Rabu, 27 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 12-02

*BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-12-02*

Karya.   : SH Mintardja

“Ia telah merendahkan dirinya sendiri. Adalah salahnya sendiri kalau hambanya tidak menghormatinya kelak, apabila ia benar-benar menggantikan Sri Rajasa apabila sampai waktunya.”

Kawannya masih mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau hanya mengangguk-angguk saja. Apakah tanggapanmu tentang hal ini?”

“Aku mempunyai pendirian lain,” jawab kawannya, “aku memandangnya dari sudut yang berbeda.”

“Apa menurut katamu?”

“Tuanku Putera Mahkota sama sekali tidak merendahkan dirinya tetapi ia memang seorang yang rendah hati.”

“Omong kosong. Kau lihat adiknya, Tuanku Tohjaya? Ia adalah gambaran seorang putera Maharaja yang besar seperti Sri Rajasa.”

Kawannya tidak menjawab.

“Banyak orang yang berceritera tentang Putera Mahkota. Apakah kau belum pernah mendengar tentang dirinya?”

“Ya bukankah umurku lebih banyak dari umurmu? Ketika kau lahir aku sudah dapat mengejar burung gelatik muda.”

“Nah, apakah kau tahu siapakah sebenarnya Anusapati itu?”

“Hus kau merendahkannya. Ia adalah Putera Mahkota.”

“Aku melihat perbedaan yang besar dari Akuwu Tunggul Ametung dan Sri Rajasa sekarang.”

“Kau mengenal Akuwu Tunggul Ametung? Berapa umurmu ketika Akuwu terbunuh?”

Kawannya itu tidak menyahut.

“Aku mempunyai pandangan yang berbeda dengan kau. Tuanku Putera Mahkota adalah seorang yang rendah hati. Berbeda dengan tuanku Tohjaya. Ia adalah gambaran dari seorang yang paling sombong yang pernah menghuni istana ini.”

“Ah.”

“Itu anggapanku. Dan mudah-mudahan aku keliru. Tetapi aku justru hormat kepada Tuanku Putera Mahkota yang tidak membeda-bedakan siapa saja dari hamba-hambanya. Ia mau duduk di sisi seorang juru taman di sisi embannya dan bahkan kadang-kadang di gardu peronda.”

“Tidak pantas bagi seorang Putera Mahkota.”

“Itu tanggapan yang salah. Agaknya kesombongan memang sudah menjalar di seluruh isi istana.”

Prajurit yang muda itu tidak menyahut 1agi. Tetapi keningnya tampak berkerut-merut. Mereka kemudian berjalan saja sambil membisu sampai ke gardu mereka. Kawan-kawannya yang melihat wajah keduanya menjadi heran. Seorang yang lebih tua lagi dari mereka bertanya, “Apakah kalian bertengkar? Berebut sawo yang jatuh di halaman belakang?”

“Tidak Kami tidak apa-apa. Kami hanya sekedar berbicara tentang Putera Mahkota.”

Prajurit yang bertanya itu tidak meneruskan pertanyaannya. Ternyata ia cukup bijaksana, karena ia tahu, bahwa masalah Putera Mahkota adalah masalah yang paling rawan untuk dibicarakan.

Dalam pada itu. Anusapati masih tetap berjongkok di samping Sumekar yang sedang menyiangi pepohonan. Sambil mencabut rerumputan, Sumekar berkata, “Witantra adalah sahabat kakang Mahisa Agni.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ia bertanya, “Tetapi kenapa ia memancing perkelahian? Kemudian bahkan melawan aji Gundala Sasra dengan kekuatan ajinya pula.”

“Itulah yang menarik. Ia tidak sempat mengatakan alasan itu kepada hamba. Tetapi menilik sikap dan pembicaraan hamba dengan Ki Witantra sebelumnya, maka hamba menduga, bahwa Ki Witantra sekedar ingin tahu sampai di mana kemampuau tuanku.”

“Ya. itu aku sudah menduga. Tetapi apakah maksudnya? Baik atau sebaliknya.”

“Aku kira maksudnya baik, ia sependapat dengan kakang Mahisa Agni, bahkan tuanku kelak harus menjadi seorang Raja yang besar. Kalau mungkin melampaui kebesaran Ayahanda Sri Rajasa.”

“Apakah hubungan antara Witantra dengan urusan ini?”

“Ki Witantra ingin melihat Singasari yang besar. Ia adalah seorang yang pernah mengalami hidup di dalam istana ini.”

“Di istana ini?”

“Ia adalah bekas Panglima. Pasukan Pengawal.”

“O,” Anusapati mengerutkan keningnya maka, “Aku ingat. Witantra. Panglima Pengawal Istana. Maksudnya pada jamsn Akuwu Tunggul Ametung memerintah Tumapel yang kecil, yang masih termasuk salah satu wilayah Kediri.”

“Hamba tuanku.”

“Apakah ia saudara seperguruan orang yang bernama Kebo Ijo, juga dari pasukan Pengawal?”

“Ya. Tuankn benar.”

“O, jadi ia adalah seorang yang pernah naik ke arena melawan paman Mahisa Agni?”

“Dari mana tuanku tahu?”

“Pelatihku yang terbunuh itu pernah bercerita. Mahisa Agni pernah mengatakannya meskipun tidak lengkap. Adinda Tohjaya pernah juga mengatakannya.”

Sumekar menganggukkan kepalanya. Kalau Tohjaya pernah berceritera tentang Witantra, Kebo Ijo dan peristiwa yang menyangkut keduanya, maka kemungkinan terbesar adalah justru Sri Rajasa sendirilah yang berceritera kepadanya. Dan ternyata dugaannya itu benar karena Tohjaya mengatakan pula kepada Anusapati bahwa ia mendengarnya dari Ayahanda Sri Rajasa.

“Ayahanda hanya mengatakannya kepada Adinda Tohjaya. Tetapi tidak kepadaku. Aku tidak mengerti kenapa ayahanda tidak mau mengatakannya kepadaku. Apakah aku memang tidak berhak, atau kalau dianggap oleh ayahanda sama sekali tidak penting bagiku.”

“Mungkin ayahanda tidak sengaja,” sahut Sumekar, “ayahanda barangkali lupa, kepada siapa ayahanda pernah berceritera. Mungkin ayahanda menganggap bahwa Ayahanda Sri Rajasa pernah berceritera pula kepada tuanku.”

“Bagaimana mungkin hal itu dapat terjadi?”

“Ayahada mempunyai banyak sekali kewajiban, sehingga Ayahanda Sri Rajasa tidak akan sempat mengingat-ingat apakah yang pernah diceriterakan kepada putera-puteranya.”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan bahwa ia sesuai dengan keterangan Sumekar itu. Meskipun demikian Anusapati tidak membantah.

“Tetapi apakah yang dikatakan oleh Tuanku Tohjaya?”

“Seperti yang Kau katakan. Witantra telah mencoba membela Kebo Ijo. Adinda Tohjaya mengatakan bahwa Witantra kakak seperguruan Kebo Ijo tidak mau melihat kenyataan bahwa Kebo Ijo telah bersalah karena membunuh Akuwu Tunggul Ametung. Ia mencoba mempergunakan pengaruhnya untuk membebaskan adik seperguruannya. Tetapi ketika Keho Ijo berusaha melarikan diri, ayahanda Sri Rajasa yang saat itu bernama Ken Arok, berhasil menangkap dan membunuhnya.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang ceritera itulah yang sampai saat ini masih dikenal oleh rakyat Singasari. Kepahlawanan Ken Arok yang membuatnya disegani. Tetapi Sumekar-pun telah pernah mendengar serba sedikit, apakah yang sebenarnya telah terjadi.

Tetapi tidak pada tempatnya apabila ia mengatakannya kepada Anusapati. Dengan demikian pasti akan dapat timbul persoalan-persoalan baru yang gawat bagi Singasari.

“Kenapa paman diam saja? Bukankah memang demikian yang telah terjadi?”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya tuanku. Demikianlah yang hamba ketahui.”

“Dan sekarang paman Witantra telah muncul kembali. Apakah maksudnya yang sebenarnya? Aku tidak mengerti, dimanakah sebenarnya ia berdiri. SebaGai seorang pengawal setia dari Akuwu ia pasti tidak akan memaafkan kesalahan siapa-pun yang telah membunuhnya meskipun ia adik seperguruannya. Tetapi ternyata Ia tidak berbuat demikian. Ia sama sekali tidak menunjukkan kesetiaannya kepada Akuwu Tunggul Ametung. Bahkan ia mencoba untuk mencuci kesalahan adik seperguruannya itu. Dan seandainya ia tidak senang lagi kepada pemerintahan yang dipimpin oleh Akuwu Tunggul Ametung ia pasti akan menerima dengan senang hati perubahan yang terjadi di Tumapel. Tetapi ia-pun justru telah mengundurkan diri.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Pikiran itu memang masuk akal. Pada saat itu Witantra memang tidak menunjukkan sikap yang tegas menghadapi keadaan.

“Ia adalah seseorang yang mencoba berdiri di atas kebenaran,” terdengar suara Mahisa Agni mengiang didalam rongga jantung Sumekar. Mahisa Agni-pun pernah berceritera kepadanya, bagaimana Witantra menolak untuk ikut serta mengambil Ken Dedes dari padepokannya ketika Akuwu telah dapat terpancing oleh niat Kuda Sempana saat itu.

“Meskipun Witantra tahu Akuwu akan dapat menghukumnya. Tetapi, ia tetap pada pendiriannya,” berkata Mahisa Agni lebih lanjut. Dan Mahisa Agni-pun pernah berceritera bagaimana Witantra melawan kehendak Mahendra antuk mengambil Ken Dedes kemudian menantang Mahisa Agni berperang tanding ketika ia mengetahui bahwa yang bernama Wiraprana bukanlah Mahisa Agni.

Tetapi Sumekar masih juga belum menjelaskannya. Ia masih juga harus meyakinkan pendengarannya tentang orang yang bernama Witantra itu sendiri, karena seperti juga Anusapati. Sumekar mengenal ceritera tentang Witantra sebelum kakak seperguruannya Kuda Sempana dan bahkan dari gurunya Empu Sada dan baru kemudian sebagian dari Witantra sendiri.

“Paman,” bertanya Anusapati kemudian, “bagaimanakah menurut paman tentang paman Witantra? Apakah kita dapat mempercayainya atau tidak? “

“Ampun tuanku. Hamba tidak tahu dengan pasti. Tetapi perasaan hamba mempercayainya.”

“Tetapi, apakah ia mempunyai maksud-maksud tertentu untuk kepentingannya sendiri? Aku sama sekali tidak mengerti. Mungkin ia memang mempunyai perhitungan tersendiri. Mungkin ia tidak sesuai dengan Ayahanda Sri Rajasa. Sejak Ayahada Sri Rajasa mempunyai pengaruh di Tumapel saat itu pengaruh Witantra semakin berkurang. Dan kini ia melihat keadaan yang kurang serasi di dalam istana ini. Apakah agaknya ia akan memanfaatkan keadaan ini untuk kepentingannya. Meskipun ia tidak mempunyai pamrih yang langsung untuk maksud sendiri secara lahiriah, tetapi kekeruhan yang dapat terjadi memberinya kepuasan.”

“Tuanku jangan terlampau berprasangka. Hamba akan berusaha menemui kakang Mahisa Agni. Hamba akan mendapat penjelasan yang lebih pasti daripadanya.”

“Kapan kau akan pergi?”

“Hamba akan mencari waktu. Hamba akan minta ijin dahulu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Sumekar memang tidak dapat pergi begitu saja. Sebagai seorang juru taman maka ia harus mendapat ijin lebih dahulu dari pemimpinnya.

“Baiklah paman,” berkata Anusapati, “kita sebaiknya minta nasehat paman Mahisa Agni untuk menilai paman Witantra. Mungkin paman Witantra bermaksud haik. Tetapi memang ada kemungkinan bahwa paman Witantra ingin berbuat sesuatu atas Ayahanda Sri Rajasa, tetapi ia ingin meminjam tangan orang lain. Dan ia melihat hubungan yang kurang serasi di dalam istana ini.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya, “Tuanku mempunyai pertimbangan yang cukup jauh. Ternyata bahwa tuanku sudah benar-benar menjadi dewasa.”

“Aku hanya ingin berhati-hati paman. Aku merasa bahwa pengetahuanku sebenarnya sangat picik. Tetapi bagaimana juga aku adalah seorang anak yang harus berbakti kepada ayahandanya apa-pun dan bagainana sikap ayahanda terhadap anaknya.”

“Pendirian tuanku memang terpuji. Itu adalah sikap seorang satria. Apalagi seorang Putera Mahkota.”

“Karena itu kalau paman Sumekar mendapat kesempatan alangkah baiknya kalau paman dapat menemui paman Mahisa Agni. Sudah tentu paman tidak boleh menarik perhatian.”

“Ya. Hamba akan minta ijin untuk menengok kampung halaman selama sepekan.”

“Tetapi kalau ada seseorang yang mengetahui kau menemui paman Mahisa Agni di Kediri, kemudian disampaikannya kepada Ayahanda Sri Rajasa, maka persoalannya akan menjadi berkepanjangan.”

“Ya, hamba mengerti.”

Anusapati-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia-pun berdiri dan berjalan menjauhi Sumekar melihat pepohonan yang lain di halaman bangsalnya.

“Sudahlah tuanku,” berkata Sumekar kemudian, “hamba akan kembali ke petamanan.”

“Ya. Kembalilah sepaya kawan-kawanmu tidak menunggu.”

“Apabila sampai waktunya hamba akan mengatakannya kepada tuanku.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menyahut. Dipandanginya saja Sumekar yang kemudian meninggalkan halaman. Sekali-sekali Sumekar masih juga berhenti berjongkok mencabut beberapa rumput liar yang tumbuh di dekat batang-batang bunga-bungaan.

“He, aku kira kau tertidur di depan bangsal Putera Mahkota itu,” bertanya kawannya ketika ia melihat Sumekar kembali ke petamanan.

“Tuanku Putera Mahkota minta memindahkan sebatang pohon Arum dalu.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak memperhatikan Sumekar lagi yang kemudian mulai memotong daun pohon-pohon bunga yang kuning.

Di hari berikutnya maka istana Singasari itu nampaknya telah mulai terbangun kembali karena Sri Rajasa bersama rombongannya telah kembali. Namun pada saat yang bersamaan, Sumekar telah menghadap pemimpinnya tetua para juru taman untuk minta ijin mengunjungi keluarganya di padukuhannya selama sepekan.

“Begitu lama?” bertanya pemimpinnya.

“Ya Ki Lurah bukankah aku datang dari tempat yang jauh? Kalau aku mempergunakan waktu kurang dari itu, maka perjalanan pulang dan kembali ke istana tidak seimbang dengan hari-hari istirahat di tengah-engah keluarga.”

Pemimpinnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kemudian ia berkata, “Tetapi agaknya Putera Mahkota menaruh perhatian khusus terhadapmu. Karena itu kau harus mohon diri kepada Tuanku Patera Mahkota.”

Dada Sumekar berdesir karenanya. Ternyata menurut pengamatan pemimpinnya ia mendapat perhatian dari Purera Mahkota. Hal ini tidak menguntungkan baginya dan bagi Anusapati. Karena itu maka ia-pun segera berkata, “Ah bukankah itu salah Ki Lurah. Akulah kemudian yang mendapat banyak sekali tugas yang tidak aku mengerti.”

“Kenapa salahku?”

“Ki Lurahlah yang pertama-tama mengatakan kepada Putera Mahkota bahwa aku memiliki kecakapan yang lebih baik dari yang lain. Padahal itu tidak benar.”

Pemimpinnya mengerutkan keningnya. “Apakah aku pernah mengatakan hal itu?”

“Ya.”

“Mungkin justru kepada tuanku Tohjaya aku memang pernah mengatakan ketika tuanku Tohjaya memerlukan seorang juru taman.”

“Sebelum itu Ki Lurah pernah mengatakan pula kepada tuanku Anusapati, sehingga akhirnya aku harus melayani kesukaannya kepada jenis-jenis bunga yang aneh.”

Pemimpinnya mengerutkan keningnya, ia tidak ingat lagi tentang hal itu, bahkan ia merasa bahwa ia tidak pernah berbuat demikian. Tetapi ia-pun kemudian tertawa, “Tetapi bukankah kau senang menerima hadiah?”

“Hadiah apa?”

“Kalau kau harus memberikan pelayanan khusus di halaman bangsalnya”

“Ah ada-ada saja Ki Lurah. Aku tidak pernah mendapat apa-apa.”

“Salah seorang embannya barangkali?”

“Rambutku sudah mulai ubanan.”

“Emban yang ubanan pula.”

“Ah,” Sumekar mengerutkan keningnya tetapi ia-pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Jadi apakah aku mendapat ijin itu?”

Pemimpinnya berpikir sejenak. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya, “Baiklah. Tetapi kau harus menepati waktu yang kau tentukan sendiri itu.”

Sumekar-pun kemudian menganggukkan kepalanya. Menurut perhitungannya waktu yang sepekan itu pasti sudah cukup. Ia dapat tinggal satu malam saja di Kediri. Dan waktu yang satu malam itu pasti sudah cukup untuk membicarakan banyak sekali masalah mengenai Putera Mahkota, Witantra dan bahkan mengenai Singasari.

Seperti pesan pemimpinnya Sumekar masih juga mohon diri kepada Putera Mahkota ketika akan berangkat. Sambil berbisik ia berpesan, “Hati-hatilah tuanku. Sebentar lagi tuanku pasti harus mulai lagi dengan latihan itu. Apabila ada sesuatu yang tidak berkenan dihati tuanku sebaiknya tuanku menahankannya. Kalau tuanku tidak dapat mengendalikan diri, maka keadaannya tidak akan menjadi semakin jernih. Adinda tuanku ternyata dapat berbuat apa saja untuk mencapai maksudnya.”

Anusapati-pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dilepaskannya Sumekar pergi meninggalkan istana untuk sepekan. Terasa betapa hari-hari berikutnya akan menjadi sangat sepi bagi Anusapati. Jauh lebih sepi dari pada ketika Sri Rajasa pergi berburu bersama Adinda Tohjaya.

Seperti yang dikatakan oleh Sumekar maka Anusapati segera mulai lagi dengan latihan-latihannya bersama Tohjaya dan yang semakin lama menjadi semakin berat. Tetapi gurunya yang baru ini tidak begitu menyakitkan hatinya seperti gurunya yang pertama. Bahkan kadang-kadang guru ini memandangnya dengan sorot mata yang aneh.

“Paman,” berkata Tohjaya pada suatu saat, “seperti yang pernah terjadi pada suatu waktu kita harus melakukan latihan di arena terbuka.”

“Ya,” jawab gurunya, “tetapi waktunya masih lama.”

“Kenapa? Kami pernah melakukan sebelumnya. Dan ayahanda memang berpendapat bahwa sebaiknya kami mengadakan latihan dalam waktu-waktu tertentu.”

“Hamba sependapat tuanku. Tetapi keadaan tuanku berdua harus menjadi mapan lebih dahulu.”

“Jadi maksud paman kami berdua masih belum mapan?”

“Ya. Masih belum mapan. Aku sedang membongkar bangunan lama yang aku anggap tidak berguna sama sekali dari tuanku berdua. Yang masih mungkin dipergunakan tetap akan hamba pergunakan. Barulah selelah bangunan baru nanti berbentuk tuanku akan mengadakan latihan terbuka.”

“Tetapi tidak ada seorang Senapati-pun yang mencela ilmu kami sebelumnya. Kenapa paman menganggap bangunan itu tidak berarti.”

“Mereka hanya melihat sepintas lalu. Hamba-pun tidak akan melihat kesalahan-lahan itu apabila hamba hanya sekedar melihat tuanku berdua berlatih satu dua kali. Dan hamba-pun tidak akan berkeberatan apa-pun seandainya hamba tidak harus menjadi guru tuanku, sehingga hamba harus menyesuaikan keadaan tuanku berdua dengan dasar-dasar dari ilmu hamba.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Ia merasa gurunya yang baru ini mempunyai sikap tersendiri. Gurunya yang lama tidak pernah berpikir sampai dua tiga kali. Apa yang dikehendakinya pasti disetujuinya.

Meskipun demikian Tohjaya tidak dapat menolak. Gurunya yang baru ini adalah saudara sepupu ibunya yang harusnya lebih banyak memberikan kesempatan daripada orang lain.

Dalam pada itu, Sumekar dengan tergesa-gesa kembali kepadepokan yang telah lama ditinggalkannya. Tetapi penghuni-penghuninya masih tetap mengenalnya karena setiap kali ia menengoknya, dan memberikan seekor kuda kepadanya.

Selelah menyiapkan bekal secukupnya, maka Sumekar-pun segera pergi ke Kediri untuk menemui Mahisa Agni. Namun ia sempat Singgah ke Panawijen lama, kesebuah padepokan baru, yang dihuni oleh Kuda Sempana.

Dari Kuda Sempana ia mendapatkan beberapa keterangan yang lebih memantapkan dugaannya, bahwa Witantra adalah orang yang jujur dan tidak mempunyai pamrih yang berlebih-lebihan apalagi pamrih pribadi.

“Aku pernah membencinya sampai ke ujung rambut seperti aku pernah membenci Mahisa Agni,” berkata Kuda sempana, “tetapi ternyata akulah yang salah.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi baiklah kau menemui Mahisa Agni.”

Demikianlah maka setelah bermalam semalam. Sumekar melanjutkan perjalanannya menuju ke Kediri, ia berusaha untuk tidak menarik perhatian. Karena itu ia memasuki kota di senja hari, ketika gelap mulai menyelubungi kota.

Sumekar dengan hati-hati memasuki halaman rumah Mahisa Agni. Sebuah halaman yang luas dan berdinding tinggi. Dua prajurit berada digardu didepan regol.

“Siapa?” bertanya salah seorang prajurit.

“Aku datang dari Panawijen,” jawab Sumekar sambil meloncat turun dari punggung kudanya, “kawannya bermain di masa kanak-anak.”

“Kawan siapa?”

“Mahisa Agni.”

“Tuanku Mahisa Agni yang kau maksud?”

“Ya, ya.”

“Siapa namamu?”

“Sada seorang cantrik dari padepokan Panawijen.”

“Tunggulah di sini. Salah seorang dari kami akan menyampaikannya kepada seorang pelayan dalam.”

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Mahisa Agni adalah seorang yang penting di Kediri, meskipun kedudukan itu tidak menarik bagi Mahisa Agni sendiri. Ia lebih senang bebas seperti burung elang di udara tanpa ikatan yang sangat menjemukan itu.

Tetapi ia tidak dapat menentang perintah Sri Rajasa yang berkuasa di Singasari dan Kediri.

Demikianlah maka salah seorang dari para pengawal halaman itu masuk ke dalam dan menyampaikannya kepada para pelayan dalam. Seorang pelayan dalam kemudian menunggu kesempatan untuk dapat menyampaikannya kepada Mahisa Agni di ruang dalam.

“Siapa yang mencari aku?” bertanya Mahisa Agni.

“Ampun tuan. Seorang cantrik dari padepokan Panawijen,” pelayan itu membungkukkan kepalanya.

“Cantrik dari Panawijen?” Mahisa Agni bergumam, “siapakah namanya?”

“Sada tuan.”

“Sada? Cantrik bernama Sada?”

“Ya tuan.”

“Apakah ia sudah sangat tua?”

“Tidak tuan ia masih belum tua benar, ia baru separoh baya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun ia masih belum jelas siapakah yang datang dan menyebut dirinya bernama Sada itu, namun ia berkata kepada pelayannya, “Suruhlah ia masuk.”

Namun demikian Mahisa Agni menjadi berdebar-debar juga. Ia belum pernah mendengar nama seorang cantrik yang bernama Sada. Satu-satunya orang yang dikenalnya bernama Sada adalah Empu Sada. Guru Kuda Sempana. Karena itu maka Mahisa Agni-pun harus berhati-hati menerima tamunya. Mungkin seseorang dengan niat yang tersembunyi. Tetapi mungkin juga seseorang yang memang pernah dikenalnya sehingga karena itu tidak menolaknya.

Sejenak kemudian maka perintah Mahisa Agni itu-pun telah sampai kepada prajurit yang berjaga di regol halaman. Karena itu maka mereka-pun segera mempersilahkan Sumekar masuk. Diantar oleh seorang pelayan dalam, maka Sumekar-pun kemudian dibawa ke ruang depan gandok sebelah Timur. Di situlah biasanya Mahisa Agni menerima tamunya apabila tamu itu bukan seorang tamu resmi.

Ketika kemudian Mahisa Agni keluar dari dalam gandok sebelah Timur dan dilihatnya Sumekar duduk di atas sebuah tikar pandan rangkap yang bersulam benang-benang pandan berwarna ia-pun menarik nafas sambil berkata, “Aku kira aku menerima tamu seorang Empu yang sudah sangat tua.”

Sumekar-pun tertawa.

Ketika Mahisa Agni sudah duduk disampingnya, maka Sumekar-pun berkata, “Aku takut kalau berita kedatangan Sumekar sampai ketelinga Sri Rajasa di Singasari.”

“Ya kau memang seorang yang bijaksana. Kau menyebut suatu nama yang memang pernah aku kenal. Karena itu aku menjadi ragu-ragu. Tetapi aku memang sudah menduga bahwa yang datang pasti ada hubungan atau sangkut pautnya dengan orang yang bernama Sada. Ternyata yang datang adalah muridnya yang terkasih.”

Sumekar tersenyum.

“Tetapi,” tiba-tiba Mahisa Agni mengerutkan keningnya, “apakah ada sesuatu yang akan kau sampaikan sesuatu yang mendesak?”

Sumekar mengelengkan kepalanya, “Tidak kakang. Tidak ada sesuatu yang mendesak.”

“Kalau begitu baiklah. Kita tidak usah berbicara tentang keperluanmu dahulu. Kau bermalam disini?”

“Tentu kakang. Aku tidak mempunyai keluarga lain di sini. Tetapi seperti aku datang maka besok sebelum siang aku akan sudah meninggalkan rumah ini. Tidak sepantasnya seorang juru taman Singasari berada di rumah ini sebagai seorang tamu.”

Mahisa Agni tersenyum. Setelah mereka saling menanyakan keselamatan masing-masing maka katanya, “Rumah ini adalah rumah yang besar dan dilayani oleh orang-orang yang sudah berpengalaman melayani pembesar pemerintahan di Kediri. Rumah ini adalah rumah yang paling besar di luar istana Raja dan istana Kepatihan. Rumah ini adalah istana Ratu Angabaya pada suatu jaman pemerintahan sebelum Tuanku Sri Baginda Kertajaya. Tetapi beberapa lama istana ini pernah kosong. Sehingga ketika aku masuk kedalamnya, rasa-rasanya aku memasuki sebuah kuburan.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, “Rumah ini memang besar sekali. Aku menjadi bingung karenanya. Pantaslah kalau rumah ini pernah menjadi istana Ratu Angabaya. Bangsal yang besar di belakang gandok kiri dan kanan yang dibatasi oleh longkangan-longkangan yang luas. Pohon Sawo kecik yang rindang dan pendapa yang besar dengan tiang dan umpak berukir. Dua orang prajurit di regol depan dan beberapa orang di gandok Kulon beserta beberapai orang pelayan dalam, semakin meyakinkan bahwa sebenarnyalah aku berada di dalam istana Ratu Angabaya.”

“Tetapi semuanya ini bagaikan sebuah sangkar yang menjemukan bagiku,” desis Mahisa Agni, “kadang-kadang aku menjadi rindu kepada padang dan sawah di Panawijen. Bahkan baru terasa kini, kebebasan yang segar apabila kita berkeliaran di Padang Karautan. Di sendang buatan yang manis atau berkejaran dengan binatang buruan.”

“Itu pulalah agaknya bahwa Sri Rajasa terlampau sering pergi berburu. Kadang-kadang dengan para pengiring yang lengkap, tetapi kadang-kadang hanya beberapa orang pengawal pilihan.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Tetapi,” berkata Sumekar, “karena di dalam istana Singasari ada Ken Dedes dan Ken Umang maka Sri Rajasa masih selalu kembali ke istana pula.”

“Ah,” Mahisa Agni tersenyum.

“Istana ini pasti akan terasa kering. Apakah sampai pada saat akhir kakang Mahisa Agni tetap seorang diri?”

“Ah, kita akan berbicara tentang masalah yang lain.”

“Baik, baik. Apakah aku boleh mengatakan maksud kedatanganku sekarang?”

“Nanti sajalah. Kau dapat mandi dahulu. Kau adalah tamuku. Nanti malam kita punya banyak waktu meskipun besok pagi-pagi kau akan meninggalkan rumah ini. Aku tahu, bahwa hal itu memang harus kau lakukan meskipun bukan maksudku untuk mengusirmu.”

Sumekar tersenyum. Agaknya Mahisa Agni-pun menyadari bahaya yang dapat timbul apabila seseorang dapat menyampaikan kepada Sri Rajasa, bahwa Sumekar seorang juru taman telah datang menjadi tamu Mahisa Agni di Kediri.

“Ya,” jawab Sumekar, “besok pagi-pagi benar.”

“Sekarang kalau kau ingin membersihkan dirimu pergilah ke pakiwan.”

“Dimanakah pakiwan itu? Meskipun aku seorang hamba istana tetapi aku jarang sekali masuk ke dalam, apa lagi sampai ke bagian yang paling belakang karena aku seorang juru taman yang pekerjaanku setiap hari di petamanan. Berbeda dengan seorang prajurit pengawal istana, seorang pelayan dalam atau hamba-hamba istana yang tugasnya di dalam istana, seperti juru panebah.”

Mahisa Agni tertawa. Jawabnya, “Jangan sakit hati, kalau aku tidak dapat mengantarkan kau. Sebenarnya aku ingin berbuat demikian, tetapi hal itu akan menimbulkan pertanyaan pada pelayan-pelayan dalam dan para hamba yang lain.”

“Jadi aku harus mencari sendiri?”

“Tidak. Aku terpaksa bertepuk tiga kali. Seorang pelayan akan masuk dan aku akan menyuruhnya mengantarkan kau.”

Sumekar mengerutkan keningnya. Namun ia kemudian tersenyum sambil berkata, “Ya, aku lupa bahwa aku berhadapan dengan wakil Sri Paduka Maharaja Singasari.”

“Bersikaplah sebagai seorang tamu di dalam istana ini, bukan seorang juru taman. Aku cemas bahwa besok demikian kau terbangun kau akan turun ke halaman dan menyiangi pepohonan.”

Keduanya-pun tertawa.

Sumekar-pun kemudian pergi ke pakiwan diantar oleh seorang pelayan yang datang ketika Mahisa Agni bertepuk tiga kali.

“Kau benar-benar seorang wakil raja kakang,” desis Sumekar.

Mahisa Agni hanya tersenyum saja.

Terasa alangkah sejuknya air dipakiwan istana Ratu Angabaya yang kini dihuni oleh Mahisa Agni. Apalagi setelah sehari-harian Sumekar berpacu di atas punggung kuda dari Panawijen. Seolah-olah tidak berhenti sama sekali sejak fajar menyingsing.

Setelah makan malam dan berkelakar sejenak, maka mulailah Sumekar menyatakan maksud kedatangannya.

“Aku telah minta ijin sepekan kepada pemimpin juru taman untuk pulang ke padukuhanku. Tetapi aku telah mempergunakan waktu itu untuk melawat ke Kediri, agar aku dapat menyampaikan ceritera tentang tuanku Putera Mahkota kepada kakang Mahisa Agni.”

“Apakah ada sesuatu yang menyimpang pada tuanku Pangeran Pati?” bertanya Mahisa Agni.

“Tidak. Semua berjalan dengan wajar dan baik. Tuanku Putera Mahkota masih dapat melakukan peranannya dengan baik. Seandainya di dalam istana Singasari dibentuk sebuah kelompok penari maka tuanku Pangeran Pati pasti akan dapat berperan dengan bagus sekali.”

“Maksudmu?”

“Ia dapat memainkan lakon yang betapa-pun sulitnya.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia-pun tersenyum. Katanya, “Aku hampir menjadi bingung. Apakah hubungannya antara Putera Mahkota dan sekelompok penari? Tetapi akhirnya aku mengerti juga.”

Sumekar-pun tersenyum pula. Lalu dilanjutkannya ceriteranya, “Betapa-pun berat peranan yang harus di bawakan. Memang kadang-kadang, Tuanku Anusapati hampir tidak dapat lagi menahan hati. Untunglah bahwa sampai saat ini, semuanya masih tetap merupakan suatu rahasia bagi Sri Rajasa.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan Anusapati dapat selamat sampai, ke Singgasana. Bukan niat kami berbuat jahat. Bukan maksud kami untuk menumbangkan kekuasaan yang ada sekarang. Tetapi kami ingin yang bakal datang tidak memuramkan tahta Singasari. Lebih dari itu, takhta Singasari akan jatuh ketangan orang yang memang berhak atasnya. Keturunan Ken Dedes bukan keturunan Ken Umang.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Desisnya, “Begitu pulalah yang dikatakannya.”

“Siapa? Siapa yang berkata begitu juga?”

“O, aku masih belum mengatakan bahwa aku telah bertemu dengan seseorang.”

Mahisa Agni memandang wajah dengan penuh pertanyaan di sorot matanya.

“Aku bertemu dengan seorang yang pernah memegang jabatan penting di jaman Tumapel.”

“Siapa?”

“Panglima Pengawal istana.”

“Witantra maksudmu?”

“Ya.”

“Dimana?”

“Witantra sengaja menemui aku.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya. Sementara itu Sumekar-pun segera berceritera tentang bekas Panglima pasukan pengawal Akuwu Tunggul Ametung itu. Diceriterakannya pula bagaimana ia menemui Anusapati di jurang yang terasing tempat Putera Mahkota melatih diri. Dan bahkan Witantra telah memancing benturan antara dua kekuatan yang dahsyat.

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian katanya, “Tetapi aku yakin maksudnya-pun pasti baik pula.”

“Aku juga mengharap demikian. Tetapi karena aku belum begitu mengenalnya maka aku memerlukan menemui kakang Mahisa Agni untuk meyakinkannya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya kemudian, “Aku kira Witantra ingin melihat betapa jauh Anusapati mendalami ilmunya. Bukankah dengan demikian Anusapati akan mendapat kesempatan untuk menambah pengalamannya?”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya, ia sependapat dengan Mahisa Agni dan bahkan Putera Mahkota-pun berpendapat demikian. Tetapi apa yang ada dibalik keinginannya untuk mengetahui tingkat ilmu Putera Mahkota itu? Dan apabila ia berusaha memperkaya pengalaman Putera Mahkota apakah pamrihnya?

Meskipun pertanyaan-pertanyaan itu tidak diucapkan, namun Mahisa Agni seakan-akan dapat menangkap dari siratan pandangan mata Sumekar. Karena itu maka katanya, “Adi Sumekar. Aku tidak tahu pasti apa yang ada di dalam hati seseorang. Tetapi aku kira Witantra sama sekali tidak bermaksud jelek. Ia tidak ingin sekedar mendorong pertentangan atau katakanlah hubungan yang kurang sewajarnya antara Putera Mahkota dan Sri Rajasa. Meskipun Witantra banyak mengetahui mengenai latar belakang kehidupan Sri Rajasa di masa mudanya dan usahanya untuk mendapatkan kedudukannya yang sekarang, tetapi Witantra tidak akan mengguncang kebesaran Singasari sekarang. Hal itu disadarinya, tidak akan ada gunanya. Bahkan Witantra sebagai seorang pejuang di masa mudanya, pasti ingin melihat Singasari semakin berkembang. Tetapi sudah tentu Witantra tidak ingin pemerintahan Singasari itu jatuh ke tangan keturunan Ken Umang. Witantra adalah saudara iparnya yang mengetahui banyak tentang perempuan yang bernama Ken Umang itu. Perempuan yang jantung dan hatinya dibakar oleh ketamakan dan nafsu lahiriah yang berlebih-lebihan. Bahkan segala macam nafsu.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Jadi,” katanya, “kesimpulan dari pendapat kakang Mahisa Agni adalah, bahwa kakang Mahisa Agni tidak berkeberatan sama sekali atas kehadiran Witantra di hari-hari mendatang dalam kehidupan Putera Mahkota!”

“Ya. Aku tidak berkeberatan sama sekali. Aku justru berharap, Putera Mahkota akan menjadi semakin mantap, dan akan menjadi Putera Mahkota yang penuh dengan bekal yang akan bermanfaat bagai masa depannya. Bahkan Witantrra bukan sekedar seseorang yang berilmu mumpuni, tetapi ia juga memiliki pengetahuan dan pengalaman di dalam ilmu pemerintahan. Bawalah Pangeran Pati itu kepada suatu keadaan yang sejauh-jauhnya dapat dicapainya. Jangan disangka bahwa Tohjaya-pun tidak mendapat bermacam-macam ilmu sebelum pada suatu saat ia akan diperbandingkan dengan Anusapati. Langsung atau tidak langsung.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Mudah-mudahan pada saatnya Anusapati dapat mempersiapkan dirinya,” berkata Mahisa Agni lebih lanjut. “Kumpulan dari pengetahuan atas ilmu yang mantap, aji Gundala Sasra, Kala Bama dan Bajra Pati akan dapat memberikan banyak manfaat bagi perkembangan ilmu dasarnya Gundala Sasra. Asal Anusapati mendapat tuntunan yang terarah ia tidak akan ditelan oleh benturan yang tidak mapan dari kedua ilmu itu, dan bahkan mungkin ilmu-ilmu yang lain kelak.”

Sumekar masih juga mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi kini ia sudah mendapat pegangan. Ia menjadi semakin yakin bahwa memang Witantra adalah seorang pejuang yang tidak diombang-ambingkan oleh perasaan dan sikap pribadi. Ia hanya mendambakan suatu negeri yang makmur dan berarti bagi rakyatnya. Karena itu, betapa-pun juga ia mempunyai persoalan pribadi, namun ia tidak mau mengguncang Singasari yang sedang mendaki ke puncak kejayaannya.

“Nah bagaimana pendapatmu,” bertanya Mahisa Agni.

“Aku sependapat dengan kakang Mahisa Agni sudah jauh lebih banyak mengenal watak dan tabiatnya. Di dalam hubungan yang pendek aku juga sudah melihat sifat-sifat itu, sehingga aku-pun percaya kepadanya bahwa ia sama sekali tidak bermaksud buruk.”

“Aku akan berbicara pula dengan Witantra. Ia sering pula datang kemari. Kadang-kadang tanpa disangka-sangka ia sudah berdiri di ambang pintu, dalam pakaian seorang pratapu.”

“O.”

“Aku akan meyakinkan, apa yang sudah dikerjakannya.”

Sumekar masih juga mengangguk-angguk.

Demikianlah maka mereka-pun telah menentukan suatu sikap yang serupa atas Witantra. Keduanya tidak berkeberatan apabila untuk seterusnya Witantra hadir di dalam dunia pertumbuhan Pangeran Pati Anusapati.

Setelah berdiam diri sejenak maka Sumekar-pun kemudian berkata selanjutnya, “Kakang, selain Witantra masih ada yang akan aku bicarakan.”

“Tentang?”

“Tentang Putera Mahkota.”

Mahisa Agni tidak menyahut. Tetapi kerut merut dikeningnya menjadi semakin dalam.

“Di hari-hari terakhir tampaknya hati Putera Mahkota menjadi semakin sepi.”

Mahisa Agni tidak segera menyahut.

“Beberapa saat yang lampau. Putera Mahkota tidak pernah mempersoalkan apabila Sri Rajasa pergi berburu dan membawa serta tuanku Tohjaya. Tetapi sekarang, Tuanku Anusapati merasa dirinya menjadi semakin terasing. Saat ini aku masih dapat membujuknya dengan macam-macam cara. Tetapi aku mencemaskannya, bahwa pada suatu saat perasaan sepi dan terasing dari keluarganya itu akan meledak dalam bentuk yang tidak kita ketahui sebelumnya.”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Yang menjadi persoalan bagi kita adalah bagaimana kita dapat mengisi kesepian dan kekosongan hati Putera Mahkota itu?”

“Bagaimana dengan ibunda Permaisuri?”

“Bukan maksud ibunda Permaisuri memisahkannya dari adik-adiknya. Tetapi kembali kepada sikap Sri Rajasa, maka perhatian ibunda Permaisuri seakan-akan telah terampas oleh putera-puteranya yang kemudian. Hanya kadang-kadang saja Putera Mahkota menghadap ibunda di bangsal Permaisuri.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa sesadarnya, terbayang kembali wajah Permaisuri Ken Dedes di rongga matanya, sejak ia masih seorang gadis di Panawijen. Meskipun bukan maksudnya sendiri, namun Ken Dedes adalah seorang perempuan yang mempunyai anugerah ciri kebesaran yang jarang bahkan hampir tidak pernah dijumpai pada perempuan yang lain.

Namun sebagai manusia biasa ia mempunyai kelemahan-kelemahan. Dan kini karena pengaruh lingkungannya, ia telah membiarkan puteranya yang sangat dikasihinya itu menjadi kesepian. Mungkin Ken Dedes sendiri akan menjadi sangat bersedih apabila ia mengetahui keadaan Anusapati yang sebenarnya. Mengetahui keadaan bukan saja lahiriahnya, tetapi juga isi jiwanya.

“Adi Sumekar,” berkata Mahisa Agni kemudian, “Putera Mahkota memerlukan perhatian ibunda lebih banyak lagi. Adik-adiknya memang lebih leluasa berhubungan dengan ayahanda dan ibunda, namun Permaisuri sendiri harus memberi lebih banyak peluang untuk putera sulungnya.”

“Itulah yang barangkali kurang mendapat perhatian. Mungkin tuanku Permaisuri sama sekali tidak bermaksud demikian. Namun keadaan lingkungannyalah yang telah menjadikannya seakan-akan agak terpisah dan putera sulungnya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya, “Tetapi kenapa kau menyinggung masalah itu? Atau barangkali kau telah membayangkan suatu cara yang paling baik untuk menolong keadaan Anusapati.”

“Kakang Mahisa Agni. Sekarang Tuanku Putera Mahkota telah dewasa penuh! Bahkan adik-adiknya-pun telah menjadi anak-anak muda yang gagah. Apalagi tuanku Tohjaya. Apakah tidak pada tempatnya apabila kakang Mahisa Agni sebagai pamannya memikirkan untuk mencari seorang perempuan yang dapat menjadi kawan hidup Tuanku Putera Mahkota itu?”

Mahisa Agni mengerutkan keningnya.

“Kalau tidak ada seorang-pun yang memikirkannya maka hal itu pasti tidak akan segera menarik perhatian tuanku Anusapati sendiri. Sehingga apabila pada suatu saat, tuanku Tohjaya atau seorang adiknya yang lain, Putera Tuanku Sri Rajasa mendahuluinya, maka Tuanku Pangeran Pati akan merasa semakin kesepian.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Apakah adik-adiknya sama sekali, tidak pernah bergaul dengan Anusapati? Maksudku adik-adiknya yang lahir dari Permaisuri itu pula?”

“Jarang sekali. Sekali-kali mereka berkumpul juga. Telapi itu hanya terjadi tidak lebih dari sepekan sekali. Yang paling sering datang berkunjung atau kadang-kadang mereka bertemu di bangsal ibunda Permaisuri adalah Adinda Mahisa Wongateleng.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Baik Anusapati maupun Mahisa-wonga-teleng adalah putera Ken Dedes. Juga putera-puteranya yang lain Panji Sabrang, Agnibaya dan adik-adiknya. Tetapi yang paling dikenalnya adalah Anusapati.....

Bersambung.....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...