*BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-11-01*
Karya. : SH Mintardja
Ketika Sumekar sudah kembali ketempatnya, maka Tohjaya masih meneruskan, “Jadi, kakanda keberatan?”
“Tidak,“ jawab Anusapati kemudian.
Tohjaya menjadi bingung mendengar jawaban itu, Sekali lagi ia meyakinkan, “Kakanda tidak berkeberatan?”
“Aku tidak. Tetapi kalau kau anggap bahwa kita masing-masing dapat berbuat apa saja atas hamba yang ada di istana ini, baiklah.”
Dada Tohjaya menjadi berdebar-debar. “Maksud kakanda?”
“Seperti yang kau kehendaki. Semua hamba di dalam istana ini adalah hamba Ayahanda Sri Rajasa. Kalau kita masing-masing memerlukan maka kita dapat mengambilnya, kau dapat mengambil juru taman di petamanan ini, dan pada suatu ketika apabila aku perlukan, aku dapat mengambil pengawalan.”
Wajah Tohjaya tiba-tiba menjadi merah. Namun sebelum ia berkata sesuatu Anusapati yang agaknya benar-benar sulit mengendalikan diri berkata, “Ingat, aku adalah Putera Mahkota. Aku adalah saudara tuamu dan aku mempunyai kekuasaan dan kewewenangan yang lebih besar daripada putera yang mana-pun juga.”
Wajah Tohjaya menjadi semakin merah padam. Sejenak ia justru terbungkam. Namun tampak pada sorot matanya hatinya yang bergelora.
Sumekar hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mencoba memperingatkan Anusapati dengan caranya. Ia menyangka bahwa Anusapati akan segera dapat mengekang dirinya. Namun ternyata meskipun Anusapati agaknya sudah mencoba, tetapi ia memang tidak akan dapat terus-menerus mengalah terhadap adiknya.
Sejenak, kedua anak-anak muda itu saling berdiam diri. Tetapi terasa bahwa dada mereka telah dilanda ketegangan yang semakin memuncak.
Dan tiba-tiba saja Tohjaya kemudian bertanya, “Sejak kapan kakanda berpendirian demikian?”
“Sejak kita sama-sama meningkat dewasa. Sejak aku mengerti tentang diriku dan harga diriku.”
“Tetapi, kakanda tidak pernah menunjukkan sikap seperti ini. Aku sangka Kakanda Anusapati adalah seorang yang baik, yang rendah hati dan terlampau sabar.”
“Ternyata aku sudah terbentur pada batas kesabaran, karendahan hati dan kebaikan.”
“Aku tidak mengerti,“ desis Tohjaya, “semula aku hanya berniat meminjam seorang juru taman. Itu-pun hanya apabila aku masih memerlukan di lain kali. Bukan sekarang. Ternyata kakanda Anusapati tiba-tiba saja menjadi marah, aku tidak mengerti.”
“Aku sama sekali tidak marah Adinda Tohjaya. Aku hanya ingin bersikap wajar, seperti seharusnya seorang Putera Mahkota. Aku ingin kau bersikap wajar pula sebagai seorang saudara muda. Selama ini batas di antara kuwajiban dan wewenang kita tidak jelas. Aku tahu, bahwa Ayahanda Sri Rajasa masih belum menganggap hal itu perlu. Mungkin karena ayahanda masih tetap menganggap kita sebagai kanak-anak. Tetapi pada suatu saat, kita memang harus bersikap dewasa. Kita bukanlah anak-anak yang manja yang selalu merengek apabila keinginan kita tidak terpenuhi.”
“Apakah begitu Anggapan kakanda Anusapati terhadapku.”
“Bukan terhadapmu. Tetapi terhadap kita bersama-sama. Aku, kau dan semua adik-adikku. Tetapi biarlah mereka yang masih kanak-anak bersikap seperti kanak-anak. Tetapi kita tidak.”
“Baiklah. Itulah yang Kakanda kehendaki.”
“Ya. Hubungan kita selanjutnya adalah hubungan orang-orang dewasa yang mempunyai batas-batas kewajiban dan wewenang, karena kita masih berada di dalam lingkungan ketentuan yang diatur oleh berbagai macam peraturan.”
Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya meskipun wajahnya menjadi merah. Ketika ia berpaling memandang wajah kedua pengawalnya berganti-ganti, dilihatnya wajah-wajah itu-pun menjadi tegang.
“Kita kembali,“ desis Tohjaya.
Kedua pengawalnya menganggukkan kepalanya.
“Aku minta diri Kakanda Anusapati,“ berkata Tohjaya kemudian. Namun ketika ia mulai melangkahkan kakinya ia berpaling, “Apakah Kakanda Anusapati senang bermain dengan bunga?”
Anusapati tidak segera menjawab. Tanpa sesadarnya ia memandangi bunga Arum Dalu ditangannya.
“Hanya gadis-gadis dan perempuan-perempuan sajalah yang senang bermain dengan bunga. Tetapi seorang laki-laki sepantasnya bermain dengan pedang.“ sambung Tohjaya.
Anusapati mengatupkan giginya rapat-rapat. Tetapi ia masih tetap berusaha untuk membatasi diri betapapun terasa dadanya seakan-akan pecah.
“Atau barangkali bunga yang kakanda petik untuk kekasih?“ bertanya Tohjaya pula.
Anusapati masih tetap berdiam diri.
Tohjaya tertawa tertahan-tahan. Katanya, “Tetapi Kakanda Anusapati pantas segala berjalan melenggang sambil menjinjing bunga. Bukan pedang.”
“Ya,“ akhirnya Anusapati menyahut, “aku lebih suka membawa bunga daripada membawa pedang.”
“Itu tidak pantas bagi seorang laki-laki.”
“Aku tidak menghiraukannya. Pantas atau tidak pantas. Aku senang pada bunga. Itulah.”
Wajah Tohjaya tiba-tiba berkerut. Tetapi ia masih berkata, “Apalagi seorang Putera Mahkota.“
“Justru seorang Putera Mahkota.”
“Kenapa?”
“Bunga dapat mengucapkan apa saja. Suka cita, duka, kenangan dan kepahlawanan.“
Tohjaya menarik nafas dalam-dalam.
“Sedang pedang hanya memiliki satu arti. Kekerasan.“
Tohjaya tidak menjawab lagi. Dengan serta-merta ia melangkah meninggalkan Anusapati yang masih berdiri di tempatnya sambil menggeram, “Anak cengeng. Sepantasnya ia tidak menyebut dirinya seorang laki-laki. Ia adalah seorang perempuan cengeng.”
Pengawalnya tidak menyahut. Mereka berjalan meloncat-loncat di belakang Tohjaya yang berjalan semakin cepat.
Setelah Tohjaya hilang dibalik regol dinding yang memisahkan kedua bagian istana Singasari, maka Anusapati-pun kembali pula ke bangsalnya. Wajahnya menjadi suram dan angan-angannya seakan-akan terbang berputaran tidak menentu.
Embannya yang melajaninya seperti anak sendiri, memandang wajah yang suram itu dengan hati yang berdebar-debar. Meskipun wajah Anusapati hampir selalu suram, namun di hari-hari terakhir ini Putera Mahkota itu tampaknya menjadi semakin muram.
Meskipun demikian emban pemomongnya itu tidak bertanya. Ia sudah terlampau sering bertanya, namun jawabannya tidak pernah meyakinkannya. Bahkan justru setiap kali Putera Mahkota itulah yang ganti bertanya kepadanya, “Emban, siapakah aku ini sebenarnya?”
Dan ia selalu menjawab, “Tuanku adalah Putera Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi Maharaja yang kini bertahta di atas Singgasana Singasari.”
Tetapi jawaban itu tidak pernah memuaskan Putera Mahkota itu. Bahkan kadang-kadang terloncat dari bibirnya, “Kenapa sikap Ayahanda Sri Rajasa terhadapku terlampau berbeda dengan sikap ayahanda kepada adik-adikku.”
“Tuanku, itu hanyalah sekedar bayangan yang tuanku anyam sendiri. Tentu Ayahanda Sri Rajasa tidak akan membedakan siapakah tuanku dan siapakah putera-putera yang lain.”
“Tetapi sangat terasa.”
“Mungkin karena tuanku lahir dari tuanku Permaisuri. Tuanku Sri Rajasa ingin bersikap bersungguh-sungguh terhadap tuanku sebagai seorang Putera Mahkota yang kelak akan menjadi seorang raja.”
“Sesungguhnya terbalik dari apa yang kau katakan, emban.”
“Jangan membiarkan diri tuanku hanyut dalam arus angan-angan yang sesat. Tuanku adalah momongan hamba sejak tuanku kecil. Hamba mencoba untuk berbuat sebaik-baiknya terhadap tuanku. Juga hamba berharap bahwa tuanku bukanlah seorarg pemimpin yang hidup didalam alam yang mengambang.“
Anusapati selalu menarik nafas dalam-dalam. Kemudian menundukkan kepalanya dan masuk kedalam biliknya.
Karena itu emban pemomongnya-pun menjadi sangat berprihatin, ia sadar bahwa ibunda Permaisuri-pun sangat berprihatin pula terhadap Putera Mahkota yang sangat perasa ini.
Tetapi emban itu tidak dapat ingkar kepada diri sendiri. Ia tahu dengan pasti, bahwa memang sikap Sri Rajasa terhadap Putera Mahkota agak berbeda dengan sikap Sri Rajasa terhadap Tohjaya, putera yang lahir dari Ken Umang yang memang mempunyai darah yang agak panas.
Dan emban itupan tahu, tahu dengan pasti, bahwa Anusapati bukanlah Putera Sri Rajasa, karena Anusapati sudah ada di dalam kandungan sejak Sri Rajasa kawin dengan Ken Dedes, Permaisuri Tunggul Ametung.
Tetapi sudah tentu emban itu, seperti semua orang di dalam istana ini, tidak akan dapat mengatakan siapakah sebenarnya Anusapati itu, dan kenapa sikap Ayahanda Sri Rajasa berbeda terhadapnya daripada adik-adiknya.
“Namun sampai kapan rahasia ini tetap tersembunyi bagi Putera Mahkota?“ pertanyaan itulah yang selalu mengganggu hati emban itu.
Juga kali ini, Putera Mahkota itu kembali dari taman dengan wajah yang muram, meskipun ia membawa bunga ditangannya. Ternyata bunga itu diletakkannya begitu saja di atas bancik kayu di sudut ruangan, sedang ia sendiri langsung masuk ke dalam biliknya.
Dalam pada itu, Sumekar yang masih ada di dalam taman menjadi berdebar-debar juga. Semakin lama Anusapati pasti menjadi semakin jemu menghadapi keadaannya yang sama sekali tidak menyenangkannya.
“Ia memerlukan seorang kawan,“ katanya di dalam hati, “agaknya Ibunda Permaisuri-pun tidak begitu terbuka terhadapnya.”
Tetapi kawan bagi Anusapati, sehalusnya dapat membuatnya tidak lagi selalu dilanda oleh kegelisahan. Kawan yang lembut, yang dapat mengisi kekosongan hatinya. Bukan kawan yang sekedar dapat mengawaninya berlatih, yang dapat memberikan beberapa petunjuk dan nasehat. Atau mungkin sedikit menenangkan ketegangan. Namun tidak dapat mendinginkan bara yang selalu menjala di dalam dadanya.
“Putera Mahkota memerlukan seorang gadis yang dapat mengerti tentang dirinya,“ berkata Sumekar kepada diri sendiri.
Tetapi sudah tentu Sumekar tidak dapat berbuat apa-apa. Gadis bagi Putera Mahkota bukannya sesuatu yang begitu saja dapat diambil menurut keinginan sendiri atau orang-orang yang dekat dengannya. Tetapi seorang isteri bagi Putera Mahkota akan ditentukan oleh Ayahanda Baginda dan pendapat beberapa orang pemimpin kerajaan, karena isteri Putera Mahkota itu kelak akan menjadi Permaisuri. Berbeda bagi seorang Raja yang akan mengambil permaisurinya sendiri. Ia mempunyai wewenang dan kekuasaan, apalagi apabila ia sudah cukup matang. Sikapnya dan umurnya.
Tetapi tidak bagi Anusapati. Ia masih terlalu muda untuk menentukan hari depannya sendiri, apalagi ia masih seorang Putera Mahkota.
“Meskipun demikian, ada baiknya aku mulai berbuat sesuatu untuk menuju ke arah itu,“ berkata Sumekar di dalam hatinya. “Aku menunggu kakang Mahisa Agni. Kalau ia setuju, maka aku akan segera berbuat sesuatu. Mungkin membujuk Putera Mahkota, mungkin berbicara dengan embannya dan bahkan apabila mungkin menyampaikannya kepada tuanku Permaisuri bagaimanapun caranya. Tetapi sebelum sampai kesaat yang demikian, aku harus berusaha mengendalikannya. Demikianlah ketika Sumekar mendapat kesempatan bertemu dengan Anusapati, maka ia-pun segera menyampaikan perasaannya itu.
“Tuanku,“ katanya, “hamba mendengar percakapan tuanku dengan tuanku Tohjaya.”
Anusapati mengerutkan keningnya.
“Hamba menjadi berdebar-debar karenanya.“
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku terlampau sulit untuk mengendalikan diri, paman. Setiap kali aku harus menekan perasaan betapa-pun sakitnya. Aku merasa bahwa pada suatu ketika dadaku akan pecah karenanya.”
“Hamba mengerti tuanku. Tetapi ini adalah suatu pendadaran bagi tuanku. Apakah tuanku dapat mengatasi kesulitan yang timbul di dalam diri tuanku atau tidak.”
Anusapati tidak menjawab.
“Sudah sekian lamanya tuanku berhasil menyembunyikan diri di dalam istana ini sebagai seorang Putera Mahkota yang cengeng, bodoh dan lemah. Bukankah dengan demikian tuanku juga harus menekan perasaan. Kenapa tiba-tiba saja tuanku tidak mampu lagi berbuat demikian?”
“Dada ini bagaikan sebuah tempayan,“ jawab Anusapati, “setitik-titik air akan dapat tertampung di dalamnya. Tetapi pada suatu saat tempayan itu akan penuh. Setiap tetes akan segera tertumpah kembali.”
“Tuanku harus berada selapang lautan,“ sahut Sumekar, “lautan yang dapat menampung air dari segala arus sungai, hujan dan bahkan prahara yang terjun dari langit yang seakan-akan terbuka sekalipun. Itu sama sekali bukan suatu kelemahan. Suatu ketika lautan akan dapat menelan gunung dan daratan.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam, sekali dan sekali lagi.
“Tuanku,“ berkata Sumekar pula, “sebenarnyalah hamba selalu berdebar-debar melihat setiap pertemuan tuangku dengan dinda tuanku itu. Kalau tuanku masih sudi mendengarkan hamba, hamba mengharap tuanku masih tetap mengekang diri. Mungkin setahun lagi dua tahun atau bahkan sepuluh tahun.”
Anusapati menundukkan kepalanya.
“Apakah tuanku pernah mendengar ceritera kakang Mahisa Agni ketika ia berada di sarang orang yang bernama Kebo Sindet?”
Anusapati menggelengkan kepalanya.
“Hamba pernah mendengar. Baik dari kakang Mahisa Agni sendiri, mau-pun dari kakang Kuda Sempana.”
“Tentang paman Mahisa Agni?“ bertanya Anusapati.
“Ya.”
Anusapati mengerutkan keningnya. “Aku ingin mendengarnya.”
Sumekar-pun kemudian menceriterakan dengan singkat, apa yang pernah dialami oleh Mahisa Agni. Hinaan dan tekanan, lahir dan batin. Tubuhnya selalu disakiti dan terlebih-lebih lagi hatinya.
“Tetapi kakang Mahisa Agni bertahan,“ berkata Sumekar kemudian.
Anusapati menarik nafas sekali lagi, seolah-olah dadanya telah menjadi semakin sesak.
Namun ceritera itu merupakan sebuah gambaran yang nyata baginya. Untuk mencapai sebuah cita-cita, kadang-kadang harus ditempuh jalan yang jauh dan sulit.
“Tetapi akhirnya kakang Mahisa Agni dapat keluar dari neraka itu atas hasil perjuangannya. Gurunya sama sekali tidak ikut secara langsung melepaskannya dari belenggu Kebo Sindet. Juga Empu Sada tidak berbuat apa-apa ketika kakang Mahisa Agni bertempur mati-matian melawan Kebo Sindet sehingga Kebo Sindet hilang ditelan oleh buaya-buaya kerdil yang selama itu telah menjaga kerajaannya.”
Anusapati menganggukkan kepalanya, “Aku mengerti.”
“Demikianlah tuanku. Apabila tuanku terlanjur selangkah, maka tuanku tidak akan dapat surut kembali. Tuanku akan menjadi semakin jauh terdorong ke dalam keadaan yang tidak akan dapat tuanku hindari. Sehingga akhirnya tuanku akan dapat mengulangi kesalahan tuanku terhadap prajurit yang ditelan jurang itu.”
“Ya. Aku menyadari.”
“Kalau begitu, tuanku harus bertahan sekuat-kuatnya.“
Anusapati tidak segera menjawab. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Terbayang sekilas di kepalanya, tubuh prajurit yang terbujur mati di dalam jurang itu. Ketika itu ia memang tidak dapat menentukan pilihan. Meskipun ia tidak sengaja membunuhnya, tetapi apa jadinya kalau prajurit pelatihnya itu tidak mati di dalam jurang itu. Ia pasti akan berceritera tentang dirinya, tentang kemampuannya dan tentang kepergiannya ke jurang itu. Kemudian Ayahanda Sri Rajasa pasti akan memaksanya untuk mengaku, siapa saja yang terlibat dengan dirinya. Dan ia terpaksa menyebut nama-nama Mahisa Agni dan Sumekar, juru taman yang baru itu.
“Nah tuanku,“ berkata Sumekar kemudian, “hamba mengharap ketabahan hati tuanku, demi hari-hari depan yang masih sangat panjang.”
Demikianlah maka Anusapati kemudian untuk beberapa saat merenungi kata-kata Sumekar itu. Sumekar yang kemudian meninggalkannya seorang diri supaya tidak ada orang lain yang mencurigainya, apabila mereka terlampau sering bertemu dan berbicara terlampau panjang.
Namun apa yang dicemaskan Sumekar itu, meskipun tidak terlampau jauh, segera terjadi. Agaknya Tohjaya menceriterakan semuanya yang dikatakan oleh Anusapati kepada Ayahanda Sri Rajasa, sehingga Anusapati itu-pun telah dipanggil menghadap.
“Mudah-mudahan aku dapat menahan diri,“ katanya didalam hati, “apalagi dihadapan Ayahanda Baginda.”
“Tuanku Sri Rajasa menunggu tuanku Putera Mahkota sebelum senja,“ berkata prajurit yang diperintahkan oleh Sri Rajasa memanggil Anusapati.
“Sampaikan kepada Ayahanda Baginda, bahwa Putera Mahkota akan menghadap sesaat sebelum senja,“ jawab Anusapati. Meskipun dadanya menjadi berdebar-debar, tetapi ia mencoba untuk menyaput wajahnya dengan sebuah senyuman.
“Hamba tuanku,“ berkata prajurit itu, “perkenankanlah hamba menyampaikannya kepada tuanku Sri Rajasa.”
“Ya.”
Prajurit itu-pun kemudian mohon diri.
Sepeninggal prajurit itu Anusapati menjadi gelisah. Ia sadar bahwa Ayahanda Sri Rajasa pasti akan menanyakan, kenapa ia bersikap begitu kasar terhadap adiknya. Tetapi Sri Rajasa tidak akan pernah menanyakan hal yang serupa kepada Tohjaya.
Sesaat sebelum menghadap Anusapati menjadi ragu-ragu. Apakah ia akan menghadap ibunda Permaisuri dahulu dan menyampaikan masalah itu, atau tidak.
“Tidak,“ ia menggeram, “aku adalah seorang laki-laki. Aku tidak akan mencari sandaran siapa-pun juga. Aku akan menghadapi semua masalahku sendiri.”
Namun demikian, ketika Sumekar menyiram bunga-bunga di halaman bangsalnya, ia menemuinya dan mengatakannya, “Aku dipanggil oleh Ayahanda Sri Rajasa.”
“Ada persoalan yang penting barangkali tuanku.”
“Mungkin Adinda Tohjaya telah menyampaikan perselisihan kami itu kepada Ayahanda Sri Rajasa. Seperti setiap kali kami berselisih, maka akulah yang akan mendapat marah dari Ayahanda.”
“Tuanku,“ sahut Sumekar, “itu merupakan ujian bagi keprihatinan tuanku. Tuanku harus tetap berusaha menahan diri apa-pun yang akan terjadi, dan apa-pun yang akan dikatakan oleh Ayahanda Sri Rajasa.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Apakah aku harus menghadap ibunda lebih dahulu?”
“Jangan tuanku, ini hanya akan menambah ibunda semakin berwajah muram.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia menjadi semakin yakin bahwa memang seharusnya ia tidak bersandar kepada siapa-pun juga. Apalagi ibunya yang mudah sekali tersentuh hatinya.
Demikianlah ketika tiba saatnya, Anusapati-pun dengan berdebar-debar telah pergi menghadap Ayahanda Sri Rajasa, di bangsal Agung. Hatinya menjadi berdebar-debar ketika ia melangkah semakin dekat dengan tangga.
“Ayahanda pasti akan marah,“ desisnya perlahan-lahan sekali. Namun Anusapati masih merasakan betapa angin senja yang sejuk mengusap keningnya yang basah oleh keringat.
Sekali Anusapati menengadahkan kepalanya. Dilihatnya kelelawar satu-satu mulai beterbangan dilangit yang biru bersih. Cahaya kemerah-merahan yang terakhir masih juga menyangkut diujung pohon kelapa yang tinggi di halaman belakang istana.
Langkah Anusapati menjadi semakin lambat. Di bawah tangga ia menjadi ragu-ragu sejenak. Dipandanginya dua orang prajurit yang bertugas di sebelah menyebelah pintu bangsal Agung.
Tetapi langkahnya tertegun ketika ia mendengar dari salah seorang prajurit itu bahwa Ayahanda justru berada di serambi belakang bangsal itu.
“Kenapa di serambi?”
“Entahlah tuanku. Tetapi agaknya udara memang terlampau panas. Tuanku Sri Rajasa memang sering berada di serambi belakang dari bangsal ini.”
“Dengan siapa?”
“Sendiri. Baru saja tuanku Tohjaya juga menghadap di serambi belakang.”
Anusapati menjadi semakin berdebar-debar.
“Silahkanlah masuk dan langsung pergi ke serambi belakang.”
“Aku akan lewat dilongkangan sebelah.“
Kedua prajurit itu mengerutkan keningnya.
“Biarlah. Aku akan lewat samping.”
Dan Anusapati-pun tidak memasuki bangsal itu, tetapi ia melingkarinya, lewat longkangan sebelah dan langsung sampai ke serambi di belakang bangsal itu.
Dilihatnya didalam keremangan cahaya pelita yang redup, Ayahanda Sri Rajasa duduk di atas sehelai tikar yang tebal, yang terbuat dari anyaman sabut kelapa bersulam benang-benang kapuk yang berwarna warni.
Tiba-tiba langkah Anusapati tertegun sejenak. Ia menjadi ragu-ragu. Apa saja yang akan dikatakan oleh Ayahanda Sri Rajasa kepadanya?
Tetapi ia tidak dapat surut, ia harus menghadap, karena Ayahanda Sri Rajasa memang memanggilnya. Sebelum senja. Dan kini senja sudah mencengkam langit dan bahkan seluruh Kerajaan Singasari yang besar.
Betapa-pun beratnya, Anusapati telah melangkahkan kakinya maju ke depan mendekati Ayahanda Sri Rajasa yang sedang duduk seorang diri di serambi sambil mengusap dagunya.
Semakin dekat Anusapati menjadi semakin berdebar-debar. Ayahanda Sri Rajasa agaknya sama sekali tidak mengetahui kedatangannya, karena ia masih saja duduk memandang ke kejauhan.
Beberapa langkah dari serambi itu Anusapati berhenti. Keringat dingin telah mengalir diseluruh tubuhnya. Ayahanda Sri Rajasa sama sekali masih belum berpaling kepadanya.
Anusapati yang menjadi agak kebingungan itu tiba-tiba telah terbatuk-batuk perlahan-lahan. Perlahan-lahan sekali.
Ternyata suaranya seolah-olah telah membangunkan Sri Rajasa. Perlahan-lahan ia berpaling, memandang Anusapati yang masih berdiri, di dalam bayangan yang samar-samar.
Sejenak Sri Rajasa memandanginya. Namun kemudian pandangan matanya telah terlempar kembali ke kejauhan, tanpa menghiraukan lagi Anusapati. Bahkan kemudian seolah-olah Sri Rajasa itu acuh tidak acuh saja atas kehadiran Putera Mahkota itu.
Anusapati masih berdiri sejenak, dalam kebingungan. Keringatnya semakin banyak mengalir membasahi kulitnya. Apalagi ketika dilihatnya Sri Rajasa agaknya menjadi acuh tidak acuh saja. Meskipun ia telah mengetahui kehadirannya, namun ia sama sekali tidak menyapanya, apalagi mempersilahkannya.
Anusapati tidak tahu apakah yang sebaiknya dilakukannya. Karena itu, kakinya justru menjadi gemetar dan jantungnya berdebaran semakin cepat.
Dengan mata yang hampir tidak berkedip, dipandanginya saja wajah Ayahanda Sri Rajasa yang sedang menatap ke dalam keremangan cahaya senja. Seolah-olah ingin memandangi satu-satu cahaya yang kemerah-merahan lenyap ditelan oleh gelapnya malam yang turun perlahan-lahan.
Namun akhirnya Anusapati menemukan kepribadiannya. Tiba-tiba saja ia sadar, bahwa ia adalah Putera Mahkota yang sedang menghadap Ayahanda Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi. Putera Mahkota dari suatu kerajaan yang besar, yang kelak akan menggantikan kedudukan Ayahanda, menjadi seorang raja yang menguasai daerah yang besar pula. Karena itu, maka tumbuhlah ketabahan di dalam dadanya, untuk menyesuaikan dirinya dengan kedudukannya itu.
Dengan demikian maka Anusapati-pun melangkah semakin dekat. Perlahan-lahan ia-pun kemudian duduk bersila, di atas lantai di sisi Ayahanda Sri Rajasa yang masih tidak menghiraukannya sama sekali.
Tetapi Anusapati sudah tidak gemetar lagi. Kini ia justru telah menjadi tenang. Perlahan-lahan ia beringsut maju mendekati Ayahanda Sri Rajasa.
Setelah ia duduk selangkah di samping Ayahanda, maka Anusapati itu-pun berkata, “Ampun Ayahanda. Bukankah Ayahanda berkenan memanggil hamba untuk menghadap sebelum senja?”
Sri Rajasa menarik nafas dalam-dalam. Perlahan-lahan ia berpaling dan berkata sambil menarik nafas dalam-dalam, “Aku menunggu sikapmu ini. Aku bangga bahwa kau mempunyai keberanian untuk menegur aku. Aku sudah berniat untuk memarahimu, bahkan menghukummu kalau ternyata kau seorang pengecut. Buat apa aku mempunyai seorang putera Mahkota yang hatinya sekecil kelinci? Yang hanya berani terbatuk-batuk tanpa mengatakan sepatah katapun?”
Anusapati tidak menyahut. Tetapi kepalanya tertunduk dalam-dalam. Ia kini menjadi berdebar-debar kembali.
“Anusapati,“ panggil Sri Rajasa.
“Hamba Ayahanda,“ sahut Anusapati gemetar.
“Aku memang memanggilmu. Dan kau sudah berani menghadap aku seorang diri. Itu sudah mengurangi kesalahanmu yang manapun juga. Apalagi sikapmu yang baru saja kau lakukan. Kemarahanku sudah susut separuhnya.”
“Ampun Ayahanda,“ desis Anusapati.
“Sekarang kau tidak usah takut lagi. Kalau kau tidak berani menegurku, dan kau masih saja berdiri di kegelapan, mungkin aku akan berbuat kasar terhadapmu karena kesalahanmu terhadap adikmu. Sebagai saudara tua kau sama sekali tidak dapat berbuat baik, sedikit mengalah dan bersikap dewasa terhadap saudara yang lebih muda. Lebih muda hubungannya di dalam tingkatan kekeluargaan dan memang jauh lebih muda umurnya.”
Anusapati sama sekali tidak berani menyahut. Ia duduk sambil memandang jari-jari kakinya sendiri.
“Untunglah bahwa kau kali ini memenuhi harapanku. Kau mempunyai jiwa yang cukup besar. Kau kali ini sedikit memberi aku kebanggaan. Selama ini kau selalu bersikap seperti perempuan cengeng. Tetapi sekarang kau agak lain. Sikapmu terhadap adikmu menjadi semakin keras, tetapi kau-pun menjadi kian jantan.”
Anusapati masih tetap berdiam diri. Namun tiba-tiba ia terkejut ketika ia mendengar Ayahanda Sri Rajasa bertanya, “Siapakah yang mengajarmu berbuat demikian?”
Keringat dingin yang hampir mengering, tiba-tiba telah mengembun lagi dipunggungnya. Meskipun angin senja yang basah bertiup menyentuhnya, namun tubuh Anusapati serasa menjadi panas karenanya.
“Apakah ada seseorang yang mengajarmu, agar kau menjadi seorang laki-laki yang baik?”
“Ampun Ayahanda Sri Rajasa,“ jawab Anusapati kemudian meskipun agak terputus-putus, “sesungguhnya tidak ada seorang-pun yang pernah mengajari hamba berbuat demikian.”
Sri Rajasa mengerutkan keningnya. Namun wajahnya kemudian menjadi tegang. Dipandanginya Anusapati sejenak. Lalu katanya dengan nada yang keras, “Kau sudah kembali menjadi seorang pengecut. Kenapa kau tidak mau mengatakan, siapakah yang telah mengajarmu menjadi seorang laki-laki yang baik?”
Anusapati menjadi bingung. Tetapi ia bertanya, “Maksud Ayahanda, seseorang yang memberikan petunjuk kepada hamba?“
“Seseorang yang telah berbuat apa-pun atasmu sehingga kau kini menjadi seorang laki-laki yang tidak terlampau cengeng, pengecut dan berpribadi.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Dan tiba-tiba saja ia menjawab, “Ibunda Permaisuri.”
Sri Rajasa terkejut mendengar jawaban itu sehingga ia berkisar sejengkal mendekatinya. Ditatapnya wajah Anusapati seperti belum pernah melihatnya.
Sejenak kemudian Sri Rajasa itu bertanya, “Ibunda Permaisuri? Benarkah kau menjawab demikian?”
“Hamba Ayahanda. Ibunda Permaisuri.”
“Apa yang sudah dilakukan oleh ibunda Permaisuri sehingga kau perlahan-lahan telah berubah menjadi seseorang yang berpribadi.”
“Ibunda Permaisuri selalu berceritera kepada hamba.”
“Apa yang diceriterakan?”
Anusapati tertegun sejenak. Sekilas ia memandang wajah Ayahanda Sri Rajasa. Namun kemudian kepalanya tertunduk kembali.
“Apa yang diceriterakan kepadamu he?“ desak Ayahanda Sri Rajasa.
“Ibu banyak bercerita tentang kepahlawanan seseorang. Tentang pribadi yang mengagumkan. Dan tentang Ayahanda Sri Rajasa sendiri, pamanda Mahisa Agni dan para pemimpin-pemimpin Singasari.”
Terasa sesuatu berdesir di dada Sri Rajasa. Dan ia mendengar Anusapati berkata selanjutnya, “Ceritera ibunda selalu berkesan dihati hamba, sehingga kadang-kadang hamba terpengaruh karenanya. Apalagi ibunda selalu mengajar kepada hamba untuk berbuat seperti seorang kesatria, sesuai dengan kedudukan hamba sekarang.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Tiba-tiba kemarahan yang telah membara didadanya, sejak ia mendengar Tohjaya mengadu kepadanya, menjadi semakin susut. Katanya, “Anusapati, kau sudah mengurangi kemarahanku separuh lagi. Kau mengatakan bahwa Ibunda Permaisurilah yang mengajarimu, yang berceritera kepadamu tentang pahlawan-pahlawan Singasari. Aku mempercayai kata-katamu dan sekali lagi aku berbangga karenanya, bahwa kau telah terkesan oleh ceritera-ceritera itu.“ Sri Rajasa berhenti sejenak, lalu “selain ceritera tentang pahlawan dari kerajaan Singasari ini sendiri apalagi yang diceriterakan kepadamu?”
“Ibunda Permaisuri menganjurkan hamba membaca kitab-kitab. Dan hamba-pun membacanya pula. Hamba meminjam kitab dari bangsal perbendaharaan dan kitab-kitab yang ada didalam simpanan ibunda sendiri. Hamba mencoba untuk mengambil berbagai macam tuntunan dari dalamnya.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Dan kau mempelajari ilmu kanuragan pula?”
Pertanyaan itu mengejutkan pula bagi Anusapati. Tetapi ia mencoba untuk menyembunyikannya kesan itu dari wajahnya. Katanya kemudian, “Ampun Ayahanda. Hamba tidak dapat mencari tuntunan tentang olah kanuragan. Tidak ada kitab yang pernah hamba baca yang dapat memberikan petunjuk ilmu kanuragan.”
Sri Rajasa menarik nafas. Tanpa disadarinya ia menganggukkan kepalanya. Katanya, “itulah sebabnya, kau hampir tidak dapat berbuat apa-apa didalam olah kanuragan karena waktumu kau pergunakan untuk membaca kitab-kitab itu. Mungkin isi kitab-kitab itu memberikan manfaat bagimu, tetapi kalau kau habiskan waktumu dengan menekuni kitab-kitab itu saja, maka kau akan menjadi seorang yang kehilangan keseimbangan. Ilmu lahiriahmu akan jauh ketinggalan dari ilmu pengetahuanmu.”
Anusapati tidak menyahut. Kepalanya masih saja tunduk dalam-dalam, ia mencoba untuk memilih setiap kata yang diucapkannya. Didalam percakapan yang demikian, apabila ia tidak berhati-hati maka ia akan dapat tergelincir. Sekali ia tergelincir, maka sulitlah baginya untuk bangkit kembali.
Untunglah, bahwa kali ini ia cukup berhati-hati. meskipun keringatnya telah membasahi punggungnya kembali.
“Anusapati,“ berkata Sri Rajasa kemudian, “sekarang kau boleh kembali kebangsalmu. Aku mengurungkan niatku untuk marah kepadamu karena kau telah berlaku kasar terhadap adikmu, Tohjaya. Untunglah bahwa kau menunjukkan sikap yang baik, yang memberikan kebanggaan kepadaku. Kalau tidak, mungkin aku sudah berbuat sesuatu. Tetapi meskipun demikian, aku tetap akan memperingatkan kepadamu, jangan berbuat kasar kepada saudara muda. Kau harus memberikan bimbingan dan tuntunan sebaik-baiknya.”
Anusapati mengangguk dalam-dalam, “Hamba Ayahanda.”
“Kau tidak usah mengelakkan keinginannya. Biasakan dirimu mengalah terhadap saudara muda, seperti juga Tohjaya harus mengalah kepada adik-adiknya.”
“Hamba Ayahanda.”
“Ajarilah adikmu menekuni kitab-kitab seperti yang kau baca itu. Tetapi kau-pun harus sedikit menaruh perhatian kepada olah kanuragan. Kau jauh ketinggalan dari adikmu Tohjaya. Apalagi kini, setelah gurumu itu mengalami kecelakaan yang penuh rahasia. Sebentar lagi kau berdua akan mendapatkan seorang guru yang lain, yang barangkali dapat menuntun kalian dan dapat berbuat lebih baik dari gurumu yang telah tidak ada lagi itu.”
“Hamba Ayahanda. Hamba akan mencoba berbuat segalanya.”
“Sekarang, kau boleh kembali. Tetapi ingat, bahwa sikapmu sajalah yang telah membuat aku kehilangan kemarahan. Kalau kau masih mengulanginya, maka aku akan menghukummu.”
“Hamba Ayahanda,“ jawab Anusapati sambil membungkukkan kepalanya dalam-dalam.
Meskipun demikian, meskipun Sri Rajasa kali ini tidak menghukumnya, namun terasa semakin dalam tergores dihati Putera Mahkota itu, perbedaan sikap dari Ayahanda kepada putera-puteranya. Kepadanya dan kepada adik-adiknya.
Bahkan Ayahanda Sri Rajasa telah mengancamnya, apabila ia berbuat sekali lagi, maksudnya apabila ia bertengkar sekali lagi dengan Tohjaya, maka ialah yang akan mendapat hukuman, karena ia tidak mau mengalah kepada saudara muda.
“Nah, kembalilah,“ berkata Sri Rajasa kemudian, “dan sebentar lagi kau akan mendapat seorang guru yang baru. Seorang perwira prajurit yang baik, yang akan dapat memberi kalian tuntunan olah kanuragan. Sebagai seorang Putera Mahkota, kau perlu berlatih, agar kau tidak saja mempunyai kebijaksanaan, tetapi kau harus mampu juga turun ke medan perang apabila semua prajurit dan Senapatimu sudah tidak ada lagi yang dapat menahan arus musuh. Seperti Sri Baginda Kertajaya yang gugur di peperangan. Setelah semua Panglimanya terbunuh, ia sendiri turun ke medan.”
Sekali lagi Anusapati menundukkan kepalanya. Katanya, “Hamba Ayahanda. Hamba akan mencoba berlatih sebaik-baiknya. Hamba akan melakukan latihan-latihan di setiap hari, meskipun tidak bersama dengan pelatih hamba.”
Tiba-tiba Sri Rajasa mengerutkan keningnya, “Apa yang akan kau lakukan?”
“Berlatih Ayahanda. Mengulangi latihan-latihan yang pernah hamba dapatkan dari guru hamba. Melakukan gerak-gerak pokok yang sudah diajarkan dan membiasakan anggauta badan hamba melakukan gerak-gerak yang cepat dan teratur.”
“He, siapakah yang mengajarmu demikian?”
Pertanyaan itu telah mengejutkan Anusapati sekali lagi. Jawabnya, “Guru hamba Ayahanda. Guru hamba yang sudah tidak ada lagi. Guru hamba itu selalu memerintahkan kepada hamba untuk mengulangi setiap unsur gerak yang telah diberikannya. Menurut guru hamba itu, bukan saja setiap hari, tetapi setiap saat.”
Sri Rajasa mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, begitulah,“ katanya kemudian.
Sejenak kemudian maka Anusapati-pun mohon diri kepada Ayahanda Sri Rajasa, setelah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.
Namun, setelah Anusapati berada di halaman, ia-pun kemudian menarik nafas dalam-dalam sambil berdesis, “Apakah aku dapat bertahan sampai setahun atau dua tahun lagi? Hanya oleh tuntunan yang ajaib, aku akan dapat tetap hidup dengan cara ini.”
Demikianlah, maka apa yang dikatakan oleh Sri Rajasa itu-pun segera terjadilah. Seorang prajurit telah mendapat tugas, menggantikan kedudukan prajurit yang telah meninggal di dalam jurang.
“Kalian harus menerima perwira prajurit dari pasukan pengawal ini untuk menjadi guru kalian,“ berkata Sri Rajasa kepada kedua puteranya, ketika untuk pertama kalinya kedua anak-anak muda itu dihadapkan kepada pelatihnya.
Tohjaya dan Anusapati berdiri tegak di tempatnya memandang perwira prajurit dari pasukan pengawal itu. Prajurit itu bertubuh tinggi, besar dan berkumis lebat. Rambutnya yang pajang disanggulnya di atas ikat kepalanya yang melingkar di atas dahi.
Ketika Anusapati memandang wajah perwira itu lebih jelas lagi tampaklah olehnya wajah itu bagaikan batu padas yang keras berbongkah-bongkah. Otot-otot di lengan dan kakinya, menjorok seperti jalur-jalur yang memenuh seluruh kulitnya.
“Apakah kalian berkeberatan?“ bertanya Sri Rajasa.
Anusapati tidak menyahut. Ia tahu bahwa pertayaan itu memang tidak memerlukan jawaban. Tetapi Tohjaya masih juga menjawab, “Tidak Ayahanda. Tidak.”
Tetapi ternyata bahwa Sri Rajasa masih juga bertanya kepada Anusapati karena ia masih belum menyahut, “Apakah kau keberatan?”
“Tidak Ayahanda,“ jawab Anusapati.
“Bagus. Kalian harus bersungguh-sungguh mengikuti petunjuknya. Di suatu saat, kalian akan mendapat kesempatan untuk berlatih bersama di arena terbuka seperti yang pernah kalian lakukan.”
Kedua putera Sri Rajasa itu menganggukkan kepalanya. Sekilas teringat oleh Anusapati, wajah pamannya Mahisa Agni. Kalau saja tidak ada rahasia yang tersembunyi, maka ia pasti akan dapat mengusulkan, agar pamannya Mahisa Agni sajalah yang diangkat menjadi guru mereka. Sri Rajasa sendiri pasti mengetahui, bagaimana kemampuan dari Mahisa Agni itu. Bahkan Anusapati yakin, bahwa kemampuan pamannya itu belum pasti berada di bawah tingkat ilmu Sri Rajasa.
Tetapi hal itu tidak akan mungkin terjadi. Karena itu, maka Anusapati-pun berusaha untuk menghilangkan saja bayangan itu dari kepalanya.
“Nah, selanjutnya kalian berdua aku serahkan kepada guru kalian ini,“ berkata Sri Rajasa, yang sejenak kemudian meninggalkan perwira itu bersama dengan kedua puteranya.
Melihat wajah dan bentuk tubuhnya Anusapati menjadi berdebar-debar. Orang ini pasti memiliki kemampuan yang lebih baik dari gurunya yang terdahulu. Bahkan mungkin orang ini mempunyai sipat yang lebih kasar dan menyakitkan hati.
“Aku dapat menjadi gila apabila aku tetap dalam keadaan serupa ini. Apalagi dengan prajurit yang agaknya memang sekeras batu padas ini,“ berkata Anusapati didalam hatinya.
Namun Anusapati terkejut ketika ia mendengar orang itu mulai berbicara. Suaranya kecil melengking, dan sama sekali tidak membayangkan kekasaran.
“Hamba akan menjadi pelatih tuanku berdua untuk seterusnya,“ berkata orang itu.
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun ia bertanya, “Aku sudah mengenal hampir setiap orang di dalam kesatuan pasukan pengawal. Tetapi aku belum pernah melihat kau?”
Perwira itu tersenyum. Ternyata ia menjawab dengan jujur, “Hamba termasuk orang baru didalam lingkungan pasukan pengawal.”
Anusapati masih mengangguk-anggukkan kepalanya. Dipandanginya wajah prajurit yang keras itu. Kemudian tanpa sesadarnya ia berpaling kepada Tohjaya yang masih berdiri di sampingnya.
Anusapati mengerutkan keningnya ketika melihat wajah Tohjaya yang menjadi buram. Tetapi Anusapati tidak tahu, apakah sebabnya, maka Tohjaya tampak tidak begitu senang atas pertanyaannya mengenai prajurit itu.
“Paman,” berkata Tohjaya kemudian, “apakah kita dapat mulai hari ini?”
“Tentu tuanku. Kita dapat segera mulai.”
“Tunggu,“ potong Anusapati. “Aku belum tahu, siapakah namamu?”
“Nama hamba?” prajurit itu mengangkat alisnya, kemudian tertawa sambil berkata, “nama hamba Pinta Sati.”
“He?“ Anusapati mengerutkan keningnya, “Pinta Sati. Nama yang aneh. Agak kurang sesuai dengan bentuk tubuhmu yang tinggi besar dan berkumis lebat.”
“Jadi, siapakah sebaiknya nama hamba tuanku?”
“Aku tidak tahu,“ jawab Anusapati.
Perwira itu tertawa. Katanya, “Nama itu sudah sesuai sekali dengan keadaanku. Namun itu pemberian ayah dan ibuku.”
“Sudahlah,“ potong Tohjaya, “kita tidak akan sekedar berbicara saja. Kita akan berlatih. Marilah kita mulai.”
“O,“ prajurit yang bernama Pinta Sati itu tertawa, “marilah. Kita akan mulai tidak dari permulaan, karena tuanku berdua sudah pernah menerima ilmu dari seorang guru. Tetapi sudah tentu, setiap orang mempunyai kekhususannya sendiri-sendiri, sehingga mungkin justru ada beberapa unsur dari ilmu yang pernah tuanku terima harus dilupakan, dan disingkirkan sama sekali, karena justru akan mengganggu perkembangan tuanku berdua.”
Kedua anak-anak muda itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Karena itu, maka perkenankanlah hamba melihat, apa saja yang pernah tuanku terima dari guru tuanku yang terdahulu.”
Kedua anak-anak muda itu mengerutkan keningnya.
“Apakah maksudmu?“ bertanya Tohjaya.
“Sebaiknya hamba melihat lebih dahulu tuanku berdua berlatih. Hamba akan segera dapat menentukan, dari mana hamba harus mulai, atau hamba justru harus membersihkan ilmu yang sudah ada itu dahulu.”
Tohjaya dan Anusapati berpandangan sejenak. Namun sejenak kemudian Tohjaya barkata, “Baiklah. Kami akan berlatih bersama.“ lalu ia-pun berpaling kepada Anusapati, “kita akan memperlihatkan sampai dimana kemampuan kita masing-masing, kakanda.”
Anusapati tidak menjawab. Tetapi dengan ragu-ragu ia menganggukkan kepalanya.
“Baiklah. Marilah kita pergi kearena latihan yang lebih luas. Hamba akan melihat, apa sajalah yang pernah tuanku terima dari guru tuanku itu.”
Mereka-pun kemudian bersama-sama pergi kearena latihan di halaman belakang istana. Tempat mereka setiap hari berlatih di bawah tuntunan guru mereka yang sudah tidak ada lagi, “Nah. baiklah tuanku berdua mulai,“ berkata pelatih yang baru itu.
Tohjaya dengan wajah yang tegang maju kearena, sedang Anusapati masih saya tampak ragu-ragu.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar