PANASNYA BUNGA MEKAR : 24-02
“O,” Pangeran Wirapaksi mengangguk-angguk, “begitukah yang telah terjadi? Semula aku tidak begitu memikirkan akibatnya. Karena itu, aku menunjukkan di mana gadis itu akan tinggal, karena ia akan berada di Singasari. Aku mengenal Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra dengan baik.”
“Tetapi itu bukan berarti bahwa mereka dapat menghinakan kami, para bangsawan.” geram Pangeran Indrasunu.
“Jika kau mengatakan kepadaku, apa yang sebenarnya akan kau lakukan, aku tidak akan menunjukkan kepadamu, di mana rumah Mahendra itu.” berkata Pangeran Wirapaksi.
Pangeran Indrasunu menjadi heran. Dengan nada tinggi ia bertanya, “Kenapa justru begitu?”
“Aku tidak dapat bermusuhan dengan Mahendra, Mahisa Agni dan Witantra.” sahut Pangeran Wirapaksi.
“Kenapa? Apakah mereka setingkat dengan kakang mas Wirapaksi dalam kedudukan keprajuritan? Bukankah Mahendra bukan seorang prajurit?” bertanya Pangeran Indrasunu.
“Memang bukan. Tetapi sebaiknya kau urungkan niatmu.” berkata Pangeran Wirapaksi.
“Aku sudah mengatakan kepada Mahendra. Aku terima tantangan perang tanding melawan Mahisa Bungalan. Tetapi jika aku menang, aku tidak akan mengambil gadis yang memuakkan itu. Sebagai hak yang aku peroleh, maka gadis itu akan aku serahkan kepada pengemis kudisan di pinggir jalan.” geram Pangeran Indrasunu.
“Kau kurang mengenal Singasari,” berkata Pangeran Wirapaksi, “aku akan berusaha mengurungkannya.”
“Kenapa?” bertanya Pangeran Indrasunu, “apakah kakangmas berkeberatan melihat Ken Padmi menjadi pengewan-ewan, karena ia menjadi seorang istri dari seorang pengemis?”
“Jangan begitu kasar terhadap orang-orang Singasari. Aku sudah mengenal Singasari seperti aku mengenal Kediri. Sebenarnya bukan saja Singasari. Di Kediri pun kau tidak dapat berbuat seperti itu.”
“Jadi kakangmas tidak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka? Jika demikian, maka biarkan aku menempuh caraku. Perang tanding. Bukankah itu adil?” bertanya Pangeran yang masih muda itu.
Pangeran Wirapaksi menarik nafas dalam-dalam. Adik iparnya benar-benar belum mengenal keadaan Singasari, dan lebih-lebih lagi ia belum mengenal siapakah Mahendra, Mahisa Agni dan Witantra yang sebenarnya.
Namun dalam pada itu, terbersit juga di dalam hatinya, “Biarlah anak ini sekali-sekali mendapat peringatan, bahwa ia tidak dapat berbuat sesuka hatinya sendiri.”
Karena itu, maka Pangeran Wirapaksi pun berkata, “Baiklah, adimas. Jika kau menghendaki perang tanding melawan Mahisa Bungalan, aku kira dapat juga dilaksanakan. Tetapi dengan peraturan yang ketat, sehingga perang tanding itu benar-benar dilandasi oleh sifat kesatria.”
“Maksud kakangmas, sampai mati?” suara Pangeran Indrasunu tiba-tiba menurun.
“Tentu tidak. Maksudku, perang tanding itu dilakukan atas landasan sifat seorang kesatria. Yang kalah akan segera mengaku kalah, dan yang menang tidak bertindak sewenang-wenang.” jawab Pangeran Wirapaksi.
“Bagaimana dengan taruhan itu?” bertanya Pangeran Indrasunu.
“Mahisa Bungalan akan mempertahankan gadis itu, dan kau akan merebutnya.” jawab Pangeran Wirapaksi pula.
“Bagus, aku akan melakukannya.” jawab Pangeran Indrasunu.
“Tetapi coba renungkan, apa itu adil?” bertanya Pangeran Wirapaksi.
“Kenapa? Bukankah itu adil?” bertanya Pangeran gang masih muda itu.
“Jika kau menang, kau akan mendapat sesuatu, meskipun yang kau dapatkan itu akan kau lempar kembali. Tetapi bagaimana jika kau kalah?” bertanya kakak iparnya.
“Jika aku kalah, bagaimana?” Pangeran Indrasunu menjadi tegang.
“Kau harus minta maaf kepadanya.” berkata Pangeran Wirapaksi.
“Minta maaf?” Pangeran Indrasunu termangu-mangu.
“Ya. Dan sayembara ini bersifat umum. Maksudku, jika masih ada orang lain yang berminat, ia akan dapat memasuki sayembara itu. Yang menang akan mempertahankannya.” berkata Pangeran Wirapaksi.
“Ah, kenapa menjadi demikian luas?” bertanya Pangeran Indrasunu.
“Tidak apa-apa. Kita tidak dapat melakukannya terbatas di Singasari.” jawab Pangeran Wirapaksi.
“Terserah kepada kakangmas. Aku sudah siap memasuki sayembara itu, meskipun aku belum mengenal Mahisa Bungalan.” gumam Pangeran Indrasunu. Namun tiba-tiba ia bertanya, “Tetapi kenapa Mahisa Bungalan?”
Pangeran Wirapaksi mengerutkan keningnya. Jawabnya, “Aku tidak tahu. Bukankah adimas sendiri yang datang ke rumah Mahendra? Tetapi mungkin karena gadis itu adalah saudaranya. Mungkin saudara sepupu, mungkin dalam kaitan yang lain.”
Pangeran Indrasunu tidak bertanya lagi. Namun kemudian ia berkata, “Aku akan melatih diri mempergunakan senjata. Aku akan menghancurkan lawanku di arena.”
“Baiklah. Dah aku akan melakukan hubungan dalam persoalan ini dengan orang-orang yang berkepentingan.” berkata Pangeran Wirapaksi.
Dalam pada itu, maka Pangeran Wirapaksi pun segera mencari Mahisa Agni, yang menurut Pangeran Indrasunu sudah berada di Kota Raja.
Ternyata Pangeran itu tidak terlalu sulit mencarinya. la menemui Mahisa Agni justru di dalam lingkungan istana Singasari sebagaimana Mahisa Agni tinggal sejak semula.
Kedatangan Pangeran Wirapaksi memang mengejutkan. Namun karena tidak nampak satu kesan pun yang dapat menggelisahkan, maka Mahisa Agni, Witantra maupun Mahisa Bungalan tidak menjadi berdebar-debar pula.
Tetapi belum lagi Pangeran Wirapaksi mengatakan sesuatu tentang keperluannya yang sebenarnya, justru karena ia tidak tergesa-gesa, maka Mahendra pun telah datang pula.
Dengan demikian, setelah mereka beristirahat sejanak, maka pembicaraan pun mulai mengarah.
Ternyata apa yang akan dikatakan oleh Pangeran Wirapaksi dan Mahendra telah sejalan. Perang tanding untuk satu sayembara.
“Anak bengal!” geram Mahisa Bungalan.
“Aku tidak sempat mencegah Mahisa Pukat mengatakannya, sementara nampaknya Pangeran Indrasunu telah menanggapinya.” berkata Mahendra.
Tetapi Pangeran Wirapaksi pun telah memberikan keterangan pula. Sayembara itu bukan sayembara yang sungguh-sungguh dan terbuka.
“Aku ingin Indrasunu mendapat pengalaman,” berkata Pangeran Wirapaksi, “aku tahu, bahwa ia memang berguru. Tetapi aku tidak yakin, bahwa kemampuannya sudah cukup untuk melakukan perang tanding melawan Mahisa Bungalan.”
Mahisa Agni menarik nafas panjang. Ketika Mahendra kemudian mengatakan, bahwa Ken Padmi merasakan peristiwa itu sebagai satu kepahitan setelah ia berusaha menghindari kepahitan yang yang pernah dialami di padepokannya, maka ia pun berkata, “Sebenarnya aku dapat mengerti. Tetapi aku kira cara ini baik juga bagi Pangeran Indrasunu. Tetapi apakah hal itu tidak berpengaruh bagi para bangsawan di Kediri, seolah-olah Pangeran Indrasunu mendapat perlakuan yang tidak wajar di Singasari?”
“Aku juga seorang berdarah Kediri. Aku akan dapat mengatakan hal yang sebenarnya kepada orang-orang Kediri yang tersinggung oleh peristiwa ini.” jawab Pangeran Wirapaksi.
Tetapi perang tanding itu benar-benar bukan satu sayembara terbuka. Pangeran Wirapaksi hanya sekedar ingin meyakinkan Pangeran Indrasunu, bahwa ia tidak akan dapat berbuat sekehendak hatinya meskipun ia seorang Pangeran. Ia tidak dapat dengan sewenang-wenang menyakiti hati rakyat Singasari. Bahkan juga rakyat Kediri.
Karena itu, maka Pangeran Wirapaksi pun kemudian berkata, “Biarlah perang tanding itu diselenggarakan di halaman belakang tempat tinggalku.”
Mahisa Agni mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, “Tetapi apakah kita akan melaporkan perang tanding ini kepada Sri Maharaja?”
“Tidak. Tentu tidak perlu,” jawab Pangeran Wirapaksi, “tidak akan ada yang mengetahuinya kecuali kita, dan para pengawal Pangeran Indrasunu dari Kediri. Tetapi mereka tidak akan dapat menyebarkannya di Singasari, karena mereka tidak mempunyai kepentingan.”
“Apakah Pangeran Indrasunu tidak mempunyai satu keinginan? Misalnya perang tanding ini harus disaksikan oleh orang banyak atau keinginan-keinginan lain?” bertanya Witantra.
“Akulah yang akan mengatur, la tidak akan bebuat apa-apa kecuali turun ke arena.” jawab Pangeran Wirapaksi.
Dengan demikian maka mereka pun telah mengatur waktu, kapan perang tanding itu akan diselenggarakan. Namun justru karena itu, maka Mahisa Agni, Witantra dan Mahisa Bungalan telah mengurungkan niatnya untuk menghadap Sri Maharaja. Mereka akan menghadap dan melaporkan diri setelah semuanya selesai.
Namun dalam pada itu, adalah di luar pengamatan Pangeran Wirapaksi, ternyata Pangeran Indrasunu telah memerintahkan dua orang pengawalnya untuk pergi ke Kediri melaporkan segalanya yang telah terjadi kepada guru Pangeran Indrasunu. Seorang tua dari padepokan Umbul Pitu.
Demikianlah, menurut keterapan waktu yang disepakati, perang tanding akan diadakan tiga hari lagi di halaman belakang istana Pangeran Wirapaksi.
Tetapi yang tiga hari itu sudah dapat dimanfaatkan baik-baik oleh pengawal Pangeran Indrasunu yang menghadap Wasi Sambuja dari padepokan Umbul Pitu.
Laporan pengawal itu telah mengejutkan Wasi Sambuja. Namun kemudian ia bertanya, “Siapakah lawan yang akan memasuki arena?”
“Namanya Mahisa Bungalan,” jawab pengawal itu, “nama yang tidak banyak dikenal di luar Kota Raja.”
Wasi Sambuja mengangguk-angguk. Katanya, “Baiklah. Aku akan menyaksikan perang tanding itu. Tetapi aku akan datang dengan diam-diam.”
“Perang tanding itu akan berlangsung di dalam halaman istana Pangeran Wirapaksi.” jawab pengawal itu.
“Kau sudah mengatakannya.” sahut Wasi Sambuja.
“Jadi bagaimana Kiai akan memasuki halaman itu dengan diam-diam? Di setiap regol ada pengawal yang menjaganya. Apalagi dalam penyelenggaraan perang tanding itu.” sahut pengawal itu.
Wasi Sambuja tertawa. Katanya, “Jika aku sedungu kau, maka aku tidak akan dapat melakukannya. Malam sebelumnya aku sudah berada di dalam halaman. Meskipun aku belum pernah memasuki halaman itu, tetapi aku akan dapat mencari persembunyian sampai saat perang tanding itu di selenggarakan.”
Pengawal itu mengangguk-angguk. Lalu katanya, “Baiklah. Semuanya akan aku sampaikan kepada Pangeran Indrasunu.”
“Jangan cemas. Mungkin ia akan kalah jika lawannya seorang yang memiliki ilmu yang luar biasa. Tetapi jika lawannya masih sebaya dengan Pangeran Indrasunu, aku kira ia akan dapat dibuatnya menjadi jera. Namun seandainya Pangeran Indrasunu dikalahkannya, aku akan memasuki sayembara bagi Pangeran Indrasunu.”
“Pangeran Indrasunu tidak menghendaki gadis itu lagi. Jika ia menang, gadis itu akan diberikan kepada pengemis kudisan.” berkata pengawalnya.
Tetapi Wasi Sambuja tertawa. Katanya, “Sudah lebih dari sepuluh kali aku mendengar ia berkata seperti itu. Tetapi ternyata gadis-gadis yang akan diserahkan kepada pengemis kudisan itu diambilnya juga menjadi selirnya meskipun hanya satu dua bulan. Baru kemudian diberikan kepada hamba-hambanya. He, siapa tahu, kau pun akan mendapat triman.”
“Ah” desis pengawal itu.
Wasi Sambuja tertawa. Katanya, “Berangkatlah dahulu. Aku akan segera menyusul. Segalanya akan aku bereskan kemudian.”
Demikianlah pengawal itu meninggalkan padepokan Ketika di hari berikutnya ia menghadap Pangeran Indrasunu, maka segalanya telah dilaporkannya.
“Bagus,” desisnya, “semua orang akan menyesali kesombongannya. Jika guru benar datang, maka segalanya akan hancur. Hari depan gadis itu pun akan aku hancurkan pula. Karena ia lelah berani menghina Pangeran Indrasunu.”
Demikianlah, hari yang ditentukan itu pun telah tiba. Di halaman belakang istana Pangeran Wirapaksi telah di buat arena dengan gawar tampar ijuk. Beberapa orang pengawal berjaga-jaga dengan ketat. Sementara yang lain akan menjadi saksi dari perang tanding yang akan diselenggarakan tanpa hadirnya gadis yang diperebutkan. Sementara Mahisa Pukat dan Mahisa Murti yang sangat ingin menyaksikan perang tanding itu terpaksa tidak dapat hadir, karena mereka harus menjaga Ken Padmi di rumahnya. Segalanya memang dapat terjadi. Kecurangan atau sikap lain yang dapat merugikan.
Sebenarnyalah tidak terlalu banyak saksi yang berada di sekitar arena perang tanding itu, termasuk para pengawal Pangeran Indrasunu.
Dalam pada itu perang tanding itu sendiri, tidak didengar sama sekali oleh orang-orang di luar istana Pangeran Wirapaksi, karena Pangeran Wirapaksi sendiri telah memerintahkan kepada para pengawalnya untuk tidak mengatakan kepada siapa pun juga di luar lingkungan istana itu.
Dalam pada itu, maka Mahisa Bungalan dan Pangeran Indrasunu pun telah bersiap-siap memasuki arena. Pangeran Wirapaksi dan Mahisa Agni akan menjadi penengah di dalam arena.
Setelah semuanya dianggap siap, maka perang tanding yang tidak banyak di ketahui orang itu pun sudah siap untuk dimulai. Mahisa Bungalan telah turun ke arena. Kemudian Pangeran Indrasunu pun telah bersiap pula di luar gawar.
“Sebenarnya tidak pantas aku memasuki arena perang tanding melawan seseorang yang tidak sederajad.” berkata Pangeran Indrasunu.
“Jangan begitu,” sahut Pangeran Wirapaksi, “dalam olah kanuragan, semua orang sederajad. Siapa yang trampil dan memiliki kemampuan lebih baik, ia akan menang. Derajad sama sekali tidak akan mempengaruhi kemampuan di dalam arena perang tanding.”
Pangeran Indrasunu memandang Mahisa Bungalan sejenak. Namun kemudian ia pun meloncat memasuki arena sambil berkata, “Tetapi baiklah. Jika kau menjadi pepalang. He, kenapa kaulah yang harus memasuki arena?”
“Ia mempunyai hak,” jawab Mahisa Agni, “ia mempertahankan saudara sepupunya.”
“O, jadi tegasnya keluarga kalian telah menolak keinginanku. Dan anak yang bernama Mahisa Bungalan itu mewakili kalian untuk mengesahkan penolakan kalian?” berkata Pangeran Indrasunu.
“Ya.” jawab Mahisa Bungalan tegas.
“Baiklah.” berkata Pangeran Indrasunu, “Aku sudah siap.”
“Perang tanding ini dapat segera dimulai,” berkata Pangeran Wirapaksi, “tetapi aku ingin memperingatkan. Perang tanding ini adalah perang tanding antara para kesatria. Semua pihak harus bersikap jujur. Yang kalah harus dengan jantan mengaku kalah, atau perang tanding akan dihentikan jika salah satu pihak sudah jelas tidak akan mampu melawan lagi.”
“Bagus,” sahut Pangeran Indrasunu, “kita dapat segera mulai.”
Pangeran Wirapaksi pun kemudian bertanya kepada Mahisa Bungalan, “Apakah kau sudah siap?”
Mahisa Bungalan mengangguk. Jawabnya, “Aku sudah siap.”
“Kau sudah siap adimas?” bertanya Pangeran Wirapaksi kepada adik iparnya.
“Ya. Aku sudah siap.” jawab Pangeran yang masih muda itu.
Demikianlah, maka sejenak kemudian Pangeran Wirapaksi telah memberikan isyarat kepada kedua anak muda yang berada di arena perang tanding itu.
Pangeran Indrasunu bergeser setapak. Dengan wajah tengadah ia memandang Mahisa Bungalan yang masih tetap berdiri tegak di tempatnya.
“Apakah yang dapat dilakukannya?” desis Pangeran Indrasunu di dalam hatinya.
Namun ketika Pangeran Indrasunu melangkah semakin dekat, maka Mahisa Bungalan pun mulai bergeser pula. Ia berputar ke arah Pangeran Indrasunu bergerak.
Namun tiba-tiba saja Pangeran Indrasunu itu meloncat menyerang. Demikian tiba-tiba. Meskipun serangan, itu tidak terlalu keras, tetapi memang terlalu cepat untuk dapat dihindari.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan tidak menghindarinya. Serangan Pangeran Indrasunu yang mengarah ke dadanya itu telah ditangkisnya dengan tangannya yang bersilang. Mahisa Bungalan sengaja sekedar menahan serangan itu dan tidak menghentakkannya dengan kekuatannya, sekedar untuk menjajagi kekuatan Pangeran Indrasunu, meskipun ia tahu, serangan itu bukanlah serangan yang sebenarnya.
Yang ternyata terkejut adalah Pangeran Indrasunu. Bukan karena benturan kekuatan. Tetapi bahwa Mahisa Bungalan sempat menangkis serangannya itu. Dengan demikian, maka Pangeran Indrasunu dapat memperhitungkan, bahwa lawannya adalah seorang anak muda yang mampu bergerak cepat sekali.
Namun demikian Pangeran Indrasunu masih belum yakin akan kemungkinan-kemungkinan yang dapat dikembangkan dengan kecepatan gerak lawannya. Karena itulah, maka sejenak kemudian maka Pangeran muda itu pun telah bertempur semakin cepat. Ia mulai dengan serangan-serangan yang susul menyusul.
Beberapa kali Mahisa Bungalan sempat menangkis dan menghindari serangan-serangan lawannya. Bahkan ia condong untuk bertahan, dan sama sekali masih belum bermaksud untuk menyerang.
Namun nampaknya Pangeran Indrasunu menganggap bahwa Mahisa Bungalan tidak sempat membalas serangan-serangannya dengan serangan pula. Justru karena itu, maka ia berniat untuk dengan cepat menyelesaikan pertempuran itu.
Karena itu, maka serangan-serangan Pangeran Indrasunu pun menjadi semakin lama semakin cepat. Apabila Mahisa Bungalan menghindar, maka ia pun segera memburunya. Dengan loncatan-loncatan panjang ia menyerang terus-menerus tanpa memberi kesempatan kepada lawannya sama sekali.
Tetapi Mahisa Bungalan memang tidak memerlukan agar lawannya memberikan kesempatan kepadanya, karena jika dikehendaki Mahisa Bungalan akan segera dapat mengambil kesempatan itu sendiri.
Demikianlah, ketika Pangeran Indrasunu sudah mengerahkan segenap kemampuannya dan sama sekali tidak berhasil menyentuhnya, maka Mahisa Bungalan pun mulai bersiap-siap untuk memberikan perlawanan yang sesungguhnya kepada Pangeran yang sombong itu.
Demikianlah, maka di saat-saat berikutnya, Mahisa Bungalan tidak hanya sekedar menghindar dan menghindar. Ketika serangan Pangeran Indrasunu menjadi semakin cepat, maka mulailah ia membalas serangan Pangeran Indrasunu yang masih muda itu dengan serangan pula.
Pangeran Indrasunu terkejut ketika tiba-tiba saja justru Mahisa Bungalan telah menyerangnya, bahkan pada saat yang tidak terduga sama sekali.
Dengan demikian, maka pertempuran itu pun segera berubah. Mahisa Bungalan tidak lagi sekedar menghindar dan menangkis serangan lawannya, namun ia pun mulai menyerang pula, sebagaimana dilakukan oleh Pangeran Indrasunu.
Pangeran Indrasunu yang semula menganggap bahwa Mahisa Bungalan tidak mampu membalas serangan-serangannya, terpaksa menentukan sikap lain untuk mengatasinya. Pangeran Indrasunu tidak saja meningkatkan kecepatan geraknya, namun ia pun mulai mengerahkan segenap kekuatan dan kemampuannya. Ternyata bahwa kecepatannya saja tidak dapat mengatasi kemampuan lawannya, karena pada benturan-benturan yang terjadi, justru tangan Pangeran Indrasunu mulai bergetar.
Ternyata Pangeran Indrasunu pun bukan seorang anak muda yang lemah. Ia memang mempunyai kemampuan sehingga kesombongannya itu pun telah dibekali dengan ilmu yang dapat dipergunakannya pada saat-saat yang memaksa. Namun menghadapi Mahisa Bungalan, Pangeran Indrasunu itu harus menilai kenyataan yang dihadapinya. Semakin lama tekanan Mahisa Bungalan justru menjadi semakin kuat. Bahkan akhirnya Pangeran Indrasunu seolah-olah tidak mendapat tempat lagi di arena perang tanding itu.
Jika mula-mula ia menyangka bahwa Mahisa Bungalan tidak pernah mempunyai kesempatan untuk membalas serangan-serangannya dengan serangan pula, maka kemudian justru terjadi sebaliknya.
Karena itu, maka akhirnya Pangeran Indrasunu itu pun telah mengambil keputusan untuk mempergunakan puncak ilmunya yang jarang sekali dipergunakan selain pada saat-saat yang paling gawat.
Menghadapi Mahisa Bungalan, Pangeran Indrasunu tidak mempunyai pilihan lain. Ia sudah memutuskan untuk mempergunakan puncak ilmunya, meskipun dengan demikian lawannya akan lebur menjadi abu. Ia tidak lagi dapat membatasi diri dengan sekedar mengalahkan lawannya dan membuat lawannya mengakui kekalahan.
Karena itulah, ketika Pangeran Indrasunu itu telah terdesak oleh serangan-serangan yang beruntun, maka ia pun segera berusaha untuk mengambil jarak.
Mahisa Bungalan pun terkejut ketika ia melihat lawannya bersikap. Ternyata menurut pengalaman serta pengenalannya atas olah kanuragan, maka Pangeran Indrasunu sedang mempersiapkan ilmu puncaknya yang tentu memiliki daya kemampuan yang luar biasa.
Karena itu, maka Mahisa Bungalan pun tidak memburunya. Justru ia pun telah surut selangkah.
Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra pun menjadi tegang melihat kenyataan itu. Bahkan Pangeran Wirapaksi pun telah bergeser selangkah. Tetapi ia tidak dapat mencegah. Segalanya kemudian telah terjadi. Pangeran Indrasunu yang telah sampai pada puncak ilmunya itu telah meloncat menyerang Mahisa Bungalan.
Tetapi dalam pada itu, Mahisa Bungalan pun telah siap menghadapi kemungkinan itu. Ketika ilmu puncak itu membentur pertahanannya, maka beradulah dua puncak ilmu yang nggegirisi.
Mahisa Bungalan ternyata telah terdorong beberapa langkah surut. Ia pun tidak mampu bertahan pada keseimbangannya, sehingga karena itu, maka ia pun telah terhuyung-huyung dan jatuh terduduk. Nafasnya menjadi sesak dan matanya pun berkunang-kunang.
Namun Mahisa Bungalan masih memiliki kesadaran sepenuhnya. Karena itu, maka ia pun segera memperbaiki keadaannya. Ia pun kemudian duduk sambil menyilangkan tangannya di dadanya. Dengan mengatur pernafasannya ia berusaha untuk memusatkan daya tahan tubuhnya untuk melawan perasaan sakit yang seolah-olah menghimpit jantungnya.
Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra pun telah berada di seputarnya. Namun mereka sama sekali tidak menyentuhnya. Perang tanding itu masih belum dinyatakan selesai oleh Pangeran Wirapaksi sehingga mereka masih menunggu dengan membiarkan mereka yang berperang untuk menolong dirinya sendiri.
Namun dalam pada itu, ternyata keadaan Pangeran Indrasunu telah terlempar dan terbanting jatuh, sehingga tidak lagi sadar akan dirinya.
Karena itu, maka Pangeran Wirapaksi pun telah berlari-lari mendekatinya. Namun demikian ia berjongkok di samping adik iparnya, maka ia pun terkejut ketika seorang pengawal Pangeran Indrasunu itu mendekatinya sambil berdesis, “Jangan kau sentuh Pangeran. Kau sudah merelakan adik iparmu sendiri.”
Pangeran Wirapaksi terkejut. Ketika ia memandang pengawal itu dengan saksama, maka ia pun berdesis, “Wasi Sambuja.”
“Aku sudah tahu, bahwa kau akan sampai hati membiarkan adik iparmu mengalami bencana seperti ini.” desis Wasi Sambuja. Lalu, “Tetapi aku juga tidak dapat menyalahkan Pangeran, karena kedudukan Pangeran. Pangeran tentu tidak senang melihat sikap adik ipar Pangeran, dan dengan perang tanding yang tertutup ini Pangeran ingin sedikit memberi pelajaran kepada adik ipar Pangeran.”
“Ya.” desis Pangeran Wirapaksi.
“Tetapi Pangeran lupa, bahwa yang terjadi ini telah menyinggung harga diri sebuah padepokan. Sebuah perguruan.” berkata Wasi Sambuja selanjutnya.
Wajah Pangeran Wirapaksi menjadi tegang. Ia sama sekali tidak menduga, bahwa persoalannya akan berkembangan menjadi semakin luas. Tiba-tiba saja guru Pangeran Indrasunu itu sudah berada di halaman itu dengan mengenakan pakaian seorang pengawal.
Dalam kebimbangan itu, terdengar Wasi Sambuja berkata, “Pangeran. Kita semua tidak dapat ingkar. Bahwa dalam perang tanding ini, Pangeran Indrasunu sudah dapat dikalahkan oleh Mahisa Bungalan. Sebentar lagi Mahisa Bungalan akan dapat menguasai dirinya, pernafasannya akan pulih, dan kekuatannya pun akan segera tumbuh kembali, sehingga sejenak kemudian ia sudah siap untuk menghadapi segala kemungkinan seandainya perang tanding ini akan diteruskan.”
“Jadi maksudmu, perang tanding ini sudah selesai?” bertanya Pangeran Wirapaksi.
“Belum, Pangeran.” jawab Wasi Sambuja, “Masih akan ada kelanjutannya. Jika Mahisa Bungalan sudah berani membuka sayembara, maka ia akan berani menghadapi siapa pun juga.”
“Tidak. Itu tidak benar. Sayembara ini tertutup,” jawab Pangeran Wirapaksi, “persoalannya adalah penyelesaian persoalan antara Mahisa Bungalan sebagai keluarga seorang gadis yang bernama Ken Padmi dengan Adimas Indrasunu.”
Tetapi Wasi Sambuja tertawa. Katanya, “Sudahlah. Nyatakan bahwa Pangeran Indrasunu sudah kalah. Aku akan mengobatinya.”
Pangeran Wirapaksi menjadi tegang. Namun ia pun kemudian berdiri di sudut arena sambil berkata, “Perang tanding telah dimenangkan oleh Mahisa Bungalan.”
Mahisa Agni, Witantra dan Mahendra menarik nafas dalam-dalam. Meskipun mereka melihat, bahwa Pangeran Wirapaksi telah terlibat dalam satu pembicaraan yang bersungguh-sungguh dengan seorang pengawal, tetapi ternyata bahwa Pangeran Wirapaksi segera mengambil satu keputusan yang bijaksana.
Namun dalam pada itu, mereka menjadi berdebar-debar ketika pengawal yang telah berbicara dengan sungguh-sungguh dengan pangeran Wirapaksi itu pun kemudian berdiri sambil berkata, “Aku mohon maaf, bahwa aku ingin mengajukan satu persoalan kepada Pangeran Wirapaksi.”
Wajah Pangeran Wirapaksi menjadi tegang. Sementara itu Wasi Sambuja pun berkata, “Perang tanding ini sudah dinyatakan selesai. Anak muda yang bernama Mahisa Bungalan itu telah dinyatakan menang dan Pangeran Indrasunu telah dinyatakan kalah. Namun dalam pada itu, aku menyatakan, bahwa aku pun ingin memasuki arena perang tanding dalam persoalan yang sama. Aku minta gadis yang bernama Ken Padmi itu bagi siapapun juga yang aku tentukan kemudian, setelah gadis itu menjadi milikku.”
Suasana di sekitar arena itu menjadi tegang. Wajah Mahisa Bungalan menjadi merah membara. Meski pun keadaan tubuhnya masih belum pulih benar, namun ia sudah berusaha untuk bangkit.
Tetapi Pangeran Wirapaksi berpikir tangkas. Sebelum Mahisa Bungalan menjawab tantangan itu, yang akan berarti kehancuran baginya, karena Pangeran Wirapaksi dapat menilai kemampuan Wasi Sambuja, maka ia telah berkata mendahului jawaban Mahisa Bungalan. “Ternyata bahwa telah timbul persoalan baru di arena ini. Satu tantangan baru telah datang. Orang yang dalam pakaian seorang pengawal ini adalah seorang yang pilih tanding.”
“Kau tidak perlu menyebut apapun juga Pangeran,” potong Wasi Sambuja, “kecuali sebut saja namaku.”
“Baiklah,” sahut Pangeran Wirapaksi cepat, “namanya adalah Wasi Sambuja, ia adalah guru dari Pangeran Indrasunu.”
Wajah Wasi Sambuja menjadi tegang. Tetapi ia pun kemudian tersenyum sambil berkata, “Muridku telah kalah. Tetapi aku ingin mendapat hak yang sama, karena aku juga menghendaki gadis itu. Atau barangkali kalian, keluarga dekatnya, merelakan gadis itu aku ambil dari rumahmu?”
Mahisa Bungalan bergeser setapak. Tetapi Witantra telah menggamitnya. Katanya, “Permainan bagi anak-anak muda sudah selesai. Kau sudah berhasil mengurungkan niat Pangeran Indrasunu untuk mengambil Ken Padmi. Jika kemudian datang orang tua yang berniat seperti Pangeran Indrasunu, biarlah orang-orang tua juga yang menyelesaikannya.”
Pangeran Wirapaksi menarik nafas dalam-dalam. Ia mengenal Witantra, seperti ia juga mengenal Mahisa Agni dan Mahendra. Karena itu, ketika Witantra menyatakan dirinya untuk menggantikan Mahisa Bungalan, maka Pangeran Wirapaksi menjadi sedikit tenang.
Dalam pada itu Wasi Sambuja itu pun mengerutkan keningnya. Dengan nada datar ia bertanya, “Kau siapa?”
“Aku pamannya. Akulah, yang telah membawa gadis itu dari padepokannya. Karena itu, maka adalah kewajibanku untuk mempertahankannya.” berkata Witantra.
Sementara itu Mahisa Agni pun bergeser pula sambil berdesis, “Serahkan orang itu kepadaku.”
Tetapi dengan tidak sengaja Witantra menjawab, “Kau sudah membunuh Ki Dukut Pakering. Jangan bertempur lagi sekarang ini. Suasananya agak berbeda. Jika kau masih dibayangi oleh sifat dan tabiat Ki Dukut, maka akibatnya akan gawat.”
Wajah Wasi Sambuja menegang mendengar nama itu disebut. Hampir di luar sadarnya ia bertanya, “Ki Dukut siapa yang kalian maksud?”
“Ki Dukut Pakering.” jawab Witantra.
“Guru Pangeran Kuda Padmadata?” desak Wasi Sambuja.
“Ya. Guru Pangeran Kuda Padmadata yang sudah kehilangan kepribadian itu. Namun ia masih memiliki ilmunya yang luar biasa itu.” sahut Witantra.
Terasa jantung Wasi Sambuja berdebaran. Namun kemudian ia berkata, “Ki Dukut nasibnya memang sangat buruk.”
Witantra mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia bertanya, “Kenapa kau menganggapnya bahwa nasibnya sangat buruk?”
“Aku sudah mendengar bahwa ia mati terbunuh, jadi orang itukah yang telah membunuhnya?” bertanya Wasi Sambuja pula.
“Bukan maksudku,” jawab Mahisa Agni, “tetapi demikianlah yang telah terjadi.”
“Petualangannya telah membuat tubuh dan hatinya, ringkih, sehingga kau berhasil membunuhnya,” berkata Wasi Sambuja, “seandainya aku yang bertemu dengan orang itu di saat terakhir, aku pun akan dengan mudah membunuhnya.”
Witantra mengangguk sambil berkata, “Mungkin Ki Sanak akan dapat melakukannya. Tetapi sebaiknya kita tidak berbicara tentang bunuh membunuh. Kita tidak akan saling membunuh. Jika persoalannya adalah karena gadis itu, maka aku adalah pamannya yang membawanya dari padepokan, sehingga aku memang wajib mempertahankannya. Tetapi jika persoalannya adalah harga diri dari satu perguruan, maka aku minta maaf, bahwa Mahisa Bungalan sama sekali tidak berniat untuk menyinggung harga diri perguruan Pangeran Indrasunu, tetapi semata-mata untuk mewujudkan penolakan Ken Padmi atas keinginan Pangeran Indrasunu untuk mengambilnya dan memberikannya kepada pengemis kudisan di pinggir jalan.”
Wasi Sambuja menarik nafas dalam-dalam. Katanya, “Soalnya memang tidak begitu sederhana. Tetapi baiklah, aku akan melawanmu di arena.”
Witantra tidak menjawab lagi. Ia pun kemudian membenahi dirinya, sementara Wasi Sambuja telah membantu Pangeran Indrasunu yang telah sadar untuk duduk. Ia pun telah memberikan sebutir obat berwarna hijau kehitaman yang dibuatnya dari reramuan dedaunan.
“Makanlah. Pangeran akan segera merasa sehat kembali.” berkata Wasi Sambuja.
Pangeran Indrasunu pun kemudian menelan obat yang diberikan oleh gurunya. Sebenarnyalah sejenak kemudian ia merasa tubuhnya menjadi semakin segar setelah ia minum seteguk air yang telah mencairkan sebutir obat itu di dalam perutnya.
Dalam pada itu, maka sesaat kemudian, yang berdiri di tengah arena bukan lagi dua orang auak-anak muda. Namun yang telah terjadi di antara anak-anak muda itu telah menyeret orang-orang tua melibatkan diri ke dalamnya.
“Ki Sanak,” berkata Wasi Sambuja, “aku ingin memperingatkan kau sebelumnya, bahwa aku ingin menebus kekalahan muridku. Kemudian merampas gadis itu dan seperti yang dikehendaki oleh muridku, memberikan gadis itu kepada pengemis di pinggir jalan. Karena itu, maka aku akan bertempur dengan segenap kemampuanku untuk mengalahkanmu. Jika kau merasa bahwa kau sudah tidak mampu lagi mengimbangi ilmuku, aku minta kau cepat mengatakannya, agar perkelahian dapat diakhiri. Namun sebaliknya jika kau bertahan terus, aku akan meningkatkan ilmuku sampai kepada puncaknya. Aku akan menyesal sekali bahwa pada saat yang demikian terjadi atasmu sesuatu yang tidak aku kehendaki.”
Tetapi jawab Witantra mendebarkan jantung Wasi Sambuja. Katanya, “Aku mengerti sepenuhnya. Kita sudah menghendaki apa pun yang terjadi. Tetapi kita memasuki arena tanpa rasa dendam sama sekali, karena kita belum pernah tersentuh oleh satu persoalan pun sebelumnya.”
Namun Wasi Sambuja menjawab, “Kau sudah menyentuh harga diri perguruanku. Meskipun bukan kau sendiri yang melakukannya.”
Witantra tidak menjawab lagi. Tetapi ia pun segera bersiap menghadapi segala kemungkinan. Ia sadar, bahwa Wasi Sambuja tentu bukan orang kebanyakan. Bahkan, mungkin ia memiliki ilmu setingkat dengan Ki Dukut Pakering.
Karena itu, Witantra harus berhati-hati. Ia tidak boleh menganggap lawannya sekedar seorang guru dari padepokan kecil yang tidak tersebut namanya. Tetapi ia telah diangkat menjadi guru dari seorang Pangeran.
Sejenak kemudian, kedua orang-orang tua itu pun telah bersiap. Pangeran Wirapaksi yang sama sekali tidak menghendaki keadaan berkembang semakin gawat, menjadi tegang. Tetapi ia tidak dapat mencegahnya.
Berbeda dengan perang tanding antara kedua anak-anak muda, maka pada orang-orang tua itu tidak diperlukan penengah. Mereka adalah laki-laki yang menghargai sifat-sifat kesatria, sehingga tidak mudah terjadi kecurangan.
Untuk beberapa saat kedua orang di tengah arena itu saling mengamati sikap lawannya. Namun agaknya keduanya menganggap bahwa lawan mereka adalah orang-orang yang meyakinkan.
Sejenak kemudian, kedua orang itu mulai bergeser mendekat. Wasi Sambuja yang ingin menebus kekalahan muridnya itu telah menyerang lawannya. Witantra pun dengan gerak sederhana menghindari serangan yang belum bersungguh-sungguh itu. Namun ternyata serangan Wasi Sambuja yang kedua telah mengejutkan lawannya. Serangan itu bukan sekedar pancingan agar lawannya bergeser. Tetapi serangan itu benar-benar serangan yang langsung mengarah ke dada.
Witantra sebenarnyalah tidak memperhitungkannya. Karena itu, maka ia pun dengan tergesa-gesa telah meloncat surut. Namun Wasi Sambuja tidak melepaskan kesempatan itu. Dengan tangkasnya ia memburu. Serangan berikutnya benar-benar serangan yang menentukan. Agaknya Wasi Sambuja ingin menunjukkan, bahwa lawannya tidak berarti apa-apa baginya.
Witantra yang tidak menyangka itu pun benar-benar tersudut dalam kesulitan. Namun pada saat serangan lawannya terjulur ke lehernya, Ki Witantra masih sempat menjatuhkan dirinya dan berguling dengan cepat.
Namun sementara itu, Wasi Sambuja telah memperhitungkannya, bahwa Witantra tentu akan melenting berdiri secepatnya.
Karena itu, maka Wasi Sambuja telah siap meloncat di saat Witantra tegak di atas tanah. Sebelum ia sempat bersiap, maka serangan yang dilambari dengan segenap kekuatannya akan Segera mengakhiri perang tanding itu.
“Dengan demikian maka setiap orang akan menyebut namaku.” berkata Wasi Sambuja di dalam hatinya.
Namun, sekali itu perhitungan Wasi Sambuja keliru, karena Witantra pun menyadari, jika ia melenting berdiri, maka saat yang demikian itu tentu sudah ditunggu oleh Wasi Sambuja. Karena itu, maka ketika Wasi Sambuja tidak memburunya, dan bahkan bersiap untuk meloncat menyerang, maka Witantra sama sekali tidak melenting berdiri. Tetapi dengan sigapnya ia telah duduk dengan kedua kakinya bersilang memanjang.
Wasi Sambuja mengumpat meskipun hanya di dalam mulutnya. Namun ia pun telah menyerang dengan kakinya mengarah kekening Witantra yang masih terduduk.
Namun Witantra memiringkan tubuhnya. Bahkan kemudian sambil bertumpu pada sebelah tangannya, maka kakinya telah menyambar mendatar setapak di atas tanah. Demikian cepatnya, sementara kaki Wasi Sambuja yang sebelah masih terangkat.
Benturan kaki itu ternyata telah melemparkan Wasi Sambuja. Tetapi Wasi Sambuja tidak jatuh terbanting. Ia masih sempat melenting justru tepat pada saat Witantra juga melenting berdiri.
Ketika keduanya telah tegak kembali dan berhadapan di tengah arena, maka sekali lagi Wasi Sambuja mengumpat di dalam hatinya. Witantra berhasil membebaskan dirinya pada saat yang paling gawat, sehingga mereka telah berdiri dalam kedudukan yang sama.
Wasi Sambuja pun kemudian menyadari, bahwa Witantra memiliki ketrampilan yang matang dalam olah kanuragan. Karena itu, apabila mereka masih saja bertempur beradu kemampuan dan ketrampilan tenaga wadag mereka sewajarnya, maka pertempuran itu tentu akan berlangsung sangat lama. Bahkan mungkin mereka harus beristirahat untuk bertempur lagi di hari berikutnya. Tiga hari tiga malam.
Karena itu, maka Wasi Sambuja pun menyadari, bahwa ia harus mempergunakan tenaga cadangannya. Ia pun mengerti, bahwa lawannya akan mampu melakukannya. Namun dengan benturan kekuatan yang berlipat, maka segalanya pun akan semakin cepat. Kekalahan atau kemenangan akan segera dapat diketahui.
Dengan demikian, maka Wasi Sambuja yang kemudian memancing serangan Witantra, telah mempergunakan tenaga rangkapnya. Sementara itu, maka Witantra pun telah melihat pula, bahwa tenaga cadangan Wasi Sambuja telah melambari tata geraknya.
Witantra yang selalu waspada itu pun mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia tidak mau dikejutkan lagi dengan serangan yang tiba-tiba, apalagi dengan kekuatan rangkap. Serangan yang kemudian melibat Witantra, telah dihadapinya dengan lambaran tenaga cadangannya pula.
Dengan demikian maka pertempuran di arena itu pun semakin lama menjadi semakin cepat dan semakin kuat. Benturan-benturan kekuatan di antara keduanya telah mendebarkan setiap jantung mereka yang menyaksikannya.
Sebenarnyalah bahwa Wasi Sambuja adalah seorang yang memiliki kelebihan seperti juga Ki Dukut Pakering. Ia mampu bergerak dengan kecepatan yang tidak kasat mata. Namun ternyata bahwa kekuatannya pun melampaui dugaan Witantra sebelumnya.
Dengan demikian, maka pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin meningkat. Bukan saja kecepatan gerak mereka, tetapi benturan-benturan yang terjadi kemudian, seolah-olah telah mengguncang halaman istana itu.
Mahisa Agni dan Mahendra memperhatikan pertempuran itu dengan jantung berdebaran. Demikian pula Pangeran Wirapaksi. Ia tidak menyangka, bahwa di halaman istananya akan terjadi benturan kekuatan yang demikian dahsyat.
Sementara itu, Pangeran Indrasunu memperhatikan pertempuran itu dengan jantung yang rasa-rasanya berdentang semakin cepat. Ia menganggap gurunya sebagai seorang yang tidak ada duanya. Bahkan Pangeran Indrasunu tidak pernah menganggap bahwa gurunya itu berada di bawah tataran guru Pangeran Kuda Padmadata.
Namun berhadapan dengan Witantra, ternyata gurunya tidak segera berhasil mengalahkannya.
Karena itu, maka jantungnya pun berdegup semakin keras. Di pinggir arena itu masih ada dua orang tua lagi yang nampaknya memiliki kemampuan yang meyakinkan. Mahendra yang bertempur di halaman rumahnya melawan pengawalnya, ternyata tidak menunjukkan kemampuannya yang sebenarnya. Pangeran Indrasunu baru sadar, ketika ia telah bertempur melawan Mahisa Bungalan yang merupakan salah seorang anak Mahendra itu.
Jika gurunya menang atas Witantra, apakah itu berarti bahwa perang tanding ini sudah selesai? Apakah itu tidak berarti bahwa Mahisa Agni atau Mahendra, atau keduanya berturut-turut dapat memasuki arena itu pula, untuk mempertahankan gadis itu dengan cara yang telah ditempuh oleh gurunya untuk merebutnya?
Demikianlah pertempuran itu pun semakin lama menjadi semakin meningkat. Baik Wasi Sambuja maupun Witantra telah meningkatkan kemampuan mereka pula. Perlahan-lahan tetapi pasti, bahwa mereka akhirnya akan sampai kepada puncak ilmu mereka masing-masing.
Para pengawal yang menyaksikan pertempuran itu pun berdiri bagaikan patung. Mereka menjadi semakin sulit menilai, apakah yang sebenarnya telah dilakukan oleh Wasi Sambuja dan Witantra. Gerak mereka semakin cepat, dan tenaga mereka pun telah menjadi berlipat ganda. Namun sejalan dengan itu, daya tahan tubuh masing-masing pun seolah-olah telah berlipat ganda pula.
Yang nampak di arena itu pun kemudian bagaikan benturan angin pusaran yang saling melibat. Keduanya memiliki kemampuan yang sulit untuk ditangkap dengan nalar orang kebanyakan.
Namun dalam pada itu, lambat laun, justru Mahisa Agni dan Mahendra lah yang melihat, bahwa keseimbangan pertempuran itu mulai goyah. Nampaknya Witantra memiliki daya tahan yang lebih besar dari lawannya. Perlahan-lahan kekuatan Wasi Sambuja pun menjadi susut.
Namun hal itu masih belum disadari oleh orang yang berkepentingan. Wasi Sambuja memang merasa harus mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengimbangi Witantra yang mulai menekan. Namun ia belum menyadari, bahwa kekuatan yang dikerahkan tanpa kekangan itu telah menghisap segenap kekuatan yang ada padanya, melampaui batas kemampuannya.
Betapapun tinggi ilmu seseorang, namun pada suatu saat akan nampak bahwa kemampuan manusia tetap dalam keterbatasan. Di saat-saat batas itu telah disentuh, maka seseorang tidak mungkin lagi untuk mengatasinya.
Demikian pula Wasi Sambuja. Perlawanannya mulai susut, sehingga perlahan-lahan ia mulai terdesak setapak demi setapak.
Ketika tiba-tiba saja Wasi Sambuja yang menghindari serangan Witantra menyentuh gawar, barulah ia mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi. Agaknya ia telah terdesak menepi tanpa sadarnya.
Dengan demikian, maka Wasi Sambuja pun mulai memperhatikan dengan sungguh-sungguh keseimbangan pertempuran itu. Ketika ia menghentakkan tenaganya, dan ternyata ia tidak berhasil mendesak dan apalagi mengenai Witantra, maka ia pun mulai yakin, bahwa lawannya masih dalam keadaan yang lebih baik dari dirinya.
Namun demikian, Wasi Sambuja sama sekali tidak berniat untuk menghentikan perang tanding itu. Ia masih mempunyai harapan. Meskipun tenaganya mulai susut, tetapi jika lawannya membuat kesalahan besar atau kecil, maka ia akan dapat memanfaatkannya justru pada saat-saat yang paling gawat.
Tetapi Witantra seolah-olah tidak akan pernah melakukan kesalahan yang betapapun kecilnya. Bahkan semakin lama menjadi semakin jelas, bahwa Witantra telah mendesaknya semakin berat.
Wasi Sambuja menjadi gelisah. Ia melihat benturan ilmu antara muridnya dengan Mahisa Bungalan. Sementara itu, Wasi Sambuja pun tahu, bahwa Mahisa Bungalan, anak Mahendra telah memiliki ilmu yang sejalan dengan ilmu Witantra. Meskipun Wasi Sambuja tidak pasti, namun ia menganggap bahwa Witantra memiliki ilmu dari sumber yang sama dengan Mahisa Bungalan dalam tataran yang lebih tinggi. Bahkan Wasi Sambuja menduga, bahwa Mahisa Bungalan adalah murid Witantra yang memasuki arena ketika ia memasukinya pula untuk menebus kekalahan Pangeran Indrasunu.
Rasa-rasanya akan terulang kembali apa yang telah terjadi. Pangeran Indrasunu tidak mampu menembus kekuatan ilmu Mahisa Bungalan, sehingga karena itu, maka Wasi Sambuja itu pun bertanya kepada diri sendiri, “Apakah aku mampu menghancurkannya dengan ilmu pamungkasku?”
Namun akhirnya Wasi Sambuja sampai pada satu kesimpulan, bahwa persoalannya akan berbeda. Jika Pangeran Indrasunu tidak mampu menembus kekuatan ilmu Mahisa Bungalan itu bukan berarti bahwa sumber ilmunya-lah yang kalah. Tetapi unsur manusianya itu pun mempunyai pengaruh yang kuat pula. Dalam hal kedua anak muda itu, maka Wasi Sambuja menilai bahwa Mahisa Bungalan memang memiliki kemungkinan lebih baik dari Pangeran Indrasunu. Dan itu bukan berarti bahwa guru kedua anak muda itu tercermin sepenuhnya kepada murid-muridnya.....
Bersambung....!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar