Selasa, 26 Januari 2021

BARA DI ATAS SINGGASANA JILID 10-02

*BARA DI ATAS SINGGASANA : JILID-10-02*

Karya.  : SH Mintardja

“Apakah kau berkeberatan?” desak Mahisa Agni.

Anusapati menggelengkan kepala, “Tidak paman,” jawabnya. “Aku akan menceriterakan apa yang aku ketahui.”

“Untuk kepentinganmu, aku akan merahasiakan apa yang tidak sepantasnya didengar oleh orang lain.”

Anusapati mengangguk kecil. Kemudian, dengan nada yang dalam diceriterakannya apa yang telah terjadi, sebelum peristiwa itu hingga beberapa saat kemudian. Diceriterakannya bagaimanakah sikap prajurit itu terhadapnya, kata-katanya yang menyakitkan hati dan usahanya untuk menyesatkannya.”

“Kau kemudian mendendamnya?”

Anusapati menjadi ragu-ragu sejenak. Kemudian perlahan-lahan kepalanya terangguk kecil. Namun ia berkata, “Tetapi pembunuhan itu benar-benar tidak aku rencanakan lebih dahulu. Aku sama sekali tidak sengaja melakukannya. Bahkan aku merasa bahwa aku kurang hati-hati malam itu. Ternyata bahwa ia melihat aku keluar dari istana dan mengikutinya.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya, agaknya kau memang kurang berhati-hati. Tetapi apakah kau tidak mendapat kesempatan untuk menghindarinya?”

“Aku menjadi bingung paman,” jawab Anusapati. “kalau aku menghindarinya, apakah jawabku kelak, seandainya orang itu kemudian mengatakannya kepada ayahanda Sri Rajasa?”

“Jadi bagimu jalan satu-satunya adalah membunuhnya?”

“Saat itu aku menjadi bingung sekali. Aku tidak mempunyai kawan untuk berbincang. Sebelum aku sempat menemui paman Sumekar, aku harus sudah mengambil keputusan.” suara Anusapati menurun, “memang ada juga niat untuk membunuhnya. Tetapi aku selalu diliputi oleh keragu-raguan. Disaat terakhir aku ingin menghindarinya. Tetapi semua sudah terlanjur dan prajurit itu terlempar ke dalam jurang. Mati.”

Mahisa Agni termenung sejenak. Ia percaya bahwa Anusapati sudah mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Anusapati tidak saja mengatakan peristiwa itu sendiri, tetapi juga persoalan-persoalan yang bergelut di dalam hatinya.

“Anak itu tidak dapat memilih,” berkata Mahisa Agni didalam hati, “ia benar-benar berada di dalam kesulitan.”

“Paman,” tiba-tiba Anusapati berdesis ketika Mahisa Agni masih tetap berdiam diri, “apakah aku bersalah? Dan apakah paman akan mengadukannya kepada Ayahanda Sri Rajasa?”

Mahisa Agni tidak segera menjawab. Dipandanginya mata anak muda itu. Terasa dadanya berdesir ketika ia melihat setitik air membayang dibiji mata yang sayu itu.

Mahisa Agni menjadi terpaku sesaat. Sekilas justru seakan-akan terbayang di mata anak muda itu wajah ayahnya. Akuwu Tunggul Ametung. Akuwu yang telah merampas Ken Dedes dari padepokan Panawijen bersama Kuda Sempana.

Betapa bencinya Mahisa Agni kepada Akuwu Tunggul Ametung saat itu. Tetapi kini ia tidak dapat lagi membencinya. Apalagi kalau ia melihat keadaan anak laki-laki Akuwu itu yang kini seakan-akan tersia-sia.

“Apakah anak ini yang harus menanggung hukuman karena kesalahan ayahnya? Tetapi bukankah dengan demikian ibunya-pun akan menderita batin pula?” pertanyaan itu tiba-tiba saja telah menyentuh hati Mahisa Agni.

Karena Mahisa Agni masih diam Anusapati-pun bergumam. “Barangkali aku memang bersalah.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Anusapati. Aku tidak akan mengatakannya kepada siapa-pun setelah aku mendengar ceriteramu. Aku tahu, bahwa kau tersudut dalam kesulitan saat itu. Kesalahanmu justru terletak pada ketidak hati-hatianmu. Hal itulah yang kemudian menumbuhkan persoalan yang tidak dapat kau hindari.”

Anusapati mengangkat wajahnya sejenak. Dari sela-sela bibirnya ia berdesis, “Terima kasih paman.”

“Sudahlah. Aku kira kau tidak akan dicurigai lagi, karena Sri Rajasa menganggap bahwa kau tidak akan dapat melakukannya.”

“Tetapi Adinda Tohjaya?”

“Bagaimana dengan Tohjaya?”

Anusapati-pun menceriterakan pula, bagaimana Tohjaya bertanya kepada para juru taman tentang dirinya.

Mahisa Agni-pun mengangguk-angguk pula. Katanya, “Tetapi hal itu dapat kau lupakan. Meskipun demikian sebaiknya kita menunggu apakah prajurit yang mati itu dapat diketemukan.”

“Paman,” berkata Anusapati kemudian, “apakah paman dapat membawa prajurit yang mencarinya ke tempat itu?”

“Maksudmu?”

“Paman berpura-pura ikut mencarinya. Kemudian paman menemukannya.”

Mahisa Agni menggelengkan kepalanya. Jawabnya, “berbahaya Anusapati. Memang dengan demikian kita akan segera tahu, apakah yang akan terjadi sesudah mayat itu diketemukan. Tetapi bukankah dengan demikian akan menumbuhkan pertanyaan, kenapa tiba-tiba saja akulah yang menemukannya? Kenapa aku mencarinya ke sana? “

Anusapati mengerutkan keningnya.

“Berbeda kalau orang lain yang menemukannya. Seandainya ada kecurigaan juga kepada orang itu, orang itu sama sekali tidak berhubungan dengan kau.”

Anusapati menundukkan kepalanya sambil berdesis, “Ya paman.”

“Karena itu, biarlah kita menunggu saja. Tetapi aku menduga bahwa hal ini tidak akan berkepanjangan. Meskipun mayat itu kelak diketemukan, penyelidikan tentang hal itu akan terhenti.”

“Mudah-mudahan paman. Tetapi aku sendiri kadang-kadang selalu dikejar oleh perasaan yang aneh.”

“Lain kali berhati-hatilah. Pertimbangkan semua tindakanmu baik-baik.”

Anusapati menganggukkan kepalanya. Meskipun ia sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari kegelisahan yang selalu mencengkamnya. Bahkan kadang-kadang terbayang dirongga matanya, prajurit yang terbaring mati itu masih sempat juga meneriakkan namanya pada saat ia diketemukan.

Namun kehadiran Mahisa Agni di Singasari banyak memberikan ketenteraman padanya. Betapa kecemasan dan kegelisahan selalu membayanginya apabila tidak ada seorang-pun yang kadang-kadang dapat memberikan harapan-harapan. Yang ada setiap hari dan yang paling dekat padanya adalah Sumekar. Tetapi Sumekar adalah sekedar seorang juru taman, meskipun kadang-kadang Sumekar dapat menghiburnya juga.

“Aku tidak dapat mencegah tuanku Putera Mahkota,” berkata Sumekar pada suatu saat kepada Mahisa Agni ketika mereka berkesempatan bertemu selagi Mahisa Agni berjalan-jalan di taman bersama Anusapati, “tetapi aku kira tidak akan ada alasan yang dapat menjerat tuanku Putera Mahkota.”

“Ya, aku kira demikian,” sahut Mahisa Agni, lalu katanya kepada Anusapati, “nah, bukankah pamanmu Sumekar juga berpendapat demikian.”

Anusapati menganggukkan kepalanya.

Ketika juru taman yang lain mendekatinya, maka Mahisa Agni-pun kemudian bertanya tentang berbagai macam bunga yang ada didalam taman itu.

“He, inikah juru taman yang baru itu?” bertanya Mahisa Agni kepada juru taman yang lain, yang telah lebih lama berada di taman istana Singasari dari Sumekar.

“Ya tuan. Juru taman itu masih baru.”

“Tetapi agaknya ia memahami benar-benar jenis-jenis tetumbuhan.”

“Agaknya begitu tuan. Ia mengenal jenis bunga Arum Dalu yang tahan sampai sepekan.”

“Ceplok piring?”

“Tidak tuan, memang sejenis Arum Dalu,” jawab juru taman yang lama, “warnanya agak kekuning-kuningan.”

“Aku belum pernah melihatnya.”

“He, apakah kau tidak ingin menunjukkan bunga itu Kepada tuan Mahisa Agni dan tuanku Putera Mahkota?” bertanya juru taman itu kepada Sumekar.

Sumekar menganggukkan kepalanya, “Baiklah apabila tuan-tuan kehendaki.”

“Dimana kau tanam bunga itu?”

“Disudut taman ini, di sebelah pohon Soka merah. Di antara batang Pacar kuning dan Pati Urip.”

“Marilah, aku ingin melihatnya.”

Ketiganya-pun kemudian pergi ke sudut taman. Dengan demikian mereka mendapat kesempatan berbicara lebih banyak lagi tanpa dicurigai oleh seorang-pun termasuk juru taman yang lain.

Demikianlah mereka kemudian mendekati batang Arum Dalu yang kekuning-kuningan itu. Tetapi sebenarnya pohon itu sama sekali tidak menarik perhatian Mahisa Agni.”

Meskipun tampaknya mereka berdiri mengitari batang Arum Dalu itu, namun mereka sama sekali tidak mempercakapkannya. Yang mereka bicarakan adalah persoalan-persoalan yang menyangkut Putera Mahkota itu.

“Memang kadang-kadang keadaan Putera Mahkota sangat sulit. Pada suatu saat, ketika tuanku Tohjaya membuka latihan di arena disaksikan oleh para pemimpin dan Panglima, aku menjadi sangat cemas. Aku berkesempatan melihat latihan terbuka itu dari kejauhan. Untunglah bahwa tuanku Putera Mahkota dapat mengendalikan diri, sehingga akhir dari latihan terbuka itu tampak memberikan keseimbangan di antara keduanya, meskipun tuanku Putera Mahkota tetap dikalahkannya.”

“Ya, agaknya sejak itu gurunya menjadi curiga.”

“Mungkin. Tetapi Sri Rajasa tidak, ia sama sekali tidak mencurigai tuanku Putera Mahkota.”

“Karena tuanku Sri Rajasa tidak melihat setiap latihan yang dilakukan oleh kedua puteranya, sehingga ia tidak dapat membuat perbandingan. Disangkanya memang demikianlah keadaan mereka berdua. Apalagi menurut Anusapati, Tohjaya pernah mengatakan kepadanya, bahwa Sri Rajasa berpesan agar kemenangan Tohjaya tidak terlampau menyolok di dalam latihan itu, meskipun maksud Tohjaya untuk memperkecil kekecewaannya.”

“Ya, demikianlah.”

“Juga para panglima, Mereka tidak tahu hari-hari latihan biasa.”

Sumekar mengangguk.

“Tetapi pelatih itu mengetahuinya. Ia mengerti bahwa keseimbangan yang terjadi bukanlah keseimbangan yang dilihatnya sehari-hari. Dan hal itu terasa juga oleh Tohjaya sendiri, sehingga besar atau kecil, ia mencurigai Anusapati pula atas hilangnya gurunya. Terbukti ia menanyakan luka di pundak itu kepada para juru taman.” Sumekar mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Karena itu adi Sumekar,” berkata Mahisa Agni, “aku titipkan Anusapati kepadamu. Berilah ia peringatan-peringatan apabila perlu. Bahkan peringatan yang keras sekalipun. Bukankah kau tidak berkeberatan Anusapati?”

“Tentu tidak paman.”

“Baiklah. Kini, tinggalkanlah kami adi Sumekar. Supaya tidak menumbuhkan berbagai pertanyaan bagi para juru taman yang tidak begitu senang kepadamu.”

“Pada umumnya para juru taman baik kepadaku. Mereka tidak akan mencurigai aku. Entahlah para prajurit pengawal diregol itu.”

Sumekar-pun kemudian minta diri. Ditinggalkannya Mahisa Agni dan Anusapati di dekat batang Arum Dalunya. Seperti seorang juru taman yang tidak mempunyai kepentingan-kepentingan yang lain Sumekar-pun segera pergi menunaikan pekerjaannya.

Dalam pada itu, tepat setelah Sumekar meninggalkan Anusapati Tohjaya beserta kedua pengawalnya-pun masuk pula kedalam taman. Sambil mengerutkan keningnya ia memandangi Mahisa Agni dan Anusapati. Kemudian sambil tersenyum dibuat-buat ia berkata, “Selamat bertemu paman. Sudah lama aku tidak melihat paman.”

Mahisa Agni memandanginya sejenak. Kemudian ia-pun tersenyum sambil melangkah mendekatinya diikuti oleh Anusapati, Mahisa Agni menyahut, “Aku sudah beberapa hari berada di Singasari.”

“Aku sudah mendengar dari ayahanda. Tetapi bukankah baru, sekarang kita bertemu?”

“Ya. Dan bagaimana dengan angger selama ini?”

“Baik paman. Baik sekali. Aku dan kakanda Anusapati selalu berlatih bersama di bawah pimpinan seorang guru. Tetapi sayang, guru kami itu tiba-tiba telah hilang.”

“Syukurlah,” Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “mudah-mudahan Anusapati tekun mengikuti latihan-latihan. Agaknya ia termasuk anak yang malas.”

Tohjaya tertawa. Dipandanginya Anusapati yang berdiri di sisi Mahisa Agni, “Kakang Anusapati adalah murid yang rajin. Bahkan seorang murid yang cepat sekali menerima ilmu yang diberikan kepadanya. Ternyata bahwa kakang Anusapati di dalam latihan terbuka yang pernah diadakan, tidak terpaut banyak dari padaku.”

“O,” Mahisa, Agni mengerukan keningnya, “kalau yang kalah masih dipuji ketrampilannya menerima ilmu serta kerajinannya, bagaimana dengan yang menang?”

Tohjaya terdiam sejenak. Namun kemudian ia-pun tertawa, “Ah, bukan maksudku menyombongkan diri. Aku hanya ingin mengatakan bahwa Kakanda Anusapati bukan seorang murid yang malas.”

Mahisa Agni berpaling ke arah Anusapati sejenak. Katanya, “Mudah-mudahan kata Angger Tohjaya itu benar.”

“Aku selalu mencoba paman,” desis Anusapati.

“Tetapi sayang sekali,” sahut Tohjaya, “selagi kita mulai maju dengan latihan-latihan yang agak berat, guru kami itu hilang begitu saja.”

“Pada saatnya ia akan dapat diketemukan.”

“Mudah-mudahan paman.”

“Dan kalian akan segera melanjutkan latihan-latihan.”

“Selama ini kami tidak berbuat apa-apa, selain mempelajari ilmu kesusastraan dan tata pemerintahan. Tetapi apabila hal itu tidak diimbangi dengan ilmu kanuragan, maka kemampuan kami kelak tidak akan sempurna.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya, “Tepat sekali. Keduanya memang harus berkembang. Badaniah dan rokhaniah. Ilmu tata lahir dan ilmu pikir serta kasampurnan langgeng. Apakah manfaatnya kita memiliki kesempurnaan lahiriah tetapi tanpa persiapan menjelang hari-hari abadi dihadapan Yang Maha Agung? Apakah kita akan merasa bahagia dengan semua yang kita miliki, tetapi tanpa memiliki jaminan bahwa kita akan dapat bersatu dengan Yang Maha Agung itu?”

Tohjaya mengerutkan keningnya.

“Kalau kita hanya sekedar disilaukan oleh kebutuhan badaniah termasuk penguasaan ilmu tata bela diri tanpa penyediaan bekal buat hari langgeng kita, maka yang ada di dunia ini hanyalah kesewenang-wenangan, kedengkian dan kebatilan. Bahkan pendewaan atas kekuasaan yang dilandasi oleb kekuatan lahiriah.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Ia tidak segera menanggapi kata-kata Mahisa Agni. Namun kemudian ia menganggukkan kepalanya sambil berkata, “Tepat paman. Tepat sekali. Itulah sebabnya kita kadang-kadang harus membaca kitab-kitab suci yang memuat ajaran-ajaran serta tuntunan-tuntunan kasampurnan.”

“Bukan sekedar membaca ngger, tetapi bagaimana dengan ungkapan bacaan itu didalam hidup kita sehari-hari.”

“Ya, ya.” Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya, tetapi hal serupa itu sebaiknya dibicarakan didalam kesempatan yang khusus. Aku senang berbicara tentang hal ini. Mungkin pada suatu saat paman mempunyai waktu yang terluang. Mungkin ayahanda senang pula berbicara tentang masalah itu.”

“Tentu. Ayahanda akan senang sekali. Pada perjumpaanku yang pertama kali dengan Tuanku Sri Rajasa, maka yang kita bicarakan pertama kali adalah hubungan kita dengan Yang Maha Agung, Ayahanda Sri Rajasa pasti masih ingat.”

“Jadi, paman sudah lama mengenal ayahanda?”

“Sejak kita masih remaja.”

“Dimana?”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Masa yang sudah jauh sekali berada di belakang kita. Tidak ada yang menarik untuk dibicarakan. Seperti pada umumnya perjumpaan. Suatu ketika angger akan berjumpa dengan seseorang yang sebelumnya belum pernah angger jumpai dan angger kenal. Perjumpaan yang sama sekali tidak kita sangka-sangka mungkin akan mempunyai akibat yang jauh sekali.”

“Maksud paman?”

“Sepasang suami isteri misalnya. Mungkin mereka tidak pernah menyangka bahwa mereka pada suatu saat akan bertemu untuk kemudian menjadi suami isteri.”

Tohjaya mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu mengerti maksud Mahisa Agni, tetapi ia agak malu untuk bertanya. Karena itu maka ia hanya sekedar mengangguk-anggukkan kepala.

“Ah. aku terlampau banyak berbicara,” berkata Mahisa Agni, “mungkin angger mempunyai kepentingan di taman ini? Bukankah sebelah dinding istana lama ini ada juga taman yang lebih baik?”

“Bukan lebih baik paman, tetapi lebih luas. Itulah sebabnya aku datang kemari. Untuk mengurus taman yang begitu luas aku memerlukan juru taman yang ahli. Juru taman yang ada di sana adalah juru taman yang bodoh dan malas. Kalau di sini ada kelebihan juru taman yang baik, aku jakan meminjamnya barang satu dua pekan untuk memberikan tuntunan kepada juru taman di petamanan sebelah.”

Dada Anusapati berdesir mendengar permintaan itu. Ia menjadi curiga, bahwa Tohjaya sekedar akan menyelidiki keadaannya selama juru taman itu ada di petamanan sebelah. Bukan saja Anusapati, tetapi Mahisa Agni-pun menduga demikian pula. Adalah mustahil bahwa juru taman yang ada di petamanan sebelah sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa atas petamanannya, dan hal itu baru disadari sekarang.

Namun demikian Mahisa Agni menjawab, “Aku kira hal itu tidak akan menimbulkan keberatan apapun. Tetapi semuanya terserah kepada Angger Anusapati. Apakah ia akan mengatakannya kepada Ibunda Permaisuri dahulu, atau barangkali Anusapati sendiri dapat memutuskannya.”

“Tentu Ibunda Permaisuri,” jawab Anusapati.

“Tetapi tidak untuk seterusnya,” sahut Mahisa Agni, “hanya untuk sepekan dua pekan. Aku kira hal itu tidak usah kau sampaikan kepada Ibunda Permaisuri. Tetapi setelah dua pekan orang itu benar-benar harus kembali ke petamanan ini.”

“Tentu paman,” berkata Tohjaya kemudian, “selama itu, juru taman tersebut akan memberikan banyak pengetahuannya kepada juru tamanku.”

Anusapati menjadi termangu-mangu sejenak.

“Aku kira tidak akan ada keberatan apapun,” berkata Mahisa Agni kemudian. Lalu, “juru taman yang manakah yang kau kehendaki?”

“Sudah tentu juru taman yang paling baik.”

Anusapati masih ragu-ragu. Namun Mahisa Agni yang menjawab, “Sebaiknya kau panggil juru taman yang memimpin kawan-kawannya disini. Nanti kita bertanya saja kepadanya.”

Anusapati menganggukkan kepalanya meskipun ia masih juga ragu-ragu. Namun bukan saja Anusapati, tetapi juga Tohjaya mengerutkan keningnya. Ada sesuatu yang terasa tidak sesuai dengan perasaannya.

Sejenak kemudian maka seorang juru taman yang tua telah datang menghadap. Sambil duduk bersimpuh ia bertanya. “Ampun tuanku, apakah yang harus hamba lakukan untuk tuanku.”

Anusapati masih juga ragu-ragu. Namun kemudian ia berkata, “Paman, Adinda Tohjaya memerlukan seorang juru taman yang paling baik disini untuk sepekan saja.”

“Untuk apa tuanku?”

“Ia harus memberikan tuntunan kepada juru taman di taman sebelah, karena juru taman yang ada disana menurut Adinda Tohjaya ternyata kurang baik.”

Juru taman yang tua itu mengangguk-angguk.

“Nah, siapakah juru taman yang terbaik disini?”

Juru taman itu menjawab, “O, sudah tentu juru taman yang baru saja menunjukkan tuanku bunga Ceplok Piring, eh, maksudku bunga Arum Dalu itu.”

Anusapati menarik nafas dalam-dalam. Orang itu adalah Sumekar.

Namun Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berkata, “Panggil orang itu kemari.”

Sejenak kemudian Sumekar sudah menghadap. Mahisa Agni lah yang memberitahukan kepadanya bahwa Tohjaya memerlukan seorang juru taman yang paling baik.

“Aku kira memang kau yang dapat menunjukkan kepada juru taman di sebelah, bagaimana kau mencangkok pohon-pohon perdu, pohon buah-buahan dan lain-lainnya. Kau dapat menempel, merundukkan dan memilih biji-bijian.”

Sumekar mengangguk kecil, “Tetapi itu-pun hanya sekedarnya tuanku. Hamba bukan seorang yang sebenarnya dapat melakukan hal itu.”

Anusapati tidak mengatakan sesuatu, selain memandang Sumekar dan Mahisa Agni berganti-ganti.

“Apakah ia dapat aku bawa sekarang?” bertanya Tohjaya.

“Kalau Anusapati tidak berkeberatan?”

Anusapati menganggukkan kepalanya, “Baiklah. Tetapi tidak lebih dari sepekan. Dengan demikian aku tidak usah menyampaikannya kepada Ibunda Permaisuri.”

“Sepekan itu sudah cukup. Marilah,” berkata Tohjaya, “ikutlah aku.”

Sumekar-pun kemudian membenahi pakaiannya. Sekilas ia memandang wajah Mahisa Agni dan Mahisa Agni-pun mengangguk kecil.

Sepeninggal Tohjaya yang diikuti oleh Sumekar, maka Anusapati menjadi termangu-mangu. Tetapi Mahisa Agni kemudian berkata, “Marilah kita pergi.”

Setelah minta diri kepada juru taman, maka keduanya-pun meninggalkan petamanan itu. Anusapati masih saja termangu-mangu oleh kecurigaannya.

“Kau curiga?” tiba-tiba Mahisa Agni menebak perasaannya.

“Ya paman.”

“Sumekar adalah orang yang tepat.”

“Kenapa justru paman Sumekar?”

“Sumekar tidak akan dapat diperas dengan cara apa-pun. Ia juga tidak akan dapat disuap untuk mengatakan kelemahan-kelemahan yang ada padamu. Kau mengerti? Sedang aku tidak mempercayai orang lain. Dengan ancaman dan mungkin dengan suapan-suapan, orang lain akan mengatakan, seandainya mereka mengetahui sekelumit saja dari kelemahan-kelemahan yang ada padamu.”

“Tidak seorang-pun yang mengetahuinya.”

“Itu lebih baik. Tetapi Sumekar lebih dapat dipercaya.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Pendapat pamannya itu memang benar. Mungkin ada satu atau dua orang juru taman yang melihatnya dalam pakaian yang kurang wajar, atau sikapnya, dan barangkali, juga kadang-kadang ia kurang hati-hati apabila ia pergi meninggalkan istana di malam hari, karena juru taman itu pada umumnya tinggal di seputar halaman istana.

“Kau mengerti maksudnya?”

“Ya paman. Aku mengerti sekarang. Memang sebaiknya paman Sumekar. Kita-pun akan dapat mengetahui apa, yang dilakukan oleh Adinda Tohjaya itu dengan juru taman yang dimintanya. Setiap malam ia akan kembali ke pondoknya.”

“Jangan tergesa-gesa. Jangan hubungi Sumekar, sebelum ia selesai sama sekali. Mungkin Tohjaya mempunyai pengawas-pengawas yang dapat mencurigai kau dan Sumekar.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mengerti betul maksud pamannya, sehingga ia tidak lagi menjadi ragu-ragu melepaskan Sumekar.

Dalam pada itu waktu yang diberikan kepada Mahisa Agni-pun menjadi semakin pendek. Terasa betapa berat perasaannya, untuk meninggalkan Singasari. Apalagi ibunya, emban pemomong Ken Dedes, sudah menjadi semakin tua dan lemah. Meskipun emban itu sudah dibebaskan dari segala macam tugasnya yang berat, namun perempuan tua itu sendirilah yang masih selalu melakukan tugasnya, melayani Ken Dedes seperti ia melayani dimasa kanak-anaknya.

Kadang-kadang Mahisa Agni merasa dirinya bersalah terhadap ibunya. Kenapa ia tidak dapat berterus terang kepada orang-orang di sekelilingnya, bahwa ia adalah anak emban itu? Kanapa ia harus tetap berpura-pura menganggap perempuan yang melahirkan itu sebagai seorang emban, sedang ia mendapat pangkat yang setinggi-tingginya di Kediri?

Tetapi ketika hal itu dikatakannya kepada ibunya, maka perempuan tua itu tersenyum, “Bukan salahmu Agni. Apalagi aku merasa paling sesuai di sini, di dekat tuanku Permaisuri. Kalau di sini aku merasa tidak tenteram, dan kau membiarkan aku dalam keadaan itu, nah, barulah kau seorang anak yang berdosa kepada ibunya. Tetapi kau tidak. Kau menempatkan aku sekarang di tempat yang paling aku senangi, yang memberi aku ketenteraman yang sesuai dengan jiwaku. Itu sudah cukup. Dan kau sudah berbuat sebaik-baiknya untuk ibumu.”

Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Ibu, keadaan ibu sangat berbeda dengan tingkat kehidupanku di Kediri. Aku mendapat apa saja yang aku inginkan, seandainya aku mau. Ibu-pun akan mendapat apa yang ibu ingini.”

Perempuan itu masih juga tersenyum, “Aku sudah mendapat apa yang aku ingini. Apakah yang lebih baik buat seseorang dari ketenteraman dan kedamaian hati. Orang dapat mencari ketenteraman dan kedamaian hati di tengah-tengah harta yang berlimpah-limpah agar ia merasa hidupnya dan keluarganya akan terjamin di sepanjang umur mereka. Ada orang yang merasa mendapatkan ketenteraman dan kedamaian hati di atas pangkat dan derajat, sebab dengan demikian tidak seorang-pun yang akan mengganggunya. Biarlah mereka berusaha untuk mendapatkan yang mereka ingini. Tetapi aku sudah mendapatkan. Ketenteraman dan kedamaian hati. Di tempat ini, di dekat momonganku itulah aku mendapat ketenteraman dan kedamaian hati yang tidak akan dapat ditukas dengan apa-pun juga.”

Mahisa Agni mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Kau dapat mengerti Mahisa Agni?”

“Ya ibu, aku mengerti.”

“Karena itu, jangan cemaskan aku. Kalau sampai waktunya kau harus kembali, kembalilah ke Kediri. Aku sudah merasa mapan tinggal disini sebagai emban pemomong tuanku Permaisuri Ken Dedes, karena aku sudah melayaninya sejak kanak-anak.”

Mahisa Agni hanya dapat menarik nafas dalam-dalam. Memang lebih baik bagi ibunya untuk tetap tinggal di Singasari. Tetapi ia tidak dapat menyingkirkan perasaannya, seolah-olah ia hidup dalam tataran yang jauh berbeda dari ibunya. Ia seorang wakil Mahkota di Kediri dan ibunya sekedar seorang emban di Singasari.

Namun demikian Mahisa Agni tidak dapat berbuat sesuatu, apalagi karena ibunya sendiri tidak menghendakinya.

Dalam pada itu, prajurit-prajurit yang mendapat perintah untuk mencari pelatih kedua Putera Sri Rajasa masih saja berusaha menemukannya di segala tempat. Tempat-tempat yang selama ini tidak pernah dijamah tangan manusia-pun dijelajahinya untuk menemukannya. Tetapi sampai sedemikian jauh, tidak seorang-pun yang berhasil.

Tetapi sehari sebelum Mahisa Agni menghabiskan waktunya di Singasari ternyata seisi istana, bahkan hampir seluruh Singasari menjadi gempar. Dua orang prajurit yang kebetulan berjalan menyelusuri sebatang sungai dapat menemukan sesosok mayat yang hampir tidak dapat dikenal lagi. Namun akhirnya mereka yakin bahwa mayat itu adalah mayat yang mereka cari.

Tanpa menyentuh mayat itu lebih dahulu, kedua prajurit itu-pun segera melaporkannya bahwa mereka telah menemukan sesosok mayat.

Sri Rajasa-pun kemudian segera mengirim beberapa orang perwira tertinggi Singasari untuk melihat kemungkinan-kemungkinan apakah yang telah terjadi pada prajurit itu. Dan bahkan Tohjaya-pun menyatakan untuk ikut serta melihat gurunya yang telah meninggal itu.

“Sebaiknya kau ikut pula Anusapati,” berkata Mahisa Agni.

Anusapati merenung sejenak. Lalu, “Baiklah paman Kita akan ikut. Dan apakah paman akan ikut serta pula?”

“Ya, kita akan menghadap Sri Rajasa, dan mohon diperkenankan ikut di dalam rombongan itu. Kau mempunyai hak yang sama seperti Tohjaya, sedang aku akan mempergunakan pengaruhku atas Sri Rajasa.”

Akhirnya keduanya-pun ikut pula untuk menentukan, apakah sebabnya maka prajurit pelatih kedua Putera Sri Rajasa itu meninggal di dalam jurang.

Sejenak kemudian maka serombongan kecil perwira dan prajurit Singasari-pun pergi mengikuti kedua orang prajurit yang telah berhasil menemukan mayat di dalam jurang itu.

Dengan teliti para prajurit Singasari itu-pun mengamat-amati keadaan di sekelilingnya. Mereka masih menemukan pedang prajurit itu di dalam sarungnya. Ketika seorang perwira menarik pedang itu, dilihatnya bahwa pedang itu masih tetap bersih.

Seorang perwira yang lain melihat segumpal batu padas yang pecah dibibir jurang dan beberapa bongkah berserakan di sekitar mayat itu.

“Aneh,” desis Mahisa Agni, “tampaknya seperti sebuah kecelakaan.”

Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi mereka masih tetap bertanya-tanya, kenapa prajurit itu sampai ketempat itu?

Tohjaya yang ikut serta di dalam rombongan itu-pun mencoba melihat keadaan di sekitarnya dengan teliti. Tetapi ia tidak menemukan tanda-tanda yang dapat menunjukkan keadaan yang lain dari sebuah kecelakaan.

“Apakah pendapat tuanku?” bertanya seorang prajurit kepadanya.

Tohjaya menggeleng-gelengkan kepalanya, “Aku tidak dapat mengatakan apa-apa. Aku tidak melihat tanda-tanda yang dapat menuntut kepada suatu dugaan yang lain.”

Perwira prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia mendekati Anusapati yang berdiri di samping Mahisa Agni, “Apakah pendapat tuanku?”

Anusapati menggelengkan kepalanya pula. Meskipun dadanya terasa berdentangan, namun ia menjawab seperti Tohjaya menjawab, “Aku-pun tidak melihat tanda-tanda apa-pun yang menunjukkan suatu keadaan selain sebuah kecelakaan.”

“Ya. Agaknya kita berkesimpulan demikian,” berkata perwira prajurit itu, “tetapi kenapa prajurit ini datang kemari? Pertanyaan inilah yang membuat kita menjadi pening.”

“Ya, kenapa ia datang kemari?” ulang Anusapati, “tempat ini barangkali memang tidak pernah dijamah seseorang. Daerah ini daerah yang sangat sulit dan sepi.”

Perwira prajurit itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Kepada Mahisa Agni ia berkata, “Akhirnya kita hanya dapat mengambil kesimpulan bahwa prajurit ini telah mengalami kecelakaan.”

“Kita sependapat,” jawab Mahisa Agni. “tetapi sejauh mungkin kita akan mencari jawab, kenapa ia ada disini.”

Perwira itu menggeleng-gelengkan kepalanya, “Untuk sementara kita tidak akan dapat menjawab. Kecuali kalau kita menemukan sesuatu yang dapat memberi kita petunjuk. Tetapi yang ada hanyalah mayat ini. Kalau terjadi sesuatu, maka ia pasti akan membela dirinya. Sedangkan pedangnya masih berada disarungnya.”

“Kecelakaan atau pengkhianatan,” desis Tohjaya tiba-tiba.

Semua orang berpaling kepadanya, “Adalah mustahil sekali guru berada di tempat ini tanpa sebab. Mungkin ia telah terpancing oleh sesuatu kemudian di pinggir jurang ini ia didorong tanpa sempat melakukan pembelaan diri.”

“Ya, itu-pun mungkin sekali,” sahut Mahisa Agni, “tetapi pertanyaan yang serupa masih harus dijawab, “Kenapa kemari? Kalau ia terpancing, apakah yang telah memancingnya kemari? Dan apakah alasannya?”

Tohjaya mengangguk-anggukkan kepalanya, “Semuanya, memang serba gelap.”

Sekali lagi rombongan itu mencoba melihat-lihat keadaan di sekitarnya. Kemudian mereka memutuskan untuk membawa mayat itu kembali dan memakamkannya sebagaimana seharusnya seorang prajurit.

“Laki-laki ini terlampau mudah jatuh cinta,” desis salah seorang perwira, “menurut pendengaranku isterinya sampai lebih dari sepuluh orang. Apakah ada hubungannya dengan keadaannya kini?”

“Maksudmu, prajurit itu mengejar atau mengikuti seorang perempuan?” bertanya perwira yang lain.

“Ya begitulah.”

“Hanya hantu-hantu perempuan yang berkeliaran di tempat seperti ini.”

Perwira yang pertama-pun kemudian berdiam diri. Memang tidak ada alasan untuk dapat mengatakan bahwa seorang perempuan telah datang ketempat ini.

Setelah mayat prajurit itu diletakkan di atas sebuah usungan dan ditutup dengan kain, maka rombongan itu-pun siap untuk kembali keistana.

“Kita naik tebing,” berkata perwira yang ditugaskan antuk memimpin rombongan itu, “lihat, tebing disebelah agak landai dan agaknya memang mungkin dipanjat.”

Rombongan itu-pun kemudian merangkak naik keatas tebing. Dengan hati-hati mereka yang membawa usungan itu-pun naik setapak demi setapak. Sekali-sekali mereka bertukar tempat dan berganti orang, karena tangan-tangan mereka telah basah oleh keringat dan kepala mereka telah pening oleh bau yang hampir tidak tertahankan.

Dalam pada itu, Anusapati masih saja selalu berdebar-debar. Ditempat inilah ia selalu naik dan turun apabila Ia pergi ketempat ini untuk berlatih. Batu-batu yang sekarang dipijaknya itu pulalah yang selalu dipijaknya pula dimalam hari bersama-sama dengan Sumekar yang kini sedang dipinjam oleh Tohjaya. Tetapi agaknya tidak seorang-pun dari rombongan itu yang dapat melihat bekas-bekasnya, bahwa kadang-kadang ada juga seseorang yang datang ketempat itu.

Guguran-guguran batu padas ditebing yang dikenal oleh Anusapati atau Sumekar dengan tangannya, sama sekali tidak menarik perhatian. Tampaknya batu itu memang pecah oleh cuaca yang berubah-ubah atau sama sekali sudah tidak berbekas lagi. Ketika mereka naik sampai keatas, Anusapati-pun masih juga berdebar-debar. Yang diperhatikannya terutama adalah Tohjaya. Agaknya ia benar-benar sedang mencari sesuatu untuk memecahkan teka-teki tentang kematian prajurit itu.

Setelah beberapa hari, ternyata bekas-bekas perkelahian antara Anusapati dan prajurit itu-pun sudah tidak begitu jelas lagi. Apalagi, tebing yang landai tidak tepat berada dibagian yang beberapa hari yang lalu rusak karena injakan kaki-kaki mereka yang sedang berkelahi.

“Kita lihat bibir jurang ini, darimana prajurit itu terjatuh,” desis Tohjaya.

Dada Anusapati berdesir mendengarnya. Kalau masih ada sedikit saja bekas-bekas perkelahian itu, maka pasti akan menumbuhkan kecurigaan pada setiap anggauta rombongan ini.

Rombongan itu-pun kemudian berhenti. Sejenak mereka saling berpandangan. Kemudian pemimpin rombongan-pun menganggukkan kepalanya.

“Baiklah,” katanya, “kita akan melihat, apakah ada tanda-tanda yang dapat memberi beberapa petunjuk buat kita.”

Mereka-pun kemudian berbelok sedikit menuju kepinggir jurang, tepat di atas prajurit itu tergelincir di pinggir jurang.

Yang berjalan di paling depan adalah Mahisa Agni. Dibelakangnya adalah pemimpin rombongan, diikuti oleh Tohjaya, yang berjalan bersama Anusapati, kemudian para perwira dan prajurit. Mereka menurut saja kemana Mahisa Agni berjalan tanpa menghiraukan rerumputan yang mereka injak-injak dengan kaki mereka.

Mahisa Agni-pun kemudian berhenti beberapa langkah di bibir jurang. Ia-pun kemudian mengamat-amati tempat itu bersama setiap orang di dalam rombongannya.

Tetapi yang mereka lihat, justru adalah bekas-bekas kaki mereka sendiri di atas batang-batang ilalang yang patah-patah.

Hanya Mahisa Agni dan Anusapati sajalah yang memperhatikan, beberapa batang ilalang yang sudah kekuning-kuningan berhamburan di bawah kaki mereka, karena mereka mengetahui, bahwa selagi prajurit itu mencari Anusapati, ia sudah mengayun-ayunkan pedangnya dan memotong batang-batang ilalang itu, yang kini sudah menjadi kuning kering. Apalagi injakan-akan kaki mereka sendiri, seolah-olah telah menghapuskan segala macam jejak hampir sempurna.

“Tidak ada yang menarik perhatian,” berkata pemimpin rombongan.

Beberapa orang perwira dan prajurit yang lain-pun menganggukkan kepalanya. Salah seorang dari mereka berkata, “Ya, memang tidak ada tanda-tanda yang dapat menunjukkan sesuatu.”

Tohjaya yang mencoba mengamati keadaan itu dengan saksama berkata, “Aneh sekali. Daerah ini sama sekali bukan tempat tamasya atau daerah perburuan. Kenapa ia dapat datang ketempat ini dan terjerumus kedalam jurang? “

“Ya tuanku. Itulah yang menjadi teka-teki bagi kita selama ini,” jawab pemimpin rombongan.

“Tidak ada orang yang tanpa alasan yang kuat datang ketempat ini,” sambung Anusapati.

“Hamba tuanku Putera Mahkota. Kita berhadapan dengan suatu teka-teki yang sukar untuk dipecahkan.”

Mahisa Agni-pun kemudian berkata pula, “Kita harus bekerja keras untuk dapat memecahkan teka-teki ini. Kita sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun.”

Meskipun orang-orang lain di dalam rombongan itu menganggukkan kepalanya namun Mahisa Agni-pun menjadi berdebar-debar. Ia melihat beberapa batang pohon perdu yang patah bekas irisan senjata tajam. Kalau salah seorang dari mereka melihatnya, maka mereka-pun akan segera menarik kesimpulan, bahwa di tempat itu telah dipergunakan sejenis senjata yang tajam.

Untunglah, bahwa justru karena mereka seolah berdesakan di tempat itu, mereka tidak sempat memperhatikannya. Apalagi para prajurit yang mengusung mayat prajurit yang meninggal itu, agaknya menjadi gelisah sekali oleh bau yang tajam.

“Marilah kita meneruskan perjalanan ini,” berkata pemimpin rombongan itu.

Rombongan itu-pun kemudian melanjutkan perjalanannya kembali ke istana. Tetapi ketika mereka mendekati kota, pemimpin rombongan itu berkata, “Kita menunggu gelap. Mayat itu akan sangat mengganggu. Jika kita masuk kota selagi kota sedang ramai, maka akan segera menumbuhkan masalah yang dapat mengganggu ketenangan. Di dalam keadaan damai sekarang ini, masalah semacam ini dapat menjadi masalah yang terasa menggetarkan jantung.”

“Bagus sekali,” sahut Mahisa Agni. Dan ia-pun memuji ketrampilan berpikir perwira pemimpin rombongan itu.

Dengan demikian, maka rombongan yang membawa mayat prajurit itu memasuki istana ketika malam telah menjadi kelam. Jalan-jalan telah menjadi sunyi dan pintu-pintu rumah sudah tertutup rapat.

Namun demikian, masih ada juga satu dua orang yang tinggal di tepi jalan bertanya di antara mereka, “He, apakah aku mencium bau sesuatu yang tajam?”

“Ya. Aku juga.”

Tetapi sejenak kemudian bau itu sudah hilang dari lingkungan mereka.

Rakyat Singasari tidak melihat kapan mayat itu dibawa keistana. Namun dihari berikutnya mereka mendengar bahwa mayat prajurit itu akan dimakamkan dari istana, sambil menunggu masa pembakaran.

Hal itu agaknya telah memberikan kesempatan kepada Mahisa Agni untuk menunda kepergiannya kembali ke Kediri untuk beberapa hari. Hanya utusannyalah yang mendahuluinya dan memberi tahukan bahwa perjalanan Mahisa Agni tertunda beberapa lama.

“Anusapati,” berkata Mahisa Agni pada suatu saat, “sejak sekarang kau harus benar-benar berhati-hati. Agaknya Tohjaya masih saja menaruh kecurigaan atasmu. Meskipun seandainya ia tidak menuduh kau sendiri yang melakukan pembunuhan itu, tetapi kau telah mempergunakan orang lain. Namun agaknya ia tidak dapat menemukan bukti apapun. Karena itu, kau harus selalu menjaga dirimu. Untuk beberapa lama kau tidak usah pergi dahulu bersama pamanmu Sumekar sampai keadaan menjadi reda. Kalau setiap orang sudah mulai melupakan peristiwa ini, barulah kau mulai lagi berlatih dan menyempurnakan latihanmu. Sementara ini kau dapat berlatih di dalam istana, bahkan di dalam bilikmu.”

Anusapati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sadar apakah yang harus dilakukannya. Memang didalam bilik yang sempit-pun ia dapat meningkatkan kemampuannya. Dengan pasir yang dipanasi, ia dapat mepertinggi daya tahan kulitnya. Ia dapat menekan pasir panas itu dengan telapak tangannya, menghunjamkan jari-jarinya masuk kedalamnya dan kemudian seluruh lengannya. Dan sudah tentu embannya akan sanggup membantunya.....

Bersambung.... !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...