*BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-11-02*
Karya. : SH Mintardja
“Silahkan tuanku. Kenapa tuanku ragu-ragu?“ bertanya pelatih itu.
Anusapati tergagap karenanya. Tetapi ia-pun kemudian memasuki arena. Di sudut tempat latihan itu, dua orang prajurit pengawal Tohjaya berdiri tegak dengan kening yang berkerut-merut.
Sejenak kemudian kedua putera Sri Rajasa itu-pun sudah bersiap. Mereka telah membenahi pakaian mereka, dan menyangkutkan kain panjang mereka pada ikat pinggang kulit.
“Mulailah,“ desis pelatih yang baru itu.
Sejenak kemudian maka Anusapati dan Tohjaya itu-pun segera terlibat dalam suatu perkelahian, meskipun mereka berdua hanya sekedar bermaksud menunjukkan kepada pelatih mereka yang baru, apa yang telah mereka peroleh. Tetapi seperti biasanva. Tohjaya telah benar-bernafsu untuk mengalahkan Anusapati. Ia masih tetap ingin disebut sebagai seorang anak muda yang mempunyai banyak kelebihan dari kakaknya, meskipun ia lebih muda dari padanya.
Tetapi Anusapati-pun berbuat seperti biasanya pula. Pesan Sumekar masih selalu terngiang ditelinganya, bahwa sebaiknya ia tidak melepaskan kekangannya atas diri sendiri.
Dengan demikian maka perkelahian itu tampaknya menjadi seru sekali. Desak mendesak, dorong mendorong dan serang menjerang. Namun setiap kali, Tohjaya selalu berhasil mendesak lawannya, meskipun tidak segera mampu mengalahkannya.
Pelatihnya yang baru itu memandang kedua anak-muda yang berlatih itu dengan saksama. Ia memperhatikan setiap unsur gerak yang tampak pada tata gerak keduanya. Dan sejenak kemudian ia-pun telah dapat mengambil kesimpulan dari latihan yang dilihatnya.
Dengan demikian maka ia-pun kemudian berkata lantang, “Cukup tuanku, cukup.”
Anusapati yang mendengar juga perintah itu segera meloncat mundur dan menghentikan latihannya. Tetapi ia sama sekali tidak menduga, bahwa Tohjaya agaknya masih tetap meyerangnya. Bahkan ia mempergunakan kesempatan itu untuk mengenai langsung tubuh Anusapati.
“Jangan tuanku,“ teriak pelatih yang baru itu. Tetapi serangan itu sudah meluncur. Anusapati yang sama sekali tidak menyangka, sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengelak. Ia hanya dapat memutar tubuhnya dan menangkis serangan itu dengan tangannya.
Untunglah bahwa Anusapati masih tetap sadar, sehingga ia masih tetap dapat melakukan peranannya, meskipun tidak sempurna karena peristiwa yang tiba-tiba itu.
Dalam benturan yang kemudian terjadi. Anusapati telah terlempar dan jatuh terbanting di tanah. Wajahnya menegang sejenak, kemudian ia menyeringai kesakitan. Beberapa saat ia masih tetap terbaring di tanah sambil memijit tangannya yang agaknya menjadi terlampau sakit.
Dalam pada itu, Tohjaya terpental selangkah surut. Terasa kakinya yang membentur tangan Anusapati itu menjati panas. Pada pergelangan kakinya itu seolah-olah telah melekat segumpal bara. Karena itu, betapa ia mencoba menahan sakit tetapi ia-pun terpaksa berdesis sambil mengusap-usap pergelangannya itu.
Karena Anusapati tidak juga segera bangkit, maka dengan cemas pelatihnya yang baru itu-pun mendekatinya. Sambil meraba-raba tangan Anusapati, ia berkata, “Ampun tuanku Putera Mahkota. Apakah tangan tuanku terasa sakit.”
“Ya, sakt sekali. Bukan saja tanganku, tetapi seluruh tubuhku.”
“Ah,“ Tohjaya berdesah, “kakanda Anusapati memang cengeng. Nah, sekarang kau lihat sendiri. Dan kau baru akan mempercayainya.“
“Bukan tuanku. Bukan karena cengeng. Mungkin tangan tuanku Putera Mahkota benar-benar sakit, bahkan mungkin sisi dadanya yang menahan lengannya dalam benturan itu.“
“Tetapi betapa-pun sakitnya, kakanda Anusapati sebenarnya tidak perlu merengek-rengek seperti anak-anak.”
Pelatihnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia berkata, “Tuanku agak terdorong sedikit. Pada saat kakanda Putera Mahkota sudah menghentikan latihan, tuanku masih menyerangnya, sehingga tuanku Anusapati tidak siap sama sekali menghadapinya.”
“Ah, itu adalah dalih yang usang. Sejak dahulu kakanda Antisapati selalu merasa, bahwa ia sudah menghentikan latihan.”
“Memang tidak,“ sahut Anusapati sambil berusaha bangun, “memang aku agak kurang berhati-hati.”
Perwira prajurit pengawal yang bernama Pinta Sati itu mengerutkan keningnya. Ia tidak menyangka bahwa Anusapati telah menyalahkan dirinya sendiri. Menurut pengamatannya, pelatih yang baru itu yakin bahwa Tohjaya lah yang sengaja telah melanggar perintahnya untuk menghentikan latihan.
Tetapi prajurit itu tidak mempersoalkannya lagi. Kalau hal itu sudah dapat dianggap selesai oleh yang bersangkutan, maka ia tidak berkeberatan.
Apalagi, apabila disadarinya, tugas yang dibebankannya kepadanya oleh Sri Rajasa. Ia harus melatih kedua Puteranya. Tetapi Tohjaya harus mendapat perhatiannya lebih banyak dari Anusapati. Terlebih-lebih lagi pesan isteri muda Sri Rajasa, ibu Tohjaya yang merasa sangat berkepentingan terhadap kedua anak muda itu. “Anusapati tidak boleh mendekati, apalagi menyamai, kemampuan Tohjaya.”
Perwira itu mengerutkan keningnya. Kemudian terngiang kembali pesan Ken Umang, “Kau akan mendapat hadiah secukupnya. Bukan saja dari Sri Rajasa, tetapi juga dari padaku.”
Pinta Sati menarik nafas dalam-dalam. Hadiah memang sangat menarik baginya. Apalagi ia bukanlah seorang yang kaya. Ia memang memerlukan sekali sesuatu yang berharga bagi dirinya dan keluarganya. Apalagi yang menyanggupi untuk memberikan hadiah itu Maharaja Singasari dan isterinya. Terlebih-lebih lagi, isterinya yang bernama Ken Umang itu, masih mempunyai sangkut paut darah keturunan. Ken Umang bukan orang lain bagi Pinta Sati. Mereka adalah saudara sepupu. Namun karena perbedaan tingkat kehidupan dan tingkat kederajadan, mereka tampaknya bukan lagi saudara yang masih cukup dekat.
Tetapi ketika pada suatu saat putera Ken Umang memerlukan seorang pelatih yang dapat dikendalikan, maka Ken Umang mengusulkan kepada Sri Rajasa, untuk mengangkat Pinta Sati menjadi guru untuk kedua anak-anak muda itu. Apalagi Pinta Sati memang mempunyai kemampuan yang cukup untuk menjadi seorang pelatih pada tataran permulaan. Bahkan tidak kalah dari pelatih kedua Putera Sri Rajasa yang telah meninggal itu.
“Tetapi, apakah aku akan menjual harga diriku semurah ini?“ tiba-tiba terbersit pertanyaan didalam hatinya.
Pinta Sati menarik nafas dalam-dalam. Dan ia berusaha untuk mengambil keputusan, “Aku tidak akan dapat melawan kehendak Sri Rajasa. Seandainya tanpa hadiah apapun, aku pasti akan melakukannya juga. Tetapi aku tidak dapat berbuat sewenang-wenang. Mungkin aku orang yang rendah, kasar dan bodoh. Tetapi aku tidak dapat mengorbankan orang lain dengan semena-mena.”
Dalam pada itu, karena Pinta Sati tiba-tiba saja merenung, Tohjaya yang berdiri termangu-mangu bertanya, “He, apakah yang kau renungi? Kakanda Anusapati?”
“Bukan, bukan tuanku,“ jawab Pinta Sati, “aku menunggu tuanku Anusapati dapat bangkit dan berdiri.”
“O,“ lalu katanya kepada Anusapati, “bangkitlah.”
“Apakah kakanda Anusapati tidak dapat berdiri lagi.”
Tertatih-tatih Anusapati mencoba berdiri. Kemudian menggeliat sambil berdesah.
Namun dalam pada itu, kaki Tohjaya masih juga terasa sakit. Dengan menahan sakit, ia menyembunyikan perasaan yang serasa dihentak-hentakkan dari pergelangan kakinya. Bahkan kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Kita akhiri perkenalan kita hari ini. Agaknya kakanda Anusapati tidak dapat lagi berbuat apa-pun selain menyeringai.”
Perwira yang baru diangkat justru karena ia akan dijadikan seorang guru bagi putera Sri Rajasa itu menganggukkan kepalanya, katanya, “Baiklah. Kita sudah cukup berkenalan hari ini. Besok hamba akan dapat menentukan dari mana hamba akan mulai. Bukankah begitu tuanku Putera Mahkota?“
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Ya, begitulah.”
“Baklah. Sekarang, tuanku berdua dapat beristirahat. Besok kita akan mulai dengan latihan-latihan kita.”
Demikianlah maka kedua putera Sri Rajasa itu-pun meninggalkan arena latihan. Tohjaya bersama kedua pengawalnya kembali ke bangsalnya, demikian juga Anusapati.
Ketika Anusanati berjalan di halaman, ia melihat Sumekar sedang membersihkan pohon bunga-bungaan di halaman. Memotong daun-daun yang mulai kering dan mencabut rerumputan liar yang mengganggu.
Anusapati tertegun sejenak. Kemudian ia mendekatinya sambil berkata, “Aku sudah mendapatkan guru baru.”
“O,“ Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagaimana agaknya tuanku?“ bertanya Sumekar.
“Aku belum dapat mengetahui, bagaimanakah sikapnya. Ia belum berbuat apa-apa. Ia sedang melihat, sampai dimana kemampuan kami sebelum ia mulai.”
“Kalau begitu, pelatih tuanku yang baru ini cukup berhati-hati.”
“Ya. Menilik wajahnya, ia termasuk orang yang kasar. Tubuhnya tinggi besar. Tetapi suaranya tinggi.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dipermulaan aku melihat sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, pada saat kami berada di bawah pelatih yang meninggal itu.”
“Kenapa tuanku?”
“Pelatih kami yang baru ini, dengan berani dan jujur telah menegur Adinda Tohjaya ketika ia berbuat kesalahan.”
“Apa yang dilakukannya?”
“Ketika pelatih kami yang baru menghentikan latihan, Adinda Tohjaya masih juga menyerang. Untunglah bahwa aku masih tetap sadar, untuk menjatuhkan diri dan menyeringai kesakitan. Pada saat itulah ia langsung menegur kesalahan itu.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mudahkan ia seorang pelatih yang lebih bak.”
Anusapati mengangguk-angguk, “Mudah-mudahan. Setidak-tidaknya ia bukan seorang penjilat yang dapat membuat aku menjadi gila.”
Ketika Anusapati kemudian meninggalkan Sumekar, juru taman itu tengah dicengkam oleh keragu-raguan. Ada sesuatu yang ingin dikatakan, namun ia masih juga ragu-ragu.
Akhirnya Sumekar hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Dipandanginya saja Anusapati yang kemudian masuk kedalam biliknya.
Sumekar hanya menarik nafas dalam-dalam. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ia berkata, “Belum waktunya aku mengatakannya sekarang.”
Dan Sumekar memang tidak mengatakannya untuk sementara, bahwa ia telah ditemui oleh seseorang ketika ia keluar dari istana. Sebagai seorang juru taman, maka tidak seorang-pun yang mencurigainya apabila ia dihari-hari tertentu pergi keluar dan berkunjung ke rumah beberapa orang kawannya yang tidak tinggal di istana.
Masih terbayang diangan-angannya, seorang laki-laki yang memanjat ke usia tuanya, menjumpainya di pinggir jalan. Dengan ramahnya orang itu menyapa, “Apakah Ki Sanak yang bernama Sumekar?”
Sumekar menganggukkan kepalanya. Jawabnya ragu-ragu, “Ya. Aku adalah seorang juru taman.”
“Aku sudah mengira. Menilik pakaian Ki Sanak, Ki Sanak, adalah seorang juru taman, pakaian bagi juru taman Singasari tidak banyak berubah sejak jaman Tumapel di bawah pemerintah Akuwu Tunggal Ametung.”
“Apakah Ki Sanak mengenal dua jaman itu?“ bertanya Sumekar.
“Ya. Aku mengenalnya dengan baik.“
Sumekar mengerutkan keningnya, lalu “Tetapi apakah maksud Ki Sanak menjumpai aku disini?”
“Ki Sanak akan pergi kemana sekarang ini?”
“Aku mendapat istirahat hari ini. Aku hanya sekedar berjalan-jalan.”
“Ya. Aku memang sering melihat Ki Sanak berjalan-jalan tanpa tujuan. Hanya sekedar keluar. Tetapi kadang-kadang Ki Sanak pergi ke rumah kawan Ki Sanak yang tinggal di luar istana.”
“Ya.“ Sumekar menjadi semakin heran, dan bahkan kemudian timbullah kecurigaannya. Namun demikian ia masih tetap berlaku sebagai seorang juru taman.
“Ki Sanak,“ berkata orang itu, “apakah Ki Sanak sudi singgah sebentar?”
“Kemana? Apakah rumah Ki Sanak dekat di sekitar ini?”
Orang itu menggelengkan kepalanya, “Tidak. Tetapi kita dapat duduk sebentar di bawah pohon yang rindang. Berbicara seenaknya sambil melihat orang lalu lalang.”
Tiba-tiba saja Sumekar tertarik akan ajakan itu. Meskipun demikian ia tidak boleh kehilangan kewaspadaan. Meskipun ia masih tetap bersikap sebagai seorang juru taman, namun apabila diperlukan setiap saat ia dapat membangunkan kekuatan aji Kala Bama yang diterima temurun dari gurunya Empu Sada.
“Ki Sanak ragu-ragu?“ bertanya orang itu.
Sumekar tidak menyahut.
“Sebaiknya aku berterus terang. Aku ingin berbicara dengan Ki Sanak. Meskipun menilik pakaian Ki Sanak adalah seorang juru taman, tetapi menilik sikap dan sinar mata Ki Sanak, Ki Sanak bukanlah seorang kebanyakan, seperti orang-orang yang berjalan hilir mudik ini. Bahkan isi istana yang setingkat dengan Ki Sanak agaknya tidak lebih dari jumlah jari-jari kita masing-masing, termasuk Putera Mahkota Anusapati.”
Dada Sumekar tiba-tiba menjadi berdebar-debar. Dan ia mendengar orang itu berkata seterusnya, “Sayang, Ki Sanak tidak membawa tongkat panjang itu. Kalau Ki Sanak membawanya, maka sempurnalah penglihatan kami atas murid terkasih dari Empu Sada yang terkenal itu. Bukankah begitu?”
Dada Sumekar menjadi semakin berdebar-debar. Dengan suara tertahan-tahan ia kemudian bertanya, “Siapakah sebenarnya Ki Sanak ini?”
Orang itu tersenyum, tetapi ia tidak segera menjawab.
“Apakah Ki Sanak merahasiakan diri, sementara itu Ki Sanak mencoba mengetahui segala sesuatu tentang diriku?”
Orang itu tidak segera menyahut. Ia masih saja tersenyum ambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun sejenak kemudian ia berkata. “Adalah sepantasnya apabila kau mencurigaiku. Kita belum pernah berkenalan secara akrab.”
Sumekar mencoba mengingat-ingat. Apakah ia pernah bertemu dengan orang ini?
“Ki Sumekar,“ berkata orang itu kemudian, “aku banyak mengetahui tentang Ki Sanak. Selain aku tahu bahwa Ki Sanak adalah seorang juru taman dan bahwa Ki Sanak adalah murid Empu Sada, yang hampir mewarisi semua ilmunya hampir sempurna, Ki Sanak juga mempunyai tugas khusus di istana.”
Dada Sumekar menjadi semakin berdebar-debar. Sejenak ia memandang orang itu dengan saksama.
“Ki Sanak tidak usah ingkar. Aku tahu dengan pasti, bahwa Ki Sanak mendapat tugas untuk mengamat-amati Putera Mahkota yang bernama Anusapati itu.”
Sumekar menarik keningnya. Kemudian ia bertanya, “Apakah Ki sanak yakin tentang apa yang Ki Sanak katakan?”
“Aku meyakininya. Kau telah menggantikan kedudukan Mahisa Agni, meskipun tidak tepat seperti orang itu. Kau sekedar melanjutkan sebagian dari tugasnya. Membawa Putera Mahkota berlatih di tempat-tempat yang sunyi, sehingga dengan demikian ilmu kalian telah meningkat bersama-sama.”
Sumekar masih tetap berdiam diri.
“Apakah aku salah sebut? Atau barangkali bukan Ki Sanak yang aku maksud? Tetapi aku sendiri yakin, bahwa Ki Sanaklah orang itu.”
“Siapakah kau sebenarnya?”
Orang itu kini tertawa. Katanya, “Ternyata bahwa Putera Mahkota memiliki kemampuan yang cukup. Ia adalah keturunan dari seseorang yang mumpuni. Yang memiliki kemampuan di atas kemampuan orang kebanyakan.”
“Ya. Sri Rajasa memang seorang yang aneh,“ desis Sumekar.
“Ah, jangan berpura-pura tidak tahu. Kau-pun pasti sudah mendengar, bahwa Putera Mahkota itu bukan putera Sri Rajasa.”
Dada Sumekar berdesir.
“Ki Sanak tidak usah terkejut. Aku tahu semuanya. Aku tahu bahwa Anusapati adalah putera Akuwu Tunggul Ametung. Setiap orang mengetahuinya. Tetapi setiap orang tahu akan kewajibannya, menyimpan rahasia itu, terutama bagi Putera Mahkota itu sendiri.”
“Tetapi Ki Sanak belum mengatakan, siapakah kau sebenarnya?”
Orang itu masih tertawa. Katanya kemudian, “Sudah lama aku mengetahui hubungan yang kurang serasi di dalam istana ini. Sri Rajasa, Permasuri, Ken Umang, Anusapati, Tohjaya, bahkan aku tahu bahwa pelatih Putera Mahkota yang terdahulu telah mati terjerumus ke dalam jurang di dalam suatu perkelahian dengan Anusapati. Guru yang jauh dibawah kemampuan muridnya. Bukankah begitu?”
Tanpa sesadarnya maka Sumekar itu-pun menganggukkan kepalanya. Tetapi ia terkejut sendiri. Dan dengan serta-merta ia bertanya, “Ki Sanak, aku minta kau menyebutkan namamu atau ciri-cirimu yang dapat segera mengingatkan aku kepadamu.”
Orang itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Baiklah. Aku kira kau-pun akan segera mengenal aku. Aku adalah seorang prajurit dimasa pemerintahan Akuwu Tunggul Ametung. Tetapi aku terusir karena aku gagal mempertahankan nama baik adik seperguruanku, yang aku yakin tidak bersalah. Tetapi ia harus menjalani hukuman mati. Nah, kau mengenal aku?”
“Belum.”
“Aku kemudian terlibat dalam perang tanding melawan Mahisa Agni. Tetapi aku dikalahkannya waktu itu? Kau ingat orang yang pernah dikalahkan oleh Mahisa Agni di arena, tetapi Mahisa Agni tidak mau membunuhnya?”
Dada Sumekar menjadi berdebar-debar.
“Saat itu aku adalah panglima pasukan pengawal istana.”
“Witantra, Ki Sanakkah yang bernama Witantra?“
Orang itu tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya. Aku adalah orang yang bernama Witantra itu. Yang kemudian mengasingkan diri karena tidak tahan menanggung malu. Tidak pada tempatnya seseorang dapat keluar dari perang tanding di dalam mempertahankan nama baik seseorang meskipun ia kalah. Seharusnya aku mati saat itu. Tetapi aku tidak mati.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, bukankah tidak mustahil kalau aku tahu, bahwa sebenarnya Tuan Puteri Ken Dedes sudah mengandung pada saat ia kawin dengan Ken Arok yang kini bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi?”
Sumekar masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi dadanya menjadi sangat berdebar-debar. Apakah maksud kedatangan Witantra kali ini? Witantra yang meninggalkan Tumapel dengan perasaan malu, sakit dan bingung? Apakah ia ingin membalas dendam atau untuk kepentingan yang lain?
“Tetapi jangan cemas Ki Sanak,“ berkata Witantra, “aku sudah bertemu dengan Mahisa Agni. Bahkan ia sering berkunjung kepadepokanku yang sepi. Ia kini mengetahui, apakah yang sebenarnya sudah terjadi, dan ia menyesal bahwa saat itu ia naik ke arena melawan aku di dalam perang tanding.”
“Apakah kakang Mahisa Agni mengatakan banyak hal tentang istana ini?”
“Ya. Antara lain tentang kau. Tentang Anusapati dan Tohjaya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Itulah sebabnya aku berniat untuk mengetahui serba sedikit tentang Putera Mahkota dan orang-orang di sekitarnya. Termasuk prajurit yang terbunuh itu, dan kini, pelatihnya yang baru itu.”
“Apakah Ki Sanak mengenal pelatihnya yang baru itu?”
“Ya. Aku mengenalnya.”
Witantra mengangguk-anggukkan kepalanya. Sejenak ia merenung, seolah-olah sedang mengingat-ingat apakah yang akan dikatakannya.
Sumekar masih juga bertanya-tanya di dalam hati. Apakah maksud Witantra ini sebenarnya. Menilik jalan hidup yang pernah ditempuh, kegagalan dan perasaan malu yang dahsyat, agaknya justru membuat Witantra semakin matang, lahir dan batin.
Namun bagaimana-pun juga Sumekar merasa bahwa ia harus tetap berhati-hati menghadapi orang yang tidak begitu dikenalnya ini. Segala hal mungkin dapat terjadi. Yang baik bermanfaat baginya, tetapi mungkin juga sebaliknya.
Agaknya Witantra melihat gejolak di hati Sumekar itu. Sambil tersenyum ia berkata, “Apakah Ki Sanak mencurigai aku?”
Sumekar tidak menjawab, tetapi ia tersenyum.
“Itu sudah wajar. Wajar sekali. Kita belum akrab, dan aku pernah mengalami goncangan yang dahsyat. Aku pernah bermusuhan dengan Mahisa Agni. Tetapi percayalah, bahwa semuanya itu sudah lampau. Kami sama-sama bersikap dewasa menghadapi masalah yang tanpa kita kehendaki telah menerkam diri kita masing-masing.“ Witantra terdiam sejenak, kemudian. “Seperti masalah yang sama yang terjadi antara Mahisa Agni dan kakak seperguruanmu. Mereka sama-sama menghadapi masalah mereka dengan sikap dewasa. Tanpa mendendam dan sakit hati. Yang sudah itu sudah dilupakannya, agar kita dapat membina hari depan yang baik. Kalau hidup kita masih saja dibayangi oleh dendam, sakit hati dan kebencian, bagaimana kita akan membersihkan diri kita? Meskipun untuk menyingkirkannya sama sekali, manusia dengan segala kelemahannya pasti tidak akan mampu. Aku-pun masih juga dibebani oleh keinginan-keinginan yang lahir karena hari lampau.”
Sumekar tidak menyahut.
“Dan karena kelemahan itulah aku datang kemari.”
Sumekar masih tetap berdiam diri. Agaknya orang yang bernama Witantra itu banyak sekali mengetahui berbagai hal tentang Mahisa Agni. Bahkan tentang kakak seperguruannya, Kuda Sempana.
Namun Sumekar itu-pun kemudian bertanya, “Apakah sebenarnya maksud Ki Witantra datang menemui aku?”
“Aku ingin bertanya, bagaimana dengan pelatih yang baru itu?“
“Aku masih belum tahu. Pelatih itu mash belum bergaul dengan tuanku Putera Mahkota. Secara pribadi aku masih belum mengenalnya pula. Aku baru mendengar bahwa akan datang seorang perwira untuk melatih kedua Putera Sri Rajasa. Aku pernah melihat orangnya sepintas. Hanya itu.”
“Bagaimana menurut pertimbanganmu dengan orang itu?”
Sumekar menggeleng, “Aku tidak tahu. Aku tidak mempunyai kesan apapun.”
“Menilik bentuk lahiriahnya?”
“Orang itu termasuk orang yang keras menurut bentuk lahiriahnya. Tetapi kadang-kadang kita terkecoh oleh bentuk-bentuk lahiriah itu.”
“Ya. Tetapi kita mempunyai pangkal untuk menanggapi persoalannya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ki Sanak,“ berkata Witantra kemudian, “aku minta tolong kepadamu. Awasilah pelatih yang baru itu kelak apabila ia sudah dihadapkan kepada kedua Putera Sri Rajasa itu. Sebaiknya kita akan sering bertemu.”
“Apakah Ki Witantra mempunyai kepentingan dengan pelatih yang baru itu?”
“Ya. Ia adalah saudara sepupu isteri muda Ken Arok.”
“Saudara sepupu Ken Umang?”
“Ya.”
Wajah Sumekar menegang sejenak. Tetapi ia segera berusaha menyembunyikan perasaannya.
Tetapi Witantra sudah bertanya, “Apakah kau terkejut?”
“Tidak.”
“Kau mempunyai tanggapan yang khusus terhadap kabar ini.”
“Tidak.”
“Hatimu bergejolak. Aku melihat sekilas meskipun Ki Sanak mencoba menyembunyikan.”
“Tidak apa-apa.”
“Baiklah aku yang mulai. Ketahuilah, bahwa Ken Umang adalah saudara muda dari isteriku.”
Sekali lagi Sumekar terperanjat. Kalau begitu, Tohjaya adalah kemanakannya. Apakah dengan demikian Witantra yang pernah bertempur dan dikalahkan oleh Mahisa Agni ini mempunyai kepentingan yang berlawanan dengan Mahisa Agni? Apakah Witantra ingin membentuk Tohjaya yang mumpuni untuk menghadapi Anusapati yang mendapat tuntunan dari Mahisa Agni.
“Jangan salah tangkap Ki Sanak,“ berkata Witantra, “aku memang masih bersangkut paut dengan Tohjaya. Ia adalah anak saudara muda isteriku. Sedang pelatih yang bakal diberikan kepada kedua putera Sri Rajasa itu adalah saudara sepupu Ken Umang. Tetapi justru karena itu aku minta kita sering bertemu. Aku ingin melihat apakah kelak yang akan dilakukan oleh perwira yang baru saja diangkat itu.”
“Apakah maksud Ki Sanak sebenarnya?”
Witantra tidak segera menjawab. Dipandanginya awan yang terbang bergumpalan ditiup angin dari Selatan.
Sejenak kemudan perlahan-lahan ia berkata, “Kau memang dapat mencurigai aku. Tetapi ketahuilah, aku adalah seorang perwira tertinggi pada pasukan pengawal istana di masa Akuwu Tunggul Ametung berkuasa. Aku tidak menentang usaha Sri Rajasa yang kini membuat Singasari menjadi besar, tetapi aku tidak senang melihat anak Ken Umang itu mendesak kedudukan putera Ken Dedes, meskipun bukan anak Tunggul Ametung itu. Aku kenal adik iparku itu. Aku kira ia adalah jurang yang dalam dan terjal yang dapat menyeret Singasari kedalam arus nafsunya yang tidak terkendali, sehingga justru Singasari akan menjadi korban karenanya.”
Sumekar tidak segera menjawab. Ia sengaja tidak banyak memberikan keterangan, ia belum tahu pasti lawan berbicaranya itu, sehingga mungkin sekali keterangannya dapat disalah gunakan.
Tetapi menilik pengenalan yang hampir lengkap itu, Sumekar semakin lama semakin menaruh kepercayaan, meskipun ia masih juga tetap berhati-hati.
“Karena itu,” berkata Witantra kemudian, “aku berharap, bahwa Singasari yang telah dibina oleh Ken Arok yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi ini dapat diselamatkan. Kalau ia bergeser dari keturunan Ken Dedes ke keturunan Ken Umang, maka aku tidak akan dapat membayangkan, apa yang akan terjadi kelak, meskipun Ken Umang itu adalah iparku.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tetapi jangan salah paham. Yang penting bagiku bukan keturunan Akuwu Tunggul Ametung, tetapi justru keturunan Ken Dedes.”
“Kenapa?“ tiba-tiba Sumekar bertanya.
“Hak atas takhta Tumapel memang sudah berpindah dari Akuwu Tunggul Ametung kepada Ken Dedes atas kerelaannya sendiri. Dan selanjutnya, Ken Dedes memang seorang perempuan yang memiliki tanda-tanda khusus, bahwa ia akan menurunkan raja-raja di atas kerajaan ini.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa sesadarnya ia bertanya, “Dari mana Ki Sanak mengetahui, bahwa Ken Dedes akan melahirkan keturunan yang akan memerintah kerajaan ini?”
Witantra menarik nafas sejenak. Namun kemudian ia berkata, “Tidak mudah untuk mengetahuinya. Tetapi tanda itu memang ada. Seorang Brahmana yang bernama Lohgawe pernah menceriterakan semuanya kepadaku dan kepada Mahisa Agni.”
“Apakah Ki Sanak pernah menghadap Brahmana itu?”
“Ya, kami seorang-seorang pernah menghadap. Dan kami bersama-sama-pun pernah menghadap.”
“Tetapi kakang Mahisa Agni akhir-akhir ini berada di Kediri.”
“Berapa jauhnya jarak dari Kediri ke padukuhanku, kemudian ke Singasari?“ jawab Witantra, “tetapi kami menghadap di saat-saat Mahisa Agni masih berada di Singasari.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar, bahwa tidak semua sudah dikatakan oleh Witantra, tetapi yang tidak dikatakan itu pasti tidak akan dikatakan pula meskipun ditanyakannya. Karena itu maka Sumekar-pun tidak bertanya kepadanya.
“Sudahlah Ki Sanak,“ berkata Witantra itu, “aku kira pertemuan kita sudah cukup. Kita sudah saling melengkapi pengetahuan kita tentang Istana Singasari. Tetapi aku berharap, bahwa untuk seterusnya kita akan dapat saling bertemu. Aku juga sering pergi ke Kediri, menemui Mahisa Agni.”
“Baiklah,“ jawab Sumekar, “aku akan berusaha.”
“Sebentar lagi, kedua putera Sri Rajasa itu akan segera dihadapkan kepada pelatihnya yang baru. Cobalah mengamati, apa yang akan terjadi. Selain kita yang tua-tua ini tidak kehilangan kesempatan, kita juga tidak boleh membiarkan Anusapati membuat kesalahan yang serupa, yang menyebabkan gurunya itu terjerumus ke dalam jurang. Hal itu akan menyulitkannya dan mempengaruhi jalan pikirannya.”
Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Katanya, “Baiklah. Aku akan mencobanya.”
“Di sini aku akan selalu menunggu Ki Sanak setiap kali. Aku dapat menghitung hari, kapan Ki Sanak keluar dari istana,“ berkata Witantra selanjutnya, “biasanva dihari-hari ke empat. Di hari ke empat yang pertama Ki Sanak kadang keluar di pagi hari, sedang di hari ke empat yang kedua kadang-kadang Ki Sanak keluar di sore hari.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Witantra itu tahu tepat, kapan ia mendapat waktu untuk beristirahat. Setengah hari di hari keempat. Pagi, kadang-kadang sore. Dan Witantra telah menghitung hari itu.
Sambil tersenyum Witantra itu kemudian berdiri. Katanya, “Jangan heran. Orang-orang tua yang sudah tidak mempunyai kerja apa-pun seperti aku ini, selalu mempunyai waktu untuk melakukan hal-hal yang kadang-kadang aneh, dan bahkan tidak masuk akal bagi orang lain. Seperti menghitung hari-hari istirahat. Memperhatikan saat-saat Sri Rajasa berburu sebulan sekali. Dan hal-hal yang sama sekali tidak penting bagi orang lain.”
Sumekar-pun tersenyum pula. Jawabnya, “Pengamatan Ki Sanak memang luar biasa. Ki Sanak adalah orang yang sangat telaten mempelajari sesuatu masalah.”
Witantra-pun kemudian tertawa. Katanya, “Terima kasih atas pujian itu. Sekarang aku minta diri. Kita akan sering bertemu di hari-hari mendatang.”
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Semuanya itu telah terbayang kembali seperti benar-benar baru saja terjadi. Dan kini, apa yang dikatakan Witantra itu telah mulai. Latihan bagi Putera Mahkota dan bagi Tohjaya.
Sumekar menarik nafas dalam-dalam. Tetapi ia-pun segera menyadari pekerjaannya. Karena itu, ia-pun segera melanjutkan kerja itu. Memotong dahan-dahan kering dan memetik daun yang sudah menjadi kuning.
Namun demikian, ia berjanji kepada dirinya sendiri, bahwa ia akan membantu Witantra mengamati gerak-gerik guru Anusapati yang baru itu. Semuanya itu untuk kepentingan kesanggupannya kepada Mahisa Agni, tetapi juga untuk kepentingan hari depan Singasari. Kalau benar kata Witantra, bahwa Ken Umang adalah lambang nafsu yang tidak terkendali, maka ia akan menjadi perempuan yang justru paling berbahaya bagi Singasari, karena pengaruhnya yang besar terhadap Ken Arok. Pengaruh kehangatan darahnya yang sengaja membakar hati Sri Rajasa. untuk kepentingan pribadinya dan keturunannya.
Dihari-hari berikutnya, Sumekar selalu berusaha untuk dapat melihat latihan-latihan yang dilakukan oleh kedua putera Sri Rajasa itu. Meskipun hanya dari kejauhan, tetapi ia selalu mencoba memperhatikan apa yang sudah terjadi. Dengan demikian ia dapat melengkapi ceritera Anusapati dengan pengamatannya langsung atas pelatih yang baru itu.
Namun dalam pada itu, ternyata Tohjaya telah menyampaikan kepada ibunya, apa yang dialaminya dihari pertama, sehingga Ken Umang kemudian telah memanggil kemanakannya yang menjadi perwira prajurit itu.
“Kenapa kau berbuat begitu?“ Ken Umang bertanya.
“Apakah hamba bersalah?“ bertanya perwira itu.
“Tentu. Kakang sudah memihak. Dan adalah aneh sekali bahwa kakang berpihak kepada Anusapati. Bukankah kemenakanmu itu Tohjaya, dan bukankah aku pula yang telah mengusulkan kau diangkat menjadi seorang prajurit dan bahkan seorang perwira. Pekerjaanmu sekarang jauh lebih baik dari pekerjaanmu di padukuhan. Kau hanya sekedar mendapat upah karena kau mempunyai ilmu. Kau diupah apabila kau mendapat pekerjaan mengawal seseorang atau serombongan pedagang yang akan melintasi jalan-jalan yang berbahaya. Tetapi di sini kau mendapat semuanya. Penghasilan yang cukup, kehormatan sebagai seorang perwira dan pekerjaan yang ringan.”
Terasa sesuatu begetar di dada perwira itu.
“Kakang,“ berkata Ken Umang kemudian, “aku minta kesediaanmu untuk mengasuh Tohjaya sebaik-baiknya. Baik ia sebagai kemanakanmu, maupun ia sebagai putera Sri Rajasa. Kau jangan membuat ia berkecil hati dan membuat Anusapati menjadi besar kepala. Itu bukan maksud kami. Bukan maksudku dan bukan maksud Sri Rajasa. Anusapati harus tetap berjiwa kerdil, tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk menyamai Tohjaya dan tidak mempunyai Kepercayaan kepada diri sendiri. Itulah tugasmu. Bukan sebaliknya. Bahkan kau telah menyalahkan Tohjaya dihadapan Anusapati.”
“Tuan Puteri,“ jawab perwira itu, “hamba tahu benar tugas hamba. Tetapi apakah dengan demikian justru tidak membuat tuanku Tohjaya tersesat? Sebab tuanku Tohjaya tidak melihat keadaan yang sewajarnya. Kalau ia terus-menerus merasa dirinya benar dan menang, maka pada suatu saat, apabila ia terjun kedalam pergaulan, ia akan canggung. Mungkin Tuanku Putera Mahkota akan berhati kerdil, tidak mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri dan selalu mengalah. Tetapi orang lain pasti tidak akan bersedia berbuat demikian. Nah, dalam keadaan itu, baru akan terasa, bahwa tuanku Tohjaya akan kehilangan pegangan. Ia akan terkejut terbentur pada sikap yang tidak sekedar mengalah, ketakutan dan tidak berpendirian.”
“Tetapi siapakah yang akan berani menentang Tohjaya? Di seluruh Singasari sekarang, orang yang mempunyai derajat yang lebih tinggi dari anakku Tohjaya adalah Sri Rajasa sendiri dan Anusapati. Kalau Anusapati sudah dapat dibentuk menjadi manusia yang berjiwa kerdil, lalu siapakah yang berani menentang Tohjaya? Ia akan menjadi orang yang paling berkuasa di Singasari meskipun ia tidak menjadi raja. Apakah kau dapat mengerti akan hal itu?”
Perwira itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah, renungkan. Aku berharap kau dapat melakukannya. Apalagi kau adalah pamannya. Paman Tohjaya. Tetapi karena keadaan derajad kita berbeda, maka kita harus dapat menempatkan diri kita masing-masing.”
Perwira itu menarik nafas dalam-dalam. Tetapi kemudian ia-pun menganggukkan kepalanya, “Baiklah Tuan Puteri. Hamba bersedia melakukannya segala perintah Tuan Puteri. Tetapi hamba minta, agar hamba mendapat kesempatan untuk mempergunakan cara yang baik menurut hamba.”
“Marah-marah dan berbuat tidak adil?”
“Bagaimana hamba dapat marah Tuan Puteri? Hamba adalah seorang prajurit. Perwira yang paling rendah. Bagaimana hamba dapat marah kepada kedua atau salah seorang dari putera Tuanku Sri Rajasa?”
“Ingat-ingatlah hal itu.”
“Tentu Tuan Puteri.”
“Jangan menegur Tohjaya lagi, apalagi dihadapan Anusapati atau orang lain.”
“Hamba Tuanku.”
“Terima kasih. Aku serahkan kedua putera Sri Rajasa itu kedalam tanganmu. Kau harus membentuknya. Membentuk kedua-duanya menjadi manusia yang aku inginkan. Kau mengerti? Tohjaya harus menjadi orang yang paling berkuasa, bahkan lebih berkuasa dari Sri Rajasa sendiri.”
“Gila,“ perwira itu menggeram di dalam hatinya.
“Baiklah. Berhati-hatilah.”
“Hamba tuanku. Hamba akan selalu mengingat segala pesan Tuan Puteri.”
Demikianlah maka perwira itu telah dibekali dengan suatu sikap. Tetapi ternyata ia bukan seorang penjilat yang sangat lemah hati. Ia masih mempunyai diri, meskipun ia tidak berani berterus-terang.
Dengan demikian maka sikapnya-pun tidak terlampau jelas berpihak kepada Tohjaya. Hanya kadang-kadang saja ia dengan sengaja menunjukkan bahwa ia memang harus berbuat begitu. Berbuat agar ia tampak berpihak kepada Tohjaya. Tetapi di saat-saat lain ia berbuat wajar sebagai seorang guru bagi keduanya.
Dalam pada itu, karena ilmu Anusapati yang sebenarnya telah lebih tinggi dari gurunya, demikian pula Sumekar, maka mereka segera merasakan, bahwa pelatihnya kali ini, tidak terlampau banyak memberikan perbedaan ajaran kepada keduanya. Di dalam olah kanuragan, bahkan keduanya tidak begitu banyak mengalami perbedaan perlakuan, meskipun secara lahiriah kadang-kadang Tohjaya merasa, dirinya adalah pusat dari segala-galanya.
Tetapi sikap Tohjaya itu tidak banyak berpengaruh kepada Anusapati. Ia tidak mempedulikan, apakah Tohjaya merasa bahwa ia menjadi pusat putaran dunia atau apapun. Namun sikap gurunya yang baru itu banyak memberikan ketenangan kepada Anusapati.
Anusapati tidak lagi merasa dirinya selalu dihina, digelitik dan direndahkan. Apalagi oleh gurunya. Sehingga kadang-kadang timbul niatnya untuk berbuat sesuatu untuk melepaskan himpitan perasaannya itu. Akhirnya sengaja atau tidak, sadar atau tidak, keadaan itu telah berakhir dengan terbunuhnya gurunya itu.
“Tetapi guru yang baru ini bersikap bijaksana,“ katanya di dalam hati, “setidak-tidaknya ia tidak terlampau berpihak. Seandainya ia berpihak, ia tidak sering menghina dan menyakitkan hatiku.”
Tetapi sikap itu agaknya tidak menyenangkan hati Tohjaya. Ia ingin gurunya itu berbuat seperti gurunya yang dahulu. Menghina langsung di muka banyak orang sekalipun. Menunjukkan kekurangan dan kebodohan Anusapati secara langsung. Dan tindakan-akan yang menyakitkan hati lainnya.
“Kakang,“ berkata Ken Umang pada suatu saat kepada perwira itu, “aku berterima kasih bahwa kau sudah berusaha melakukan tugasmu dengan baik. Tetapi aku masih mengharap kau berbuat agak lebih tegas lagi. Kau tidak perlu membuat banyak pertimbangan. Serahkan segala akibatnya kepadaku dan kepada Sri Rajasa, seandainya Anusapati merasa dirinya terhina. Atau bahkan merasa dirinya dikesampingkan. Meskipun ia Putera Mahkota tetapi Sri Rajasa sama sekali tidak menyukainya. Dan kau tahu, apakah sebabnya. Hanya untuk menjaga ketenteraman Singasari sajalah maka ia ditetapkan menjadi seorang Putera Mahkota, karena menurut ujud lahiriahnya, ia adalah anak yang sulung.”
“Hamba Tuan Puteri,“ jawab perwira itu, “hamba akan mencoba. Tetapi menurut pertimbangan hamba, sikap hamba tidak sebaiknya terlampau jelas dapat dilihat dan dirasakan oleh orang lain seandainya ada yang melihatnya. Dengan demikian, orang tidak akan menganggap Tuanku Tohjaya mempunyai kelebihan apa-apa lagi. Orang menganggap bahwa kelebihan Tuanku Tohjaya adalah suatu hal yang wajar sekali, karena gurunya berpihak kepadanya.”
Ken Umang mengerutkan keningnya.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar