*BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-11-03*
Karya. : SH Mintardja
“Ah, kau terlalu mempunyai banyak pertimbangan,“ berkata Ken Umang kemudian, “itu tentu hanya perasaan saja. Tidak akan ada orang yang memperhatikannya.”
“Tetapi bagi seorang prajurit, apalagi bagi seorang perwira dan Senapati yang kebetulan melihat meskipun hanya sekilas, akan jelas baginya, bahwa kelebihan Tuanku Tohjaya adalah hal yang wajar sekali. Tidak mengherankan dan apalagi mengagumkan. Tetapi kalau sikap hamba tidak jelas seperti sekarang, bahkan ternyata Tuanku Tohjaya sendiri tidak tahu, maka hamba dengan bangga akan dapat mengatakan kepada siapa-pun bahwa Tuanku Tohjaya mempunyai banyak kelebihan dari Tuanku Anusapati. Ternyata dengan latihan-latihan yang sama, hasilnya bagi keduanya sangat berbeda.”
Ken Umang mengerutkan keningnya. Dan saudara sepupunya yang diangkatnya menjadi pelatih puteranya itu melanjutkan, “Kalau sejak semula banyak orang yang mengetahui perbedaan sikap itu, setidak-tidaknya apabila Tuanku Anusapati sendiri merasakannya dan mengatakan kepada orang lain, maka setiap orang yang melihat kelebihan Tuanku Tohjaya tidak akan mengaguminya lagi.”
Ken Umang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Ada juga kebenarannya. Tetapi bagaimana-pun caranya, namun Tohjaya harus mempunyai kelebihan dari Anusapati. Aku tidak puas dengan pelatihnya yang lalu. Di arena Tohjaya tidak segera dapat memenangkan perkelahian itu.”
“Nah, sedangkan setiap orang sudah tahu, bahwa pelatih itu berpihak kepada Tuanku Tohjaya.”
Sekali lagi Ken Umang mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Terserahlah kepadamu. Tetapi kau tidak boleh menyakiti hati Tohjaya seperti yang pernah terjadi.”
“Hamba Tuan Puteri.”
“Aku akan menunggu hasilnya. Setahun lagi aku akan membuat neraca imbangan bagi keduanya. Agaknya demikian juga niat Tuanku Sri Rajasa.”
“Jangan setahun Tuan puteri. Jarak itu terlampau pendek. Hamba belum mendapat kesempatan berbuat apa-apa. Sekarang hamba sedang memperbaiki sikap dan tata gerak dari Tuanku Tohjaya dan sedikit Tuanku Anusapati. Agaknya pelatihnya yang dahulu tidak mempergunakan perhitungan yang masak. Keduanya telah mempelajari ilmu yang tidak seharusnya. Pelatih itu tergesa-gesa ingin membuat keduanya berbeda terlampau jauh, sehingga bagi Tuanku Tohjaya sendiri agaknya merugikan. Ia mempergunakan tata gerak pada tingkatan yang jauh, sebelum dasarnya dikuasai. Hal itu akan sangat berpengaruh bagi perkembangan ilmunya kemudian. Tampaknya saja Tuanku Tohjaya kuat di luar, tetapi rapuh di dalam.“
Ken Umang menganggukkan kepalanya pula. Lalu katanya, “Terserahlah kepadamu.”
“Hamba akan mencoba. Sampai sekarang yang terjadi justru sebaliknya. Tuanku Anusapati yang ketinggalan itu, ternyata mempunyai dasar yang lebih kuat, sehingga kelak apabila kesalahan di dalam penurunan ilmu itu berlangsung terus, Tuanku Anusapati akan memiliki kemampuan dan kekuatan jasmaniah yang jauh lebih kuat dari Tuanku Tohjaya.”
“Kau harus memperbaiki kesalahan itu.”
“Hamba Tuanku. Hamba akan mencoba. Tetapi hamba memerlukan waktu. Tidak hanya setahun, tetapi tiga tahun. Meskipun pada tahun kedua penilaian itu sudah dapat dilakukan. Tetapi dengan pengawasan yang langsung dan ketat.”
“Terserahlah kepadamu. Tetapi Tohjaya itu selain junjunganmu, ia kemanakanmu pula. Kau mengerti?”
Perwira prajurit saudara sepupu Ken Umang itu menarik nafas panjang. Ia mengangguk-angguk kecil. Tetapi ia berkata di dalam hatinya, “Untuk mendapat keuntungan, ia dapat juga mengatakan bahwa Tohjaya adalah kemanakanku. Tetapi pantaskah aku harus bersikap seperti budak ini terhadap kemanakan sendiri?” namun kemudian dijawabnya sendiri, “ia kebetulan lahir sebagai putera Maharaja Singasari yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Dan aku lahir dari seorang perempuan di sebuah padukuhan kecil.”
“Baiklah kakang,” berkata Ken Umang kemudian, “kita bersama-sama akan mengasuh anak itu menurut bidang kita masing-masing. Aku adalah ibunya. Kau adalah gurunya, sekaligus pamannya.”
“Hamba akan mencoba tuan Puteri. Hamba akan berbuat sebaik-baiknya.”
Demikianlah maka mau tidak mau, perwira itu harus menumbuhkan perbedaan bagi kedua putera Sri Rajasa itu. Tetapi terasa betapa hatinya sendiri menjadi tersinggung karenanya. Sebagai guru dari dua orang anak-anak muda, ia harus membuat yang satu menjadi lebih baik dari yang lain.
Tetapi ternyata bahwa ia tidak berbuat semata-mata seperti guru kedua anak muda itu yang terdahulu. Menurut pengamatan Sumekar, perwira itu agak lebih baik dari perwira prajurit yang telah meninggal di jurang itu.
Sumekar mengangguk-angguk kecil ketika ia menyaksikan latihan yang berlangsung di halaman dalam dari kejauhan. Dari sela-sela regol petamanannya. Ia melihat perwira itu memberikan petunjuk-petunjuk bagi keduanya. Memang tampaknya ia ragu-ragu apabila ia mencoba mengajari Anusapati. Seolah-olah ada sesuatu yang mengekangnya.
“Tetapi ia tidak berniat buruk,“ berkata Sumekar kepada diri sendiri. Seperti juga Anusapati berkata kepada dirinya sendiri, “ia tidak berniat buruk.”
“He,“ tegur seorang juru taman kawan Sumekar yang melihat Sumekar asyik menyaksikan latihan itu dari kejauhan.
“Apakah kau ingin berlatih seperti kedua anak muda itu?”
“Sebenarnya,“ jawab Sumekar, “alangkah senangnya apabila aku mampu melakukan tata gerak seperti mereka.”
“Kalau kau dapat melakukan, apa yang kau kerjakan pertama-tama sekarang?”
“Sekarang?”
“Ya, sekarang.”
Sumekar mengerutkan keningnya. Kemudian katanya, “Merampas rangsummu.”
“Huh,“ desis kawannya. Tetapi ia kemudian tertawa, “Hanya itu?”
“Tidak. Aku akan merampas temanmu juga.”
“Tidak bisa. Kalau kau mampu bergerak seperti itu, aku pasti mampu berkelahi segarang Tuanku Sri Rajasa. Aku putar lehermu, kemudian aku banting kau di atas semak berduri itu.”
Sumekar termenung sejenak. Namun kemudian ia-pun tertawa. Katanya, “He, jangan marah. Bukankah aku belum merampas rangsummu?”
Orang itu memandang Sumekar sejenak. Tetapi ia-pun tertawa juga. Katanya, “Aku pertahankan rangsumku dengan nyawaku.”
Keduanya-pun tertawa.
Namun dengan demikian Sumekar tidak lagi dapat memperhatikan latihan itu dengan baik. Setiap kali ia terpaku pada tata gerak yang samar-samar, kawannya berkata, “He, bekerjalah. Kalau Putera Mahkota itu melihat kau menjadi malas, kau akan dimarahinya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia kemudian berkata, “Aku belum pernah melihat Tuanku Putera Mahkota itu marah. Sebenarnya marah.”
Kawannya seakan-akan berpikir sejenak. Lalu, “Ya. Aku lebih lama bekerja di sini daripada kau. Tetapi aku juga belum pernah melihat Putera Mahkota itu marah.”
Selanjutnya Sumekar tidak sempat lagi melihat latihan berikutnya. Tetapi di hari-hari lain ia mendapat kesempatan meskipun hanya sepotong-sepotong. Namun dengan demikian ia mendapat kesimpulan, bahwa guru Anusapati yang baru ini tidak menambah beban perasaan Putera Mahkota itu.
Hal itu telah dibenarkan oleh Anusapati ketika Sumekar berkesempatan untuk bertemu.
“Memang ia berbuat kurang adil,“ berkata Anusapati, “ia membina Adinda Tohjaya lebih baik daripada aku. Tetapi tidak terlampau menyolok seperti pelatih yang dahulu. Dan yang lebih penting, perwira itu tidak pernah membuat hatiku terlampau sakit.”
“Syukurlah. Ternyata sifatnya tidak segarang ujudnya. Bukankah begitu Tuanku?”
“Ya, ujudnya jauh lebih kasar dari pelatih yang dahulu. Tetapi meskipun sikapnya kadang-kadang kasar juga, namun ia jauh lebih jujur. Ia bukan orang yang licik seperti yang dahulu.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hamba akan mengikutinya dari kejauhan.”
“Ya paman. Aku harap paman membantu pengamatanku kalau-kalau aku salah tangkap, sehingga pada suatu saat aku akan terjebak karenanya.”
Demikianlah, maka setelah beberapa lama latihan-latihan itu berlangsung, Anusapati menjadi semakin yakin, bahwa gurunya memang orang yang jujur, meskipun ia melihat juga perbedaan yang dilakukannya di dalam sikapnya menghadapi kedua muridnya.
Dalam pada itu, ketika Sumekar berkesempatan keluar dari istana, berjalan-jalan menikmati hari istirahatnya, maka sekali lagi ia ditemui oleh orang yang bernama Witantra itu. Kali ini ia bertanya tentang sikap guru Anusapati yang baru itu.
Seperti yang pernah terjadi, keduanya-pun kemudian duduk di bawah sebatang pohon yang rindang di tepi jalan, sambil melihat orang yang lalu lalang.
“Dahulu aku tidak berani duduk di pinggir jalan seperti ini,“ berkata Witantra, “setiap orang akan memandang kepadaku dengan heran.”
“Ya, selagi Ki Sanak masih seorang Panglima.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Katanya, “Mungkin masih ada orang-orang lama yang masih bertugas di kesatuannva. Tetapi mereka pasti sudah tidak mengenal aku lagi. Aku sudah semakin tua dan badanku-pun telah susut banyak sekali dibandingkan dengan saat aku masih seorang prajurit.”
“Ya. Memang masih banyak orang-orang lama itu. Di antara para juru taman-pun masih ada juru taman yang lama, yang sudah bekerja di istana sejak jaman Akuwu Tunggul Ametung.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tetapi,“ katanya, “pada saat itu Tumapel masih belum sebesar Singasari sekarang. Istananya-pun belum seluas sekarang pula.”
“Apalagi sekarang istana itu berisi dua orang isteri Sri Rajasa.”
“Sayang sekali. Itu adalah sumber perpecahan di masa datang. Seandainya Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa itu hanya beristerikan Ken Dedes saja, maka kami bersama-sama akan mengharap bahwa Singasari akan maju.”
“Ya. Ternyata sekarang pertentangan itu sudah nampak.”
“Pertentangan itu sudah terbayang pada Anusapati dan Tohjaya. Adik-adiknya akan terseret pula agaknya di dalam arus pertentangan itu. Mereka yang merasa anak Ken Dedes dan mereka yang merasa anak Ken Umang, meskipun semuanya Putera Sri Rajasa.”
Keduanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sejenak mereka berdiam diri. Witantra memandang orang-orang yang lewat di hadapannya seolah-olah ia benar-benar datang dari pedukuhan yang jauh, yang heran melihat orang-orang kota memakai pakaian yang baik.
Ia mengerutkan keningnya ketika ia melihat dua orang prajurit berkuda lewat di hadapannya. Dua orang prajurit pengawal istana.
“Apakah Sri Rajasa akan keluar istana hari ini?” Sumekar mengerutkan keningnya.
“Dua orang prajurit itu dari pasukan pengawal. Apakah ia sedang merintis jalan bagi Sri Rajasa?”
“Aku tidak mendengar berita itu. Tetapi setiap saat Sri Rajasa memang sering pergi keluar istana untuk berburu, kapan saja ia kehendaki.”
Witantra mengangguk-angguk pula. Katanya, “Kalau benar Sri Rajasa akan keluar istana hari ini, aku harus bersembunyi. Banyak orang yang tidak mengenal aku lagi. Tetapi aku tidak berani memastikan bahwa Sri Rajasa-pun tidak mengenal aku pula. Orang itu adalah orang aneh. Ingatannya tajam sekali, seperti kecerdasan dan kemampuannya berpikir yang jarang ada duanya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Memang mungkin sekali, tiba-tiba saja Sri Rajasa keluar istana.”
Sebelum Witantra sempat menjawab, mereka melihat sekali lagi dua orang dari pasukan pengawal yang lewat mengendarai kuda sambil memegang senjata telanjang.
“Pasti. Sri Rajasa akan keluar istana hari ini.”
“Ya. Sekarang aku-pun pasti.”
Dalam pada itu, orang-orang di pinggir jalan-pun mulai menyibak. Kedua prajurit pengawal itu adalah pertanda bahwa Sri Rajasa akan melalui jalan itu.
“Aku harus menyingkir,“ desis Witantra.
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Marilah. Aku-pun akan menyingkir pula.”
Keduanya-pun kemudian berjalan menjauh, berbelok pada lorong sempit yang di sebelah menyebelah dipagari oleh dinding batu yang agak tinggi.
“Kita di sini. Mungkin kita masih dapat melihat dari balik regol halaman sebelah,“ desis Witantra.
Keduanya-pun kemudian berdiri di regol halaman seseorang. Regol yang masih tertutup. Ketika seorang anak laki-laki berlari keluar regol itu, ia terkejut. Ditatapnya kedua orang yang berdiri bersandar dinding regol halaman rumahnya.
Tetapi hampir berbareng keduanya tersenyum. Dengan ramahnya Wintantra bertanya, “Apakah kau akan melihat iring-iringan Tuanku Sri Rajasa?”
“Ya. Aku sudah mendengar tengara.“
Witantra tertawa, “Suara bende itu?”
“Ya,” jawab anak itu.
“Sebentar lagi Tuanku Sri Rajasa akan lewat.”
“Apakah paman berdua tidak ingin melihat?”
“Tentu, nanti kami akan melihat. Tetapi sekarang kami sedang duduk-duduk melepaskan lelah di sini. Bukankah kau tidak berkeberatan apabila kami duduk-duduk di sini?”
“Tentu tidak.”
“Ayahmu juga tidak?”
“Rumah ini rumah kakek. Ayah tinggal di rumah kami yang lain di ujung lorong ini. Kakek tentu tidak berkeberatan.”
“Apakah kakekmu ada di rumah?”
“Tidak. Kakek pergi ke pasar mengantar nenek. Aku sendiri di rumah.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sebelum ia menjawab anak itu sudah menghambur lari ke jalan raya, berdesakan di antara mereka yang ingin melihat iring-iringan Sri Rajasa lewat.
Sejenak kemudian maka dari kejauhan Witantra dan Sumekar melihat empat buah kepala tersembul dari balik mereka yang berdiri berjajar di pinggir jalan. Kepala empat orang prajurit berkuda. Di belakangnya kemudian beberapa orang lagi, juga berkuda. Sedang suara bende menjadi semakin lama semakin dekat.
Sumekar dan Witantra masih berdiri di tempatnya. Bahkan kadang-kadang mereka harus mengangkat kepalanya, untuk dapat melihat prajurit berkuda yang lewat di jalan raya.
Ternyata bahwa dugaan mereka, bahwa Sri Rajasa yang keluar dari istananya kali ini akan berburu adalah benar. Di belakang prajurit berkuda yang membawa tombak pendek, Sri Rajasa sendiri berada di punggung kudanya yang berwarna kehitaman sambil menyandang busurnya dan endong anak panah. Dibelakang Sri Rajasa, puteranya Tohjaya, mengikutinya sambil membawa busurnya pula.
“Kau benar,“ desis Witantra, “Ken Arok itu pergi berburu.”
“Ya,” sahut Sumekar.
“Seperti kebiasaan Akuwu Tunggul Ametung.”
“Sejak beberapa saat yang lalu, puteranya. Tuanku Tohjaya sering ikut bersamanya.”
“Anusapati?”
Sumekar menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tuanku Putera Mahkota tidak pernah ikut bersama mereka.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Suatu perbuatan yang kurang bijaksana. Seharusnya Sri Rajasa tidak terlampau menunjukkan perhatian yang berbeda pada keduanya. Bahkan seakan-akan justru dengan sengaja.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hal-hal serupa inilah yang membuat Putera Mahkota merasa dirinya semakin kecil. Bahkan kadang-kadang kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri.”
“Kasihan. Apakah Ki Sanak berusaha membantunya untuk tetap bersikap tabah.”
“Ya. Aku memang selalu berusaha. Bahkan menurut pendengaranku, embannya-pun selalu mencobanya pula.”
“Mudah-mudahan ia tidak tergelincir,“ desis Witantra, “lalu bagaimana dengan pelatihnya itu?”
Sumekar-pun segera menceriterakannya apa yang dilihatnya.
“Jadi, perwira itu tidak terlampau jelek buat Anusapati?”
Sumekar menggeleng, “Tidak.”
“Apakah ia ikut didalam iring-iringan itu?”
“Aku tidak tahu. Pelatihnya yang dahulu memang sering mengikutinya meskipun Tohjaya sendiri tidak ikut.”
“Aku kira ia-pun ikut pula bersama Sri Rajasa. Tetapi aku tidak melihatnya.”
Sumekar tidak menjawab. Tetapi ketika ia memandang ke jalan raya, orang-orang-pun sudah melanjutkan perjalanan mereka masing-masing. Dari ujung lorong Sumekar dan Witantra melihat anak laki-laki yang berlari-lari keluar dari regol rumah itu-pun sudah berjalan seenaknya pulang.
“Mereka sudah jauh,“ desis Witantra. Sumekar menganggukkan kepalanya.
“Aku kira, aku sudah cukup hari ini. Aku akan sering berada di kota ini.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Tetapi ketika ia akan menjawab, anak laki-laki itu-pun berlari kepadanya dan bertanya, “Apakah paman berdua akan singgah?”
Witantra dan Sumekar tersenyum, “Terima kasih,“ hampir berbareng mereka menjawab.
“Kakek sebentar lagi pasti akan segera pulang.”
“Terima kasih,“ ulang Sumekar, “katakan kepada kakekmu, kami mengucapkan terima kasih.”
“Bukankah kakek tidak memberikan apa-apa kepada paman berdua?“ bertanya anak itu.
Keduanya tertawa mendengar pertanyaan itu. Witantra menjawab di sela-sela tertawanya, “Memang tidak. Tetapi kami sudah berteduh di regol halaman rumahnya.”
Anak itu mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan Menyampaikannya kepada kakek.”
Sumekar menepuk bahu anak itu, “Kami minta diri. Kami akan pulang.”
“Dimanakah rumah paman?”
“Jauh sekali.”
“Jauh sekali? “ ulang anak itu.
“Ya, jauh sekali. Paman datang berdua untuk melihat Iring-iringan Tuanku Sri Rajasa hari ini.”
“Apakah paman sudah tahu, bahwa Sri Rajasa akan keluar istana hari ini?”
Keduanya mengerutkan keningnya, “Kami, yang tinggal dikota ini-pun tidak tahu. Tiba-tiba saja kami mendengar tengara.“ Anak itu melanjutkan.
Witantra mengusap kepala anak itu sambil tertawa pula, “Sudahlah. Pulanglah. Tungguilah rumahmu baik-baik. Bukankah rumah itu kosong?”
“Ya.”
“Nanti ayammu masuk ke geledeg di dapur. Apakah nenekmu sudah menanak nasi?”
Anak itu mengerutkan keningnya. “Jadi paman berdua tidak singgah?”
“Terima kasih.”
Anak itu-pun kemudian berlari masuk keregol halaman rumahnya melintas kependapa.
Witantra dan Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Sejenak mereka memandangi anak yang kemudian hilang di balik pintu.
“Anak yang berani,“ desis Witantra.
“Ya. Ia mempunyai dada yang terbuka. Tidak seperti Tuanku Putera Mahkota. Kadang-kadang ia menyimpan berbagai macam perasaan di dalam dadanya.”
“Lingkungannya telah membentuknya demikian. Tetapi mudah-mudahan akibatnya tidak terlampau jelek buatnya.”
“Aku akan mencoba selalu memperingatkannya, agar ia tidak menjadi semakin kecil, dan kehilangan harga diri. Sampai saat ini ia tidak merasa terganggu oleh pelatihnya yang baru.”
Witantra menganggukan kepalanya. Sejenak ia memandang ke jalan raya yang sudah menjadi semakin sepi. Satu dua orang masih tampak berjalan dengan tergesa-gesa karena matahari menjadi semakin terik membakar kulit.
“Pertemuan kita sampai di sini hari ini Ki Sanak,“ berkata Witantra.
“Kita akan bertemu lagi,“ sahut Sumekar, “agaknya kita menemukan bahan pembicaraan yang sama-sama menarik perhatian kita masing-masing.”
Keduanya-pun kemudian berpisah. Sumekar tidak jadi berjalan-jalan menyusuri kota, tetapi ia-pun segera kembali ke istana.
Di saat-saat Sri Rajasa keluar istana, apakah ia pergi berburu, bercengkerema atau apapun, istana terasa menjadi sepi. Putera-putera Sri Rajasa biasanya ada pada ibu masing-masing. Sedang Tohjaya ikut serta dengan Sri Rajasa pergi berburu.
Ketika Sumekar di sore hari kembali kepada kerjanya, menyiram batang-batang perdu dan bunga-bungaan di dekat bangsal Anusapati, dilihatnya Putera Mahkota itu duduk di atas tangga sambil bertopang dagu.
Sumekar tidak berani mendekatinya. Bukan karena Anusapati, tetapi ia takut dicurigai. Karena itu, maka ia-pun segera berjongkok di samping sebatang pohon soka kuning yang sedang tumbuh.
Anusapati yang melihatnyalah yang kemudian mendekatinya. Wajahnya muram dan langkahnya-pun terasa berat.
“Ayahanda Sri Rajasa pergi berburu lagi,“ desisnya.
“Hamba tuanku. Hamba tadi melihat di pinggir jalan.”
“Dimana kau?”
“Hari ini hamba mendapat istirahat. Pagi tadi hamba berjalan-jalan keluar istana. Dan hamba melihat iring-iringan Ayahanda pergi berburu.”
“Adinda Tohjaya diperkenankan ikut. Tetapi aku tidak.”
“Apakah tuanku sudah menyatakan keinginan tuanku, kepada Ayahanda?”
“Ya. Aku sudah memohon agar aku diperkenankan ikut serta.”
“Apakah jawab Sri Rajasa?”
“Aku adalah seorang Putera Mahkota. Aku harus selalu menjaga diri, agar aku tidak terkena bahaya. Aku harus menjadi orang simpanan yang tidak boleh lecet sedikit-pun juga, karena tidak pada tempatnya apabila seorang raja kelak mempunyai cacat pada tubuhnya.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Dan apa yang dicemaskan-pun segera ternyata pula. Anusapati itu kemudian berkata, “Paman, ternyata kedudukanku sama sekali tidak menyenangkan. Barangkali lebih baik buatku apabila aku tidak menjadi seorang Putera Mahkota. Aku lebih senang menjadi seorang biasa yang bebas dan dapat berbuat apa saja yang diingini. Tetapi seorang Putera Mahkota terikat oleh berbagai macam peraturan dan pantangan yang menjemukan sekali.”
“Tuanku Pangeran Pati,“ berkata Sumekar kemudian, “Tuanku harus tabah menghadapi semuanya itu. Setiap orang merasa mempunyai kesulitan perasaannya masing-masing. Setiap orang merasa, bahwa orang lain agaknya jauh lebih senang dari dirinya sendiri. Sudah pasti tidak seorang-pun yang akan menyangka, bahwa seorang Pangeran Pati seperti Tuanku ini masih juga merasa hidupnya terbelenggu oleh ikatan-ikatan yang tuanku anggap menjemukan sekali. Sebaliknya tuanku merasa bahwa hidup di luar istana, hidup tidak sebagai seorang Pangeran Pati pasti akan menyenangkan sekali. Tuanku, sudah tentu itu tidak benar seluruhnya. Karena kita masing-masing tidak dapat melihat kesulitan-kesulitan yang ada di dalam hati orang lain, yang biasanya berusaha disembunyikan apabila ia berhadapan dengan orang lain. Seorang perempuan yang sedang menangis sekalipun, akan segera mengusap air matanya apabila ada seorang tamu yang datang ke rumahnya.“
Anusapati terdiam sejenak.
“Karena itu tuanku,” Sumekar meneruskan, “kita hanya dapat melihat senyum dan tawa orang lain, karena mereka akan segera bersembunyi apabila mereka menangis.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun demikian ia berkata, “Tetapi aku mempunyai keadaan yang khusus paman.”
“Hamba mengerti Tuanku. Hamba mengerti apa yang tersirat dihati tuanku. Tetapi tidak seluruhnya daripada itu benar sama sekali.”
Anusapati terdiam.
“Sebaliknya tuanku mencoba mentaati semua peraturan dan pantangan sejauh dapat tuanku lakukan. Semuanya itu merupakan tempaan yang membuat tuanku menjadi baja yang tahan uji di segala keadaan.”
Anusapati masih tetap berdiam diri. Tetapi ia mencoba untuk merenungkan kata-kata Sumekar itu. Meskipun kemudian ia dapat mengerti, tetapi ia tidak dapat menyingkirkan kepahitan yang selalu harus ditelannya.
“Paman Sumekar tidak mengalaminya,“ katanya di dalam hati, “agaknya memang lain. Orang yang tidak mengalami akan dapat memberikan nasehat sebaik-baiknya. Tetapi agaknya berbeda bagi orang yang langsung terkena. Tetapi aku harus mempertimbangkannya untuk mendapatkan pegangan.”
Tetapi Sumekar seakan-akan mengetahui apa yang tersirat dihati Putera Mahkota itu. Maka katanya, “Tuanku, hamba hanya sekedar dapat memberikan nasehat dan barangkali sedikit petunjuk. Memang lain sekali bagi orang yang langsung mengalami. Meskipun demikian, di dalam keragu-raguan kata-kata hamba akan dapat memberikan keseimbangan.”
“Terima kasih paman,“ sahut Anusapati. “Aku memang ragu-ragu. Tetapi aku akan mencoba mencarinya di dalam suasana yang lebih bening dari kini.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menyadari bahwa luka di hati Anusapati semakin lama menjadi semakin parah. Kalau tidak ada obat yang dapat mencegah menjalarnya penyakit itu ke segenap sudut hatinya maka pada suatu saat pasti akan meledak dan menumbuhkan akibat yang gawat.
Untunglah bahwa agaknya gurunya kini tidak lagi seperti gurunya yang dahulu. Kalau prajurit yang dahulu itu masih juga hidup dan menjadi pelatihnya, maka ia pasti akan mempercepat peristiwa itu. Anusapati pasti tidak akan dapat bertahan terlampau lama.
Di saat-saat istana kosong, maka para penjaga-pun agaknya merasa seolah-olah tugasnya menjadi bertambah ringan. Di dalam istana itu tidak ada lagi orang yang harus dipertanggung jawabkannya dan orang yang akan menuntut tanggung jawabnya.
Dalam kesuraman hati, Anusapati mempergunakan saat yang demikian untuk keluar dari istana di malam hari setelah agak lama ia tidak melakukannya. Ia ingin melepaskan himpitan yang menekan perasaannya selama ini. Ia ingin berbuat sesuatu. Sendiri. Bahkan Sumekar-pun tidak diberitahukannya.
Para penjaga yang tidak begitu mantap di hari-hari yang sepi, tidak mengetahui bahwa Putera Mahkota meninggalkan istana di malam hari, pergi ke jurang sungai yang dalam dan gelap, yang jarang sekali disentuh oleh kaki manusia.
Seperti seorang yang dibakar oleh dendam yang tiada taranya, Anusapati telah mencoba melepaskan kekuatannya, menghantam batu-batu padas di dinding, sehingga berguguran. Ia ingin melihat, betapa kekuatannya kini, seakan-akan ia sudah siap untuk mempergunakannya.
Dengan nafas yang terengah-engah ia menyaksikan batu-batu padas yang pecah dan berserakan di bawah kakinya. Tetapi ia tidak segera menjadi puas. Diulanginya sekali, dua kali dan hampir saja ia lupa akan waktu.
Agaknya warna-warna merah dilangit telah memperingatkannya. Karena itu, maka dengan tergesa-gesa ia meninggalkan jurang itu dan kembali keistananya.
Demikianlah pada malam kedua dan ketiga. Anusapati pergi sendiri ke tempat latihannya, ia seakan-akan ingin melihat ilmunya semakin cepat masak. Ia tidak tahu, apakah ia akan segera mempergunakannya. Tetapi apabila ilmu itu sudah masak, ia akan merasa dirinya aman. Ia setidak-tidaknya sudah mempunyai pegangan yang kuat bagi kedudukannya yang menjemukan itu.
Dengan demikian maka di siang hari Anusapati merasa dirinya sangat letih. Bahkan kadang-kadang dengan wajah yang suram ia duduk saja ditangga bangsalnya, sehingga setiap prajurit dan hamba istana yang lewat di muka bangsal itu, harus membungkuk dan berjalan terbongkok-bongkok karena Pangeran Pati duduk di atas tangga bangsal.
Sumekar yang melihat keadaan Putera Mahkota menjadi cemas. Tetapi ia tidak berani menanyakannya. Ia hanya dapat menduga, bahwa di malam hari, Anupati pasti sedang berbuat sesuatu. Dan Sumekar-pun menduga bahwa yang dilakukan oleh Anusapati itu pasti melatih diri, memeras tenaga antuk menemukan kemampuan tertinggi.
Tetapi di dalam keadaan yang demikian Sumekar tidak berani menegurnya. Selagi Anusapati merasa dirinya terasing, karena ia sama sekali tidak mendapat kesempatan yang serupa dengan Tohjaya. Meskipun demikian, tumbuh juga dihatinya suatu keinginan untuk mengawasinya. Kalau karena tekanan perasaan Anusapati berbuat berlebih-lebihan, maka hal itu pasti akan sangat berbahaya baginya.
Demikianlah, maka tanpa setahu Anusapati, Sumekar telah membayanginya. Ketika malam menjadi semakin gelap, dan Anusapati meloncati dinding istana yang tinggi, Sumekar ikut pula melakukannya.
Sumekar tahu benar kemampuan Anusapati. Itulah sebabnya, maka ia harus berhati-hati mengikutinya. Ia sadar, bahwa prajurit pelatih Anusapati yang terjerumus ke dalam jurang itu, sama sekali tidak mengetahui, bahwa sebenarnya Anusapati sudah mengetahui, bahwa ia sedang diikuti.
Tetapi Sumekar-pun memiliki kemampuan yang jauh lebih tinggi dari pelatih itu, sehingga ia dapat menempatkan dirinya, agar Anusapati tidak mengetahuinya.
Dengan hati yang berdebar-debar Sumekar melihat Anusapati menuruni tebing. Betapa-pun gelapnya, namun bagi Anusapati yang sudah terlampau biasa, kakinya seolah-olah dapat melihat jalan setapak yang menuruni tebing yang curam.
Dengan hati-hati, Sumekar yang telah memahami daerah itu pula, turun lewat jalur jalan setapak yang lain. Dengan hati-hati pula ia merayap mendekati tempat latihan Anusapati, di bawah tebing, di dalam jurang yang agak dalam, di tepian sungai berpasir.
Sumekar-pun kemudian duduk dibalik sebuah batu yang besar. Dengan dada yang berdebar-debar ia melihat, bagaimana Anusapati telah memeras segenap tenaganya di dalam latihan-latihan yang berat selama beberapa malam berturut-turut.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia kagum atas kemauan Anusapati yang seolah-olah telah membakar jiwanya.
Namun dalam pada itu, selagi Anusapati mengerahkan segenap tenaganya menghantam tebing yang berbatu-batu padas, mereka telah dikejutkan oleh ledakan kekuatan yang luar biasa menghantam dan memecahkan sebuah batu besar, tidak jauh dari tempat latihan itu.
Sejenak Anusapati seakan-akan telah membeku di tempatnya. Bukan saja Anusapati, tetapi Sumekar yang bersembunyi di balik sebuah batu-pun menjadi tegang karenanya. Mereka sadar, bahwa kekuatan itu adalah kekuatan yang tidak terkira besarnya.
Belum lagi Anusapati berbuat sesuatu, terdengar suara tertawa yang berkepanjangan dari arah batu yang pecah itu. Semakin lama semakin keras, sehingga seolah-olah telah mengguncangkan jurang yang dibatasi oleh dua buah tebing sebelah menyebelah yang tinggi itu.
“Siapa kau?” terdengar suara Anusapati. Tetapi suara itu masih juga bergema terus.
“Siapa kau?” Anusapati hampir berteriak. Dan suara tertawa itu-pun menurun.
Anusapati masih tetap berdiri ditempatnya. Tetapi ia harus berhati-hati. Kekuatan orang yang tertawa itu terlampau dahsyat, sehingga apabila ia tersudut kedalam kesulitan, maka ia harus melawan dengan puncak kemampuannya, Gundala Sasra yang telah diterimanya dari gurunya, Mahisa Agni.
Meskipun demikian Anusapati masih juga ragu-ragu, apakah kekuatan puncaknya yang masih belum matang itu akan mampu melawan kedahsyatan orang yang tidak dikenalnya itu? Namun dengan kekuatan aji itu, ia akan dapat sekedar melindungi dirinya. Kalau ia sama sekali tidak memiliki rangkapan seperti Gundala Sasra, maka ia pasti akan pecah dan hancur seperti batu itu.
Karena orang yang tertawa itu masih belum menjawab, maka sekali lagi Anusapati bertanya, “Siapakah kau?”
Tetapi orang itu sama sekali tidak menyahut. Namun di dalam gelapnya malam Anusapati melihat sebuah bayangan yang hitam melangkah mendekatinya.
“Siapa kau? Kalau kau tidak menjawab, kita akan bertempur,“ berkata Anusapati kemudian.
Orang itu berhenti beberapa langkah dari Anusapati, sementara Sumekar menahan nafasnya. Tetapi ia merasa tergetar oleh suara jantan Anusapati. Ternyata Anusapati mempunyai sikap yang terpuji menghadapi suatu keadaan yang tidak diduganya.
“Jangan begitu garang Tuanku Pangeran Pati,“ terdengar suara bayangan itu seakan-akan menggeram, “hamba memang ingin menghadapi dalam kesempatan serupa ini.”
Dada Anusapati berdesir. Ternyata orang itu mengetahui, bahwa ia adalah Putera Mahkota. Karena itu, maka dadanya menjadi semakin berdebar-debar.
“Disini dahulu Tuanku Anusapati pernah membunuh seseorang,“ berkata suara itu, “guru tuanku sendiri.”
“Gila. Siapa kau?”
“Tunggu. Apakah tuanku Anusapati akan membunuh hamba juga karena hamba mengetahui rahasia tuanku? Bahwa tuanku sering datang ke tempat ini dan dengan sungguh-sungguh telan melatih diri, melepaskan aji Gundala Sasra? Tidak ada orang lain yang mampu mempelajari aji Gundala Sasra selain keturunan atau murid turun-tumurun dari perguruan di Padepokan Panawijen lama, Empu Purwa. Sekarang, hamba melihat tuanku memiliki aji itu. Karena itu, maka tuanku pasti murid dari perguruan itu. Tidak ada orang lain diperguruan Empu Purwa selain Mahisa Agni, paman tuanku. Sehingga kesimpulan yang hamba dapatkan, tuanku telah mendapat ilmu Gundala Sasra yang dahsyat itu dari Mahisa Agni, yang telah dicurigai dan disingkirkan oleh tuanku Sri Rajasa ke Kediri. Tetapi sebelum itu ternyata ia telah sempat menurunkan ilmunya kepada tuanku.”
Tubuh Anusapati menjadi gemetar. Orang itu tahu terlampau banyak tentang dirinya, sehingga orang itu adalah orang yang sangat berbahaya baginya.
Tetapi karena orang itu masih belum menyebut dirinya, Anusapati masih bertanya lagi, “Siapa kau? Sebut dirimu. Kemudian aku akan mengambil sikap. Atau kita akan bertempur segera.”
“Nanti dulu tuanku,“ berkata orang itu, “apakah semua yang hamba katakan itu benar?”
Sejenak Anusapati menjadi bingung. Namun sejenak kemudian ia membentak, “jawab dahulu, siapa kau.”
“Hamba bertanya kepada tuanku, apakah benar tuanku murid Mahisa Agni yang termashur itu.“
“Siapa kau?”
“Hamba bertanya dahulu.”
“Apa hakmu memaksa aku menjawab pertanyaanmu lebih dahulu, sedang akulah yang pertama-tama mengajukan pertanyaan kepadamu. Siapa kau?”
“Jawab tuanku akan menentukan, apakah hamba akan menyebut diriku.”
“Aku tidak peduli. Aku tidak akan berbicara dengan, orang yang tidak aku ketahui tentang dirinya. Kalau kau tidak mau menjawab, maka kita akan bertempur. Atau barangkali cara yang terakhir itulah yang kau kehendaki?”
“Tuanku terlampau bernafsu untuk berkelahi.”
“Tergantung kepadamu.”
“Sebenarnya pertanyaan tuanku tentang hamba sangat menggelikan. Apakah tuanku menyangka bahwa seandainya hamba menyebut sebuah nama itu nama hamba yang sebenarnya? Hamba tahu, tuanku tidak mengenal hamba. Dengan demikian, maka tidak akan ada gunanya tuanku memaksa hamba menyebutkan sebuah nama.”
“Itukah kau yang sebenarnya? Disinilah letaknya nilai seseorang. Apakah ia seorang jantan yang jujur, atau seorang pengecut yang licik. Meskipun aku disini sedang berlatih dengan diam, tetapi aku tidak ingkar. Inilah Anusapati, Putera Mahkota Singasari. Nah, apakah kau berani menyebut namamu dan menyatakan dirimu yang sesungguhnya?”
“Lebih baik tidak tuanku. Meskipun hamba akan disebut pengecut yang licik, hamba tidak akan mengatakan siapakah hamba ini, karena hal itu tidak akan ada gunanya.”
Anusapati menggeretakkan giginya. Selangkah ia maju. Ia kini berada di dalam keadaan yang sulit. Orang itu terlampau banyak mengetahui keadaannya.
Sekilas terbayang prajurit yang menjadi pelatihnya, yang terbunuh pula di dalam jurang ini. Meskipun ia ragu-ragu dan bahkan di saat-saat terakhir ia ingin mengurungkan niatnya, namun pernah terbersit diliatinya untuk memusnakan gurunya itu, karena ia mengetahui rahasia dirinya.
Dan dalam kebimbangan itu ia mendengar orang itu bertanya, “Tuanku, apakah kini tuanku berhasrat untuk membunuh hamba juga seperti prajurit yang menjadi pelatih tuanku itu?”
Tubuh Anusapati menjadi gemetar. Ia benar-benar telah dibakar oleh kebimbangan dan bahkan kebingungan. Ia tidak mengerti apakah yang sebaiknya dilakukan didalam saat3 seperti itu.
“Tuanku,“ berkata bayangan yang kehitam-hitaman itu, “kenapa tuanku tidak mau menjawab pertanyaan hamba, dan bahkan tuanku memilih jalan kekerasan?”
“Gila. Kau gila. Kaulah yang memaksa aku untuk melakukan kekerasan karena kau tidak menjawab pertanyaanku lebih dahulu. Sudah aku katakan, aku tidak mau berbicara dengan orang yang tidak aku kenal, apalagi mengenai masalah yang penting bagi diriku.”
“Baiklah. Baiklah tuanku. Kalau itu merupakan syarat yang harus hamba penuhi, biarlah hamba menyebut nama hamba. Nama hamba adalah Podang Jene, atau kalau nama itu terlampau bagus, hamba bernama Sontrang Jahe, atau tuanku memilih nama lain buat hamba? Misalnya, Banu Werti atau apa saja? Nah, hamba telah menyebut nama hamba. Bahkan tidak hanya satu. Sekarang, tuanku harus menjawab, apakah tuanku pewaris tunggal dari perguruan Panawijen, murid Mahisa Agni dan menerima aji Gundala Sasra dari padanya?”
“Gila. Jawabanmu cukup gila. Apakah sekarang aku harus menjawab bersungguh-sungguh? Baiklah, aku akan menjawab pertanyaan itu. Aku sama sekali tidak kenal dengan paman Mahisa Agni. Aku tidak pernah menjadi muridnya dan aku tidak pernah menerima apa-pun daripadanya. Aku adalah Putera Mahkota Singasari. Pewaris tunggal Kerajaan yang besar ini, dan aku-pun pewaris ilmu yang tiada taranya dari Ayahanda Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Nah, kau dengar jawabku.”
“Ada sedikit salah tuanku.”
“Benar. Tidak ada salahnya.”
“Tuanku menyatakan tidak kenal dengan paman Mahisa Agni. Kalau tuanku tidak kenal, tuanku tidak akan menyebutnya paman.”
“Aku menyebutnya paman karena menurut ceritera Ibunda Permaisuri ia adalah kakak ibunda. Nah, ternyata aku tidak salah. Tidak mustahil seseorang belum pernah melihat wajah pamannya seumur hidupnya.”
“Tetapi Mahisa Agni pernah tinggal di istana.”
“Bangsal kami dibatasi oleh dinding yang rapat. Begitu? Atau aku harus mencari jawab lain yang lebih tidak masuk akal seperti jawabmu?”
Orang itu terdiam sejenak. Namun tiba-tiba suara tertawanya meledak seperti akan memecahkan selaput telinga. Disela-sela suara tertawa ia berkata, “Jadi tuanku berusaha membalas jawaban hamba dengan jawaban yang serupa, yang tidak masuk akal? Agaknya tuanku marah mendengar jawabanku dan tuanku berusaha membuat aku marah pula. Begitu?”
“Gila. Kau memang gila. Aku tidak melihat jalan lain kecuali bertempur. Aku sadar, bahwa kau ligin menunjukkan bahwa kau mempunyai ilmu yang tinggi. Kau dapat memecah batu hitam dengan sisi telapak tanganmu. Tetapi aku tidak dapat kau takut-takuti seperti kanak-anak yang takut melihat topeng hantu-hantuan.”
“Aku percaya bahwa tuanku seorang pemberani. Tetapi justru karena itu, tuan menganggap, bahwa penyelesaian yang paling baik dari setiap persoalan adalah dengan kekerasan.”
“Tidak. Bukan aku yang memilih cara itu. Tetapi kau.”
“Sama sekali tidak tuanku. Hamba minta dengan hormat agar tuanku menyebutkan perguruan tuanku. Kalau tuanku sudah menyebutkannya hamba tidak akan berbuat apalagi. Kita tidak akan melakukan kekerasan satu sama lain. Bukankah begitu?”
Kemarahan Anusapati sudah tidak dapat ditahan-tahankannya lagi. Ia merasa bahwa ia sedang dipermainkan oleh orang itu dengan pertanyaan dan jawabannya yang gila. Karena itu, terasa dadanya serasa terbakar oleh jatungnya yang membara.
“Aku tidak lagi mempedulikan siapa kau. Kau sengaja membuat aku marah dengan hinaan yang tidak ada taranya itu. Ingat, aku adalah putera Mahkota. Kau memang pantas untuk mendapat hukuman karena kau telah menghinakan Putera Mahkota.”
“Nah, bukankah tuanku sebenarnya memang berhasrat membunuh hamba?”
“Aku tidak peduli. Kau memang harus disingkirkan. Aku tidak tahu maksudmu sebenarnya dan siapakah kau sebenarnya. Tetapi kau sudah menghina aku, dan kau terlampau banyak mengetahui tentang aku.”
“Tuanku agaknya telah memilih langkah yang salah. Sekali tuanku berusaha menjelubungi suatu kesalahan, maka tuanku akan membuat kesalahan-lahan berikutnya. Untuk tetap menutup rahasia pembunuhan itu, tuanku harus melakukan pembunuhan berikutnya. Demikian seterusnya, sehingga pada suatu saat, tuanku akan membunuh orang demi orang. Kalau kelak tuanku menjadi raja, maka untuk menyembunyikan rahasia ini, tuanku akan membunuh seluruh isi negeri.”
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar