*BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-13-01*
Karya : SH Mintardja
Mereka yang berlatih-pun segera berhenti. Dengan heran perwira pengawal yang sedang berlatih bersama muridnya itu-pun memandang Tohjaya yang memasuki arena.
“Kalian terlalu bernafsu,” kata Tohjaya kepada Mahisa-wonga-teleng dan Panji Saprang. “Seharusnya kalian tidak boleh berbuat sekehendak hati. Apa gunanya unsur-unsur gerak yang pernah kau pelajari kalau tidak pernah terbayang di dalam tata gerak. Kalian tidak sedang berlatih berdasarkan ilmu yang kalian pelajari, akan tetapi kalian sekedar berkelahi dengan kasarnya. Memukul, menyepak dan menghantam tanpa perhitungan. Kalau lawan kalian memiliki ketenangan, kalian akan segera dihancurkannya.”
Mahisa-wonga-teleng dan Panji Saprang mendengarkannya sambil mengangguk-angguk.
“Mungkin kalian tidak merasa. Tapi kami yang menyaksikan dapat melihat kesalahan itu, kecuali mereka yang sama sekali tidak mampu menilai tata gerak sama sekali.”
Kedua adik-adiknya mengangguk-angguk dan mengangguk-angguk.
“Coba, marilah, aku beri kalian contoh. Mahisa-wonga-teleng, cobalah kita bermain-main sebentar.”
Mahisa-wonga-teleng mengerutkan keningnya. Ia menjadi ragu-ragu. Dengan demikian maka sejenak ia hanya berdiri saja termangu-mangu.
“Marilah. Kenapa kau ragu-ragu. Aku ingin menunjukkan bahwa kau telah membuat banyak kesalahan.”
Mahisa-wonga-teleng masih juga ragu-ragu. Sejenak kemudian ia berpaling kepada gurunya, seolah-olah ia minta pertimbangan, apakah ia diperkenankan memenuhi ajakan Tohjaya.
Gurunya-pun menjadi bimbang. Ia tidak dapat menolak, tetapi sebenarnya ia agak berkeberatan.
“Marilah. Kenapa kau ragu-ragu.” lalu Tohjaya berpaling kepada perwira pelatih adik-adiknya itu, “bukankah kau tidak berkeberatan?”
Pelatih itu menjadi bingung sejenak. Namun kemudian dengan berat ia terpaksa menganggukkan kepalanya, Meskipun ia kemudian berkata, “Tetapi tuanku Mahisa-wonga-teleng masih sangat rawan tuanku.”
“Aku sudah tahu. Justru karena itu aku ingin menunjukkan kelemahan-kelemahannya. Dan jangan cemas, aku dapat menyesuaikan diriku menghadapi anak-anak yang baru mulai.”
Karena gurunya tidak berkeberatan, Mahisa-wonga-teleng-pun kemudian maju mendekati kakandanya. Sejenak kemudian mereka-pun segera bersiap untuk melakukan latihan.
“Nah, mulailah,” berkata Tohjaya, “aku akan menyesuaikan diriku. Dan aku akan menunjukkan kelemahan-kelemahanmu. Mulailah. Bersungguh-sungguhlah supaya tampak pula, kesalahan-kesalahan yang kau lakukan.”
Mahisa-wonga-teleng menjadi ragu-ragu sejenak.
“Ya, mulailah. Jangan takut. Bersungguh-sungguhlah.”
Sejenak kemudian Mahisa-wonga-teleng melangkah semakin dekat. Dengan ragu-ragu ia-pun kemudian mulai menyerang. Tetapi serangannya sama sekali tidak bertenaga.
Tohjaya mengelakkan serangan itu sambil berkata, “Kau masih saja ragu-ragu. Jangan kau kekang tenagamu. Lepaskan serangan seperti kau berkelahi bersungguh-sungguh. Jika tidak demikian, aku tidak akan dapat menilai tata gerakmu yang salah.”
Mahisa-wonga-teleng menjadi semakin berani. Geraknya menjadi semakin cepat dan tangkas. Namun Tohjaya dapat mengelakkannya dengan lincahnya pula.
Sejenak kemudian latihan itu-pun menjadi semakin cepat. Ternyata Mahisa-wonga-teleng cukup berhati-hati menghadapi kakaknya. Tanpa disangka-sangka oleh Tohjaya, maka serangannya menjadi semakin cepat.
“Anak gila,” pikir Tohjaya. Dan Tohjaya-pun kemudian ingin segera menunjukkan kelebihannya. Tiba-tiba ia tidak saja mengelakkan serangan adiknya. Ia ingin membuktikan bahwa ketenangannya akan segera dapat menguasai tata gerak Mahisa-wonga-teleng yang dianggapnya tergesa-gesa tanpa pengekangan diri.
Tetapi dadanya berdesir, ketika serangannya yang pertama sama sekali tidak berhasil menyentuh lawannya. Ternyata Mahisa-wonga-teleng, Meskipun lebih muda dari Tohjaya, tetapi bentuk tubuhnya agak lebih meyakinkan.
Karena itu, maka Tohjaya-pun segera mengulangi serangannya. Dengan cepat ia merendahkan dirinya. Sebuah kakinya menyapu kaki Mahisa-wonga-teleng yang baru saja berjejak di atas tanah karena loncatannya menghindari serangan Tohjaya yang gagal.
Namun sekali lagi Tohjaya kecewa dan bahkan terkejut ketika dengan lincahnya pula Mahisa-wonga-teleng melenting surut beberapa langkah.
“Gila,” Tohjaya menggeram di dalam hatinya. Dua kali ia tidak berhasil. Ia menjadi malu kepada dirinya sendiri. Apalagi ketika tampak olehnya guru Mahisa-wonga-teleng yang tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, seolah-olah ia tengah berbangga karena muridnya berhasil menghindarkan diri dua kali berturut-turut.
“Sekarang ia tidak akan dapat menghindar lagi,” katanya di dalam hati.
Ternyata Tohjaya telah menyiapkan suatu serangan yang meyakinkan bagi Mahisa-wonga-teleng. Meskipun tidak sampai membahayakan. Namun demikian, ternyata guru Mahisa-wonga-teleng dapat melihat lewat kerut kening dan sikap Tohjaya bahwa serangan mendatang pasti tidak akan dapat dielakkannya.
Mahisa-wonga-teleng sendiri tidak begitu menghiraukannya, apakah Tohjaya akan bersungguh-sungguh atau sekedar bermain-main. Ia-pun merasa bangga atas dirinya sendiri, karena ia berhasil mengelakkan serangan-angan Tohjaya. Bahkan kemudian ia menjadi semakin mantap apabila Tohjaya berlatih semakin cepat. Dengan demikian ia akan mendapat banyak kemajuan dan pengalaman.
Tatapi Mahisa-wonga-teleng sama sekali tidak menyangka, bahwa Tohjaya menjadi marah karena ia justru berhasil menghindari serangannya, ia menyangka bahwa Tohjaya akan memujinya dan kemudian mempercepat serangannya untuk menuntunnya.
Demikianlah ketika Mahisa-wonga-teleng menjadi sedikit lengah, meluncurlah serangan Tohjaya yang cepat dan keras. Dan bahkan sama sekali tidak terduga-duga.
Guru Mahisa-wonga-teleng terkejut karenanya. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa karena jaraknya terlampau jauh. Meskipun demikian ia meloncat maju mendekati muridnya yang kemudian terdorong beberapa langkah. Hampir saja Mahisa-wonga-teleng terdorong jatuh seandainya gurunya tidak cepat menangkapnya.
Mahisa-wonga-teleng menyeringai menahan sakit di dadanya. Ternyata serangan Tohjaya telah mengenai dadanya dan mendorongnya dengan keras.
Yang menjadi basah oleh keringat adalah Anusapati. Hampir saja ia lupa akan dirinya. Ketika ia melihat Tohjaya menyerang Mahisa-wonga-teleng, dadanya berdesir tajam. Hampir saja ia meloncat menahan serangan itu. Seandainya ia melakukannya, maka ia pasti berhasil mendorong Tohjaya ke samping dan bahkan membantingnya jatuh.
Untunglah bahwa ia berhasil menahan hatinya Meskipun keringat dinginnya mengembun di seluruh tubuhnya. Ia hanya menahan nafasnya melihat Mahisa-wonga-teleng terdorong beberapa langkah.
Dan Anusapati-pun memuji di dalam hatinya, bahwa guru Mahisa-wonga-teleng adalah seorang perwira yang cekatan, karena ia tidak membiarkan muridnya jatuh. Bahkan terbayang di wajah perwira itu perasaan yang aneh, yang menurut tanggapan Anusapati, adalah suatu perasaan yang tidak senang sama sekali terhadap sikap Tohjaya. Tetapi karena Tohjaya seorang putera Sri Rajasa, maka guru Mahisa-wonga-teleng itu sama sekali tidak berani berbuat apa-apa.
“Kalau saja Adinda Tohjaya orang lain.” gumam Anusapati didalam hatinya, “pasti guru Mahisa-wonga-teleng itu sudah menantangnya berkelahi.”
Namun dalam pada itu, Anusapati melihat Tohjaya tersenyum sambil melangkah maju mendekati Mahisa-wonga-teleng yang sudah berdiri sendiri.
“Kau memang kurang hati-hati,” berkata Tohjaya, “tetapi aku tidak menyangka bahwa seranganku akan mengenaimu sekeras itu. Seharusnya kau mampu mengelakkannya atau mengurangi tekanan serangan itu. Tetapi kau gagal. Hal itulah yang akan aku tunjukkan kepadamu. Kau tidak berkelahi atau kali ini berlatih dengan akal dan nalar. Kau terlampau terburu-buru. Gerakmu menjadi kacau karena kau tidak lagi mempergunakan unsur-unsur gerak yang sudah kau pelajari. Seandainya ada juga yang tampak di dalam tata gerakmu, tetapi justru kau tidak sengaja mempergunakannya, karena kau tidak mengetahui artinya.”
Mahisa-wonga-teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dadanya masih terasa sakit.
“Nah,” berkata Tohjaya. “lain kali kau harus lebih berhati-hati.”
“Ya kakanda,” jawab Mahisa-wonga-teleng.
“Berlatihlah dengan baik. Cobalah mengerti arti setiap tata gerak,” lalu kepada pelatih adiknya Tohjaya berkata, “sekarang kau melihat kelemahan muridmu. Ia tidak sadar menghayati tata gerak yang kau berikan.”
Perwira itu menganggukkan kepalanya, “Hamba tuanku.”
“Nah, berlatihlah terus. Aku akan melihatnya.”
Perwira itu menganggukkan kepalanya. Sekilas ditatapnya wajah Anusapati. Tetapi ia tidak mendapat kesan apa-pun di wajah yang seakan-akan diam membeku itu.
Tetapi Anusapati itu terkejut ketika tiba-tiba saja Tohjaya berkata lantang, “Ha, aku hampir lupa. Disini ada Kakanda Anusapati. Barangkali aku dapat memberikan beberapa contoh yang lebih baik bagi kalian yang berlatih disini. Adinda Mahisa-wonga-teleng, Adinda Panji Saprang, Adinda Sudatu dan yang lain-lain.”
Anusapati menjadi berdebar-debar.
“Kakanda Anusapati. Marilah kita berlatih sejenak. Kita akan dapat memberikan beberapa contoh kepada adik-adik kita, bagaimana seharusnya kita menguasai tata gerak di dalam latihan dan perkelahian yang lebih sulit. Bukankah Kakanda Anusapati sama sekali tidak berkeberatan?”
Dada Anusapati berdesir mendengar ajakan itu. Ia sama sekali tidak menduga bahwa ia akan menghadapi suatu keadaan yang sangat sulit.
“Marilah kakanda Anusapati. Kita sekedar bermain-main untuk menunjukkan kepada adik-adik kita gerakan-akan yang agak sulit, supaya mereka mendapat gambaran, apakah yang kelak akan mereka pelajari. Apa yang harus mereka mengerti sebelum mereka meningkat pada ilmu yang lebih tinggi. Dalam tingkat kita inipun, kita masih belum diperkenankan untuk mempelajari ilmu yang khusus yang dapat menjadi pegangan kita masing-masing untuk selanjutnya,” desak Tohjaya kemudian.
Anusapati masih belum menjawab. Tetapi ia sadar bahwa Tohjaya, sebenarnya sama sekali tidak ingin menunjukkan gambaran tentang gerakan-akan yang lebih sulit seperti yang dikatakannya. Ia hanya sekedar ingin menyombongkan dirinya, menunjukkan kelebihan-kelebihannya, sehingga adik-adiknya menjadi heran dan kemudian memujinya. Apalagi apabila di dalam latihan itu, ia berhasil mengalahkannya, mengalahkan kakak sulung dari anak-anak muda yang ada di longkangan itu. Anak sulung yang bergelar Pangeran Pati Kerajaan besar Singasari.
“Kenapa kakanda Anusapati diam saja? Sebaiknya Kakanda Anusapati tidak usah merahasiakan kemampuan kakanda. Bukankah mereka adik-adik kita yang memerlukan bimbingan kita?”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Tetapi kita dapat mengambil jalan lain Adinda Tohjaya.”
“Latihan adalah jalan yang sebaik-baiknya,” jawab Tohjaya, “kalau kita hanya sekedar menunjukkan unsur-unsur gerak, itu tidak akan banyak berarti.”
“Tetapi kita tidak boleh mengadakan latihan itu,” sahut Anusapati selanjutnya.
“Kenapa?”
“Disini tidak ada guru kita. Latihan-latihan langsung bagi kita, tidak dibenarkan tanpa hadirnya guru kita.”
“Ah. Itu sekedar peraturan. Tetapi kita dapat saja mengambil suatu kebijaksanaan.”
Anusapati terdiam sejenak. Dan bahkan Sudatu menyambung, “Ya Kakanda Anusapati. Dengan demikian kita akan dapat menyaksikan suatu latihan yang pantas kita pelajari. Bukan sekedar latihan-latihan kita sendiri. Kami pasti akan dapat memetik manfaatnya apabila kakanda berdua bersedia mengadakan latihan. Gerak-gerak yang sulit, namun masih berada dalam batas kemampuan kami, kami akan dapat mempelajarinya langsung. Kakanda dapat mengulangi tata gerak itu beberapa kali.”
Tetapi Anusapati menggeleng lemah. “Sayang Adinda Sudatu,” jawabnya, “Kakanda Anusapati bukannya segan berlatih dan menunjukkan tata gerak yang kakanda miliki tetapi kakanda tidak berani melanggar pantangan yang diberikan oleh guru kami.”
“Kakanda tidak usah takut,” berkata Tohjaya, “akulah yang akan bertanggung jawab, apabila guru marah kepada kita nanti.”
Tetapi Anusapati tetap menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Aku tidak berani Adinda Tohjaya.”
“Ah, kakanda terlampau mengikat diri dengan peraturan-peraturan beku itu. Kita dapat berbuat apa saja yang kita ingini. Tidak ada orang yang dapat mengganggu gugat kita diseluruh Singasari.”
“Sebentar saja kakanda,” desak Sudatu.
Anusapati termenung sejenak. Ia menyesal bahwa ia telah datang ketempat latihan itu. Kini ia berada dalam kesulitan. Permintaan Tohjaya itu adalah permintaan yang berlebihan.
“Kalau aku memenuhi permintaannya, maka yang terjadi pasti suatu pertengkaran yang sebenarnya. Tohjaya pasti ingin segera menang dan menunjukkan kepada adik-adiknya bahwa ia mempunyai kelebihan daripadaku. Tetapi sudah tentu aku-pun tidak akan dapat membiarkan diriku mendapat malu dihadapan adik-adik terlebih-lebih adik-adikku seibu. Mereka pasti akan berceritera kepada ibunda Permaisuri bahwa di dalam latihan, aku sudah dikalahkan oleh Tohjaya,” berkata Anusapati di dalam hatinya.
“Kakanda terlampau banyak pertimbangan,” desak Tohjaya.
“Mungkin demikian adinda,” jawab Anusapati, “tetapi marilah kita mencari jalan lain, bagaimana kita memberikan beberapa contoh gerakan-akan yang lebih sulit kepada adik-adik kita tanpa, melanggar ketentuan perguruan kita.”
“Ah,” desis Tohjaya, “agaknya kakanda mencoba merahasiakan ilmu itu. Kakanda cemas kalau adik-adik kita dapat menyusul kemampuan kita, terutama Kakanda Anusapati yang tidak dapat lebih maju dari ilmu yang itu-itu juga. Kakanda agaknya sudah sampai kebatas kemampuan tertinggi kakanda.”
Hampir saja Anusapati kehilangan nalar yang bening. Sudah tentu ia tidak mau menerima hinaan dari Tohjaya dihadapan adik-adiknya. Tetapi untunglah bahwa ia masih tetap berusaha mengendalikan dirinya.
Tiba-tiba saja ia menemukan akal untuk mengelakkan latihan itu. Setelah berpikir sejenak, maka ia-pun kemudian bertanya kepada guru Mahisa-wonga-teleng, “Bagaimanakah pertimbanganmu? Kau juga seorang perwira prajurit dan sekaligus seorang guru dari putera Ayahanda Sri Rajasa. Seandainya murid-muridmu mengadakan latihan tanpa pengawasanmu, apakah kau tidak berkeberatan.”
Perwira itu mengerutkan keningnya. Kemudian ia berkata, “Sebaiknya hamba menjawab dengan jujur.”
“Ya, jawablah dengan jujur. Sebagai seorang perwira kau pasti seorang yang mendahulukan kejujuran daripada soal-soal yang lain.”
“Ampun tuanku. Hamba sebagai seorang guru, agaknya memang berkeberatan apabila murid-murid hamba mengadakan latihan di luar pengawasan hamba sebelum hamba menganggap bahwa murid-murid hamba telah benar-benar matang.”
“Nah,” desis Anusapati, “aku kira guru kita-pun akan berpendapat begitu. Sebaiknya kita memang memberikan contoh kepada adik-adik kita. Tetapi bukan saja contoh tentang tata gerak dan olah kanuragan. Tetapi juga contoh bagaimana kita harus mentaati ketentuan-ketentuan yang diberikan oleh guru kita.”
Wajah Tohjaya menjadi kemerah-merahan. Dipandanginya Anusapati dan guru Mahisa-wonga-teleng itu berganti-ganti. Namun justru dengan demikian sejenak ia seakan-akan terbungkam karenanya. Waktu yang sejenak itu ternyata telah cukup untuk mencernakan perasaan adik-adiknya, sehingga tanpa maksud apa-apa Mahisa-wonga-teleng berkata, “Ya. Sebaiknya setiap latihan bagi mereka yang masih di bawah pengawasan seorang guru, harus ditunggui oleh gurunya itu.”
Tohjaya masih mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Tetapi di matanya memancar perasaan yang bergejolak di dalam dadanya. Namun demikian, agaknya Tohjaya masih juga menahan diri. Apalagi ketika dilihatnya guru Mahisa-wonga-teleng sama sekali tidak menjadi gelisah. Agaknya ia benar-benar telah menentukan sikap, apa-pun yang akan dihadapinya.
“Baiklah,” akhirnya Tohjaya menggeram, “kali ini Kakanda Anusapati dapat menghindar. Sama sekali bukan karena alasan-alasan lain, tetapi karena adinda semuanya memiliki kemampuan yang mengagumkan, yang akan dapat dengan mudah mempelajari tata gerak yang agak sulit, sehingga adinda semuanya akan segera dapat menyamai kami.” Tohjaya berhenti sejenak, lalu “Tetapi itu bukan penyelesaian. Bukan akhir dari kemungkinan bagi kemajuan adinda semuanya. Aku akan mengundang adinda di dalam latihan-latihan kami. Dan dengan demikian adinda akan melihat latihan itu dengan syarat yang terpenuhi. Kami akan ditunggui oleh guru kami.”
Dada Anusapati berdesir. Ternyata seperti yang dikatakan oleh Tohjaya itu. Kalau kali ini ia berhasil menghindar, itu bukan berarti akhir dari kemungkinan terjadi dua benturan di antara dirinya dan Tohjaya.
“Apakah aku dapat bertahan?” desis Anusapati didalam hati.
Dalam pada itu, guru Mahtsa-wonga-teleng lah yang kemudian mengambil alih suasana. Kepada murid-muridnya ia berkata, “Marilah tuanku. Kita berlatih terus. Latihan-latihan yang telah tuanku terima dengan beberapa perbandingan yang tuanku dapatkan dari kakanda tuanku, pasti akan bermanfaat.”
Mahisa wonga-teleng dan adik-adiknya-pun segera bersiap pula untuk menerima latihan-latihan berikutnya. Namun Tohjaya tidak lagi merasa perlu untuk menunggui latihan-latihan itu. Bersama pengawalnya ia-pun kemudian meninggalkan arena latihan dilongkangan dalam itu.
Anusapati masih berada dilongkangan itu beberapa saat lamanya. Sepeninggal Tohjaya ia justru merasa tenang untuk menyaksikan latihan itu. Tetapi jauh berbeda dari adiknya, Anusapati sama sekali tidak pernah berhasrat menghentikan latihan itu dan memberikan beberapa petunjuk kepada adik-adiknya. Ia sadar, bahwa hal itu pasti menyinggung perasaan pelatihnya, Meskipun ia tidak mengatakannya. Dan Anusapati sadar bahwa ia sama sekali tidak berhak berbuat demikian menurut tata kesopanan di dalam setiap perguruan, Meskipun pelatihnya itu seorang perwira prajurit yang kedudukannya agak berbeda dari seorang guru di perguruan yang khusus.
Ketika Mahisa-wonga-teleng dan adik-adiknya telah bermandikan keringat, maka latihan yang cukup berat itu-pun segera berakhir. Anusapati-pun kemudian minta diri untuk meninggalkan arena itu. Meskipun demikian pelatih adik-adiknya itu masih juga mencoba bertanya kepadanya, “Bagaimanakah menurut pendapat tuanku?”
“Aku sebenarnya tidak cukup mampu untuk memberikan pendapat apapun. Seperti kau ketahui, aku sama sekali tidak berhasil untuk maju. Bukankah Adinda Tohjaya sadah mengatakannya? Karena itu aku sama sekali tidak berani menilai latihan-latihan adik-adikku.”
“Ah, tuanku merendahkan diri. Bagaimana-pun juga tuanku telah berlatih untuk waktu yang lama. Mungkin tuanku melihat sesuatu yang kurang baik di dalam latihan-latihan ini, karena sebenarnya aku seorang prajurit, bukan seorang guru.” suara pelatih itu-pun menurun sehingga adik-adik Anusapati tidak mendengarnya.
Anusapati tersenyum. Sambil menepuk bahunya ia berkata, “Kau ternyata seorang guru yang baik.”
“Tuanku bergurau.”
“Aku tidak bergurau.”
“Pada suatu kesempatan aku akan melihat tuanku berlatih apabila tuanku Tohjaya memanggil aku dan tuanku Mahisa-wonga-teleng bersama adik-adiknya.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Apakah kau ijinkan murid-muridmu untuk melihat latihan semacam itu? Kalau aku boleh berpendapat, satu-satunya pendapatku adalah ilmu yang kau berikan harus murni. Baru setelah murid-muridmu menguasainya ilmu dasar dengan matang, mereka boleh mempelajari unsur-unsur gerak yang berbeda. Dengan demikian, mereka tidak akan dibingungkan oleh tata gerak yang mungkin mempunyai sifat dan watak yang berlawanan.”
Perwira itu mengerutkan keningnya, ia merasakan perbedaan sikap pada kedua purera Sri Rajasa yang berlainan ibu itu. Anusapati tampak lebih matang dan hati-hati, sedang Tohjaya lebih gembira, tetapi kekanak-anakan dan agak sombong.
Namun kata-kata Anusapati itu ternyata, berpengaruh juga pada perwira itu. Apakah ia akan mengijinkan murid-muridnya menyaksikan latihan kedua kakak-kakaknya yang dituntun oleh guru yang berbeda dan di dalam tataran yang lebih tinggi? Apakah hal itu tidak akan justru membingungkan mereka?
Tetapi perwira itu tidak ingin segera memutuskan, ia akan membuat pertimbangan-angan tertentu. Dan yang akan dilakukan pertama-tama adalah menemui perwira prajurit yang kini menjadi guru Anusapati dan Tohjaya. Bagaimanakah pendapatnya dan mungkin nasehatnya. Perwira itu menyadari, bahwa guru Anusapati lebih condong pada olah kanuragan secara pribadi, karena pada dasarnya ia bukan seorang prajurit. Karena itu, ia pasti lebih banyak mengetahui tentang kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi pada setiap pribadi didalam olah kanuragan apabila beberapa macam ilmu saling mempengaruhi sebelum ilmu dasarnya cukup mapan.
Anusapati yang kemudian meninggalkan arena latihan itu-pun segera kembali ke bangsalnya. Ia masih saja dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi di arena latihan itu. Tohjaya pasti berusaha dengan sekuat tenaganya, untuk menyeretnya, kedalam suatu bentuk latihan yang agak khusus, agar ia dapat mengundang adik-adiknya untuk menyaksikan latihan itu. Latihan yang sudah pasti menurut rencananya, dengan mudah akan dapat menunjukkan kemenangannya dari Anusapati.
Persoalan itu ternyata telah mendebarkan dada Anusapati. Ia sebenarnya tidak ingin terlibat dalam kesulitan serupa itu terus-menerus. Tetapi ia berada di dalam suatu lingkungan yang tidak menguntungkannya.
Seperti yang diharapkannya, maka pada suatu saat Sumekar-pun datang ke halaman bangsalnya. Ia melihat sebatang bunga soka telah berada di sudut dan bunga ceplok piring yang masih setinggi jengkal tangan dikurung dengan pagar bambu disisi regol dalam.
Dengan sebuah bumbung air di tangan. Sumekar berjalan menyilang halaman dan kemudian tertegun sejenak ketika melihatnya duduk di serambi.
Anusapati lah yang kemudian turun mendekatinya. Sambil menuangkan air dari dalam bumbung yang besar itu ke pohon-pohon bunga, Sumekar berbisik, “Tuanku sudah melihatnya?”
“Ya,” jawab Anusapati.
“Bagaimana? Apakah adinda tuanku memiliki kemungkinan yang baik juga dihari depannya dan diasuh oleh seorang guru dengan baik dan tidak berat sebelah?”
“Mereka pada umumnya mempunyai kemungkinan yang baik di dalam olah kanuragan. Gurunya-pun seorang yang baik pula, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda berpihak pada siapapun.”
Sumekar mengangguk-angguk, “Apakah tuanku Tohjaya hadir juga?”
Anusapati mengangguk. Kemudian diceriterakan apa yang telah terjadi atasnya. Usaha Tohjaya untuk memancing perkelahian dan yang sudah tentu, ia ingin menyelesaikannya dengan baik untuk kepentingannya.
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Untunglah tuan berhasil menghindarkan perkelahian itu. Aku kira yang terjadi benar-benar sebuah perkelahian apabila tuan tidak berbasil menghindar.”
“Tetapi Adinda Tohjaya masih berusaha untuk mengusahakannya. Bahkan mungkin sebuah latihan terbuka seperti yang pernah terjadi.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kesulitan yang timbul pada Putera Mahkota itu seakan-akan bertimbun-timbun tanpa dapat dihindari. Namun menurut penilaian Sumekar, sumber dari semua kesulitan itu adalah perbedaan sikap Sri Rajasa atas kedua anak-anak muda itu. Kemanjaan Tohjaya yang berlebih-lebihan dan Anusapati yang lahir dari bapa yang berbeda.
“Tuanku harus tetap berusaha menghindar,” berkata Sumekar kemudian, “hamba menyadari, bahwa tuanku berada dalam kesulitan. Tetapi hamba juga percaya bahwa tuanku cukup bijaksana.”
Anusapati tidak menjawab. Ia-pun kemudian meninggalkan Sumekar yang masih sibuk dengan tanaman-tanaman di halaman. Anusapati-pun kembali naik tangga dan duduk di serambi sambil, memandangi Sumekar yang sibuk.
Dalam pada itu ternyata Tohjaya benar-benar berusaha untuk dapat membalas sakit hatinya. Ia ingin berkelahi melawan Anusapati dihadapan adik-adiknya dan memperlihatkan kemenangannya. Ia harus membanting Anusapati jatuh pada serangannya yang pertama. Kemudian membuat Putera Mahkota itu tidak berdaya. Ia harus berdiri sambil bertolak pinggang di samping kakaknya yang terbaring di lantai arena. Adiknya pasti akan bertepuk tangan dan memujinya.
Tetapi Tohjaya tidak segera dapat menemui gurunya, karena gurunya sedang tidak ada di halaman istana. Lewat ibunya ia sudah menyuruh seorang pengawalnya memanggil gurunya di pondokannya, di halaman samping dari istana Singasari, di luar regol dalam. Tetapi, gurunya itu sedang pergi karena ia tidak mempunyai tugas saat itu.
“Kemana ia pergi? “ bentak Tohjaya kepada pengawalnya.
“Hamba tidak tahu tuanku. Pondokannya tertutup. Mungkin ia sedang berbelanja ke pasar atau berjalan-jalan di luar dinding istana, karena ia sedang tidak bertugas. Bukankah tuanku akan berlatih senja nanti?”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Gumamnya, “Baiklah. Nanti, sebelum saat latihan, kau harus pergi kepadanya dan memanggilnya kemari.”
Tetapi sebelum pengawal Tohjaya itu menjumpai gurunya, seorang perwira perajurit yang lain, guru Mahisa-wonga-teleng, telah datang kepadanya. Perwira itu datang tepat beberapa, saat ketika guru Tohjaya itu kembali.
“O, apakah kakang dari bepergian?” bertanya perwira itu.
“Kenapa?”
“Pakaian kakang itulah yang mengatakannya.”
Guru Tohjaya itu tersenyum, “Ya, aku baru saja berjalan-jalan ke luar sejenak. Melihat-lihat kota yang berkembang dengan pesatnya.”
Perwira itu tersenyum pula.
“Tetapi apakah ada sesuatu yang penting?”
Perwira itu-pun kemudian menyampaikan maksudnya. Ia ingin mendapat penjelasan sikap guru Tohjaya itu tentang persoalan yang sedang dihadapi oleh kedua muridnya.
Guru Tohjaya itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku memang dibingungkan oleh kedua putera Sri Rajasa itu. Keduanya memiliki sifat dan kebiasaan yang jauh berbeda.”
“Kakang benar. Aku baru mengenal mereka sekilas. Tetapi aku sudah melihat perbedaan itu dengan jelas.”
“Baiklah,” berkata guru Tohjaya yang sekaligus pamannya itu, “aku akan mempertimbangkannya.”
Perwira prajurit yang menjadi guru Mahisa-wonga-teleng itu-pun kemudian minta diri. Ia percaya akan kebijaksanaan guru Tohjaya itu. Ia pasti lebih mengenal kedua putera Sri Rajasa yang besar itu, yang memiliki sifatnya masing-masing.
Baru saja perwira itu meninggalkan pondoknya yang kecil dibagian samping dari halaman luar istana itu, seorang prajurit pengawal Tohjaya datang kepadanya untuk menyampaikan perintah Tohjaya memanggilnya menghadap.
“Apakah ada suatu kepentingan?”
“Aku tidak tahu. Aku hanya mendapat perintah untuk memanggil.”
“Baiklah, aku akan segera menghadap tuanku Tohjaya.”
Memang tidak menyenangkan sekali menjadi seorang guru dari seorang putera Raja yang besar. Meskipun di dalam olah kanuragan ia mempunyai kekuasaan atas kedua muridnya, tetapi kadang-kadang muridnya sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang murid dari sebuah perguruan tata bela diri. Seperti yang dilakukan Tohjaya kali ini adalah mirip perintah seorang putera raja kepada pengawalnya, tidak kepada gurunya.
Namun ia tidak dapat mengelak. Betapa-pun beratnya, ia-pun kemudian pergi juga menghadap Tohjaya yang sekaligus kemanakannya itu.
“Nah, paman,” berkata Tohjaya, “mungkin paman terkejut mendengar panggilanku.”
“Hamba tuanku,” jawab gurunya, Meskipun sebenarnya ia sama sekali tidak terperanjat karena ia memang sudah mendengar dari guru Mahisa-wonga-teleng sehingga ia dapat membayangkan apa yang akan dibicarakan oleh Tohjaya itu.
“Aku memerlukan waktu untuk melakukan latihan khusus dengan Kakanda Anusapati.”
Pelatihnya itu mengerutkan keningnya. Ia masih berpura-pura terperanjat, dan sejenak merenung.
“Apakah kau dapat memutuskannya?”
“Tuanku,” berkata pelatihnya, “hamba pernah berkata pada saat hamba mulai, bahwa latihan khusus seperti itu baru dapat dilakukan setelah tuanku masing-masing bersih sama sekali dari unsur-unsur gerak yang tidak sesuai dengan ilmu dasar hamba. Itu bukan berarti bahwa ilmu yang dahulu itu jelek. Tetapi hamba hanya ingin sekedar memurnikan tata gerak dari ilmu yang akan hamba turunkan kepada tuanku berdua.”
“Ah, tetapi kami berdua telah hampir dapat membersihkan diri kami. Sisa-sisa yang tidak seberapa dibanding dengan tata gerak yang paman berikan aku kira sudah tidak akan berarti apa-apa lagi. Dengan latihan khusus dan agak mendalam kami berdua pasti akan mendapat banyak manfaat.”
“Tuanku,” berkata gurunya, “sebenarnya hamba tidak berkeberatan sama sekali seandainya hamba tidak bertanggung jawab atas tuanku berdua. Seandainya hamba hanya sekedar seorang guru tanpa mengingat hubungan yang lebih akrab lagi. Ilmu yang bercampur baur tanpa kesadaran dan kemampuan memperpadukan, adalah sangat berbahaya,” perwira itu berhenti sejenak, lalu “misalnya tuanku berdua pada suatu saat menyaksikan latihan dari sebuah perguruan lain, dan tuanku berhasil menangkap beberapa macam tata gerak. Adalah sangat berbahaya bagi tuanku apabila tuanku mencoba menyatukan tata gerak itu ke dalam rangkaian tata gerak yang sudah tuanku miliki dalam keadaan tuanku sekarang. Adalah berbeda sekali apabila tuanku berdua sudah cukup masak. Maka semuanya akan dapat berjalan dengan lancar dan aman bagi perkembangan ilmu tuanku berdua. Demikian juga sisa-sisa ilmu yang ada pada tuanku sekarang. Yang memang kurang sesuai sebaiknya dibersihkan. Kelak apabila tuanku sudah menguasai diri benar-benar, tuanku akan dapat menggalinya kembali dan menyatu-padukannya di dalam ilmu tuanku sendiri.”
Dada Tohjaya menjadi berdebar-debar. Sebelum ia menyampaikan niatnya untuk berlatih dan memanggil adik-adiknya agar mereka mendapat pengalaman dan pengenalan baru, ternyata gurunya telah mendahuluinya.
Tetapi Tohjaya sama sekali tidak tahu, bahwa gurunya telah lebih dahulu bertemu dengan guru adik-adiknya dan mendapat beberapa keterangan daripadanya, sehingga gurunya dengan sengaja telah memberikan beberapa penjelasan yang langsung atau tidak langsung telah menjurus ke dalam suatu usaha untuk mencegah niat Tohjaya yang pasti hanya akan menimbulkan kesulitan itu.
Meskipun demikian Tohjaya masih berkata, “Tetapi, sebagai suatu pengalaman, bukankah pengenalan atas bentuk-bentuk tata gerak itu perlu sekali? Seandainya tidak disatu-padukan dengan tata gerak sendiri, namun setidak-tidaknya seseorang dapat memperkaya pengenalannya seandainya ia justru bertemu dengan lawan yang mempergunakan tata gerak itu.”
“Pengarahan dari setiap pengenalan masih diperlukan sekali tuanku. Seorang guru harus dapat memilih, yang manakah yang dapat dilihat dan yang manakah yang mungkin justru akan mengacaukannya. Kini tuanku berdua sedang berada dalam taraf membersihkan diri. Tuanku harus melakukannya sebaik-baiknya lebih dahulu sebelum tuanku terlambat dalam pelontaran ilmu yang masih belum bersih. Di dalam latihan-latihan khusus, apalagi semacam perkelahian bebas itu, masih sangat kurang menguntungkan bagi tuanku berdua. Tuanku pasti masih akan dipengaruhi oleh tata gerak dari campuran ilmu yang masih belum bersih benar ini. Di dalam latihan yang demikian, kadang-kadang perasaan seseorang akan menjadi lebih tajam menonjol dan pada nalar.”
Tohjaya mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia-pun menggeram sambil berkata, “Jadi kau tetap tidak membenarkan kami mengadakan latihan serupa itu?”
“Mungkin dapat diadakan tuanku, tetapi dalam batas yang akan hamba tentukan. Hamba akan memberikan beberapa macam bentuk tangkapan di dalam olah kanuragan ini yang dapat tuanku pelajari bergantian, unsur getak yang akan tergabung di dalam tata bentuk yang khusus.”
Sejenak Tohjaya justru terdiam. Agaknya gurunya-pun tidak membantunya dalam hal ini. Tidak seperti gurunya yang telah tidak ada lagi. Setiap usahanya, apalagi yang menyangkut hubungannya dengan Anusapati, selalu dibantunya. Gurunya saat itu membenci Anusapati pula. Tetapi agaknya gurunya yang sekarang masih belum dapat dibawanya kedalam perbuatan seperti itu. Agaknya gurunya sekarang yang masih berpegang pada sifat seorang guru terhadap kedua muridnya yang sejajar dan setingkat.
Meskipun demikian, apa-pun yang akan terjadi didalam latihan nanti ia berkata kepada gurunya, “Baiklah. Dalam batas-batas yang kau setujui, kita akan tetap mengadakan latihan khusus. Aku ingin kita segera dapat melakukan latihan perkelahian yang agak longgar, sehingga latihan-latihan itu tidak terasa sangat menjemukan.”
Gurunya menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Didalam suatu perguruan, gurulah yang menentukan jenis-jenis latihan. Kadang-kadang memang seorang murid merasa jemu dengan latihan-latihan yang seakan-akan serupa saja. Namun ada dua manfaat dari latihan-latihan yang demikian. Yang pertama, menyempurnakan latihan dan penguasaan tata gerak itu, dan yang kedua, melatih kesabaran dan ketekunan. Melatih untuk tidak segera jemu terhadap sesuatu yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi dirinya dan hari depannya.
“Jadi,” Tohjaya menjadi marah Meskipun masih ditahankannya, “tegasnya bagaimana?”
“Hamba dapat memenuhi sebagian dari keinginan tuanku itu. Latihan itu dapat diadakan di dalam batas-batas yang akan hamba tentukan sesuai dengan tingkat ilmu tuanku berdua sekarang ini.”
Tohjaya menggeram, tetapi ia bertanya, “Apakah orang lain dapat ikut melihat?”
“Siapakah yang tuanku maksud dengan orang lain?”
“Adik-adikku misalnya. Sudatu, Saprang, Agnibaya?”
Pelatihnya mengerutkan keningnya. Katanya, “Itu terserah kepada guru mereka. Tetapi sebenarnya hal itu menjadi pantangan bagi sebuah perguruan. Mungkin anak-anak muda itu tidak dapat berbuat banyak dari hasil penglihatannya, karena gurunya pasti akan melarang mereka melakukan gerak tiruan atau serupa itu yang dapat merusak latihan-latihan yang mereka lakukan berdasarkan urutan yang telah tersusun di dalam perguruan itu. Tetapi apabila gurunya dapat menangkap beberapa tata gerak yang dapat dimanfaatkan di dalam perguruannya, maka itu berarti kita akan kehilangan.”
“Kau terlampau curiga. Mungkin lawan-lawan perguruan dapat berbuat begitu. Tetapi kita berhadapan dengan perguruan yang sama-sama mengabdi pada Singasari, kepada Ayahanda Sri Rajasa. Apakah kau mengerti?”
Guru itu menarik nafas pula. Setiap kali, bahkan kemudian sambil mengusap keningnya yang mulai basah oleh keringat, “Meskipun demikian, hamba akan tetap merahasiakan ilmu inti dari perguruan ini. Hamba telah menciptakan beberapa ilmu khusus yang tidak dimiliki oleh perguruan-perguruan lain, dan mungkin sebaliknya. Karena itu, hamba tidak akan mengorbankan ilmu semacam itu. Dengan demikian latihan-latihan itu akan tetap terbatas, apalagi dilihat oleh orang-orang dari luar perguruan kita.”
“Tetapi perguruan Adinda Mahisa-wonga-teleng tidak menyimpan rahasia apapun. Aku diperbolehkan melihat latihan-latihan yang mereka lakukan. Bahkan anak-anak ingusan itu sudah diperkenankan melakukan latihan perkelahian bebas.”
“Lain sekali tuanku. Mereka justru masih terlampau sedikit mengetahui ilmu dari perguruan mereka sendiri. Mereka tidak akan melontarkan jenis tata gerak dari ilmu inti perguruan mereka, yang masih belum mereka kuasai sama sekali. Perkelahian yang mereka lakukan hampir seperti anak-anak berkelahi di pinggir jalan Meskipun ada sedikit saluran yang sudah mereka terima.”
Tohjaya menggeretakkan giginya. Meskipun demikian ia masih tetap berkata, “Kita akan mengadakan latihan khusus hari ini. Aku akan mengundang Adinda Mahisa-wonga-teleng, adik-adikku yang lain dan gurunya. Mereka akan melihat, bagaimana seharusnya kita berlatih. Bukan seperti anak-anak malas yang menonton pertunjukkan di arena.”
“Baiklah tuanku. Hamba akan mengatur latihan itu.”
“Aku ingin berlatih olah kanuragan. Aku tidak ingin melakukan latihan tari. Kalau semuanya sudah diatur, maka sama sekali bukan latihan tata gerak perkelahian, itu namanya menari. Dan aku tidak memerlukan latihan-latihan tari semacam itu. Aku sudah mempunyai waktu khusus untuk berlatih menari dan mendapat guru yang khusus pula.”
“Kalau saja yang berbicara itu bukan putera Sri Rajasa,” berkata gurunya didalam hatinya. Namun ia tidak menyahut lagi. Sudah tentu ia tidak akan dapat berbantah dengan anak muda yang manja itu. Jika anak itu marah, ia akan dapat berbuat lebih dari sekedar mengumpat-umpat. Meskipun anak itu muridnya, tetapi ia tidak akan dapat menghukumnya, karena ia putera Sri Rajasa yang perkasa. Sri Rajasa yang tidak terkalahkan oleh siapa-pun juga di seluruh Singasari. Namun demikian guru Tohjaya itu sempat juga bergumam, “Hanya ada seorang yang dapat menyamai kemampuannya. Orang yang telah berhasil mengalahkan Gubar Baleman yang memiliki ilmu rangkap tujuh. Mahisa Agni.”
Tetapi guru itu sama sekali tidak menyangka, bahwa muridnya, Anusapati, sebenarnya adalah murid Mahisa Agni itu, dan bahkan telah mewarisi sebagian besar dari ilmunya, Meskipun masih belum cukup masak. Selebihnya orang itu tidak memperhitungkan orang-orang lain yang selama ini seakan-akan tersembunyi. Witantra, Mahendra dan Kuda Sempana yang masing-masing seakan-akan telah hilang, namun dengan tekun mendalami ilmunya, bahkan Meskipun belum setingkat dengan mereka itu, namun dihadapan hidungnya ada juga seorang yang pantas diperhitungkan, seorang juru taman yang bernama Sumekar.
Demikianlah, meskipun dengan perasaan yang berat, namun pelatih Tohjaya itu harus menyetujuinya, bahwa di dalam latihan nanti, Tohjaya akan mengundang beberapa orang tamu. Namun ia percaya bahwa guru Mahisa-wonga-teleng itu akan mengatur sendiri murid-muridnya.
Tanpa menunggu persetujuan Anusapati, maka Tohjaya-pun kemudian memerintahkan kepada pengawalnya untuk mengundang adik-adiknya bersama gurunya sekaligus untuk menyaksikan latihan yang akan diadakan senja itu. Latihan khusus untuk menunjukkan kepada adik-adiknya, bagaimana mereka harus berlatih untuk mencapai tingkat yang lebih sulit.
Perasaan guru yang sekaligus pamannya itu benar-benar telah tersinggung. Dengan demikian maka jarak antara Tohjaya dan gurunya justru menjadi semakin jauh. Tetapi agaknya Tohjaya tidak menghiraukannya. Ia masih mempunyai pelatih yang lain, yang mendapat waktu khusus dan tempat yang khusus baginya atas ijin ayahanda Sri Rajasa. Justru disaat-saat terakhir Tohjaya yang tidak puas dengan gurunya yang resmi telah diangkat dari kalangan perwira prajurit Singasari itu, sehingga atas persetujuan ayahanda dan Ibunda, ia memberatkan diri pada latihan-latihan yang tersembunyi. Latihan-latihan yang diadakan semakin sering dan semakin memuncak. Pada suatu saat Tohjaya harus dapat mengejutkan rakyat Singasari dengan kemampuannya yang tidak terkalahkan. Apalagi oleh Anusapati.
“Biarlah, apa yang dilakukan oleh pamanmu itu,” berkata Ken Umang kepada Tohjaya pada suatu saat, “ia mungkin masih belum dapat mengerti maksud kita. Tetapi pada suatu saat ia akan mengerti pula. Sementara itu, kau dapat mempersiapkan dirimu dengan bimbingan gurumu yang seorang lagi, yang langsung diawasi oleh Ayahanda Sri Rajasa.”
Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan ia berkata di dalam hatinya, “Pada suatu saat paman akan aku tundukkan. Ia harus mengakui kelebihanku daripadanya. Aku akan menghinakannya dihadapan banyak orang sebagai imbalan sifatnya yang keras kepala. Apalagi muridnya yang lain. Anusapati, bagiku tidak akan berharga sama sekali untuk dilawan dalam latihan sekalipun.”
Dan guru Tohjaya yang seorang itu adalah seorang pendeta tua yang bernama Empu Werdi. Tanpa mengetahui maksud Sri Rajasa secara pasti, ia telah memenuhi perintahnya, mengajari Tohjaya didalam saat dan tempat yang tersendiri.
Dan Empu Werdi mendapat pesan dari Sri Rajasa, agar latihan-latihan itu tidak diberitahukan kepada siapapun.
“Ingat,” berkata Sri Rajasa, “hanya kau sajalah yang tahu bahwa Tohjaya mendapat ilmu yang lain dari gurunya, perwira prajurit yang bodoh itu. Ilmu prajurit itu sama sekali tidak berarti, sehingga ia memerlukan seorang guru yang sebenarnya, yang dapat membuatnya menjadi seorang yang benar-benar berilmu. Aku tidak dapat mengikut sertakan Anusapati, karena beberapa pertimbangan. Sebagai seorang Putera Mahkota ia harus mendapat pendidikan khusus yang akan aku pertimbangkan tersendiri.”
Dengan bekal itulah Empu Werdi berada di istana dalam keadaan rahasia. Tidak seorang-pun yang mengetahuinya, bahwa di dalam istana Singasari ada seorang pendeta tua yang dengan tersembunyi menggurui Tohjaya dalam olah kanuragan. Namun sehari-hari ia adalah seorang penasehat Sri Rajasa di dalam olah pemerintahan.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar