Sabtu, 07 Agustus 2021

"PERFUME, THE STORY OF A MURDERER" 45

EMPAT PULUH LIMA


GRENOUILLE  MENYIAPKAN  PEKERJAAN  dengan kecakapan  seorang  profesional.  Ia  membuka  buntel, mengeluarkan  kain  linen,  pomade,  dan  alat  pengaduk, kemudian  menggelar  kain  linen  itu  di  atas  selimut  lalu mulai mengolah pasta berlemak. 

Pekerjaan ini butuh waktu karena  minyak  lemak  harus  dioleskan  tipis  atau  tebal 
tergantung bagian tubuh mana yang akan ditempel di kain tersebut. Bagian mulut dan ketiak, buah dada, kelamin dan kaki  memberi  aroma  lebih  kuat  ketimbang  garas  kaki, 
punggung,  dan  siku,  misalnya.  

Telapak  tangan  lebih beraroma  ketimbang  punggung  tangan, alis mata melebihi kelopak  mata,  dan  sebagainya.  Karena  itu  harus  diberi lapisan  lemak  lebih  tebal.  

Grenouille  sedang  membuat sebuah  model,  di  mana  diagram  aroma  ditransfer  ke  aras 
kain  linen  tersebut  berdasarkan  bagian  tubuh  yang  akan dibalut. 

Pekerjaan ini termasuk yang paling menyenangkan dilakukan  karena  bergantung  pada  kecakapan  teknik artistik  yang  digabung  dengan  wawasan,  imajinasi,  dan 
ketangkasan  si  seniman  itu  sendiri,  selain  juga melambungkan kenikmatan menunggu hasil akhir. 

Setelah  pomade  habis  dioles,  ia  haluskan  lagi  di  sana-sini,  membuang  beberapa  bagian  yang  terlalu  tebal, menambah lagi  di  sana, menata  ulang, memeriksa lanskap sebaran  lemak  dari  model  yang  dibuat,  sekali  lagi.  Semua dilakukan  dengan  hidung,  bukan  dengan  mata,  karena 
sekelilingnya  gelap  gulita. 

Mungkin  itu  juga  sebabnya Grenouille  merasa  nyaman.  Tak  ada  yang mengganggu  di malam bulan  baru ini. Dunia hanya menyisakan aroma dan  debur halus ombak dari laut. 

Grenouille  lalu  menggulung  kain  linen  seperti permadani. Ini prosedur menyakitkan karena sadar bahwa bagian-bagian  yang  telah  disempurnakan  tadi  pasti  saling 
tumpang-tindih,  menipis,  atau  bergeser.  Tapi  tak  ada  cara lain  lagi  membawanya.  

Setelah  dilipat  cukup  kecil  sampai muat  di  bawah  lengan  tanpa  menghalangi  gerak,  ia 
memasukan pengaduk, gunting, dan pentungan kayu kecil ke saku, lalu menyelinap di kegelapan malam. 

Awan  sedang  tebal.  Tak  ada  cahaya  menyala  di penginapan.  Satu-satunya  sumber  cahaya  hanya  setitik kerdipan  mercusuar  di  benteng  pulau  Ile  Sainte-
Marguerite, berjarak satu mil di sebelah  timur. 

Angin berbau amis bertiup ringan dari arah pelabuhan.  Aning-anjing  sedang lelap. 

Grenouille  berjalan  ke  jendela  atap  bagian  belakang bangunan  gudang  tempat  sebuah  tangga  bersandar.  Ia angkat tangga itu, diseimbangkan secara vertikal, tiga anak tangga  ia  apit  dengan  tangan  kanan,  sementara  sisanya dibiarkan  menekan  bahu  kanannya.  Lalu  ia  bergerak melewati  pekarangan  sampai  tiba  persis  di  bawah jendela kamar  Laure.  

Jendelanya  terbuka  lebar.  Sambil  memanjat 
tangga ia bersyukur atas situasi yang mempermudah panen aroma kali ini di La Napoule. 

Di Grasse, kebanyakan rumah, termasuk  rumah  Richis,  sudah  dipasangi  terali  dan  dijaga ketat. Laure bahkan tidur sendiri di kamar ini. Ia tak harus memusingkan si pengasuh lagi.

Grenouille  mendorong  daun  jendela,  menyelinap  ke kamar,  dan menggelar  kain linen.  Lalu  beralih  ke  ranjang. 

Aroma dominan mengambang dari rambut Laure karena si gadis tidur tengkurap dengan kepala bersandar bantal dan disangga  lengan  terlekuk  ‐  memperlihatkan  belakang kepala dalam posisi yang nyaris ideal untuk dihajar dengan  kayu. 

Suara pukulan terdengar tumpul dan  gemeretak. Grenouille benci ini. Benci karena suara yang ditimbulkan. Suara yang keluar di  tengah prosedur yang mestinya tak bersuara. 

la  menahan  suara  itu  dengan  mengeraskan 
gemeretak gerahamnya. Setelah usai ia berdiri kaku seolah takut  suara  itu  berbalik menggema.  Tapi  tidak.  Hanya kesunyian  yang  datang.  Kesunyian  yang  makin  meninggi, karena  kini  napas  si  gadis  tak  lagi  terdengar.  

Seketika  itu juga  keteganggan  Grenouille mengendur  ia embali  menjadi rileks. Setelah  menyingkirkan  pentungan,  kini  tinggal membereskan  tujuan  utama.  

Pertama-tama  ia  membuka lipatan kain linen kemudian menggelarnya di atas meja dan 
kursi  dengan  hati-hati  agar  lapisan  lemaknya  tidak  rusak. 

Lalu ia menarik seprai pembungkus ranjang. Aroma si gadis meledak  begitu  hangat  dan masif,  namun  Grenouille  tetap teguh.  Ia kenal aroma ini dan kelak akan dinikmati sendiri seutuhnya setelah pekerjaan selesai. 

Yang penting sekarang adalah  bagaimana  menangkap  aroma  ini  sebanyak mungkin. 

Kini waktunya konsentrasi dan buru-buru. 
Dengan  gunting  ia  memotong  dan  menyingkirkan  gaun tidur lalu menebar kain linen berlemak ke  tubuh  telanjang si  gadis,  mengangkat  mayat  dan  menyelipkan  bagian  kain yang  tersampir  ke  bawah  tubuh,  membungkus  rapat  dari kaki sampai kening. 

Hanya rambut yang menyembul keluar dari bungkusan mumi itu. Grenouille memotongnya sampai ke  dekat  kulit  kepala  dan mengepaknya  bersama  pakaian tidur,  diikat  dan  dibuntel.  Terakhir  ia  mengambil  secarik 
kain  yang  masih  tersampir  dan  membungkuskannya  ke kepala yang baru dicukur. Ujung-ujung kain dan bagian lain 
dirapikan  dengan  jari  agar  rapat  dan  ketat.  

Ia  menjauh sedikit, mencermati pekerjaannya dan puas melihat  mayat telah terbungkus sempurna. 

Kini  waktunya  menunggu.  Selama  enam  jam,  sampai fajar.  Grenouille  menarik  kursi  kecil  tempat  ia  menaruh buntel  pakaian  Laure.  Ditariknya  ke  dekat  ranjang  dan  ia 
pun duduk. Desah lembut aroma si gadis masih menempel di  mantel  hitam, bercampur  dengan  aroma  biskuit  adas manis  dalam  kantung  yang  disimpan  sebagai  bekal 
perjalanan.  

Grenouille  mengangkat  kaki  ke  tepi  ranjang, 
berselimut  pakaian  tidur  korban  dan  asyik  mengunyah biskuit.  Ia memang lelah,  tapi  tak mau  tidur karena sangat tidak pantas tertidur kala bekerja. 

Pun bila yang dilakukan hanya  menunggu.  Ia  ingat  kembali  malam  hari  saat menyuling  di  toko  Baldini.  Pada  botol  suling  yang  gosong, letikan api, decik lembut suara hasil sulingan saat menetes dari  tube  ke  botol  Florentine.  Saat  seperti  ini  api  harus 
tetap dijaga, menuang lagi air penyulingan, mengganti botol Florentine serta mengganti ramuan yang sudah jenuh. 

Saat itu  Grenouille  merasa  mampu  terjaga  bukan  semata-mata menjaga rutinitas pekerjaan, tapi karena kondisi terjaga itu 
memiliki tujuan unik tersendiri. Bahkan sekarang, di kamar tidur  ini,  di  mana  proses  penyerapan  sedang  berlangsung dengan  sendirinya,  karena  kalau  diusik  dengan 
pemeriksaan  prematur  justru  akan  merusak  proses  itu sendiri.  Bahkan  di  sini,  saat  ini,  Grenouille  merasakan pentingnya  kondisi  terjaga. Tidur hanya  akan membahayakan semangat keberhasilan. 

Tak  sulit  baginya  untuk  begadang  dan  menunggu, kendati  lelah.  Grenouille mencintai  penantian  ini.  Begitu juga  dengan  kasus  ke-24  gadis  sebelumnya.  Tidak  terasa hambar  atau  apa.  Bosan  pun  tidak.  

Yang  terasa  adalah penantian  penuh  perhatian,  penuh  makna  dan  aktif.  Ada 
yang  terjadi  sementara  ia  menunggu.  Hal  terpenting  dan paling pokok dari seluruh kegiatan yang dilakukan. 

Ia telah mengusahakan  yang  terbaik,  mengerahkan  seluruh keahlian artistik dan tidak membuat kesalahan. 

Kerja yang dilakukan  terasa  unik. Sepatutnya  dimahkotai  kesuksesan. Hanya  tinggal  beberapa  jam  lagi.  Proses  menunggu  ini 
justru  membuatnya  puas.  Belum  pernah  ia  merasa  begitu nyaman,  begitu  damai, tenang,  utuh  dan  menyatu  dengan diri  sendiri.  

Bahkan  melebihi  saat  di  gunung  dulu,  karena sekarang  ada  karya  nyata  yang  sedang  berlangsung sementara  menunggu.  Benak  Grenouille  jarang  disesaki keceriaan seperti ini. 

Anehnya,  pikiran  ini  tidak  melambung  sampai  ke  masa depan.  Ia  tidak memikirkan  seperti  apa  aroma  yang  akan diperoleh  beberapa  jam  lagi,  tidak  pula  soal  aroma  yang terbentuk  dari  aura  25  orang  perawan.  

Tidak membayangkan  rencana,  kebahagiaan,  atau  kesuksesan  di masa depan. Tidak. Grenouille malah pergi ke masa lalu. Ia ingat  berbagai  tahapan  dan  peristiwa  dalam  hidupnya, mulai  dari  rumah  Madame Gaillard  dan  tumpukan  kayu lembap  di  pekarangan,  sampai  perjalanan  hari ini  ke  desa La  Napoule  yang  berbau  amis.  

Ia  teringat  Grimal  si penyamak,  Giuseppe  Baldini,  dan  Marquis  de  la  Taillade-Espinasse.  

Ia  teringat  kota  Paris,  pada  kabut  aromanya yang amat luas - aroma jahat dari ribuan penghuninya yang angkuh,  pada  si  gadis  berambut  merah  dari  jalan  Marais, 
padang-padang  nan  luas,  angin  pegunungan  dan  hutan.  

Ia juga  teringat  gunung  Auvergne  dan  mimpi  mengerikan  di gua  itu,  pada  kenangan  tentang  aroma  diri  yang  tidak 
seperti  manusia  normal.  

Setiap  detail  melintas  dengan kepuasan  luar  biasa.  Sungguh,  kalau  dikilas  balik  begini 
rasanya  ia  jadi  manusia  paling  beruntung  sedunia.  

Takdir menuntun ke jalan hidup yang keras dan sadis, tapi terbukti memang  jalan  yang benar.  Bagaimana lagi  caranya ia  bisa sampai di sini, pada saat ini, di kamar ini, persis di ambang 
pencapaian  tujuan hidup?  Makin  direnung, tak  pelak  lagi bahwa ia memang manusia penuh berkah. 

Rasa  syukur  dan  kerendahan  hati  membuncah mendeburi  batin.  “Terima  kasih,”  ujarnya  perlahan. 

“Terima kasih, wahai Jean-Baptiste Grenouille, karena telah menjadi  apa  adanya  dirimu!”  

Ia  begitu  terharu,  oleh  diri sendiri.

Grenouille menutup mata.  Bukan  untuk  tidur,  tapi  agar mampu  menyelimuti  diri  dengan  kedamaian  malam  suci ini.  Kedamaian  yang  begitu  tenang  dan  sekaligus mengungkung  mengelilingi.  

Ia  mencium  lelapnya  si pengasuh di  ruang  sebelah,  kenyamanan Antoine Richis di 
seberang  koridor,  nyenyaknya  si  pemilik  penginapan  dan para  pelayan,  anjing penjaga,  ternak  di  kandang,  seluruh desa  dan  laut.  Angin  telah  lama  mati.  Waktu  seperti berhenti berdetak. Tak ada yang mengusik kedamaian. 

Sesekali ia menggeser  kaki di pinggir  tempat  tidur agar lebih  nyaman  dan  menyenggol  lembut  kaki  mendiang Laure.  Bukan  kakinya  persis,  tapi  kain  yang  membungkus tubuh  itu  dan  lapisan  tipis  lemak  peresap  yang  terus melahap  aroma.  Aroma  dahsyat  sang  gadis. Aroma Grenouille.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...