan kecewa sekali, kalau aku terpaksa membunuh limapuluh orang prajurit yang tidak bersalah. Apakah tidak lebih baik seorang saja?”
“Gila,” tiba-tiba wajahnya yang sehari-hari tampak lembut itu mengeras. “Jangan membuat aku marah.”
“Maaf Ki Sanak. Aku memang mencari jalan membuat Ki Sanak marah. Semula aku sudah hampir putus asa. Orang seramah dan selembut kau pasti tidak akan dapat marah bagaimana-pun juga aku berusaha.”
Penasehat itu berusaha menahan diri sekuat tenaga. Namun ledakan-akan yang terjadi didadanya telah memaksanya berkata, “Kau memang pantas untuk ditangkap dan dihukum paling berat di halaman depan istana disaksikan oleh seluruh isi istana.” Orang itu berhenti sejenak, lalu “eh, maksudku, dihukum dialun-alun disaksikan oleh seluruh rakyat. Nah. jangan menyesal. Aku benar-benar akan menangkapmu, dan menyerahkan kau kepada Sri Rajasa, apakah Sri Rajasa nanti kembali dari berburu.”
“Kaukah yang akan menangkap? Ternyata aku telah mendapat kehormatan tertinggi di istana ini.”
Wajah penasehat raja itu menjadi semakin tegang. Kini ia tidak dapat menyembunyikan kemarahannya lagi. Dengan demikian maka watak yang sebenarnya-pun perlahan-lahan muncul dipermukaan sikapnya.
“Kau terlampau sombong,” suaranya mulai kasar, “apakah kau sangka kau bernyawa rangkap.”
“Tidak. Aku tidak menyangka demikian. Aku hanya ingin membuatmu marah dan mendapat kehormatan berkelahi dengan seorang penasehat raja, guru yang terpercaya dari putera Sri Rajasa, meskipun kau dengan masih harus dibantu oleh seorang guru yang lain, seorang perwira prajurit saudara sepupu Ken Umang.”
“Bohong,” penasehat itu membentak, “aku sama sekali tidak memerlukannya. Persetan dengan orang itu. Sebenarnya, ia tidak mempunyai ilmu apapun.”
“Jika demikian, orang itu pasti tidak akan mendapat kepercayaan untuk menggurui dua orang putera Sri Rajasa sekaligus. Apalagi yang seorang adalah Putera Mahkota.”
“Ya. Perwira itu hanya pantas menjadi guru Putera Mahkota, yang tidak lebih dari seorang perempuan yang lemah. Sebentar lagi Putera Mahkota itu tidak akan berarti apa-apa bagi Singasari. Dan Singasari akan mempunyai seorang putera yang perkasa, menjadi Putera Mahkota atau bukan, namun ditangannyalah kelak kekuatan Singasari akan berpusat.”
“Dan orang itu adalah tuanku Tohjaya ini?” sahut perwira yang berkerudung hitam itu.
“Ya.”
Bersambung...!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar