Rabu, 17 Februari 2021

AYAT-AYAT CINTA 2 JILID 15

15


BUNGA BUNGA MAKRIFAT


"Menurutku Hoca tidak perlu repot-repot menolongnya sampai minta Nyonya Suzan segala. Apalagi ibunya sendiri tidak peduli lagi padanya. Keira sudah bukan anak-anak lagi, dia melakukan hal itu pasti sudah memikirkannya dengan sungguh-sungguh. 

Kalau Hoca mau mencoba menolongnya, mungkin Hoca bisa lapor kepada pihak polisi saja untuk memeriksa Keira. Itu jika Hoca khawatir ada unsur human trafficking dibalik apa yang dilakukan oleh Keira."

"Apa yang Paman Hulusi sampaikan ada benarnya. Tapi saya rasa lapor polisi saja tidak cukup Paman. 
Jika saya bisa menyelamatkan kesucian tetangga kita itu akan saya lakukan. Saya teringat adik perempuan saya, keponakan-keponakan saya. Jika saya mampu memberikan solusi pada akar masalah yang menimpa Keira kenapa tidak? Jika saya mampu mengantarkannya mencapai impiannya kenapa tidak?"

"Apa Hoca tertarik pada Keira? Maaf."

"Paman Hulusi ada-ada saja. Kayak Paman belum kenal aku saja. Apakah ada tanda-tanda aku seperti itu?" Paman Hulusi menggeleng.

"Hanya kerelaan dari Allah yang aku harapkan Paman."

"Entah kenapa, aku merasa Hoca melakukan hal aneh-aneh."

"Aneh-aneh bagaimana Paman?"

"Ya misalnya saja, pertama, menolong perempuan bermuka buruk itu. Mengobatkan dia di klinik sampai sembuh. Bahkan mengajaknya untuk tinggal di rumah ini, meskipun di letakkan di baseman paling bawah. Kenapa tidak Hoca serahkan saja pada pemerintah kota sini biar diurusi mereka? Atau 
sewakan rumah saja. Kedua, begitu baik sama Jason. Bahkan Hoca membiayai keinginannya untuk sekolah bola. Ketiga, repot-repot menolong Keira. Terus repot-repot mau menolong nenek Catarina yang rumahnya mau dijual anak tirinya. Disini sudah biasa nenek tua itu hidup di panti jompo. Terlalu jauh Hoca mengurusi nenek-nenek itu menurut saya."

"Apakah ada yang salah Paman?"

"Bukan salah Hoca, tapi..."

"Kita beramal tidak usah pakai tapi-tapian Paman. Kita berusaha ikhlas, namun demikian hanya Allah saja yang berhak menilai. Jika itu semua diterima Allah sebagai amal shaleh selain mengharap ridha-Nya di akhirat, aku berharap pahalanya sampai kepada Aisha, jika Aisha benar-benar telah mati. 

Jika masih hidup, aku berharap itu membuat Aisha selalu dirahmati oleh Allah dan dalam kondisi apapun juga aku masih diberi kesempatan oleh Allah berjumpa dengannya Paman."

Kata-kata Fahri itu diikuti dadanya yang bergetar dan kedua mata yang berkaca-kaca. 

Paman Hulusi menunduk mendengar penjelasan Fahri. Orang tua itu bisa merasakan sedemikian dahsyat rasa cinta Fahri kepada istrinya Aisha. Sampai menyertakan Aisha dalam amal-amal baiknya.

Fahri menyeka air matanya dan diam. Pandangannya menerawang menerobos jendela. Ia melihat bunga Sakura merah muda yang bermekaran didepan rumah Brenda. 

Bunga Sakura itu bergoyang-goyang diterpa hembusan angin. Beberapa kelopak bunganya lepas dan melayang dibawa angin, lalu jatuh ke tanah.

"Bunga sakura itu indah sekali Paman." Gumam Fahri.

Paman Hulusi jadi mengangkat mukanya dan memandang ke arah Fahri memandang. Ia ikut menikmati indahnya Sakura.

" Iya indah sekali."

"Tapi aku tak ingin cinta dan kasih sayangku kepada Aisha seperti bunga Sakura."

"Kenapa Hoca? Bunga Sakura itu indah sekali, setiap kali merekah membuat dunia sekitarnya berubah jadi indah juga. Ia seperti bunga yang diturunkan dari surga."

"Ah Paman hanya melihat zahir yang menipu. Paman tidak melihat hakekat yang lebih penting untuk dihayati."

"Apa itu Hoca."

"Bunga Sakura itu indah, ya sangat indah, tapi sayang umurnya sangat sebentar. Sangat singkat. Bahkan ia tidak merekah sepanjang musim semi. Mungkin hanya merekah di sepertiga musim semi. lndah sesaat tapi tak memberikan manfaat yang besar untuk manusia. Bahkan orang-orang yang sedih yang 
menghibur diri dengan memandangnya harus kecewa, ketika dukanya belum hilang bunga Sakura itu telah gugur dan lalu musnah dari pandangan. lndah yang cuma sesaat. Aku tak mau cinta yang seperti itu."

"Terus cinta Hoca seperti bunga apa? Bunga mawar?"

"Tidak. Saya tidak ingin cinta yang berduri."

"Lalu bunga apa? Dan filosofinya bagaimana?"

"Aku ingin cintaku kepada Aisha seperti bunga-bunga makrifat di hati para shalihin, di para Nabi. Bunga-bunga makrifat yang tumbuh dari kalimat-kalimat thayyibah yang akarnya menghunjam ke bumi dan buahnya rimbun di langit. Bunga-bunga makrifat itu tidak pernah layu, selalu mekar sepanjang musim. Bunga-bunga makrifat itu begitu indah, keindahannya hanya bisa ditangkap oleh mata batin para pecinta sejati. Bunga-bunga makrifat itu menguapkan aroma keharuman yang menyegarkan ruh, menyegarkan pikiran, jiwa dan raga. Aku ingin cintaku kepada Aisha seperti itu Paman."

Paman Hulusi memejamkan mata. Dari sudut kedua matanya, ada air mata yang merembes.

"Sungguh beruntung Aisha Hanem. Kalau dia masih hidup, dia harus tahu itu. Apakah Hoca pernah menyampaikan hal itu kepada Aisha?"

"Aku lupa, apakah pernah menyampaikan kepadanya apa tidak. Aku terlalu menikmati mencintainya karena Allah. Semoga saja dia merasakan seperti itulah cintaku kepadanya."

"Sekarang aku sedikit bisa memahami keanehan-keanehan yang Hoca lakukan selama ini. Mungkin mata batinku masih kusam sehingga belum bisa menangkap lebih dalam keindahan cinta yang menebar 
manfaat itu."

"Paman tolong panggilkan perempuan itu. Siapa namanya?"

"Sabina."

"Ya Sabina. Panggil dia kemari Paman."

"Baik Hoca."

Sebelum Paman Hulusi berdiri dari duduknya, terdengar suara serak dari arah dapur.

"Saya datang Tuan."

"Sabina?! Kau di situ?" Paman Hulusi kaget memandang kearah Sabina di dapur. Pintu dapur terbuka. 

Tampak perempuan berjubah hitam berjilbab hitam bermuka buruk berdiri dengan muka menunduk. 

Fahri mendongakkan wajahnya melihat Sabina.

"Sejak kapan kau di situ?Lancang! Kau menguping pembicaraan kami!"

"Ma... maafkan saya Tuan Hulusi, sungguh maafkan saya. Saya tidak sengaja. Saya tadi naik ke dapur dari bawah, ni...niat saya mau menawarkan membuatkan teh untuk Tuan berdua. Saya ti..tidak berniat menguping pembicaraan. Saya hanya dengar sedikit kata-kata Tuan Fahri tentang bunga-bunga 
makrifat. Ma... maafkan saya!"

"Lancang! Jangan diulangi!"

"I..iya Tuan."

"Paman Hulusi, jangan kasar begitu. Dia sudah minta maaf. Yang ia dengar juga bukan sesuatu yang aib. Kemarilah Sister Sabina, kemari!"

Perempuan itu berjalan pelan dengan menundukkan kepala, lalu hendak duduk di lantai, namun langsung dicegah Fahri.

"Hei, hei, jangan duduk dilantai! Siapa nyuruh duduk dilantai sister? Duduklah di kursi."

Sabina lalu duduk di kursi disebelah kiri Fahri dan di sebelah kanan Paman Hulusi.

"Sister Sabina."

"Iya Tuan Fahri."

"Saya hanya tahu sedikit tentang Anda dari Paman Hulusi. Saya ingin dengar langsung dari Anda lebih detil. Tolong ceritakanlah dengan jujur, apa adanya, dengan detil, siapa Anda, darimana Anda, keluarga Anda dimana, dan kenapa sampai hidup jadi gelandangan dan pengemis di Edinburgh? 
Ceritakanlah apa adanya, semoga saya bisa membantu mencarikan solusi atas kesukaran yang Sister hadapi!"

"Permasalahan, kesukaran dan penderitaan saya terlalu rumit dan komplek. Tuan tidak akan bisa mengurai dan membantu mencari jalan keluar. Seharusnya Tuan tidak usah repot-repot membantu saya. Biarkan saja saya di jalanan dan biar Allah yang mencarikan jalan keluarnya."

"Sabina, jangan lancang, jaga ucapanmu kepada Hoca Fahri." Hardik Paman Hulusi.

"Jangan kasar-kasar Paman. Sister Sabina berhak berbicara Paman."

"Iya Hoca. Tapi kata-katanya menurutku tidak pada tempatnya. Sudah ditolong dengan baik-baik tapi sok tidak perlu pertolongan. Padahal di jalanan bertampang memelas minta belas kasih orang dan memasang tulisan di dadanya, 'Homeless, please help me!"
Sabina menunduk dengan kedua mata berkaca-kaca.

"Sudah paman, sudah!" Fahri menghela nafas.

"Sister Sabina, saya minta maaf sebesar-besarnya jika keberadaan Anda di rumah ini membuat Anda tidak merasa nyaman. Saya mohon maaf jika menempatkan Anda di basement bukan di lantai satu atau lantai dua. Itu semata-mata untuk menjaga kesucian kita bersama. Meskipun di basement saya 
berusaha itu adalah tempat yang layak untuk siapa saja. Toh pada hakekatnya itu bukan sebuah ruangan di bawah tanah. Itu adalah ruangan dengan jendela-jendela dan pintu ke halaman belakang. 
Saya mohon maaf jika masih kurang menghormati Anda. Kalau misalnya Anda tidak mau kami tolong maka kami tidak memaksa. Asal Anda tahu saja, seperti saya pernah sampaikan saat Anda masih di klinik itu, saya tidak semata-mata melakukan ini untuk membantu Anda, tapi saya sedang berusaha 
semaksimal yang saya mampu untuk membantu umat Islam yang minoritas di kota ini. Apa yang Anda lakukan dengan mengemis di jalan itu memperburuk citra umat ini. Dan Anda harus tahu, mengemis itu dilarang oleh Rasulullah saw.. Saya alhamdulillah diberi amanah oleh Allah sedikit titipan harta. Yang 
jujur itu sesungguhnya benar-benar bukan harta saya, itu semua sejatinya milik istri saya. 

Di harta itu ada hak buat fakir miskin dan yang tidak mampu. Kalau Anda tidak mau tinggal di sini, saya akan usahakan mencarikan rumah, dan mencarikan pekerjaan yang layak buat Anda. Saya belum tahu Anda di sini legal apa ilegal. Kalau ilegal saya akan bantu semampu yang saya bisa agar Anda jadi legal di sini. 

Sekarang silakan Anda bicara, saya akan dengarkan sebaik-baiknya. Saya sangat berterima kasih jika pertanyaan-pertanyaan saya itu Anda jawab dengan jelas."

Sabina menunduk diam. Ia tidak bicara. Keheningan menyelimuti ruangan itu sesaat.

"Silakan bicara Sister Sabina." Lirih Fahri kembali mengulang permintaannya.

Yang terdengar malah isak tangis perempuan itu. Fahri menghela nafas, Paman Hulusi tampak marah dan sebel kepada perempuan itu. Namun ia diam dengan mengatupkan rahangnya.

"Ma.. maafkan saya." Lirih Sabina.

"Don't worry, tolong jika berkenan jawablah pertanyaan saya tadi. Anda asalnya dari mana? Keluarga Anda di mana dan seterusnya?" Sahut Fahri.

"Na.. nama saya Sabina." Ucap Sabina lebih keras dengan suara serak.

"Kami sudah tahu namamu Sabina. Jawablah pertanyaan Hoca Fahri, apa kamu tidak dengar?" Geram Paman Hulusi.

"Paman, tolong." Fahri memberi isyarat agar Paman Hulusi bersikap lembut.

"Saya tidak punya keluarga disini. Saya sebatang kara. Mohon maaf saya tidak bisa menceritakan ihwal keluarga saya. Mohon maaf, jangan paksa saya."

"Kami tidak akan memaksa. Jeiaskan saja apa yang bisa Anda jelaskan pada kami, supaya kami bisa membantu Anda."

"Saya berasal dari Eropa Timur. Saya lari ke Britania Raya ini nekad. Saya tidak bawa apa-apa kecuali nyawa. Saya harus lari karena tidak kuat lagi dengan penderitaan yang saya alami. Saya berharap disini dapat hidup lebih baik, ternyata saya mengalami seperti yang kalian lihat. Saya terpaksa harus hidup dengan meminta-minta. Jujur status saya ilegal di sini. Saya sudah tidak punya paspor dan dokumen 
apa-apa lagi. Dokumen saya hilang bersama hilangnya tas saya saat saya tertidur di stasiun Waverly beberapa tahun lalu. Itu yang bisa saya ceritakan. Mo...mohon maaf jika penjelasan saya ini tidak memuaskan."

Fahri mengeryitkan keningnya. Paman Hulusi mendengus lirih.

"Eropa Timur, negara mana?"

"Saya keturunan Bulgaria."

"Hmm Bulgaria, apa saat awal-awal ke sini Anda sempat berkomunikasi dengan kedutaan negara Bulgaria di sini?" Sabina menggeleng.

"Anda sudah berkeluarga, atau pernah berkeluarga?" Sabina mengangguk.

"Suami Anda, atau anak Anda ada di Bulgaria? Atau juga disini?"

"Saya tidak punya anak, suami saya mohon maaf saya tidak bisa menceritakan. Tolong jangan paksa saya. Tolong, saya tidak bisa. Saya juga tidak mau ke Bulgaria lagi. Saya mau tinggal disini saja. Biarlah saya mati disini. Yang panting saya ingin mati tetap sebagai seorang muslimah." Fahri menghela nafas.

"Saya mohon maaf kalau terkesan memaksa Anda tinggal di rumah ini. Saya tidak bermaksud begitu, saya..."

"Saya yang harus minta maaf, saya sungguh tidak tahu diri. Saya baru sadar setelah mendengar penjelasan Tuan tadi. Saya tidak pernah mempertimbangkan bahwa cara hidup saya bisa menodai citra saudara-saudara saya sesama muslim disini. Sungguh saya menyesal. Baiklah saya akan tetap tinggal 
disini, saya ikut saja, tapi tolong jika saya tinggal di rumah ini, beri saya pekerjaan. Apa saja akan saya lakukan asal tidak melanggar aturan Allah. Tolonglah!"

"Iya insya Allah, saya akan pikirkan bagaimana yang terbaik. Yang paling penting adalah memikirkan bagaimana caranya Anda bisa legal lagi berada di negara ini."

"Terima kasih, Tuan Fa ..Fahri." Ucap Sabina serak dengan kedua mata berkaca-kaca.

"Sudah cukup, silakan kamu kembali ke tempatmu di bawah. Kamu boleh bawa air atau roti atau makanan yang kamu suka yang ada di kulkas." Kata Paman Hulusi tegas.

"Iya, jangan sungkan." Tambah Fahri.

Sabina mengangguk lalu beringsut pergi dan menuruni tangga ke bawah yang ada di dekat dapur. Sesaat setelah Sabina hilang ditelan tangga terdengar pintu depan diketuk. Paman Hulusi membuka pintu. Ternyata Jason.

'Hai Paman!" Kata Jason ramah. Sikapnya sangat berbeda dengan dulu-dulu yang dingin dan sinis.

"Hai Jason!"

"Fahri ada?"

"Ada, silakan masuk."

"Terima kasih."
Jason masuk dan dipersilakan duduk di depan Fahri.

"Ada berita apa Jason? Tentang Keira ya?" Tanya Fahri.

"Iya, tentang Keira. Saya sudah bujuk mama saya dengan berbagai cara, tapi mama tetap tidak mau meminta Keira pulang. Mama sudah tidak peduli, katanya Keira sudah dewasa dia sudah bisa memilih jalan hidupnya. 

Saya ingatkan apa mama tega Keira menjual dirinya seperti itu, dengan dingin mama menjawab itu kan pilihan hidup dia, ya terserah dia. 

Terus saya harus bagaimana lagi? Saya ingin Keira jadi manusia terhormat, bukan yang hina dan murahan seperti itu. Dia harus diselamatkan. Tolonglah, bantu saya menolong Keira."

"Saya sudah menduganya."

"Menduga apa?"

"Menduga ibumu akan bersikap demikian. Tenang saya akan bantu, tapi kamu harus janji bahwa Keira dan ibumu tidak boleh tahu kalau aku membantu."

"Baik aku janji."

"Okay, langkah pertama tolong kau berikan hadiah untuk Keira, ini satu benda yang sangat disukai Keira. Semoga setelah dia memiliki benda ini dia bisa mengingat bahwa dia harus menjaga kehormatannya."

"Benda apa itu?"

"Paman Hulusi tolong ambilkan biola itu."

Paman Hulusi melangkah ke kamar yang berada didekat ruang tamu dan mengambil biola yang dibungkus tasnya berwama hitam. 

Paman Hulusi menyerahkannya kepada Fahri. Fahri membuka tas itu dan mengeluarkan biolanya. Fahri mencoba memainkan biola itu dengan nada sembarangan.

"Ini biola buatan Jerman, merknya Karl Joseph Schneider Stradivari. Bisa jadi modal awal Keira untuk mengejar cita-citanya. Bilang saja itu biola hadiah darimu."

"Bagaimana dia akan percaya kalau itu hadiah dariku? Aku tidak akan punya uang yang cukup untuk membeli biola seperti ini. Ini pasti tidak murah."

"Bilang saja kamu mencopet dari orang. Dan bilang pada Keira kalau dia tidak cabut iklan itu, maka kamu akan merampok sebuah bank untuk dapat dana yang cukup membeli Keira. 

Bilang saja kamu tidak rela Keira menjual kehormatannya seperti itu. Kamu akan korbankan nyawa kamu untuk selamatkan 
dia. Apapun akan kamu lakukan meskipun harus merampok bank. Coba nanti seperti apa reaksi dia?" Jason terdiam sesaat. Ia tampak ragu.

"Kau ragu? Aku tidak menyuruh kamu merampok, Jason. Aku ingin tahu apa Keira juga punya kepedulian kepadamu, seperti kamu punya kepedulian pada Keira. Aku akan bantu Keira semampuku."

"Baik, akan aku lakukan."

"Ini."

 Fahri menyerahkan biola dan tasnya kepada Jason. Dengan hati-hati Jason memasukkan biola itu ke wadahnya.

"Hari ini juga kau harus temui Keira."

"Baik."



                                 *****


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

"SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI"

Kata-kata "SURO DIRO JOYONINGRAT LEBUR DENING PANGASTUTI" itu bersal dari tembang kinanthi ronggo warsito: Jagra angkara winangun ...