PANASNYA BUNGA MEKAR : 17-03
Tetapi salah seorang dari kedua lawannya telah meloncat dengan senjata terjulur, sehingga Ki Dukut harus menghindarinya. Namun demikian ia menghindar yang seorang telah menyerangnya sambil berteriak nyaring.
“Gila,” bentak Ki Dukut, “kau akan memanggil orang-orang Kediri itu”
“Apa pedulimu“ yang lain justru berteriak pula, “aku memang sudah siap untuk mati. Mati di tanganmu atau mati di tangan orang-orang Kediri”
Ki Dukut mengumpat. Katanya, “Licik. Kau sengaja memancing agar orang-orang Kediri itu datang kemari”
“Aku tidak takut terhadap orang-orang Kediri“ salah seorang dari kedua lawan Ki Dukut itu berteriak, “salah seorang dari kedua lawan Ki Dukut itu berteriak semakin keras, “apa artinya mati bagiku. Kawan-kawanku sudah mati semuanya. Dan kami berdua pun tidak akan takut lagi untuk mati”
Ki Dukut menjadi semakin marah. Ia pun kemudian berusaha membunuh keduanya semakin cepat.
Tetapi kedua orang itu telah dengan sengaja menarik diri keluar dari gerumbul-gerumbul perdu, justru mendekati lingkaran pertahanan orang-orang Kediri. Apalagi mereka masih saja berteriak-berteriak tidak menentu”
Ki Dukut menjadi berdebar-debar. Ia gelisah bukan karena kemampuan lawannya. Tetapi jika orang-orang. Kediri itu mendengar, maka mereka akan berdatangan.
Sebenarnyalah teriakan-teriakan itu lamat-lamat terdengar oleh orang Kediri. Meskipun mereka tidak segera menyadari keadaan, namun mereka segera tertarik kepada suara yang bagi mereka terdengar sangat aneh itu. Apalagi ketika teriakan-teriakan itu rasa-rasanya saling susul menyusul dibarengi dengan umpatan-umpatan kasar.
“Suara apakah sebenarnya itu“ seorang pengawal yang sedang bertugas berdesis kepada kawannya.
“Kita wajib mengetahuinya. Tetapi kita harus berhati-hati. Siapa tahu, sekelompok lawan sedang memancing kita” jawab yang lain.
Belum lagi pengawal-pengawal itu mengambil sikap, Mahisa Agni dan Witantra mendekati mereka sambil bertanya, “Apakah yang kalian dengar?”
“Teriakan-teriakan dan umpatan-umpatan kasar. Tetapi lamat-lamat“ jawabpengawal itu.
“Aku juga mendengar” jawab Mahisa Agni, “biarlah kami berdua melihatnya, hati-hati. Biarlah para pengawal menyelesaikan tugas mereka di sini”
“Apakah kami berdua perlu ikut serta?“ bertanya pengawal itu.
Tetapi Mahisa Agni menggeleng, “Tidak. Biarlah kami berdua saja menengoknya. Lakukanlah tugas kalian disini sebaik-baiknya. Aku sudah minta diri kepada Pangeran yang sedang sibuk”
Dengan tergesa-gesa Mahisa Agni dan Witantra pun kemudian pergi ke arah suara itu. Para pengawal hanya dapat memandanginya dengan hati yang berdebar-debar. Namun mereka pun tahu, siapakah kedua orang itu. Meskipun para pengawal itu tidak tahu latar belakang dari kehidupan Mahisa Agni dan Witantra yang sebenarnya, namun mereka mengetahui bahwa keduanya adalah 6rang yang pilih tanding.
Sementara itu Mahisa Agni dan Witantra pun menjadi semakin dekat dengan sumber suara itu. Karena itu, maka merekapun mendengar semakin jelas. Seperti yang mereka duga, maka telah terjadi pertempuran yang sengit, dibalik gerumbul-gerumbul perdu. Namun demikian, keduanya tidak segera mengetahui, siapakah yang telah bertempur itu.
Tetapi dengan umpatan-umpatan kasar, Mahisa Agni dan Witantrapun segera mengetahui, bahwa salah satu pihak dari mereka yang bertempur itu adalah Ki Dukut.
Ki Dukut pun bertempur dengan marahnya. Semakin keras lawannya berteriak, jantung Ki Dukut pun semakin cepat berdentang. Namun dengan demikian, maka ia pun bertempur semakin garang.
Dua orang berilmu hitam itu ternyata bukan lawannya. Keduanya segera terdesak. Karena itu, maka kedua orang itupun berusaha untuk memperpanjang umur mereka dengan berloncat-loncatan dan bahkan memancing Ki Dukut untuk keluar semakin jauh dari gerumbul-gerumbul perdu itu.
Untuk bertahan, agar mereka tidak terlempar terlalu jauh keluar lindungan batang-batang perdu itulah yang menyebabkan Ki Dukut tidak segera dapat membunuh lawannya. Ia berusaha agar tidak terpancing terlalu jauh. Namun dengan demikian, maka geraknya pun menjadi semakin terbatas.
Mahisa Agni dan Witantra menjadi semakin dekat dengan arena perkelahian itu. Namun demikian keduanya melihat bayangan yang berputar-putar dalam arena perkelahian, maka Ki Dukut pun sempat melihatnya pula.
Secara naluriah, jantung Ki Dukut menjadi berdebaran. Kedua orang yang datang itu menurut tanggapan perasaan Ki Dukut. tentu bukan orang kebanyakan. Langkah mereka ringan seperti kapas, sementara dengan yakin keduanya mendekati pertempuran, yang kasar itu.
Pada saat terakhir itu, yang dapat dilakukan Ki Dukut adalah mempercepat penyelesaian. Ia berusaha untuk saat yang terakhir kalinya, menyelesaikan kedua orang lawannya, sehingga dengan demikian kedua orang itu tidak akan dapat memberikan kesaksian kepada siapapun, apa yang telah dilakukannya di arena pertempuran itu.
Tetapi kedua orang itu pun tidak menyerah begitu saja kepadanya. Keduanya masih tetap bertahan dengan gigihnya.
Meskipun demikian, ternyata kecepatan bergerak Ki Dukut telah berhasil mendesak keduanya. Terdengar salah seorang dari kedua orang itu mengeluh. Nampak dalam kegelapan, orang itu terhuyung-huyung. Namun sejenak kemudian ia telah berdiri tegang. Senjatanya masih berada di tangannya meskipun ternyata ia telah terluka di pundaknya.
Ki Dukut masih ingin meloncat menyerang dan segera membunuh yang lain pula. Namun bayangan yang datang itu sudah terlalu dekat, sehingga Ki Dukut itu pun mengumpat, “Pengecut. Orang-orang itu tentu orang-orang Kediri yang mendengar teriakan-teriakan pengecut itu. Dengan sengaja kalian telah mengundang mereka. Ternyata kalian lebih senang ditangkap, diikat di belakang punggung kuda dan diseret sampai ke Kota Raja Kediri”
Kedua orang itu tidak menjawab. Namun Ki Dukut ti dak sempat lagi berbuat sesuatu.
Agaknya Ki Dukut itu telah mempunyai perhitungan tersendiri melihat kehadiran kedua orang Kediri itu. Siapapun keduanya, namun itu berarti bahwa Ki Dukut harus bertempur melawan empat orang, Namun jika benar-benar tertangkap oleh orang-orang Kediri, maka ia akan menjadi bertambah malu, sementara dendamnya masih belum dapat diselesaikan. Dendamnya kepada Pangeran Kuda Padmadata dengan keluarganya, dan dengan orang-orang yang telih berpihak kepada Pangeran itu.
Dengan demikian, maka Ki Dukut pun harus cepat mengambil keputusan pula. Demikian kedua orang itu mendekat maka Ki Dukut yang belum berhasil membunuh lawannya itupun segera meloncat meninggalkan kedua lawannya yang seorang diantaranya mereka telah terluka”
Mahisa Agni dan Witantra termangu-mangu. Mereka tidak mengetahui medan yang mereka hadapi. Karena itu mereka tidak mengejar seseorang yang telah melarikan diri itu. Yang mereka jumpai kemudian adalah dua orang berilmu hitam, sementara yang seorang telah terluka karenanya.
Ternyata kedua orang itu pun tidak lagi mempunyai niat untuk melawan. Karena itu, maka mereka pun segera menyatakan menyerahkan diri mereka kepada kedua orang yang mereka duga juga orang Kediri pula.
Mahisa Agni dan Witantra pun kemudian mengambil senjata kedua orang itu, yang telah dilemparkannya. Sejenak mereka saling memandang, namun kemudian Mahisa Agni bertanya, “Siapakah kalian berdua?”
“Aku adalah pengikut pemimpin-pemimpin kami yang telah kalian bunuh di medan” jawab salah seorang dari keduanya, “kami berdua berhasil melarikan diri. Tetapi kami telah bertemu dengan orang yang akan membunuh kami”
“Siapakah orang itu?“ bertanya Witantra.
“Ki Dukut Pakering” jawab orang yang terluka.
“Mahisa Agni dan Witantra terkejut mendengar jawaban itu. Ternyata orang itu adalah Ki Dukut Pakering.
Namun orang itu tentu sudah jauh. kesempatan yang cukup itu tentu akan berhasil menyelamatkannya.,
“Sayang” desis Mahisa Agni, “aku tidak tahu sebelumnya. Jika saja aku tahu bahwa orang itu adalah Ki Dukut Pakering, maka aku berkepentingan”
“Kami pun berkepentingan. Tetapi ternyata kemampuan kami berdua di bawah kemampuannya. Jika saja kalian tidak datang kemari, mungkin kami sudah mati. Bahkan jika saja Ki Dukut bertahan melawan kita berempat, maka kitapun akan mati pula” jawab salah seorang dari kedua orang itu.
Mahisa Agni menarik natas dalam-dalam. Ia sadar, bahwa Ki Dukut mempunyai kemampuan yang tinggi. Tetapi Mahisa Agni pun mengerti, bahwa ki Dukut bukan orang yang tidak terlawan.
Namun ia tidak mengatakannya kepada kedua orang yang sudah menyerah itu. Bahkan kemudian iapun berkata, “Marilah. Kalian akan aku serahkan kepada para pengawal”
Kedua orang itu tidak membantah. Keduanya pun kemudian berjalan di depan, menuju ke tempat orang-orang Kediri sibuk dengan bermacam-macam kewajiban. Mengurusi orang-orang yang terbunuh, yang menyerah dan mengurusi mereka yang terluka.
Namun dalam pada itu, para pengawal yang bertugas berjaga-jaga pun tidak lengah mengamati keadaan. Apalagi mereka masih memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan lain yang akan dapat terjadi.
Kedatangan Mahisa Agni dan Witantra membawa dua orang tawanan itu sangat menarik. Apalagi ketika kemudian Mahisa Agni mengatakan bahwa mereka telah melihat Ki Dukut Pakering. Tetapi karena mereka tidak menyadarinya, maka orang itu dibiarkannya melarikan diri.
“Sayang” desis Ki Wastu, “kenapa orang itu tidak dapat kita tangkap. Ia akan tetap merupakan ancaman bagi kita samuanya dimasa mendatang”
“Perburuan itu harus dilanjutkan“ Mahisa Bungalan lah yang menyahut.
Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Meskipun ia pun sadar, bahaya yang akan dapat ditimbulkan oleh Ki Dukut Pakering, namun tidak akan dapat diambil keputusan dengan tergesa-gesa.
Dalam pada itu, Pangeran Kuda Padmadata yang masih muda seperti juga Mahisa Bungalan, apalagi ia merasa mempunyai kepentingan langsung, maka dengan suara yang bergetar oleh kemarahan berkata, “Apapun caranya, orang itu harus tertangkap. Aku berterima kasih, bahwa Ki Dukut telah memberikan ilmu kepadaku. Namun apa yang dilakukan pada saat-saat terakhir benar-benar sudah-melampaui batas-batas kemanusiaan. Karena itu, maka apapun caranya, orang itu harus tertangkap. Hidup atau mati”
Mahisa Agni menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Baiklah. Kita akan memikirkan caranya. Sementara ini, kita bersiap-siap untuk kembali ke Kediri esok pagi-pagi”
Pangeran Kuda Padmadatapun tidak menjawab lagi. Betapapun jantungnya bergejolak, namun ia pun menyadari apa yang sedang dihadapinya. Apalagi saat itu ia bersama dangan isteri dan anaknya laki-laki, yang termasuk menjadi sasaran dendam Ki Dukut yang nampaknya tidak akan kunjung padam.
Dalam pada itu, maka Pangeran Kuda Padmadata pun kembali sibuk dengan keadaan yang dihadapinya waktu itu. Ia memerintahkan mengubur orang-orang yang terbunuh di peperangan, yang semuanya adalah orang-orang berilmu hitam. Para pengawal Kediri seperti yang sudah terjadi, tidaklah berkurang. Ada beberapa orang terluka parah. Sementara ada pula yang luka-luka ringan, namun masih dapat melakukan tugasnya. Sementara di antara orang-orang berilmu hitam yang terluka, tetapi masih dapat ditolong jiwanya pun telah mendapat perawatan seperlunya.
“Untunglah, Kediri tidak terlalu jauh lagi” desis Mahendra kepada kedua anak-anaknya, Mahisa Murti dan Mahisa Pukat.
“Ya” jawab Mahisa Murti, “nampaknya tugas para pengawal manjadi semakin berat. Kecuali kekuatan mereka berkurang karena di antara mereka telah terluka, agaknya mereka mendapat tugas yang terlalu berat”
“Besok kita akan mencapai Kediri” berkata Mahisa Pukat, “aku kira benar kakang Mahisa Bungalan yang menganggap bahwa perburuan harus segera dilakukan selagi Ki Dukut masih berada di sekitar tempat ini”
“Malam ini Ki Dukut sudah berada di tempat yang sama sekali tidak kita kenal, dan tidak kita duga” berkata Mahendra, “memang agak berbeda dengan berburu harimau”
Mahisa Pukat mengerutkan keningnya. Namun kemudian katanya, “Tentu semakin cepat semakin baik”
“Nampaknya kau sudah terpengaruh sikap kakakmu. Sudah aku katakan, kita harus berhati-hati manghadapi orang seperti Ki Dukut. Ternyata ia licin seperti belut. Meskipun tidak merupakan wataknya sejak semula, namun ia sekarang menjadi sangat licik. Agaknya keadaan telah memaksanya, dan ia tidak dapat mengelak lagi” berkata Mahendra kemudian.
Kedua anak-anaknya tidak membantah lagi. Mereka pun mengerti, bahwa orang itu adalah orang yang sangat berbahaya.
Sebenarnyalah, bahwa Ki Dukut yang berhasil melepaskan diri itu, benar-benar telah meniadi seorang yang kehilangan dirinya sendiri. Semakin lama ia telah terperosok semakin dalam ke lubang yang digalinya sendiri, sehingga ia tidak akan mungkin keluar lagi. Semakin lama dan pasti, maka Ki Dukut telah berubah menjadi orang lain, yang tidak kurang kasar, buas dan liar dari orang-orang berilmu hitam itu sendiri. Nalar dan pertimbangan perasaannya bagaikan telah menjadi kelam, seperti kelamnya malam di musim basah, di saat langit disaput oleh mendung yang tebal.
Dalam pada itu, Ki Dukut itu pun kemudian seorang diri berusaha untuk kembali ke padepokannya. Meskipun ia tidak dapat membunuh kedua orang pengikut ilmu hitam itu, namun ia yakin bahwa kedua orang itu tentu akan ditangkap oleh para pengawal dari Kediri.
“Akulah yang akan menjadi pemimpin mereka” berkata Ki Dukut, “aku akan memerintah mereka. Aku tidak akan bertindak dungu seperti Macan Wahan. Jika saja ia mendengarkan nasehatku, maka orang-orangnya tidak akan hancur menjadi debu”
Ki Dukut menggeretakkan giginya dan menghentakkan tangannya. Tetapi semuanya itu telah terjadi. Betapapun ia menyesali, namun orang-orang terbaik dari padepokan Macan Wahan dan tiga orang kawannya telah mati dan tertangkap.
Tetapi Ki Dukut telah mengenal beberapa orang lain di lingkungan orang-orang berilmu hitam. Ia akan menghubungi mereka dengan modal padepokan Macan Wahan yang telah menjadi lumpuh itu.
“Aku harus berbuat dengan cepat, sebelum orang-orang Kediri melacak aku sampai ke padepokan itu” berkata Ki Dukut di dalam hatinya.
Sementara Ki Dukut berjalan seorang diri di dalam keremangan cahaya ujung malam menjelang pagi, maka para pengawal Kediri pun masih sibuk mengemasi pasukannya. Orang-orang yang meninggal untuk sementara telah dikuburkan. Sedangkan yang terluka parah, telah dibaringkan ke dalam pedati meskipun harus saling berdesakan.
Sejenak para pengawal memeriksa segala sesuatu tentang bekal dan keadaan mereka, sementara dua orang pengawal sempat menyiapkan air panas dan menanak nasi bagi kawan-kawan mereka. Sebelum mereka berangkat menyelesaikan perjalanan mereka, maka mereka akan makan pagi lebih dahulu. Setelah semalam suntuk mereka hampir tidak sempat memejamkan mata, maka rasa-rasanya di dini hari, perut mereka memang menjadi lapar.
Demikianlah ketika langit menjadi terang, serta segalanya telah siap, maka iring-iringan itu pun telah meninggalkan tempat pemberhentian yang tidak akan pernah dilupakan oleh isteri dan anak Pangeran Kuda Padmadata itu.
Betapa mereka diguncang oleh peristiwa yang sangat mengerikan. Di bawah cahaya bulan yang bulat di langit, mereka menyaksikan senjata beradu, dan bahkan darah mengalir.
Namun setelah malam itu, mereka tidak akan bermalam lagi di perjalanan. Mereka berharap untuk dapat mencapai tujuan sebelum matahari tenggelam.
Sementara itu, ternyata di Kediri telah terdengar berita, bahwa Pangeran Kuda Padmadata akan datang mambawa isteri dan anaknya laki-laki. Berita itu telah merambat dari mulut ke mulut. Meskipun Pangeran Kuda Padmadata bukan seorang Pangeran yang paling dikenal di Kediri, namun banyak pula orang yang mengetahuinya. Apalagi setelah adiknya terbunuh di istananya, yang menurut berita yang tersiar saat itu, karena terjadi perampokan yang paling mengejutkan di Kediri pada sebuah istana seorang Pangeran. Apalagi seorang Pangeran yang kaya raya seperti Pangeran Kuda Padmadata, yang memiliki berbagai sumber bagi kekayaannya itu.
Meskipun tidak terlalu banyak, tetapi ada juga beberapa kelompok manusia yang ingin melihat iring-iringan yang akan datang dari Kediri itu.
Namun dalam pada itu, beberapa orang di istana Pangeran Kuda Padmadata telah menjadi sibuk karenanya. Di istana itu pernah tinggal seorang puteri yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata, namun yang kamudian telah diantarkan kembali kepada orang tuanya. Beberapa orang terdekat memang mempunyai dugaan yang kurang mapan terhadap puteri itu, karena ia lebih banyak berada bersama adik Pangeran Kuda Padmadata yang terbunuh itu daripada bersama Pangeran Kuda Padmadata sendiri yang agaknya acuh tidak acuh saja terhadap puteri itu.
“Bagaimana hubungan isteri Pangeran yang datang dari Kediri ini dangan puteri itu?“ bertanya seseorang kepada kawannya.
“Seperti kau, akupun tidak tahu” jawab kawannya.
“Puteri yang pernah tinggal di istana ini“ sambung kawannya yang pertama.
“Ya. Aku mengerti. Tetapi aku tidak mengerti” jawab yang lain itu.
Kawannya mengerutkan keningnya. Seolah-olah kepada diri sendiri ia berkata, “Aku mengerti. Tetapi aku tidak mengerti”
Yang lain itu segera menyahut, “Maksudku, aku mengerti maksudmu. Tetapi aku tidak mengerti jawabnya”
Kawannya mengangguk-angguk. Sekali lagi ia berdesis seolah-olah kepada diri sendiri, “Kita akan menghadapi masalah baru yang cukup rumit. Menurut pendengaranku, yang akan datang dari Kediri itu bukan seorang puteri. Tetapi ia adalah seorang perempuan pedesaan yang tidak pernah mengenal istana seperti ini. Apakah dengan demikian bukan berarti, bahwa sikapnya pun akan terasa aneh dan hambar oleh kita”
Para abdi di Istana itu pun kemudian terdiam. Mereka seolah-olah sedang merenungkan, apa yang akan mereka lihat nanti. Seorang perempuan pedesaan yang dengan canggung memasuki istana Pangeran yang kaya raya itu.
Namun demikian, para abdi itu tentu tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jika hal itu memang dikehendaki oleh Pangeran Kuda Padmadata, maka hal itu tentu akan terjadi. Dan apakah hak mereka untuk menggugat kehadiran perempuan pedesaan itu di dalam istana Pangeran Kuda Padmadata, jika kehadiran itu memang diinginkan oleh Pangeran itu.
Meskipun demikian, orang-orang di istana itu pun mulai membayangkan, apa yang akan dilakukan oleh perempuan pedesaan itu. Apakah ia akan memasuki gerbang dengan wajah tengadah dan mata terpejam tanpa menghiraukan para abdi yang tentu akan menyongsongnya, atau ia justru menjadi sangat kecil memandang pendapa yang megah itu.
“Kenapa kita harus berteka-teki” desis seorang abdi yang sudah agak tua, “kita akan menerima apa adanya. Itulah hak yang ada pada kita”
“Ya” sahut kawannya, “kita akan menerima apa adanya”
Dengan demikian, maka kesibukan di istana itu pun menjadi semakin meningkat. Para abdi telah menyediakan apa saja yang mungkin diperlukan.
Dalam pada itu, bilik yang pernah dipergunakan oleh puteri yang pernah disebut isteri Pangeran Kuda Padma data itupun telah dipersiapkan, seperti di saat-saat bilik itu masih dipergunakan oleh puteri yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata itu.
Dalam pada itu, iring-iringan Pangeran Kuda Padmadata itu pun semakin mendekati Kota Raja. Pangeran Kuda Padmadata telah memerintahkan dua orang pengawal untuk mendahului dan melaporkan bahwa mereka telah membawa tawanan. Juga mereka yang terluka parah.
Karena itulah, maka sepasukan pengawal dengan segala macam perlengkapan yang jauh lebih memadai telah diperintahkan untuk menyongsong iring-iringan Pangeran Kuda Padmadata, yang sedang membawa isterinya dari Singasari ke Kediri itu.
Pasukan pengawal yang membawa beberapa buah pedati dan tandu itu telah bersiap dan menunggu di gerbang kota sampai saatnya iringan Pangeran Kuda Padmadata itu datang.
Namun yang demikian itu agaknya telan mengundang perhatian orang-orang Kediri semakin banyak. Jika semula hanya beberapa orang saja yang menggerombol di beberapa tempat maka dengan kehadiran pasukan pengawal yang menyongsong iring-iringan yang datang itu, maka perhatian orangpun menjadi semakin besar. Di pintu gerbang kota, nampak orang-orang Kediri berkerumun menunggu Pangeran Kuda Padmadata lewat.
Karena itu, maka ketika dari kejauhan iring-iringan itu mulai nampak, maka orang-orang yang berkerumun itu pun mulai bergerak mendekat jalan diluar pintu gerbang. Nampaknya mereka ingin melihat iring-iringan itu berhenti dan menyerahkan beberapa orang tawanan kepada para pengawal yang menjemput, sementara isteri Pangeran itu akan diterima dengan sebuah tandu.
Ketika iring-iringan itu menjadi semakin dekat, maka para pangawal yang menjemput mereka di luar pintu gerbang Kota Raja itu pun mulai mengatur diri. Mereka menyiapkan segala sesuatunya yang mungkin akan dipergunakan oleh Pangeran Kuda Padmadata itu.
Sebenarnya, ketika iring-iringan itu sampai kedepan pintu gerbang, mereka pun telah berhenti. Pangeran Kuda Padmadata yang memimpin langsung iring-iringan itu pun segera melangkah maju menemui perwira yang memimpin para pengawal yang siap menyongsong kedatangan mereka itu.
“Ampun Pangeran” berkata perwira itu, “hamba yang mendapat tugas untuk menyongsong kehadiran Pangeran di sini”
Pangeran Kuda Padmadata mengangguk-angguk. Jawabnya, “Terima kasih. Aku senang sekali dapat bertemu dengan kalian setelah kami mengalami bencana sampai dua Kali di sepanjang jalan oleh pihak yang sama”
Perwira itu mengangguk-angguk. Katanya, “Utusan Pangeran sudah menceriterakan, apa yang telah terjadi dangan iring-iringan tuan. Karena itulah, maka kami telah menyiapkan segala sesuatu yang barangkali tuan perlukan”
“Aku menyerahkan para tawanan. Yang terluka dan yang tidak terluka” berkata’Pangeran Kuda Padmadata.
“Akan hamba terima dengan senang hati” berkata perwira itu, “memang itu adalah kewajiban kami”
“Selebihnya, para pengawal sendiri yang terluka. Kalian akan menerima mereka, dan mempertanggung-jawabkan mereka, agar mereka tidak mengalami sesuatu yang justru dapat mempersulit keadaan mereka”
“Hamba tuan. Semuanya akan hamba lakukan sebaik-baiknya” berkata perwira itu, lalu, “selebihnya, karena hamba tahu bahwa Pangeran sedang menyongsong seorang puteri, maka aku pun telah menyiapkan sebuah tandu”
“Tandu“ Pangeran Kuda Padmadata mengulangi.
“Ya. Tandu, Bukankah sudah semestinya jika seorang puteri menempuh perjalanan, biasanya memang mempergunakan tandu. Bukan pedati”
Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Ia pun segera merasa satu kelainan dari saudara-saudaranya, para Pangeran di Kediri. Mungkin mereka akan dengan garangnya minta agar isteri-iseri mereka yang pada umumnya juga puteri-puteri Kediri itu dapat disediakan sebuah tandu yang cantik.
Meskipun demikian Pangeran Kuda Padmadata tidak menolak. Para pengawal itu telah membawa tandu untuk menjemput isterinya. Siapapun perempuan itu.
Namun, Pangeran Kuda Padmadata tidak segera menyuruh isterinya naik ke atas tandu itu. Yang pertama-tama diselesaikan adalah masalah tawanan dan para pengawal yang terluka.
“Bawalah mereka“ perintah Pangeran Kuda Padmadata.
“Baiklah Pangeran. Silahkan Pangeran berjalan dahulu” jawab perwira yang menjemputnya.
“Tidak” jawab Pangeran Kuda Padmadata, “bawalah mereka lebih dahulu. Aku akan berjalan kemudian langsung kembali ke istanaku”
Perwira itu tidak mengerti, kenapa Pangeran Kuda Padmadata memerintahkannya berjalan lebih dahulu. Namun ia tidak dapat menolak. Ia pun kemudian menyiapkan para pengawal untuk membawa para tawanan dan para pengawal yang terluka. Para tawanan dan para pengawal yang terluka telah dipindahkan dari pedati yang dibawa dari Kediri ke pedati para pengawal.
Baru setelah para pengawal yang menjemput mereka meninggalkan pintu gerbang, maka Pangeran Kuda Padmadata telah bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Namun iapun mengerutkan keningnya ketika dilihatnya sebuah tandu yang cukup baik dengan dua belas orang yang siap untuk membawanya berganti-ganti.
“Tandu itu“ ia berdesis.
Mahisa Agni yang kemudian mendekatinya berkata, “sebaiknya tandu itu dipergunakan agar tidak menimbulkan pertanyaan yang sangat menarik bagi orang-orang yang sedang menyaksikan”
Diluar sadarnya Pangeran Kuda Padmadata berpaling kepada isterinya. Namun kemudian iapun mendekatinya sambil berkata, “Tandu itu diperuntukkan bagimu”
“Ah” desah isterinya, “lebih baik hamba berada di dalam pedati Pangeran”
“Jangan“ Pangeran Kuda Padmadata menggeleng, “kau harus menyesuaikan dirimu. Apalagi dihadapan orang-orang yang sengaja ingin melihat tingkah laku kita”
Isteri Pangeran Kuda Padmadata itu tidak dapat membantah. Namun ia masih juga memandangi ayahnya untuk mendapatkan pertimbangan.
Ki Wastu mengangguk kecil. Memang tidak ada pilihan lain, kecuali melakukan apa yang seharusnya dilakukan sebagai seorang isteri Pangeran”
Karena itu, maka dibimbing oleh suaminya, maka isteri Pangeran itu pun kemudian naik ke atas tandu. Delapan orang sudah siap untuk mengangkatnya, sementara empat orang lainnya akan secara bergantian mengangkat tandu itu pula.
Rasa-rasanya memang canggung sekali. Duduk di atas sebuah tandu yang diangkat oleh delapan orang, sementara empat orang lainnya mengiring di sebelah menyebelah.
Sejenak kemudian iring-iringan itu pun mulai bergerak. Pangeran Kuda Padmadata berada di atas punggung kuda, sementara isterinya berada di dalam tandu. Anak laki-laki Pangeran itu berada di dalam pedati bersama Mahisa Murti dan Mahisa Pukat yang sengaja mengawaninya. Kuda mereka telah mereka ikatkan pada pedati itu pula yang saisnya adalah Mahendra sendiri.
Bagaimanapun juga, maka orang-orang yang menyaksikan iring-iringan itu harus berbisik di antara mereka, “Perempuan itu memang cantik sekali. Sayang, agak kurus dan pucat”
“Justru ia pucat, maka wajahnya nampak semakin cantik” sahut yang lain.
Dalam pada itu, isteri Pangeran Kuda Padmadata itu hanya dapat menundukkan kepalanya. Rasa-rasanya berpuluh-puluh pasang mata sedang mengamatinya. Melihat cacat celanya, justru karena ia adalah seorang perempuan dari padepokan kecil.
Karena itulah, maka isteri Pangeran Kuda Padmadata itu rasa-rasanya tidak berani bergerak sama sekali. Apalagi mengangkat wajahnya. Bahkan ketika ujung jarinya terasa gatal, maka ia sama sekali tidak berani menggerakkannya.
Meskipun tidak terlalu banyak, tetapi ada juga orang-orang yang menunggu iring-iringan itu di sepanjang jalan menuju ke istana Pangeran Kuda Padmadata. Pada umumnya, merekapun berbisik, “Perempuan itu memang cantik sekali”
Sebenarnya perempuan itu memang cantik sekali. Wajahnya yang nampak pucat dan tubuhnya yang kekurus-kurusan, justru membuatnya lebih manis. Sementara Pengeran Kuda Padmadata sendiri, seorang Pangeran yang kaya raya, duduk diatas punggung kudanya, Seperti seorang Senopati yang pulang dari medan, membawa boyongan puteri dari negeri yang ditaklukkannya
Perjalanan menyusur jalan kota itu rasa-rasanya terlalu panjang bagi isteri Pangeran Kuda Padmadata. Ia memang lebih senang berada di dalam pedati yang agak tertutup daripada diatas tandu yang terbuka.
Ketika tandu itu memasuki pintu gerbang istana Pangeran Kuda Padmadata, maka isterinya itu pun menarik nafas dalam-dalam. Rasa-rasanya ia telah terlepas dari satu beban yang sangat berat. Wajahnya yang terasa menjadi sangat panas itu, mulai terasa sejuk. Di dalam istana itu. tentu tidak akan banyak orang yang memperhatikannya.
Tetapi perempuan itu menjadi berdebar-debar kembali. Ternyata di depan pendapa, dilihatnya beberapa orang pelayan telah siap menyambutnya. Mereka telah menunggu beberapa saat dengan hati yang berdebar-debar pula. Mereka segera ingin melihat, bagaimanakah ujud perempuan yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata itu. Sementara mereka pernah mengenal seorang puteri yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata itu pula.
Demikian tandu itu mendekati, maka perempuan-perempuan dan para abdi yang menyambut itupun berbisik, “Betapa cantiknya perempuan itu”
Semua orang di antara para abdi itu mengakui, betapa cantiknya perempuan itu. Selagi ia mengenakan pakaian yang tidak berlebih-lebihan. Jika ia mengenakan pakaian kebesaran seorang puteri, maka ia benar-benar akan melampaui kecantikan setiap puteri Kediri yang terkenal.
Namun justru karena itu, maka setiap mata telah melekat kepada perempuan itu. Karena itulah, rasa-rasanya, jantung isteri Pangeran Kuda Padmadata itu menjadi semakin cepat berdentang.
Perempuan itu menjadi semakin canggung, ketika para pelayan itupun segera berjongkok ketika tandu itu diletakkan di bawah tangga pendapa. Karena itu, maka untuk sejenak, ia bagaikan membeku ditempatnya.
Pangeran Kuda Padmadata lah yang kemudian meloncat turun. Setelah menyerahkan kudanya kepada orang lain, maka iapun segera mendekati isterinya.
“Marilah” berkata Pangeran itu kemudian sambil membimbing isterinya turun dari tandu yang sudah diletakkan.
Sebenarnyalah bahwa hati isteri Pangeran Kuda Padmadata itu menjadi semakin bergetar. Ia menyangka bahwa jika ia sampai di istana maka ia pun akan segera di luar pengamatan banyak orang. Namun ternyata bahwa dugaan itu keliru. Masih berpasang-pasang mata yang mengawasinya. Bahkan ada di antara sorot mata itu menunjukkan kecurigaan, penghinaan dan yang lain ingin menjajagi ketabahan hatinya.
Tiba-tiba saja terasa kakinya menjadi gemetar. Namun ketika ia sadar, bahwa ia telah dibimbing oleh suaminya, maka hatinya pun telah menjadi agak kembang. Bagaimanapun juga ia merasa bahwa ia benar-benar telah mendapat pegangan. Bukan saja pegangan wadag karena suaminya telah membimbingnya, namun ia merasa bahwa suaminya itu benar-benar akan melindungi dan membimbingnya untuk selanjutnya.
Dengan langkah-langkah ragu ia pun kemudian mengikuti kemana suaminya membawanya. Ketika mereka naik ke pendapa, maka Pangeran Kuda Padmadata telah memanggil anak laki-lakinya untuk mengikutinya pula.
Anak laki-laki itu pun ragu-ragu seperti ibunya. Namun Mahisa Murti dan Mahisa Pukat mendorongnya sambil berkata, “Pergilah. Ayahandamu memanggilmu”
“Marilah“ anak itu mengajak Mahisa Murti dan Mahisa Pukat untuk mengikutinya.
Tetapi Mahisa Murti menjawab, “Aku menunggu di sini”
Meskipun ragu-ragu, tetapi akhirnya anak itu naik pula ke pendapa mengikuti ibu dan ayahnya.
Demikian mereka masuk ke ruang dalam, dua orang pelayan telah menunggu. Mereka berjongkok di sebelah menyebelah sambil menunggu perintah.
Tetapi Pangeran dan isterinya yang diikuti oleh puteranya itu tidak memberikan perintah sesuatu. Mereka berjalan terus menuju ke sebuah bilik yang memang sudah dipersiapkan. Bilik yang pernah dihuni oleh seorang puteri yang disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata.
Demikian perempuan itu memasuki bilik yang sudah diatur sebaik-baiknya itu, debar jantungnya serasa menjadi bertambah cepat. Perabotnya yang serba indah membuatnya menjadi silau. Kantil yang terukir halus. Geledeg kayu dan selintru yang juga terukir dan disungging dengan warna-warna cerah.
“Ini adalah bilikmu bersama anak kita” berkata Raden Kuda Padmadata.
Perempuan itu tidak menjawab. Namun di pipinya telah meleleh setitik air.
Anak laki-lakinya pun Bagaikan kebingungan berada di dalam bilik itu. Namun ia pun kemudian duduk di sisi ibunya di atas bibir pembaringan yang berukir.
“Aku mengerti perasaanmu” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “tetapi berusahalah menyesuaikan diri. Aku akan membimbingmu sejak hari ini untuk seterusnya, sehingga akhirnya kau akan menguasi segala-galanya”
Rasa-rasanya ada seberkas kata-kata yang akan dikatakannya. Tetapi mulut perempuan itu bagaikan membeku, sehingga kata-kata itu hanya berputaran didadanya, ”Aku adalah anak padepokan kecil yang tidak pernah mengenal segalanya ini”
Sementara itu. Pangeran Kuda Padmadata pun kemudian berkata, “Tinggallah disini. Aku akan mempersilahkan tamu-tamuku untuk naik ke serambi samping”
Perempuan itu hanya dapat mengangguk. Sementara itu Pangeran Kuda Padmadata pun telah meninggalkan mereka. Ketika di luar pintu ia melihat emban yang duduk bersimpuh, maka ia pun berpesan, “Biarlah kau menunggu. Jika tidak ada perintah, kau tidak usah menghadap. Puteri masih sangat lelah”
“Hamba Pangeran” jawab emban itu.
Sementara itu Pangeran Kuda Padmadata pun telah ke luar lagi ke pendapa. Dilihatnya para pengawal dan tamu-tamunya yang mengikutinya dari Singasari masih berada di halaman sambil mengemasi kuda dan pedati yang mereka bawa dari Singasari.
“Sudahlah” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “marilah. Silahkan naik ke serambi samping. Biarlah pedati dan kuda-kuda itu diurusi oleh para pengawal”
Dengan demikian, maka Mahisa Agni, Witantra, Mahendra dan ketiga anak-anaknya serta Ki Wastu bersama perwira pasukan pengawal itupun segera naik ke serambi samping, sementara beberapa orang pengawal telah membenahi kuda dan pedati serta lembu penariknya.
Sementara itu, di belakang, para pelayan menjadi sibuk menyiapkan jamuan bagi para tamu dan para pengawal. Meskipun mereka sudah sedia, tetapi mereka nampaknya menjadi tergesa-gesa pula.
Demikianlah, maka akhirnya para pengawal dan mereka yang ikut mengantarkan Pangeran Kuda Padmadata serta isteri dan anaknya telah dijamu di serambi samping. Mereka ikut dalam bujana, setelah mereka berhasil membawa isteri Pangeran itu ke istananya di Kediri.
Namun sementara itu, Pangeran Kuda Padmadata lah yang mengatur, bagaimana para pelayan harus melayani isterinya, agar isterinya tidak justru menjadi bingung menghadapi makanan dan minuman yang akan dihidangkan bagi isteri dan putera Pangeran Kuda Padmadata itu.
Setelah semuanya selesai, maka Pangeran Kuda Padmadata memerintahkan agar para pengawal kembali kepada ke satuan induknya dan melaporkan apa yang terjadi dalam perjalanan.
“Sampaikan terima kasihku kepada Senopati yang telah memberikan sepasukan pengawal kepadaku“ pesan Pangeran Kuda Padmadata, “besok aku akan menemui mereka”
Dengan dipimpin oleh perwira yang berada di dalam pasukan pengawal itu, maka para pengawal pun kemudian minta diri, kembali ke pasukan induknya untuk melaporkan apa yang terjadi dalam tugas mereka.
Dalam pada itu, Mahisa Agni, Witantra, Mehendra dan anak-anaknya serta Ki Wastu masih tetap berada di istana itu. Mereka masih diminta oleh Pangeran Kuda Padmadata untuk bermalam.
“Aku mohon kalian tinggal barang satu dua malam” berkata Pangeran Kuda Padmadata, “selama dua malam kalian berada di perjalanan yang cukup berat. Dan di dua malam itu pula kalian mengalami peristiwa yang mendebarkan. Karena itu, aku ingin mempersilahkan kalian tidur dengan tenang, sedikitnya untuk dua malam pula di rumah ini”
Mahisa Agni dan yang lain tidak menolak. Mereka pun masih merasa perlu untuk berbicara tentang Ki Dukut Pakering yang masih sempat melepaskan diri dari tangan para pengawal, sehingga dengan demikian, maka orang itu masih tetap merupakan orang yang berbahaya, bukan saja bagi Pangeran Kuda Padmadata serta isteri dan anaknya, tetapi juga bagi lingkungan yang lebih luas.
Karena itu, ketika mereka berkumpul setelah mereka beristirahat semalam suntuk dengan tenang, maka mulailah mereka berbicara tentang Ki Dukut Pakering.
“Perburuan itu harus dilanjutkan” berkata Mahisa Bungalan.
“Tetapi kalian tidak akan dapat membawa Pangeran Kuda Padmadata lagi” berkata Mahendra sambil tersenyum.
“Kenapa tidak” jawab Pangeran itu, “aku masih selalu siap melakukan tugas itu”
“Tetapi bagaimana jadinya, jika justru pada saat Pangeran pergi, Ki Dukut itulah yang datang ke istana ini” berkata Witantra.
Pangeran Kuda Padmadata mengerutkan keningnya. Kemungkinan itu memang dapat terjadi. Namun iapun kemudian menjawab, “Aku dapat menyerahkan pengamanan rumah ini kepada para pengawal di Kediri. Aku dapat mengundang satu dua orang Senapati yang memiliki kemampuan cukup untuk menghadapi Ki Dukut, meskipun tidak harus seorang melawan seorang. Namun agaknya jumlah pengawal di Kediri cukup memadai”
Tetapi Mahisa Agni menyahut, “Mungkin yang akan datang bukan hanya Ki Dukut Pakering seorang diri seperti yang dilakukannya atas iring-iringan kita dari Singasari”
“Para pengawal di rumah ini akan dapat membunyikan isyarat untuk memanggil para pengawal yang sedang bertugas dimanapun yang dapat mendengarnya” jawab Pangeran Kuda Padmadata.
“Namun hal itu akan memerlukan waktu” sahut Mahendra, “sehingga karena itu, maka aku kira lebih baik Pangeran berada di istana ini untuk beberapa saat. Mungkin pada satu kesempatan yang tepat. Pangeran akan ikut pula bersama kami”
Pangeran Kuda Padmadata mengerutkan keningnya. Katanya, “Sumber masalah ini adalah aku. Bagaimanakah perasaanku, jika justru aku tinggal di rumah dengan tenang, sementara orang lain yang semula tidak berkepentingan, harus bertaruh nyawa untuk menemukan orang yang bernama Ki Dukut Pakering itu”
“Kita semua berkewajiban” sahut Mahisa Bungalan, “apapun sumbernya, kita tidak akan dapat membiarkan kejahatan berlangsung dimanapun dan apapun alasannya. Karena itu, maka setiap orang merasa bertanggung jawab, bahwa Ki Dukut Pakering itu harus tertangkap”
Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Katanya kemudian, “Tidak ada kata-kata yang dapat aku pergunakan untuk menyatakan terima kasihku yang tiada terhingga”
“Itu tidak perlu” berkata Witantra, “sudah seharusnya kita melakukannya seperti yang dikatakan Mahisa Bungalan. Akupun berpendirian, bahwa biarlah Pangeran dan Ki Wastu tinggal di istana Ini. Aku kira, aku dapat mengusulkan agar rencana perburuan itu dikembangkan. Bukan saja kita yang akan menanganinya, tetapi akan menjadi kewajiban para prajurit di Singasari dan para pengawal di Kediri. Namun demikian, kita harus menemukan cara yang tepat untuk melakukannya. Kita tentu tidak akan mengulangi cara yang sudah kita lakukan, namun tidak berhasil. Kita tidak akan dapat menjelajahi daerah yang luas karena justru sarang orang yang bernama Ki Dukut itu menjadi makin kabur. Sehingga karena itu, kita harus menemukan cara lain yang lebih baik”
Pangeran Kuda Padmadata menarik nafas dalam-dalam. Ia sudah mendengar seluruh ceritera tentang orang-orang yang pemula tidak dikenalnya, namun yang kemudian tanpa menghiraukan kemungkinan yang paling pahit bagi diri mereka sendiri, telah membebaskan isteri dan anak laki-lakinya. Terutama, Mahisa Bungalan. Isterinya yang sudah terkurung di hutan peliharaan itu akhirnya dapat dibebaskannya.
Justru karena itu, untuk beberapa saat, Pangeran Kuda Padmadata tunduk terdiam. Diluar sadarnya, ia mulai membayangkan apa saja yang telah terjadi dengan isterinya, dan apa pula yang telah dilakukan oleh Mahisa Bungalan untuk membebaskan isterinya.
“Ia sudah mempertaruhkan nyawanya” berkata Pangeran Kuda Padmadata di dalam hatinya.
Namun dalam pada itu, ia tidak dapat menolak keputusan orang-orang Singasari itu, bahwa untuk menemukan Ki Dukut, diperlukan cara yang masih harus dipelajarinya, sementara Pangeran Kuda Padmadata dan Ki Wastu dipersilahkan untuk tetap berada di istananya untuk menjaga segala kemungkinan yang dapat terjadi.
“Baiklah“ berkata Pangeran Kuda Padmadata kemudian, “tetapi aku tidak akan mencuci tangan. Segalanya akan dapat dikembalikan kepadaku. Karena itu, jika ada sesuatu yang menuntut agar aku ikut serta melaku kannya, jangan segan-segan. Panggillah aku, dan aku akan segera datang kemanapun juga”
“Terima kasih Pangeran” jawab Mahisa Agni, “kami mengerti bahwa Pangeran akan tetap bertanggung jawab. Dan itu akan sangat membesarkan hati kami, sehingga kami tidak akan ragu-ragu untuk melakukan apa saja”
“Mudah-mudahan usaha kita akan berhasil” desis Pangeran Kuda Padmadata, “meskipun Ki Dukut adalah guruku, namun ia telah menyimpang dari sifat seorang guru. Bahkan ia telah terjerumus kedalam tindakan yang dapat disebut satu kejahatan”
Namun demikian, Pangeran Kuda Padmadata masih minta tamu-tamunya dari Singasari untuk tinggal. Rasa-rasanya ia masih belum puas mengucapkan terima kasih dengan cara apapun juga yang dapat dilakukan.
Dalam pada itu, kehadiran isteri Pangeran itu pun telah menumbuhkan persoalan bagi para pelayan. Emban yang akan melayaninya pun menjadi bingung. Kadang-kadang puteri itu tidak dapat dimengerti kehendaknya. Bahkan kadang-kadang ia lebih senang berada dibalik pintu tertutup tanpa memberikan perintah apapun juga. Bahkan kadang-kadang ia telah mengerjakan sesuatu yang tidak pantas dikerjakannya, sehingga para emban menjadi bingung. Dan bahkan ada di antara mereka yang menangis di belakang dengan tubuh gemetar, karena ia mengira bahwa puteri itu telah marah, karena ia salah melakukan salah satu perintahnya.
Tetapi satu hal yang telah dikagumi oleh setiap orang. Apalagi ketika puteri itu mulai mengenakan pakaian yang lebih pantas bagi seseorang isteri Pangeran. Maka mereka telah sependapat, bahwa puteri itu memang sangat cantik, jauh lebih cantik dari puteri yang pernah tinggal di istana itu, dan yang pernah disebut isteri Pangeran Kuda Padmadata, tetapi yang dalam kehidupannya sehari-hari lebih dekat dengan adik Pangeran Kuda Padmadata itu.
Ternyata bukan saja para pelayan, emban dan dayang-dayang yang mengagumi kecantikan puteri itu. Di luar sadarnya, ketika sepintas Mahisa Bungalan yang masih berada di istana itu melihat puteri itu dalam pakaian dan riasnya sebagai isteri seorang Pangeran, maka jantungnya telah berdenyut. Ia telah berbuat terlalu banyak bagi purempuan itu. Ia telah membebaskannya dari sarang para penculiknya dan perbuatan lain yang dapat mengancam keselamatannya.
Namun anak muda itu cepat menyadari. Perempuan itu adalah isteri Pangeran Kuda Padmadata. Yang dilakukannya itu adalah semata-mata karena sentuhan peri kemanusiaan yang menjadi kewajiban setiap orang.
Tetapi ia tidak dapat begitu saja menghapus kesan kecantikan yang dilihatnya. Di luar sadarnya, maka tiba-tiba saja Mahisa Bungalan itu pun teringat kepada seorang gadis padepokan yang menurut penglihatannya juga sangat cantik, justru dalam keadaan wajarnya. Ken Padmi.
Bagaimanapun juga, bayangan wajah itu kadang-kadang masih saja kembali di angan-angannya. Ia mengerti, bahwa hubungannya dengan gadis itu pada saat terakhir menjadi baur. Tetapi ia tidak yakin bahwa sebenarnya hati gadis itu telah benar-benar tertutup terhadapnya.
Dalam saat-saat tertentu, ketika ia melihat Pangeran Kuda Padmadata berdua dengan isterinya dan kemudian datang anak laki-lakinya, maka hatinya pun telah bergejolak. Kenangannya terhadap gadis padepokan kecil itu justru semakin membayang.
Tetapi Mahisa Bungalan berusaha menekan perasaan itu di dalam dadanya. Ia tidak mengatakannya kepada siapapun juga. Ia tidak mengatakannya kepada ayahnya, dan kepada adik-adiknya.
Yang justru diharapkan kemudian, segera meninggalkan istana itu. Ia akan kembali ke Singasari. Dan ia pun masih menunggu keputusan, cara yang manakah yang dapat ditempuhnya untuk mencari orang yang bernama Ki Dukut Pakering.
“Aku akan mempergunakan kesempatan itu untuk melihat satu kemungkinan tentang gadis padepokan itu” berkata Mahisa Bungalan di dalam hatinya. Meskipun ia pun selalu dibayangi oleh satu kecemasan, bahwa gadis itu telah menentukan jalan hidupnya, setelah ia tidak dapat berharap untuk bertemu dengan Mahisa Bungalan kembali.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar