*SEPASANG ULAR NAGA DI SATU SARANG : 34-02*
Karya. : SH Mintardja
Agaknya Empu Purung pun benar-benar memahami perjalanan bintang di langit, sehingga ia dapat menghitung waktu dengan tepat. Ketika bintang gubug penceng telah jauh condong ke Barat, serta bintang Panjer Rina nampak bagaikan menyala di Timur, maka mulailah Empu Purung memberikan isyarat agar orang-orangnya mempersiapkan diri.
“Sebentar lagi fajar akan menyingsing” berkata tnPu Purung,, “waktu yang paling nyenyak bagi orang-orang malas itu. Jika kita menyerang mereka akan terkejut dan bangkit dengan mata setengah terpejam. Mungkin mereka sempat meraih senjata mereka, tetapi mereka tidak sempat membedakan yang manakah lawan-lawan mereka karena kantuk yang masih mencengkam.”
Orang-orangnya menjadi berdebar-debar. Para cantrik yang merasa memiliki kelebihan dari anak-anak muda yang ikut di dalam pasukan itu pun akan mencoba menunjukkan kelebihan mereka. Meskipun lawan mereka adalah prajurit-prajurit Singasari, tetapi kemampuan para cantrik itu akan dapat mengimbanginya.
Sejenak kemudian, maka pasukan Empu Purung, itu telah bersiap untuk menyergap. Lewat para pemimpin kelompok Empu Purung memberikan pesan-pesan terakhir.
“Separo dari kita sudah siap untuk menyergap dari belakang” berkata Empu Purung, “semuanya akan berjalan lancar. Dan kita akan membinasakan setiap yang hidup di dalam barak itu.”
Dengan isyarat, maka pasukan itu pun segera bergerak maju. Dalam cahaya kemerah-merahan mereka melihat barak yang sepi, seolah-olah sama sekali tidak berpenghuni. Cahaya lampu masih menyala di regol dan di sudut-sudut dinding halaman. Namun tidak seorang pun yang nampak selain dua orang penjaga yang berjalan hilir mudik.
“Kita akan menyergap. Penjaga itu akan berteriak. Tetapi kesempatan mereka sangat sedikit” desis Empu Purung.
Perlahan-lahan pasukannya pun bergerak maju. Semakin dekat mereka dengan barak itu, maka mereka pun menjadi semakin berdebar-debar. Apalagi ketika menurut pengamatan mereka dalam keremangan dini hari, barak itu tetap sepi.
Empu Purung dan orang-orangnya tertegun sejenak, ketika mereka mendengar suara burung tuhu di kejauhan. Suaranya bagaikan menyobek hati.
“Lambang kematian” desis salah seorang cantrik, “suara burung tuhu adalah suara maut.”
“Tetapi tidak terdengar suara burung kulik. Biasanya suara burung tuhu di dahului suara burung kulik yang memekik-mekik tinggi.” desis yang lain.
“Keduanya memang panggilan maut. Tetapi suara burung tuhulah yang menentukan. Kulik sekedar memberikan pertanda.”
Namun dalam pada itu, Empu Purung yang berada di antara pasukannya menjadi tegang. Ia adalah seorang yang memiliki pendengaran yang tajam. Sehingga karena itu maka dengan tegang ia bertanya kepada Putut Kuda Widarba, “Kau dengar suara burung tuhu?”
“Ya Empu.”
“Bagaimana menurut pendengaranmu?”
Putut itu pun termasuk anak muda yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Inderanya menjadi bertambah tajam. Karena itulah maka di telinganya, suara burung tuhu itu pun terdengar agak aneh.
“Empu” Jesis Putut Kuda Widarba, “apakah itu benar-benar suara burung hantu?”
“Tidak. Kita sudah diketahui oleh orang-orang di dalam barak itu. Suara itu adalah suara isyarat. Karena itu kita yang terlambat. Kita harus segera menyergap Sekarang.”
Putut Kuda Widarba mengerutkan keningnya. Namun tiba-tiba ia menyadari apa yang akan terjadi. Karena itulah, maka ia pun segera mengacukan pedangnya tinggi-tinggi sambil berteriak nyaring. Suaranya memukul tebing dan melontarkan gema yang seakan-akan berputaran di udara.
Aba-aba itulah yang ditunggu oleh para cantrik dan anak-anak muda yang ikut serta di dalam pasukan itu. Demikian mereka mendengar aba-aba itu, maka mereka pun serentak meloncat berlari menyerang barak yang nampaknya sangat sepi. Tetapi oleh latihan-latihan yang matang, maka mereka sama sekali tidak terpecah dari kelompok masing-masing dan kedudukan yang sudah ditentukan. Meskipun jumlah mereka tidak terlalu banyak, namun mereka telah membentuk sebuah gelar kecil, Garuda Nglayang. Empu Purung sendirilah yang menjadi paruh gelar, di belakangnya selangkah Putut Kuda Widarba dan dua orang cantrik terpercaya. Kemudian bertebaran sayap sebelah menyebalah dipimpin oleh pemimpin kelompok masing-masing. Sementara sekelompok yang lain berada tepat di belakang paruh gelar itu, sebagai ekornya yang siap membantu apabila pimpinan gelar mengalami kesulitan. Tetapi juga merupakan perisai yang akan dapat melindungi pimpinan gelar jika ada serangan tiba-tiba dari arah belakang.
Empu Purung yang memimpin sergapan itu langsung mendekati barak yang sepi. Mereka tidak berniat untuk langsung memasuki barak, karena menurut pendapat mereka, prajurit yang ada di barak itu sudah mengetahui, bahwa lawan akan segera datang.
Empu Purung yang memimpin sergapan itu langsung menuju ke pintu gerbang, sementara saja gelarnya menebar di sepanjang dinding halaman barak.
Beberapa Langkah dari dinding barak, Empu Purung memberikan isyarat agar pasukannya berhenti sejenak untuk mengamati keadaan.
Tetapi barak itu benar-benar sepi. Bahkan kedua penjaga yang semula hilir mudik di pintu gerbang itu pun sudah tidak nampak lagi.
Empu Purung menjadi termangu-mangu sejenak. Ia tidak melihat prajurit-prajurit Singasari itu menjengukkan kepala mereka dan melontar anak panah untuk mempertahankan barak mereka.
“Sepi sekali” desis Empu Purung, “mereka sama sekali tidak menampakkan diri.”
“Mereka menunggu di halaman” desis Kuda Widarba.
“Pintu barak itu ditutup, sementara penjaganya telah hilang di dalam.” sahut Empu Purung.
“Kita pecahkan pintu gerbang. Jika di depan pintu gerbang itu berkumpul prajurit-prajurit Singasari, maka kita akan memancing mereka keluar, atau kita akan memanjat dinding.”
“Tetapi berhati-hatilah. Siapkan senjala kalian. Mungkin prajurit-prajurit itu siap menyambut kalian dengan anak panah pada jarak yang cukup di dalam dinding.”
Putut Kuda Widarba ragu-ragu. Ia tidak dapat mengintip keadaan di dalam halaman karena halaman barak itu masih cukup gelap, sementara lampu-lampu obor tiba-tiba saja telah padam.
”Apakah kita menunggu terang” desis Putut Kuda Widarba.
“Tidak. Kita akan memecahkan pintu seperti yang kau katakan.” geram Empu Purung.
Empu Purung pun kemudian bersama beberapa orang cantrik telah bersiap mendorong pintu yang tertutup itu. Namun tiba-tiba Empu Purung berkata “Minggirlah. Aku sendirilah yang akan memecahkannya.”
Para cantrik itu pun menjadi terheran-heran. Dengan ragu-ragu mereka bergeser menjauh, sementara Empu Purung melangkah mendekat sambil mempersiapkan diri.
Sejenak Empu Purung memusatkan segenap kekuatannya. Dipandanginya pintu gerbang yang tertutup itu dengan tajamnya. Kemudian, sambil berteriak nyaring Empu Purung meloncat sambil menghantam pintu gerbang itu dengan kedua belah tangannya lurus kedepan.
Orang-orang yang menyaksikan hentakan kekuatan itu pun menahan nafas. Di ujung suara teriakan Empu Purung terdengar pintu gerbang itu berderak. Selarak pintu yang besar telah patah, dan pintu itu pun telah pecah berkeping-keping.
Para cantrik dan anak-anak muda yang menyaksikannya menjadi tegang. Mereka telah sering menyaksikan kemampuan Empu Purung yang mengherankan bagi mereka. Dan kini sekali lagi mereka mclihat,betapa Empu Purung mampu melakukan sesuatu di luar kemampuan orang kebanyakan.
Dalam pada itu, Empu Purung yang berdiri tegang, memandang halaman barak yang sepi itu. Setelah pintu gerbang itu pecah, maka mereka pun dapat melihat halaman dan barak yang Seakan-akan memang tidak berpenghuni itu.
“Aneh” desis Empu Purung, “ternyata halaman ini memang sepi.”
“jadi, kemanakah mereka itu Empu?” bertanya Putut Kuda Widarba.
Empu Purung menggelengkan kepalanya. Sejenak ia teringat kepada suara yang baru saja didengarnya. Suara burung tuhu.
“Agaknya isyarat itu memberitahukan kehadiran kita, sehingga para prajurit Singasari itu telah melarikan diri dari barak ini” berkata Empu Purung kemudian.
“Tetapi jika demikian, tentu mereka masih belum terlalu jauh.” sahut Putut Kuda Widarba
“Ya. Tetapi mungkin hanya sebagian kecil atau bahkan hanya kedua penjaga itu sajalah yang masih ada di barak ini di saat terakhir, sehingga jika kita mengejarnya maka hanya dua orang itu sajalah yang akan dapat kita tangkap” jawab Empu Purung.
“Apakah kita akan memeriksa barak itu?”
Empu Purung termangu-mangu sejenak. Namun katanya kemudian, “Kita akan memasuki setiap barak dengan senjata terhunus. Meskipun kita yakin bahwa prajurit-prajurit itu adalah pengecut, namun kita harus tetap berhati-hati.”
Demikianlah maka Empu Purung pun telah membawa orang-orangnya memasuki barak itu. Dengan senjata di tangan mereka memasuki setiap ruangan dalam barak itu. Namun mereka tidak menemukan seorang pun dari prajurit Singasari yang tersisa.
“Gila” geram Empu Purung, “ternyata mereka dapat mencium gerakan kita. Mereka sempat melarikan diri di luar pengamatan kita. Dengan dua orang penjaga yang masih dipasang di depan regol, kita semuanya telah tertipu.”
Putut Kuda Widarba pun menggeretakkan giginya pula. la pun merasa sangat kecewa, bahwa pasukannya yang telah di persiapkan baik-baik itu tidak dapat menghancurkan prajurit Singasari yang telah menghina mereka.
“Jadi seorang kawan kita telah mereka bawa” geram Putut Kuda Widarba.
“Ya.” desis seorang cantrik, “kita harus menemukan nya.”
Empu Purung memotong, “Kau memang dungu. Mereka sudah lari jauh sekali. Sejak para cantrik itu meninggalkan barak saat seorang kawan mereka ditahan oleh para prajurit, kemudian disusul oleh persiapan yang barangkali dapat dilihat oleh petugas sandi prajurit Singasari itu, maka mereka telah mengambil keputusan untuk melarikan diri sambil membawa seorang kawan kita. Tetapi bahwa sekarang mereka telah jauh sekali, adalah sulit untuk mengetahui dan apalagi menemukannya.”
“Kita menyusul mereka ke Kota Raja” teriak seorang cantrik yang lain.
Betapapun kemarahan membakar jantung, Empu Purung namun ia masih sempat melihat kenyataan, bahwa pergi ke Kota Raja bukannya pekerjaan yang mampu mereka lakukan.
Karena itu maka jawabnya, “Kau tidak tahu, apa yang ada di Kota Raja. Jika kita memasuki Kota Raja untuk mencari seorang kawan kita tanpa mempersiapkan diri, terutama kekuatan yang telah dihimpun Empu Baladatu dalam keseluruhan, maka kita bagaikan sulung memasuki api. Kita akan binasa tanpa arti apa-apa.”
“Tetapi apakah itu berarti bahwa kita akan membiarkan kawan kita dibawa oleh para prajurit itu?” bertanya sc orang cantrik yang lain.
“Di sinilah letak kepentingan kita dengan rencana besar Empu Baladatu. Jika Empu Baladatu telah bersiap dan mulai dengan gerakannya di segala tempat, maka persoalannya tentu akan menjadi lain. Mungkin kita akan dapat memasuki Kota Raja dengan persetujuan Empu Baladatu, jika pasukan Singasari telah tersebar. Dengan demikian pertahanan di Kota Raja akan menjadi lemah.”
Para cantrik itu rasa-rasanya tidak lahan lagi menunggu. Namun demikian penjelasan Empu Purung itu dapat mereka mengerti, sehingga karena itu, rasa-rasanya dada mereka sajalah yang menjadi pepat oleh kemarahan.
Namun dalam pada itu, selagi mereka sibuk dengan persoalan yang mereka hadapi, tiba-tiba saja mereka melihat isyarat dari arah belakang barak itu pada jarak yang agak jauh. Isyarat yang terlontar ke udara dari arah pasukan yang dipimpin Pulut Sanggawerdi.
“Panah api” desis Empu Purung.
Putut Kuda Widarba dan para cantrik terkejut karenanya. Panah api itu berasal dari pasukan yang dipimpin oleh Putut Sanggawerdi yang seharusnya menunggu isyarat untuk menyerang dari arah belakang.
“Ada yang kurang wajar telah terjadi” desis Empu P rung, “mungkin kita semuanya sudah tertipu. Prajurit Singasari ternyata sangat licik.”
“Apa yang sudah terjadi?” bertanya Putut Kuda Widarba.
“Aku tidak tahu. Tetapi agaknya prajurit-prajurit Singasari sudah menjebak mereka.” jawab Empu Purung, “kita harus segera menyusul dan menyelamatkan mereka dari jebakan yang licik itu.”
Empu Purung pun kemudian dengan tergesa-gesa memberikan pesan kepada pemimpin-pemimpin kelompok, bagaimana mereka harus menghadapi keadaan yang tidak terduga-duga itu.
“Kita akan memecah seluruh pasukan kita” berkata Empu Purung, “kita akan naik keatas bukit itu dari dua arah. Aku akan berada di sebelah kiri, dan Kuda Widarba di sebelah kanan.”
Pasukan yang ada itu pun kemudian telah dibagi. Sebagian mengikuti Empu Purung lewat sebelah kiri arah isyarat, yang lain di bawah pimpinan Putut Kuda Widarba melingkar di sebelah kanan.
Dengan demikian mereka telah mencoba untuk tidak terjebak dalam perangkap yang mungkin dipasang orang-orang Singasari. Seandainya sebagian dari mereka tiba-tiba saja disergap, maka yang lain masih mungkin memberikan bantuan untuk melepaskan diri. Apalagi jumlah mereka memang lebih banyak dari jumlah para prajurit itu.
Dalam pada itu, di luar dugaan, ternyata pasukan yang dipimpin oleh Putut Sanggawerdi telah terjebak dalam kepungan prajurit Singasari yang telah berada di luar barak. Bagi prajurit Singasari kehadiran pasukan Putut Sanggawerdi itu pun merupakan suatu hal di luar perhitungan. Mereka hanya memperhitungkan bahwa serangan Empu Purung akan datang dari depan, tetapi ternyata bahwa pengawas prajurit Singasari itu melihat, sekelompok dari pasukan lawan telah mendahului dan melingkari barak itu.
Dengan cepat, prajurit Singasari mengambil sikap. Mereka justru memperhitungkan kemungkinan lain dari rencana mereka.
“Pasukan itu akan kita hancurkan dahulu” berkata pemimpin prajurit Singasari.
Mahisa Bungalan memandang Mahisa Agni sejenak. Meskipun pimpinan prajurit Singasari tetap berada, di tangan Senopatinya, namun kehadiran Mahisa Agni dan Witantra yang mengawal kedua orang pemimpin tertinggi dari Singasari itu tentu saja akan dapat menentukan.
Tetapi agaknya Mahisa Agni pun memerlukan pertimbangan Ranggawuni atau Mahisa Cempaka. Meskipun agaknya keduanya mempercayai Senopati yang sudah di perintahkan untuk memimpin pasukan kecil itu, namun agaknya setiap orang menjadi ragu-ragu untuk mengambil keputusan.
Agaknya Ranggawuni melihat keragu-raguan itu. Karena itu maka katanya, “Semuanya ada di tangan Senopati yang sudah ditunjuk. Ia tentu mempunyai perhitungan yang lebih cermat karena ia lebih menguasai medannya. Justru kami menunggu apakah yang harus kami lakukan selaku prajurit.”
Senopati itu justru merasa dadanya bergetar. Tanggung jawab itu terasa terlalu berat baginya. Tetapi ia merasa bahwa itu adalah kewajaran tugasnya.
Dengan keyakinan penuh, maka ia pun kemudian berkata
“Kita akan menjebak pasukan yang memanjat tebing itu. Mungkin mereka akan memberikan isyarat bagi pasukan yang lain. Tetapi agaknya kita sudah akan dapat mengurangi jumlah mereka dengan sergapan itu.”
Yang lain mengangguk-angguk. perintah itu pun diteruskannya
“Tuanku berdua dan para pengawal akan berada di luar lingkaran pertempuran. Sekelompok kecil akan berada di antara mereka. Sementara pengawas yang lain akan melihat kehadiran pasukan-pasukan yang terpisah itu.”
Senopati itu pun kemudian telah menunjuk sekelompok kecil prajurit untuk melindungi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka jika terjadi sergapan yang tiba-tiba. Sedangkan sekelompok kecil yang lain akan menghambat pasukan yang tentu akan datang membantu pasukan yang dijebaknya.
“Jumlah kita lebih sedikit. Itulah sebabnya kita harus mengurangi jumlah lawan dengan sergapan yang tiba-tiba, meski pun itu bukan berarti membunuh.”
Perintah itu sudah jelas. Kelompok-kelompok itu pun kemudian menempatkan dirinya. Induk pasukan prajurit Singasari itu telah bersiap di tempat yang paling menentukan, selagi pasukan Putut Sanggawerdi memanjat tebing.
Selagi pasukan Putut Sanggawerdi itu memanjat naik untuk menempatkan diri di atas barak yang akan dihancurkan itu, maka tiba-tiba saja mereka telah dikejutkan oleh sergapan yang tiba-tiba. Meskipun Putut Sanggawerdi mendengar desir langkaih mereka, namun semuanya telah terlambat.
Yang dapat dilakukannya adalah meneriakkan perintah, agar pasukannya bersiap menghadapi segala kemungkinan.
“Ada lawan di sekitar kita” teriak Putut Sanggawerdi, “bersiaplah untuk bertempur sekarang.”
Orang-orangnya yang semula tidak menyadari keadaan, tiba-tiba saja telah terkejut mendengar perintah itu. Dengan serta merta mereka menarik senjata dalam genggaman. Dan sekejap kemudian, yang, dikatakan oleh Putut Sanggawerdi itu pun lelah terjadi.
Belum lagi orang-orang di dalam pasukan Putut Sanggawerdi itu menyadari apa yang telah mereka hadapi, tiba-tiba saja prajurit Singasari telah menyergap mereka dari segala penjuru.
Sejenak kemudian pertempuran pun telah terjadi. Ternyata bahwa prajurit Singasari tidak hanya berjumlah dua puluh atau duapuluh lima seperti yang mereka duga.
Sebenarnyalah prajurit Singasari yang berada di barak itu telah bergabung dengan prajurit-prajurit cadangannya, sehingga jumlah mereka telah menjadi berlipat dari jumlah yang diperkirakan oleh Empu Purung. Namun demikian jumlah itu masih jauh lebih sedikit dari jumlah orang-orang Empu Purung dalam keseluruhan.
Karena itulah, maka adalah kebetulan sekali bagi Prajurit Singasari bahwa Empu Purung telah memecah pasukannya.
Putut Sanggawerdi telah bertempur dengan gigihnya. Dengan dahsyatnya ia mengayunkan senjatanya menyerang orang-orang yang terdekat.
Namun, yang dihadapi oleh Putut Sanggawerdi dan anak buahnya itu adalah prajurit-prajurit Singasari. Itulah sebabnya maka pada benturan pertama telah terasa bahwa tekanan lawan nya terasa sangat berat.
Jika semula Putut Sanggawerdi dan orang-orangnya, terutama para cantrik, merasa memiliki kemampuan olah kanuragan yang tiada tandingnya, maka di hadapan para prajurit, barulah mereka merasa, bahwa ilmu mereka bukannya ilmu yang tidak terlawan.
Dalam pertempuran yang kemudian terjadi dengan sengitnya, ternyata bahwa Putut Sanggawerdi lelah berhadapan dengan Senopati prajurit Singasari yang ada di barak yang akan mereka hancurkan itu. Seorang Senopati yang memiliki bekal yang cukup bagi jabatannya yang berat itu.
Pertempuran yang terjadi antara kedua pimpinan pasukan itu pun telah menggetarkan hati mereka yang menyaksikannya. Senopati prajurit Singasari itu memiliki kecepatan bergerak yang mengagumkan, sementara Putut Sanggawerdi pun merupakan seorang Putut yang dapat bergerak dengan cekatan. Ayunan senjatanya berdesing dengan dahsyatnya, sementara tata geraknya kadang-kadang membuat lawannya termangu-mangu.
Tetapi Senopati dari Singasari itu pun memiliki pengalaman yang luas. Ia segera dapat menempatkan dirinya, sehingga pertempuran di antara keduanya pun segera menjadi semakin sengit.
Namun dalam pada itu, para cantrik dan anak-anak muda yang berada di dalam pasukan Putut Sanggawerdi itu pun segera merasa, bahwa tekanan prajurit Singasari itu tidak akan dapat mereka lawan. Karena itulah maka mereka pun segera melepaskan isyarat bagi pasukan yang dipimpin langsung oleh Empu Purung dan Putut Kuda Widarba, yang jumlahnya lebih banyak dari pasukan yang dipimpin oleh Putut Sanggawerdi itu.
Namun isyarat yang dilepaskan keudara itu, telah memberikan perintah pula kepada prajurit Singasari agar segera menyelesaikan tugasnya. Mereka sadar, bahwa isyarat itu merupakan undangan bagi hadirnya kekuatan yang lain, yang mungkin lebih besar jumlahya.
Dalam pada itu, pasukan cadangan yang sudah dipersiap kan untuk menunggu kedatangan bantuan itu pun telah bersiaga sepenuhnya. Mereka justru berusaha menyongsong pasukan lawan yang tentu akan memanjat tebing mendekati arena pertempuran itu.
Tetapi jumlah kelompok cadangan itu terlalu kecil untuk melawan pasukan yang besar yang akan segera datang
Sementara itu Empu Purung dengan tergesa-gesa telah mendekati arena. Dari arah yang lain Putut Widarba pun lelah merayap pula naik bersama pasukannya pula.
Namun dalam pada itu, ternyata bahwa prajurit-prajurit Singasari telah berhasil melumpuhkan sebagian besar dari lawannya. Para cantrik dan anak-anak muda yang bertempur dengan kasar itu telah terdesak. Sebagian besar mereka telah terluka, sedangkan yang lain, meskipun prajurit Singasari menghindari sejauh mungkin Kematian, namun dalam pertempuran yang sengit itu, korban tidak dapat dihindarkan lagi.
Pada dasarnya pasukan Putut Sanggawerdi itu sudah tidak berdaya lagi. Mereka sudah berputus asa, sementara Putut Sanggawerdi sendiri sudah terdesak. Ia pun tidak mempunyai harapan lagi untuk memenangkan pertempurannya melawan Senopati prajurit Singasari itu.
Dengan putus asa, hampir saja Putut Sanggawerdi meneriakkan aba-aba agar pasukannya yang masih tersisa melarikan dliri dari arena, la merasa bahwa agaknya isyarat yang diberikan oleh anak buahnya, tidak terlihat oleh Empu Purung yang sama sekali tidak menyangka, bahwa justru merekalah yang harus memanjat naik.
Namun sisa-sisa pasukan yang lumpuh itu bersorak ketika mereka mendengar kedatangan pasukan Empu Purung dari satu sisi yang dipimpin sendiri oleh Empu Purung. Dengan bersorak pula, mereka menyerang pasukan yang masih terlibat, dalam perkelahian itu.
Sementara langit pun menjadi semakin jernih. Bintang-bintang telah tenggelam dalam kecerahan pagi yang kemerah-merahan. Namun di arena perkelahian itu, warna-warna merah darah telah mendebarkan setiap jantung.
Pasukan cadangan yang tidak begitu banyak jumlahnya itu pun segera menyongsong pasukan yang datang itu. Karena Senapatinya sedang bertempur, maka Mahisa Bungalan lah yang ada di antara mereka.
Empu Purung yang marah, melihat pasukan cadangan yang kecil itu memotong jalan. Dengan geram ia pun meneriakkan aba-aba, agar pasukannya membinasakan kelompok kecil yang menyongsongnya.
Mahisa Bungalan yang berada di antara pasukan itu menjadi berdebar-debar. Pasukannya memang terlalu kecil, jika ia tidak mendapat bantuan dari induk pasukannya maka pasukan kecil itu pun akan segera mengalami kesulitan.
Namun dalam pada itu, pasukan Putut Sanggawerdi benar-benar telah hampir lumpuh sama sekali. Itulah sebabnya, maka sebagian dari mereka segera meninggalkan lawan yang sudah hampir tidak berdaya itu, bergabung dengan Mahisa Bungalan.
Dengan demikian maka pasukan Empu Purung itu pun segera tertahan. Lawan semakin lama jumlahnya menjadi semakin banyak.
Ternyata bahwa prajurit-prajurit Singasari yang dengan cepat telah berhasil melumpuhkan pasukan Putut Sanggawerdi itu justru bertempur semakin sengit. Peluh dan darah telah membakar jantung mereka. Kemarahan yang meluap-luap telah memanaskan darah mereka.
Empu Purung bertempur dengan garangnya di paling depan. Seakan-akan tidak ada orang yang akan dapat menahan kemarahannya. Senjatanya terayun-ayun bagaikan getaran maut yang tidak tertahankan.
Mahisa Bungala melihat kemarahan Empu Purung, Dan seorang petugas sandi prajurit Singasari ia mendapat bisikan, bahwa orang itulah Empu Purung yang memimpin padepokan yang sedang dalam pengamatan prajurit-prajurit Singasari.
Mahisa Bungalan mengangguk-angguk. Dengan dada yang bergetar ia maju selangkah demi selangkah di antara prajurit Singasari yang bertempur dengan sengitnya.
Empu Purung pun kemudian melihat kehadiran seorang anak muda di antara para prajurit itu. la segera mengetahui, bahwa agaknya anak muda itulah yang menjadi pusat kekuatan lawannya.
Dengan darah yang mendidih di dalam jantungnya, ia pun segera meloncat kehadapan Mahisa Bungalan sambil berteriak, “He, anak muda. Apakah kau Senapati dari Singasari?”
Mahisa Bungalan menarik nafas. Sekilas ia melihat prajurit Singasari yang bertempur dengan gigihnya.
“Aku bukan Senapati” jawab Mahisa Bungalan, “aku adalah anak pedagang yang akan dirampok oleh cantrik-cantik mu.”
“He” wajah Empu Purung menjadi merah padam.
“Senapati prajurit Singasari sedang bertempur dengan pemimpin cantrik-cantrikmu yang terjebak karena kebodohannya. Lihat,” berkata Mahisa Bungalan lebih lanjut, “pasukanmu yang terdahulu telah binasa. Satu dua orang di antara mereka yang masih mampu bertempur, tidak akan dapat berbuat apa-apa. Sementara yang lain telah lumpuh dan menyerah.”
“Persetan.” geram Empu Purung, “kau belum mengenal aku. Aku akan membinasakanmu dalam sekejap. Sebut namamu sebelum kau menjadi debu.”
“Mahisa Bungalan. Akulah yang disebut orang pembunuh orang-orang berilmu hitam.”
Wajah Empu Purung tiba-tiba menegang. Dipandanginya wajah Mahisa Bungalan sejenak. Namun kemudian ia menggeram, “Persetan dengan Mahisa Bungalan. Aku akan membunuhmu.”
Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak, la melihat sorot mata Empu Purung yang membara. Namun ketika ia melihat pertempuran yang semakin sengit katanya, “Aku memang pernah mendengar bahwa Empu Purung mampu menggugurkan gunung dan mengeringkan lautan dengan ujung jarinya. Sekarang, cobalah melakukannya sebelum cantrik-cantrikmu kehilangan kepercayaannya kepadamu.”
Empu Purung tidak dapat mengendalikan kemarahannya lagi. Tiba-tiba saja ia meloncat menyerang Mahisa Bungalan dengan dahsyatnya.
Tetapi Mahisa Bungalan yang digelari pembunuh orang-orang berilmu hitam itu telah bersiap menghadapi segala kemungkinan. Karena itu, ketika Empu Purung menyerangnya, maka ia pun dengan cepat telah bergeser menghindarkan diri.
Pertempuran antara prajurit Singasari melawan pasukan Empu Purung itu pun segera berkobar dengan serunya. Bagian pertama prajurit Empu Purung yang telah disergap dengan tiba-tiba itu telah tidak mempunyai kekuatan lagi untuk melawan. Mereka seakan-akan telah lumpuh dan kehilangan kekuatan sama sekali. Putut Sanggawerdi yang tidak memiliki pasukan lagi, masih bertempur dengan gigihnya melawan Senapati dari Singasari. Namun ketika ia sadar, bahwa ia tidak akan dapat berbuat banyak, maka ia pun mencoba bergeser mendekati Empu Purung.
Namun, jarak mereka masih beberapa puluh langkah. Prajurit-prajurit Singasari tidak membiarkannya untuk melarikan diri dan bergabung dengan pasukan Empu Purung yang lain. Karena itu, maka tiba-tiba saja beberapa orang prajurit telah mengurungnya.
Putut Sanggawerdi menghentakkan segenap kekuatannya. Namun semuanya itu tidak berarti lagi. Segores demi segores senjata lawannya telah melukainya, sehingga akhirnya ia pun tidak mampu untuk mengingkari kenyataan, bahwa lukanya bagaikan arang keranjang.
Tetapi prajurit Singasari tidak membunuhnya. Mereka berusaha untuk dapat menangkapnya hidup-hidup.
Dalam pada itu, yang tidak diduga oleh prajurit Singasari adalah kedatangan bagian pasukan Empu Purung yang lain, yang dipimpin oleh seorang Putut yang masih muda.
Putut Kuda Widarba sadar, bahwa ia datang, agak lambat dibandingkan dengan Empu Purung. Jalan yang dilaluinya memang agak lebih panjang, sementara ia tidak berusaha untuk berjalan lebih cepat.
Namun dengan demikian ia berharap bahwa kedatangannya akan dapat mengejutkan lawannya yang sudah terlanjur menumpahkan semua kekuatannya untuk melawan Empu Purung.
Dalam pada itu, pasukan Singasari memang telah memusatkan perhatiannya kepada pasukan yang dipimpin oleh Empu Purung. Mahisa Bungalan yang berhadapan dengan Empu Purung telah terlibat dalam pertempuran yang dahsyat. Masing-masing memiliki kelebihan dari orang kebanyakan, sehingga karena itulah maka benturan kekuatan antara keduanya bagaikan benturan antara dua buah gunung.
Empu Purung ternyata benar-benar seorang yang memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Ia bukan saja memiliki kekuatan wadag. yang dapat melumatkan batu-batu padas dengan hentakkan tangannya, tetapi ia pun memiliki ilmu yang mampu menggetarkan jantung lawannya dengan getaran suara tertawanya.
Mahisa Bungalan terkejut ketika ia mendengar Empu Purung itu tiba-tiba saja tertawa. Suaranya bagaikan melingkar di dalam relung dadanya, menghantam pusat jantungnya.
Mahisa Bungalan pun kemudian harus berjuang dengan ilmunya pula untuk menutup pendengaran batinnya, sehingga suara Empu Purung yang dilontarkan dengan ilmu Gelap Ngampar itu tidak menembus hati.
Karena Mahisa Bungalan agaknya tidak terpengaruh oleh suara tertawanya, maka Empu Purung pun terpaksa menghentikannya. Apalagi karena Mahisa Bungalan justru memperdahsyat serangannya pada saat Empu Purung memusatkan segenap kekuatannya lahir dan batin pada lontaran ilmunya Gelap Ngampar.
Mahisa Bungalan pun ternyata telah mempelajari, bagaimana ia menghadapi ilmu seperti yang dilontarkan oleh Empu Purung lewat getaran di dalam dirinya yang mampu menyangkut di pendengaran batin seseorang. Dengan menyesuaikan tingkat getarannya, maka Empu Purung mampu menyerang lawannya dengan suaranya. Bahkan bukan saja tertuju kepada seseorang. Ia dapat mencari dengan pertimbangan rabaannya berdasarkan atas ilmunya, lapisan yang paling tepat untuk menyerang pada tataran yang berbeda-beda.
Tetapi ternyata bahwa ia tidak dapat mempergunakannya untuk melemahkan perlawanan prajurit-prajurit Singasari, justru karena Mahisa Bungalan. Ketika Mahisa Bungalan menyadari bahwa suara tertawa lawannya itu dapat berbahaya bagi prajurit Singasari di sekitarnya, maka ia pun langsung berusaha untuk menghentikan sumber getaran yang menusuk-nusuk hati itu.
Serangannya yang bagaikan angin prahara telah merusakkan pemusatan ilmu Empu Purung untuk mendapatkan cukup kekuatan bagi usahanya untuk mcnggoncangkan isi dada lawannya.
Sambil mengumpat Empu Purung terpaksa menahan serangan-serangan Mahisa Bungalan, yang meskipun masih dalam tataran serangan wadag, namun sangat berbahaya baginya. Ia harus meloncat surut ketika bagaikan gulungan asap senjata Mahisa Bungalan melandanya.
Sementara itu, Putut Kuda Widarba telah membuat kejutan baru bagi prajurit Singasari. Dalam pertempuran yang sengit, maka Senapati yang, memimpin pasukan Singasari itu menjadi agak bingung. Ketika lawannya, Putut Sanggawerdi tidak berdaya lagi, dan dalam keadaan luka parah ia telah menjadi tawaran, maka Senapati itu telah menceburkan diri dalam pertempuran yang sengit, melawan anak buah Empu Purung yang langsung dipimpinnya itu.
Selagi para pemimpin itu termangu-mangu. maka pasukan itu telah menjadi semakin dekat. Bahkan beberapa orang di antara mereka telah berlari dengan senjata teracu langsung menyerang sekelompok prajurit Singasari yang melindungi Ranggawuni dan Mahisa Cempaka.
Senapati itu pun kemudian tidak dapat membut pertimbangan lebih panjang. Ia pun kemudian meloncat berlari sambil memberikan aba-aba kepada kelompok kecil prajurit itu untuk mengikutinya menyongsong- Putut Kuda Widarba.
Tetapi jumlah lawan terlalu banyak. Kelompok kecil itu tentu tidak akan banyak berarti bagi lawannya. Meskipun setiap prajurit memiliki kemampuan lebih baik dari para cantrik apalagi anak-anak muda di dalam pasukan lawan, tetapi jumlah mereka terlalu banyak bagi kelompok kecil prajurit itu.
Sementara itu prajurit-prajurit yang lain masih terlibat dalam pertempuran yang sengit, yang jumlahnya pun cukup banyak untuk mengikat para prajurit Singasari dalam pertempuran itu.
Sementara itu, ternyata Ranggawuni dan Mahisa Cempaka telah menjadi gelisah. Jika semula mereka memandang pertempuran dengan hati yang berkembang melihat kemenangan-kemenangan yang dicapai oleh prajuritnya, maka kini mereka menjadi gelisah, apakah prajurit Singasari akan dapat bertahan.
“Paman” desisnya di telinga Mahisa Agni, “apakah kita akan tetap bersilang tangan, sementara darah prajurit kita sudah mulai mengalir?”
“Tetapi sebaiknya tuanku berdua tidak ikut terlibat dalam pertempuran ini. Biarlah prajurit-prajurit itu berusaha untuk menyelesaikan tugas mereka. Aku kira mereka akan dapat mengatasi keadaan.”
Ranggawuni mengerutkan keningnya. Ia memandang prajurit-prajuritnya yang bertempur mati-matian, sementara yang lain telah mulai terlibat dalam pertempuran melawan para cantrik dan anak-anak muda yang dipimpin oleh Putut Kuda Widarba.
“Paman Mahisa Agni” berkata Ranggawuni, “apakah menurut perhitungan paman, prajurit-prajurit yang sedikit sekali jumlahnya itu akan dapat bertahan?”
“Memang terlalu berat tuanku. Tetapi sebaiknya tuanku berdua tetap berada di dalam pengawalan beberapa orang prajurit. Biarlah aku, Witantra, Mahendra dan pengawal yang lain melibatkan diri dalam pertempuran itu.”
Ranggawuni dan Mahisa Cempaka saling berpandangan sejenak. Namun mereka tidak mau terlibat dalam pembicaraan yang berkepanjangan justru saat pertempuran sudah membakar seluruh arena.
“Baiklah paman” berkata Ranggawuni, “aku dan Mahisa Cempaka akan tetap berada di sini.”
Mahisa Agni menarik nafas panjang. Kemudian diperintahkannya tiga orang prajurit untuk tetap tinggal bersama dengan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka. Selain tiga orang prajurit itu, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat. pun diperintahkannya menemani kedua orang pemimpin tertinggi pemerintahan Singasari itu.
Sesaat Mahsa Agni memandang pertempuran yang sudah menjalar kesegala sudut arena. Sekelompok kecil prajurit yang menahan pasukan yang dipimpin oleh Putut Kuda Widarba itu pun segera terdesak, karena jumlah mereka sama sekali tidak seimbang.
“Marilah” berkata Mahisa Agni, “mumpung korban belum jatuh.”
Witantra dan Mahendra tidak menyahut. Ketiga orang-orang tua itu pun kemudian dengan tergesa-gesa menerjunkan diri ke dalam arena pertempuran.
Kehadiran mereka mula-mula telah mengejutkan Senapati prajurit Singasari yang memimpin sekelompok kecil pasukannya. Namun ia sadar, bahwa ketiga orang itu adalah orang-orang yang luar biasa, sehingga meskipun mereka hanya bertiga tetapi kemampuan mereka melampaui sekelompok prajurit-prajurit pilihan.
Demikianlah, maka kehadiran Witantra, Mahendra dan Mahisa Agni telah mempengaruhi arena pertempuran itu. Namun demikian, karena jumlah lawan yang jauh lebih banyak. maka di bagian lain dari arena itu, prajurit Singasari masih mengalami kesulitan. Dan itulah sebabnya, maka Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra telah mempergunakan cara yang lain untuk mengurangi kegelisahan para prajurit. Mereka tidak bertempur di satu tempat melawan lawan yang menyerang mereka. Tetapi mereka bagaikan burung elang yang berterbangan di langit yang biru. Sekali-kali menyambar, kemudian terbang tinggi di sela-sela awan.
Kehadiran Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra. meskipun hanya bertiga, ternyata telah membuat lawan mereka menjadi bingung. Beberapa orang cantrik yang memiliki kemampuan melampaui anak-anak muda yang lain, berusaha berada di dalam kelompok-kelompok kecil untuk menahan serangan-serangan yang dahsyat itu. Tetapi tiba-tiba saja ketiga orang-orang tua itu telah bersama-sama menyerang, sehingga kelompok kecil itu pun telah terpecah bercerai berai.
“Gila” geram Putut Kuda Widarba. Namun ia tidak dapat berbuat banyak, karena Senapati yang telah berhasil melumpuhkan Putut Sanggawerdi itu telah berada di dalam libatan perkelahian melawannya.
Dalam pada itu, di arena yang lain, yang langsung berada di bawah pimpinan Empu Purung dan Mahisa Bungalan, pertempuran pun berlangsung dengan sengitnya. Meskipun pasukan Empu Purung jumlahnya lebih banyak dari prajurit Singasari. namun imbangannya tidak seperti di arena yang lain, sehingga prajurt Singasari yang pada dasarnya memiliki kemampuan dan pengalaman yang lebih besar, segera mampu menguasai keadaan.
Sementara itu Empu Purung sendiri ternyata terlibat dalam pertempuran yang sengit melawan Mahisa Bungalan. la tidak mendapat kesempatan untuk membantu pasukannya dengan caranya, dengan ilmu-ilmunya yang dapat dilontarkan lewat berbagai macam cara, bukan saja dengan wadagnya Setiap ia berusaha membangunkan ilmu yang dapat dilontarkan lewat suaranya, Mahisa Bungalan telah menyerang dengan dahsyatnya, sehingga ia harus memusatkan perlawanannya terhadap serangan-serangan wadag Mahisa Bungalan yang dapat membahayakan jiwanya.
Sebenarnyalah Mahisa Bungalan pun telah hampir sampai ke puncak ilmunya. Ia masih belum berusaha mengakhiri pertempuran karena ia memang sedang menjajagi kemampuan lawannya, yang agaknya masih membagi perhatiannya antara Mahisa Bungalan dan usahanya membantu orang-orangnya.
Namun Mahisa Bungalan pun sadar, jika sampai saatnya, lawannya mengerahkan puncak ilmunya, maka ia pun harus berjuang dengan segenap ilmu yang ada padanya.
Dalam pada itu, Ranggawuni dan Mahisa Cempaka yang muda itu menjadi kian gelisah. Ketika ia melihat Mahisa Murti dan Mahisa Pukat menggeretakkan giginya, maka Ranggawuni pun berkata, “Apakah kita akan tetap berdiam diri?”
Prajurit yang mendengar gumam itu pun segera menyahut, “Ampun tuanku. Sebaiknya tuanku tetap berada di luar pertempuran yang sedang menyala itu.”
Ranggawuni mendekati prajurit itu sambil tersenyum. Katanya, “Terima kasih. Tetapi aku berpendirian lain.”
Prajurit itu termangu-mangu. Ia tidak segera mengetahui maksud Ranggawuni yang tidak dalam pakaian kebesaran sebagai seorang Maharaja di Singasari.
Tetapi Ranggawuni yang berpakaian seperti orang kebanyakan itu berkata, “Aku akan ikut serta dalam pertempuran itu.”
“Jangan tuanku. Tuanku adalah Maharaja di Singasari. Seharusnya tuanku tidak ikut dalam pertempuran itu?”
“Seorang Raja adalah seorang Panglima, dan seorang Maharaja adalah seorang Panglima Agung. Meskipun aku bukan Senopati yang memimpin pasukan Singasari di daerah ini, tetapi karena aku juga seorang prajurit, maka aku wajib ikut serta dalam pertempuran sekarang ini.”
“Tuanku memang seorang prajurit. Tetapi tuanku juga seorang Maharaja. di sini tidak ada lawan yang pantas bagi tuanku, sehingga jika terjadi kecelakaan kecil atas tuanku, maka hal itu akan dapat menyuramkan wibawa tuanku.”
Ranggawuni tersenyum. Katanya, “Aku tidak dalam kedudukanku sebagai seorang Maharaja. Atau katakanlah aku siapa saja. Tetapi aku ingin ikut membantu prajurit Singasari yang berada dalam kesulitan. Aku, adinda Mahisa Cempaka beserta kedua putera paman Mabendra akan dapat menambah kekuatan Singasari yang terdesak di satu sudut pertempuran itu. Masih ditambah lagi kalian bertiga. Nah, dengan demikian, keseimbangan pertempuran itu segera akan berubah.” Ranggawuni berhenti sejenak sambil memandang ke arena pertempuran. Pasukan yang berada di bawah pimpinan Mahisa Bungalan yang langsung bertempur melawan Empu Purung itu nampaknya tidak begitu sulit. Tetapi pasukan yang melawan pasukan Empu Purung yang di bawah pimpinan Putut muda itu, agaknya telah mengalami tekanan yang, sangat besar-meskipun setiap saat Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra hadir di sekitar mereka dan agak memperingan tekanan itu.
Tetapi ternyata bahwa lawan memang terlalu banyak.
Dalam pada itu, ternyata bahwa prajurit-prajurit yang mengawal Ranggawuni tidak lagi dapat mencegah keinginannya untuk terjun ke dalam arena. Bahkan ketika prajurit itu masih saja menahannya, Ranggawuni berkata, “Dengarlah perintahku, Maharaja Singasari. Ikutlah aku terjun kedalam pertempuran itu.”
Prajurit-prajurit yang mengawalnya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka harus tunduk kepada perintah itu, sehingga bagaima na pun juga mereka harus membiarkan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka mendekati garis perang bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
Dengan hati-hati Ranggawuni berusaha agar kehadirannya tidak menarik perhatian Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra. Namun bagaimanapun juga, ternyata Mahisa Agni melihatnya pula. Tetapi ketika ia meloncat mendekati Ranggawuni, maka Ranggawuni, Mahisa Cempaka, Mahisa Murti dan Mahisa Pu kat telah berada di arena. Beberapa orang lawan justru telah menyerangnya.
Mahisa Agni yang telah berhasil mendekati Ranggawuni segera bertanya sambil berbisik, “Kenapa tuanku hadir di peperangan?”
Ranggawuni tidak menyahut. Tetapi ia tersenyum sambil memberikan isyarat, bahwa ia akan melayani lawan-lawannya yang telah menyerangnya.
Mahisa Agni termangu-mangu. Namun dengan demikian, maka ia pun telah terikat, ia tidak sampai hati untuk melepaskan Ranggawuni dan Mahisa Cempaka untuk bertempur seperti kebanyakan prajurit yang lain.
Mahendra yang melihat kedua pemimpin Singasari dan kedua anaknya turun ke arena, telah mendekat pula. Seperti Mahisa Agni, maka keduanya seakan-akan bertempur dalam tugasnya yang khusus, melindungi anak-anak muda yang darahnya masih terlalu mudah mendidih itu
Tetapi ternyata bahwa Ranggawuni dan Mahisa Cempaka tidak ragu-ragu melibatkan dirinya di peperangan itu, seperti juga Mahisa Pukat dan Mahisa Murti. Dengan tengadah mereka langsung menusuk ke dalam induk pasukan lawan, disertai oleh ketiga prajurit pengawalnya dengan dibayangi oleh Mahisa Agni dan Mahendra.
Sementara itu, Witantra masih tetap memelihara keseimbangan di sudut yang lain. Ia tidak ikut serta mendekati Ranggawuini dan Mahisa Cempaka, karena dengan demikian, maka di sudut lain, tekanan lawan akan menjadi sangat terasa.
Kehadiran Ranggawuni dan beberapa orang lain di arena itu benar-benar telah merubah keadaan. Meskipun Ranggawuni hanya bertujuh, tetapi ternyata bahwa anak-anak muda itu telah bertempur bagaikan banteng terluka. Mahisa Murti dan Mahisa Pukat ternyata memiliki kelincahan yang kadang-kadang dapat membingungkan lawan, sementara Ranggawuni dan Mahisa Campaka dengan kemampuannya telah membuat lawan-lawannya bagaikan kehilangan pegangan.....
Bersambung.....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar