*BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-10-03*
Karya. : SH Mintardja
“Kau masih harus menunggu Sumekar,” berkata Mahisa Agni kemudian, “apa saja yang sudah dilakukan di petamanan sebelah. Kelak kau akan mengetahui, apa saja yang ingin diketahui oleh Tohjaya tentang dirimu.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia memahami benar-benar maksud pamannya. Selama ini ia memang merasa bahwa Tohjaya selalu mencurigainya.
Meskipun selama berada di Singasari Mahisa Agni tidak dapat membawa Anusapati untuk menunjukkan kemampuannya selama ditinggalkannya ke Kediri, namun di dalam suatu kesempatan Mahisa Agni masih juga dapat mengukur serba sedikit, bagaimana Putera Mahkota itu kini. Didalam bilik yang tertutup, Mahisa Agni dan Anusapati sempat juga mengukur kekuatan. Sambil berjabat tangan mereka menyalurkan kekuatan masing-masing ketelapak tangan.
Ketika wajah Anusapati kemudian menjadi pucat, maka berkatalah Mahisa Agni, “Lepaskan perlahan-lahan.”
Keduanya mengurangi tekanan kekuatan masing-masing sehingga akhirnya tangan itu terlepas sama sekali.
“Kau memang maju Anusapati,” berkata Mahisa Agni kemudian, sementara Anusapati duduk dengan keringat yang terperas dari tubuhnya. Nafasnya menjadi terengah-engah dan telapak tangannya serasa menjadi pipih.
“Nafasku hampir putus,” desisnya.
Mahisa Agni tersenyum, “berlatihlah terus Anusapati. Pasir yang dipanasi itu-pun baik pula. Tetapi ayunan kekuatan di udara terbuka, tanpa pengekangan apa-pun juga, akan sangat bermanfaat. Tetapi kau harus sangat berhati-hati sejak saat ini. Kalau seseorang melihat kau keluar, maka Tohjaya pasti akan menghubungkannya dengan hilangnya prajurit itu.”
“Ya paman. Aku akan mencoba mendapatkan kesempatan yang sebaik-baiknya. Tanpa menimbulkan kecurigaan apa-pun di kalangan istana.”
“Kalau kau salah langkah, maka semuanya akan gagal. Kau adalah Putera Mahkota, yang kelak akan menggantikan kedudukan Sri Rajasa. Kegoncangan kedudukanmu akan menggoncangkan Singasari. Ini harus kau sadari. Berbeda dengan Tohjaya. Ia adalah pribadinya sendiri. Meskipun mungkin ia ingin mendapat kedudukan seorang putera Mahkota pula, tetapi jarak menuju kepadanya sangat jauh. Kau masih mempunyai beberapa orang adik yang lahir dari ibumu pula. Merekalah yang lebih berhak atas tahta dari Tohjaya.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya paman.”
Tetapi jawaban itu tidak meyakinkan Mahisa Agni. Namun Mahisa Agni tidak bertanya lebih lanjut. Anusapati sadar, bahwa perlakuan Sri Rajasa terhadap adik-adiknya, baik yang lahir dari Ken Dedes, mau-pun dari Ken Umang, pada umumnya berbeda dengan perlakuan atas dirinya. Ini-pun merupakan teka-teki yang masih belum terpecahkan baginya. Tetapi tidak seorang-pun yang mau membantunya mencari rahasia dari perbedaan sikap itu. Setiap orang selalu menghindar. Pamannya Mahisa Agni-pun tidak mau mengatakan apapun juga tentang hal itu. Bahkan diam-diam ia menemui emban tua pemomong ibunya, yang diduganya banyak mengetahui tentang dirinya. Tetapi emban tua itu hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata, “Ampun tuanku Putera Mahkota, hamba tidak tahu apa-pun mengenai diri Tuanku, selain bahwa Tuanku adalah Putera Mahkota Singasari yang lahir dari ibunda Permaisuri Ken Dedes. Tuanku adalah putera Sulung dari Tuanku Sri Rajasa Maharaja di Singasari.”
Dan jawaban-jawaban yang serupa didengarnya pula dari para hamba istana yang tua-tua. Dari juru taman sampai kepada juru dang di dapur istana.
Ketika datang saatnya, hari-hari terakhir dari kesempatan yang didapat oleh Mahisa Agni untuk tinggal di Singasari, maka waktu-waktu itu dipergunakannya sebaik-baiknya untuk memberikan petunjuk dan nasehat kepada Anusapati.
“Pergunakan segala kesempatanmu sebaik-baiknya. Kitab-kitab yang kau pinjam dari Sumekar adalah kitab-kitab yang baik. Pelajarilah semua isinya. Kalau kau masih mempunyai waktu, bacalah kitab-kitab yang tersimpan digedung perbendaharaan. Kau dapat meminjam kitab-kitab yang berharga yang tersimpan sejak jaman Akuwu Tunggul Ametung.”
“Apakah paman mengenal Akuwu Tunggul Ametung?”
“Ya, serba sedikit.”
“Kenapa Kebo Ijo membunuh Akuwu itu?”
“Aku tidak tahu pasti,” jawab Mahisa Agni.
“Menurut dugaan paman?”
“Pada waktu itu, sidang ketujuh pimpinan di Tumapel tidak menemukan jawaban yang tepat untuk menyebut alasan pembunuhan itu. Karena itu, aku-pun tidak dapat mengatakannya.”
“Menurut paman pribadi?”
“Aku berada jauh dari istana. Aku tidak mengetahuinya sama sekali.”
Sekali lagi Anusapati gagal mencari jalan untuk mendapatkan keterangan tentang dirinya. Meskipun ia sudah melingkar lewat jalan yang paling jauh-pun, Mahisa Agni agaknya sudah menduga, bahwa akhirnya ia akan bertanya tentang dirinya.
Agaknya, Mahisa Agni dapat menebak apa yang tersirat didalam hatinya. Karena itu maka katanya, “Tuanku Putera Mahkota, jangan selalu digelisahkan oleh bayangan-bayangan yang dapat menumbuhkan khayalan-khayalan yang menyesatkan. Berdirilah di atas kenyataan tuanku sekarang. Hamba tidak dapat mengatakan yang lain, kecuali Tuanku adalah putera Mahkota.”
“Ah paman.”
Mahisa Agni menepuk pundaknya, “Jangan terlampau banyak berkhayal Anusapati. Bukan kebiasaan yang baik buat anak-anak muda. Kau harus melihat dunia ini. Bukan dunia yang lain di dalam mimpi atau di dalam angan-anganmu.”
Anusapati menganggukkan kepalanya.
“Ingat-ingatlah. Yang kau hadapi adalah duniamu ini, bukan khayalan dan angan-angan. Dunia ini pula yang dapat mendera kau ke dalam kesulitan, bahkan ke dalam bahaya yang mengancam jiwamu.”
Anusapati masih belum menyahut selain mengangguk-anggukkan kepalanya. Kadang-kadang ia mengerutkan keningnya dan kadang-kadang menarik nafas dalam-dalam.
Dalam pada itu Mahisa Agni berkata pula, “Perhitungkan sebaik-baiknya masalah-masalah yang kau hadapi. Ingat, kau berada di dalam suatu lingkungan yang buram. Kau tidak dapat melihat jelas keadaan yang sebenarnya di sekitarmu. Kalau pada suatu saat kau ragu-ragu, ajaklah pamanmu Sumekar berbincang. Tetapi itu-pun kau harus berhati-hati.”
Anusapati mengangguk. Jawabnya, “Baik paman. Aku akan selalu mengingat-ingat pesan paman.”
“Jagalah perasaan ibumu baik-baik. Kau jangan menambah menggelisahkan perasaannya. Kau mengerti?”
“Ya paman.”
“Dan aku masih ingin menitipkan seorang lagi kepadamu. Kau tahu bahwa ibumu mempunyai seorang pemomong? Seorang emban yang telah tua?”
“Ya paman.”
“Emban tua itu adalah pemomong ibumu sejak ia kanak-anak. Kau mau ikut serta menjaganya?”
“Ya paman.”
“Kalau ada apa-apa dengan perempuan tua itu, tolong, mintalah kepada prajurit penghubung atas ijin Sri Rajasa beritahukan hal itu kepadaku.”
Anusapati mengerutkan keningnya.
“Apakah kau heran bahwa aku menaruh perhatian begitu besar kepada emban tua itu?”
Anusapati tidak menjawab.
“Emban itu adalah emban yang sangat baik kepada ibumu dan kepadaku sejak kami masih kanak-anak. Kau mengerti?”
“Ya paman.”
“Aku juga sudah berpesan kepada ibunda, tuan Puteri Ken Dedes, agar berusaha memberitahukan kepadaku semua perkembangan yang terjadi atasnya.”
“Baik paman.”
Dan Mahisa Agni masih banyak lagi meninggalkan pesan, tuntunan dan petunjuk-petunjuk. Bahkan Mahisa Agni sempat pula memberikan nama-nama kitab yang baik untuk dibaca. Yang banyak memberi petunjuk tentang olah pikir, ilmu kasampurnan batin dan berbagai segi hidup badaniah dan rohaniah.
“Kitab adalah guru yang paling sabar dan baik buat seseorang. Ia tidak pernah marah meskipun seandainya kau minta ia mengulang terus-menerus. Ia tidak akan jemu seandainya kau tidak segera mengerti maksudnya. Dan ia akan bersedia melayanimu kapan saja kau kehendaki tanpa batas waktu. Siang, sore, malam dan pagi.” pesan Mahisa Agni kepada Putera Mahkota.
Dan Anusapati-pun menyadarinya, bahwa dari kitab-kitab itu ia akan banyak mendapat ilmu pengetahuan dan pendalaman tentang hidup dan kehidupan.
Demikianlah, akhirnya Mahisa Agni-pun harus meninggalkan Singasari dengan berbagai macam perasaan. Ternyata Singasari banyak menyimpan masalah baginya. Persoalan yang menyangkut Anusapati, Ken Dedes dan ibunya yang menjadi semakin tua dan lemah. Sikap Tohjaya yang penuh curiga, prajurit dan para hamba istana yang tidak dapat dipercaya lagi, dan masih banyak lagi.
Tetapi di saat-saat terakhir agaknya Anusapati sudah menjadi semakin dewasa, sehingga ia sudah banyak mempunyai pertimbangan yang cukup masak. Dengan hadirnya Sumekar di istana, terasa beban Mahisa Agni agak berkurang.
Sepeninggal Mahisa Agni, Anusapati kembali merasa sepi dan asing di rumah sendiri. Bahkan dengan adik-adik seibunya, ia tidak begitu rapat bergaul, karena adik-adiknya selalu dekat pula dengan ayahanda Sri Rajasa di bangsal yang terpisah.
Lambat laun, perasaan asing itu-pun terasa menjadi semakin mencekiknya. Bahkan kemudian ia menganggap bahwa dirinya memang sengaja dipisahkan dari keadaan di sekitarnya.
Demikianlah setelah sepekan lewat dari saat Sumekar diminta untuk membantu di petamanan sebelah. Anusapati lalu mengharapkannya segera kembali. Tetapi sampai pada hari kesepuluh, Anusasapati masih belum melihat Sumekar di petamanannya.
“Apakah yang terjadi?” bertanya Anusapati di dalam hati.
Di saat-saat yang demikian Anusapati benar-benar merasa terpencil. Merasa sendiri di dalam lingkungan yang ramai dan bahkan pusat perhatian seluruh kerajaan Singasari. Dalam keadaan yang demikian, ia kadang-kadang datang menghadap ibunya. Namun setiap kali, ia merasa, telah membuat ibunya semakin berduka.
“Hidupku memang merupakan teka-teki. Bagaimana aku tidak boleh berangan-angan. apabila aku selalu dibayangi oleh rahasia yang tidak terpecahkan?“ Anusapati bertanya kepada diri sendiri.
Tetapi, ia tidak melupakan segala pesan pamannya. Ia tidak ingin menambah ibunya menjadi semakin muram, sehingga dengan demikian, apabila ia datang menghadap ibunda, ia selalu mencoba menunjukkan kecerahan hatinya dengan menyebutkan berbagai macam ceritera dan persoalan di dalam kitab-kitab yang dibacanya.
“Kau banyak sekali membaca Anusapati?” bertanya ibunya.
“Hamba ibunda Permaisuri,” jawab Anusapati, “hamba ingin menjelajahi dunia lewat kitab-kitab yang dapat hamba temukan di bangsal perbendaharaan.”
“Bagus. Kau sudah memilih kesibukan yang tepat. Teruskanlah. Kau akan banyak mendapat bekal di kemudian kari.”
Demikianlah, maka baru pada hari kelima belas, Anusapati melihat Sumekar berada di taman. Karena itu, maka ia-pun segera mendekatinya sambil bertanya, “Baru sekarang kau dilepaskan?”
Sumekar membungkukkan kepalanya, “Hamba tuanku.”
“Kau menjadi semakin gemuk,” berkata Anusapati sambil tersenyum.
Kawan-kawannya tertawa. Tetapi seorang juru taman yang tua berkata, “Aku sudah menebak sebelumnya.”
Anusapati memandanginya sejenak. Kemudian dipandanginya juru taman yang lain yang agaknya juga ingin mendengar kata-kata juru taman yang tua itu lebih lanjut.
Bahkan Sumekar sendiri kemudian menyahut, “He, apakah benar aku menjadi semakin gemuk?”
Juru taman yang tua itu tertawa. Katanya, “Aku sudah menduga sebelumnya. Kalau kau berada di sana sebulan, maka kau akan menjadi kian langsing. Kalau setahun, kau akan kehabisan daging dan genap seumurmu, kau pasti sudah menjadi jerangkong.”
Sumekar tersenyum. Kawan-kawannya-pun tertawa berkepanjangan.
“Aku sudah pernah ikut makan bersama mereka di siang hari,” berkata juru taman yang tua itu, “rangsum mereka hanya separo dari rangsum kita disini.”
“Kau salah,” sahut Sumekar.
“He?” Bukan rangsum mereka yang separo rangsum kita disini. Rangsum mereka-pun sama banyaknya dengan rangsum kita disini. Tetapi karena disini kebiasaanmu makan dua bungkus rangsum, maka kau selalu menyangka bahwa rangsum mereka hanya separo rangsum kita di sini.”
“He, begitu?”
“Ya.”
Juru taman yang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya, “Mungkin kau benar. Mungkin aku memang mendapat dua bagian setiap hari di sini.”
Sekali lagi juru taman itu tertawa. Sumekar-pun tertawa pula. Sedang Anusapati tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun demikian, meskipun mereka sempat juga berkelakar, tetapi Anusapati tidak dapat bertanya kepada Sumekar, apa saja yang telah dialaminya di taman sebelah. Untuk itu ia memerlukan waktu tersendiri, tanpa diketahui oleh siapapun.
Anusapati hampir tidak sabar menunggu saat itu. Setiap kali ia dengan gelisah mondar-mandir di dalam bangsal. Serasa sesuatu selalu mendesak di dalam dadanya, sehingga embannya vang melihat Putera Mahkota itu gelisah, bertanya dengan hati-hati, “Ampun tuanku. Apakah yang telah menggelisahkan tuanku?”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Jawabnya, “Banyak sekali bibi. Tetapi tidak apa-apa. Aku hanya tidak sabar saja menunggu sesuatu. Bukan karena hal-hal yang berbahaya bagiku.”
Embannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak berani bertanya terlampau banyak. Jawaban itu sudah cukup baginya untuk membuatnya tidak terlampau dicengkam oleh kegelisahan Anusapati.
Emban yang setiap hari melihat perkembangan Putera Mahkota itu, merasa bahwa kadang-kadang dirinya sendiri juga selalu dilanda oleh kecemasan. Kalau Anusapati menjadi gelisah, ia juga menjadi gelisah. Kalau Anusapati menjadi bingung, ia-pun menjadi bingung juga.
Anusapati-pun menyadari, betapa embannya seolah-olah ikut serta merasakan goncangan-angan perasaannya. Yang lebih mengharukan lagi baginya adalah bahwa embannya pada mulanya adalah orang yang asing baginya, dan yang kadang-kadang berbuat sesuatu yang tidak dapat dimengertinya.
Anusapati sama sekali tidak menyadari bahwa sampai saat itu-pun embannya kadang-kadang masih harus bersikap aneh. Tetapi tidak terhadapnya. Emban itu kadang-kadang masih harus memberi tahukan beberapa masalah tentang Anusapati kepada Ken Umang. Sehingga dengan demikian peranan embannya itu sebenarnya adalah peranan yang cukup berat.
“Jangan terlampau merisaukan aku,” berkata Anusapati itu setiap kali kepada embannya, “aku memang sedang mengalami pergolakan yang kadang-kadang tajam, karena aku sedang berusaha menyempurnakan diriku dari segala segi. Lahiriah dan batiniah.”
“Hamba tuanku,” jawab embannya, “tetapi kadang-kadang tuanku memang membuat hamba cemas. Kadang-kadang tuanku tidak tidur hampir semalaman. Kadang-kadang tuanku tidak ada di tempat, dan aku tidak mengerti kemana tuanku pergi.”
“Sst,” desis Anusapati, “hanya kaulah yang mengetahui bahwa kadang-kadang aku meninggalkan bangsal ini. Tetapi aku tidak pergi jauh. Aku hanya ingin menyegarkan tubuh.”
“Sebenarnya hamba mengerti, kemana tuanku pergi meskipun tidak tepat. Itulah yang merisaukan hati hamba.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. “Sudahlah. Aku sudah menjadi semakin dewasa. Bukankah kau lihat aku sekarang sudah menjadi anak muda yang dewasa?”
“Hamba tuanku.”
“Nah, sebentar lagi aku akan berubah. Aku akan menjadi semakin tenang.”
“Tuanku terlampau menyadari keadaan diri tuanku. Kadang-kadang seseorang tidak mengerti tentang dirinya sendiri apabila ia sedang berada di dalam jenjang kehidupan seperti tuanku sekarang. Tetapi agaknya tuanku dapat menguasai diri pribadi dan dapat mengerti sepenuhnya apa yang sedang terjadi atas tuanku sendiri saat ini.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku sering membaca kitab-kitab yang menunjukkan betapa tabiat seseorang, berkembang menurut saluran yang sewajarnya.”
Embannya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Nah. kau seterusnya dapat melonggarkan hatimu. Aku berterima kasih kepadamu. Kau sangat baik dan memperhatikan aku seperti anakmu sendiri. Bahkan lebih dari itu.”
Emban itu tidak menyahut.
“Namun aku masih selalu mengharap kau berdoa untukku setiap saat.”
“Tentu tuanku. Hamba akan selalu berdoa. Berdoa untuk tuanku, untuk Ibunda Permaisuri dan untuk Singasari.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya pula, “Terima kasih.”
Demikianlah, maka semakin lama Anusapati justru menjadi semakin percaya kepada embannya. Banyak rahasia yang diketahuinya tentang dirinya. Tetapi rahasia itu tetap tersimpan di dalam hatinya.
“Kalau emban itu ingin berkhianat, maka ia pasti sudah melakukannya,” berkata Anusapati di dalam hatinya.
Namun demikian, masih saja ada hal-hal yang tertutup bagi emban itu. Karena bagaimana-pun juga Anusapati masih memperhitungkan bahwa pendirian seseorang dapat saja berubah di setiap saat.
Setelah menunggu beberapa lama, maka Anusapati-pun kemudian mendapat juga kesempatan untuk bertemu dan berbicara berdua dengan Sumekar. Ketika Anusapati mengunjungi tamannya, maka ia minta diantar oleh Sumekar untuk melihat-lihat pohon Arum Dalu.
“Apakah pohon Arum Dalu dapat ditanam didekat bangsalku?” bertanya Anusapati.
“Tentu tuanku,” sahut juru taman yang lain sebelum Sumekar menjawab.
Sumekar hanya tersenyum saja melihat juru taman yang sedang menyiangi tanaman di dekat pohon Arum Dalu itu.
“Kau dapat menanamnya?” bertanya Anusapati.
“Tentu. Tetapi agaknya ada yang lebih cakap dari padaku disini,” katanya sambil memandangi Sumekar.
Sumekar masih saja tersenyum. Sedang Anusapati-pun mendekatinya sambil berkata, “Kenapa bukan kau?”
Orang itu mengerutkan keningnya. “Hamba sebenarnya juga dapat. Tetapi barangkali tangan hamba agak panas. Sehingga tangan yang dinginlah yang akan menghasilkan tanaman yang lebih baik.”
Anusapati tertawa kecil. “Sekarang, apakah yang sedang kau lakukan itu? Apakah tanganmu yang panas itu tidak akan justru mematikan batang-batang yang sedang kau pegangi?”
“Hamba tidak menyentuh tanamannya,” jawabnya.
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan tiba-tiba saja ia bertanya, “Kau mempunyai bibit pohon Kemuning?”
“Ada tuanku, ada. Di sudut itu agaknya telah tumbuh sebatang pohon Kemuning.”
“Nah, sebaiknya kau menanam sebatang lagi di sisi regol sebelah kiri sebagai imbangan batang Kemuning yang ada di sebelah kanan. Agaknya pohon Kemuning yang ditanam di sebelah kanan regol itu sudah mulai bersemi.”
“Tetapi tangan yang dingin akan lebih, baik daripadaku.”
“Marilah kita lihat. Di sebelah kanan itu ditanam oleh seorang yang kau sebut bertangan dingin. Sekarang tanamlah di sebelah kiri. Aku masih ingin meyakinkan, apakah orang yang kau anggap bertangan dingin memang menghasilkan tanaman yang lebih baik dari mereka yang kau sebut bertangan panas termasuk kau sendiri.”
“Jadi maksud tuanku?”
“Tanamlah pohon itu sekarang.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak dapat mengelak lagi.
“Hamba tuanku. Hamba akan melakukannya.”
Anusapati dan Sumekar tersenyum melihat orang itu tegak sambil menekan punggungnya.
“Heh, punggung ini rasa-rasanya akan patah.”
“Kau memang sudah menjadi semakin tua,” sahut Anusapati.
Juru taman yang melihat Anusapati berwajah cerah, menjadi semakin berani untuk berkelakar, “Hamba tuanku. Hamba memang sudah tua. Tetapi sejak hamba masih muda, hamba adalah seorang juru taman.”
“O, kalau begitu kau sudah memiliki pengalaman yang banyak sekali. Dengan demikian kau memang sangat diperlukan di petamanan ini.”
Orang itu mengerutkan keningnya. Katanya, “Maksud hamba, orang lain menjadi semakin baik kedudukannya, hamba masih saja tetap seorang juru taman. Hamba menjadi juru taman di taman ini sejak tuanku Akuwu Tunggul Ametung. Sejak tuanku Sri Rajasa masih seorang Pelayan Dalam.”
Anusapati mengerutkan keningnya.
Ketika juru taman itu melihat perubahan wajah Anusapati maka segera ia menyambung, “Maksudku, sejak lama sekali. Sejak, ya, sejak aku menjadi juru taman.”
Anusapati akhirnya justru tertawa.
“Itulah sebabnya kau tidak boleh pergi dari petamanan ini. Kau sudah mengenal petamanan ini dengan baik. Kau mengenal tabiatnya, jenis-jenis tanah dan tanaman. Bukankah begitu?”
Juru taman itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Begitulah agaknya nasib hamba. Hamba juru taman sejak muda, dan sampai hamba tidak mampu lagi bekerja, hamba tetap seorang juru taman.”
“Maksudmu, apakah kau ingin menjadi lurah Pelayan Dalam, atau menjadi Kepala Perbendaharaan?”
“Tentu tidak tuanku. Hamba tidak akan mampu menerima jabatan itu.”
“Jadi apa keinginanmu sebenarnya?”
“Keinginanku sekarang, satu-satunya adalah, istirahat.”
Anusapati tertawa. Katanya kemudian, “Agaknya kau masih malas menanam pohon Kemuning itu? Baiklah, sekarang beristirahatlah. Tetapi sore nanti, kalau matahari sudah rendah, adalah waktu yang baik sekali untuk menanam pepohonan. Jangan lupa, berilah air sebanyak-banyaknya, supaya tidak menjadi layu.”
“Baik-baik tuanku.”
“Pergilah beristirahat.”
“Sekarang?”
“Ya sekarang.”
Juru taman itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ditinggalkannya Anusapati berdua saja dengan Sumekar.
Di kejauhan seorang juru taman yang lain sedang sibuk memotong dahan-dahan kayu yang kering. Namun orang itu tidak akan dapat mendengar apa-pun apabila Anusapati kemudian berbincang dengan Sumekar.
Tempat itu justru merupakan tempat yang paling aman bagi keduanya. Pembicaraan di dalam taman itu pasti tidak akan menimbulkan kecurigaan. Juru taman yang lain pasti menganggap bahwa mereka sedang membicarakan jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di dalam petamanan itu.
Dalam pada itu juru taman tua yang telah mendapat ijjin untuk beristirahat, justru langsung dari Putera Mahkota itu-pun kemudian duduk di bawah sebatang pohon Pacar. Betapa angin yang sejuk mengusap kepalanya perlahan-lahan seperti disaat ia masih kanak-anak dibelai oleh tangan ibunya. Dan sejenak kemudian ia-pun jatuh tertidur.
Ia terkejut ketika lurahnya membangunkannya. Sambil menunjuk dengan ibu jarinya kepada Anusapati ia berdesis, “He, apakah kau tidak tahu bahwa Tuanku Putera Mahkota ada disini? Dan kau justru malah tertidur?”
“Apakah aku tertidur?”
“Ya, kau tertidur. Cepat, bangkit dan berbuatlah sesuatu.”
“Aku sedang beristirahat.”
“Beristirahatlah kalau kau lelah. Tetapi jangan sekarang. Tuanku Putera Mahkota Anusapati ada disini sekarang.”
“Biar sajalah.”
“He, kenapa kau bersikap begitu bodoh? Kau dapat dipecat dari pekerjaanmu, dan kau tidak akan mendapat rangsum lagi.”
Juru taman yang tertidur itu menggosok matanya. Namun kemudian ia berkata, “Tidak. Aku tidak akan dipecat. Tuanku Putera Mahkota sendiri yang telah memberikan ijin kepadaku untuk beristirahat.”
“Benar begitu.”
“Ya, kalau tidak aku tidak akan berani melakukannya.”
Lurah juru taman itu mengerutkan keningnya. Tetapi ia harus percaya ketika dari kejauhan Anusapati berkata, “Aku telah memberi ijin kepadanya.”
“O, ampun tuanku,” sahut lurah juru taman itu sambil mendekat. Terbungkuk-bungkuk ia merayap maju, “hamba tidak tahu kalau tuanku berkenan memberikan ijin kepadanya.”
“Aku melihat sikapmu. Agaknya kau marah kepada juru taman yang tertidur itu.”
“Hamba tuanku.”
“Biarlah ia tidur. Tetapi nanti sore ia harus menanam sebatang pohon Kemuning di sisi regol itu.”
“Hamba tuanku.”
“Nah, sekarang lakukan tugasmu. Aku sedang membicarakan pohon Arum Dalu, pohon Pacar Kuning dan Ceplok piring. Aku memerlukannya di samping bangsalku.”
“Hamba tuanku. Tetapi apakah baunya tidak mengganggu di malam hari. Ada orang yang tidak tahan mencium bau yang terlampau wangi di malam hari.”
“Ya. Ibunda Permaisuri akan pening apabila mencium bau yang terlampau wangi dimalam hari. Misalnya bunga Arum Dalu. Tetapi aku tidak.”
“Baiklah Tuanku. Kalau begitu silahkanlah. Hamba akan melihat-lihat petamanan sayur-sayuran.”
Sepeninggal orang itu, Anusapati tersenyum sambil berkata, “Ia orang yang baik.” Lalu, “sampai dimana pembicaraan kita?”
“Kita baru mulai tuanku.”
“Ya, katakan, apa yang sudah kau alami dipetamanan sebelah.”
“Tuanku tidak usah terlampau cemas, meskipun bukan berarti bahwa tuanku dapat meninggalkan kewaspadaan.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya, “Memang tuanku Tohjaya bertanya serba sedikit tentang tuanku. Dapat pula dikatakan, bahwa memang ada kecurigaan dan prasangka. Tetapi tuanku Tohjaya tidak yakin akan kecurigaannya sendiri.”
“Apa saja yang ditanyakannya kepadamu?”
“Kemungkinan, bahwa tuanku bersangkut-paut dengan kematian pelatih tuanku itu.”
“Apa katanya?”
“Tuanku Tohjaya bertanya, apakah tuanku sering berhubungan dengan seseorang yang tidak dikenal di dalam istana ini atau setidak-tidaknya dengan orang-orang yang pantas dicurigai meskipun orang itu hamba istana?”
“Apa jawabmu?”
“Tentu hamba menjawab, sepengetahuan hamba, tidak seorang-pun yang pernah berhubungan dengan Tuanku selain para prajurit yang memang bertugas di halaman istana ini, utusan tuanku Sri Rajasa yang menyampaikan perintah apa-pun dan para hamba istana. Juru taman, para pekatik kuda tuanku dan para emban. Terutama emban yang ada di bangsal tuanku.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Dan Tuanku Tohjaya juga bertanya, apakah tuanku sering berlatih seorang diri atau dikawani oleh siapa-pun juga.”
Anusapati tersenyum. “Pertanyaan yang tepat. Untunglah bahwa ia bertanya kepada orang yang tepat pula.”
Sumekar-pun tersenyum pula.
“Apa katamu?”
“Hamba menjawab bahwa tuanku memang sering berlatih seorang diri.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Tetapi Sumekar berkata seterusnya, “Tuanku Tohjaya berkata, bahwa hal itu memang sudah diduganya. Tetapi tuanku Tohjaya kemudian meneruskan. “Kasihan Kakanda Anusapati. Meskipun ia sudah berlatih dengan tekun, tetapi ilmunya tidak juga dapat maju seperti yang seharusnya bagi seorang Putera Mahkota.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Mudah-mudahan ia tetap menganggapku demikian. Tetapi kecurigaannya itulah yang harus mendapat banyak perhatian.”
“Hamba tuanku. Keadaan tuanku selanjutnya akan menentukan, apakah kecurigaannya bertambah besar atau menjadi hilang sama sekali.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya pula. Seolah-olah ia hendak menyatakan bahwa ia benar-benar akan berusaha untuk berbuat dengan hati-hati, agar tidak menimbulkan kecurigaan apa-pun pada Adinda Tohjaya.
“Semua kegiatan harus tuanku hentikan untuk beberapa lama agar tuanku tidak tergelincir karena kelengahan tuanku. Seperti pada saat tuanku diikuti oleh prajurit yang hilang itu, tuanku telah berbuat suatu kesalahan.”
“Ya paman. Aku akan menghentikan semua kegiatanku. Apabila keadaan sudah mereda, aku baru akan mulai lagi.”
“Begitulah. Selama ini tuanku dapat melakukan latihan di dalam ruangan tertutup. Mempergunakan alat-alat yang sederhana, namun mampu menjadi sasaran pemusatan tenaga.”
Anusapati merenung sejenak. Jawabnya kemudian, “Aku merasa bahwa aku tidak mempunyai kesempatan lain kecuali demikikan.”
“Hanya untuk sementara tuanku.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Dilontarkannya pandangan matanya ke kejauhan, ke dinding petamanan yang membatasi lingkungan yang amat sempit dibanding dengan alam yang sangat luas.
Tiba-tiba Anusapati merasa, seolah-olah ia hidup di dalam sangkar. Betapa-pun indahnya, bahkan seandainya dibuat dari emas berteretes berlian sekalipun, namun kebebasan agaknya jauh lebih berharga baginya daripada sangkar itu.
Tanpa sesadarnya ia-pun berdesah. Kepalanya perlahan-lahan menunduk, “Paman,” katanya, “apakah seseorang dapat menolak jabatan Putera Mahkota apabila ia tidak menghendakinya.”
“Apa maksud tuanku?” bertanya Sumekar dengan dahi yang berkerut merut.
“Akhirnya aku menjadi jemu. Jemu hidup di dalam keadaan seperti ini. Aku merasa seolah-olah aku tidak mempunyai kebebasan sama sekali. Aku tidak mengerti, kenapa seorang Putera Mahkota justru merasa dirinya seorang tawanan. Didalam kitab dan kidung-kidung yang pernah aku baca, Putera Mahkota di dalam suatu kerajaan mempunyai kedudukan yang hampir sama dengan kedudukan raja sendiri. Tetapi di sini aku merasa terasing. Aku jarang sekali diperkenankan menghadiri sidang-sidang istana. Apalagi pembicaraan khusus.” Anusapati terdiam sejenak. Lalu, “bagi para pemimpin Singasari aku bagaikan orang asing yang kadang-kadang saja terdampar di paseban. Justru dalam sidang-sidang yang sama sekali tidak penting.”
“Tuanku,” berkata Sumekar kemudian, “kita belum tahu, cara apakah yang ditempuh oleh Tuanku Sri Rajasa untuk menumbuhkan tuanku Putera Mahkota sehingga kelak akan menjadi seorang raja yang baik. Sampai saat ini yang tuanku terima barulah tuntunan kejasmanian. Itu saja dari seorang guru yang tidak pantas bagi seorang Putera Mahkota. Tuanku baru sedikit sekali menerima pengetahuan tata pemerintahan dan kesusastraan. Untunglah bahwa Tuanku didasari oleh ilmu yang tuanku dapat dari kakang Mahisa Agni serta pengetahuan tentang tata pemerintahan, kesusasteraan dan olah kasampurnan dari kitab-kitab yang tuanku baca. Karena itulah kita masih belum tahu pasti, apakah sebenarnya yang dikehendaki oleh tuanku Sri Rajasa. Mungkin tuanku Sri Rajasa sedang mempersiapkan suatu cara yang lain dari semua cara yang pernah tuanku temui di dalam kitab-kitab.”
Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Aku merasa bahwa di dalam nada suaramu tidak terdapat suatu keyakinan apa-pun tentang hal itu.”
Sumekar mengangkat bahunya. Katanya, “Hamba tuanku. Hamba memang tidak mengerti, apakah yang akan dilakukan oleh tuanku Sri Rajasa atas putera-puteranya. Tetapi itu jangan membuat tuanku seolah-olah menjadi putus asa.”
“Paman,” berkata Anusapati, “aku sama sekali tidak berputus asa. Aku saat ini menganggap, bahwa barangkali aku lebih sesuai menjadi seorang rakyat biasa saja daripada menjadi seorang Putera Mahkota.”
“Tidak tuanku. Tuanku harus bercita-cita. Tuanku adalah keturunan seorang raja, sehingga cita-cita yang paling sesuai bagi tuanku adalah menjadi seorang Raja pula.”
“Tetapi aku merasa istana ini seperti sebuah sangkar raksasa bagiku. Dinding-dinding batu itu bagaikan terali-terali yang kokoh, yang membatasi aku dengan dunia. Sedang isi istana ini sendiri serasa sangat asing pula bagiku. Ayahanda, ibunda, adik-adikku dan apalagi ibunda Ken Umang. Para pemimpin pemerintahan dan para Senapati dan Panglima-pun seolah-olah tidak begitu mengenal aku, meskipun aku seorang Putera Mahkota.”
“Untuk sementara, jangan hiraukan tuanku. Kelak pada saatnya, apabila tuanku memang menunjukkan kemampuan yang melampaui orang lain, maka tuanku akan menjadi seorang Raja yang disegani.”
Anusapati menggeleng lemah. Katanya, “Aku sama sekali tidak bernafsu untuk menjadi seorang raja.”
“Jika demikian, maka usaha mereka telah berhasil. Mereka memang membuat tuanku jemu dan kehilangan gairah hidup menyongsong masa depan.”
“Siapakah yang kau maksud?”
“Tuanku Tohjaya, dan mereka yang berpihak kepadanya.”
“Benar begitu?”
“Menurut penilaian hamba memang begitu, meskipun mungkin hamba keliru.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mengatakan apa-pun juga. Sejenak ia melihat kembang Ceplok Piring yang putih bersih sedang mekar. Kemudian bunga Arum Dalu yang mencuat dari batangnya yang rendah.
Ketika terlihat oleh Anusapati juru taman yang sedang menyiangi tanaman di sudut petamanan, maka ia-pun sadar, bahwa ia tidak boleh menumbuhkan kecurigaan orang lain. Sejenak ia berjongkok di samping batang Arum Dalu yang sedang berkembang kemudian berdiri setelah memetik bunganya beberapa tangkai.
Sejenak kemudian maka Anusapati itu-pun melangkah meninggalkan tempat itu. Sumekar mengikutinya beberapa langkah. Namun kemudian ia berhenti.
“Hamba akan tinggal di sini tuanku,” katanya.
Putera Mahkota itu berpaling, “Ya, aku akan kembali ke bangsalku.”
“Silahkanlah. Kita masih belum tahu pasti, apakah di dalam taman ini tidak ada orang yang selalu mencari persoalan apa-pun alasannya.”
“Ya, aku harus selalu mengingat akan hal itu.” Anusapati-pun kemudian meninggalkan Sumekar yang berdiri tegak sambil mengawasinya. Namun ternyata langkah Anusapati tertegun ketika ia melihat juru taman yang telah tertidur lagi. Tetapi agaknya ia telah berpindah tempat. Kini ia tidur bersandar dinding batu, di bawah pohon Soka Merah yang rimbun.
Perlahan-lahan Anusapati mendekatinya. Ketika ia menyentuh pundak juru taman itu, ia-pun terkejut bukan buatan. Sebelum Anusapati bertanya sesuatu ia telah berkata terbata-bata, “Ampun tuanku. Bukankah tuanku telah mengijinkan hamba untuk beristirahat?”
“Ya, aku sudah mengijinkan.”
“Tuanku tidak akan marah?”
“Tidak. Aku hanya akan berpesan agar kau jangan lupa memindahkan pohon Kemuning itu nanti sore. Kalau kau lupa, besok kau akan mendapat hukuman.”
“Tentu tuanku. Hamba tidak akan berani lupa.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum.
“Baiklah. Sekarang beristirahatlah. Tetapi apabila kau sudah merasa cukup, mulailah membantu kawan-kawanmu. Kalau saatnya rangsum datang, dan kau masih juga beristirahat, maka kau tidak akan mendapatkannya.”
“Ya. ya tuanku. Hamba akan berhenti beristirahat kalau rangsum datang.”
Anusapati masih saja tersenyum. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata, “jangan tidur terus menerus.”
“Hamba tuanku,” orang itu menggosok matanya.
Namun sementara itu Anusapati-pun telah meninggalkannya.
Tetapi langkah Anusapati tertegun ketika tiba-tiba saja Tohjaya bersama kedua pengawalnya sudah berdiri di muka regol taman itu.
“Apakah aku mengejutkan kakanda?” bertanya Tohjaya.
Anusapati memandangi sejenak. Jawabnya, “Ya. Aku terkejut karenanya.”
“Aku mohon maaf. Aku tidak ingin mengejutkan Kakanda Putera Mahkota.”
“Apakah maksudmu?” bertanya Anusapati.
“Tidak apa-apa kakanda. Sebenarnyalah bahwa petamanan ini lebih menyenangkan dari petamanan sebelah. Tangan-tangan yang mengerjakan memang tangan yang ahli. Beberapa hari seorang juru taman dari petamanan ini telah membantu di petamanan sebelah. Hasilnya-pun segera, tampak.”
“Ya,” sahut Anusapati sambil memandang berkeliling. Kemudian ia menunjuk kepada Sumekar yang lagi berjongkok di samping bunga Arum Dalu. “Orang itulah yang telah kau pinjam beberapa hari.”
“Ya, orang itu. Tetapi meskipun demikian aku merasa di sini masih jauh lebih meresapkan dan menyegarkan. Tata susunan petamanan ini menumbuhkan perasaan tenteram dan sejuk.”
“Ya.”
“Karena itu, maka mungkin sekali aku masih akan meminjam orang itu untuk saat-saat mendatang.”
Anusapati mengerutkan keningnya. Namun jawabnya sama sekali tidak disangka-sangka oleh Tohjaya, “Tergantung kepada kepentingan taman ini. Kalau ia tidak mempunyai pekerjaan disini, baiklah. Tetapi kalau di petamanan ini sedang banyak pekerjaan, tentu aku tidak akan dapat mengijinkan.”
Jawaban itu telah membuat Tohjaya menjadi heran. Anusapati biasanya tidak berani menyanggah keinginannya. Tetapi kini sikapnya menjadi jauh berbeda.
“Kenapa Kakanda Anusapati tidak mengijinkannya?“ Tohjaya bertanya.
“Tergantung kepada keadaan. Kalau aku sendiri memerlukannya, tentu aku tidak meminjamkan kepada orang lain.”
“Tetapi apakah juru taman itu mengabdi kepada Kakanda Anusapati? Bukankah ia hamba istana, hamba Ayahanda Sri Rajasa.”
“Kalau kau tahu akan hal itu, kenapa kau meminjamnya kepadaku?”
“Ia bekerja disini. Meskipun tidak resmi, tetapi dinding batu ini seolah-olah merupakan batas antara dua bagian dari Istana Singasari. Daerah ini adalah daerah yang diperuntukkan bagi Ibunda Permaisuri, sedang daerah yang berada disisi dinding ini adalah daerah yang seolah-olah diperuntukkan bagi Ibunda Ken Umang. Bukankah begitu?”
“Ya.”
“Tetapi sudah tentu tidak dengan seluruh hamba yang ada di seberang menyeberang dinding. Mereka tetap hamba istana. Hamba Sri Rajasa.”
“Kalau begitu kenapa kau minta kepadaku?”
Tohjaya tidak segera menjawab. Sikap ini bukan kebiasaan sikap Anusapati. Karena itu Tohjaya justru menjadi agak bingung menghadapinya.
Meskipun Sumekar masih tetap berjongkok di samping bunga Arum Dalu, namun ia dapat mendengarkan sebagian dari percakapan itu. Karena itu, maka dadanya menjadi berdebar-debar. Ia mengerti, bahwa hati Anusapati yang setiap saat seakan-akan selalu tertindih oleh berbagai perasaan yang ter tahan di dalam dadanya, kadang-kadang ingin meledak. Kalau Anusapati tidak pandai menahan diri, maka akibatnya akan merugikan dirinya sendiri.
Karena itu, maka perlahan-lahan Sumekar berdiri sambil terbatuk-batuk. Kemudian sambil menjinjing sebatang bibit Arum Dalu ia berjalan mendekati kedua anak-anak muda yang sedang berbicara semakin lama semakin tegang itu.
“Ampun Tuanku Putera Mahkota,” berkata Sumekar yang pura-pura tidak tahu apa yang mereka percakapkan, “hamba telah mengambil bibit Arum Dalu ini. Apakah hamba dapat menanamnya sekarang di samping pintu bangsal tuanku?”
Anusapati mengerutkan keningnya. Namun ketika terpandang olehnya tatapan mata Sumekar, maka terasa hati Anusapati berdesir. Wajah juru taman itu seolah-olah memperingatkannya, agar ia selalu berusaha menjaga dirinya. Sudah sekian lama ia menahan hati. Kalau kali ini ia kehilangan kendali, maka yang sekian lama itu akan tidak berarti apa-apa sama sekali.
“Ampun tuanku,” Sumekar berkata pula, “jadi, apakah bibit yang begini maksud tuanku.”
Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya, “Ya. Bibit itu. Bawalah ke bangsal. Dan tanamlah sebelah menyebelah pintu.”
“Jadi sepasang tuanku?”
“Ya sepasang.”
“O, hamba baru membawanya sebatang,” sahut Sumekar, “kalau begitu, hamba akan membawa sebatang lagi.”
“Ya, ambillah sebatang lagi.”
Sumekar membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Kemudian ia pergi meninggalkan keduanya, kembali ke batang Arum Dalu-nya yang sedang berkembang.
Dalam pada itu beberapa orang juru taman yang lain-pun sedang asyik bekerja di bagian masing-masing. Tetapi mereka tidak menghiraukan apa saja yang sedang dipercakapkan oleh kedua Putera Sri Rajasa itu.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar