PANASNYA BUNGA MEKAR : 26-03
Karena itulah, maka padukuhan di seberang bulak itu pun telah terdengar pula suara kentongan yang justru sahut menyahut. Hampir setiap kentongan di gardu-gardu telah dibunyikan. Justru karena mereka menganggap bahwa bahaya yang sebenarnya tidak terdapat di padukuhan mereka.
Dengan tanda-tanda khusus dari bunyi kentongan, maka para penghuni padukuhan di sekitar Kedung Sertu itu mengenal dengan pasti, sumber dari suara kentongan itu. Demikian juga kentongan yang mulai merayap di padukuhan-padukuhan yang lain itu pun telah memberikan isyarat, dari manakah sumber bunyi kentongan itu. Pukulan rangkap yang berulang terus-menerus telah mengoyak senyapnya malam di padukuhan-padukuhan di sekitar Kedung Sertu yang biasanya memang senyap.
“Orang-orang gila,” geram para perampok itu, “apa yang dapat mereka lakukan dengan suara kentongan yang bising itu?”
Sebenarnyalah untuk beberapa saat lamanya, tidak ada sesuatu yang dapat menggangu para perampok itu.
Mereka dengan leluasa telah mendatangi gardu-gardu yang kosong. Ada satu dua kentongan yang nampaknya memang baru saja dibunyikan. Namun orang-orang yang membunyikannya telah hilang di dalam gelapnya malam.
“Persetan!” geram pemimpin perampok itu. “Kita akan pergi ke rumah saudagar kulit sekarang. Nanti kita akan melihat-lihat kentongan di gardu di padukuhan-padukuhan lain yang berteriak-teriak seperti telah gila itu. Kita akan membungkamnya dan kita akan segera memusnahkan semua gardu yang ada di padukuhan-padukuhan itu.”
“Kita apakan gardu-gardu itu?” bertanya salah seorang perampok.
“Kita akan membakarnya.” jawab pemimpin perampok itu.
“Bagus sekali. Aku ingin melihat, apa yang akan dilakukan oleh orang-orang padukuhan yang sombong itu, yang seolah-olah telah menyatakan dirinya berani melawan kita.”
Pemimpin perampok itu pun kemudian membawa orang-orangnya menuju ke rumah saudara kulit yang yang dimaksudkan. Mereka ingin menyelesaikan pekerjaan itu dengan cepat. Kemudian seperti yang sudah mereka katakan, bahwa mereka akan membakar gardu-gardu yang ada.
Sementara itu, beberapa orang pengawal yang berada di padukuhan itu telah berkumpul. Enam orang pengawal dan Mahisa Bungalan.
“Orang itu menuju ke rumah saudagar kulit itu.” berkata salah seorang pengawal.
“Kita akan mencegah mereka. Kita akan pergi ke rumah itu pula.” sahut Mahisa bungalan.
“Jangan bodoh. Mereka terdiri dari sekelompok orang yang cukup banyak dan mempunyai kemampuan tinggi. Kita bertujuh tidak akan dapat berbuat apa-apa.”
“Kawan-kawan kita akan berdatangan dari padukuhau-padukuhan lain. Selebihnya, apakah anak-anak muda dari padukuhan ini tidak dapat dikerahkan?”
“Mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika mereka tampil, mereka akan menjadi korban yang tidak berarti sama sekali.”
Mahisa Bungalan termangu-mangu sejenak. Ia mengerti, bahwa anak-anak muda padukuhan itu tidak akan dapat mengimbangi kemampuan para perampok itu. Tetapi pada suatu saat, anak-anak muda itu pun harus mendapatkan kesempatan untuk percaya kepada kemampuan mereka. Jika hal itu tidak segera dimulai, maka mereka tidak akan pernah dapat menjaga diri mereka sendiri.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun berkata, “Kita akan berada di paling depan. Biarlah anak-anak muda itu dalam jumlah yang besar mempengaruhi perlawanan para perampok itu.”
“Mereka belum siap untuk melakukannya.” jawab salah seorang pengawal.
Mahisa Bungalan tidak membantah lagi. Ia memang tidak dapat memaksa para pengawal mengerahkan anak-anak muda yang memang belum siap. Tetapi Mahisa Bungalan pun tidak akan dapat membiarkan tingkah laku para perampok itu.
Karena itu, maka katanya, “Kita akan mengganggu mereka sambil menunggu kawan-kawan kita yang tentu akan segera datang.”
“Apa yang dapat kita lakukan?” bertanya salah seorang pengawal.
“Kita ikuti mereka dari kegelapan. Tetapi kita harus memberikan kesan, bahwa kita memang mengikutinya,” jawab Mahisa Bungalan, “dengan demikian maka mereka akan memperhitungkan kehadiran kita. Jika kita berpencar, maka kesannya, kita terdiri dari banyak orang yang mengintai mereka dari dalam gelap.”
Para pengawal itu pun mengangguk-angguk. Agaknya mereka sependapat dengan Mahisa Bungalan.
Karena itu, maka mereka pun segera mencari orang-orang yang telah memasuki padukuhan itu sambil berpencar. Usaha itu tidak begitu sulit. Sambil menyusup di halaman dan pekarangan, mereka kadang-kadang menemukan anak-anak muda yang sedang bersembunyi.
Anak-anak muda yang bersembunyi itulah yang dapat memberikan petunjuk, kemana para perampok itu pergi.
“Agaknya mereka pergi ke rumah saudagar kulit itu desis salah seorang anak muda yang bersembunyi di serambi rumah di pinggir jalan padukuhan.
Demikianlah para pengawal dan Mahisa Bungalan itu pun akhirnya menemukan mereka. Mahisa Bungalanlah yang pertama-tama dengan sengaja menampakan diri. Namun ia pun segera menghilang ke dalam gelap.
“Anak setan,” geram para perampok, “ada juga anak-anak yang mengikuti kita.”
“Hanya seorang.” desis para perampok itu. Namun ternyata mereka telah melihat gerumbul yang berguncang di halaman sebelah. Dua orang di antara para perampok itu segera meloncat memasuki halaman itu. Namun seorang pengawal telah hilang pula dalam kegelapan.
Gangguan yang serupa telah terjadi pula di arah yang lain. Sehingga dengan demikian, seperti yang dikehendaki, maka seolah-olah para perampok itu telah diintai oleh berpuluh-puluh pasang mata dari balik gerumbul dan kegelapan.
“Persetan!” berkata pemimpin perampok itu. “Mereka hanya berani mengintai. Jangan pedulikan. Kita datangi rumah itu dan kita rampas harta bendanya.”
Mahisa Bungalan mengerutkan keningnya Orang-orang itu tidak menghiraukan gangguan mereka lagi. Mereka berjalan terus menuju ke rumah saudagar kulit yang cukup kaya itu.
Mahisa Bungalan tidak membiarkannya. Ia pun menjadi semakin berani menganggu. Sekali-sekali maka mulailah Mahisa Bungalan melempari iring-iringan itu dengan batu.
Jika batu dilemparkan oleh anak-anak muda padukuhan itu dan mengenai seseorang, maka orang itu akan menyeringai kesakitan. Tetapi jika yang melemparkan batu itu adalah Mahisa Bungalan, maka seseorang yang dikenainya telah menjadi pingsan.
“Gila!” geram seorang perampok, “Kita cari tikus itu dan kita cincang sampai lumat.”
Tetapi Mahisa Bungalan telah menghilang di balik pagar-pagar batu yang mengelilingi halaman-halaman rumah.
Sementara itu, para pengawal yang berada di padukuhan-padukuhan yang lain, telah dengan tergesa-gesa menuju ke padukuhan yang telah memberikan isyarat yang pertama. Namun sementara itu, isyarat yang masih mengumandang di padukuhan-padukuhan lain, justru di padukuhan yang pertama itu sekali telah berhenti.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba saja telah terdengar suara kentongan yang mengejut di gardu di ujung lorong, menghadap ke pintu gerbang. Semakin lama semakin keras.
“Mereka telah datang,” desis Mahisa Bungalan kepada seorang pengawal yang berada di dekatnya, “yang membunyikan isyarat itu tentu bukan anak-anak muda di padukuhan ini.”
“Ya. Aku juga berpendapat demikian.” desis pengawal itu.
“Carilah hubungan.” desis Mahisa Bungalan. Pengawal itu pun segera menyusup di dalam rimbunnya tetanaman di kebun dan pekarangan. Dengan tergesa-gesa ia meloncati pagar dan dinding halaman, menuju ke gardu yang masih saja mengumandangkan suara kentongan.
“Orang-orang itu telah menjadi gila.” geram para perampok.
Tetapi pemimpin perampok itu membentak, “Kita akan terus. Setelah kita berhasil, maka seluruh padukuhan ini akan kita bakar sampai lumat menjadi debu.”
Para perampok yang lain pun mengikutinya. Seorang di antara mereka telah membawa kawannya yang pingsan itu.
Sementara itu Mahisa Bungalan pun mengikutinya bersama para pengawal yang lain. Tetapi mereka tidak mengganggunya lagi. Jika orang-orang itu menjadi marah, maka mereka akan benar-benar kehilangan akal dan membakar setiap rumah di sekitar jalan padukuhan itu.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan harus menunggu. Jika kawan-kawannya dari padukuhan-padukuhan lain telah berkumpul, meskipun jumlahnya tidak sebanyak para perampok yang telah berada di padukuhan itu, barulah ia akan bertindak.
Ternyata suara kentongan yang mengejutkan itu telah menjadi pertanda bagi para pengawal yang datang dari padukuhan-padukuhan yang berbeda. Mereka pun secara naluriah, telah mencari hubungan dengan orang yang membunyikan kentongan itu. Karena sudah pasti bagi mereka, bahwa yang membunyikan itu bukan para perampok yang mendatangi padukuhan itu.
Pengawal yang memisahkan diri dari Mahisa Bungalan itulah yang kemudian memberikan penjelasan apa yang telah terjadi. Sementara itu, Mahisa Bungalan dan para pengawal yang berada di padukuhan itu telah mengikuti para perampok yang memang sudah mereka perhitungkan, akan mendatangi rumah saudagar kulit yang cukup kaya itu.
“Kita harus bertindak cepat,” berkata pengawal itu, “mereka sudah mendekati rumah itu.”
“Kita akan segera mencegahnya.” desis pemimpin pengawal yang berada di padukuhan-padukuhan di sekitar Kedung Sertu itu. Namun demikian ia memandang Mahisa Agni dan Witantra yang berada di tempat itu pula untuk mendapatkan pertimbangan. Namun ternyata bahwa keduanya tidak mengambil keputusan. Bahkan mereka telah mendekati seseorang yang nampaknya tidak ada bedanya dengan para pengawal yang lain, karena orang itu pun mempergunakan pakaian sehari-hari sebagaimana dipakai oleh rakyat di padukuhan di sekitar Kedung Sertu itu.
“Bagaimana pendapat Akuwu?” bertanya Mahisa Agni.
“Kita akan melakukan secepatnya.” jawab Akuwu Suwelatama yang ternyata telah ikut serta di dalam lingkungan para pengawal itu.
Demikianlah maka para pengawal yang kemudian dipimpin langsung oleh Akuwu Suwelatama itu pun telah dengan tergesa-gesa pergi ke rumah saudagar kulit yang cukup kaya, yang pada malam itu berada di dalam bahaya.
Sementara itu, ternyata para perampok itu telah berada di depan regol rumah saudagar kulit itu. Untuk beberapa saat mereka berkumpul di luar regol. Sementara pemimpin mereka telah berusaha untuk membuka regol yang diselarak dari dalam.
“Satu atau dua orang memanjat dinding,” perintahnya, “jika ada penjaga di dalam regol dan agaknya orang itu akan mengganggu, kalian aku beri wewenang untuk bertindak apa saja yang baik menurut kalian.”
Perintah itu tidak usah diulang. Dua orang di antara mereka pun segera meloncat dmding. Ternyata bahwa di dalam regol itu tidak terdapat seorang penjagapun.
Namun sebenarnyalah bahwa ada dua orang yang diupah oleh saudagar kulit itu untuk menjaga rumahnya. Tetapi karena yang datang itu jumlahnya jauh berlipat ganda, maka keduanya sama sekali tidak akan dapat berbuat apa-apa.
Ketika keduanya mendengar suara kentongan, maka mereka pun sudah menduga, bahwa sasaran yang pertama setelah pasukan pengawal ditarik dari daerah itu, adalah rumah saudagar kaya itu.
Karena itu, maka seorang dari keduanya telah berusaha mengamati jalan yang menuju ke rumah saudagar, itu. Ternyata yang mereka lihat sangat mendebarkan. Jumlahnya terlalu banyak, sehingga mereka tidak akan dapat berbuat apa-apa.
Dengan demikian, maka dengan tergesa-gesa orang itu pun kembali menemui kawannya. Kemudian keduanya menyelarak pintu dan dengan tergesa-gesa mereka telah mengetuk pintu dan memberitahukan apa yang akan terjadi.
“Jadi bagaimana menurut pendapatmu?” bertanya saudagar itu.
“Mereka akan segera datang,” jawab salah satu dari kedua penjaga itu, “jika sempat, kita sebaiknya meninggalkan tempat ini.”
“Tetapi bagaimana dengan perempuan dan anak-anak yang sudah tidur lelap?” bertanya saudagar itu.
Kedua penjaga itu menjadi ragu-ragu. Tentu tidak mungkin untuk membawa mereka. Sedangkan jika mereka harus dibangunkan, waktunya pun terlalu sempit.
Dalam keragu-raguan itu mereka telah mendengar selarak pintu regol dibuka. Sejenak kemudian mereka pun mendengar orang-orang yang ribut di halaman rumah.
“Mereka telah datang,” berkata penjaga itu, “tidak ada waktu lagi untuk menyingkir.”
Saudagar itu menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Aku terpaksa menyerahkan apa saja yang pernah aku miliki sebagai hasil jerih payahku selama ini. Agaknya itu akan lebih baik daripada aku harus mempertahankan nyawaku. Apalagi jika kemarahan orang-orang itu akan menyentuh anak istriku.” Ia berhenti sejenak, lalu, “Ternyata para pengawal tidak lagi memegang teguh janji mereka untuk melindungi rakyatnya. Aku tahu, satu dua orang tinggal di padukuhan ini. Namun dalam keadaan gawat ini, mereka tidak dapat berbuat apa-apa.”
Kedua penjaga itu tidak menjawab. Tetapi mereka pun menjadi cemas akan nasib mereka sendiri. Salah seorang dari mereka berkata, “Aku terpaksa melepaskan senjataku. Dengan senjata di lambung, maka mereka akan berprasangka buruk, seolah-olah aku akan melawan mereka.”
“Terserah kepada kalian,” berkata saudagar itu, “ tidak ada pilihan apa pun juga.”
Kedua penjaga itu pun kemudian melepaskan pedang di lambungnya, dan menyembunyikannya di bawah amben yang besar.
Sementara itu, demikian pintu regol terbuka, maka para perampok itu pun telah memasuki halaman yang cukup luas. Mereka pun segera berpencar sebelum pemimpin mereka memberikan perintah.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan dengan para pengawal yang mengikuti para perampok itu pun telah berada di sekitar halaman itu pula. Mereka masih menunggu, apakah para pengawal yang berada di padukuhan sebelah-menyebelah sempat juga datang.
“Jika mereka tidak datang, apa boleh buat,” desis Mahisa Bungalan, “tetapi jika kami yang ada di sini harus melawan perampok yang banyak itu, maka korban akan terlalu banyak jatuh. Aku harus membunuh sebanyak-banyaknya sebelum aku sendiri akan mereka lumatkan di sini.”
Tetapi Mahisa Bungalan tentu tidak akan dapat membiarkan perampokan itu terjadi di hadapan matanya.
Namun dalam pada itu, selagi para perampok itu sibuk mengatur diri di halaman, maka Akuwu Suwelatama telah menjadi semakin dekat. Meskipun pengawal yang dibawanya jumlahnya tidak cukup banyak dibanding dengan perampok yang datang dengan jumlah yang besar itu, namun Akuwu berpendapat, bahwa kesempatan itu tidak boleh disia-siakan.
Sementara itu, anak-anak muda padukuhan itu yang sedang bersembunyi, ketika mereka melihat sekelompok orang menelusuri jalan padukuhannya menuju ke arah para perampok yang mendatangi rumah saudagar kaya itu menjadi termangu-mangu. Di antara mereka justru menyangka, bahwa orang-orang itu adalah kawanan perampok itu pula yang menyusul kemudian. Namun ada di antara anak-anak muda itu berpendapat lain. Bahkan ketika iring-iringan itu lewat di depan gardu di simpang empat, maka seorang anak muda yang bersembunyi di balik gardu itu sempat melihat, bahwa di antara mereka adalah laki-laki yang pernah ikut serta membantu membuat gardu-gardu.
“Mereka adalah orang-orang yang selama ini tinggal di antara kami.” berkata anak muda itu di dalam hatinya. Karena itu maka ia pun yakin, bahwa iring-iringan kecil itu adalah iring-iringan orang-orang yang tinggal di padukuhan padukuhan itu dengan maksud baik. Dan karena itulah, maka timbul pula harapannya bahwa perampokan itu akan dapat dicegah.
Karena itulah, maka ia pun kemudian berusaha menemukan kawan-kawannya yang bersembunyi. Dengan nafas terengah-engah ia berkata, “Mereka akan membantu kami. Mereka adalah orang-orang yang tinggal di padukuhan-padukuhan sebelah menyebelah bersama saudara-saudara kami di padukuhan itu.”
“Mereka yang mencoba mempengaruhi cara hidup kami? Mereka yang mendesak kami untuk membuat gardu-gardu dan kentongan?” bertanya seorang kawannya.
“Ya.” jawab anak muda yang sempat memperhatikan iring-iringan itu.
“Apakah termasuk orang-orang asing yang berada di antara kita di padukuhan ini?” bertanya anak muda yang lain.
“Aku belum melihat. Tetapi mereka juga tidak ada di antara kita yang sedang bersembunyi. Mungkin mereka telah mengambil sikap sendiri atas para perampok itu.” jawab anak muda yang melihat iring-iringan itu.
Anak-anak muda itu pun kemudian berbincang di antara mereka. Sehingga akhirnya mereka menemukan kesepakatan untuk melihat apa yang akan terjadi.
“Jika terjadi benturan kekuatan, maka kita akan membantu. Tetapi jika tidak terjadi sesuatu, maka apa yang akan kita lakukan itu pun tentu sia-sia. Kita tidak akan dapat melawan para perampok itu tanpa bantuan orang-orang yang memiliki kemampuan cukup untuk mengimbangi mereka.” berkata seorang anak muda.
Kawannya sependapat. Karena itu maka katanya, “Kita akan mengumpulkan kawan-kawan kita. Kita akan melihat perkembangan keadaan.”
Demikianlah, maka anak-anak muda itu pun telah mencari kawan-kawan mereka. Bukan saja anak-anak muda, tetapi juga laki-laki yang masih sanggup untuk berbuat sesuatu bersama mereka.
Karena itulah, maka dengan senjata yang ada, mereka telah berkumpul. Sementara itu, mereka telah menugaskan dua orang anak muda yang paling berani untuk melihat apa yang terjadi di rumah saudagar kulit itu.
Dalam pada itu, maka para perampok di halaman rumah saudagar itu pun sudah siap untuk bertindak. Pemimpinnya telah naik ke pendapa mendekati pintu peringgitan yang tertutup.
Dalam keremangan lampu di pendapa itu, maka Mahisa Bungalan melihat, perampok yang garang itu telah mendekati pintu peringgitan dan siap untuk mengetuknya.
Mahisa Bungalan pun menjadi termangu-mangu. Sementara itu ia belum melihat para pengawal mendekati halaman itu.
Karena itu, maka ia merasa wajib untuk mencegahnya. Jika satu atau dua orang perampok telah berhasil masuk ke dalam rumah itu, maka orang-orang yang ada di dalam akan dapat dipergunakan sebagai perisai dengan mengancam akan menumpas mereka jika para pengawal tidak mengikuti perintah-perintah mereka.
Karena itu, ketika perampok itu sudah siap untuk mengetuk pintu, terdengar Mahisa Bungalan justru tertawa di belakang dinding halaman rumah saudagar yang kaya itu.
Pemimpin perampok yang sudah siap mengetuk pintu itu terkejut. Ketika ia berpaling, terdengar suara Mahisa Bungalan yang mengikuti tingkah laku pemimpin perampok itu dari sebatang pohon di luar halaman, “Kerjamu sia-sia.”
“Siapa kau?” teriak pemimpin perampok itu.
“Kau tidak akan dapat mengenal aku,” berkata Mahisa Bungalan, “tetapi dengan mudah aku akan dapat mengenalmu. Kau adalah pemimpin perampok yang bodoh dan tidak tahu diri.”
Sejenak pemimpin perampok itu termangu-mangu. Namun kemudian ia pun menjawab lantang, “Orang gila. Apakah kau kira caramu itu akan berhasil?”
“Tentu,” jawab Mahisa Bungalan, “kami sudah siap menumpas kalian.”
“Omong kosong!” pemimpin perampok itu menjadi semakin marah. Karena itu, maka katanya kemudian kepada orang-orangnya, “Cepat, cari orang itu di luar halaman.”
“Gila!” geram Mahisa Bungalan. “Orang itu termasuk orang yang keras kepala.”
Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun berkata pula, “Kau melakukan kebodohan yang kedua. Kau suruh anak buahmu untuk keluar regol dan membunuh dirinya sendiri. Kami sudah siap.”
“Omong kosong,” teriak pemimpin perampok, “jangan hiraukan. Cari dan tangkap orang itu. Tentu orang itu pula yang telah melempar salah seorang di antara kita dengan batu. Bawa orang itu kepadaku. Aku akan memenggal lehernya di pendapa ini. Jangan mudah ditakut-takuti. Jika ia mempunyai sekelompok orang yang cukup kuat melawan kami, mereka tidak akan berbuat dengan bersembunyi-sembunyi seperti itu. Cepat, sebelum orang itu lari.”
Tiga orang di antara para perampok itu segera bergeser menuju ke regol halaman.
Namun dalam pada itu, para pengawal di padukuhan itu yang tinggal berjumlah lima orang itu pun telah mendengar dan mengetahui apa yang dilakukan oleh Mahisa Bungalan. Karena itu, maka salah seorang dari mereka berdesis, “Anak muda itu memang berani. Karena itu ia dikirim oleh Akuwu untuk berada di sini.”
“Dengar,” pengawal yang lain, “perampok itu pun keras kepala. Ia memerintahkan orang-orangnya untuk mencari Mahisa Bungalan.”
Ternyata bahwa para pengawal itu pun dengan cepat menyesuaikan dirinya. Ia mendengar Mahisa Bungalan mengancam jika ada orang yang berani keluar regol halaman. Justru karena itu, maka mereka pun telah berusaha melakukan seperti yang dikatakan oleh Mahisa Bungalan itu.
Dengan hati-hati mereka merayap ke regol halaman. Seperti yang sudah mereka perhitungkan, maka beberapa orang telah keluar dari regol dan memburu ke arah suara Mahisa Bungalan.
Selagi Mahisa Bungalan menjadi berdebar-debar, ternyata para pengawal itu telah menyerang ketiga orang itu dengan tiba-tiba. Selain jumlah pengawal itu lebih banyak, juga karena para pengawal itu pun memiliki kemampuan yang cukup. Sehingga dengan demikian, maka tanpa sempat melawan, ketiga orang perampok itu telah terkapar di luar dinding halaman.
Mahisa Bungalan yang masih berada di cabang sebatang pohon itu pun melihat. Karena itu, maka ia pun kemudian berdesis, “Terima kasih.”
Para pengawal itu sempat memandanginya sejenak. Seorang diantara mereka menjawab, “Teruskan permainan ini. Agaknya cukup menarik sambil menunggu kawan-kawan kita yang lain.”
Mahisa Bungalan mengangguk. Sementara itu, ia melihat pemimpin perampok masih berada di pendapa. Agaknya ia tidak menghiraukan lagi orang-orangnya yang sedang mencari Mahisa Bungalan, sehingga perhatiannya telah tertuju kembali kepada pintu yang masih tertutup.
Dalam pada itu saudagar kulit yang berada di dalam rumah itu menjadi bingung. Ia pun mendengar suara dari luar halamannya. Meskipun tidak begitu jelas, tetapi ia pasti, bahwa ada kekuatan lain yang berusaha mencegah tingkah laku para perampok itu.
“Kau dengar suara itu?” bisik saudagar itu kepada kedua orang pengawalnya.
“Ya.” desis kedua orang pengawal itu.
“Bagaimana sikap kita?” bertanya saudagar itu pula. Kedua pengawal itu menjadi bimbang. Mereka telah meletakkan dan bahkan menyembunyikan senjata mereka.
Sementara itu, mereka mendengar pula suara Mahisa Bungalan di luar halaman, “He, pemimpin perampok yang dungu. Orang-orang yang kau perintahkan untuk mencari aku, ternyata tidak akan kembali lagi kepadamu. Bukankah aku sudah memperingatkan. Mereka terkapar di luar halaman. Tetapi mereka belum mati. Kami tidak sampai hati membunuh mereka, karena sebenarnyalah kau yang harus bertanggung jawab.”
Wajah pemimpin perampok itu menjadi tegang. Dengan lantang ia berteriak, “Bohong!”
“Kau tidak percaya? Lihatlah sendiri. Atau tentu kau tahu, bahwa seharusnya keduanya telah menangkap aku. Tetapi mereka tidak sempat melakukannya.” jawab Mahisa Bungalan.
Pemimpin perampok yang marah itu ternyata telah kehilangan kesabarannya. Dengan lantang ia berkata, “Kita akan keluar halaman. Kita akan melihat siapakah orang-orang gila yang telah berusaha mengganggu kita.”
Perintah itu memang mendebarkan. Jika mereka benar-benar menghambur keluar, maka lima orang pengawal dan Mahisa Bungalan sendiri, tentu tidak akan mampu melawan mereka.
Namun dalam pada itu, ternyata Akuwu Suwelatama mendengar suara Mahisa Bungalan. Karena itu, maka ia pun berdesis, “Aku akan mencarinya.”
“Akuwu jangan terpisah dari pasukan ini,” desis Mahisa Agni, “biar aku sajalah yang menemuinya.”
Akuwu tidak membantah. Sementara itu Mahisa Agni pun telah mendahului mencari hubungan dengan Mahisa Bungalan. Memang tidak begitu sukar, karena ketajaman pendengarannya segera dapat menuntunnya ke arah suara Mahisa Bungalan itu.
Kehadiran Mahisa Agni telah membuat Mahisa Bungalan semakin yakin bahwa pasukan pengawal di padukuhan-padukuhan di sekitar Kedung Sertu akan dapat menyelesaikan tugasnya. Karena itu maka katanya, “Sebaiknya kita membuka pertempuran sebelum satu atau dua orang di antara mereka memasuki rumah itu.”
Mahisa Agni pun ternyata sependapat. Karena itu, katanya, “Jika demikian, kami akan langsung menuju ke regol.”
“Silahkan, paman. Aku akan meloncat kedinding dan mengganggu mereka, sementara paman dan para pengawal mendekati dinding. Seterusnya terserah kepada paman.” berkata Mahisa Bungalan.
“Akuwu Suwelatama sendiri memimpin pasukan pengawal.”
“Bagus. Silahkan.” sahut Mahisa Bungalan. Mahisa Agni pun segera kembali ke pasukannya dan melaporkannya kepada Akuwu Suwelatama. Karena itu, maka Akuwu itu pun segera membawa pasukannya menuju ke pintu gerbang halaman rumah saudagar kulit yang cukup kaya itu.
Lima orang pengawal yang berada di padukuhan itu pun segera menggabungkan diri pula bersama mereka. Meskipun jumlah mereka tidak sebanyak para perampok di padukuhan itu, tetapi para pengawal itu yakin akan dapat mengatasi keadaan. Apalagi di antara mereka terdapat Akuwu Suwelatama sendiri yang dengan diam-diam telah berada di padukuhan itu pula.
Demikianlah maka sejenak kemudian, para pengawal sudah berada di hadapan regol halaman. Sementara itu Mahisa Bungalan pun telah meloncat ke atas dinding halaman sambil berkata, “He, para perampok yang dungu. Kalian tidak akan mendapat kesempatan sama sekali. Kami sudah benar-benar kehilangan kesabaran. Meskipun demikian, jika kalian bersedia berdiri di halaman dan meletakan senjata bersama-sama, masih ada kesempatan untuk mohon ampun kepada Akuwu Suwelatama. Kalian akan mendapat pengampunan meskipun kalian akan tetap dihukum. Namun hukuman kalian bukan hukuman gantung sebagaimana jika kalian ditangkap dalam pertempuran.”
Pemimpin perampok itu menjadi tegang. Dengan wajah yang membara ia berkata lantang “Bunuh orang itu!”
Beberapa orang berlari-lari ke arah Mahisa Bungalan sambil mengacukan pedang. Ujung pedang itu akan dapat mengenai tubuhnya jika ia tetap berdiri di tempat itu.
Tetapi orang-orang itu telah dikejutkan oleh sikap Mahisa Bungalan. Ia tidak melarikan diri atau meloncat keluar. Ketika orang-orang yang membawa pedang itu semakin dekat, Mahisa Bungalan justru meloncat ke halaman.
Orang-orang yang berlari-lari mendekatinya itu terkejut. Karena itu, justru mereka terhenti beberapa langkah di hadapan Mahisa Bungalan, sementara Mahisa Bungalan pun telah mencabut pedangnya pula.
“Marilah,” berkata Mahisa Bungalan, “aku tidak akan lari. Justru sebentar lagi kawan-kawanku akan memasuki halaman ini.”
Orang-orang yang memburunya itu pun termangu-mangu. Namun kemudian pemimpin mereka yang mendengar kata-kata Mahisa Bugalan itu pun berteriak, “Bunuh orang itu!”
Orang-orang yang mendekati Mahisa Bungalan bagaikan termangu. Mereka pun mulai beringsut.
Namun pada saat itu, tiba-tiba saja pintu halaman itu pun telah terbuka selebar-lebarnya. Beberapa orang pun telah menerobos masuk langsung berpencar. Tidak hanya satu atau dua orang. Tetapi sekelompok orang dalam pakaian sebagaimana orang-orang padukuhan itu.
”Nah,” berkata Mahisa Bungalan, ”bukankah aku tidak membual.”
Pemimpin perampok itu mengeram. Dipandanginya orang-orang yang berpencar di halaman, sebagaimana orang-orangnya sendiri.
“Gila! Apakah kalian sudah ingin mati?” berteriak pemimpin perampok itu.
“Tentu tidak.” sahut Akuwu Suwelatama yang juga dalam pakaian orang kebanyakan, “Kami sudah lama menunggu kedatangan kalian. Sekarang kita bertemu. Mudah-mudahan kami sempat membuat penyelesaian.”
“Bagus,” berkata pemimpin perampok itu, “semula , kami ingin menyelesaikan pekerjaan kami. Baru kemudian kami akan memancing kalian jika kalian mempunyai keberanian. Ternyata kalian memang orang-orang yang berani. He, apakah hanya sekian banyak orang padukuhan ini yang berani keluar?”
“Sudah cukup banyak,” jawab Akuwu Suwelatama, “di luar tinggal ada dua orang kami yang menunggui regol dan mengamati keadaan.”
“Jika demikian, kami akan menyelesaikan kalian dengan cepat.” berkata pemimpin perampok itu.
Namun dalam pada itu, anak muda yang berusaha mencari hubungan dengan para pengawal itu pun telah menemui dua orang yang berada di regol. Seorang pengawal sedangkan yang seorang adalah Witantra sendiri.
“Anak-anak muda padukuhan ini akan dapat membantu.” berkata anak muda itu.
“Kalian mampu bertempur?” bertanya Witantra.
“Sejauh dapat aku lakukan.” jawab anak muda itu.
“Lawan itu sangat berbahaya,” berkata Witantra, ”karena itu kalian akan dapat membantu kami dengan cara yang khusus. Pulanglah ambillah obor sebanyak-banyaknya. Kemudian kalian datang beramai-ramai mengepung halaman rumah ini di luar dinding. Dengan demikian maka kalian akan mempengaruhi keberanian para perampok itu meskipun kalian tidak akan bertempur secara langsung. Biarlah kami menghadapi mereka.”
Anak-anak muda itu termangu-mangu sejenak. Namun kemudian ia pun berdesis, “Baik. Aku akan segera kembali dengan obor-obor itu.”
Dengan tergesa-gesa anak muda itu pun meninggalkan Witantra kembali ke kawan-kawan mereka. Dengan gagap dan nafas terengah-engah anak muda itu menceriterakan apa yang dikatakan oleh Witantra.
“Bagus!” desis orang yang sudah melampaui masa mudanya, “Aku mengerti maksud orang itu. Aku setuju. Mari kita siapkan obor sebanyak-banyaknya. Obor minyak dan obor biji jarak yang kita beri tangkai bambu yang agak panjang. Kira-kira setinggi pagar halaman rumah saudagar itu.”
Anak-anak muda itu pun segera mengambur ke rumah masing-masing setelah mereka sepakat untuk berkumpul lagi di tempat itu. Adalah kebiasaan mereka menyimpan obor di rumah. Ada yang menyimpan obor minyak. Ada yang menyimpan biji jarak kering.
Dalam pada itu selagi anak-anak muda itu mengumpulkan obor, maka di halaman rumah saudagar kulit itu pun telah terjadi ketegangan yang semakin meningkat.
Akuwu Suwelatama telah menyiapkan para pengawal, termasuk Mahisa Bungalan dan Mahisa Agni untuk bertempur menghadapi perampok yang jumlahnya lebih banyak. Sementara itu Witantra dan seorang pengawal berada di regol sambil mengamati keadaan.
“Aku memberi kalian kesempatan,” teriak pemimpin perampok itu, “jika kalian mohon maaf kepadaku, maka rakyat padukuhan ini akan aku ampuni. Tetapi justru karena tingkah laku kalian, maka kita akan mengambil penyelesaian yang tuntas. Upeti apa yang harus kalian serahkan kepadaku setiap sepekan satu kali.”
“Upeti yang sekarang sudah siap adalah ujung pedang.” jawab Akuwu Suwelatama, “He, apakah kami boleh menyerahkan upeti kami sekarang? Ujung pedang yang akan mengoyak perut kalian.”
“Orang yang tidak tahu diri,” geram pemimpin perampok, “jangan menunggu lagi. Musnahkan mereka, karena mereka sudah tidak mau mendengarkan nasehatku agar mereka mohon maaf kepadaku.”
Para perampok itu pun segera bersiap. Nampaknya perkelahian itu akan memberikan kegembiraan kepada mereka. Jumlah lawan mereka lebih sedikit dari jumlah para perampok. Apalagi mereka hanyalah orang padukuhan yang tidak terbiasa memegang senjata.
Dalam pada itu, dua orang pengawal saudagar yang berada di dalam rumah itu pun telah mengambil keputusan lain. Dengan tergesa-gesa mereka telah mengambil senjata mereka kembali. Bahkan saudagar kulit itu sendiri telah memungut tombaknya pula, meskipun ia bukan orang yang memiliki ilmu yang tinggi.
“Tenangkan keluarga Ki Saudagar yang terbangun,” berkata kedua pengawalnya, “aku akan menunggui pintu depan. Jika mereka mencoba memaksa membuka pintu, maka kami berdua akan menghadapi. Nampaknya di luar mereka mendapat perlawanan yang cukup meyakinkan.”
Saudagar itu termangu-mangu. Namun ia pun kemudian pergi ke bilik tengah untuk menengok isteri dan anak-anaknya yang tidur nyenyak. Namun ternyata bahwa isteri saudagar itu telah terbangun meskipun ia tidak berani bergerak sama sekali.
“Kakang.” desisnya ketika ia melihat saudagar itu memasuki biliknya.
“Tenanglah,” berkata saudagar itu, “nampaknya kita tidak berdiri sendiri. Di luar nampaknya para perampok itu akan mendapat perlawanan. Sementara dua orang pengawal kita pun sudah siap.”
“Aku takut, kakang.” desis perempuan itu.
“Jangan takut. Jagalah anak-anak agar mereka tidak terbangun dan apalagi berteriak-teriak. Aku akan berada di ruang tengah.” berkata saudagar itu.
“Jangan tinggalkan kami.” desis perempuan itu.
“Tidak. Aku berada di ruang tengah dengan tombak ini di tangan.” jawab saudagar itu.
Isterinya terdiam. Namun kemudian ia pun berdesis, “Hati-hatilah, kakang.”
Saudagar itu kemudian pergi ke ruang tengah. Di belakang pintu pringgitan kedua orang pengawalnya telah bersiap-siap dengan pedang terhunus.
Dalam pada itu, telah mulai terdengar dentang senjata di halaman. Para perampok telah mulai menyerang para pengawal yang mereka sangka adalah rakyat padukuhan itu dan sekitarnya yang memiliki sedikit keberanian dan telah mendapat sedikit latihan kanuragan dari para pengawal yang telah meninggalkan padukuhan itu.
Para perampok itu menyangka bahwa dalam waktu singkat mereka akan menebas lawan mereka seperti menebas ilalang. Senjata mereka akan segera merah oleh darah. Dan mayat pun akan segera terbujur lintang di halaman.
“Seterusnya tidak seorang pun akan berani melakukannya lagi.” berkata para perampok itu di dalam hatinya.
Mereka sama sekali tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali membunuh sebanyak-banyaknya dan membuat mereka jera. Jika demikian, maka apa yang akan mereka lakukan seterusnya, tidak seorang pun yang akan berani menentang.
Tetapi ketika senjata mereka mulai membentur senjata orang-orang yang mereka sangka orang-orang yang sekedar sombong dan dungu, mereka menjadi terkejut. Benturan itu telah mengguncang tangan mereka. Bukan sekedar kebetulan. Tetapi tenaga orang-orang yang mereka anggap dungu itu terlalu kuat.
“Ada iblis yang merasuk ke tangan itu.” geram salah seorang perampok yang kebetulan telah menyerang Mahisa Agni. Namun yang lebih mengejutkan adalah orang yang menyerang Mahisa Bungalan.
Dengan tidak disangka-sangka Mahisa Bungalan telah memutar pedangnya pada saat benturan terjadi. Karena itu, maka pedang lawannya pun bagaikan telah terhisap oleh putaran itu, sehingga lawannya yang tidak menduga sama sekali akan hal itu, telah kehilangan kesempatan untuk mempertahankan pedangnya.
Orang itu meloncat surut ketika pedangnya terlepas dan terlempar beberapa langkah dari padanya.
Mahisa Bungalan tertawa. Katanya, “Kau terlalu merendahkan martabat kami dalam olah kanuragan. Kau sangka hanya para perampok saja yang mampu bermain senjata. Tetapi sekarang kau harus melihat kenyataan, bahwa rakyat padukuhan ini pun telah mampu meningkatkan dirinya dan mampu melawanmu.”
“Persetan!” geram orang yang kehilangan senjatanya, ”kau sangka bahwa kemenanganmu yang kebetulan itu dapat kau banggakan?”
“O,” desis Mahisa Bungalan, “jadi kau anggap yang telah terjadi ini hanya sekedar kebetulan? Baiklah. Aku beri kesempatan kau mengambil senjatamu. Kemudian lawan aku.”
“Kau terlalu sombong,” geram perampok yang kehilangan senjata itu, “apakah kau tidak memperhitungkan kemungkinan, bahwa dengan demikian aku akan dapat memenggal lehermu?”
Mahisa Bungalan tertawa. Katanya, “Pertempuran telah membakar halaman ini. Marilah, jangan merajuk lagi.”
Kemarahan yang tidak tertahankan telah membakar jantung orang itu. Dengan ragu-ragu ia bergeser mendekati pedangnya. Tetapi Mahisa Bungalan sama sekali tidak mencegahnya.
Namun dalam pada itu, selagi Mahisa Bungalan menunggu orang itu mengambil pedangnya, ternyata pemimpin perampok itu telah melakukan sesuatu yang mendebarkan jantung Mahisa Bungalan.
Pemimpin perampok yang kurang memperhitungkan keadaan itu telah meninggalkan arena, karena menurut perhitungannya, orang-orangnya akan cepat menyelesaikan pertempuran itu.
Pemimpin perampok itu telah membuat langkah tersendiri. Selagi pertempuran itu berkobar, ia akan memasuki rumah saudagar kulit itu untuk merampas harta bendanya. Jika pertempuran itu selesai, maka ia pun telah selesai pula, sehingga semuanya dapat berlangsung cepat.
Karena itu, maka pemimpin perampok itu pun tidak menghiraukan lagi pertempuran yang sedang terjadi di halaman. Dengan tangkai pedangnya ia telah mengetuk pintu pringgitan rumah saudagar kulit itu.
Tetapi kedua orang penjaga yang berada di pringgitan tidak mau membukanya. Bahkan mereka telah menyiapkan diri untuk melawan siapa pun yang memasuki pintu itu.
Pemimpin perampok itu menjadi sangat marah. Karena itu, maka ia pun telah bertekad untuk memecahkan pintu itu. Meskipun ia mengerti bahwa pintu itu diselarak, tetapi ia yakin akan kekuatannya, bahwa ia akan dapat memecah pintu itu.
Karena itu, maka ia pun memerintahkan seorang pengikutnya untuk berjaga-jaga, sementara ia akan memecahkan pintu itu.
Mahisa Bungalan ternyata tidak sempat melayani perampok yang dengan ragu-ragu memungut pedangnya. Ketika ia melihat pemimpin perampok itu mundur dua langkah untuk mengambil ancang-ancang, maka Mahisa Bungalan pun telah bersiap-siap.
Sejenak kemudian maka pintu pringgitan rumah saudagar itu telah berderak. Ketika pintu itu pecah, maka Mahisa Bungalan pun segera meloncat memburunya, tepat pada saat perampok yang memungut pedangnya itu berhasil meraih senjatanya.
“Pengecut,” perampok itu berteriak, “jangan lari!”
Tetapi teriakan itu terputus ketika ia melihat, bahwa orang yang disangkanya melarikan diri itu justru telah mendekati pemimpinnya.
Pada saat pintu berderak, maka seorang perampok yang mengikuti pemimpinnya itu dengan serta merta telah menerobos masuk. Namun pada saat itu, dua ujung pedang telah menahannya sehingga orang itu terkejut dan meloncat surut.
Sementara itu, pemimpin perampok yang telah memecahkan pintu itu tidak sempat memasuki rumah saudagar kulit itu, karena Mahisa Bungalan telah berdiri di belakangnya sambil mengacukan senjatanya, “Jangan bodoh. Kau akan mati paling awal.”
“Gila!” geram pemimpin perampok itu, “Kau akan membunuh diri, he?”
“Tinggalkan pintu itu,” desak Mahisa Bungalan, “ jika kau ingin bertempur, marilah.”
Pemimpin perampok itu menjadi sangat marah. Maka ia pun tidak bertanya lebih lanjut. Dengan serta merta, ia pun segera menyerang Mahisa Bungalan dengan kemarahan yang meluap-luap.
Tetapi ternyata pemimpin perampok itu telah membentur kekuatan yang tidak diduganya. Ia menyangka bahwa ia akan dapat dengan mudah menguasai lawannya. Kemudian membunuhnya dan meneruskan niatnya memasuki rumah yang pintunya telah dipecahkannya itu.
Tetapi ternyata anak muda yang telah mengganggunya itu mampu mengimbangi kecepatannya bergerak dan bahkan kekuatannya.
“Iblis buruk,” geramnya, “kau menyombongkan kemampuanmu yang tidak berarti itu?”
Mahisa Bungalan tidak menjawab. Tetapi ia pun kemudian membalas serangan itu dengan serangan pula.
Dalam pada itu, kedua penjaga rumah saudagar itu pun telah berhadapan dengan perampok yang seorang, yang telah melangkah surut ke pendapa ketika dua orang penjaga rumah itu mendesaknya dengan pedang teracu.
Perkelahian pun tidak dapat dihindarkan lagi. Kedua orang penjaga rumah itu telah bertempur melawan perampok yang seorang.
Dalam pada itu, maka pertempuran telah berkobar dengan sengitnya. Ternyata jumlah para perampok yang banyak itu telah berpengaruh pula. Para pengawal yang memiliki bekal olah kanuragan itu pun harus mengerahkan segenap kemampuannya, karena sebagian besar dari mereka harus bertempur melawan dua orang lawan.
Witantra yang melihat kesulitan para pengawal pun kemudian memasuki arena pula, setelah ia minta agar salah seorang pengawal mengawasi pengawal yang lain mengawasi keadaan di luar regol.
“Jika kalian yakin akan ada apapun juga, masuklah, dan bantulah kawan-kawanmu,” berkata Witantra, “atau jika anak-anak muda padukuhan ini telah datang dengan obor di tangan.”
Pengawal itu mengangguk. Demikian ia meninggalkan halaman keluar, regol menemui seorang pengawal yang lain, Witantra telah terjun ke dalam arena pertempuran.
Seperti Mahisa Agni, Witantra berusaha mengurangi lawan sebanyak-banyaknya. Tetapi seperti juga Mahisa Agni, Witantra hanya melumpuhkan lawannya, tetapi ia berusaha menghindari kematian. Para perampok itu sebaiknya ditundukkan tanpa mengorbankan hidup mereka. Tetapi dalam pertempuran seru, para pengawal tidak dapat dipersalahkan apabila mereka pun telah membunuh lawan-lawan mereka, sebagaimana para perampok itu juga berusaha untuk membunuh. Karena itu, maka keduanya pun telah bekerja keras di tempat yang terpisah.
Ternyata Akuwu Suwelatama sempat memperhatikan keduanya. Bagaimanapun juga ia menjadi sangat kagum melihat ketrampilan mereka bergerak meskipun keduanya telah menjadi semakin tua. Seolah-olah keduanya sama sekali tidak berbuat apa-apa. Lawan-lawan merekalah yang datang, kemudian terlempar keluar gelanggang oleh luka yang tergores di tubuh mereka.
Justru karena kehadiran Mahisa Agni dan Witantra itulah, maka lambat laun, para pengawal semakin mendapat kesempatan untuk menyesuaikan diri. Lawan mereka susut dengan cepat, meskipun jumlah para pengawal pun telah berkurang. Tetapi pada umumnya para pengawal memiliki kemampuan yang cukup untuk mempertahankan diri dalam pertempuran yang kalut itu. Jika seseorang terdesak oleh dua orang lawan, maka tiba-tiba saja pengawal yang lain telah mengisi tempatnya meskipun dengan demikian ia telah meninggalkan lawannya. Namun pada saat yang singkat, kedudukannya telah digantikan pula oleh kawanya yang lain pula.
Dengan demikian, maka para perampok itu kadang-kadang memang menjadi agak bingung. Kesempatan yang demikian itulah yang kemudian dipergunakan oleh para pengawal untuk menyesuaikan diri lebih mapan lagi.
Karena itulah maka setiap kali para perampok itu telah kehilangan korbannya. Bahkan kadang-kadang justru mereka sendirilah yang terjebak ke dalam ujung senjata.
Dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun telah bertempur dengan sengitnya melawan pemimpin perampok itu di pendapa. Ternyata pemimpin perampok itu memang memiliki kemampuan untuk melakukan kewajibannya. Untuk beberapa saat ia mampu mengimbangi kemampuan Mahisa Bungalan. Namun dalam pada itu, Mahisa Bungalan memang belum sampai ke puncak kemampuannya.
Sementara itu, dua orang penjaga rumah saudagar kulit itu pun telah bertempur dengan segenap kemampuan mereka. Ternyata bahwa keduanya harus berjuang untuk tetap dapat mempertahankan diri melawan seorang perampok yang garang.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar