16
MALAIKAT YANG TURUN DI STONEY HILL GROVE
Ini adalah malam kedua ia mendengar suara itu. Suara Al-Qur'an dilantunkan dikeheningan malam dengan suara serak. Seandainya tidak serak, ia sepertinya mengenal langgam khas cara Al-Qur‘an itu dibaca.
Seperti langgam Turki. Ia langsung berpikir, mungkin tidak hanya Turki tapi daratan Eropa Timur termasuk Bulgaria. Bukankah Bulgaria dulu masuk dalam wilayah Turki Ustmani.
Wajar jika perempuan berwajah buruk bernama Sabina itu melantunkan dengan langgam itu. Khas perempuan Turki, hanya saja dengan suara serak.
Entah kenapa ia jadi penasaran. Apakah Sabina membacanya dengan hafalan ataukah dengan membaca. Tetapi ia belum pernah melihat Sabina membawa mushaf. Ataukah perempuan itu menyembunyikan mushaf dalam tasnya.
Suara itu masih menggema dari basement.
Fahri keluar dari kamarnya. Pelan-pelan ia turun ke lantai satu. Lalu ia menuruni tangga kebawah dekat dapur dan ruang tamu.
Basement itu gelap. Namun kamar Sabina tampak terang. Pintunya sedikit terbuka. Cahaya memancar sedikit dari dalam kamar. Fahri tidak memiliki keberanian untuk melihat ke arah celah pintu. Ia duduk di tangga dan mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur‘an itu.
Sudah lama sekali, ia tidak mendengarkan Al-Qur‘an dilantunkan di keheningan malam seperti dua malam itu.
Paman Hulusi kalau pun bangun dan shalat malam ia membaca surat pendek dan tidak bersuara.
Fahri jadi teringat Aisha. Dulu, saat di Freiburgh. Masa-masa itu begitu indah. Dalam musim dingin yang menggigil, terkadang ia
bangun duluan. Ia shalat di samping ranjang, melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur‘an, lalu tak lama Aisha akan bangun dan menyusulnya shalat menjadi makmumnya setelah wudhu.
Terkadang, Aisha duluan yang bangun. Aisha akan shalat malam dengan melantunkan surat-surat yang dihafalnya. Surat paling disukainya adalah surat Al-Anfal.
"Itu surat yang penuh semangat, surat yang berisi rahasia penting kemenangan umat ini,"
kata Aisha memberi alasan. Ia akan menikmati bacaan istrinya itu. Ia seringkali melihat jam. Jika shubuh masih panjang, ia akan memilih tetap bermanja-manja di atas kasur sambil
mendengar Aisha menghabiskan surat Al-Anfal-nya. Jika sudah selesai barulah ia berwudhu lalu shalat dan Aisha menjadi makmumnya.
Yang dibaca Sabina adalah surat Al-Maidah. Bukan surat Al-Anfal. Tiba-tiba Fahri merasa bahagia bahwa ia telah menolong orang yang tepat. Perempuan yang dikeheningan malam mau bangun dan berasyik masyuk merayu Tuhannya dengan bacaan Al-Qur‘an yang serak namun tartil itu tidak layak jadi gelandangan di jalan. Tidak layak jadi pengemis yang menghiba kemurahan hati orang.
Fahri bertekad berapapun harganya, selama ia mampu, Sabina harus kembali punya status
kewarganegaraan. Dari pendalaman yang ia lakukan, perempuan itu kini tidak punya dokumen apapun, tidak punya paspor, tidak punya kartu penduduk, tidak juga punya saksi yang bisa memberikan kesaksian bahwa ia berwarganegara Bulgaria, meskipun ia mengaku berwarganegara Bulgaria.
Sabina hidup tanpa status kewarganegaraan. Sabina harus segera punya status sebagai warga sebuah negara dan tinggal di bumi Britania Raya secara legal.
Fahri teringat perkataan Prof.Dr. Sayyid Dasuqi, guru besar Tafsir di Al Azhar yang dulu juga pernah mengajarnya. Prof. Sayyid Dasuqi pernah mengatakan,
"Al Qur‘an itu di alam kubur bisa memberi
syafaat bagi pemiliknya, di akhirat juga memberi syafaat bagi pemiliknya. Baginda Nabi menjelaskan hal itu dalam beberapa hadist. Jika Al Qur'an diakhirat saja bisa memberi syafaat, tentu Al Qur‘an lebih berhak bisa memberi syafaat di dunia, tentu semua itu dengan ijin Allah."
Prof. Sayyid Dasuqi lalu menjelaskan bahwa siapa saja dari mahasiswanya yang hafal Al Qur‘an maka hafalan Al Qur‘annya itu akan mensyafaati nilai ujiannya. Dan Fahri telah membuktikan sendiri ketika ia menyampaikan kepada Prof. Sayyid Dasuqi bahwa ia hafal 30 juz biidznillah, dan dapat sanad sampai Rasulullah saw. dari Syaikh Ustman, maka Prof. Sayyid Dasuki memberikan nilai mumtaz untuknya pada mata kuliah yang dia punya.
"Saya tidak peduli apakah Sabina hafal Al Maidah itu atau tidak. Tapi dia jelas-jelas membacanya dengan bagus ditengah-tengah keheningan malam. Bacaan Al Qur‘annya ini harus mensyafaatinya di dunia ini. Ia berhak di tolong untuk hidup normal dan hidup baik-baik secara resmi di tanah ini.
Para pecinta Al Qur‘an, saya yakin lebih dicintai oleh tanah Skotlandia daripada yang kufur pada Al Qur‘an.
Sebab pada asalnya bumi, langit dan segala isi yang ada di dalamnya semua beriman kepada Allah dan kitab Allah, Al Qur'an." Gumam Fahri dalam hati.
Sabina membaca ayat terakhir Al Maidah lalu bertakbir untuk rukuk. Fahri pelan-pelan naik ke atas dan kembali ke dalam kamarnya. Fahri berdiri tegak menghadap kiblat, lalu takbir dan larut dalamshalatnya. Suara Aisha seperti terngiang dalam telinganya. Fahri membaca Surat Al Anfal seolah menirukan bacaan Aisha.
Dalam sujud panjangnya Fahri mengadu kepada Tuhannya tentang kerinduannya kepada Aisha. Ia meminta kepada Tuhan agar mengampuni dirinya jika dalam kerinduannya itu terdapat kedzaliman pada dirinya sendiri. Ia meminta kepada Tuhan agar dirinya jangan diserahkan kepada hawa nafsunya sedetik pun. Ya Hayyu ya Qayyum birahmatika astaghitsu ashlih li nafsi wa la takilni ila nafsi tharfata 'ain. Amin.
*****
Jeritan dan teriakan itu terdengar jelas sampai kamar Fahri. Itu mirip lolongan. Itu suara nenek Catarina. Fahri tersentak, ia melihat jam. Masih pagi. Baru jam delapan.
Ia menghentikan pekerjaannya memeriksa tulisan bab tiga tesis Ju Se, mahasiswi China yang dibimbingnya. Fahri bergegas dari meja kerjanya untuk melihat apa sesungguhnya yang terjadi.
Di ruang tamu, Paman Hulusi melihat rumah Nenek Catarina dari jendela.
"Ada apa Paman?"
"Itu ada yang menyeret nenek Catarina keluar rumahnya."
"Kenapa Paman tidak mencegahnya?"
"Saya baru tahu ketika Catarina menjerit."
Di beranda rumah nenek Catarina, tampak seorang lelaki menyeret nenek Catarina. Lelaki itu tampak marah. Nenek Catarina seperti ingin menempel lantai rumahnya. Ia meronta dan menjerit tidak mau meninggalkan rumahnya. Tapi lelaki itu tampak lebih bertenaga. Nenek Catarina menghiba memohon belas kasihan.
"Tolong ingatlah, aku ini istri almarhum ayahmu, Baruch. Kalau pun kau tidak menganggap diriku sebagai ibumu, tapi aku ini Istri almarhum ayahmu. Hormatilah ayahmu, kalau kau tidak mau menghormati aku!"
"Engkau sendiri yang tidak mau menghormati dirimu. Dengan cara yang paling halus aku sudah memberitahumu. Tapi kau sendiri tidak mau menghormati dirimu. Cara seperti ini ternyata yang kau pilih. Mulai hari ini jangan berani menyentuh dan memasuki rumahku ini! Ingat ini rumahku, legal demi hukum ini adalah rumahku!"
"Aku sudah tua, kenapa tidak kau tunggu biarkan aku meninggal dulu baru kau ambil rumah ini?"
"Jangan banyak bicara. Itu terserah aku, kapan aku mau mengambil atau menjual harta milikku itu terserah aku! Tidak boleh ada yang mengatur diriku, termasuk kamu! Pilihanmu kau meninggalkan rumah ini secara sukarela atau aku seret dan kau akan malu!"
"Aku tidak akan meninggalkan rumah ini! Seretlah aku! Ayo seretlah aku, aku tidak takut!"
Dengan geram lelaki bernama Baruch itu menyeret nenek Catarina ke halaman rumahnya. Nenek Catarina menjerit ketika ia diseret menuruni tangga beranda rumahnya ke halaman rumahnya.
Fahri yang mendengar itu semua ia tidak tega. Ia langsung keluar dengan setengah berlari. Fahri berusaha mencegah tindakan itu. Paman Hulusi mangikuti dari belakang. Pintu rumah Brenda tampak terbuka, dan muncul pula Brenda dari dalam rumahnya.
"Hei hei ada apa ini? Tolong hentikan! Ini tidak manusiawi! Tolong dia sudah tua!" Tegas Fahri.
Seketika lelaki bernama Baruch itu melepas pegangannya pada nenek Catarina. Baruch langsung menghadapkan wajahnya ke arah Fahri dengan wajah merah membara.
"Jangan mencampuri urusan orang lain! Kalau tidak tahu duduk perkaranya, jangan asal bicara! Kembalilah ke rumahmu sebelum aku berpikiran untuk berurusan denganmu!" Hardik Baruch.
"Kita ini berada di negara yang menjunjung hukum. Tidak usah main kasar begitu. Saya bisa laporkan kepada polisi atas tindakanmu yang semena-mena ini!"
"Silakan, sana lapor ! Asal kamu tahu, saya melakukan ini justru demi menegakkan hukum! Nenek tua ini yang tidak tahu diri. Ini rumah saya. Saya sudah baik hati membiarkannya menempati rumah ini belasan tahun. Sekarang rumah ini mau saya ambil, mau saya jual. Saya sudah jauh-jauh hari memberitahunya, dan memberinya peringatan. Tapi nenek tua ini tidak tahu diri. Beberapa waktu yang lalu saya sudah datang dan minta dia dengan baik-baik meninggalkan rumah ini, bahkan saya sudah
mencarikan panti jompo untuknya. Saya siap mengurusi semuanya sampai dia nyaman tinggal di panti jompo, tapi dia berkeras kepala. Dulu ayah saya pernah mengadu kepada saya tentang keras kepalanya nenek tua ini. Mungkin ayah saya meninggal karena keras kepalanya itu.
Sekarang sudah habis kesabaran saya! Kalau kau nekat membela nenek ini, maka kau akan berurusan secara hukum dan fisik dengan saya!"
Sementara nenek Catarina masih mengaduh dan terduduk kesakitan di atas tanah.
"Tolong beri waktu nenek Catarina tiga jam saja, saya akan bicara padanya."
"Tiga jam?"
"Tiga jam saja, tolong!"
"Baik. Tiga jam lagi jika nenek tua ini masih tetap ada di rumah ini, saya akan lakukan apapun untuk menyeretnya kejalan!"
Baruch lalu melangkah ke mobilnya, ia membanting pintu mobilnya dengan keras. Lelaki itu lalu mengendarai mobilnya meninggalkan komplek Stoneyhill Grove. Fahri langsung menolong nenek Catarina, dengan dibantu Paman Hulusi ia menggotong nenek Catarina yang kesakitan tidak bisa berjalan itu ke dalam rumahnya. Nenek Catarina mengeluh tulang paha dan pantatnya seperti telah patah.
Fahri tidak berani melihat bagian paha dan pantat nenek itu. Fahri minta Paman Hulusi
memanggil Brenda dan Sabina.
Paman Hulusi bergegas memanggil Brenda dan Sabina. Sejurus kemudian Brenda dan Sabina datang.
Fahri minta Brenda dan Sabina melihat bagian-bagian yang dikeluhkan nenek Catarina dan memberi pertolongan pertama. Fahri dan Paman Hulusi meninggalkan ruang tamu itu sementara Brenda dan Sabina memeriksa kondisi paha dan bagian-bagian tubuh nenek Catarina yang dirasa sakit.
Fahri kembali ke rumahnya, diikuti Paman Hulusi. Fahri duduk di ruang tamu sambil merenung, apa yang harus ia lakukan? Lelaki seperti apa sesungguhnya Baruch itu, sampai sedemikian sadisnya? Dan sedemikian tidak takut kepada hukum. Begitu jumawanya lelaki itu menantang agar dia melapor ke polisi kalau ingin lapor.
Dua puluh menit kemudian Sabina masuk, Fahri langsung menanyakan kondisi nenek Catarina. Sabina tidak menjawab, ia memberi isyarat agar Brenda saja yang menjelaskan.
Brenda yang berada di belakang Sabina lalu masuk dan menjelaskan bahwa mungkin ada tulang paha yang patah, pantat nenek
Catarina jelas luka.
"Harus lapor polisi!" Geram Fahri.
"Nenek Catarina bilang agar kau tidak mengambil resiko berurusan dengan Baruch. Biar nenek Catarina yang menghadapi, ia sudah rela jika harus mati mempertahankan rumahnya!" Sahut Sabina.
"Tidak bisa ini kriminal!"
"Nenek Catarina bilang ia berpesan sungguh-sungguh! Katanya ia tidak mau dirimu dan orang-orang di lingkungan sini susah karena berurusan dengan Baruch itu!"
Fahri lalu bergegas menemui nenek Catarina. Dengan air mata meleleh nenek Catarina meminta Fahri tidak berurusan dengan Baruch. Fahri tetap ngotot hendak lapor polisi. Nenek Catarina melarang dengan sungguh-sungguh.
"Baik, saya tidak akan berurusan dengan Baruch, tapi nenek harus ikuti cara saya."
"Bagaimana itu?"
"Nenek sementara tinggal dirumah saya. Biarkan sementara Baruch mendapatkan rumah itu. Saya akan mengusahakan mencari pengacara hebat sampai nenek mendapatkan kembali rumah itu.''
"Saya tidak mau meninggalkan rumah ini !"
"Kalau begitu saya akan lapor polisi!"
"Jangan! Tolong, nanti kamu yang akan susah, urusanmu jadi akan sangat panjang!".
"Kalau begitu ikuti cara saya, sementara nenek ikuti saran saya. Beritahu saya barang-barang apa saja yang harus diambil untuk sementara. Agar ketika dia datang, ia tidak buat onar lagi! Di rumah saya, nenek tetap bisa melihat rumah nenek! Ayolah Nek!"
Nenek Catarina diam sesaat, lalu lirih ia bicara,
"Baiklah, tapi kau harus janji aku akan kembali ke rumahku Iagi!"
"Saya janji Nek."
"Baiklah aku ikut caramu!"
Fahri lalu memindahkan nenek Catarina ke rumahnya dibantu Paman Hulusi, Brenda dan Sabina.
Sementara nenek Catarina menempati kamar yang sebelumnya ditempati Misbah Lalu mereka membantu mengambil barang-barang penting dari rumah nenek Catarina.
Setelah tiga jam berlalu dari waktu yang dijanjikan, Baruch kembali datang. Fahri menemui Baruch.
Fahri kemudian menjelaskan bahwa ia bisa membujuk nenek itu untuk pergi dan sudah pergi. Baruch bertanya, dia ada dimana?
"Dia ada di tempat yang aman. Dia sangat terpukul dan sakit hatinya. Dia tidak mau aku memberi tahu tentang keberadaannya. Hanya kalau boleh ia minta waktu satu hari untuk mengemasi barang-barangnya."
"Baik, aku beri waktu satu hari." Tegas Baruch
"Dan satu lagi."
"Apa itu?"
"Ia ingin tahu siapa pembeli rumah itu? Jika ia ada uang, ia akan membeli rumah itu dari pembelinya!" Baruch tertawa terkekek-kekek.
"Dasar nenek sinting, darimana ia akan dapatkan uang untuk membeli rumah itu!"
"Apa keberatan jika Anda memberitahu siapa pembelinya?"
"Okay, boleh , sama sekali saya tidak keberatan. Ini kartu namanya berikan pada nenek sinting itu! Aku berharap ia tidak tambah sinting!" Fahri menerima sebuah kartu nama dari Baruch.
"Besok, jam seperti ini, aku akan datang ke sini dan aku tidak mau ada lagi alasan yang mengulur-ulur waktu lagi, mengerti!"
"Saya sangat mengerti." Jawab Fahri tenang.
Baruch lalu melangkah pergi dengan jumawa seperti seorang koboi yang baru saja menewaskan musuhnya dalam adu duel senjata api. Begitu Baruch hilang dan mobilnya hilang dari pandangan mata, Fahri menelpon pemilik kartu nama itu untuk bernegosiasi.
"Saya siap menjumpai Anda, satu pekan lagi. Maaf. saya sedang di Heatrow siap terbang ke Amerika. Saya akan disana lima hari. Dan satu pekan lagi baru ke Edinburgh. Saat itu kita bisa berjumpa."
Jawab pemilik kartu nama itu. Fahri menghela nafas. Nenek Catarina memang harus tinggal di rumahnya untuk sementara. Dan hal paling mendesak adalah membawa nenek Catarina ke rumah sakit.
Fahri membatalkan janjinya berjumpa dengan Ju Se terkait bimbingan tesis dan Nyonya Suzan terkait masalah Keira demi membawa nenek Catarina ke rumah sakit.
"Kau bukan siapa-siapaku, tapi kau memperlakukan diriku seperti ibu kandungmu sendiri. Terima kasih, Fahri atas kebaikanmu. Kau seperti malaikat yang turun di Stoney Hill Grove" lirih nenek Catarina dengan mata berkaca-kaca setelah diperiksa dokter bahwa tidak ada tulang yang patah.
Tulang pahanya hanya retak dan bisa disembuhkan dengan rawat jalan di rumah.
"Jangan berlebihan Nek! Jangan berterima kasih kepadaku, berterima kasihlah kepada Tuhan!" Jawab Fahri.
*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar