Rabu, 27 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 13-03

*BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-13-03*

Karya.  : SH Mintardja

“Hem,” desis Anusapati didalam hatinya, “pengawal-pengawal itu terlampau setia. Mereka sama sekali tidak sempat berpikir, apa dan bagaimana tugas-tugas mereka. Kalau Tohjaya terlibat didalam suatu persoalan, mereka akan segera terlibat pula.”

“Nah, apakah kakanda berjanji tidak akan menyakiti hatiku untuk seterusnya?”

“Kalau begitu, apakah kita saling berjanji adinda,” jawab Anusapati kemudian.

“Maksud kakanda?”

“Kita bersama-sama berjanji, bahwa kita tidak akan saling menyakiti hati. Kita tidak akan saling menyinggung perasaan dan saling mengganggu. Biarlah kita hidup di dalam dunia kita sendiri-sendiri. Biarlah kita tidak saling berbuat sesuatu yang memungkinkan kita saling menyinggung perasaan.”

Sejenak Tohjaya terdiam. Wajahnya menjadi merah. Ia tidak menyangka bahwa kakaknya telah menghadapkannya pada pertanyaan yang sulit itu.

“Aku kira pendapatku itu adil. Bukan sepihak saja. Bukan hanya aku yang harus berjanji tidak menyakiti hatimu, tetapi kau-pun harus berbuat demikian.”

Tiba-tiba kening Tohjaya menegang dan bertanya, “Apakah aku pernah menyakiti hati kakanda?”

“Mungkin kau tidak sengaja berbuat demikian.”

“Nah, kakanda sudah mengatakan bahwa mungkin aku tidak sengaja. Bagaimana aku dapat mencegah kalau aku tidak sengaja berbuat demikian.”

“Jadi.”

“Itu diluar perjanjian. Sudah tentu sesuatu yang tidak disengaja tidak akan dapat kita persoalkan.”

“Baiklah. Tetapi ketahuilah, bahwa aku juga tidak sengaja menyakiti hatimu. Bahkan aku tidak menduga bahwa kau menjadi sakit hati dan merasa tersinggung karenanya. Padahal, aku merasa bahwa yang aku lakukan adalah hal yang sewajarnya, yang paling baik.”

“Omong kosong.”

“Jadi, ternyata bahwa apa yang kita anggap menyinggung perasaan, menyakitkan hati dan sebagainya itu tergantung sekali, darimana kita memandang. Adinda Tohjaya, cobalah kau renungkan. Kalau pada suatu saat kakimu terantuk batu di dalam bilikmu, maka kau tentu akan marah. Siapakah yang menaruh batu didalam bilik itu pasti kau anggap bersalah, karena tidak pada tempatnya batu berada didalam bilik. Tetapi kalau kau yang menaruh batu itu, dan orang lain, hamba-hambamu yang kakinya terantuk batu itu, maka kau-pun akan marah kepadanya. Kau akan mengatakan bahwa mereka tidak melihat apa yang ada di depan mereka. Mereka tidak berhati-hati, bahkan kau akan menuduh bahwa mata mereka terpejam dan apa lagi. Begitulah kira-kira keadaan ini yang tidak menyenangkan kau apa-pun sebabnya pastilah bersalah. Sedang ukuran kebenaran hanyalah kau pandang dari sudut kepentinganmu dari sudutmu sendiri. Itu adalah salah satu sebab, maka kau menganggap bahwa akulah yang selalu menyinggung perasaanmu. Akulah yang menyakiti hatimu dan akulah yang harus melihat kepada diri sendiri apa saja yang sudah aku lakukan, kesalahan apta saja yang telah aku perbuat.”

Tohjaya menjadi merah padam. Kemarahannya telah membakar darahnya. Namun ia tidak membantah. Apalagi ketika Anusapati bertanya, “Nah, apakah kali ini aku juga telah menyinggung perasaanmu, menyakiti hatimu dan kau menganggap bahwa kau merasa perlu untuk menghukum aku dengan caramu itu? “

Yang terdengar adalah gemeretak gigi Tohjaya. Tetapi ia sama sekali tidak menjawab. Bahkan tiba-tiba saja ia melangkahkan kakinya meninggalkan Anusapati yang berdiri termangu-mangu.

Tohjaya yang marah ini sama sekali tidak berpaling lagi. Bahkan langkahnya menjadi semakin panjang dan cepat. Seolah-olah Anusapati adalah seseorang yang harus dijauhinya.

Anusapati hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia masih memandang langkah Tohjaya sejenak, yang kemudian hilang disudut dinding halaman dalam.

“Aku benar-benar dapat menjadi gila menghadapi persoalan-persoalan serupa ini,” gumam Anusapati. Ternyata dengan susah payah ia telah menahan perasaannya. Sehingga dadanya seakan-akan merasa retak, hampir saja perasaan itu meledak tidak terkendalikan lagi. Untunglah Tohjaya segera pergi meninggalkannya. Kalau saja Tohjaya pada saat itu berbuat sesuatu, maka Anusapati pasti akan lupa diri, dan melayaninya dengan marah pula.

Anusapati terkejut ketika ia melihat seseorang berjongkok di halaman bangsalnya. Di dalam kegelapan. Sedang embannya masih juga berdiri di serambi.

Dengan dada yang berdebar-debar Anusapati melangkah mendekati orang yang berjongkok itu. Agaknya orang itu baru sibuk dengan sebatang tanaman di halaman.

“Ampun tuanku,” embannya yang melihat kedatangannya segera menyongsongnya. “juru taman itu sudah minta ijin kepadaku, untuk menancapkan sebatang tanaman baru di halaman seperti pesan tuanku.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia tidak pernah berpesan sesuatu, namun ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Bagus. Apakah ia sedang menanam pohon itu?”

“Hamba tuanku,” jawab embannya.

Anusapati-pun melangkah terus, mendekati juru taman yang tidak lain adalah Sumekar.

“Kau menanam pohon itu?” bertanya Anusapati.

“Hamba tuanku,” jawab Sumekar, “baru hamba mengambilnya dari taman. Hamba tidak dapat melakukannya di siang hari. Pohon jenis ini terlampau lemah. Karena itu, batang bunga ini hanya dapat ditanam di malam hari.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Sumekar-pun agaknya menjadi gelisah. Ia ingin segera mendengar apa yang telah terjadi. Tetapi ia tidak segera dapat mendekatinya dan berceritera tentang dirinya, karena embannya-pun menunggunya pula.

Karena itu maka Anusapati-pun kemudian berjalan ketangga bangsalnya diikuti oleh embannya. Namun tiba-tiba ia tertegun sambil berpaling, “Pergilah dahulu bibi. Sediakan pakaian dan air panas. Aku akan berpesan kepada juru taman itu sejenak.”

Emban itu-pun mengangguk sambil menjawab, “Hamba tuanku. Hamba akan segera menyediakannya.”

Ketika emban itu kemudian masuk ke bangsalnya dan langsung pergi kebilik Anusapati menyediakan pakaiannya, kemudian menyediakan air panas di pakiwan, Anusapati telah menemui Sumekar yang sedang berjongkok di samping sebatang pohon bunga.

“Semakin lama hubungan kami menjadi semakin jelek,” desis Anusapati.

“Ya tuanku. Hamba melihat apa yang terjadi.”

“Di arena?”

“Bukan tuanku. Di halaman sebelah, ketika tuanku Tohjaya menunggu tuanku.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian diceriterakannya dengan singkat apa yang telah terjadi di arena. Apa yang telah dilakukan oleh Tohjaya untuk menghinakannya, dan apa pula yang dikatakan oleh Tohjaya di halaman, bahwa ialah yang telah menyinggung perasaan dan menghina Tohjaya.

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Sampai saat ini tuanku masih tetap berhasil berbuat sebaik-baiknya.”

“Tetapi jelas, bahwa pada suatu saat aku akan kehilangan akal. Tohjaya sudah dihinggapi penyakit anak-anak jalanan, ia berbuat seperti di jalan-jalan saja, Meskipun di halaman istana. Ia mencegatku, mengancam dan menantang berkelahi. Itu sama sekali bukan sifat seorang satria.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Di dalam kitab-kitab aku jumpai tulisan-tulisan, bahwa sifat satria bukan sekedar berani menantang perang tanding. Tetapi seorang satria harus berani memandang kebenaran menurut penilaian wajar. Meskipun masih juga tergantung kepada setiap pribadi, namun dalam batasan yang umum, ada juga nilai-nilai yang pantas untuk disebut sebagai suatu kebenaran, setidak-tidaknya yang telah disetujui bersama. Meskipun bukan kebenaran yang hakiki yang masih harus dicari. Alangkah bahagianya apabila kita pada suatu saat dapat menemukan kebenaran itu dan dapat menerimanya di dalam hati. “

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, “Hamba juga pernah menjumpainya di dalam kitab.”

“Nah. Karena itulah agaknya aku justru menjadi semakin bimbang akan diriku sendiri. Kadang-kadang aku melihat nilai-nilai kebenaran yang hakiki itu di dalam kitab-kitab tuntunan untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Agung. Tetapi kadang-kadang kita tidak dapat menerima seutuhnya, dan mencoba menyesuaikan dengan keinginan kita sendiri, dengan kepentingan kita pribadi.”

Sumekar mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk. Dengan demikian ia melihat betapa keragu-raguan dan kebimbangan tentang diri sendiri, tentang masa depan dan harapan, tentang hidup dan kehidupan, menjadi semakin dalam mencengkam jantungnya.

“Hal ini menjadi sangat berbahaya bagi Putera Mahkota,” berkata Sumekar di dalam hatinya, “pada suatu saat. apabila dadanya benar-benar telah penuh sesak, perasaan yang tidak menentu itu akan dapat meledak dan menghancurkan suasana termasuk dirinya sendiri.

Tetapi Sumekar tidak dapat berkata apapun. Ia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Sekilas teringat olehnya, hagaimana mungkin ia dapat berbuat sesuatu agar Putera Mahkota itu dapat segera mendapatkan seorang isteri. Seorang isteri yang baik.”

Sumekar mengangkat wajahnya ketika ia mendengar Putera Mahkota itu berkata, “Paman. Apakah paman pernah melihat unsur-unsur gerak Ayahanda Sri Rajasa?”

Sumekar mencoba mengingat-ingat. Tetapi kemudian ia menggelengkan kepalanya, “Hamba belum pernah melihat tuanku. Tetapi barangkali Pamanda Mahisa Agni pernah. “

“Tentu, paman Mahisa Agni tentu pernah melihatnya,” jawab Anusapati, “aku ingin meyakinkan, apakah tata gerak yang dimiliki oleh Tohjaya itu bersumber dari Ayahanda Sri Rajasa. Jika demikian, maka pasti ada sesuatu di dalam istana ini. Yang tampak pasti tidak akan sesuai dengan yang tersembunyi. Ayahanda akan membuat garis yang tajam antara keturunan Ken Dedes dan keturunan Ken Umang.”

“Tuanku jangan tergesa-gesa mengambil kesimpulan. Biarlah pada suatu saat tuanku meyakinkannya,” sahut Sumekar, “memang di dalam saat yang tidak terbatas, tuanku harus menahan hati. Hamba tahu tuanku. Bahwa hal itu bukannya suatu pekerjaan yang mudah. Tetapi yang harus tuanku lakukan.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia tidak sempat berkata apa-apa lagi karena embannya telah datang mendekatinya sambil berkata, “Tuanku, semuanya telah hamba sediakan.”

“Terima kasih bibi.”

“Sebaiknya tuanku segera mandi, supaya air hangat itu tidak menjadi dingin.”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Kemudian ditinggalkannya Sumekar sendiri.

Sepeninggal Anusapati, Sumekar-pun kemudian berdiri sambil berdesis, “Terlampau berat. Agaknya Sri Rajasa benar-benar ingin menyingkirkannya dengan segala macam cara, Ibunda Permaisuri bagaikan seorang yang tenggelam di dalam keputus-asaan. Kekecewaan yang paling dalam ketika Sri Rajasa mengambil isteri mudanya, telah membuatnya seolah-olah acuh tidak acuh terhadap kehidupannya sendiri dan kehidupan putera-puteranya.”

Sumekar memandang pintu bangsal yang masih terbuka. Namun kemudian sambil menarik nafas dalam-dalam ia-pun melangkah pergi.

Di pagi hari berikutnya, Anusapati minta kepada Sumekar, untuk keluar dari istana malam nanti, ia ingin menunjukkan kepada Sumekar beberapa tata gerak yang sempat ditangkapnya dari adiknya Tohjaya.

“Apakah tuanku tidak berlatih?” bertanya Sumekar.

“Aku akan berlatih pagi sampai siang hari,” jawab Anusapati.

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baiklah tuanku. Hamba akan keluar malam nanti dan menunggu tuanku di tempat yang biasa kita kunjungi.”

Dipagi itu, Anusapati dan Tohjaya berlatih seperti kebiasaan mereka. Namun suasananya menjadi lain. Tidak ada gairah sama sekali dari semua pihak, Tohjaya sudah tidak berminat sama sekali mengikuti latihan-latihan itu. Apalagi setelah ia diperkenankan memusatkan diri kepada gurunya yang lain. Gurunya ini, perwira prajurit yang melatihnya bersama Anusapati, adalah sekedar kebiasaan dan suatu cara untuk menunjukkan bahwa Sri Rajasa telah berbuat seadil-adilnya atas kedua puteranya.

Gurunya yang mengetahui, bahwa Tohjaya telah berguru kepada orang lain juga tidak berminat lagi mencurahkan tenaganya untuk menuntun Tohjaya. Namun yang menjadi persoalan baginya adalah Anusapati. Kalau Anusapati masih tetap menuntut ilmunya seperti itu, maka dalam waktu yang singkat ia akan menjadi jauh ketinggalan dari adiknya. Ia benar-benar akan menjadi umpan yang lunak sekali bagi ketamakan Tohjaya di hari-hari mendatang.

Tetapi perwira prajurit itu tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak akan dapat menuntun Anusapati dengan cara yang khusus, karena setiap kali, Tohjaya akan hadir juga di arena latihan Meskipun ia sendiri sebenarnya tidak memerlukan. Tetapi kehadirannya sebagian adalah sekedar untuk mengamati perkembangan pengetahuan kakaknya Anusapati. Ia akan dapat melihat seandainya gurunya berbuat curang, memberikan lebih banyak pengetahuan bagi Anusapati.

Sedangkan Anusapati sendiri, sebenarnya tidak memerlukan apa-apa lagi dari perwira itu. Ilmunya telah jauh melampaui kemampuan perwira itu. Hanya karena kuwajibannya dan sekedar menutupi kenyataannya sajalah, maka ia datang ke dalam latihan-latihan itu, dan bahkan selalu berpura-pura dan berperan sebagai seorang Putera Mahkota yang bodoh, lemah dan sedikit penakut.

Karena itulah, maka latihan-latihan yang berlangsung berikutnya, tidak ubahnya sebagai suatu permainan yang sangat menjemukan. Meskipun demikian latihan-latihan itu berlangsung terus. Tohjaya selalu datang bersama pengawalnya. Melakukan beberapa gerakan, kemudian menonton Anusapati berlatih sampai mandi keringat, namun kurang mampu menyerap ilmu dari gurunya. Gurunya melatihnya sekedar memenuhi kuwajiban. Dan bahkan akhirnya ia tidak peduli, apakah kedua muridnya nanti akan menjadi seorang yang memiliki ilmu yang cukup atau sekedar mampu melakukan tata gerak bela diri secukupnya.

“Apakah jadinya, kalau pada suatu saat Putera Mahkota memimpin langsung sepasukan prajurit di peperangan. Atau kelak apabila sudah memegang jabatan Ayahanda Sri Rajasa?”

Namun perwira itu kemudian berkata di dalam hatinya pula, “Agaknya memang ada suatu kesengajaan seperti yang dikatakan oleh Ken Umang.”

Di malam mendatang, seperti telah dijanjikan, maka Sumekar-pun dengan diam-diam meninggalkan halaman istana, pergi ketepian sungai di celah-celah jurang yang curam. Sejenak ia menunggu hadirnya Pangeran Pati. Dan ternyata ia tidak usah menunggu terlalu lama. Anusapati-pun segera datang menyusulnya.

“Sumekar,” berkata Anusapati, “sebelum aku lupa sama sekali aku ingin menirukan tata gerak yang aneh dari Tohjaya. Aku minta agar kau ikut serta mengingat-ingat, sampai pada suatu saat, tata gerak itu akan kita perlihatkan kepada paman Mahisa Agni.”

“Baiklah tuanku. Hamba akan mencoba mengingatnya pula.”

Sejenak kemudian, maka Anusapati-pun segera memperlihatkan beberapa unsur gerak yang pernah ditangkapnya dan Tohjaya.

Sumekar memperhatikannya dengan hati yang berdebar-debar. Meskipun ia belum pernah melihat, bagaimana Sri Rajasa bertempur, namun menilik ceritera yang pernah didengarnya dari Mahisa Agni, maka Sri Rajasa tidak memiliki ilmu tata bela diri yang teratur dan terperinci. Ken Arok yang kemudian bergelar Sri Rajasa, adalah salah satu dari jenis-jenis manusia ajaib. Ia tidak pernah belajar tata pemerintahan yang teratur, tidak pernah belajar tata bela diri dan olah keprajuritan. Namun ia mampu menjadi seorang pemimpin yang besar, yang menguasai daerah yang luas dan besar.

Memang agak meragukan, kalau orang-orang yang pernah memperhatikan tata gerak dan ilmu Sri Rajasa mengatakan, bahwa Sri Rajasa bertempur dengan kasar dan dengan hati yang bertanya-tanya menyebutkan bahwa cara yang dipergunakan oleh Maharaja yang besar itu agak sedikit liar.

“Ia mendapat anugerah alam,” desis Sumekar di dalam hatinya. Sedang yang dilihatnya pada Anusapati yang menirukan tata gerak Tohjaya, memiliki pola tertentu dan tersusun rapi.

“Nah,” berkata Anusapati kemudian, “apakah kau dapat mengatakan kepadaku, sumber dari ilmu itu?”

Sumekar mengerutkan keningnya. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “Tuanku, menurut penilikan hamba, aku kira ilmu itu tidak bersumber dari tuanku Sri Rajasa. Tetapi hamba masih belum dapat meyakinkan. Apakah tuanku sudi mengulanginya sekali lagi?”

Ketika Anusapati mengulanginya sekali lagi, Sumekar menjadi semakin berdebar-debar. Ia melihat gerakan-akan yang agak asing dan bahkan dadanya berdesir ketika ia melihat Anusapati menirukan gerakan tangan yang mengerikan. Jari-jarinya mengembang dan lengkung, seperti jari-jari burung elang yang siap menerkam anak ayam. Pukulan-pukulan yang lurus ke depan, kemudian yang mengerikan dan agaknya memusatkan segenap kekuatan pada ujung jarinya.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam ketika Anusapati selesai dengan jenis-jenis tata gerak yang diingatnya. Tata gerak yang masih belum dikenalnya.

“Bagaimana pendapatmu?” bertanya Anusapati.

“Mengerikan sekali.”

“Apalagi kalau Adinda Tohjaya sendiri yang melepaskannya.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, “Bagaimana dengan guru tuanku setelah melihat gerakan-akan itu?”

“Ia menjadi kecewa sekali. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi ia adalah saudara sepupu ibunda Ken Umang.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Terbayang sekilas tata gerak yang pernah ditunjukkan oleh kakak seperguruannya, Kuda Sempana. Tata gerak yang didapatnya dari Kebo Sindet dan Wong Sarimpat beberapa tahun yang lampau.

Ada beberapa kemiripan Meskipun Sumekar yakin, bahwa ilmu itu tidak bersumber dari keduanya, atau orang-orang yang seperguruan dengan mereka, karena kedua orang itu sudah bertahun-tahun pula tidak ada lagi.

“Tuanku,” berkata Sumekar kemudian, “selain kakang Mahisa Agni, hamba akan dapat minta pertimbangan kepada kakak seperguruan hamba yang bernama Kuda Sempana. Mungkin ia melihat beberapa persamaan dengan ilmu yang sudah dikenalnya. Pengalamannya jauh lebih luas dari pengalaman hamba sendiri.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Atau barangkali kepada Ki Witantra pada suatu saat.”

“Ya. Apakah Ki Witantra sudah mengenal Ayahanda Sri Rajasa dengan baik?”

“Tetapi aku yakin bahwa orang-orang seperti Ki Witantra mempunyai pengetahuan yang luas tentang berbagai macam ilmu olah kanuragan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Kita akan menunggu saatnya, orang-orang itu dapat kita hubungi.”

“Sudah tentu tuanku tidak akan mungkin. Tetapi barangkali, hamba akan mendapatkan kesempatan lain kali.”

“Tetapi kau harus ikut mengingat-ingat tata gerak yang aneh itu agar pada suatu saat, kita dapat meyakinkan diri apakah ilmu itu bukan berasal dari Ayahanda Sri Rajasa. Sekarang kau hanya dapat menduga-duga saja. Tetapi belum merupakan suatu kepastian.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Namun dalam pada itu, tuanku harus waspada. Bukankah dengan demikian berarti bahwa di luar pengetahuan tuanku, adinda tuanku Tohjaya mendapat tuntunan dalam olah kanuragan? Tuanku tidak akan dapat mengetahui dengan pasti, sampai dimana sebenarnya ilmu adinda tuanku itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jalan satu-satunya bagi tuanku adalah sekali-sekali menerima tantangannya untuk berlatih bersama. Tetapi sudah tentu, tanpa ada orang lain yang akan menjadi saksi kekalahan tuanku, selain guru tuanku, perwira prajurit itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kesempatan yang demikian agaknya sulit dicari. Apabila kesempatan itu ada, maka ia pasti akan benar-benar menderita kesakitan. karena didalam lakon yang akan dibawakannya itu, ia pasti harus kalah.

“Disamping itu,” berkata Sumekar kemudian, “tuanku harus rajin berlatih. Di luar atau di dalam bilik tuanku. Tuanku harus melatih kekuatan tangan dan kaki. Ada baiknya tuanku berusaha menilik jari-jari tuanku. Tata gerak yang tuanku perlihatkan itu agaknya mempercayakan jari-jari sebagai alat yang sangat berbahaya bagi lawan.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Di dalam biliknya ia hanya dapat melatih kekuatan tangan dan kakinya. Bukan kecepatan dan ketrampilan bergerak. Meskipun demikian, hal itu akan sangat berpengaruh pula baginya.

Ketika mereka sudah merasa cukup, maka keduanya-pun kemudian kembali ke istana. Dengan diam-diam, seperti pada saat mereka pergi, demikian pula mereka memasuki halaman istana itu.

Di saat-saat mendatang, latihan-latihan yang berlangsung seakan-akan hanya sekedar berloncat-loncatan saja. Tohjaya tidak memerlukan lagi pengetahuan dari gurunya yang seorang itu. Sedang dengan sengaja ia menghambat kemajuan Anusapati yang dianggapnya mengkhususkan diri berlatih pada perwira itu.

Bahkan ketika mereka berlatih pada suatu pagi, perwira itu berkata, “Tuanku berdua. Hamba telah menerima perintah dari Tuanku Sri Rajasa, bahwa hamba harus segera menyelesaikan latihan-latihan bagi tuanku berdua. Tuanku telah cukup dewasa, dan cukup memiliki bekal. Selanjutnya tuanku dipersilahkan untuk mematangkan ilmu yang ada pada tuanku masing-masing.”

Anusapati mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba ia bertanya, “Kapan latihan-latihan ini akan selesai?”

Di dalam waktu singkat tuanku berdua akan meninggalkan masa muda tuanku. Tuanku sudah cukup dewasa. Pada saatnya tuanku akan menjadi orang tua seperti orang-orang lain. Nah, pada saat itu lah latihan-latihan akan berakhir. Tuanku Sri Rajasa telah mempertimbangkan hal itu semasak-masaknya.”

Tohjaya tersenyum mendengar kata-kata perwira itu. Kemudian katanya, “Maksudmu, begitu kami, aku dan Kakanda Anusapati kawin, maka semua pelajaran olah kanuragan ini akan dihentikan.”

“Hamba tuanku.”

“Jadi kapan kita harus kawin?”

“Ah, itu hamba tidak tahu. Hamba kira tidak ada keharusan dalam batas waktu tertentu. Tetapi pada suatu saat tuanku pasti akan sampai juga pada saat-saat serupa itu. “

Tohjaya menganggukkan kepalanya. Namun ia masih bertanya, “Kalau Kakanda Anusapati dahulu kawin, apakah aku juga harus menghentikan latihan-latihan ini?”

“Hamba tidak tahu pasti perintah tuanku Sri Rajasa kelak. Tetapi hal ini hamba beritahukan, agar tuanku berdua dapat mempersiapkan diri menghadapi masa-masa itu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Ia tidak begitu tertarik kepada ceritera perwira itu. Kapan ia akan kawin, baginya tidak menjadi soal. Sebagai seorang Putera Mahkota, maka ia tidak akan dapat menentukan menurut kehendaknya. Ia tahu, persoalan kawin bagi seorang Putera Mahkota pasti akan ditentukan oleh sidang para pemimpin dan tetua Kerajaan.

Namun demikian, ada juga terkilas dihatinya suatu sikap curiga. Katanya didalam hati, “Mungkin ayahanda Sri Rajasa akan segera mendesak kepada orang-orang tua dan pada pemimpin di Singasari, agar aku segera kawin. Dengan demikian, maka semua persoalan akan segera berubah. Aku tidak akan lagi mendapat latihan, petunjuk dan apa-pun juga, karena aku sudah bukan anak-anak lagi. Sebagai seorang yang telah dewasa, aku harus mencari kelanjutan dari semuanya itu sendiri. Sedang Adinda Tohjaya masih akan mendapat kesempatan jauh lebih lama daripadaku sendiri.”

Ketika Anusapati kemudian bertemu dengan Sumekar, maka ia-pun menceriterakan pula hal itu. Bahkan ia-pun mengatakan pula bahwa ia curiga terhadap keterangan perwira itu. Bukan kepada perwira prajurit itu sendiri, tetapi kepada ayahanda Sri Rajasa.

Tetapi Anusapati menjadi heran, karena ia melihat Sumekar tiba-tiba tersenyum. Bahkan berkata, “Kali ini tuanku tidak usah berprasangka. Tuanku Sri Rajasa barangkali tidak akan sampai pada rencana yang demikian, atau barangkali, suatu hal yang kebetulan saja kalau hal itu menguntungkan bagi tuanku Tohjaya.”

Anusapati menjadi bertambah heran. “Aku tidak mengerti,” desisnya.

“Tuanku. Bukankah tuanku ingat, bahwa hamba baru saja berusaha menemui pamanda tuanku Mahisa Agni untuk membicarakan beberapa masalah mengenai tuanku, juga mengenai Ki Witantra. Didalam pembicaraan yang melingkar-lingkar, maka sampailah kami kepada suatu pembicaraan yang bersungguh-sungguh mengenai diri tuanku. Di antaranya mengenai hari depan tuanku. Tegasnya, pamanda tuanku Mahisa Agni sependapat dengan hamba, bahwa tuanku sebaiknya segera menaiki jenjang perkawinan.”

“Ah.”

“Maaf tuanku.” Sumekar melanjutkannya, “di hari-hari terakhir, hamba telah memberanikan diri menghadap tuanku Permaisuri tanpa diketahui oleh banyak orang. Hamba, sudah tentu berdasarkan atas pembicaraan hamba dengan pamanda tuanku, agar hamba tidak dianggap terlampau tidak tahu diri, telah berani menghadap tuanku Permaisuri, hamba menyampaikan pembicaraan hamba dengan pamanda tuanku Mahisa Agni itu.”

Wajah Anusapati menjadi kemerah-merahan.

“Sudah tentu hamba harus berterus terang, bahwa hamba adalah orang yang mendapat kepercayaan dari pamanda tuanku, yang hamba kira tuanku Permaisuri sudah tahu serba sedikit sejak hamba diterima di istana.”

“Agaknya tuanku Permaisuri sependapat tentang tuanku, sesuai dengan pembicaraan hamba dengan pamanda tuanku Mahisa Agni.”

“Ah, jadi usul itu bersumber dari pamanda Mahisa Agni dan paman Sumekar.”

“Khusus tentang kemungkinan perkawinan tuanku. Agaknya hal ini telah disampaikan oleh tuanku Permaisuri. Hamba tidak tahu, alasan apakah yang kemudian tersembunyi dibalik sikap tuanku Sri Rajasa. Mungkin juga suatu kebetulan, bahwa dengan demikian, ada alasan untuk secara resmi menghentikan semua latihan dan tuntunan bagi tuanku. Sedang bagi tuanku Tohjaya masih harus menunggu beberapa lama lagi.”

Anusapati terdiam untuk beberapa saat. Dan Sumekar-pun mengatakan beberapa alasan, mengapa pamanda Mahisa Agni berpendapat bahwa Putera Mahkota sebaiknya segera mengikat diri didalam perkawinan.

“Tuanku akan mendapatkan kawan berbincang.”

Anusapati tidak menyahut.

“Dan sebenarnya umur tuanku telah jauh dari pada cukup. Umur adinda tuanku Tohjaya telah cukup untuk menaiki jenjang perkawinan. Bahkan sebentar lagi adinda tuanku Mahisa-wonga-teleng akan pantas juga untuk kawin. Karena itu, jangan dianggap bahwa perkawinan adalah sesuatu yang dibuat-buat untuk kepentingan yang kurang wajar.”

“Maaf paman. Aku tidak tahu sebelumnya.”

“Memang masih ada beberapa kesulitan yang akan dihadapi oleh pimpinan Kerajaan dan tetua di Singasari. Untuk menjadi isteri seorang Pangeran Pati, diperlukan seorang Puteri yang pantas, karena ia akan menurunkan raja pula kelak.”

Anusapati tidak menyahut. Sambil duduk tepekur disela-sela pohon-pohon bunga Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyatakan pendapatnya.

“Tuanku,” berkata Sumekar kemudian, “kami berharap bahwa tuanku tidak berkeberatan, apabila nanti sampai pada suatu tingkat yang bersungguh-sungguh tentang perkawinan ini. Memang mungkin semuanya akan segera dihentikan. Latihan-latihan tuntunan-tuntunan dan segala macam petunjuk tentang ilmu pengetahuan dan ilmu kanuragan. Tetapi bukankah sebenarnya tuanku telah memilikinya hampir lengkap. Bahkan tuanku akan mendapat kesempatan mematangkan ilmu itu secara terbuka. Tuanku akan mendapat kesempatan untuk mematangkan ilmu tuanku, seperti yang memang harus tuanku lakukan. Sudah barang tentu tanpa dilihat oleh orang lain, bahwa sebenarnya tuanku memang tidak memerlukan seorang gurupun.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang ia merasa, bahwa umurnya selalu merayap naik. Tohjaya-pun menjadi semakin dewasa disusul oleh adiknya Mahisa-wonga-teleng.

Adalah suatu saat dimana ia harus menjalaninya. Perkawinan.

“Mudah-mudahan pamanda tuanku Mahisa Agni pada suatu saat, akan ikut serta menentukan saat-saat itu bagi tuanku. Bahkan mungkin lebih dari itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun hatinya masih tergetar mendengar kata-kata itu, tetapi ada juga terselip suatu harapan, bahwa perkawinan akan dapat merubah keadaannya.

“Yang menjadi soal kemudian,” katanya di dalam hati, “siapakah bakal isteriku itu?”

Dan ternyata bahwa bakal isteri Anusapati itulah yang sulit.

Ibunda Permaisuri sependapat, mudah-mudahan perkawinan akan dapat memberikan suatu bentuk kehidupan baru bagi Anusapati. Meskipun ia terasing dari keluarga istana Singasari, namun ia akan mendapat ketenangan di dalam suatu keluarga baru yang akan disusun itu.

Ken Dedes yang melihat kesepian yang dalam membayang didalam kehidupan puteranya menjadi cemas, bahwa pada suatu saat Anusapati akan menilai dirinya sendiri. Kadang-kadang, kecemasan Ken Dedes itu hampir tidak tertahankan lagi. Apalagi apabila Anusapati mengeluh kepadanya, bahwa perlakuan Sri Rajasa atas dirinya dan Tohjaya jauh berbeda.

“Kenapa ibu?” pada suatu saat Anusapati pernah bertanya kepadanya.

“Aku tidak tahu Anusapati. Mungkin karena Ken Umang lebih cantik dan lebih muda dari padaku.”

“Hanya itu? Lalu, ayahanda Sri Rajasa menumpahkan kekecewaannya itu kepada hamba?”

Ken Dedes tidak dapat menjawab lagi. Hanya kepalanya sajalah yang ditundukkannya dan setitik air mata telah membasah dipelupuknya.

“Maaf ibu,” desis Anusapati setiap kali, “hamba tidak bermaksud menyakiti hati ibunda. Hamba hanya sekedar ingin tahu, karena Putera-putera ibunda yang lain, tidak juga diperlakukan seperti hamba. Maksud hamba, bukan salah ibunda bahwa hamba diperlakukan begini. Jika salah ibunda, seperti yang ibunda katakan, pasti bukan hamba saja yang dibenci oleh tuanku Sri Rajasa. Tetapi pasti juga adik-adik hamba. Karena itulah hamba ingin mendengar ibunda menunjuk kesalahan hamba. Apakah hamba terlampau nakal di masa kecil, apakah hamba kurang sopan dan tidak menurut titah ayahanda, atau kesalahan-lahan yang lain?”

Titik-titik air mata Permaisuri justru semakin deras. Sehingga setiap kali Anusapati tidak dapat mendesaknya lagi. Ia merasa bahwa setiap kali ia telah melukai hati ibunya. Dan pada suatu saat ia tidak berniat untuk bertanya lagi tentang dirinya.

“Apa-pun yang terjadi atas diriku, apa-pun anggapan Sri Rajasa atasku, biarlah semuanya aku tanggungkan.”

Kini Ibunda Permaisuri itu telah bersepakat untuk mengawinkannya. Didalam hal ini, ibunda Permaisuri dan Ayahanda Sri Rajasa agaknya telah sependapat, bahwa kawin adalah suatu cara yang baik untuk kepentingan mereka masing-masing. Ibunda mengharap ia mendapat ketenangan, sedang ayahanda mengharap bahwa dengan demikian semua pintu kemajuan didalam berbagai macam pengetahuan telah tertutup. Setidak-tidaknya akan terlambat karenanya.

Meskipun berbeda kepentingan, tetapi mereka dapat bertemu pada suatu rencana tentang dirinya.

Anusapati sendiri yang sudah jemu dengan kehidupan yang sekarang sedang berlangsung, memang mengharapkan suatu perubahan. Perkawinan akan dapat menimbulkan perubahan. Seperti orang yang jemu hidup di dalam suatu lingkungan, ia ingin meloncat kedalam suatu lingkungan yang lain, Meskipun ia belum tahu, apakah yang ada di dalam dunia yang baru itu. Apakah keadaannya akan menjadi kian baik atau justru sebaliknya.

Agaknya rencana perkawinannya itu berjalan terus. Bahkan pada suatu saat, ibunda Permaisuri memohon kepada Sri Rajasa untuk memanggil Mahisa Agni.

“Kenapa Mahisa Agni?” bertanya Sri Rajasa.

“Bukankah ia pamannya? Satu-satunya keluarga hamba yang masih ada. Ia akan dapat memberikan beberapa petunjuk dan barangkali pendapat yang berguna bagi Anusapati.”

Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebenarnya ia tidak memerlukan Mahisa Agni. Ia dapat mengawinkan tanpa memanggil Mahisa Agni. Ia dapat menemukan gadis manapun juga bagi Anusapati. Ia dapat tanpa menghiraukan hari depan Putera Mahkota itu memilih siapa-pun diseluruh Singasari tanpa ada orang yang dapat melarang dan menolak.

Tetapi Ken Dedes memerlukannya.

Bagaimana-pun juga Ken Arok masih harus mempertimbangkan pendapat Ken Dedes. Ia tidak dapat ingkar, bahwa di dalam hatinya, ada kecenderungan untuk tunduk kepada pendapat Permaisurinya. Ia tidak dapat melupakan penglihatannya, bahwa tubuh Permaisurinya seakan-akan menyala di saat ia masih menjadi isteri Tunggul Ametung, dan bahkan kadang-kadang masih juga dilihatnya di dalam keadaan yang khusus. Kalau Ken Dedes tampak sedang merenungi keadaannya sedemikian dalamnya, masih juga tampak oleh Ken Arok, kelebihan Ken Dedes dari perempuan-perempuan lain. Tetapi apabila ia sudah berada didekat Ken Umang yang berdarah hangat itu, maka semuanya itu sudah dilupakannya. Ken Dedes seakan-akan sudah tidak banyak mempunyai arti lagi baginya.

Apalagi apabila dilihatnya wajah Anusapati yang seakan-akan selalu dibayangi oleh wajah Tunggul Ametung, maka kebenciannya kepada anak itu seakan-akan telah membakar jantungnya. Bahkan kadang-kadang hampir tidak terkekang.

Demikianlah, maka pada suatu saat seorang utusan telah berpacu ke Kediri untuk memanggil Mahisa Agni. Sumekar yang mengetahui keberangkatan utusan itu-pun segera berusaha menyampaikannya kepada Anusapati.

“Tuanku, utusan itu telah berangkat. Ada beberapa kepentingan yang dapat tuanku petik dari kunjungan pamanda tuanku itu,” berkata Sumekar kepada Anusapati.

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah tentu ia akan memanfaatkan kunjungan Mahisa Agni ini sebaik-baiknya.

Ketika kemudian Mahisa Agni benar-benar telah datang di Istana Singasari, setelah menghadap Sri Rajasa serta Permaisuri, barulah Mahisa Agni dapat menemui Anusapati.

Tetapi yang ditanyakan oleh Anusapati yang pertama-tama adalah, “Apakah pamanda mengenal tata gerak ayahanda Sri Rajasa sebaik-baiknya?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam.

“Tuanku Putera Mahkota,” berkata Mahisa Agni, “kenapakah tuanku bertanya pertama-tama tentang olah kanuragan? Kenapa tuanku tidak bertanya tentang keselamatan pamanda, atau tentang pemerintahan di Kediri, atau tentang perintah ayahanda tuanku Sri Rajasa yang telah memanggil hamba kembali ke Singasari?”

“O,” Anusapati menundukkan kepalanya.

“Seharusnya tuanku sebagai Putera Mahkota bertanya, “Bagaimanakah pemerintahan yang ada di Kediri? Bagaimanakah kadang sentana Kediri memerintah dan bagaimana hamba mendampinginya?”

“Maaf paman,” desis Anusapati. Kepalanya masih tertunduk dalam-dalam.

Tetapi Mahisa Agni kemudian tertawa, “Sudahlah Anusapati,” katanya, “aku tahu, kenapa kau pertama-tama bertanya tentang olah kanuragan. Aku sudah berpapasan dengan Sumekar. Dan Sumekar sudah mengatakannya serba sedikit.”

Anusapati menengadahkan wajahnya. Ketika dilihatnya Mahisa Agni tersenyum, maka wajah Anusapati-pun menjadi sedikit terang.

“Aku tahu, bahwa kau menyimpan teka-teki tentang tata gerak yang berhasil kau tangkap dari Tohjaya. Bukankah begitu?”

“Ya paman.”

“Selebihnya aku belum tahu. Aku hanya berpapasan dengan Sumekar di halaman. Aku berhenti sejenak, dan Sumekar-pun berjongkok di samping batang-batang soka putih. Kami tidak dapat berbicara banyak.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Begitulah paman. Aku melihat tata gerak yang asing pada Adinda Tohjaya yang tanpa disadarinya telah terlontar di dalam suatu latihan yang khusus menurut keinginannya, tetapi tidak aku layani.”

“Aku ingin melihat beberapa macam tata gerak itu kelak.”

“Apakah pamanda Mahisa Agni masih akan tetap tinggal di istana ini beberapa lama?”

“Ya. Aku akan tetan tinggal di sini. Ayahanda Sri Rajasa dan ibunda Permaisuri memerlukan aku. Kami akan membicarakan masa depanmu. Bukankah kau sudah mendengar bahwa ayahanda dan ibunda menginginkan kau segera kawin? Kau sudah cukup dewasa. Bahkan terlampau dewasa.”

“Ya paman. Hamba pernah mendengar. Bahkan pelatih hamba pernah memberitahukan kepada hamba bahwa latihan akan segera dihentikan apabila hamba telah kawin.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Paman,” berkata Anusapati kemudian dengan nada rendah, “apakah hal itu suatu kebetulan ataukah suatu kesengajaan, agar Adinda Tohjaya mendapat kesempatan jauh lebih banyak dari hamba?”

“Tidak Anusapati. Itu sama sekali bukan kesengajaan. Terutama ibumu dan aku, salah seorang yang ikut menganjurkan agar kau segera mendapat kawan hidup yang dekat.” Mahisa Agni berhenti sejenak, lalu “terimalah persoalan ini dengan hati terbuka.”

Anusapati menundukkan kepalanya.

“Tetapi, Meskipun demikian, kau memang harus tetap berhati-hati menghadapi keadaan di sekelilingmu. Kau sudah cukup masak untuk menilai keadaanmu di sini. Beberapa tahun yang lalu, aku tidak pernah mengatakan kepadamu, bahwa kau hidup di tengah-engah semak yang berduri. Tetapi sekarang aku tidak dapat membohongi kau lagi dengan kata-kata hiburan dan harapan-harapan.”

“Ya paman. Aku merasakan. Dan karena itulah aku selalu dibayangi oleh kecurigaan. Seperti saat-saat perkawinan ini, seolah-olah merupakan suatu sarana untuk menghentikan kegiatanku sama sekali dan memberi kesempatan kepada Adinda Tohjaya untuk maju terus.”

“Jika demikian, biarlah. Bukankah kau sudah memiliki bekal yang jauh, jauh sekali, lebih banyak dari Tohjaya. Kecuali kalau kau berhenti sama sekali berlatih, maka pada suatu saat yang lama sekali, Tohjaya akan dapat menyusulmu. Tetapi kalau kau masih juga berusaha maju, maka sampai akhir jaman, Tohjaya tidak akan menyusul kau. Seandainya pada suatu saat diadakan sayembara tanding, siapa yang menang akan ditetapkan menjadi Putera Mahkota yang sebenarnya, kau tidak akan dapat dikalahkan dengan cara apa-pun juga.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Akan tetapi ia kemudian berkata, “Paman. Adinda Tohjaya yang agaknya baru beberapa lama benar-benar mendalami ilmunya itu, ia sudah dapat melepaskan serangan-angan yang aneh dan berbahaya.”

“Mungkin ia dapat mempelajari itu dengan loncatan yang jauh. Ilmu yang diserapnya itu memang berbahaya, tetapi juga berbahaya bagi dirinya sendiri. Karena dengan demikian tidak ada keseimbangan. Perkembangan maju ilmunya jauh mendahului perkembangan kekuatan jasmaniahnya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Nah Anusapati, pada suatu saat kau akan menunjukkan tata gerak itu kepadaku. Tetapi barangkali sekarang kau dapat menunjukkan sikap dari tangan dan kakinya.”

Anusapati ragu-ragu sejenak. Tetapi bangsal itu kosong. Selain ia dan pamannya tidak ada orang lain di dalam bangsal itu. Embannya-pun tidak ada.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...