Rabu, 27 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 12-01

*BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-12-01*

Karya.  : SH Mintardja

“Aku tidak perduli,” teriak Anusapati yang sudah benar-benar kehilangan kesabaran. “Aku akan membunuh siapapun. Dan kini aku akan membunuhmu.”

“Tuanku keliru.”

“Aku tidak peduli, “Anusapati menggeram sambil melangkah maju. Ia sudah siap untuk bertempur dengan orang yang tidak dikenalnya itu.

Orang itu mundur selangkah. Tetapi agaknya ia sudah mempersiapkan dirinya pula.

Di dalam keremangan malam keduanya-pun kemudian berdiri tegak di dalam kesiagaan tertinggi.

“Tuanku benar-benar akan melakukan kekerasan.” berkata orang itu.

“Jangan menganggap aku anak-anak lagi,” sahut Anusapati, “kau memang datang untuk memancing persoalan. Untuk memancing kekerasan. Jadi kau tidak usah menilai tindakanku lagi. Aku yakin inilah yang kau ingini.”

Orang itu terdiam sejenak. Namun tampaklah bahwa ia menjadi semakin tegang. Bahkan tiba-tiba ia berkata lantang, “Memang, inilah yang aku kehendaki. Aku ingin tahu apakah benar Putera Mahkota Singasari yang pernah membunuh pelatihnya sendiri itu benar-benar seorang yang tidak ada duanya di seluruh jagad. Aku adalah saudara laki-laki dari orang yang terbunuh itu. Dan kini aku akan menuntut balas.”

Belum lagi orang itu mengatupkan mulutnya. Anusapati telah memotong, “bersiaplah. Aku akan mulai.”

Orang itu terdiam. Ketika Anusapati melangkah maju, ia tetap berdiri di tempatnya.

“Jadi kau adalah saudara orang yang terbunuh itu,” desis Anusapati, “aku tidak akan ingkar. Akulah yang membunuhnya.”

Orang itu tidak menjawab namun tiba-tiba saja ia melangkah maju dan dengan lincahnya ia meloncat menyerang Anusapati. Tangannya terjulur lurus ke depan, sedang tangannya yang lain bersilang didadanya.

Tetapi Anusapati-pun sudah siap menghadapi serangan itu. Dengan tangkas pula ia meloncat ke samping menghindari serangan yang mengarah ke lehemya.

Tetapi lawannya yang kehilangan sasaran itu tidak membiarkannya menghindar. Ketika kakinya berpijak di atas pasir, maka ia telah melingkar. Badannya terbungkuk kedepan sedang kakinya yang lain terjulur lurus dengan tubuhnya, menyambar Anusapati.

Anusapati terpaksa meloncat surut. Namun ketika telapak kaki lawannya lewat menyambar di hadapannya, ia telah membalas serangan itu. Sebuah serangan mendatar dengan telapak kakinya yang mengarah ke lambung lawannya yang masih bergerak oleh kekuatannya sendiri. Serangan itu dalang begitu cepatnya, sehingga lawannya yang berdiri pada satu kakinya itu tidak sempat menghindar. Yang dapat dilakukan adalah justru menjatuhkan dirinya dan berguling menjauh.

Demikianlah perkelahian itu segera meningkat menjadi perkelahian yang seru. Anusapati ternyata sudah memiliki kemampuan yang cukup untuk menghadapi lawan yang tangguh. Selama ini Anusapati seakan-akan hanya sekedar berlatih dengan Mahisa Agni, dengan Sumekar dan dengan batu-batu. Sekali ia pernah berkelahi melawan pelatihnya sendiri. Tetapi pelatihnya itu tidak dapat memberi perlawanan yang seimbang, sehingga perkelahian itu tidak dapat dinilai sepenuhnya.

Kini Anusapati mendapat lawan yang tangguh. Orang yang menyebut dirinya saudara laki-laki gurunya yang terbunuh itu ternyata memiliki kemampuan yang tinggi, jauh lebih tinggi dari kemampuan prajurit yang terbunuh itu sendiri.

Dengan demikian maka perkelahian itu berlangsung dengan serunya. Mereka berloncatan dengan cepatnya di atas pasir di dalam gelapnya malam. Bahkan mereka meloncat dari batu ke batu. Serang menyerang, seperti sepasang garuda yang berlaga di udara.

Sumekar yang masih bersembunyi ditempatnya, menyaksikan perkelahian itu dengan hati yang berdebar-debar. Tetapi ia tidak beranjak dari tempatnya. Tiba-tiba saja ia memang ingin melihat apa yang dapat dilakukan oleh Putera Mahkota itu menghadapi lawan yang tangguh.

Kadang-kadang Sumekar terpaksa menahan nafasnya apabila Anusapati terdesak. Bahkan pernah Anusapati yang gagal menghindari serangan lawannya telah terlempar beberapa langkah. Hampir saja ia terbanting di atas batu sebesar punggung kerbau. Tetapi Putera Mahkota itu cukup lincah. Karena ia menggeliat, maka ia tidak menyentuh batu itu sama sekali. Tetapi ia terjatuh pada pundaknya di atas pasir ditepian.

Demikianlah keduanya serang menyerang, desak mendesak. Sekali-sekali terjadi benturan yang dahsyat dari dua kekuatan yang besar itu.

Meski-pun nampaknya orang itu memiliki pengalaman yang lebih banyak dari Anusapati, tetapi ternyata Anusapati cukup lincah untuk mengimbanginya. Memang kadang-kadang Anusapati harus berloncatan mundur, tetapi ia segera menemukan keseimbangannya kembali, sehingga dengan garangnya ia segera membalas menyerang.

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya di saat Anusapati mampu menunjukkan kelebihannya dari lawannya, Kadang-kadang lawannya memang terdesak beberapa langkah. Namun seperti Anusapati sendiri, lawannya-pun segera mampu menemukan keseimbangan.

Dengan demikian perkelahian itu menjadi semakin sengit, seakan-akan keduanya memang disiapkan untuk bertempur ilmu mereka dan bahkan kekuatan mereka hampir tidak ada bedanya. Setiap benturan yang terjadi, keduanya pasti terdorong selangkah dua langkah surut.

Namun sampai begitu jauh. Sumekar sama sekali tidak mau mencampurinya. Dibiarkannya saja Anusapati melawan orang itu sendiri seutuhnya.

Setelah beberapa lama keduanya bertempur memeras segenap kekuatan, maka tampaklah bahwa mereka justru menjadi semakin mapan. Mereka, tidak lagi memberatkan perkelahian itu pada kekuatan tenaga melulu. Dengan demikian tampaknya mereka justru menjadi semakin lincah dan bergerak semakin cepat. Serangan-angan mereka menjadi semakin terarah, karena mereka tidak mau kehabisan tenaga.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian timbullah kecemasan di dalam hatinya. Kalau keduanya tetap berkelahi semacam itu, dan Anusapati tidak dapat menyadari keadaannya sendirinya, maka ia akan melupakan waktu. Ia tidak akan ingat lagi, kapan ia harus keanbali ke istana, karena perkelahian yang demikian akan dapat berlangsung sampai sehari semalam, bahkan lebih dari itu. karena keduanya memang orang-orang yang pilih tanding.

Meskipun demikian Sumekar tidak mau mengganggu perkelahian itu, ia masih juga bersembunyi di balik sebuah batu. menyaksikan perkelahian yang semakin lama menjadi semakin dahsyat. Masing-masing tidak sekedar dikejar oleh nafsu. Tetapi masing-masing benar-benar berkelahi dengan segenap perhitungan.

Demikianlah pasir ditepian itu menjadi seperti telah dibajak karena kaki-kaki mereka yang bertempur itu. Batu-batu berserakan dan berloncatan di udara, tersentuh oleh serangan-angan yang tidak mengenai sasaran.

Ternyata malam berjalan terus, sehingga semakin lama semakin mendekati fajar. Dan kedua orang yang berkelahi itu masih juga terus berkelahi.

“Apakah keduanya tidak dapat mengenal waktu lagi?” desis Sumekar, “jika fajar menyingsing dan Putera Mahkota masih berkelahi saja, maka ia akan terlambat masuk ke halaman istana. Dan itu akan sangat berhahaya baginya.”

Tetapi agaknya Anusapati tidak melupakan waktu. Ia sadar, bahwa malam tetah jauh melampaui pusatnya. Karena itu, apabila ia tidak segera berhasil menyelesaikan perkelahian itu, maka ia akan kehabisan waktu.

Karena itu. Anusapati yang sudah tersudut pada suatu kesulitan yang tidak dapat dihindarinya itu, tidak melihat jalan dari pada kemampuan puncaknya. Ia sadar, bahwa orang itu-pun memiliki ilmu yang cukup tinggi. Tetapi dengan demikian akhir dari perkelahian itu akan segera dicapainya. Entah siapa yang harus menang dan siapa yang harus kalah. Apakah orang itu atau dirinya sendiri yang akan terkapar di atas pasir tanpa diketahui oleh oleh seorang-pun juga. Bahkan mungkin nasib yang akan dialami oleh siapa-pun yang akan kalah itu akan lebih jelek lagi dari prajurit yang terbunuh di jurang ini, karena tidak ada orang yang akan menemukan mayatnya atau mayatnya akan menjadi mangsa binatang buas yang kehausan atau menjadi makan burung gagak yang beterbangan di langit.

“Kalau aku tidak dapat membunuh orang itu, biarlah aku yang terbunuh. Berita tentang prajurit yang mati itu akan membuat ayahanda Sri Rajasa murka, dan aku-pun tidak akan dapat lari dari hukumannya. Bahkan mungkin aku akan menjadi pangewan-ewan di alun-alun Singasari,” berkata Anusapati di dalam hatinya, “Jika demikian, bagiku, bagi Putera Mahkota, akan lehih baik jika aku mati saja di sini dan tidak seorang-pun yang akan menemukan mayatku dan tidak seorang-pun yang tahu, kenapa aku mati. Mungkin orang-orang di istana akan menyangka bahwa aku melarikan diri dari istana dan pergi jauh sekali. Atau mereka akan mencari aku ke Kediri.”

Tetapi ketika terkilas wajah ibunya yang suram, dada Anusapati berdesir. Kadang-kadang ia merasa kasihan juga kepada ibunya, karena ia tahu, bahwa Sri Rajasa lebih senang tinggal di bangsal ibunya tirinya daripada di bangsal ibunya. Ken Umang memang lebih muda dan lebih banyak berbuat sesuatu untuk mencambil hati Sri Rajasa daripada ibunya yang lebih banyak diam dan menahan perasaan di dalam dada.

Karena Anusapati berangan-angan, maka hampir saja kepalanya tersambar oleh serangan lawan. Untunglah bahwa ia masih mampu menghindar, meskipun ia harus berguling-guling di atas pasir yang basah.

“Aku tidak mempunyai pilihan lagi,” desisnya, “aku harus memilih di dalam saat serupa ini. meskipun bukan niatku membunuh atau dibunuh. Waktunya sudah semakin sempit. Kalau aku terlambat kembali keistana, maka berarti aku harus mati saja di pinggir sungai ini.”

Dengan demkian maka Anusapati-pun berkelahi semakin dahsyat. Serangannya semakin keras dan kuat. Segala macam ilmunya telah dikerahkannya untuk mengatasi lawannya, semua ilmu puncaknya. Tetapi di saat-saat terakhir, ilmu puncaknya pulalah agaknya yang harus dipergunakannya.

Demikianlah, maka sampai juga Anusapati pada puncak kemampuannya. Ketika ia mendapat kesempatan maka ia-pun segera justru meloncat menjauh. Sejenak dibangunkannya ilmu yang diterimanya dari Mahisa Agni Gundala Sasra.

Lawannya terperanjat melihat ia membangun ilmu punyaknya. Karena itu, ia-pun segera mempersiapkan dirinya pula, sehingga orang itu-pun telah mempersiapkan kemampuannya pula untuk melawan aji Gundala Sasra.

Sejenak kemudian maka Anusapati telah siap untuk melepaskan ilmunya itu. Karena itu dengan sorot mata yang membara perlahan-lahan ia maju mendekati lawannya. Tiba-tiba saja ia meloncat dengan kecepatan yang seolah-olah tidak dapat diikuti dengan mata telanjang, menyerang lawannya dengan aji yang dahsyat itu.

Ternyata lawannya-pun cukup tangkas pula. Ia tidak membenturkan ilmunya melawan ilmu Anusapati. Dengan sigapnya ia meloncat menghindar, sehingga tangan Anusapati yang terayun itu tidak mengenai sasarannya. Tetapi Anusapati tidak dapat menahan ayunan tangannya yang dilandasi dengan ilmu tertinggi itu, agar tidak merusak tubuhnya sendiri. Sehingga dengan demikian ketika ayunan tangannya itu menyentuh batu-batu padas yang berserakan, maka batu itu seolah-olah meledak karenanya.

Tetapi Anusapati, tidak boleh tinggal diam. Ketika batu padas yang tersentuh tangannya itu meledak, lawannya telah melonyat pula menyerangnya.

Meski-pun Anusapati tetap dalam ilmunya yang tertinggi, namun ia tidak dapat menangkis serangan itu, yang Anusapati sadar, bahwa serangan itu adalah serangan yang dilambari dengan kekuatan yang dahsyat pula. Karena itu, maka Anusapati-pun segera meloncat menghindar dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan serangan lawannya.

Seperti serangan Anusapati, maka serangan lawannya-pun tidak mengenai sasarannya pula. Tetapi ketika tangan orang itu menyentuh batu pula, maka batu itu-pun pecah berserakan.

Anusapati tidak membiarkan kesempatan itu, selagi lawannya sedang melepaskan pukulannya. Dengan cepatnya pula ia menyerang dengan ayunan tangannya yang dilandasinya dengan aji Gundala Sasra.

Tetapi keduanya memang orang-orang yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Serangan-angan mereka yang dilandasi dengan ilmu yang hampir tidak terlawan itu tidak segera dapat mengenai sasarannya, sehingga batu-batuan ditanah itulah yang menjadi sasaran tangan mereka. Batu-batu padas dan batu-batu hitam. Bahkan kadang-kadang tangan mereka mencapai seonggok pasir, yang seolah-olah dilontarkan memencar ke sekitarnya.

Sumekar menjadi berdebar-debar didalam hati. Perkelahian itu benar-benar suatu perkelahian yang dahsyat. Tangan-angan yang terayun-ayun di dalam arena perkelahian itu bagaikan sayap-sayap maut dan sepasang raksasa yang berlaga di udara.

Loncatan dan serangan mereka hampir tidak dapat diikuti dengan tatapan mata biasa. Di dalam keremangan malam, keduanya bagaikan angin pusaran yang kelam berputar mengerikan.

Demikianlah yang terjadi untuk beberapa saat lamanya. Sumekar justru menjadi semakin cemas melihat perkelahian yang sengit itu. Ternyata kekuatan aji Gundala Sasra di dalam hal ini tidak segera dapat mengakhiiri perkelahian itu, bahkan dengan demikian keduanya semakin tenggelam di dalam perkelahian yang semakin dahsyat, seolah-olah tidak akan ada akhirnya.

“Apakah aku harus menunggu sampai fajar menyingsing dan Putera Mahkota itu akan terlambat?” Sumekar berkata di dalam hatinya.

Tetapi agaknya Anusapati-pun menyadari akan hal itu. Ternyata tandangnya menjadi semakin garang di dalam kemampuan tertingginya, sehingga perkelahian itu menjadi mengerikan. Batu berserakan dan pasir berhamburan di udara. Seolah-olah tanah di sekitar perkelahian itu telah dilanda oleh gempa bumi yang paling dahsyat yang pernah terjadi.

Namun pada akhirnya, perkelahian itu-pun sampai kepada puncaknya. Akhirnya mereka tidak sabar lagi membiarkan diri mereka meloncat berputaran serang menyerang dan sambar menyambar tidak berketentuan. Keduanya akhirnya memaksa diri mereka untuk segera melihat siapakah sebenarnya di antara mereka yang berhak memenangkan perkelahian itu. Itulah sebabnya, maka tanpa berjanji seakan-akan keduanya telah bersepakat untuk membenturkan kekuatan mereka masing-masing.

Demikianlah dengan berdebar-debar Sumekar melihat keduanya menjadi, semakin cepat bergerak, menyerang, dan bahkan sekali-sekali mereka telah menyentuhkan kekuatan mereka. Seakan-akan mereka sedang menilai ilmu masing-masing.

Sumekar masih tetap bersembunyi di tempatnya. Betapapun ia menjadi berdebar-debar, tetapi ia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya. Dengan kagum ia melihat bagaimana Anusapati telah mengungkapkan ilmu yang diterimanya dari Mahisa Agni. Meskipun Putera Mahkota itu belum berpengalaman namun ia dapat mengetrapkan ilmunya dengan mapan.

Bertempur yang sebenarnya memang berbeda dengan, sekedar latihan saja. Di dalam latihan, masing-masing pihak sadar, bahwa serangan yang dilancarkan oleh lawan berlatih, bukanlah serangan yang berbahaya. Karena itu sama sekali tidak akan ada kekhawatiran, seandainya karena lengah, pihak yang lain tidak dapat menghindarkan diri.

Kini Sumekar telah melihat dengan mata kepala sendiri, Anusapati telah melakukan perkelahian. Perkelahian yang tidak berpura-pura dan terkendali. Ia sudah mencoba mempergunakan segala macam ilmu yang ada padanya.

Sekali-sekali terbayang di dalam rongga mata Sumekar, adik Anusapati yang bernama Tohjaya. Meskipun ia berguru rangkap, tetapi ia tidak akan dapat mengimbangi kemampuan Anusapati untuk waktu yang sangat panjang. Meskipun seandainya Mahisa Agni sendiri yang mengajar Tohjaya, namun keadaannya yang lain dan Anusapati yang prihatin itu pasti tidak akan dapat membuatnya seperti Anusapati pula, dalam waktu yang singkat.

Tanpa sesadarnya Sumekar menengadahkan wajahnya. Hatinya menjadi semakin berdebar-debar. Meskipun Tohjaya dan Ayahanda Sri Rajasa tidak ada, tetapi berbahaya juga bagi Anusaptai apabila ia terlambat masuk ke halaman.

Setiap kali Sumekar hanya dapat menelan ludahnya. Ia tidak dapat memperingatkan Anusapatyi, bahwa warna semburat langit telah memerah. Sebentar lagi fajar pasti akan segera muncul.

Tetapi ia tidak akan menunggu terlalu lama. Menilik tanda-tanda yang dilihatnya, maka perkelahian itu benar-benar telah sampai pada akhirnya. Apalagi ketika Sumekar melihat Anusapati sendiri telah memperhatikan wajahnya sekilas. Sumekar menyangka bahwa Anusapati-pun telah menyadari bahwa waktunya tinggal sedikit.

Demikianlah maka akhirnya Anusapati tidak ingin lagi menghindarkan diri dari serangan lawannya. Apapun yang akan terjadi ia akan membenturkan aji Gundala Sasra yang belum matang itu untuk melawan ilmu lawannya. Hidup atau mati, perkelahian itu harus segera berakhir.

Karena itu dengan berdebar-debar Sumekar melihat Anusapati bersiap dengan mengerahkan segenap kekuatannya melawan serangan lawannya yang kemudian meluncur seperti petir yang menyambar dilangit.

Sejenak kemudian maka terjadilah sebuah benturan yang dahsyat dari kekuatan. Sumekar yang melihat benturan itu mbeku di tempatnya. Darahnya seolah-olah berhenti mengalir oleh ketegangan yang membakar jantungnya.

Sejenak kemudian ia melihat Anusapati terlempar beberapa langkah, dan jatuh terbanting di atas pasir. Beberapa kali Anusapati terguling. Namun kemudian ia menggeliat sekali, lalu diam. Anusapati telah pingsan.

Benturan itu ternyata telah mengguncang seluruh isi dadanya. Jantungnya seakan-akan telah rontok bersama iga-iganya. Matanya menjadi kabur dan malam yang gelap menjadi semakin gelap, sehingga semuanya menjadi hitam pekat.

Ternyata kekuatan lawannya adalah kekuatan yang sangat besar melampaui kekuatan aji Gundala Sasra yang telah dimilikinya, aji Gundala Sasra yang belum masak.

Dalam pada itu didalam keremangan malam, Sumekar melihat lawan Anusapati masih berdiri tetegak. Ia hanya terdorong selangkah surut. Namun kemudian seakan-akan tidak terjadi lagi sesuatu atasnya.

Perlahan-lahan orang itu melangkah maju mendekati Anusapati yang terbaring di atas pasir, di pinggir sungai yang mengalirkan air gemericik berloncatan di sela-sela batu.

Sumekar melihat orang itu berjongkok di samping Anusapati. Kemudian meraba kening dan dahinya.

Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan-lahan pula ia berdiri. Selangkah ia maju sambil berkata, “Dahsyat sekali. Perkelahian yang dahsyat sekali.”

Orang itu berpaling. Tetapi ia sama sekali tidak terkejut melihat kehadiran Sumekar. Bahkan perlahan-lahan ia berkata, “Aku melihat Ki Sanak mengikuti Putera Mahkota. Tetapi kemudian Ki Sanak seakan-akan telah hilang di dalam jurang ini.”

Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Jadi kau melihat aku juga?”

“Ya.”

Sumekar berdiri mematung sejenak. Kemudian perlahan-lahan ia melangkah maju.

“Tuanku Anusapati telah pingsan.”

“Apakah keadaannya berbahaya?”

“Tidak. Tidak berbahaya. Ia akan segera menjadi baik.”

Sumekar-pun kemudian mendekatinya. Ia masih mendengar nafas Anusapati yang tersendat-sendat.

“Lepaskan ikat pinggangnya,” desis orang yang telah melukai Anusapati itu.

Sumekar kemudian melepas ikat pinggang Anusapati. Perlahan-lahan ia menggerakkan tangannya dan perlahan-lahan pula memijit lambungnya.

Sejenak kemudian Anusapati menjadi semakin teratur. Sejuk udara dimalam hari yang menyentuh keningnya membuatnya perlahan-lahan menyadari dirinya.

Ketika ia membuka matanya, maka yang pertama-tama dilihatnya adalah bintang-bintang yang kabur dilangit. Kemudian bayangan yang suram dan dua orang yang berjongkok di sampingnya.

Perlahan-lahan Anusapati mulai teringat kembali apa yang telah terjadi atasnya. Karena itu tiba-tiba saja ia berusaha bangun. Namun keadaannya masih terlampau lemah, sehingga kepalanya kembali terkulai di atas pasir.

“Berbaringlah dahulu tuanku,” Sumekar berbisik di telinga Anusapati.

“Siapa kau?” bertanya Anusapati. Suaranya serasa pernah ia dengar.

“Hamba Sumekar tuanku.”

“Paman Sumekar, paman ada disini pula.”

“Ya. Tuanku. Hamba mengikuti tuanku keluar dari istana.”

“Paman datang ketempat ini bersamaan dengan kedatanganku?”

“Hamba tuanku.”

“Paman melihat aku bertempur?”

“Hamha tuanku. Hamba melihat tuanku membenturkan kekuatan aji Gundala Sasra.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Dengan dada yang berdebar-debar ia bertanya, “Dimanakah lawanku tadi?”

Sumekar tidak menjawab. Tetapi ia berpaling dan memandang awan. Anusapati yang juga berjongkok disampingnya, “Ampun tuanku. Hambalah yang telah melawan tuanku.”

“Kau. kau?” sekali lagi Anusapati berusaha bangkit. Kali ini tubuhnya sudah menjadi semakin kuat, sehingga ia berhasil duduk di atas pasir.

“Kenapa kau tidak membunuh aku sama sekali. Apakah paman Sumekar telah mencegahmu dengan aji Kala Bama?”

“Tidak tuanku.” Sumekarlah yang menyahut, “hamba tidak melibatkan diri didalam perkelahian ini. Hamba hanya sekedar melihat, betapa aji Gundala Sasra berbenturan dengan aji Braja Pati.”

“Braja Pati?” bertanya Anusapati.

“Hamba tuanku.”

Anusapati-pun kemudian berdiri tertatih-tatih. Tetapi ia segera mempersiapkan dirinya kembali untuk bertempur apabila lawannya mulai menyerang.

“Hamba tidak akan bertempur lagi tuanku,” berkata lawannya yang kemudian berdiri pula. Tetapi tiba-tiba saja ia membungkukkan badannya dalam-dalam.

“Siapakah kau sebenarnya dan apakah maksudmu?”

“Ampun tuanku. Hamba hanya ingin sekali bertempur melawan aji Gundala Sasra.”

“Kau akan menunjukkan kelebihan aji Braja Patimu?”

“Sama sekali tidak. Aji Gundala Sasra tidak kalah dahsyatnya dari aji Braja Pati. Apalagi aji Gundala Sasra yang hampir sempurna pada Mahisa Agni sekarang.”

Dada Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Ternyata orang itu mengetahui tentang banyak hal dari dirinya. Bahkan mengenal Mahisa Agni. Karena itu maka sekali lagi ia bertanya, “Siapakah kau sebenarnya?”

“Ampun tuanku, hamba adalah orang dan padepokan yang jauh terpencil. Padepokan yang sepi, meskipun hamba pernah juga tinggal di kota ini.”

“Ya. siapa namamu?”

“Nama hamba Witantra.”

“Witantra,” Anusapati mengulang. Tanpa sesadarnya kepalanya terangguk-angguk kecil, “Kau kenal paman Mahisa Agni?”

“Apakah Mahisa Agni tidak pernah menyebut nama hamba?”

Anusapati mengerutkan keningnya. “Mungkin paman Mahisa Agni pernah menyebut nama Witantra dan pernah pula menyebut aji Bajra Pati, aji Sura Pati dan aji Bajra Kumala.”

“Tidak semuanya hamba miliki,” jawab Witantra.

“Tetapi, kenapa kau tiba-tiba saja menjumpai aku disini dan sengaja memancing perkelahian?”

Witantra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya sambil menengadahkan wajahnya ke langit, “Sebentar lagi Fajar akan menyingsing. Sebaiknya tuanku segera kembali ke istana. Biarlah Ki Sumekar menjelaskan kepada tuanku kenapa hamba berbuat begitu?”

Anusapati mengerutkan dahinya pula. Katanya, “Jadi paman Sumekar mengetahui apa yang terjadi?”

“Secara kebetulan tuanku. Tetapi hamba akan mencoba mengerti apakah sebabnya Ki Witantra telah berbuat demikian. Tetapi adalah benar sekali katanya, bahwa sebentar lagi fajar akan menyingsing. Tuanku harus sudah berada di istana. Waktu kini sudah sempit sekali.”

Anusapati mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah Aku akan segera kembali ke istana.”

Setelah minta diri kepada Witantra, maka Anusapati dan Sumekar-pun segera meninggalkan jurang itu kembali ke istana. Langkahnya yang masih gontai memaksanya untuk berpegangan kepada Sumekar ketika ia memanjat tebing. Tetapi kemudian Anusapati berjalan lebih dahulu beberapa puluh langkah dari Sumekar.

Witantra yang mereka tinggalkan di barah, di antara tebing yang curam, memandang Putera Mahkota itu dengan hati yang berdebar-debar.

“Ternyata darah Tunggul Ametung mengalir pula di dalam tubuhnya. Anak itu agak terlampau cepat marah. Apalagi lingkungannya yang tidak menguntungkannya. Sehari-hari ia harus menekan perasaannya, menyimpan kemarahan dan merendam kata hati. Dalam kesempatan tertentu, semuanya itu akan meledak. Witantra bergumam kepada diri sendiri, “tetapi juga kemampuannya menakjubkan. Hanya anak Tunggul Ametung, dibawah asuhan Mahisa Agni sajalah, seorang anak yang semuda itu mampu melepaskan aji Gundala Sasra demikian kuatnya, sehingga aku terloncat selangkah surut.”

Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Witantra memandang Anusapati yang memanjat tebing bersama Sumekar itu sampai mereka hilang dibalik tanggul.

“Hampir saja aku salah menghitung. Kalau aku terlampau sedikit melepaskan tenaga aji Bajra Pati, maka akulah yang pasti akan pingsan. Kalau tidak ada orang lain, aku pasti akan dibunuhnya.”

Sekali lagi Witantra menarik nafas dalam-dalam. Kemudian perlahan-lahan ia-pun segera bergerak meninggalkan jurang itu, sementara langit menjadi semakin merah.

Dan Witantra masih bergumam, “Mudah-mudahan Mahisa Agni berhasil membentuk Putera Mahkota menjadi seorang yang pantas menduduki takhta kelak. Meskipun Mahisa Agni kini berada di Kediri, tetapi hadirnya Sumekar di istana akan dapat melanjutkan usahanya.”

Dalam pada itu, Anusapati berjalan dengan tergesa-gesa kembali ke istana. Meskipun tubuhnya masih terlampau lemah, namun ia berusaha untuk berjalan secepat-cepatnya, karena fajar telah menjadi semakin merah.

Untunglah bahwa Anusapati masih dapat mencapai istana sebelum terang tanah. Dengan tergesa-gesa ia meloncati dinding dan berjalan tersuruk-suruk di antara pepohonan di halaman, di antara batang-batang perdu dan pohon bunga-bungaan.

Dengan hati-hati sekali Anusapati melintasi halaman bangsalnya, ketika tidak ada peronda yang sedang lewat, dan dengan diam-diam memasuki biliknya.

Secepat-cepatnya Anusapati segera berganti pakaian meski ia tidak cemas apabila karena sesuatu harus segera keluar dari bangsal dengan pakaian itu dan dilihat oleh orang lain, maka hal itu pasti akan membahayakannya.

Demikianlah, baru saja ia selesai, maka istana itu seolah-olah telah terbangun karenanya. Para juru taman, juru masak di dapur dan para emban yang akan membersihkan bangsal-bangsal bersama juru tebah, telah terbangun. Api di dapur telah menyala dan sejenak kemudian telah terdengar derik sapu lidi di halaman, di bawah pohon sawo kecik.

Anusapati yang sudah menyembunyikan pakaiannya yang kotor dan basah itu-pun segera keluar pula dari biliknya dan duduk di seranibi bangsalnya. Dilihatnya di dalam keremangan cahaya fajar, hamba istana berjalan hilir mudik menuju ke tempat kerja mereka masing-masing, sedang para prajurit peronda-pun telah kembali kegardu pula.

“Hampir saja aku terlambat,” desis Anusapati. Namun terasa badannya masih terlampau letih. Benturan aji Gundala Sasra dengan ilmu Witantra itu telah membuat Anusapati seolah-olah kehilangan semua kekuatannya.

Namun udara pagi yang segar telah mengusap wajahnya, sehingga perlahan-lahan kekuatannya-pun seakan-akan pulih kembali.

Tetapi, dengan demikian Anusapati mengharap dapat segera menemui Sumekar untuk mendengar keterangannya tentang orang yang bernama Witantra.

Ketika embannya datang membawa minuman hangat, Anusapati berdiri dan pergi ke ruang dalam. Sambil duduk di atas sebuah papan kayu cendana yang terukir di sudut ruangan, ia menggeliat dan berkata, “Alangkah segarnya pagi ini. Hampir semalam suntuk aku tidak terbangun sama sekali.”

Embannya tersenyum. Tetapi ia mengerutkan keningnya ketika tiba-tiba Anusapati menguap.

“Tuanku nampaknya letih sekali, justru letih sekali.” berkata embannya.

“Tidak. Aku merasa segar sekali.”

Embannya yang kemudian memandanginya sejenak. Lalu katanya, “Ya, tuanku nampak segar sekali.”

Tetapi Anusapati menyadari, bahwa embannya yang sudah sekian lama merawatnya itu tidak dapat ditipunya. Embannya mengenalnya seperti mengenal anaknya sendiri.

“Tuanku, silahkanlah tuanku minum agar tuanku menjadi semakin segar, mumpung minuman masih hangat, berkata embannya kemudian.

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Masih terlampau panas,” katanya.

Embannya yang kemudian duduk. Di depannya tidak menyahut. Tetapi dengan kerut-merut di keningnya ia memandangi saja wajah Anusapati. Bahkan seperti tidak disadarinya ia berkata, “Apakah tuanku sakit?”

“Tidak, aku sehat sekali,” berkata Anusapati sambil mengangkat kedua tangannya.

“Tetapi tuanku pucat sekali, dan tampak terlampau letih.”

Anusapati tersenyum, “Aku tidak apa-apa bibi. Aku tidak apa-apa. Mungkin aku justru terlampau banyak tidur. Aku tidak biasa tidur sampai semalam suntuk.”

Embannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab lagi. Ia hanya mempersilahkan Anusapati minum minuman yang masih hangat itu.

“Silahkanlah tuanku. Hamba akan membersihkan bilik tuanku dan menunggui para hamba istana membersihkan ruangan-angan lain.”

“Baiklah bibi. Aku menunggu minuman ini agak dingin.”

Embannya-pun kemudian meninggalkan ruangan itu masuk ke dalam bilik Anusapati. Ia mengerutkan keningnya ketika dilihatnya di lantai bilik itu pasir yang berhamburan. Agaknya pasir yang melekat di pakaian Anusapati telah mengotori lantai biliknya.

Emban itu menarik nafas dalam-dalam. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia membersihkan lantai bilik itu. Bukan juru panebah atau hamba istana yang lain yang membersihkannya tetapi ia sendiri. Emban itu mengetahui serba sedikit apakah sebenarnya yang sering dilakukan oleh Putera Mahkota. Seperti yang dilihatnya hari ini bahwa Putera Mahkota pasti telah melakukan latihan olah kanuragan.

Tetapi emban itu segan bertanya lebih banyak lagi. Ia tidak mau mengganggu Putera Mahkota yang sedang digelisahkan oleh keadaan yang tidak serasi di dalam keluarganya. Hubungan yang pincang antara ayahanda dan puteranya.

Sebenarnya bagi emban itu agaknya sudah jelas, apa yang terjadi dengan Anusapati. Hadirnya Ken Umang di dalam keluarga utama sebenarnya telah membuat hubungan keluarga di dalam istana itu menjadi buram.

Dalam pada itu, ketika Anusapati kemudian meninggalkan ruangan setelah minum beberapa teguk dan memasuki biliknya yang sedang dibersihkan, ia menjadi terkejut sendiri ketika dilihatnya seonggok pasir di sudut ruangan.

Dengan dada yang berdebar-debar ia mencoba untuk tidak menghiraukannya, seolah-olah hal itu sama sekali bukannya hal yang tidak wajar terjadi di dalam bilik sebuah bangsal Putera Mahkota.

Tetapi embannyalah yang kemudian berkata, “Tuanku, bilik ini terlampau kotor oleh pasir yang berserakan.”

“Mungkin aku lupa mencuci kakiku semalam. Aku langsung pergi ke dalam bilik ini setelah aku berjalan semalaman. Pasir yang melekat di kakiku agaknya terlampau banyak, karena kakiku agak basah.”

Pasir di halaman adalah pasir yang putih tuanku. Tetapi pasir ini adalah pasir yang hitam, pasir di tepian sungai.”

Anusppati terperanjat. Tetapi embannya segera menyambung, “Jangan gelisah. Hamba tidak akan mempersoalkannya dengan siapapun. Dan bukankah hamba pernah membantu tuanku memanasi sebakul pasir. Meskipun tuanku sudah dewasa agaknya tuanku masih senang bermain-main dengan pasir. Dimana-pun dan kapan-pun juga.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam, ia tidak perlu ingkar. Embannya memang sudah mengetahui serba sedikit.

“Tolonglah bibi, bersihkan pasir itu. Aku juga menyembunyikun pakaianku yang kotor oleh pasir serupa itu.”

Embannya tersenyum. Jawabnya, “Jangan cemas terhadap hamba tuanku. Kalau hamba melakukan tugas hamba sebaiknya di dalam bangsal Putera Mahkota ini mungkin keadaannya sudah berbeda.”

“Ya. Ya. Aku tahu, dan aku berterima kasih sekali kepada bibi.”

“Ah sudahlah, silahkan tuanku berada di luar dahulu. Hamba belum selesai membersihkan bilik ini.”

Anusapati-pun kemudian pergi keluar dan memutari tangga bangsalnya. Suasana istana ini masih terlampau sepi. Bukan saja karena masih terlampau pagi, tetapi karena Sri Rajasa memang tidak ada di istana bersama para panglima beberapa orang Senapati dan puteranya Tohjaya.

Dengan lemahnya Anusapati melangkah satu-satu di halaman. Tanpa sesadarnya ia sudah berada di depan regol petamanan. Dilihatnya di dalam petamanan itu beberapa orang juru taman sedang membersihkannya dengan sapu lidi.

Ketika salah seorang dari mereka melihat Anusapati, segera membengkokkan kepalanya sambil berkata, “Masih sepagi ini tuanku sudah ada di petanaman.”

Anusapati memandang juru taman itu dengan tatapan mata yang letih. Tetapi ia mencoba untuk tersenyum dan berkata, “Alangkah segarnya pagi ini. Aku bingung terlampau pagi. Aku sudah berjalan-jalan mengelilingi halaman istana.”

Juru taman itu mengerutkan keningnya ia melihat Anusapati pucat dan lelah. Sama sekali ia tidak melihat Putera Mahkota menjadi segar. Terapi juru taman itu tidak mengatakannya.

Anusapati sendiri tidak begitu menyadari keadaannya, ia tidak melihat wajahnya sendiri. Betapa ia mencoba melenyapkan semua kesan itu dari dirinya, tetapi ia tidak sepenuhnya berhasil.

Ia menarik nafas dalam-dalam ketika ia melihat Sumekar ada di petamanan itu juga. Ia hampir tidak sabar lagi untuk mendengar ceriteranya tentang orang yang bernama Witantra itu. Ia ingin segera tahu apakah alasan Witantra memancing perkelahian selain ingin mengetahui betapa jauh kemampuan aji Gundala Sasra.

Tetapi Anusapati tidak dapat begitu saja dengan serta merta mendekatinya dan langsung bertanya kepadanya. Bagaimana-pun juga ia harus bersabar, sampai kesempatan yang baik datang.

Karena itu maka sejenak Anusapati mondar-mandir di petanaman. Dilihatnya berbagai macam bunga yang sedang berkembang. Kadang-kadang ia memetik setangkai. Tetapi kemudian ditaruhnya bunga itu di sisi regol.

Ketika Anusapati sedang asyik melihat setangkai kembang menur yang memancarkan warnanya yang putih. Sumekar menghampirinya. Kemudian sambil berjongkok di samping Anusapati ia berbisik, “Pagi-pagi benar tuan sudah datang ke petamanan?”

“Ya. Aku ingin paman segera berceritera.

“Tetapi keadaan tuanku menumbuhkan pertanyaan. Tuanku nampak letih dan pucat.”

“Begitu? Emban juga berkata begitu.”

“Sebenarnyalah tuanku. Sebaiknya tuanku pergi beristirahat di bangsal. Nanti hamba akan menghadap.”

“Kau akan menghadap aku di bangsal?”

“Tidak. Hamba akan memelihara tanaman di halaman bangsal di hampir tengah hari. Tuanku sempat tidur sejenak, supaya keadaan tuanku menjadi bertambah baik. Kalau saat ini ayahanda tuanku melihat keadaan tuanku pasti segera tumbuh pertanyaan apa saja yang sudah tuanku lakukan semalam atau seandainya ibunda Permaisuri yang melihatnya tuanku pasti disangkanya sakit. Agaknya benturan kekuatan yang terjadi itu terlampau berat bagi tuanku. Masih tampak di wajah tuanku, keadaan tuanku yang sangat lemah.”

Anusapati mengangguk-anggukan kepalanya. Jawabnya, “Baiklah paman. Sebenarnya aku ingin segera tahu, siapakah sebenarnya paman Witantra itu.”

“Tetapi tuanku harus menjaga agar tuanku tidak menumbuhkan pertanyaan di kalangan istana. Mungkin para prajurit atau siapa-pun yang melihat keadaan tuanku.”

Anusapati-pun menurut nasehat Sumekar. Sejenak kemudian ia-pun segera meninggalkan taman itu dan kembali ke bangsalnya.

Ketika ia memasuki bangsalnya dilihatnya Embannya masih membenahi biliknya. Beberapa orang hamba istana masih juga sibuk membersihkan bangsalnya. Mencuci ukiran umpak tiang dan membersihkan dinding-dinding kayu.

“Dari mana tuanku sepagi ini?” bertanya embannya.

“Dari taman bibi. Aku mencoba untuk membuat diriku menjadi segar. Tetapi seorang juru taman berkata pula kepadaku bahwa aku pucat dan letih.”

“Sebenarnyalah begitu tuanku,” jawab embannya, “seperti yang sudah hamba katakan, tuanku memang letih dan pucat.”

“Aku akan beristirahat bibi. Aku akan tidur. Kalau ibunda memanggil katakanlah bahwa hamba agak pening sedikit. Tetapi apabila tidak ada utusan ibunda jangan kau katakan apapun. Nanti siang aku akan menghadap ibunda.”

Memenuhi nasehat Sumekar, Anusapati-pun kemudian terbaring di pembaringannya. Ia dapat tidur dengan tenang, karena Ayahanda Sri Rajasa dan Adinda Tohjaya tidak ada di istana, sehingga ia merasa tidak terganggu karenanya.

Hampir tengah hari Anusapati baru terbangun. Kini ia benar-benar merasa tubuhnya menjadi segar. Kekuatannya sudah pulih kembali meskipun ia menjadi agak pening. Ternyata benturan kekuatannya dengan kekuatan Witantra telah menggoncangkan sendi-sendinya.

“Apakah paman Sumekar sudah berada di halaman?” bertanya kepada diri sendiri.

Karena itu, Anusapati-pun segera bangkit. Setelah membenahi diri, ia-pun segera keluar dari biliknya.

Ternyata bangsal itu sudah menjadi sepi. Hamba istana yang membersihkannya sudah tidak ada lagi. Bahkan embannya-pun sudah pergi pula.

Namun di depan bangsal itu Anusapati melihat seorang juru taman yang sedang asyik membersihkan pohon bunga-bungaan.

“Paman Sumekar,” Anusapati berdesis.

Sumekar berpaling. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Tuanku kini benar-benar sudah menjadi segar.”

Anusapati-pun tersenyum pula. Perlahan-lahan ia mendekati Sumekar yang sedang sibuk.

“Apakah paman dapat menceriterakannya sekarang?”

“Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Baiklah tuanku, tetapi di sini sajalah sambil menyiangi pepohonan.”

“Ya disini saja.”

Anusapati kemudian berjongkok di samping Sumekar yang nampaknya sedang sibuk. Ketika dua orang prajurit lewat di depan bangsal itu terkejut karenanya ketika tiba-tiba mereka melihat Putera Mahkota berjongkok di halaman.

Prajurit itu-pun kemudian berhenti sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Anusapati berpaling. Baru setelah ia mengangguk pula maka kedua prajurit itu-pun berjalan lewat.

“Apa kerja Putera Mahkota itu?” bertanya salah seorang dari kedua prajurit itu.

“Mungkin ia memang tidak mempunyai pekerjaan lagi daripada mengurus masalah-masalah yang sama sekali tidak penting,” jawab yang lain.

“Itu tidak sesuai dengan kedudukannya.”

“Memang agaknya Putera Mahkota tidak mempunyai cukup wibawa. Adalah tidak pantas, ia berjongkok bersama seorang juru taman di halaman.”

Kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya.....

Bersambung....!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...