Rabu, 27 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 12-03

*BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-12-03*

Karya.  : SH Mintardja 

Atas putera-putera Ken Dedes yang lain Mahisa Agni tidak begitu mengenalnya seorang demi seorang dengan baik. Ia hanya mengenal mereka itu sebagai kemanakannya. Tetapi ia tidak mengenalnya lebih dekat lagi. Hanya Anusapati lah yang dapat dikenalnya lahir dan batinnya, justru karena Anusapati seakan-akan terpisah dari lingkungannya di istana.

“Apakah Mahisa-wonga-teleng mengenal keadaan Anusapti dengan baik?”

“Tidak, tidak seorang-pun yang mengenal tuanku Putera Mahkota.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Perlahan-lahan ia berdesis, “Kau benar adi Sumekar. Aku kira jalan itu dapat ditempuh Anusapati akan melengkapi kekurangannya dengan hubungan yang akrab di dalam lingkungannya sendiri.”

“Tuanku Putera Mahkota akan dapat membagi kesepiannya.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Tetapi tidak mudah memilih seorang isteri buat Anusapati. Ia harus seorang yang sabar dan mengerti keadaan Anusapati sepenuhnya. Ia harus dapat menjadi tempat yang dapat memberikan kesejukan di hati Putera Mahkota yang gersang itu.”

“Tentu. Kita akan dapat membantunya. Kalau tuanku Anusapati mendapatkan seorang gadis yang hidup di dalam lingkungan yang prihatin pula mungkin ia akan dapat membagi duka. Tetapi kalau sebaliknya ia mendapatkan seorang gadis yang manja, maka hal itu hanya akan menambah duka hatinya menjadi semakin parah. Tuanku Anusapati memerlukan seorang perempuan dengan sifat keibuan yang sejuk. Selama ini ia merasa bahwa kasih ibunya telah dirampas oleh keadaan, oleh ayahandanya dan oleh adik-adiknya sendiri.”

Mahisa Agni tidak segera menyahut. Direnunginya nyala pelita yang bergetar disentuh angin malam yang dingin.

Namun kemudian ia berkata, Ya, seorang gadis dari suatu lingkungan yang prihatin. Seorang gadis yang mempunyai sifat keibuan yang sejuk. Seorang gadis yang tidak mementingkan diri sendiri dan mengerti sepenuhnya keadaan Anusaputi. Tetapi selain daripada itu. ia harus seorang gadis yang cerdas dan berhati Agung dan berwibawa. Kelak ia adalah seorang Permaisuri. Itulah yang agak sulit. Tentu banyak gadis yang ingin menjadi searang Permaisuri, tetapi jarang gadis yang mau mengalami prihatin dan tidak mementingkan dirinya sendiri.”

Sumekar-pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang terlampau sulit untuk mendapatkan seorang perempuan yang sekaligus memenuhi beberapa syarat. Syarat yang tidak dapat ditinggalkan pula gadis itu harus mempunyai darah seorang besar yang akan pantas menjadi seorang Permaisuri dan kelak menjadi Seorang ibu dari Puteri Mahkota berikutnya.

Tetapi lebih-lebih dari semuanya itu baik Mahisa Agni mau-pun Sumekar sadar bahwa bukanlah mereka yang harus menentukan siapa yang akan menjadi isteri Anusapati kelak. Mereka hanya dapat mengusulkan. Tetapi yang akan menentukan kata terakhir adalah Sri Rajasa sebagai ayahandanya.

“Ken Arok dapat mencari siapa saja untuk dijadikan isterinya,” berkata Mahisa Agni seakan-akan ditujukan kepada dirinya sendiri.

“Bahkan ia dapat berbuat lain sama sekali tidak ada seorang-pun perempuan-pun yang dipilihnya untuk dijadikan isrti Putera Mahkota,” berkata Sumekar.

“Ya, memang mungkin sekali Sri Rajasa dapat berbuat apa saja. Yang baik maupun yang tidak baik bagi Anusapati,” sahut Mahisa Agni, “tetapi aku mengharap bahwa Ken Dedes masih dapat berbuat sesuatu untuk anaknya. Aku kira kalau Ken Dedes berani mengusulkan sesuatu tantang Anusapati. Sri Rajasa-pun akan segan menolaknya justru karena keduanya tahu, siapakah Anusapati itu. Ken Arok pasti tidak akan dapat berbuat sewenang-wenang dengan berterus terang kepada Ken Dedes termasuk untuk mendapatkan seorang isteri bagi Pangeran Pati.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, “Memang mungkin sekali. Persoalan selanjutnya, bagaimana dengan tuanku Permaisuri. Kita berharap bahwa untuk masalah yang penting ini Tuanku Permaisuri akan bersedia berbuat sesuatu, betapapun berat perasaannya. Kalau tidak, maka Ken Umanglah yang akan menentukan segala-galanya, tuanku Pangeran Pati akan dijerumuskan kedalam perkawinan yang sama sekali tidak akan memberinya kebahagiaan. Apalagi memberikan kesejukan seorang ibu baginya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja ia berkata, “Aku akan menghubungi Ken Dedes dalam waktu singkat. Kelak aku akan mempertaruhkan pengaruh pribadiku yang masih tersisa atas keduanya, baik Permaisuri maupun Ken Arok sendiri. Mudah-mudahan Sri Rajasa masih mempunyai sedikit rasa segan kepadaku. Didalam persoalan yang penting, aku kira suaraku tidak akan diabaikannya, ia pasti masih memperhitungkan banyak persoalan sebelum memutuskan untuk menyingkirkan aku sama sekali.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, “Cobalah kakang Mahisa Agni. Memang akibatnya akan dapat menyimpang dari keinginan kita. Tetapi kalau kita tidak berani berbuat apa-pun maka semua jalan pasti akan tertutup bagi Tuanku Anusapati.”

Demikianlah maka di dalam pembicaraan itu, mereka berkesimpulan bahwa mereka akan ikut serta mengambil peranan di dalam masalah yang penting itu, masalah seorang isteri bagi Anusapati.

Selain pembicaraan yang penting maka Sumekar-pun menceriterakan pula serba sedikit tentang guru Anusapati yang baru. Meskipun ia kemanakan Ken Umang, namun sikapnya agak berbeda. Prajurit itu masih mempunyai harga diri yang cukup baik dibandingkan dengan guru mereka yang terbunuh di dalam jurang itu.

“Syukurlah,” gumam Mahisa Agni, “mudah-mudahan ia mendapatkan jalan yang lapang dihari-hari mendatang.”

“Kehadiran Witantra langsung di dalam kehidupannya merupakan masalah yang dapat membantunya,” berkata Sumekar.

“Tetapi Anusapati tidak boleh keliru ini hanyalah kesimpulan. Kita sama sekali bukan setuju kumpulan orang-orang sakit hati yang akan mempergunakannya untuk tujuan tertentu. Kita harus meyakinkannya, bahwa kita hanyalah sekedar akan membantunya, memberikan keberhasilan di dalam kedudukannya.” berkata Mahisa Agni. Kemudian, “Tetapi apabila ada orang lain yang mengetahui masalah ini maka akan dapat dengan sengaja berbuat demikian. Orang ini akan dapat menyebut beberapa nama yang memang dapat ditarik ke dalam suatu lingkaran orang-orang sakit hati. Mungkin aku, kau, Kuda Sempana, Witantra, Mahendra dan beberapa orang-orang lain. Hal ini harus kita hindarkan, karena kita sama sekali tidak ingin berbuat demikian. Kita hanya membantu untuk mengembangkan hati Putera Mahkota dan mengembangkan Singasari kelak.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, ia-pun menyadari bahaya itu. Bahaya yang dapat menyeret mereka kedalam kesulitan. Bahkan bersama Putera Mahkota.

Ketika malam menjadi semakin dalam, maka Mahisa Agni-pun mempersilahkan tamunya untuk beristirahat. Pertemuan itu telah menuntun keduanya untuk bersikap, untuk ikut membantu perkembangan hari depan Anusapati dan Singasari.

Singasari tidak boleh berkisar dari tujuannya. Singasari tidak boleh jatuh ketangan keturunan Ken Umang yang dibakar oleh nafsu yang menyala-nyala. Nafsu ketamakan untuk diri mereka sendiri.

Di pagi-pagi buta, sebelum matahari naik kepunggung bukit Mahisa Agni mengantar tamunya sampai ke regol halaman rumahnya yang luas. Halaman rumah yang pernah menjadi istana Ratu Angabaya.

Para penjaga menjadi heran. Tamu itu datang setelah Kediri dibayangi oleh gelapnya malam, dan kini ia meninggalkan istana itu sebelum matahari terbit.

Tetapi mereka tidak dapat mencurigainya karena Mahisa Agni sendiri mengantarkannya sampai ke gerbang.

“Salamku buat seluruh isi padepokan,” berkata Mahisa Agni di depan regol.

“Baiklah. Akan aku bawa salam yang akan memberikan kebanggaan bagi kami seluruh isi padepokan. Kau merupakan kebanggaan yang tiada taranya, bahwa Panawijen mendapat kehormatan melahirkan seorang anak yang kini menjadi seorang yang besar.”

Mahisa Agni tersenyum di dalam hati. Sumekar dapat juga bermain dengan baik. Ketika ia melambaikan tangannya, maka Sumekar-pun berpacu di atas punggung kudanya, semakin lama menjadi semakin jauh tenggelam di dalam keremangan pagi.

Sepeninggal Sumekar, Mahisa Agni masih berdiri sejenak diregol halaman. Dipandanginya para penjaga yang masih berdiri tegak ditempatnya. Tanpa ditanya oleh seorang-pun Mahisa Agni berkata, “Aku dilahirkan di Panawijen. Sehingga bagiku Panawijen merupakan kenangan yang menyenangkan dimasa kanak-anak.”

Para pengawalnya tidak menjawab. Sejenak, mereka berpandangan, namun kemudian mereka mengangguk-anggukkan kepala. Sedang Mahisa Agni masih terus berkata, “Ia masih tetap hidup sebagai seorang cantrik.”

Para pengawal itu-pun kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Siapakah di antara kalian yang datang dari padepokan para Pendeta?”

Para pengawal itu tidak menjawab, lalu Mahisa Agni-pun berkata terus, “Aku adalah keturunan Pendeta.”

Ketika Mahisa Agni kemudian masuk ke dalam istana, maka para pengawalnya berdesis, “Pantas kalau tuanku Mahisa Agni keturunan Pendeta. Sikap kependetaannya masih ada, ada padanya di samping sifat-sifatnya sebagai seorang ksatria. Ia tidak menggunakan kekuasaannya yang ada padanya. Ia seorang pemurah dan penuh dengan belas kasihan. Bukan seorang yang pendendam dan pemarah.”

Demikianlah maka Sumekar-pun kemudian berpacu kembali ke Singasari. Setelah menyimpm kudanya di padepokannya, maka ia-pun kemudian beristirahat semalam menikmati hidup di padepokan. Terasa alangkah tenangnya hidup di antara orang-orang yang berpikir sederhana jauh dari kepentingan diri sendiri. Orang-orang yang berhati terbuka tanpa menyimpan dendam dan kebencian dengan yang lain.

“Sebenarnya lebih senang hidup di sini, berkata Sumekar-pun kepada diri sendiri, “kalau tidak ada kepentingan yang lebih besar dan kepentingan diriku sendiri aku sama sekali tidak ingin kembali ke istana. Tempat yang penuh dengan bayang-bayang yang semu. Wajah-wajah yang membayangkan sikap yang lain dari perasaan yang disembunyikan di dalam dada. Senyum yang sekedar menghias bibir yang kemudian mengumpat-umpat. Dan segala jenis kepalsuan yang lain.”

Tetapi Sumekar harus kembali ke Istana Singasari.

Dengan pakaian yang kusut oleh debu dan keringat yang membasahi kening dan punggung ia memasuki gerbang istana di bagian belakang sambil menjinjing sebungkus pakaiannya yang sederhana. Seorang pengawal yang melihatnya di pintu gerbang bertanya, “He juru taman. Dari mana kau?”

“Aku mendapat waktu untuk beristirahat di padukuhan. Selama sepekan.”

“Jadi kau baru kembali dari waktu-waktu istirahatmu?”

“Ya.”

“Dan kau menjadi semakin hitam seperti terbakar dan menjadi semakin kurus?”

“Ternyata di padukuhanku sedang dilanda oleh paceklik panjang. Banyak tanaman yang tidak tumbuh sewajarnya. Dan bahkan ada orang yang menabur sampai tiga kali tetapi yang tumbuh adalah batang ilalang.”

“He bagaimana mungkin?”

“Kekurangan air dan hama bilalang yang dahsyat, apalagi tikus-tikus yang memusnakan benih yang sedang ditabur itu.”

“Dan kau dengan tergesa-gesa kembali sebelum masa istirahat yang kau mohon itu habis?”

“Aku mempergunakannya seluruhnya.”

Prajurit pengawal itu tidak bertanya lagi. Dibiarkannya saja Sumekar melalui regol halaman. Seorang pengawal yang lain yang berdiri di dalam memandangnya dengan kening yang berkerut-merut. Tetapi ia tidak bertanya sesuatu.

Demikianlah maka kehadiran Sumekar kembali telah menumbuhkan debar di dada Putera Mahkota. Sehari kemudian barulah ia mendengar dari Sumekar hasil pembicaraannya dengan Mahisa Agni meskipun tidak seluruhnya dikatakan terutama yang menyangkut Witantra. Sumekar berkata, “Tuanku Putera Mahkota tidak usah mencemaskannya. Menurut kakang Mahisa Agni, Witantra dapat dipercaya sepenuhnya. Meskipun demikian kita tidak boleh kehilangan sikap.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Aku mengerti paman.”

Tetapi Sumekar tidak mengatakan tentang sebuah pembicaraan mengenai kemungkinan Putera Mahkota untuk segera mendapatkan seorang isteri. Seandainya Anusapati boleh mendengarnya, biarlah Mahisa Agni sendiri yang mengatakannya kepadanya.

Dihari-hari berikutnya, kehidupan di istana Singasari berjalan seperti sediakala. Latihan-latihan yang sering dilakukkan oleh Anusapati bersama Tohjaya. Gurunya yang baru ternyata berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membuat kedua muridnya menjadi anak-anak muda yang berilmu di dalam olah kanuragan. Bukan sekedar berloncat-loncatan seperti tupai yang tidak mengerti arti gerakannya sendiri.

Tetapi di samping latihan-latihan itu Anusapati sendiri menjadi semakin sering pula keluar dari istana. Kini ia medapat teman berlatih yang baru. Ternyata Witantra sering juga hadir di dalam latihan-latihan yang diadakan didalam jurang yang dalam itu.

Ilmu Anusapati ternyata berkembang dengan suburnya. Semakin lama menjadi semakin matang, seperti juga jiwanya yang menjadi semakin matang pula.

Tetapi, kehidupannya di istana Singasari hampir tidak mengalami perubahan. Ia masih tetap merasa sepi. Kadang-kadang saja ia menghadap ibunya dan bertemu dengan saudara-saudaranya seibu. Dengan saudaranya yang lahir dari Ken Umang, Anusapati memang tidak begitu sering bertemu. Apalagi dengan penuh kesadaran Ken Arok menganggap hahwa mereka tidak mempunyai sangkutan darah sama sekali. Anusapati lahir dari Ken Dedes karena titisan darah Akuwu Tunggul Ametung, sedang Tohjaya dan adik-adiknya yang lahir dari Ken Umang adalah anak-anaknya.

Bahkan saudara-saudara seibunya-pun hampir tidak menghiraukannya lagi, selain adiknya yang tertua Mahisa Wongateleng. Kadang-kadang adiknya yang juga sudah meningkat dewasa itu datang kepadanya. Tetapi itu-pun jarang sekali dilakukannya.

Dengan iramanya sendiri istana Singasari meloncat dari hari ke hari. Demikian pula setiap umur dari orang-orang yang ada didalamnya. Sri Rajasa, Ken Dedes, Ken Umang, Anusapati, Tohjaya, adik-adiknya dan semua orang. Yang tua menjadi semakin tua, yang kecil meningkat semakin besar. Demikian pula Anusapati telah menjadi, seorang yang dewasa sepenuh. Bahkan adiknya Mahisa Wongateleng-pun telah menjadi seorang anak muda yang tegap.

“Kakanda Putera Mahkota,” bertanya Mahisa-wonga-teleng pada suatu hari kepada Anusapati, “sudah lama aku menyimpan pertanyaan ini. Sebenarnya aku takut menyampaikannya kepada Kakanda Putera Mahkota. Tetapi aku-pun tidak tahan menyimpannya saja di dalam hati.” Mahisa-wonga-teleng berhenti sejenak. Dipandanginya wajah Anusapati yang sedikit berubah.

“Apa yang akan kau tanyakan Adinda Mahisa Wongateleng?”

“Aku melihat sesuatu yang lain pada kakanda. Aku tahu bahwa kakanda adalah Putera Sulung dari kedua ibunda, sehingga kakanda diangkat menjadi Putera Mahkota seperti kakanda terima. Tetapi aku tidak tahu, kenapa justru hubungan yang paling akrab dengan ayahanda Sri Rajasa bukannya kakanda Putera Mahkota, tetapi justru Kakanda Tohjaya.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Jangan kita bicarakan masalah ini. Kau tahu bawa aku tidak akan dapat memberikan jawaban.”

Mahisa-wonga-teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia masih berkata, “Kakanda Anusapati. Kita adalah saudara seibu. Bagaimana-pun juga terasa di hatiku, bahwa ibunda Ken Dedes seharusnya mempunyai kedudukan yang lebih haik dari ibunda Ken Umang, karena ibunda Ken Dedes adalah Permaisuri Ayahanda Sri Rajasa. Tetapi di dalam hubungan sehari-hari rasa-rasanya Ibunda Ken Umang mendapat tempat yang lebih dekat di hati ayahanda Sri Rajasa. Apakah kakanda Anusapati yang lebih tua dari padaku dapat mengatakannya?”

Anusapati menggelengkan kepalanya, “Tidak adinda. Aku tidak tahu.”

“Kenapa bukan ibunda Ken Umang sajalah yang semula diangkat menjadi Permaisuri, kalau memang Ayahanda Sri Rajasa lebih mapan beristerikan ibunda Ken Umang?”

Putera Mahkota itu-pun hanya dapat mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan ia bertanya, “Apakah kau merasakan perbedaan itu?”

“Tentu kakanda. Bagi kami sehari-hari perbedaan itu tidak begitu terasa. Tetapi setiap kali aku mendapatkan nasehat, petunjuk dan petuah Ibunda Permaisuri terasa bahwa ada sesuatu tersembunyi di dalam hatinya. Semula aku tidak merasakannya, seperti adik-adik kita sekarang yang masih terlampau muda. Tetapi bagiku, semakin aku menjadi dewasa, aku merasakannya, bahwa Ibunda Permaisuri agaknya memang menahan hati.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Kaulah yang seharusnya lebih banyak mengetahui daripada aku. Karena sikap ayahanda terhadapku, aku benar-benar seorang yang terasing di dalam istana yang ramai ini. Apakah kau dapat mengerti?”

“Itulah yang aku tanyakan sejak semula. Kenapa kakanda menjadi terasing, terutama dari Ayahanda Sri Rajasa?”

Anusapati mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia berkata, “Aku juga bertanya seperti itu Adinda Mahisa Wongateleng. Aku juga selalu bertanya kesalahan apakah yang telah aku lakukan sejak aku masih terlampau muda. Bukankah sikap itu sudah berjalan bertahun-tahun. Semakin lama semakin nyata. Semakin aku bertambah dewasa, sikap Ayahanda Sri Rajasa menjadi semakin jelas, bahkan hampir tidak tertahankan lagi sehingga semua hamba istana aku kira menyimpan pertanyaan seperti itu pula.”

“Apakah kakanda pernah bertanya kepada Ibunda Pemaisuri?”

“Aku pernah bertanya. Tapi pertanyaan itu membuat ibunda semakin muram dan bersedih. Ketika aku agak memaksa ibunda menangis. Karena itu aku tidak menanyakannya lagi. Aku tidak mau membuat Ibunda Permaisuri semakin bersedih.”

Mahisa-wonga-teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang keaadaanku agak lebih baik dari Kakanda Anusapati. Aku dan adik-adikku dari kedua ibunda dapat berhubungan lebih rapat dengan Ayahanda Sri Rajasa. Tetapi tidak dapat membiarkan suasanan yang tidak seimbang itu menjadi berkepanjangan. Aku masih juga memikirkan ibuku sendiri. Ibunda Permaisuri yang berada dalam suasanan jauh berbeda dengan Ibunda Ken Umang.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Aku-pun tidak begitu rapat dengan ibunda Permaisuri. Aku tidak begitu rapat dengan setiap orang di dalam istana ini. Mudah-mudahan kau dapat selalu membuat hati ibunda agak sejuk. Ajaklah adik-adikmu seibu untuk berbuat demikian.”

“Aku akan mencoba kakanda. Tetapi adik-adik kita yang masih sangat muda itu masih belum dapat membedakan, apa yang baik bagi Ibunda Permaisuri dan apa yang justru membuatnya bersedih.”

“Itu juga bukan salah mereka. Mereka masih terlampau muda.”

Mahisa-wonga-teleng mengangguk-anggukan kepalanya. Namun tiba-tiba ia berkata, “Tetapi bagaimana dengan ilmu bela diri yang kakanda pelajari dari guru yang sama dengan kakanda Tohjaya itu?”

Anusapati mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya, “Baik. Semuanya berjalan dengan baik.”

“Aku juga mendapat seorang guru yang lain. Aku harus berlatih bersama Adinda Panji Saprang, Adinda Panji Sudatu, dan Adinda Agnibaya sudah harus selalu mengikutinya pula, meskipun belum sepenuhnya. Mungkin ia kelak harus berlatih bersama Adinda Wregola, dari seorang guru yang lain pula.”

Anusapati tidak segera menyahut. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia mencoba membayangkan, bagaimana adik-adiknya itu berlatih bersama-sama. Adik-adiknya yang lahir dari dua orang ibu. Agaknya Sri Rajasa memang ingin membuat anak-anaknya merasa satu sebagai saudara kandung.

Namun ternyata Sri Rajasa tidak berhasil. Mahisa-wonga-teleng yang sudah meningkat dewasa itu segera merasakan perbedaan sikap. Meskipun bukan atas anak-anaknya yang lahir dari dua orang ibu. tetapi justru atas ibu mereka masing-masing.

“Adinda Mahisa-wonga-teleng,” berkata Anusapati selanjutnya, “ternyata bahwa kau memiliki kesempatan yang berbeda dari aku. Karena itu, pergunakanlah kesempatanmu itu sebaik-baiknya. Kalau bukan aku, kau adalah putera yang wajib menjunjung nama ibu kita dan keluarga kita semuanya. Kau tidak boleh kalah dari Tohjaya. Aku tidak tahu nasib apakah yang besok atau lusa akan menerkam aku. Jika nasibku terlampau jelek adinda, maka kau adalah anak tertua di antara adik-adikmu.”

“Kenapa kakanda Anusapati berkata demikian?”

“Kau sendiri dapat melihat, bagaimana aku semakin lama menjadi semakin terasing di istana ini, meskipun aku seorang Putera Mahkota. Kalau ada usaha menggeser tahta pada keturunan Ken Umang, maka aku benar-benar tidak akan rela. Karena itu, seandainya pada suatu saat jatuh keputusan ayahanda untuk benar-benar menyingkirkan aku karena kesalahan yang tidak aku ketahui, maka kau adalah Putera Mahkota. Kau dan bukan Tohjaya.”

“Kita tidak dapat menentukan kakanda.”

“Memang. Hanya ayahandalah yang dapat menentukan. Tetapi ayahanda tidak akan dapat meninggalkan tata kesopanan kerajaan. Karena itu kita harus meyakinkan diri, bahwa takhta kerajaan Kediri adalah untuk keturunan Sri Rajasa yang lahir dari Permaisurinya. Bukan orang lain. Putera pertama adalah aku. Tetapi agaknya aku sangat tidak disukai oleh ayahanda Sri Rajasa. Maka kalau bukan aku, kaulah yang harus menjadi Putera Mahkota karena kau adalah Putera Permaisuri.”

Mahisa-wonga-teleng tidak menyahut. Sebenarnya ia sama sekali tidak pernah menginginkan jabatan apa-pun di dalam istana Singasari. Tetapi kata-kata Anusapati itu agaknya telah menyentuh hatinya. Keturunan Ken Dedes sebagai seorang Permaisurilah yang pantas untuk mewarisi tahta. Bukan orang lain meskipun ia putera Sri Rajasa pula.

Tanpa disadarinya, jarak antara Mahisa-wonga-teleng dan Tohjaya serasa menjadi semakin jauh. Demikian juga dengan putera-putera Sri Rajasa yang lain. Serasa jarak yang terbentang di antara mereka menjadi semakin lebar dan dalam.

Namun Anusapati masih berkata, “Tetapi kau jangan ditelan oleh perasaanmu sehingga kau kehilangan pengamatan diri. Berlakulah seperti biasa. Bersikaplah baik terhadap saudara-saudaramu meskipun yang lahir dari ibu Ken Umang.”

Mahisa-wonga-teleng menangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar sepenuhnya, apakah yang akan dihadapinya kini.

“Kalau kan memang sudah mendapat seorang guru adinda, maka belatihlah dengan tekun. Kau akan mencapai suatu tingkat yang pantas bagi Putera Maghkota seorang raja yang besar.”

“Apakah kakanda Anusapati ingin melihat bagaimana kami berlatih?”

“Apakah aku diperkenankan?”

“Kakanda Tohjaya sering juga melihat.”

“Keadaan kami, maksudku aku dan Adinda Tohjaya sangat berbeda.”

“Kalau kakanda Anusapati ingin melihat, biarlah aku menjemput kakanda di bangsal ini.”

“Apakah saat kita berlatih tidak bersamaan?”

“Tentu ada saat-saat yang tidak bersamaan, karena kanda Tohjaya pernah juga menyaksikan latihan itu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Baiklah. Aku akan mencari kesempatan untuk menyaksikannya.”

“Kalau pada suatu saat Kakanda Tohjaya ada di arena latihan kami, maka aku akan menjemput Kakanda Anusapati.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan sangat berterima kasih atas perhatianmu adinda. Tetapi hal itu pasti tidak akan menguntungkan kau sendiri. Kalau kau terlampau sering dalang kepadaku, maka pada suntu saat kau akan terpercik oleh kesalahanku yang tidak aku ketahui itu, sehingga mungkin sekali Ayahanda Sri Rajasa-pun akan menghukummu seperti aku. Terasing di dalam keributan istana.”

Mahisa wonga-teleng mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi, sebelum ia menjawab Anusapati sudah mendahuluinya, “Mungkin kau tidak berkeberatan. Tetapi kau harus melindungi nama baik Ibunda Permaisuri dan adik-kita. Kau tahu maksudku!”

“Ya, aku tahu kakanda. Tetapi kalau hanya sekali atau dua kali, aku kira tidak akan ada dugaan yang tidak baik atas kita.”

Anusapati, mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasai terharu juga melihat sikap adiknya. Ternyata ikatan yang membelit dihati mereka karena mereka dilahirkan dari ibu yang sama cukup kuat untuk merangkai perasaan kedua saudara seibu itu. Apalagi mereka berdua merasa, bahwa mereka adalah anak yang seayah pula.

Demikianlah, maka pada suatu saat ketika Anusapati sedang tidak berlatih bersama guru dan adiknya, tiba-tiba Mahis-wonga-teleng berlari-lari ke bangsalnya. Belum lagi ia sampai ditangga, anak muda itu sudah berkata, “Buknnkah kakanda tidak berlatih saat ini. Kakanda Tohjaya juga sudah berada di arena latihan kami.”

“Ya. kami memang tidak berlatih disaat ini. Kami akan berlatih senja nanti.”

“Marilah Kakanda menyaksikan lalihan kami. Kakanda Anusapati akan dapat memberikan banyak petunjuk.”

“Ah kau sangka aku mempunyai kelebihan darimu?”

“Tentu, Kakang Tohjaya ternyata juga mempunyai banyak kelebihan dari kami”

Anusapati mengerutkan keningnya. Dipandanginya Mahisa-wonga-teleng sejenak. Namun hatinya masih disaput oleh keragu-raguan. Apakah ia juga boleh masuk keluar arena yang dipergunakan oleh Mahisa-wonga-teleng untuk berlatih.

“Marilah Kakanda Anusapati,” ajak Mahisa-wonga-teleng mendesak.

“Aku menjadi ragu-ragu,” jawab Anusapati.

“Kakanda selalu ragu-ragu. Kenapa Kakanda Tohjaya tidak ragu-ragu? Justru Kakanda Tohjaya berbuat lebih hanyak dari pelatihku.”

“Apa yang sudah dilakukan?”

“Marilah.”

Anusapati, tidak membantah lagi, ketika Mahisa-wonga-teleng menarik tangannya. Ketika ia berjalan terseret-seret mengikuti tarikan adiknya ia melihat seorang juru taman muncul di halaman. Juru taman itu adalah Sumekar.

“Tunggu. Tunggu sebentar adinda.” minta Anusapati.

“Apalagi yang harus ditunggu, latihan itu harus segera dimulai.”

“Aku akan menemui juru taman itu. Aku sudah terlanjur menyuruhnya datang. Aku ingin memindahkan batang Soka Merah itu ke sudut.”

Mahisa-wonga-teleng mengerutkan keningnya. Tetapi dilepaskannya Anusapati yang kemudian menemui Sumekar.

Sumekar mengangguk dalam-dalam sambil bertanya, “Apakah tuanku akan pergi bersama tuanku Mahisa-wonga-teleng?”

“Ya. Pindahkan pohon Soka merah itu kesudut,” namun kemudian Anusapati berbisik, “adinda Mahisa-wonga-teleng minta aku melihat latihannya bersama adik-adik yang lain. Adinda Tohjaya sudah lebih dahulu disana.”

“Kenapa tuanku pergi pula kesana?” bertanya Sumekar.

“Aku tidak dapat menolak, adinda Mahisa-wonga-teleng menarikku.”

“Baiklah tuanku. Seandainya tuanku harus pergi juga tuanku harus berhati-hati. Tuanku harus menahan hati seandanya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan justru karena tuanku Tohjaya ada di sana.”

Anusapati menganggukkan kepalanya.

“Ingat, peranan tuan adalah peranan yang berat, di dalam lakon ini Tuanku harus selalu menyadari. Justru untuk tuanku di masa depan.”

“Baiklah paman.”

“Ingat akan keadaan tuanku. Jika demikian, tuanku tidak akan terdorong dalam suatu tindakan yang tidak menguntungkan.”

Anusapati-pun kemudian meninggalkan Sumekar yang berdiri termangu-mangu. Bersama Mahisa-wonga-teleng. Anusapati berjalan tergesa-gesa menuju ke longkangan dalam di belakang bangsal Tuanku Sri Rajasa, di atas tanah yang telah dilaburi dengan pasir yang tebal.

Ketika Mahisa-wonga-teleng memasuki pintu samping yang langsung sampai, kelongkangan dalam semua orang berpaling kepadanya. Pelatihnya dengan serta merta berkata, “Kami di sini tinggal menunggu tuanku Mahisa-wonga-teleng.”

Namun Tohjaya yang hadir juga disitu menyambung, “Nah ternyata Kakanda Anusapati juga berkenan hadir di dalam latihan ini.”

Longkangan itu menjadi hening sejenak. Semua orang memandang Anusapati yang masih berdiri di depan pintu regol samping itu. Namun yang menyahut adalah Mahisa-wonga-teleng “Akulah yang telah menjemputnya. Aku mengajak Kakanda Putera Mahkota untuk memberikan pendapatnya tentang kami adik-adiknya.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Kepalanya-pun kemudian mengangguk-angguk. Katanya, “Ya. Memang sebaiknya kau minta Kakanda Anusapati untuk menyaksikan latihan ini. Kakanda Anusapati pasti akan dapat memberikan pendapatnya.”

“Kakanda benar,” sahut Mahisa-wonga-teleng, “kami memang ingin mendapatkan beberapa petunjuk, selain dari Kakanda Tohjaya, juga dari Kakanda Anusapati.”

Tohjaya berpaling sejenak. Ditatapnya wajah Anusapati yang dipenuhi oleh kebimbangan. Namun kemudian ia tersenyum dan mempersilahkan Anusapati, “Marilah Kakanda Pangeran Pati. Latihan bagi adik-adik kita akan segera dimulai.”

Anusapati-pun kemudian melangkah mendekati Tohjaya dan kemudian duduk di sampingnya, di atas sebuah tikar yang tebal.

Sejenak kemudian maka Mahisa-wonga-teleng-pun telah siap pula bersama adik-adiknya, putera dari kedua isteri Sri Rajasa. Agnibaya yang masih terlampau muda, masih belum mengikuti latihan itu sepenuhnya.

Tohjaya dan Anusapati yang duduk di pinggir arena itu segera terikat pada latihan-latihan yang diberikan oleh seorang guru, juga seorang perwira pengawal kepada adik-adiknya itu. Setiap kali Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebagai seorang vang berilmu tinggi Anusapati segera dapat melihat, betapa jauh adik-adiknya sudah menerima ilmu tata bela diri.

“Ternyata Mahisa-wonga-teleng mempunyai kemampuan yang cukup. Kalau ia mengikuti latihan-latihan yang lebih khusus, ia akan dapat menjadi seorang anak muda yang perkasa,” Berkata Anusapati di dalam hatinya. Secara umum ia tiba-tiba mengambil kesimpulan bahwa keturunan Ken Dedes agak lebih baik dari keturunan Ken Umang di dalam dasar kemampuan menerima pendidikan dan pengetahuan olah kanuragan.

Tanpa disadari Anusapati masih mengangguk-anggukkan kepalanya, ia pernah mendengar bahwa ayahanda Ibunda Permaisuri selain seorang Pendeta, adalah seorang guru yang memumpuni, yang telah menurunkan ilmunya kepada murid tunggalnya Mnhisa Agni. sehingga darah keturunan kakeknya itu ada pula pada cucu-cucunya.

Begitu asyik Anusapati menyaksikan latihan itu, sehingga ia tidak merasa bahwa Tohjaya telah memperhatikannya. Bahkan ia tidak menyadari sama sekali bahwa Tohjaya memandangnya dengan tatapan mata yang aneh. Ia baru berpaling ketika ia mendengar Tohjaya bertanya, “Kenapa kakanda mengangguk-angguk?”

Anusapati agak terkejut mendengar pertanyaan itu. Bukan saja karena Tohjaya tiba-tiba saja bertanya, tetapi juga isi pertanyaannya. Karena itu untuk sesaat Anusapati tidak dapat menjawab pertanyaan itu.

Karena Anusapati tidak segera menjawab, maka Tohjaya mendesaknya, “Kenapa kakanda Anusapati mengangguk-nngguk?”

Anusapati menarik nafas. Kemudian jawabnya, “Aku senang sekali melihat adik-adik kita cepat sekali maju. Aku belum pernah menyaksikan mereka berlatih dengan sungguh-sungguh. Tetapi kini aku melihat mereka telah agak jauh mendalami olah kanuragan.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak menyahut lagi. Kini perhatiannya kembali kepada adik-adiknya yang sedang berlatih itu. Mereka harus menirukan beberapa unsur gerak dari gurunya. Gerak-gerak dasar ilmu tata beli diri yang mapan.

Namun selagi mereka asyik berlatih, tiba-tiba mereka terhenti ketika mereka mendengar Tohjaya tiba-tiba berteriak, “Tidak. Tidak begitu. Kau selalu membuat kesalahan serupa Adinda Sudatu. Juga Adinda Mahisa-wonga-teleng, tidak pernah memahami tata gerak yang dilakukannya.”

Anusapati mengerutkan keningnya, ketika ia melihat Tohjaya kemudian berdiri dan melangkah ke arena. Seperti guru adiknya, Tohjaya mulai memberikan contoh sambil berkata, “Begini seharusnya. Lihat. Untuk memberikan tekanan pada ujung tangan kanan harus meletakkan berat tubuh kalian ke arah gerak tangan kalian. Tetapi kalian tidak boleh melepaskan keseimbangan apabila tangan kalian tidak menemui sasaran. Kalian tidak harus meloncat maju selangkah penuh. Justru karena kalian terlepas dari sandaran kaki kalian pada tanah, maka kalian tidak dapat memberikan dorongan kekuatan sepenuhnya. Apalagi, apabila kelak kalian mempelajari ilmu olah kanuragan yang bersumber pada tenaga cadangan yang sekarang tidak kalian kenal maka kalian akan mengalami banyak kesulitan.”

Mahisa-wonga-teleng dan adik-adiknya yang sedang berlatih berdiri menepi sejenak. Mereka menyaksikan Tohjaya memberikan beberapa contoh kepada mereka.

“Nah, apakah kalian melihat kesalahan kalian? Di dalam perkelahian yang sesungguknya, kalian harus berusaha agar jarak di antara kalian dan musuh kalian tidak terlampau jauh. Apakah kalian mengerti? Dan kalian harus sadar sepenuhnya di dalam perkelahian yang demikian unsur ketrampilan gerak memegang peranan yang penting di samping kekuatan dan penguasaan gerak-gerak dasar dari ilmu kalian.”

Adik-adik Tohjaya itu mengangguk-anggukkan kepalanya, bahkan guru mereka-pun mengangguk-anggukkan pula. Namun Anusapati segera dapat menangkap siratan perasaan perwira pengawal itu. Ia sebenarnya tidak senang melihat sikap Tohjaya. Tetapi karena ia sadar, bahwa Tohjaya adalah putera terdekat dari tuanku Sri Rajasa maka pengawal itu sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa, meskipun dengan demikian Tohjaya sudah mengganggu usahanya melatih putera-putera Sri Rajasa menurut caranya.

“Sekarang,” berkata Tohjaya kemudian, “coba kalian ulangi lagi. Lalu katanya kepada pelatih adik-adiknya itu, “Ulangilah. Anak-anak itu memang harus mendapat latihan yang agak berat supaya sepadan dengan keadaan mereka. Sebagai putera Sri Rajasa, mereka harus menjadi anak-anak yang kuat dan cekatan.”

Betapa-pun beratnya, namun perwira pengawal itu mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, “Baiklah tuanku.”

Dengan demikian maka latihan-latihan itu-pun mulai diulangi kembali. Adik-adik Tohjaya harus mengulangi unsur-unsur gerak yang sedang mereka pelajari.

Tetapi agaknya Tohjaya tidak juga menjadi puas. Meskipun demikian ia berkata, “Baiklah. Tetapi kalian harus selalu mengulangi latihan-latihan yang sudah kalian dapat. Sekarang kalian dapat meneruskan latihan ini, meskipun latihan ini sama sekali tidak memuaskan. Kalian harus belajar bersungguh-sungguh. Kalau kalian malas, maka kalian tidak akan dapat menguasai ilmu kalian dengan baik.” tanpa sesadarnya ia berpaling kepada Anusapati, seakan-akan memberikan contoh kepada adiknya bahwa apabila mereka tidak beratih dengan sungguh, maka mereka tidak akan menjadi lebih baik dari Anusapati.

Adik-adiknya hanya memandanginya dengan kerut-merut di keningnya. Bahkan pelatihnya-pun hanya berdiri saja termangu-mangu.

“Teruskan, teruskan,” berkata Tohjaya kemudian.

“Baiklah tuanku,” jawab pelatih Mahisa-wonga-teleng itu.

Mereka-pun kemudian melanjutkan latihan mereka. Mereka mulai diajari menyusun gerak-gerak yang lebih sulit. Gerak-gerak rangkap dan gerak-gerak dasar yang sudah mereka sadari.

“Didalam perkelahian yang sebenarnya,” berkata pelatihnya, “jarang sekali tuanku mempergunakan unsur gerak murni dari tata gerak dasar. Tuanku pasti harus menggabungkan setiap unsur tata gerak dengan unsur ynng lain untuk menanggapi keadaan. Setiap keadaan harus ditanggapi dengan gerak rangkap yang khusus. Apakah hal ini dapat tuanku mengerti?”

Mahisa-wonga-teleng dan adik-adiknya mengangguk-anggukkan keplanya.

“Sudah beberapa kali tuanku mencobanya. Marilah kita sekarang mencobanya pula.”

“Apakah mereka harus berlatih berpasangan?” bertanya Tohjaya.

“Hamba tuanku,” jawab perwira itu.

“Baiklah. Aku ingin melihat latihan itu.”

Sejenak kemudian maka putera-putera Sri Rajasa itu telah menyiapkan diri. Mahisa-wonga-teleng, Saprang dan Sudatu. Agnijaya justru hanya berdiri saja di tepi arena.

“Tuanku Mahisa-wonga-teleng akan berlatih bersama tuanku Panji Saprang, Tuanku Panji Sudatu akan berlatih bersama hamba.”

Demikianlah maka dua pasang lingkaran latihan itu-pun segera dimulai. Pasangan Sudatu dan pelatihnya sama sekali tidak menarik perhatian karena garunya selalu menyesuaikan dirinya. Yang menerik perhatian adalah latihan yang dilakukan oleh kedua adiknya yang lain.

Mahisa-wonga-teleng dan Panji Saprang berusaha berlatih sebaik-baiknya. Kadang-kadang mereka terlibat dalam sikap yang keras. Namun meskipun gurunya sendiri sedang melayani Panji Sudatu, tetapi ia masih juga sempat mengawasi latihan yang dilakukan oleh kedua muridnya yang lain, sehingga kadang-kadang pelatihnya harus bergerak menyesuaikan diri dengan lawan latihannya sambil berbicara keras-keras untuk mengekang latihan Mahisa-wonga-teleng dan Panji Saprang.

Anusapati menyaksikan latihan itu sambil mengangguk-angguk pula. Kedua adiknya. Mahisa-wonga-teleng dan Punji Saprang memang sangat menarik perhatian. Ternyata keduannya mempunyai bekal yang cukup baik, sehingga pada tataran yang masih rendah, keduanya sudah menunjukkan beberapa sikap yang mengagumkan. Lincah dan kuat. Kadang-kadang meskipun tidak disadari, kedua menunjukkan tata gerak yang mengejutkan.

“Mudah-mudahan mereka mendapat kesempatan seterusnya,” berkata Anusapati di dalam hatinya, “mudah-mudahan mereka tidak mengalami nasib seperti aku. Jika demikian maka keduanya pasti akan sangat terhambat.”

Dengan bangga Anusapati menyaksikan latihan itu berlangsung terus. Sekali-sekali ia mencoba untuk melihat adiknya yang lain, panji Sudatu. Seperti yang lain, maka Sudatu juga dapat diharapkan untuk menjadi seorang yang perkasa kelak. Bahkan mungkin lebih baik dari Tohjaya apabila ia berlatih terus dan tekun.

“Bukan saja anak-anak itu mempunyai bekal yang baik tetapi agaknya gurunya-pun cukup baik. Caranya membimbing murid-muridnya tidak dilakukan tanpa perhitungan seperti guruku yang telah meninggal itu, justru karena ia bersikap berat sebelah.”

Anusapati yang sedang berangan-angan itu tiba-tiba terkejut. Tiba-tiba saja Tohjaya berdiri sambil berkata, “Berhenti. Berhenti dahulu!”

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...