BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-14-01
Perlahan-lahan Anusapati berdiri. Tetapi ia masih ragu-ragu.
“Tidak ada seorang-pun Anusapati,“ desis Mahisa Agni.
“Bagaimana kalau ada seseorang yang mengintip? Prajurit pengawal misalnya?”
“Aku tentu mendengar kehadirannya. Terutama desah nafasnya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia percaya akan kata-kata pamannya. Kalau ada orang yang mengintipnya, maka Mahisa Agni pasti mendengarnya.
Karena itu, meskipun Anusapati tidak menirukan tata geraknya, akan tetapi ia dapat mempertunjukkan kepada pamannya, sikap tangan dan kaki Tohjaya dalam ilmu yang asing bagi Anusapati itu.
Mahisa Agni mengikuti sikap Anusapati dengan saksama, ia melihat bagaimana tangannya dan kakinya bersikap, dengan gerakan-gerakan kecil untuk meyakinkan keterangannya.
Perlahan-lahan Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Cukup Anusapati. Aku sudah melihat sikap itu, tetapi belum di dalam tata gerak yang lengkap.”
“Tetapi apakah paman sudah dapat mengatakan tentang sikap itu?”
Mahisa Agni menggelengkan kepalanya, “Aku belum, akan mengatakan sesuatu Anusapati.”
“Jadi bagaimana dengan penjelasan tentang ilmu itu?”
“Kita akan mencari waktu. Aku akan ikut bersamamu ke tebing itu pada suatu saat nanti. Kau dapat memberitahukan kepada pamanmu Sumekar. Kita akan pergi bersama-sama.“
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, usahakan secepatnya. Aku dapat meninggalkan istana ini setiap saat. Kalau persoalanmu sudah dianggap selesai, maka aku harus segera kembali ke Kediri.”
Anusapati-pun kemudian berusaha menjumpai Sumekar dan memberitahukan keinginan Mahisa Agni. Mereka-pun kemudian berjanji, pada suatu malam untuk bertemu di tempat yang telah mereka tentukan.
Demikianlah, pada saat yang mereka janjikan, dengan diam-diam Anusapati keluar dari istana seperti biasanya. Hampir bersamaan waktunya Sumekar dan Mahisa Agni-pun diam-diam telah meninggalkan istana pula pergi ke tempat yang sudah mereka tentukan.
Namun langkah mereka tertegun ketika mereka melihat sesosok tubuh mengikuti perjalanan mereka. Tetapi agaknya orang yang mengikuti mereka itu, tidak merasa perlu untuk menyembunyikan diri ketika ketiganya berhenti dan menunggunya.
Semakin dekat, Mahisa Agni, Sumekar dan Anusapati-pun segera mengenalnya, Witantra.
“O, kau,“ sapa Mahisa Agni.
Witantra tertawa. Sejenak mereka saling menyapa tentang keselamatan masing-masing.
“Sudah agak lama kita tidak bertemu,” berkata Mahisa Agni, “adalah kebetulan bahwa hari ini aku mengikuti Anusapati ke tempat ini.”
“Bukan suatu kebetulan. Aku mendengar kehadirannya di Singasari.”
“Siapakah yang memberitahukannya?”
“Tidak ada. Tetapi kehadiran orang-orang besar cepat diketahui oleh rakyat.”
“Ah,“ Mahisa Agni berdesah. Dan keduanya tertawa.
“Berbeda dengan seorang juru taman,“ potong Sumekar, “tidak seorang-pun yang menghiraukan kehadirannya.”
Mereka tertawa semakin keras. Bahkan Anusapati-pun tersenyum pula.
“Aku sengaja menunggumu,” berkata Witantra, “aku yakin bahwa kau akan pergi ke tebing itu. Kau pasti akan memberikan beberapa latihan kepada tuanku Putera Mahkota selama kau ada di Singasari, sehingga kehadiranmu tidak sia-sia bagi Putera Mahkota.”
Mahisa Agni tersenyum. Kepalanya terangguk-angguk. Tetapi kemudian ia berkata, “Kali ini kau salah tebak. Kehadiranku di Singasari pasti tidak akan sia-sia bagi tuanku Putera Mahkota meskipun aku tidak memberikan beberapa latihan tertentu. Dan bahkan kali ini-pun aku tidak akan memberikan beberapa macam latihan, tetapi justru aku akan melihat sesuatu yang baru.”
“Apakah yang telah menarik perhatianmu itu?”
“Marilah kita lihat, Tuanku Putera Mahkota akan memperlihatkan sesuatu yang sangat menarik.”
Witantra mengerutkan keningnya.
“Kalau begitu tidak sia-sia aku menunggumu beberapa malam di tempat ini. Apa-pun kepentingannya, tetapi kau benar-benar telah datang kemari,” berkata Witantra kemudian.
Mereka-pun kemudian bersama-sama pergi ke tebing yang curam itu. Sejenak kemudian maka Anusapati-pun sudah siap mempertunjukkan gerakan-gerakan yang disangkanya bersumber dari Sri Rajasa itu.
“Paman Sumekar,” berkata Anusapati, “aku sudah menunjukkan kepada paman sejak aku melihat tata gerak ilmu yang tidak aku kenal itu. Kalau kali ini aku keliru, paman dapat memperingatkannya.”
“Baiklah tuanku,“ jawab Sumekar.
Mereka-pun kemudian duduk di atas batu yang banyak berserakan di tepian itu, sedang Anusapati-pun segera mulai menirukan tata gerak dan sikap Tohjaya yang asing itu.
Mahisa Agni, Witantra dan Sumekar mengamati tata gerak Anusapati itu dengan saksama. Mereka bertiga telah mewakili tiga perguruan dengan pangkal ilmu yang berbeda-beda meskipun di antara mereka kadang-kadang saling pengaruh-mempengaruhi.
Wajah ketiganya semakin lama menjadi semakin tegang. Mereka melihat sesuatu yang mendebarkan jantung, seperti Sumekar berdebar-debar ketika ia melihat untuk pertama kalinya.
Ketika Anusapati selesai, maka ia-pun segera bertanya kepada Mahisa Agni, “Bagaimana paman? Apakah paman melihat kesamaan tata gerak itu dengan unsur-unsur gerak Ayahanda Sri Rajasa?”
Mahisa Agni merenung sejenak. Namun kemudian ia menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Tidak. Sama sekali tidak. Tetapi ilmu itu cukup mendebarkan.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Sesuatu tergetar di dadanya. Namun ia masih bertanya, “Jadi, maksud paman, bukan ayahanda yang memberikan ilmu itu kepada Adinda Tohjaya.”
Mahisa Agni menganggukkan kepalanya. Namun demikian tampaklah bahwa ia sedang berpikir tentang tata gerak yang baru saja dilihatnya.
“Jadi,” bertanya Anusapati mendesak, “ilmu dari manakah Adinda Tohjaya mendapatkannya?”
“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “Sri Rajasa adalah orang yang luar biasa. Ia memiliki ilmu yang hampir tidak ada tandingnya di muka bumi ini. Aku tidak dapat mengatakan, apakah ada seorang yang dapat menandinginya. Tetapi ia tidak mengerti tentang ilmunya sendiri. Ia tidak mengerti apakah yang sebenarnya dimilikinya menurut patokan tertentu. Dan sudah barang tentu Sri Rajasa tidak akan dapat memberikannya kepada orang lain seperti yang selalu harus dilakukan oleh seorang guru. Sri Rajasa sendiri tidak tahu gerak-gerak dasar dari ilmunya yang dahsyat itu.“
Anusapati memandang Mahisa Agni dengan heran.
“Paman,” berkata Anusapati, “jadi dari manakah Ayahanda Sri Rajasa mendapatkan ilmunya itu? Apa guru Ayahanda Sri Rajasa sengaja menurunkan ilmunya kepada ayahanda sebagai pewaris terakhir dan membuat ayahanda bingung dikemudian hari atas ilmu yang dimilikinya sendiri? Bukankah dengan demikian ayahanda hanya dapat mempergunakan ilmunya itu didalam pertempuran yang sebenarnya, tetapi tidak dapat mewariskannya kepada siapapun?”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Itulah kekuasaan Yang Maha Agung. Ia dapat membuat seseorang menguasai sesuatu tanpa mempelajarinya dari siapa-pun juga.”
Anusapati mengerutkan keningnya.
“Tetapi itu pula petunjuk dari kekuasaannya, bahwa Sri Rajasa yang mendapat ilmunya langsung tanpa dipelajarinya itu, tidak dapat mewariskannya kepada siapapun.”
“Pamanda mengetahui betul tentang keadaan ayahanda?”
Mahisa Agni menjadi berdebar-debar. Hampir saja ia mengatakan bahwa ia mengenal Ken Arok sejak di Padang Karautan. Untunglah bahwa ia segera dapat menguasai perasaannya. Namun demikian Mahisa Agni sendiri membayangkan, bagaimana untuk pertama kalinya ia menjumpai Hantu Karautan itu di Padang Karautan bersama gurunya Empu Purwa.
Dan Mahisa Agni berkata di dalam hatinya, “Bukan tidak ada yang dapat mengalahkannya. Trisula kecil itu masih ada padaku. Sebagai hadiah Siwa, ia tidak terlawan oleh siapa-pun juga.”
Tetapi Mahisa Agni tidak dapat mengatakan hal itu kepada siapapun. Hanya ia sendirilah yang mengetahui tentang trisula kecil peninggalan gurunya itu.
“Pada suatu saat aku harus mewariskan trisula itu kepada seseorang,” berkata Mahisa Agni, “tetapi akan sangat berbahaya sekali apabila di saat-saat kekecewaan terhadap Sri Rajasa ini memuncak. Apalagi apabila Anusapati mengetahui tentang dirinya sendiri.”
“Paman Mahisa Agni,” bertanya Anusapati kemudian, “jadi bagaimana menurut pendapat paman tentang ilmu Adinda Tohjaya itu sebenarnya?”
“Aku tidak dapat mengatakan Anusapati. Tetapi di sini ada tiga orang yang mewakili tiga perguruan. Kami semuanya tidak mengenal dengan pasti ilmu itu. Apakah Witantra dapat mengatakannya?”
Witantra menggelengkan kepalanya. “Aku belum mengenalnya. Tetapi watak dari ilmu itu agak mencemaskan aku.”
Mahisa Agni dan Sumekar hampir berbareng menganggukkan kepalanya. Dan Mahisa Agni menyahut, “Itulah yang perlu mendapat perhatian. Yang pasti, di dalam istana kini ada seorang guru yang perlu mendapat pengamatan. Mungkin orang itu sudah lama berada di dekat Tohjaya, tetapi menilik ceritera Anusapati, agaknya baru untuk beberapa lama Tohjaya benar-benar mempelajari ilmu dari padanya, setelah ia menganggap gurunya, perwira prajurit kemanakan Ken Umang itu tidak dapat dimanfaatkannya lagi.”
Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Yang penting,” berkata Mahisa Agni kemudian, “kita wajib mengetahui, siapakah yang ada di belakang Tohjaya saat ini. Agaknya Tohjaya tidak akan menjadi semakin baik. Dengan ilmu yang dikuasainya, ia akan menjadi semakin sombong dan merasa dirinya besar.”
“Apalagi ilmu yang dipelajarinya adalah ilmu yang kasar. Bukankah menilik tata gerak dan wataknya, ilmu itu agak kurang sesuai bagi para kesatria.“ sahut Witantra.
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Ilmu yang ada pada Sumekar-pun mempunyai bentuk yang agak kasar, sesuai dengan petualangan gurunya di masa lampau. Tetapi sejalan dengan perkembangan jiwa Empu Sada, serta watak Sumekar sendiri, maka lambat laun, ilmu itu mempunyai bentuk yang berubah, meskipun tidak pada gerak dasar dan sifat-sifatnya. Tetapi ilmu yang ada pada Tohjaya itu adalah ilmu yang lain.
Sekilas Mahisa Agni teringat kepada sepasang iblis yang pernah menguasainya. Wong Sarimpat dan Kebo Sindet. Meskipun tidak sejalan, tetapi kedua jenis ilmu itu mempunyai persamaan watak dan sifat.
“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “di dalam keadaan yang khusus, kau harus menerima tantangan Tohjaya untuk berlatih. Tetapi sudah tentu yang tidak akan mencemarkan namamu. Dapat saja kau kalah di hadapan guru, perwira prajurit itu. Tetapi kau wajib menghindar apabila ada saksi-saksi lain. Kau dapat mempergunakan alasan apapun, supaya orang tidak terbiasa mengagumi Tohjaya sebagai seorang putera yang memiliki kelebihan dari padamu secara berlebih-lebihan.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Lebih daripada itu, usahakan untuk mengetahui, siapakah sebenarnya yang berdiri di belakang Tohjaya itu. Tentu dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan.”
Anusapati masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa sesadarnya dipandanginya Sumekar yang ikut mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Tanpa ditunjuk, ia merasa bahwa ia-pun ikut serta mendapat kuwajiban itu, mengetahui, siapakah sebenarnya yang telah memberikan ilmu kepada Tohjaya. Ilmu yang mencemaskan beberapa orang yang berilmu hampir sempurna itu pula.
“Karena itu Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “di dalam latihan-latihan, kau harus sangat hati-hati. Kalau orang itu hadir sebagai saksi di dalam latihan-latihan khusus bersama Tohjaya tanpa kau ketahui, ia akan dapat mengenal tata gerak yang lain dari tata gerak yang kau terima dari perwira saudara sepupu Ken Umang itu, seperti kau mengenal tata gerak Tohjaya yang lain itu.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Kecuali semuanya itu,” berkata Mahisa Agni, “kau harus berlatih semakin tekun, agar pada suatu saat, kau tidak akan tersusul oleh Tohjaya, bagaimana-pun juga ia memeras semua kemampuan yang ada padanya untuk mempelajari ilmu dari gurunya itu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Sebagai pengetahuan, kau akan aku beri beberapa petunjuk tentang ilmu-ilmu yang kasar seperti yang sedang dipelajari oleh Tohjaya, yang justru telah dipilih oleh Sri Rajasa,” berkata Mahisa Agni pula, “sebenarnyalah bahwa ilmu yang dimiliki oleh Sri Rajasa tanpa dipelajari dari siapa-pun itu, terpengaruh oleh banyak hal, termasuk juga ilmu yang kasar.”
“Aku juga menerima warisan ilmu yang kasar,” berkata Sumekar.
“Tetapi terpengaruh oleh pribadimu dan perubahan pandangan hidup dari gurumu, maka ilmumu-pun perlahan-lahan telah bergeser. Tetapi ilmu Sri Rajasa masih tetap seperti dahulu.“ sahut Mahisa Agni, “tetapi terlebih-lebih dari ilmu siapapun, aku menguasai beberapa tata gerak dan unsur-unsur dari ilmu Kebo Sindet, seperti kakak seperguruan adi Sumekar, Kuda Sempana.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Besok aku akan memberimu beberapa petunjuk sebagai pengalaman.”
Demikianlah, di malam berikutnya, Mahisa Agni bersama-sama Sumekar dengan diam-diam telah membawa Anusapati ke tempat itu. Witantra-pun hadir pula menunggui Mahisa Agni memberikan beberapa petunjuk kepada Anusapati. Karena selama ini Anusapati selalu terkungkung di dalam tembok istana, maka ia memerlukan pengalaman-pengalaman. Di luar dinding istana ada berpuluh-puluh perguruan yang mempunyai ciri-cirinya sendiri dan Mahisa Agni berusaha memperkenalkan Anusapati dengan beberapa jenis ilmu-ilmu itu.
“Kalau kau sudah mengenal, maka kau akan menemukan cara untuk mengatasinya apabila pada suatu saat kau terpaksa menghadapi ilmu-ilmu semacam itu, termasuk ilmu yang kasar,” berkata Mahisa Agni.
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dengan tekun ia menangkap beberapa jenis tata gerak. Bahkan oleh Mahisa Agni ia dihadapkan pada ilmu-ilmu itu. Bagaimana ia harus mengatasinya.
Demikianlah Anusapati mendapat pengalaman baru. Ternyata Mahisa Agni menguasai beberapa jenis unsur dasar dari berbagai macam ilmu, yang seolah-olah telah menghadapkan Anusapati melawan orang-orang dari berbagai jenis perguruan.
Dengan dasar ilmunya yang telah masak, Anusapati berusaha menanggapi keadaan. Meskipun mula-mula agak canggung, namun akhirnya ia dapat berusaha menyesuaikan dirinya menghadapi berbagai macam ilmu.
Ternyata pengalaman yang demikian itu perlu. Mahisa Agni yang berada di sarang Kebo Sindet beberapa lama sebelum ia berhasil mengalahkannya, telah mencoba mengenal baik-baik ilmu yang kasar itu, dan mempelajari, bagaimana berusaha mengatasi dan menguasainya apabila pada suatu saat mereka harus berbenturan.
“Nah, kau harus mempunyai beberapa pengalaman itu,” berkata Mahisa Agni, “karena kau tidak dapat keluar dari dinding istana tanpa pengawasan, maka dengan cara ini kau mengenali ilmu-ilmu yang bermacam-macam itu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa sangat beruntung memiliki seorang paman seperti Mahisa Agni. Selain seorang paman yang baik, ia juga mempunyai pengetahuan, dalam olah kanuragan yang luas sekali. Pengalaman yang sangat banyak yang akan sangat bermanfaat baginya, karena ia sendiri tidak akan dapat mencari pengalaman seperti Mahisa Agni.
Di malam-malam berikutnya, maka Anusapati berusaha untuk mendapatkan pengalaman-pengalaman itu. Bukan saja Anusapati tetapi juga Sumekar yang masih belum begitu luas pula pengalamannya, karena ia agak lama berada di istana, mengawani Anusapati.
Dari Mahisa Agni dan Witantra, keduanya menyadap pengalaman yang sangat berguna bagi mereka. Bahkan di dalam kesempatan tersendiri, keduanya dituntun oleh Mahisa Agni dan Witantra mencoba mengenyam bermacam-macam ilmu itu untuk melengkapi ilmu mereka sendiri.
“Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “sebenarnya kau kini sudah lengkap. Meskipun kau belum pernah terjun di dalam dunia petualangan yang liar, namun sedikit banyak kau telah sempat mangkhayalkannya. Di dalam keadaan yang terpaksa dan tiba-tiba, kau tidak akan mengecewakan lagi, asal kau tekun mempelajarinya.”
“Terima kasih paman,“ jawab Anusapati, “aku sudah mendapat gambaran, betapa liarnya dunia yang berada di luar pengamatan dan perlindungan tata peradaban. Bahkan di dalam dunia yang beradab-pun terdapat sifat-sifat itu. Bahkan jauh lebih berbahaya dari dunia petualangan itu sendiri, karena sifat-sifat yang tidak beradab di dunia peradaban selalu diselubungi rapat-rapat.”
Mahisa Agni terkejut mendengar jawaban Anusapati itu. Ternyata hatinya benar-benar telah terluka oleh keadaan di sekitarnya di dalam istana ini. Seolah-olah ia hidup di dalam liarnya peradaban yang justru lebih berbahaya dari liarnya hutan belukar.
Tetapi Mahisa Agni tidak berkata apa-pun lagi. Di dalam kekecewaan itu masih terasa sedikit kebanggaan pada dirinya. Mudah-mudahan kebanggaan itu akan dapat berkembang, sehingga Anusapati akan dapat membentuk pribadinya sebagai seorang Pangeran Pati yang seutuhnya.
Beberapa malam selama Mahisa Agni ada di Singasari itu, ternyata telah banyak memberikan pengalaman kepadanya. Ia belajar menyesuaikan diri melawan tata gerak dari ilmu olah kanuragan dari segala macam watak dan sifat, meskipun yang membawakannya Mahisa Agni atau Witantra, yang sudah barang tentu tidak akan dapat seliar orang-orang liar yang sebenarnya. Tetapi dalam saat yang bersamaan, Anusapati masih harus juga menghadiri latihan-latihannya yang sama sekali sudah tidak bergairah.
Namun Anusapati masih tetap mengharapkan latihan-latihan serupa itu diadakan terus, sehingga pada saat-saat tertentu ia akan dapat memancing Tohjaya untuk mengadakan latihan seperti yang dikehendakinya, justru apabila tidak ada orang lain.
Agaknya Tohjaya-pun mempunyai maksud yang sama. Ia memang mendapat pesan dari gurunya, agar ia selalu dapat mengamati, sampai berapa jauh kemajuan Anusapati di dalam olah kanuragan.
“Tuanku harus melihat dan menilainya setiap saat,” berkata guru Tohjaya, “kalau tuanku sudah tidak bergairah lagi mengikuti latihan-latihan itu, maka pada suatu saat perwira yang bodoh itu akan melihat bahwa tuanku telah membawakan sesuatu yang baru baginya, sehingga dapat menumbuhkan kegelisahan padanya. Tentu ia tidak akan berani menegur tuanku. Dengan demikian ia akan mencari cara untuk melepaskan sakit hatinya, ia akan dapat menempa tuanku Anusapati dan membuat menjadi seorang laki-laki. Siapa tahu, pada suatu saat ia akan dapat menyamai tuanku.”
“Tidak mungkin,“ jawab Tohjaya, “sejak saat-saat terakhir aku menjadi semakin jauh meninggalkannya. Apakah yang dapat dilakukan? Perwira yang mengaku pamanku itu-pun tidak akan dapat berbuat apa-apa. Meskipun ia bekerja keras riang dan malam, namun pada dasarnya kakang Anusapati tidak memiliki kemampuan untuk menyerap ilmu kanuragan.”
Gurunya mengangguk-angguk. Tetapi ia masih memperingatkan, “Masih belum pasti tuanku. Yang paling baik bagi tuanku, mengamatinya setiap saat. Arena latihan itu dapat tuanku jadikan tempat untuk mengawasinya.”
Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Disaat-saat tertentu, tuanku dapat mengadakan latihan-latihan, khusus untuk maksud tersebut.”
Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti maksud gurunya dan ia-pun berniat untuk melakukannya.
Di saat yang pendek, istana Singasari ternyata telah disibukkan dengan berita, bahwa Sri Rajasa bermaksud untuk mencarikan jodoh tuanku Putera Mahkota. Hampir setiap orang membicarakannya niat itu, dan hampir setiap orang menebak-nebak, siapakah yang akan menjadi isteri Putera Mahkota dan yang kelak akan menjadi Permaisuri itu.
“Tentu sudah ada pilihan,” berkata salah seorang.
“Belum pernah disebut-sebut,“ jawab yang lain.
“Hanya kita, orang kecil-kecil ini tidak mengetahui. Tetapi sudah tentu bahwa pembicaraan tentang perkawinan Putera Mahkota, tuanku Sri Rajasa, dan tuan Puteri, pasti sudah mempunyai pilihan. Tetapi pilihan itu belum diumumkan.”
“Belum tentu. Mungkin baru timbul niat itu.”
“Kalau begitu apakah kau mempunyai anak perawan?”
“Ah. Macammu. Meskipun aku mempunyai sepasukan anak perawan, apakah kau kira penghuni istana itu pernah melihat perawan-perawan kecil seperti anakku, anakmu dan anak-anak lain dipadukuhan kita.”
“He, apakah kau tidak tahu, bahwa tuanku Permaisuri yang sekarang, tuanku Ken Dedes berasal dari pedukuhan pula?”
“Dari padepokan seorang pendeta.”
“Apakah bedanya?”
“Ada bedanya. Ia masuk ke dalam istana Tumapel sebagai isteri Akuwu.”
“Permasuri Akuwu?”
“Ya. Permaisuri Akuwu. Kemudian barulah ia menjadi Permaisuri tuanku Sri Rajasa.”
“Ah. Kenapa harus melingkar-lingkar. Tuanku Ken Dedes berasal dari padepokan.”
“Kalau begitu anakmu barangkali yang akan diambil menantu oleh Sri Rajasa.”
“Dan aku akan pingsan tujuh hari tujuh malam.“
Demikianlah setiap orang sudah membicarakannya. Meskipun pihak istana belum berniat mengumumkan, tetapi desas-desus itu tersebar lebih cepat dari terbang kapuk dihembus angin.
Dalam pada itu, Ken Dedes-pun telah membicarakannya dengan sungguh-sungguh, masalah perkawinan Anusapati yang dianggapnya akan membuka kemungkinan baru bagi kehidupannya yang serba suram.
Tetapi sebenarnyalah bahwa pimpinan Kerajaan Singasari, termasuk Sri Rajasa sendiri, Mahisa Agni dan tuanku Permaisuri masih belum menemukan calon isteri Anusapati.
“Kita tidak akan menemukannya di Singasari,” berkata Sri Rajasa. “Tidak ada seorang gadis-pun yang seimbang dengan kedudukan Anusapati. Bangsawan yang ada di Singasari, adalah sekedar keturunan seorang Akuwu. Aku adalah Maharaja yang pertama dan aku belum menebarkan keturunan kebangsawanan di sini.”
Setiap orang mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Mahisa Agni-pun segera menangkap maksudnya. Sri Rajasa ingin melemparkan pilihannya kepada keturunan bangsawan berdarah raja dari Kediri. Meskipun demikian Mahisa Agni tidak berkata apa-pun juga. Sebenarnya bagi Mahisa Agni, darah bangsawan atau bukan tidak begitu penting, karena ia sendiri menyadari, bahwa ia bukan keturunan bangsawan. Ken Dedes juga bukan keturunan bangsawan, bahkan Ken Arok juga bukan keturunan bangsawan.
“Tetapi ia telah dipilih oleh Brahma menjadi anaknya,” berkata Mahisa Agni didalam hatinya. Terbayang warna-warna merah yang di saat-saat tertentu dapat menyala di ubun-ubun Ken Arok sebagai ciri pilihan Brahma.
Namun dijawabnya sendiri, “Brahma memilih siapa saja yang dikehendaki-Nya. Apakah ia keturunan bangsawan, atau Hantu Karautan.”
Namun ternyata Ken Arok itu sendirilah yang ingin memilih seorang bangsawan untuk dijadikan menantunya.
“Jadi, apakah kata kalian tentang perempuan yang akan dijadikan isteri Anusapati itu?” bertanya Ken Arok kepada beberapa orang pemimpin yang sedang bermusyawarah tentang perkawinan Anusapati.
“Bagaimana kalau tuanku menyerahkannya kepada tuanku Anusapati,” berkata seseorang di antara mereka.
Ken Arok menggelengkan kepalanya. Katanya, “Anak-anak tidak dapat berpikir bening, ia tidak berpandangan jauh. Ia hanya terbatas pada suatu keinginan yang langsung menyentuh hatinya. Yang baik. Yang cantik. Tetapi ia tidak dapat menilai di dalam keseluruhan.”
Orang-orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyatakan pendapatnya lagi.
Beberapa orang yang lain sama sekali tidak berkata apapun. Mereka hanya mengangguk-angguk kecil. Karena sebenarnya mereka sama sekali tidak mempunyai bahan yang dapat mereka kemukakan, baik kepada Sri Rajasa, maupun kepada Permaisuri yang juga hadir.
“Bagaimana kalau kita memandang agak jauh,” berkata Sri Rajasa. “Tidak di sekitar Singasari, tetapi kita memandang ke Kediri.”
Beberapa orang saling berpandangan sejenak. Namun di dalam hati mereka berkata, “Kediri adalah suatu negeri yang sudah dikalahkan. Kalau salah seorang puterinya menjadi seorang permaisuri, maka Kediri akan bangkit lagi. Hati rakyatnya tergugah akan harga diri mereka.”
Tetapi Sri Rajasa berkata di dalam hati, “Biarlah Anusapati mendapat isteri dari kerajaan yang telah ditundukkan itu. Setiap orang tidak tahu, apa yang akan terjadi besok atau lusa. Juga apabila Anusapati dapat tersisih dari kedudukannya. Anak itu agaknya kurang mempunyai bekal dan terlebih-lebih wibawa untuk kelak menjadi seorang raja. Mungkin ia dapat menjabat kedudukan Mahisa Agni sekarang dengan isteri yang dibawanya dari Kediri sendiri.”
Namun sudah barang tentu bahwa alasan itu tidak dikemukakannya. Karena itu, maka setiap orang meraba-raba menurut penilaian mereka sendiri. Kenapa Kediri?
Pembicaraan itu tidak segera menemukan kesimpulan. Pada umumnya mereka hanya menunggu titah Sri Rajasa daripada ingin menyatakan pendapatnya. Itulah sebabnya, maka pembicaraan serupa itu hampir tidak ada gunanya. Tetapi bagi Sri Rajasa, seakan-akan ia telah mengumpulkan pendapat dan apa yang dilakukan kemudian seakan-akan merupakan tanggung jawab bukan saja dari dirinya sendiri, tetapi dari seluruh peserta musyawarah.
Karena tidak ada seorang-pun yang mengajukan pendapatnya, maka Sri Rajasa kemudian berkata, “Aku masih akan berbicara dengan kalian sekali lagi. Pikirkan apa yang paling baik. Seperti apa yang aku katakan, bagaimana dengan Kediri?”
Orang-orang yang hadir hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Sri Rajasa berkata, “Kediri adalah kerajaan yang lebih tua dari Singasari, meskipun Singasari berhasil menguasainya di dalam suatu lingkaran kesatuan. Nah, pikirkanlah. Apakah yang paling baik.”
Meskipun pada dasarnya, Sri Rajasa tidak memaksakan pendapatnya, tetapi tidak ada seorang-pun yang dapat menunjukkan jalan lain. Permaisuri-pun tidak mempunyai pendapat lain. Memang di sekitar kehidupan Anusapati bahkan di dalam istana dan rumah-rumah para pemimpin pemerintahan, tidak ada seorang gadis yang pantas dikemukakan. Itulah sebabnya, maka pada suatu saat, Sri Rajasa mengambil keputusan untuk memanggil Mahisa Agni.
“Tidak ada keputusan lain yang lebih baik,” berkata Sri Rajasa, “kau yang berada di Kediri dan Anusapati adalah kemanakanmu. Aku harap kau dapat menemukan seorang gadis bangsawan yang baik dan sesuai bagi Anusapati.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Apakah kau pernah memikirkannya, bahwa ada seorang puteri yang pantas buat menantu raja Singasari?”
“Belum tuanku. Hamba belum pernah memikirkannya.”
“Baiklah. Masih ada waktu. Bukankah kita tidak terlampau tergesa-gesa meskipun semakin cepat semakin baik?”
“Hamba tuanku.”
“Adalah tugasmu menemukan puteri itu dan atas nama Maharaja Singasari, meminangnya sama sekali. Kau sebagai wakil Sri Rajasa, tetapi juga sebagai pamannya.”
“Kalau tuanku sudah melimpahkan tugas itu kepada hamba, hamba akan melakukannya sebaik-baiknya, meskipun hamba masih akan selalu datang menghadap untuk mohon pertimbangan.”
“Tentu, tentu. Dan Kediri-pun bukan suatu keputusan yang mutlak. Seandainya tidak ada seorang puteri-pun yang pantas dan baik buat Anusapati, maka kita akan berbicara lagi.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Hamba tuanku,” sedang di dalam hati ia berkata, “Tampaknya Sri Rajasa-pun bersikap baik. Longgar dan bersungguh-sungguh. Tetapi siapa tahu, apa yang disimpannya di dalam hati.”
Tetapi Mahisa Agni hanya dapat melaksanakan perintah itu sejauh-jauh dapat dilakukan. Untuk menjalankan tugas dan untuk kepentingan kemanakannya yang selalu dicengkam keprihatinan.
Tetapi hal itu ternyata dapat dimanfaatkan pula oleh Mahisa Agni. Dengan demikian ia akan dapat mondar-mandir, Kediri dan Singasari. Dengan demikian pula ia akan dapat selalu membicarakan berbagai masalah dengan Anusapati, Sumekar dan bahkan dengan Witantra tanpa dicurigai.
Bahkan pada suatu saat Mahisa Agni sempat melihat kedua Putera Sri Rajasa itu berlatih. “Bukan main,” berkata Mahisa Agni tiba-tiba ketika ia melihat tata gerak Tohjaya yang hanya dilontarkannya dengan seenaknya, “Kau memang seorang anak muda yang memiliki kelebihan.”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian dengan bangga ia bertanya, “Apakah paman melihat kelebihan itu?”
“Tentu. Aku orang yang sudah lama berada didalam lingkungan olah kanuragan. Aku kira aku tidak salah menilai.” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu ia bertanya kepada guru Tohjaya, “Kedua muridmu memang aneh. Kenapa dapat tercipta jarak yang menurut pengamatanku cukup jauh dari keduanya? Bukankah mereka selalu berlatih bersama dan menerima tuntunan yang sama pula?”
“Ya tuan. Aku mencobanya untuk tidak membedakan keduanya. Aku mencoba agar keduanya memiliki kemampuan yang seimbang.”
Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang setiap orang mempunyai kemampuan tersendiri. Mungkin yang kau berikan sama, tetapi daya tangkap keduanyalah yang tidak sama.”
Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi hatinya menjadi berdebar-debar. Bahkan ia tidak dapat menahan perasaannya lagi, dan berkata, “Tuan, sebenarnya aku menjadi sedih. Justru tuan dengan jujur memuji kelebihan-kelebihan tuanku Tohjaya. Tetapi akulah yang merasa seolah-olah aku tidak berbuat adil. Tuanku Tohjaya adalah kemanakan sepupuku, sedang tuanku Anusapati adalah kemanakan tuan.”
“Ah,” desis Mahisa Agni. “aku tidak pernah memikirkan hal itu. Aku tahu, bahwa hampir setiap guru tidak pernah menilai muridnya dengan cara itu. Aku percaya bahwa kau juga tidak menilai murid-muridmu dengan cara itu pula. Jika tejadi perbedaan tingkat ilmunya, itu pasti terjadi karena perbedaan daya tangkap murid-murid itu sendiri.”
Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa semakin kecil berhadapan dengan Mahisa Agni yang dadanya seakan-akan selapang luas lautan.
“Tuan terlampau percaya,” desis perwira itu, “tuan tidak melihat kelemahan seseorang.”
“Setiap orang pasti mempunyai kelemahan. Tetapi setiap orang akan berusaha mengurangi kelemahan itu.”
Perwira itu terdiam sejenak. Hampir saja ia terdesak oleh kekecilan dirinya dan mengatakan bahwa Tohjaya mempunyai ilmu yang tersalur dari perguruan yang lain. Itulah agaknya yang membuatnya mempunyai kelebihan yang agak menyolok dari Anusapati. Untunglah ia sadar, bahwa sama sekali tidak bijaksana mengatakannya hal itu di hadapan Tohjaya dan Anusapati.
Tetapi agaknya sikap Mahisa Agni itu benar-benar telah mempengaruhinya. Perwira itu benar-benar telah kagum atas kebesaran pribadi Mahisa Agni. Dengan demikian, maka timbullah niatnya untuk mengatakannya hal itu dengan cara yang lain. Ia ingin menunjukkan bahwa Tohjaya menyimpan ilmu yang lain selain ilmu yang diturunkannya. Karena itu, tiba-tiba saja maka ia berkata kepada kedua muridnya, “Tuanku berdua. Apakah tuanku kali ini bersedia melakukan latihan khusus dihadapan pamanda tuanku. Tuanku pasti akan mendapatkan petunjuk yang sangat berharga. Tuanku tahu bahwa paman tuanku adalah seorang prajurit yang tidak terkalahkan di medan perang.”
“Ah,” desah Mahisa Agni, “kau memuji. Itu terlampau berlebih-lebihan.”
“Tidak tuan. Aku berkata sebenarnya.” lalu perwira itu berkata pula kepada Tohjaya, “tuanku, hamba kira saat ini jarang sekali akan terulang.”
Tohjaya mengangkat dadanya. Sambil tersenyum ia berkata, “Terserah kepada kakang Anusapati. Apakah ia bersedia atau tidak.”
“Tuanku Putera Mahkota,” berkata perwira itu, “keadaan ini sangat berbeda dengan keadaan pada waktu tuanku Mahisa-wonga-teleng berada di arena ini. Sekarang yang berdada di sini adalah pamanda tuanku yang sempurna.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Sekilas dipandanginya wajah pamannya. Ketika ia melihat pamannya memberikan isyarat kepadanya, maka ia-pun kemudian menjawab, “Baiklah. Tetapi aku minta, kau mengawasi dari dekat. Aku sebenarnya agak takut.”
Tohjaya tertawa. Katanya, “Kenapa Kakanda Anusapati takut? Kita bersama telah mendapat ilmu yang sama. Dan sudah barang tentu aku tidak akan berlaku seperti kita benar-benar bertempur.”
“Jangan terlampau berkecil hati Anusapati,” berkata Mahisa Agni, “kau adalah seorang Putera Mahkota. Kalau kau dibayangi oleh ketakutan saja, maka kau tidak akan dapat berdiri sebagai seorang Putera Mahkota yang baik. Berlatihlah dengan tekun dan bersungguh-sungguh.”
Anusapati mencoba untuk menunjukkan keragu-raguan sikap. Agaknya ia berhasil sehingga gurunya berkata, “Hamba akan berada di dekat tuanku. Jika keadaan memaksa hamba dapat menghentikan latihan setiap saat.”
Akhirnya Anusapati menganggukkan kepalanya. Katanya dengan nada rendah, “Baiklah. Aku akan berlatih. Tetapi tidak terlampau lama, dan jangan menyakiti tubuhku seperti beberapa saat yang lalu. Tiga hari rasa sakit itu masih saja mencengkamku.”
Tohjaya tertawa sambil berkata, “Bukankah kakanda seorang anak laki-laki. Maksudku seorang laki-laki. Kakanda sudah bukan anak-anak lagi. Sebentar lagi kakanda akan mengalami masa yang paling berbahagia. Bukankah kakanda akan segera kawin? Nah, bekali kakanda dengan ilmu seorang laki-laki.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Tetapi ia-pun mengangguk perlahan, “Baiklah. Kita akan berlatih.”
Tohjaya mengerutkan keningnya mendengar kesanggupan Anusapati. Namun sejenak kemudian ia tertawa sambil berkata, “Nah, begitulah. Kakanda benar-benar seorang laki-laki. Kakanda dapat menunjukkan kepada Pamanda Mahisa Agni, apakah yang sudah kakanda capai selama kakanda berada di bawah asuhan guru-guru kita selama ini. Baik yang sudah meninggal itu, maupun yang sekarang.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih bertanya, “Sampai berapa jauh kita akan berlatih?”
“Sejauh-jauhnya. Seolah-olah kita benar-benar berkelahi.”
“Ah.”
“Itulah baru namanya latihan olah kanuragan. Bukan latihan menari. Mungkin Kakanda Anusapati lebih cakap menari daripada berlatih olah kanuragan.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak menjawab.
Tohjaya-pun kemudian melepas pedangnya. Diberikan pedangnya itu kepada pengawalnya. Kemudian ia-pun menyangkutkan ujung kain panjangnya pada ikat pinggangnya di punggung.
“Marilah kakanda.”
“Perlahan-lahan Anusapati memasuki lapangan. Ia tahu benar apa yang harus dilakukan. Memancing ilmu Tohjaya yang tersembunyi. Kemudian kalah.”
Sudah tentu bahwa serangan Tohjaya harus ada yang mengenainya. Dan ia tidak dapat berpura-pura. Serangan itu pasti akan benar terasa sakit ditubuhnya. Tetapi ia harus melakukannya, dan ia harus menyediakan dirinya untuk menjadi sasaran serangan Tohjaya, asal serangan itu tidak berbahaya dan tidak membuatnya terluka di dalam.
Demikianlah keduanya-pun kemudian telah siap di arena. Anusapati yang berdiri termangu-mangu sekali-sekali berpaling kepada Mahisa Agni, sedang Tohjaya sambil tersenyum-senyum melangkah maju mendekati kakaknya.
“Apakah kakanda sudah siap?” bertanya Tohjaya.
Anusapati memandang gurunya. Dan ia-pun bertanya, “beritahukan, kapan kami akan mulai?”
“Baiklah tuanku. Sekarang tuanku hamba persilahkan mempersiapkan diri.”
Anusapati kemudian bersiap. Ia berdiri pada kedua kakinya yang renggang, dan merendah sedikit pada lututnya. Kemudian ia berputar pada tumitnya sambil menyilangkan tangannya didada.
“Bagus,” Tohjaya tertawa, “begitukah guru kita memberitahukan, bagaimana kita harus bersiap menghadapi lawan. Kakanda Anusapati benar-benar menguasainya, sehingga setiap unsur gerak telah dilakukannya dengan sempurna. Tetapi apabila perkelahian yang sebenarnya berlangsung, maka sebelum Kakanda Anusapati selesai melakukan unsur-unsur gerak itu satu demi satu, maka tubuh Kakanda Anusapati pasti sudah berguling-guling di tanah.”
Anusapati yang sudah bersiap itu-pun kemudian berdiri tegak kembali. Dipandanginya Tohjaya dengan herannya, kemudian ia berpaling kepada Mahisa Agni dan gurunya berganti-ganti.
“Tuanku sudah melakukan gerakan yang benar,” berkata gurunya, “kenapa tuanku ragu-ragu. Mungkin tuanku Tohjaya menganggap tuanku terlampau lamban.”
Suara tertawa Tohjaya masih berkepanjangan. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Ya, ya begitulah.” Lalu ia bertanya kepada Mahisa Agni, “Bagaimanakah pendapat paman? Bukankah paman seorang Senapati yang tidak terkalahkan di peperangan. sehingga paman pasti akan dapat menilai tata gerak Kakanda Anusapati. Apakah paman mengaguminya?”
Mahisa Agni tersenyum. Dipandanginya Anusapati yang berdiri termangu-mangu. Namun demikian di dalam hatinya Mahisa Agni berkata, “Apakah yang mendorong Tohjaya berbuat demikian? Agaknya hal ini terlalu berlebih-lebihan.”
Dengan demikian Mahisa Agni mengetahui, betapa beratnya peranan yang harus dilakukan oleh Anusapati selama ini.
“Kau harus berbuat lebih cepat sedikit Anusapati. Seperti yang dikatakan oleh gurumu. Kau sudah melakukan tata gerak yang benar, hanya kurang cekatan sedikit. Nah mulailah.”
Anusapati-pun kemudian mengulanginya, agak lebih cepat sedikit. Tetapi Tohjaya ingin menunjukkan kelebihannya yang jauh dari Putera Mahkota itu. Sehingga dengan tiba-tiba saja, selagi Anusapati mempersiapkan diri, Tohjaya sudah melakukan loncatan yang panjang langsung menyerang Anusapati.
Dada gurunya serasa berdentang. Ia benar-benar tidak menyangka, bahwa Tohjaya sampai hati berbuat demikian, sehingga karena itu ia tidak dapat berbuat apa-apa. Tetapi dalam pada itu, Anusapati yang terkejut melihat serangan itu, ternyata tanpa sesadarnya telah berguling menghindari serangan yang cukup berbahaya. Kalau serangan itu mengenainya, maka pasti akan dapat membuatnya benar-benar kesakitan. Dan apabila ia benar-benar dalam keadaan seperti yang diperankan, ia pasti akan pingsan dan barangkali terluka di dalam.
Tetapi hal itu tidak terjadi. Justru karena itu, gurunya berdiri saja termangu-mangu sejenak. Hampir ia tidak percaya bahwa Anusapati berhasil menghindarkan diri, meskipun dengan cara yang sangat sederhana. Menjatuhkan diri, kemudian berguling-guling menjauhi lawannya.
Tohjaya-pun terkejut pula. Hampir ia tidak percaya ketika kakinya sama sekali tidak menyentuh tubuh Anusapati. Bahkan kemudian terasa nyeri ketika ujung-ujung jarinya menyentuh tanah.
Sejenak Tohjaya berdiri dengan tegangnya. Dipandanginya Anusapati yang tertatih-tatih berdiri. Nafasnya menjadi terengah-engah dan wajahnya menjadi gelisah.
“Aneh,” desis Tohjaya.
Namun di dalam hati gurunya juga berdesis, “Aneh.”
“Apa yang aneh?” bertanya Anusapati kepada Tohjaya.
Tohjaya tidak segera menjawab. Ditatapnya Anusapati yang sudah berdiri tegak dengan tajamnya, seolah-olah ia ingin mengetahui kekuatan apakah yang sudah menggerakkannya sedemikian cepatnya.
Karena Tohjaya tidak menjawab, maka Mahisa Agni mendesaknya, “Apakah yang aneh?”
“Aku heran paman,” berkata Tohjaya, “tiba-tiba saja kakang Anusapati menjadi sangat lincah. Ia mampu bergerak sedemikian cepatnya menghindari seranganku.”
Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Katanya, “Tidak ada yang aneh. Tentu wajar sekali kalau Anusapati dapat menghindari serangan itu. Serangan yang hanya sekedar mau tidak mau. Serangan yang dilontarkan tidak lebih dari seperempat dari segenap kemampuan dan kecepatan bergerak yang ada. Apalagi aku tidak melihat gerakan olah kanuragan yang sebenarnya dari angger Anusapati. Seakan-akan Anusapati bergerak berdasarkan dorongan naluriah, seperti apabila disenja hari, seekor binatang terbang hampir membentur mata kita. Kita tidak pernah berlatih, tetapi kecepatan gerak kita melampaui kecepatan binatang kecil yang terbang kemata kita itu. Begitu binatang itu menyentuh kita, maka kelopak mata kita yang sudah tertutuplah yang dibenturnya.”
Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya Anusapati sejenak, namun kemudian ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah benar aku hanya melepaskan seperempat dari tenaga dan kemampuan yang ada padaku?” Tetapi ia mempunyai kesimpulan lain, “Jika kecepatan itu dianggap hanya seperempat dari segenap kemampuanku, ternyata aku-pun sama sekali masih terlampau kecil dimata Paman Mahisa Agni. Tetapi paman masih lebih menghargai aku, karena ia menganggap apa yang dilakukan oleh Kakanda Anusapati sama sekali bukan karena kemampuannya, tetapi hanya sekedar gerakan naluriah.”
Namun sementara itu, baik Mahisa Agni, Anusapati maupun perwira prajurit yang menjadi pelatih kedua putera Sri Rajasa itu melihat, sesuatu yang lain pada serangan Tohjaya. Kekuatan yang dilontarkan adalah kekuatan yang didapatnya dari gurunya yang lain. meskipun agaknya Tohjaya masih berusaha menyesuaikan tata geraknya dengan ajaran gurunya yang menungguinya saat itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar