*BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-13-02*
Karya. : SH Mintardja
Agaknya hal itu pulalah yang membuat Tohjaya menjadi seorang yang merasa dirinya memiliki beberapa kelebihan yang tersembunyi. Dan itu pulalah yang membuat gurunya merasa, bahwa ia masih belum berhasil membersihkan murid-muridnya dari pengaruh gurunya yang sudah meninggal itu.
Namun perwira prajurit, yang sekaligus paman Tohjaya itu sama sekali tidak mengetahui, bahwa sebenarnya kedua muridnya adalah anak-anak muda yang memiliki guru yang lain. Tetapi karena Anusapati telah jauh lebih masak dari Tohjaya, maka Anusapati lebih banyak dapat membawakan dirinya di dalam olah kanuragan. Apalagi sifat-sifat sombong Tohjaya agaknya tak sesuai dengan usaha ayahandanya untuk menyembunyikan kemampuannya yang didapatkannya dari Empu Werdi.
Demikianlah, maka pada saat yang ditentukan itu, di arena latihan, Tohjaya telah siap mendahului gurunya dan Anusapati. Dengan kesal ia berjalan hilir mudik di dalam arena latihan. Kedua pengawalnya sama sekali tidak berani menegurnya. Mereka hanya berdiri saja seakan-akan membeku di atas rerumputan.
“Mereka adalah orang-orang yang malas.” Tohjaya menggeram, “matahari sudah hampir tenggelam, dan mereka masih belum datang.”
Hampir saja salah seorang pengawalnya menyahut, bahwa matahari masih terlampau tinggi untuk disebutkan senja, tetapi niat itu diurungkannya. Pengawalnya sadar, bahwa Tohjaya pasti akan membentaknnya apabila kata-kata itu terlontar dari mulutnya.
Namun beberapa saat kemudian, maka gurunya-pun telah hadir pula di tempat itu, disusul justru oleh Mahisa-wonga-teleng bersama-sama dengan adiknya, dan gurunya.
“Apakah Kakanda Anusapati tidak berani hadir di dalam latihan ini,” tiba-tiba saja suara Tohjaya melengking.
Semua orang yang ada di tempat itu memandangnya dengan heran. Kenapa ia menjadi gelisah. Bahkan hampir tidak sabar menunggu kedatangan Anusapati?
Tohjaya sama sekali tidak menghiraukan ketika dikejauhan seorang juru taman lewat sambil menjinjing sebatang bumbung yang panjang. Kemudian menuangkannya pada batang-batang pepohonan. Agaknya juru taman itu agak terlampau lambat melakukan tugasnya hari ini. Biasanya semuanya sudah selesai beberapa saat sebelumnya. Yang terakhir dilakukan adalah menyiram pepohonan di dalam taman. Namun agaknya hari ini, juru taman itu membuat acara yang agak berbeda, ia menyiram tanaman-tanaman yang ada di dalam taman dahulu, sementara kawan-kawannya membersihkannya, menyapu dan menyisihkan daun-daun yang lepas dari tangkainya dan mengotori halaman petamanan. Sedang kawannya yang lain lagi sedang menggali lubang untuk menanam kotoran-kotoran, daun-daun kering dan ranting-rating yang terpotong. Dan kemudian menimbunnya kembali.
Juru taman yang membawa bumbung bambu itu adalah Sumekar.
Baru sejenak kemudian, maka dengan tenang Anusapati memasuki tempat latihan itu. Sambil tersenyum ia menganggukkan kepalanya kepada mereka yang lelah mendahului hadir.
Meskipun sikap Anusapati itu adalah sikap yang wajar, seperti sikapnya setiap hari, namun kali ini terasa di dada Tohjaya bagaikan hentakan-akan yang keras, seolah-olah Anusapati itu sengaja membuatnya marah.
Namun demikian dengan segala usaha Tohjaya menahan hatinya yang serasa akan meledak.
“Marilah Kakanda Anusapati,” dipaksanya bibirnya untuk tersenyum, “kami sudah menunggu. Sekian banyak orang di sini telah berdiri termangu-mangu hanya karena kakanda seorang.”
Anusapati tertawa. Katanya, “Terima kasih. Aku minta maaf, bahwa aku datang terakhir Meskipun belum terlambat.”
“Matahari sudah hampir terbenam.”
Anusapati menengadahkan wajahnya. Ditatapnya cahaya yang memang sudah mulai kemerah-merahan dilangit.
“Aku tidak menyangka bahwa adinda sekalian dan gurunya telah berada di sini. Baru saja kami mengunjungi latihan mereka, kini kita sudah mendapat kunjungan balasan.”
“Aku telah mengundang mereka,” sahut Tohjaya.
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun bibirnya masih tersenyum, namun sebenarnya hatinya telah bergolak pula. Ternyata begitu cepatnya Tohjaya berusaha menebus kegagalannya. Kali ini Tohjaya pasti berusaha sejauh-jauh dapat di lakukan untuk menunjukkan kelebihan dan keunggulannya.”
“Apa yang harus aku lakukan? “ pertanyaan itu selalu membayangi Anusapati. Meskipun ia berusaha untuk tetap menyembunyikannya.
“Kita akan mengadakan latihan khusus kakanda,” berkata Tohjaya, “adinda semuanya akan menyaksikan, apakah kita yang tua-tua ini telah benar-benar menguasai ilmu yang sedikit lebih baik dari mereka. Apakah Putera Mahkota Singasari adalah seorang dari antara putera Ayahanda Sri Rajasa yang memiliki bekal yang cukup kelak untuk memangku jabatan ayahanda sekarang. Dengan demikian mereka akan mendapatkan kebanggaan. Kita yang tua ternyata telah menunjukkan kemampuan yang dapat mereka contoh di masa datang.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Dipandanginya wajah gurunya sejenak. Kemudian guru adik-adiknya, dan berganti-ganti wajah-wajah Mahisa-wonga-teleng, Saprang dan yang lain-lain. Kini ia merasa benar-benar dihadapkan pada suatu kesulitan yang mungkin tidak teratasi lagi.
Namun dalam pada itu, pelatihnya berkata, “Tuanku berdua. Hamba akan menentukan latihan yang pantas tuanku lakukan saat ini. Hamba akan menentukan unsur-unsur gerak yang harus tuanku lakukan di dalam latihan-latihan ini. Unsur-unsur gerak yang tidak akan banyak berpengaruh dan apalagi membingungkan bagi adinda tuanku yang hadir disini.”
“Hamba akan berterima kasih tuanku, apabila guru tuanku berkenan malakukannya. Hamba menjadi bimbang, apakah tata gerak yang terlampau sulit tidak akan justru membingungkan murid-murid hamba yang seakan-akan baru mulai. Apalagi mungkin sekali cara yang hamba tempuh agak berbeda dari cara-cara yang berlaku disini, karena kami tidak seperguruan dengan saluran yang mengalir kepada tuanku berdua.” Sela Guru Mahisa-wonga-teleng.
“Ah,” desis Tohjaya, “kalian terlampau mempersulit diri. Yang sukar, yang merusak, yang tidak sesuai, yang ini, yang itu dan yang segala macam keragu-raguan dan kebimbangan itu boleh dibuang jauh-jauh. Anggaplah mereka menyaksikan suatu pertarungan di arena.”
“Jika demikian, maka apakah maksud tuanku memanggil adinda tuanku semuanya untuk mendapatkan pengalaman di dalam tata gerak dan oleh kanuragan? Jika tuanku bersedia melakukan tata gerak yang sederhana, yang masih berada di dalam jangkauan nalar dan kemampuan murid-murid hamba, maka alangkah berterima kasihnya hamba dan adinda tuanku semuanya.”
“Persetan,” Tohjaya hampir tidak dapat menahan hatinya lagi. Namun kemudian suaranya menurun, “aku akan melakukannya. Marilah kakang Anusapati. Kita bermaksud baik. Jangan hiraukan pendapat-pendapat cengeng serupa itu.”
Anusapati mengangguk-angguklkan kepalanya. Tetapi ia kemudian berkata, “Adinda Tohjaya. Kita masih tetap berada di bawah asuhan seorang guru.”
“Ya. Guru kita ada disini. Di arena latihan Adinda Mahisa-wonga-teleng kakanda berkeberatan karena di sana tidak ada guru kita yang dapat mengawasi latihan itu. Tetapi sekarang guru kita ada di sini. Apalagi alasan kakanda?”
“Kalau guru kita ada, maka guru kita akan menentukan sesuatu. Seharusnya kita menurut apa yang diperintahkannya.”
“Ah. Kenapa semua orang seakan-akan telah dibius oleh keragu-raguan, kebimbangan dan ketidak pastian. Seolah-olah masa depan kita terlampau tergantung sekali kepada guru-guru kita itu? Mereka adalah perwira-perwira prajurit yang mendapat tugas membimbing kita. sesuai dengan perintah Ayahanda Sri Rajasa. Tetapi kita tetap memiliki kebebasan, sebagai seorang putera Maharaja. Kenapa Kakanda Anusapati selalu ragu-ragu? Kenapa Kakanda Anusapati seakan-akan tergantung sekali hanya kepada seorang perwira prajurit. Seorang diantara sekian ratus orang.
“Ah,” potong Anusapati, “adinda agak terdorong kata. Tetapi biarlah aku minta maaf kepada kedua perwira yang hadir di sini. Saat ini mereka sedang mengemban perintah Ayahanda Sri Rajasa. Dengan demikian kita harus menghormati mereka seperti kita menghormati Ayahanda Sri Rajasa sendiri, karena mereka kini membawa limpahan wewenangnya.”
Tohjaya mengerutkan keningnya sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan bertanggung jawab. Marilah Kakanda Anusapati. Kita mengadakan latihan khusus kali ini.”
Anusapati mengangguk. Jawabnya, “Aku tidak berkeberatan. Tetapi guru kita akan memberikan batasan-batasan, sampai dimana kita boleh mempergunakan unsur-unsur gerak yang sudah kita pelajari.”
“Itu tidak perlu. Aku tidak memerlukan. Aku menghendaki latihan khusus yang bebas. Tidak ada yang akan dapat merintanginya.”
Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Agaknya Tohjaya telah kehilangan pengamatan diri, sehingga ia tidak dapat mendengarkan lagi pendapat orang lain. Nafsunya telah melonjak sampai ke ubun-ubunnya untuk segera dapat mengalahkan Anusapati dihadapan beberapa orang saksi. Dan kali ini saksi yang dipilihnya adalah adik-adiknya. Kalau ia berhasil mengalahkan Anusapati dengan cara yang meyakinkan, maka adik-adiknya pasti akan menilainya jauh lebih baik dari Anusapati, meskipun Anusapati mengemban gelar Putera Mahkota. Dan adik-adiknya itu pasti akan berbincang di antara mereka, “Kenapa bukan Kakanda Tohjaya saja yang menjadi Putera Mahkota?”
Adik-adiknya akan tahu, hanya karena Anusapati lahir lebih dahulu dan kebetulan ia lahir dari isteri pertama Ken Arok sajalah, maka ia mendapat gelar dan kedudukan sebagai Pangeran Pati. Namun kemampuannya sama sekali tidak melampaui adiknya, Tohjaya meskipun ia tidak mendapatkan gelar itu.
Demikianlah maka Tohjaya yang sudah tidak dapat dikekang lagi itu maju ketengah-engah arena. Sambil melemparkan pedangnya kepada para pengawalnya ia berkata, “Kita berlatih tanpa senjata apapun.”
Anusapati masih tetap berdiri diam ditempatnya. Ia memang tidak pernah membawa senjata apapun, apalagi didalam istana. Hanya disaat-saat tertentu, justru apabila tidak dilihat orang, ia berlatih mempergunakan senjata, kadang-kadang jauh di luar istana bersama Sumekar.
“Marilah kakang Anusapati.” suara Tohjaya menjadi semakin keras.
Ternyata sikapnya telah membuat adik-adiknya menjadi berdebar-debar. Bagaimana-pun juga terasa oleh mereka, bahwa suasananya sama sekali tidak menyenangkan. Bukan suasana latihan yang akrab dari dua orang bersaudara. Tetapi seolah-olah mereka berada di dalam perguruan yang dipenuhi oleh kedengkian dan iri hati.
Sikap Tohjaya itu sama sekali tidak menumbuhkan kebanggaan apa-pun bagi adik-adiknya. Bahkan adiknya yang dilahirkan oleh ibu yang sama. Meskipun mereka tidak menyatakan sesuatu, tetapi mereka menganggap bahwa sikap itu sudah agak berlebih-lebihan.
Tetapi Tohjaya sendiri tidak mampu menilai sikapnya. Ia menganggap bahwa ia sudah berbuat sebaik-baiknya untuk menyatakan kelebihannya.
Karena itu, maka ia berkata selanjutnya, “Kakanda Anusapati. Kenapa kakanda masih tetap diam?”
“Aku menunggu perintah guru.”
Dengan wajah yang tegang Tohjaya berpaling kepada gurunya dan berkata, “berilah perintah.”
Tetapi gurunya menggelengkan kepalanya, “Bukan begitu caranya tuanku, Hamba tidak bertanggung jawab apabila jalan itu yang akan tuanku pilih.”
“Aku yang akan mempertanggung jawabkan.”
Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Tohjaya adalah putera Sri Rajasa yang terdekat. Dan Sri Rajasa akan dapat berbuat apa saja terhadap siapa-pun juga. Bukan saja karena kekuasaannya yang tak terbatas, tetapi ia adalah seorang yang tidak terkalahkan.”
Karena itu, maka gurunya tidak dapat berbuat lebih banyak lagi. Ia sudah berusaha mencegah. Tetapi karena Tohjaya tetap pada pendiriannya, maka gurunya hanya dapat menyaksikan apa yang akan terjadi dengan dada yang berdebar-debar. Namun demikian, apabila keadaan berkembang semakin buruk, maka ia tidak akan dapat tetap berdiam diri. Apapun yang akan terjadi atasnya. Meskipun seandainya Sri Rajasa menganggapnya bersalah.
Namun untuk sementara ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya dapat menyaksikan kedua putera Sri Rajasa dalam sikapnya yang berbeda-beda.
“Marilah kakanda. Silahkan bersiap. Aku akan segera mulai.”
Tetapi Anusapati menggelengkan kepalanya, “Aku tidak mendapat perintah guru.”
“Peduli dengan prajurit itu. Marilah kita mulai.” Tohjaya berhenti sejenak, lalu “aku akan mulai. Apakah kakanda bersiap atau tidak. Aku sudah memberitahukannya. Bukan salahku kalau seranganku yang pertama akan bersarang di dada kakanda.”
Tohjaya tidak menunggu jawaban Anusapati. Beberapa langkah ia maju mendekat. Kemudian tiba-tiba saja serangannya meluncur dengan cepatnya. Benar-benar mengarah ke dada Anusapati.
Meskipun Anusapati masih tetap berdiri diam, namun ia sudah menduga, bahwa Tohjaya benar-benar akan menyerangnya. Karena itu, maka ia-pun segera meloncat mengelakkan serangan itu. Namun demikian ia masih berusaha mencegahnya, “Jangan Adinda Tohjaya.”
Tetapi Tohjaya tidak mempedulikannya. Ia telah menyerang pula dengan lincahnya. Namun dengan unsur-unsur gerak yang telah dipelajarinya, ia-pun segera mengelakkan diri pula.
Tohjaya menjadi semakin bernafsu. Serangannya sama sekali tidak menyentuh Anusapati, sehingga ia berusaha bergerak semakin cepat.
Anusapati menjadi berdebar-debar. Sejenak ia menjadi bingung, apakah yang akan dilakukannya. Namun demikian ia masih belum membalasnya sama sekali. Ia masih saja berloncatan menghindar kian kemari.
Namun sikap itu telah membuat Tohjaya menjadi semakin bernafsu. Tanpa membalas serangan-angannya, Anusapati masih saja berhasil menghindarkan dirinya. Bahkan kadang-kadang dengan kecepatan yang mengherankan, melampaui kecepatan serangannya.
Karena nafsunya yang semakin melonjak, maka Tohjaya kurang dapat mengendalikan tata geraknya. Tanpa disadarinya, didorong oleh gejolak perasaannya, ia telah mempergunakan unsur-unsur gerak yang lain dari unsur-unsur gerak yang dipelajarinya dari perwira itu. Justru karena Tohjaya masih belum matang, maka sulitlah baginya untuk menyaring dengan cermat tata gerak dari dua perguruan yang berbeda yang sudah dimilikinya.
Ternyata mata Anusapati yang tajam, dan kematangannya yang jauh lebih tinggi dari Tohjaya, ia dapat menangkap tata gerak yang lain itu.
Terasa debar yang cepat menyentuh jantung Anusapati. Karena itu, tiba-tiba saja ia ingin meyakinkannya. Apakah bukan sekedar suatu kebetulan bahwa Tohjaya telah mempergunakan unsur gerak yang lain itu.
Dengan demikian, maka Anusapati-pun tidak segera berusaha menahan serangan Tohjaya. Ia masih meloncat-loncat menghindar. Karena serangan Tohjaya semakin cepat, maka gerak Anusapati-pun menjadi semakin cepat pula.
Ternyata di dalam tata gerak selanjutnya, kelainan itu menjadi semakin jelas. Nafsu Tohjaya yang melonjak-lonjak benar-benar telah mendesaknya untuk mempergunakan segenap kecakapan yang ada padanya.
Bukan saja Anusapati, tetapi gurunya-pun kemudian melihat dengan jelas, tata gerak yang bersumber pada gerak-gerak dasar yang lain pada Tohjaya. Dengan demikian maka dadanya menjadi kian berdebar-debar. Kini ia sadar, bahwa sebenarnya Tohjaya tidak hanya sekedar berguru kepadanya, tetapi di luar pengetahuannya ia sudah berguru kepada orang lain.
“Apakah Sri Rajasa sendiri sudah memberikan unsur-unsur gerak dasar kepada puteranya itu?” pertanyaan itu telah merayap di dalam hatinya. Ia belum pernah melihat Sri Rajasa bertempur. Baik di dalam perang tanding, maupun di dalam peperangan. Karena itu, ia tidak dapat mengatakan, apakah unsur-unsur gerak itu bersumber pada ayahanda Sri Rajasa.
Pertanyaan yang serupa telah bergetar di dalam dada Anusapati pula. Seperti gurunya, ia belum pernah melihat ayahanda bertempur atau berkelahi di dalam perang tanding. Itulah sebabnya maka ia-pun tidak dapat mengatakan, darimanakah Tohjaya menemukan unsur-unsur tata gerak itu.
Tetapi, supaya Tohjaya tidak menjadi semakin garang, Anusapati benar-benar tidak membalas setiap serangan. Ia hanya sekedar menghindar dan memancing serangan-angan Tohjaya. Dengan cermat ia mencoba mengamati tata gerak yang telah menumbuhkan persoalan di dalam hatinya itu. Ia berniat untuk mencoba menangkapnya dan menanyakannya kepada orang-orang yang pernah melihat atau mengenal tata gerak Sri Rajasa.
Demikianlah Tohjaya yang semakin bernafsu itu menjadi semakin cepat menyerang Anusapati dengan tidak menghiraukan lagi tata geraknya. Bahkan seolah-olah Tohjaya tidak lagi .sedang menghadapi lawan di dalam latihan.
Adik-adik mereka yang sedang bertempur itu melihat dengan penuh kekaguman. Mereka melihat tata gerak yang cepat dan sulit. Meskipun mereka belum banyak menguasai ilmu serupa itu, tetapi mereka dapat merasakan, bahwa latihan itu sama gekali tidak berimbang. Bukan karena Tohjaya jauh melampaui kemampuan Anusapati, tetapi justru karena Anusapati masih tampak segan dan tidak pernah melakukan serangan-angan. Apalagi guru adik-adik Anusapati itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia menyadari, bahwa sebenarnyalah niat Tohjaya untuk mengadakan latihan itu sama sekali tidak jujur dan sekedar didorong oleh keinginannya untuk menunjukkan kelebihannya.
Tetapi kali ini Anusapati ternyata masih berhasil menanggapinya dengan tepat. Meskipun ia sama sekali tidak membalas serangan Tohjaya, namun ia sudah memperlihatkan kemampuannya yang seimbang. Bahkan ia masih tetap dapat memelihara tata geraknya, Meskipun kadang-kadang juga menumbuhkan keheranan pada gurunya. Meskipun Anusapati tidak menyimpang, tetapi kecepatannya mengimbangi gerak Tohjaya hampir tidak dapat dimengerti oleh gurunya.
Namun demikian guru Mahisa-wonga-teleng sama sekali tidak mengerti Tohjaya telah menumbuhkan persoalan dihati gurunya. Ia tidak mengerti, apa saja yang sudah diberikan oleh gurunya dan bagaimana ia berlatih setiap hari.
Karena kematangan sikap Anusapati yang hampir sempurna, maka ia-pun segera dapat menangkap beberapa macam tata gerak adiknya. Ia telah berhasil mengingat dan mengenal watak beberapa daripadanya sehingga pada saatnya ia akan dapat menanyakan kepada seseorang yang pernah melihat Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu bertempur.
Dengan demkian, maka Anusapati-pun menganggap bahwa latihan itu tidak akan perlu lagi diteruskan. Karena itu, maka ia-pun kemudian berkata, “Adinda Tohjaya, kenapa kau masih juga menyerang terus? Sudah aku katakan, bahwa aku tidak dapat ikut di dalam latihan serupa ini tanpa perintah guru kita.”
Tetapi Tohjaya tidak menghiraukannya. Ia menyerang semakin cepat. Ia pasti akan menyesal sekali kalau ia tidak berhasil mengalahkan Anusapati dengan meyakinkan, sehingga adik-adiknya yang masih belum banyak berpengalaman itu tahu benar-benar, bahwa ia memang berhasil memenangkan latihan itu. Adik-adiknya harus tahu, bahwa ia mempunyai beberapa kelebihan dari Anusapati.
Tetapi Anusapati sama sekali tidak melakukan perlawanan. Ia hanya mengelak sambil berloncatan kian kemari diarena.
“Adinda Tohjaya, berhentilah!”
Tohjaya menggeram, “Tidak. Aku tidak akan berhenti.”
“Aku akan berhenti.”
“Aku tidak peduli.”
Anusapati itu-pun tiba-tiba meloncat menjauhi Tohjaya beberapa langkah, sehingga ia berdiri tepat di pinggir arena.
Sambil mengacukan kedua tangannya ia berkata, “Sudahlah. Sudahlah. Aku tidak akan melakukannya.”
Tohjaya memang terganggu sejenak. Ditatapnya wajah Anusapati dengan tajamnya. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan terus.”
“Jangan. Guru kita tidak memerintahkan latihan serupa ini.”
“Aku tidak peduli. Aku adalah putera Sri Rajasa yang mempunyai wewenang.”
“Aku adalah Putera Mahkota. Selain Sri Rajasa, perintahku harus diturut,” berkata Anusapati tiba-tiba.
Tohjaya terkejut mendengar kata-kata Anusapati itu. Sejenak ia berdiri termangu-mangu dengan wajah yang tegang.
Ternyata kata-kata Anusapati itu telah menggetarkan setiap dada. Bukan saja Tohjaya, namun adik-adiknya dan para pelatih yang ada di tempat itu merasakan, betapa besar pengaruh wibawa jabatan Anusapati itu. Apalagi tanpa mereka sangka-sangka, mereka tiba-tiba saja di hadapkan pada pengaruh jabatan itu.
Tetapi ketika Tohjaya menyadari keadaannya, maka ia-pun kemudian berkata, “Kakanda Anusapati, kakanda jangan bersembunyi di belakang gelar dan jabatan kakanda itu. Kita harus meyakinkan diri, siapakah sebenarnya yang lebih unggul diantara kita. Memang Kakanda Anusapati adalah Putera Mahkota. Tetapi apakah kakanda sudah sepantasnya memegang jabatan itu. Pangeran Pati adalah jabatan tertinggi dibawah Ayahanda Sri Rajasa. Tetapi apakah demikian pula kemampuan kakanda?”
Debar dada Anusapati menjadi semakin cepat, ia sudah mempertaruhkan gelar itu. Tetapi agaknya Tohjaya benar-benar sudah bermata gelap.
“Nah kakanda. Untuk menunjukkan bahwa kakanda benar-benar seorang Putera Mahkota, maka sekarang adalah waktunya yang tepat, sehingga adik-adik kita tidak akan menjadi ragu-ragu lagi.”
Anusapati masih tetap berdiam diri. Dan Tohjaya berkata selanjutnya, “Bersiaplah kakanda. Aku akan segera mulai lagi.”
Dalam waktu yang pendek itu Anusapati harus memeras otaknya. Apakah sebaiknya yang dilakukannya? Apakah ia harus menghindar saja terus-menerus, atau ia akan mengambil sikap lain.
Sejenak kemudian Anusapati sudah melihat Tohjaya mulai menyerang. Benar-benar sebuah serangan yang berbahaya.
Adik-adiknya dan kedua pelatih yang menyaksikannya mengerutkan leher mereka. Tampaknya Anusapati masih belum siap menghadapi keadaan itu.
Sejenak kemudian Mahisa-wonga-teleng dan adik-adiknya terpaksa memejamkan mata mereka. Mereka melihat serangan Tohjaya mengenai sasarannya. Kaki Tohjaya langsung menghantam dada Anusapati sehingga Anusapati terdorong beberapa langkah dan terbanting jatuh.
Dalam waktu yang singkat, Anusapati tertatih-tatih berdiri, Namun Tohjaya berkata lantang, “Sudah aku katakan. Aku akan melanjutkan latihan ini. Aku akan bersungguh-sungguh, Kakanda jangan membiarkan diri kakanda hancur karena serangan-seranganku. Aku tidak akan bermain-main seperti kanak-anak. Tetapi aku akan bermain-main seperti seorang yang telah dewasa.”
Tohjaya tidak menunggu lagi. Sambil berteriak ia menyerang Anusapati yang baru saja berdiri, “jangan lengah kakanda, dan jangan menganggap bahwa aku hanya dapat berbicara saja.”
Sekali lagi serangan Tohjaya tidak terelakkan. Sekali lagi kaki Tohjaya mengenai Anusapati. Kaki ini mengenai pundaknya, sehingga karena itu, sekali lagi Anusapati terlempar dan jatuh di atas rerumputan.
Adik-adiknya menutup mulut mereka dengan kedua telapak tangan. Mereka memang kagum melihat kecepatan serangan Tohjaya. Tetapi mereka tidak dapat menganggap bahwa Tohjaya memenangkan latihan itu karena Anusapati sama sekali tidak melawan. Anusapati hanya sekedar meloncat-loncat menghindar dan yang terakhir, bahkan seolah-olah ia membiarkan dirinya dikenai oleh serangan-angan Tohjaya.
Ketika Anusapati kemudian berhasil berdiri sambil terhuyung-huyung maka Tohjaya telah siap untuk meluncurkan serangannya kembali. Namun tiba-tiba saja gurunya telah meloncat seperti kilat, berdiri dihadapan Anusapati yang masih belum dapat berdiri tegak itu.
“Sudahlah tuanku,” berkata pelatih itu. “tuanku Anusapati memang tidak bersedia melawan. Ia membiarkan dirinya tuanku kenai dengan serangan-angan yang hampir bersungguh-sungguh, sehingga dengan demikian, maka latihan ini tidak akan dapat berlangsung seperti yang tuanku kehendaki. Tuanku tidak akan dapat menunjukkan kepada siapa-pun juga, bahwa latihan ini sudah tuanku menangkan. Bahkan adik-adik tuanku itu-pun mengetahuinya, bahwa seakan-akan tuanku sudah berlatih sendiri, dan tuanku Anusapati menjadi sekedar sasaran, sehingga dengan demikian kekuatan keduanya tidak akan dapat diperbandingkan.”
Tohjaya menggeram, hampir saja ia mengumpat. Tetapi bagaimana-pun juga ia masih harus menghormati kakaknya, yang kini bergelar Pangeran Pati itu.
“Kakanda membuat kami kecewa. Aku dan adik-adik ingin melihat sesuatu yang berharga pada latihan ini. Tetapi kakanda sama sekali tidak berbuat apa-apa. Kakanda tidak membantu aku, menunjukkan manfaat kemajuan kita kepada Adinda Mahisa-wonga-teleng dan adinda-adinda yang lain.”
Anusapati kini sudah berdiri tegak, Meskipun sekali-sekali ia masih harus menyeringai. Namun ia merasa, bahwa kali ini ia masih dapat bertindak tepat. Justru karena ia tidak melawan, maka tidak akan ada seorang-pun yang mampu menilai perimbangan kekuatan mereka. Tohjaya dan Anusapati. Ia hanya sekedar mengerahkan daya tahan tubuhnya yang hampir sempurna, sehingga sebenarnya serangan-angan Tohjaya itu tidak terlampau menyakitinya. Namun untuk membuat kesan yang lain, Anusapati berdiri terhuyung-huyung sambil mengeluh tertahan. Sekali-sekali diusapnya dada dan pundaknya yang telah dikenal oleh serangan Tohjaya itu.
“Apakah tuanku terluka?” bertanya gurunya.
Anusapati meraba dadanya dan berkata, “Apakah tulangku ada yang patah? “
Pelatihnya menjadi cemas. Tetapi ketika ia meraba dada Anusapati itu ia menggelengkan kepalanya, “Tidak tuanku, tuanku tidak terluka di dalam.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Syukurlah,” katanya, “mudah-mudahan aku tidak terluka di dalam seperti katamu.”
“Tidak tuanku. Aku yakin.” sahut pelatihnya.
Sejenak kemudian Anusapati yang dibimbing oleh pelatihnya itu maju beberapa langkah memasuki arena. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Putera Mahkota itu berkata, “Gerakmu terlampau cepat adinda. Tetapi aku tetap pada pendirianku. Aku tidak akan berlatih dengan cara itu sekarang.”
Wajah Tohjaya menjadi merah padam. Ternyata ia telah gagal lagi untuk menunjukkan kelebihannya dari kakandanya. Meskipun ia dapat mengenainya, tetapi justru karena Anusapati sama sekali tidak melawannya, maka tidak seorang-pun yang dapat mengatakan bahwa ia telah memenangkan latihan khusus itu.
“Adinda Tohjaya,” berkata Anusapati kemudian, “latihan serupa ini tidak akan bermanfaat.”
“Memang, latihan serupa ini tidak akan bermanfaat bagi siapapun. Tetapi hal ini terjadi karena kakanda sama sekali tidak membantu. Kakanda memang berusaha agar latihan ini gagal dan tidak seorang-pun melihat kelemahan kakanda.”
“Apakah artinya kelemahanku dimata orang-orang yang hadir di dalam latihan ini? Apakah memang demikian seharusnya, agar aku membantu memperlihatkan kelemahanku itu?”
Tohjaya tidak menjawab. Tetapi wajahnya yang merah menjadi semakin merah. Sejenak dipandanginya wajah-wajah yang ada disekitarnya. Anusapati, gurunya, Mahisa-wonga-teleng dan adik-adiknya yang lain, kemudian perwira prajurit guru adik-adiknya itu. Wajah-wajah itu seakan-akan menunjuk gejolak setiap hati di dada mereka. Bahkan kemudian seakan-akan telah menunjuk kesombongannya, karena ia ingin dengan sengaja menunjukkan kelebihannya dari Putera Mahkota.
Tubuh Tohjaya kemudian menjadi gemetar karena menahan marah. Sejenak ia mematung. Namun kemudian ia-pun meloncat pergi meninggalkan arena itu tanpa minta diri kepada siapapun.
Beberapa orang yang ada di arena itu menjadi termangu-mangu. Mereka saling berpandangan sejenak. Mahisa-wonga-teleng memandang gurunya dengan kerut-merut di keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Aku tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja Kakanda Tohjaya menjadi aneh. Sikapnya membuat aku bingung.”
“Sudahlah tuanku,” berkata gurunya, “sebaiknya kita minta diri.”
“Ya. ya. Sebaiknya kita minta diri. Undangan Kakanda Tohjaya memang sangat berkesan bagiku.” sahut Mahisa-wonga-teleng.
Anusapati memandang adiknya itu dengan bimbang.
Ia tidak tahu kesan apakah yang telah menyentuh hatinya.
“Aku mohon diri Kakanda Anusapati,” berkata Mahisa-wonga-teleng yang diikuti oleh adik-adiknya.
“Terima kasih atas kunjungan adinda.”
“Tetapi aku sama sekali belum melihat, bagaimana kakanda berdua berlatih sebenarnya. Namun agaknya hal itu tidak akan menguntungkan bagi kami. Bahkan mungkin kami akan menjadi bingung dan justru tidak dapat memetik manfaatnya.”
“Ya,” potong gurunya, “tuanku hanya akan menjadi bingung.”
Mahisa-wonga-teleng beserta adik-adiknya itu-pun kemudian meninggalkan arena itu bersama gurunya. Yang tinggal kemudian adalah Anusapati dengan gurunya pula.
“Hamba menyesal sekali bahwa hal ini telah terjadi,” berkata gurunya.
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
“Sikap tuanku Tohjaya membuat aku bingung. Dan aku juga tidak mengerti, kenapa tuanku dapat bersikap diam.”
Anusapati memandang gurunya sejenak, lalu “Apakah aku sudah berbuat salah?”
“Tidak. Tuanku justru telah menghindarkan perkelahian yang sebenarnya. Bukan sekedar latihan. Tetapi aku tidak dapat membayangkan, betapa tuanku memiliki kepercayaan kepada diri sendiri sebesar itu. Benar-benar suatu sikap seorang saudara tua. Tetapi lebih dari pada itu hanyalah orang-orang yang yakin akan dirinya sajalah yang dapat bersikap demikian. Dan tuanku telah melakukannya.”
Anusapati menggelengkan kepalanya. Katanya, “Tidak. Aku mempunyai alasan lain.”
Gurunya memandanginya dengan heran.
“Mungkin aku tidak berkeberatan dikalahkan oleh Adinda Tohjaya di dalam suatu latihan. Tetapi latihan yang sewajarnya. Bukan sekedar usaha memamerkan kemenangannya kepada adinda yang lebih muda lagi dari padanya.”
Gurunya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tampak di wajahnya keragu-raguannya atas kebenaran alasan Anusapati itu.
“Sayang,” desis Anusapati kemudian, “aku sama sekali tidak mempunyai kemampuan yang cukup untuk bertahan. Kalau aku mampu mengimbangi, Meskipun tidak melampaui kemampuan Adinda Tohjaya, barang kali aku akan bersedia melakukannya.”
“Benarkah begitu?” bertanya gurunya.
“Ya.”
“Kenapa tuan agak ketinggalan dari adinda tuanku itu?”
“Aku tidak tahu. Seharusnya kaulah yang memberitahukan kepadaku. Apakah sebabnya. Apakah aku terlampau malas? Terlampau bodoh atau memang aku tidak mempunyai kemampuan untuk mempelajari olah kanuragan? “
“Tuanku,” berkata gurunya, “hamba tidak dapat mengatakan demikian. Tetapi apabila hamba tidak dianggap kurang sopan, apakah tuanku tidak berkeberatan mengatakan, kenapa pada saat hamba datang, tuanku sudah jauh ketinggalan dari tuanku Tohjaya?”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam.
“Selisih di antara tuanku berdua itu sudah hamba usahakan agar menjadi semakin berkurang. Meskipun hamba adalah paman sepupu tuanku Tohjaya, namun hamba tidak ingin melanjutkan cara guru tuanku yang terdahulu.”
“Kau sudah mengatakannya. Agaknya kau sudah tahu apa yang terjadi saat itu.”
“Hamba hanya menduga-duga.”
“Dugaanmu sebagian benar. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tetapi biarlah yang sudah lampau. Tetapi apakah masih ada kemungkinan baik bagiku?”
“Tuanku benar-benar mengherankan. Aku tidak mengerti apakah yang sudah terjadi di arena ini. Aku bahkan menjadi bingung melihat hasil usahaku sendiri.”
Anusapati tidak segera menyahut. Namun ia melihat kebimbangan membayang di wajah gurunya. Agaknya gurunya melihat sesuatu yang kurang dimengertinya. Dan Anusapati-pun langsung dapat menduga, bahwa di dalam perkelahian yang berat sebelah itu, terjadi hal-hal yang aneh baginya.
“Tuanku,” berkata gurunya, “mungkin hamba memang sudah pikun. Hamba melihat tata gerak yang tidak pernah hamba berikan kepada tuanku Tohjaya di dalam latihannya yang terlampau bernafsu ini.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Apakah kau dapat mengetahui tata gerak yang manakah yang telah kau berikan kepada seseorang di dalam suatu perkelahian dan yang mana yang tidak?”
“Hamba tuanku. Hamba dapat mengenal tata gerak hamba dan yang pernah hamba berikan kepada murid hamba. Dan sudah tentu hamba dapat mengenal tata gerak yang tidak hamba ketahui.”
“Tetapi apakah di dalam suatu perkelahian hal itu tidak terjadi secara kebetulan saja.” Anusapati berusaha meyakinkan.
“Biasanya tidak tuanku. Biasanya di dalam gerak yang cepat dan tidak terkendali, secara naluriah, tata gerak yang sudah dimiliki itu akan muncul di dalam beberapa jenis gabungan yang memang tampaknya agak lain dan tiba-tiba. Tetapi bagi seorang yang menguasai ilmu itu pasti akan segera dapat membedakan, unsur-unsur gerak yang menyusup dari susunan ilmu yang lain.”
“Dan kau melihat pada tata gerak Adinda Tohjaya?”
“Hamba tuanku.”
“Bagaimana menurut pikiranmu? “
Perwira itu termenung sejenak. Tetapi ia tidak segera menyahut. Bahkan Anusapati telah bertanya pula, “Apakah kau juga berpikir begitu tentang aku?”
“Tidak tuanku. Tuanku masih berada di dalam batas-batas tata gerak yang hamba berikan. Namun tuanku-pun telah mengherankan hamba pula.”
“Kenapa?”
“Tuanku mampu bergerak terlampau cepat. Jauh melampaui kecepatan yang pernah hamba saksikan di arena latihan ini sebelumnya.”
“Benar begitu? “
“Hamba tuanku. Hamba berkata sebenarnya.”
Anusapati memandang gurunya dengan tajamnya. Kemudian kepalanya terangguk-angguk. Dan ia-pun kemudian berlanya, “Apakah sebabnya maka dapat terjadi demikian?”
Perwira itu menggeleng, “Hamba tidak tahu tuanku. Tetapi ada dugaan hamba, bahwa tuanku Tohjaya telah mendapat guru yang lain kecuali hamba.”
“Apakah hal itu melanggar tata kesopanan suatu perguruan?”
“Di luar istana ini, di padepokan-padepokan dan di perguruan-perguruan olah kanuragan, memang demikian. Seorang guru akan merasa tersinggung apabila muridnya menjadi murid orang lain, atau berguru kepada orang lain selagi ia masih tetap menjadi muridnya, apabila hal itu dilakukan tanpa sepengetahuan dan seijinnya.”
“Kenapa kau mengatakan padepokan dan perguruan, di luar halaman istana ini?”
“Di dalam istana ini semuanya serba lain tuanku. Apa-pun yang dikehendaki oleh Sri Rajasa tidak akan ada yang berani menentang. Seandainya Sri Rajasa memang menghendaki puteranya dipimpin oleh dua atau tiga orang guru sekalipun, maka tidak akan ada orang yang dapat menentangnya.”
“Bagaimana kalau Sri Rajasa sendiri?”
Gurunya mengerutkan keningnya. Lalu jawabnya, “Hamba kurang mengerti tuanku. Hamba belum pernah melihat, bagaimana sebenarnya Ayahanda Sri Rajasa. Hamba hanya pernah mengikuti tuanku Sri Rajasa itu berburu. Tetapi hamba belum pernah melihat tuanku Sri Rajasa itu benar-benar didalam suatu pertempuran sehingga hamba tidak dapat mengatakan apakah ilmu yang dimiliki oleh tuanku Tohjaya itu bersumber pada tuanku Sri Rajasa. Sedangkan apabila demikian seharusnya tuanku Putera Mahkota akan mendapatkan bimbingannya pula, karena Sri Rajasa adalah seseorang yang berilmu tanpa tanding. Bahkan seakan-akan ia memiliki ilmu yang gaib. Sayang hamba belum pernah berkesempatan menyaksikan ilmu itu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun segores keprihatinan yang pahit telah menyentuh hatinya. Apabila benar demikian, maka ia benar-benar seorang Putera Mahkota yang tersisih dari sisi ayahanda. Seandainya Tohjaya mendapat warisan ilmu yang tidak ada duanya itu, maka kenapa bukan Tohjaya sajalah yang diangkat menjadi Putera Mahkota?
Sampai saat itu Anusapati masih yakin bahwa ilmunya yang sebenarnya telah jauh melampaui kemampuan Tohjaya. karena Tohjaya pasti tidak akan berusaha seperti dirinya sendiri, menyimpan ilmu yang dimilikinya. Tetapi apakah lambat laun ilmu Tohjaya itu tidak akan merayap mendekati kemampuannya?
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Bukan Tohjaya sendirilah yang agaknya telah menyakiti hati gurunya. Seandainya gurunya itu mengetahuinya, ia-pun akan menyakiti hatinya, karena ia-pun telah berguru pula kepada orang lain. Bahkan perlahan-lahan ia telah menyerap ilmu dari dua perguruan yang dapat disatukan dengan serasi seperti yang dilakukan oleh gurunya. Yaitu ilmu dari perguruan Empu Purwa lewat Mahisa Agni dan ilmu dari Empu Sada, juga lewat Mahisa Agni dan sebagian dapat diserapnya dari Sumekar, kawan berlatihnya. Bahkan atas ijin Mahisa Agni, ia-pun telah mencoba meluluhkan ilmu dari perguruan Panji Bojong Santi dibawa oleh Witantra kepadanya. Semuanya itu dapat dilakukan karena Anusapati telah cukup matang memahami ilmunya di dalam olah kanuragan. Namun demikian, ia sadar, apabila Sri Rajasa telah menurunkan ilmunya kepada Tohjaya, maka pada suatu saat, ia akan mendapat perbandingan ilmu yang cukup berat.
“Aku harus lebih tekun,” berkata Anusapati di dalam hatinya.
Demikianlah akhirnya Anusapati-pun meninggalkan arena latihan itu pula. Dengan kepala yang tunduk ia berjalan di halaman istana. Di sudut-sudut dinding telah terpancang obor-obor yang melemparkan cahayanya yang kemerah-merahan.
Angin malam yang silir membuat Anusapati merasa segar. Dengan tangannya ia mengusap kening yang basah oleh keringat. Anusapati hampir tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya, karena ia selalu mengingat-ingat tata gerak Tohjaya yang tidak bersumber dari perwira prajurit yang melatihnya itu. Ia ingin menunjukkan kepada orang-orang yang pernah melihat ayahanda Sri Rajasa bertempur.
“Hanya paman Mahisa Agni,” desisnya, “tentu tidak mungkin aku bertanya kepada para Panglima yang pernah mengikuti ayahanda kemedan perang. Mereka pasti akan menjadi curiga dan mempersoalkannya. Tetapi kapan aku dapat menemui paman Mahisa Agni?”
Namun demikian ingin juga Anusapati menunjukkannya kepada Sumekar atau kepada Witantra. Mungkin mereka dapat memberikan tanggapan atas tata gerak yang belum dikenalnya itu.
Langkah Anusapati tertegun ketika tiba-tiba saja ia berpapasan dengan Tohjaya beserta pengawalnya. Hampir saja Anusapati melanggarnya, karena seluruh perhatian sedang ditumpahkannya kepada tata gerak adiknya itu.
“Apakah Kakanda Anusapati sedang melamun?” bertanya Tohjaya.
“O. maaf adinda,” desis Anusapati, “aku terlampau letih. Dadaku masih terasa sakit.”
“Salah kakanda sendiri. Kalau kakanda membantu aku, kakanda tidak akan menjadi sakit.”
“Mungkin. Mungkin memang salahku.”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Ia tidak menduga bahwa Anusapati langsung mengaku salah. Ia mengharap Anusapati membela diri dan dengan demikian ia akan dapat mengumpatinya. Tetapi Anusapati tidak membantah.
“Kakanda,” berkata Tohjaya kemudian, “beruntunglah kakanda bahwa aku masih menjaga nama baik kakanda. Dengan demikian aku tidak menyampaikannya kepada ayahanda tentang kakanda. “
Dada Anusapati menjadi berdebar-debar. Demikianlah setiap kali. Tohjaya selalu mengadukannya kepada Sri Rajasa yang kemudian memanggilnya dan memarahinya.
“Tetapi apabila kakanda menggagalkan niatku lain kali, aku tidak akan memaafkannya lagi. Aku akan langsung menghadap Ayahanda Sri Rajasa dan mengatakan apa yang telah terjadi.”
Anusapati tidak menjawab.
“Ingat-ingatlah kakanda. Aku tidak bermain-main. Kita sudah sama-sama meningkat dewasa. Kita harus dapat saling membantu, saling menjaga nama baik dan harga diri. Kakanda telah membuat aku malu dihadapan adik-adik dan gurunya.”
“Kenapa adinda menjadi malu?”
“Suatu kesengajaan, pasti ini suatu kesengajaan. Kakanda hendak menumbuhkan kesan kepada Adinda Mahisa-wonga-teleng dan adinda yang lain bahwa Anusapati adalah orang yang sangat sabar. Yang membiarkan dirinya disakiti. Dengan demikian maka kesan yang sebaliknya akan timbul padaku. Aku seakan-akan orang yang tamak, sombong dan tidak berperi kemanusiaan. Bukankah begitu?”
“Adinda. Kenapa adinda berkesan begitu, seolah-olah dengan sengaja aku ingin merusak nama baikmu?”
“Ah, jangan ingkar lagi kakanda. Sudah kukatakan, kali ini aku tak akan berbuat sesuatu. Tetapi kakanda harus menyesal dan disaat yang lain kakanda tidak mengulanginya. Lebih baik bagi kakanda untuk mengakui kekalahan kakanda daripada menghinakan aku seperti begitu.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Bagaimana-pun juga aku ingin mengatakan bahwa kesan yang kau tangkap itu sama sekali keliru. Aku sama sekali tidak berniat demikian.”
Tetapi Tohjaya tertawa menyakitkan hati. Katanya, “Boleh saja kakanda ingkar. Aku-pun tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi kalau kakanda berbuat sekali lagi, maka aku tantang kakanda untuk benar-benar berkelahi. Aku tidak akan setiap kali mengadu kepada ayahanda. Maksudku agar kakanda mendapat nasehat dari ayahanda dan tidak menimbulkan salah paham. Tetapi kesalahan-lahan yang serupa selalu kakanda ulangi, bahkan semakin lama semakin menyakitkan hati. Karena itu, Meskipun ayahanda berpesan bahwa kita masing-masing tidak boleh melakukan tindakan sendiri-sendiri, aku tidak akan menghiraukannya lagi. Kakanda Anusapati akan menanggung akibatnya kalau aku menjadi benar-benar marah dan tidak dapat mengendalikan diri lagi.”
Anusapati masih tetap berdiam diri. Dan Tohjaya berkata selanjutnya, “Pikirkanlah kakanda. Kecuali kakanda memang sudah siap menghadapi tantangan itu. Ingat, akan aku tantang kakanda untuk berkelahi. Sesungguhnya berkelahi.”
“Itu tidak pantas adinda. Kita adalah putera-putera Ayahanda Sri Rajasa. Kalau kita selalu bertengkar, maka hal itu pasti akan menyuramkan nama ayahanda pula.”
“Nah, sekarang kakanda mencoba bersembunyi dibelakang nama ayahanda,” jawab Tohjaya, “Tetapi aku tidak akan peduli. Kita adalah laki-laki dewasa.”
“Kalau kita meskipun bersaudara, tetapi lahir diantara rakyat kebanyakan, tidak banyak orang yang akan memperhatikan kita. Tetapi kita adalah putera raja yang besar, dan apalagi aku adalah seorang Pangeran Pati. Sudah tentu tidak, akan pantas kalau hal itu terjadi.”
“Terjadi atau tidak terjadi itu terserah kepada kakanda. Kalau kakanda tidak mengganggu aku lagi, apalagi dihadapian banyak orang, maka aku-pun tidak akan berbuat apa-apa. Tetapi kalau aku sekali lagi merasa tersinggung, maka aku akan segera mulai. Biar-pun dihadapan orang banyak, bahkan dihadapan Ayahanda Sri Rajasa sendiri.”
Anusapati tidak menjawab. Dipandanginya wajah adiknya. Kemudian disambarnya pula wajah-wajah pengawalnya yang berdiri tegak dibelakang Tohjaya itu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar